Pacar dan Aliran Listrik

Pacar itu datang di saat yang tidak kita duga.

Kamu mungkin pernah merasakannya juga. Bertanya-tanya soal kapan punya pacar–ketika masih jomblo tentu saja. Tapi, sadarkah kamu? Dia datang justru di saat kita pasrah. Melepaskan semua perasaan sakit hati, dendam di masa lalu, atau penasaran kapan dia datang.

Seperti kejadian mati lampu sebenarnya. Kamu tahu, kalau aliran listrik mati di rumah kita. Biasanya, lampu baru menyala di saat kita tidak punya perasaan kesal. Ketika kita sudah pasrah dan sesaat melupakan atau menerima kenyataan itu dengan lapang dada, aliran listrik hidup kembali.

Dan kamu tahu juga bagaimana senangnya perasaan itu.

Pacar dan Aliran Listrik

Pacar itu datang di saat yang tidak kita duga.
Kamu mungkin pernah merasakannya juga. Bertanya-tanya soal kapan punya pacar–ketika masih jomblo tentu saja. Tapi, sadarkah kamu? Dia datang justru di saat kita pasrah. Melepaskan semua perasaan sakit hati, dendam di masa lalu, atau penasaran kapan dia datang.
Seperti kejadian mati lampu sebenarnya. Kamu tahu, kalau aliran listrik mati di rumah kita. Biasanya, lampu baru menyala di saat kita tidak punya perasaan kesal. Ketika kita sudah pasrah dan sesaat melupakan atau menerima kenyataan itu dengan lapang dada, aliran listrik hidup kembali.
Dan kamu tahu juga bagaimana senangnya perasaan itu.

Sashimi Boys

Ini cerita tentang syuting film.
Beberapa hari yang lalu, saya dan teman-teman ada di lokasi syuting film layar lebar yang akan segera beredar. Kami hadir di sana untuk pemotretan majalah kami. Tapi di sana, pihak production house mengajak kami untuk jadi cameo di salah satu adegan. Kami ditunggu hari ini, pukul empat sore di lokasi syuting.
Tentu saja saya dan teman-teman semangat. Syuting film! Layar lebar! Walaupun belum jelas apakah wajah kami akan terlihat di film, tapi kami sudah senang. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu yakin juga kalau wajah saya akan masuk frame. Soalnya, cameo kan hanya untuk orang terkenal. Dua orang teman saya, memang relatif dikenal publik wajahnya–maklum, personel rock band yang cukup terkenal. Sedangkan saya? Tampan juga tidak. Hehe.
Tapi akhirnya saya tertarik juga. Oya, saya belum cerita adegan apa yang akan kami lakukan. Banyak laki-laki pasti tertarik. Adegan sashimi girls! Mengambil makanan dari tubuh perempuan setengah telanjang. Haha. Sesuatu yang selama ini hanya saya baca dari majalah atau dengar dari cerita orang saja. Dan kesempatan melihat langsung dari dekat akhirnya terbuka juga.
Semua sepertinya sudah antusias.
Maka berangkatlah kami. Tujuh orang penuh semangat. Tapi, di tengah jalan pesan pendek masuk ke HP teman saya. Syuting untuk adegan itu dibatalkan. Takut dianggap pornoaksi. Maka, wajah ceria tadi berubah asam. Hehe. Padahal, di kantor kami sudah berkoar soal syuting. Kami hanya bisa menertawakan diri kami sendiri.
Ketika sudah tidak berharap lagi soal syuting, pesan pendek masuk lagi. Adegannya jadi diambil. Semangat kembali berkobar di dada. Dan rombongan itu pun berangkat lagi. Seorang teman yang sudah berangkat ke Bintaro, dipanggil kembali. Demi syuting, dia menunda kunjungan ke rumah pacar. Kami tertawa puas. Pamit kepada teman-teman di kantor. Ya, akhirnya syuting itu jadi juga!
Di tempat parkir, ketika menunggu teman yang dari Bintaro datang, telepon masuk ke HP teman saya. Dan kamu tahu? Syuting itu dibatalkan lagi. Haha. Kedua kalinya! De ja vu. Dan kami seperti mengulang adegan pertama tadi.
Sialan.

Sashimi Boys

Ini cerita tentang syuting film.

Beberapa hari yang lalu, saya dan teman-teman ada di lokasi syuting film layar lebar yang akan segera beredar. Kami hadir di sana untuk pemotretan majalah kami. Tapi di sana, pihak production house mengajak kami untuk jadi cameo di salah satu adegan. Kami ditunggu hari ini, pukul empat sore di lokasi syuting.

Tentu saja saya dan teman-teman semangat. Syuting film! Layar lebar! Walaupun belum jelas apakah wajah kami akan terlihat di film, tapi kami sudah senang. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu yakin juga kalau wajah saya akan masuk frame. Soalnya, cameo kan hanya untuk orang terkenal. Dua orang teman saya, memang relatif dikenal publik wajahnya–maklum, personel rock band yang cukup terkenal. Sedangkan saya? Tampan juga tidak. Hehe.

Tapi akhirnya saya tertarik juga. Oya, saya belum cerita adegan apa yang akan kami lakukan. Banyak laki-laki pasti tertarik. Adegan sashimi girls! Mengambil makanan dari tubuh perempuan setengah telanjang. Haha. Sesuatu yang selama ini hanya saya baca dari majalah atau dengar dari cerita orang saja. Dan kesempatan melihat langsung dari dekat akhirnya terbuka juga.

Semua sepertinya sudah antusias.

Maka berangkatlah kami. Tujuh orang penuh semangat. Tapi, di tengah jalan pesan pendek masuk ke HP teman saya. Syuting untuk adegan itu dibatalkan. Takut dianggap pornoaksi. Maka, wajah ceria tadi berubah asam. Hehe. Padahal, di kantor kami sudah berkoar soal syuting. Kami hanya bisa menertawakan diri kami sendiri.

Ketika sudah tidak berharap lagi soal syuting, pesan pendek masuk lagi. Adegannya jadi diambil. Semangat kembali berkobar di dada. Dan rombongan itu pun berangkat lagi. Seorang teman yang sudah berangkat ke Bintaro, dipanggil kembali. Demi syuting, dia menunda kunjungan ke rumah pacar. Kami tertawa puas. Pamit kepada teman-teman di kantor. Ya, akhirnya syuting itu jadi juga!

Di tempat parkir, ketika menunggu teman yang dari Bintaro datang, telepon masuk ke HP teman saya. Dan kamu tahu? Syuting itu dibatalkan lagi. Haha. Kedua kalinya! De ja vu. Dan kami seperti mengulang adegan pertama tadi.

Sialan.

Duniawi

Mau jadi orang kaya.
Punya banyak uang.
Bisa beli motor Harley.
Beli banyak CD.

Biar anak istri di kemudian hari.
Bisa berseri-seri.
Susu anak bisa terbeli.
Dapur ngebul setiap hari.

Tapi, harus bagaimana?
Jadi milyuner mendadak?
Ikut kuis berhadiah uang milyaran rupiah?
Atau, jadi artis instan?
Dan langsung ambil banyak kesempatan?

Menunggu warisan, orangtua saya tidak juga berlimpah kekayaan.
Menabung mati-matian, entah kapan jadi jutawan.
Ah sialan.
Benar kata Iwan Fals.

Keinginan adalah sumber penderitaan.

Duniawi

Mau jadi orang kaya.
Punya banyak uang.
Bisa beli motor Harley.
Beli banyak CD.

Biar anak istri di kemudian hari.
Bisa berseri-seri.
Susu anak bisa terbeli.
Dapur ngebul setiap hari.

Tapi, harus bagaimana?
Jadi milyuner mendadak?
Ikut kuis berhadiah uang milyaran rupiah?

Atau, jadi artis instan?
Dan langsung ambil banyak kesempatan?

Menunggu warisan, orangtua saya tidak juga berlimpah kekayaan.
Menabung mati-matian, entah kapan jadi jutawan.
Ah sialan.
Benar kata Iwan Fals.

Keinginan adalah sumber penderitaan.

Takut

Sebuah pesan pendek mengejutkan saya.
Seorang teman meninggal tadi pagi.
Kecelakaan motor.
Benar-benar tidak terduga.
Kalau begini, saya kembali teringat sesuatu.
Saya belum siap mati.
Masih belum bertobat.
Tapi, bagaimana kalau itu datang besok ya?

Takut

Sebuah pesan pendek mengejutkan saya.

Seorang teman meninggal tadi pagi.

Kecelakaan motor.

Benar-benar tidak terduga.

Kalau begini, saya kembali teringat sesuatu.

Saya belum siap mati.

Masih belum bertobat.

Tapi, bagaimana kalau itu datang besok ya?