You’ll Never Walk Alone. Asal Ada Temen.

“Liverpool itu berasal dari dua kata. Liver dan Pool,” kata Paul Beesley. Pria tambun itu meskipun agak terlihat berat membawa badannya ketika berjalan kaki, selalu bicara penuh semangat. “Liver itu artinya kotor. Kayaknya jaman dulu di sini banyak semacam sungai yang airnya kotor. Mungkin sekarang ada di bawah gorong-gorong.”

Beda gizi.

Senin, 25 September 2017. Saya tiba di Liverpool sehari sebelumnya. Dan siang ini, ditemani Paul Beesley, saya dan teman-teman [masih dari rombongan yang sama, baca tulisan sebelumnya buat tahu siapa saja mereka] menyusuri kota kedua dari rangkaian jalan-jalan ke Inggris atas undangan British Embassy Jakarta. Paul sudah menemani banyak turis dari Indonesia. Tahun lalu, dia menemani seorang pembawa acara olahraga. “Kamu kenal dia nggak?” katanya sambil menunjukkan fotonya berdua. Rupanya yang dimaksud, Pangeran Siahaan, seorang pengamat sepak bola.

Atraksi wisata yang pertama kami kunjungi adalah British Music Experience. Ini semacam museum yang menceritakan sejarah musik di Inggris, dari era 50-an hingga terkini. Sebelumnya, BME ada di London, dan kini dipindahkan ke Liverpool. Paul tak tahu alasannya. Kalau punya banyak waktu, tempat ini sungguh memberikan banyak pengetahuan tentang musik. Kita diberi pemutar audio yang bisa kita pilih berdasarkan alat peraga yang ada di depan. Misalnya, ketika sampai di alat peraga tentang the Rolling Stones, kita tinggal pilih keterangan yang kita mau, dengarkan audionya, sambil dilihat barang-barang yang dipamerkan di depan kita. Di tengah ruangan, ada panggung, yang pada jam tertentu memutar hologram musisi sedang manggung. Ketika saya di sana, Boy George versi hologram tampil membawakan “Karma Chameleon” dari Culture Club. Saya tak tahu apakah cuma Boy George atau memang ada musisi lain yang ditampilkan versi hologramnya. Di sana juga ada booth interaktif di mana kita bisa mencoba memainkan alat musik. Yah, lumayan lah buat yang bermimpi mau jadi musisi tapi tak kesampaian.

Hologram si Boy George.
Ini asli. Bukan hologram.

Museum berikutnya yang kami kunjungi adalah Museum of Liverpool. Ini berisi informasi segala macam tentang kebudayaan Liverpool. Musik, olahraga, hingga sastra. Mirip dengan yang ada di BME, tapi ini versi lebih sederhana dan beragam tema. Jaraknya hanya berjalan kaki dari BME. Semua atraksi turis di daerah ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tak terlalu jauh lah jaraknya.

Cuma ini foto yang saya ambil di Museum of Liverpool. Selebihnya video. :))

Yang juga dekat, adalah The Beatles Story, ini museum khusus The Beatles. Kalau mau tahu sejarah The Beatles tanpa perlu membaca bukunya, pergi ke sini adalah solusi tepat. Kita bukan hanya dapat informasi, tapi juga merasakan pengalaman seakan-akan kembali ke masa lalu, karena ada replika dari benda-benda atau bangunan yang diceritakan. Idealnya, setelah pergi ke sini, langsung ikut Magical Mystery Tour. Sebuah tur keliling Liverpool dan mengunjungi tempat-tempat yang ada hubungannya dengan The Beatles. Kita dibawa pergi ke Penny Lane, Strawberry Fields, ke rumah masa kecilnya para personel The Beatles.

Suasana di kota santri. Eh, The Beatles Story.

Di antara kunjungan-kunjungan itu, Paul mengajak kami naik Ferry menyusuri sungai Mersey. Ini sungai yang penting dalam sejarah musik dunia. Banyak band bermunculan di Liverpool hingga muncul istilah Mersey beats, aliran musik yang campuran antara rock n’ roll, doo wop, skiffle dan RnB. Mersey Beat juga jadi nama majalah yang didirikan teman sekolahnya John Lennon dan media yang sangat dekat dengan The Beatles karena menulis banyak cerita tentang mereka, bahkan tulisan-tulisan awal John Lennon, diterbitkan di sini. Tapi Liverpool bukan cuma The Beatles. Sebelum the Fab Four itu mendunia, Liverpool punya Gerry and the Pacemakers. Mereka punya lagu “Ferry Cross The Mersey” dan itu sebabnya Paul mengajak kami ikut naik Ferry menyusuri sungai Mersey.

Kapal Ferry. Tanpa Salim. Tanpa Maryadi.
“Dari dulu, Liverpool sudah didatangi banyak orang, mungkin karena kota pelabuhan. Segala macam budaya masuk ke sini,” kata Paul. “Saya yakin, sungai Mersey juga punya kedekatan dengan kalian orang Indonesia. Di seberang sungai sana, tinggal salah seorang pendiri perusahaan yang kemudian bernama Unilever. Saya yakin banyak produk mereka ada di rumah kalian.”
Satu lagi yang sangat dekat dengan orang Indonesia, selain The Beatles dan Unilever: Liverpool FC alias klub sepak bola Liverpool. Saya yang bukan penggemar bola saja, tahu ada klub sepak bola itu. Saya cuma tahu dua sebenarnya: Liverpool dan Manchester United. Mungkin karena penggemarnya paling banyak di Indonesia, jadi saya yang awam sepak bola, bisa tahu. Saya tak tahu siapa saja pemain Liverpool, tapi saya tahu slogan terkenal mereka: You’ll Never Walk Alone yang ternyata adalah salah satu lagu dari Gerry and the Pacemakers. Ya, kemarin saya tak walk alone selama di Liverpool, karena ada temen.
Band itu adalah satu dari sekian banyak band yang bermunculan di Liverpool dan manggung di Cavern Club yang ternyata ada di gang sebelah hotel saya menginap: Hard Days Night Hotel [yang menyambut penyewanya dengan lagu The Beatles saat pertama kali masuk kamar]. Cavern Club mengklaim diri mereka sebagai “klub paling terkenal di dunia.” Bukan klaim yang berlebihan sih, karena nyatanya memang klub yang ada di bawah tanah itu, punya peranan penting dalam sejarah musik dunia. The Beatles sudah manggung ribuan jam di sana. Panggung musiknya tak pernah sepi hingga kini. Anda datang ke sana hari apapun, ada band atau penyanyi yang tampil.

Ada dua yang membuat kenapa saya senang datang ke Cavern Club. Pertama, ini klub yang punya sejarah dekat dengan The Beatles. Kedua, lagu-lagu yang dimainkan oleh band atau musisi di sini, semuanya saya suka [setidaknya, dari dua malam berturut-turut saya ke sana], karena biasanya mereka memainkan Mersey Beats dan musik-musik yang mempengaruhi atau terpengaruh olehnya. Suasananya menyenangkan. Ini adalah klub yang cocok dengan selera musik saya. Sayang tak ada yang seperti ini di Indonesia.
Di Cavern Club tak ada asap rokok. Tak ada pelayan yang menghampiri dan bertanya mau mesen apa kalau kita bengong saja karena cuma mau nonton musik. Dan yang pasti, tak ada musik ajeb-ajeb jedang jedung.
 

Jalan-jalan ke Kampungnya Morrissey

Sodara-sodara, saya mau cerita soal perjalanan beberapa minggu kemarin ke Inggris [22- 29 September 2017]. Ada 3 kota yang saya kunjungi, dan ini adalah cerita dari kota pertama: Manchester.
Saya jalan-jalan bersama rombongan yang semuanya diundang oleh British Embassy di Jakarta. Ada Aditya, penyanyi yang punya hit “Be Mine”, dan sekarang lebih populer sebagai Youtuber yang tukang review sneakers. Ada Febrian, yang juga penyanyi. Silakan lihat di Youtube, lagunya yang berjudul “Cinta Diam-Diam.” Saya juga baru tahu lagu dia setelah pulang jalan-jalan. Haha. Febrian ketika masih menyanyi, berbeda dengan Febrian sekarang. Dulu dia tampangnya ke K Pop K Pop an. Nuansa oriental sungguh kental. Febrian yang kini, berambut gondrong, kumis dan jenggot menghiasi wajahnya, dan kulitnya terbakar matahari. Hampir tak terlihat keturunan Cina, kalau saja matanya tak sipit. Febrian kini jadi travel blogger, bukan singer. Selain Febrian, ada dua travel bloggers lainnya: Kadek Arini dan Anggey [namanya sih Anggi, tapi ditulis begitu karena katanya dia penggemar Mickey Mouse]. Febrian, Kadek dan Anggey, followers Instagramnya lebih banyak daripada saya. Untung saja Adit masih lebih sedikit dari saya, jadi saya tak jadi orang yang followers Instagramnya paling kecil. Haha. Terakhir, ada Vera Waloeyo, dari British Embassy. Vera menjamin kelangsungan hidup kami selama di Inggris. Rejeki dari Tuhan datang lewat Vera.

Dari depan ke belakang: Febrian (sebelah saya), Kadek, Anggey (kacamata), Vera, Adit.

Perjalanan dari Jakarta menuju Manchester memakan waktu hampir 20 jam, ini dengan transit kira-kira 5 jam di Abu Dhabi. Lumayan, ini bisa saya gunakan buat buang air besar dan cebok dengan semprotan air.
Buat penggemar bola yang membaca tulisan ini, maaf kami tak mengunjungi situs-situs yang berhubungan dengan sepak bola, karena perjalanan kali ini temanya adalah musik dan budaya. Lagipula, saya bukan penggemar bola, jadi tak peduli juga dengan itu. Hehe. Saya datang untuk musik. Sik sik musik saya suka musik.
Jumat, 22 September saya mendarat di Manchester. Bandara Manchester tak besar dan tak mewah, cenderung biasa saja. Memang, sepertinya sejauh ini, dari beberapa kota yang saya kunjungi, bandara yang paling mewah dan besar adalah Changi di Singapura. Terminal kedatangannya pun relatif kecil. Bagus lah, jadi sedikit menghilangkan perasaaan terintimidasi. Saya sering merasa terintimidasi kalau datang ke bandara luar negeri. Deg-degan. Was-was. Apalagi kalau sudah di Imigrasi. Petugas Imigrasi di mana-mana sepertinya galak. Meskipun surat-surat lengkap, tetap saja, perasaan was-was itu selalu ada. Mungkin kalau sudah sering jalan-jalan ke luar negeri, perasaan ini bakal hilang. Sama seperti perasaan takut ketinggian. Dulu, jaman masih jarang naik pesawat, saya selalu takut setiap naik pesawat. Perasaan bakal jatuh, selalu menghinggapi. Duduk dan melihat ke bawah pun selalu bikin jantung berdebar. Apalagi tahu bahwa kaki tak menapak tanah. Kini, setelah cukup sering naik pesawat, saya tak takut lagi. Dan sudah bisa tidur dengan tenang.

“Kamu datang sendirian atau bersama rombongan?” tanya petugas Imigrasi yang sebelumnya selalu galak pada semua yang ada di booth dia.

“Sama rombongan,” kata saya. Oh iya, ini dalam bahasa Inggris ya percakapannya. Saya terjemahkan biar tak dua kali mengetik.

“Panggil mereka,” kata dia. Saya memanggil rombongan.

“Apa pekerjaan kalian?” tanya si mas.

“Saya jurnalis, dan mereka travel bloggers,” jawab saya. Biar gampang, saya memang kadang menyebut diri saya sebagai jurnalis. Toh, di KTP dan paspor, pekerjaan saya tertulis sebagai wartawan, jadi tak salah dong. Hehe.

“Oh, travel bloggers. Jadi, kalian mau menulis tentang saya dong?” tiba-tiba si mas yang tadinya galak, jadi tersenyum dan becanda. Padahal, dia tak begitu pada penumpang lain. Saya pun jadi rileks.

“Oh, Anda mau kami tulis? Boleeh,” kata saya sok akrab. “Kami mau mempromosikan wisata di Manchester, supaya lebih banyak orang Indonesia datang ke sini. Saya selalu pengen dateng ke Manchester. Ini kota kelahiran Morrissey! Anda tahu Morrissey? Who Put the M in Manchester? Morrissey!” kata saya bersemangat.

Dia diam saja. Teman-teman rombongan saya tertawa.

“Anda tak peduli soal Morrissey ya?” tanya saya.

Dia menggelengkan kepalanya. Paspor kami diberi stempel dan kami pun dipersilakan masuk ke Manchester.

Kami menginap di The Radisson Blu Edwardian Hotel. Bangunan ini dulu bernama Free Trade Hall, sebuah gedung pertunjukan. Bukan sembarang hotel, karena di sini banyak terjadi konser musik yang penting dalam sejarah musik dunia. Dua di antaranya adalah: Bob Dylan dan Sex Pistols. 17 Mei 1966, ketika Dylan pertama kali manggung dalam format elektrik, dia menggegerkan publik. Dianggap penghianat. Momen yang terkenal di konser ini adalah ketika ada penonton yang berteriak, “Judas!” kepada Dylan. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya 4 Juni 1976 di tempat yang sama, Sex Pistols manggung. Ada kira-kira 42 orang di hari pertama, dan konon, dari pertunjukan itu, banyak yang kemudian dapat inspirasi untuk membuat band. Beberapa orang yang konon ada di sana adalah, Ian Curtis, Bernard Sumner, Peter Hook [Joy Division], Howard Devoto, Pete Shelley [The Buzzcocks], Tony Wilson [mendirikan klub Hacienda yang terkenal itu], Mick Hucknall [Simply Red], dan Morrissey [The Smiths]. Yah, kamu bisa nonton film 24 Hour Party People untuk dapat gambaran seperti apa konser Sex Pistols yang mengubah industri musik dunia itu.

Pemandangan dari dalam kamar hotel.
Di depan The Radisson Blu Edwardian
 

Manchester adalah kota industri—ikon kota ini adalah lebah, karena lebah adalah binatang pekerja keras dan bahu membahu dalam menghasilkan madu, itu sebabnya mereka mengambil filosofis lebah sebagai ikon kota. Selama dua ratusan tahun, kota itu hidup oleh pabrik kapas. Ketika akhirnya industri konveksi bangkrut, Manchester seperti kehilangan jati diri. Setidaknya, begitu penuturan tour guide kami. Makanya, ketika akhirnya skena musik di Manchester tumbuh subur, dan banyak band bermunculan lalu mendunia, kota itu punya lagi sesuatu yang dibanggakan. Musik menyelamatkan Manchester.

Jalan-jalan [maksudnya berkeliling ya, bukan jalanan] sungguh menyenangkan. Kotanya tak terlalu besar, transportasi umumnya ada tiga: taksi, trem, dan bus. Ada juga sepeda yang bisa dipakai. Sistemnya kita mengunduh aplikasi lalu dikenai bayaran di sana. Dan sepeda yang tersebar di penjuru kota—ada parkiran khususnya—bisa kita buka kuncinya dengan aplikasi, dan kita bisa pakai ke mana saja di kota itu lalu tinggalkan di mana saja selama ada parkirannya. Mungkin karena kotanya kecil, jadi sistemnya seperti itu, bisa ditinggalkan di mana saja.

Ketika saya tulis judulnya jalan-jalan, kenyataannya memang seperti itu. Saya lebih banyak jalan kaki selama di Manchester. Tur keliling kota pada 23 September 2017, benar-benar berjalan kaki. Udaranya sejuk. 20 an derajat celcius. Artinya, saya bisa pakai jaket kulit terus. Haha. Di Jakarta, agak susah memakai jaket kulit tengah hari sambil jalan kaki di jalanan. Emma, tour guide kami menunjukkan gedung-gedung yang dianggap penting. Pertama, Midland Hotel, yang katanya tempat kencan pertamanya David Beckham dan Victoria. Yah, kalau orang kaya memang seperti itu. Kencan pertama, langsung di hotel mewah. Kedua, Balai Kota Manchester. Bangunannya berumur ratusan tahun. Masuk ke dalam, kita bisa melihat foto-foto anggota dewan. Tak ada wartawan mangkal di sana, seperti yang biasa terlihat di kantor pemerintahan di Indonesia. Haha. Januari 2018, bangunan itu akan dipugar selama tujuh tahun. Sepertinya, kalau sudah dipugar, sewa gedung buat kawinan di sana akan lebih mahal [ya, orang bisa menggelar resepsi di Balai Kota]. Ketiga, Manchester Central Library. Di lobby, ada café sebelum kita masuk ke ruang buku-buku. Dan ada satu area di tengah, di mana ruangan itu akustiknya sangat bagus sehingga orang buka buku saja bisa terdengar. Keempat, menyusuri kanal yang jadi tempat pertemuan antara Manchester lama dan baru.

“Manchester sedang membangun,” kata Emma sambil menunjukan gedung tinggi dengan desain modern yang menjulang di antara gedung-gedung tua yang terlihat dari kanal. Emma membawa kami menyusuri kanal dan menceritakan soal kenapa banyak batu bata merah yang dipakai di gedung. Dulu, ketika bangsa Roma datang ke sana, Manchester adalah daerah dengan tanah merah yang luas, sehingga dijadikan bahan untuk membangun gedung. Di ujung kanal, Emma menunjukan bangunan yang dulunya berdiri Hacienda, klub malam yang terkenal di Manchester, karena berpengaruh untuk skena musik dan seni di sana. Sekali lagi, silakan tonton 24 Hour Party People buat tahu gambaran soal Hacienda.  

Menjelang makan siang, kami berjalan menuju daerah the Northen Quarter di mana banyak bar, café, butik, dan record stores. Ah, saya harus merogoh kocek cukup banyak ketika iseng mampir ke Picadilly Records yang menjual banyak piringan hitam yang kebetulan banyak sekali album kesukaan saya yang belum saya punya dan ternyata di sana relatif lebih murah harganya. Sungguh sebuah godaan duniawi yang fana.

The Northern Quarter adalah pusatnya industri kreatif di Manchester. Makanya, salah satu yang kami kunjungi adalah Manchester Craft and Design Centre. Di bangunan ini, ada beberapa toko yang menjual segala macam kerajinan. Area dalam gedungnya sungguh sangat cocok untuk post di Instagram, tipikal foto yang menjual keindahan mata dan menawarkan kenyamanan bagi siapapun yang membayangkannya.

Tapi itu bukan tipikal Instagram post saya, karena yang jadi kunjungan berikutnya, adalah tipikal Instagram post saya: berhubungan dengan musik. Saya, bersama Vera, Kadek, dan Anggey [setelah saya bilang bahwa ini tempat yang wajib didatangi kalau ke Manchester hingga akhirnya mereka mau ikut] pergi ke Salford Lads Club, di mana The Smiths pernah berpose di depan bangunannya untuk album Queen is Dead. Banyak penggemar The Smiths yang berkunjung ke Manchester pasti mengunjungi klub itu dan berpose di depannya. Kalau kamu Googling Salford Lads Club, maka kamu akan menemukan banyak foto orang berpose mengikuti pose The Smiths.

Salford Lads Club awalnya adalah klub untuk pria, tapi sekarang menerima pria dan wanita. Ini adalah salah satu dari sekian banyak klub yang masih aktif di Manchester. Kata Emma, klub-klub itu awalnya didirikan demi mengurangi tingkat kenakalan remaja yang sudah memprihatinkan di Manchester; anak-anak muda berkelahi, membuat onar, dan meresahkan warga. Ketika didirikan banyak klub, anak-anak muda itu bisa menyalurkan agresifnya melalui olahraga maupun musik yang ada di klub-klub itu. Perlahan, kenakalan remaja bisa dihilangkan dari Manchester.

Ketika saya sampai di Salford Lads Club, sekelompok bocah perempuan sedang bermain di sana. “Kalian penggemar The Smiths?” kata mereka. Bocah-bocah itu memegang permen seakan sedang memegang rokok.

“Kalian tinggal di mana?” tanya Vera.

“Di sana,” jawab mereka sambil menunjuk ke arah perumahan di ujung jalan.

“Orang tua kalian di mana?” tanya Kadek.

“Nggak tahu,” jawab mereka, sambil terus berlarian mengelilingi kami.

Mereka menawarkan untuk memotret kami, tapi karena melihat bocah-bocah itu begitu agresif kami jadi buruk sangka. Jangan-jangan, kalau hape diberikan pada mereka, tahu-tahu mereka lari membawa kabur. Hahaha. Akhirnya kami bergantian saling memotret. Pulang dari sana, kami berdiskusi soal akan jadi apa bocah-bocah perempuan itu kalau sudah besar. Kecil saja sudah nakal. Ah, sungguh kami sangat berburuk sangka.

Maunya sih, saya pergi ke rumah masa kecil Morrissey, tapi tak ada waktunya lagi. Tak apa lah. Jadi ada satu alasan lagi buat jalan-jalan ke Manchester.

Minggu, 24 September, kami menuju Liverpool naik minibus, tapi sebelumnya mampir dulu ke Castleton. Jalanan menuju Castleton sungguh panjang dan berliku dan berpotensi membuat perut mual. Castleton adalah daerah perbukitan dengan padang rumput yang luas dan pokoknya membuat tiga travel bloggers kami kegirangan. Maklum, mereka tipe yang pecinta kegiatan luar ruang dan pemandangan alam yang indah. Castleton adalah daerah yang dikunjungi orang untuk hiking dan jalan-jalan. Tapi kami di sana bukan buat hiking, melainkan ke AND [Abandon Normal Devices] Festival, sebuah festival musik di dalam gua. Ada tiga karya yang ditampilkan di sana, di antaranya karya dua musisi dari Jogja: Iqbal dan Toni.

Biar kayak travel blogger. Foto sambil jalan dengan latar pemandangan indah.

Jadi, AND Festival mencari seniman yang bisa membuat musik dengan merespon gua. Iqbal dan Toni membuat sebuah alat musik yang inspirasinya dari sarang tawon yang terbuka dan tertutup. Yah pokoknya, mereka membuat alat gamelan dari bahan besi, dan menghasilkan bunyi-bunyian yang merespon akustik gua. Begitulah prinsipnya. Selain Iqbal dan Toni, ada dua seniman lain. Kami masuk ke area gua lebih dalam lagi, beberapa daerah bahkan harus dimasuki dengan menunduk. Di area kedua, di bagian tengah gua, kami mendengarkan musik elektronik yang mendengung dengan pantulan dinding gua dan lampu yang kerlap kerlip. Area terakhir, di sudut gua yang buntu, kami mendengarkan musik dalam gelap. Benar-benar tak ada cahaya. Kalaupun ada, hanya sesekali mengikuti musik yang lebih menyerupai ilustrasi musik film horror.

Untung saja di luar negeri tak ada kuntilanak, jadi saya tak terlalu takut.
 

Sodara-Sodara, Saya [Belajar] Jadi Sutradara!

Saya tak pernah mengira kisah hidup saya bisa diangkat ke layar lebar.
Soalnya, saya selalu merasa kisah hidup saya datar. Tak inspiratif. Tak ada drama naik turun kehidupan. Hidup saya selalu ada di tengah. Disebut kaya, tidak juga. Disebut miskin, tidak juga. Dan biasanya, kalau ada kisah hidup orang diangkat ke layar lebar, harus digambarkan menderita penuh perjuangan nan berat.
Tapi, saya pernah menghayalkan soal ini. Satu hari ketika nongkrong di kampus, saya bermimpi, seandainya cerita pengalaman saya kuliah diangkat ke film, sepertinya bakal menarik. Meskipun akhirnya mimpi itu segera hilang begitu saya berpikir lagi soal betapa tak akan menariknya film itu. 
Hingga akhirnya satu hari pada Mei 2017, di sebuah ruang ganti pusat kebugaran. Seorang pria menghampiri saya. “Mas Soleh ya? Saya dari kemaren nyari nomer telepon Mas Soleh. Eh ketemunya malah di sini,” katanya seraya mengenalkan dirinya. 
Gangsar Sukrisno. Kris panggilan akrabnya. Dia bekerja di Mizan. Bukan bekerja, tapi lebih tepatnya, punya posisi penting di manajemen.
“Saya dan temen-temen di kantor nonton Hangout. Setiap Mas Soleh muncul, kami selalu tertawa. Nah, kata temen-temen di kantor, ‘Gimana kalo Soleh kita minta nulis skenario, main sekaligus nyutradarain film?’ Makanya, dari kemaren itu saya nyari nomer telepon Mas, mau nanyain itu. Kalau Mas mau, kami juga mau Mas nulis buku, jadi sebelum film rilis, bukunya terbit.” kata Kris.
“Wah, saya gak bisa nyutradarain Mas. Belum sanggup. Tapi, itu kita bicarain nanti lah. Nah, kalau permintaannya sambil nulis buku, saya mau filmnya tentang saya kuliah di Fikom Unpad,” kata saya.
Singkat cerita. Saya ajak Agasyah Karim dan Khalid Kashogi buat menulis skenario. Mereka sudah banyak menulis skenario, dan Aga teman kuliah saya, jadi saya yakin dia bisa membantu menulis cerita berdasarkan pengalaman saya kuliah. Saya beri sinopsis pada Miza dan mereka meminta saran Pak Chand Parwez Servia dari Starvision. “Saya minta Soleh nulis dari tahun 2012 eh jadinya malah sama kalian,” begitu reaksi Pak Parwez hingga akhirnya dua production house itu malah berkongsi untuk memproduksi film pertama saya. 
“Saya mau dibantu Monty Tiwa buat nyutradarainnya Pak,” kata saya ketika akhirnya resmi menerima tawaran mereka. Saya baru dua kali disutradarai Monty, tapi meskipun baru kenal, saya sudah cocok selera humornya. Itu sebabnya saya mau tandem dengan dia. Saya juga mengajak Bene Dion sebagai konsultan komedi, supaya ada yang membantu menambah unsur komedi di film ini. Tadinya saya mengajukan judul “Si Macan Kampus”, tapi Pak Parwez menganggap judul itu terlalu tua. Istilahnya sudah tak akrab bagi anak muda. Berdasarkan sinopsis, Pak Parwez menawarkan dua pilihan judul: “Jangan Gampang Menyerah”, atau “Mau Jadi Apa?” dan saya memilih yang kedua, karena lebih enak didengar dan paling tepat menggambarkan cerita di film. Itu juga yang selalu hinggap di pertanyaan saya ketika kuliah, “Mau Jadi Apa?”. Memilih jurusan Ilmu Komunikasi pun, karena saya mengira kuliahnya bakal santai dan cuma ngomong-ngomong, tapi sebenarnya tak pernah tau bakal jadi apa setelah lulus. Pertanyaan “Mau Jadi Apa?” juga saya yakin, pernah hinggap di benak banyak orang. Sebuah pertanyaan yang bisa kena ke hati banyak orang.

  

Dan semua terjadi begitu cepat. Sejak pertemuan pertama dengan kedua PH, tau-tau saya harus mulai suting Agustus 2017 demi mengejar target penayangan dan demi bisa syuting di kampus. Bulan itu kuliah masih libur. Praktis hanya dua minggu persiapan film ini, di luar penulisan naskah. Dan diputuskan bahwa lokasinya akan di Bandung dan Jatinangor. Saya dan Mas Kris menghadap Dekan Fikom Unpad, Dadang Rahmat Hidayat, demi mendapat restu lokasi, dan Pak Dekan membawa kami menghadap Rektor Unpad demi meminta ijin memakai nama Universitas Padjadjaran di film. Belum pernah ada film yang berlatar Unpad. Meskipun ada yang berlokasi di sana, tapi tak terang-terangan disebut Universitas Padjadjaran. Sedangkan kampus lain macam Universitas Gajah Mada atau Universitas Indonesia, sudah pernah ada.


Adjisdoaibu, Awwe, Boris Bokir, dan Ricky Wattimena saya ajak buat jadi pemeran utama. Mereka memainkan karakter yang diangkat dari teman-teman saya. Makanya, biar chemistry lebih mudah tercipta, saya ajak yang sudah jadi teman saya buat memerankan teman-teman saya. Selain itu ada Anggika Bolsterli, Aurelie Moeremans dan Putri Marino yang main jadi teman-teman perempuannya. Buat anak Fikom Unpad yang bertanya, “Yang jadi si ini siapa? Yang jadi si itu siapa?”, tak semua kisah saya selama di Fikom diceritakan di sini lah. Artinya tak semua orang bakal masuk cerita. Bahkan teman-teman dekat saya saja tak semuanya diceritakan di sini. Ingat ya, ini versi film komedi. Bukan dokumenter. 7 – 24 Agustus 2017 syuting film “Mau Jadi Apa?” berjalan hanya dengan jeda satu hari pada 17 Agustus. Artinya: kami nyaris tak ada istirahat. Bukan sebuah proses produksi yang ideal memang, tapi saya menikmatinya. Ada beberapa kenikmatan dalam proses produksi ini.


Pertama. Ini kali pertama saya jadi pemeran utama. Gaya lah. Sungguh bergengsi. Maklum, biasa dapet peran selewat, atau cuma beberapa scene saja. Jarang dapat peran yang banyak. Haha. 


Kedua. Jadi sutradara sekaligus penulis skenario, yah meskipun masih tandem dan soal teknis adegan film lebih banyak Monty yang bekerja, tapi di luar itu, saya punya kendali kreatif. Di film-film sebelumnya, hanya sebatas pemain, tak pernah ditanya soal kostum apa yang harus digunakan di film, soal lokasi adegan. Intinya, tinggal nunggu perintah. Tapi di sini, saya jadi salah satu bagian dari tim yang mencoba mewujudkan sebuah adegan. Meskipun ini kerja tim, tapi saya bisa bilang bahwa film ini salah satu karya saya.
Ketiga, kembali ke kampus. Mengulang kembali kehidupan belasan tahun lalu sungguh sebuah nostalgia yang menyenangkan. Bedanya, dulu saya hanya nongkrong dan senang-senang di kampus, sekarang nongkrong senang-senang sambil bekerja dan membagi ceritanya untuk orang lain. 
Keempat, membuat film “Mau Jadi Apa?” saya jadi ingat lagi, seperti apa rasa cinta saya pada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran dan Jatinangor. Waktu kuliah saya sering bilang, “Kalau dada saya dibelah, ada tulisan FIKOM UNPAD di situ. Tertulis dengan huruf kapital semua dan dicetak tebal.” Tapi jujur, setelah belasan tahun lulus, saya jadi tak terlalu peduli kampus. Hidup harus berjalan dan tak perlu memikirkan masa lalu. Dan kini, saya jadi tersadar. Saya masih cinta Fikom Unpad.
Kelima, ini sebuah pelajaran berharga. Tak banyak orang yang bisa punya kesempatan diberi kepercayaan untuk menulis, menyutradarai dan membintangi sebuah film. Kata orang bijak, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Dan membuat film “Mau Jadi Apa?” saya mendapat banyak pelajaran. Baik itu soal membuat film, maupun soal hidup.
Keenam, Karung Goni dan Fikombabes akhirnya bisa keluar kampus! Waktu menerbitkan dua majalah itu, tak pernah mengira kalau satu hari nanti, akan dibawa ke skala nasional dan diangkat ke layar lebar. Membuat film ini juga sedikit banyak mengingatkan pada pembuatan Karung Goni: dikerjakan dengan mepet dan dikejar tenggat. Haha.
Ketujuh, Lalieur Laleuleus Parege, band saya di kampus, akhirnya merekam lagu dan muncul di film. Setelah tujuh tahun tak pernah latihan, tahu-tahu berkumpul dan malah merekam lagu untuk film. Sungguh sebuah jalan hidup yang tak terduga.


Jadi ya, sungguh sangat menyenangkan membuat film “Mau Jadi Apa?” yang akan tayang 30 November 2017 di bioskop-bioskop kesayangan Anda. Saya sadar, film ini masih jauh dari sempurna, tapi kami sudah bekerja maksimal mencurahkan tenaga dan waktu demi film ini. Dan, seperti yang selalu saya bilang: sempurna hanyalah milik Gusti Alloh dan lagu Andra and The Backbone.