Dekadensi Moral

Beberapa hari terakhir ini, ada yang terus berputar di kepala saya.

 

“Dekadensi moral”. Banyak orang menggunakan itu dalam kalimatnya. Di koran. Di televisi. Kamu juga pasti pernah mendengar orang menggunakannya dalam kalimat. Entah kenapa, setiap mendengar atau membaca kata itu, saya selalu ingin tertawa.

 

Mungkin karena kata “dekadensi moral” terdengar begitu mutakhir buat saya. Siapapun yang menulis atau mengucapkannya, buat saya seperti orang yang paling tahu soal moral. Merasa diri lebih suci. Dan yang jelas, pandai menyusun kalimat. Hehe. Saya sendiri belum pernah menggunakan “dekadensi moral” dalam tulisan. Baru kali ini. 

 

Penasaran. Saya ketik di google “dekadensi moral”. Hasilnya 743 [0.03 detik]. Berikut saya masukan beberapa kutipan dari sana. Beginilah contoh bagaimana menggunakan “dekadensi moral” dalam kalimat:

 

Pernah dikenal dengan ‘salome’ dan ‘antriani’, fantasi primitif itu menjangkiti prilaku sekelompok pria eksekutif terhormat. Bahkan melibatkan atasan bawahan, pasangan suami istri, dan industri pelesiran. Sekedar variasi, penyakit jiwa atau dekadensi moral?
http://www.popular-maj.com/content/Preview/Liputankhusus/0299/

 

Jauhnya masyarakat Barat dari agama mereka telah menyebabkan dekadensi moral yang mengerikan. Homoseksual, nudisme, pengguguran janin, hubungan bebas di luar perkawinan, dan eksploitasi perempuan, merupakan perilaku yang dianggap biasa di Barat, dan bahkan dalam proses legalisasi oleh parlemen di sebagian negara.
http://www.irib.com/worldservice/MelayuRadio/perspektif/2005/april2005/paus.htm

 

Karena secara fungsional, layanan telepon sex paling tidak dapat menjadi salah satu media bagi “berkembang biaknya” kemesuman –yang pada gilirannya berdampak pada merebaknya dekadensi moral bangsa– dan oleh karena itu bertentangan dengan ketentuan hukum dan nilai-nilai moral yang berlaku dalam masyarakat.
http://www.idp.com/adsjakarta/returnedstudents/article82.asp

 

Pada masa dua tahun terakhir ini dekadensi moral tidak lagi sekedar tawuran, tapi telah lebih parah lagi. Mahasiswa dan pelajar (sampai tingkat SD) telah dicekoki oleh narkoba.

http://media.isnet.org/islam/Etc/Orientasi.html

 

Daya saing pendidikan di Yogyakarta cenderung menurun karena terjadi dekadensi moral. Dekadensi moral itu misalnya berupa meningkatnya pengguna narkoba dan makin merebaknya generasi muda yang menganut aliran hidup bebas.
http://www.suaramerdeka.com/harian/0501/10/x_ked.html

 

Jika rendahnya tingkat apresiasi sastra di Indonesia memang dapat dikaitkan dengan maraknya kasus korupsi dan dekadensi moral lainnya (seperti penebangan liar yang menghancurkan ekosistem lingkungan), kita harus berani menuduh dengan tegas bahwa kurikulum pendidikan yang menjadi biangnya.
http://www.sinarharapan.co.id/hiburan/budaya/2005/1210/bud2.html

 

Pernikahan adalah upaya menghindari dekadensi moral.
http://www.uika-bogor.ac.id/zkr04.htm

 

PADA dasarnya, ada dua lapis dekadensi moral yang terjadi dalam konteks kasus the Black July itu, yang mampu memaparkan gradasi keparahan dekadensi moral dinamika kehidupan politik dan berbangsa di Tanah Air ini.
http://kompas.com/kompas-cetak/0401/24/opini/795779.htm

 

Kalau kita lihat koran atau televisi, seolah-olah telah terjadi sebuah dekadensi moral yang luar biasa. Bayang­kan, di koran ada iklan gigolo!
swaramuslim.net/HIKAYAT/

 

Ada yang mengatakan mereka bermental bejat, komersiil, dekadensi moral, tak beriman, dan sebagainya. Semua ikut bicara: pendidik, agamawan, pakar, wartawan…
neumann.f2o.org/sarlito/mhsw.html

 

Dengan begini, kalau kamu ketik “dekadensi moral” di google. Tulisan saya yang ini, pasti akan ikut masuk dalam hasil pencarian. Hehe.

 

Salam,

Pintu Ke Mana Saja

Coba ada kamu.

Pasti hidup jadi lebih mudah.
Bisa pergi ke banyak tempat.

Tidak usah terjebak macet.
Tidak usah khawatir turun hujan.
Tidak usah khawatir terlambat.

Tidak perlu kos.
Tidak perlu BBM.
Tidak perlu keluar uang lebih banyak.

Dan yang terpenting.
Saya bisa bertemu pacar.
Kapan saja.

Saya ingin sekali menggunakannya sekarang.

Pintu Ke Mana Saja

Coba ada kamu.
Pasti hidup jadi lebih mudah.
Bisa pergi ke banyak tempat.

Tidak usah terjebak macet.
Tidak usah khawatir turun hujan.
Tidak usah khawatir terlambat.

Tidak perlu kos.
Tidak perlu BBM.
Tidak perlu keluar uang lebih banyak.

Dan yang terpenting.
Saya bisa bertemu pacar.
Kapan saja.

Saya ingin sekali menggunakannya sekarang.

Pacar dan Aliran Listrik

Pacar itu datang di saat yang tidak kita duga.

Kamu mungkin pernah merasakannya juga. Bertanya-tanya soal kapan punya pacar–ketika masih jomblo tentu saja. Tapi, sadarkah kamu? Dia datang justru di saat kita pasrah. Melepaskan semua perasaan sakit hati, dendam di masa lalu, atau penasaran kapan dia datang.

Seperti kejadian mati lampu sebenarnya. Kamu tahu, kalau aliran listrik mati di rumah kita. Biasanya, lampu baru menyala di saat kita tidak punya perasaan kesal. Ketika kita sudah pasrah dan sesaat melupakan atau menerima kenyataan itu dengan lapang dada, aliran listrik hidup kembali.

Dan kamu tahu juga bagaimana senangnya perasaan itu.

Pacar dan Aliran Listrik

Pacar itu datang di saat yang tidak kita duga.
Kamu mungkin pernah merasakannya juga. Bertanya-tanya soal kapan punya pacar–ketika masih jomblo tentu saja. Tapi, sadarkah kamu? Dia datang justru di saat kita pasrah. Melepaskan semua perasaan sakit hati, dendam di masa lalu, atau penasaran kapan dia datang.
Seperti kejadian mati lampu sebenarnya. Kamu tahu, kalau aliran listrik mati di rumah kita. Biasanya, lampu baru menyala di saat kita tidak punya perasaan kesal. Ketika kita sudah pasrah dan sesaat melupakan atau menerima kenyataan itu dengan lapang dada, aliran listrik hidup kembali.
Dan kamu tahu juga bagaimana senangnya perasaan itu.

Sashimi Boys

Ini cerita tentang syuting film.
Beberapa hari yang lalu, saya dan teman-teman ada di lokasi syuting film layar lebar yang akan segera beredar. Kami hadir di sana untuk pemotretan majalah kami. Tapi di sana, pihak production house mengajak kami untuk jadi cameo di salah satu adegan. Kami ditunggu hari ini, pukul empat sore di lokasi syuting.
Tentu saja saya dan teman-teman semangat. Syuting film! Layar lebar! Walaupun belum jelas apakah wajah kami akan terlihat di film, tapi kami sudah senang. Saya sendiri sebenarnya tidak terlalu yakin juga kalau wajah saya akan masuk frame. Soalnya, cameo kan hanya untuk orang terkenal. Dua orang teman saya, memang relatif dikenal publik wajahnya–maklum, personel rock band yang cukup terkenal. Sedangkan saya? Tampan juga tidak. Hehe.
Tapi akhirnya saya tertarik juga. Oya, saya belum cerita adegan apa yang akan kami lakukan. Banyak laki-laki pasti tertarik. Adegan sashimi girls! Mengambil makanan dari tubuh perempuan setengah telanjang. Haha. Sesuatu yang selama ini hanya saya baca dari majalah atau dengar dari cerita orang saja. Dan kesempatan melihat langsung dari dekat akhirnya terbuka juga.
Semua sepertinya sudah antusias.
Maka berangkatlah kami. Tujuh orang penuh semangat. Tapi, di tengah jalan pesan pendek masuk ke HP teman saya. Syuting untuk adegan itu dibatalkan. Takut dianggap pornoaksi. Maka, wajah ceria tadi berubah asam. Hehe. Padahal, di kantor kami sudah berkoar soal syuting. Kami hanya bisa menertawakan diri kami sendiri.
Ketika sudah tidak berharap lagi soal syuting, pesan pendek masuk lagi. Adegannya jadi diambil. Semangat kembali berkobar di dada. Dan rombongan itu pun berangkat lagi. Seorang teman yang sudah berangkat ke Bintaro, dipanggil kembali. Demi syuting, dia menunda kunjungan ke rumah pacar. Kami tertawa puas. Pamit kepada teman-teman di kantor. Ya, akhirnya syuting itu jadi juga!
Di tempat parkir, ketika menunggu teman yang dari Bintaro datang, telepon masuk ke HP teman saya. Dan kamu tahu? Syuting itu dibatalkan lagi. Haha. Kedua kalinya! De ja vu. Dan kami seperti mengulang adegan pertama tadi.
Sialan.