Laki-laki dan Perutnya

Kembalikan perut saya yang dulu!

Hahaha. Saya ingin bicara soal perut. Dulu, saya tidak pernah terpikir akan mengalami yang saya rasakan sekarang. Dulu, saya kira, apa salahnya perut sedikit buncit?

Ternyata, sekarang saya mengalaminya. Perut saya semakin besar. Tidaaak! Bahkan, untuk memakai sepatu pun, saya mulai kesusahan. Beberapa celana jins saya juga sudah tidak bisa dipakai lagi.

Kalau saja, saya tidak meninggalkan olaharaga, mungkin perut saya tidak akan seperti sekarang. Sialan. Selepas SMA, saya benar-benar meninggalkan Men Sana In Corpore Sano. Hasilnya, kondisi fisik saya jauh dari prima.

Kalau dibiarkan begini terus, apa kata istri saya nanti? Melihat suaminya berperut buncit? Hahaha. Ah, sudahlah. Mengeluh saja tidak akan memecahkan masalah.

Salam,

Perempuan dan Pujian

Katanya, perempuan senang dipuji.

Kalau bilang, kamu cantik. Mereka senang. Kalau bilang, pakaian kamu bagus. Mereka senang. Kalau bilang, rambut kamu indah. Mereka senang. Kalau bilang, mata kamu indah. Mereka senang.

Ya, maksud saya. Ucapan seperti itu kemungkinan besar akan membuat mereka senang.

Tapi, kalau bilang, pantat kamu indah. Kemungkinan besar, mereka akan kaget. Kalau kamu bilang, payudara kamu juga indah. Kemungkinan besar mereka merasa dilecehkan. Haha.

Coba kamu ucapkan itu, sama perempuan yang tidak terlalu akrab sama kamu. Kemungkinan kamu dicap punya pikiran kotor. Padahal, pujian tentang pantat, atau payudara, sama juga seperti pujian fisik lainnya; mata, rambut atau pakaian.

Bisa jadi saya salah. Tapi, saya yakin. Banyak laki-laki di luar sana, yang juga ragu-ragu untuk mengeluarkan seperti itu. Termasuk saya. Lebih baik saya simpan saja di dalam hati, atau bagi bersama teman-teman laki-laki lain. Ah sudahlah.

Salam,

Sepuluh Tekanan

Kamu pernah naik pesawat?

Saya pernah. Sampai saat ini, baru enam kali. Haha. Norak ya? Sudahlah. Sabtu [29/1] dan Senin [31/1] lalu, saya baru naik pesawat lagi. Dan perasaan itu masih saja sama. Penuh tekanan. Padahal, katanya perjalanan naek pesawat adalah perjalanan paling aman secara statistik. Itu saya tau dari dialog di film. Saya lupa judulnya.

Anyway, kembali ke tekanan tadi. Ini yang bisa saya ceritakan dari pengalaman saya dengan perjalanan lewat udara.

Begitu masuk bandara, kita harus melewati penjagaan. Segala barang bawaan kita diperiksa dengan sinar X. Tekanan pertama. Beres dari situ, kita masih harus check in. Dan mereka hanya mengijinkan kita sampai setengah jam sebelum pesawat take off. Tekanan ke-dua. Bisa dibayangkan, paniknya kita kalau ternyata waktu kita benar-benar mepet? Beres check in, kita masih harus melewati penjagaan lagi.

Dalam perjalanan menuju ruang tunggu, ada perempuan menawarkan asuransi. Haha. Tentu saja yang terlintas di benak, perjalanan ini penuh resiko hingga harus diasuransikan segala. Tekanan ke-tiga.

Masuk pesawat. Segala aturan diumumkan. No chellphones. Fasten your seat belt. Tekanan ke-empat. Belum lagi, momen ketika pramugari memperagakan cara menggunakan pelampung, masker oksigen dan keluar dari pintu darurat. Aha. Tekanan ke-lima. Kalau itu belum cukup, di depan kursi setiap penumpang, ada gambar-gambar tentang keadaan darurat. Tekanan ke-enam.

Begitu kamu pikir sudah bebas tekanan. Maka momen ketika pesawat take off benar-benar penuh tekanan. Apalagi ketika sudah ada di atas awan. Untuk orang-orang yang takut ketinggian seperti saya, itu benar-benar menegangkan. Ide kalau saya berada di atas tanah, tanpa pijakan apapun benar-benar membuat adrenalin mengalir. Tanpa tau pasti apakah pesawat ini bisa diandalkan atau tidak. Tekanan ke-tujuh.

Belum lagi kalau cuaca buruk. Pesawat bergoyang. Kadang naik turun. Jantung pasti berdetak keras kalau sudah begini. Haha. Tekanan ke-delapan. Begitu mendarat, bunyi mesin pesawat yang bergemuruh juga tekanan yang besar. Gila! Apakah pesawat ini akan meledak? Tekanan ke-sembilan. Tekanan terakhir, bisa datang dari orang yang duduk di sebelah kamu. Yang mulutnya selalu komat-kamit, matanya tertutup, dan berdoa. Setiap take off, landing dan pesawat bergoyang. Haha. Saya tidak bercanda. Ada teman saya yang seperti itu. Tekanan ke-sepuluh.

Intinya, sampai pesawat benar-benar mendarat, saya tidak bisa tenang. Dan dari semua kendaraan yang pernah saya naiki, pesawat tetap yang paling menegangkan dan penuh tekanan. Mungkin kalau saya naik pesawat yang ukurannya lebih besar dari yang selama ini pernah saya naiki, pendapat saya akan lain.

Maaf kalau terkesan norak. Hanya ingin berbagi saja. Entah sampai kapan saya akan merasa seperti itu setiap naik pesawat. Mungkin kamu juga merasa dapat tekanan seperti itu. Mungkin juga kamu lebih berani. Saya tidak tau. Kamu beri tau saya oke? Untuk sementara, sudah dulu ya.

Salam,