Radang Punya Tangerang

Ini [seharusnya] feature pertama saya untuk Playboy. Baru kali pertama saya menulis tema di luar musik, untuk feature. Ini pun karena rekan kerja [lebih tepatnya senior editor] saya yang mengusulkan tak mau menulisnya, malah menyuruh saya yang menulis. Maka, jadilah feature ini.

Tapi, karena kemudian temanya dianggap ‘too grim,’  feature ini tak pernah dimuat. Dan sepertinya tak akan pernah dimuat. Lagipula, kondisi Tangerang yang saya ceritakan di tulisan ini, mungkin sudah jauh berbeda dengan kondisi ketika saya menulis feature ini.

TOLONG. Kalau di antara kamu ada yang membaca, dan siapa tau tertarik, simpan saja untuk diri sendiri. Tulisan ini tidak untuk dikutip, apalagi kalau untuk media massa.

 

Kabupaten Tangerang punya problema yang berkepanjangan. Tersebar di Kali Prancis, Dadap dan Sungai Tahang.

 

Rambut Yuni—sebut saja begitu—masih basah siang itu, ketika dia keluar dari kamar menyambut saya dan rekan-rekan yang datang ke salah satu café di kawasan Kali Prancis, Kabupaten Tangerang, Banten. Dikeluarkannya dua piring kacang garing dalam kemasan, beberapa botol bir, teh botol, gelas dan es batu dalam mangkok.  

 

Sebutan café bisa jadi kurang tepat digunakan untuk tempat itu. Jangan bayangkan tempat kongkow yang nyaman, seperti biasa Anda temui di pusat perbelanjaan atau di perkotaan. Bangunan di pinggir sungai itu, berbahan dasar kayu dan bambu. Hanya lantainya yang terbuat dari semen. Itu pun, tanpa keramik. Di sepanjang dinding, terpampang poster selebritis lokal dan luar. Untuk pengunjung pun, hanya tersedia kursi plastik. Di sudut ruangan, terdapat setumpuk pengeras suara yang nyaris menyentuh langit-langit.

 

Cahaya matahari yang hanya bisa masuk sedikit membuat ruangan itu agak gelap. Dedaunan yang entah dari mana datangnya, mengotori lantai. Secara tampilan, kondisi di sana memang cukup memprihatinkan. Saya tidak tahu bagaimana kondisi di dalam kamar tempat Yuni dan rekan-rekannya tinggal. Bisa jadi, lebih memprihatinkan. Karena tepat di atas aliran sungai.   

 

Sayup-sayup, musik dangdut yang sudah dicampur dengan house music terdengar dari café sebelah.  

 

Perempuan tua berdaster, merokok, menyuruh Yuni menuangkan minuman yang tadi disuguhkannya ke dalam gelas. Dipanggilnya perempuan-perempuan teman kerja Yuni yang lain. Sebagian besar dari mereka rupanya masih berusia belasan dan 20-an. Yuni, mengaku berusia lima belas tahun.  

 

Dia datang dari Indramayu. Baru lima bulan Yuni bekerja sebagai pelayan di sana. Dibandingkan penampilan rekan-rekan kerjanya yang lain, Yuni termasuk yang paling cantik. Walaupun tentu saja, standar cantik di sana menurun beberapa tingkat dibandingkan standar cantik kalau Anda jalan-jalan di pusat perbelanjaan atau di kampus-kampus misalnya.

 

Rekan-rekan Yuni, satu persatu meninggalkan meja saya. Mungkin karena sadar, mereka tidak dapat perhatian besar seperti yang didapat Yuni. Lantas, mereka memilih duduk di bale-bale dekat pintu masuk. Setidaknya, ada lima perempuan yang bekerja sebagai pelayan di café itu. Sementara itu, di kawasan itu ada belasan mungkin puluhan café di sana. Anda hitung sendiri berapa perempuan yang bekerja di sana sebagai pelayan.  

 

Dan job desk mereka bukan hanya menyuguhkan minuman dan makanan. Tidak terkecuali Yuni. Dengan tarif Rp 200 ribu, Yuni siap melayani laki-laki di dalam kamar. Short time. Saya sendiri sebenarnya, agak susah percaya. Ternyata ada juga orang yang sengaja datang ke sana untuk mencari kepuasan seksual. Di kamar yang tidak bersih, di daerah pinggir sungai. Kekagetan saya bertambah lagi, setelah tahu harga satu buah teh botol di sana, Rp 12 ribu. Maaf saja. Tapi, teh botol di cafe pinggir sungai seharga Rp 12 ribu, mungkin akan membuat Anda juga kaget.          

 

Setelah hampir satu jam, saya tinggalkan café tempat Yuni bekerja.  

 

Lima belas menit berkendara, saya tiba di Dadap; kawasan lain di Tangerang tempat beroperasinya café-café seperti di Kali Prancis. Kondisi jalan menuju kawasan itu, buruk. Lubang menimbulkan genangan air di beberapa bagian jalan. Sepanjang jalan, bangunan pergudangan terlihat cukup dominan.  

 

Café-café di Dadap, terlihat lebih baik jika dibandingkan dengan café-café di Kali Prancis. Lokasi Dadap sedikit mengingatkan saya akan suasana kota kecil di film-film Koboi. Jalan utama yang becek membagi daerah itu jadi dua bagian. Sepanjang jalan, café-café bercampur dengan pemukiman penduduk, mushola, warung, dan  pangkalan ojek. Jika diteruskan, di ujung jalan utama itu, Anda bisa melihat laut.

 

Saya mampir di salah satu café. Tidak seperti di Kali Prancis, bangunan di sana terbuat dari semen. Tapi, ada tiga kesamaannya. Tumpukan pengeras suara yang nyaris menyentuh langit-langit, kursi-kursi plastik untuk pengunjung serta musik dangdut yang dicampur dengan house music. 

 

Standard operation procedure-nya pun sama. Berbotol-botol minuman, es batu dalam mangkok, serta kacang garing langsung tersedia di meja. Saya bertemu Revi dan Yati—bukan nama sebenarnya—di sana. Revi baru enam bulan bekerja di sana. Pemudi asli Sukabumi yang pernah tinggal di Bandung itu mengaku datang ke sana karena ajakan temannya. “Saya tidak tertarik kerja di Saritem. Soalnya, kalau di sana kan nggak pake basa-basi. Langsung maen,” kata Revi sambil tersenyum.

 

Memang, Dadap dan Kali Prancis bukanlah lokalisasi seperti Saritem di Bandung atau Gang Dolly di Surabaya. Tapi, akan kecil sekali jumlah warga Tangerang yang tidak tahu keberadaan usaha prostitusi di Dadap, Kali Prancis dan satu lagi di Sungai Tahang. Ketiganya masuk Kabupaten Kosambi.                      

 

Menurut Gatot Yan, Ketua Forum Komunikasi Masyarakat Dadap, café-café mulai bermunculan di sana sejak tahun 1982, ketika proyek pelebaran Bandara Soekarno Hatta dimulai. Sesuatu yang normal sebetulnya. Muncul warung di sekitar proyek pembangunan. “Tapi, entah siapa yang mulai punya inisiatif menyediakan pelayan plus di warung-warung itu,” kata Gatot.  

 

Sekarang, jumlah café di kawasan Dadap sudah ratusan. Dengan setiap café mempekerjakan minimal lima hingga tujuh pelayan, jumlah perempuan yang bekerja di sana, tentu saja jauh lebih banyak dibandingkan mereka di Kali Prancis.  

 

Tidak semuanya datang ke sana langsung bekerja sebagai pelayan plus pekerja seks komersial [PSK]. Yati misalnya. Ketika April 2000 datang ke sana, dia hanya bekerja sebagai pelayan. Murni sebagai pelayan. Baru medio Oktober 2000, dia memutuskan untuk melayani tamu sampai di kamar—begitu istilah yang dipakainya.

 

“Waktu itu kan udah mau deket lebaran. Kebutuhan saya banyak. Harus beliin baju buat adik-adik di kampung. Makanya, saya bilang ke mamih, saya udah siap melayani di kamar,” kenang Yati.  

 

Dengan harga Rp 3 juta, Yati menjual kegadisannya kepada pengusaha Taiwan. Dia tidak tahu berapa yang diterima sang mamih. Yang jelas, Rp 3 juta adalah angka bersih yang diterimanya.  

 

Perasaaan takut sekaligus sedih bercampur jadi satu. Takut karena dia harus melayani sang pengusaha Taiwan. Takut karena kalau dia tidak melakukan itu, dia tidak punya cukup uang untuk lebaran. Sedih karena dia ingat keluarganya di kampung. Dan sedih karena dia harus menempuh cara seperti itu untuk mendapatkan uang.  

 

Klise memang. Ekonomi pula yang akhirnya jadi alasan Yati bekerja di sana. Hingga sekarang, orangtua Yati tidak pernah tahu kalau anaknya bekerja sebagai PSK. “Yang mereka tahu, saya kerja di sini cuma jadi pelayan. Kalau mereka tahu saya kerja begini, nggak tahu deh mereka bakal bilang apa,” ujar Yati lirih.  

 

Orangtua Yati sakit-sakitan. Ayahnya punya penyakit jantung. Ibunya liver. Yati masih punya enam adik yang harus dia biayai. Sudah lima tahun mereka pindah ke kampung di Jawa Tengah. Biaya hidup di sana relatif lebih kecil dibandingkan biaya hidup di Jakarta. Sebelumnya, keluarga Yati tinggal di Jakarta. Waktu masih sehat, ayah Yati bekerja sebagai Satuan Pengamanan. Kini, praktis kehidupan keluarga Yati ada di pundaknya.

 

***

 

Kabupaten Tangerang, dengan luas 1.110 km2 terletak tepat di sebelah barat Jakarta; berbatasan dengan Laut Jawa di utara, Provinsi DKI Jakarta di timur, Provinsi Jawa Barat dan Kabupaten Lebak di selatan, serta Kabupaten Serang di timur. Pada 2003, jumlah penduduknya 3.187.000 jiwa. Dengan kepadatan 2.870 jiwa/km2.

 

Tangerang merupakan wilayah perkembangan Jakarta yang terdiri dari 26 Kecamatan dan 316 desa/kelurahan. Secara umum, Kabupaten Tangerang dapat dikelompokkan menjadi tiga wilayah pertumbuhan, yakni: Pusat Pertumbuhan Wilayah Serpong, berada di bagian timur (berbatasan dengan Jakarta), difokuskan sebagai wilayah permukiman dan komersial. Pusat Pertumbuhan Balaraja dan Tigaraksa, berada di bagian barat, difokuskan sebagai daerah sentra industri, permukiman, dan pusat pemerintahan. Pusat Pertumbuhan Teluk Naga, berada di wilayah pesisir, mengedepankan industri pariwisata alam dan bahari, industri maritim, perikanan, pertambakan, dan pelabuhan.  

 

Secara geografis, Desa Dadap ada di wilayah pantai utara Kabupaten Tangerang yang berbatasan langsung dengan wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara. Desa dengan luas areal 596,2 Ha dan dihuni 11.513 jiwa penduduk ini adalah pintu gerbang Propinsi Banten dari jalur utara.

 

Di tengah proses pembangunan Kabupaten Tangerang, kehadiran usaha prostitusi di Dadap, Kali Prancis dan Sungai Tahang jelas jadi hambatan tersendiri. Bagaikan radang yang tidak juga kunjung sembuh. Apalagi tetangga mereka, Kota Tangerang sedang giat memberantas minuman keras dan prostitusi lewat Perda No 7 & 8 Tahun 2005.  

 

Berbeda dengan Surabaya yang mengakui Gang Dolly sebagai lokalisasi dan menarik retribusi dari tempat itu untuk masuk Kas Daerah, Kabupaten Tangerang hingga saat ini tidak mengakui Dadap, Kali Prancis dan Sungai Tahang sebagai lokalisasi. Ada yang menginginkan kawasan itu dibersihkan. Ada juga yang masih menggantungkan hidupnya di sana. Dan nyatanya, segitiga emas itu masih hidup.  

 

“Tangerang sudah dinyatakan sebagai daerah relijius, yang sebagian penduduknya beragama Islam. Kalau Pemda mengakui daerah itu jadi lokalisasi, nanti bahaya. Menghadapi ulama. Kalau sudah bicara lokalisasi, berarti sudah ada keabsahan, legalitas. Justru kami yang tidak mau,” kata Ahmad Djabir, Kabag Humas dan Protokoler Pemda Kabupaten Tangerang.  

 

Bukan cuma Djabir yang bisa bicara agama. Karena Yati juga sadar, apa yang dia lakukan selama ini tidak benar jika dilihat dari sudut pandang agama. Ada pergulatan di dalam batin Yati. Mana yang harus dia perhatikan. Perintah Tuhan, atau rasa sayang dia terhadap keluarganya? Di satu sisi, Yati merasa berdosa karena melanggar larangan Tuhan. Di sisi lain, dia merasa telah berbuat baik dengan menyambung hidup keluarganya. Bekerja di Dadap.

 

“Saya juga selalu mau tanya sama orang yang ngerti. Kalau saya kerja begini kan dosa. Tapi, kalau saya nggak kerja begini, keluarga saya nggak bisa hidup. Makanya, hukumnya apa ya buat saya?” lanjut Yati.

 

Yati mengaku selalu dihantui perasaan berdosa. Makanya, dia selalu berusaha menyibukkan diri jika tidak sedang bekerja. Apapun dikerjakannya, supaya tidak teringat dosa. “Daripada di kosan diem, mending saya ngobrol sama temen-temen. Apalagi kalau udah nonton sinetron-sinetron agama tuh. Suka takut,” katanya lagi.  

 

Adalah wajar ketika akhirnya kehadiran kawasan itu tidak diinginkan. Entah sudah berapa kali kawasan itu coba ditertibkan. Bahkan, di tahun 2001, sempat diratakan dengan tanah. Toh, café-café itu akhirnya bisa muncul kembali. Suka tidak suka, banyak orang merasa diuntungkan dengan adanya kawasan itu. Banyak yang menggantungkan penghasilannya di sana. Masih banyak Yati lain di sana. Yang kisah hidupnya lebih mengharukan.  

 

Belakangan ini, minimal satu kali dalam sebulan diadakan penertiban. Hanya saja, Yati selalu beruntung. Sejak tahun 2000, setiap ada razia, Yati selalu kebetulan sedang tidak bekerja. Sudah sering Yati mendengar kabar teman-temannya dibawa petugas trantib. Tapi, toh mereka bisa kembali bekerja juga setelah ditebus sang mamih. Selama ada uang, maka tidak akan ada masalah. Mereka yang dirazia selalu bisa kembali.  

 

“Dulu sih, razia cuma sering waktu bulan puasa aja. Padahal, kalau bulan puasa saya lagi butuh duit banyak buat lebaran,” kata Yati.

 

Uang pula yang kemudian membuat kawasan itu tetap bertahan. Menurut Yati, minimal Rp 40 ribu dipungut dari setiap café per malam. Uang sebanyak itu, untuk oknum petugas kepolisian, pertahanan sipil dan preman. Bahkan, untuk kas pemuda lokal pun, setiap café sepakat memberi Rp 30 ribu per bulan. “Dari pada tiap malem dateng minta jatah, akhirnya mereka dikasih aja jatah per bulan,” kata Yati.  

 

Itu baru setiap café. Masih ada pungutan diambil dari mereka yang bermalam di kamar. Besar uang yang harus disetor adalah Rp 5 ribu. Dengan kata lain, kalau Anda bermalam di sana, selain ongkos jasa dan kamar, Anda harus menyediakan uang Rp 5 ribu. “Biasanya Hansip yang kebagian jaga malem itu, ngetok pintu-pintu kamar. Yang nginep tinggal ngasih lima ribu,” tambah Yati.  

 

Djabir hanya tertawa ketika diminta pendapatnya soal pungutan di Dadap. “Saya belum tahu. Retribusi ke mana? Pemda belum tahu sejauh itu. Karena belum ada yang mengirim informasi ke Pemda. Hanya masuk ke wartawan doang kali,” kata Djabir.

 

Bicara soal penghasilan, Yati bisa mendapat minimal Rp 3 juta per bulan. Uang sebanyak itu, setengahnya dia kirim ke kampung untuk biaya hidup keluarganya. Setengahnya lagi, dia pakai untuk biaya hidup sehari-hari; bayar kos, membeli peralatan kosmetik, hingga makan.  

 

Sekarang, kerja apa bisa dapat uang segitu sebulan? Saya juga cuma lulusan SMP. Paling cuma bisa jadi buruh pabrik. Itu pun nggak akan dapet uang sebanyak itu,” kata Yati terbata-bata.

 

Gambaran di atas masih kasar. Berapa uang yang beredar sebenarnya tentu jauh lebih besar. Apalagi pemilik café yang mendapat penghasilan dari minuman dan sewa kamar. Sebagai gambaran saja, jika Anda memakai jasa Yati, Anda harus membayar Rp 150 ribu. Selain itu, Anda juga harus mengeluarkan uang Rp 50 ribu untuk sewa kamar.  

 

Bisnis yang menguntungkan? Tentu saja. Apalagi bisnis ini adalah salah satu bisnis tertua dalam sejarah manusia. Sampai kapanpun, kebutuhan manusia akan seks akan terus ada. Itu sebabnya, banyak juga mereka yang teguh mempertahankan keberadaan Dadap dan sekitarnya.  

 

“Yang jelas, masyarakat yang peduli dengan masyarakat yang punya kepentingan, lebih berani ketimbang masyarakat yang punya kepentingan. Yang punya kepentingan kan preman, dapat jatah. Akhirnya, kami tutup mata. Merem saja. Persoalannya ke perut lah,” ujar Maman, tokoh pemuda Pantura yang sudah beberapa kali bersama teman-temannya ikut serta dalam usaha penertiban kawasan Dadap dan sekitarnya. Bahkan, Maman akhirnya harus berhadapan dengan kawan sendiri ketika berusaha menertibkan kawasan itu. Ini yang kemudian jadi dilema.  

 

Saya juga temui Barhum HS, Ketua Dewan Kehormatan DPRD Kabupaten Tangerang, Fraksi PDIP untuk bicara soal ini. Barhum sejak kecil tinggal di Tangerang. Salah satu masyarakat yang diwakilinya adalah Dadap. Usaha prostitusi di Dadap sudah ada sepanjang ingatan Barhum.

 

“Saya bingung, makin besar itu penertiban, besok makin besar saja. Ternyata dapat perlawanan yang keras dari masyarakat. Nggak jelas, apakah masyarakat setempat, atau pendatang, yang jelas melawan. Dari pihak kami sih, atas nama lembaga, pada prinisipnya harus ditertibkan. Karena daerah itu potensial untuk pariwisata,” kata Barhum.  

 

Sedangkan Maman mengaku kalau wacana soal menjadikan kawasan itu sebagai lokalisasi sebenarnya sudah ada. Tinggal formula atau formatnya yang bagaimana itu yang belum ditemukan. “Kalau bicara tata ruang, memang harus di tempat yang peruntukkannya untuk itu. Cuma, di mana di Tangerang ini tempat begitu? Kecuali di pulau, mungkin. Sedangkan kalau pulau, masuknya di Jakarta. Sudah bukan lagi Propinsi Banten,” lanjut Maman.

 

Persoalan lokasi memang kemudian yang akhirnya timbul. Menurut Gatot Yan, Koordinator Jaringan Pengawal Kebijakan Publik [JAKAP] Tangerang, tidak akan ada yang rela kecamatannya dijadikan lokalisasi. “Sekarang ketiga daerah itu kan ada di Kecamatan Kosambi. Terus terang saja, sebagai warga Kosambi saya ingin itu dipindahkan. Tapi, warga kecamatan lain juga pasti akan keberatan. Kalau begini kan pusing,” kata Gatot sambil tertawa.

 

Barhum senada dengan Maman soal menjadikan Dadap, Kali Prancis dan Sungai Tahang sebagai lokalisasi resmi. “Kalau menurut saya, sah-sah saja kalau mau dijadikan lokalisasi, tapi tergantung kesepakatan elemen yang ada. Dari pada liar dan tidak jelas kontribusinya. Kalau memang sudah ada kesepakatan, dan retribusinya jelas masuk ke kas daerah, kenapa tidak?” kata Barhum.  

 

Drs. Ahmad Buety Nasir, mantan Ketua [2003-2004] yang sekarang jadi anggota Komisi E, DPRD Banten tidak sependapat dengan Barhum dan Maman. Bagi Buety, apapun alasannya, prostitusi tidak bisa ditolerir. “Bagaimanapun kejahatan adalah kejahatan. Dihapuskan saja! Soal kemudian, bagaimana memberikan jalan keluarnya, itu kewajiban pemerintah. Walaupun dilokalisir, tidak ada jaminan tidak akan menjalar ke pemukiman masyarakat. Ini yang terancam itu kan masyarakat Pantura. Masalah sosialnya, penyakit masyarakat, HIV/AIDS,” kata Buety tegas.  

 

Buety mengakui, ketika kawasan itu dihapus, memang harusnya ada solusi. Tapi, sampai saat ini, perhatian pemerintah di bidang sosial, kesejahteraan masyarakat, masih sangat minim. Komisi E DPRD Prop. Banten, menurut Buety terus berjuang dalam bidang pendidikan. Hanya, sampai saat ini Buety dan kawan-kawan masih merasa jadi kaum marjinal.  

 

“Sejak tahun 2004, kami menganggarkan dana pendidikan jauh lebih besar dari propinsi-propinsi lain. Termasuk masalah rehabilitasi, pelatihan sumber daya manusia. PSK itu harus diberi itu ketika tempat itu dihapuskan. Ada solusi, ada jaminan di mana mereka diarahkan jadi tenaga kerja yang baik,” kata Buety.  

 

Pendidikan, agaknya salah satu solusi menghadapi persoalan Dadap dan sekitarnya. Karena Yati dan Revi mengaku tidak punya keahlian apa-apa. Dan bekerja sebagai pelayan plus, relatif tidak membutuhkan keahlian yang tinggi. Hanya bermodal kesabaran dan kemauan. Yati agaknya tahu benar soal kesabaran ini. Tidak sedikit klien dia yang berlaku kasar. Fisik maupun perkataan. Butuh kesabaran untuk menghadapi itu.

 

“Kehidupan di sini keras. Saya nggak mau ada adik saya yang ngikutin jejak saya,” ujar Yati.

 

Makanya, Yati punya rencana untuk membuka usaha kecil-kecilan di kampungnya di Jawa Tengah. Usaha es goreng yang bisa dikelola ayah atau adiknya. “Kata bapak, di kampung, banyak orang yang suka sama es goreng. Kalau jualan itu kayaknya bisa laku,” lanjut Yati.  Modalnya, akan dia ambil dari hasil arisan. Mungkin bagi sebagian orang, jumlahnya tidak terlalu besar; Rp 2 juta. Tapi jumlah itu dirasa cukup buat Yati. Harapannya, jika kelak suatu saat Yati tidak lagi bekerja di Dadap, dia bisa meneruskan usaha itu bersama keluarganya.  

 

Yati memang mengaku belum punya jaminan kalau rencana usaha es goreng itu akan berjalan dengan baik. Tapi, setidaknya dia merasa telah berbuat sesuatu untuk menghadapi masa depannya. Jika suatu saat Dadap tidak lagi ada. Atau, jika suatu saat Yati tidak bisa lagi bekerja di sana.  

 

Sedangkan soal masa depan Dadap, sebenarnya pernah ada usaha untuk menjadikan kawasan itu sebagai kawasan pariwisata. Seperti yang disebutkan Barhum sebelumnya. Dia lantas mengatakan soal rencana reklamasi pantai di tahun 2001. “Sudah ada Koperasi Pasir Putih. Kemarin kan sempat mencuat masalah SK Pasir Putih, karena belum ada perijinan, amdal dan lain-lain. Sempat ada reklamasi, tapi terhenti,” kata Barhum.

 

Gatot Yan menulis soal kegiatan reklamasi pantai ini. Dalam suarapublik.org dia mengungkapkan ketika tahun 2001 Bupati Tangerang mengeluarkan SK kepada 3 pengembang untuk melakukan pengembangan Kawasan Wisata Pantai, sejak itu pantai Dadap makin memburuk. Puluhan hektar bibir pantai yang direklamasi serta diubah jadi hamparan tanah merah membuat sekitar 10 hektar kawasan pantai raib dan mengalami penyempitan cukup parah.

 

Akibatnya, terjadi sedimentasi yang signifikan akibat gerusan ombak sehingga menimbulkan penyempitan dan pendangkalan yang hebat di sekitar muara Dadap. Ini membuat perahu nelayan sering kandas sehingga menyulitkan lalu lintas mereka. Pendangkalan Teluk Dadap juga membuat banjir. Jika hujan, air dari hulu tertahan timbunan lumpur di muara dan tumpah ke pemukiman penduduk. Dalam sebulan, warga bisa 3 kali dikirimi luapan air laut.  

 

Agaknya bisa dipahami kalau menghadapi persoalan di Dadap dan sekitarnya memang tidak semudah membalikkan telapak tangan. Para narasumber yang saya temui mengaku belum punya solusi yang jitu guna menghadapi persoalan ini.  

 

Lantas, wacana membuat Perda seperti di Kota Tangerang pun sempat mencuat. Walaupun sampai saat ini semua itu masih sebatas wacana. Djabir malah mengatakan belum adanya Perda sebagai salah satu kendala dalam menertibkan kawasan itu. “Untuk menindaknya, harus ada payung hukumnya. Larangan yang jelas. Seperti di kota Tangerang. Makanya, kalau sudah ada perda, lebih enak,” kata Djabir. 

 

Tapi, bagi Barhum, dari konteks investasi, wacana Perda ini akan berlawanan. Seandainya Kabupaten Tangerang berencana melakukan perkembangan ekonomi dari pariwisata. “Ada rencana pembangunan mega proyek di sepanjang 45 km perbatasan pinggir pantai di Kabupaten Tangerang. Perlu pengkajian yang matang. Secara kultur, sosial. Artinya, pengembangan atau daya beli investor untuk menanamkan modal. Dilema untuk kabupaten. Kota yang tidak punya aset pantai juga masih bergejolak,” lanjut Barhum.

 

Sebetulnya Gatot Yan pernah mengusulkan agar di atas lahan itu dibuat jalur hijau begitu beres ditertibkan. “Kalau langsung dibangun jalur hijau di sana, pasti bangunan-bangunan itu tidak akan tumbuh lagi,” kata Gatot.  

 

Ketika ditanya soal ini kepada Djabir, dia menyebut dana sebagai alasan kenapa tidak dibangun jalur hijau waktu kawasan itu diratakan. Untuk sementara, menurut Djabir masih banyak hal lain yang mendesak untuk masyarakat di Kabupaten Tangerang. Dia malah mengatakan harusnya pihak PT Angkasa Pura 2 sebagai pemilik tanah ikut bertanggungjawab soal ini.  

 

“Tanah, tanah dia. Kalau mau, kerjasama. Patungan! Mungkin belum ada dananya, atau mentingin yang lain dulu. Sama aja kabupaten juga. Banyak yang perlu dibiayai,” kata Djabir.  

 

Saya tanya Yati apa jadinya kalau Dadap benar-benar ditertibkan untuk selamanya. Dia sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya menjawab pertanyaan saya. Sambil menghela nafas, dia mengaku akan menerima kenyataan seandainya Dadap dan sekitarnya dibersihkan.  

 

“Kerja seperti ini kan selalu was-was. Saya juga pengin berhenti kalau ada pekerjaan halal yang bisa menghasilkan uang. Boleh aja kami ditertibkan. Tapi, bisa nggak pemerintah ngasih saya pekerjaan yang duitnya bisa buat saya menghidupi keluarga? Kalau bisa, saya dengan senang hati bakal tinggalin Dadap dan kerjaan ini,” kata Yati.

 

1 – 2 – 3 – 4 !

Ini cerita Jumat [18/1] malam yang aneh bersama Seringai, dan puluhan party crasher di sebuah pesta ulang tahun seorang sutradara klip bernama Josh.

Sejak awal, memang sudah aneh. Personel Seringai pun, mungkin hanya Sammy yang mengenal si sutradara. Atau, bahkan mungkin hanya istrinya Sammy. Dibuatkan klip oleh Josh pun belum pernah. Berbeda dengan The S.I.G.I.T, atau Mocca, yang juga diminta bermain di pesta itu. Mereka katanya sih, sudah pernah dibuatkan klip oleh si Josh.

Arian menyebarluaskan soal pesta itu ke teman-temannya. Tak sedikit dari mereka yang bertanya,

“Siapa Josh?”

Yang dijawab dengan,

“Does it matter?”

Maka menyebarlah berita soal pesta ulang tahun itu.

Seringai menyiapkan penampilan khusus malam itu. Mereka akan membawakan lagu-lagu The Ramones! Hanya lagu-lagu The Ramones!

Wig dicari. Wig dibeli. Wig dicukur. Sedemikian rupa sehingga [maunya sih] menyerupai rambut para personel The Ramones.

“Ternyata, wig di ITC Fatmawati yang paling murah,” kata Arian.

Lagu-lagu dipelajari. “The KKK Took My Baby Away,” “Blitzkrieg Bop,” “Do You Remember Rock N’ Roll Radio,” “Sheena is a Punk Rocker,” dan “I Believe in Miracles” jadi pilihan.

***

Lokasi pesta, adalah rumah kosong di kawasan Kemang Timur. Milik teman si birthday boy. Jam tujuh malam, Batman malah sudah datang. Karena Arian memberi kabar bakal datang ke sana jam tujuh malam. Batman juga tak kenal Josh. Tapi, tak hanya Batman yang tak kenal Josh. Saya rasa, banyak di antara yang datang malam itu, tak kenal Josh. Well, kami sebenarnya bukan tamu yang tak diundang juga. Karena kabarnya, birthday boy sudah mengijinkan Sammy mengajak teman-temannya.

Pesta itu bukan sembarang pesta ulang tahun memang. Tak banyak yang bisa menggelar pesta macam itu. Dengan para penampil seperti DJ Jerome, Mocca, Tika, Efek Rumah Kaca, Adrian Adioetomo, Seringai dan The S.I.G.I.T. Sebenarnya, ada satu lagi, tapi saya tak tahu mereka siapa. Sepertinya begitu juga dengan yang lain. Tak tahu dan mungkin tak peduli dengan band yang bermain setelah ERK dan sebelum Seringai itu.

Band-band itu bermain di kolam renang yang tak terpakai. Dua kamera dengan tripod siap mengabadikan penampilan mereka. Belum lagi, satu kamera yang mobile, dibawa cameraman.

Seringai atau The Ramones Rock Band—nama yang mereka pakai malam itu—bermain setelah ERK. Mereka datang tanpa peralatan. Akhirnya, peralatan The S.I.G.I.T. dipakai.

Crowd terbahak-bahak melihat Seringai dengan wig. Apalagi melihat Khemod dan Ricky. Wig-nya—yang memang untuk rambut perempuan—membuat mereka seperti perempuan. Atau, lebih tepatnya, ibu-ibu. Maunya seperti Johnny dan Marky, eh malah terlihat seperti Ratmi B 29 dan Dora.

Tapi, lagu-lagu The Ramones yang mereka bawakan, terbukti disukai crowd. Mereka ikut berteriak. Bernyanyi. Tertawa. Bahagia. Akhirnya, suasana pesta baru terasa. Karena sebelumnya, crowd seperti asik sendiri. Kurang menyenangkan suasananya.

The Ramones Rock Band mencuri perhatian. Pesta menghangat. Semua berkumpul di pinggir kolam.

“Selamat ulang tahun Jon!” kata Arian.

“Josh!” Sammy mengoreksi.

“Whateverrrr!” balas Arian.

Crowd tertawa.

“Siapa di antara kalian yang datang ke sini dan tak kenal Josh? Hayo ngaku?” Arian bertanya pada crowd.

Crowd kembali tertawa. Sebuah pertanyaan yang mengena.

Baru satu atau dua lagu [saya lupa] The Ramones Rock Band bermain, birthday boy turun ke kolam. Dia sempoyongan. Dari tadi memang sudah terlihat mabuk. Lantas, ikut bernyanyi bersama Arian. Kemudian mengajak crowd untuk turun ke kolam.

Tak ada yang mengikuti ajakan dia. Semua tetap di tempatnya. Tertawa melihat ulah The Ramones Rock Band. Birthday boy terlihat kesal. Sambil berusaha terus mengajak crowd turun.

Birthday boy marah. Entah apa yang dia ucapkan. Middle finger diacungkan. Tak berapa lama, tiba-tiba seorang kawannya, menampar birthday boy. Dua kali. Entah karena rasa kesal. Atau mungkin itu cara mereka menunjukkan keakraban.

Birthday boy marah lagi. Dia memasukkan jari ke mulutnya. Mengolok-olok crowd. Menggesekkan ke selangkangannya. Memonyongkan mulutnya. Tapi, crowd tetap tak mau turun. Mereka malah tertawa.

Tiba-tiba, ada kabar buruk. Acara harus dihentikan. Padahal, baru dua lagu dimainkan.

Kabarnya simpang siur. Ada yang bilang, preman-preman sekitar marah. Si preman yang sudah dihubungi tak menyampaikan lagi pada organisasinya. Ada yang bilang, tuan rumah tak suka karena birthday boy diolok-olok. Ada juga, versi yang bilang, kalau ayah Josh kesal melihat si birthday boy mabuk berat. Si ayah melaporkan pada RT soal pesta itu. Meminta RT untuk menghentikan pesta.

Untung lagu punk rock durasinya pendek. Akhirnya, dua lagu terakhir adalah medley. “Sheena…” tak jadi dibawakan.

Crowd kecewa. Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Peralatan dibereskan. The S.I.G.I.T. yang sengaja datang dari Bandung untuk pesta itu, tak jadi tampil. Mereka hanya bisa memandang alatnya dimainkan The Ramones Rock Band. Walau kabarnya, mereka dibayar sejumlah uang untuk bermain di pesta itu.

Jam sebelas malam lebih lima belas menit, pesta berakhir.

Saya tak pernah melihat langsung Pak RT yang marah. Maupun preman-preman atau warga yang marah. Sejak awal, banyak spekulasi soal pesta itu. Mungkin RT-nya dibayar untuk memberi ijin. Mungkin juga tak banyak tetangga di sana. Yang jelas sih, saya tak melihat penduduk sekitar di sana. Berbeda dengan kondisi pada Pesta Rolling Stone beberapa waktu lalu, di Ampera.

Entah ke mana si birthday boy ketika kami pulang. Saya hanya melihat [sepertinya sih] pacarnya di luar rumah. Yang sibuk menolak ketika diajak temannya untuk pergi atau pulang dari sana. Mungkin, ketika nanti birthday boy sadar dan melihat rekaman pestanya, dia akan melihat banyak wajah asing di sana.

Wajah-wajah sama yang kamu lihat di halaman ini.

Menunggu Matinya Majalah Musik

Ini feature yang juga masuk final Anugerah Adiwarta Sampoerna 2007 untuk kategori Seni dan Budaya. Sebenarnya, ini hanya bagian keciiil dari skripsi saya “Perjalanan Majalah Musik di Indonesia.” Rekan-rekan kantor akhirnya setuju saya menulis feature ini setelah saya bujuk rayu. Maklum, waktu rapat redaksi saya diminta mengusulkan feature. Dan yang terpikir serta mudah dilakukan adalah menuliskan kembali sedikit dari skripsi saya. Hehe. Ini dimuat di Playboy Indonesia edisi … ah saya lupa. Hahaha. Nanti saya edit lah kalau sudah ingat. Sementara itu, bagi kamu yang ingin membacanya, silakan…

 

nb: judulnya memang sedikit berlebihan. Dan ini sebenarnya, saya tiru–seijin si pemilik–dari judul tulisan yang pernah dibuat Agung Harysa Wardhana, seorang kawan ketika kuliah yang sekarang jadi reporter 442. Dia waktu itu menulis “Menunggu Matinya KARUNG GONI.” KARUNG GONI adalah nama tabloid gaya hidup di Fikom Unpad yang didirikan oleh saya dan teman-teman di kampus.

 

 

 

Berharap ada majalah musik lokal yang bisa bertahan lama rasanya masih terdengar muluk.

 

Untuk bercerita soal majalah musik lokal, Aktuil bisa jadi pembuka. Sebelum Aktuil, tahun 1963 di Yogyakarta majalah Discorina terbit. Jauh sebelum itu, tahun 1957, tercatat pernah terbit majalah Musika. Aktuil bukan yang pertama memang, tapi pernah menjadi yang paling fenomenal dan meninggalkan banyak warisan.

 

Ide untuk menerbitkan Aktuil datang dari Denny Sabri Gandanegara, kontributor majalah Discorina. Sabri yang tidak puas, memutuskan untuk menerbitkan majalah yang sesuai dengan hatinya. Bob Avianto, penulis lepas majalah perfilman yang ditemui Sabri, akhirnya menghadap Toto Rahardjo, pemimpin kelompok musik dan tari Viatikara. Ide ini disambut gembira oleh Rahardjo. Karena mereka saat itu sedang mengandrungi Actueel, majalah musik terbitan Belanda, Avianto lantas mengusulkan Aktuil sebagai nama majalah baru mereka. Lantas, Roy Sukanto dan Bernard Jujanto, yang juga anggota Viatikara, diajak bergabung setelah mereka menghadapi kesulitan keuangan.

 

8 Juni 1967, Aktuil edisi perdana terbit. Redaksi menempati kantor di Jalan Lengkong Kecil 41, Bandung. Toto Rahardjo jadi pemimpin umum sekaligus pemimpin redaksi.

 

Edisi kedua mereka baru menetapkan periodiasi terbit dwi mingguan. Edisi ketiga, Denny Sabri berangkat ke Eropa untuk kuliah. Dia berjanji pada redaksi untuk mengirimkan tulisan dari sana. Tapi, baru pada 1968, tulisan yang dijanjikan itu datang. Tapi belum ada sambutan yang berarti dari publik. Mungkin karena masih saduran dari majalah asing. Sambutan luar biasa datang dari pembaca, setelah Aktuil menurunkan laporan berseri sepanjang tahun 1969. Isinya tentang gaya hidup Barat; kehidupan hippies, sistem sosialnya, cara berbusana, seks dan orgy, dan mariyuana.

 

Memasuki tahun ’70, Remy Sylado, musisi yang juga pengajar teater di Akademi Sinematografi, diajak bergabung atas saran Denny Sabri.

 

“Barangkali supaya bobot majalahnya tidak sekadar dunia pop, karena saya memainkan musik klasik tapi juga masuk di dalam kancah musik rock. Saya bisa jadi jembatan antara orang–orang klasik yang kaku itu dengan dunia budaya pop,” kata Remy Sylado kepada saya medio Februari 2004.

 

Ketika saya sodorkan biodata untuk diisinya, Sylado mengosongkan kolom nama. Mungkin untuk memberi kebebasan pada orang. Yang jelas, di susunan redaksi, ia menulis namanya dengan Japi Tambayong. Kependekkan dari Jubal Anak Perang Iman Tambayong. Nama Remy Sylado—yang sering dia tulis dengan 23761 diambil dari kord pertama lirik lagu “And I Love Her” dari The Beatles.  

 

Menjelang 1970 berakhir, ukuran majalah Aktuil berubah dari 16 X 21 cm menjadi 21 X 29,7 cm. Di tahun ini, Maman Husen Somantri diajak bergabung. Maman HS, mahasiswa Institut Teknologi Bandung, dianggap menguasai desain. Dia adalah orang di balik ide kreatif pemberian bonus stiker, gambar setrikaan dan poster di Aktuil. Dia juga yang berhasil membuat tampilan Aktuil berani berbeda, dengan background warna gelap yang mencolok. Sangat cocok untuk anak muda masa itu. Maka, Aktuil mulai memasuki masa jayanya. Apalagi setelah Sylado melahirkan gerakan sastra mbeling, lewat cerita bersambung Orexas; Organisasi Sex Bebas. Betapa Orexas berpengaruh terhadap pembacanya, bisa dilihat di salah satu edisi Aktuil yang memerlihatkan foto coretan dinding-dinding kota yang bertuliskan Orexas.

 

“Itu bagian dari flower generation. Semangat pemberontakan terhadap nilai – nilai yang sudah mapan,” kata Remy Soetansyah, wartawan musik, yang waktu Aktuil berjaya masih berjualan majalah.

 

Lewat gerakan sastra mbeling, Sylado mencoba mengatakan definisi keindahan itu bukan hanya milik orangtua, dan dia ingin melawan kekuasaan orangtua, yang biasanya ada dalam feodalisme Jawa. Di pengantar edisi perdana puisi mbeling-nya, Sylado menulis:

 

“Sajak, seperti seni-seni kiwari yang intim dan pop, patutlah dianggap sebagai seni para remaja atau kaum muda, yang bangkit lantaran ternyata nilai-nilai tua yang diternakkan opa oma yang memanjakan kekolotannya, ternyata tak mencapai nilai-nilai yang cocok dengan perkembangan tehnologi yang kian laju meninggalkan kebanggaan-kebanggaan masa silam. Seni kaum tua terlalu dinylimetkan dengan teori-teori yang sudah tidak cocok. Seakan-akan puisi itu barang suci yang turun dari surga. Padahal apa puisi jika bukan sekedar pernyataan apa adanya? Dan buat jadi penyair ternyata tidak susah, gampang sekali. Modalnya cukup hanya dengan selembar kertas cebok dan ballpoint 15 perakan.”

 

Gerakan sastra mbeling, ikut mendukung kesuksesan Aktuil. Agus Sopiann, di majalah Pantau, menulis ada triumvirat yang membesarkan Aktuil, Denny Sabri, Remy Sylado dan Sonny Suriatmaadja. Kesuksesan Aktuil secara oplah bahkan bisa menembus angka 126 ribu eksemplar.  Angka itu diperkirakan selama kurun 1973 – 1974, atau setelah Aktuil Fans Club [AFC] didirikan. Aktuil jadi bacaan wajib anak muda pertengahan ’70-an.  Positioning Majalah Untuk Kaum Muda dan Mereka yang Berhati Muda agaknya tidak berlebihan.

 

Mengenai hubungan musik dan anak muda, Suka Hardjana dalam buku “Coret-Coret Musik Kontemporer dulu dan Kini” mengatakan bahwa secara kultur sosiologis, musik bukan lagi menjadi milik orang dewasa dan orang tua, tetapi predominan menjadi tren budaya anak muda dan remaja. Pangsa pasar bisnis musik memang lebih diutamakan buat mereka karena merekalah pembeli terbesar produksi musik dunia. Inilah fenomena perubahan paling nyata pada perkembangan musik akhir abad ke-20 dan masa kini. Musik adalah dunia kaum remaja dan anak muda.

 

Masa remaja, atau masa muda, identik dengan masa susah diatur, masa-masa penuh perlawanan. Aktuil penuh dengan unsur itu. Mereka sangat menaruh perhatian terhadap musik Barat. Sesuatu yang dilarang pemerintah Orde Lama. Aktuil ingin menepis citra anti Barat. Redaksi Aktuil, sangat mengagung-agungkan musik rock. Musik yang identik dengan unsur perlawanan. Salah satu tulisan di majalah Tempo, malah menulis Aktuil sebagai “kitab suci” penggemar musik rock di Indonesia. Walaupun belakangan, Sylado menulis soal musik klasik di sana, Aktuil lebih kental nuansa rock-nya.

 

“Propagandis musik rock Barat, semua redaktur Aktuil itu,” kata Sylado sambil tertawa.

 

Akhirnya, tidak jarang mereka menganggap musik lain kacangan. Jadi bahan olok-olokan. Dan salah satu yang jadi sasaran mereka, adalah musik Melayu. Salah seorang redaktur Aktuil, Billy Silabumi, mengejek musik Melayu dengan istilah dangdut, yang diambil dari bunyi kendang. Waktu itu, belum ada istilah musik dangdut, masih musik Melayu, atau musik Japin—istilah yang dipakai oleh Glamgoli [gelandangan malam golok liar], preman-preman ’70-an di Alun-Alun Bandung yang memang menyukai musik itu. Belakangan, Sylado memakai istilah itu dalam tulisan hingga sekarang orang mengenal istilah musik dangdut. Tidak hanya istilah dangdut yang jadi warisan Aktuil. Istilah blantika pun dipopulerkan majalah ini. ‘Balantik’ diambil dari bahasa Sunda, yang berarti usaha atau dagang. Jadi, yang dimaksud blantika musik adalah musik yang diperdagangkan.

 

Bicara soal propaganda, Aktuil  tidak bersikap setengah–setengah. Semua musisi rock dibilang superstar, mahabintang. Gito Rollies dibilang superstar, Deddy Stanzah superstar, Ucok AKA pun superstar. Entah baik atau tidak, yang jelas para musisi itu bisa jadi benar–benar terkenal. Cara seperti ini bisa dilihat sebagai kiat Aktuil untuk bertahan hidup. Sebagai majalah yang mengandalkan pemberitaan musik, majalah itu harus meyakinkan pembacanya bahwa musik yang diliputnya adalah penting. Maka, untuk membuatnya penting, musik harus ditaruh di tempat terhormat. Harus punya kesan serba besar, serba hebat dan serba spektakuler. Aktuil telah berhasil menyulap dirinya jadi panggung gemerlap. Berita yang ditulisnya tidak selalu harus dipercaya, yang jelas ceritanya harus memukau. [KOMPAS, 28 Juli 1991].

 

Puncak prestasi sebagai propagandis musik rock, agaknya ketika Aktuil berhasil mendatangkan Deep Purple ke Jakarta pada 5 – 6 Desember 1975 atas usaha Denny Sabri yang juga berhasil menjalin pertemanan dengan musisi idolanya itu. Bahkan ketika tahun 1970, Deep Purple menggelar konser delapan kota di Jerman, Sabri ikut dimasukan sebagai kru.

 

Ketika Sabri pindah ke New York, Aktuil meresmikan kantor cabangnya di sana. Di Aktuil edisi medio Februari 1975, majalah itu menuliskan skema redaksi luar negeri mereka, dengan Denny Sabri ada di urutan atas. Jabatannya hanya tertulis; Redaksi Luar Negeri. Di bawahnya, ada sekertaris, fotografer, film editor, music reporter, dan koresponden dari Jerman Barat, Swedia, Belanda, Jepang, Hongkong dan England. Padahal, ini, menurut Sylado, hanyalah tipu daya Denny Sabri.

 

“Denny Sabri itu yang bikin. Dari Jerman dia pindah ke New York. Apalah kerjaannya. Entah, serabutan ndak karu–karuan. Terus, bikin kantor di sana. Kantor apa itu?” Sylado tertawa.

 

Aktuil, bisa dibilang, telah memberi nada asing kepada majalahnya. Karena yang asing itu Barat, maka gejala itu disebut Sudjoko [dalam Prisma, 6 Juni 1977] dengan pembaratan. Yang terasa pada pembaratan itu adalah kepercayaan, kebanggaan, dan peninggian harkat. Pembaratan ialah cara untuk menyatakan keunggulan, untuk menyadarkan mereka yang tidak mampu membarat bahwa mereka itu berkekurangan, “ketinggalan,” dan “terbelakang”. Ini bisa dipakai sebagai cara berkuasa oleh lapisan atasan, dan cara menarik pembeli oleh pedagang. Untuk menipu massa ternyata bisa juga.

 

Jika di luar negeri, Denny Sabri berhasil menjalin pertemanan dengan Deep Purple, maka di Bandung, rekan-rekan Sabri menjalin pertemanan dengan musisi-musisi Bandung. Itu, ditambah faktor kedekatan lokasi membuat Aktuil lebih banyak menulis soal musisi Bandung. Seorang pembaca Aktuil dari Jakarta dalam suratnya, mengeluhkan kurangnya pemberitaan musisi dari kota lain di luar Bandung. Dia mengatakan memang kelompok musik Hooker dari Jakarta sering dimuat di Aktuil, tapi beritanya kalah padat dengan berita kelompok musik Lizard, dari Bandung. Padahal, kata dia, Hooker Man lebih baik dari Lizard.

 

Yang diuntungkan dari kondisi ini, tentunya musisi Bandung. Almarhum Harry Roesli, mengatakan kalau dirinya dan musisi Bandung se-angkatannya banyak berhutang budi kepada Aktuil karena telah membesarkan mereka.

 

“Tahun ’70-an itu, [di Bandung], semua orang kenal semua orang. Dan wartawan Aktuil, seusia sama kita–kita. Ada yang satu SD lah, satu SMP lah. Seluruh pemusik ya temen mereka juga. Sebetulnya bukan ngebela–bela amat, ya temen lah namanya. Nah sekarang kalau yang bisa didagangin temen kita yang deket, mendingan dia kan? Daripada menjual orang lain, kan lebih susah. Ya kayak saya disuperstar-in. Kami temen, jadi gampang kan urusannya,” kata Harry Roesli kepada saya akhir Maret 2004.

 

Kami remaja waktu itu memang butuh superstar,” kata Soetansyah.

 

Sampai sekarang, dampak pemberitaan Aktuil masih terasa. Nama seperti Gito Rollies, Bimbo dan Harry Roesli masih dikenal orang. Menurut Roesli, Aktuil berhasil memecah konsentrasi orang untuk urusan musik. Sebelum Aktuil terbit, perhatian orang terpusat pada Jakarta, kota asal Koes Plus. Soal faktor kedekatan ini, diakui juga oleh Sylado. Tapi, bukan hanya itu alasan Aktuil lebih banyak memberitakan musisi Bandung. Menurut dia, waktu itu musisi Bandung memang lebih berkualitas dibandingkan musisi kota lain. Dia mengambil contoh musikalitas The Rollies yang waktu itu masih sulit ditandingi kelompok musik dari kota lain.

 

* * *

 

Aktuil menikmati masa keemasannya selama kurun 1970 – 1975. Perlahan-lahan, majalah itu mulai tenggelam. Keluarnya Remy Sylado, jadi pemicu. Pihak perusahaan dinilai Sylado tidak terbuka kepada redaksi untuk persoalan keuangan. Sylado tahu, Aktuil sukses secara penjualan. Tapi bayaran yang diterimanya, dia anggap tidak sesuai dengan prestasi yang diberikan. Sebagai perbandingan, Remy yang telah menulis sejak 1974 di majalah TOP, dibayar Rp 25 ribu per tulisan. Sementara di Aktuil, gaji dia hanya Rp 20 ribu per bulan. Sedangkan gaji pertama ketika dia masuk Aktuil di tahun 1970, Rp 4000. Angka yang menurut dia untuk ukuran tahun 1970 pun masih kurang. Harga mesin tik bekas saja, Rp 15 ribu. Memang, awalnya Sylado tidak berkeberatan dengan itu. Belakangan, setelah bertambah usia, dia jadi kesal juga. Menurutnya, Toto Rahardjo yang mengambil keuntungan sendiri.

 

“Itu kan sudah sangat biadab. Tapi, waktu itu saya masih muda, tidak berpikir duit gitu. Ya seneng aja. Nulis, terus dibaca orang. Begitu aja! Masih idealis sekali. Idealis yang goblok! Akhirnya, menjadi realistis dong saya. Semua orang tahu ada saya di Aktuil, bikin gerakan puisi mbeling, semua anak–anak muda ke situ dan sebagainya jadi meletup–letup. Mereka nggak punya gagasan apa–apa. Bisanya cuma mengambil dari majalah luar, terus digunting itu  seakan–akan Denni Sabri yang nulis dari sana, padahal itu guntingan–guntingan semuanya,” kata Sylado.

 

Denny Sabri, yang sejak 1975 tinggal di Indonesia pun, jarang ke kantor. Sabri merasakan apa yang Sylado rasakan. Kepada rekan kerjanya, Odang Danaatmadja, Sabri menulis surat pribadi yang isinya mengatakan ketidaknyamanannya di majalah itu. Sabri malah sibuk mencari artis-artis baru untuk diorbitkan. Beberapa di antaranya Nike Ardilla, Silvia Saartje, dan Superkid.

 

Soal tidak terbukanya pihak perusahaan, diakui oleh Bens Leo, yang belakangan masuk jadi kontributor Jakarta. Leo, yang merasa sangat makmur secara finansial ketika bekerja di Aktuil, mengatakan pernah diberi dua Vespa oleh perusahaan.

 

“Karena saya menjaga industri musik di Jakarta, termasuk musik panggung. akhirnya dikasih Vespa, yang lebih mahal dari motor Jepang. Tapi itu dirahasiakan oleh pemilik Aktuil. Jadi makmur sekali,” kata Leo tersenyum.

 

Konser Deep Purple juga dituding jadi pemicu. Konser pertama memang sukses, tapi di hari kedua, pintu stadiun jebol. Majalah Musik Artis Santai edisi Desember 1975 menulis angka yang didapat panitia di hari pertama sebesar Rp 40 juta. Dan di hari kedua, Rp 25 juta. Sedangkan biaya produksi sebesar Rp 80 juta.  

 

Bens Leo juga mengakui hal ini. Menurutnya, pihak perusahaan terlalu berani investasi ke bisnis itu. Akhirnya, banyak sekali uang produksi untuk majalah yang terserap ke konser itu. Uniknya, Toto Rahardjo menepis tuduhan itu. Dia mengatakan kalau konser itu masih mendatangkan untung buat mereka, walau hari kedua pintu stadion jebol.

 

Tiras Aktuil mulai merosot di tahun 1976. Di tahun 1977, tirasnya hanya mampu menembus angka 30 ribu eksemplar. Ini makin menyusut hingga ke angka 3000 eksemplar di tahun 1978. Setelah beberapa orang staf redaksi baru berjuang memertahankan supaya Aktuil tetap terbit—mereka bahkan memindahkan kantor redaksi ke Jakarta—tahun 1986, surat ijin usaha penerbitan Aktuil digunakan untuk menerbitkan majalah berita Editor.

 

Tahun 2000, seorang wartawan bernama Yusuf Zainudin, mendatangi Denny Sabri, Remy Sylado dan Odang Danaatmadja. Meminta ijin untuk menerbitkan kembali Aktuil. Sabri menolaknya. Akhirnya, Zainudin memakai nama Aktuil Jaya. Majalah ini hanya terbit dua edisi.

 

Akan tetapi, di balik semua persoalan yang menyebabkan Aktuil mati, salah satu yang paling berpengaruh adalah kenyataan bahwa para redakturnya tidak mampu mengikuti perkembangan jaman. Tren musik rock mulai hilang di tahun ’80-an.

 

“Pernah pada suatu saat, rock nggak laku. Yang ada fusion, jazz. Nah, jaman ’80-an itu, jaman Casiopea, jaman Chick Corea dan sebagainya. Tren berubah. Mereka [Aktuil] nggak berubah selera dan gayanya. Daya saingnya nggak kuat lagi,” kata Roesli.

 

Majalah untuk kaum muda itu, tidak bisa awet muda.

 

* * *

 

Senin malam, 17 Mei 2004, di Toko Buku Kecil, Jl. Kyai Gede Utama No 8, Bandung, beberapa orang awak Aktuil bisa dipertemukan kembali. Mereka ke sana dalam rangka pemutaran film dokumenter karya mahasiswa Insititut Kesenian Jakarta soal majalah Aktuil. Sylado, akhirnya bisa mengatakan secara langsung kekecewaannya pada Toto Rahardjo. Ia juga menyampaikan kekecewaan Denny Sabri yang dikatakan padanya sebelum meninggal. Toto Rahardjo hanya diam. Ada rasa penasaran di benak orang-orang tua itu. Seandainya Toto terbuka terhadap karyawan, mungkin Aktuil masih bisa terbit. Sebagian dari mereka rupanya masih ingin menerbitkan Aktuil. Hanya Sylado yang tidak tertarik. Ia merasa masih bisa berkarya lewat novel, teater dan musik.  

 

“Sekarang kalau saya dibilang suruh bikin majalah musik, ndak mau saya. Ya pasti ndak laku! Dan nanti saya disalahkan juga kan sama pemodalnya. Daripada begitu, lebih baik ndak sama sekali,” ujar Sylado.

 

“What’s next?” kata Goenadi Harjanto, mantan redaksi Aktuil.

 

Tapi tidak ada satupun yang bisa menjawab.

 

* * *

Banyak majalah yang berusaha merebut pasar Aktuil. Beberapa di antaranya TOP, Musik Artis Santai [MAS], Junior. Saya mendapat kesan kalau majalah MAS terpengaruh Aktuil. Mulai dari pemberian hadiah poster atau stiker, dan sampul yang dihiasi foto musisi. Sebelumnya, majalah ini bernama Cinta, dengan tag line, The Magazine of Love. Sejak tahun 1973, Cinta menjadi MAS.  Seperti juga yang lainnya, MAS tidak bertahan lama. Dia tidak bisa hidup sampai tahun ’80-an.

 

Pertengahan tahun ’80-an pernah terbit majalah musik bernama Diskotek Musik, Forum Musika dan Bacaannya Orang Musik [BOM]. Majalah Vista, sempat menjadi Vista Musik, sebelum menjadi Vista FMTV, majalah untuk pemirsa televisi. Yayasan Bina Remaja juga sempat mencoba peruntungannya dengan menerbitkan Mitra Musik pada Juni 1989. Majalah ini sebelumnya bernama Mitra, yang gagal di pasaran setelah memposisikan sebagai majalah putri kedua setelah Gadis. Sebagai Mitra Musik pun, majalah ini tidak bernasib lebih baik.

 

Tahun 1990, praktis tidak ada media massa cetak yang memberi porsi besar pada berita musik. Seorang wartawan bernama Hans Miller Banureah waktu itu masih menjadi redaktur musik di tabloid Monitor pimpinan Arswendo Atmowiloto. Suatu hari, Wendo menawarkan SIUPP pada Miller. Karena Miller selalu punya mimpi menerbitkan tabloid musik, akhirnya SIUPP itu digunakannya. Ia mengajukan nama Citra Musik untuk tabloid barunya itu. Nama itu dipilih semata-mata karena nama yang tertera di SIUPP adalah Citra. Miller mengajak Atik Kamil dan Remy Soetansyah, wartawan Monitor Minggu yang sudah intens mengikuti perkembangan musik sejak tahun ’80-an.

 

Hanya dalam waktu seminggu, mereka menyusun rubrikasi dan konsep yang siap jual untuk Citra Musik. Mereka memutuskan untuk menulis segala jenis musik, mulai dangdut hingga rock. Miller ingin Citra Musik dalam format majalah. Tapi, Gramedia waktu itu sedang menikmati kesuksesan tabloid Monitor. Dia terima keputusan itu. Toh, dia juga akhirnya berpikir kalau format tabloid bisa menggapai masyarakat menengah ke bawah yang jadi sasarannya.

 

4 April 1990, sebanyak 125 ribu eksemplar edisi perdana Citra Musik diterbitkan. Sampulnya, dihiasi foto Rhoma Irama, yang waktu itu memang sedang digilai banyak orang dan punya massa yang banyak. Tabloid Monitor edisi Maret 1990, memuat promosi edisi perdana Citra Musik. Begini bunyi promonya:

 

“Jangan biarkan ribuan penggemar dangdut luput dari sasaran. Jangan lewatkan fans rock terpojok dari sasaran. Jangan sia – siakan penerus keroncong terbengong sendirian, atau yang setia pada jazz, pemuja pop, pencoba rappin dan sejenisnya.”

 

Belakangan, Miller menilai Citra Musik sebagai tabloid ‘banci’, karena sebagai tabloid musik, tidak punya arah yang jelas. Walau begitu, Miller mengatakan kalau Citra Musik mendapatkan sambutan hangat dari publik. Kantor redaksi sering dijadikan tempat berkumpul para musisi. Salah satu yang paling sering bertandang ke sana, adalah kelompok musik Grass Rock yang saat itu sedang naik daun.

 

“Pada saat itu memang luar biasa. Industri rekaman lagi gila – gilaan, dan tidak punya media. Nggak punya wadah untuk minimal menginformasikan musik itu sendiri. Minimal kami ingin menjadi mediator antar musisi dengan masyarakat, atau masyarakat ke musisi,” kata Miller.

 

* * *

 

Senin, 15 Oktober 1990, Monitor menerbitkan hasil polling pembacanya, dengan judul “Ini Dia: 500 Tokoh yang Dikagumi Pembaca Kita”. Mereka menempatkan Nabi Muhammad di urutan sebelas. Bagi umat Islam waktu itu, ini dianggap penghinaan. Senin, 22 Oktober 1990, kantor redaksi Monitor di Jalan Palmerah Barat diserbu massa yang mengamuk. Puncaknya, SIUPP nomor 184/1984 untuk Monitor dicabut pada 23 Oktober 1990. Wendo diajukan ke pengadilan. Pertengahan April 1990, Wendo resmi menjadi tahanan.

 

Ditutupnya Monitor berimbas langsung pada Citra Musik. Pihak Gramedia berpikir untuk mengambil pasar Monitor yang memang sudah bagus. Dan untuk membuat media dengan format yang sama, mereka belum berani mengambil resiko. Salah satu cara yang paling mudah, dengan mengubah format dan konsep media yang sudah mereka punya; Citra Musik.

 

Miller dipanggil petinggi Gramedia. Hanya butuh satu pertemuan untuk memutuskan Citra Musik harus berubah format. Waktu satu tahun belum bisa dijadikan alat untuk mengukur kesuksesan media. Paling sedikit, tiga tahun, begitu piker Miller. Kesepakatan yang dibuatnya dengan Wendo minimal dua tahun Citra Musik diuji. Perasaan Miller dan rekan-rekannya, hancur.

 

“Semua menangis. Ada sesuatu yang lagi dikejar harus berhenti. Padahal, bukan karena yang dikejar itu makin hilang. Tapi karena ada kondisi yang membuat itu harus berhenti. Waduuh, sakit banget. Makanya ketika itu dibombardir, sama kayak kepala dipecahin semua,” katanya.     

 

Citra Musik berubah jadi Citra Musik Film Olahraga. Di Nomor 48/I/26 Februari – 4 Maret 1991, Citra Musik Film Olahraga berubah lagi menjadi Citra Film TV Musik Olahraga, dengan embel – embel Pedoman Pasti Penonton Televisi di sampul depannya. Logo empat stasiun TV pun dipampang di sana: TVRI, RCTI, SCTV dan TPI. Citra Film TV Musik Olahraga lebih mirip tampilan Monitor . Bahkan tulisan Citra-nya pun menyerupai jenis huruf yang dipakai Monitor. Apalagi kalau melihat huruf T di logo Citra yang sama dengan huruf T yang ada di logo Monitor.

 

Ini secara resmi menandai kematian Citra Musik. Pusat Data Kompas, yang menyimpan dokumentasi media terbitan Gramedia, tidak menyimpan dokumentasi Citra Musik. Yang ada, hanyalah mulai dari Citra Musik Film Olahraga hingga nama tabloid itu menjadi Citra. Padahal, mereka menyimpan dokumentasi Citra Pendidikan, yang terbit jauh sebelum Citra Musik.

 

* * *

 

Era ’90-an praktis tidak ada media massa cetak yang khusus membahas musik. Tapi, remaja di masa itu punya majalah yang jadi rujukan mereka; Hai. Majalah ini, tidak pernah menyebut dirinya sebagai majalah musik. Tapi, sejak era ’80-an, Hai menaruh perhatian besar terhadap berita musik. Ulasannya yang berbobot, dinanti banyak anak muda masa itu.

 

Cikal bakal Hai, adalah majalah MIDI, kependekan dari muda mudi yang terbit perdana pada 11 Agustus 1973. Majalah ini dikelola wartawan Kompas yang bergelut di bidang penulisan remaja. Majalah ini kemudian mati pada 1977. Arswendo Atmowiloto yang belakangan bergabung di MIDI, merasa kalau matinya MIDI karena mereka tidak bisa menangkap pasar dengan baik.

 

“Karena waktu itu kan, Aktuil dengan posternya yang banyak. Dengan MIDI, kami sangat konservatif. Nulis tentang pacaran aja dengan malu – malu, takut atau hati – hati,” kata Wendo.

 

Surat Ijin Terbit untuk MIDI, kemudian digunakan Kelompok Penerbit Gramedia untuk menerbitkan majalah Hai, singkatan dari Hiburan, Amal dan Ilmu. Para pengelola awalnya, adalah mantan pengelola MIDI. Tahun 1983, Wendo menjadi pemimpin redaksi Hai, menggantikan Anton Sumanggono. Di tangan Wendo, Hai tidak hanya memuat komik, tapi juga sinopsis cerita video silat serta resensi film seri yang ditayangkan di televisi. Maka, wajah bintan film pun makin banyak menghiasi Hai. Wendo resmi mengundurkan diri dari Hai, pada 1987. Selepas Wendo, mulai tahun 1988, Hai mulai mengincar remaja pria, dengan semboyan “Bacaan Cowok Paten.”

 

Hai menandai era ’90-an dengan rajin menulis berita musik. Malah, pada tahun 1991, Hai mengundang kelompok musik Europe untuk manggung di Jakarta dan Surabaya. Dan tulisan wawancara dengan musisi atau kelompok musik pun sering hadir. Serta bonus-bonus yang berhubungan dengan musik—poster atau sisipan khusus. Ini membuat Hai dikenal sebagai majalah musik. Denny MR, salah seorang yang berjasa terhadap penulisan yang memikat di Hai, merasa unggulnya Hai karena saat itu tidak ada media lain yang banyak menulis musik.

 

Tahun 2000, porsi musik di Hai sempat menembus angka 80 persen. Mereka bisa saja kemudian menyebut dirinya majalah musik. Belakangan, mereka merasa kalau kebutuhan pembaca Hai bukan melulu musik.   

 

“Media lain nggak ada tuh yang bela–belain belepotan lumpur, atau panas–panasan demi liputan musik. Kami juga pernah ngejar Sepultura ke Brasil. Udah setengah dunia tuh kami kejar. Akhirnya, opini membentuk dengan sendirinya bahwa kalau anak sekarang mau baca informasi musik ya harus beli majalah Hai,” kata Denny yang kemudian mundur dari Hai setelah merasa lelah karena harus menjadi anak muda terus untuk bisa menulis di sana. Denny sempat menjadi Artist & Repertoir Hai Music Records, menulis musik untuk TEMPO, serta belakangan ia lebih aktif mengurus manajemen kelompok musik.

 

* * *

 

Jika ada musik yang belum mendapat perhatian besar oleh majalah musik, itu adalah dangdut. Sejak jaman Aktuil, porsi pemberitaan musik ini masih kecil. Hingga akhirnya, Tabloid Dangdut terbit. Ide ini datang dari Wendo dan teman-temannya. Wendo sudah memikirkan hal ini sejak dipenjara karena kasus Monitor. Tahun 1995, Tabloid Dangdut terbit dengan nomor SIUPP no 301/SK/MENPEN/SIUPP/B,1/1995 –31 Maret 1995. Wendo melihat dangdut sangat menarik, bukan hanya dari segi musik, tapi juga dari budaya.

 

“Nggak ada orang merasa risau joged dangdut. Istilah saya, kasih lantai satu kotak aja dia bisa joged. Itu kan bentuk, yang menurut saya jenius lokal yang luar biasa. Nah, budaya ini mau saya terjemahkan dalam bentuk tabloid, makanya saya bikin Tabloid Dangdut,” kata Wendo  

 

Ketika usianya baru tujuh bulan, tabloid ini mati dan berganti menjadi tabloid Aura. Pemilik modal, enggan mengeluarkan uangnya lagi untuk tabloid ini. Bagi Wendo, pemilik modal tidak punya cukup kesabaran untuk menunggu tabloid ini laku. Padahal, Wendo optimis tabloid ini bisa laku di daerah pinggiran Jakarta, seperti Bekasi misalnya. Walau Wendo sadar target pasar yang dikejarnya tidak punya cukup minat baca, ia merasa salah satu faktor kegagalannya adalah waktu yang tidak tepat. Tabloid Dangdut muncul di saat stasiun televisi belum gencar dengan program dangdutnya.   

 

“Kalau terbitnya sekarang–sekarang ini, wah udah panen raya abis–abisan,” tambah Wendo.

 

Setelah Tabloid Dangdut mati, sebuah tabloid musik lain mencoba peruntungannya di tahun 1998. Tabloid ini diberi nama MUMU, kependekan dari Muda Musika. Sejak awal, MUMU ingin mengutamakan musik-musik Indonesia. Embrio MUMU sebenarnya berawal dari rencana beberapa wartawan Harian Republika untuk menerbitkan suplemen seni bernama Siesta. EH Kartanegara, wartawan Republika yang menaruh perhatian besar terhadap musik bisa mewujudkan impiannya akan tabloid musik setelah bertemu Doddy Yudhista, musisi yang juga punya mimpi menerbitkan media massa khusus musik.

 

Bens Leo dan Denny MR mengatakan kalau mereka juga ditawari untuk mengelola tabloid MUMU. Leo menolak, setelah tahu formatnya tabloid. Denny MR, yang baru saja keluar dari Hai menolak karena merasa jenuh menulis untuk anak muda.

 

MUMU sangat membela musik Indonesia. Sampulnya lebih banyak dihiasi wajah musisi lokal. Begitu juga isi tulisannya, yang sebagian besar berisi berita tentang perkembangan musik Indonesia. Bahkan, ketika majalah Hai menuduh Sheila On 7 menjiplak lagu “Father and Son” karya Cat Stevens, MUMU membelanya dengan menurunkan laporan utama berjudul “Sheila On 7 Menjiplak? Uuh…Sirik”

 

Soal tulisan pun, mereka tidak pernah membahas sisi lain selain musik. Tidak pernah ada gossip, maupun menyentuh gaya hidup musisi. Dan tidak sedikit mereka bicara soal teknis musik. Ini membuat tabloid itu seakan-akan untuk mereka yang bisa memainkan alat musik.  Mereka ingin menjadi barometer dalam berita musik.

 

“Sempet sih ada yang ngritik dulu, MUMU terlalu teknikal, kesannya itu media hanya dimengerti sama anak – anak yang nge-band, anak – anak yang sekolah musik gitu gitu. Nah MUMU tuh sangat menjurus ke teknis,” kata SA Pralim Mudya.

 

Mungkin itu sebabnya MUMU kesulitan meraih pembaca. Selama dua tahun pertama, menurut laporan PT Nusa Distribusindo, yang mengurus sirkulasi MUMU, tiras tabloid ini hanya bisa mencapai angka 1024 hingga 2767 per minggu.

 

Perlahan-lahan, idealisme redaksi mulai luntur. Mereka tidak lagi menulis musik dari musisi atau kelompok musik yang dianggap berkualitas saja, tapi lebih sering menaruh kelompok musik atau musisi lokal yang sudah jadi jaminan menarik pembeli. Akhirnya, sampul mereka selalu berputar-putar di Slank, Iwan Fals, Sheila On 7, Dewa atau Padi.

 

“Begitu Slank misalnya punya sesuatu, kami angkat langsung. Oke lah dia nggak ada album, tapi dia mau tur. Itu langsung jadi laporan utama. Ada aja alesan yang bisa dicari buat naruh mereka di sampul,” kata Mudya.

 

Demi penjualan, tabloid ini bahkan pernah menurunkan Westlife di sampul tiga edisi berturut-turut di bulan Mei hingga Juni 2001. Maklum, para agen senang dagangannya laku. Mereka meminta terus formula ini. Masalah klasik antara pemilik modal atau perusahaan dengan redaksi pun mulai timbul. Karena mereka menulis kelompok musik yang itu-itu saja, redaksi mulai mengalami rasa jenuh. Redaksi mentok. Memasuki tahun ke-empat, MUMU mati. Edisi 06, Minggu ke-44, Tahun IV, 07 Nopember 2001, dengan judul cerita utama “Tur Asyik Slank,” jadi edisi terakhirnya.

 

“Saya cuma bisa bilang mismanajemen, karena itu sebetulnya dapur mereka. Tapi yang pasti, MUMU tuh dari sebelum terbit, udah bermasalah. Jadi, tebakan saya nggak terlalu meleset juga, ini pasti nggak akan bertahan lama. Karena ribet di dalemnya antar pengurus. Itu kan punya Timi Habibie kan,” kata Denny MR.

 

Se-era dengan MUMU, majalah NewsMusik terbit pada Desember 1999, kependekan dari Nuansa Entertainmen & Warta Seputar Musik. Bens Leo pemimpin redaksinya. NewsMusik terlihat sekali sangat terpengaruh majalah Rolling Stone, terutama dari segi tampilan. Leo memang ingin membuat majalah musik yang merupakan gabungan antara Aktuil dan Rolling Stone.

 

Leo mengatakan idealisme redaksi begitu tinggi. Mereka tidak akan menulis musik yang dianggap tidak bagus. Bahkan, ketika Maxi Gunawan, pemilik majalah itu merilis album, NewsMusik tidak mengulasnya. Dan Leo berbangga sekali dengan itu. Walau begitu, sejak enam bulan usia NewsMusik, dia sadar majalah yang akan dikelolanya tidak akan berumur panjang.  Selain karena banyak majalah musik tumbang, Leo sadar kalau visi pemilik modal ternyata berbeda dengan redaksi.

 

“Pak Maxi Gunawan ini bener – bener pengusaha, dia hanya punya satu pengalaman media, dan itu bukan media kayak NewsMusik. Pada akhirnya feeling saya bener. Bulan ke enam itu saya udah ngomong sama rekan–rekan, lo cari nama di sini, habis itu, saya nggak tahu, nggak jelas sampe kapan,” kata Leo.

 

Ketika NewsMusik baru berusia tiga tahun, Maxi Gunawan sudah gerah. Ia belum juga merasakan keuntungan dari uang yang dia keluarkan untuk majalah. Bens Leo menanggapi kebingungan Maxi dengan balik bertanya. Pasalnya, ketika hendak menerbitkan majalah ini, Maxi berjanji tidak akan mengharap keuntungan dulu. Kalaupun akan bicara soal keuntungan, Bens menjanjikan waktu lima tahun. Karena merasa tidak nyaman lagi dengan ketidak konsistenan Maxi, Bens memutuskan keluar dari NewsMusik pada Januari 2003. Begitu Bens mengajukan surat pengunduran diri, satu edisi yang seharusnya naik cetak langsung dibatalkan.

 

“Mampus itu! Itu lebih–lebih nggak tahu. Segmentasinya ndak jelas mau ke mana. Itu  buang–buang uang. Siapa yang beli kayak gitu?” kata Sylado soal matinya NewsMusik.

 

Matinya NewsMusik tidak membuat orang lantas berpikir ulang untuk menerbitkan majalah musik. Log Zhelebour salah satunya. Promoter rock ini menghubungi Hans Miller dan Remy Soetansyah untuk menerbitkan tabloid khusus rock, yang diberi nama ROCK. Edisi perdana ROCK terbit pada minggu ketiga Maret 2002. Di tahun yang sama, Jamrud, musisi yang bernaung di bawah label milik Log rilis album “Sydney  09. 01. 02.”  

 

Ketika Log tidak melihat artisnya di ROCK, tampangnya kusut. Redaksi jadi serba salah. Di manajemen juga terjadi perpecahan. Log Zhelebour tidak lagi akur dengan Direktur Jeddy Suherman dan Komisaris Liem Siau Bok. Pihak Jeddy merasa tidak pernah dilibatkan dalam penerbitan ROCK. Miller sempat memperkirakan umur ROCK hanya akan sampai edisi 52, karena Jamrud tur 52 kota waktu itu.

 

Miller salah. Belum sampai edisi 52, ROCK mati. Selain beberapa persoalan tadi, ROCK tidak pernah mendapatkan pemasukan yang berarti dari penjualan. Miller dan Soetansyah, kini aktif di Shandika Widya Cinema, production house pembuat tayangan infotainment, di antaranya Kabar Kabari.

 

* * *

 

Medio 1999, beberapa anak muda Bandung yang juga mulai muncul dengan produk pakaian bermerk 347, menerbitkan Ripple. Majalah ini tadinya lebih merupakan flyer produk 347. Lantas, majalah ini menaruh perhatian besar terhadap dunia surfing dan skateboarding. Sejak awal, mereka memang ingin membahas segala sesuatu yang di luar mainstream. Itu sebabnya, tidak sedikit kelompok musik yang dibahas di Ripple mereka yang belum mendapat kontrak rekaman. Bonus kaset berisi lagu dari kelompok-kelompok musik mereka berikan sebagai bentuk dukungan. Kini, Ripple menjadi majalah gratis. Bonus kaset sudah tidak lagi diberikan. Tapi, setidaknya mereka masih eksis. Berbeda dengan ‘saudara’-nya, Trolley.

 

Trolley, majalah yang menaruh perhatian besar terhadap fashion, seni dan musik. Helvi Sjarifudin, salah seorang penggagas, yakin tiga unsur itu tidak bisa dipisahkan. Dia lantas mengajak Gustaff H Iskandar, seniman kontemporer Bandung untuk membantu. Nopember 2000, Trolley edisi perdana terbit. Arti filosofis dari nama Trolley, adalah bahwa isi majalah itu semua yang disukai redaksi. Tidak hanya soal musik, majalah ini kemudian disambut baik oleh para desainer, dan mereka yang tertarik dengan seni rupa. Seperti Ripple, Trolley juga menulis berita musik yang di luar mainstream. Dua majalah ini akhirnya ikut memelopori banyak anak muda di kota lain untuk menerbitkan majalah indie. Membuat banyak orang yakin, bahwa menerbitkan majalah tidak lagi milik pemegang uang dengan modal besar. Kekurangan modal pula, yang akhirnya membuat Trolley terbit tidak tentu. Ini membuat mereka harus gali lubang tutup lubang. Pemasukan dari distributor bulan ini, dipakai untuk membayar hutang bulan lalu.

 

“Karena uangnya nggak ada. Kami jadi males-malesan ngelolanya. Akhirnya, pas edisi sebelas udah siap, gue bilang ke anak-anak, udahan aja ah, pusing,” kata Helvi.

 

Sebenarnya, ada beberapa investor yang tertarik mendanai Trolley, tapi karena terlalu banyak menuntut, Helvi tidak menerimanya. Setelah era Trolley, majalah-majalah musik dari penerbit dengan modal besar pernah terbit. Di antara mereka yang terbit nyaris berdekatan waktunya, adalah majalah POSTER, MTV Trax dan POPCITY. MTV Trax belakangan melepas nama MTV, dan menjadi Trax. POSTER dan POPCITY mati, menyusul majalah-majalah musik pendahulunya. Belakangan, beberapa redaktur Hai juga mengelola majalah ROCK STAR. Mudya dari MUMU, kini jadi redaktur majalah Gitar Plus [G+]. Trax masih bersaing. Bersama dengan Rolling Stone yang terbit di Indonesia sejak 2005. Selain dua nama itu, masih ada beberapa majalah musik lain. Ada yang terbit gratis, ada yang terbit di jalur indie, ada juga yang terbit dari kelompok penerbit besar.  Dan semuanya masih harus diuji oleh waktu.

 

* * *

 

Februari 2007, beberapa awak Aktuil berkumpul kembali. Ketika saya hubungi Sylado lewat telepon, dia mengatakan teman-temannya itu sedang berkumpul di rumahnya. Maman HS pensiun dari pekerjaannya sebagai petinggi Bank Indonesia. Mereka berencana menerbitkan buku tentang Aktuil. 

 

“Memang ada rencana menerbitkan kembali Aktuil?” tanya saya.

 

Ndak tahu. Kalau soal nerbitin majalah, saya ndak ikutan,” Sylado tertawa.

 

 

Punk Rawk Show

Kalau bicara MXPX, saya selalu teringat jaman kuliah.

Pertengahan tahun ’90-an, di Bandung, jaman cokro alias carding masih berjaya. Teman-teman kuliah saya banyak yang memakai kaos MXPX hasil cokro. Kasarnya, mereka telah ‘merampok’ banyak dari toko online MXPX

Dan di pertengahan tahun ’90-an, melodic punk sedang digandrungi banyak anak muda. Tak hanya melodic punk bands, celana pendek kedodoran dipadu dengan sepatu vans juga sedang digandrungi. Kalau mau dibandingkan, mungkin keberadaan celana pendek kedodoran itu, sama posisinya dengan pilihan skinny jeans di banyak kids today.

Minggu [13/1] malam kemarin, MXPX datang ke Jakarta dalam rangka Secret Weapon Asian Tour 2008. lian MIPRO, sang penyelenggara berbangga sekali, mengatakan kalau Jakarta satu-satunya kota di Asia Tenggara yang dikunjungi. “Seratus orang dari Malaysia dan Singapura memesan tiket buat nonton mxpx di Jakarta,” kata Harry Fadil, media relations pada saat jumpa pers sehari sebelumnya.

MIPRO tak bertele-tele dalam jumpa pers. Jam setengah tiga, acara dimulai seperti yang tertera pada undangan. Tak banyak basa-basi. Wartawan langsung diberikan kesempatan bertanya. Rata-rata dari mereka sepertinya sudah cukup tahu soal MXPX. Tak ada pertanyaan klise dan basi semacam “persiapan apa yang kalian lakukan buat show besok?”

Hanya sekira setengah jam, jumpa pers digelar. Diakhiri dengan pemberian tanda tangan kepada sekira belasan fans yang datang [entah dari mana mereka tahu info soal acara itu]. Pembagian ID pun tak sulit serta tak serepot di konser yang digelas Java Musikindo misalnya.

Tak banyak media yang datang. Bahkan, sepertinya tak ada infotainment!

ID Card untuk liputan pun dibuat sederhana. Bahkan, saya sempat mengira itu bias dipalsukan dengan mudah, tanpa ada pengamanan. Soalnya, ketika konser Napalm Death yang pertama, rekan kantor saya memindai kartu itu dan mencetaknya. Maka jadilah kartu liputan. Tapi, kemarin rupanya mereka sudah belajar. Karena ternyata ada cap ultra violet di sana.

***

Kawasan Senayan dipenuhi banyak supporter bola, Minggu malam itu. Lebih tepatnya, dipenuhi banyak The Jakmania. Ada final Copa Dji Sam Soe. Padahal, Persija tak lolos ke final. Ketika saya tiba di pintu masuk dari depan Hotel Mulia, pemandangan belasan puluhan The Jak menyambut saya.

“Tiketnya seratus lima puluh ribu, mahal! Mending juga nonton bola ya, lima ribu,” saya mendengar salah seorang dari mereka berbicara.

Konser MXPX digelar di Basket Hall. Masih di kawasan Gelora Bung Karno. Hanya agak jauh dari Stadion Utama Senayan. Basket Hall sebenarnya kurang bagus untuk pertunjukkan musik. Ruangannya bergema. Tapi, apa boleh buat. Sepertinya MIPRO senang sekali mengadakan pertunjukkan di sana.

Saya bertemu dengan rombongan dari Bandung. Mereka yang saya ceritakan di awal tulisan. Maka lengkaplah bayangan MXPX di benak. Konser mxpx tanpa teman-teman dari Bandung rasanya tak lengkap. Karena mereka yang lebih mencintai MXPX ketimbang saya. Dan nama MXPX, mengingatkan saya pada mereka.

Tiba di Senayan, mereka disambut The Jak. Mobil yang mereka tumpangi berplat nomor D.

“Mau pada ke mana ini?” kata The Jak, seperti ditirukan teman saya.

“Mau pada nonton bola bang,” jawab mereka.

Dan The Jak pun membiarkan mereka lewat.

Kabarnya, hal serupa menimpa rombongan Sendal Jepit juga.

“Ada yang bawa atribut Viking [salah satu kelompok supporter Persib] nggak?” anak The Jak bertanya, sambil memeriksa mobil, “kalau ada, mau gue matiin!”

Tapi, tak ada yang meninggal karena sepakbola malam itu. Setidaknya begitu yang saya tahu. Tak ada rombongan Bandung yang dihajar The Jak. Padahal, teman-teman saya sebagian besar pecinta Persib. Hahaha.

***

Fornufan, Superman Is Dead, dan Rocket Rockers jadi pembuka. Jam tujuh malam acara dimulai, tepat waktu. Jam sembilan lebih sepuluh menit, MXPX sudah naik panggung. Membuka dengan intro lagu the Who, kalau tak salah “A Quick One, While He’s Away.” Tolong koreksi saya. Saat tulisan ini dibuat, saya tak yakin apakah benar itu lagunya. Yang jelas, refrain-nya ada bagian “You are forgiven…”

Crowd menyambutnya dengan meriah. Saya tak tahu, apakah mereka tahu lagu itu, atau senang menyambut kedatangan MXPX. Kalau saya, karena senang intro lagu itu dimainkan. Eka, bassist SID diajak ke panggung ketika lagu “Chick Magnet” dibawakan. Eka terlihat senang.

“MXPX!” teriaknya ketika pamit.

Selain lagu-lagu mereka, MXPX juga membawakan cover version yang lain. “Summer of 69” yang pernah dibawakan Brian Adams dan “Should I Stay or Should I Go?” dari the Clash setelah aksi pura-pura pamit.

Dido dan Cupi, kawan saya dari Bandung kembali ke area belakang sedikit kesal karena orang-orang di sekelilingnya tak tahu lagu the Clash. Salah seorang teman mereka juga kesal karena ternyata orang-orang di sekelilingnya tak tahu lagu the Clash!

Sementara itu, ketika Dido dan Cupi kesal di area depan sambil menyanikan Should I, sepasang kekasih di depan saya asik bermesraan sambil berjoget-joget mengikuti lagu MXPX. Beberapa kali mereka berciuman dan berpelukan. Saya dan teman-teman hanya bisa menahan tertawa.

Setelah puas berpelukan dan berciuman, akhirnya si perempuan mencoba berdansa. Gayanya, seperti gaya dansa banyak perempuan masa kini. Tangan sebelah kiri di pinggang. Tangan kanan diangkat ke atas, ditekukkan sedikit. Dan dia pun berjoget sambil menggoyangkan kepalanya.

MXPX sedang memainkan lagu “Punk Rawk Show” ketika pemandangan itu terlihat di depan mata saya.

[Bukan] Kerja Rodi

Feature ini, satu dari tiga naskah yang saya kirimkan buat ajang Adiwarta Sampoerna 2007. Ini, yang tak lolos final. Dimuat di Playboy Indonesia, edisi Januari 2007.

Bands make it rock, but roadies make it roll. Ini kisah orang-orang di belakang panggung.

 

Siang itu Stadion Lebak Bulus dipenuhi remaja putri. Mereka mondar-mandir membawa peralatan, papan dan segala macam benda untuk menghiasi stand. SMA Tarakanita 1 sedang menyiapkan pentas seni. Tidak kalah sibuk dengan para remaja putri itu, pria-pria yang mayoritas berkaos hitam sedang bekerja di sekitar panggung yang terletak di sisi timur stadion. Mengangkat hard case berisi amplifier, monitor, peralatan musik. Sebagian orang, ada di atas panggung. Menyiapkan tata cahaya. Sebagian lagi, sibuk mengatur kabel-kabel yang bersliweran rumit di sekitar panggung.

 

The Upstairs sedang melakukan sound check. Kelompok musik itu sedang naik daun. Digandrungi banyak remaja masa kini. Seorang laki-laki bertubuh gempal, memakai kaos Iron Maiden terlihat paling sibuk. Memeriksa peralatan, menghubungi panitia, memastikan para personel The Upstairs mendapat konsumsi, dan mendengarkan suara yang keluar dari depan panggung.

 

Nama dia Anggoro S Widagdo, biasa dipanggil Goro. Dia road manager The Upstairs. Setiap kali The Upstairs manggung, dia harus mengurusi para personel, berhubungan dengan panitia penyelenggara event, memeriksa peralatan, hingga memimpin para kru. Tanggungjawab dia memastikan semua orang melaksanakan pekerjaannya. Dia termasuk salah satu dari sekian banyak orang di belakang panggung pertunjukkan. Mereka biasa disebut roadies.

 

Secara teknis, siapapun yang jadi kru pada tim produksi sebuah pertunjukkan bisa disebut roadie. Tapi, biasanya kata itu digunakan untuk menyebut stagehands [orang yang tugasnya mengganti pemandangan, tata cahaya, dan tugas lainnya dalam pertunjukkan teatrikal], dan teknisi di pertunjukkan musik. Roadie bukanlah pekerjaan, ini sebutan untuk orang yang mengerjakan banyak tugas, dari teknisi panggung hingga teknisi alat musik, tata cahaya, sound engineers hingga riggers [para perakit perlengkapan].

 

Roadie bukanlah road/transport engineer yang memerbaiki jalan raya. Bukan orang yang nongkrong dan menempuh perjalanan dengan kelompok musik. Itu biasanya disebut groupie. Bukan juga orang yang kerja di karnaval. Itu biasa disebut carnie. Dan yang pasti, roadie bukan salah satu minuman beralkohol.

 

ww.smh.com.au menulis; Roadies. Jika ada yang yang tidak berjalan dengan baik, mereka disalahkan. Jika semuanya lancar, tidak ada yang memerhatikannya. Mereka adalah otot dari industri musik. Membawa alat-alat yang berat, mengatur panggung. Mereka adalah otak di balik tata cahaya dan sound system yang rumit. Semuanya harus dilakukan dalam kecepatan singkat, tanpa ada margin untuk kesalahan.

 

Di Indonesia, beberapa kelompok musik punya sebutan khusus untuk roadies-nya. Slank dengan Jaddah. Dewa dengan Manusia Biasa. Dan The Upstairs dengan Modern Road Crew.

 

Goro menjadi road manager sejak akhir 2003 setelah diajak sobatnya Wenz Rawk, yang lebih dulu jadi personal manager The Upstairs. Goro dan Wenz lebih dulu aktif di Event Organizer bernama Brainwashed. Menjadi road manager, kata Goro, tidak jauh berbeda dengan pekerjaannya sebagai tim produksi di Brainwashed. Plus, Goro juga bermain musik, itu membuat dia tahu apa yang biasanya ada di benak musisi. Paduan dua hal itu, adalah modal yang cukup untuk menjadi road manager sebuah kelompok musik. Dan yang paling penting, dia menganggap The Upstairs kelompok musik yang bagus.

 

Dia pernah kerja kantoran di distributor kopi. Tapi perusahaannya bangkrut. Pekerjaan seperti itu, dia rasakan tidak ada tantangannya. Hanya mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Dia ingin punya pekerjaan yang berhubungan dengan musik.

 

Manggung atau tur, adalah hari ketika pekerjaannya semakin berat. Apalagi kalau di luar kota. Misalkan saja mereka beres sound check jam satu siang. Lantas kembali ke hotel. Goro tidak bisa beristirahat sebanyak yang lain. Dan menghadapi mood personel pun jadi tanggungjawabnya. Seorang road manager harus bisa jadi apa saja. Menurut Goro, dia juga harus jadi “bapaknya anak-anak.”

 

“Tiap keluar kota, kami selalu ketemu orang yang berbeda. Belum lagi, masalah komitmen waktu. Ada yang sekarang minta istirahat, nggak semua mau istirahat. Itu yang masih jadi ketakutan utama gue. Pada saat di luar kota, kami mesti lebih aware lagi. Di mana nginepnya, kapan jadwal makannya, dan lain-lain. Tapi, karena kecintaan gue pada musik. Walaupun berat, dan kurang tidur, gue iklas aja,” katanya sambil tertawa.

 

Pernah ada masanya ketika Goro punya keinginan sukses dengan kelompok musiknya. Tapi itu sudah hilang begitu dia gabung dengan The Upstairs. Dia cukup puas menjadi orang di belakang panggung. Pendukung pertunjukkan. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat pertunjukkan lancar, The Upstairs bisa bermain dengan bagus. Berbeda dengan kepuasan bermain di atas panggung memang. Tapi, pria berumur 29 tahun itu tetap merasa senang.

 

Elo akan merasa menang. Kerja kami terbayar!” katanya.

 

Rasa senang yang serupa juga hinggap di hati Iwan Sukma jika pekerjaannya menghasilkan pertunjukkan yang bagus. Iwan adalah teknisi gitar untuk Uki dari Peterpan. Saya bertemu dengan Iwan ketika dia sedang tidak bekerja untuk Peterpan. Tapi untuk solis yang baru rilis album perdananya beberapa bulan lalu; Erry. Iwan sudah sering jadi session player untuk banyak musisi, di antaranya Tofu. Seperti halnya Goro, Iwan menerima tawaran menjadi roadies juga karena ajakan teman.

 

Sebenarnya kalau bicara karir musik, Iwan sudah lebih dulu menjelajahi panggung di Bandung dibandingkan anak-anak Peterpan. Iwan pernah tergabung di After Sunset, yang biasa membawakan musik brit pop. Ariel Peterpan pernah diminta untuk jadi vokalis After Sunset. Tapi dia menolaknya, karena tahun 2002, Peterpan mendapat tawaran untuk ikut album kompilasi “Kisah 2002 Malam” produksi Musica Record. Jatah Peterpan awalnya ditawarkan untuk After Sunset. Mereka menolak tawaran itu karena ingin dikontrak Sony Music. Dan kalaupun membuat album, mereka tidak ingin ikut kompilasi. Inginnya album penuh. Maklum, After Sunset sedang cukup berjaya di panggung musik di Bandung.

 

Ternyata Peterpan sukses. Iwan hanya cengengesan mengenang kisah ini. Setahun setelah Peterpan sukses dengan album kompilasi itu, After Sunset “mengkhianati” niat mereka. Ikut dalam album kompilasi “Indie Ten 3” produksi Sony Music. Tahun 2004, After Sunset bubar. Iwan jadi additional musician. Agustus 2005 dia ditawari jadi kru Peterpan yang katanya ingin meningkatkan kualitas krunya. Posisi terbalik. Dulu anak-anak Peterpan menonton pertunjukkan After Sunset. Sekarang, gitarisnya malah jadi teknisi gitar Peterpan.

 

“Karena melihat Peterpan bagus atau karena harganya cocok?” tanya saya.

 

“Wah, gawat nih pertanyaannya. Ya sebetulnya sih karena nggak ada kerjaan. Pengin nyobain juga. Kayak gimana sih hidup begini. Time is money. Berhubung no time, ya udahlah,” kata Iwan sambil tertawa.  

 

Awal menjalani pekerjaan sebagai kru, Iwan sempat merasa terbebani. Agak gengsi mungkin. Ketika Peterpan mengadakan konser untuk launching album soundtrack film Alexandria di Bandung, Iwan menutupi mukanya supaya tidak terlihat teman-temannya. Usahanya sia-sia. Kini, Iwan sudah bisa menerima keadaan itu. Untuk sementara, dia harus menunda impiannya maju bersama kelompok musik sendiri. Dia anggap ini salah satu batu loncatan.

 

“Nge-band nggak cuma skill, tapi hoki juga. Musikalitasnya tinggi belum tentu bisa sukses,” kata Iwan.

 

Itu juga yang dikatakan Panji Gustiano alias Nobon kepada saya. Menjadi roadies untuk batu loncatan. Dia menjadikan profesi itu untuk bisa mengenal banyak orang di industri musik. Nobon, kini berusia 30 tahun, sudah sepuluh tahun menjalani profesi ini. Seperti juga Goro, dia tidak betah kerja kantoran. Bekerja di penerbit dan perusahaan farmasi tetap tidak bisa mengalahkan keasikan bekerja di bidang musik. Dia tetap bertahan dengan profesinya, karena ingin sibuk di musik. Tapi, tidak seperti Goro, Nobon jadi kru untuk banyak kelompok musik. dia mengawali pekerjaannya di Waiting Room. Setelah mereka bubar, Nobon bekerja untuk Superglad, The Fly, Sore, Seringai, Step Forward, Ecoutez, The Brandals hingga Samsons.

 

“Temen gue pernah bilang, kalau gaji elo udah sama kayak kerjaan kantor yang dulu, ngapain kerja lagi? Di sini aja. Tapi, udah lima band, [duitnya] masih kurang juga,” kata Nobon sambil tertawa.  

  

Besar kecil finansial memang relatif bagi setiap orang. Goro tidak mau menyebut angka pasti soal berapa penghasilan yang didapatnya dari pekerjaan sebagai road manager. Dia hanya meyakinkan saya, kalau semua orang di manajemen The Upstairs harus senang. Iwan menyebut kisaran Rp 300 ribu hingga Rp 600 ribu per manggung. Dia tidak menyebut berapa yang diterimanya. Tapi, dia mengatakan kalau angka minimum itu untuk roadies tanpa keahlian memainkan alat musik. Sedangkan Nobon menyebut “angka normal”-nya antara Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan jumlah yang disebut Iwan, karena memang kelompok musiknya juga tidak ada di kelas yang sama dengan Peterpan. Dan penghasilan mereka, tentu saja sangat tergantung pada jumlah pertunjukkan.

 

“Sepuluh tahun belum bisa nyamain penghasilan kantoran. Habis, [band-nya] bilangnya promo melulu. Apalagi kalau ada bencana, waaah,” kata Nobon sambil tertawa. “Eh, nggak deh. Becanda ya yang bagian bencananya sih.”

 

Di antara sekian roadies yang saya temui, hanya Muhammad Amirudin alias Amir yang sepertinya “lebih makmur” dibandingkan yang lain.

 

“Alhamdulillah cukup lah. Hahaha. Gila. Ribet juga jawabnya. Karena gue tuh masih menganggap bahwa banyak kru yang mungkin nggak pantas dibayarnya, Makanya, kalau elo tanya gaji gue berapa, bisa malu sendiri gue, nggak enak sama kru lain. Keringat gue dengan kru lain sama, capeknya sama. Makanya kalau ada yang nanya, alhamdulillah,” kata Amir.

 

Amir adalah Jaddah Slank. Kata ‘jaddah’ berasal dari kata makian ‘haram jaddah’ yang sering digunakan anak-anak komunitas Potlot di tahun ’90-an. Dari sana pula kisah Amir dimulai. Tahun ’94, ketika dia masih kelas dua SMA, setiap bolos selalu datang ke Potlot. Awalnya, dia hanya berani melihat dari luar. Ketika Slank formasi baru terbentuk di tahun ’96, Amir mulai membantu Slank. Tapi belum jadi kru tetap. Bimbim biasanya memberdayakan anak-anak yang sering datang ke Potlot. Atas permintaan Bimbim, Amir pernah membuat lukisan di dinding, serta jadi koordinator Slankers untuk syuting klip “Tong Kosong”.  

 

Akhir tahun 2000, Amir menyatakan keinginannya untuk ikut rombongan Slank manggung di luar kota. Dia merasa sudah terpuaskan dengan pertunjukkan Slank di Jakarta. Dia ingin merasakan atmosfer yang berbeda di luar kota. Dia penasaran dengan suasananya. Setelah mendapat ijin dari Bunda Iffet, Amir mulai bekerja untuk Slank. Tapi belum diangkat jadi Jaddah. Waktu itu, dia hanya membantu mengangkat alat dan menyemir kabinet amplifier supaya mengkilap.

 

Jaddah yang lain meminta Amir untuk memerhatikan Kaka di panggung. Seandainya Kaka butuh minum, stand mik-nya jatuh, atau butuh bantuan apa-apa, itu tanggungjawab Amir. Dan itulah awal perjalanan Amir di Slank. Rupanya Kaka merasa terbantu sekali dengan kehadiran Amir. Dia belum punya kru tetap. Road manager Slank, Massto menanyakan kesediaan Amir untuk menjadi Jaddah. Gresik adalah kota pertama dia resmi bergabung. Slank waktu itu sedang Tur Virus 2000.

 

Ketika Bunda Iffet memanggilnya ke kantor untuk menanyakan kembali keseriusannya membantu Slank, tanpa pikir panjang Amir menjawab iya. Padahal dia sudah punya kelompok musik bernama Keraton yang sudah merilis satu album. Banyak temannya yang menyesalkan keputusan Amir menjadi kru. Mereka menganggap Amir punya kemampuan untuk sukses dengan kelompok musiknya. Punya modal suara yang bagus. Tapi Amir merasa sudah tidak kuat lagi. Dia pesimis bisa bermain musik sampai berhasil. Akhirnya, dia berbesar hati untuk menjadi kru. Toh gairah bermusik dia masih bisa tersalurkan.

 

“Gini ya, jadi kru-nya slank, gue anggap hijrah dulu. Islam kan mengajarkan begitu. Kalau mentok di sini, hijrah aja. Gue sadar, umur segitu nggak bisa ngapa-ngapain. Walaupun kasarnya waktu itu seribu perak pun gue nggak pernah ngasih nyokap. Gue harus hijrah, cari kerjaan. Se-nggak nggaknya, nyari duit buat rokok gue sendiri. Nggak nyusahin keluarga,” kata Amir yang kini berusia 31 tahun.  

 

Di antara semua orang yang saya temui, Amir yang bicaranya paling berapi-api. Kecintaan dia pada Slank dan pekerjaannya bisa saya rasakan. Dia mengatakan akan menjaga Slank. Hubungan Amir dengan personel Slank dan Jaddah yang lain sudah bagaikan keluarga. Mereka tidak hanya membicarakan urusan teknis saja. Di luar panggung, mereka menjalin hubungan. Walau sekadar berkunjung ke rumah, atau meminta ditemani ke pusat perbelanjaan. Untuk urusan panggung, dia sudah paham benar bagaimana Kaka akan bergerak.

 

“Kalau dia ke kiri, ke tengah, pokoknya gerakan Kaka di panggung, gue udah paham. Gue bisa ngerasain,” katanya.

 

Tidak mudah menjadi roadies. Apalagi ketika pertunjukkan berlangsung. Banyak yang harus mereka perhatikan. Kalau ada yang tidak berjalan dengan baik, semua harus segera diperbaiki dalam waktu cepat. Amir punya salah satu pengalaman buruk. Menghilangkan mik Kaka yang tertinggal di lidah panggung. Karena licin, Amir terjerembab hingga menendang mik ke arah penonton.

 

“Selain bisa maenin alat musik, kru itu harus punya tiga modal. Tanggap, lincah dan kuat,” kata Nobon.

 

Film komedi Wayne’s World 2 [1993] menggambarkan tiga hal tadi. Di film itu, diceritakan Wayne yang dibintangi Mike Myers sedang menyiapkan konser Waynestock. Lewat mimpi, Jim Morrisson, vokalis The Doors menyuruh Wayne menemui roadie legendaris bernama Del Preston. Wayne meminta bantuan Del untuk menyiapkan sebuah konser musik. Kepada Wayne, Del membagi pengalamannya bertahun-tahun bersama musisi legendaris macam Ozzie Osborne, Jeff Beck, Keith Moon dan David Crosby. Lantas, Wayne yang telah merekrut orang-orang untuk menyukseskan Waynestock meminta Del Preston melatih mereka jadi roadie yang baik. Bagaimana menyelamatkan stan mik yang jatuh dan bagaimana menghadapi situasi di panggung.

 

Karakter seorang roadie legendaris mungkin akan susah ketika diterapkan di film lokal. Bukan apa-apa, jangankan roadie legendaris, manajemen kelompok musik di kita, belum semuanya berjalan dengan baik. Ini jadi perhatian Goro ketika saya tanya apakah dia yakin pekerjaannya bisa menghidupi dia.

 

“Kalau bicara yakin nggak yakin sih, gue belum punya acuan yang pasti. Tapi kalau mungkin di sini sudah ada infrastruktur yang oke, atau agen yang besar yang membawahi road manager dan bisa menyalurkan masing-masing road manager, gue rasa bukan nggak mungkin,” katanya.

 

Untuk sementara, selain finansial mereka bisa menikmati fasilitas yang juga didapat kelompok musiknya. Hotel berbintang, jalan-jalan keliling Indonesia, keluar negeri. Dan menjadi bagian dari sejarah di industri musik Indonesia.

 

“Suka dapat limpahan kenakalan?” tanya saya pada Iwan Sukma.

 

“Hahaha. Sebetulnya sih…aduh gawat nih pertanyaannya. Kalau kenakalan mah masing-masing sih. Mau nakal ya nakal,” jawabnya.

 

“Saya dengar rumor, kalau Peterpan dapet jatah cewek, bisa diambil sama krunya.”


“Kalau mau ya mungkin bisa. Tergantung krunya. Hahaha. Ya nggak lah. Cuma speak Bombay aya lah. Paling dapet kenalan aja.”

 

“Kalau groupies?”

 

“Sekenyot dua kenyot lah. [sehisap dua hisap–red]. Nggak deh, becanda!” kata Iwan ngakak.

  

 

***

Sejak masih bermain musik secara amatir, tekad Opet Alatas sudah bulat. Dia harus jadi musisi. Selepas SMA dia meninggalkan kampung halamannya di Tanjung Pinang. Mei ’93 Opet tiba di Jakarta dengan modal nekad dan sedikit sekali pengetahuan soal ibukota. Salah satu hal yang terlintas di benaknya waktu itu, dia harus ikut kursus musik. Tapi biayanya begitu mahal.

 

Opet lantas teringat tetangganya di Tanjung Pinang yang sudah meniti karir musik; [alm] Andy Liani. Selain café Manari yang belakangan namanya jadi Poster—salah satu tempat kumpul banyak musisi di Jakarta, pertengahan ’90-an—Opet rajin mengunjungi tempat kos Andy Liani. Kebetulan, musisi idolanya, Thomas Ramdhan juga tinggal di sana. Opet mendengar permainan bass Thomas dari album-album di antaranya Anggun C Sasmi dan Andy Liani.

 

Setelah sekira satu tahun Opet tinggal di Jakarta, Thomas Ramdhan rilis album perdana dengan kelompok musik yang baru didirikannya bersama empat temannya; GIGI. Sekira dua bulan setelah GIGI rilis album “Angan”, Opet punya solusi untuk mewujudkannya belajar bermain bass. Dia datangi Thomas Ramdhan.

 

Gue pengin jadi kru elo. Berapapun bayaran dari elo, gue terima deh. Uangnya bukan yang utama. Gue pengin belajar,” balas Opet.

 

Tapi Thomas tidak menerimanya. Dan setiap Opet bertemu Thomas, jawabannya selalu “nanti deh.” Hingga akhirnya tiga bulan setelah proses lamaran itu, Thomas malah balik bertanya.

 

Elo masih mau jadi kru?”

 

Ketika saya tanya Thomas soal proses lamaran ini. Dia membenarkan bahwa ketika itu, dia tidak langsung menerima Opet. Bukan apa-apa, Thomas merasa tidak enak. Motivasi Opet ingin jadi kru-nya, karena dia ingin belajar. “Dia kan waktu itu lagi kuliah. Datang dari luar daerah. Terus, niatnya bukan mau kerja sih, mau belajar. Nggak enak aja, takut nggak bisa ngebayarnya,” kata Thomas.

 

Maka, hari ketika Thomas meminta Opet jadi kru-nya, adalah hari ketika pintu Opet masuk ke industri musik semakin terbuka. Keinginan dia untuk belajar tanpa harus mengeluarkan biaya besar tercapai. Dia belajar langsung dari idolanya. Pada saat yang sama, dia masih aktif di kelompok musik bernama Bumi yang sering main di kampus-kampus dan Pasar Seni Ancol.

 

“Akhirnya gue dapet banyak pelajaran, walaupun yang nggak secara langsung kayak orang les privat. Banyak sisi lain yang gue dapet. Pada akhirnya nggak cuma bicara skill. Tapi gimana sih main di panggung sampe gimana aransemen lagu. Lebih luas lah, Niat gue jadi kru memang cuma sebagai batu loncatan. Tapi, gue tetep memerhatikan gimana gue kerja dengan benar. Kalau nggak teliti, udah banyak alat yang hilang. Gimana kerja dengan cepat tapi rapi. Kalau dulu kan jarang konser tunggal, setting alat di panggung banyak. Satu mixer yang 24 channel tapi dipake banyak band. Sementara jeda dari band satu ke band yang lain, nggak terlalu lama,” kata Opet. 

 

Menjadi kru Thomas berdampak besar pada pada musikalitas Opet. Saking besar rasa kagumnya, Opet merasa kalau gaya permainan bass dia sangat terpengaruh Thomas. Opet menikmati proses itu. Dengan bayaran Rp 150 ribu setiap manggung, berbeda dengan kondisi sekarang, waktu itu kru GIGI hanya dua orang; Opet dan seorang kru lain. Dua orang itu, harus mengurusi alat-alat sebanyak itu. Apalagi, Opet sempat jadi kru GIGI ketika era dua gitaris. Kadang-kadang, kalau pertunjukkannya digelar di Jakarta, Opet dan temannya mengajak seorang teman lagi untuk membantu mereka. Bayarannya ditanggung mereka berdua.

 

“Dulu mah bener-bener berat. Pinggang sampai sakit. Sekarang gue suka cerita sama kru gue soal kerjaan gue yang lebih berat dibandingin kru sekarang. Sementara konsekuensi kalau hilang barang, harus diganti,” kenangnya.

 

Karena niat awal Opet jadi kru sebagai batu loncatan, dia masih bermain musik bersama teman-temannya. Ketika sampai di masa Opet dan kelompok musiknya menyusun lagu di tahun ’96, GIGI menawarkan tugas yang lebih berat untuk Opet; menggantikan Thomas yang waktu itu harus vakum karena narkoba. Opet baru satu setengah tahun jadi kru mereka.

 

“Lagi makan malem, tiba-tiba mereka ngajak ngomong. ‘Elo siap nggak kalau gantiin Thomas buat tur?’ Gue spontan jawab iya. Pada saat itu gue nggak mikir, pas pulangnya baru deh kepikiran,” katanya sambil tertawa.

 

Maka dia pun “naik pangkat” jadi personel. Di Indonesia, menurut Opet, dia orang yang pertama kali mengalami itu. Personel GIGI yang lain bisa saja mencari pemain bass dengan jam terbang yang lebih banyak dibandingkan Opet. Tapi waktu begitu mendesak. GIGI tidak punya waktu untuk berlatih dengan orang baru yang belum hapal repertoire lagu-lagu mereka. Opet orang yang paling cocok pada saat itu. Dia sudah sering bermain bersama personel GIGI yang lain pada saat soundcheck; menggantikan Thomas yang beberapa kali berhalangan hadir.

 

Siapapun mungkin akan mengalami masa-masa canggung ketika berpindah ke suasana baru. Opet yang dulunya mengurusi alat-alat, sekarang malah jadi orang yang alat-alatnya diurusi. Dia akhirnya ada di panggung yang sama dengan orang-orang yang pernah jadi atasannya. Menghadapi kru dia canggung. Menghadapi teman-teman di GIGI dia canggung.

 

“Temen-temen yang lain meyakinkan gue, kalau di sini kita kerja. Nggak usah kagok. Armand [Maulana] dan [Dewa] Budjana mereka membuka diri. Walaupun tetep ada enak nggak enaknya, gue nggak terlalu sulit untuk adaptasi,” kata Opet.

 

Naik pangkat mendatangkan banyak manfaat bagi Opet. Kalau biasanya setiap keluar kota bersama GIGI, dia merasakan pegal-pegal setelah mengangkat barang-barang, kini dia bisa nyaman. Soundcheck, main dan pulang. Secara finansial pun meningkat. Opet kini mendapat bayaran Rp 650 ribu setiap manggung. Walaupun jumlah ini lebih kecil dibandingkan bayaran yang diterima personel lain dan Opet dituntut melaksanakan kewajiban yang sama, dia tidak keberatan. Toh baginya, masih banyak hal positif yang tidak bisa dinilai dengan uang.

 

Pertama, dia bisa kenal dengan banyak musisi. Setelah statusnya menjadi musisi, bukan kru, dia merasa posisi tawarnya untuk berkenalan dengan musisi lain lebih enak. Walau menyandang status mantan kru, tetap saja, status barunya membuat dia lebih percaya diri. Kedua, dia bisa membeli alat musik. Semua terjadi begitu cepat. Umur Opet masih delapan belas tahun waktu itu. Baru di Jakarta beberapa tahun dan masih meraba-raba, tiba-tiba sudah jadi personel GIGI. Bisa keluar negeri. Sepanggung bersama GIGI. Tapi, kondisi itu bukan tanpa kendala. Perbedaan jam terbang dan umur akhirnya berpengaruh juga.

 

Ada hal-hal yang secara mendasar belum siap. Gue akui, pada saat itu, gue baru lulus SMA, dari daerah pula. Tiba-tiba harus naek dengan segala kondisi yang harus gue imbangi. Pasti ada hal-hal yang belum gue sampe. Akhirnya pada saat proses kreatif, seperti ada yang menahan gue untuk mengeluarkan ide,” katanya.

 

Itu membuat Opet marah. Pada diri sendiri dan pada keadaan. Beberapa kali terlintas di benaknya, untuk keluar saja dari GIGI. Sikap seperti itu, kata Opet karena dia masih muda. Emosinya masih belum stabil. Dan itu ditanggapinya dengan emosi. Belakangan, Opet merasa kondisi di GIGI semakin tidak nyaman.

 

“Mungkin juga, memang personel yang lain sengaja membuat situasinya nggak nyaman. Mungkin kalau mau mecat langsung nggak enak,” katanya sambil tertawa.

 

Suatu hari, GIGI bermain di acara Satu Jam Bersama di Indosiar. Thomas ikut bermain di dua lagu. Ini, kata Opet, dilakukan tanpa bicara dulu dengannya. Ketika GIGI manggung di Bandung pun, Thomas ikut bermain lagi.

 

Gue pikir, mereka mungkin nggak enak kalau ngeluarin, dibikin lah kondisi yang nggak nyaman. Gue nggak bilang itu salah. Cuma, tentu ada sebabnya. Mungkin mereka kurang puas sama gue,” kata Opet.

 

Saya hubungi Armand untuk menanyakan soal ini. Armand menyangkalnya. Dia, Budjana dan Budhy Haryono [drummer] merasa tidak pernah sengaja membuat suasana jadi tidak nyaman. Malah, mereka ingin Opet mengembangkan kreativitasnya. Pernah satu kali, Armand, Budjana dan Budhy sengaja “memaksa” Opet untuk mengaransir lagu. Soal mengajak Thomas bermain kembali di GIGI, itu semata-mata karena mereka ingin membangkitkan semangat Thomas yang sudah sembuh.  

 

Gue sering bilang sama dia, Pet, ayo dong kalo bikin lagu, kord-nya jangan nunggu dari Budjana melulu! Eh akhirnya pas lagu ‘Palsu”, kami bener-bener kasih ke dia. Gue, Budjana sama Budhy cuma ngikutin dia aja,” kata Armand.

 

Menjelang Tur album Kilas Balik, Opet menyatakan mundur dari GIGI. Manajemen meminta Opet menyelesaikan dulu tur. Salah satu alasannya, karena Opet punya andil di album itu.

 

“Waktu gue resign, pas ngomong sama anak-anak, nggak ada yang nahan. Mereka cuma bilang, ‘Oh elo mau resign, ya udah.’ Mungkin ini yang ditunggu-tunggu,” kata Opet sambil tertawa.

 

Valentine 1999 adalah hari terakhir Opet manggung bersama GIGI. Pada Armand dkk, dia meminta Thomas Ramdhan jadi penggantinya. Album Kilas Balik berjalan baik secara penjualan. Ini membuat hati Opet tenang. Setidaknya, dia pikir meninggalkan GIGI yang sedang dalam keadaan baik. Selepas dari GIGI, dia menjadi additional player di banyak kelompok musik, salah satunya Padi.

 

Usai bermain di sana-sini, tahun 2001 Opet muncul kembali di industri musik dengan kelompok musik yang baru didirikannya; Tiket. Saya pertama kali bertemu Opet tahun yang sama, ketika Tiket melakukan promo album. Musik di album perdananya terdengar seperti Padi di telinga saya. Opet membela ketika saya tanya soal itu. Ketika saya wawancara untuk tulisan ini, dia baru menjawab jujur.

 

“Waktu itu mungkin ya kepengaruh Padi, karena beres tur. Di saat yang bersamaan, gue lagi nyari vokalis. Jadinya terpengaruh suara Fadly. Dulu sih, gue nggak mau cerita. Kalau dibilang mirip Padi, gue ngeles aja,” katanya sambil terbahak.

 

Ketika saya wawancara, Opet sedang menggarap proyek bersama Budhy Haryono. Kelompok musik yang mereka beri nama Laki. Kalau ini berjalan baik, dia berencana untuk membubarkan Tiket. Dua mantan personel GIGI bergabung, Opet tidak menganggapnya proyek balas dendam. Toh, Opet sadar GIGI sudah jauh lebih berkembang. Seiring bertambahnya usia, Opet sadar sesuatu yang instan tidak tidak akan baik hasilnya. Tapi, dia senang bisa jadi bagian dari sejarah GIGI. Bisa diberi kesempatan belajar. Putra daerah itu telah mewujudkan mimpinya.

 

Gue nggak pernah ngebayangin bakal begitu. Makanya, sekarang kru band apa aja, harus punya keinginan untuk jadi lebih dari pada kru. Harus ada peningkatan!” katanya.