Siapa yang Membunuh Persma?

Sabtu
[30/9] kemarin, saya jadi pembicara untuk ulang tahun yang pertama
sisipan KAMPUS dari Pikiran Rakyat. Temanya; Pers Mahasiswa. Saya tidak
pernah berpikir, kalau suatu hari, bakal jadi pembicara dalam diskusi
bertemakan itu. Di kampus orang lain pula! Soalnya, waktu jaman
mahasiswa, saya sering merasa dianggap remeh oleh para pengelola
persma. Maklum, jenis terbitan yang saya dan kawan-kawan dirikan,
termasuk “ringan”, sering dianggap “tidak ilmiah” blablabla.




Panitia meminta saya membuat tulisan
untuk dibagikan di sana. Walaupun merasa kurang puas, akhirnya saya
buat juga. Di bawah ini tulisan saya untuk diskusi itu. Karena saya
tidak tahu harus memberi judul apa, akhirnya tulisan ini saya beri
judul sesuai dengan tema diskusi hari itu.

Siapa yang Membunuh
Persma?

Oleh Soleh Solihun

Jujur, saya sempat tidak tahu
harus menulis apa untuk diskusi ini. Sudah tiga hari saya mencoba menulis.
Tapi, selalu tidak puas dengan hasilnya. Sepertinya topik persma sudah tidak
menarik lagi buat saya. Karena pertama, saya sudah bukan mahasiswa. Kedua,
ketika mahasiswa pun, saya tidak suka persma. Dengan segala idealisme dan
tipikal tulisan persma. Ketiga, ketika akhirnya saya dan kawan-kawan mendirikan
penerbitan mahasiswa yang sesuai dengan jiwa saya, para penerus kami—angkatan
bawah—membuat saya kecewa.

Tidak. Saya tidak sedang berkata
kalau dari segi isi, angkatan saya—para pendiri—jauh lebih baik, well mungkin
iya. Haha. Tapi, saya sedang bicara soal semangat. Para
generasi penerus itu hanya manis di bibir! Ketika diwarisi media yang kami
rintis, mereka bicara seolah-olah akan mewarisi semangat yang sama. Salah satu
ukuran semangat yang saya maksud, adalah dilihat dari terbit reguler. Banyak
sekali alasan yang mereka buat. Sibuk lah. Banyak tugas lah. Susah
berkumpul lah. Bah! Memangnya saya tidak pernah jadi mahasiswa? Semuanya hanya
mencari alasan.

Sepanjang 1999 – 2001 lewat 14
edisi, saya dan kawan-kawan mengelola KARUNG GONI di Fikom Unpad yang terbit
reguler tiap bulan—minimal di bulan-bulan perkuliahan aktif. Sebagai bentuk
kekecewaan kami terhadap tipikal persma yang ada waktu itu. KARUNG GONI akronim
dari Kabar Ungkapan Gosip dan Opini. Media kampus yang membahas hal-hal ringan,
kehidupan seputar Fikom Unpad. Lantas, 2003, kami dirikan Fikombabes—isinya
sebagian besar soal mahasiswi-mahasiswi Fikom Unpad. Salah satu motivasinya, pernyataan
sikap kami terhadap adik-adik penerus di KARUNG GONI yang mengecewakan. Karena
membuat KARUNG GONI nyaris vakum. Banyak sekali alasan mereka! Daripada energinya
dipakai untuk memarah-marahi adik angkatan, lebih baik disalurkan ke dalam
penerbitan baru.

Mungkin para pengelola persma
memang butuh musuh bersama untuk menggerakkan mereka. Saya bisa berkata begitu,
setelah melihat yang terjadi pada KARUNG GONI. Jaman saya dan kawan-kawan
aktif, kami punya musuh. Penerbitan mahasiswa mainstream, yang tulisannya seputar kebijakan kampus, atau
pemerintah. Issue-issue yang terlalu “serius” buat kami. Ya. Kami lawan mereka.
Kami coba buktikan, kalau topik-topik “ringan” juga bisa punya tempat di
kalangan mahasiswa. KARUNG GONI yang hanya difotokopi, juga bisa jadi media
yang tidak kalah menarik dengan persma lain yang dicetak. Kami yang kerjanya
hanya ketawa-ketawa di kampus, yang dituduh sebagai kaum hedonis, juga bisa
membuat karya yang baik! Dan banyak hal lain yang coba kami buktikan waktu itu.
Ada sedikit
amarah, mungkin.

Penyaluran amarah itu akhirnya
yang menggerakkan kami. Mencoba membuktikan pada “musuh-musuh” kami, kalau kami
juga bisa! Terserah mau disebut persma atau bukan, yang penting batin kami
puas! Bagaimanapun caranya, kami harus eksis! Harus terbit reguler! Karena kalau
bukan itu motivasinya, apalagi dong? Bukan apa-apa, waktu itu belum terpikir
soal melatih kemampuan menulis lewat penerbitan kampus. Bekal untuk dunia kerja
blablabla. Itu malah disadari belakangan. Ketika akhirnya saya benar-benar
masuk dunia kerja.

Dan saya tidak merasakan itu dari
angkatan penerus kami. Mereka tidak punya semangat yang tinggi. Mungkin karena
tidak punya musuh bersama. Karena ketika gilirannya mereka mengelola KARUNG
GONI, media itu sudah relatif mapan. Sudah masuk mainstream. Sudah dikenal orang. Sudah relatif diakui
keberadaannya. Maka, KARUNG GONI pun sempat mengalami era hidup segan mati tak
mau. Akhirnya, saya berkata pada diri saya sendiri, kalau umur KARUNG GONI
memang hanya 14 edisi. Daripada batin terus berteriak karena kecewa. Bahkan,
ketika akhirnya kami meneruskan Fikombabes pada angkatan bawah pun, ekspektasi
saya tidak setinggi ketika kami mewariskan KARUNG GONI. 

Saya tidak tahu bagaimana cara
mahasiswa lain mengelola media mereka. Saya juga tidak tahu bagaimana mereka
memandang profesionalisme dalam persma. Yang saya tahu, mungkin cara kami
memandang profesionalisme adalah dengan selalu ingin menerbitkan KARUNG GONI
tiap bulan. Ingin bisa tertawa puas. Memuji diri sendiri. Dan sekali lagi,
merasa telah melayangkan tinju buat sang musuh!

Maaf kalau tulisan ini tidak
sedikit pun memberikan pencerahan. Saya juga tidak bisa memberikan masukan dari
sudut pandang akademis atau teoritis. Saya hanya ingin menegaskan kalau kamu
tidak perlu takut mencoba mendirikan penerbitan. Jangan terpaku dengan segala
imej atau karakter yang terlanjur melekat dengan kata ‘persma’. Paling enak
jadi mahasiswa sebenarnya. Kalau salah pun, dianggap wajar, karena masih
belajar. Kalau menghasilkan karya yang baik, pujiannya cenderung berlebihan. Sudah
ah. Semakin melantur.

Salam.

Siapa yang Membunuh Persma?

Sabtu [30/9] kemarin, saya jadi pembicara untuk ulang tahun yang pertama sisipan KAMPUS dari Pikiran Rakyat. Temanya; Pers Mahasiswa. Saya tidak pernah berpikir, kalau suatu hari, bakal jadi pembicara dalam diskusi bertemakan itu. Di kampus orang lain pula! Soalnya, waktu jaman mahasiswa, saya sering merasa dianggap remeh oleh para pengelola persma. Maklum, jenis terbitan yang saya dan kawan-kawan dirikan, termasuk “ringan”, sering dianggap “tidak ilmiah” blablabla.

Panitia meminta saya membuat tulisan untuk dibagikan di sana. Walaupun merasa kurang puas, akhirnya saya buat juga. Di bawah ini tulisan saya untuk diskusi itu. Karena saya tidak tahu harus memberi judul apa, akhirnya tulisan ini saya beri judul sesuai dengan tema diskusi hari itu.

Siapa yang Membunuh Persma?
Oleh Soleh Solihun

Jujur, saya sempat tidak tahu harus menulis apa untuk diskusi ini. Sudah tiga hari saya mencoba menulis. Tapi, selalu tidak puas dengan hasilnya. Sepertinya topik persma sudah tidak menarik lagi buat saya. Karena pertama, saya sudah bukan mahasiswa. Kedua, ketika mahasiswa pun, saya tidak suka persma. Dengan segala idealisme dan tipikal tulisan persma. Ketiga, ketika akhirnya saya dan kawan-kawan mendirikan penerbitan mahasiswa yang sesuai dengan jiwa saya, para penerus kami—angkatan bawah—membuat saya kecewa.

Tidak. Saya tidak sedang berkata kalau dari segi isi, angkatan saya—para pendiri—jauh lebih baik, well mungkin iya. Haha. Tapi, saya sedang bicara soal semangat. Para generasi penerus itu hanya manis di bibir! Ketika diwarisi media yang kami rintis, mereka bicara seolah-olah akan mewarisi semangat yang sama. Salah satu ukuran semangat yang saya maksud, adalah dilihat dari terbit reguler. Banyak sekali alasan yang mereka buat. Sibuk lah. Banyak tugas lah. Susah berkumpul lah. Bah! Memangnya saya tidak pernah jadi mahasiswa? Semuanya hanya mencari alasan.

Sepanjang 1999 – 2001 lewat 14 edisi, saya dan kawan-kawan mengelola KARUNG GONI di Fikom Unpad yang terbit reguler tiap bulan—minimal di bulan-bulan perkuliahan aktif. Sebagai bentuk kekecewaan kami terhadap tipikal persma yang ada waktu itu. KARUNG GONI akronim dari Kabar Ungkapan Gosip dan Opini. Media kampus yang membahas hal-hal ringan, kehidupan seputar Fikom Unpad. Lantas, 2003, kami dirikan Fikombabes—isinya sebagian besar soal mahasiswi-mahasiswi Fikom Unpad. Salah satu motivasinya, pernyataan sikap kami terhadap adik-adik penerus di KARUNG GONI yang mengecewakan. Karena membuat KARUNG GONI nyaris vakum. Banyak sekali alasan mereka! Daripada energinya dipakai untuk memarah-marahi adik angkatan, lebih baik disalurkan ke dalam penerbitan baru.

Mungkin para pengelola persma memang butuh musuh bersama untuk menggerakkan mereka. Saya bisa berkata begitu, setelah melihat yang terjadi pada KARUNG GONI. Jaman saya dan kawan-kawan aktif, kami punya musuh. Penerbitan mahasiswa mainstream, yang tulisannya seputar kebijakan kampus, atau pemerintah. Issue-issue yang terlalu “serius” buat kami. Ya. Kami lawan mereka. Kami coba buktikan, kalau topik-topik “ringan” juga bisa punya tempat di kalangan mahasiswa. KARUNG GONI yang hanya difotokopi, juga bisa jadi media yang tidak kalah menarik dengan persma lain yang dicetak. Kami yang kerjanya hanya ketawa-ketawa di kampus, yang dituduh sebagai kaum hedonis, juga bisa membuat karya yang baik! Dan banyak hal lain yang coba kami buktikan waktu itu. Ada sedikit amarah, mungkin.

Penyaluran amarah itu akhirnya yang menggerakkan kami. Mencoba membuktikan pada “musuh-musuh” kami, kalau kami juga bisa! Terserah mau disebut persma atau bukan, yang penting batin kami puas! Bagaimanapun caranya, kami harus eksis! Harus terbit reguler! Karena kalau bukan itu motivasinya, apalagi dong? Bukan apa-apa, waktu itu belum terpikir soal melatih kemampuan menulis lewat penerbitan kampus. Bekal untuk dunia kerja blablabla. Itu malah disadari belakangan. Ketika akhirnya saya benar-benar masuk dunia kerja.

Dan saya tidak merasakan itu dari angkatan penerus kami. Mereka tidak punya semangat yang tinggi. Mungkin karena tidak punya musuh bersama. Karena ketika gilirannya mereka mengelola KARUNG GONI, media itu sudah relatif mapan. Sudah masuk mainstream. Sudah dikenal orang. Sudah relatif diakui keberadaannya. Maka, KARUNG GONI pun sempat mengalami era hidup segan mati tak mau. Akhirnya, saya berkata pada diri saya sendiri, kalau umur KARUNG GONI memang hanya 14 edisi. Daripada batin terus berteriak karena kecewa. Bahkan, ketika akhirnya kami meneruskan Fikombabes pada angkatan bawah pun, ekspektasi saya tidak setinggi ketika kami mewariskan KARUNG GONI.

Saya tidak tahu bagaimana cara mahasiswa lain mengelola media mereka. Saya juga tidak tahu bagaimana mereka memandang profesionalisme dalam persma. Yang saya tahu, mungkin cara kami memandang profesionalisme adalah dengan selalu ingin menerbitkan KARUNG GONI tiap bulan. Ingin bisa tertawa puas. Memuji diri sendiri. Dan sekali lagi, merasa telah melayangkan tinju buat sang musuh!

Maaf kalau tulisan ini tidak sedikit pun memberikan pencerahan. Saya juga tidak bisa memberikan masukan dari sudut pandang akademis atau teoritis. Saya hanya ingin menegaskan kalau kamu tidak perlu takut mencoba mendirikan penerbitan. Jangan terpaku dengan segala imej atau karakter yang terlanjur melekat dengan kata ‘persma’. Paling enak jadi mahasiswa sebenarnya. Kalau salah pun, dianggap wajar, karena masih belajar. Kalau menghasilkan karya yang baik, pujiannya cenderung berlebihan. Sudah ah. Semakin melantur.

Salam.

Lukman Sardi: “Anda Tidak Bisa Samakan Saya dengan Idris Sardi!”

Buat yang belum
tau siapa Lukman Sardi, dia pernah jadi salah satu teman kampus Gie, pembunuh
bayaran di Sembilan Naga, dan sopir beristri banyak di Berbagi Suami. Wawancara
ini dimuat di edisi kedua majalah kami. Untuk rubrik 20Q. Ini versi yang belum
diedit.

 

Bisa cerita soal
Piala Citra yang Anda dapat waktu kecil?

Bukan Piala Citra namanya, tapi Piala Kartini. Sama
seperti Piala Citra, tapi untuk anak-anak. Filmnya, “Pengemis dan Tukang Becak”
tahun ’79, umur saya tujuh tahun. Tapi, film layar lebar pertama saya,
“Kembang-Kembang Plastik” karya Wim Umboh. Jadi, waktu kecil, film saya selain
dua tadi, ada “Anak-Anak Tak Beribu”, “Cubit-Cubitan”, “Gema Hati Bernyanyi”,
“Beningnya Hati Seorang Gadis”, “Laki-Laki Dalam Pelukan” dan film terakhir
yang saya mainkan waktu remaja, “Bermain Drama”.

Bagaimana
perasaan Anda waktu dapat Piala Kartini?

Wah, saya belum punya perasaan apa-apa. Saya senang
bisa naik panggung, tapi belum punya perasaan yang waah bagaimana. Karena anak
umur segitu, belum punya pikiran soal penghargaan atas karya.

Apa arti piala
itu bagi Lukman Sardi kecil?

Dulu sih belum terlalu memikirkan yang aneh-aneh.

Bagaimana
ceritanya bisa main film?

Ayah saya memang lingkungannya di sana. Dan kebetulan Om Wim Umboh mencari
pemain kecil buat film barunya, “Kembang-Kembang Plastik”. Dia mengajak saya
bermain kepada ayah. Waktu itu saya belum mengerti konsep tentang main film.
Cuma, ‘kamu entar begini ya, begini ya’. Saya tahu ada kamera, tapi namanya
anak kecil ya jalan aja.

Ke mana saja
Anda, kok baru umur 30-an muncul lagi?

Saya kuliah dan sempat kerja di beberapa tempat.
Terakhir sempat kerja di playgroup jadi manajer taman bermain. Saya suka film,
suka dunia akting, tapi belum terlalu punya keyakinan kalau saya bakal di situ.
Pokoknya, saya mencari. Sebenarnya waktu kuliah, Mbak Mira Lesmana pernah
ngajak main sinetron. Saya merasa kalau film benar-benar dunia saya, tahun 2000
waktu diajak Persari Film, main sinetron “Cinta yang Kumau” dan “Kawin Lari”.
Langsung dapat peran utama. Nah, di situ saya mulai merasa kalau ini dunia
saya. Begitu mulai fokus, habis itu saya main film “Gie”. Sekitar empat belas
tahun, saya mencari. Nah, waktu tahun 2000 itu, saya mulai merasa nyaman. Akhirnya,
oh ini dia nih pekerjaan yang saya cintai. Ternyata begitu fokus dijalani,
memang benar. Dan jalannya semakin terbuka.

Kenapa butuh
belasan tahun untuk yakin?

Pada prinsipnya, saya mencari pekerjaan yang nyaman dan
saya cintai. Saya tidak mau bekerja di tempat yang saya sendiri tersiksa.. Saya
terus mencari. Sebenarnya, waktu di playgroup saya menemukan kesenangan
tersendiri batin saya. Karena saya suka anak kecil. Tapi, karena latar
pendidikan saya bukan di sana,
sepertinya tidak akan berkembang. Dan ternyata memang saya tidak bisa lari dari
rasa keinginan saya untuk di film. Tadinya, saya pikir karena orangtua saya
selalu di sana,
saya akan berbeda.

Dari sekian
banyak profesi, bintang film yang paling nyaman buat Anda?

Dan saya sudah merasa nyaman sekali. Walaupun harus
syuting berjam-jam yang melelahkan, mungkin secara fisik lelah, tapi saya puas.

Ayah Anda kawin
cerai, bagaimana itu mempengaruhi kejiwaan Anda?

Mungkin awalnya, waktu saya masih di Sekolah Dasar, itu
pengaruhnya terasa. Anak umur segitu kan,
pikirannya masih ingin main-main. Tapi, saya harus menghadapi pemberitaan di
majalah ini, koran ini. Orang ini bicara soal perceraian ayah saya. Pengaruhnya
lebih ke positif. Saya jadi mandiri. Tidak tergantung orang lain. Waktu itu
saya sempat mengalami, tidak sempat ke mana-mana. Pulang sekolah langsung ke
rumah. Tiba-tiba di depan sekolah, sudah ada wartawan. Bisa begitu. Akhirnya,
saya main sendiri, melakukan semuanya sendiri. Itu sisi positifnya. Proses
perceraian ayah saya yang kedua, sudah tidak terlalu berdampak besar. Walaupun
ada perasaan kecewa. Kenapa juga sembilan beas tahun menikah, harus bercerai? Saya
melihatnya, itu sebagai jalan hidup.

Masih percaya
pada lembaga pernikahan?

Saya tetap percaya. Tapi mungkin lebih berhati-hati. Tidak
segampang orang yang, yuk nikah. Saya hanya menghindari hal itu terjadi. Saya
tidak mau kalau sampai bercerai. Efek terbesarnya pada anak. 

Apakah Anda tipe
penakluk perempuan?

Tidak tahu ya. Saya cuma suka keindahan. Perempuan
cantik, siapa sih yang tidak suka? Saya tidak munafik. Yang namanya laki-laki,
walaupun sudah punya pasangan, pasti ada perasaan-perasaaan mau deh. Sejauh  ini sih, memang selalu dapat perempuan yang
saya inginkan. Walaupun kadang-kadang miss juga. [tertawa]. Kadang-kadang ditolak
juga.

Ada pengaruh dari ayah Anda dalam hal berhadapan dengan perempuan?

Jelas. Ayah saya selalu berpesan, untuk menghormati
perempuan. Ayah saya romantis sekali, selain keras. Dia suka melakukan hal-hal
romantis terhadap istrinya, di depan anak-anaknya. Itu berpengaruh sekali.
Misalnya, dia mau pergi. Mama belum bangun. Dia cari bunga. Dia tulis surat. Ditaruhnya itu surat di samping mama. Dia
tulis sesuatu yang indah. Dan saya melihat dari itu, akhirnya kebawa. Saya jadi
suka melakukan hal-hal seperti itu. Untuk menimbulkan gairah-gairah lagi dalam
hubungan.

Seberapa mirip
Anda dengan Idris Sardi?

Soal romantisnya mungkin ya. Dan satu lagi yang
sebenarnya saya hindari, tapi ternyata tidak bisa juga. Saya kadang-kadang
keras kepala. Apalagi untuk hal-hal yang menurut saya prinsip. Tapi,
kadang-kadang baru belakangan saya sadar kalau saya salah. Bedanya, kalau ayah
saya sadar dia salah, dia ubah dari sikapnya. Kalau saya, bisa mengakui kalau
saya salah.

Bagaimana seorang
Idris Sardi mendidik anak-anaknya?

Sama seperti orangtua lain. Tapi dia disiplin. Itu yang
paling saya lihat. Kalau kita benar mengerjakannya, pasti rejeki jalan terus.
Apalagi dunia film.  Kecil sekali. Kalau
syuting di sini ngaco. Di produksi sana,
ketika ada yang mengajak main, nanti ada kru yang bilang, ‘Jangan deh jangan.
Payah orangnya.’

Anda jadi
pembunuh bayaran yang menyayangi keluarganya di “9 Naga”, bagaimana Anda
memandang karakter itu?

Ada. Dia bisa saja terbentuk
seperti itu karena tuntutan ekonomi. Pada dasarnya, dia ingin menghidupi
keluarganya. Tapi, karena pekerjaannya seperti itu. Dia tidak bisa mengeluarkan
emosinya. 

Mendalami
karakternya?

Workshop. Saya tanya orang-orang. Saya tonton film-film
seperti The Godfather. Juga saya tidak menonton TV. Saya Cuma berusaha ngobrol
dengan orang-orang di sekitar saya. Bayangkan rasanya sebulan tidak nonton TV.
Sampai ada satu hari, ketika saya merasa kalau tidak keluar dari sana, saya akan bego. Dan
yang lebih gilanya lagi, seminggu setelah “9 Naga” selesai, masuk “Berbagi Suami”.
Saya harus hancurkan karakter sebelumnya. Alhamdulillah cukup berhasil.

Anda percaya
kalau semua yang dilakukan laki-laki akhirnya untuk perempuan juga?

Itu saya percaya. Rata-rata akhirnya larinya ke situ kan. Misalnya, ada orang
yang tega merampok, nyari uang untuk kawin. Buat siapa? Perempuan kan? Ujungnya larinya ke
situ kebanyakan.

Berarti benar,
laki-laki yang dijajah perempuan?

Ah itu terserah masing-masing. Merasa dijajah tidak?
[tertawa]. Sebenarnya, jaman dulu kita dijajah Belanda.  

Pandangan Anda
terhadap poligami?

Tidak penting. Dalam arti begini, Anda bayangkan. Kita
boleh punya istri lebih dari satu. Tapi, syaratnya, Anda harus punya perasaan
yang sama dan menafkahinya dengan sama. Kalau secara materi, Anda bisa cari.
Tapi, apakah secara perasaan Anda bisa sama? Jaman dulu kan, Nabi mengawini perempuan yang karena
janda perang. Sekarang, pasti karena melihat yang lebih cantik. Terus,
mengatasnamakan daripada berjinah mending kawin lagi. Sebenarnya, poligami itu
susah buat laki-laki. Kita harus mencari nafkah lebih banyak daripada orang
yang punya istri satu. Sekaya-kayanya orang, pasti repot juga. Apalagi buat
perempuannya. Korban perasaan. Jadi, menurut saya, poligami tidak ada sisi
positifnya.

Percayakah Anda
pada laki-laki yang berpoligami yang mengatakan bisa adil terhadap
istri-istrinya?

Wah itu urusan mereka lah. Saya tidak mau bilang
percaya atau tidak. Dia merasa sanggup. Saya tidak akan pernah bilang, Anda
jangan poligami. Kalau dia sanggup, silakan. Itu urusan dia, istrinya dan
Tuhan.

Katanya Anda
punya obsesi untuk membuat pertunjukkan musik yang menggambarkan perjalanan
film Indonesia.

Wah, tahu dari mana? Itu cita-cita saya sejak dulu.
Cuma belum kesampaian. Terlalu mahal mungkin. Saya membutuhkan orang-orang yang
secara finansial. Ini belum tentu menguntungkan. Orangnya harus mau capek.
Soalnya, harus mencari arsip lagu-lagu dari film jaman dulu. Dan saya belum
menemukan orang yang bisa bekerjasama untuk itu. Itu penting. Saya Cuma ingin
tahu, perkembangan musik dan film itu seperti apa? Maju atau mundur? Biar orang
menilai sendiri. Bayangan saya, pertunjukkannya itu di hanggar pesawat, Halim
Perdanakusumah lah. Dari suasana masuk ke sana,
sudah berbeda. Ingin buat kesan Indonesia
jaman dulu. Konsepnya tuh besar sekali. Dan kontinyu, musiknya tanpa ada MC.
Beres satu band langsung band lain bermain. Bisa dibayangkan berapa biayanya? Saya
belum menemukan partner yang mau banting tulang. Saya Cuma ingin menunjukkan
kalau Indonesia
punya seniman-seniman yang bagus. Saya ingin anak-anak sekarang juga tahu. Jangan
cuma musisi dari luar saja mereka tahu. Itu bisa menambah wawasan baru. 

Anda bermain juga
di Jakarta Undercover, apakah dalam kehidupan nyata, Anda akrab dengan dunia
seperti itu?

Saya suka jalan-jalan di klub. Mabuk iya.
Hancur-hancuran begitu, saya juga merasakan. Saya pernah nonton striptease,
tapi bukan yang aneh-aneh. Saya tahu kehidupan malam Jakarta. Waktu saya masuk di “Jakarta
Undercover” jadinya sudah pernah tahu. Paling, saya observasi. Karena ada
beberapa klub di film itu yang ada hubungannya dengan klub-klub banci. Saya
belum pernah ke klub homo dan klub banci. Makanya, observasi.

Anda homophobic
atau banciphobic?

Oh tidak. Tapi, saya terus terang saja. Takut banci
Taman Lawang. Pernah punya pengalaman buruk. Satu waktu, ketika lewat di Taman
Lawang, seorang banci tiba-tiba masuk mobil teman saya. Karena kami baik, ya
sudah kami ajak muter-muter. Tiba-tiba dia minta duit. Padahal kami tidak
ngapa-ngapain. Begitu kami tidak kasih, dia mengancam mau menghancurkan kaca
pakai sepatu. Itu membuat saya takut. Tampilan sih, tidak membuat saya takut. Sekarang,
kalau lewat ke sana,
suka teringat lagi. Makanya, saya malas lewat Taman Lawang. Kalau sedang macet
tiba-tiba ada banci yang masuk lagi, bagaimana? Tidak tahu tuh banci masih ada
di sana atau
tidak. Yang jelas, saya masih ingat mukanya.

 

Ayah Anda pernah
menyuruh Anda belajar memainkan biola?

Dia tidak pernah memaksakan. Waktu saya mau belajar
main biola pun, saya yang mau sendiri. Tapi, dia kan perfeksionis dan disiplin, karena itu
pilihan saya, dia akan membuat saya jadi yang terbaik. Karena itu pilihan saya,
maka saya tidak boleh setengah-setengah. Seperti saya di film, jadi yang bagus
beneran. Jangan setengah-setengah. Makanya, waktu belajar biola, gemblengannya
gila-gilaan. Jam lima
pagi, saya main biola setengah jam. Sore, baru saya belajar notasi. Kalaupun
dia tidak ada, saya disuruh merekam. Malamnya, dia cek.

 

Gambarkan sosok
Idris Sardi dalam satu kalimat!

Dia orang yang perfeksionis sekali. Itu sudah bisa
menggambarkan semuanya.

Bagaimana rasanya
hidup di keluarga yang besar dengan seni, apakah seni di keluarga besar Anda
jadi sesuatu yang sangat penting sehingga Anda harus terjun ke dunia seni untuk
pembuktian diri?

Nggak ada. Justru awalnya saya tidak mau ke dunia seni.
Apalagi tipikal orang Indonesia
itu selalu membanding-bandingkan misalnya, orangtua dengan anaknya. Saya sangat
tidak suka itu. Karena tiap orang punya jalannya masing-masing. Kebetulan
memang saya sejak kecil lingkungannya begitu. Tapi, ayah saya tidak
mengharuskan anaknya jadi seniman. Dia Cuma berpikir, kamu harus punya
pendidikan. Setelah itu mau jadi apa, terserah. Tapi jadi orang benar. Karena
ayah saya punya prinsip, setiap punya sesuatu, let say di kantor, ya harus punya tanggung jawab. Kerja yang benar!
Lingkungan keluarga memang berpengaruh, mau tidak mau masuk di kepala. Akhirnya
saya suka seni. Tapi bukan jaminan, punya keluarga seni, pasti jadi seniman.

Anda tidak suka
dibanding-bandingkan dengan sosok Idris Sardi?

Orang punya kebebasan untuk membandingkan saya dengan
dia. Tapi, saya tidak suka. Ngapain sih?
Tiap orang kan
punya ini masing-masing. Kadang-kadang, ada orang yang bilang, ‘Kenapa lo nggak
di musik? Karena takut dibandingin ya?’ Bukan karena itu juga. Saya lebih ke
film. Musik, hobi. Tapi saya tidak merasa itu jadi dunia saya.

Seberapa sering
Anda dibandingkan dengan Idris Sardi?

Kadang-kadang sering juga. Saya baru mengalaminya
beberapa hari yang lalu. Waktu syuting di salah satu stasiun TV. Menurut saya,
orang ini—saya tidak bisa menyebutkan nama—yang sudah terpandang. Seharusnya,
dari dia tidak keluar kata-kata itu. Jadi, waktu itu taping di TV dengan
orang-orang yang sudah lama di TV. Itu berbeda dengan syuting film. Saya orang
baru. Ada satu
adegan yang mengharuskan saya menyesuaikan dengan musiknya. Di belakang saya
ada penari. Saya masih bingung. Tiba-tiba, orang itu bilang, ‘Gue pikir lo
anaknya pemusik, tapi lo nggak tau musik!’ Nah, itu menurut saya tidak baik.
Dia orang terpandang, kok bisa bicara begitu? Dia tidak tahu situasi saya yang
sedang berusaha menyesuaikan. Itu sesuatu yang menggelikan buat saya. Terus
terang, saya agak tersinggung. Karena bukan berarti sekarang, misalnya ada anak
maling. Kamarnya terkunci, dan tidak bisa buka. Katanya anak maling, kok tidak
bisa buka kamar. Itu aneh. Menurut saya, tiap orang punya kelebihan dan
kekurangan masing-masing. Bukan berarti kalau ayah Anda kyai lantas tahu segala
sesuatu tentang agama.

Sempat ada
pikiran Anda menanggung beban sebagai anak Idris Sardi?

Awalnya ya. Cuma, habis itu, saya tidak ambil pusing.
Karena kalau terus begitu, nanti saya tidak maju. Sempat ada proses. Dulu
sempat sekolah musik, belajar biola. Jadi, ada beban sendiri. Tapi itu justru
menghambat saya. Jadi, saya tidak bisa lepas untuk melakukan sesuatu. Akhirnya,
saya ambil sisi postistifnya. Ini saya. Anda tidak bisa samakan saya dengan
Idris Sardi. Tapi, kadang-kadang menyenangkan juga. Jadi anak orang yang
dikenal. Misalnya, ada beberapa fasilitas yang didapat. Masing-masing ada sisi
menyenangkan dan tidak. Saya ambil saja jalan tengahnya. Saya jadi diri saya
sendiri. Apapun yang orang katakan.

Main film untuk
apa?

Pertama, sudah pasti, mencari pekerjaan selain untuk
menafkahi diri sendiri, tapi juga harus cari kepuasan batin. Yang paling
penting, sebenarnya saya mendapat kepuasan batin dari itu. Kalau dalam film pun
begitu. Misalnya, ada satu situasi, yang budget-nya tidak terlalu besar, tapi
saya nyaman sekali di sana,
ceritanya bagus, buat saya justru tidak masalah. Kepuasan batin yang saya cari.
Buat apa harus capek, tapi saya tidak puas?

Arti seni buat
Anda?

Keindahan. Saya selalu mencari keindahan lewat seni. Karena
menurut saya, seni itu datangnya dari rasa. Melukis dari rasa. Main film dari
rasa. Main musik dari apa yang Anda rasakan. Semua itu keluar dari rasa.
Datangnya dari Tuhan. Semua indah. Walaupun rasa marah.

Di antara semua
karakter yang pernah Anda mainkan, mana yang jadi favorit Anda?

Semuanya favorit. Karena saya merasakan sesuatu yang
berbeda. Di “Gie”, saya memerankan orang yang masih hidup. Mau tidak mau,
auranya harus sampai. “9 Naga”, itu berbeda perannya dengan karakter
sebelumnya. Terus masuk “Berbagi Suami”. Masuk lagi “Jakarta Undercover”. Keuntungannya,
saya selalu dapat peran yang selalu berbeda.

Apa rasanya punya
keluarga besar?

Senang. Karena banyak saudara. Akhirnya teman-teman
saya bilang, ‘Lukman mah saudaranya se-Jakarta. Jalan ke sini saudara. Jalan ke
sana saudara.’
Hubungan saya dengan keluarga yang lain, baik. Oke sisi jeleknya, kawin cerai.
Tapi sisi positifnya, banyak yang sayang saya. Sampai ada yang bilang, ‘Man
kalau menikah di lapangan bola saja. [tertawa].

Lukman Sardi: “Anda Tidak Bisa Samakan Saya dengan Idris Sardi!”

Buat yang belum tau siapa Lukman Sardi, dia pernah jadi salah satu teman kampus Gie, pembunuh bayaran di Sembilan Naga, dan sopir beristri banyak di Berbagi Suami. Wawancara ini dimuat di edisi kedua majalah kami. Untuk rubrik 20Q. Ini versi yang belum diedit.


Bisa cerita soal Piala Citra yang Anda dapat waktu kecil?

Bukan Piala Citra namanya, tapi Piala Kartini. Sama seperti Piala Citra, tapi untuk anak-anak. Filmnya, “Pengemis dan Tukang Becak” tahun ’79, umur saya tujuh tahun. Tapi, film layar lebar pertama saya, “Kembang-Kembang Plastik” karya Wim Umboh. Jadi, waktu kecil, film saya selain dua tadi, ada “Anak-Anak Tak Beribu”, “Cubit-Cubitan”, “Gema Hati Bernyanyi”, “Beningnya Hati Seorang Gadis”, “Laki-Laki Dalam Pelukan” dan film terakhir yang saya mainkan waktu remaja, “Bermain Drama”.

Bagaimana perasaan Anda waktu dapat Piala Kartini?
Wah, saya belum punya perasaan apa-apa. Saya senang bisa naik panggung, tapi belum punya perasaan yang waah bagaimana. Karena anak umur segitu, belum punya pikiran soal penghargaan atas karya.

Apa arti piala itu bagi Lukman Sardi kecil?
Dulu sih belum terlalu memikirkan yang aneh-aneh.

Bagaimana ceritanya bisa main film?
Ayah saya memang lingkungannya di sana. Dan kebetulan Om Wim Umboh mencari pemain kecil buat film barunya, “Kembang-Kembang Plastik”. Dia mengajak saya bermain kepada ayah. Waktu itu saya belum mengerti konsep tentang main film. Cuma, ‘kamu entar begini ya, begini ya’. Saya tahu ada kamera, tapi namanya anak kecil ya jalan aja.

Ke mana saja Anda, kok baru umur 30-an muncul lagi?
Saya kuliah dan sempat kerja di beberapa tempat. Terakhir sempat kerja di playgroup jadi manajer taman bermain. Saya suka film, suka dunia akting, tapi belum terlalu punya keyakinan kalau saya bakal di situ. Pokoknya, saya mencari. Sebenarnya waktu kuliah, Mbak Mira Lesmana pernah ngajak main sinetron. Saya merasa kalau film benar-benar dunia saya, tahun 2000 waktu diajak Persari Film, main sinetron “Cinta yang Kumau” dan “Kawin Lari”. Langsung dapat peran utama. Nah, di situ saya mulai merasa kalau ini dunia saya. Begitu mulai fokus, habis itu saya main film “Gie”. Sekitar empat belas tahun, saya mencari. Nah, waktu tahun 2000 itu, saya mulai merasa nyaman. Akhirnya, oh ini dia nih pekerjaan yang saya cintai. Ternyata begitu fokus dijalani, memang benar. Dan jalannya semakin terbuka.

Kenapa butuh belasan tahun untuk yakin?
Pada prinsipnya, saya mencari pekerjaan yang nyaman dan saya cintai. Saya tidak mau bekerja di tempat yang saya sendiri tersiksa.. Saya terus mencari. Sebenarnya, waktu di playgroup saya menemukan kesenangan tersendiri batin saya. Karena saya suka anak kecil. Tapi, karena latar pendidikan saya bukan di sana, sepertinya tidak akan berkembang. Dan ternyata memang saya tidak bisa lari dari rasa keinginan saya untuk di film. Tadinya, saya pikir karena orangtua saya selalu di sana, saya akan berbeda.

Dari sekian banyak profesi, bintang film yang paling nyaman buat Anda?
Dan saya sudah merasa nyaman sekali. Walaupun harus syuting berjam-jam yang melelahkan, mungkin secara fisik lelah, tapi saya puas.

Ayah Anda kawin cerai, bagaimana itu mempengaruhi kejiwaan Anda?
Mungkin awalnya, waktu saya masih di Sekolah Dasar, itu pengaruhnya terasa. Anak umur segitu kan, pikirannya masih ingin main-main. Tapi, saya harus menghadapi pemberitaan di majalah ini, koran ini. Orang ini bicara soal perceraian ayah saya. Pengaruhnya lebih ke positif. Saya jadi mandiri. Tidak tergantung orang lain. Waktu itu saya sempat mengalami, tidak sempat ke mana-mana. Pulang sekolah langsung ke rumah. Tiba-tiba di depan sekolah, sudah ada wartawan. Bisa begitu. Akhirnya, saya main sendiri, melakukan semuanya sendiri. Itu sisi positifnya. Proses perceraian ayah saya yang kedua, sudah tidak terlalu berdampak besar. Walaupun ada perasaan kecewa. Kenapa juga sembilan beas tahun menikah, harus bercerai? Saya melihatnya, itu sebagai jalan hidup.

Masih percaya pada lembaga pernikahan?
Saya tetap percaya. Tapi mungkin lebih berhati-hati. Tidak segampang orang yang, yuk nikah. Saya hanya menghindari hal itu terjadi. Saya tidak mau kalau sampai bercerai. Efek terbesarnya pada anak.

Apakah Anda tipe penakluk perempuan?
Tidak tahu ya. Saya cuma suka keindahan. Perempuan cantik, siapa sih yang tidak suka? Saya tidak munafik. Yang namanya laki-laki, walaupun sudah punya pasangan, pasti ada perasaan-perasaaan mau deh. Sejauh ini sih, memang selalu dapat perempuan yang saya inginkan. Walaupun kadang-kadang miss juga. [tertawa]. Kadang-kadang ditolak juga.

Ada pengaruh dari ayah Anda dalam hal berhadapan dengan perempuan?
Jelas. Ayah saya selalu berpesan, untuk menghormati perempuan. Ayah saya romantis sekali, selain keras. Dia suka melakukan hal-hal romantis terhadap istrinya, di depan anak-anaknya. Itu berpengaruh sekali. Misalnya, dia mau pergi. Mama belum bangun. Dia cari bunga. Dia tulis surat. Ditaruhnya itu surat di samping mama. Dia tulis sesuatu yang indah. Dan saya melihat dari itu, akhirnya kebawa. Saya jadi suka melakukan hal-hal seperti itu. Untuk menimbulkan gairah-gairah lagi dalam hubungan.

Seberapa mirip Anda dengan Idris Sardi?
Soal romantisnya mungkin ya. Dan satu lagi yang sebenarnya saya hindari, tapi ternyata tidak bisa juga. Saya kadang-kadang keras kepala. Apalagi untuk hal-hal yang menurut saya prinsip. Tapi, kadang-kadang baru belakangan saya sadar kalau saya salah. Bedanya, kalau ayah saya sadar dia salah, dia ubah dari sikapnya. Kalau saya, bisa mengakui kalau saya salah.

Bagaimana seorang Idris Sardi mendidik anak-anaknya?
Sama seperti orangtua lain. Tapi dia disiplin. Itu yang paling saya lihat. Kalau kita benar mengerjakannya, pasti rejeki jalan terus. Apalagi dunia film. Kecil sekali. Kalau syuting di sini ngaco. Di produksi sana, ketika ada yang mengajak main, nanti ada kru yang bilang, ‘Jangan deh jangan. Payah orangnya.’

Anda jadi pembunuh bayaran yang menyayangi keluarganya di “9 Naga”, bagaimana Anda memandang karakter itu?
Ada. Dia bisa saja terbentuk seperti itu karena tuntutan ekonomi. Pada dasarnya, dia ingin menghidupi keluarganya. Tapi, karena pekerjaannya seperti itu. Dia tidak bisa mengeluarkan emosinya.

Mendalami karakternya?
Workshop. Saya tanya orang-orang. Saya tonton film-film seperti The Godfather. Juga saya tidak menonton TV. Saya Cuma berusaha ngobrol dengan orang-orang di sekitar saya. Bayangkan rasanya sebulan tidak nonton TV. Sampai ada satu hari, ketika saya merasa kalau tidak keluar dari sana, saya akan bego. Dan yang lebih gilanya lagi, seminggu setelah “9 Naga” selesai, masuk “Berbagi Suami”. Saya harus hancurkan karakter sebelumnya. Alhamdulillah cukup berhasil.

Anda percaya kalau semua yang dilakukan laki-laki akhirnya untuk perempuan juga?
Itu saya percaya. Rata-rata akhirnya larinya ke situ kan. Misalnya, ada orang yang tega merampok, nyari uang untuk kawin. Buat siapa? Perempuan kan? Ujungnya larinya ke situ kebanyakan.

Berarti benar, laki-laki yang dijajah perempuan?
Ah itu terserah masing-masing. Merasa dijajah tidak? [tertawa]. Sebenarnya, jaman dulu kita dijajah Belanda.

Pandangan Anda terhadap poligami?
Tidak penting. Dalam arti begini, Anda bayangkan. Kita boleh punya istri lebih dari satu. Tapi, syaratnya, Anda harus punya perasaan yang sama dan menafkahinya dengan sama. Kalau secara materi, Anda bisa cari. Tapi, apakah secara perasaan Anda bisa sama? Jaman dulu kan, Nabi mengawini perempuan yang karena janda perang. Sekarang, pasti karena melihat yang lebih cantik. Terus, mengatasnamakan daripada berjinah mending kawin lagi. Sebenarnya, poligami itu susah buat laki-laki. Kita harus mencari nafkah lebih banyak daripada orang yang punya istri satu. Sekaya-kayanya orang, pasti repot juga. Apalagi buat perempuannya. Korban perasaan. Jadi, menurut saya, poligami tidak ada sisi positifnya.

Percayakah Anda pada laki-laki yang berpoligami yang mengatakan bisa adil terhadap istri-istrinya?
Wah itu urusan mereka lah. Saya tidak mau bilang percaya atau tidak. Dia merasa sanggup. Saya tidak akan pernah bilang, Anda jangan poligami. Kalau dia sanggup, silakan. Itu urusan dia, istrinya dan Tuhan.

Katanya Anda punya obsesi untuk membuat pertunjukkan musik yang menggambarkan perjalanan film Indonesia.
Wah, tahu dari mana? Itu cita-cita saya sejak dulu. Cuma belum kesampaian. Terlalu mahal mungkin. Saya membutuhkan orang-orang yang secara finansial. Ini belum tentu menguntungkan. Orangnya harus mau capek. Soalnya, harus mencari arsip lagu-lagu dari film jaman dulu. Dan saya belum menemukan orang yang bisa bekerjasama untuk itu. Itu penting. Saya Cuma ingin tahu, perkembangan musik dan film itu seperti apa? Maju atau mundur? Biar orang menilai sendiri. Bayangan saya, pertunjukkannya itu di hanggar pesawat, Halim Perdanakusumah lah. Dari suasana masuk ke sana, sudah berbeda. Ingin buat kesan Indonesia jaman dulu. Konsepnya tuh besar sekali. Dan kontinyu, musiknya tanpa ada MC. Beres satu band langsung band lain bermain. Bisa dibayangkan berapa biayanya? Saya belum menemukan partner yang mau banting tulang. Saya Cuma ingin menunjukkan kalau Indonesia punya seniman-seniman yang bagus. Saya ingin anak-anak sekarang juga tahu. Jangan cuma musisi dari luar saja mereka tahu. Itu bisa menambah wawasan baru.

Anda bermain juga di Jakarta Undercover, apakah dalam kehidupan nyata, Anda akrab dengan dunia seperti itu?
Saya suka jalan-jalan di klub. Mabuk iya. Hancur-hancuran begitu, saya juga merasakan. Saya pernah nonton striptease, tapi bukan yang aneh-aneh. Saya tahu kehidupan malam Jakarta. Waktu saya masuk di “Jakarta Undercover” jadinya sudah pernah tahu. Paling, saya observasi. Karena ada beberapa klub di film itu yang ada hubungannya dengan klub-klub banci. Saya belum pernah ke klub homo dan klub banci. Makanya, observasi.

Anda homophobic atau banciphobic?
Oh tidak. Tapi, saya terus terang saja. Takut banci Taman Lawang. Pernah punya pengalaman buruk. Satu waktu, ketika lewat di Taman Lawang, seorang banci tiba-tiba masuk mobil teman saya. Karena kami baik, ya sudah kami ajak muter-muter. Tiba-tiba dia minta duit. Padahal kami tidak ngapa-ngapain. Begitu kami tidak kasih, dia mengancam mau menghancurkan kaca pakai sepatu. Itu membuat saya takut. Tampilan sih, tidak membuat saya takut. Sekarang, kalau lewat ke sana, suka teringat lagi. Makanya, saya malas lewat Taman Lawang. Kalau sedang macet tiba-tiba ada banci yang masuk lagi, bagaimana? Tidak tahu tuh banci masih ada di sana atau tidak. Yang jelas, saya masih ingat mukanya.

Ayah Anda pernah menyuruh Anda belajar memainkan biola?

Dia tidak pernah memaksakan. Waktu saya mau belajar main biola pun, saya yang mau sendiri. Tapi, dia kan perfeksionis dan disiplin, karena itu pilihan saya, dia akan membuat saya jadi yang terbaik. Karena itu pilihan saya, maka saya tidak boleh setengah-setengah. Seperti saya di film, jadi yang bagus beneran. Jangan setengah-setengah. Makanya, waktu belajar biola, gemblengannya gila-gilaan. Jam lima pagi, saya main biola setengah jam. Sore, baru saya belajar notasi. Kalaupun dia tidak ada, saya disuruh merekam. Malamnya, dia cek.

Gambarkan sosok Idris Sardi dalam satu kalimat!

Dia orang yang perfeksionis sekali. Itu sudah bisa menggambarkan semuanya.

Bagaimana rasanya hidup di keluarga yang besar dengan seni, apakah seni di keluarga besar Anda jadi sesuatu yang sangat penting sehingga Anda harus terjun ke dunia seni untuk pembuktian diri?
Nggak ada. Justru awalnya saya tidak mau ke dunia seni. Apalagi tipikal orang Indonesia itu selalu membanding-bandingkan misalnya, orangtua dengan anaknya. Saya sangat tidak suka itu. Karena tiap orang punya jalannya masing-masing. Kebetulan memang saya sejak kecil lingkungannya begitu. Tapi, ayah saya tidak mengharuskan anaknya jadi seniman. Dia Cuma berpikir, kamu harus punya pendidikan. Setelah itu mau jadi apa, terserah. Tapi jadi orang benar. Karena ayah saya punya prinsip, setiap punya sesuatu, let say di kantor, ya harus punya tanggung jawab. Kerja yang benar! Lingkungan keluarga memang berpengaruh, mau tidak mau masuk di kepala. Akhirnya saya suka seni. Tapi bukan jaminan, punya keluarga seni, pasti jadi seniman.

Anda tidak suka dibanding-bandingkan dengan sosok Idris Sardi?
Orang punya kebebasan untuk membandingkan saya dengan dia. Tapi, saya tidak suka. Ngapain sih? Tiap orang kan punya ini masing-masing. Kadang-kadang, ada orang yang bilang, ‘Kenapa lo nggak di musik? Karena takut dibandingin ya?’ Bukan karena itu juga. Saya lebih ke film. Musik, hobi. Tapi saya tidak merasa itu jadi dunia saya.

Seberapa sering Anda dibandingkan dengan Idris Sardi?
Kadang-kadang sering juga. Saya baru mengalaminya beberapa hari yang lalu. Waktu syuting di salah satu stasiun TV. Menurut saya, orang ini—saya tidak bisa menyebutkan nama—yang sudah terpandang. Seharusnya, dari dia tidak keluar kata-kata itu. Jadi, waktu itu taping di TV dengan orang-orang yang sudah lama di TV. Itu berbeda dengan syuting film. Saya orang baru. Ada satu adegan yang mengharuskan saya menyesuaikan dengan musiknya. Di belakang saya ada penari. Saya masih bingung. Tiba-tiba, orang itu bilang, ‘Gue pikir lo anaknya pemusik, tapi lo nggak tau musik!’ Nah, itu menurut saya tidak baik. Dia orang terpandang, kok bisa bicara begitu? Dia tidak tahu situasi saya yang sedang berusaha menyesuaikan. Itu sesuatu yang menggelikan buat saya. Terus terang, saya agak tersinggung. Karena bukan berarti sekarang, misalnya ada anak maling. Kamarnya terkunci, dan tidak bisa buka. Katanya anak maling, kok tidak bisa buka kamar. Itu aneh. Menurut saya, tiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. Bukan berarti kalau ayah Anda kyai lantas tahu segala sesuatu tentang agama.

Sempat ada pikiran Anda menanggung beban sebagai anak Idris Sardi?
Awalnya ya. Cuma, habis itu, saya tidak ambil pusing. Karena kalau terus begitu, nanti saya tidak maju. Sempat ada proses. Dulu sempat sekolah musik, belajar biola. Jadi, ada beban sendiri. Tapi itu justru menghambat saya. Jadi, saya tidak bisa lepas untuk melakukan sesuatu. Akhirnya, saya ambil sisi postistifnya. Ini saya. Anda tidak bisa samakan saya dengan Idris Sardi. Tapi, kadang-kadang menyenangkan juga. Jadi anak orang yang dikenal. Misalnya, ada beberapa fasilitas yang didapat. Masing-masing ada sisi menyenangkan dan tidak. Saya ambil saja jalan tengahnya. Saya jadi diri saya sendiri. Apapun yang orang katakan.

Main film untuk apa?
Pertama, sudah pasti, mencari pekerjaan selain untuk menafkahi diri sendiri, tapi juga harus cari kepuasan batin. Yang paling penting, sebenarnya saya mendapat kepuasan batin dari itu. Kalau dalam film pun begitu. Misalnya, ada satu situasi, yang budget-nya tidak terlalu besar, tapi saya nyaman sekali di sana, ceritanya bagus, buat saya justru tidak masalah. Kepuasan batin yang saya cari. Buat apa harus capek, tapi saya tidak puas?

Arti seni buat Anda?
Keindahan. Saya selalu mencari keindahan lewat seni. Karena menurut saya, seni itu datangnya dari rasa. Melukis dari rasa. Main film dari rasa. Main musik dari apa yang Anda rasakan. Semua itu keluar dari rasa. Datangnya dari Tuhan. Semua indah. Walaupun rasa marah.

Di antara semua karakter yang pernah Anda mainkan, mana yang jadi favorit Anda?
Semuanya favorit. Karena saya merasakan sesuatu yang berbeda. Di “Gie”, saya memerankan orang yang masih hidup. Mau tidak mau, auranya harus sampai. “9 Naga”, itu berbeda perannya dengan karakter sebelumnya. Terus masuk “Berbagi Suami”. Masuk lagi “Jakarta Undercover”. Keuntungannya, saya selalu dapat peran yang selalu berbeda.

Apa rasanya punya keluarga besar?
Senang. Karena banyak saudara. Akhirnya teman-teman saya bilang, ‘Lukman mah saudaranya se-Jakarta. Jalan ke sini saudara. Jalan ke sana saudara.’ Hubungan saya dengan keluarga yang lain, baik. Oke sisi jeleknya, kawin cerai. Tapi sisi positifnya, banyak yang sayang saya. Sampai ada yang bilang, ‘Man kalau menikah di lapangan bola saja. [tertawa].

John Paul Ivan: “Walaupun Tanpa Boomerang, Aku Harus Bangkit Kembali!”

Akhir
Juli lalu, John Paul Ivan, eks gitaris Boomerang, memberi kabar soal
band barunya. Minta dipromosikan di majalah kami. Hasilnya, Selasa
[1/8] dia datang ke kantor. Sendirian. Dan ini petikan wawancaranya.

Bagaimana ceritanya bisa gabung ke U9?

Aku keluar Boomerang, 12 Juni
2005. Tapi sebelum keluar, sudah nge-jam dengan banyak musisi. Dulu sih niatnya
pengin bikin album solo. Aku waktu itu udah manggung ke mana-mana, dengan John
Paul Ivan Trio. Kami maenin lagu yang menurut kami enak. Pokoknya lagunya
disesuaikan dengan segmen pendengarnya. Nopember, Log nelepon Aku. ‘Gimana nih,
ada band U9 yang juara festival. Dia mau rekaman untuk album kedua.’ Waktu itu
aku mikir, boleh tapi cuma featuring aja. Terus, Log nawarin, ‘Wah jangan
featuring, kalau mau, gabung saja.’ Soalnya satu gitaris U9, keluar. Dan kenapa
Aku yang ditawarin? Agustus 2005 Aku ditawari jadi juri festival rock-nya Log.
Bintang tamunya kebanyakan U9. Selain jadi juri, aku nge-jam juga bareng mereka.
Waktu itu masih bawain lagu Boomerang. Akhirnya aku putuskan gabung setelah
ngobrol panjang dengan Log. Desember Aku putuskan terima. Kami jalani saja. Di
sini tidak ada ikatan atau gimana. Kita lihat saja album ini nanti bagaimana.

Percobaan?

Bukan percobaan juga sih. Hanya,
kami nggak bisa menjanjikan. Yang penting komitmennya. Aku harus jadi musisi
yang professional. Januari langsung rekaman. Karena materi mereka sudah siap.
Nopember dikasih demo U9. Mungkin karena dari materi juga, Aku merasa bisa
melebur. Bisa memberi enerji. Materi lagunya bagus-bagus. Sesuai dengan umur
mereka. Segmennya untuk remaja. Dan Aku lihat dari sisi komersil, mereka punya
potensi. Walaupun dibalut dengan rock.

Beda berapa tahun usia Anda dengan mereka?

Satu dekade. [tertawa].

Bertahun-tahun main dengan yang seumuran

Beda sekali. Memang kerasa
bedanya. Tapi Aku sudah komit. Aku harus jadi seorang yang professional. Itu
harus disisihkan. Melebur saja. Aku harus masuk ke dunianya mereka. Jaman-jaman
umur 24 itu bagaimana. Tapi memang beda, kalau jaman Aku dan anak sekarang,
cara pandangnya beda.

Chemistry?

Sejauh ini sih nggak apa-apa. Aku
sih gampang saja. Yang penting, di band begini, kita harus bersikap
professional.

Musikalitas?

Mereka bagus-bagus.

Referensinya kan
berbeda

Ya memang, mereka berkembang di
jamannya. Cuma buat Aku, itu bagian dari masukan, input. Taman
ilmu lah. Soalnya Aku tidak mau mematok Aku begini kamu begitu. Makanya, itu
meleburnya. Talent mereka bagus-bagus. Dari semua lini. Gitar, drum, bass.

Bagaimana rasanya keluar dari band yang sudah besar ke band yang masih
baru?

Ya ini resiko yang Aku harus
jalani. Dulu keluar dari Boomerang sudah dipikirkan matang-matang. Aku
keluar
dari yang menghidupi Aku. Istilahnya rejekinya ditinggalin begitu saja.
Tapi ya
itu konsekuensi. Walaupun tanpa Boomerang, Aku harus bangkit kembali.
Meskipun dari nol lagi. Bergerilya lagi. Berpromo lagi. Nggak apa-apa.
Aku
menjalaninya dengan enak. Hidup punya rotasi. Kadang di atas, kadang di
bawah.
Bagaimana kita menjalaninya. Yang penting dengan senang.

Pernah terpikir tidak, kalau Log memanfaatkan nama besar Anda untuk
mendongkrak U9?

Semua ada alasan dan strateginya.
Memang tidak dipungkiri, istilahnya semua ada alasan bisnis di balik itu. Nggak
usah jadi orang munafik. Yang penting menyelaraskan dari
kepentingan-kepentingan itu. Jiwa Aku memang jiwa player. Lebih suka main
daripada duduk di belakang meja. Makanya Aku terima ini. Karena dengan berbagai
pertimbangan. Memang tidak bisa secepat yang diharapkan. Itu nanti akan
berjalan dengan sendirinya. Yang penting kita jalani dengan benar.

Ketika keluar dari Boomerang, pasti mencari sesuatu. Apakah yang dicari
sudah didapat di U9?

Beda mungkin ya jaman dulu dengan
sekarang. Aku harus jadi sosok yang professional saja sekarang. Ingin main
musik dengan suasana yang enak, tenang dengan kondisi yang professional. Kalau
jaman saya keluar dari Boomerang, ya karena memang nggak enak. [tertawa].

Apanya yang tidak enak?

Mungkin visinya. Akunya yang
stress. Mendingan aku keluar.

Sudah tidak nyaman ketika menggarap Urbanoustic?

Dibilang tidak nyaman juga, tapi
ada lagu-lagu yang bagus. Waktu itu, aku ya sudah. Jadi seorang yang
professional saja. Aku main all out. Semua yang aku rasakan, ditumpahkan di sana. Meskipun kondisinya
secara jujur sudah tidak dapet. Konsep album itu, nggak dapet. Puncaknya
Boomearang, ada di Extravaganza dan Terapi Visi. Nah yang Urbanoustic, aku juga
mencurahkan, Cuma soal konsep, nggak dapet. Mungkin itu sudah tidak nyambungnya
pikiran kami berempat.

Pengaruh ganti label mungkin?

Sebenarnya bukan pengaruh dari
label juga. Itu memang kondisi dari kami. Sony membebaskan kami. Memang kaminya
yang tidak nyambung.

Apakah akan berbeda kondisinya seandainya sesudah Terapi Visi kalian
rehat dulu? Mungkin karena jenuh.

Kejenuhan mungkin ada. Tapi kalau
dari kita yang mau hidup dari musik, itu harus diatur. Ini visinya yang tidak
sama. Kami mau bikin Boomerang yang enak itu bagaimana? Itu yang nggak
nyambung.

Puncaknya apa yang bikin Anda
keluar?

Pertimbangannya banyak.
Sebenarnya dari album Terapi Visi itu sudah mulai. Cuma semangat aku yang kuat,
jadi tidak terlalu menggubris itu. percik-perciknya sudah ada memang. Tidak
bisa segila dulu. Tapi aku sudah hilangkan, soalnya aku mau konsentrasi ke Terapi
Visi. Nah menjelang Urbanoustic, suasananya tambah tidak bagus. Akhirnya aku
udah ancang-ancang.

Soal visi, berarti yang bertiga memang satu visi?

Aku nggak ngerti apa yang ada di
kepala mereka. Mungkin mereka udah no big deal dengan kondisi itu. Mereka juga
sebenarnya ngerti harus bagaimana, tapi ya udahlah. Atau mungkin mereka punya
pandangan ke depan. Cuma ya gitu, nggak bisa direalisasikan. Nggak nyambung.

Waktu di Soundrenaline tahun lalu, Anda main di mana-mana. Seperti
orang yang baru putus. Ada yang manis, langsung didekati.

Itu pandangan orang saja. Kenapa
saya begitu? Hanya ingin menjaga eksistensi aku sebagai player. Kalau lama
diam, nggak baik buat aku. Selain butuh penyaluran, aku butuh proses
pembelajaran, makanya manggung. Kalau aku berhenti main, itu namanya kemunduran
buat aku. Makanya aku nggak lihat omongan orang. Ada tawaran, aku terima. Atau aku menawarkan,
eh kita bikin kolaborasi.

Bagaimana peran Anda di album ini?

Aku lebih banyak sebagai player
saja. Lebih gitaris yang memberi sentuhan. Bukan sebagai komposer.

Kasarnya sih, ego gitaris Anda masih tersalurkan.

Masih. Ada part-part tertentu yang bisa aku
curahkan. Istilahnya, orang masih bisa dengar, oh ini gaya permainan Ivan. Kalau aku di sini nggak
dapat, masa aku bergabung. Pokoknya masih bisa menyalurkan hasrat. [tertawa].

Keinginan membuat album solo masih ada?

Masih. Tapi lihat situasi kondisi
dulu. Industri musik Indonesia
masih nggak karuan. Bukan soal bakat orang. Cuma pelaku bisnisnya, hukumnya.
Aku masih mikir, kalau bikin solo, yang beli siapa? Kalau sudah jadi, terus
nggak laku, ya malu. Pasarnya tuh susah untuk nerima sesuatu yang lain.
Hukumnya juga masih belum beres. Orang tinggal download-download saja.

Atau karena album solo gitaris susah dijual?

Oh itu pasti. Segmennya kecil
sekali. Cuma soal hak cipta juga masih belum beres. Bajakan masih ada.
Akhirnya, mana yang prioritas utama lebih enak. Itu nanti lah, album solo sih,
side project. Kalau memang sudah ada waktu luang yang enak. Mood-nya dapet.

Memangnya, seberapa penting pertimbangan komersil buat Anda dalam
membuat karya?

Kalau aku sih, selaras. Kita bisa
mengeluarkan idealisme, juga komersialitasnya. Kalau terlalu komersil, nanti
hilang esensi bermusiknya. Atau sebaliknya. Yang penting balance.

Sekarang kan
diberi embel-embel U9 di belakang nama Anda. Ivan U9. Bagaimana perasaan Anda?

Memang harus begitu [tertawa].
Ini sebenarnya kan
dari orang. Bukan dari akunya. Kalau dari aku, nama ya tetep nama sendiri.
Soalnya, mau nggak mau begini. Kondisi di U9 ini memang bukan band yang
dibentuk dari awal. Aku masuk dengan adanya pertimbangan-pertimbangan. Ya mau
nggak mau seperti ini. Mau diapain? [tertawa] Jalanin saja.

Tapi bukan langkah putus asa kan
gabung di U9?

Bukan begitu. Ini masih awal. Aku
juga belum tahu, nantinya bagaimana. Yang penting sekarang komit. Kami
sama-sama membangun. Kami jalani dari awal. Yang penting niatnya dulu.

Yang menyenangkan bekerja dengan anak-anak U9 ini apa?

Bedanya begini. Band yang sudah
besar dengan band yang masih baru, perbedaannya adalah semangat. Mereka
semangatnya masih tinggi. Ingin cepat dikenal orang. Band yang sudah di atas,
biasanya penyakitnya begitu. Karena keenaknya sudah didapat. Semangat itu sudah
menurun. Mau bagaimana? Mau terus more more more! Utak-atik band ini, atau Cuma
ya udah sampai sini saja. Tinggal main. Tidak ada semangat yang lebih.

Penilaian Anda soal dua gitaris baru Boomerang?

Si Andri eks gitaris Power
Slaves, aku bilang bagus. Bisa kasih sesuatu yang fresh. Cuma Boomerang-nya
yang tidak bisa menunjang. Tidak bisa mengimbangi si Andri. Stuck di situ saja.
Sayang. Harusnya berubah lagi. Bukan jadi band yang lain. Tapi harus dipupuk
lagi. Kalau gitaris yang satu lagi, masih additional.

Berat tidak meninggalkan band yang dirintis sejak awal?

Sangat berat. Aku memikirkannya
benar-benar. Ini band yang aku mauin. Jiwa aku di situ. Tapi ternyata, malah
aku sendiri yang meninggalkan.

Komentar orang-orang terdekat Anda?

Pasti banyak yang menyayangkan.
Kenapa keluar? Harusnya kamunya yang mengubah. Apalagi komentar fans. Marah
semua. Tapi biarin saja. Mau ngomong apa saja.

Itu momen terberat Anda selama berkarir?

Istilahnya aku keluar dari
tambang emas. Orang pasti mikirnya, kok bodoh sekali. [tertawa].

John Paul Ivan: “Walaupun Tanpa Boomerang, Aku Harus Bangkit Kembali!”

Akhir Juli lalu, John Paul Ivan, eks gitaris Boomerang, memberi kabar soal band barunya. Minta dipromosikan di majalah kami. Hasilnya, Selasa [1/8] dia datang ke kantor. Sendirian. Dan ini petikan wawancaranya.

Bagaimana ceritanya bisa gabung ke U9?
Aku keluar Boomerang, 12 Juni 2005. Tapi sebelum keluar, sudah nge-jam dengan banyak musisi. Dulu sih niatnya pengin bikin album solo. Aku waktu itu udah manggung ke mana-mana, dengan John Paul Ivan Trio. Kami maenin lagu yang menurut kami enak. Pokoknya lagunya disesuaikan dengan segmen pendengarnya. Nopember, Log nelepon Aku. ‘Gimana nih, ada band U9 yang juara festival. Dia mau rekaman untuk album kedua.’ Waktu itu aku mikir, boleh tapi cuma featuring aja. Terus, Log nawarin, ‘Wah jangan featuring, kalau mau, gabung saja.’ Soalnya satu gitaris U9, keluar. Dan kenapa Aku yang ditawarin? Agustus 2005 Aku ditawari jadi juri festival rock-nya Log. Bintang tamunya kebanyakan U9. Selain jadi juri, aku nge-jam juga bareng mereka. Waktu itu masih bawain lagu Boomerang. Akhirnya aku putuskan gabung setelah ngobrol panjang dengan Log. Desember Aku putuskan terima. Kami jalani saja. Di sini tidak ada ikatan atau gimana. Kita lihat saja album ini nanti bagaimana.

Percobaan?
Bukan percobaan juga sih. Hanya, kami nggak bisa menjanjikan. Yang penting komitmennya. Aku harus jadi musisi yang professional. Januari langsung rekaman. Karena materi mereka sudah siap. Nopember dikasih demo U9. Mungkin karena dari materi juga, Aku merasa bisa melebur. Bisa memberi enerji. Materi lagunya bagus-bagus. Sesuai dengan umur mereka. Segmennya untuk remaja. Dan Aku lihat dari sisi komersil, mereka punya potensi. Walaupun dibalut dengan rock.

Beda berapa tahun usia Anda dengan mereka?
Satu dekade. [tertawa].

Bertahun-tahun main dengan yang seumuran
Beda sekali. Memang kerasa bedanya. Tapi Aku sudah komit. Aku harus jadi seorang yang professional. Itu harus disisihkan. Melebur saja. Aku harus masuk ke dunianya mereka. Jaman-jaman umur 24 itu bagaimana. Tapi memang beda, kalau jaman Aku dan anak sekarang, cara pandangnya beda.

Chemistry?
Sejauh ini sih nggak apa-apa. Aku sih gampang saja. Yang penting, di band begini, kita harus bersikap professional.

Musikalitas?
Mereka bagus-bagus.

Referensinya kan berbeda
Ya memang, mereka berkembang di jamannya. Cuma buat Aku, itu bagian dari masukan, input. Taman ilmu lah. Soalnya Aku tidak mau mematok Aku begini kamu begitu. Makanya, itu meleburnya. Talent mereka bagus-bagus. Dari semua lini. Gitar, drum, bass.

Bagaimana rasanya keluar dari band yang sudah besar ke band yang masih baru?
Ya ini resiko yang Aku harus jalani. Dulu keluar dari Boomerang sudah dipikirkan matang-matang. Aku keluar dari yang menghidupi Aku. Istilahnya rejekinya ditinggalin begitu saja. Tapi ya itu konsekuensi. Walaupun tanpa Boomerang, Aku harus bangkit kembali. Meskipun dari nol lagi. Bergerilya lagi. Berpromo lagi. Nggak apa-apa. Aku menjalaninya dengan enak. Hidup punya rotasi. Kadang di atas, kadang di bawah. Bagaimana kita menjalaninya. Yang penting dengan senang.

Pernah terpikir tidak, kalau Log memanfaatkan nama besar Anda untuk mendongkrak U9?
Semua ada alasan dan strateginya. Memang tidak dipungkiri, istilahnya semua ada alasan bisnis di balik itu. Nggak usah jadi orang munafik. Yang penting menyelaraskan dari kepentingan-kepentingan itu. Jiwa Aku memang jiwa player. Lebih suka main daripada duduk di belakang meja. Makanya Aku terima ini. Karena dengan berbagai pertimbangan. Memang tidak bisa secepat yang diharapkan. Itu nanti akan berjalan dengan sendirinya. Yang penting kita jalani dengan benar.

Ketika keluar dari Boomerang, pasti mencari sesuatu. Apakah yang dicari sudah didapat di U9?
Beda mungkin ya jaman dulu dengan sekarang. Aku harus jadi sosok yang professional saja sekarang. Ingin main musik dengan suasana yang enak, tenang dengan kondisi yang professional. Kalau jaman saya keluar dari Boomerang, ya karena memang nggak enak. [tertawa].

Apanya yang tidak enak?
Mungkin visinya. Akunya yang stress. Mendingan aku keluar.

Sudah tidak nyaman ketika menggarap Urbanoustic?
Dibilang tidak nyaman juga, tapi ada lagu-lagu yang bagus. Waktu itu, aku ya sudah. Jadi seorang yang professional saja. Aku main all out. Semua yang aku rasakan, ditumpahkan di sana. Meskipun kondisinya secara jujur sudah tidak dapet. Konsep album itu, nggak dapet. Puncaknya Boomearang, ada di Extravaganza dan Terapi Visi. Nah yang Urbanoustic, aku juga mencurahkan, Cuma soal konsep, nggak dapet. Mungkin itu sudah tidak nyambungnya pikiran kami berempat.

Pengaruh ganti label mungkin?
Sebenarnya bukan pengaruh dari label juga. Itu memang kondisi dari kami. Sony membebaskan kami. Memang kaminya yang tidak nyambung.

Apakah akan berbeda kondisinya seandainya sesudah Terapi Visi kalian rehat dulu? Mungkin karena jenuh.
Kejenuhan mungkin ada. Tapi kalau dari kita yang mau hidup dari musik, itu harus diatur. Ini visinya yang tidak sama. Kami mau bikin Boomerang yang enak itu bagaimana? Itu yang nggak nyambung.

Puncaknya apa yang bikin Anda keluar?
Pertimbangannya banyak. Sebenarnya dari album Terapi Visi itu sudah mulai. Cuma semangat aku yang kuat, jadi tidak terlalu menggubris itu. percik-perciknya sudah ada memang. Tidak bisa segila dulu. Tapi aku sudah hilangkan, soalnya aku mau konsentrasi ke Terapi Visi. Nah menjelang Urbanoustic, suasananya tambah tidak bagus. Akhirnya aku udah ancang-ancang.

Soal visi, berarti yang bertiga memang satu visi?
Aku nggak ngerti apa yang ada di kepala mereka. Mungkin mereka udah no big deal dengan kondisi itu. Mereka juga sebenarnya ngerti harus bagaimana, tapi ya udahlah. Atau mungkin mereka punya pandangan ke depan. Cuma ya gitu, nggak bisa direalisasikan. Nggak nyambung.

Waktu di Soundrenaline tahun lalu, Anda main di mana-mana. Seperti orang yang baru putus. Ada yang manis, langsung didekati.
Itu pandangan orang saja. Kenapa saya begitu? Hanya ingin menjaga eksistensi aku sebagai player. Kalau lama diam, nggak baik buat aku. Selain butuh penyaluran, aku butuh proses pembelajaran, makanya manggung. Kalau aku berhenti main, itu namanya kemunduran buat aku. Makanya aku nggak lihat omongan orang. Ada tawaran, aku terima. Atau aku menawarkan, eh kita bikin kolaborasi.

Bagaimana peran Anda di album ini?
Aku lebih banyak sebagai player saja. Lebih gitaris yang memberi sentuhan. Bukan sebagai komposer.

Kasarnya sih, ego gitaris Anda masih tersalurkan.
Masih. Ada part-part tertentu yang bisa aku curahkan. Istilahnya, orang masih bisa dengar, oh ini gaya permainan Ivan. Kalau aku di sini nggak dapat, masa aku bergabung. Pokoknya masih bisa menyalurkan hasrat. [tertawa].

Keinginan membuat album solo masih ada?
Masih. Tapi lihat situasi kondisi dulu. Industri musik Indonesia masih nggak karuan. Bukan soal bakat orang. Cuma pelaku bisnisnya, hukumnya. Aku masih mikir, kalau bikin solo, yang beli siapa? Kalau sudah jadi, terus nggak laku, ya malu. Pasarnya tuh susah untuk nerima sesuatu yang lain. Hukumnya juga masih belum beres. Orang tinggal download-download saja.

Atau karena album solo gitaris susah dijual?
Oh itu pasti. Segmennya kecil sekali. Cuma soal hak cipta juga masih belum beres. Bajakan masih ada. Akhirnya, mana yang prioritas utama lebih enak. Itu nanti lah, album solo sih, side project. Kalau memang sudah ada waktu luang yang enak. Mood-nya dapet.

Memangnya, seberapa penting pertimbangan komersil buat Anda dalam membuat karya?
Kalau aku sih, selaras. Kita bisa mengeluarkan idealisme, juga komersialitasnya. Kalau terlalu komersil, nanti hilang esensi bermusiknya. Atau sebaliknya. Yang penting balance.

Sekarang kan diberi embel-embel U9 di belakang nama Anda. Ivan U9. Bagaimana perasaan Anda?
Memang harus begitu [tertawa]. Ini sebenarnya kan dari orang. Bukan dari akunya. Kalau dari aku, nama ya tetep nama sendiri. Soalnya, mau nggak mau begini. Kondisi di U9 ini memang bukan band yang dibentuk dari awal. Aku masuk dengan adanya pertimbangan-pertimbangan. Ya mau nggak mau seperti ini. Mau diapain? [tertawa] Jalanin saja.

Tapi bukan langkah putus asa kan gabung di U9?
Bukan begitu. Ini masih awal. Aku juga belum tahu, nantinya bagaimana. Yang penting sekarang komit. Kami sama-sama membangun. Kami jalani dari awal. Yang penting niatnya dulu.

Yang menyenangkan bekerja dengan anak-anak U9 ini apa?
Bedanya begini. Band yang sudah besar dengan band yang masih baru, perbedaannya adalah semangat. Mereka semangatnya masih tinggi. Ingin cepat dikenal orang. Band yang sudah di atas, biasanya penyakitnya begitu. Karena keenaknya sudah didapat. Semangat itu sudah menurun. Mau bagaimana? Mau terus more more more! Utak-atik band ini, atau Cuma ya udah sampai sini saja. Tinggal main. Tidak ada semangat yang lebih.

Penilaian Anda soal dua gitaris baru Boomerang?
Si Andri eks gitaris Power Slaves, aku bilang bagus. Bisa kasih sesuatu yang fresh. Cuma Boomerang-nya yang tidak bisa menunjang. Tidak bisa mengimbangi si Andri. Stuck di situ saja. Sayang. Harusnya berubah lagi. Bukan jadi band yang lain. Tapi harus dipupuk lagi. Kalau gitaris yang satu lagi, masih additional.

Berat tidak meninggalkan band yang dirintis sejak awal?
Sangat berat. Aku memikirkannya benar-benar. Ini band yang aku mauin. Jiwa aku di situ. Tapi ternyata, malah aku sendiri yang meninggalkan.

Komentar orang-orang terdekat Anda?
Pasti banyak yang menyayangkan. Kenapa keluar? Harusnya kamunya yang mengubah. Apalagi komentar fans. Marah semua. Tapi biarin saja. Mau ngomong apa saja.

Itu momen terberat Anda selama berkarir?
Istilahnya aku keluar dari tambang emas. Orang pasti mikirnya, kok bodoh sekali. [tertawa].

DJ Romy: “Ada Kesalahan Klub-klub di Utara Sana!”

Salah satu DJ Indonesia
kelas A, Romy rilis album ke-tiganya. Clubhoppers memilih Romy sebagai
Clubhoppers ke-empat. Maka, dirilislah album Clubhoppers Essential Mix
#04. Ini petikan wawancara saya dengan DJ Romy, Rabu [19/7] lalu di
kawasan Pejaten. Untuk kepentingan majalah, kata gue dan elu dalam
obrolan, saya ganti jadi saya dan anda. Yang Anda baca di sini, versi
yang belum diedit.


Dari album pertama sampe sekarang, ketiga, perbedaan apa yang paling terasa dalam karir bermusik Anda?

Yang pertama, saya maenin lagu orang kan. Tapi at least, waktu dulu DJ Selatan pada belum keluar albumnya. Terus, trend-nya belum banyak, DJ ngeluarin album. Sekarang kan,
DJ udah mulai dianggap. Walaupun sekarang belum banyak juga ya?
Baguslah saya senang, karena sekarang DJ dianggap sebagai musisi. Dulu kan,
apalagi awal ’90, DJ itu kadang-kadang dianggap pegawai suatu klub,
Cuma muterin lagu. Kalau sekarang, DJ bisa bikin lagu dengan album
sendiri, bisa Live PA dengan artis yang udah ngetop. Itu evolusi yang
saya sangat senang di Indonesia.

Album kedua, membawakan lagu sendiri?
Ada satu lagu bikinan sendiri. Tapi, biasa aja. Nggak terlalu signifikan musiknya. Karena waktu itu baru belajar.

Kenapa baru sekarang bisa buat lagu sendiri? Faktor skill atau faktor alat?
Factor alat. Jaman dulu, soft ware juga belum terlalu banyak yang bagus. Sekarang kan,
sound card udah banyak yang bagus. Ini yang saya pakai Motul, sound
card professional tapi udah bisa dipake di rumah. Jaman dulu kan, mesti yang ratusan juta. Sekarang kan,
dengan kualitas yang sama, umpama seribu dollar, sudah bisa dapat sound
card yang bagus. Terus, kebetulan saya dulu ada rejeki, akhirnya invest
ke alat professional. Sekarang juga banyak software plug ins.

Perkembangan teknologi membantu sekali ya?
Membantu banget.

Mulai kapan sih, banyak soft ware murah bisa dibeli?
Tahun 2000 ke sini sih, udah mulai pelan-pelan. Tapi yang lebih menggila, 2003 ke atas, itu soft ware udah menggila.

Yang begini terjadi juga pada DJ di luar negeri?
Oh
iya dong. DJ luar juga, nggak semuanya yang berduit. Malah, Tony Thomas
bilang sama saya, ‘Man, shit! Your studio is very huge. All I got, is
computer, controller, and one keyboard.’ Ada juga yang udah punya studio yang setara dengan studio rekaman.

Dari awal ketika memutuskan untuk jadi DJ, memang sudah berniat ingin buat album?
Nggak.
Jadi gini. Tahun ’96 saya sudah pernah buat lagu. Tapi dengan alat yang
sangat norak ya. [tertawa]. Saya sempat vakum, terus tahun 2002 baru
mulai lagi.

Kenapa vakum?
Gimana
ya? Masih bego sih. Mau cari alat apa yang bagus untuk buat lagu? Dulu
cuma pake satu kibord doang. Terus, komputer juga saya pernah mencoba,
hang melulu. Sekarang kan, komputernya powerful. Jarang hang. Dulu, dikit-dikit hang. Akhirnya males. Kan
jaman dulu, tahun ’96, orang rekaman aja di studio pake reel. Masih
jarang yang pake komputer. Baru orang-orang yang pake Macintosh. Kalau
sekarang, orang pake PC aja udah bisa bikin lagu. Anyway, dari jaman
dulu, saya sudah punya keinginan bikin lagu sendiri. Dulu, kalah sama
bule. Alat-alatnya belum punya. Sekarang, berani diadu sama bule.
[tertawa]

Pada momen apa Anda memutuskan untuk jadi DJ?
Pulang dari London, tahun ’93 itu sudah doyan nge-DJ. I’m a DJ. Dan waktu itu, house music sedang mewabah di Indonesia. Saya kebawa arus lah. Sampai sekarang.

Pada titik apa, keinginan Anda kuat untuk bikin lagu?
Ya
tahun ’96 itu. Cuma, saya mentok. Kenapa sound saya tidak bisa seperti
bule ya? Dulu mikir, gimana ya mereka bisa dapet sound seperti itu?
Sekarang sih, Faithless di panggung, dua kibordnya sama dengan punya
saya. Saya juga sudah punya duit banyak. Jadi bisa punya alat itu.

Romy sekarang dengan Romy di tahun ’90-an, percaya dirinya lebih besar dong ya.
Manusia
tidak ada puasnya. Cuma, sound saya, sudah berani lah diadu. Nah itu,
plat yang hitam itu [menunjuk ke salah satu plat yang ada di studio].
Waktu itu, teman saya bikin lagu. Saya bilang, ini teman saya Tony
Thomas sama Terry Francis janji rilisin saya lagu, nggak dirilis-rilis
juga. J Reverse bilang, nih, saya kirim detil, coba kamu remix.
Akhirnya saya mix di sini, terus dikirim ke dia. Nah, dia email balik
ke saya, ‘Man, this is fucking good!’ We’re gonna release the track.
Akhirnya, alhamdulillah saya punya rilisan di Eropa. Lumayan lah, jadi
DJ Indonesia, jadi salah satu pelopor yang bisa rilis di Eropa. Dan itu nggak mudah. Ada saya di sana.
Waktu pertama kali dapet itu plat, saya mikir, gila, bisa juga ya rilis
plat di Eropa. Lagunya memang lagu si Jackie Reverse. Cuma, ada mix
saya. Dan begini, ini ada lagu utama, karena dia satu lagu. Lagu kedua,
ada di nomor satu, itulah remix saya. Lagu yang diandalkan ketiga, yang
ini yang lebih kecil porsinya. Jadi, di rilisan Funkulator ini, lagu
saya lumayan diandalkan. Soalnya kalau nge-DJ lebih gampang di awal
sini. Lumayan lah, berkembang. Mudah-mudahan bisa rilis lagi Kalau
sudah diterima satu label internasional, ini kan di Italia, tapi rilisnya di seluruh toko plat di Eropa. Dan ini sudah bisa didownload. Anda bisa beli lagu saya di sana. [tertawa].

Apa yang pengaruh yang paling terasa setelah lagu Anda dirilis di plat itu?
Dengan
pede-nya saya email teman-teman DJ, Tony Thomas, Terry Francis dan
lain-lainnya, ‘Hey guys finally I released a track. Actually it’s
Jackie Reverse’s track. I remix it, now I’m in your world!’ [tertawa]

Bagaimana soal tantangan, apakah sudah terjawab semua?
Belum. Saya belum rilis lagu sendiri. DJ Romy sendiri. Di Eropa belum main. Kalau Asia sih, udah berkali-kali. Yah lumayan lah.

Kalau di Indonesia bagaimana? Sudah kepegang ya.
Kepegang sih nggak. Cuma, paling tidak, sudah tahu lah orang. Banyak juga DJ yang bagus, yang kelasnya sudah A. Senior-senior.

Tapi, sekarang Anda sudah di kelas A ya.
Sepertinya sih begitu [tertawa].

Apa yang berubah dari crowd dance musik sekarang dibandingkan ketika dulu Anda memulai karir?
Yang pasti, musik sound-nya dari dulu makin gila. Evolusi musik house itu macam-macam. Crowd Jakarta sudah regenerasi beberapa kali. Sudah terlalu banyak regenerasi yang saya lewati. Tapi, so far, Indonesia
makin gila. Sayangnya, tidak disupport oleh pemerintahnya. Di Kuala
Lumpur, mereka disupport oleh pemerintah untuk bikin rave party di out
door. Karena mendatangkan turis. Contohnya Zook Out di Singapura. Orang
Jakarta berbondong-bondong mendatangi pesta DJ itu. Kenapa Indonesia nggak? Bali kan bisa dibuat sebagai second Ibiza of Indonesia. Ibiza kan
di Eropa. Kebanyakan orang-orang Eropa berbondong-bondong waktu summer
untuk party. Otomatis, itu mendatangkan devisa untuk negaranya. Bali malah dilarang, sekarang bikin rave. Mestinya kalau memang dikontrol dengan baik, Bali bisa jadi second Ibiza. Pulau mana lagi di Indonesia yang bisa dibikin seperti Ibiza? Karena bule sudah tahu Bali. Buat bule-bule clubbers, Bali
sudah jadi pemberhentian mereka. Sayangnya, kenapa tidak disupport
Dinas Pariwisata atau pemerintah untuk dijadikan nilai tambah.

Support dalam bentuk memberi ijin untuk rave party?
Diberi
ijin dan disupport dalam bentuk cari sponsor. Misal, dibuat Indonesian
Dance Festival. Itu yang datang DJ yang bayarannya di atas 10 ribu
Pound. Dan harus dicanangkan, bahwa house music is not drugs! Paling
penting kan itu, bagaimana mau buat musik kalau saya nge-drugs? Itu kan
kesalahan orangnya juga. Salah crowd-nya juga. Mestinya seperti kalau
mereka mendengarkan jazz, tidur denger jazz, bangun denger jazz, makan
denger jazz, begitu party mereka tidak perlu mabuk. Karena mereka sudah
terbiasa dengan house music. Levelnya kan
macam-macam, ada yang kenceng, ada yang pelan, ada yang deep. Saya
tidak perlu drugs untuk denger itu! Saya bisa berjam-jam ada di lantai
dansa. Selama DJ-nya bagus ya.

Kalau begitu, masih banyak orang yang datang ke rave party untuk ngeceng saja?
Itulah
house culture. Harus lebih diketahui. Kalau cuma cari cewek sih, nggak
usah di rave, di pasar juga bisa. Cuma maksudnya, house culture kan dari fashion, dari sound system, dari lighting-nya. Itu kan jadi show, bukannya party ecstasy! Kami juga capek! Maen kibord segala macem. Saya bingung dengan pemerintah.

Datang, diperiksa polisi.
Iya.
Oke lah kalau diperiksa nggak apa-apa. Rave nggak boleh bawa senjata
api, nggak boleh bawa macam-macam di tas. Di KL juga diperiksa. Cuma
merasa bebas. Bukan diperiksa karena Anda dicurigai sebagai bandar.
Tapi, demi kenyamanan acara. Kita santai saja. Masuk rave seru-seruan.
Di sini kan, yang diperiksa, narkoba! Ada mobil Badan Narkotika. Ini kan
jadi ribet sendiri. Kalau bisa dikampanyekan dengan baik, bisa lebih
positif. Nggak sampai, otaknya orang-orang tua ini. Apa sih house
culture itu? sekarang, bikin rave aja minimal 500 juta. Mereka mau
ganti nggak? Terus, di tengah acara, maaf adek-adek, acara kami
berhentikan karena ini ini ini. Nggak usah begitu deh. Sebelum acara
mulai, sudah ada gossip bakal digerebek. Nggak ada yang datang. Kasihan
EO-nya kan.
Akhirnya, nggak ada lagi yang bikin rave out door. Itu yang membuat
saya sedih. Padahal, it’s a nice culture. Kalau memang mereka mencari
Bandar, ya jangan diberhentikan acaranya. Kasihan EO-nya dong.

Sudah banyak ya, crowd yang datang yang mengerti bagaimana itu DJ yang bagus?
Kalau
nggak banyak, kenapa kalau DJ A, DJ B, DJ C maen rame. Tapi kalau DJ
kelas 3 belum tentu rame. Kenapa? Karena orang sudah mencari nama DJ.
Sudah jarang, orang yang datang cuma ingin tripping. Orang-orang tua di
atas sana, masih nggak ngerti. Dan juga ada kesalahan klub-klub di utara sana. Kalau di sana
sih, saya no comment. Musiknya memang tidak bisa dinikmati tanpa itu.
Musik yang 200 km/jam. [ngakak]. Nah, itu yang musti dibasmi. Bukan
yang selatan. Ada sebagian yang begitu, di selatan, ada. Tapi sudah nggak banyak. Di Indonesia ini memang suka salah menangani. Coba lihat Bali. Mereka kan teriak-teriak minta turis, Kenapa nggak tari Bali itu dimix dengan DJ? Dibuat satu terobosan, lagu Bali diremix, dibuat terobosan. Dari situ kan, orang bisa menelusuri asal musiknya.

Sasaran album Anda siapa?
Musik
saya buat siapa saja. Orang bisa dengar lagu saya, kapan saja. Sambil
makan, orang suka. Di mobil pulang kerja, orang suka. Clubbing, bisa
juga. Malah itu yang paling penting. Saya ingin musik house ini
diterima segala kalangan. Dan itu susah. Kalau saya tampil kan high energy. Kalau album kan, seperti belai kucing.

Sampai saat ini, sudah terjual berapa kopi?
Tiga minggu sejak rilis saja, sudah empat ribu. Kata labelnya, biasanya nggak secepat itu. Ya saya bangga lah. Senang.

Lantas, apa yang terlintas di benak Anda setelah tahu kenyataan itu?
Yang
pasti, saya sih sasarannya adalah meng-educate orang yang dengar, bahwa
house DJ itu sudah jadi produser, bukan cuma memainkan lagu orang. Dan
saya tulis di situ, Support Drugs Free Club. Supaya mereka mendukung
house itu bukan untuk nge-drugs. Karena saya salah satu DJ yang
mengibarkan bendera drugs free.

Memang, sejak awal nge-DJ nggak pernah nge-drugs?
Oh dulu pernah. Awal-awal nge-DJ. Saya nggak munafik.

Lantas, apa yang membuat Anda berhenti?
Kesadaran
saja. Bahwa house itu bukan dengan itu. Lama-lama juga tidak cocok. Itu
culture! Bukan drugs. Fashion-nya. Coba lihat kalau clubbing. Sepatunya
Adidas, Puma, YNLT, kalau dia makin ke atas, bajunya Prada yang
begitu-begitu. Jadi, connecting-nya banyak. Sekarang begini, Anda
clubbing pakai baju kantor, sepatunya Bally, minder kan?
Coba kalau pakai sepatu Adidas, labelnya yang canggih-canggih, label
plat atau gambar apa, jadi satu dengan yang datang. Itu artinya apa? Ada
fashion yang terjadi di situ. Musik di FTV, musiknya apa rata-rata?
House! Jadi ada connecting-nya. Di luar itu, ada klub yang hanya
orang-orang tertentu yang boleh masuk. Benar-benar strict. Kalau Anda
tidak fashionable, mobilnya tidak mengkilap, tidak boleh masuk! Di sini
nggak bisa. Karena culture-nya belum sampai. Klubnya haus akan orang
yang datang. Siapapun orang yang datang, yang penting beli minum.

Kita bakal sampai ke titik itu?
Nggak tahu ya. Indonesia
sedang krisis sih. Kalau nggak krisis sih, nggak apa-apa. Bensin dua
ribu lagi, oke lah. [tertawa]. Sudah mulai bisa menggeliat lagi
orang-orang. Kalau rakyat bawah sudah bisa senang-senang, apalagi kaum
jet set itu. Sekarang, rakyat masih menderita. Lewat dulu lah krisis
gila-gilaan ini.

Harus kondisinya tenang dan nyaman dulu ya?
Untuk sampai ke kondisi itu iya. Di sini kan masih banyak orang kaya yang nggak mau memperlihatkan dirinya kaya.

Tiba-tiba,
wartawan Suara Pembaruan yang menunggu giliran wawancara, masuk ke
studio tempat kami melakukan wawancara. Berteriak ada gempa. Dan saya
baru sadar, kalau ternyata, kursi, kibord dan alat-alat Romy bergoyang.
Dan wawancara pun dihentikan.

DJ Romy: “Ada Kesalahan Klub-klub di Utara Sana!”

Salah satu DJ Indonesia kelas A, Romy rilis album ke-tiganya. Clubhoppers memilih Romy sebagai Clubhoppers ke-empat. Maka, dirilislah album Clubhoppers Essential Mix #04. Ini petikan wawancara saya dengan DJ Romy, Rabu [19/7] lalu di kawasan Pejaten. Untuk kepentingan majalah, kata gue dan elu dalam obrolan, saya ganti jadi saya dan anda. Yang Anda baca di sini, versi yang belum diedit.


Dari album pertama sampe sekarang, ketiga, perbedaan apa yang paling terasa dalam karir bermusik Anda?

Yang pertama, saya maenin lagu orang kan. Tapi at least, waktu dulu DJ Selatan pada belum keluar albumnya. Terus, trend-nya belum banyak, DJ ngeluarin album. Sekarang kan, DJ udah mulai dianggap. Walaupun sekarang belum banyak juga ya? Baguslah saya senang, karena sekarang DJ dianggap sebagai musisi. Dulu kan, apalagi awal ’90, DJ itu kadang-kadang dianggap pegawai suatu klub, Cuma muterin lagu. Kalau sekarang, DJ bisa bikin lagu dengan album sendiri, bisa Live PA dengan artis yang udah ngetop. Itu evolusi yang saya sangat senang di Indonesia.

Album kedua, membawakan lagu sendiri?
Ada satu lagu bikinan sendiri. Tapi, biasa aja. Nggak terlalu signifikan musiknya. Karena waktu itu baru belajar.

Kenapa baru sekarang bisa buat lagu sendiri? Faktor skill atau faktor alat?
Factor alat. Jaman dulu, soft ware juga belum terlalu banyak yang bagus. Sekarang kan, sound card udah banyak yang bagus. Ini yang saya pakai Motul, sound card professional tapi udah bisa dipake di rumah. Jaman dulu kan, mesti yang ratusan juta. Sekarang kan, dengan kualitas yang sama, umpama seribu dollar, sudah bisa dapat sound card yang bagus. Terus, kebetulan saya dulu ada rejeki, akhirnya invest ke alat professional. Sekarang juga banyak software plug ins.

Perkembangan teknologi membantu sekali ya?
Membantu banget.

Mulai kapan sih, banyak soft ware murah bisa dibeli?
Tahun 2000 ke sini sih, udah mulai pelan-pelan. Tapi yang lebih menggila, 2003 ke atas, itu soft ware udah menggila.

Yang begini terjadi juga pada DJ di luar negeri?
Oh iya dong. DJ luar juga, nggak semuanya yang berduit. Malah, Tony Thomas bilang sama saya, ‘Man, shit! Your studio is very huge. All I got, is computer, controller, and one keyboard.’ Ada juga yang udah punya studio yang setara dengan studio rekaman.

Dari awal ketika memutuskan untuk jadi DJ, memang sudah berniat ingin buat album?
Nggak. Jadi gini. Tahun ’96 saya sudah pernah buat lagu. Tapi dengan alat yang sangat norak ya. [tertawa]. Saya sempat vakum, terus tahun 2002 baru mulai lagi.

Kenapa vakum?
Gimana ya? Masih bego sih. Mau cari alat apa yang bagus untuk buat lagu? Dulu cuma pake satu kibord doang. Terus, komputer juga saya pernah mencoba, hang melulu. Sekarang kan, komputernya powerful. Jarang hang. Dulu, dikit-dikit hang. Akhirnya males. Kan jaman dulu, tahun ’96, orang rekaman aja di studio pake reel. Masih jarang yang pake komputer. Baru orang-orang yang pake Macintosh. Kalau sekarang, orang pake PC aja udah bisa bikin lagu. Anyway, dari jaman dulu, saya sudah punya keinginan bikin lagu sendiri. Dulu, kalah sama bule. Alat-alatnya belum punya. Sekarang, berani diadu sama bule. [tertawa]

Pada momen apa Anda memutuskan untuk jadi DJ?
Pulang dari London, tahun ’93 itu sudah doyan nge-DJ. I’m a DJ. Dan waktu itu, house music sedang mewabah di Indonesia. Saya kebawa arus lah. Sampai sekarang.

Pada titik apa, keinginan Anda kuat untuk bikin lagu?
Ya tahun ’96 itu. Cuma, saya mentok. Kenapa sound saya tidak bisa seperti bule ya? Dulu mikir, gimana ya mereka bisa dapet sound seperti itu? Sekarang sih, Faithless di panggung, dua kibordnya sama dengan punya saya. Saya juga sudah punya duit banyak. Jadi bisa punya alat itu.

Romy sekarang dengan Romy di tahun ’90-an, percaya dirinya lebih besar dong ya.
Manusia tidak ada puasnya. Cuma, sound saya, sudah berani lah diadu. Nah itu, plat yang hitam itu [menunjuk ke salah satu plat yang ada di studio]. Waktu itu, teman saya bikin lagu. Saya bilang, ini teman saya Tony Thomas sama Terry Francis janji rilisin saya lagu, nggak dirilis-rilis juga. J Reverse bilang, nih, saya kirim detil, coba kamu remix. Akhirnya saya mix di sini, terus dikirim ke dia. Nah, dia email balik ke saya, ‘Man, this is fucking good!’ We’re gonna release the track. Akhirnya, alhamdulillah saya punya rilisan di Eropa. Lumayan lah, jadi DJ Indonesia, jadi salah satu pelopor yang bisa rilis di Eropa. Dan itu nggak mudah. Ada saya di sana. Waktu pertama kali dapet itu plat, saya mikir, gila, bisa juga ya rilis plat di Eropa. Lagunya memang lagu si Jackie Reverse. Cuma, ada mix saya. Dan begini, ini ada lagu utama, karena dia satu lagu. Lagu kedua, ada di nomor satu, itulah remix saya. Lagu yang diandalkan ketiga, yang ini yang lebih kecil porsinya. Jadi, di rilisan Funkulator ini, lagu saya lumayan diandalkan. Soalnya kalau nge-DJ lebih gampang di awal sini. Lumayan lah, berkembang. Mudah-mudahan bisa rilis lagi Kalau sudah diterima satu label internasional, ini kan di Italia, tapi rilisnya di seluruh toko plat di Eropa. Dan ini sudah bisa didownload. Anda bisa beli lagu saya di sana. [tertawa].

Apa yang pengaruh yang paling terasa setelah lagu Anda dirilis di plat itu?
Dengan pede-nya saya email teman-teman DJ, Tony Thomas, Terry Francis dan lain-lainnya, ‘Hey guys finally I released a track. Actually it’s Jackie Reverse’s track. I remix it, now I’m in your world!’ [tertawa]

Bagaimana soal tantangan, apakah sudah terjawab semua?
Belum. Saya belum rilis lagu sendiri. DJ Romy sendiri. Di Eropa belum main. Kalau Asia sih, udah berkali-kali. Yah lumayan lah.

Kalau di Indonesia bagaimana? Sudah kepegang ya.
Kepegang sih nggak. Cuma, paling tidak, sudah tahu lah orang. Banyak juga DJ yang bagus, yang kelasnya sudah A. Senior-senior.

Tapi, sekarang Anda sudah di kelas A ya.
Sepertinya sih begitu [tertawa].

Apa yang berubah dari crowd dance musik sekarang dibandingkan ketika dulu Anda memulai karir?
Yang pasti, musik sound-nya dari dulu makin gila. Evolusi musik house itu macam-macam. Crowd Jakarta sudah regenerasi beberapa kali. Sudah terlalu banyak regenerasi yang saya lewati. Tapi, so far, Indonesia makin gila. Sayangnya, tidak disupport oleh pemerintahnya. Di Kuala Lumpur, mereka disupport oleh pemerintah untuk bikin rave party di out door. Karena mendatangkan turis. Contohnya Zook Out di Singapura. Orang Jakarta berbondong-bondong mendatangi pesta DJ itu. Kenapa Indonesia nggak? Bali kan bisa dibuat sebagai second Ibiza of Indonesia. Ibiza kan di Eropa. Kebanyakan orang-orang Eropa berbondong-bondong waktu summer untuk party. Otomatis, itu mendatangkan devisa untuk negaranya. Bali malah dilarang, sekarang bikin rave. Mestinya kalau memang dikontrol dengan baik, Bali bisa jadi second Ibiza. Pulau mana lagi di Indonesia yang bisa dibikin seperti Ibiza? Karena bule sudah tahu Bali. Buat bule-bule clubbers, Bali sudah jadi pemberhentian mereka. Sayangnya, kenapa tidak disupport Dinas Pariwisata atau pemerintah untuk dijadikan nilai tambah.

Support dalam bentuk memberi ijin untuk rave party?
Diberi ijin dan disupport dalam bentuk cari sponsor. Misal, dibuat Indonesian Dance Festival. Itu yang datang DJ yang bayarannya di atas 10 ribu Pound. Dan harus dicanangkan, bahwa house music is not drugs! Paling penting kan itu, bagaimana mau buat musik kalau saya nge-drugs? Itu kan kesalahan orangnya juga. Salah crowd-nya juga. Mestinya seperti kalau mereka mendengarkan jazz, tidur denger jazz, bangun denger jazz, makan denger jazz, begitu party mereka tidak perlu mabuk. Karena mereka sudah terbiasa dengan house music. Levelnya kan macam-macam, ada yang kenceng, ada yang pelan, ada yang deep. Saya tidak perlu drugs untuk denger itu! Saya bisa berjam-jam ada di lantai dansa. Selama DJ-nya bagus ya.

Kalau begitu, masih banyak orang yang datang ke rave party untuk ngeceng saja?
Itulah house culture. Harus lebih diketahui. Kalau cuma cari cewek sih, nggak usah di rave, di pasar juga bisa. Cuma maksudnya, house culture kan dari fashion, dari sound system, dari lighting-nya. Itu kan jadi show, bukannya party ecstasy! Kami juga capek! Maen kibord segala macem. Saya bingung dengan pemerintah.

Datang, diperiksa polisi.
Iya. Oke lah kalau diperiksa nggak apa-apa. Rave nggak boleh bawa senjata api, nggak boleh bawa macam-macam di tas. Di KL juga diperiksa. Cuma merasa bebas. Bukan diperiksa karena Anda dicurigai sebagai bandar. Tapi, demi kenyamanan acara. Kita santai saja. Masuk rave seru-seruan. Di sini kan, yang diperiksa, narkoba! Ada mobil Badan Narkotika. Ini kan jadi ribet sendiri. Kalau bisa dikampanyekan dengan baik, bisa lebih positif. Nggak sampai, otaknya orang-orang tua ini. Apa sih house culture itu? sekarang, bikin rave aja minimal 500 juta. Mereka mau ganti nggak? Terus, di tengah acara, maaf adek-adek, acara kami berhentikan karena ini ini ini. Nggak usah begitu deh. Sebelum acara mulai, sudah ada gossip bakal digerebek. Nggak ada yang datang. Kasihan EO-nya kan. Akhirnya, nggak ada lagi yang bikin rave out door. Itu yang membuat saya sedih. Padahal, it’s a nice culture. Kalau memang mereka mencari Bandar, ya jangan diberhentikan acaranya. Kasihan EO-nya dong.

Sudah banyak ya, crowd yang datang yang mengerti bagaimana itu DJ yang bagus?
Kalau nggak banyak, kenapa kalau DJ A, DJ B, DJ C maen rame. Tapi kalau DJ kelas 3 belum tentu rame. Kenapa? Karena orang sudah mencari nama DJ. Sudah jarang, orang yang datang cuma ingin tripping. Orang-orang tua di atas sana, masih nggak ngerti. Dan juga ada kesalahan klub-klub di utara sana. Kalau di sana sih, saya no comment. Musiknya memang tidak bisa dinikmati tanpa itu. Musik yang 200 km/jam. [ngakak]. Nah, itu yang musti dibasmi. Bukan yang selatan. Ada sebagian yang begitu, di selatan, ada. Tapi sudah nggak banyak. Di Indonesia ini memang suka salah menangani. Coba lihat Bali. Mereka kan teriak-teriak minta turis, Kenapa nggak tari Bali itu dimix dengan DJ? Dibuat satu terobosan, lagu Bali diremix, dibuat terobosan. Dari situ kan, orang bisa menelusuri asal musiknya.

Sasaran album Anda siapa?
Musik saya buat siapa saja. Orang bisa dengar lagu saya, kapan saja. Sambil makan, orang suka. Di mobil pulang kerja, orang suka. Clubbing, bisa juga. Malah itu yang paling penting. Saya ingin musik house ini diterima segala kalangan. Dan itu susah. Kalau saya tampil kan high energy. Kalau album kan, seperti belai kucing.

Sampai saat ini, sudah terjual berapa kopi?
Tiga minggu sejak rilis saja, sudah empat ribu. Kata labelnya, biasanya nggak secepat itu. Ya saya bangga lah. Senang.

Lantas, apa yang terlintas di benak Anda setelah tahu kenyataan itu?
Yang pasti, saya sih sasarannya adalah meng-educate orang yang dengar, bahwa house DJ itu sudah jadi produser, bukan cuma memainkan lagu orang. Dan saya tulis di situ, Support Drugs Free Club. Supaya mereka mendukung house itu bukan untuk nge-drugs. Karena saya salah satu DJ yang mengibarkan bendera drugs free.

Memang, sejak awal nge-DJ nggak pernah nge-drugs?
Oh dulu pernah. Awal-awal nge-DJ. Saya nggak munafik.

Lantas, apa yang membuat Anda berhenti?
Kesadaran saja. Bahwa house itu bukan dengan itu. Lama-lama juga tidak cocok. Itu culture! Bukan drugs. Fashion-nya. Coba lihat kalau clubbing. Sepatunya Adidas, Puma, YNLT, kalau dia makin ke atas, bajunya Prada yang begitu-begitu. Jadi, connecting-nya banyak. Sekarang begini, Anda clubbing pakai baju kantor, sepatunya Bally, minder kan? Coba kalau pakai sepatu Adidas, labelnya yang canggih-canggih, label plat atau gambar apa, jadi satu dengan yang datang. Itu artinya apa? Ada fashion yang terjadi di situ. Musik di FTV, musiknya apa rata-rata? House! Jadi ada connecting-nya. Di luar itu, ada klub yang hanya orang-orang tertentu yang boleh masuk. Benar-benar strict. Kalau Anda tidak fashionable, mobilnya tidak mengkilap, tidak boleh masuk! Di sini nggak bisa. Karena culture-nya belum sampai. Klubnya haus akan orang yang datang. Siapapun orang yang datang, yang penting beli minum.

Kita bakal sampai ke titik itu?
Nggak tahu ya. Indonesia sedang krisis sih. Kalau nggak krisis sih, nggak apa-apa. Bensin dua ribu lagi, oke lah. [tertawa]. Sudah mulai bisa menggeliat lagi orang-orang. Kalau rakyat bawah sudah bisa senang-senang, apalagi kaum jet set itu. Sekarang, rakyat masih menderita. Lewat dulu lah krisis gila-gilaan ini.

Harus kondisinya tenang dan nyaman dulu ya?
Untuk sampai ke kondisi itu iya. Di sini kan masih banyak orang kaya yang nggak mau memperlihatkan dirinya kaya.

Tiba-tiba, wartawan Suara Pembaruan yang menunggu giliran wawancara, masuk ke studio tempat kami melakukan wawancara. Berteriak ada gempa. Dan saya baru sadar, kalau ternyata, kursi, kibord dan alat-alat Romy bergoyang. Dan wawancara pun dihentikan.

Ganti Tampilan!

Maaf kawan-kawan.

Blog saya ganti template lagi. Akibatnya, semua komen dan shoutbox-nya menghilang. Kata teman saya yang mendesain blog saya, masa tayang-nya habis. Saya kurang paham. Mungkin soal berlangganan web-nya.

Oh iya. Lupa. Kalau mau lihat tulisan saya versi multiply, silakan cek solehsolihun.multiply.com. Karena di sana, kamu bisa baca komentar orang-orang soal tulisan saya. Yang belum kamu baca komentarnya di blogspot ini.

Harap maklum.

Jamie Aditya: “Saya Laki-laki Terminder di Dunia!”

Ini wawancara dengan Jamie Aditya untuk rubrik 20Q yang dimuat di edisi perdana. Versi yang belum dieditnya.

Kenapa dulu memutuskan untuk tidak lagi jadi VJ MTV?

Kontraknya sih sebenarnya masih tiga tahun lagi. Ditawarin tiga tahun lagi. Cuma, ibu saya kena kanker payudara. Saya bilang, saya mau berhenti deh. Mama udah pindah ke Australia. Jadi, malamnya dikasih tahu mama, besok paginya, saya berhenti. Ingin di sisi mama. I just want to be close to mama. Ya sudah, begitu saja. Kalau tidak ada masalah seperti itu, tidak mungkin saya berhenti. Soalnya, duitnya oke juga. [tertawa]. Mungkin kalau sudah punya anak, mungkin tidak akan seperti itu juga.

Apakah memang Anda menetapkan batas waktu pada diri sendiri? Bahwa sekian tahun Anda akan jadi VJ. Lalu, sekian tahun akan jadi pembawa acara yang lain. Dan tahun lain Anda akan melakukan hal lain.
Ah tidak juga. Dannie Mc Gill kan waktu saya masuk MTV, dia juga umurnya sudah 38 tahun.

Masuk dunia hiburan karena kebetulan atau ini sesuatu yang sudah Anda cita-citakan sejak kecil?
Sebetulnya, saya tidak pernah berpikir ingin jadi apa. Dari kecil, ingin jadi musikus. Saya juga lumayan bagus menggambar, melukis. Pernah juara waktu ada lomba lukis cilik se-DKI. Terus, keluarga saya juga banyak seniman. Kakek saya, Achdiat Kartamihardja, bisa dibilang jamannya Aki kan teman-temannya tuh orang Renaissance, nyanyi bisa, Aki saja maen gitar, piano, suling, kecapi, semua bisa. Nulis juga, pencak silat. Budayawan. Dia juga menulis buku Atheis. Sepertinya bakat musik dan menghibur dari keluarga ibu. Mang Ai juga masih…Harry Roesli maksudnya. Dia menikah dengan anaknya Aki Babang. Dia tuh adiknya Aki Cece. [bicara dengan logat Sunda]. Halal bi halal tuh masih bertemu musikus-musikus. Izur Muchtar juga masih saudara. Dia tuh cucunya Aki. Keluarga saya seperti badut. Kalau bertemu, semuanya nge-bodor. Terutama ibu saya, dulu paling badut. Tapi di rumah, serius sekali. Pas bertemu teman atau keluarga, dia ha ha ha ha. [tertawa].

Apa ambisi Anda?
Jadi bapak dan suami yang baik. [tertawa]. Ingin main musik. One day, ingin punya band sendiri.

Katanya Anda pernah ikut tur kelompok musik juga ya?
Waktu tahun ’92, di Ratu Plaza ada café The Stage, setiap Selasa dan Kamis, ada malam blues. Saya mengisi acara. Anak-anak Potlot suka datang, Kiboud Maulana, Abadi Soesman, Luluk Purwanto, suka jamming. Saya juga pernah ikut Krakatau tur, baru di Bandung dan Jakarta, tahun ’92. Trie Utami menyanyikan sepuluh lagu, saya dua lagu. Ingin terlihat lebih modern, dengan memasukkan reggae dan rap. Pas bagian reggae, saya masuk. [tertawa]. Sempat tur Jawa main gitar mengiringi Iwa K.

Kemarin sempat merekam duet dengan Glen Freddly ya?
Loh, tahu dari siapa? Saya lagi hang out di studio. Tahu-tahu ada Glenn Fredly, padahal teman saya yang di studio itu bilang, kalau ada Glenn keluar aja ya, soalnya dia mau kerja. Eh tiba-tiba dia bilang, Jamie, kapan-kapan kita kerja bareng ya? Sekarang saja! Ya sudah, malam itu kami merekam lagu “Good Times Bad Times”. Dulu juga sempat bareng Humania juga. Terserah apa maumu [nyanyi sambil tertawa]. Musik puber banget!

Masih suka nonton MTV?
Waktu di MTV juga tidak pernah nonton. [tertawa]. Waktu saya masuk MTV, saya sedang suka musik etnik. Tidak suka musik pop Amerika. Saya selalu bilang pada bos, musik etnik di Asia itu banyak sekali dan mereka juga punya local ethnic pop. And the boss said, go to hell with your ethnic music! Nobody wants to know! Awalnya, oke saya harus belajar musik pop. Setiap bulan ada yang baru. Lama kelamaan, kok terdengar sama semua? Akhirnya, kalau saya harus wawancara boyband misalnya, saya tahu mereka hari itu juga. Oke, ini Westlife. Dikasih lihat biodatanya, CD-nya saya dengar. Waktu wawancara saya bilang, ‘Oh I’m a big fan!’ [tertawa].

Kalau MTV Indonesia?
Saya lebih tertarik dengan MTV Indonesia. Mereka support local act. Big label maupun indie, bisa masuk juga.

Beri pendapat untuk tiga eks VJ MTV ini; Ari Kuncoro, Sarah Sechan dan Shanty!
Pokoknya semua asik! [tertawa]. Karena saya sudah lama di situ, tahu. Kelihatannya mudah, untuk orang lain mungkin mudah. Tapi saya selalu stress di depan kamera. Akhirnya, saya harus akting. Pura-pura jadi orang lain, baru bisa. Kalau jadi diri sendiri, saya selalu malu. Over acting. Saya tidak bisa mengkritik pembawa acara. Soalnya saya tahu itu susah.

Banyak yang bilang, sebagai VJ MTV Anda tidak tergantikan. Bagaimana pendapat Anda?
Oya? Siapa yang bilang? Kenapa tidak kirim surat buat bos, suruh saya kembali lagi, naikan honornya! [tertawa]. Tapi sepertinya tidak deh. Saya tidak mungkin ke sana lagi. Kalau di luar mungkin, umur 30-an masih ada yang nonton. Kalau di sini kan, usia puber. Saya juga sudah kepala 3, jadi tidak pantas lagi membawakan acara puber.

Kalau diibaratkan musik, maka Jamie Aditya adalah musik apa?
Saya sih lebih suka musik soul tahun ’70-an. Al Green, Curtis Mayfield, Sly and The Family Stone. Tapi saya mendalami musik reggae sepuluh tahun. Hanya mendengarkan reggae.

Kalau rekaman, musik Anda akan soul juga?
Kita lihat saja nanti. Soalnya saya sudah bicara ini sepuluh tahun. Tapi tidak jadi juga. Mungkin karena terlalu banyak dibicarakan.

Ada yang bilang, Anda susah dicari. Apakah ini imej yang ingin Anda ciptakan, atau memang Anda tidak ingin diganggu?
Masalahnya, saya belum punya manajer dan belum punya agen. Terus, saya tidak suka bicara soal duit. Bagaimana ya? Misalnya bicara pekerjaan, terus begitu dia bicara duit, saya panik. Harus bicara apa? Waduh, tidak usah deh. Lama-lama jadi tidak ada pekerjaan. [tertawa]. Sejak dapat istri, paling tidak ada yang bisa angkat telepon. ‘Oh iya, Jamie mau minta segini. Ini istrinya.’ Dulu sih panik, saya tidak tahu caranya bernegosiasi. Kan sudah saya bilang, saya laki-laki terminder di dunia.

Anda warga negara mana sebenarnya?
I’m a… what do you call it? World citizen. Begitu saja deh. [tertawa].

Secara hukum?
Saya tidak peduli pada hukum. [tertawa]. Apalagi di Indonesia. Katanya Negara berdasarkan hokum, ternyata tidak juga. Next question! [tertawa].

Bagaimana Anda memandang kondisi Indonesia sekarang?
Sebenarnya kan…Ah saya tidak mau bicara apa-apa soal itu deh. [tertawa].

Kalau di hati Anda, bagaimana posisi Indonesia?
Saya kan anak mama, anak bungsu. Lebih dekat ke ibu. Tahun ’74 kami pindah ke Jakarta, waktu itu umur saya empat tahun, sekolah di Jakarta International School. Tiap hari bicara dalam bahasa Inggris. Sebelas tahun tinggal di Jakarta. Selama di sini, mungkin karena setiap hari bicara bahasa Inggris terus, jadi agak kaku bahasa Indonesia-nya. Selama saya di sini, waktu kecil banyak hal tidak enak terjadi dalam hidup saya. Sempat dipukuli anak-anak sekolah lain, sepulang sekolah. Dilempar batu oleh kuli bangunan. Bule! Sana lu! Waktu umur lima tahun, sedang jalan-jalan di Pasar Mayestik, preman pasar meludahi muka saya. Jadi trauma! Oh jadi saya bukan orang sini? Terus, umur lima belas tahun kembali ke Australia, hey Asian you! F*#&in Asia! Di sini saya Asia? Dipukuli Nazi Skin Head. Setiap kali masuk bar, selalu ada yang memukuli saya. Saya tinggal di Canberra memang masih kampungan, jarang mix, masih sedikit imigrannya. Bisa dibilang, saya laki-laki terminder se-Indonesia. [tertawa]. Bertemu orang Indonesia, minder.

Sekarang lebih banyak tinggal di mana?
Tahun ’85 kembali ke Australia. Sempat kembali ke Jakarta tahun ’92, lalu kembali lagi ke Sydney tahun ’93 sampai ’96. Terus pindah ke Singapura. Tujuh tahun di sana, terus pindah lagi ke Australia. Dan sekarang, udah sembilan bulan di sini. Kami beli tanah di Barron Bay, dan sepertinya di sana korupsi juga. Soalnya, waktu mau bangun rumah, seharusnya enam minggu ijinnya bisa beres. Kami sudah satu tahun enam bulan. Setiap kali menelepon, ‘Oh iya sedang diproses. Kami butuh report ini.’ Padahal mereka udah punya laporannya. Rincian tanah saya sudah ada pada mereka. Setiap kali bikin report harus ada ahlinya. Bayar ahlinya berapa ratus dollar. Sementara, mereka yang banyak uang, tetangga-tetangga kami, datang ke sana, memasukan aplication next week sudah dikasih. Sepertinya, saya diperas. Apa karena saya Asia? Soalnya hanya saya yang dipersulit. Kami sewa rumah kan di sana, dan mahal sekali. Ya sudah, kami pindah saja ke sini, sambil nunggu aplikasi. Tapi, saya lupakan saja tanah di sana. Mau beli rumah di Garut saja, Pameungpeuk. [tertawa].

Katanya Anda berdarah Sunda. Kalau bisa berbahasa Sunda, peribahasa Sunda apa yang bisa Anda ingat sekarang?
Kawit ti Garut Sumedang abdi mah.
[tertawa]. Saya tidak bisa bahasa Sunda. Soalnya besar di Jakarta. Tapi yang selalu saya ingat sih, waktu masih kecil kan suka takut sama hantu, jadi saya selalu diajari ini oleh Aki Encep, dug turu raga gemuling badan turu ati eling roh madep maning Allah. Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar! Tidak usah takut. [tertawa]. Oya, sama ini peribahasa Moro Julang Ngaleupaskeun Peusing. [Berburu burung melepaskan trenggiling, artinya bertaruh untuk sesuatu yang belum pasti, melepaskan yang besar kemungkinan bisa didapat]. Waktu kecil, saya sering diasuh kakek nenek. Tahun ’60, kakek saya pindah ke Australia, karena ada masalah dengan Soekarno. Always keep protest against Soekarno, bersama Mochtar Lubis. Mereka masuk penjara, Aki pergi ke Australia. Sejak tahun ’60 tidak pernah kembali ke sini, kecuali untuk liburan. Dan kakek selalu memutar lagu-lagu Cianjuran, kacapi suling. Biarpun tidak bisa berbahasa Sunda, saya bisa memainkan suling. Kemarin ada halal bi halal di Bandung, ada nenek-nenek datang. Dia bilang, ‘Jamie hebat, bahasa Sunda nggak bisa, cuma nyuling bisa. Orang Sunda-nya mah belum tentu bisa.’ [sambil menirukan gaya bicara nenek itu]. Disuruh nyanyi juga. [dia lantas melantunkan sinden Sunda].

Berarti sisi humoris datang dari sisi keluarga ibu?
Ya. Tapi, dari my father’s side lumayan lucu juga. Mereka suka bernyanyi, tapi karena keturunan Irlandia Skotlandia, peminum semua. [tertawa]. Lem keluarga itu alkohol.

Bagaimana ceritanya bisa jadi host Travel and Living? Apakah mereka mengontak Anda begitu tau Anda keluar dari MTV? Atau Anda melamar?
Kebetulan waktu saya keluar dari MTV, langsung ditawari oleh production house [PH] yang ingin membuat acara untuk Discovery. It worked out nicely. Dan Discovery lebih fleksibel soal waktu. Syuting dua minggu, off dua bulan. Jadi masih banyak waktu buat mama. Waktu itu hanya mengerjakan delapan episode. PH-nya baru pertama kali syuting di luar Singapura. Tidak biasa bekerja di luar negeri. Anyway, yang seharusnya delapan episode diberi oleh Discovery, jadi dua tahun. Discovery menganggap PH itu kurang professional. Jadi, ketika akan membuat acara itu lagi, Discovery tidak ingin memakai PH itu lagi. Ternyata, PH itu memegang hak untuk acara itu. Ya sudah. Berhenti deh itu show-nya. Tapi, saya masih diakui oleh Discovery, bahwa saya ikon di sana. Kalau ada ide untuk show baru, silakan hubungi mereka.

Anda salah satu pengisi acara di program TV Travel and Living, fulfillment apa yang Anda dapatkan dari traveling?
Saya memang selalu suka dengan budaya negara lain. Everytime I meet somebody, saya tahu dia dari mana asalnya. Kalau saya lihat ada orang, sepertinya bukan dari Indonesia nih, saya tanya, dari mana? Oh I’m from Africa. Ghana. What’s your tribe? Ashanti. Oh Ashanti itu Christian atau Muslim? Nanya-nanya aja. Dan akhirnya, semua orang dari seluruh dunia, kalau saya tahu saja, satu kalimat, ‘Halo apa kabar?’ orang sudah senang. Mereka datang dari seluruh dunia, terus sendirian. Jauh dari negeri asalnya. And then somebody says hi! How do you know I’m from Kenya? Soalnya kalau orang Kenya tinggi kurus, Ghana besar tapi rahangnya begitu. Dengan kerja di Discovery, asik sekali. Bisa jalan-jalan ke mana-mana, bertemu kebudayaan baru.

Ada gossip, Anda pernah mengerjai stasiun radio di Bandung, dengan menelepon mereka dan mengaku sebagai Kirk Hammett dari Metallica. Benar?
Betul. Soalnya waktu itu, Metallica kan pernah main di Jakarta. Sempat didatangi orang-orang radio. Wawancara di hotel. Waktu itu, saya sedang belajar suling Sunda di Bandung. Menginap di rumah sepupu saya, Firman. Itu ide dia. Bagaimana kalau kamu menelepon mereka, pura-pura sedang berlibur di Bali, mau keep in touch dengan radio-radio di Indonesia. Terus, saya nelepon, hi this is Kirk Hammet. ‘Siapa? Oh Kirk Hammett! What are you doing in Indonesia?’ Oh I’m here in Bali. We’ve just been recording our new album, and we’re really tired. I’m just like to keep in touch with the media. Promote our new album. Mungkin ada sepuluh tahun mereka tidak tahu soal itu. Sempat juga, fans Metallica minta diputar lagi wawancara dengan Kirk Hammett. [tertawa].

Seandainya ditawari jadi pembawa acara di program berita ekonomi, yang harus memakai jas—dengan bayaran yang sama, apakah Anda bersedia?
Saya mau coba cari duit dari acting atau musik. Kalau belum bisa, saya mau juga sih. Pilihan terakhir lah. Kalau sudah broke, baru mau. [tertawa]. Naked news mungkin? Sepertinya asik.

Pernah membayangkan bagaimana rasanya kerja kantoran, 9 to 5?
Saya pernah kerja di kantor pos, memakai seragam. Kalau bekerja kantoran sih, sepertinya tidak mungkin. Siapa juga yang mau mempekerjakan saya? Tidak ada bakat. Bakatnya hanya membuat orang tertawa. Di sekolah juga begitu. Secara akademis kurang bagus. Nakal juga. Dari dulu hanya bisa ngebodor. Berapa kali disuruh keluar kelas. Guru saya bilang, ‘Nanti kalau sudah besar mau jadi apa? Mau jadi badut?’ Akhirnya benar juga. Jadi badut. [tertawa].

Apa kompromi terbesar Anda setelah menikah?
Waktu baru menikah sih, masih sama seperti pacaran. Sejak baby keluar, saya sudah tidak gerak badan lagi, olahraga lagi, maen musik lagi. Baru sekarang, sejak kembali ke Indonesia, dan dia sudah tiga tahun, bisa ditinggal di rumah.

Waktu dihubungi untuk wawancara, Anda bilang istri Anda ingin melihat Anda memakai pakaian rapi, memang Anda tipe orang yang lebih nyaman memakai t-shirt?
Saya beli baju, waktu masuk MTV saja, ada duit. Sejak itu, tidak pernah beli baju lagi. Istri saya bilang, ‘Beli lagi baju baru dong. Sudah sepuluh tahun pakai baju itu terus, sudah berlubang tuh!

Anda dulu dikenal sebagai Jamie si Anak Ajaib, disejajarkan dengan kehidupan dan pencapaian seorang Jamie Aditya sekarang, apakah sebutan itu sudah pantas?
Wah tidak tahu ya. Itu terserah yang melihat saya. Menurut Anda bagaimana? Ajaib tidak? [tertawa grogi].

Anda bermain gitar ya. wah, ego gitaris kan besar tuh.
Ya. biasanya gitaris tuh penisnya kecil, makanya egonya besar. Makanya kalau main gitar…[menirukan suara petikan gitar]. Tapi bukan berarti penis saya kecil. [tertawa]. Ukuran sepatu aja 13. Ayah bule. Biar seluruh Indonesia tahu, kaki saya besar! [terbahak]

Kalau Anda diangkat jadi menteri Pariwisata dan Kesenian, apa yang akan Anda terapkan dan wujudkan bagi Indonesia?
Lebih banyak promosi di luar. Soalnya, saya baca di Muangthai, setelah tsunami malah bertamah turisnya. Ternyata mereka menghabiskan biaya promosi yang besar sekali, US$ 60 juta. Mereka naik terus, tapi Indonesia malah turun terus. Terus orang bilang, di sini kan banyak bom? Eh di Thailand juga banyak bom. Tapi tetap saja banyak turis datang.

Seandainya Anda bisa bertemu dengan SBY, apa yang akan Anda katakan padanya?
Apa ya? Sepertinya banyak sekali tuh yang bisa dikatakan. Indonesia sih dari dulu masalahnya selalu sama. Apa ya? Ah tidak usah bicara politik ah. Paling saya bilang, eh Pak SBY, katakan tuh sama Jusuf Kalla, Playboy tuh no problem! [tertawa].