Tidak Ada Tapi

Bagaimana kamu tau kamu telah bertemu orang yang tepat?

Ini, tentu saja pertanyaan untuk yang sudah punya pasangan. Mungkin pertanyaan seperti itu pernah terlintas di benak. Apakah dia orang yang tepat? Apakah saya tidak akan tertarik lagi kepada perempuan/lelaki lain? Apakah saya tidak salah pilih?

Rasanya saya punya jawaban untuk semua pertanyaan itu. Bagaimana salah satu cara untuk mengukur apakah kita sudah bisa puas dan menerima hubungan yang sedang kita jalani dengan seseorang. Dan saya sampai pada satu kesimpulan.

Saya tau pacar saya orang yang tepat. Dan saya tidak tertarik lagi untuk mencari yang lebih baik. Dia yang selama ini saya cari, karena saya sudah tidak lagi menemukan kata tapi. Coba kamu tanyakan pada dirimu sendiri. Apakah kalimat seperti ini masih terlintas di benak?

Pacar saya sayang saya, tapi dia sering menyebalkan.
Pacar saya cakep, tapi coba kalau rambut dia lurus alami, tidak dibonding.
Pacar saya oke, tapi dandannya kurang bagus.
Pacar saya cantik, tapi dia kurang pintar.
Pacar saya baik, tapi dia kurang memperhatikan saya.
Pacar saya pintar, tapi dia kurang cantik di mata saya.
Pacar saya pantatnya oke, tapi dadanya kurang.
Pacar saya dadanya oke, tapi pantatnya kurang.
Pacar saya oke, tapi saya masih teringat mantan.
Pacar saya oke, tapi dia kurang asik diajak ngobrol.
Pacar saya oke, tapi saya jadi tidak bebas bergaul.
Saya sayang dia, tapi keluarganya tidak menyenangkan.
Saya sayang dia, tapi saya tidak nyaman ada di sekitar teman-temannya.
Saya sayang dia, tapi status ekonomi dia lebih baik.
Saya sayang dia, tapi sepertinya rasa sayang dia tidak sebesar saya.
Saya sayang dia, tapi sepertinya dia masih teringat mantannya.
Saya sayang dia, tapi saya malu kalau jalan bersama dia.
Saya sayang dia, tapi saya masih curiga setiap dia cerita soal laki-laki lain.
Saya sayang dia, tapi kalau ada yang lebih baik sih, kenapa tidak?
Saya sayang dia, tapi secara fisik dia kurang menarik.

Dan sekian banyak tapi yang lain. Teori saya, ketika sudah tidak ada lagi kata tapi, berarti kamu telah bertemu dengan yang kamu cari. Ada kata tapi, berarti kamu masih belum puas. Memang, manusia tidak akan pernah puas. Tapi dalam hal mencari pasangan, kalau kamu terus merasa tidak puas, kamu tidak akan pernah menemukan yang kamu cari.

Maaf. Bukan bermaksud menggurui. Hanya ingin berbagi. Boleh setuju. Boleh tidak.

Tidak Ada Tapi

Bagaimana kamu tau kamu telah bertemu orang yang tepat?

Ini, tentu saja pertanyaan untuk yang sudah punya pasangan. Mungkin
pertanyaan seperti itu pernah terlintas di benak. Apakah dia orang yang
tepat? Apakah saya tidak akan tertarik lagi kepada perempuan/lelaki
lain? Apakah saya tidak salah pilih?

Rasanya saya punya jawaban untuk semua pertanyaan itu. Bagaimana salah
satu cara untuk mengukur apakah kita sudah bisa puas dan menerima
hubungan yang sedang kita jalani dengan seseorang. Dan saya sampai pada
satu kesimpulan.

Saya tau pacar saya orang yang tepat. Dan saya tidak tertarik lagi
untuk mencari yang lebih baik. Dia yang selama ini saya cari, karena
saya sudah tidak lagi menemukan kata tapi. Coba kamu tanyakan pada dirimu sendiri. Apakah kalimat seperti ini masih terlintas di benak?

Pacar saya sayang saya, tapi dia sering menyebalkan.

Pacar saya cakep, tapi coba kalau rambut dia lurus alami, tidak dibonding.

Pacar saya oke, tapi dandannya kurang bagus.

Pacar saya cantik, tapi dia kurang pintar.

Pacar saya baik, tapi dia kurang memperhatikan saya.

Pacar saya pintar, tapi dia kurang cantik di mata saya.

Pacar saya pantatnya oke, tapi dadanya kurang.

Pacar saya dadanya oke, tapi pantatnya kurang.

Pacar saya oke, tapi saya masih teringat mantan.

Pacar saya oke, tapi dia kurang asik diajak ngobrol.

Pacar saya oke, tapi saya jadi tidak bebas bergaul.

Saya sayang dia, tapi keluarganya tidak menyenangkan.

Saya sayang dia, tapi saya tidak nyaman ada di sekitar teman-temannya.

Saya sayang dia, tapi status ekonomi dia lebih baik.

Saya sayang dia, tapi sepertinya rasa sayang dia tidak sebesar saya.

Saya sayang dia, tapi sepertinya dia masih teringat mantannya.

Saya sayang dia, tapi saya malu kalau jalan bersama dia.

Saya sayang dia, tapi saya masih curiga setiap dia cerita soal laki-laki lain.

Saya sayang dia, tapi kalau ada yang lebih baik sih, kenapa tidak?

Saya sayang dia, tapi secara fisik dia kurang menarik.

Dan sekian banyak tapi yang
lain. Teori saya, ketika sudah tidak ada lagi kata tapi, berarti kamu
telah bertemu dengan yang kamu cari. Ada kata tapi, berarti kamu masih
belum puas. Memang, manusia tidak akan pernah puas. Tapi dalam hal
mencari pasangan, kalau kamu terus merasa tidak puas, kamu tidak akan
pernah menemukan yang kamu cari.

Maaf. Bukan bermaksud menggurui. Hanya ingin berbagi. Boleh setuju. Boleh tidak.

Meringis di Bis

Jangan pergi ke Cirebon naek bis!

Apalagi kalau kamu pergi dari Jakarta. Ini sedikit cerita pengalaman saya naek bis dari Jakarta ke Cirebon. Sabtu [15/7] kemarin saya ke Cirebon. Pacar saya sedang KKN di Desa Plumbon, Kabupaten Cirebon. Makanya, saya kunjungi. Hehe.

Saya pilih bis, karena lebih dekat ke terminal, dari pada ke Stasiun dari kosan. Lebih praktis lah. Plus, jadwal kereta belum tau pasti.

Jam tujuh pagi, saya berangkat dari kosan. Sarapan dulu. Jam delapan di Terminal Lebak Bulus. Tapi, tidak ada Bis Jakarta Cirebon yang ber-AC. Lantas, saya pergi ke Kp. Rambutan. Seperti biasa, terminal selalu menjengkelkan. Begitu tiba, banyak calo menghampiri. “Mau ke mana Bang?”

Awalnya saya menolak. Tapi, setelah kesulitan mencari bis Cirebon, saya menyerah juga. Tidak berapa lama setelah saya bilang Cirebon, tahu-tahu tangan sudah diseret ke bis AC jurusan Cirebon. Ah, akhirnya bis AC juga. Tapi, begitu duduk, saya kaget. Karena bis ini, kursinya dua – tiga. Bukan dua- dua, seperti di bis AC yang lainnya.

Ini sudah mencurigakan. Hmmm, alamat tidak nyaman nih. Begitu pikir saya. Tapi, saya berusaha tepis jauh-jauh pikiran itu. Ah, mungkin bis AC ke Cirebon memang begitu. Yang penting, bis dingin. Berapa lama pun saya duduk, tidak apa-apa lah. Asal dingin. Asal sepi. Waktu saya duduk di sana, cuma ada sekitar tujuh orang menempati kursi.

Jam setengah sepuluh bis keluar dari terminal. Baru sejam kemudian, bis mulai masuk Tol Luar Kota. Di sini mulai mencurigakan. Penumpang mulai berdatangan. Bis mulai tidak dingin. Dan beberapa penumpang, mulai menawar tarif Rp 45 ribu yang ditetapkan kondektur. Mereka kelihatan tidak cocok dengan harga itu.

Biasanya, penumpang bis AC tidak menawar tarif. Hmmm. Semakin mencurigakan nih. Di pintu tol Pondok Gede, semakin kuat kecurigaan saya kalau bis ini akan tidak nyaman. Penumpang semakin memenuhi bis. Dan tidak sedikit dari mereka yang mengeluarkan bau tidak sedap dari badannya. Dan beberapa dari mereka juga, mulai menawar tarif.

Maka, sesaklah bis itu. Tidak ada yang berdiri memang. Tapi, AC sekarang sudah tidak terasa dingin. Seorang pengamen masuk. Bernyanyi, dengan gitar fals. Tepat di telinga saya. Tampangnya awut-awutan. Beres pengamen, pedagang donat masuk. Presentasi dulu sekitar lima menit, lalu menaruh donat di pangkuan masing-masing penumpang. “Anda tidak berminat, kami ambil kembali,” begitu kalimat standar yang mereka gunakan untuk menutup presentasi.

Dan dari situ, bis itu tidak pernah sepi lagi. Impian saya untuk tidur di bis, lenyap sudah. Belum lagi, dengkul saya mentok di sana. Boro-boro bisa tidur kalau begitu. Dan penumpang di bis itu, tidak bisa diam. Rasanya semua berbicara.

Saya jadi heran. Dan timbul pertanyaan. Kenapa penumpang kelas menengah ke bawah, selalu lebih ribut di bis antar kota? Soalnya, kalau saya naek bis Bandung Jakarta, AC dengan kursi dua – dua dan tanpa dengkul mentok, penumpangnya diam, tenang, tidak banyak bicara.

Sepanjang Pantura, pedagang keluar masuk bis itu. Barulah saya yakin, bis itu bukan bis AC seperti yang saya bayangkan. Pedagang mulai kacang polong, pensil 2B, buku, salak, jeruk, air minum, tahu, semua ada! Datang bergantian.

Sekitar setengah empat, saya tiba di tujuan. Dan ketika saya turun, barulah saya lihat di bis itu, tulisan Bisnis AC. Akhirnya! Bebas! Pulangnya, saya pilih naek kereta saja. Yang ternyata, jauh lebih nyaman, menenangkan, dan lebih cepat. Tiga jam saja.

Tidak lagi-lagi deh, naek bis ke Cirebon.

Meringis di Bis

Jangan pergi ke Cirebon naek bis!



Apalagi kalau kamu pergi dari
Jakarta. Ini sedikit cerita pengalaman saya naek bis dari Jakarta ke
Cirebon. Sabtu [15/7] kemarin saya ke Cirebon. Pacar saya sedang KKN di
Desa Plumbon, Kabupaten Cirebon. Makanya, saya kunjungi. Hehe.




Saya
pilih bis, karena lebih dekat ke terminal, dari pada ke Stasiun dari
kosan. Lebih praktis lah. Plus, jadwal kereta belum tau pasti.




Jam
tujuh pagi, saya berangkat dari kosan. Sarapan dulu. Jam delapan di
Terminal Lebak Bulus. Tapi, tidak ada Bis Jakarta Cirebon yang ber-AC.
Lantas, saya pergi ke Kp. Rambutan. Seperti biasa, terminal selalu
menjengkelkan. Begitu tiba, banyak calo menghampiri. “Mau ke mana Bang?”




Awalnya
saya menolak. Tapi, setelah kesulitan mencari bis Cirebon, saya
menyerah juga. Tidak berapa lama setelah saya bilang Cirebon, tahu-tahu
tangan sudah diseret ke bis AC jurusan Cirebon. Ah, akhirnya bis AC
juga. Tapi, begitu duduk, saya kaget. Karena bis ini, kursinya dua –
tiga. Bukan dua- dua, seperti di bis AC yang lainnya.




Ini sudah
mencurigakan. Hmmm, alamat tidak nyaman nih. Begitu pikir saya. Tapi,
saya berusaha tepis jauh-jauh pikiran itu. Ah, mungkin bis AC ke
Cirebon memang begitu. Yang penting, bis dingin. Berapa lama pun saya
duduk, tidak apa-apa lah. Asal dingin. Asal sepi. Waktu saya duduk di
sana, cuma ada sekitar tujuh orang menempati kursi.




Jam setengah
sepuluh bis keluar dari terminal. Baru sejam kemudian, bis mulai masuk
Tol Luar Kota. Di sini mulai mencurigakan. Penumpang mulai berdatangan.
Bis mulai tidak dingin. Dan beberapa penumpang, mulai menawar tarif Rp
45 ribu yang ditetapkan kondektur. Mereka kelihatan tidak cocok dengan
harga itu.




Biasanya, penumpang bis AC tidak menawar tarif. Hmmm.
Semakin mencurigakan nih. Di pintu tol Pondok Gede, semakin kuat
kecurigaan saya kalau bis ini akan tidak nyaman. Penumpang semakin
memenuhi bis. Dan tidak sedikit dari mereka yang mengeluarkan bau tidak
sedap dari badannya. Dan beberapa dari mereka juga, mulai menawar tarif.




Maka,
sesaklah bis itu. Tidak ada yang berdiri memang. Tapi, AC sekarang
sudah tidak terasa dingin. Seorang pengamen masuk. Bernyanyi, dengan
gitar fals. Tepat di telinga saya. Tampangnya awut-awutan. Beres
pengamen, pedagang donat masuk. Presentasi dulu sekitar lima menit,
lalu menaruh donat di pangkuan masing-masing penumpang. “Anda tidak
berminat, kami ambil kembali,” begitu kalimat standar yang mereka
gunakan untuk menutup presentasi.




Dan dari situ, bis itu tidak
pernah sepi lagi. Impian saya untuk tidur di bis, lenyap sudah. Belum
lagi, dengkul saya mentok di sana. Boro-boro bisa tidur kalau begitu.
Dan penumpang di bis itu, tidak bisa diam. Rasanya semua berbicara.




Saya
jadi heran. Dan timbul pertanyaan. Kenapa penumpang kelas menengah ke
bawah, selalu lebih ribut di bis antar kota? Soalnya, kalau saya naek
bis Bandung Jakarta, AC dengan kursi dua – dua dan tanpa dengkul
mentok, penumpangnya diam, tenang, tidak banyak bicara.




Sepanjang
Pantura, pedagang keluar masuk bis itu. Barulah saya yakin, bis itu
bukan bis AC seperti yang saya bayangkan. Pedagang mulai kacang polong,
pensil 2B, buku, salak, jeruk, air minum, tahu, semua ada! Datang
bergantian.




Sekitar setengah empat, saya tiba di tujuan. Dan
ketika saya turun, barulah saya lihat di bis itu, tulisan Bisnis AC.
Akhirnya! Bebas! Pulangnya, saya pilih naek kereta saja. Yang ternyata,
jauh lebih nyaman, menenangkan, dan lebih cepat. Tiga jam saja.




Tidak lagi-lagi deh, naek bis ke Cirebon.

Johnny, Dee Dee dan Soleh

Saya bertemu Johnny dan Dee Dee dari The Ramones malam tadi.

Tentu saja dalam mimpi. Kamu sering mimpi aneh? Bertemu musisi-musisi yang kamu kagumi? Saya sering. Sebelum bisa bertatap muka dengan Iwan Fals, saya memimpikan Iwan belasan tahun sebelumnya. Saya juga sempat mimpi bertemu Mick Jagger.

Dan malam tadi, mimpi seperti itu datang lagi. Seperti banyak mimpi saya yang lain, tiba-tiba saja saya ada di satu tempat. Kali ini, di sebuah ruangan yang entah restoran atau ruangan kantor. Yang jelas, Johnny dan Dee Dee di sana. Memandang saya. Persis seperti yang sering saya lihat di beberapa majalah. Bedanya, kali ini Johnny menyapa saya.

“Hey man. Joey is sick. He’s in the hospital right now. And we’re recording this song, called Vocal Girl Vocal Girl. I wonder, can you help us? We’re looking for someone who can sing that song. And we need it now,” kata Johnny tanpa basa-basi.

Dada saya berdebar. Anjis! Johnny Ramone menyapa saya. Sedangkan Dee Dee hanya diam.

“Uhmm. I’m not sure. But, what kind of vocalist are you looking for?” jawab saya.

“We’re looking for someone who can sing like Joey does. Or perhaps a girl to sing the song. Since the song called Vocal Girl Vocal Girl. Anyway, the reffrain goes like this, the KKK took my baby away. They took her away, away from me.”

Anjis. Ini sih, saya tau lagunya. Begitu saya pikir dalam hati.

“Well, I think I can sing it. But I’ve never sing in a recording album before,” kata saya dengan jantung berdebar.

Setelah itu, Johnny memegang rambut saya yang acak-acakan. Dia mengatur rambut saya hingga akhirnya poninya rata.

Tiba-tiba, adegan berpindah. Saya ada di depan sebuah tempat mirip ‘halte’ telepon umum. Itu loh, yang berwarna biru dengan canopi di atasnya itu. Yang biasanya, ada beberapa telepon koin di ‘halte’ itu. Cuma, kali ini, tak ada pesawat teleponnya. Hanya beberapa kaos dipajang di sana. Kaos The Ramones, The Rolling Stones, dan yang anehnya, ada satu kaos putih dengan tulisan The Ramones dan The Rolling Stones di pundak kanan dan kirinya.

‘Halte’ itu dikelilingi dua gedung pencakar langit yang masih dibangun. Langit tidak cerah, tapi tidak juga mendung. Anehnya, warna kuning dan abu-abu cukup dominan di langit.

Johnny dan Dee Dee ada dalam booth di sebelah ‘halte’. Memandang saya. Mereka mengotak-atik mixer.Dan Johnny pun memberi aba-aba.

Saya langsung kenakan headphone yang anehnya ukurannya sebesar helm. Tidak hanya menutupi telinga saya. Tapi, nyaris seluruh kepala. Saya menahan headphone itu supaya tidak melorot. Beberapa detik kemudian, intro lagu “Vocal Girl Vocal Girl” yang di kehidupan nyata berjudul “The KKK Took My Baby Away” terdengar.

Dan bernyanyilah saya.

Johnny, Dee Dee dan Soleh

Saya bertemu Johnny dan Dee Dee dari The Ramones malam tadi.




Tentu saja dalam mimpi. Kamu sering mimpi aneh? Bertemu musisi-musisi
yang kamu kagumi? Saya sering. Sebelum bisa bertatap muka dengan Iwan
Fals, saya memimpikan Iwan belasan tahun sebelumnya. Saya juga sempat
mimpi bertemu Mick Jagger.




Dan malam tadi, mimpi seperti itu datang lagi. Seperti banyak mimpi
saya yang lain, tiba-tiba saja saya ada di satu tempat. Kali ini, di
sebuah ruangan yang entah restoran atau ruangan kantor. Yang jelas,
Johnny dan Dee Dee di sana. Memandang saya. Persis seperti yang sering
saya lihat di beberapa majalah. Bedanya, kali ini Johnny menyapa saya.




“Hey man. Joey is sick. He’s in the hospital right now. And we’re
recording this song, called Vocal Girl Vocal Girl. I wonder, can you
help us? We’re looking for someone who can sing that song. And we need
it now,” kata Johnny tanpa basa-basi.




Dada saya berdebar. Anjis! Johnny Ramone menyapa saya. Sedangkan Dee Dee hanya diam.




“Uhmm. I’m not sure. But, what kind of vocalist are you looking for?” jawab saya.




“We’re looking for someone who can sing like Joey does. Or perhaps a
girl to sing the song. Since the song called Vocal Girl Vocal Girl.
Anyway, the reffrain goes like this, the KKK took my baby away. They
took her away, away from me.”




Anjis. Ini sih, saya tau lagunya. Begitu saya pikir dalam hati.




“Well, I think I can sing it. But I’ve never sing in a recording album before,” kata saya dengan jantung berdebar.

Setelah itu, Johnny memegang rambut saya yang acak-acakan. Dia mengatur rambut saya hingga akhirnya poninya rata.




Tiba-tiba, adegan berpindah. Saya ada di depan sebuah tempat mirip
‘halte’ telepon umum. Itu loh, yang berwarna biru dengan canopi di atasnya itu. Yang
biasanya, ada beberapa telepon koin di ‘halte’ itu. Cuma, kali ini, tak
ada pesawat teleponnya. Hanya beberapa kaos dipajang di sana. Kaos The
Ramones, The Rolling Stones, dan yang anehnya, ada satu kaos putih
dengan tulisan The Ramones dan The Rolling Stones di pundak kanan dan
kirinya.




‘Halte’ itu dikelilingi dua gedung pencakar langit yang masih dibangun.
Langit tidak cerah, tapi tidak juga mendung. Anehnya, warna kuning dan abu-abu cukup dominan di langit.

Johnny dan Dee Dee ada dalam booth di sebelah ‘halte’.
Memandang saya. Mereka mengotak-atik mixer.Dan Johnny pun memberi aba-aba.




Saya langsung kenakan headphone yang anehnya ukurannya sebesar helm.
Tidak hanya menutupi telinga saya. Tapi, nyaris seluruh kepala. Saya
menahan headphone itu supaya tidak melorot. Beberapa detik kemudian,
intro lagu “Vocal Girl Vocal Girl” yang di kehidupan nyata berjudul
“The KKK Took My Baby Away” terdengar.




Dan bernyanyilah saya.

Guilty Pleasure Dangdut

Tidak biasanya, saya suka lagu danggut! Tapi, lagu dangdut yang satu ini, mau tidak mau benar-benar mencuri perhatian. Hahaha. Ini, guilty pleasure dangdut saya yang pertama. Pertama kali saya dengar, dalam perjalanan Bandung-Jakarta di bis Primajasa. Salah satu radio dangdut memutar lagu ini.

Lantas, kali kedua saya dengar, waktu makan sea food di Anyer sekitar dua bulan lalu. Dan yang ketiga, Minggu [2/7] kemarin. Di bis Primajasa. Tapi, kali ini versi video klip. Musiknya memang cheesy. Dangdut yang dimix dengan house musik kacangan. Ada sentuhan musik Melayunya juga. Seperti kebanyakan lagu-lagu house dangdut yang diputar di lapak-lapak bajakan, atau di metro mini. Dan saya suka lagunya. Hahaha. Gawat.

Tapi, coba perhatikan liriknya. Temanya masih selingkuh memang. Tema biasa. Banyak lagu dangdut mengambil tema ini. Pertama kali saya dengar, saya ingin tertawa. Terbayang jelas dua karakter. Yang lelaki, tipe cunihin kalo kata orang Sunda mah. Genit. Yang perempuan, manja. Berkuasa.

Sudah tau pacarnya galak, posesif, cemburuan, si lelaki masih saja main gila. Dan adegan ini digambarkan dengan baik lewat cerita soal SMS. Satu hal kecil yang bisa menggambarkan dengan baik persoalan dan karakter dari sepasang kekasih.

SMS
penyanyi Ria Amelia

bang sms siapa ini bang
bang pesannya pakai sayang sayang
bang nampaknya dari pacar abang
bang hati ini mulai tak tenang

bang tolong jawab tanya ku abang
bang nanti hape ini ku buang
bang ayo donk jujur saja abang
bang kalau masih sayang

kalau bersilat lidah memang abang rajanya
sudah nyata abang salah masih saja berkilah

orang salah kirimlah
orang iseng isenglah
orang salah kirimlah
orang iseng isenglah

mulai dari sekarang
hp aku yang pegang

Kalo mau dengar musiknya, silakan klik ini: http://womanthink.blogspot.com. Saya juga dapat lirik itu dari situs tadi.

Guilty Pleasure Dangdut

Tidak biasanya,
saya suka lagu danggut! Tapi, lagu dangdut yang satu ini, mau tidak mau
benar-benar mencuri perhatian. Hahaha. Ini, guilty pleasure dangdut
saya yang pertama. Pertama kali saya dengar, dalam perjalanan
Bandung-Jakarta di bis Primajasa. Salah satu radio dangdut memutar lagu
ini.

Lantas, kali kedua saya dengar, waktu makan sea food di Anyer sekitar
dua bulan lalu. Dan yang ketiga, Minggu [2/7] kemarin. Di bis
Primajasa. Tapi, kali ini versi video klip. Musiknya memang cheesy.
Dangdut yang dimix dengan house musik kacangan. Ada sentuhan musik
Melayunya juga. Seperti kebanyakan lagu-lagu house dangdut yang diputar
di lapak-lapak bajakan, atau di metro mini. Dan saya suka lagunya. Hahaha. Gawat.

Tapi, coba perhatikan liriknya. Temanya masih selingkuh memang. Tema
biasa. Banyak lagu dangdut mengambil tema ini. Pertama kali saya
dengar, saya ingin tertawa. Terbayang jelas dua karakter. Yang lelaki,
tipe cunihin kalo kata orang Sunda mah. Genit. Yang perempuan, manja.
Berkuasa.

Sudah tau pacarnya galak, posesif, cemburuan, si lelaki masih saja main
gila. Dan adegan ini digambarkan dengan baik lewat cerita soal SMS.
Satu hal kecil yang bisa menggambarkan dengan baik persoalan dan
karakter dari sepasang kekasih.

SMS

penyanyi Ria Amelia



bang sms siapa ini bang

bang pesannya pakai sayang sayang

bang nampaknya dari pacar abang

bang hati ini mulai tak tenang



bang tolong jawab tanya ku abang

bang nanti hape ini ku buang

bang ayo donk jujur saja abang

bang kalau masih sayang



kalau bersilat lidah memang abang rajanya

sudah nyata abang salah masih saja berkilah



orang salah kirimlah

orang iseng isenglah

orang salah kirimlah

orang iseng isenglah



mulai dari sekarang

hp aku yang pegang

Kalo mau dengar musiknya, silakan klik ini: http://womanthink.blogspot.com. Saya juga dapat lirik itu dari situs tadi.

Slank Reuni!

Hampir tidak dapat dipercaya, tapi itu terjadi. Bimbim, Kaka, Bongky, Indra Q dan Pay di satu panggung!

Sejak awal, acara Tribute to Imanez yang digelar di Hard Rock Café, Jakarta, Rabu [21/6] malam itu memang sudah istimewa. Orang-orang yang pernah jadi bagian komunitas Potlot berkumpul. Potlot adalah markas Slank. Banyak musisi pernah “sekolah” di sana. Imanez salah satunya. Penyanyi reggae itu meninggal setahun lalu.

Imanez menyatukan para alumni Potlot. Termasuk limamusisi berbakat yang sepuluh tahun lalu pecah. Formasi Slank paling dahsyat itu akhirnya bermain bersama kembali di depan publik. Membawakan lagu Bangsat dan Mawar Merah. Sambil tersenyum lebar! Beberapa kali, Kaka menghampiri Indra, memeluk Pay dan tertawa bersama Bongky. Mengharukan. Membahagiakan. Membuat bulu kuduk merinding.

Saya tidak bermaksud melebih-lebihkan. Saya belum pernah melihat mereka bermain sebahagia itu. Oke, mereka tersenyum ketika manggung. Tapi, bukan senyum seperti malam itu.

Rasanya, semua yang hadir di Hard Rock merasakan betapa formasi itu punya kharisma yang kuat. Penonton berteriak kegirangan. Bertepuk tangan dengan meriah. Beberapa orang berjingkrakan. Girang. Bernyanyi bersama mereka. Hanya dua lagu memang. Tapi, momen itu benar-benar berharga.

Kalau kamu di sana, kamu bisa rasakan betapa lima orang itu [pernah] bersahabat. Chemistry-nya benar-benar terasa!

Gila! Dada saya berdebar kencang! Ini mimpi jadi kenyataan! Dan saya yakin, bukan cuma saya yang bermimpi seperti itu. Slank dan Bip memang sering ada di satu event. Tapi, belum pernah sekalipun formasi itu ada di satu panggung. Bahkan untuk kolaborasi antara Slank dan Bip pun belum pernah.

Kalau kamu ada di sana, kamu juga pasti bisa merasakan betapa seisi Hard Rock berbahagia! Mungkin semua yang hadir di sana, sama-sama mengharapkan itu terjadi. Hingga ini ditulis pun, dada saya masih berdebar kencang setiap mengingat kejadian kemarin.

Benar-benar kejutan yang menyenangkan. Saya terkejut. Panitia terkejut. Lima musisi itu pun terkejut. Bukan apa-apa, ini di luar rencana. Semuanya terjadi dalam waktu singkat. Mereka “dijebak”, meminjam istilah seorang panitia. Ah, benar-benar malam yang indah. Hehe.

Selain penampilan yang dahsyat itu, acara malam itu memang mengagumkan. Puluhan musisi, yang pernah nongkrong bareng. Lantas mengambil jalan masing-masing. Kemudian berkumpul kembali!

Roots, Rock, Reggae. Mereka tahu itu. Mereka memainkan musik dengan soul. Apakah itu bermain blues, rock n’ roll, atau reggae. Kamu bisa rasakan itu keluar dari dalam hati!

Sekarang, Potlot memang lebih terkenal sebagai markas Slank dan tempat berkumpulnya Slankers. Tapi, komunitas itu, suka tidak suka, telah mengukir sejarah. Dan malam itu, saya seakan diingatkan kembali.

Pertanyaan saya; giliran komunitas mana yang sepuluh tahun lagi akan punya kekuatan seperti itu ya?

Perjalanan Majalah Musik di Indonesia

Kata Frank Zappa, “Most rock journalism is about people who can’t write interviewing people who can’t talk for people who can’t read.” Mungkin dia benar. Makanya, majalah musik di Indonesia tidak pernah bertahan lama. Walaupun istilah rock journalism belum ada di Indonesia.

Ini masih dalam rangka kursus jurnalisme sastrawi. Tugas terakhir adalah membuat outline. Untuk buku, atau pelaporan mendalam. Saya memilih buku. Dan ini, kira-kira yang ingin saya buat.


Outline Buku “Perjalanan Majalah Musik di Indonesia” karya Soleh Solihun. [Amiiin].

Majalah musik di Indonesia tidak pernah bernasib baik. Umurnya tidak pernah bertahan lama. Kalau dibandingkan di luar negeri, mereka punya majalah musik yang bertahan puluhan tahun. Rolling Stone, NME, Blender, Spin, beberapa di antaranya.

Di Indonesia, satu-satunya majalah musik yang pernah bertahan lama, hanyalah Aktuil. Dari tahun 1967, hingga 1981. Itu pun, hanya mengalami masa jaya pada kurun waktu 1970 – 1975. Setelah Aktuil, belum ada majalah musik yang bisa menyamai kesuksesan itu. Nah, buku ini ingin memaparkan bagaimana kisah majalah musik di Indonesia. Kenapa tidak pernah ada yang sukses? Bagaimana peranannya dalam perkembangan industri musik di Indonesia? Dan banyak pertanyaan lain.

Untuk menceritakan perjalanan majalah musik di Indonesia, saya bagi ke dalam empat periode.

Periode ’70-an.
Majalah yang diceritakan di sini, adalah Aktuil. Disinggung sedikit soal majalah musik sebelum Aktuil, yaitu Musika, yang terbit tahun ’50-an. Tapi karena Aktuil yang paling fenomenal, maka kisah ini dimulai di sini. Plus, industri musik Indonesia di tahun ’70-an mulai menunjukkan geliatnya.

Cerita dimulai dari pernyataan Remy Sylado, soal tidak akan mau lagi mengurus majalah musik. Dibayar berapapun. Lantas, flashback ke masa ketika Sylado ditawari jadi redaktur di Aktuil. Majalah ini kemudian berkembang. Sylado salah satu tokoh kunci. Sylado pula yang hingga sekarang masih dikenal publik. Itu sebabnya, karakter Sylado untuk menceritakan majalah Aktuil tepat digunakan. Dia juga bisa bicara banyak soal industri musik serta jurnalis musik di Indonesia.

Di periode ini, diceritakan juga, bagaimana Bens Leo yang masih muda bergabung di Aktuil. Dia juga salah satu alumni Aktuil yang masih aktif hingga sekarang. Bens Leo juga jadi Pemimpin Redaksi NewsMusik, majalah musik yang kemudian terbit di akhir ’90-an.

Periode ’80-an.
Banyak yang mencoba mengulang kesuksesan majalah Aktuil. Vista Musik di antaranya. Beberapa awak Aktuil bahkan ikut bergabung di sini. Tapi, Vista Musik tidak berhasil juga. Berubah format jadi Vista Film, Musik, Televisi. Di akhir ’80-an, majalah Hai mulai berubah format jadi majalah remaja pria. Arswendo masuk.

Periode ’90-an.
Di awal tahun ’90-an, Tabloid Citra Musik terbit. Setelah Monitor dibredel, pelan-pelan tabloid ini berubah format jadi tabloid hiburan. Untuk mengganti posisi Monitor. Beberapa karakter di era ini, Remy Soetansyah, dan Hans Miller Banureah. Dua nama ini, akan masuk lagi dalam cerita, di awal 2000-an.

Di era ini, Hai jadi majalah yang paling banyak memberi informasi musik. Remaja Indonesia, rasanya percaya saja apa yang Hai katakan. Mirip dengan yang dialami Aktuil. Sejarah berulang. Hanya, Hai masih bisa diselamatkan. Porsi musik dikurangi sedikit demi sedikit. Perusahaan yang besar di belakangnya, jadi salah satu faktor penentu juga. Di era ini, nama Denny MR muncul. Di era ini pula, Arswendo pernah mengelola Tabloid Dangdut selepas dari penjara. Tabloid Dangdut juga tidak bernasib baik.

Periode 2000-an.
Akhir ’90-an dan awal 2000-an, muncul media massa musik. Tabloid MUMU, yang hanya bertahan sekitar empat tahun. Majalah NewsMusik, yang hanya tiga tahun. Dan tabloid Rock, yang hanya sekitar 52 edisi. Remy Soetansyah dan Hans Miller Banureah dua petingginya. Majalah Popcity juga hanya bertahan sekitar tiga tahun. Majalah Poster juga tidak lebih baik nasibnya. Di era ini, beberapa majalah independen, yang membahas musik cutting edge terbit. Trolley, hanya 11 edisi. Kini, hanya beberapa nama bertahan. Trax dan Ripple di antaranya. Ripple majalah independent yang banyak menulis musik yang tidak mainstream. Sekarang berubah jadi majalah gratisan. Sebagian halamannya diisi katalog produk distro.

Alurnya kronologis. Tapi, di setiap periode, tentu saja digambarkan konflik-konflik yang melanda majalah-majalah itu. Beberapa kisah yang berulang juga, akan menarik untuk diceritakan. Misal, kesamaan Aktuil dan Ripple, yang terbit dari Bandung. Soal porsi musik rock yang cukup besar di Aktuil dan Trax. Cerita berhenti di tahun 2006. Menyisakan pertanyaan, soal berapa lama majalah musik yang sekarang masih terbit bisa bertahan? Apakah sejarah akan berulang?