Belum Lihat Kok Sudah Ribut

Taman bermain saya sedang ramai dibicarakan.
Sepertinya semua orang ingin ikut berkomentar. Politikus, ulama, selebritis, hingga media massa. Maklum, nama taman bermain saya yang baru ini memang lumayan dikenal banyak orang. Imejnya sangat kuat.
Tapi, tidak banyak orang tahu seperti apa sebenarnya isi taman bermain itu. Di kepala banyak orang, di taman bermain saya mereka hanya bakal menemukan perempuan telanjang. Tapi, soal cerita menarik yang bermanfaat dan informatif tidak banyak orang tahu.
Sekarang, banyak orang menyatakan keberatan atas rencana datangnya taman bermain itu. Mereka menghujat. Mereka mengancam. Padahal, melihatnya saja belum. Penjelasan soal tampilannya yang tidak akan mengikuti tampilan dari negeri asalnya sudah diberi, tapi masih banyak yang tidak percaya.
Tidak diberi penjelasan, banyak orang marah. Diberi penjelasan pun, masih saja tidak percaya. Kalau begitu, diam dulu lah. Sampai taman bermain saya benar-benar selesai dibangun, baru berkomentar. Ternyata, untuk yang satu ini pun masih banyak yang tidak bisa.
Serba salah.

Belum Lihat Kok Sudah Ribut

Taman bermain saya sedang ramai dibicarakan.

Sepertinya semua orang ingin ikut berkomentar. Politikus, ulama, selebritis, hingga media massa. Maklum, nama taman bermain saya yang baru ini memang lumayan dikenal banyak orang. Imejnya sangat kuat.

Tapi, tidak banyak orang tahu seperti apa sebenarnya isi taman bermain itu. Di kepala banyak orang, di taman bermain saya mereka hanya bakal menemukan perempuan telanjang. Tapi, soal cerita menarik yang bermanfaat dan informatif tidak banyak orang tahu.

Sekarang, banyak orang menyatakan keberatan atas rencana datangnya taman bermain itu. Mereka menghujat. Mereka mengancam. Padahal, melihatnya saja belum. Penjelasan soal tampilannya yang tidak akan mengikuti tampilan dari negeri asalnya sudah diberi, tapi masih banyak yang tidak percaya.

Tidak diberi penjelasan, banyak orang marah. Diberi penjelasan pun, masih saja tidak percaya. Kalau begitu, diam dulu lah. Sampai taman bermain saya benar-benar selesai dibangun, baru berkomentar. Ternyata, untuk yang satu ini pun masih banyak yang tidak bisa.

Serba salah.

A Hungry Man is An Angry Man

Kalau sedang lapar, saya sensitif.
Benar. Jangan sekali-kali menggoda atau meledek saya kalau perut saya sedang keroncongan. Entah kenapa, saya pasti jadi laki-laki yang sensitif. Entah istilah itu tepat atau tidak. Sensitif. Yang jelas, saya tidak bisa menerima ledekan, ejekan atau semua yang berhubungan dengan perasaan. Diledek teman, saya kesal. Pundung. Dendam. Ingin menonjok. Pokoknya, jangan main-main dengan saya kalau saya sedang lapar. Hehe.
Dan saya juga biasanya jadi cemburuan. Hehe. Kamu pernah baca tulisan saya yang judulnya Jealous Guy? Nah, sifat itu muncul kalau saya sedang lapar. Begini contohnya. Misalnya pacar saya cerita soal mantannya. Bisa cerita biasa saja. Tidak ada yang istimewa. Tapi, kalau sedang lapar, saya biasanya jadi cemburu. Kesal mendengar cerita itu. Padahal, kalau perut sedang penuh, kenyang, saya akan menganggap cerita itu biasa saja.

Ini kelemahan saya. Tidak bisa berpikir dengan jernih kalau perut sedang kosong. Mungkin saya sama saja dengan binatang. Berbahaya kalau sedang lapar. Mungkin kamu juga seperti saya. Mungkin juga jutaan orang yang setiap hari kelaparan di luar sana. Kalau begitu, akhirnya bisa dimaklumi kenapa ada orang berbuat jahat dengan alasan mencari makan. Saya yang masih bisa membeli nasi saja, tidak bisa berpikir dengan jernih kalau lapar, apalagi mereka yang tidak punya uang untuk membeli nasi. Kamu pernah memikirkan itu?

Kembali ke perut saya. Setelah kenyang, kadang-kadang timbul masalah lain. Saya malah mengantuk. Jadi malas bekerja. Kepala malas berpikir.
Gawat.

Orangtua, Perempuan Setengah Telanjang dan Rencana Jangka Panjang

Ini tentang saya dan pekerjaan saya.
Kamu mungkin pernah baca tulisan saya soal sekarang saya jadi feature editor di taman bermain yang baru. Ya. Secara karir saya meningkat. Dari reporter jadi feature editor. Finansial juga tentunya meningkat. Alhamdulillah. Tapi, tanggungjawab juga semakin berat. Itu konsekuensinya. Saya bahagia. Tentu saja.
Apalagi setelah mengetahui kalau orangtua saya merestui kepindahan saya ke majalah ini. “Bukannya itu majalah porno ya kalau di luar negeri mah?” tanya ayah saya. “Ya yang di sini mah, gambarnya nggak akan seperti di sana,” jawab saya. Sementara ibu saya, sepertinya tidak banyak tau soal imej taman bermain itu.
Intinya, saya dapat restu mereka. Yang mereka khawatirkan justru bukan soal isi majalah–agak heran juga saya, padahal mereka cukup relijius. Jauh relijius dari saya–tapi soal kesejahteraan dan kepastian bekerja di sana, ketika saya bilang sudah pindah kantor. “Kerja teh sering banget pindah-pindah ya,” kata ibu saya singkat.
Orangtua saya dari dulu memang selalu mendukung keputusan saya. Alhamdulillah. Walaupun seringkali, mereka bertanya apakah saya tidak tertarik jadi pegawai BUMN, tapi mereka membiarkan saya memilih pekerjaan yang saya sukai.
Tapi, masih ada orangtua yang belum saya hadapi.
Orangtua pacar saya. Maklum, saya dan Tetta sudah punya rencana jangka panjang soal hubungan kami. Dengan kata lain, kami memandang serius hubungan ini. Tidak untuk main-main. Doakan kami ya. Hehe. Ah jadi melantur. Kembali ke topik pekerjaan. Singkatnya, orangtua Tetta belum tau kalau saya sekarang bekerja di taman bermain yang baru. Yang mereka tahu, saya wartawan. Itu saja. Dulu sih, waktu di Trax saya bilang, saya kerja di majalah musik.
Sampai sekarang, mereka belum bertanya lagi. Untungnya. Hehe.
Ini persoalannya. Ayahnya sedikit konservatif. Dari sekian banyak pandangan dia, gambar-gambar perempuan seksi di media, adalah salah satu yang tidak dia sukai. Satu waktu, dia melihat kalender keluaran Rip Curl, yang jadi bonus Trax. “Ini apa sih? Kok banyak gambar orang telanjangnya?” katanya mengomentari gambar perempuan dengan bikini sedang duduk di pinggir pantai.
Itu baru secuil. Kata pacar saya, beberapa waktu yang lalu juga dia pernah berkomentar soal gambar perempuan seksi. “Jadi kamu jangan bilang dulu sama papa ya,” kata pacar saya soal pekerjaan yang baru ini. Saya mengikuti sarannya. Dan saya memaklumi hal ini. Wajar saja, saya yakin bukan cuma orangtua pacar saya yang keberatan soal itu.
Ironis. Soalnya, saya sering menggoda teman saya, yang tidak ingin namanya muncul di taman bermain itu. Ada hubungannya dengan keluarga, intinya seperti itu. Chicken. Begitu saya sering menggoda dia. Padahal, saya sendiri masih takut akan pendapat orangtua pacar. Dan sebisa mungkin menghindari obrolan soal pekerjaan saya.
Dua orang kakak dan suaminya masing-masing sih, sudah tau. Hanya satu orang kakaknya–yang kata pacar saya cukup konservatif–dan para paman serta bibinya yang belum tau. Karena memang saya juga belum ingin mereka tau. Maklum, saya masih berusaha mendapatkan perhatian mereka. Kalau posisi saya sudah cukup aman, mungkin saya akan lebih berani.
Tapi sebelum itu terjadi, saya masih harus tetap menghindari obrolan soal pekerjaan. Dan berdoa semoga saja mereka bisa terbuka dan menerima saya apa adanya. Seperti juga pacar saya menerima saya apa adanya. Bukan begitu sayang? 🙂
Salam,

Orangtua, Perempuan Setengah Telanjang dan Rencana Jangka Panjang

Ini tentang saya dan pekerjaan saya.

Kamu mungkin pernah baca tulisan saya soal sekarang saya jadi feature editor di taman bermain yang baru. Ya. Secara karir saya meningkat. Dari reporter jadi feature editor. Finansial juga tentunya meningkat. Alhamdulillah. Tapi, tanggungjawab juga semakin berat. Itu konsekuensinya. Saya bahagia. Tentu saja.

Apalagi setelah mengetahui kalau orangtua saya merestui kepindahan saya ke majalah ini. “Bukannya itu majalah porno ya kalau di luar negeri mah?” tanya ayah saya. “Ya yang di sini mah, gambarnya nggak akan seperti di sana,” jawab saya. Sementara ibu saya, sepertinya tidak banyak tau soal imej taman bermain itu.

Intinya, saya dapat restu mereka. Yang mereka khawatirkan justru bukan soal isi majalah–agak heran juga saya, padahal mereka cukup relijius. Jauh relijius dari saya–tapi soal kesejahteraan dan kepastian bekerja di sana, ketika saya bilang sudah pindah kantor. “Kerja teh sering banget pindah-pindah ya,” kata ibu saya singkat.

Orangtua saya dari dulu memang selalu mendukung keputusan saya. Alhamdulillah. Walaupun seringkali, mereka bertanya apakah saya tidak tertarik jadi pegawai BUMN, tapi mereka membiarkan saya memilih pekerjaan yang saya sukai.

Tapi, masih ada orangtua yang belum saya hadapi.

Orangtua pacar saya. Maklum, saya dan Tetta sudah punya rencana jangka panjang soal hubungan kami. Dengan kata lain, kami memandang serius hubungan ini. Tidak untuk main-main. Doakan kami ya. Hehe. Ah jadi melantur. Kembali ke topik pekerjaan. Singkatnya, orangtua Tetta belum tau kalau saya sekarang bekerja di taman bermain yang baru. Yang mereka tahu, saya wartawan. Itu saja. Dulu sih, waktu di Trax saya bilang, saya kerja di majalah musik.

Sampai sekarang, mereka belum bertanya lagi. Untungnya. Hehe.

Ini persoalannya. Ayahnya sedikit konservatif. Dari sekian banyak pandangan dia, gambar-gambar perempuan seksi di media, adalah salah satu yang tidak dia sukai. Satu waktu, dia melihat kalender keluaran Rip Curl, yang jadi bonus Trax. “Ini apa sih? Kok banyak gambar orang telanjangnya?” katanya mengomentari gambar perempuan dengan bikini sedang duduk di pinggir pantai.

Itu baru secuil. Kata pacar saya, beberapa waktu yang lalu juga dia pernah berkomentar soal gambar perempuan seksi. “Jadi kamu jangan bilang dulu sama papa ya,” kata pacar saya soal pekerjaan yang baru ini. Saya mengikuti sarannya. Dan saya memaklumi hal ini. Wajar saja, saya yakin bukan cuma orangtua pacar saya yang keberatan soal itu.

Ironis. Soalnya, saya sering menggoda teman saya, yang tidak ingin namanya muncul di taman bermain itu. Ada hubungannya dengan keluarga, intinya seperti itu. Chicken. Begitu saya sering menggoda dia. Padahal, saya sendiri masih takut akan pendapat orangtua pacar. Dan sebisa mungkin menghindari obrolan soal pekerjaan saya.

Dua orang kakak dan suaminya masing-masing sih, sudah tau. Hanya satu orang kakaknya–yang kata pacar saya cukup konservatif–dan para paman serta bibinya yang belum tau. Karena memang saya juga belum ingin mereka tau. Maklum, saya masih berusaha mendapatkan perhatian mereka. Kalau posisi saya sudah cukup aman, mungkin saya akan lebih berani.

Tapi sebelum itu terjadi, saya masih harus tetap menghindari obrolan soal pekerjaan. Dan berdoa semoga saja mereka bisa terbuka dan menerima saya apa adanya. Seperti juga pacar saya menerima saya apa adanya. Bukan begitu sayang? 🙂

Salam,

Tuhan dan Saya

Seberapa sering kamu ingat Tuhan?
Tentunnya pertanyaan ini buat yang percaya pada Tuhan. Kembali ke pertanyaan tadi; saya sering. Tidak. Saya tidak sedang mengatakan saya orang yang relijius. Walaupun saya diberi nama yang cukup relijius oleh orangtua saya; Soleh Solihun. Yang kadang-kadang jadi beban untuk saya. Khawatir perilaku saya tidak cukup baik di mata orang lain.
Maaf jadi melantur. Kembali soal ingat Tuhan. Sepertinya Tuhan selalu Maha Pemurah dan Pengasih kepada saya. Sejak dari kecil, saya selalu diberi yang terbaik. Setidaknya itu yang saya pikir. Ini hitungannya masih duniawi memang. Sekolah selalu negeri. Ini tentu saja membuat orangtua senang. Di sekolah dan di kampus, saya punya teman cukup banyak. Secara sosial, posisi saya cukup baik. Bahagia lah.
Lantas, mendapat pekerjaan pun tidak sulit. Dan yang penting, saya menyukai pekerjaan yang saya geluti. Benda-benda duniawi yang saya inginkan, akhirnya bisa saya dapatkan juga. Walaupun belum semuanya. Terakhir, saya bertemu perempuan yang akhirnya jadi pacar dan menyayangi saya. Salah satu anugerah terindah yang pernah diberi Tuhan. Kebahagiaan psikologis melengkapi kebahagiaan yang selama ini telah saya dapatkan.
Tapi, ini yang kemudian kadang mengganggu saya.
Ternyata, saya tidak cukup berbuat baik. Masih banyak perintah Tuhan yang belum saya jalankan. Dan masih sering saya melanggar larangan Tuhan. Lebih gawatnya lagi, saya tahu banyak soal ajaran Tuhan. Well, tidak terlalu banyak mungkin. Tapi, lumayan lah. Kesadaran itu ada. Tapi untuk melaksanakannya belum.
Padahal saya tahu, banyak yang telah Tuhan berikan buat saya. Untuk urusan bersyukur atas nikmatnya, mungkin saya sudah cukup baik melakukannya. Tapi, itu semua baru tahap kesadaran saja. Belum pada perbuatan. Agak kurang adil juga, kalau akhirnya saya mengatakan ini karena pengaruh lingkungan. Tapi, mungkin akan berbeda juga keadaannya kalau saya tinggal di lingkungan pesantren. Di pedesaan mungkin. Hehe.
Seperti yang dulu pernah saya tulis. Rasanya iman saya mulai luntur. Gawatnya lagi. Saya sadar. Tapi, tidak juga berbuat sesuatu.
Help Me God.

Tentang Dua Ribu Lima

Ini semacam kaleidoskop hidup saya.
Standar lah, menjelang akhir tahun. Rasanya tepat untuk menulis ini. Tema tipikal memang, tapi sudahlah. Banyak kejadian yang sangat berkesan dalam hidup saya setahun ini. Satu di antaranya membuat saya harus memilih. Ini uraian singkatnya.
Kejadian pertama. Menjadi penyiar Pagi-Pagi di I Radio Jakarta selama April – Juli. Tanpa ada angin, atau hujan, saya ditawari siaran di sana. Tanpa melalui tes yang berat pula. Hanya beberapa kali telepon, satu kali siaran percobaan di Ruang Produksi, maka saya pun jadi penyiar di sana. Mimpi pun jadi kenyataan. Kamu mungkin pernah baca tulisan saya tentang ini.
Kejadian kedua. Harus berhenti siaran. Ini yang berat. Saya dipaksa memilih. Terus siaran, atau tidak jadi jurnalis musik lagi di MTV Trax [sekarang bernama Trax]. Manajemen tidak mau mengangkat saya jadi karyawan, kalau saya masih siaran di sana. Dianggap side job katanya. Agak lucu juga. Padahal, dua media itu masih satu grup. Dan saya pun tidak mengerjakan tugas yang sama. Padahal, jadi penyiar bisa mendukung pekerjaan saya sebagai jurnalis. Tapi Ibu General Manager tidak mau mengerti itu. Saya kesal. Tapi, setelah melalui berbagai pertimbangan akhirnya saya pilih MTV Trax. Karena saya masih nyaman secara psikologis di sana. Saya juga pernah menulis ini.
Kejadian ketiga. Ini mungkin yang paling membahagiakan dari semua. Tetta Riyani Valentia jadi pacar saya pada 17 Agustus. Saya terbang lagi. Setelah terjatuh selama hampir dua tahun. Hehe. Ya, intinya saya bahagia lah. Itu saja. Tidak perlu diterangkan lebih lanjut.
Kejadian keempat. Saya ‘diusir’ dari Trax pada 9 Desember. Serta 6 orang kawan lainnya; Hagi, Arian, Aris, Avi, Okke dan Bayu. Kami memang mau resign dari kantor itu per 31 Desember. Manajemen sudah tahu itu. Toh, suratnya sudah kami kirim akhir Nopember dan awal Desember. Tapi, dengan alasan kami muncul di marketing gathering taman bermain yang baru pada 8 Desember malam–hasil laporan Mamit, seorang karyawan FHM Indonesia yang datang ke acara itu tanpa diundang, kami diminta mengundurkan diri lebih awal.
Sebenarnya, perusahaan tidak berhak mengusir kami tanpa alasan yang jelas. Kalau memang dipecat, berilah kami surat dan pesangon. Kalau tidak, ya biarkan kami menjalani sisa hari kami sebagai jurnalis di Trax. Membantu edisi Februari. Tapi niat baik kami tidak dihargai. Kami dituduh pengkhianat. 9 Desember siang, email kami diblock. Diberi waktu sampai malam untuk mengepak barang-barang, pergi dan tidak boleh kembali. Dan setelah hari itu, masuk ke dalam gedung pun, kami tidak diijinkan.
Kaget. Kesal. Apalagi perasaan kawan-kawan seperti Arian dan Aris yang membangun majalah itu dari awal. Harusnya mereka–para petinggi di sana–bertanya pada diri mereka sendiri, apa yang salah dengan manajemen mereka sehingga 7 orang karyawannya meninggalkan kantor itu secara bersamaan. Tapi, itu bukan sifat mereka mungkin. Bahkan diajak dialog pun kami tidak–hanya Hagi yang sempat diajak berbicara. Setidaknya, ditanya dulu kenapa yang lain mengajukan surat pengunduran diri. Ah sudahlah.
Dan akhirnya, tahun ini ditutup dengan kejadian kelima. Saya dan kawan-kawan bergabung di taman bermain yang baru sejak 12 Desember. Semua terjadi begitu cepat memang. Dari saat kami mencari investor untuk menerbitkan majalah musik, hingga akhirnya yang datang malah tawaran mengelola taman bermain yang baru. Dan yang tidak saya duga sebelumnya, orang tua saya mengijinkan saya bekerja di majalah itu. Padahal saya kira, mereka akan murka dulu sebelum akhirnya mengijinkan. Benar-benar tahun yang berkesan.
Bagaimana dengan kamu?

Jealous Guy

Pacar saya bilang, saya cemburuan.

Kadang-kadang sih. Tidak selalu begitu. Biasanya, kalau mood saya lagi kurang asik. Kalau saya lagi capek. Kalau saya lagi lapar. Sifat itu muncul. Kondisi fisik dan psikologis yang kurang bagus itu, akan memunculkan sifat cemburuan saya, kalau distimuli oleh cerita pacar saya soal laki-laki lain.

Sepele sebenarnya. Misalnya ketika pacar saya cerita, ada pemain perkusi yang oke. Secara tampang dan permainan. Ada sahabat dia yang band-nya baru saja dikontrak oleh cafe. Soal dia yang salah kirim SMS. Atau, soal dia bertemu dengan temannya mantan dia. Atau, ketika pacar saya menyebut nama mantannya.

Padahal, buat saya, laki-laki cemburu itu, seperti kata John Lennon, adalah laki-laki yang merasa tidak aman. Khawatir akan kehilangan pasangannya. Oke, kadang memang, ada perasaan itu. Takut kehilangan. Maklum, saya pernah disakiti. Jadi sedikit trauma.

Tapi intinya, saya percaya kepada Tetta, pacar saya. Dia telah meyakinkan saya berkali-kali, kalau perasaan dia kepada saya tidak main-main. Dan saya juga, meyakinkan kepada diri saya, kalau saya tidak punya alasan untuk cemburu. Tapi, entah kenapa, sifat itu kadang muncul.

Mungkin bukan juga karena saya takut kehilangan. Tapi karena kadang, ketika saya dengar cerita pacar saya soal kekaguman dia pada bakat atau kelebihan laki-laki lain, yang ternyata bakatnya tidak saya miliki, saya jadi iri. Tanda tak mampu lah. Hehehe.

Ini yang sedang saya perangi sekarang. Menghilangkan sifat cemburuan, yang walaupun kecil, tapi bisa mengganggu saya juga. “Cemburuan mah bukan sifat laki-laki maskulin Leh,” kata Attan, sahabat saya, pakar maskulinitas.

Apa memang begitu?

Bagiku Agamaku Bagimu Agamamu

Kasihan sekali, Islam.

Begitu yang sering terlintas di kepala saya belakangan ini, kalo mengingat kata itu; Islam. Agama yang saya anut, karena orangtua saya juga menganutnya. Lantas, kenapa saya kasihan? Banyak hal. Tapi, ada beberapa fakta yang terlihat di depan mata saya yang kemudian membuat saya merasa kasihan.

Ini soal beberapa hal yang kemudian bisa dibilang mewakili Islam. Pertama, soal para peminta sumbangan. Coba lihat, hampir setiap hari kamu temukan itu. Yang mereka minta, biasanya untuk pembangunan mesjid atau untuk yayasan. Kalau yang di pinggir jalan sih, mungkin masih sedikit bisa dimaklumi. Karena bangunannya tampak. Lalu, bagaimana dengan yang ada di bis kota? Yang kadang-kadang, si peminta sumbangannya, adalah perempuan setengah baya, yang memakai jilbab. Bermodalkan kotak kayu yang di depannya dihiasi kertas dilaminating bergambar mesjid dan alamatnya. Tentu saja akan muncul pertanyaan soal jujur tidaknya perempuan tadi dan sekian banyak para peminta sumbangan yang lain di bis kota. Dan agama Islam dijadikan alasan.

Kedua, coba lihat tayangan soal para pemburu mahluk halus di televisi. “Orang-orang pintar” itu pasti memakai atribut Islam. Seperti layaknya para da’i. Dan mereka menggunakan bacaan-bacaan dalam bahasa Arab–entah itu dari al-Qur’an atau bukan, saya kurang paham–untuk menghadapi mahluk halus.

Ketiga, soal pemboman. Para tersangka pelaku pemboman erat sekali dengan agama Islam. Bukan cuma yang di Indonesia. Tapi juga di belahan bumi lain. Maka Islam=terorisme. Sedih sekali. Kenapa juga mereka harus mengatasnamakan agama untuk menghancurkan? Dengan dalih mereka yang dibom itu, adalah kaum kafir. Saya sedih.

Keempat, soal FPI. Kamu pasti tau, beberapa aksi mereka. Yang menghancurkan cafe-cafe, dengan alasan itu tempat penuh dengan dosa. Padahal, katanya FPI juga masih bisa dibeli dengan uang. Lagipula, menurut saya, dengan aksi menghancurkan cafe-cafe, tidak akan membuat orang insyaf. Mungkin ada yang bisa terpengaruh. Tapi, saya tidak melihat efektivitas dari kegiatan penghancuran itu. Malah, akan semakin memperburuk citra Islam. Menyebarkan ketakutan. Sekali lagi, saya sedih.

Walaupun memang, masih ada tokoh-tokoh Islam yang masih bisa menimbulkan simpatik, tetap saja beberapa fakta di atas, membuat saya sedih. Dan saya juga sedih. Karena banyak orang Islam, sudah melupakan ajaran-ajarannya. Juga banyak yang hanya namanya saja terdengar Islami. Tapi kelakuannya tidak. Tidak sedikit juga yang luntur. “Imanku yang dulu tegar, kini hancur dalam sesat kehidupan,” begitu kata Slank.

Saya salah satunya.

Saya Tamu yang Pemalu

Ini cerita tentang saya di rumah pacar saya.

Sampai sekarang, baru empat kali saya datang ke rumah pacar saya. Nah, jam terbang yang sedikit ini tentu saja berpengaruh pada tingkat kegugupan saya. Banyak hal terlintas di kepala. Tapi rasanya yang paling banyak, soal apakah mereka akan menerima saya juga. Seperti halnya pacar saya.

“Perjuangan” itu tidak berhenti sampai diterima jadi pacar, mempertahankan hubungan dan seterusnya. Tapi, juga mencoba diterima di keluarga pacar. Ini suatu perjuangan yang tidak mudah. Oke, mendapatkan hati satu orang saja, sepertinya berat, apalagi mendapatkan hati satu keluarga.

Pacar saya, adalah keluarga besar. Empat kakak beradik. Dia bungsu. Kakak-kakaknya sudah berkeluarga. Kakak pertama, beranak dua. Kakak kedua juga. Kakak ketiga, sayangnya keguguran, jadi belum punya anak.

Pada kunjungan pertama–waktu itu belum jadi pacar–saya bertemu hampir semua keluarga besar mereka. Kakaknya yang pertama dan suami serta anak-anaknya, Kakaknya yang ketiga, serta–ini dia nih–Ibu bapaknya. Bisa dibayangkan betapa gugupnya saya. Gila. Kunjungan pertama, sudah bertemu dengan keluarga besarnya.

Bayangkan. Saya ada di ruang keluarga. Di depan TV. Duduk di sebelah [waktu itu calon] pacar saya. Sementara itu, anggota keluarganya di sekeliling saya. Biasalah keluarga. Ngobrol. Alhamdulillah, saya bisa melewatinya dengan baik. Setidaknya menurut saya.

Kunjungan ke-dua, agak menegangkan. Karena saya pulang sekitar pukul sebelas malam. Dan bapaknya, waktu itu sudah mengkhawatirkan pacar saya. Karena dari pagi, dia belum bertemu. Tapi saya terbebas juga.

Kunjungan ke-tiga, di bulan puasa. Saya buka puasa bersama mereka. Menyantap makanan di meja makan mereka. Ini juga membuat saya grogi. Takut cara makan saya berantakan atau tidak pantas. Hehehe. Tapi saya bisa melewatinya juga.

Kunjungan ke-empat, kemarin. Saya sudah lumayan kurang grogi. Seperti biasa, rumahnya selalu penuh. Tapi, saya agak tenang. Karena sambutan mereka selalu hangat. Dan ketika duduk di ruang keluarga. Di depan TV. Saya tidak segugup ketika pertama kali.

Walau begitu, saya masih menganggap bapak pacar saya, jaga wibawa. Karena anggota keluarga yang lain, yang perempuan sikapnya jauh lebih hangat dibandingkan sang bapak. Tapi, saya bisa mengerti kok. Dia kepala keluarga. Dia adalah laki-laki di rumah itu. Tentu saja, dia harus menunjukkan siapa yang berkuasa. Setidaknya itu pikir saya.

Untung, sang bapak tidak terlalu dingin. Tidak hanya, menjawab “hmmm” ketika ditanya. Sudah lumayan berbasa-basi. Tapi “perjuangan” belum selesai. Masih jauh dari selesai. Dan saya yakin, masih banyak di luar sana, yang juga berjuang. Mencoba mendapatkan hati satu keluarga.

Untuk mereka, saya ucapkan semoga sukses.