Sedikit Cerita dari Liburan Kemarin

Ini tentang liburan kemarin.

Waktu SD dulu, setiap habis liburan, tugas standar pelajaran Bahasa Indonesia adalah membuat karangan dengan tema liburan. Untuk mengenang masa SD, saya ingin menuliskan kembali apa saja yang saya lakukan libur lebaran kemarin.

Jumat [20/10] malam, saya pulang ke Bandung. Bis Primajasa jurusan Lebak Bulus — Bandung yang saya tumpangi, berangkat dari Lebak Bulus jam sembilan malam. Sejam kemudian, bis itu baru masuk tol Cipularang. Dan perjalanan itu merupakan perjalanan paling lama saya lewat tol itu, karena baru jam dua pagi saya tiba di Leuwi Panjang.

Ah, mungkin hanya di Indonesia, ada yang namanya arus mudik. Soalnya, saya tidak pernah melihat kejadian itu di film-film Hollywood. Entah pendapat saya ini benar atau tidak. Mungkin hanya orang Indonesia yang tahu namanya arus mudik dan arus balik. Bahkan, saya tidak tahu bahasa Inggrisnya arus mudik. Going Home Stream?

Puasa terakhir saya habiskan dengan teman. Dari depan rumah teman saya, yang kebetulan tepat di depan Bandung Indah Plaza, saya lihat orang-orang bertakbiran. Ada yang konvoi naek motor. Ada yang naek mobil bak. Bising. Takbir sih takbir. Tapi, kenapa juga mesti ke jalan-jalan ya?

Saya kurang mengerti aturan dalam agama. Apakah memang ada sunah Nabi yang mengatakan ketika takbiran orang-orang harus berkeliling kota, mengumandangkan takbir? Yang saya tau, bukannya orang-orang itu harus bertakbir di mesjid ya? Ah tau ah.

Cuma ya itu tadi. Saya jadi risih. Sepanjang jalan, saya lihat konvoi. Ada yang ugal-ugalan naek motor. Meniup terompet. Seperti tahun baru saja. Sebagai pengendara motor, saya jadi semacam terganggu jadinya. Kenapa ya mesti begitu? Bukankah katanya hari kemenangan? Hari ketika semua jadi fitri, suci kembali? Tapi cara mengekspresikannya bisa mengganggu orang lain.

Ah sudahlah. Langsung ke bagian lebaran. Saya dan seluruh penduduk di Kampung Cibodas–kampung keluarga besar dan tempat saya berlebaran sepanjang hidup saya–memilih berlebaran hari Selasa. Saya sih ikut pemerintah saja lah. Ikut yang rame. Kadang saya suka heran. Kenapa juga mesti ada dua hari yang berbeda? Walaupun saya tidak terlalu mempermasalahkannya. Tapi, harusnya ada yang bisa mengalah lah. Ah entahlah. Saya kurang paham soal ini.

Lebaran di rumah saya selalu sama. Sejak saya ingat. Beres sholat Ied, orang-orang berbaris. Mulai dari dalam masjid hingga ke jalan. Praktis, saya bisa bertemu hampir semua orang di kampung itu dalam hitungan jam. Tidak perlu mengunjungi banyak rumah. Dan tidak perlu dikunjungi banyak orang.

Beres salam-salaman, kunjungannya pasti makam. Saya selalu teringat kematian setiap kali datang ke makam. Banyak hal yang saya pikirkan. Apakah saya akan bahagia di sana? Apakah keluarga dan teman-teman saya kelak akan mengunjungi makam saya, setelah saya meninggal? Apakah ada yang mendoakan saya nanti?

Yah begitulah. Tengah hari, keriaan lebaran sudah tidak terasa. Walaupun perut masih penuh oleh opor ayam dan ketupat, praktis tidak ada kegiatan lain. Saya biasanya hanya mengisinya dengan tidur siang atau nonton TV. Berbeda dengan suasana di rumah pacar saya. Di sana, selalu sibuk. Sejak beres sholat Ied hingga malam hari, hampir tidak bisa istirahat. Tamu-tamu selalu berdatangan.

Hari kedua lebaran, keluarga saya pergi ke Garut, desa Sumur Sari. Nenek dari ibu saya, berasal dari sana. Jadi agak-agak gimana juga. Diingatkan kembali akan nenek moyang saya yang pendiri pesantren. Haha. Kelakuan saya belum Islami. Baru namanya saja.

Pulang dari Sumur Sari, kami berpikir untuk mampir di kawasan wisata pemandian Cipanas di Garut. Entah siapa yang melontarkan ide itu waktu berangkat. Sampai di sana, ternyata pelayanannya MENGESALKAN! Kami masuk semacam kawasan wisatanya. Bayar parkir tiga ribu. Padahal, tiketnya bilang seribu tarifnya. Petugas parkir bilang, masih banyak tempat kosong.

Dengan lincah, beberapa orang memandu kami. Eh tiba-tiba, kami diarahkan ke gerbang salah satu hotel di sana. “Berapa orang Pak?” tanya petugas di sana. Terang saja kami kesal. Katanya mau ditunjukkan tempat parkir. Ini kok, tiba-tiba disuruh masuk ke hotel itu. Padahal, niatnya, kami parkir lalu pikir-pikir, pemandian mana yang enak dikunjungi.

Rombongan keluarga saya akhirnya minta diarahkan ke tempat parkir. Seorang memandu kami ke lahan parkir kosong. “Parkir dengan dibersihin mobil, jadinya sepuluh ribu ya Pak!” kata seorang dari mereka begitu kami turun. Sialan. Katanya mau diarahkan ke tempat parkir, tiba-tiba belum apa-apa sudah ditagih macam-macam. “Ini beda dengan yang di depan Pak. Lahan parkirnya punya pribadi,” kata si orang lokal. Padahal, kata petugas parkir depan kami disuruh mengikuti orang-orang itu untuk mencari lahan parkir. Kenapa jadinya seperti dijebak ya?

Karena kesal. Merasa ditipu. Kami langsung pulang ke Bandung. Payah. Dinas Pariwisata Garut harusnya memikirkan hal ini.

Oke, cukup bicara lebaran bersama keluarga. Jumat [27/10] malam, ada hiburan liburan yang menyenangkan. Konser Iwan Fals gratis di lapangan Gasibu. Aslinya, itu acaranya Gudang Garam. Ada Pas Band dan Cokelat sebelum Iwan. Dan begitu Iwan naik panggung, baligo raksasa Gudang Garam di kanan kiri panggung dicopot. Mungkin permintaaan manajemen. Saya setuju sekali. Soalnya, sponsor sering kali tidak memerhatikan keindahan panggung.

Berbeda dengan beberapa tahun lalu, saya sekarang sudah tidak lagi tertarik merangsek ke depan. Berjoget bersama ratusan laki-laki berkeringat lainnya. Haha. Hanya menyaksikan dari jauh.

Iwan tidak tampil agresif malam itu. Lagu-lagu yang dibawakannya lebih banyak lagu dengan tempo medium, atau lagu-lagu penuh perenungan, macam “Kantata Takwa”, “Perempuan Malam”, “Belum Ada Judul” hingga lagu dari album “Manusia 1/2 Dewa” yang bicara soal desa harus jadi kekuatan ekonomi–saya lupa judulnya.

Semua dengan aransemen baru. Tapi, yang paling mengejutkan adalah aransemen ulang lagu “Galang Rambu Anarki”. Lagu itu jadi seperti sebuah lagu punk rock. Mungkin menyesuaikan dengan karakter almarhum anaknya itu. Mungkin juga, Galang pernah mengaransir ulang lagu itu. Soalnya, Iwan pernah berkata kalau Galang sudah mengaransir ulang lagu-lagunya. Bisa jadi, itu salah satu yang dimaksudnya.

Ah menyaksikan Iwan Fals tidak pernah membosankan. Dia memang punya kharisma. Walau tidak seliar dulu, Iwan masih memikat di panggung. Mungkin juga, dengan tenangnya Iwan Fals, massanya jadi lebih tenang. Dan saya bahagia bisa sekali lagi menyaksikan Iwan. Ditemani dua orang sahabat. Di lapangan terbuka. Tanpa hujan. Tanpa kewajiban meliput. Haha.

Yah begitulah. Saya sudah capek menuliskannya. Lagipula, ini sudah larut malam. Sialan. Seminggu memang tidak cukup ya buat liburan.

Ah, kembali ke realita. Kerja lagi. Kerja lagi.

Sedikit Cerita dari Liburan Kemarin

Ini tentang liburan kemarin.

Waktu SD dulu, setiap habis
liburan, tugas standar pelajaran Bahasa Indonesia adalah membuat
karangan dengan tema liburan. Untuk mengenang masa SD, saya ingin
menuliskan kembali apa saja yang saya lakukan libur lebaran kemarin.

Jumat [20/10] malam, saya pulang ke Bandung. Bis Primajasa jurusan
Lebak Bulus — Bandung yang saya tumpangi, berangkat dari Lebak Bulus
jam sembilan malam. Sejam kemudian, bis itu baru masuk tol Cipularang.
Dan perjalanan itu merupakan perjalanan paling lama saya lewat tol itu,
karena baru jam dua pagi saya tiba di Leuwi Panjang.

Ah, mungkin hanya di Indonesia, ada yang namanya arus mudik. Soalnya,
saya tidak pernah melihat kejadian itu di film-film Hollywood. Entah
pendapat saya ini benar atau tidak. Mungkin hanya orang Indonesia yang
tahu namanya arus mudik dan arus balik. Bahkan, saya tidak tahu bahasa
Inggrisnya arus mudik. Going Home Stream?

Puasa terakhir saya habiskan dengan teman. Dari depan rumah teman saya,
yang kebetulan tepat di depan Bandung Indah Plaza, saya lihat
orang-orang bertakbiran. Ada yang konvoi naek motor. Ada yang naek
mobil bak. Bising. Takbir sih takbir. Tapi, kenapa juga mesti ke
jalan-jalan ya?

Saya kurang mengerti aturan dalam agama. Apakah memang ada sunah Nabi
yang mengatakan ketika takbiran orang-orang harus berkeliling kota,
mengumandangkan takbir? Yang saya tau, bukannya orang-orang itu harus
bertakbir di mesjid ya? Ah tau ah.

Cuma ya itu tadi. Saya jadi risih. Sepanjang jalan, saya lihat konvoi.
Ada yang ugal-ugalan naek motor. Meniup terompet. Seperti tahun baru
saja. Sebagai pengendara motor, saya jadi semacam terganggu jadinya.
Kenapa ya mesti begitu? Bukankah katanya hari kemenangan? Hari ketika
semua jadi fitri, suci kembali? Tapi cara mengekspresikannya bisa
mengganggu orang lain.

Ah sudahlah. Langsung ke bagian lebaran. Saya dan seluruh penduduk di
Kampung Cibodas–kampung keluarga besar dan tempat saya berlebaran
sepanjang hidup saya–memilih berlebaran hari Selasa. Saya sih ikut
pemerintah saja lah. Ikut yang rame. Kadang saya suka heran. Kenapa
juga mesti ada dua hari yang berbeda? Walaupun saya tidak terlalu
mempermasalahkannya. Tapi, harusnya ada yang bisa mengalah lah. Ah
entahlah. Saya kurang paham soal ini.

Lebaran di rumah saya selalu sama. Sejak saya ingat. Beres sholat Ied,
orang-orang berbaris. Mulai dari dalam masjid hingga ke jalan. Praktis,
saya bisa bertemu hampir semua orang di kampung itu dalam hitungan jam.
Tidak perlu mengunjungi banyak rumah. Dan tidak perlu dikunjungi banyak
orang.

Beres salam-salaman, kunjungannya pasti makam. Saya selalu teringat
kematian setiap kali datang ke makam. Banyak hal yang saya pikirkan.
Apakah saya akan bahagia di sana? Apakah keluarga dan teman-teman saya
kelak akan mengunjungi makam saya, setelah saya meninggal? Apakah ada
yang mendoakan saya nanti?

Yah begitulah. Tengah hari, keriaan lebaran sudah tidak terasa.
Walaupun perut masih penuh oleh opor ayam dan ketupat, praktis tidak
ada kegiatan lain. Saya biasanya hanya mengisinya dengan tidur siang
atau nonton TV. Berbeda dengan suasana di rumah pacar saya. Di sana,
selalu sibuk. Sejak beres sholat Ied hingga malam hari, hampir tidak
bisa istirahat. Tamu-tamu selalu berdatangan.

Hari kedua lebaran, keluarga saya pergi ke Garut, desa Sumur Sari.
Nenek dari ibu saya, berasal dari sana. Jadi agak-agak gimana juga.
Diingatkan kembali akan nenek moyang saya yang pendiri pesantren. Haha.
Kelakuan saya belum Islami. Baru namanya saja.

Pulang dari Sumur Sari, kami berpikir untuk mampir di kawasan wisata
pemandian Cipanas di Garut. Entah siapa yang melontarkan ide itu waktu
berangkat. Sampai di sana, ternyata pelayanannya MENGESALKAN! Kami
masuk semacam kawasan wisatanya. Bayar parkir tiga ribu. Padahal,
tiketnya bilang seribu tarifnya. Petugas parkir bilang, masih banyak
tempat kosong.

Dengan lincah, beberapa orang memandu kami. Eh tiba-tiba, kami
diarahkan ke gerbang salah satu hotel di sana. “Berapa orang Pak?”
tanya petugas di sana. Terang saja kami kesal. Katanya mau ditunjukkan
tempat parkir. Ini kok, tiba-tiba disuruh masuk ke hotel itu. Padahal,
niatnya, kami parkir lalu pikir-pikir, pemandian mana yang enak
dikunjungi.

Rombongan keluarga saya akhirnya minta diarahkan ke tempat parkir.
Seorang memandu kami ke lahan parkir kosong. “Parkir dengan dibersihin
mobil, jadinya sepuluh ribu ya Pak!” kata seorang dari mereka begitu
kami turun. Sialan. Katanya mau diarahkan ke tempat parkir, tiba-tiba
belum apa-apa sudah ditagih macam-macam. “Ini beda dengan yang di depan
Pak. Lahan parkirnya punya pribadi,” kata si orang lokal. Padahal, kata
petugas parkir depan kami disuruh mengikuti orang-orang itu untuk
mencari lahan parkir. Kenapa jadinya seperti dijebak ya?

Karena kesal. Merasa ditipu. Kami langsung pulang ke Bandung. Payah. Dinas Pariwisata Garut harusnya memikirkan hal ini.

Oke, cukup bicara lebaran bersama keluarga. Jumat [27/10] malam, ada
hiburan liburan yang menyenangkan. Konser Iwan Fals gratis di lapangan
Gasibu. Aslinya, itu acaranya Gudang Garam. Ada Pas Band dan Cokelat
sebelum Iwan. Dan begitu Iwan naik panggung, baligo raksasa Gudang
Garam di kanan kiri panggung dicopot. Mungkin permintaaan manajemen.
Saya setuju sekali. Soalnya, sponsor sering kali tidak memerhatikan
keindahan panggung.

Berbeda dengan beberapa tahun lalu, saya sekarang sudah tidak lagi
tertarik merangsek ke depan. Berjoget bersama ratusan laki-laki
berkeringat lainnya. Haha. Hanya menyaksikan dari jauh.

Iwan tidak tampil agresif malam itu. Lagu-lagu yang dibawakannya lebih
banyak lagu dengan tempo medium, atau lagu-lagu penuh perenungan, macam
“Kantata Takwa”, “Perempuan Malam”, “Belum Ada Judul” hingga lagu dari
album “Manusia 1/2 Dewa” yang bicara soal desa harus jadi kekuatan
ekonomi–saya lupa judulnya.

Semua dengan aransemen baru. Tapi, yang paling mengejutkan adalah
aransemen ulang lagu “Galang Rambu Anarki”. Lagu itu jadi seperti
sebuah lagu punk rock. Mungkin menyesuaikan dengan karakter almarhum
anaknya itu. Mungkin juga, Galang pernah mengaransir ulang lagu itu.
Soalnya, Iwan pernah berkata kalau Galang sudah mengaransir ulang
lagu-lagunya. Bisa jadi, itu salah satu yang dimaksudnya.

Ah menyaksikan Iwan Fals tidak pernah membosankan. Dia memang punya
kharisma. Walau tidak seliar dulu, Iwan masih memikat di panggung.
Mungkin juga, dengan tenangnya Iwan Fals, massanya jadi lebih tenang.
Dan saya bahagia bisa sekali lagi menyaksikan Iwan. Ditemani dua orang
sahabat. Di lapangan terbuka. Tanpa hujan. Tanpa kewajiban meliput.
Haha.

Yah begitulah. Saya sudah capek menuliskannya. Lagipula, ini sudah
larut malam. Sialan. Seminggu memang tidak cukup ya buat liburan.

Ah, kembali ke realita. Kerja lagi. Kerja lagi.

Bertemu Suzana

Ini kejadian Selasa [17/8] lalu.

Sebelas malam, saya naik taksi
Ekspress dari depan Citos. Begitu masuk, taksi gelap. Dan betapa
kagetnya saya, ketika si supir taksi menoleh ke arah saya, di antara
remang-remangnya suasana taksi.

Wajah, senyuman dan tatapan supir
itu mirip Suzana si aktris horor! Anjis! Seumur saya di Jakarta, baru
kali ini kebagian taksi yang disupiri perempuan. Mirip Suzana pula. Di
spion tengah, tergantung setangkai mawar merah yang kelopak bunganya
cukup besar.

Dan si ibu supir tadi, mengemudikan
taksinya dengan kecepatan cukup tinggi. Sementara itu, radio di
mobilnya memutar musik klasik. Agak-agak menyeramkan juga. Untung saja,
perjalanan saya tidak berakhir di kuburan. Seperti banyak kisah horor.

Jangan-jangan, Suzana yang digosipkan meninggal itu, memang menghilang.
Dan punya pekerjaan sampingan jadi supir taksi Ekspress.

Bertemu Suzana

Ini kejadian Selasa [17/8] lalu.

Sebelas malam, saya naik taksi Ekspress dari depan Citos. Begitu masuk, taksi gelap. Dan betapa kagetnya saya, ketika si supir taksi menoleh ke arah saya, di antara remang-remangnya suasana taksi.

Wajah, senyuman dan tatapan supir itu mirip Suzana si aktris horor! Anjis! Seumur saya di Jakarta, baru kali ini kebagian taksi yang disupiri perempuan. Mirip Suzana pula. Di spion tengah, tergantung setangkai mawar merah yang kelopak bunganya cukup besar.

Dan si ibu supir tadi, mengemudikan taksinya dengan kecepatan cukup tinggi. Sementara itu, radio di mobilnya memutar musik klasik. Agak-agak menyeramkan juga. Untung saja, perjalanan saya tidak berakhir di kuburan. Seperti banyak kisah horor.

Jangan-jangan, Suzana yang digosipkan meninggal itu, memang menghilang. Dan punya pekerjaan sampingan jadi supir taksi Ekspress.

Pacar Saya Ingin Bunga, Hanya Janji yang Saya Beri

Ini tentang bunga.

Sudah empat belas bulan pacaran, saya
belum sekalipun beri bunga buat pacar. Padahal, dulu berjanji pada diri
sendiri, kalau pacar ulang tahun, atau kalau kami satu tahunan, saya
akan beri dia bunga.

Tapi, itu belum juga terjadi. Waktu
pacar ulang tahun, dia sedang KKN di Cirebon. Dan saya terlalu malas
untuk bawa bunga jauh-jauh dari Jakarta. Waktu kami satu tahunan pun,
saya tidak sempat beli bunga.

Sebenarnya, pacar bilang, kalau
saya memberi bunga, akan sangat menyenangkan buat dia. Itu salah satu
yang dianggap penting. Kata dia, sama pentingnya, dengan keinginan saya
memasang foto kami di friendster dia. Hehe. [Terserah lah kamu mau
bilang apa. Yang jelas, saya suka cemburu melihat foto teman-teman
cowok dia di friendsternya. Masa’ foto saya tidak ada?].

Dia tidak terlalu
mempermasalahkannya sih. Walaupun, kadang suka menyindir soal bunga
ini. Tapi, saya yang jadi tidak enak. Jadinya, seperti janji tinggal
janji–manis di bibir–banyak alasan. Kadang, saya suka cemburu juga
sih. Mendengar cerita soal mantan-mantannya yang pernah memberi dia
bunga–yang mungkin masih disimpan hingga sekarang.

Ah, kalau begini, untuk pembenaran saya, jadi ingat lirik lagu Iwan Fals, “Maaf Cintaku”.

…aku tak mampu beri sayang yang cantik.

seperti kisah cinta di dalam komik…

Pacar Saya Ingin Bunga, Hanya Janji yang Saya Beri

Ini tentang bunga.

Sudah empat belas bulan pacaran, saya belum sekalipun beri bunga buat pacar. Padahal, dulu berjanji pada diri sendiri, kalau pacar ulang tahun, atau kalau kami satu tahunan, saya akan beri dia bunga.

Tapi, itu belum juga terjadi. Waktu pacar ulang tahun, dia sedang KKN di Cirebon. Dan saya terlalu malas untuk bawa bunga jauh-jauh dari Jakarta. Waktu kami satu tahunan pun, saya tidak sempat beli bunga.

Sebenarnya, pacar bilang, kalau saya memberi bunga, akan sangat menyenangkan buat dia. Itu salah satu yang dianggap penting. Kata dia, sama pentingnya, dengan keinginan saya memasang foto kami di friendster dia. Hehe. [Terserah lah kamu mau bilang apa. Yang jelas, saya suka cemburu melihat foto teman-teman cowok dia di friendsternya. Masa’ foto saya tidak ada?].

Dia tidak terlalu mempermasalahkannya sih. Walaupun, kadang suka menyindir soal bunga ini. Tapi, saya yang jadi tidak enak. Jadinya, seperti janji tinggal janji–manis di bibir–banyak alasan. Kadang, saya suka cemburu juga sih. Mendengar cerita soal mantan-mantannya yang pernah memberi dia bunga–yang mungkin masih disimpan hingga sekarang.

Ah, kalau begini, untuk pembenaran saya, jadi ingat lirik lagu Iwan Fals, “Maaf Cintaku”.


…aku tak mampu beri sayang yang cantik.
seperti kisah cinta di dalam komik…

Kenapa Harus Menyiksa Perempuan?

Ini sedikit tentang kekerasan domestik.

Saya masih tidak mengerti perilaku
laki-laki yang suka menyakiti secara fisik perempuan; pacarnya,
istrinya, orang-orang yang katanya mereka sayangi. Kenapa ya mereka
begitu? Marah? Kesal? Wajar saja. Tapi, apa harus sampai memukul? Oke
lah, kalau ada laki-laki yang suka berkelahi dengan sesama lelaki.
Emosi, langsung hajar! Saya tidak terlalu bermasalah dengan itu.

Kamu mungkin pernah melihat atau mendengar kasus semacam ini lewat
media massa. Saya punya tiga teman perempuan, dengan latar belakang
seperti itu. Disiksa secara fisik oleh pacarnya. Entah apa salah mereka
di mata pacarnya, saya juga kurang paham.

Saya tidak terlalu dekat dengan tiga perempuan yang saya maksud di
atas. Tapi, tetap saja. Mendengar ada laki-laki menghajar pacarnya,
saya kesal. Apapun kesalahan yang dibuat perempuan-perempuan itu,
mereka tidak pantas mendapat bogem mentah [haha. ini istilah old school
ya?].

Tapi, yang membuat saya heran. Kenapa perempuan-perempuan itu tidak
bisa [atau susah sekali] meninggalkan laki-lakinya ya? Sudah jelas,
pacarnya menyiksa. Kenapa masih juga dipertahankan? Malah, ada yang
balik lagi ke si laki-laki, walaupun sempat meninggalkan.

Rasa sayangkah? Kalau memang mau berpikir jernih, laki-laki yang
menyiksa pasangannya, harusnya dipertanyakan rasa sayangnya. Apakah
para laki-laki penyiksa itu mulutnya manis, hingga mampu membuat si
perempuan tetap bersamanya. Atau mungkin, ini bukti kalau rasa sayang
mengalahkan segalanya. Biarpun sering disiksa, tetap saja
perempuan-perempuan itu ada di sisi si laki-laki. Logikanya sih, orang
seperti itu harus ditinggalkan.

Atau memang, urusan hati kadang tidak sesuai dengan logika?

Kenapa Harus Menyiksa Perempuan?

Ini sedikit tentang kekerasan domestik.

Saya masih tidak mengerti perilaku laki-laki yang suka menyakiti secara fisik perempuan; pacarnya, istrinya, orang-orang yang katanya mereka sayangi. Kenapa ya mereka begitu? Marah? Kesal? Wajar saja. Tapi, apa harus sampai memukul? Oke lah, kalau ada laki-laki yang suka berkelahi dengan sesama lelaki. Emosi, langsung hajar! Saya tidak terlalu bermasalah dengan itu.

Kamu mungkin pernah melihat atau mendengar kasus semacam ini lewat media massa. Saya punya tiga teman perempuan, dengan latar belakang seperti itu. Disiksa secara fisik oleh pacarnya. Entah apa salah mereka di mata pacarnya, saya juga kurang paham.

Saya tidak terlalu dekat dengan tiga perempuan yang saya maksud di atas. Tapi, tetap saja. Mendengar ada laki-laki menghajar pacarnya, saya kesal. Apapun kesalahan yang dibuat perempuan-perempuan itu, mereka tidak pantas mendapat bogem mentah [haha. ini istilah old school ya?].

Tapi, yang membuat saya heran. Kenapa perempuan-perempuan itu tidak bisa [atau susah sekali] meninggalkan laki-lakinya ya? Sudah jelas, pacarnya menyiksa. Kenapa masih juga dipertahankan? Malah, ada yang balik lagi ke si laki-laki, walaupun sempat meninggalkan.

Rasa sayangkah? Kalau memang mau berpikir jernih, laki-laki yang menyiksa pasangannya, harusnya dipertanyakan rasa sayangnya. Apakah para laki-laki penyiksa itu mulutnya manis, hingga mampu membuat si perempuan tetap bersamanya. Atau mungkin, ini bukti kalau rasa sayang mengalahkan segalanya. Biarpun sering disiksa, tetap saja perempuan-perempuan itu ada di sisi si laki-laki. Logikanya sih, orang seperti itu harus ditinggalkan.

Atau memang, urusan hati kadang tidak sesuai dengan logika?