Kangen Lagu Parodi

Bukan kangen nama band, ya, tapi kangen rindu. Saya sih tak kangen sama Kangen Band. Mungkin ada di antara Anda yang kangen sama Kangen Band tapi malu untuk mengakuinya. Kalau pake kata rindu, rasanya terlalu cinta-cintaan. Ah, ini kenapa jadi malah membahas kata kangen? Maafkan, ya.

Ide tulisan ini sebenarnya karena saya tadi baru mendengarkan kembali rekaman Warkop DKI. Meski ada beberapa lagu orisinil ciptaan mereka, lagu parodinya justru yang paling mengena. Salah satunya lagu “Rock and Roll Music” karya Chuck Berry yang dinyanyikan dengan irama orkes melayu. Menabrakkan rock and roll dengan orkes saja, sudah sesuatu yang menarik, belum lagi liriknya yang mengundang senyum.

Saya sebenarnya tak dibesarkan oleh karya Dono Kasino Indro, karena bapak saya tak pernah membeli kasetnya ketika saya kecil dulu. Nama Warkop saya kenal hanya lewat film-film lebarannya. Kaset lawaknya, waktu kecil saya belum pernah mendengarkannya. Makanya, saya waktu kecil tak tahu bahwa Warkop DKI juga menyanyikan lagu parodi.

Yang paling mewarnai kehidupan masa kecil saya adalah album dari Orkes Moral Pengantar Minum Racun, dengan lagu “Judul-Judulan” yang sampai sekarang masih disukai oleh mereka yang bahkan baru mendengarnya pertama kali. Itu adalah album parodi pertama yang saya sukai. Ketika saya ikut jambore pramuka sekecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor pada akhir ’80-an, saya menyanyikan lagu dari PMR pada saat lomba antar grup. Saya menyanyikan “Kau Pergi Pulang Pingsan” dengan iringan teman-teman yang memukul-mukul alat masak. Dalam benak sih, terasa penuh harmoni, tapi saya rasa berantakan, karena kami tak jadi juara.

Di pertengahan ’90-an kemudian hadir P Project, yang dulu bernama Padhayangan Project. Mereka adalah duta humor ala mahasiswa di era itu. Menggoyang industri musik Indonesia dengan lagu “Nasib Anak Kost”. Saya tak pernah menyukai versi aslinya alias lagu “That’s The Way Love Goes” dari Janet Jackson, sebelum saya mendengar versi P Project. Di antara semua personel P Project, saya paling suka pada Joe alias Juhana. Wajahnya sangar, urakan, tapi super kocak. Sosok salah satu laki-laki jantan buat saya, ya Joe. Haha. Maka, sekarang setiap saya mendengar “Come As You Are” dari Nirvana, pasti terbayang “Kambing Liar” yang dinyanyikan Joe. Begitu juga dengan “What’s Going On” dari 4 Non Blondes, selalu teringat “Lampu Neon” dengan lengkingan khas Joe, “Inah. Gunakanlah selalu lampu neon!” Salah satu lagu parodi paling cerdas. Secara pengucapan, mirip dengan lirik aslinya. Secara tema, aktual pada masanya. Mereka yang besar di era ’90-an pasti ingat dengan iklan layanan masyarakat soal penggunaan lampu neon daripada lampu bohlam.

Ada kesamaan antara P Project dengan Warkop DKI. Selain menyanyikan lagu parodi, mereka juga grup lawak. Acara Project P di SCTV adalah salah satu hiburan paling menarik buat saya di era ’90-an. Mereka yang pernah menyaksikan acara ini, pasti tak akan lupa episode parody Star Trek di mana Joe menjadi Klingon dan di dahinya ada kue pancong yang meniru bentuk wajah Klingon.

Setelah era P Project, sepertinya tak ada lagi yang berhasil secara komersil membuat lagu parodi. Grup macam Timlo memang menyanyikan lagu parodi, tapi tak jadi hits dan menurut saya, tak secerdas P Project atau Warkop DKI atau PMR.

Sebenarnya, yang berpotensi sukses menyanyikan lagu parody adalah Ronal Surapradja. Di Jak FM tempat dia siaran, ada segmen di mana dia dan Tike menyanyikan lagu parodi. Lirik-lirik parody Ronal – Tike menurut saya mendekati daya tarik lirik parody P Project. Yah ada di kelas yang sama, lah.

Sayang, Ronal tak menjadikan itu sebagai pilihan karir bermusiknya. Dia malah membuat album disko sebagai Ronaldisko dan album rock sebagai Rocknal. Tak jelek sih musiknya, cuma ya publik lebih dulu mengenal dia sebagai pelawak, sosok humoris, sayang sekali ketika dia bermusik, malah menyanyikan lirik-lirik yang tak humoris. Padahal, kalau melihat sejarah dari Warkop DKI dan P Project, Ronal sepertinya lebih besar kemungkinan suksesnya kalau menyanyikan lagu parodi, seperti yang dilakukannya di radionya. Yah tak perlu semuanya sih, mungkin sebagian.

Yah memang, lagu parodi kalau dilihat dari sisi musikal, mungkin tak bisa dibanggakan seperti karya orisinal. Tapi lagu parodi bisa memberikan hiburan yang tak bisa didapat dari lagu lain. Membuat tertawa dan berpotensi membuat lagu aslinya yang tadinya tak menarik didengar, jadi menarik didengar. Kalau buat saya, P Project yang paling berhasil dalam hal ini. “Want You Back” jadi “Mencontek”, “I Can Love You Like That” jadi “Antrilah di Loket”, hingga “Sweat A La La Long” jadi “Anjingku Melolong.”

Kalau bicara era, maka setiap era sudah ada perwakilannya. Sekarang tinggal era 2000-an yang belum muncul nama untuk lagu parodi. Sebentar ya, saya tadi mau cari kalimat penutup yang bagus untuk tulisan ini. Tapi saya kehabisan ide. Maunya sih ditutup oleh kalimat yang lucu, biar menghibur. Tapi apa daya, saya sedang tak punya ide segar.

Ah, seandainya ada lagu parodi dari masa kini yang bisa menghibur saya.

Penghina Jokowi di Facebook, Tak Perlu Lah Ditahan Polisi

Saya baru baca beritanya.

Soal MA, 24 tahun, seorang tukang tusuk sate dari Jakarta Timur, yang ditahan di Mabes Polri karena dituduh menghina Jokowi. Buat yang mau tahu berita lengkapnya, silakan baca di sini dan di sini.

Katanya sih,Henry Yosodiningrat, Koordinator Tim Hukum Jokowi-JK pada saat kampanye, yang melaporkan MA. Ini alasan dia melaporkannya: “Dia merekayasa foto seronok Jokowi dengan Megawati dan ditambahkan kalimat-kalimat yang merendahkan. Ini persoalannya bukan dia tukang sate atau bukan. Tapi ini telah merendahkan martabat Jokowi.”

MA dituduh melanggar UU ITE dan UU Pornografi. Kalau sudah bicara UU ITE, pasti selalu dibahas pencemaran nama baik.

Oke, saya bukan ahli hukum, tapi saya rasa, tak perlu lah si MA itu dilaporkan polisi dengan tuduhan itu. Pertama, kalau bicara nama baik yang tercemar, saya rasa nama Jokowi atau Megawati, tak akan tercemar dengan gambar yang jelas-jelas hasil editan itu. Saya tak tahu dengan yang lain, tapi nama Jokowi tetap tak cemar di mata saya, meskipun saya melihat gambar cabul editan. Tak perlu jadi pakar telematika buat tahu kalau gambar itu palsu, ya kan? Kalau soal kalimat merendahkan mah, selama kampanye pilpres kemarin, banyak sekali orang yang sudah menulis kalimat merendahkan buat Jokowi. Masa’ mereka semua harus dilaporkan? Kedua, kalaupun kuatir citra Jokowi tercemar karena gambar itu, ya elah, berapa banyak sih, teman MA di Facebook?

Kalau kasusnya Obor Rakyat, nah itu baru harus diusut dan dituntut, karena mereka bicara atas nama jurnalisme, tapi tak bisa dipertanggungjawabkan. Orang tak akan tahu, mana yang berita benar mana yang berita bohong demi menyudutkan atau memfitnah. Kalau perbuatan orang mengedit gambar porno lalu ditempel muka yang jelas-jelas bukan muka si badannya sih, saya rasa tak perlu dilaporkan ke polisi juga. Orang juga akan tahu, itu bohong. Tak akan serta merta berpikir, wah, jangan-jangan benar juga apa yang dikatakan gambar itu. Ya saya sih tak tahu bagaimana perasaan Jokowi dan keluarga melihat gambar itu [kalaupun mereka sudah melihatnya ya, semoga bukan hanya dengar dari staff saja], tapi semoga Pak Jokowi diberi kesabaran dalam menghadapi yang seperti itu. Kemarin juga, Jokowi sudah difitnah macam-macam kan. Mulai dari komunis, hingga bukan beragama Islam.

Santai saja Pak. Agnez Mo, Syahrini, atau Mulan Jameela saja dihina oleh banyak orang di internet, dan mereka tak pernah menanggapi itu dengan melaporkan ke polisi atas pencemaran nama baik. Hehe.

Kata Henry Yosodiningrat [dia ini pentolannya BNN kan ya, bukannya harusnya lebih banyak mengurusi pengedar narkotika ya? hehe], Jokowi menyetujui tertulis bahwa dia menyerahkan kasus ini pada Henry buat menuntut si MA. Tapi ya tolonglah Pak, saya rasa Bapak tak perlu mengambil langkah hukum, apalagi memakai UU ITE yang jelas-jelas telah mengambil banyak korban. Bapak juga harus ingat, salah satu yang membuat Bapak lolos jadi presiden adalah bantuan netizen alias warga internet [eh bener gak ya, artinya netizen itu? Haha]. Kalau Pak Jokowi menghukum orang dengan memakai UU ITE, saya rasa itu adalah sebuah langkah yang tak bijak. Jangan lah jadi pejabat yang standar: ada yang menghina langsung dilaporkan polisi.

Katanya mau revolusi mental. Harusnya, ya mungkin bisa dimulai dari hal ini.

Waspadai Punahnya Bahasa Daerah

Saya ini orang Sunda tulen.

Meskipun rahang persegi, intonasi bicara kadang meledak-ledak, dan seringkali straight forward ketika mengeluarkan opini, hingga sering dikira sebagai orang Batak [bahkan oleh orang Batak], tapi saya ini Sunda tulen. Orang tua saya, dua-duanya berdarah Sunda. Leluhur saya berasal dari Bandung dan Garut.

Tidak, tulisan ini bukan mau membanggakan suku Sunda.

Saya mau bicara soal bahasa daerah. Berapa banyak di antara Anda yang membaca tulisan saya ini bisa berbahasa daerah? Coba pikirkan. Kalau dilihat berdasarkan garis keturunan, ada darah apa yang mengalir di sana? Atau, secara psikologis, Anda merasa sebagai orang apa? Soalnya, banyak teman saya yang bapak ibunya berdarah Jawa atau Batak atau Padang, tapi karena tumbuh besar di Bandung, mereka merasa sebagai orang Sunda dan fasih berbahasa Sunda. Istilahnya sih, sudah dinaturalisasi oleh tanah Pasundan. Hehe.

Saya rasa, makin lama, makin jarang anak kecil yang berbahasa daerah.

Ini memang masih analisa dangkal saya saja, yang hanya membandingkan dari anak-anak kecil di Bandung di lingkungan rumah saya. Sepupu-sepupu saya, bersama pasangannya, semua berbahasa Sunda, tapi kepada anak-anaknya, mereka tak berbicara bahasa Sunda. Padahal, katanya, yang penting itu kan bahasa ibu. Kalau pasangannya terdiri dari dua suku yang berbeda dan mereka tak mengajak bicara daerah ke anaknya sih, ya masih bisa dimaklumi. Ini mah, di rumah, orangtuanya berbahasa Sunda, tapi anak-anaknya diajak bicara bahasa Indonesia.

Pernah saya tanya ke mereka, alasannya: bahasa Sunda mah bisa belajar di pergaulan. Kalau semua orangtua berpikir sama, maka anak-anak kecil di Bandung, yang nota bene tanah Sunda, malah akhirnya tak berbicara bahasa Sunda. Saya tak bicara bahasa Sunda kepada anak, karena Tetta, istri saya memang bukan orang Sunda, dan dia tak bisa bicara bahasa daerah, meskipun ibunya fasih berbahasa Padang, dan bapaknya fasih berbahasa Jawa. Yah maklum, lahir dan besar di Jakarta.

Tak usah bicara Jakarta lah. Di Jakarta, meskipun tanah Betawi, tapi itu tak bisa dibilang bahasa daerah kan. Soalnya, tak ada pelajaran bahasa Betawi di sekolah-sekolah. Iya kan? Maaf loh, kalau saya salah. Tapi harusnya, kalau bahasa Betawi diakui sebagai bahasa daerah, masuk kurikulum seperti di daerah lain. Atau mungkin karena bahasa Betawi mirip dengan bahasa Indonesia ya, cuma dialeknya yang berbeda, jadi tak dianggap perlu dimasukkan ke dalam pelajaran bahasa daerah.

Eh iya, masih ada nggak ya? Pelajaran bahasa daerah di sekolah? Yah meskipun itu tak membuat mereka yang tak bisa berbahasa daerah jadi fasih berbahasa daerah, setidaknya ada usaha melestarikan lah.

Saya jadi ingat teman saya, Zaidan dan istrinya Viky. Mereka berbicara bahasa Sunda kepada anaknya. Dan yang hebatnya, Sunda halus. Saya saja sudah agak lupa bahasa Sunda halus. Padahal, waktu kecil, bicara Sunda halus di rumah, tapi gara-gara tinggal di Narogong, Kecamatan Cileungsi dan teman-teman main saya bicara Sunda kasar, saya malah ditertawakan teman-teman ketika bicara Sunda halus. Saya rasa, di Bandung pun, sudah jarang, orangtua seperti Zaidan dan Viky. Rasanya lebih banyak orangtua yang lebih peduli anaknya fasih berbahasa Inggris ketimbang bahasa daerah.

Di Jakarta, saya malah belum pernah mendengar anak kecil bicara bahasa daerah. Lebih banyak anak kecil was wes wos speaking English fluently.

Bagus sih, buat menyambut perdagangan bebas. Haha. Tapi ya, jadinya kalau semua anak kecil yang nantinya jadi orang besar dan menggantikan generasi tua sekarang sudah tak ada yang bisa berbahasa daerah, sayang sekali ya, kita harus kehilangan keragaman yang selalu diagung-agungkan itu. Padahal, menurut saya, itu jadi salah satu karakter yang membedakan kita dengan bangsa lain.

Saya jadi ingat waktu berkunjung ke Taipei. Di sana, pemandangan alamnya minim sekali, jauh lah sama yang kita punya di Indonesia. Akhirnya, salah satu daya tarik wisata mereka, adalah sejarah nenek moyangnya, alias sisi tradisional mereka. Di museum nya, ditampilkan, darimana nenek moyang mereka, seperti apa pakaian adatnya, dan bagaimana karakter tiap suku. Yah, kalau di kita mah, macam anjungan daerah di Taman Mini Indonesia Indah.

Artinya, sisi tradisional itu menarik dan potensial buat pariwisata. Kita ambil contoh Bali. Yang membuat saya, sebagai orang luar Bali, senang berkunjung ke sana, bukan cuma pantainya, tapi karena masih ada nuansa tradisional yang kuat.

Yah sebenarnya, saya bicara begini pun, masih agak munafik sih. Soalnya, waktu resepsi pernikahan, saya memilih memakai jas dan bertema nasional untuk pelaminan, karena malas memakai pakaian daerah. Hehe.

Saya jadi ingat para penyiar di radio daerah. Mendengar mereka, tak terasa sedang ada di daerah itu, karena dari gaya bahasa, hingga logat, terdengar seperti di Jakarta. Padahal, saya diajak siaran oleh radio di Jakarta, karena saya terasa nuansa Sunda nya, alias relatif berbeda dengan tipikal penyiar radio. Dan kemarin, saya diajak casting oleh stasiun TV yang mau membuat program pun, karena mereka mengharapkan nuansa Sunda saya yang muncul.

Lama-lama, kalau anak-anak kecil sekarang makin sedikit yang diajarkan atau menggunakan bahasa daerah, bisa punah ya. Saya pernah baca, banyak bahasa yang akhirnya punah. Mungkin nanti yang tersisa tinggal penggalan kata yang kemudian dijadikan referensi nama anak di generasi mendatang, macam bahasa Sansekerta.

Eh iya, ada kursus bahasa daerah nggak ya? Kalau kursus bahasa asing, kan banyak. Siapa tahu ini jadi peluang bisnis loh. Sekalian tujuan mulia, melestarikan bahasa daerah. Siapa tahu, nanti setelah adanya perdagangan bebas dan makin banyak orang asing yang menguasai lahan pekerjaan di sini, kemampuan berbahasa asing jadi tak istimewa lagi. Nanti yang dicari malah sumber daya manusia yang fasih berbahasa daerah.

Ayo, Juliana Jaya. Siapa tahu mau membuka variasi kursusnya. Bertahun-tahun kan sudah menghasilkan para penjahit andal sistem Jepang berijazah negara. Sekarang giliran membuka kursus bahasa daerah.

Juliana Jaya. Kursus Bahasa Sunda, dengan para pengajar akang teteh asli Pasundan.

Juliana Jaya. Kursus Bahasa Jawa, dengan para pengajar mas mbak yang logatnya masih medok.

Juliana Jaya. Kursus Bahasa Batak, lengkap dengan suasana lapo tuak.

Juliana Jaya. Kursus Bahasa Padang, yang dilengkapi masakan Padang.

Dan seterusnya. Silakan diisi sendiri, sesuai dengan harapan Anda.

 

Jadi Penyiar Itu Harus Kompromi Selera Musik

Salah satu jualan radio, adalah lagu. Selain tentu saja obrolan penyiarnya.

Saya baru empat tahun siaran di radio, dan baru siaran di dua radio. Tapi, sejauh ini, semua sama saja: soal lagu yang diputar, saya tak bisa berbuat apa-apa, alias pasrah, alias harus kompromi.

Buat yang belum tahu mekanisme lagu diputar di radio, baiknya saya ceritakan dulu secara singkat. Di radio, [entah kenapa pas menulis kata ini, langsung bernyanyi dalam hati lagu “Kugadaikan Cintaku” dari Gombloh: di radio, aku dengar lagu kesayanganmu…” Haha] ada yang namanya Music Director alias MD. Nah, MD lah yang menyusun lagu-lagu yang diputar setiap hari. Saya tak tahu detilnya bagaimana, yang jelas, setiap radio punya kebijakan sendiri: soal urutan lagu lokal dan lagu luar yang diputar hingga soal ada berapa lagu sebelum penyiar bicara. Tapi, MD juga tak bisa semena-mena memutar lagu, semua disesuaikan dengan segmen pendengar radionya.

Nah, bicara segmen. Saya jadi ingat waktu pertama kali siaran di I Radio Jakarta. Secara umur dan Status Ekonomi Sosial, sebenarnya saya masuk kategori. Tapi secara selera musik, boro-boro sesuai. Salah satu lagu yang paling saya ingat sering diputar tiap pagi di I Radio dan saya tak suka adalah “Jujur” dari Radja. Itu loh, yang intronya tet terereret tereret tereret tet tereret tereret, terus ada liriknya yang berbunyi: “Jujurlah padaakuuu… bila kau tak lagi suka” dengan vokal Ian Kasela yang seperti sedang menahan eek.

Selama empat jam siaran, sebagian besar lagu yang diputar, bukan lagu-lagu kesayangan saya.

Lantas sekarang di Indika FM, kurang lebih tak jauh berbeda. Kalau di Indika memang tak diputar lagu-lagu dari Radja, Kangen, Armada, dan kawan-kawan, tapi ada satu lagu yang entah di mana enaknya sih tapi sering sekali diputar: Kerispatih. Maaf ya Badai. Hehe. Buat yang belum tahu, dia kibordis Kerispatih, orangnya baik, dan saya cuma kenal dia di band itu. Tapi, lagu-lagunya Kerispatih, tak membuat saya bersemangat.

Kalau sekarang sih, saya punya sedikit info soal kenapa lagu-lagu itu diputar. Entah waktu masih siaran di I Radio, apakah mereka melakukannya juga atau tidak. Tapi sekarang, lagu-lagu yang diputar di Indika FM sudah dites kepada peserta survey. Intinya sih begitu lah. Ada sekelompok orang, dikumpulkan, lalu diperdengarkan kepada mereka, ratusan lagu, dan nanti diurutkan lah, lagu mana yang disukai dan mana yang tak disukai, sehingga akhirnya terkumpul, daftar lagu yang boleh diputar di radio.

Buat yang akrab dengan istilah Focus Group Discussion alias FGD mungkin sudah tahu lah, soal metode survey macam ini.

Saya rasa, banyak sekali radio yang memakai metode FGD untuk mencoba memahami selera pasar supaya radio mereka banyak pendengar. Bukan cuma lagu ya, tapi juga soal program yang disukai pendengar.

Nah, saya suka bertanya. Baik itu dalam hati, maupun bertanya langsung ke MD dan Program Manager. Siapa sih yang menjadi peserta FGD itu? Mereka itu jadi penentu selera radio. Mungkin Anda bertanya-tanya, kenapa sebagian besar lagu yang diputar di radio di Jakarta [saya tak bisa komentar soal radio di kota lain], itu lagi itu lagi. Hanya beberapa lagu yang berbeda. Kalau Anda bertanya-tanya, sama dong dengan saya. Haha.

Saya saja yang jadi penyiar, bingung. Mungkin karena ada organisasi yang bernama Asosiasi Music Director, jadi ada semacam kesepakatan soal lagu-lagu hits yang diputar. Maaf loh, bukan bermaksud menuduh, tapi kan ini bertanya. Hehe. Atau, mungkin karena sekarang tagline sebagian besar radio di Jakarta, berhubungan dengan lagu hits atau lagu yang disukai. Akibatnya, lagu yang diputar relatif sama. Bukan berarti saya bilang lagu-lagu yang diputar di radio, lagu jelek ya. Kurang beragam. Itu kata yang tepat. Tak banyak pilihan.

Sepertinya radio sekarang, lebih banyak yang ingin memutar hits. Jarang sekali yang ingin menciptakan hits. Nah, persoalannya, sebuah lagu bisa jadi hits kalau diputar terus. Tapi, kesempatannya tak diberikan kepada semua lagu, khususnya kepada mereka yang dari perusahaan rekaman kecil. Tak usah bicara dulu soal band rock lah, lagu-lagu dari band pop macam Mocca atau White Shoes and The Couples Company yang relatif mudah dicerna, ringan, menyenangkan saja, tak dapat perhatian yang banyak. Hasil survey di radio saya menunjukkan bahwa peserta survey tak menyukai lagu-lagu mereka.

Anywaaay, kembali ke dari sudut pandang penyiar. Akhirnya, saya harus ikhlas saja mendengarkan lagu-lagu yang tak saya sukai diputar. Kompromi lah. Toh, pendengar menyukainya. Simpan saja keinginan mengenalkan lagu lain yang bagus dan enak didengar, di luar lagu yang hits, karena itu hanya di pikiran saya saja, kan pendengar mah tak akan suka.

Ada sih, radio kita yang punya program memutar lagu-lagu yang di luar hits, dan memutarkan lagu-lagu yang menurut rekomendasi penyiarnya, tapi tak banyak. Kalau di luar negeri, ada penyiar terkenal yang bernama John Peel dari BBC Radio. Dia tak hanya memutarkan lagu, tapi juga mempromosikan lagu yang menurut dia bagus, bukan semata-mata karena menurut pendengar sudah dianggap enak. Yah, ada semacam edukasinya lah.

Nah, kembali ke kompromi. Yang gawatnya, lagu-lagu yang tak saya sukai tadi, karena didengar tiap hari, lama-lama hati mulai menyerah. Waktu di I Radio, saya yang awalnya sebal sama lagu “Jujur” dan “Cinderella” dari Radja, eh belakangan, begitu mendengar lagu itu diputar, ikut bersenandung dalam hati.

Sekarang, saya harus berdoa, dan memasang pertahanan yang kuat, supaya tak ikut bersenandung dalam hati mengikuti lagu-lagu Kerispatih dan Sammy Simorangkir. Ah, bagus lah. Sejauh ini sih, ketika mengetik, tak terbayang intro ataupun nadanya.

Cuma ya, nanti pas siaran. Pasti akan bertemu lagi dengan lagu-lagu itu. Hahaha.

Karena Belahan Dada Itu Berbahaya

Belahan dada. Bahasa Inggrisnya, cleavage.

Pemandangan indah, bagi laki-laki normal. Mungkin Anda perhatikan, belakangan ini, di media massa–baik cetak maupun elektronik, kecuali radio ya, karena tak terlihat juga–ada kebijakan menyamarkan atau mengaburkan foto perempuan yang berpakaian seksi, misalnya pake tank top atau gaun atau apapun jenis pakaiannya, yang mengindikasikan ada garis di antara dua dada perempuan.

Saya tak tahu, kebijakan ini muncul atas dasar apa. Mungkin ada yang pernah ditegur Komisi Penyiaran Indonesia, atau karena mereka yang memimpin media massa sekarang, adalah orang-orang religius yang sangat memerhatikan aurat perempuan. Atau, meniru kebijakan film porno dari Jepang yang biasanya mengaburkan gambar alat kelamin. Atau, mungkin ada masukan dari para perempuan yang iri dan dengki melihat para perempuan yang punya belahan dada. Bukan apa-apa, menurut saya, kebijakan ini agak diskriminatif. Perempuan yang dadanya kecil, meskipun memakai tank top, tak dikaburkan, karena tak ada belahannya.

Kebijakan ini cenderung berlebihan. Soalnya, kadang ada yang fotonya biasa saja, tahu-tahu sudah dikaburkan di sekitar dada. Yang lebih menggelikan, seringkali, ada yang memberitakan soal artis ini berpose seksi, terus fotonya dikaburkan. Lah, kalau memang tak mau orang penasaran mah, jangan ditulis beritanya. Ditampilkan tak boleh, tapi dibahas. Apa maunya sih? Kan orang yang membaca beritanya, malah bisa meneruskan pencarian di Google. Kecuali tentu saja, mereka yang di telepon genggamnya memakai paket gaul yang cuma bisa chatting dan membuka media sosial.

Keluhan ini bukan semata-mata karena saya pervert ya, tapi menurut saya, ya kalau memang tak mau menampilkan foto perempuan dengan belahan dada, ya sekalian saja, jangan ditampilkan. Jangan setengah setengah.

Lagian, kasihan loh, mereka yang sudah berniat tampil seksi dan ingin dilihat banyak orang, apalagi sudah keluar biaya mahal untuk memperbesar ukuran. Hehe.

Eh iya, berarti sekarang ada metode baru buat para artis perempuan yang ingin terlihat besar ukuran dadanya. Tak perlu lah operasi plastik yang mahal. Cukup bilang saja ke media massa yang memuat foto atau tayangan mereka, tolong dikaburkan di bagian dada. Dengan begitu, orang akan berasumsi bahwa dada mereka besar, dan belahannya cukup berbahaya buat ditampilkan.

Dan buat para tersangka kejahatan, kalau takut mukanya masuk berita, sekarang tak perlu menutupi pake jaket atau baju, dan jalan merunduk di depan kamera. Sekarang tinggal tutupi saja kepala mereka dengan foto belahan dada paling besar sehingga media otomatis mengaburkannya.

Sebagai penutup tulisan singkat minim manfaat ini, buat Anda yang ingin tahu lebih banyak soal belahan dada, ternyata ada 10 macam loh. Yah setidaknya kata situs ini.

Mendadak Ereksi, Bikin Keki

Dia dikenal dengan berbagai nama.

Majalah Cosmopolitan, menyebutnya dengan Mr. Happy. Entah dari mana asalnya. Mungkin jurnalis penggagas nama itu, selalu happy setiap bertemu dengannya. Mungkin juga, karena setiap melihat penampakannya, dia terlihat selalu bahagia. Atau, mungkin si penggagas, pertama kali melihatnya, dari seseorang bernama Mr. Happy. Ada juga yang menyebutnya dengan Mr. P, yang kemungkinan besar berasal dari nama standar: Penis, selain tentu saja nama standar lainnya: Titik, Kontrol. Sengaja saya plesetkan. Biar tak terlalu vulgar. Nanti disensor KPI. Haha.

Seorang kawan saya di SMP, sering menyebutnya dengan si Otong. Entah apa makna filosofisnya. Atau, kalau versi standar mainstream dari nama lain dia: “Adik” [Padahal, hubungan dengan si pemilik, bukan adik kakak], “Junior” [padahal, hubungannya bukan ayah anak], dan yang paling mainstream: “Burung.” Padahal, tak bersayap, dan tak punya paruh. Kesamaannya, hanya punya telur.

Dan setiap pria pasti pernah mengalaminya.

Ya, kecuali mungkin yang punya kelainan alias disfungsi.

Saya pernah baca di internet. Entah lelucon entah bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Katanya, pikiran laki-laki tak bisa lepas dari seks. Sepanjang hari, selalu topik seks muncul di benak. Tapi, yang akan saya bahas berikut ini, seringkali tak berhubungan dengan seks. Atau, mungkin alam bawah sadarnya ya? Tapi seingat saya sih, seringkali tak selalu berhubungan dengan seks.

Ereksi. Berdiri. Ngacung. Kontak. Sekali lagi, sengaja saya plesetkan. Supaya agak lucu saja, dan supaya tak disensor KPI. Lagi-lagi KPI. Maklum, penyiar radio yang baru beberapa bulan ini diberi edaran soal kata-kata yang jangan diucapkan saat siaran.

Ereksi karena rangsangan sih, biasa. Normal adanya. Melihat yang menggiurkan, otomatis berdiri tegak, menjadi keras. Penjelasan ilmiahnya, kayaknya sih berhubungan dengan aliran darah yang terpusat di satu titik itu. Hebat sekali ya, otak laki-laki, bisa memusatkan perhatian ke satu titik di satu saat. Fokus sekali.

Tapi, ada masanya, terjadi ereksi mendadak. Bahkan tak sedang melamun jorok, atau tak melihat pemandangan apapun, dia bisa tiba-tiba berdiri. Tanpa dikomando. Seakan-akan punya pikiran sendiri. Bagaikan otonomi daerah. Tak ada perintah dari pusat, dia punya kebijakan sendiri.

Dan ketika itu datang, biasanya terjadi awkward moment yang cukup membuat kesal.

Apalagi kalau itu terjadi di angkutan umum. Bayangkan, sedang di bis kota, posisi sedang berdiri alias tak kebagian tempat duduk. Ketika mendadak ereksi [si pemilik dan si adik jadinya sama-sama berdiri], tentu saja harus segera ditutupi. Persoalan terjadi kalau si laki-laki tak membawa tas. Kalau membawa tas pinggang, lebih aman. Tinggal memindahkan posisi tas ke depan, maka penampakan bisa diamankan. Kalau memakai tas ransel agak repot juga sih, soalnya harus buru-buru memindahkan tas ke depan, dan itu mencurigakan. Bisa-bisa dikira copet. Kan copet biasanya menaruh tas ransel di depan badannya, supaya tangannya tertutupi. Bahayanya, kalau ada yang melihat laki-laki ereksi, dan mengira akibat penumpang lain di bis kota, bisa-bisa dikira pelaku pelecehan seksual. Nanti fotonya dipampang di bis kota.

Di angkot sebenarnya masih agak aman, karena posisi duduk. Jadi tak terlalu menonjol. Yah, yang bawah sih tetap menonjol ya. Cuma yang berbahaya, kalau sudah saatnya turun dari angkot, dan ereksi masih terjadi. Bakal canggung sekali, karena ada yang menunjuk. Apalagi kalau pas turun ke jalan, orbit belum diarahkan dengan baik, akan terlihatlah bagian bawah menunjuk.

Makanya, saya tak suka memakai bicycle pants, atau celana renang ala speedo. Ketat sekali. Lebih ketat dari skinny jeans. Bedanya dengan skinny jeans, keketatan celana renang, membuat bagian selangkangan jadi cukup terekspos. Serba salah. Terlihat gundukan tak enak. Tak terlihat gundukan juga tak enak, karena bakal ada asumsi soal ukuran. Nah, apalagi kalau mendadak ereksi ketika memakai celana renang dan posisi sedang tak ada di dalam kolam. Wah itu mah, susah sekali disembunyikan.

Tapi ya, sebenarnya sih, semua itu harus disyukuri. Yang penting, masih bisa ereksi. Kalau tidak, nanti harus mendatangi Ikang Fawzy, dan bertanya, di mana obat yang dia jual, bisa kita dapatkan.

*Lalu terbayang wajah Ikang Fawzy dengan make up tebal, dan alis nyaris hilang, sambil bernyanyi dengan suara serak dia yang khas. “On Cliiniiic….”

Menulis Itu Menyenangkan

Dan saya baru teringat kembali betapa menyenangkannya menulis, seminggu terakhir ini.

Tepatnya sejak mulai aktif menulis blog lagi. Mudah-mudahan ini bukan euforia karena punya blog yang memakai nama sendiri. Meskipun blog ini dari WordPress, tetap saja, memakai nama sendiri. Yah begitulah, Anda tahu maksud saya.

Periode Blogspot, tulisan saya lebih banyak berisi curhat dan kalau dipikir-pikir, cukup mellow juga. Haha. Maklum, jomblo, baru pindah ke Jakarta, masa transisi dari mahasiswa abadi ke dunia kerja, gaji pas-pasan. Mungkin berpengaruh juga ya, ke tulisan.
Periode Multiply, sebelum situs itu menjadi entah apa sekarang saya belum pernah membukanya lagi, lebih banyak berisi jurnalisme musik. Maklum, karena pindah dari Trax Magazine ke Playboy, membuat gairah menulis musik tak tersalurkan dengan baik.

Periode ini, ya belum bisa dinilai. Kan baru. Yang jelas, ketika di Blogspot, tujuan saya menulis karena ingin mencatat apa yang saya alami, lihat, dan rasakan, lalu ketika di Multiply karena ingin menulis musik. Kalau di sini, supaya saya bisa terus menulis. Sebelum punya blog ini, saya cukup lama vakum menulis. Yah hampir dua tahun lah. Kalaupun ada beberapa tulisan yang dihasilkan, itu karena diminta oleh majalah.

Saya merasa, menulis cukup membantu supaya otak saya bekerja. Saya baru ingat, masa ketika saya baru muncul sebagai stand up comedian, inspirasi mengalir deras, otak saya sepertinya bekerja cukup bagus. Belakangan, saya merasa susah sekali mencari inspirasi. Entah karena secara finansial saya tak seperti dulu, sekarang sedikit lebih mapan jadi tak punya banyak masalah. Entah karena saya malas saja.

Tapi, mungkin salah satu penyebabnya adalah karena saya sudah lama tak menulis.

Menulis membantu melatih cara bertutur dan memandang sesuatu. Twitter adalah penyebab saya malas menulis blog lagi. Sebelumnya, Facebook membuat orang-orang di Multiply bubar sehingga tongkrongan di Multiply yang tadinya seru, jadi sepi. Tapi ketika itu terjadi, saya masih mencoba bertahan menulis di Multiply. Lantas ketika Twitter datang, dan saya terjerumus ke dalam microblogging, saya meninggalkan Multiply.

Terlalu sering menulis di Twitter, membuat kemampuan menulis panjang saya jadi agak berkarat. Sebenarnya di satu sisi, Twitter melatih kemampuan kita menulis pendapat hanya dalam 140 karakter [Makanya, say no to twitlonger!], tapi di sisi lain, Twitter membuat saya malas menulis panjang.

Yang menyenangkan dari menulis blog adalah kesempatan mengeluarkan apa yang ada di pikiran. Kalau ternyata, kemudian itu dibaca oleh orang lain, ya itu urusan berikutnya.

Beberapa kali dalam acara bincang-bincang di kampus, banyak mahasiswa yang bertanya, “Bagaimana caranya supaya blog kita dibaca banyak orang?”

Saya sebenarnya tak tahu jawabannya, mungkin blogger terkenal tahu jawabannya. Tapi buat saya sih, menulis di blog itu jangan memikirkan orang lain dulu. Yang penting, hasrat menulis tersalurkan dan tak menulis berita bohong atau fitnah terhadap orang lain. Soal tulisannya bagus, atau jelek atau bakal dibaca orang lain, itu belakangan.

Waktu saya aktif menulis di Blogspot juga tak berpikir bakal dibaca orang lain. Tapi ternyata, beberapa tahun kemudian, ada penerbit yang menganggap tulisan-tulisan itu layak dibukukan. Haha. Yah meskipun tak selaris bukunya Andrea Hirata dan tak membuat saya kaya, tapi lumayan lah, tiga kali naik cetak.

Iwan Fals membuat saya ingin jadi penulis. Entah itu penulis lagu, atau penulis buku, atau apapun lah. Yang penting menulis. Lirik buatan Iwan terdiri dari kata-kata sederhana, mudah dimengerti, tapi bisa menjadi sebuah cerita yang luar biasa ketika didengarkan atau dibaca. Lantas, Sahat Sahala Tua Saragih, dosen di Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran yang membuat saya menyukai kegiatan menulis. Dia lah yang berjasa atas kemampuan saya menulis dan mewawancarai. Intinya, sebagai jurnalis, saya berhutang budi pada Pak Sahala. Seminggu sekali ketika mengambil mata kuliahnya, dia membuat saya rajin membaca. Sebelumnya mah, boro-boro. Seminggu sekali, dia membuat saya menulis, hingga akhirnya lama-lama saya berpikir, “Oh ternyata saya bisa juga menulis, dan sepertinya saya jadi wartawan saja.”

Maklum, sebelumnya saya tak tahu mau jadi apa. Meskipun pernah bercita-cita jadi ustadz dan anggota ABRI, saya tahu cita-cita itu hanya keinginan bocah yang terpesona pada seragam tentara dan kocaknya Zainuddin MZ.

Jadi apa inti dari tulisan ini? Apakah sesuai dengan judulnya? Haha. Yah intinya sih, ini saya sedang mengasah otak saya. Ibarat pisau, kemampuan menulis saya sudah nyaris berkarat nih.

Bagaimana menutup tulisan ini ya? Ya sudahlah. Sekian dulu, terima kasih sudah membaca. Tadinya mau ditutup dengan kalimat yang keren, tapi saya bingung. Yah kalau Anda yang membaca tulisan ini, belum memulai menulis, dan baru mau menulis. Pesan saya: jangan ragu. Menulis saja, karena menulis itu menyenangkan.

Meskipun ayat Qur’an yang pertama kali diturunkan adalah perintah membaca, tapi sebelumnya harus ada yang menuliskan ayat itu kan. Hehe.

 

CD REVIEW: Island Skank, Never Forget Your Roots.

Nilai: 3 dari 5 bintang.

Uhuk. Sudah lama saya tak menulis review album.

Mendengarkan reggae atau ska, biasanya akan mendapat sensasi yang menyenangkan. Sejelek apapun lagu ska atau reggae, biasanya saya bakal merasakan sisi bagusnya. Ini adalah album kompilasi persembahan PUKULRATA Records dari Bali. Nama ini menimbulkan kesan di benak saya: antara mereka semangatnya kebersamaan (semua kedudukannya sama) atau perlawanan (ingin memukul rata musuhnya). Hehe.

Yang jelas, semangat kebersamaan itu cukup terasa di album ini. Sebuah album kompilasi yang baik biasanya akan terasa benang merah dari lagu pertama hingga terakhir. Apalagi album kompilasi dari komunitas yang relatif belum dikenal banyak orang, biasanya ada semangat yang sama: ingin berekspresi, mendokumentasikan, dan mengenalkan musiknya ke publik yang lebih luas.

Seperti judulnya, Never Forget Your Roots, mereka yang terlibat di album ini, ingin berbagi dengan kita, kecintaan pada ska dan reggae, dan menunjukkan hasil interpretasi mereka dari pengaruh dua aliran musik itu pada karya mereka. Ini adalah bukti penghargaan mereka pada musik yang mereka cintai: sebuah dokumentasi yang apik. Yah minimal, kalaupun band-band yang terlibat di kompilasi ini tak berumur panjang atau tak menjadi lebih besar lagi namanya di skena musik, karya mereka sudah terdokumentasikan.

Ada delapan lagu di sini, dan satu hidden track yang tak terlalu tersembunyi karena di halaman dalam bungkus CD ini, tertulis detilnya. Hehe. Biasanya hidden track sih tak ditulis infonya.

Lagu pembuka di album ini adalah “Percuma” dari The Croto Chip. Kalau Anda de ja vu dengan vokal serak di sini, itu mungkin karena Anda sudah akrab dengan Superman Is Dead. Bobby Kool hanya memakai nama Bob di sini. Mereka memainkan ska dengan suasana ceria yang menyenangkan dan menyanyikan lagu tentang meminjam korek. Saya tak tahu lirik lengkapnya. Tak ada info soal lirik di CD ini.

Lalu ada “That’s Wrong” dari Pride of Lion yang membawakan reggae enerjik tentang dua tips bahagia: let it go dan take it easy.

Lagu ketiga, adalah “Struggle Sun” dari Roots Radicals. Dua kata: Rancid banget. Yah dari nama band nya saja, mereka yang tau Rancid pasti bakal tau dari mana mereka mengambil namanya. Tak hanya struktur lagu, tapi juga karakter vokal. Berhubung saya suka Rancid, jadi saya anggap saja ini sebuah penghargaan buat Rancid.

Lagu keempat adalah “Blazin” dari Garden Grove. Lagu favorit saya di album ini. Mereka memainkan reggae yang tenang. Seperti mengajak kita ke pinggir pantai, di mana angin bertiup sepoi-sepoi, dan matahari terbenam ada di depan kita, dan mengajak sing along di bagian paling enak di lagu ini: “Let this music set you free. Higher than the mountain. Deeper than the sea.”

“Bintang Terang” dari The Kool Katz ada di urutan kelima. Irama lagu yang menghentak mengajak kita berdansa dengan lirik optimistis soal persahabatan yang dibalut brass section manis. Sedikit bocoran: Vendetta sang penabuh drum, lebih dikenal dengan nama JRX.

Lalu ada “Brotherhood ” dari Ska Teenagers Punk. Sebuah lagu yang enerjik, dan seperti nama bandnya, musik mereka adalah semangat punk rock dicampur dengan bumbu ska.

Lagu ketujuh adalah “Jackknife Blues” dari Jackknife Blues. Ini adalah pertemuan antara ska dengan rockabilly dan sedikit aroma blues.

Lagu kedelapan adalah “Senja” dari The Street Wolf. Dua kata: reggae tongkrongan. Hanya dengan iringan gitar akustik dan vokal serak yang auranya gahar, membuat saya terbayang dua pria sedang nongkrong dan bernyanyi sambil melihat orang berlalu lalang.

Lalu ada hidden track yang entah apa judulnya, tapi mereka menamakan dirinya Speaker Separatis. Tapi di sebelahnya, ada nama Soundbwoy Dodix Champion Sound. Soundbwoy Dodix adalah co-producer di album ini. Dia meramu dub music yang dipadu puisi (atau, ‘middle finger’ kalau meminjam istilah yang dipakai mereka) Vendetta alias JRX.

“Tunggu aku di jalan!” katanya.
“Jari tengah adalah diplomasi terbaik,” katanya lagi.

IMG_8885-0.JPG

IMG_8886-0.JPG

Antara Solat Jumat, Melamun, dan Sesi Tidur Siang

Kalau hari Jumat begini, biasanya twit standar yang banyak beredar adalah soal mengingatkan solat Jumat biar ganteng. Entah siapa yang memulainya. Mungkin seseorang yang tidak ganteng. Mungkin juga khotbah gaya baru. Mengiming-imingi ibadah dengan imbalan bukan cuma pahala, tapi kadar kegantengan seseorang.

Solat Jumat, sejak saya kecil, selalu identik dengan tidur di saat khotbah. Hehe. Salah satu kenangan masa kecil saya [entah masih di TK atau sudah kelas 1 SD saya tak tahu] yang masih menempel adalah satu hari Jumat di Mesjid Al Banna [entah bagaimana penulisannya] di Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, saya diajak solat Jumat oleh bapak saya. Adegan yang membekas adalah saya tidur di paha bapak saya, lalu dibangunkan karena khotbah sudah selesai dan saatnya solat. Sepertinya saya baru setinggi paha orang dewasa, karena yang ada di ingatan saya, kepala saya pas di ketinggian paha mereka.

Saya harus buat pengakuan. Hingga SMP, saya mengira solat Jumat adalah solat sunat. Haha. Karena jumlah rakaatnya yang dua, dan biasanya solat sunat itu dua rakaat. Saya baru tahu bahwa solat Jumat itu solat wajib [pengganti  solat Dzuhur], ketika sudah SMA. Buat yang bukan beragama Islam, sunat itu ibadah yang tak diwajibkan, tapi kalau dikerjakan bakal dapat pahala. Kalau wajib itu harus dikerjakan, kalau tak dikerjakan berdosa.

Tapi, sepanjang hidup saya melaksanakan solat Jumat, sebagian besar diisi dengan tidur di saat khotbah. Sepengetahuan saya, tak apa-apa tertidur, asal posisi duduk tegak, pantat aman, yakin bahwa tak akan ada gas yang keluar pada saat tidur alias kentut. Haha. Bukan apa-apa, saya memang cenderung mudah tertidur kalau mendengarkan monolog. Baik itu di ruang kelas, maupun di dalam mesjid.

Tapi katanya sih, mendingan tertidur, daripada ngobrol. Ini juga salah satu trik jitu supaya tak diajak ngobrol kalau Jumatan bareng teman. Lagipula, katanya tidur siang berguna untuk kreativitas. Makanya, supaya terus kreatif, saya harus tidur siang di kala ada kesempatan. Hehe. Dan kalau tak tertidur, biasanya melamun, atau kaki kesemutan karena memakai jins. Makanya, sarung adalah pakaian yang paling pas buat berlama-lama di mesjid. Bebas dari kesemutan.

Kalau kata guru agama sih, ketika khotbah Jumat sedang berlangsung sebaiknya tak memikirkan urusan duniawi. Tapi sejauh ini sih, susah sekali. Malah lebih mudah memikirkan pekerjaan atau urusan duniawi ketika sedang sesi khotbah Jumat. Tak jarang, malah suka tiba-tiba melamun jorok. Dan sodara-sodara, tiba-tiba ereksi sambil duduk bersila itu adalah momen yang tak menyenangkan. Sama tak menyenangkannya, dengan tiba-tiba ereksi ketika sedang duduk di angkot atau berdiri di bis kota.

Harusnya sih, lebih banyak mengingat Alloh ketika di mesjid, ya. Tapi nyatanya, saya lebih banyak mengingat Alloh ketika ada di dalam pesawat. Apalagi ketika take off dan begitu ada goncangan. Segala macam ayat dan puji-pujian kepada Alloh selalu saya ucapkan. Hehe. Maklum, saya termasuk cukup takut terbang. Bukan apa-apa, manusia mah, tempatnya ya di darat. Menginjak tanah. Mungkin itu sebabnya, saya orangnya down to earth ya. Hahaha.

Berarti, sering-sering naik pesawat, bakal membuat saya lebih religius ya. Selain mendapat banyak poin buat frequent flyer. Hehe.

Wah, kalau begitu, mungkin kalau solat Jumatnya sambil naik pesawat, saya bakal lebih khusyuk beribadah. Kalau soal jadi ganteng mah, nggak lah.

Kan saya orangnya bukan termasuk yang ganteng, tapi karismatik. Hahahaha.

 

Untuk Para Pemberani di Dunia Maya

Yang seringkali, tak seberani itu di dunia nyata.

Berkembangnya media sosial, khususnya Twitter dan Facebook, memunculkan banyak orang yang berani mengeluarkan pendapatnya. Tak jadi soal apakah pendapatnya itu didukung fakta, atau pendapat asal jeplak asal ekspresi terluapkan.

Saya bukan mau menulis soal etika menyampaikan pendapat di internet. Hehe. Buat saya sih, sebenarnya terserah saja lah, orang mau menulis apa di internet–selama tak menyebarkan berita bohong alias fitnah. Kalau mau bicara kasar atau tak sopan mah, ya itu pilihan ekspresi.

Yang mau saya bicarakan, adalah seringkali, mereka yang berani berkata-kata di Twitter, kenyataannya tak seberani itu.

Kawan saya, Arian13 pernah punya pengalaman. Satu waktu, ada satu orang yang sering mencercanya di internet. Mencaci semua yang dikerjakan Arian. Singkat cerita, karena merasa penasaran, Arian berhasil mencari tahu siapa orang itu, dan mendapat nomor teleponnya. Ketika Arian menelepon orang itu–masih dengan nada baik-baik–si orang itu, malah tak menunjukkan keberingasan seperti yang dia tunjukkan di internet.

Saya juga pernah punya pengalaman serupa, beberapa tahun lalu. Ada satu orang–penulis dan vokalis band–yang tiba-tiba menjelek-jelekkan saya di Twitter setelah saya menulis satu twit soal musik. Dia menulis bahwa saya jurnalis musik yang buruk karena menulis twit soal musik Melayu. Padahal saya tahu, musik Melayu itu bukan musik pop yang sering muncul di TV. Makanya, saya twit dengan kalimat musik pop dengan cengkok vokal Melayu. Saya tahu soal ini, karena ada teman-teman saya yang follow saya juga follow dia. Si orang itu, bahkan mengungkit tulisan saya di jaman Multiply, yang salah menulis soal istilah film musikal. Sejak di jaman Multiply juga saya tahu istilah itu salah, karena sudah dibahas melalui reply orang-orang.

Anywaaay, si orang itu tak sekali dua kali nyinyir terhadap twit saya. Bahkan twit yang tak ada hubungannya dengan musik pun, dia nyinyiri [ini istilahnya benar nggak ya? Haha]. Akibatnya, teman-teman saya yang juga teman dia, bertanya-tanya, ada masalah apa saya dengan dia? Saya tak pernah merasa membahas dia. Bahkan menulis ulasan soal album band dia pun tak pernah.

Kalau menurut analisa kawan-kawan sih, mungkin karena dia merasa lebih pintar dari saya, tapi yang lebih dikenal sebagai penulis, malah saya. Haha.

Saya tak pernah membalas twitnya, tapi Tuhan cukup berbaik pada saya. Satu hari, saya bisa bertemu dia di satu acara. Tanpa ragu, saya hampiri dia. Saya rangkul pundaknya. Tidak, bukan mau saya pukul kok, saya kan cinta damai. Haha. Setelah dirangkul, saya tatap matanya, dan berkata, “Banyak orang nanya sama gua, Elu kenal sama ***** nggak? Nah, gua pengen liat mukalu, kayak gimana sih.”

Dia tak menjawab apa-apa. Cuma menatap ke depan dan bertanya soal alat DJ di panggung.

Saya tinggalkan dia.

Setelah itu, tak pernah ada lagi twit tentang saya. Tak perlu bertanya siapa orangnya. Saya tak mau membuat dia populer. Haha. Kalau yang sudah tahu, simpan saja dalam hati, tak perlu ditulis di fitur comment. Nanti tak akan saya approve. Haha.

Jadi, hikmah dari cerita ini. Kalau Anda punya pengalaman serupa dan punya kesempatan yang sama, lakukanlah seperti yang saya lakukan. Hehe.

Saya juga sepertinya bakal begitu sih. Meskipun sering menulis twit soal SBY, kalau bertemu dia mah, saya tak akan seberani itu. Tapi kalau Bu Ani sih, saya yakin, di kehidupan nyata, sama galaknya dengan dia di Instagram. Hehe. Banyak juga kok, yang berani di dunia maya, dan aslinya juga sevokal itu–dan saya angkat topi buat mereka. Tapi, tulisan ini ditujukan buat yang beraninya di dunia maya doang. Hehe.

Nah, bicara soal keberanian di dunia maya. Jangan-jangan, penyebab sekarang sedikit sekali aksi di jalanan, karena banyak yang merasa, sudah cukup menulis di media sosial atau memang tak seberani itu.

Ada yang bertanya di Twitter, dengan situasi politik Indonesia yang sepertinya menuju pada kebangkitan Orde Baru, ke mana mahasiswa sekarang? Pikiran ini, muncul setelah membaca twit dari kawan saya @josephsudiro

Saya tak mau terjebak nostalgia masa lalu. Tapi, ketika era ’98, komunikasi belum sebebas dan selancar ini, konsolidasi mahasiswa berjalan dengan baik. Tapi ya, ini masih analisa dini dan dangkal. Siapa tahu, memang mahasiswa sedang menyusun rencana untuk aksi turun ke jalan demi menghadang bangkitnya Orde Baru.

Buat yang pro Orde Baru dan menganggap ketakutan saya berlebihan, itu mah hak Anda. Tapi saya tak ingin Orde Baru muncul lagi. Kampret juga ya. Secara nama, itu bagus. Sampai kapanpun, akan terasa kekinian, karena Orde Baru. Orde Baru Mark II bakal lebih kuat lagi, karena didukung kaum yang merasa ‘religius’, saya kuatir mereka yang minoritas akan lebih sulit lagi beribadah. Sekarang saja, masih ada orang yang sulit beribadah.

Ini kenapa tulisan saya tiba-tiba ke sini ya arahnya? Haha.

Ngawur. Begini nih jadinya kalau orang yang sebelumnya tak peduli politik, mau sok-sokan menulis tema begini. Habis mau gimana lagi? Baca dan nonton berita soal kelakuan para poiltikus, menyebalkan sekali ya. Mungkin karena politikus itu artinya banyak tikus [poli = banyak]. Haha. Saya memang sebal sama tikus.

Kadang-kadang, saya suka berpikir. Bagaimana kalau sebenarnya yang kita lihat di media massa itu hanya pura-pura. Macam program reality show atau program hipnotisnya Uya Kuya. Siapa tahu, para politikus itu ada yang berperan baik, ada yang berperan jahat. Jadinya, semacam ada harapan buat rakyat, bahwa masih ada yang baik di pemerintahan. Padahal mah, semua sama saja.

Waduh, maaf nih, jadi berburuk sangka begini. Semoga saja masih ada orang baik di sana.

Tuh kan, jadi melantur lagi tulisannya. Jauh sekali sama judulnya. Haha.

Sudah, ah.