Bisakah Cowok dan Cewek Tulus Bersahabat?

Pertanyaan
itu sering menghantui saya.

Maksudnya, benar-benar bersahabat. Tanpa pretensi. Walaupun memang, yang
namanya manusia pasti selalu dihubungkan oleh kepentingan-kepentingan. Kan katanya tidak ada
kawan dan lawan abadi. Yang ada, hanya kepentingan abadi.

Tapi, kalau hubungan itu dalam konteks cowok dan cewek, bisakah murni
bersahabat tanpa ada daya tarik fisik maupun seksual? Pernah nonton film When
Harry Met Sally kan?
Di situ Harry bilang, cewek dan cowok tidak bisa berteman. Karena selalu ada
daya tarik seksual terlibat.

“Cowok
mah nggak pernah kosong,” kata seorang teman cowok.

Maksudnya,
ketika cowok berteman dengan cewek, pasti ada maunya. Apalagi kalau kadar
pertemanannya sangat dekat. Apalagi kalau si cowok tidak punya pacar. Pasti ada
maunya. Itu yang diyakini sebagian besar teman saya. Termasuk saya.

Saya
punya sahabat cewek. Dan harus saya akui, ketika di awal saya ingin berteman
dengan dia, itu karena daya tarik fisik. Saya pikir dia manis. Makanya, saya
senang berteman dengannya. Pernah ada masanya, saya menyukai dia. Bahkan,
kunjungan ke kosannya pun, bukan semata-mata mencari teman ngobrol. Pernah ada
misi lah.

Saya
tidak pernah mengatakan perasaan saya padanya. Di tengah-tengah proses
pertemanan kami, dia punya pacar. Plus, saya juga tidak pernah sepenuh hati
padanya. Entah apa yang kurang. Perasaan saya, atau keberanian saya. [Belakangan
sih, dia tahu juga bagaimana perasaan saya. Setelah saya punya pacar, di suatu
hari saya bilang kalau saya pernah suka sama dia].

Itu
makanya saya kadang masih suka memertanyakan bisakah cewek dan cowok
bersahabat. Saya tidak tahu ya dari sudut pandang cewek. Tapi saya selalu
sedikit curiga dengan seorang cowok yang memberi perhatian lebih pada teman
ceweknya. Atau, seorang cowok yang mengajak jalan teman ceweknya. Oke lah,
mereka mengatakan bersahabat. Tetap saja, saya selalu memandang curiga hal itu.
Sekali lagi, apalagi kalau si cowok tidak punya pacar. Mungkin ada tempat
kosong yang coba diisi. Bisa merasakan jalan dengan cewek untuk beberapa jam.

“Kalau
cewek mah, biasanya lebih tulus dibanding cowok,” kata teman saya lagi.

Pacar
saya tadi bilang diajak makan sahabatnya. Lantas, mereka nonton. Saya sih
sekarang sudah percaya sama pacar saya. Tapi itu tadi. Kadang saya masih suka
curiga sama niat cowok. Makanya, sekarang saya tidak pernah mau janjian makan atau
nonton dengan teman cewek berdua saja.

Mungkin
juga karena saya tidak kenal baik dengan sahabat pacar saya. Bawaannya
jadi
sedikit cemburu. Mungkin karena jam terbang saya berpacaran yang baru
dua kali,
membuat saya kurang santai menanggapi hal ini. Mungkin karena saya
tidak punya banyak sahabat cewek. Mungkin karena sebagian besar
teman cowok yang saya tanya, mengatakan tidak pernah ada itu cowok yang
murni
bersahabat dengan cewek.

Atau,
mungkin juga karena perut lapar, pikiran saya mulai aneh.

Bisakah Cowok dan Cewek Tulus Bersahabat?

Pertanyaan itu sering menghantui saya.

Maksudnya, benar-benar bersahabat. Tanpa pretensi. Walaupun memang, yang namanya manusia pasti selalu dihubungkan oleh kepentingan-kepentingan. Kan katanya tidak ada kawan dan lawan abadi. Yang ada, hanya kepentingan abadi.

Tapi, kalau hubungan itu dalam konteks cowok dan cewek, bisakah murni bersahabat tanpa ada daya tarik fisik maupun seksual? Pernah nonton film When Harry Met Sally kan? Di situ Harry bilang, cewek dan cowok tidak bisa berteman. Karena selalu ada daya tarik seksual terlibat.

“Cowok mah nggak pernah kosong,” kata seorang teman cowok.

Maksudnya, ketika cowok berteman dengan cewek, pasti ada maunya. Apalagi kalau kadar pertemanannya sangat dekat. Apalagi kalau si cowok tidak punya pacar. Pasti ada maunya. Itu yang diyakini sebagian besar teman saya. Termasuk saya.

Saya punya sahabat cewek. Dan harus saya akui, ketika di awal saya ingin berteman dengan dia, itu karena daya tarik fisik. Saya pikir dia manis. Makanya, saya senang berteman dengannya. Pernah ada masanya, saya menyukai dia. Bahkan, kunjungan ke kosannya pun, bukan semata-mata mencari teman ngobrol. Pernah ada misi lah.

Saya tidak pernah mengatakan perasaan saya padanya. Di tengah-tengah proses pertemanan kami, dia punya pacar. Plus, saya juga tidak pernah sepenuh hati padanya. Entah apa yang kurang. Perasaan saya, atau keberanian saya. [Belakangan sih, dia tahu juga bagaimana perasaan saya. Setelah saya punya pacar, di suatu hari saya bilang kalau saya pernah suka sama dia].

Itu makanya saya kadang masih suka memertanyakan bisakah cewek dan cowok bersahabat. Saya tidak tahu ya dari sudut pandang cewek. Tapi saya selalu sedikit curiga dengan seorang cowok yang memberi perhatian lebih pada teman ceweknya. Atau, seorang cowok yang mengajak jalan teman ceweknya. Oke lah, mereka mengatakan bersahabat. Tetap saja, saya selalu memandang curiga hal itu. Sekali lagi, apalagi kalau si cowok tidak punya pacar. Mungkin ada tempat kosong yang coba diisi. Bisa merasakan jalan dengan cewek untuk beberapa jam.

“Kalau cewek mah, biasanya lebih tulus dibanding cowok,” kata teman saya lagi.

Pacar saya tadi bilang diajak makan sahabatnya. Lantas, mereka nonton. Saya sih sekarang sudah percaya sama pacar saya. Tapi itu tadi. Kadang saya masih suka curiga sama niat cowok. Makanya, sekarang saya tidak pernah mau janjian makan atau nonton dengan teman cewek berdua saja.

Mungkin juga karena saya tidak kenal baik dengan sahabat pacar saya. Bawaannya jadi sedikit cemburu. Mungkin karena jam terbang saya berpacaran yang baru dua kali, membuat saya kurang santai menanggapi hal ini. Mungkin karena saya tidak punya banyak sahabat cewek. Mungkin karena sebagian besar teman cowok yang saya tanya, mengatakan tidak pernah ada itu cowok yang murni bersahabat dengan cewek.

Atau, mungkin juga karena perut lapar, pikiran saya mulai aneh.

Saya Membunuh Orang Malam Tadi

Ini tentang mimpi aneh yang saya alami lagi malam tadi.

Adegannya terpotong-potong. Meloncat dari satu adegan ke adegan lain. Pertama, saya mengejar seseorang di jalan raya dekat tempat tinggal waktu kecil [umur satu tahun sampai kelas dua SD], Jalan Raya Narogong. Di mimpi itu, saya marah. Entah siapa yang saya kejar, saya tidak ingat. Yang jelas, amarah saya sampai menyesakkan dada. Saya kejar terus orang itu. Tapi dia berhasil melarikan diri.

Tiba-tiba, adegannya jadi ada di depan konser The Rolling Stones! Mick Jagger ada di depan mata saya. Dekat sekali. Saya ada di deretan paling depan. Panggungnya besar sekali. Tata cahayanya memancarkan warna biru dan putih yang menyilaukan. Perasaan saya berubah menjadi senang. Akhirnya saya bisa menonton mereka. Ah sangat senang. Mungkin saya bisa masuk ke backstage, begitu pikir saya.

Dan adegan pun langsung berubah. Saya terlibat perkelahian dengan seorang laki-laki brewokan. Kami berkelahi sangat singkat. Saya marah lagi. Dada saya sesak karena amarah. Saya lupa bagaimana adegannya. Yang jelas, laki-laki itu akhirnya mati tertusuk tombak saya. Darah mengalir deras dari dadanya. Mata dia melotot. Mulutnya menganga. Mayatnya, saya sembunyikan di sebuah rumah.

Dari sini, adegan malah pindah ke sebuah toko sepatu. Ada diskon hingga lima puluh persen. Tokonya mirip Sports Station lah. Menjual produk Converse, Nike hingga Vans. Di mimpi itu, saya teringat pacar. Saya ingin membelikan dia sepatu, tapi lupa berapa nomor sepatunya. Dia punya Vans juga Converse. Dan sepertinya nomernya berbeda. Di mimpi itu, saya ingin membelikan dia Vans, tapi lupa ukurannya. Ketika saya sedang melihat-lihat sepatu, adegan pindah lagi ke rumah tempat saya menyembunyikan mayat laki-laki yang saya bunuh tadi.

Teman saya masuk ke rumah itu. Tidak jelas siapa teman saya itu, yang pasti saya menganggapnya teman saya. Dia melihat mayat yang bersimbah darah dengan tombak menancap di dada. Tapi, kali ini malah ada dua mayat laki-laki. Di sini, perasaan saya jadi takut. Seperti perasaan ketika mimpi buruk.

Sesaat setelah pintu rumah ditutup, adegan langsung pindah ke dalam pesawat. Entah mau pergi ke mana. Adegan ini cuma bertahan sebentar.

Tiba-tiba, saya kembali ke suasana konser lagi. Saya lupa, apakah masih di konser The Stones atau sudah pindah. Mungkin sudah tidak penting lagi konsernya. Karena di situ, seorang laki-laki mencopet HP saya. Dia panik karena aksinya kepergok. Saya marah. Saya berteriak. Dada saya sesak lagi karena amarah. Saya kejar orang itu. Saya tantang dia berkelahi. Seorang teman si copet tiba-tiba datang.

Dalam berapa jurus, si copet jatuh. Temannya tidak berani menyerang saya setelah melihat si copet jatuh. Saya injak dada si copet. Tangannya saya pelintir. Amarah saya makin menjadi. Saya injak-injak terus dada si copet. Dia merintih kesakitan. Tiba-tiba, saya baru sadar kalau si copet itu badannya jadi sangat kurus. Seperti badan orang-orang Etiopia yang sering saya lihat di berita waktu masih kecil. Tapi saya tetap menginjak orang itu. Tidak peduli walaupun dia kesakitan.

Dan saya pun terbangun karena ingin pipis.

Saya Membunuh Orang Malam Tadi

Ini tentang mimpi aneh yang saya alami lagi malam tadi.

Adegannya terpotong-potong.
Meloncat dari satu adegan ke adegan lain. Pertama, saya mengejar
seseorang di jalan raya dekat tempat tinggal waktu kecil [umur satu
tahun sampai kelas dua SD], Jalan Raya Narogong. Di mimpi itu, saya
marah. Entah siapa yang saya kejar, saya tidak ingat. Yang jelas,
amarah saya sampai menyesakkan dada. Saya kejar terus orang itu. Tapi
dia berhasil melarikan diri.

Tiba-tiba, adegannya jadi ada di depan konser The Rolling Stones! Mick
Jagger ada di depan mata saya. Dekat sekali. Saya ada di deretan paling
depan. Panggungnya besar sekali. Tata cahayanya memancarkan warna biru
dan putih yang menyilaukan. Perasaan saya berubah menjadi senang.
Akhirnya saya bisa menonton mereka. Ah sangat senang. Mungkin saya bisa
masuk ke backstage, begitu pikir saya.

Dan adegan pun langsung berubah. Saya terlibat perkelahian dengan
seorang laki-laki brewokan. Kami berkelahi sangat singkat. Saya marah
lagi. Dada saya sesak karena amarah. Saya lupa bagaimana adegannya.
Yang jelas, laki-laki itu akhirnya mati tertusuk tombak saya. Darah
mengalir deras dari dadanya. Mata dia melotot. Mulutnya menganga.
Mayatnya, saya sembunyikan di sebuah rumah.

Dari sini, adegan malah pindah ke sebuah toko sepatu. Ada diskon hingga
lima puluh persen. Tokonya mirip Sports Station lah. Menjual produk
Converse, Nike hingga Vans. Di mimpi itu, saya teringat pacar. Saya
ingin membelikan dia sepatu, tapi lupa berapa nomor sepatunya. Dia
punya Vans juga Converse. Dan sepertinya nomernya berbeda. Di mimpi
itu, saya ingin membelikan dia Vans, tapi lupa ukurannya. Ketika saya
sedang melihat-lihat sepatu, adegan pindah lagi ke rumah tempat saya
menyembunyikan mayat laki-laki yang saya bunuh tadi.

Teman saya masuk ke rumah itu. Tidak jelas siapa teman saya itu, yang
pasti saya menganggapnya teman saya. Dia melihat mayat yang bersimbah
darah dengan tombak menancap di dada. Tapi, kali ini malah ada dua
mayat laki-laki. Di sini, perasaan saya jadi takut. Seperti perasaan
ketika mimpi buruk.

Sesaat setelah pintu rumah ditutup, adegan langsung pindah ke dalam
pesawat. Entah mau pergi ke mana. Adegan ini cuma bertahan sebentar.

Tiba-tiba, saya kembali ke suasana konser lagi. Saya lupa, apakah masih
di konser The Stones atau sudah pindah. Mungkin sudah tidak penting
lagi konsernya. Karena di situ, seorang laki-laki mencopet HP saya. Dia
panik karena aksinya  kepergok. Saya marah. Saya berteriak. Dada
saya sesak lagi karena amarah. Saya kejar orang itu. Saya tantang dia
berkelahi. Seorang teman si copet tiba-tiba datang.

Dalam berapa jurus, si copet jatuh. Temannya tidak berani menyerang
saya setelah melihat si copet jatuh. Saya injak dada si copet.
Tangannya saya pelintir. Amarah saya makin menjadi. Saya injak-injak
terus dada si copet. Dia merintih kesakitan. Tiba-tiba, saya baru sadar
kalau si copet itu badannya jadi sangat kurus. Seperti badan
orang-orang Etiopia yang sering saya lihat di berita waktu masih kecil.
Tapi saya tetap menginjak orang itu. Tidak peduli walaupun dia
kesakitan.

Dan saya pun terbangun karena ingin pipis.

Yang Bikin Kesal Sewaktu Naek Angkot

Ini keluhan seorang cheap bastard tidak tahu diri, ingin murah meriah tapi banyak maunya. Hehe.
1. Penumpang yang duduk di pintu masuk–di kursi ekstra, yang menghadap ke belakang serta di kursi paling pinggir–tapi tidak mau turun dulu dari angkot waktu ada orang yang turun. Padahal, kalau dia mau turun sebentar akan sangat membantu orang yang turun.

2. Angkot kosong, tapi ada penumpang yang duduk di pintu masuk dan tidak mau menggeser ke dalam padahal dia mengganggu orang yang mau naik angkot.

3. Penumpang yang duduknya miring, sehingga membuat kursi lebih sempit. Apalagi kalau yang duduk itu pake rok mini. Jadi, dia tidak akan duduk lurus. Kalau pake rok, terus tahu resikonya bakal terlihat orang banyak di angkot, ya mendingan jangan naek angkot atuh!

4. Penumpang yang selalu menutup hidungnya dengan sapu tangan atau tissue. Padahal dia tidak sedang pilek. Tapi sepanjang perjalanan terus menutup hidung, seperti yang tidak ingin ada di sana. Seperti yang hina. Kalau begini kan, kadang-kadang suka berpikir, apa badan saya yang bau ya? Hahaha.

5. Laju angkot yang super ekstrem. Antara lambat sekali atau ngebut sekali. Apalagi angkot S01 Blok M — Pondok Labu dan teman-temannya, S11 dan D02. Kalau sedang pelan, mereka akan melaju seperti laju perahu di anjungan Istana Boneka. Tapi kalau ngebut, bisa bikin jantung berdebar keras. Dan yang lebih menyebalkan lagi, kalau mereka berhenti di setiap gang. Setiap ada orang jalan kaki, mereka tunggu. Dikiranya, orang-orang itu bakal naek angkot mereka! Bah. Kegeeran! :p

6. Sedang enak-enak duduk di kursi depan, tiba-tiba ada penumpang baru yang juga duduk di kursi depan. Kalau di kursi belakang sudah tidak ada tempat lagi sih bolehlah. Tapi, kalau di kursi belakang masih ada, terus orang itu malah duduk di kursi depan juga, itu sih sangat menyebalkan.

7. Angkot yang lampu dalamnya berwarna biru. Seperti mobil-mobil gaul itu loh. Begitu duduk di dalam, lampu biru itu biasanya malah bikin pusing. Apalagi kalau sopir angkotnya memutar house music jedang jedung. Ini pernah saya alami di angkot S11 Lebak Bulus — Pasar Minggu.

Ah sudahlah. Kalau mau enak mah, memang mendingan naek taksi. Tapi, karena pada dasarnya saya seorang cheap bastard, selama masih bisa naek angkot, saya pilih angkot. Hehe. Walaupun memang, ada uang ada gaya.

Yang Bikin Kesal Sewaktu Naik Angkot

Ini keluhan seorang cheap bastard tidak tahu diri, ingin murah meriah tapi banyak maunya. Hehe.

1.
Penumpang yang duduk di pintu masuk–di kursi ekstra, yang menghadap ke
belakang serta di kursi paling pinggir–tapi tidak mau turun dulu dari
angkot waktu ada orang yang turun. Padahal, kalau dia mau turun
sebentar akan sangat membantu orang yang turun.

2. Angkot kosong, tapi ada
penumpang yang duduk di pintu masuk dan tidak mau menggeser ke dalam
padahal dia mengganggu orang yang mau naik angkot.

3. Penumpang yang duduknya miring,
sehingga membuat kursi lebih sempit. Apalagi kalau yang duduk itu pake
rok mini. Jadi, dia tidak akan duduk lurus. Kalau pake rok, terus tahu
resikonya bakal terlihat orang banyak di angkot, ya mendingan jangan
naek angkot atuh!

4. Penumpang yang selalu menutup
hidungnya dengan sapu tangan atau tissue. Padahal dia tidak sedang
pilek. Tapi sepanjang perjalanan terus menutup hidung, seperti yang
tidak ingin ada di sana. Seperti yang hina. Kalau begini kan,
kadang-kadang suka berpikir, apa badan saya yang bau ya? Hahaha.

5. Laju angkot yang super ekstrem.
Antara lambat sekali atau ngebut sekali. Apalagi angkot S01 Blok M —
Pondok Labu dan teman-temannya, S11 dan D02. Kalau sedang pelan, mereka
akan melaju seperti laju perahu di anjungan Istana Boneka. Tapi kalau
ngebut, bisa bikin jantung berdebar keras. Dan yang lebih menyebalkan
lagi, kalau mereka berhenti di setiap gang. Setiap ada orang jalan
kaki, mereka tunggu. Dikiranya, orang-orang itu bakal naek angkot
mereka! Bah. Kegeeran! :p

6. Sedang enak-enak duduk di kursi
depan, tiba-tiba ada penumpang baru yang juga duduk di kursi depan.
Kalau di kursi belakang sudah tidak ada tempat lagi sih bolehlah. Tapi,
kalau di kursi belakang masih ada, terus orang itu malah duduk di kursi
depan juga, itu sih sangat menyebalkan.

7. Angkot yang lampu dalamnya berwarna biru. Seperti mobil-mobil gaul
itu loh. Begitu duduk di dalam, lampu biru itu biasanya malah bikin
pusing. Apalagi kalau sopir angkotnya memutar house music jedang
jedung. Ini pernah saya alami di angkot S11 Lebak Bulus — Pasar Minggu.

Ah sudahlah. Kalau mau enak mah, memang mendingan naek taksi. Tapi,
karena pada dasarnya saya seorang cheap bastard, selama masih bisa naek
angkot, saya pilih angkot. Hehe. Walaupun memang, ada uang ada gaya.

Dasar Bajakan!

Tadinya saya mau bilang sialan di pembuka tulisan ini.

Terus, saya bicara soal pengalaman saya menikmati DVD bajakan. Kalau soal gambar jelek, teks ngaco atau film yang tidak bisa diputar di akhir sih, itu biasa. Nah, tadinya saya mau menulis soal merasa tertipu ketika memutar film Jet Li yang Fearless.

Saya melihat DVD tergeletak di meja fotografer. Langsung saya sambar, putar di komputer saya. Ketika saya putar, di menu malah tertulis film “An Extremely Goofie Movie 2”. Tadinya, saya menulis ‘berharap menonton Jet Li, eh malah dikasih Goofie. Ya sudah, saya tonton Goofie saja.’

Eh, tau-tau, pas saya mengetik tulisan ini dan film Goofie-nya saya hide, tiba-tiba kenapa suaranya jadi bak bik buk orang berkelahi? Sialan. Ternyata, setelah beberapa menit filmnya jadi benar-benar Fearless-nya Jet Li.

Dasar bajakan…

Dasar Bajakan!

Tadinya saya mau bilang sialan di pembuka tulisan ini.

Terus, saya bicara soal pengalaman
saya menikmati DVD bajakan. Kalau soal gambar jelek, teks ngaco atau
film yang tidak bisa diputar di akhir sih, itu biasa. Nah, tadinya saya
mau menulis soal merasa tertipu ketika memutar film Jet Li yang
Fearless.

Saya melihat DVD tergeletak di meja
fotografer. Langsung saya sambar, putar di komputer saya. Ketika saya
putar, di menu malah tertulis film “An Extremely Goofie Movie 2”.
Tadinya, saya menulis ‘berharap menonton Jet Li, eh malah dikasih
Goofie. Ya sudah, saya tonton Goofie saja.’

Eh, tau-tau, pas saya mengetik
tulisan ini dan film Goofie-nya saya hide, tiba-tiba kenapa suaranya
jadi bak bik buk orang berkelahi? Sialan. Ternyata, setelah beberapa
menit filmnya jadi benar-benar Fearless-nya Jet Li.

Dasar bajakan…

Mbah Surip di Jazz Goes To Campus

Ini tentu saja tentang Mbah Surip.

Penyanyi tua, gimbal, katanya sih pengamen–sebelum dia sepopuler sekarang, saya pernah lihat albumnya di toko kaset, judulnya Reggae something gitu lah lupa–aneh, seperti orang orang gila, dan tenar dengan kalimat “I love you full” serta teriakan “Ah…ah…ah…ah…aaah…” Mengingatkan saya pada teriakannya The Count di Sesame Street.

Kemarin saya lihat dia lagi, di Jazz Goes To Campus. Dia tampil di sesinya Bertha and Friends. Malam itu, di Cozy Stage, Bertha membawa penyanyi lain. Tiga orang anak kecil–salah satunya putrinya, bule–serta Mbah Surip.

Mbah Surip masih dengan rompi jins-nya. Sialan. Melihat Mbah Surip memakai rompi jins, saya jadi berpikir ulang kalau mau memakai rompi jins saya. Takut disamakan dengan Mbah Surip. Hehe.

Dan malam itu, penonton terhibur oleh penampilan Mbah Surip. Sebagian besar tertawa. Saya sendiri, kadang-kadang masih suka bertanya-tanya, di mana letak lucunya Mbah Surip. Mungkin karena orang itu absurd, berteriak-teriak, selalu tertawa, orang-orang jadi pengen ikut tertawa.

Dia membawakan empat lagu. Pertama, katanya sih judulnya “Mak Erot”. Kurang lebih bercerita soal Mak Erot tentunya. Saya kurang bisa menangkap liriknya–dan tidak bisa mengingatnya sekarang. Tapi, penonton tertawa mendengarnya. Kedua, “Kepolisian”. Lagunya bercerita soal adiknya yang menjual ganja, nah yang ditangkap polisi malah Mbah Surip karena mirip dengan adiknya. Kurang lebih begitulah. Ketiga, “Uka Uka”. Something tentang setan lah. “Ini lagu jazz metal,” katanya sebelum membawakan lagu itu. Riff gitarnya memang mencoba ala-ala metal begitulah. Dan dia bernyanyi seperti berteriak-teriak.

Lagu penutup rasanya lagu andalan dia. Mungkin judulnya “Bangun Tidur”. Penonton sepertinya sudah familiar dengan lagu ini. Saya baru mendengarnya dua kali. Sebelumnya pernah melihat dia membawakan lagu ini di Tribute to Imanez. Lagu bernuansa reggae ini bercerita soal bangun tidur, terus ngajak olahraga, tapi kalau tidak sempat ya…tidur lagi. Liriknya sangat sederhana. Tapi catchy. Mudah dinyanyikan pula–baik itu oleh mereka yang baru pertama mendengarnya. Jadinya, crowd JGTC bisa dibuat bernyanyi bersama sambil tersenyum. Apalagi pas part lirik “tidur lagi”. Di tengah kebingungan saya mencari tahu di mana letak lucunya Mbah Surip, harus saya akui, kalau orang itu penampilan panggungnya bisa diacungi jempol.

Ah..ah…ah…aah…

Mbah Surip di Jazz Goes To Campus

Ini tentu saja tentang Mbah Surip.

Penyanyi tua, gimbal, katanya sih
pengamen–sebelum dia sepopuler sekarang, saya pernah lihat albumnya di
toko kaset, judulnya Reggae something gitu lah lupa–aneh, seperti
orang orang gila, dan tenar dengan kalimat “I love you full” serta
teriakan “Ah…ah…ah…ah…aaah…” Mengingatkan saya pada
teriakannya The Count di Sesame Street.

Kemarin saya lihat dia lagi, di Jazz Goes To Campus. Dia tampil di
sesinya Bertha and Friends. Malam itu, di Cozy Stage, Bertha membawa
penyanyi lain. Tiga orang anak kecil–salah satunya putrinya,
bule–serta Mbah Surip.

Mbah Surip masih dengan rompi jins-nya. Sialan. Melihat Mbah Surip
memakai rompi jins, saya jadi berpikir ulang kalau mau memakai rompi
jins saya. Takut disamakan dengan Mbah Surip. Hehe.

Dan malam itu, penonton terhibur oleh penampilan Mbah Surip. Sebagian
besar tertawa. Saya sendiri, kadang-kadang masih suka bertanya-tanya,
di mana letak lucunya Mbah Surip. Mungkin karena orang itu absurd,
berteriak-teriak, selalu tertawa, orang-orang jadi pengen ikut tertawa.

Dia membawakan empat lagu. Pertama, katanya sih judulnya “Mak Erot”.
Kurang lebih bercerita soal Mak Erot tentunya. Saya kurang bisa
menangkap liriknya–dan tidak bisa mengingatnya sekarang. Tapi,
penonton tertawa mendengarnya. Kedua, “Kepolisian”. Lagunya bercerita
soal adiknya yang menjual ganja, nah yang ditangkap polisi malah Mbah
Surip karena mirip dengan adiknya. Kurang lebih begitulah. Ketiga, “Uka
Uka”. Something tentang setan lah. “Ini lagu jazz metal,” katanya
sebelum membawakan lagu itu. Riff gitarnya memang mencoba ala-ala metal
begitulah. Dan dia bernyanyi seperti berteriak-teriak.

Lagu penutup rasanya lagu andalan dia. Mungkin judulnya “Bangun Tidur”.
Penonton sepertinya sudah familiar dengan lagu ini. Saya baru
mendengarnya dua kali. Sebelumnya pernah melihat dia membawakan lagu
ini di Tribute to Imanez. Lagu bernuansa reggae ini bercerita soal
bangun tidur, terus ngajak olahraga, tapi kalau tidak sempat ya…tidur
lagi. Liriknya sangat sederhana. Tapi catchy. Mudah dinyanyikan
pula–baik itu oleh mereka yang baru pertama mendengarnya. Jadinya,
crowd JGTC bisa dibuat bernyanyi bersama sambil tersenyum. Apalagi pas
part lirik “tidur lagi”. Di tengah kebingungan saya mencari tahu di
mana letak lucunya Mbah Surip, harus saya akui, kalau orang itu
penampilan panggungnya bisa diacungi jempol.

Ah..ah…ah…aah…