Ziarah Otomotif Hingga Musikal di London

“Jangan naik taksi di London,” kata seseorang kepada saya ketika saya berkunjung ke kota itu untuk pertama kalinya pada 2010.
Waktu itu saya diundang Coca Cola buat melihat Maroon 5 membuat lagu buat Coca Cola. Banyak bloggers diundang dari seluruh dunia buat datang ke sana. Nasib baik membuat saya terpilih ke sana bersama Endah dari duo Endah N Rhesa. 
“Taksi di London itu mahal,” katanya lagi. Pria itu bertugas mengantar jemput saya dari dan ke bandara. Kalau New York terkenal dengan Yellow Cab nya, maka London terkenal dengan Black Cab nya. Yang sudah nonton Kingsmen 2, pasti ingat dengan adegan perkelahian di dalam taksi hitam itu. 
Rabu, 27 September 2017, saya ke London untuk ketiga kalinya. Yang kedua, saya pergi bersama istri pada 2015. Dan di kunjungan ketiga ini, saya akhirnya merasakan naik Black Cab! Turun dari Euston Station setelah naik kereta selama 2 jam lebih dari Liverpool, rombongan kami naik taksi ke hotel Dorsett City. Kalau dihitung dalam rupiah, ongkosnya mencapai 500 ribu. Yah, seperti naik Alphard dari Bandara Soetta ke Cilandak, Jakarta Selatan lah. Bedanya, kami tak naik Alphard dan cuma setengah jam di kendaraan. Untung saja, British Embassy Jakarta yang baik hati membayar semua itu. 
Rombongan kami masih sama: selain saya, ada Aditya si Sneaker Freak, Febrian, Kadek Arini, dan Anggey si trio travel blogger, Vera dari British Embassy Jakarta, dan Rmishka dari Visit Britain [saya lupa menulis soal dia di rangkaian blog ini, padahal dia sudah ikut kami sejak di Manchester dan mengatur semua keperluan kami selama di UK].

Ki – ka: saya, Vera, Anggey, Febrian, Adit, Kadek. Rmishka udah pulang duluan.

Hotel Dorsett dekat sekali dengan area Shoreditch, ini adalah area paling nyeni di London. Kalau kamu jalan-jalan ke London dan mau melihat di mana daerah yang banyak hipsternya, datanglah ke Shoreditch. Kawasan ini dulunya daerah yang murah, pinggiran dan tak dilirik orang, tapi kemudian para seniman tinggal di sana, berkarya, membuat kawasan itu hidup sehingga sekarang jadi daerah yang mahal. Kalau kamu mau melihat street art, maka Shoreditch adalah tempatnya. Buat yang belum tau street art, ini adalah karya seni berupa visual yang ada di jalanan. Street art berbeda dengan graffiti, karena street art biasanya punya pesan yang mau disampaikan. Sedangkan graffiti lebih ke menonjolkan diri sendiri. Makanya kalau graffiti biasanya berupa tulisan nama seseorang. Sedangkan street art, yang penting pesannya, bukan si pembuatnya. Nama si seniman biasanya hanya tertulis kecil. Nah, dinding-dinding Shoreditch penuh dengan street art dan graffiti. 
Menurut guide kami, street art membuat sebuah restoran, café atau toko jadi lebih menarik. Orang-orang mampir ke situ, berfoto, dan biasanya melihat-lihat ke dalam sehingga memunculkan banyak pelanggan baru. Ada yang membuat street art nya karena merasa dindingnya bagus untuk jadi kanvas, tak sedikit juga yang membayar senimannya untuk menghias dindingnya. Street art sekarang bahkan dijadikan alat promo. Ketika memakai billboard berumur pendek, street art biasanya akan bertahan lama dan lebih indah dilihat. Saya melihat street art yang mempromosikan film Kingsmen 2 di sana, juga street art yang mempromosikan event yang padahal sudah lewat tapi masih terpampang di sana dengan bagus.  

Salah satu karya Banksy

Kalo ini, saya lupa siapa pembuatnya.

Di beberapa dinding, saya melihat karya Banksy, seorang street artist dari London yang terkenal akan karyanya tapi belum diketahui identitasnya oleh publik. Pemprov London melindungi karyanya dengan semacam fiber supaya karyanya tak dirusak orang. Kata guide kami, Banksy memang sering melakukan itu. Dia membuat karya di jalanan supaya orang lebih mudah melihatnya dan karyanya bukan jadi barang mahal, karena kalau sudah ditaksir kurator biasanya akan bernilai tak masuk akal buat orang awam. Kalau kemudian karyanya dikenal dan dihargai mahal, biasanya Banksy akan membuat pernyataan yang menyangkal karyanya itu. Para street artists masih banyak yang membuat karya di jalanan juga karena pertimbangan bahwa kalau karya ditampilkan di jalanan, kemungkinan dilihat orang akan lebih banyak jika dibandingkan dengan di pameran seni di galeri. Kunjungan ke London kali ini memang sangat artsy, saya diajak ke pameran seni yang menampilkan karya Jean-Michel Basquiat, seorang pelukis dari New York, Amerika Serikat. Kami tak boleh memotret selama di sana. Mungkin takut ada yang menirunya, atau entah apa lah pertimbangannya. Mungkin supaya tetap menarik sehingga orang harus datang ke sana kalau mau melihat lukisan-lukisannya. Mungkin juga supaya merchandise nya laku. 
Buat saya, yang paling menarik dari Shoreditch adalah Rough Trade East, sebuah toko rekaman yang menjual banyak sekali CD, vinyl, dan barang-barang berhubungan dengan musik. Wah, ini juga salah satu surga duniawi pengeruk uang. Vinyl yang dijual di sini, baru. Memang, di Camden banyak juga toko rekaman yang menjual vinyl, tapi biasanya bekas. Kalau perbandingannya di Indonesia, vinyl di Rough Trade East termasuk murah. Dan yang paling penting, keberagaman koleksinya sih, yang juara. 


Malam harinya, kami nonton musikal Lion King. Kata orang, belum lengkap ke London kalau belum nonton musikal. Dan Alhamdulillah, lengkap sudah kunjungan ke London saya kali ini. Luar biasa para aktor dan aktris ini. Mereka memainkan cerita yang sama setiap hari selama bertahun-tahun. Ada banyak musikal yang bisa ditonton selama di London. Kalau kamu ke sana dan punya banyak waktu, saya sarankan kamu nonton salah satunya. Yah, daripada cuma berfoto di Madame Tussaud atau belanja di Bicester Village. 
Hari berikutnya, saya menonton pertunjukan stand-up comedy dari Gabriel Iglesias, stand-up comedian bertubuh gempal, atau fluffy, begitu dia bisa menyebutnya. Mo Sidik lah kalau di Jakarta mah. Gabriel tampil selama 45 menit membawakan materi turnya, dan sisanya, ini yang baru buat saya, dia membawakan lawakan lama, yang sudah dikenal orang. Macam band memberikan sesi rekues kepada penonton. Dan yang hebatnya, serasa satu gedung Apollo Theater, mengucapkan punch line dari setiap lawakan yang sudah dikenal itu dengan benar! Mirip sing along pada lagu. Luar biasa. 


Hari terakhir di London, sebelum pulang, Jumat 29 September 2017, saya berkunjung ke Ace Café. Buat yang cinta motor, pasti tahu motor tipe café racer. Itu loh, motor yang nyetirnya bungkuk macam pembalap dan biasanya joknya cuma buat seorang. Istilah café racer muncul dari sana. Tahun 60-an, anak-anak muda di sana balapan dari café ke café sehingga disebut café racer. Ace Café adalah salah satu tempat sakral buat pecinta motor. Jaraknya hampir satu jam dari pusat kota London kalau kita ke sana naik kereta dan bis kota. Tempatnya luas. Makanan dan minumannya sih relatif terjangkau lah, kalau ukurannya harga makanan di London. Bukan restoran mewah lah. Di dalam café, ada beberapa motor dipajang, juga ada sudut yang menjual pernak-pernik Ace Café. Sekarang, di depan para pecinta motor, saya bisa nyombong: Saya dong, udah pernah ke Ace Café! Hahaha. 



Terima kasih oh wahai British Embassy atas jalan-jalannya. 
 

You’ll Never Walk Alone. Asal Ada Temen.

“Liverpool itu berasal dari dua kata. Liver dan Pool,” kata Paul Beesley. Pria tambun itu meskipun agak terlihat berat membawa badannya ketika berjalan kaki, selalu bicara penuh semangat. “Liver itu artinya kotor. Kayaknya jaman dulu di sini banyak semacam sungai yang airnya kotor. Mungkin sekarang ada di bawah gorong-gorong.”

Beda gizi.

Senin, 25 September 2017. Saya tiba di Liverpool sehari sebelumnya. Dan siang ini, ditemani Paul Beesley, saya dan teman-teman [masih dari rombongan yang sama, baca tulisan sebelumnya buat tahu siapa saja mereka] menyusuri kota kedua dari rangkaian jalan-jalan ke Inggris atas undangan British Embassy Jakarta. Paul sudah menemani banyak turis dari Indonesia. Tahun lalu, dia menemani seorang pembawa acara olahraga. “Kamu kenal dia nggak?” katanya sambil menunjukkan fotonya berdua. Rupanya yang dimaksud, Pangeran Siahaan, seorang pengamat sepak bola.

Atraksi wisata yang pertama kami kunjungi adalah British Music Experience. Ini semacam museum yang menceritakan sejarah musik di Inggris, dari era 50-an hingga terkini. Sebelumnya, BME ada di London, dan kini dipindahkan ke Liverpool. Paul tak tahu alasannya. Kalau punya banyak waktu, tempat ini sungguh memberikan banyak pengetahuan tentang musik. Kita diberi pemutar audio yang bisa kita pilih berdasarkan alat peraga yang ada di depan. Misalnya, ketika sampai di alat peraga tentang the Rolling Stones, kita tinggal pilih keterangan yang kita mau, dengarkan audionya, sambil dilihat barang-barang yang dipamerkan di depan kita. Di tengah ruangan, ada panggung, yang pada jam tertentu memutar hologram musisi sedang manggung. Ketika saya di sana, Boy George versi hologram tampil membawakan “Karma Chameleon” dari Culture Club. Saya tak tahu apakah cuma Boy George atau memang ada musisi lain yang ditampilkan versi hologramnya. Di sana juga ada booth interaktif di mana kita bisa mencoba memainkan alat musik. Yah, lumayan lah buat yang bermimpi mau jadi musisi tapi tak kesampaian.

Hologram si Boy George.
Ini asli. Bukan hologram.

Museum berikutnya yang kami kunjungi adalah Museum of Liverpool. Ini berisi informasi segala macam tentang kebudayaan Liverpool. Musik, olahraga, hingga sastra. Mirip dengan yang ada di BME, tapi ini versi lebih sederhana dan beragam tema. Jaraknya hanya berjalan kaki dari BME. Semua atraksi turis di daerah ini bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Tak terlalu jauh lah jaraknya.

Cuma ini foto yang saya ambil di Museum of Liverpool. Selebihnya video. :))

Yang juga dekat, adalah The Beatles Story, ini museum khusus The Beatles. Kalau mau tahu sejarah The Beatles tanpa perlu membaca bukunya, pergi ke sini adalah solusi tepat. Kita bukan hanya dapat informasi, tapi juga merasakan pengalaman seakan-akan kembali ke masa lalu, karena ada replika dari benda-benda atau bangunan yang diceritakan. Idealnya, setelah pergi ke sini, langsung ikut Magical Mystery Tour. Sebuah tur keliling Liverpool dan mengunjungi tempat-tempat yang ada hubungannya dengan The Beatles. Kita dibawa pergi ke Penny Lane, Strawberry Fields, ke rumah masa kecilnya para personel The Beatles.

Suasana di kota santri. Eh, The Beatles Story.

Di antara kunjungan-kunjungan itu, Paul mengajak kami naik Ferry menyusuri sungai Mersey. Ini sungai yang penting dalam sejarah musik dunia. Banyak band bermunculan di Liverpool hingga muncul istilah Mersey beats, aliran musik yang campuran antara rock n’ roll, doo wop, skiffle dan RnB. Mersey Beat juga jadi nama majalah yang didirikan teman sekolahnya John Lennon dan media yang sangat dekat dengan The Beatles karena menulis banyak cerita tentang mereka, bahkan tulisan-tulisan awal John Lennon, diterbitkan di sini. Tapi Liverpool bukan cuma The Beatles. Sebelum the Fab Four itu mendunia, Liverpool punya Gerry and the Pacemakers. Mereka punya lagu “Ferry Cross The Mersey” dan itu sebabnya Paul mengajak kami ikut naik Ferry menyusuri sungai Mersey.

Kapal Ferry. Tanpa Salim. Tanpa Maryadi.
“Dari dulu, Liverpool sudah didatangi banyak orang, mungkin karena kota pelabuhan. Segala macam budaya masuk ke sini,” kata Paul. “Saya yakin, sungai Mersey juga punya kedekatan dengan kalian orang Indonesia. Di seberang sungai sana, tinggal salah seorang pendiri perusahaan yang kemudian bernama Unilever. Saya yakin banyak produk mereka ada di rumah kalian.”
Satu lagi yang sangat dekat dengan orang Indonesia, selain The Beatles dan Unilever: Liverpool FC alias klub sepak bola Liverpool. Saya yang bukan penggemar bola saja, tahu ada klub sepak bola itu. Saya cuma tahu dua sebenarnya: Liverpool dan Manchester United. Mungkin karena penggemarnya paling banyak di Indonesia, jadi saya yang awam sepak bola, bisa tahu. Saya tak tahu siapa saja pemain Liverpool, tapi saya tahu slogan terkenal mereka: You’ll Never Walk Alone yang ternyata adalah salah satu lagu dari Gerry and the Pacemakers. Ya, kemarin saya tak walk alone selama di Liverpool, karena ada temen.
Band itu adalah satu dari sekian banyak band yang bermunculan di Liverpool dan manggung di Cavern Club yang ternyata ada di gang sebelah hotel saya menginap: Hard Days Night Hotel [yang menyambut penyewanya dengan lagu The Beatles saat pertama kali masuk kamar]. Cavern Club mengklaim diri mereka sebagai “klub paling terkenal di dunia.” Bukan klaim yang berlebihan sih, karena nyatanya memang klub yang ada di bawah tanah itu, punya peranan penting dalam sejarah musik dunia. The Beatles sudah manggung ribuan jam di sana. Panggung musiknya tak pernah sepi hingga kini. Anda datang ke sana hari apapun, ada band atau penyanyi yang tampil.

Ada dua yang membuat kenapa saya senang datang ke Cavern Club. Pertama, ini klub yang punya sejarah dekat dengan The Beatles. Kedua, lagu-lagu yang dimainkan oleh band atau musisi di sini, semuanya saya suka [setidaknya, dari dua malam berturut-turut saya ke sana], karena biasanya mereka memainkan Mersey Beats dan musik-musik yang mempengaruhi atau terpengaruh olehnya. Suasananya menyenangkan. Ini adalah klub yang cocok dengan selera musik saya. Sayang tak ada yang seperti ini di Indonesia.
Di Cavern Club tak ada asap rokok. Tak ada pelayan yang menghampiri dan bertanya mau mesen apa kalau kita bengong saja karena cuma mau nonton musik. Dan yang pasti, tak ada musik ajeb-ajeb jedang jedung.
 

Jalan-jalan ke Kampungnya Morrissey

Sodara-sodara, saya mau cerita soal perjalanan beberapa minggu kemarin ke Inggris [22- 29 September 2017]. Ada 3 kota yang saya kunjungi, dan ini adalah cerita dari kota pertama: Manchester.
Saya jalan-jalan bersama rombongan yang semuanya diundang oleh British Embassy di Jakarta. Ada Aditya, penyanyi yang punya hit “Be Mine”, dan sekarang lebih populer sebagai Youtuber yang tukang review sneakers. Ada Febrian, yang juga penyanyi. Silakan lihat di Youtube, lagunya yang berjudul “Cinta Diam-Diam.” Saya juga baru tahu lagu dia setelah pulang jalan-jalan. Haha. Febrian ketika masih menyanyi, berbeda dengan Febrian sekarang. Dulu dia tampangnya ke K Pop K Pop an. Nuansa oriental sungguh kental. Febrian yang kini, berambut gondrong, kumis dan jenggot menghiasi wajahnya, dan kulitnya terbakar matahari. Hampir tak terlihat keturunan Cina, kalau saja matanya tak sipit. Febrian kini jadi travel blogger, bukan singer. Selain Febrian, ada dua travel bloggers lainnya: Kadek Arini dan Anggey [namanya sih Anggi, tapi ditulis begitu karena katanya dia penggemar Mickey Mouse]. Febrian, Kadek dan Anggey, followers Instagramnya lebih banyak daripada saya. Untung saja Adit masih lebih sedikit dari saya, jadi saya tak jadi orang yang followers Instagramnya paling kecil. Haha. Terakhir, ada Vera Waloeyo, dari British Embassy. Vera menjamin kelangsungan hidup kami selama di Inggris. Rejeki dari Tuhan datang lewat Vera.

Dari depan ke belakang: Febrian (sebelah saya), Kadek, Anggey (kacamata), Vera, Adit.

Perjalanan dari Jakarta menuju Manchester memakan waktu hampir 20 jam, ini dengan transit kira-kira 5 jam di Abu Dhabi. Lumayan, ini bisa saya gunakan buat buang air besar dan cebok dengan semprotan air.
Buat penggemar bola yang membaca tulisan ini, maaf kami tak mengunjungi situs-situs yang berhubungan dengan sepak bola, karena perjalanan kali ini temanya adalah musik dan budaya. Lagipula, saya bukan penggemar bola, jadi tak peduli juga dengan itu. Hehe. Saya datang untuk musik. Sik sik musik saya suka musik.
Jumat, 22 September saya mendarat di Manchester. Bandara Manchester tak besar dan tak mewah, cenderung biasa saja. Memang, sepertinya sejauh ini, dari beberapa kota yang saya kunjungi, bandara yang paling mewah dan besar adalah Changi di Singapura. Terminal kedatangannya pun relatif kecil. Bagus lah, jadi sedikit menghilangkan perasaaan terintimidasi. Saya sering merasa terintimidasi kalau datang ke bandara luar negeri. Deg-degan. Was-was. Apalagi kalau sudah di Imigrasi. Petugas Imigrasi di mana-mana sepertinya galak. Meskipun surat-surat lengkap, tetap saja, perasaan was-was itu selalu ada. Mungkin kalau sudah sering jalan-jalan ke luar negeri, perasaan ini bakal hilang. Sama seperti perasaan takut ketinggian. Dulu, jaman masih jarang naik pesawat, saya selalu takut setiap naik pesawat. Perasaan bakal jatuh, selalu menghinggapi. Duduk dan melihat ke bawah pun selalu bikin jantung berdebar. Apalagi tahu bahwa kaki tak menapak tanah. Kini, setelah cukup sering naik pesawat, saya tak takut lagi. Dan sudah bisa tidur dengan tenang.

“Kamu datang sendirian atau bersama rombongan?” tanya petugas Imigrasi yang sebelumnya selalu galak pada semua yang ada di booth dia.

“Sama rombongan,” kata saya. Oh iya, ini dalam bahasa Inggris ya percakapannya. Saya terjemahkan biar tak dua kali mengetik.

“Panggil mereka,” kata dia. Saya memanggil rombongan.

“Apa pekerjaan kalian?” tanya si mas.

“Saya jurnalis, dan mereka travel bloggers,” jawab saya. Biar gampang, saya memang kadang menyebut diri saya sebagai jurnalis. Toh, di KTP dan paspor, pekerjaan saya tertulis sebagai wartawan, jadi tak salah dong. Hehe.

“Oh, travel bloggers. Jadi, kalian mau menulis tentang saya dong?” tiba-tiba si mas yang tadinya galak, jadi tersenyum dan becanda. Padahal, dia tak begitu pada penumpang lain. Saya pun jadi rileks.

“Oh, Anda mau kami tulis? Boleeh,” kata saya sok akrab. “Kami mau mempromosikan wisata di Manchester, supaya lebih banyak orang Indonesia datang ke sini. Saya selalu pengen dateng ke Manchester. Ini kota kelahiran Morrissey! Anda tahu Morrissey? Who Put the M in Manchester? Morrissey!” kata saya bersemangat.

Dia diam saja. Teman-teman rombongan saya tertawa.

“Anda tak peduli soal Morrissey ya?” tanya saya.

Dia menggelengkan kepalanya. Paspor kami diberi stempel dan kami pun dipersilakan masuk ke Manchester.

Kami menginap di The Radisson Blu Edwardian Hotel. Bangunan ini dulu bernama Free Trade Hall, sebuah gedung pertunjukan. Bukan sembarang hotel, karena di sini banyak terjadi konser musik yang penting dalam sejarah musik dunia. Dua di antaranya adalah: Bob Dylan dan Sex Pistols. 17 Mei 1966, ketika Dylan pertama kali manggung dalam format elektrik, dia menggegerkan publik. Dianggap penghianat. Momen yang terkenal di konser ini adalah ketika ada penonton yang berteriak, “Judas!” kepada Dylan. Sepuluh tahun kemudian, tepatnya 4 Juni 1976 di tempat yang sama, Sex Pistols manggung. Ada kira-kira 42 orang di hari pertama, dan konon, dari pertunjukan itu, banyak yang kemudian dapat inspirasi untuk membuat band. Beberapa orang yang konon ada di sana adalah, Ian Curtis, Bernard Sumner, Peter Hook [Joy Division], Howard Devoto, Pete Shelley [The Buzzcocks], Tony Wilson [mendirikan klub Hacienda yang terkenal itu], Mick Hucknall [Simply Red], dan Morrissey [The Smiths]. Yah, kamu bisa nonton film 24 Hour Party People untuk dapat gambaran seperti apa konser Sex Pistols yang mengubah industri musik dunia itu.

Pemandangan dari dalam kamar hotel.
Di depan The Radisson Blu Edwardian
 

Manchester adalah kota industri—ikon kota ini adalah lebah, karena lebah adalah binatang pekerja keras dan bahu membahu dalam menghasilkan madu, itu sebabnya mereka mengambil filosofis lebah sebagai ikon kota. Selama dua ratusan tahun, kota itu hidup oleh pabrik kapas. Ketika akhirnya industri konveksi bangkrut, Manchester seperti kehilangan jati diri. Setidaknya, begitu penuturan tour guide kami. Makanya, ketika akhirnya skena musik di Manchester tumbuh subur, dan banyak band bermunculan lalu mendunia, kota itu punya lagi sesuatu yang dibanggakan. Musik menyelamatkan Manchester.

Jalan-jalan [maksudnya berkeliling ya, bukan jalanan] sungguh menyenangkan. Kotanya tak terlalu besar, transportasi umumnya ada tiga: taksi, trem, dan bus. Ada juga sepeda yang bisa dipakai. Sistemnya kita mengunduh aplikasi lalu dikenai bayaran di sana. Dan sepeda yang tersebar di penjuru kota—ada parkiran khususnya—bisa kita buka kuncinya dengan aplikasi, dan kita bisa pakai ke mana saja di kota itu lalu tinggalkan di mana saja selama ada parkirannya. Mungkin karena kotanya kecil, jadi sistemnya seperti itu, bisa ditinggalkan di mana saja.

Ketika saya tulis judulnya jalan-jalan, kenyataannya memang seperti itu. Saya lebih banyak jalan kaki selama di Manchester. Tur keliling kota pada 23 September 2017, benar-benar berjalan kaki. Udaranya sejuk. 20 an derajat celcius. Artinya, saya bisa pakai jaket kulit terus. Haha. Di Jakarta, agak susah memakai jaket kulit tengah hari sambil jalan kaki di jalanan. Emma, tour guide kami menunjukkan gedung-gedung yang dianggap penting. Pertama, Midland Hotel, yang katanya tempat kencan pertamanya David Beckham dan Victoria. Yah, kalau orang kaya memang seperti itu. Kencan pertama, langsung di hotel mewah. Kedua, Balai Kota Manchester. Bangunannya berumur ratusan tahun. Masuk ke dalam, kita bisa melihat foto-foto anggota dewan. Tak ada wartawan mangkal di sana, seperti yang biasa terlihat di kantor pemerintahan di Indonesia. Haha. Januari 2018, bangunan itu akan dipugar selama tujuh tahun. Sepertinya, kalau sudah dipugar, sewa gedung buat kawinan di sana akan lebih mahal [ya, orang bisa menggelar resepsi di Balai Kota]. Ketiga, Manchester Central Library. Di lobby, ada café sebelum kita masuk ke ruang buku-buku. Dan ada satu area di tengah, di mana ruangan itu akustiknya sangat bagus sehingga orang buka buku saja bisa terdengar. Keempat, menyusuri kanal yang jadi tempat pertemuan antara Manchester lama dan baru.

“Manchester sedang membangun,” kata Emma sambil menunjukan gedung tinggi dengan desain modern yang menjulang di antara gedung-gedung tua yang terlihat dari kanal. Emma membawa kami menyusuri kanal dan menceritakan soal kenapa banyak batu bata merah yang dipakai di gedung. Dulu, ketika bangsa Roma datang ke sana, Manchester adalah daerah dengan tanah merah yang luas, sehingga dijadikan bahan untuk membangun gedung. Di ujung kanal, Emma menunjukan bangunan yang dulunya berdiri Hacienda, klub malam yang terkenal di Manchester, karena berpengaruh untuk skena musik dan seni di sana. Sekali lagi, silakan tonton 24 Hour Party People buat tahu gambaran soal Hacienda.  

Menjelang makan siang, kami berjalan menuju daerah the Northen Quarter di mana banyak bar, café, butik, dan record stores. Ah, saya harus merogoh kocek cukup banyak ketika iseng mampir ke Picadilly Records yang menjual banyak piringan hitam yang kebetulan banyak sekali album kesukaan saya yang belum saya punya dan ternyata di sana relatif lebih murah harganya. Sungguh sebuah godaan duniawi yang fana.

The Northern Quarter adalah pusatnya industri kreatif di Manchester. Makanya, salah satu yang kami kunjungi adalah Manchester Craft and Design Centre. Di bangunan ini, ada beberapa toko yang menjual segala macam kerajinan. Area dalam gedungnya sungguh sangat cocok untuk post di Instagram, tipikal foto yang menjual keindahan mata dan menawarkan kenyamanan bagi siapapun yang membayangkannya.

Tapi itu bukan tipikal Instagram post saya, karena yang jadi kunjungan berikutnya, adalah tipikal Instagram post saya: berhubungan dengan musik. Saya, bersama Vera, Kadek, dan Anggey [setelah saya bilang bahwa ini tempat yang wajib didatangi kalau ke Manchester hingga akhirnya mereka mau ikut] pergi ke Salford Lads Club, di mana The Smiths pernah berpose di depan bangunannya untuk album Queen is Dead. Banyak penggemar The Smiths yang berkunjung ke Manchester pasti mengunjungi klub itu dan berpose di depannya. Kalau kamu Googling Salford Lads Club, maka kamu akan menemukan banyak foto orang berpose mengikuti pose The Smiths.

Salford Lads Club awalnya adalah klub untuk pria, tapi sekarang menerima pria dan wanita. Ini adalah salah satu dari sekian banyak klub yang masih aktif di Manchester. Kata Emma, klub-klub itu awalnya didirikan demi mengurangi tingkat kenakalan remaja yang sudah memprihatinkan di Manchester; anak-anak muda berkelahi, membuat onar, dan meresahkan warga. Ketika didirikan banyak klub, anak-anak muda itu bisa menyalurkan agresifnya melalui olahraga maupun musik yang ada di klub-klub itu. Perlahan, kenakalan remaja bisa dihilangkan dari Manchester.

Ketika saya sampai di Salford Lads Club, sekelompok bocah perempuan sedang bermain di sana. “Kalian penggemar The Smiths?” kata mereka. Bocah-bocah itu memegang permen seakan sedang memegang rokok.

“Kalian tinggal di mana?” tanya Vera.

“Di sana,” jawab mereka sambil menunjuk ke arah perumahan di ujung jalan.

“Orang tua kalian di mana?” tanya Kadek.

“Nggak tahu,” jawab mereka, sambil terus berlarian mengelilingi kami.

Mereka menawarkan untuk memotret kami, tapi karena melihat bocah-bocah itu begitu agresif kami jadi buruk sangka. Jangan-jangan, kalau hape diberikan pada mereka, tahu-tahu mereka lari membawa kabur. Hahaha. Akhirnya kami bergantian saling memotret. Pulang dari sana, kami berdiskusi soal akan jadi apa bocah-bocah perempuan itu kalau sudah besar. Kecil saja sudah nakal. Ah, sungguh kami sangat berburuk sangka.

Maunya sih, saya pergi ke rumah masa kecil Morrissey, tapi tak ada waktunya lagi. Tak apa lah. Jadi ada satu alasan lagi buat jalan-jalan ke Manchester.

Minggu, 24 September, kami menuju Liverpool naik minibus, tapi sebelumnya mampir dulu ke Castleton. Jalanan menuju Castleton sungguh panjang dan berliku dan berpotensi membuat perut mual. Castleton adalah daerah perbukitan dengan padang rumput yang luas dan pokoknya membuat tiga travel bloggers kami kegirangan. Maklum, mereka tipe yang pecinta kegiatan luar ruang dan pemandangan alam yang indah. Castleton adalah daerah yang dikunjungi orang untuk hiking dan jalan-jalan. Tapi kami di sana bukan buat hiking, melainkan ke AND [Abandon Normal Devices] Festival, sebuah festival musik di dalam gua. Ada tiga karya yang ditampilkan di sana, di antaranya karya dua musisi dari Jogja: Iqbal dan Toni.

Biar kayak travel blogger. Foto sambil jalan dengan latar pemandangan indah.

Jadi, AND Festival mencari seniman yang bisa membuat musik dengan merespon gua. Iqbal dan Toni membuat sebuah alat musik yang inspirasinya dari sarang tawon yang terbuka dan tertutup. Yah pokoknya, mereka membuat alat gamelan dari bahan besi, dan menghasilkan bunyi-bunyian yang merespon akustik gua. Begitulah prinsipnya. Selain Iqbal dan Toni, ada dua seniman lain. Kami masuk ke area gua lebih dalam lagi, beberapa daerah bahkan harus dimasuki dengan menunduk. Di area kedua, di bagian tengah gua, kami mendengarkan musik elektronik yang mendengung dengan pantulan dinding gua dan lampu yang kerlap kerlip. Area terakhir, di sudut gua yang buntu, kami mendengarkan musik dalam gelap. Benar-benar tak ada cahaya. Kalaupun ada, hanya sesekali mengikuti musik yang lebih menyerupai ilustrasi musik film horror.

Untung saja di luar negeri tak ada kuntilanak, jadi saya tak terlalu takut.
 

Sodara-Sodara, Saya [Belajar] Jadi Sutradara!

Saya tak pernah mengira kisah hidup saya bisa diangkat ke layar lebar.
Soalnya, saya selalu merasa kisah hidup saya datar. Tak inspiratif. Tak ada drama naik turun kehidupan. Hidup saya selalu ada di tengah. Disebut kaya, tidak juga. Disebut miskin, tidak juga. Dan biasanya, kalau ada kisah hidup orang diangkat ke layar lebar, harus digambarkan menderita penuh perjuangan nan berat.
Tapi, saya pernah menghayalkan soal ini. Satu hari ketika nongkrong di kampus, saya bermimpi, seandainya cerita pengalaman saya kuliah diangkat ke film, sepertinya bakal menarik. Meskipun akhirnya mimpi itu segera hilang begitu saya berpikir lagi soal betapa tak akan menariknya film itu. 
Hingga akhirnya satu hari pada Mei 2017, di sebuah ruang ganti pusat kebugaran. Seorang pria menghampiri saya. “Mas Soleh ya? Saya dari kemaren nyari nomer telepon Mas Soleh. Eh ketemunya malah di sini,” katanya seraya mengenalkan dirinya. 
Gangsar Sukrisno. Kris panggilan akrabnya. Dia bekerja di Mizan. Bukan bekerja, tapi lebih tepatnya, punya posisi penting di manajemen.
“Saya dan temen-temen di kantor nonton Hangout. Setiap Mas Soleh muncul, kami selalu tertawa. Nah, kata temen-temen di kantor, ‘Gimana kalo Soleh kita minta nulis skenario, main sekaligus nyutradarain film?’ Makanya, dari kemaren itu saya nyari nomer telepon Mas, mau nanyain itu. Kalau Mas mau, kami juga mau Mas nulis buku, jadi sebelum film rilis, bukunya terbit.” kata Kris.
“Wah, saya gak bisa nyutradarain Mas. Belum sanggup. Tapi, itu kita bicarain nanti lah. Nah, kalau permintaannya sambil nulis buku, saya mau filmnya tentang saya kuliah di Fikom Unpad,” kata saya.
Singkat cerita. Saya ajak Agasyah Karim dan Khalid Kashogi buat menulis skenario. Mereka sudah banyak menulis skenario, dan Aga teman kuliah saya, jadi saya yakin dia bisa membantu menulis cerita berdasarkan pengalaman saya kuliah. Saya beri sinopsis pada Miza dan mereka meminta saran Pak Chand Parwez Servia dari Starvision. “Saya minta Soleh nulis dari tahun 2012 eh jadinya malah sama kalian,” begitu reaksi Pak Parwez hingga akhirnya dua production house itu malah berkongsi untuk memproduksi film pertama saya. 
“Saya mau dibantu Monty Tiwa buat nyutradarainnya Pak,” kata saya ketika akhirnya resmi menerima tawaran mereka. Saya baru dua kali disutradarai Monty, tapi meskipun baru kenal, saya sudah cocok selera humornya. Itu sebabnya saya mau tandem dengan dia. Saya juga mengajak Bene Dion sebagai konsultan komedi, supaya ada yang membantu menambah unsur komedi di film ini. Tadinya saya mengajukan judul “Si Macan Kampus”, tapi Pak Parwez menganggap judul itu terlalu tua. Istilahnya sudah tak akrab bagi anak muda. Berdasarkan sinopsis, Pak Parwez menawarkan dua pilihan judul: “Jangan Gampang Menyerah”, atau “Mau Jadi Apa?” dan saya memilih yang kedua, karena lebih enak didengar dan paling tepat menggambarkan cerita di film. Itu juga yang selalu hinggap di pertanyaan saya ketika kuliah, “Mau Jadi Apa?”. Memilih jurusan Ilmu Komunikasi pun, karena saya mengira kuliahnya bakal santai dan cuma ngomong-ngomong, tapi sebenarnya tak pernah tau bakal jadi apa setelah lulus. Pertanyaan “Mau Jadi Apa?” juga saya yakin, pernah hinggap di benak banyak orang. Sebuah pertanyaan yang bisa kena ke hati banyak orang.

  

Dan semua terjadi begitu cepat. Sejak pertemuan pertama dengan kedua PH, tau-tau saya harus mulai suting Agustus 2017 demi mengejar target penayangan dan demi bisa syuting di kampus. Bulan itu kuliah masih libur. Praktis hanya dua minggu persiapan film ini, di luar penulisan naskah. Dan diputuskan bahwa lokasinya akan di Bandung dan Jatinangor. Saya dan Mas Kris menghadap Dekan Fikom Unpad, Dadang Rahmat Hidayat, demi mendapat restu lokasi, dan Pak Dekan membawa kami menghadap Rektor Unpad demi meminta ijin memakai nama Universitas Padjadjaran di film. Belum pernah ada film yang berlatar Unpad. Meskipun ada yang berlokasi di sana, tapi tak terang-terangan disebut Universitas Padjadjaran. Sedangkan kampus lain macam Universitas Gajah Mada atau Universitas Indonesia, sudah pernah ada.


Adjisdoaibu, Awwe, Boris Bokir, dan Ricky Wattimena saya ajak buat jadi pemeran utama. Mereka memainkan karakter yang diangkat dari teman-teman saya. Makanya, biar chemistry lebih mudah tercipta, saya ajak yang sudah jadi teman saya buat memerankan teman-teman saya. Selain itu ada Anggika Bolsterli, Aurelie Moeremans dan Putri Marino yang main jadi teman-teman perempuannya. Buat anak Fikom Unpad yang bertanya, “Yang jadi si ini siapa? Yang jadi si itu siapa?”, tak semua kisah saya selama di Fikom diceritakan di sini lah. Artinya tak semua orang bakal masuk cerita. Bahkan teman-teman dekat saya saja tak semuanya diceritakan di sini. Ingat ya, ini versi film komedi. Bukan dokumenter. 7 – 24 Agustus 2017 syuting film “Mau Jadi Apa?” berjalan hanya dengan jeda satu hari pada 17 Agustus. Artinya: kami nyaris tak ada istirahat. Bukan sebuah proses produksi yang ideal memang, tapi saya menikmatinya. Ada beberapa kenikmatan dalam proses produksi ini.


Pertama. Ini kali pertama saya jadi pemeran utama. Gaya lah. Sungguh bergengsi. Maklum, biasa dapet peran selewat, atau cuma beberapa scene saja. Jarang dapat peran yang banyak. Haha. 


Kedua. Jadi sutradara sekaligus penulis skenario, yah meskipun masih tandem dan soal teknis adegan film lebih banyak Monty yang bekerja, tapi di luar itu, saya punya kendali kreatif. Di film-film sebelumnya, hanya sebatas pemain, tak pernah ditanya soal kostum apa yang harus digunakan di film, soal lokasi adegan. Intinya, tinggal nunggu perintah. Tapi di sini, saya jadi salah satu bagian dari tim yang mencoba mewujudkan sebuah adegan. Meskipun ini kerja tim, tapi saya bisa bilang bahwa film ini salah satu karya saya.
Ketiga, kembali ke kampus. Mengulang kembali kehidupan belasan tahun lalu sungguh sebuah nostalgia yang menyenangkan. Bedanya, dulu saya hanya nongkrong dan senang-senang di kampus, sekarang nongkrong senang-senang sambil bekerja dan membagi ceritanya untuk orang lain. 
Keempat, membuat film “Mau Jadi Apa?” saya jadi ingat lagi, seperti apa rasa cinta saya pada Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran dan Jatinangor. Waktu kuliah saya sering bilang, “Kalau dada saya dibelah, ada tulisan FIKOM UNPAD di situ. Tertulis dengan huruf kapital semua dan dicetak tebal.” Tapi jujur, setelah belasan tahun lulus, saya jadi tak terlalu peduli kampus. Hidup harus berjalan dan tak perlu memikirkan masa lalu. Dan kini, saya jadi tersadar. Saya masih cinta Fikom Unpad.
Kelima, ini sebuah pelajaran berharga. Tak banyak orang yang bisa punya kesempatan diberi kepercayaan untuk menulis, menyutradarai dan membintangi sebuah film. Kata orang bijak, pengalaman adalah guru yang paling berharga. Dan membuat film “Mau Jadi Apa?” saya mendapat banyak pelajaran. Baik itu soal membuat film, maupun soal hidup.
Keenam, Karung Goni dan Fikombabes akhirnya bisa keluar kampus! Waktu menerbitkan dua majalah itu, tak pernah mengira kalau satu hari nanti, akan dibawa ke skala nasional dan diangkat ke layar lebar. Membuat film ini juga sedikit banyak mengingatkan pada pembuatan Karung Goni: dikerjakan dengan mepet dan dikejar tenggat. Haha.
Ketujuh, Lalieur Laleuleus Parege, band saya di kampus, akhirnya merekam lagu dan muncul di film. Setelah tujuh tahun tak pernah latihan, tahu-tahu berkumpul dan malah merekam lagu untuk film. Sungguh sebuah jalan hidup yang tak terduga.


Jadi ya, sungguh sangat menyenangkan membuat film “Mau Jadi Apa?” yang akan tayang 30 November 2017 di bioskop-bioskop kesayangan Anda. Saya sadar, film ini masih jauh dari sempurna, tapi kami sudah bekerja maksimal mencurahkan tenaga dan waktu demi film ini. Dan, seperti yang selalu saya bilang: sempurna hanyalah milik Gusti Alloh dan lagu Andra and The Backbone.

Plus Plus di Musik Plus

Jam setengah dua siang saya tiba di sana.

Dua pria setengah baya sedang duduk di kursi berwarna hitam. Televisi 52 inchi yang ada di depan mereka sedang menayangkan konser 121212, sebuah konser amal yang digelar dalam rangka mengumpulkan dana untuk korban badai Sandy yang menghantam Amerika Serikat dengan kerusakan paling besar terjadi di New York dan New Jersey. Roger Waters sedang berduet dengan Eddie Vedder menyanyikan lagu “Us and Them.” Pria muda berkaos polo hitam menemani dua pria setengah baya itu. 

Selasa, 9 Mei 2017, setelah dua bulan lebih tak berkunjung, akhirnya saya punya waktu luang lagi untuk mampir ke Musik Plus, Sarinah Thamrin.


Musik Plus adalah situs langka di Indonesia. Toko musik, atau record store, nyaris punah, apalagi yang ada di pusat perbelanjaan. Kalau bicara record store yang menjual kaset, CD, atau vinyl bekas sih relatif masih banyak. Tapi, record store yang modalnya relatif besar alias toko mapan sih bisa dihitung dengan jari. Musik Plus saja, kini tinggal 3 gerai di Jakarta. Satu di Summarecon Mal, eh itu Bekasi ya. Satu lagi di Mal Kelapa Gading.

Barry, pria muda berumur 20 puluhan tahun yang tadi menemani dua pria setengah baya, menyapa saya. Kami berkenalan tiga tahunan lalu, ketika dia masih menjaga gerai Musik Plus di pusat perbelanjaan Setiabudi One. 

“Gimana Hammersonic? Rame ya katanya,” ujar Barry.

“Banget. Sampe tengah malem masih penuh,” jawab saya.

Di ujung lain, pria muda yang berbeda, menyapa saya. Djohan namanya. Dia senior di situ. Saya kenal sejak 2004, waktu masih kerja di Trax Magazine. Dia tahu saya kerja di Trax dan awalnya sering sok akrab tapi lama-lama kami jadi akrab betulan.


“Si Barry sakit sih waktu show lu, jadi aja dia gak nonton,” kata Djohan, bicara soal pertunjukan stand-up comedy saya, Dibilang Enak Ya Memang Enak.

Pria setengah baya sudah pergi, setelah membayar CD yang mereka beli. Giliran saya duduk di kursi nyaman itu. Saya selalu senang nongkrong di sana. Bisa nonton DVD musik, sambil menikmati suasana. “The right place for music lovers,” kata slogan toko itu. Untuk mengetahui album-album terbaru–lokal maupun luar, Musik Plus kini yang saya tuju. Koleksinya tak terlalu banyak memang, tapi untuk kondisi saat ini, sudah lebih dari cukup lah. Di saat penjualan album fisik makin merosot, Musik Plus masih bertahan. 


Saya bukan tipe pengguna layanan streaming musik. Legal maupun ilegal. Saya senang mendengarkan musik dari bentuk fisiknya: kaset, CD atau piringan hitam. Kalau saya tertarik pada satu album, pasti saya beli fisiknya. Belum tertarik berlangganan layanan streaming

Selain Barry dan Djohan, ada tiga penjaga toko lainnya. Dua mas-mas, satu mbak-mbak. Saya belum tahu nama mereka. Kami jarang ngobrol. Djohan dan Barry adalah yang paling akrab dengan pelanggan. Mungkin karena mereka benar-benar pecinta musik, bukan hanya pekerja di record store. Djohan sering menawarkan vinyl terbaru. Kalau malas membeli lewat amazon.com, saya menggunakan jasa Musik Plus. Khususnya untuk barang yang kira-kira bakal kena pajak karena harganya tinggi. Saya malas memikirkan proses pengambilannya. Lebih baik tunggu kabar dari Musik Plus bahwa pesanan saya sudah datang.

Djohan cerita, di masa jayanya, Musik Plus bisa mencapai 1 Milyar rupiah omsett sebulannya. Kini, meski omsett jauh berkurang, Musik Plus masih bisa memenuhi target dari pengelola pusat perbelanjaan Sarinah. Musik Plus tak membayar uang sewa, melainkan dipotong dari pendapatan per bulannya. Dibanding dua gerai lainnya, Musik Plus Sarinah yang paling ramai dikunjungi.


Berbagai macam orang berkunjung ke sana. Di hari itu saja, ada sekeluarga yang datang, melihat-lihat, lalu pergi. Lalu ada sekelompok ibu-ibu, seorang bapak tua (meminta mendengarkan dulu CD yang akan dibelinya, dan salah satu dari yang dibelinya hari itu adalah Ode Untuk Kota nya Bangkutaman) yang ditemani seorang pria muda yang entah anaknya atau anak buahnya, seorang ibu dan anaknya, atau anak-anak muda yang memang datang untuk membeli CD.

Suasana seperti itu yang menyenangkan dari Musik Plus. Mengetahui bahwa masih ada orang yang datang ke record store dan membeli rekaman fisik. Bukannya tak sengaja membawa CD ke rumah setelah membeli ayam goreng. Jangan salah, saya tak ada masalah dengan jualan CD di gerai ayam goreng, sah-sah saja, toh gerai ayam goreng lebih banyak dari record store, artinya distribusi jadi lebih bagus. Tapi yang saya sesalkan, kenapa album yang dijual di gerai ayam goreng tak juga dititipkan di record store? Oke, alasannya pasti supaya orang datang ke gerai ayam goreng untuk membeli CD yang dicari, tapi harusnya band lebih punya posisi tawar sehingga album mereka tetap bisa dibeli di record store, demi menghargai mereka yang benar-benar pecinta musik mereka. 

Ah, jadi melantur. 

Djohan menawarkan saya minuman hangat. Saya seruput, sambil menonton DVD. Tata suara di Musik Plus jauuh lebih bagus dibandingkan fasilitas home theater di rumah saya. Konser 121212 masih diputar di televisi. Mengingatkan saya pada aksi 212 di sini. Sama-sama memakai nomor cantik. Bedanya, 121212 aksi solidaritas untuk menolong sesama. Kalau 212 adalah aksi untuk menghukum satu orang. Memang terlihat seperti membela agama, tapi saya yakin, itu ditunggangi kepentingan politik. Soalnya, ujung-ujungnya disangkutkan pada soal jangan memilih pemimpin yang beda agama. Dan itu cuma terjadi di Jakarta, karena partai-partai Islam yang menolak pemimpin beda agama, ternyata mendukung orang beda agama untuk pilkada di luar Jakarta. Kalau sudah tak konsisten begitu, ya berarti memang itu alasannya tak murni karena ajaran agama.

Hari ini, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok divonis bersalah atas kasus penistaan agama. Dia dihukum 2 tahun penjara, dan selesai sidang harus ke rumah tahanan Cipinang–dini harinya dipindah ke Mako Brimob Depok. Saya tak menganggap Ahok bersalah menista agama. Nabi juga pernah dihujat, dilempar batu oleh orang kafir dan ketika malaikat menawarkan untuk menghukum langsung si penyerang, Nabi memaafkan. Katanya harus meniru sifat Nabi, tapi untuk yang pemaaf itu, banyak yang tak mau menirunya. Padahal, masih banyak yang menganggap Ahok tak bersalah. Hanya suara mereka kalah besar. Atau, mereka terlalu malas meluangkan waktunya untuk turun ke jalan membela Ahok. Tak seperti mereka yang ingin menghukum Ahok. Atau, ya karena yang membela, sebagian besar harus bekerja demi keluarga, dan tak punya waktu luang untuk turun ke jalan. Atau, ya ternyata rasa cinta pecinta Ahok tak sebesar rasa benci pembenci Ahok.

Tuh kan, melantur lagi. Nanti yang tak sepakat dengan saya, mencaci maki di sini, atau dalam hati, kalau mereka gaptek untuk komen di sini. Tapi akan saya tolak juga sih yang tak gaptek dan meninggalkan komen negatif. 

Ah sudahlah. Mari kembali ke kursi nyaman di Musik Plus. Minuman hangat sejenak menenangkan hati. Semoga tak ada lagi orang dihukum karena dianggap menista agama. Semoga lebih banyak orang ramah dibandingkan orang pemarah. Dan semoga tak terwujud negara Indonesia yang berdasar satu agama. 

Di televisi, giliran Michael Stipe berduet dengan Chris Martin, menyanyikan lagu dari REM: “Losing My Religion.”

Balada Mang Cepot

Badan gemuk kaos usang celana pendek melebihi lutut tangan selalu berlumuran oli tapi senyum selalu terkembang.

Saya kenal sosok Mamang sejak lima tahunan lalu. Waktu itu, saya sedang mencari bengkel motor. Honda GL Pro yang saya miliki sejak 1998 sudah saatnya ganti oli. Saya bawa motor itu ke Jakarta sejak 2009 saya menyicil rumah di kawasan Krukut, Depok. Sebelumnya, saya ngekos di Cipete dari 2005. Jarak kosan ke kantor [baik itu Playboy maupun Rolling Stone], hanya satu kali naik angkot, jadi saya tak butuh kendaraan sendiri. Krukut berjarak 11 km ke kantor Rolling Stone. Makanya saya bawa motor dari Bandung. 
Sejak dibawa ke Bandung, saya gonta ganti bengkel motor. Kadang ganti oli di sebelah Rolling Stone, kadang di bengkel motor dekat Gandul, pernah juga di Cipete. Pokoknya, saya coba beberapa bengkel yang kelihatannya meyakinkan. 

Hingga akhirnya pada satu hari di tahun 2012, saya mampir ke bengkel Berkah Jaya yang ada di belakang kampus Universitas Pendidikan Nasional di Pondok Labu, Jakarta Selatan. Saya merasa ada yang tak beres dengan setang motor saya. Beberapa menit saya menunggu di bengkel. Semua montir terlihat sibuk. Saya selalu bingung kalau datang ke bengkel dan melihat semua sibuk. Mau tanya pada siapa? Tanya ke petugas di balik lemari kaca, dia bilang saya diminta menunggu. 

Di tengah kebingungan, tiba-tiba di samping saya, seorang pria bertanya.

“Kenapa motornya?”
“Ini, setangnya kayak udah oblak. Sama mau ganti oli,” jawab saya.

Dia turun dari kursinya. Memeriksa motor saya. “Oh ini mah klahernya udah harus ganti,” kata dia. “Minta ke mbaknya, bilang mau ganti klaher depan sama ganti oli.”

Dan itulah pertama kali saya berkenalan dengannya. Beberapa menit kemudian, kami bercakap-cakap dalam bahasa Sunda, setelah dia melihat plat nomor saya Bandung.

Dia mengenalkan dirinya dengan Mamang Cepot. Orangnya ramah. Senang berbicara. Di sela-sela dia membersihkan karburator dan mengganti klaher serta oli, banyak orang yang melewati bengkel, menyapa Mamang. Ada yang menyapa sambil mengendarai motor. Ada yang mampir sebentar tanpa turun dari motornya. 
Lima tahun berlalu, selalu begitu setiap kali saya ke bengkel. Mamang Cepot, yang nama aslinya Aep Saepudin, adalah daya tarik bengkel itu. Sebagian besar orang yang ke sana, datang untuk Mamang. Mereka yang motornya sudah pernah dirawat Mamang, sebagian besar balik lagi ke sana dan hanya ingin diperiksa oleh Mamang. 

Dia sangat piawai dalam urusan mesin motor. Semua permasalahan mesin dan detil motor, Mamang bisa atasi. Dia tak pernah menyarankan orang untuk mengganti onderdil kalau memang motornya tak perlu diganti. Banyak orang yang datang ke sana setelah sebelumnya ke bengkel lain dan dibilang harus keluar biaya jutaan rupiah tapi oleh Mamang ternyata hanya butuh biaya ratusan ribu karena kerusakannya tak parah. 

Mamang juga senang berbicara. Sepertinya itu kelebihan lain yang tak dimiliki montir lain di bengkel itu. Dia senang bercerita tentang dirinya dan keluarganya, tanpa harus terdengar cari perhatian dan empati. Semua cerita Mamang kepada pelanggannya, membuat Mamang seperti teman. Mesin memang benda mati, tapi sentuhan humanis terhadap si pemilik mesin membuat proses perbaikan mesin jadi lebih terasa manusiawi. Saya sudah beberapa kali ke rumahnya yang dari bengkel berjarak 15 menit naik motor. Dari cerita dia, saya tahu bahwa Mamang membeli rumah sederhana itu dari seseorang bernama Pak Haji yang menjualnya hanya seratus juta rupiah dan boleh dicicil. 

Kamis (4/5) ini, saya bertemu Mamang di bengkel. Belakangan, motor jarang saya pakai karena hujan sering turun. Itu sebabnya sudah lebih dari tiga bulan saya tak ganti oli. Mamang bercerita soal dia yang baru punya bayi lagi, padahal istrinya sudah berumur 39 tahun.

“Mamang sih pengennya dua aja, tapi istri mau tiga, gara-gara liat sinetron. Dia bilang, kalau anak ada dua, terus dua-duanya berantem gimana? Mending kalau dua-duanya kaya, jadi gak akan pada berantem. Kalau ada tiga, minimal kalau yang dua berantem, ada yang misahin.”

Saya mendebatnya, tapi dia tetap yakin dengan pendiriannya. Ya lagipula sebenarnya tak ada gunanya mendebat. Toh, anaknya sudah lahir juga.

Mamang menyaksikan ketiga anaknya lahir. Dari depan. Dokter memuji Mamang yang kuat melihat darah berceceran sebanyak itu. Mamang membersihkan semua anaknya ketika baru keluar dari rahim istrinya. Anak ketiga, lahir di RSUD Pasar Minggu (gratis tak keluar uang sepeserpun, terima kasih BPJS). Dokter menyarankan operasi Caesar, tapi istri Mamang meyakinkan bahwa dia akan kuat melahirkan normal. Istri Mamang sempat tak sadarkan diri selama beberapa menit. Denyut nadinya tak terdengar di monitor.

“Itu yang bip bip gak kedengeran,” kata Mamang.

Tapi Mamang tetap tegar. Dia terus berbicara di telinga istrinya. “Mamang bilang ke dia, ‘Ibu, bangun ya. Harus kuat. Kan kalau Ibu udah bangun, nanti kita makan bakso kesukaan ibu.'”

Istri Mamang terbangun. Sekali lagi, Mamang menunjukan kekuatan komunikasinya.

Empati Saya untuk Pluto

Anak saya sangat suka Mickey Mouse and The Clubhouse. Keresahan ini muncul setelah berkali-kali menonton serial itu.

Buat yang belum tau cerita Mickey (walaupun saya yakin, sudah banyak yang tau), ini adalah cerita tentang sekelompok teman yang geng utamanya terdiri dari: Mickey Mouse, Minnie Mouse (nama belakang mereka sama, tapi saya tak tau apakah mereka adik kakak atau suami istri), Donald Duck, Daisy Duck (ini juga nih saya tak tau hubungannya apa), Goofy, dan Pluto. Goofy dan Pluto adalah anjing. Hanya bedanya, Goofy bisa berbicara sedangkan Pluto tidak.

Kasihan Pluto. Di dunia di mana tikus, bebek, dan anjing berbicara, takdir Pluto berkata bahwa dia tak bisa berkata-kata. Hanya menggonggong. Teman-temannya yang lain berdiri dengan dua kaki, Pluto tetap berjalan dengan empat kaki. Status Pluto meskipun sama-sama binatang dengan Mickey dan teman-teman, tapi dia malah jadi binatang peliharaan. Anjing yang dipelihara tikus!

Bayangkan perasaan Pluto. Mungkin saja dia iri melihat Mickey dan teman-teman yang bisa berbicara. Mungkin dia sedih. Statusnya adalah binatang peliharaan, padahal ras nya sama. Mungkin gonggongannya selama ini adalah curhat atau bahkan makian, hanya saja tak ada yang mengerti. 

Maka, empati saya untuk Pluto. Yang masih mau berteman dengan Mickey, meskipun hanya dianggap binatang peliharaan yang sepertinya sih jarang sekali dipelihara. Saya belum pernah nonton episode di mana Pluto diberi makan, dimandiin, atau diajak jalan-jalan pagi atau sore. Bukankah kalau punya anjing peliharaan harus dirawat seperti itu? 

Yang sabar ya, Pluto.

Siapa yang Membersihkan Rumah Bruce Wayne?

Batman adalah salah satu jagoan kesukaan saya.

Dia tak punya kekuatan super. Dia hanya punya banyak uang dan kemampuan bela diri. Sesuatu yang masih bisa didapat dalam kehidupan nyata. Bruce Wayne adalah sosok ideal kalau bicara lucky bastard. Dia kaya tanpa harus bekerja keras. Orang tuanya meninggal, lalu Bruce Wayne dapat warisan perusahaan. Kalau saja Bruce Wayne brengsek, dia tak akan jadi Batman dan lebih memilih dugem atau pergi clubbing di malam hari dibandingkan membasmi kejahatan. Dan Batman punya pesan kebudayaan yang cocok buat orang Indonesia. Batman sebenarnya sedang melestarikan kegiatan siskamling. Sesuatu yang sudah jarang dilakukan kita. Sudah hampir punah budaya siskamling kita, ya kan? 

Bicara soal Batman, ada yang paling membuat saya penasaran: rumah Bruce Wayne alias Wayne Manor. Rumahku istanaku bukan hanya slogan bagi Bruce Wayne. Di semua versi cerita Batman, Wayne Manor digambarkan seperti istana: besar! Bukan rumah di cluster. Saya yakin Bruce Wayne tak menyicilnya lewat KPR atau lewat program DP 0. 

Dan dengan rumah sebesar itu, Bruce diceritakan hanya punya satu pelayan: Alfred Pennyworth. Saya tak pernah melihat ada pembantu lain di Wayne Manor, tapi rumahnya selalu bersih dan rapi. Yah, setidaknya dari film yang saya tonton. Saya tak tau kalo di komiknya seperti apa. Atau mungkin ada pembantu yang pulang hari dan tak pernah terlihat oleh kamera? Atau, passion Alfred memang bersih-bersih rumah? Jadi dia selalu semangat membersihkan rumah sebesar  rumah Bruce Wayne?

Rumah saya yang bangunannya hanya 200 meteran persegi saja, terasa sangat besar kalo saya harus menyapu dan mengepel lantai (hasilnya: melelahkan!). Apalagi ini Wayne Manor. Berapa ratus atau ribu meter persegi yang harus disapu dan dipel oleh Alfred? Pasti melelahkan sekali ya jadi Alfred. Membersihkan rumah, memasak, membantu Batman, menunggu Batman pulang kalau dia pergi malam hari membasmi kejahatan, dan membangunkan Bruce Wayne kalau dia harus kerja siang harinya. Belum lagi, ketika Bruce masih kecil, dia juga melatih Bruce beladiri. Jadi ya sekaligus bodyguard nya Bruce. 

Sungguh berat tugasmu, Alfred. Semoga kamu digaji besar dan dapat tunjangan kesehatan. 

Saya dan Sepeda Motor

Jadi begini,

Tahun 90-an, ada serial televisi berjudul “Renegades” dengan pemeran utama Lorenzo Lamas yang memerankan karakter pemburu bayaran bernama Reno Raines. Itu adalah satu dari sekian banyak serial yang tayang di RCTI dan selalu saya tonton. Saya bahkan masih agak ingat narasi di pembuka serial itu. 

He was a cop, and good at his job. But he committed the ultimate sin. Testified against other cops gone bad. Cops that try to kill him. But got his woman killed instead. Now, he’s crawling (atau apalah itu kata sebenarnya, yang jelas di terjemahannya berkeliaran) the bad land. An outlaw hunting outlaws. A bounty hunter. A renegade! 


Reno Raines mengendarai Harley Davidson. Dan gara-gara film itu, dia membuat saya kepingin punya Harley. Maskulin sekali kelihatannya kalau naik Harley. Dan kuat. Soalnya Reno Raines sering naik Harley hanya memakai rompi kulit, tanpa kaos lagi. Mungkin juga dia sudah membasuhkan minyak kayu putih di pusarnya. Soalnya jaman itu kan belum ada Antangin atau Tolak Angin.

Maka saya pun selalu mendamba motor Harley. Lalu ketika tahu ada jenis Sportster yang tak terlalu besar dan tak sepanjang chopper, saya bertekad untuk membeli Sportster. 

Tahun 1997, ketika saya masuk Fikom Unpad, bapak saya membelikan Suzuki Crystal 110 cc tahun 1994 yang dibeli seharga 2,4 juta rupiah. Motornya kecil dan ringan sekali. Dua tak. Dan setelah beberapa bulan saya pakai, knalpotnya ngebul sekali. Baunya menyengat dan bikin mata perih. Kalau di lampu merah, saya jadi seperti tukang sate. Asap di mana-mana. Ternyata sehernya sudah rusak. Saya setiap hari mengendarai motor itu berdua teman saya Jeffri yang tinggal di rumah. Kami terlihat terlalu besar untuk motor sekecil itu.

Lalu pada 1998, setelah naik tingkat 2, bapak saya mengganti Suzuki Crystal dengan Honda GL Pro tahun 1995 yang dibeli seharga 5,5 juta rupiah. 160 cc. Dan GL Pro itu menemani saya hingga sekarang. Kami sudah menempuh ribuan kilometer dan sudah dua kali turun mesin, tiga kali ganti tangki, sekali ganti shockbreaker belakang, sekali ganti velg, sekali ganti kabel kelistrikan dan entah berapa kali ganti onderdil lainnya. Yang jelas, GL Pro saya sekarang jauh lebih terawat ketika saya kuliah. Maklum, sudah punya uang sendiri.


Tapi mimpi punya motor bermesin besar tak pernah pudar. Meskipun agak kurang yakin bisa terwujud, tapi mimpi itu selalu ada. Lalu saya dikenalkan pada Triumph Bonneville yang ternyata lebih kecil dibandingkan Sportster. Maka, Bonneville masuk ke dalam impian. Belakangan, mimpi itu makin terasa mustahil setelah mendengar harga motor di atas 600 cc pajaknya bukan main besarnya, karena dianggap barang mewah. Sempat berpikir untuk membeli Harley Davidson Street 500 yang katanya seharga 250 juta. Ah, kalo nyicil pasti mampu nih. Begitu pikir saya. Tapi pas melihat langsung, ternyata motornya kurang gagah. Haha. 

Dan ketika ada Royal Enfield yang harganya tak di atas 100 juta rupiah untuk motor 500 cc, hati sempat terpikir untuk membeli itu. Sempat test ride dan merasa nyaman. Sudah meninggalkan nomor telepon juga, minta dihubungi kalo penjualan sudah dimulai. Tapi, ada kabar bahwa manajemennya berganti dan dealer Royal Enfield bermasalah sehingga showroom di Jalan Pejaten itu tak kunjung dibuat. Saya juga tak tahu cerita pastinya, yang jelas showroom Royal Enfield sempat lama tak jelas keberadaannya. Dan ketika showroom jadi, saya tak juga dihubungi. Mungkin datanya tak tahu di mana. 

Royal Enfield memang agak bersahabat harganya, tapi hati selalu memikirkan Triumph Bonneville. Ibarat sedang naksir dua cewek, ada satu yang kemungkinan besar sudah mau menerima, tapi satu cewek lagi yang paling sesuai selera belum jelas kemungkinannya. Harus sabar menunggu. 

Yah, daripada jadian sama yang tak terlalu disukai, mending sabar terus sambil pedekate pada cewek idaman.

Dan impian selama 20 tahun itu pun terwujud di tahun 2017. Saya dengar kabar soal dealer Triumph di Kemang Raya yang tahun 2016 menjual Triumph baru lengkap dengan surat-surat, dengan harga seperti Triumph lama yang belum tentu ada surat-suratnya. 

Yah, singkat cerita, setelah ngobrol dengan Triwil, salah satu bos Triumph Jakarta, saya berjodoh dengan Triumph Bonneville Street Twin yang secara visual sudah bisa memenuhi selera saya, tanpa harus melakukan modifikasi. Kebetulan, Tetta merestui keinginan saya. Hehe.

Jadi sodara-sodara, pesan moral dari tulisan ini adalah: benar kata orang bijak yang bilang bahwa kalau kita bisa memimpikan, pasti kita bisa mewujudkan. Buat kamu yang masih mendamba motor impian atau apapun itu, tetaplah bermimpi! Tapi sambil kerja ya. Jangan sambil ngepet. Dan ingat, kalau kamu sudah punya pasangan, restu pasangan sangatlah penting dalam mewujudkan mimpi itu. 


Makanya, saya kalau melihat orang punya banyak motor mahal, ada dua hal yang selalu terlintas di benak: Itu orang kerjanya apa ya? Lalu, gimana cara dia bilang ke istrinya ya?

Alhamdulillah, Enak!

Halo sodara-sodara,

Saya mau cerita soal pertunjukan stand-up comedy saya yang digelar, Sabtu, 25 Maret 2017 kemarin di Gedung Kesenian Jakarta. Haha. Iya, saya tau, ini udah sebulan sejak pertunjukan “Dibilang Enak Ya Memang Enak” itu. Maaf ya. Baru sempat nulis. Soalnya, sehari setelah pertunjukan saya ada pekerjaan. Hari berikutnya, langsung je Bandung. Jadi ya, gak sempet istirahat. Terus, saya juga sedang menulis buku. Deadline nya setiap Senin dan Kamis. Unduh aplikasi Whattpad aja kalo mau baca naskah buku yang sementara dikasih judul “Macan Kampus” itu ya. Saya cerita soal pengalaman selama 7 tahun di Fikom Unpad.

Oke, kembali ke topik. “Dibilang Enak Ya Memang Enak” dimulai jam 7.30 malam. Memang, di flyer ditulis jam 7, tapi kan saya kasih info lagi di media sosial bahwa pintu dibuka jam 7, dan acara dimulai jam 7.30 malam. Waktu Indonesia Barat tentunya. Teman-teman semanajemen tampil menari; Arie Kriting, Ge Pamungkas, Ardit Erwandha, Aci Resti, dan Bene Dion. Hasilnya? Tak sesuai yang saya harapkan. Tadinya saya berpikir kalo mereka tampil menari, penonton akan tertawa melihat aksinya. Eh ternyata biasa saja. Entah karena mereka tak setenar itu di mata penonton yang datang, entah karena memang tak tahu harus merespon apa. Tadinya Ernest Prakasa akan ikut formasi menari, tapi ketika persiapan berlangsung, Ernest sedang ada masalah di Twitter sehingga suasana hatinya tak sedang bagus untuk latihan menari. Akhirnya Ernest jadi MC. Saya juga mengajak Uus sebagai pasangannya. Kan sama-sama banyak yang memaki tuh di Twitter. Haha.

Kamga jadi pembuka. Banyak mengucapkan kata “titit” dalam lawakannya. Haha. Untungnya lucu dan konteksnya bukan memaki. Joshua yang tampil selanjutnya, sukses mengobok-obok perut dengan lawakannya yang mengolok-olok dirinya sendiri. Banyak teman saya yang tak menyangka kalau Kamga dan Joshua selucu itu. Mereka sangat terhibur dengan penampilan dua musisi itu.

Keinginan saya akhirnya terwujud. Muncul ke panggung dari bawah, kebetulan GKJ baru selesai renovasi dan mereka menyediakan panggung yang bisa naik turun. Lalu penari. Saya selalu ingin muncul di panggung dibuka dengan penari. Biar seperti rockstar. Atau produk yang di-launching. 

Saya awalnya mengira akan tampil paling lama 2 jam. Soalnya, ketika semua materi itu dicoba di open mic, durasinya hanya 1,5 jam. Ternyata ketika di panggung, ada banyak improvisasi materi sehingga membuat saya tampil selama 3 jam 20 menit. Pantesan pinggang saya sakit di panggung. Saya pikir baru 1,5 jam kok sudah panas dan pegal pinggangnya? Saya baru sadar sudah 3 jam ketika di sesi turun ke penonton, Ernest bilang bahwa saya sudah 3 jam tampil. Yah, itu sebabnya saya tak mau bikin 2 pertunjukan dalam sehari. Haha. 

“Dibilang Enak Ya Memang Enak” bakal dikeluarkan dalam format DVD. Tunggu saja ya, infonya di akun Twitter dan Instagram saya. Sementara itu, ini ada beberapa foto hasil jepretan Mohammad Asranur (yang hitam putih) dan Pio Kharisma.

Dan saya mau menutup tulisan ini dengan pujian. Sebenarnya banyak yang memuji sehingga bagus untuk dijadikan alat pamer alias riya, tapi Pandji Pragiwaksono paling bagus kalimat pujiannya. Maklum, dia jago sekali mengeluarkan kalimat yang bisa meningkatkan kredibilitas. Buktinya, Anies bisa jadi Gubernur DKI Jakarta tuh karena Pandji jadi juru bicaranya. 

“Semalem gue nonton salah satu pertunjukan komedi yang mengagumkan. Soleh Solihun bisa jadi merupakan salah satu komika terlucu dan terberani (atau tercuek?) yang gue pernah lihat. It’s almost hero-like, karena Soleh membahas dengan biasa biasa saja hal yang kami bahas diam-diam. Setiap kali Soleh ngomong sesuatu, penonton mikir, ‘NAH IYA!’ dan ketawa menggelegar. Gesturnya, intonasinya, cara pandangnya, dan terutama jokes-nya, menjadikan Soleh sangat orisinil. Dan gak ada yang lolos dari roasting-an Soleh. Penonton biasa. Monty Tiwa. Khemod. Uus. Ernest. Gue. Beuh. Apalagi gue! :)) Kalau di US ada Don Rickles sebagai Master of Insult Comedy (beneran ada istilah Insult Comedy kok di dunia stand-up), jelas Indonesia punya Soleh. Kritik gue bisa jadi hanya 1. Itu harga tiket kemurahan untuk kelasnya Soleh Solihun. Soleh reminded me why I wanna be a comedian. To be able to be amongst people like him. Absolute legend in the making.”