Vokalis Lokal Paling Atraktif Versi Subyektif Soleh Solihun

Saya tak suka, jika ada band yang bilang, komunikasi di atas panggung tak penting.

Konsep pertunjukkan musik di atas panggung buat saya, adalah sesuatu yang berbeda dengan album rekaman. Makanya, saya tak setuju dengan pernyataan macam ‘biar musiknya yang berbicara.’ Orang—atau, minimal saya lah—datang ke konser, berharap mendapat suguhan yang menarik dari band. Suguhan menarik ini, tak hanya sound yang bagus, tapi juga band yang komunikatif.

Vokalis atau frontman, adalah yang punya peranan paling sentral dalam membuat sebuah band menjadi komunikatif di atas panggung. Namanya saja sudah frontman. Orang paling depan. Juru bicara. Kalau ingin asik bermain musik tanpa berbicara dengan publik, lakukan saja di dalam studio! Itu sebabnya, saya tak terlalu suka band shoegaze. Bukannya menatap ke arah penonton, mereka malah menatap sepatu. Hehe.

Komunikasi merupakan salah satu bentuk penghargaan sebuah band terhadap penontonnya. Yah, minimal disapa lah. Diajak berbicara. Atau, diberi sedikit basa-basi bahkan provokasi. Itu bisa membuat jarak antara band dan penonton menjadi tak terlalu jauh. Dan ketika ada jembatan antara penonton dengan band, otomatis pertunjukkan itu bisa menjadi lebih personal.

Berikut ini, sepuluh frontman–plus satu frontwoman jika memang istilah itu ada–lokal paling atraktif di panggung. Daftar ini dibuat berdasarkan selera pribadi saya tentunya. Berdasarkan ekspektasi dalam benak saya terhadap frontman.  Dan tentu saja, berdasarkan pengalaman saya menyaksikan pertunjukkan mereka.

David Naif
Panggung besar atau panggung kecil, David juara. Jakarta, Bandung hingga Makassar, David bisa menaklukkan publik. Dia punya semua kualitas yang dibutuhkan untuk jadi vokalis/frontman yang baik. Kualitas vokal yang terjaga selama pertunjukan. Sedikit humor. Blocking panggung yang baik. Penguasaan massa. Enerjik. Dan secara visual, fisiknya menarik. Meskipun kadang kental dengan logat Jakarta, entah kenapa David tak membuatnya jadi membatasi dirinya. Betawi tanpa pretensi. Dan lihat saja dia berdansa. Terlihat sekali menikmati musiknya. Saya belum pernah melihat Naif gagal menaklukan publik.  

Iwan Fals
Orang ini, sepertinya terlahir penuh kharisma. Mungkin, ketika dia baru terlahir di dunia, kharisma sudah terpancar dari dirinya. Hehe. Berlebihan. Tanpa banyak bicara, Iwan sudah memancarkan aura yang besar. Hanya dengan gitar kopong, Iwan bisa memberikan pertunjukkan yang penuh tenaga, dan bisa menaklukan ribuan massa. Dia adalah mantan pengamen jalanan yang paling berhasil. Ketika masuk nada tinggi, kharismanya makin meninggi. Di era liarnya, Iwan Fals bisa mewakili kegelisahan orang-orang di jalanan. Salah satu penyanyi yang bisa terlihat gagah bertelanjang dada di panggung [tak seperti Pasha Ungu, yang malah menggelikan, walaupun tentu saja masih menggelikan ketika dia memakai kostum gothic]. Beberapa hari lalu, saya menyaksikan Iwan Fals yang humoris lagi waktu dia main di panggung PRJ. Dan itu mengingatkan saya lagi, betapa dia sangat kharismatik.

Tria Changcut
Penampilan yang enerjik dan komunikatif adalah yang membuat The Changcuters menarik. Meskipun secara musikalitas mereka masih perlu banyak belajar, secara panggung mereka terlihat seperti band yang sudah banyak jam terbang. Tria Changcut, sang vokalis adalah yang paling atraktif di antara semuanya. Lenggak-lenggoknya di panggung, bisa membuat banyak Mick Jagger wannabe iri. Diberkahi dengan badan yang kurus, sehingga membuatnya aerodinamis untuk berdansa, Tria adalah salah satu vokalis yang bisa menyesuaikan irama langkahnya dengan musik yang dibawakan teman-temannya. Sempat diragukan soal penampilan panggungnya yang humor dan logatnya terlalu lokal Bandung, ternyata Tria bisa membuat publik Jakarta tak berkerut keningnya. Di saat banyak band Bandung yang tampil penuh pretensi, Tria malah membukakan dirinya untuk orang asing.

Kaka Slank
Ikon rock n’ roll lokal ini, punya kualitas yang mirip dengan penampilan panggung Iwan Fals. Dia punya kharisma. Secara fisik, penampilannya mendukung imej rock n’ roll yang keluar dengan sendirinya, tanpa harus berusaha terlalu keras. Di saat banyak vokalis ingin terlihat rock n’ roll dengan dandanannya, Kaka sudah punya semuanya. Dia tahu benar, bahwa kadang perkenalan sebelum membawakan lagu itu penting. Sedikit cerita sebelum bernyanyi, bisa membuat penonton tersenyum. Gaya panggungnya di era ’90-an terlihat banyak dipengaruhi Bob Marley. Gerak-geriknya di panggung, plus rambut gimbalnya. Belakangan, dia seperti ingin menjadi Iggy Pop. Walaupun dia sudah telanjang dada sejak dulu, tapi perhatikan saja gaya panggungnya belakangan ini. Ada kemiripan dengan gerak-gerik Iggy Pop. Tapi, biarlah. Yang penting, dia komunikatif. Wah, ini semakin subyektif nih. 

Armand Maulana
Ini adalah vokalis pop paling enerjik. Dia melompat. Melemparkan mik. Berlari. Bersimpuh. Menghampiri gitaris/bassis. Lalu bernyanyi lagi di depan panggung. Jika Armand Maulana tak begini, mungkin GIGI sudah ditinggalkan penontonnya sejak dulu. Band yang secara penjualan tak terlalu signifikan itu bisa bertahan bertahun-tahun di panggung. Armand bisa terlihat menghayati nyanyiannya. Dia bisa meyakinkan penonton bahwa dia menyukai lagu yang dinyanyikannya itu. Dan yang hebatnya, meskipun dengan semua lompatan dan berbagai gerakan di panggung itu, Armand masih bisa menjaga temponya bernyanyi.

Arian13
Arian bisa humoris sekaligus masih bisa tampil dengan nuansa hard core. Dia bisa memprovokasi massa, dengan kalimatnya. Tahu momen yang tepat untuk menghampiri penonton yang ingin bernyanyi bersama. Dan yang paling penting, dia menulis semua lirik yang dinyanyikannya. Membuat bahasa Indonesia terdengar keren dinyanyikan oleh rock band.

Otong Koil
Vokalis ini bisa membawa aura kegelapan, tapi di saat yang sama, memberikan suasana nyaman. Dia masih bisa humoris. Masih bisa sok ganteng di panggung. Secara visual, Otong tahu benar bagaimana mengemas dirinya supaya sesuai dengan imej yang ingin ditampilkannya. Dan bagusnya, pakaian rumbai-rumbai, gothic dan aneh itu bisa terlihat pas di tubuhnya. Lihat saja Andy /rif. Kurang lebih gaya panggungnya, kadang mirip, tapi di tubuhnya, malah terlihat menggelikan.

Jimi Multhazam
Saya sebenarnya sangat menyukai penampilan panggung Jimi di era tiga tahun lalu. Ketika dia masih tak terkontrol bicaranya. Ketika nuansa jalanan masih terasa di dirinya. Sekarang nuansa itu hilang seiring banyaknya penggemar remaja. Seiring profesinya menjadi penyiar. Seiring jarangnya Jimi ada di jalanan, mungkin. Tapi, dansa panggungnya masih juara, dan kadang celetukan spontannya masih keluar di beberapa kesempatan. Gerakan Jimi adalah gerakan vokalis yang paling banyak ditiru penggemarnya. Lihat saja ribuan Modern Darlings yang menggeliat seperti cacing penuh warna yang kepanasan. Ini adalah bukti betapa efektifnya komunikasi yang dilancarkan Jimi selama ini. Jika dulu dia pernah mengritik betapa dansa orang-orang yang dilihatnya di klub sangat seragam, kini dia juga malah menyeragamkan dansa ribuan penggemarnya. Dia telah menciptakan Planet Marsnya sendiri.

Eka Annash
Dia juga salah satu pemuja Mick Jagger. Perhatikan saja caranya bertolak pinggang. Hanya saja, versi lebih baik dari tiruan Mick Jagger, ada pada Tria Changcut. Tapi Eka memenuhi ekspektasi dari seorang vokalis rock n’ roll band. Dia atraktif di panggung. Bergoyang mengikuti irama. Melompat. Memberikan perkenalan pada lagu. Berkomunikasi dengan penonton. Bahkan, ketika dia grogi tampil di depan penggemar Iwan Fals pun, Eka masih berusaha untuk terlihat tegar. Sayang kurang berhasil.

Anto Arief
Yes yes yes. Soul brother yang satu ini punya potensi menjadi vokalis yang atraktif jika saja dia bisa lebih kreatif memilih kalimat. Tapi, Si Kumis telah menunjukkan kualitas vokalis/frontman yang baik. Skill bermain gitar yang mumpuni. Fashion statement. Dan penghayatan terhadap lagu. Meskipun berkulit sawo matang, di panggung dia merasa dirinya kulit hitam. Tanpa harus terlihat menggelikan seperti beberapa rapper lokal mediocre. Anto berhasil menjadi duta bagi musik 70’s Orgasm Club yang bagi sebagian publik remaja mungkin masih asing di telinga. Dia akan lebih menarik lagi, jika saja musik mereka lebih baik lagi dari yang sekarang. Mungkin dengan lebih menonjolkan unsur psikedeliknya.

Nona Sari
Yang paling berkesan buat saya, adalah ketika White Shoes and The Couples Company tampil di PPHUI, Kuningan beberapa waktu lalu. Sari bisa tampil humoris. Dan selera humor adalah nilai tambah dari seorang perempuan. Apalagi ini vokalis. Sari bisa tampil dengan nuansa feminin, tipikal perempuan rumahan—apalagi dengan dandanannya—tapi bisa juga sedikit terlihat menggoda penonton laki-laki. Ini penting buat vokalis perempuan di panggung. Hehe. Dan yang penting, Sari tak melupakan komunikasi dengan penonton.


Khawatirnya Punya Anak Perempuan

Ini cerita tentang tiga perempuan.

Yang pertama, perempuan paling tua di antara mereka bertiga. Sekira enam puluh tahun. Masih segar. Perokok. Pernah kerja di Bir Bintang. Entah sebagai apa. Yang jelas, banyak sekali memorabilia Bir Bintang di rumahnya. Sebut saja dia, Ibu Verhoff. Sepertinya ada turunan Belanda. Kulitnya putih. Kadang berbicara dalam bahasa Belanda dengan teman yang datang.

Ibu Verhoff, punya anak perempuan. Janda. Sekira empat puluh atau tiga puluh akhir. Sebut saja dia Ibu Grace. Sesekali dia mengunjungi Ibu Verhoff. Kadang menginap di rumah sang ibu.

Ibu Grace punya anak perempuan. Beberapa waktu, dia tinggal bersama sang Oma. Tapi, kadang batang hidungnya tak terlihat. Masih duduk di bangku SMP. Kita sebut saja Cindy. Kalau bicara, volumenya keras sekali. Beberapa kali, dia berkelahi dengan kakaknya, suaranya hampir berteriak.

Mereka adalah perempuan Verhoff dari tiga generasi. Dari tiga orang itu, kita bisa tahu seperti apa gambaran hidup mereka secara fisik. Ingin melihat rupa Ibu Verhoff atau Ibu Grace sewaktu muda, lihatlah Cindy. Begitu juga sebaliknya.

Suatu hari. Ibu Verhoff dan Ibu Grace khawatir. Perempuan Verhoff paling muda, belum juga pulang ke rumah. Ibu Verhoff berinisiatif menelpon sang cucu.

“Cindy, kamu di mana? Kok belum pulang?”
“Aku lagi di PIM,” jawab sang cucu.
“Loh kok, ke PIM? Tadi kan nggak bilang ke PIM. Cepet pulang! Ngapain kamu di PIM? Nonton ya?” nada bicara sang oma makin meninggi.
“Nggak kok, Oma. Jalan-jalan doang.”
“Kamu nonton ya? Gelap-gelapan ya? Nanti dipegang-dipegang loh!” sang oma makin menunjukkan kekhawatiran. “Cepet pulang!”

Setelah telepon ditutup, Ibu Grace berkata pada Ibu Verhoff.

“Cindy kan masih muda. Dia belum ngerti. Nanti ada cowok megang-megang dikiranya suka. Dikiranya cowok itu nganggep dia cantik, karena megang-megang. Nanti tau-tau dia dikobel.”
 

Ibu Setengah Baya dan Kaos Band

Minggu sore, 8 Juni, Toko God Inc, Bandung.

Satu keluarga lengkap; bapak, ibu dan dua anak masuk toko. Si bapak langsung melihat-lihat kaos yang digantung. Si ibu dan dua anaknya menghampiri kasir. Si ibu, tipikal ibu-ibu biasa. Berkerudung. Pakaiannya mirip pakaian kebanyakan ibu-ibu. Separuh baya, sekira empat puluhan. Si anak perempuannya, usia SMA. Si anak lelakinya, sepertinya masih usia SD. Tak ada penampilan yang signifikan membedakan mereka dari kebanyakan keluarga biasa.

“Mbak, ada kaos band nggak?” kata si ibu kepada kasir.

“Itu ada bu, di sebelah sana,” mbak kasir menunjuk ke arah tempat kaos digantung.

Si bapak masih asik melihat-lihat kaos.

“Selain di sini, di mana lagi ya mbak?” si ibu bertanya lagi.

“Wah, di mana ya. Coba lihat aja dulu di sini, Bu.”

“Di Hard N’ Heavy juga ada kok Bu. Di Planet Dago. Nggak jauh dari sini kok,” saya berinisiatif memberi informasi.

“Ooh di Hard N’ Heavy,” kata si ibu sambil memandang ke arah anak perempuannya. Si anak, hanya terdiam. Si ibu masih mengangguk-angguk. Seakan-akan paham benar apa yang saya bicarakan. Saya sendiri, tak yakin dia tahu yang saya maksud.

“Emang mau nyari kaos apaan Bu?” tanya saya.

Si anak masih terdiam. Si bapak masih melihat-lihat. Si ibu masih kebingungan.

“Saya mau nyari kaos Nazareth…” dan si ibu pun menyebut beberapa nama band metal lagi, yang tak bisa saya ingat karena sudah terkejut mendengar jawaban si ibu.

Afterhours: Vox

Tahun lalu, Vox pernah datang ke kantor saya yang lama. Dalam rangka promosi album perdananya, “Pada Awalnya.” Harusnya, wawancara ini dimuat dalam rubrik Afterhours. Seperti juga wawancara saya yang lain, ini tak sempat dimuat. Sebenarnya, wawancara dengan gitaris/vokalis Vega, bassis/vokalis Joseph, kibordis/vokalis Donny dan drummer Mayo ini jauh lebih panjang dari yang tertulis di sini. Cuma, karena waktu saya menuliskan transkripnya, saya sedang malas. Jadi baru segini saja. Dan saya malas untuk mendengarkan transkripnya lebih lanjut.

Entah bagaimana nasib Vox dan album perdananya itu.

 
Di album kalian, tema persahabatan cukup dominan untuk jadi lirik. Kenapa?

Joseph: Waktu itu saya memang sudah lama nggak menemukan teman-teman yang bisa dibilang saahabat, atau keluarga seperti di Vox ini. Saya merasakan satu hal yang bisa membuat band ini jadi warm sekali yaitu persahabatan. Yang ada di kepala saya waktu itu, saya bersyukur sekali. Dan saya ingin orang yang mendengar juga bisa merasakan kalau enak sekali bisa bareng-bareng sahabat.

Memang, persahabatan seperti sekarang ini belum pernah Anda rasakan?
Joseph: Sudah lama ya. Terakhir bersahabat seperti sekarang ini, SMA mungkin [tertawa]. Jadi, niat awalnya memang bukan mau mendirikan band. Cuma, mau mainin musik yang kami suka. Dan persahabatan dengan rekan-rekan Vox, ini sangat menyenangkan. Banyak penggemar awal kami di Surabaya, band ini sangat warm, mereka nanya gimana caranya bisa warm begini? Kami juga bingung, gimana supaya bisa begini. Dan kami sadarnya belakangan ya.

Pada titik apa, kalian memutuskan untuk serius di band ini?
Vega: Pada waktu Mei 2006, kami ditawari Aksara Records untuk bergabung dengan mereka. Ini sehabis kami manggung di launching album The Brandals. Baru Februari 2007 kami bisa merealisasikannya.
Joseph: Waktu itu, kami juga ditelepon panitia LA Lights Indie Fest, mereka bilang kami lolos ke final. Malam pulang dari pertunjukkan itu, saya sendiri nggak bisa tidur. Satu shot dua shot baru bisa minum. Karena kami selalu kagum sama produk mereka. Dan nggak nyangka bisa gabung dengan keluarga besar mereka. Apalagi, kami datang dari kota yang nun jauh di sana. Jauh dari hingar bingar liputan musik.

Kalau begitu, apa yang kalian pikir terhadap diri sendiri, begitu mendapat tawaran itu?
Donny: Waktu itu kami pikir, masuk MTV Jail, karena acaranya kan selalu di toko buku Aksara.
Joseph: Soalnya, sebelumnya kami band yang selalu manggung dengan baju batik, caur pokoknya lah. Tiba-tiba, Aksara nawarin kami, boom! Label yang sedemikian itunya di ibukota.
Vega: Pemikiran kami, alhamdulillah, records suka. Dan ternyata mereka mau mengontrak dan mendistribusikan. Akhirnya kami pikir harus membuat lagu yang bisa disukai orang banyak.
Joseph: Itu pertanyaan yang sering kami tanyakan pada David Tarigan [A&R Aksara Records], kenapa Anda pilih Vox? Dia jawab, karena kalian hangat dan bisa menghibur orang. Kami sendiri nggak pernah mengira itu. Dan memang kalau sesuatu yang dilakukan dengan hati, mungkin lebih soul, lebih warm. Kami langsung gali segala akar musik, termasuk konsep vox populi vox dei itu. Bahkan alasan kami pakai seragam waktu itu, supaya egaliter. 

Memang, sempat merasa tidak percaya diri, karena kalian band dari luar Jakarta?
Joseph: Pasti. Apalagi tahu sendiri, kualitas band di Bandung dan Jakarta. kami sangat kagum dengan scene di luar sana. alhamdulillah, scene di Surabaya, juga menuju ke arah sana. Kalau di Bandung, lebih integral, saling mendukung. Terus elemen pendukungnya, bagus. Kalau Jakarta, ya namanya juga ibukota. Kami rekaman demo, dibuat di rumah sendiri. Kami juga, kan nggak punya duit banyak. waktu itu, yang kami miliki Cuma musik. Kami harus bikin good music. Bener-bener kami gali, semua referensi. Bikin workshop. Bikin panduan.

Album apa yang kalian jadikan panduan, waktu workshop itu?
Joseph: Kami bikin dua kali demo, bikin dua CD referensi. The Beatles, mulai dari album Revolver ke atas. Terus, Magic Numbers. Itu yang pertama. The Beach Boys yang Pet Sounds. Dan Bob Dylan serta Lennon. Kalau CD kedua, banyak banget, tapi yang lebih modern. Di demo kedua, ada aransemen baru, karena kami band panggung. Karena kami tahu, kata orang kekuatan kami di panggung.

Bagaimana perjuangan kalian mengenalkan musik kalian pada publik Surabaya?
Vega: Sebenernya nggak mengalami kesusahan. Waktu demo pertama, kami coba tes. Ternyata, masu chart radio juga.
Joseph: Mungkin susahnya karena orang tahu, stereotype Surabaya kota rock. Jadi, memang untuk di Surabaya, band harus asik di panggung. Bahkan, David Tarigan tuh kaget waktu kami kembali lagi ke Jakarta. ‘Kalian enerjik sekali ya di panggung sekarang. Beda dengan waktu pertama kali ke sini, lebih ngepop, folk,’ kata David. Secara nggak sadar, kami ditempa di panggung. Kalau nggak gitu, nggak sukses kami. buat apa kalau rilis nasional, tapi di kota sendiri nggak sukses?

Bagaimana rasanya kerja dengan David Tarigan? Dia kan kolektor, biasanya mereka selalu ingin memasukan selera musiknya pada orang lain.
Joseph: Dia membawa good vibration. David percaya sama kami. nah, yang David lakukan, yang kami rasa sangat berharga, menjaga mood kami, dan tetap menjaga soul dari lagunya. Apa yang kami gali, apa yang kami sajikan kebetulan juga disukai David.
Vega: Pertanyaan David pertama adalah, kalian suka Beatles nggak?
Joseph: Kata David, setiap ada band masukin demo ke Aksara—kami kan nggak pake prose situ—pertanyaan yang selalu diajukan adalah, ‘Kalian suka The Beatles nggak? Kalau nggak, ya berarti ini bukan label yang tepat.’

Kalian menulis lirik “…menjadi yang terhebat” di lagu Ingatkah Pertama, setahu saya, yang pertama menggunakan kalimat itu, Sheila On 7 di lagu Sahabat Sejati. Ada pengaruh dari Eross?
Joseph: Kebetulan lagu itu, kami dapat ceritanya dari anak-anak Sheila. Saya dan teman-teman juga penyuka Sheila On 7. Eross sama Adam pernah cerita soal temannya yang meninggal, dan pernah menampakkan diri di studio, bilang untuk teruskan main musiknya. ‘Kamu kalau ingin jadi yang terhebat, jangan berhenti.’ Kami nggak sadar juga, ya secara lirikal ternyata terpengaruh. Mas detil sekali ya?

Soalnya saya suka lirik-lirik Sheila On 7
Joseph: Kami juga suka. Soalnya liriknya positif. Dan kebetulan di album ini, tema positif juga. Karena setahun ini, yang kami rasakan positif. Dan kami ingin memberikan good vibrations pada orang-orang di saat kondisi saling menyalahkan seperti ini. Kenapa nggak, kita jadi sama-sama satu Negara yang hebat?

Tapi, ngomong-ngomong soal good vibrations, Brian Wilson juga kan gila akhirnya
semua: [tertawa]
Joseph: Ya itu good-nya. Mungkin itu yang menjadikan dia pahlawan. Waktu SD, guru selalu bilang, ‘Kamu mungkin nggak bisa menikmati hasil perjuanganmu. Mungkin kam dicap gila.’ Brian Wilson itu, orang yang tepat di saat yang salah. I just wasn’t made for this time, kata dia. Waktu bikin album Smile, labelnya membenci, band-nya nggak mau nyanyi. Padahal itu karya monumental. Sedangkan the Beatles, proses kreasinya bisa terbatas, ada George Martin di situ. Nah itulah kondisi yang juga mungkin di alami di Indonesia. Maunya bikin sesuatu, tapi karena faktor ini itu, komersil akhirnya tak tersalurkan. Berhubung kami bisa tersalurkan, why not?

Afterhours: RNRM

Ini arsip dari pekerjaan saya sebelumnya. Di sana, ada rubrik afterhours. Isinya hal-hal ringan. Saya sering memaksakan diri untuk memasukan wawancara dengan band. Karena jatahnya hanya satu halaman, ya cuma bisa ditulis segini. Ada versi yang lebih panjangnya, tapi tidak tahu di mana. ini versi siap cetak. Beberapa waktu ke depan, saya akan posting arsip-arsip wawancara saya untuk afterhours.

 

 

R.N.R.M: “Nggak Seru Kalau Main di Klub Terus.”

Rilis album kedua, tur Eropa, R.N.R.M coba masuk ke komunitas band. Soleh Solihun mendengarkan cerita mereka.


Bagaimana ceritanya bisa tur Eropa?

Hendra: Ade Habibie, teman lama kami rilis album pertama kami di sana. Akhirnya, kami bisa ke sana, hampir sebulan. Dibantu juga sama Perkumpulan Pelajar Indonesia di Belanda. Crowd di sana open minded. Kalau di sini, susah banget joged sama musik kami. Musik kayak kami mungkin nggak aneh di sana. Cuma anehnya orang Indonesia bisa maenin musik kayak gini.


Kenapa penonton di Indonesia agak susah joged?

Ekky: Di beberapa tempat, masih banyak yang begitu. Mungkin terlalu banyak musisi, di sini [tertawa]. Mungkin mereka malu juga, karena tidak ada yang memulai untuk meramaikan suasana.


Padahal kalian sudah berusia lima tahun, kenapa masih begitu ya?

Hendra: Nggak juga sih. Waktu di album pertama, cenderung ke klub, itu oke-oke saja. Di album kedua ini, kami masuk ke panggung, ke komunitas band. Kami masih baru di komunitas band. Kalau di klub, semua orang dikasih musik apa aja, kalau udah mabok, goyang. Kami masih berusaha mencoba mengenalkan musik kami di panggung.


Kenapa memutuskan main di komunitas panggung?

Hendra; Ya itu dia. Nggak seru kalau main di klub terus, nggak berkembang. Tahun 2005, kami udah mulai masuk ke konsep band panggung. Udah mulai ada vokal, bass. Nah, sekarang album “Out Box” ini, keluar dari konsep album pertama.


Penonton di pertunjukkan Goodnight Electric sudah bisa goyang, kenapa di kalian tidak?

Hendra: Mungkin karena segmennya. Kami penginnya 20 tahun ke atas, bukan usia SMP. Jadi, lebih dewasa.


Atau, beat kalian kurang bisa mengajak orang berjoged?

Hendra: Nggak juga sih. Waktu melihat di Eropa, musiknya santai, tapi mereka bisa goyang. Beribu-ribu orang, bisa gerak juga. Beat bukan persoalan.


Sekarang kalian menuliskan nama dengan R.N.R.M, mau ganti imej?

Hendra: Supaya lebih singkat aja. Nggak usah harus Rock N Roll Mafia. Dan capek aja ditanya, “musiknya rock n’ roll ya?” Tapi, itu salah satu alasan. Kayaknya R.N.R.M ebih catchy daripada Rock N Roll Mafia. Karena kami bukan rock n’ roll. Dan bukan mafia juga [tertawa].


Bagaimana ceritanya bisa ada vokal Jamie Aditya di album “Outbox” ini?

Hendra: Dia menelepon, bilang minta dibantuin bikin solo album. Kirain ada yang bercanda. Akhirnya pas ketemu, eh ternyata bener Jamie Aditya. Ya udah. Dia datang ke Bandung, tiga bulan bikin solo albumnya. Terus, dia minta satu lagu yang gue bikin, akhirnya kami sepakat dibikin dua versi. Versi original untuk album dia, dan versi R.N.R.M.


Ungkapan “dancing in the echoes” dalam lirik kalian, itu maksudnya apa?

Ekky: Kalau orang mabok, dia nggak ngerti musik apa, tapi enjoy aja itu kalo gue sih. Rasa senang yang berlebihan lah [tertawa].

Hendra: Kalau gue, “dancing in the echoes” itu di kehidupan gue. Misalnya, gue lagi di studio, itu echo gue. Kalau gue lagi di mana, echo gue itu di situ.

“Lelaki, Kendalikan Penismu!” kata Kompas.

Ini ada artikel dari sini, http://www.kompas.com/read/xml/2008/05/22/00005059/lelaki.kendalikan.penismu

 

Bagian pembukanya saya edit. Langsung ke sini saja ya.

 

Meski banyak hal bisa dilakukan untuk meredam gejolak semisal mengembangkan hobi, olahraga, menulis dan lainnya, berikut ini ada teknik sederhana yang bisa dilakukan menurut Subiyanto;

Sadari kenyataan seksualitasmu yang bersifat mudah terangsang, sulit dikendalikan, sering gelisah karena seks, dan hasrat seksual yang kuat. Namun demikian sadari juga bahwa kau dikarunia potensi untuk menggunakan akal budi sehingga mampu bersikap rasional, membuat pertimbangan, memilih yang terbaik untuk diri sendiri.

Saat Anda merasa terangsang dan mengalami ketegangan seksual
1. Duduk dengan tenang. Ambil napas dan rasakan dengan penuh kesadaran keberadaanmu.
2. Alihkan perhatiaan dari seputar alat kelamin ke dalam pikiranmu, jika ketegangan bersumber dari fantasimu. Beri kesempatan pada kemampuan rasionalmu.
3. Pikirkan bahwa reaksi kimia akan berhenti dengan sendirinya.
4. Syukuri bahwa sebagai laki-laki, Anda normal bila memiliki potensi seksual semacam itu.
5. Yakinkan diri bahwa sekaranglah kesempatan untuk melatih kecerdasanmu dalam mengendalikan diri, khususnya seksualitas.
6. Pandanglah penismu yang sedang ereksi dan katakana dengan ramah;” Hi, anak kecil. Jangan nakal, ayo istirahat dulu!”
7. Jika kau berhasil, layaklah untuk berbangga diri. Berilah penghargaan kepada diri sendiri. Anda cerdas dengan belajar dan menjadi ”Tuan bagi diri sendiri.”










 

Hahaha. Ampuh nggak ya, tips-nya?

Banyak Cara Untuk Bersenang-senang

Salah satunya, dengan pergi ke konser KOIL di Hard Rock Café, Jakarta, Rabu [14/5] kemarin.

Sebelum jam delapan malam, beberapa orang sudah datang ke EX. Di promo acara, ditulis kalau pintu dibuka jam delapan malam. Tapi, nyatanya pintu dibuka hampir menuju jam sembilan malam.

“Mau nonton KOIL ya? Jam sepuluh!” kata Kimpoy menirukan ucapan petugas keamanan Hard Rock yang tak membolehkannya masuk ke sana ketika pintu belum dibuka. Kimpoy senang sekali bisa melihat KOIL manggung di Jakarta. Sejak beberapa bulan lalu, dia meminta saya memberi tahu kalau ada jadwal KOIL manggung di Jakarta.

Beberapa jam sebelumnya, saya datang ke launching album Superglad di Mario’s Place, Cikini. Mereka merilis album “Flamboyan,” dan menumpang—begitu Buluk menyebutnya—di acara launching gitar Radix. Buluk adalah salah satu gitaris yang di-endorse Radix. “Padahal, gue nge-lead aja nggak bisa,” kata dia sambil tertawa.

Gitar ini dulu bernama Marlique—saya tak yakin pengejaannya benar. Makanya, di bagian awal foto ini, kamu akan melihat foto-foto dari event tersebut.

Kembali ke Hard Rock. Penjualan tiket baru dimulai ketika pintu Hard Rock baru dibuka untuk umum.

“Yang mau beli tiket, ke sini!” kata petugas keamanan, dengan nada tinggi. Entah karena pada dasarnya dia memang tegas. Entah itu merupakan salah satu upaya menunjukkan wibawa atau kekuasaan dia sebagai petugas keamanan yang berbadan tegap.

Seingat saya, tiket dijual lima puluh ribu rupiah. Tapi, beberapa orang mengatakan kalau mereka membeli tiket tujuh puluh ribu per lembar, malam itu. Padahal, itu tiket resmi.

Wajah-wajah dua puluh dan tiga puluh something cukup dominan malam itu. Jumlah ABG tanggung para pencari jati diri tak terlihat cukup signifikan. Entah karena lokasinya. Entah karena harga tiketnya. Entah karena waktu penyelenggaraannya.

Beberapa menit lebih dari jam sembilan, acara belum juga dimulai. Di area depan panggung, masih ada orang-orang yang makan malam di meja-meja yang ada di sana. Mungkin itu alasan keterlambatan acara.

Saya lupa tepatnya, jam berapa acara dimulai. Sekira jam setengah sepuluh malam, mungkin. Jhody menjadi MC. Saya selalu bingung setiap kali mendeskripsikan Jhody. Jhody mana? Disebut Jhody Edwin-Jhody, rasanya mereka sudah jarang terlihat berduet lagi di teve. Disebut Jhody Super Bejo, entah ke mana pula band itu.

Setting panggung Hard Rock jadi jauh lebih menarik malam itu. Sepanjang sejarah saya melihat pertunjukkan musik di sana, baru pertunjukkan KOIL, panggungnya dihias dengan maksimal. Art work Black Light Shines On berukuran raksasa menjadi latar belakang. Menutupi seluruh dinding di belakang panggung. Menutupi wajah-wajah rockstars yang sudah mati yang digambar di dinding itu. Di sebelah kanan dan kiri drum kit, dihiasi dengan tumpukan televisi. Beberapa televisi juga dideretkan di depan drum kit.

Pertunjukkan belum dimulai, tapi penonton sudah disuguhkan oleh pemandangan yang indah.

Zeke and The Popo jadi pembuka. Disingkat ZATPP. Kenapa tak disingikat ZATP ya? Padahal, kata Popo ditulis disambung, bukan Po Po. Mereka hanya bermain setengah jam. Membawakan lagu-lagu dari album perdana mereka, dan satu lagu dari The Beatles, “Come Together.” Di lagu terakhir ini, Zeke mengeluarkan seluruh penghayatan yang bisa dia lakukan dalam bernyanyi. Saya baru melihat mereka dua kali. Tapi, baru kali ini, saya melihat Zeke bernyanyi seperti itu. Entah karena pengaruh lagu. Entah karena baru kali itu saya melihat mereka membawakan lagu The Beatles. Zeke memeluk mik di dada, seperti halnya gaya penyanyi yang penuh penghayatan. Memejamkan mata. Membungkuk. Dan dia terjatuh. Leher botol air mineral yang dipegangnya sambil bernyanyi, pecah. Gelas pecahannya berhamburan ke meja yang ada di depan panggung.

Penonton masih belum panas. Aksi itu belum mendapat reaksi yang signifikan dari penonton. Atau, reaksi itu luput dari pengamatan saya ya? Yang jelas, area depan panggung masih agak lengang. Masih leluasa memotret.

Ketika Ronaldisko muncul, area mulai padat. Mungkin karena dia membawakan lagu-lagu yang danceable dari Depeche Mode dan lagu miliknya sendiri, penonton lebih mudah mengaplikasikan kesenangannya itu lewat gerakan.

“Gue bukan pelawak, gue musisi. Malam ini gue mau nyanyi. Kalau ngelawak mah, bayarannya lebih mahal,” kata Ronaldisko, mencoba sedikit bercanda.

Biarpun orang lebih dulu mengenal sosok Ronal sebagai humoris, tak ada jejak humor di musiknya. Liriknya lebih banyak bercerita soal pria penuh percaya diri, yang dicintai banyak perempuan. Musik bernuansa 80s yang digarapnya, bahkan terdengar lebih serius dibanding musiknya Club Eighties. Belum istimewa, tapi musik Ronaldisko akan cukup menghibur di lantai dansa buat orang-orang yang sudah bukan remaja.

Tapi, yang paling menarik perhatian malam itu, agaknya kehadiran dua penari dengan tubuh kurus dan perut rata serta berpakaian minim sekali. Strategi yang cukup jitu. Setidaknya, orang [eh maksud saya, lelaki] yang tak suka penampilan Ronaldisko bakal terhibur dengan dua penari itu. Di satu sisi, memang sedikit menunjukkan ketakpercayadirian. Untung saja, Ronaldisko bisa mengakuinya dengan jujur di panggung.

“Kalau udah rilis albumnya sih, gue bakal nentuin pemain band tetapnya siapa, penarinya siapa,” kata Ronal beberapa saat sebelum manggung. Malam itu, dia ditemani DJ Aghi dari Ape On The Roof.

***

Sekali lagi, saya lupa tepatnya kapan acara dimulai. Saya tak punya jam tangan. Lagipula, saya malas untuk menanyakan waktu pada orang. HP saya, ada di dalam tas. Terlalu repot untuk mengambilnya. Jadi, biarlah. Kamu tak perlu tahu kapan tepatnya KOIL naik panggung. Nanti saya kasih tahu saja, kapan pertunjukkan berakhir.

Leon yang pertama kali muncul di panggung. Memakai terusan semacam baju pilot atau mekanik, dengan logo God Inc di beberapa tempat—mereka memang musisi/pengusaha yang tahu benar memanfaatkan media promosi. Penonton bersorak. Leon membawa beberapa tangkai bunga mawar. Membagi-bagikannya pada penonton, yang semakin bersorak setelah melihat aksi bagi-bagi bunga itu.

KOIL senang sekali menabrakkan dua hal yang berlawanan. Membagi-bagikan bunga adalah perbuatan manis dan romantis. Padahal, di satu sisi, imej gelap menyelimuti mereka. Penampilan fisik mereka di panggung, terlihat sangar. Semuanya memakai sepatu new rock. Di ruangan artis, mereka membalurkan bedak merah di lengan dan wajah mereka. Mungkin untuk mendapatkan nuansa darah. Tapi, semua perkataan mereka malam itu, jauh dari kesan menakutkan.

“Selamat menikmati band lawak ini ya,” kata Leon setelah selesai membagikan bunga.

David Naif saja, tak ingin Naif disebut band lawak. Atau, Leon berkata begitu untuk mendapatkan efek psikologis terbalik? Ah gawat, saya sudah terlalu serius menanggapinya.

“Beri gue waktu buat masuk ke belakang sana ya,” kata Leon lagi. Panggung memang terlihat sempit, dengan tumpukan televisi di kanan kiri drum kit. Apalagi dengan badan sebesar Leon, pastinya akan jadi lebih sempit.

Tak berapa lama, satu persatu personel KOIL muncul. Dan mereka pun membawakan intro. Otong menyusul kemudian, ketika bagian di mana dia harus bernyanyi tiba. Penonton semakin riuh. Area depan panggung makin padat. Butuh tenaga ekstra untuk memotret. Dari lagu pertama—yang maaf saya lupa—mereka sudah bernyanyi bersama.

Masih banyak cara untuk mencari uang!
Masih banyak cara untuk bersenang-senang!
Hey hey hey hey!

atau

Pasti ada cara untuk mencari uang
Pasti ada cara untuk bersenang-senang?

Hehe. Saya lupa. Yang jelas, bait pertama itu, saya kutip dari promo konser mereka di multiply.

Dan “Nyanyikan Lagu Perang,” salah satu lagu favorit saya di album “Black Light Shines On” pun dinyanyikan di urutan kedua.

Liriknya positif. Setiap kali saya khawatir tak bisa mencari uang, lirik itu selalu bisa jadi motivator. Banyak pesan positif di album ini. Kalau indie pop, menawarkan nuansa positif dengan cara lembut dan nuansa taman bunga, KOIL menawarkan nuansa positif dengan lebih jantan. Dengan distorsi. Dengan berteriak.

Ini satu hal lagi di mana KOIL senang menabrakkan dua hal yang berlawanan. Imej gelap, biasanya identik dengan negatif. Lihat saja judulnya, Black Light. Secara logika bahasa, ‘hitam’ dan ‘cahaya’ adalah dua hal yang berlawanan. Hitam biasanya kondisi tak ada cahaya. Mungkin, KOIL ingin memberikan pencerahan untuk orang-orang, biarpun dengan memakai imej kegelapan. Hahaha. Dan saya pun semakin serius memikirkannya. Padahal, di salah satu tulisan Ryan Koesuma, dia bilang kalau Otong tak ingin orang terlalu serius menanggapi liriknya.

Malam itu, Otong bernyanyi sambil menari dengan kadang sedikit gaya robotik kadang sedikit bergaya gorila . Dia mengumbar banyak senyum. Beberapa kali mengatakan dirinya ganteng. Bahkan, bintang sinetron pun sepertinya tak seberani itu dalam menyebut dirinya ganteng di depan umum. Walaupun agak susah juga untuk mendebat kalau Otong tidak ganteng.

“Tadi gue ngelihat ada vokalis yang nggak terkenal, pokoknya hidupnya susah lah. Ada di atas tadi. Turun dong!” kira-kira begitu kata Otong ketika ingin memanggil Ari Lasso, di tengah-tengah set mereka.

Tapi, Ari Lasso tak juga datang.

Sementara itu, di depan panggung, penonton semakin menggila. Tapi tetap rapi. Hanya satu bule rese sedikit mengganggu suasana. Saya tak perlu menyebut namanya. Yang jelas, sejak jaman di Parc, dia memang selalu rese setiap mabuk. Malam itu, dia melempar gelas besar ke arah panggung, hingga pecah. Entah bagaimana perasaan Otong melihat kelakuan bule rese itu. Yang jelas, saya sedikit terganggu. Rusuh dia membahayakan orang lain. Beberapa menit setelah pelemparan gelas itu, kening saya terlempar pecahan gelas. Untung yang terkena kening, bagian yang tak tajam.

Saya marah. Kesal. Mengganggu konsentrasi saja. Padahal, saya harus membagi konsentrasi saya jadi dua. Untuk memotret sekaligus menjaga kamera, dan untuk menikmati pertunjukkan. Untung saja, hujan kertas meneduhkan hati yang penuh amarah. Benar-benar indah. Penuh aura positif. Jauh lebih positif dari konser indie pop manapun yang pernah saya saksikan di sini.

“Jangan nyanyi terus dong. Gue kan mau nyanyi. Kalau kalian mau nyanyi mah, karaokean aja,” kata Otong. Wajahnya penuh senyum. Saya yakin, dia tak bersungguh-sungguh ketika menyuruh penonton untuk tak bernyanyi bersama.

Sebagai vokalis, Otong sangat komunikatif. Membuat set panjang mereka terasa pendek. “Kami mau udahan dulu ya. Ceritanya biar ada encore gitu, padahal mau istirahat bentar. Ya kalian ngerti lah,” katanya, ketika mereka akan berganti kostum.

Penonton tersenyum. Otong tersenyum. Ini adalah salah satu konser rock paling penuh senyum. Biarpun para musisi di atas panggung memakai sepatu berduri, dengan lengan dan wajah berwarna merah, dan logo Jack Daniels terpampang, konser itu penuh kehangatan. Tapi, masih tetap terasa wibawa rock-nya. Aura maskulinitas-nya masih ada. Ini tetap penting dalam konser rock. Tapi, KOIL membuat penonton merasa nyaman.

Dua atau tiga lagu terakhir, Ari Lasso tiba-tiba ada di depan panggung. Berteriak-teriak memanggil Otong yang sedang duduk, membiarkan kawan-kawannya memainkan musik. Ari memberi Otong minuman. Ari ikut memegang mik Otong. Seperti halnya para penonton yang ingin ikut ambil bagian dalam konser. Mereka terlihat hangat sekali ketika berduet. Bahkan sepertinya lebih mesra dibandingkan duet Ari Lasso – Bunga Citra Lestari. Tak puas dengan duet ala penonton dan idola, Ari Lasso naik ke panggung. Menyanyikan beberapa bait, kemudian turun lagi. Wajah Ari Lasso berbinar. Dia menyanyi penuh semangat.

Sekira jam satu lebih lima belas menit, pertunjukkan berakhir. Nyaris dua jam mereka bermain. Set panjang yang terasa pendek. Tidak berlebih. Tidak juga kurang.

“Nggak salah ya, gue milih idola,” kata Gucap tersenyum puas. Dia memakai kaos Megaloblast dan sepatu New Rock. Dan dia juga [pernah jadi] arsitek.

Berhenti di Margo City

Saya tak paham banyak soal scene skateboard lokal, tapi yang saya tahu, skate park termasuk barang langka.

Kalau Iwan Fals di lagu “Mereka Ada di Jalan” bilang, anak kota tak punya tanah lapang, maka sekarang, sepertinya anak kota juga tak punya skate park. Sebagai orang awam, yang saya tahu, skate park di Jakarta yang lokasinya relatif mudah dijangkau adalah skate park Kemang, yang sekarang berubah jadi Kemang Food Fest. Mungkin dijadikan tempat jajanan lebih menguntungkan secara finansial. Di Bandung pun, skate park Taman Lalu Lintas sudah hilang. Yang saya tahu, di Buqiet memang ada skate park. Tapi, lokasinya relatif jauh dari pusat kota.

Begitu pula, skate park yang saya datangi, Minggu [11/5] siang kemarin, di Margo City, Depok. Memang, dari Jakarta Selatan lokasinya tak terlalu jauh. Hanya sekira empat puluh menit perjalanan dari kawasan TB Simatupang. Tapi, tetap saja, karena lokasinya termasuk kawasan Depok, secara psikologis itu jadi terasa jauh. Sejak masih jadi siswa SMP di Cibinong, mendengar nama Depok yang terbayang adalah perjalanan yang cukup jauh dengan bis kota. Ternyata, kesan jauh itu masih saja melekat di benak saya. Selain tentu saja, kesan Kota Satelit, Kota Administratif dan entah sebutan apa lagi yang ada buat Depok.

Mungkin, satu lagi sebutan buat Depok, adalah Kota Spanduk. Pendatang dari arah Jakarta, akan disambut dengan banyak spanduk di kanan kiri jalan. Promo acara. Iklan produk, hingga Iklan Layanan Masyarakat semua menghiasi kanan kiri jalan. Dinas Pendapatan Daerahnya, pasti punya pemasukan yang cukup besar dari spanduk dan billboard.

Ada satu spanduk yang tak penting dan seperti menyia-nyiakan uang saja. Spanduk atas nama Suzuki dan entah Polda entah Ditlantas.

“Siapapun Bisa Celaka, Kalau Tidak Hati-hati!”

Oke. Apa maksudnya ya? Itu sama saja mengatakan, “Siapapun Bisa Basah, Jika Terkena Air Hujan.”

Saya melihat spanduk itu di beberapa titik ketika menuju Margo City–yang terletak hanya sekira sepuluh menit dari gerbang Depok. Kota itu sepertinya membutuhkan copy writer yang baik.

***

Saya tak tahu, bagaimana pendapat mereka yang memang bermain skate board soal skate park Margo City. Tapi, kesan pertama saya datang ke sana, tempat itu panas! Skate park-nya ada tepat di depan Margo City. Tak ada pepohonan di sana. Mungkin karena saya datang tengah hari, matahari terasa lebih terik. Walau begitu, saya cukup takjub, mengetahui pengelola pusat perbelanjaan mau memberikan sebagian halamannya untuk skate park.

Volcom menggelar Volcom Stone’s Wild In The Park, hari itu. Kompetisi skate board ini selalu diramaikan band. Dan ada dua nama, yang biasanya selalu jadi bintang tamu; Shaggy Dog dan Rocket Rockers. Dan hari itu, ditambah Seringai. Volcom meng-endorse mereka.

Saya kurang tahu, sekarang ini, Volcom aktif meng-endorse band mana lagi. Yang jelas, tiga nama itu yang paling identik dengan Volcom. Dirasa cocok dengan slogan “Youth Against Establishment” versi Volcom.

Bisa jadi, endorsement adalah salah satu hal positif dari punya band. Yah, minimal urusan remeh temeh macam membeli kaos kaki, celana, atau kaos sudah teratasi. Apalagi jika di-endorse produk macam Volcom, yang kisaran harganya di atas rata-rata produk lokal. Mendapat persediaan barang-barang seperti itu tiap bulan, tentunya merupakan hal yang menyenangkan.

Walaupun, ada beberapa endorsement yang malah membuat band terlihat menggelikan. Kalau diperhatikan, tipikal pop band mainstream, pasti memakai clothing line lokal. Dari satu band, kadang ada satu clothing line untuk satu personel. Kalau desainnya bagus sih, tak apa-apa. Tapi, sering kali, desain kaos mereka tak bagus, akhirnya membuat penampilan band itu semakin tak menarik.

Pas Band dengan merk Skater, bisa jadi contoh. Mereka adalah billboard berjalan dari Skater. Saya tak tahu sejak kapan mereka di-endorse Skater. Yang jelas, imej Pas Band sekarang identik dengan Skater. Hanya Trisno yang masih bisa lumayan memertahankan karakter pribadinya. Agaknya, kabar yang mengatakan Skater membayar mereka per bulan agar mau memakai pakaian merk Skater terus adalah benar adanya. Yah, sepertinya jumlah uangnya cukup menggiurkan hingga mereka mau terus melakukannya.

Entah mana yang lebih diuntungkan, produk atau band yang di-endorse. Saya juga penasaran dengan seberapa signifikan pengaruhnya terhdapa penjualan. Saya pernah mendengar kabar kalau yang memakainya Ariel Peterpan, pengaruhnya cukup signifikan. Kaos yang dipakai Ariel di teve, konon besoknya langsung diburu pembeli. Awalnya, saya tak percaya dengan kabar kalau musisi macam Ariel, bisa datang ke toko kapanpun dia mau, dan mengambil kaos manapun yang dia suka. Tapi, satu waktu, saya pernah menemani Bams SamsonS ke distro-distro di Bandung. Ternyata kabar itu benar adanya. Semua distro merelakan Bams mengambil pakaian manapun yang dia inginkan. For free! Padahal, dari semua orang yang datang ke distro hari itu, harusnya Bams termasuk yang tak punya persoalan finansial dalam membeli produk mereka.

Sepertinya, semua toko itu menganggap, kalau produk mereka dipakai Bams akan punya pengaruh signifikan terhadap penjualan.

Nah, untuk produk mahal macam Volcom, saya tak tahu bagaimana pengaruhnya terhadap penjualan. Kalau kita ambil contoh event hari Minggu itu saja, dari sekian ratus remaja yang datang, berapa persen yang akhirnya membeli produk Volcom asli, yang nota bene harganya beberapa kali lipat dibanding produk lokal? Jangankan memberi produk Volcom yang mahal, membeli kaos Seringai asli saja, sebagian dari mereka enggan melakukannya. Atau mungkin, itu target jangka panjang Volcom.

Yang membuat saya penasaran lagi, adalah apakah ada fans berat Arian, yang kemudian akhirnya memakai produk Volcom? Pasalnya, Arian sudah di-endorse oleh Volcom sejak masih di Puppen. Lamanya hubungan asmara antara Arian dengan Volcom, sampai saat ini, rasanya masih belum bisa dikalahkan oleh hubungan asmara Arian dengan perempuan manapun. Hehe.

Ah, seandainya ada endorsement untuk jurnalis, pasti akan menyenangkan sekali. Apalagi, untuk seorang cheap bastard seperti saya. :p

Private Party di Sin City

“Bebaskan Ahmad Albaaar!” teriak Andy /rif sekira jam sebelas malam sesaat sebelum lagu “Kehidupan” dinyanyikan.

Tak hanya Andy, tapi Kikan, Trison, Armand dan entah siapa dua orang lagi saya tak kenal, ikut menyanyikan lagu itu. Mereka bermain atas nama Erwin Gutawa Rockestra.

Lagu itu, jadi penutup Rolling Stone Private Party yang ke-tiga, Senin [5/5] malam kemarin. Di ulang tahun yang pertama, lagu itu dibawakan oleh sang legenda sendiri, God Bless. Tapi, malam itu, hanya Ian Antono yang datang. Ahmad Albar, rasanya hampir semua orang tahu dia ada di mana saat ini.

Ada perubahan signifikan dari private party kali ini. Suasana terasa lebih megah. Lebih terasa pesta-nya. Mereka memilih Sin City sebagai tema pesta malam itu. Makanya, di beberapa sudut, terdapat meja judi. Ada black jack, baccarat, hingga permainan sederhana macam lempar dart. Hadiahnya; CD. Karpet merah sudah menyambut undangan sejak dari luar halaman pagar kantor mereka. Seperti juga tahun lalu, pesta ini menimbulkan kemacetan di jalan Ampera.

Dinding halaman belakang tempat pesta itu digelar, dihiasi beberapa neon sign sponsor. Bahkan, judul pesta malam itu, diberi embel-embel persembahan A Mild Live Production segala.

Hanya, jumlah orang yang datang sepertinya lebih sedikit dibanding tahun lalu. Buktinya, di pesta kali ini, saya bisa bergerak dengan bebas. Mengambil makanan di belakang, bergerak lagi ke depan, memotret di depan panggung, lalu keliling-keliling halaman itu. Tahun lalu, bolak-balik seperti itu, harus sedikit membuat orang kesal. Entah memang jumlah orang yang datang benar-benar berkurang. Entah penyebarannya jadi lebih baik, sehingga tak ada penumpukan orang di sana. Dan malam itu, tak ada penduduk lokal berderet, duduk di atas tembok belakang, ikut menyaksikan pesta. Entah karena temboknya sudah dibuat lebih tinggi. Entah mereka tak berminat. Hanya beberapa orang terlihat di atas genteng.

Pesta itu masih dihiasi dengan acara pemberian Editor’s Choice Award. Kalau mau tahu lebih detil soal ini, silakan baca saja majalahnya. Salah satu orang yang merasa sangat dihargai dengan mendapat penghargaan ini, adalah Krisna J Sadrach. “Baru kali ini, gue dapet penghargaan dan nerima sendiri. Biasanya, gue nggak dateng. Tapi, majalah Rolling Stone adalah majalah yang punya sikap! Sama seperti gue,” kata Krisna, yang mendapat penghargaan sebagai The Sell Out Producer.

Adib Hidayat memakai kaos Sucker Head ketika memberikan tropinya. Mungkin sebagai simbol berharap Krisna kembali ke jalan yang benar. Membawakan musik metal.

Sarah Sechan masih jadi MC. Tiga tahun berturut-turut. Malam itu, dia berpasangan dengan Ronaldisko alias Ronal Extravaganza, alias Mbe [begitu saya mengenalnya waktu di kampus]. Sarah masih saja menarik, biarpun sudah tua. Ah, saya jadi ingat waktu pertama kali saya menaruh perhatian pada sosok Sarah Sechan. Adalah video klip Rita Effendi, yang berlatar belakang cerita tentang kelasi dan gadis di sebuah kapal laut. Dulu, setiap ada video klip itu, saya pasti langsung bahagia. Hahaha.

Ah, jadi melantur.

Kembali ke pesta. Erwin Gutawa Rockestra cukup menarik malam itu. Saya pada dasarnya, tak terlalu suka Erwin Gutawa. Dia adalah orang yang mengacak-acak album Badai Pasti Berlalu. Hehe. Itu sebabnya, saya tak suka.

Malam itu, Erwin mengajak musisi-musisi muda. Para pemain string-nya, perempuan muda yang dari jauh terlihat cukup menarik. Gitaris dan drummernya, terlihat jauh sekali umurnya dengan Erwin. Hanya bassist dan para vokalisnya saja yang terlihat dihiasi wajah-wajah yang tak asing lagi bagi scene musik mainstream.

Crowd menyambut dingin hampir semua penampil malam itu. Hanya pada lagu “Sempurna” milik Andra & The Backbone saja, mereka terdengar antusias. Pada The S.I.G.I.T. dan Efek Rumah Kaca, sebagian besar crowd hanya mematung. Entah terpukau karena baru pertama kali melihat dua band itu. Entah tak mengerti. Walaupun, beberapa dari crowd terdengar berteriak ketika dua nama itu disebutkan.

“Salah satu yang bikin gue seneng malam ini, adalah karena gue bisa melihat langsung penampilan dua band yang udah setahun ini gue dengerin di i Pod gue; The S.I.G.I.T. dan Efek Rumah Kaca. Makanya, buat malam ini, gue nggak akan nyanyiin lagu cinta!” kata Armand Maulana ketika dia baru muncul di panggung bersama Rockestra.

“Makanya Mand, besok-besok, nggak usah bikin lagu cinta lagi dong!” kata saya kepada Armand, setelah pesta itu usai. Armand dan Efek Rumah Kaca saling bertemu malam itu.

“Kalau GIGI, bikin lagu non cintanya, kan lewat lagu religi,” jawab Armand sambil tersenyum.

Anak-anak Efek Rumah Kaca membalas senyuman Armand. Dan Armand pun bicara cukup banyak soal musik dengan mereka.

Sekira jam sebelas malam, halaman belakang itu sudah lengang. Bagi sebagian besar orang, pesta sudah usai. Tapi, bagi beberapa orang, pesta baru mau menuju klimaks. Di area artis, Trison dan Kikan jadi bintang tamunya. Dua orang itu, sibuk diajak berfoto bareng. Mereka dipuja, sekaligus sedikit dipermainkan sebenarnya.

“Flower Widow! Flower widow!” kata James ketika sejumlah orang akhirnya mengerumuni Kikan dan berfoto bareng.

Trison hanya bisa cengengesan ketika berkali-kali, orang-orang—mulai dari Konde Samsons, Arian 13, Ricky Siahaan, hingga Saleh bin Husein—menyalaminya. Meminta foto bareng. Memuji-muji. Arian bahkan melakukan gerakan solat di depan Trison.

“Trison Roxx ya! Jangan sebut-sebut EdanE,” kata orang yang saya tak kenal namanya, tapi selalu ingin ikut difoto, malam itu. Dia merangkul Trison, yang masih cengengesan.

Trison selalu tak bagus dalam memilih pakaian. Malam itu, dia memakai kaos Misfits, yang dipadukan dengan rompi berbahan katun. Beberapa tahun lalu, saya selalu melihat Trison manggung dengan kaos hitam bergambar wajah gorilla. Walaupun jadinya, Trison masih tak apa-apa jika dibandingkan kemeja transparan jarring-jaring yang dipake Andy /rif dan celana panjang kulit dengan tulisan skull holic.

Dan jika dihubungkan dengan tema malam itu, Sin City, maka Andy /rif adalah salah satu orang paling berdosa malam itu, karena mengenakan kemeja panjang transparan berjaring yang so gay dan akan mengekspos putingnya.

Attitude band café rupanya masih mengalir deras di darahnya.

Apa yang Ingin Kamu Tanyakan kepada Seringai?

Jika kamu punya kesempatan mewawancarai mereka.

Rabu [30/4] kemarin, saya ikut Seringai tur wawancara di tiga radio di Bandung; 99ers, OZ Radio, dan Auto Radio. Mereka sedang promo single ke-dua, “Mengadili Persepsi [Bermain Tuhan].” Di 99ers, seperti biasa, selalu meriah. Waktu mereka wawancara untuk kali pertamanya di sana, acara berlangsung meriah juga. Para penyiarnya bisa membuat suasana menyenangkan. Meskipun mereka sepertinya tak banyak tahu soal Seringai, tapi para penyiar itu bisa membuat obrolan berjalan seru. Pada dasarnya, Seringai memang tipe orang-orang yang senang berbicara. Dipancing sedikit saja, mereka akan menjawab. Kadang panjang lebar. Kadang dibumbui dengan sedikit tipu-tipu. Jawaban-jawaban yang akan membuat senang produser siaran lah. Apalagi untuk program AGOGO di 99ers, jam lima sore itu. Saya lupa akronim dari apa. Yang jelas, ada kata GOKIL di sana.

“Nah, produser. Buat acara AGOGO, ajak artis yang kayak gini dong! Seru. Jangan kayak kemaren, gue disuruh wawancara Bank!” kata penyiar perempuan, yang wajahnya mirip Manik Laluna.

Pertanyaan-pertanyaannya sih standar. Soal judul album Serigala Militia, soal jarak dari ep ke album perdana, soal pekerjaan harian para personel, soal susahnya acara di Bandung dan soal Arian dan Puppen. Tapi, penyiar-penyiar yang banci ngomong dan seringkali mendominasi pembicaraan itu, bisa memancing jawaban-jawaban yang membuat acara jadi meriah.

Auto Radio juga begitu. Penyiarnya cukup bisa membawakan acara dengan meriah. Walaupun masih ada pertanyaan-pertanyaan yang serupa dengan 99ers. Hanya, penyiar Auto Radio sedikit lebih serius dengan penyiar 99ers.

Ketika Khemod bercerita soal pengalaman paling kocak dalam sejarah manggung Seringai, dua penyiar itu menanggapinya dengan berbeda.

“Waktu kami manggung di pensi yang diadain di Kuningan, pager jebol. Ketika Seringai manggung, 50 penonton naik ke panggung. Eh, 50 polisi juga ada di panggung. Jadi, total ada 104 orang di panggung! Bahkan, ada yang mijetin gue segala!” Khemod tertawa.

Penyiar 99ers terbahak-bahak.
Penyiar Auto Radio, hanya diam. “Panggungnya kuat ya?” dia lanjut bertanya.

Sebelum Auto Radio, jam delapan malam, OZ Radio yang dapat giliran wawancara. Tapi, tidak di studio mereka. Melainkan di studio musik Warehouse di kawasan ruko Setrasari. Studio milik OZ juga. Awalnya dibuka untuk umum. Belakangan hanya dipakai untuk kepentingan OZ. Seringai bermain live.

Waktu Joni dan Dawo meminta bantuan operator studio, awalnya si operator ogah-ogahan. Bahkan, setelan mixer yang sudah diatur Joni, diubah lagi oleh operator. Tapi, ketika akhirnya si operator tahu bahwa band yang akan bermain malam itu adalah Seringai, sikapnya langsung berubah. Joni dibiarkan di mixer, tanpa diganggu. Dan ketika Dawo meminta bantuan pun, si operator langsung sigap.

Malam itu, dua program digabung jadi satu. Monday Mess dan Sub Stereo. Konsep Monday Mess, hanya memutar lagu-lagu luar. Sedangkan Sub Stereo, juga mewawancarai band lokal.

Tiga ikon lokal membawakan acara malam itu; Anto Arif, gitaris/vokalis 70’s Orgasm Club, Rekti, gitaris/vokalis The S.I.G.I.T. dan Ariel, vokalis Vincent Vega. Semuanya punya reputasi yang baik di scene independent. Handal di bidangnya. Anto dan Rekti cukup akrab dengan dunia jurnalistik, karena aktif di Ripple. El, saya pernah membaca bahwa dia bisa bete jika diwawancara oleh orang yang tak bisa memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bagus. Intinya, ketiga host malam itu, harusnya tahu benar bagaimana sebuah wawancara yang bagus. Yah, setidaknya, mereka sering menjadi obyek wawancara. Menghadapi pertanyaan dari jurnalis. Harusnya, bisa tahu wawancara seperti apa yang menurut mereka bagus dan menyenangkan buat sebuah kelompok musik.

Jadi, harapan saya kepada tiga host itu cukup tinggi. Apalagi, ini momen langka. Tiga frontman band yang disegani, mewawancara Seringai. Seringkali, musisi mengeluhkan jurnalis yang tak tahu soal musik atau tak mau riset mewawancarai mereka, membuat wawancara berjalan nyaris membosankan. Nah, ketika musisi mewawancarai musisi, agaknya wajar kalau saya berharap tinggi.

Arian, melakukan kesalahan dalam sesi wawancara itu. Saya lupa pertanyaannya apa, seingat saya dia menjawabnya dengan, “Karena kami the now generation!” Padahal, the now generation adalah slogannya Trax FM.

Tapi, secara keseluruhan, malam itu harapan saya tak bisa terpenuhi dengan baik.

Untuk masuk kategori wawancara ancur-ancuran dengan pertanyaan-pertanyaan sembarangan tapi tetap membuat obrolan menarik, tidak juga. Masuk kategori wawancara serius antara orang yang paham musik, tidak juga. Seingat saya, obrolannya hanya soal akhirnya manggung lagi di Bandung, setelah launching waktu itu, soal mengenalkan mereka sebagai bintang tamu, memberi kuis pada pendengar, dan ditutup dengan pertanyaan singkat soal beberapa nama atau kata untuk tiap personel.

Padahal, Ant, Rekti dan El bukan orang yang awam Seringai. Hubungan Anto dan Khemod, adalah anak kos dan bapak kos. Ibu Rekti dan ibu Arian, ternyata berteman. Dan tiga host itu, adalah orang-orang pintar dan musisi yang tak bisa diremehkan. Seharusnya, bisa memberikan pertanyaan-pertanyaan dari sudut pandang yang bisa berbeda dengan sudut pandang penyiar radio lainnya. Padahal, wawancara Anto di Ripple biasanya menarik.

Tapi, malam itu, mereka lebih banyak cengengesan. Dan beberapa kali terjadi keheningan. Untung saja, ada sesi bermain live. Jadi lebih menarik. Walaupun di salah satu lagu, Khemod salah memainkan intro.

Oke, saya tahu, wawancara radio itu sulit. Tak bisa seperti wawancara cetak, yang bisa diedit kemudian. Tapi, setidaknya di benak saya, mereka bisa memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tak terduga.

Ada banyak spekulasi ketika saya bahas hal ini dalam perjalanan menuju Auto Radio. Mungkin karena mereka basic-nya bukan penyiar, jadi belum bisa membawakan acara dengan baik. Baru bagus dalam menyiarkan playlist saja. Mungkin karena suasananya di studio. Mungkin karena produsernya tak bisa mengarahkan. Mungkin konsep acaranya memang seperti itu. Dibiarkan begitu saja, tanpa harus ada yang diambil dari wawancaranya. Mungkin mereka grogi menghadapi Seringai yang nota bene lebih tua dan kadang reputasinya mendahului mereka. Syafril dari Universal, mengatakan kalau bukti mereka grogi adalah ketika hendak memberi pertanyaan terakhir, mereka sibuk membolak-balik buku catatan. Mungkin juga, karena mereka sudah tahu banyak soal Seringai, jadi tak penasaran lagi.

Waktu mereka datang ke Sub Stereo versi OZ Jakarta beberapa bulan lalu juga kurang lebih mengecewakan saya. Padahal, host-nya ada dalam tingkat umur yang sama; David Tarigan, Alvin Teenage dan Sogi Extravaganza. Apalagi, waktu itu Seringai diminta memainkan lagu-lagu orang. Saya kira, mereka akan menggali soal kenapa Seringai memilih lagu itu, dan bicara lebih lanjut soal influence musik mereka. Tapi, tiga host itu juga tak mampu membuat acara jadi meriah.

Atau, memang Sub Stereo seperti itu ya? Saya tak kompeten untuk menilainya memang. Saya tak pernah mendengarkan siaran Sub Stereo, baik di Bandung maupun yang di Jakarta. Bahkan, Sub Stereo versi Alvin Helvi dan Dido pun saya belum pernah mendengarnya. Konon, acara itu mendapat reaksi positif. Tapi, intinya, dua Sub Stereo, sedikit mengecewakan saya.

“Padahal, kalau gue jadi pewawancara Seringai, banyak banget yang bisa digali ya. Kayak misalnya gini, Sam, elu sebagai personel termuda di Seringai dan sudah menikah, gimana perasaanlu ngelihat temen-temenlu yang lebih tua malah belum nikah? Terus, buat Arian, ‘Dari satu sampe sepuluh, sudah berapa amarahlu mendapat pertanyaan soal Puppen?” kata Ricky.

Nah sekarang, kalau kamu mewawancarai Seringai, apa yang ingin kamu tanyakan kepada mereka?