Empati Saya untuk Pluto

Anak saya sangat suka Mickey Mouse and The Clubhouse. Keresahan ini muncul setelah berkali-kali menonton serial itu.

Buat yang belum tau cerita Mickey (walaupun saya yakin, sudah banyak yang tau), ini adalah cerita tentang sekelompok teman yang geng utamanya terdiri dari: Mickey Mouse, Minnie Mouse (nama belakang mereka sama, tapi saya tak tau apakah mereka adik kakak atau suami istri), Donald Duck, Daisy Duck (ini juga nih saya tak tau hubungannya apa), Goofy, dan Pluto. Goofy dan Pluto adalah anjing. Hanya bedanya, Goofy bisa berbicara sedangkan Pluto tidak.

Kasihan Pluto. Di dunia di mana tikus, bebek, dan anjing berbicara, takdir Pluto berkata bahwa dia tak bisa berkata-kata. Hanya menggonggong. Teman-temannya yang lain berdiri dengan dua kaki, Pluto tetap berjalan dengan empat kaki. Status Pluto meskipun sama-sama binatang dengan Mickey dan teman-teman, tapi dia malah jadi binatang peliharaan. Anjing yang dipelihara tikus!

Bayangkan perasaan Pluto. Mungkin saja dia iri melihat Mickey dan teman-teman yang bisa berbicara. Mungkin dia sedih. Statusnya adalah binatang peliharaan, padahal ras nya sama. Mungkin gonggongannya selama ini adalah curhat atau bahkan makian, hanya saja tak ada yang mengerti. 

Maka, empati saya untuk Pluto. Yang masih mau berteman dengan Mickey, meskipun hanya dianggap binatang peliharaan yang sepertinya sih jarang sekali dipelihara. Saya belum pernah nonton episode di mana Pluto diberi makan, dimandiin, atau diajak jalan-jalan pagi atau sore. Bukankah kalau punya anjing peliharaan harus dirawat seperti itu? 

Yang sabar ya, Pluto.

Siapa yang Membersihkan Rumah Bruce Wayne?

Batman adalah salah satu jagoan kesukaan saya.

Dia tak punya kekuatan super. Dia hanya punya banyak uang dan kemampuan bela diri. Sesuatu yang masih bisa didapat dalam kehidupan nyata. Bruce Wayne adalah sosok ideal kalau bicara lucky bastard. Dia kaya tanpa harus bekerja keras. Orang tuanya meninggal, lalu Bruce Wayne dapat warisan perusahaan. Kalau saja Bruce Wayne brengsek, dia tak akan jadi Batman dan lebih memilih dugem atau pergi clubbing di malam hari dibandingkan membasmi kejahatan. Dan Batman punya pesan kebudayaan yang cocok buat orang Indonesia. Batman sebenarnya sedang melestarikan kegiatan siskamling. Sesuatu yang sudah jarang dilakukan kita. Sudah hampir punah budaya siskamling kita, ya kan? 

Bicara soal Batman, ada yang paling membuat saya penasaran: rumah Bruce Wayne alias Wayne Manor. Rumahku istanaku bukan hanya slogan bagi Bruce Wayne. Di semua versi cerita Batman, Wayne Manor digambarkan seperti istana: besar! Bukan rumah di cluster. Saya yakin Bruce Wayne tak menyicilnya lewat KPR atau lewat program DP 0. 

Dan dengan rumah sebesar itu, Bruce diceritakan hanya punya satu pelayan: Alfred Pennyworth. Saya tak pernah melihat ada pembantu lain di Wayne Manor, tapi rumahnya selalu bersih dan rapi. Yah, setidaknya dari film yang saya tonton. Saya tak tau kalo di komiknya seperti apa. Atau mungkin ada pembantu yang pulang hari dan tak pernah terlihat oleh kamera? Atau, passion Alfred memang bersih-bersih rumah? Jadi dia selalu semangat membersihkan rumah sebesar  rumah Bruce Wayne?

Rumah saya yang bangunannya hanya 200 meteran persegi saja, terasa sangat besar kalo saya harus menyapu dan mengepel lantai (hasilnya: melelahkan!). Apalagi ini Wayne Manor. Berapa ratus atau ribu meter persegi yang harus disapu dan dipel oleh Alfred? Pasti melelahkan sekali ya jadi Alfred. Membersihkan rumah, memasak, membantu Batman, menunggu Batman pulang kalau dia pergi malam hari membasmi kejahatan, dan membangunkan Bruce Wayne kalau dia harus kerja siang harinya. Belum lagi, ketika Bruce masih kecil, dia juga melatih Bruce beladiri. Jadi ya sekaligus bodyguard nya Bruce. 

Sungguh berat tugasmu, Alfred. Semoga kamu digaji besar dan dapat tunjangan kesehatan. 

Saya dan Sepeda Motor

Jadi begini,

Tahun 90-an, ada serial televisi berjudul “Renegades” dengan pemeran utama Lorenzo Lamas yang memerankan karakter pemburu bayaran bernama Reno Raines. Itu adalah satu dari sekian banyak serial yang tayang di RCTI dan selalu saya tonton. Saya bahkan masih agak ingat narasi di pembuka serial itu. 

He was a cop, and good at his job. But he committed the ultimate sin. Testified against other cops gone bad. Cops that try to kill him. But got his woman killed instead. Now, he’s crawling (atau apalah itu kata sebenarnya, yang jelas di terjemahannya berkeliaran) the bad land. An outlaw hunting outlaws. A bounty hunter. A renegade! 


Reno Raines mengendarai Harley Davidson. Dan gara-gara film itu, dia membuat saya kepingin punya Harley. Maskulin sekali kelihatannya kalau naik Harley. Dan kuat. Soalnya Reno Raines sering naik Harley hanya memakai rompi kulit, tanpa kaos lagi. Mungkin juga dia sudah membasuhkan minyak kayu putih di pusarnya. Soalnya jaman itu kan belum ada Antangin atau Tolak Angin.

Maka saya pun selalu mendamba motor Harley. Lalu ketika tahu ada jenis Sportster yang tak terlalu besar dan tak sepanjang chopper, saya bertekad untuk membeli Sportster. 

Tahun 1997, ketika saya masuk Fikom Unpad, bapak saya membelikan Suzuki Crystal 110 cc tahun 1994 yang dibeli seharga 2,4 juta rupiah. Motornya kecil dan ringan sekali. Dua tak. Dan setelah beberapa bulan saya pakai, knalpotnya ngebul sekali. Baunya menyengat dan bikin mata perih. Kalau di lampu merah, saya jadi seperti tukang sate. Asap di mana-mana. Ternyata sehernya sudah rusak. Saya setiap hari mengendarai motor itu berdua teman saya Jeffri yang tinggal di rumah. Kami terlihat terlalu besar untuk motor sekecil itu.

Lalu pada 1998, setelah naik tingkat 2, bapak saya mengganti Suzuki Crystal dengan Honda GL Pro tahun 1995 yang dibeli seharga 5,5 juta rupiah. 160 cc. Dan GL Pro itu menemani saya hingga sekarang. Kami sudah menempuh ribuan kilometer dan sudah dua kali turun mesin, tiga kali ganti tangki, sekali ganti shockbreaker belakang, sekali ganti velg, sekali ganti kabel kelistrikan dan entah berapa kali ganti onderdil lainnya. Yang jelas, GL Pro saya sekarang jauh lebih terawat ketika saya kuliah. Maklum, sudah punya uang sendiri.


Tapi mimpi punya motor bermesin besar tak pernah pudar. Meskipun agak kurang yakin bisa terwujud, tapi mimpi itu selalu ada. Lalu saya dikenalkan pada Triumph Bonneville yang ternyata lebih kecil dibandingkan Sportster. Maka, Bonneville masuk ke dalam impian. Belakangan, mimpi itu makin terasa mustahil setelah mendengar harga motor di atas 600 cc pajaknya bukan main besarnya, karena dianggap barang mewah. Sempat berpikir untuk membeli Harley Davidson Street 500 yang katanya seharga 250 juta. Ah, kalo nyicil pasti mampu nih. Begitu pikir saya. Tapi pas melihat langsung, ternyata motornya kurang gagah. Haha. 

Dan ketika ada Royal Enfield yang harganya tak di atas 100 juta rupiah untuk motor 500 cc, hati sempat terpikir untuk membeli itu. Sempat test ride dan merasa nyaman. Sudah meninggalkan nomor telepon juga, minta dihubungi kalo penjualan sudah dimulai. Tapi, ada kabar bahwa manajemennya berganti dan dealer Royal Enfield bermasalah sehingga showroom di Jalan Pejaten itu tak kunjung dibuat. Saya juga tak tahu cerita pastinya, yang jelas showroom Royal Enfield sempat lama tak jelas keberadaannya. Dan ketika showroom jadi, saya tak juga dihubungi. Mungkin datanya tak tahu di mana. 

Royal Enfield memang agak bersahabat harganya, tapi hati selalu memikirkan Triumph Bonneville. Ibarat sedang naksir dua cewek, ada satu yang kemungkinan besar sudah mau menerima, tapi satu cewek lagi yang paling sesuai selera belum jelas kemungkinannya. Harus sabar menunggu. 

Yah, daripada jadian sama yang tak terlalu disukai, mending sabar terus sambil pedekate pada cewek idaman.

Dan impian selama 20 tahun itu pun terwujud di tahun 2017. Saya dengar kabar soal dealer Triumph di Kemang Raya yang tahun 2016 menjual Triumph baru lengkap dengan surat-surat, dengan harga seperti Triumph lama yang belum tentu ada surat-suratnya. 

Yah, singkat cerita, setelah ngobrol dengan Triwil, salah satu bos Triumph Jakarta, saya berjodoh dengan Triumph Bonneville Street Twin yang secara visual sudah bisa memenuhi selera saya, tanpa harus melakukan modifikasi. Kebetulan, Tetta merestui keinginan saya. Hehe.

Jadi sodara-sodara, pesan moral dari tulisan ini adalah: benar kata orang bijak yang bilang bahwa kalau kita bisa memimpikan, pasti kita bisa mewujudkan. Buat kamu yang masih mendamba motor impian atau apapun itu, tetaplah bermimpi! Tapi sambil kerja ya. Jangan sambil ngepet. Dan ingat, kalau kamu sudah punya pasangan, restu pasangan sangatlah penting dalam mewujudkan mimpi itu. 


Makanya, saya kalau melihat orang punya banyak motor mahal, ada dua hal yang selalu terlintas di benak: Itu orang kerjanya apa ya? Lalu, gimana cara dia bilang ke istrinya ya?

Alhamdulillah, Enak!

Halo sodara-sodara,

Saya mau cerita soal pertunjukan stand-up comedy saya yang digelar, Sabtu, 25 Maret 2017 kemarin di Gedung Kesenian Jakarta. Haha. Iya, saya tau, ini udah sebulan sejak pertunjukan “Dibilang Enak Ya Memang Enak” itu. Maaf ya. Baru sempat nulis. Soalnya, sehari setelah pertunjukan saya ada pekerjaan. Hari berikutnya, langsung je Bandung. Jadi ya, gak sempet istirahat. Terus, saya juga sedang menulis buku. Deadline nya setiap Senin dan Kamis. Unduh aplikasi Whattpad aja kalo mau baca naskah buku yang sementara dikasih judul “Macan Kampus” itu ya. Saya cerita soal pengalaman selama 7 tahun di Fikom Unpad.

Oke, kembali ke topik. “Dibilang Enak Ya Memang Enak” dimulai jam 7.30 malam. Memang, di flyer ditulis jam 7, tapi kan saya kasih info lagi di media sosial bahwa pintu dibuka jam 7, dan acara dimulai jam 7.30 malam. Waktu Indonesia Barat tentunya. Teman-teman semanajemen tampil menari; Arie Kriting, Ge Pamungkas, Ardit Erwandha, Aci Resti, dan Bene Dion. Hasilnya? Tak sesuai yang saya harapkan. Tadinya saya berpikir kalo mereka tampil menari, penonton akan tertawa melihat aksinya. Eh ternyata biasa saja. Entah karena mereka tak setenar itu di mata penonton yang datang, entah karena memang tak tahu harus merespon apa. Tadinya Ernest Prakasa akan ikut formasi menari, tapi ketika persiapan berlangsung, Ernest sedang ada masalah di Twitter sehingga suasana hatinya tak sedang bagus untuk latihan menari. Akhirnya Ernest jadi MC. Saya juga mengajak Uus sebagai pasangannya. Kan sama-sama banyak yang memaki tuh di Twitter. Haha.

Kamga jadi pembuka. Banyak mengucapkan kata “titit” dalam lawakannya. Haha. Untungnya lucu dan konteksnya bukan memaki. Joshua yang tampil selanjutnya, sukses mengobok-obok perut dengan lawakannya yang mengolok-olok dirinya sendiri. Banyak teman saya yang tak menyangka kalau Kamga dan Joshua selucu itu. Mereka sangat terhibur dengan penampilan dua musisi itu.

Keinginan saya akhirnya terwujud. Muncul ke panggung dari bawah, kebetulan GKJ baru selesai renovasi dan mereka menyediakan panggung yang bisa naik turun. Lalu penari. Saya selalu ingin muncul di panggung dibuka dengan penari. Biar seperti rockstar. Atau produk yang di-launching. 

Saya awalnya mengira akan tampil paling lama 2 jam. Soalnya, ketika semua materi itu dicoba di open mic, durasinya hanya 1,5 jam. Ternyata ketika di panggung, ada banyak improvisasi materi sehingga membuat saya tampil selama 3 jam 20 menit. Pantesan pinggang saya sakit di panggung. Saya pikir baru 1,5 jam kok sudah panas dan pegal pinggangnya? Saya baru sadar sudah 3 jam ketika di sesi turun ke penonton, Ernest bilang bahwa saya sudah 3 jam tampil. Yah, itu sebabnya saya tak mau bikin 2 pertunjukan dalam sehari. Haha. 

“Dibilang Enak Ya Memang Enak” bakal dikeluarkan dalam format DVD. Tunggu saja ya, infonya di akun Twitter dan Instagram saya. Sementara itu, ini ada beberapa foto hasil jepretan Mohammad Asranur (yang hitam putih) dan Pio Kharisma.

Dan saya mau menutup tulisan ini dengan pujian. Sebenarnya banyak yang memuji sehingga bagus untuk dijadikan alat pamer alias riya, tapi Pandji Pragiwaksono paling bagus kalimat pujiannya. Maklum, dia jago sekali mengeluarkan kalimat yang bisa meningkatkan kredibilitas. Buktinya, Anies bisa jadi Gubernur DKI Jakarta tuh karena Pandji jadi juru bicaranya. 

“Semalem gue nonton salah satu pertunjukan komedi yang mengagumkan. Soleh Solihun bisa jadi merupakan salah satu komika terlucu dan terberani (atau tercuek?) yang gue pernah lihat. It’s almost hero-like, karena Soleh membahas dengan biasa biasa saja hal yang kami bahas diam-diam. Setiap kali Soleh ngomong sesuatu, penonton mikir, ‘NAH IYA!’ dan ketawa menggelegar. Gesturnya, intonasinya, cara pandangnya, dan terutama jokes-nya, menjadikan Soleh sangat orisinil. Dan gak ada yang lolos dari roasting-an Soleh. Penonton biasa. Monty Tiwa. Khemod. Uus. Ernest. Gue. Beuh. Apalagi gue! :)) Kalau di US ada Don Rickles sebagai Master of Insult Comedy (beneran ada istilah Insult Comedy kok di dunia stand-up), jelas Indonesia punya Soleh. Kritik gue bisa jadi hanya 1. Itu harga tiket kemurahan untuk kelasnya Soleh Solihun. Soleh reminded me why I wanna be a comedian. To be able to be amongst people like him. Absolute legend in the making.”