1 – 2 – 3 – 4 !

Ini cerita Jumat [18/1] malam yang aneh bersama Seringai, dan puluhan party crasher di sebuah pesta ulang tahun seorang sutradara klip bernama Josh.

Sejak awal, memang sudah aneh. Personel Seringai pun, mungkin hanya Sammy yang mengenal si sutradara. Atau, bahkan mungkin hanya istrinya Sammy. Dibuatkan klip oleh Josh pun belum pernah. Berbeda dengan The S.I.G.I.T, atau Mocca, yang juga diminta bermain di pesta itu. Mereka katanya sih, sudah pernah dibuatkan klip oleh si Josh.

Arian menyebarluaskan soal pesta itu ke teman-temannya. Tak sedikit dari mereka yang bertanya,

“Siapa Josh?”

Yang dijawab dengan,

“Does it matter?”

Maka menyebarlah berita soal pesta ulang tahun itu.

Seringai menyiapkan penampilan khusus malam itu. Mereka akan membawakan lagu-lagu The Ramones! Hanya lagu-lagu The Ramones!

Wig dicari. Wig dibeli. Wig dicukur. Sedemikian rupa sehingga [maunya sih] menyerupai rambut para personel The Ramones.

“Ternyata, wig di ITC Fatmawati yang paling murah,” kata Arian.

Lagu-lagu dipelajari. “The KKK Took My Baby Away,” “Blitzkrieg Bop,” “Do You Remember Rock N’ Roll Radio,” “Sheena is a Punk Rocker,” dan “I Believe in Miracles” jadi pilihan.

***

Lokasi pesta, adalah rumah kosong di kawasan Kemang Timur. Milik teman si birthday boy. Jam tujuh malam, Batman malah sudah datang. Karena Arian memberi kabar bakal datang ke sana jam tujuh malam. Batman juga tak kenal Josh. Tapi, tak hanya Batman yang tak kenal Josh. Saya rasa, banyak di antara yang datang malam itu, tak kenal Josh. Well, kami sebenarnya bukan tamu yang tak diundang juga. Karena kabarnya, birthday boy sudah mengijinkan Sammy mengajak teman-temannya.

Pesta itu bukan sembarang pesta ulang tahun memang. Tak banyak yang bisa menggelar pesta macam itu. Dengan para penampil seperti DJ Jerome, Mocca, Tika, Efek Rumah Kaca, Adrian Adioetomo, Seringai dan The S.I.G.I.T. Sebenarnya, ada satu lagi, tapi saya tak tahu mereka siapa. Sepertinya begitu juga dengan yang lain. Tak tahu dan mungkin tak peduli dengan band yang bermain setelah ERK dan sebelum Seringai itu.

Band-band itu bermain di kolam renang yang tak terpakai. Dua kamera dengan tripod siap mengabadikan penampilan mereka. Belum lagi, satu kamera yang mobile, dibawa cameraman.

Seringai atau The Ramones Rock Band—nama yang mereka pakai malam itu—bermain setelah ERK. Mereka datang tanpa peralatan. Akhirnya, peralatan The S.I.G.I.T. dipakai.

Crowd terbahak-bahak melihat Seringai dengan wig. Apalagi melihat Khemod dan Ricky. Wig-nya—yang memang untuk rambut perempuan—membuat mereka seperti perempuan. Atau, lebih tepatnya, ibu-ibu. Maunya seperti Johnny dan Marky, eh malah terlihat seperti Ratmi B 29 dan Dora.

Tapi, lagu-lagu The Ramones yang mereka bawakan, terbukti disukai crowd. Mereka ikut berteriak. Bernyanyi. Tertawa. Bahagia. Akhirnya, suasana pesta baru terasa. Karena sebelumnya, crowd seperti asik sendiri. Kurang menyenangkan suasananya.

The Ramones Rock Band mencuri perhatian. Pesta menghangat. Semua berkumpul di pinggir kolam.

“Selamat ulang tahun Jon!” kata Arian.

“Josh!” Sammy mengoreksi.

“Whateverrrr!” balas Arian.

Crowd tertawa.

“Siapa di antara kalian yang datang ke sini dan tak kenal Josh? Hayo ngaku?” Arian bertanya pada crowd.

Crowd kembali tertawa. Sebuah pertanyaan yang mengena.

Baru satu atau dua lagu [saya lupa] The Ramones Rock Band bermain, birthday boy turun ke kolam. Dia sempoyongan. Dari tadi memang sudah terlihat mabuk. Lantas, ikut bernyanyi bersama Arian. Kemudian mengajak crowd untuk turun ke kolam.

Tak ada yang mengikuti ajakan dia. Semua tetap di tempatnya. Tertawa melihat ulah The Ramones Rock Band. Birthday boy terlihat kesal. Sambil berusaha terus mengajak crowd turun.

Birthday boy marah. Entah apa yang dia ucapkan. Middle finger diacungkan. Tak berapa lama, tiba-tiba seorang kawannya, menampar birthday boy. Dua kali. Entah karena rasa kesal. Atau mungkin itu cara mereka menunjukkan keakraban.

Birthday boy marah lagi. Dia memasukkan jari ke mulutnya. Mengolok-olok crowd. Menggesekkan ke selangkangannya. Memonyongkan mulutnya. Tapi, crowd tetap tak mau turun. Mereka malah tertawa.

Tiba-tiba, ada kabar buruk. Acara harus dihentikan. Padahal, baru dua lagu dimainkan.

Kabarnya simpang siur. Ada yang bilang, preman-preman sekitar marah. Si preman yang sudah dihubungi tak menyampaikan lagi pada organisasinya. Ada yang bilang, tuan rumah tak suka karena birthday boy diolok-olok. Ada juga, versi yang bilang, kalau ayah Josh kesal melihat si birthday boy mabuk berat. Si ayah melaporkan pada RT soal pesta itu. Meminta RT untuk menghentikan pesta.

Untung lagu punk rock durasinya pendek. Akhirnya, dua lagu terakhir adalah medley. “Sheena…” tak jadi dibawakan.

Crowd kecewa. Tapi tak bisa berbuat apa-apa. Peralatan dibereskan. The S.I.G.I.T. yang sengaja datang dari Bandung untuk pesta itu, tak jadi tampil. Mereka hanya bisa memandang alatnya dimainkan The Ramones Rock Band. Walau kabarnya, mereka dibayar sejumlah uang untuk bermain di pesta itu.

Jam sebelas malam lebih lima belas menit, pesta berakhir.

Saya tak pernah melihat langsung Pak RT yang marah. Maupun preman-preman atau warga yang marah. Sejak awal, banyak spekulasi soal pesta itu. Mungkin RT-nya dibayar untuk memberi ijin. Mungkin juga tak banyak tetangga di sana. Yang jelas sih, saya tak melihat penduduk sekitar di sana. Berbeda dengan kondisi pada Pesta Rolling Stone beberapa waktu lalu, di Ampera.

Entah ke mana si birthday boy ketika kami pulang. Saya hanya melihat [sepertinya sih] pacarnya di luar rumah. Yang sibuk menolak ketika diajak temannya untuk pergi atau pulang dari sana. Mungkin, ketika nanti birthday boy sadar dan melihat rekaman pestanya, dia akan melihat banyak wajah asing di sana.

Wajah-wajah sama yang kamu lihat di halaman ini.

Menunggu Matinya Majalah Musik

Ini feature yang juga masuk final Anugerah Adiwarta Sampoerna 2007 untuk kategori Seni dan Budaya. Sebenarnya, ini hanya bagian keciiil dari skripsi saya “Perjalanan Majalah Musik di Indonesia.” Rekan-rekan kantor akhirnya setuju saya menulis feature ini setelah saya bujuk rayu. Maklum, waktu rapat redaksi saya diminta mengusulkan feature. Dan yang terpikir serta mudah dilakukan adalah menuliskan kembali sedikit dari skripsi saya. Hehe. Ini dimuat di Playboy Indonesia edisi … ah saya lupa. Hahaha. Nanti saya edit lah kalau sudah ingat. Sementara itu, bagi kamu yang ingin membacanya, silakan…

 

nb: judulnya memang sedikit berlebihan. Dan ini sebenarnya, saya tiru–seijin si pemilik–dari judul tulisan yang pernah dibuat Agung Harysa Wardhana, seorang kawan ketika kuliah yang sekarang jadi reporter 442. Dia waktu itu menulis “Menunggu Matinya KARUNG GONI.” KARUNG GONI adalah nama tabloid gaya hidup di Fikom Unpad yang didirikan oleh saya dan teman-teman di kampus.

 

 

 

Berharap ada majalah musik lokal yang bisa bertahan lama rasanya masih terdengar muluk.

 

Untuk bercerita soal majalah musik lokal, Aktuil bisa jadi pembuka. Sebelum Aktuil, tahun 1963 di Yogyakarta majalah Discorina terbit. Jauh sebelum itu, tahun 1957, tercatat pernah terbit majalah Musika. Aktuil bukan yang pertama memang, tapi pernah menjadi yang paling fenomenal dan meninggalkan banyak warisan.

 

Ide untuk menerbitkan Aktuil datang dari Denny Sabri Gandanegara, kontributor majalah Discorina. Sabri yang tidak puas, memutuskan untuk menerbitkan majalah yang sesuai dengan hatinya. Bob Avianto, penulis lepas majalah perfilman yang ditemui Sabri, akhirnya menghadap Toto Rahardjo, pemimpin kelompok musik dan tari Viatikara. Ide ini disambut gembira oleh Rahardjo. Karena mereka saat itu sedang mengandrungi Actueel, majalah musik terbitan Belanda, Avianto lantas mengusulkan Aktuil sebagai nama majalah baru mereka. Lantas, Roy Sukanto dan Bernard Jujanto, yang juga anggota Viatikara, diajak bergabung setelah mereka menghadapi kesulitan keuangan.

 

8 Juni 1967, Aktuil edisi perdana terbit. Redaksi menempati kantor di Jalan Lengkong Kecil 41, Bandung. Toto Rahardjo jadi pemimpin umum sekaligus pemimpin redaksi.

 

Edisi kedua mereka baru menetapkan periodiasi terbit dwi mingguan. Edisi ketiga, Denny Sabri berangkat ke Eropa untuk kuliah. Dia berjanji pada redaksi untuk mengirimkan tulisan dari sana. Tapi, baru pada 1968, tulisan yang dijanjikan itu datang. Tapi belum ada sambutan yang berarti dari publik. Mungkin karena masih saduran dari majalah asing. Sambutan luar biasa datang dari pembaca, setelah Aktuil menurunkan laporan berseri sepanjang tahun 1969. Isinya tentang gaya hidup Barat; kehidupan hippies, sistem sosialnya, cara berbusana, seks dan orgy, dan mariyuana.

 

Memasuki tahun ’70, Remy Sylado, musisi yang juga pengajar teater di Akademi Sinematografi, diajak bergabung atas saran Denny Sabri.

 

“Barangkali supaya bobot majalahnya tidak sekadar dunia pop, karena saya memainkan musik klasik tapi juga masuk di dalam kancah musik rock. Saya bisa jadi jembatan antara orang–orang klasik yang kaku itu dengan dunia budaya pop,” kata Remy Sylado kepada saya medio Februari 2004.

 

Ketika saya sodorkan biodata untuk diisinya, Sylado mengosongkan kolom nama. Mungkin untuk memberi kebebasan pada orang. Yang jelas, di susunan redaksi, ia menulis namanya dengan Japi Tambayong. Kependekkan dari Jubal Anak Perang Iman Tambayong. Nama Remy Sylado—yang sering dia tulis dengan 23761 diambil dari kord pertama lirik lagu “And I Love Her” dari The Beatles.  

 

Menjelang 1970 berakhir, ukuran majalah Aktuil berubah dari 16 X 21 cm menjadi 21 X 29,7 cm. Di tahun ini, Maman Husen Somantri diajak bergabung. Maman HS, mahasiswa Institut Teknologi Bandung, dianggap menguasai desain. Dia adalah orang di balik ide kreatif pemberian bonus stiker, gambar setrikaan dan poster di Aktuil. Dia juga yang berhasil membuat tampilan Aktuil berani berbeda, dengan background warna gelap yang mencolok. Sangat cocok untuk anak muda masa itu. Maka, Aktuil mulai memasuki masa jayanya. Apalagi setelah Sylado melahirkan gerakan sastra mbeling, lewat cerita bersambung Orexas; Organisasi Sex Bebas. Betapa Orexas berpengaruh terhadap pembacanya, bisa dilihat di salah satu edisi Aktuil yang memerlihatkan foto coretan dinding-dinding kota yang bertuliskan Orexas.

 

“Itu bagian dari flower generation. Semangat pemberontakan terhadap nilai – nilai yang sudah mapan,” kata Remy Soetansyah, wartawan musik, yang waktu Aktuil berjaya masih berjualan majalah.

 

Lewat gerakan sastra mbeling, Sylado mencoba mengatakan definisi keindahan itu bukan hanya milik orangtua, dan dia ingin melawan kekuasaan orangtua, yang biasanya ada dalam feodalisme Jawa. Di pengantar edisi perdana puisi mbeling-nya, Sylado menulis:

 

“Sajak, seperti seni-seni kiwari yang intim dan pop, patutlah dianggap sebagai seni para remaja atau kaum muda, yang bangkit lantaran ternyata nilai-nilai tua yang diternakkan opa oma yang memanjakan kekolotannya, ternyata tak mencapai nilai-nilai yang cocok dengan perkembangan tehnologi yang kian laju meninggalkan kebanggaan-kebanggaan masa silam. Seni kaum tua terlalu dinylimetkan dengan teori-teori yang sudah tidak cocok. Seakan-akan puisi itu barang suci yang turun dari surga. Padahal apa puisi jika bukan sekedar pernyataan apa adanya? Dan buat jadi penyair ternyata tidak susah, gampang sekali. Modalnya cukup hanya dengan selembar kertas cebok dan ballpoint 15 perakan.”

 

Gerakan sastra mbeling, ikut mendukung kesuksesan Aktuil. Agus Sopiann, di majalah Pantau, menulis ada triumvirat yang membesarkan Aktuil, Denny Sabri, Remy Sylado dan Sonny Suriatmaadja. Kesuksesan Aktuil secara oplah bahkan bisa menembus angka 126 ribu eksemplar.  Angka itu diperkirakan selama kurun 1973 – 1974, atau setelah Aktuil Fans Club [AFC] didirikan. Aktuil jadi bacaan wajib anak muda pertengahan ’70-an.  Positioning Majalah Untuk Kaum Muda dan Mereka yang Berhati Muda agaknya tidak berlebihan.

 

Mengenai hubungan musik dan anak muda, Suka Hardjana dalam buku “Coret-Coret Musik Kontemporer dulu dan Kini” mengatakan bahwa secara kultur sosiologis, musik bukan lagi menjadi milik orang dewasa dan orang tua, tetapi predominan menjadi tren budaya anak muda dan remaja. Pangsa pasar bisnis musik memang lebih diutamakan buat mereka karena merekalah pembeli terbesar produksi musik dunia. Inilah fenomena perubahan paling nyata pada perkembangan musik akhir abad ke-20 dan masa kini. Musik adalah dunia kaum remaja dan anak muda.

 

Masa remaja, atau masa muda, identik dengan masa susah diatur, masa-masa penuh perlawanan. Aktuil penuh dengan unsur itu. Mereka sangat menaruh perhatian terhadap musik Barat. Sesuatu yang dilarang pemerintah Orde Lama. Aktuil ingin menepis citra anti Barat. Redaksi Aktuil, sangat mengagung-agungkan musik rock. Musik yang identik dengan unsur perlawanan. Salah satu tulisan di majalah Tempo, malah menulis Aktuil sebagai “kitab suci” penggemar musik rock di Indonesia. Walaupun belakangan, Sylado menulis soal musik klasik di sana, Aktuil lebih kental nuansa rock-nya.

 

“Propagandis musik rock Barat, semua redaktur Aktuil itu,” kata Sylado sambil tertawa.

 

Akhirnya, tidak jarang mereka menganggap musik lain kacangan. Jadi bahan olok-olokan. Dan salah satu yang jadi sasaran mereka, adalah musik Melayu. Salah seorang redaktur Aktuil, Billy Silabumi, mengejek musik Melayu dengan istilah dangdut, yang diambil dari bunyi kendang. Waktu itu, belum ada istilah musik dangdut, masih musik Melayu, atau musik Japin—istilah yang dipakai oleh Glamgoli [gelandangan malam golok liar], preman-preman ’70-an di Alun-Alun Bandung yang memang menyukai musik itu. Belakangan, Sylado memakai istilah itu dalam tulisan hingga sekarang orang mengenal istilah musik dangdut. Tidak hanya istilah dangdut yang jadi warisan Aktuil. Istilah blantika pun dipopulerkan majalah ini. ‘Balantik’ diambil dari bahasa Sunda, yang berarti usaha atau dagang. Jadi, yang dimaksud blantika musik adalah musik yang diperdagangkan.

 

Bicara soal propaganda, Aktuil  tidak bersikap setengah–setengah. Semua musisi rock dibilang superstar, mahabintang. Gito Rollies dibilang superstar, Deddy Stanzah superstar, Ucok AKA pun superstar. Entah baik atau tidak, yang jelas para musisi itu bisa jadi benar–benar terkenal. Cara seperti ini bisa dilihat sebagai kiat Aktuil untuk bertahan hidup. Sebagai majalah yang mengandalkan pemberitaan musik, majalah itu harus meyakinkan pembacanya bahwa musik yang diliputnya adalah penting. Maka, untuk membuatnya penting, musik harus ditaruh di tempat terhormat. Harus punya kesan serba besar, serba hebat dan serba spektakuler. Aktuil telah berhasil menyulap dirinya jadi panggung gemerlap. Berita yang ditulisnya tidak selalu harus dipercaya, yang jelas ceritanya harus memukau. [KOMPAS, 28 Juli 1991].

 

Puncak prestasi sebagai propagandis musik rock, agaknya ketika Aktuil berhasil mendatangkan Deep Purple ke Jakarta pada 5 – 6 Desember 1975 atas usaha Denny Sabri yang juga berhasil menjalin pertemanan dengan musisi idolanya itu. Bahkan ketika tahun 1970, Deep Purple menggelar konser delapan kota di Jerman, Sabri ikut dimasukan sebagai kru.

 

Ketika Sabri pindah ke New York, Aktuil meresmikan kantor cabangnya di sana. Di Aktuil edisi medio Februari 1975, majalah itu menuliskan skema redaksi luar negeri mereka, dengan Denny Sabri ada di urutan atas. Jabatannya hanya tertulis; Redaksi Luar Negeri. Di bawahnya, ada sekertaris, fotografer, film editor, music reporter, dan koresponden dari Jerman Barat, Swedia, Belanda, Jepang, Hongkong dan England. Padahal, ini, menurut Sylado, hanyalah tipu daya Denny Sabri.

 

“Denny Sabri itu yang bikin. Dari Jerman dia pindah ke New York. Apalah kerjaannya. Entah, serabutan ndak karu–karuan. Terus, bikin kantor di sana. Kantor apa itu?” Sylado tertawa.

 

Aktuil, bisa dibilang, telah memberi nada asing kepada majalahnya. Karena yang asing itu Barat, maka gejala itu disebut Sudjoko [dalam Prisma, 6 Juni 1977] dengan pembaratan. Yang terasa pada pembaratan itu adalah kepercayaan, kebanggaan, dan peninggian harkat. Pembaratan ialah cara untuk menyatakan keunggulan, untuk menyadarkan mereka yang tidak mampu membarat bahwa mereka itu berkekurangan, “ketinggalan,” dan “terbelakang”. Ini bisa dipakai sebagai cara berkuasa oleh lapisan atasan, dan cara menarik pembeli oleh pedagang. Untuk menipu massa ternyata bisa juga.

 

Jika di luar negeri, Denny Sabri berhasil menjalin pertemanan dengan Deep Purple, maka di Bandung, rekan-rekan Sabri menjalin pertemanan dengan musisi-musisi Bandung. Itu, ditambah faktor kedekatan lokasi membuat Aktuil lebih banyak menulis soal musisi Bandung. Seorang pembaca Aktuil dari Jakarta dalam suratnya, mengeluhkan kurangnya pemberitaan musisi dari kota lain di luar Bandung. Dia mengatakan memang kelompok musik Hooker dari Jakarta sering dimuat di Aktuil, tapi beritanya kalah padat dengan berita kelompok musik Lizard, dari Bandung. Padahal, kata dia, Hooker Man lebih baik dari Lizard.

 

Yang diuntungkan dari kondisi ini, tentunya musisi Bandung. Almarhum Harry Roesli, mengatakan kalau dirinya dan musisi Bandung se-angkatannya banyak berhutang budi kepada Aktuil karena telah membesarkan mereka.

 

“Tahun ’70-an itu, [di Bandung], semua orang kenal semua orang. Dan wartawan Aktuil, seusia sama kita–kita. Ada yang satu SD lah, satu SMP lah. Seluruh pemusik ya temen mereka juga. Sebetulnya bukan ngebela–bela amat, ya temen lah namanya. Nah sekarang kalau yang bisa didagangin temen kita yang deket, mendingan dia kan? Daripada menjual orang lain, kan lebih susah. Ya kayak saya disuperstar-in. Kami temen, jadi gampang kan urusannya,” kata Harry Roesli kepada saya akhir Maret 2004.

 

Kami remaja waktu itu memang butuh superstar,” kata Soetansyah.

 

Sampai sekarang, dampak pemberitaan Aktuil masih terasa. Nama seperti Gito Rollies, Bimbo dan Harry Roesli masih dikenal orang. Menurut Roesli, Aktuil berhasil memecah konsentrasi orang untuk urusan musik. Sebelum Aktuil terbit, perhatian orang terpusat pada Jakarta, kota asal Koes Plus. Soal faktor kedekatan ini, diakui juga oleh Sylado. Tapi, bukan hanya itu alasan Aktuil lebih banyak memberitakan musisi Bandung. Menurut dia, waktu itu musisi Bandung memang lebih berkualitas dibandingkan musisi kota lain. Dia mengambil contoh musikalitas The Rollies yang waktu itu masih sulit ditandingi kelompok musik dari kota lain.

 

* * *

 

Aktuil menikmati masa keemasannya selama kurun 1970 – 1975. Perlahan-lahan, majalah itu mulai tenggelam. Keluarnya Remy Sylado, jadi pemicu. Pihak perusahaan dinilai Sylado tidak terbuka kepada redaksi untuk persoalan keuangan. Sylado tahu, Aktuil sukses secara penjualan. Tapi bayaran yang diterimanya, dia anggap tidak sesuai dengan prestasi yang diberikan. Sebagai perbandingan, Remy yang telah menulis sejak 1974 di majalah TOP, dibayar Rp 25 ribu per tulisan. Sementara di Aktuil, gaji dia hanya Rp 20 ribu per bulan. Sedangkan gaji pertama ketika dia masuk Aktuil di tahun 1970, Rp 4000. Angka yang menurut dia untuk ukuran tahun 1970 pun masih kurang. Harga mesin tik bekas saja, Rp 15 ribu. Memang, awalnya Sylado tidak berkeberatan dengan itu. Belakangan, setelah bertambah usia, dia jadi kesal juga. Menurutnya, Toto Rahardjo yang mengambil keuntungan sendiri.

 

“Itu kan sudah sangat biadab. Tapi, waktu itu saya masih muda, tidak berpikir duit gitu. Ya seneng aja. Nulis, terus dibaca orang. Begitu aja! Masih idealis sekali. Idealis yang goblok! Akhirnya, menjadi realistis dong saya. Semua orang tahu ada saya di Aktuil, bikin gerakan puisi mbeling, semua anak–anak muda ke situ dan sebagainya jadi meletup–letup. Mereka nggak punya gagasan apa–apa. Bisanya cuma mengambil dari majalah luar, terus digunting itu  seakan–akan Denni Sabri yang nulis dari sana, padahal itu guntingan–guntingan semuanya,” kata Sylado.

 

Denny Sabri, yang sejak 1975 tinggal di Indonesia pun, jarang ke kantor. Sabri merasakan apa yang Sylado rasakan. Kepada rekan kerjanya, Odang Danaatmadja, Sabri menulis surat pribadi yang isinya mengatakan ketidaknyamanannya di majalah itu. Sabri malah sibuk mencari artis-artis baru untuk diorbitkan. Beberapa di antaranya Nike Ardilla, Silvia Saartje, dan Superkid.

 

Soal tidak terbukanya pihak perusahaan, diakui oleh Bens Leo, yang belakangan masuk jadi kontributor Jakarta. Leo, yang merasa sangat makmur secara finansial ketika bekerja di Aktuil, mengatakan pernah diberi dua Vespa oleh perusahaan.

 

“Karena saya menjaga industri musik di Jakarta, termasuk musik panggung. akhirnya dikasih Vespa, yang lebih mahal dari motor Jepang. Tapi itu dirahasiakan oleh pemilik Aktuil. Jadi makmur sekali,” kata Leo tersenyum.

 

Konser Deep Purple juga dituding jadi pemicu. Konser pertama memang sukses, tapi di hari kedua, pintu stadiun jebol. Majalah Musik Artis Santai edisi Desember 1975 menulis angka yang didapat panitia di hari pertama sebesar Rp 40 juta. Dan di hari kedua, Rp 25 juta. Sedangkan biaya produksi sebesar Rp 80 juta.  

 

Bens Leo juga mengakui hal ini. Menurutnya, pihak perusahaan terlalu berani investasi ke bisnis itu. Akhirnya, banyak sekali uang produksi untuk majalah yang terserap ke konser itu. Uniknya, Toto Rahardjo menepis tuduhan itu. Dia mengatakan kalau konser itu masih mendatangkan untung buat mereka, walau hari kedua pintu stadion jebol.

 

Tiras Aktuil mulai merosot di tahun 1976. Di tahun 1977, tirasnya hanya mampu menembus angka 30 ribu eksemplar. Ini makin menyusut hingga ke angka 3000 eksemplar di tahun 1978. Setelah beberapa orang staf redaksi baru berjuang memertahankan supaya Aktuil tetap terbit—mereka bahkan memindahkan kantor redaksi ke Jakarta—tahun 1986, surat ijin usaha penerbitan Aktuil digunakan untuk menerbitkan majalah berita Editor.

 

Tahun 2000, seorang wartawan bernama Yusuf Zainudin, mendatangi Denny Sabri, Remy Sylado dan Odang Danaatmadja. Meminta ijin untuk menerbitkan kembali Aktuil. Sabri menolaknya. Akhirnya, Zainudin memakai nama Aktuil Jaya. Majalah ini hanya terbit dua edisi.

 

Akan tetapi, di balik semua persoalan yang menyebabkan Aktuil mati, salah satu yang paling berpengaruh adalah kenyataan bahwa para redakturnya tidak mampu mengikuti perkembangan jaman. Tren musik rock mulai hilang di tahun ’80-an.

 

“Pernah pada suatu saat, rock nggak laku. Yang ada fusion, jazz. Nah, jaman ’80-an itu, jaman Casiopea, jaman Chick Corea dan sebagainya. Tren berubah. Mereka [Aktuil] nggak berubah selera dan gayanya. Daya saingnya nggak kuat lagi,” kata Roesli.

 

Majalah untuk kaum muda itu, tidak bisa awet muda.

 

* * *

 

Senin malam, 17 Mei 2004, di Toko Buku Kecil, Jl. Kyai Gede Utama No 8, Bandung, beberapa orang awak Aktuil bisa dipertemukan kembali. Mereka ke sana dalam rangka pemutaran film dokumenter karya mahasiswa Insititut Kesenian Jakarta soal majalah Aktuil. Sylado, akhirnya bisa mengatakan secara langsung kekecewaannya pada Toto Rahardjo. Ia juga menyampaikan kekecewaan Denny Sabri yang dikatakan padanya sebelum meninggal. Toto Rahardjo hanya diam. Ada rasa penasaran di benak orang-orang tua itu. Seandainya Toto terbuka terhadap karyawan, mungkin Aktuil masih bisa terbit. Sebagian dari mereka rupanya masih ingin menerbitkan Aktuil. Hanya Sylado yang tidak tertarik. Ia merasa masih bisa berkarya lewat novel, teater dan musik.  

 

“Sekarang kalau saya dibilang suruh bikin majalah musik, ndak mau saya. Ya pasti ndak laku! Dan nanti saya disalahkan juga kan sama pemodalnya. Daripada begitu, lebih baik ndak sama sekali,” ujar Sylado.

 

“What’s next?” kata Goenadi Harjanto, mantan redaksi Aktuil.

 

Tapi tidak ada satupun yang bisa menjawab.

 

* * *

Banyak majalah yang berusaha merebut pasar Aktuil. Beberapa di antaranya TOP, Musik Artis Santai [MAS], Junior. Saya mendapat kesan kalau majalah MAS terpengaruh Aktuil. Mulai dari pemberian hadiah poster atau stiker, dan sampul yang dihiasi foto musisi. Sebelumnya, majalah ini bernama Cinta, dengan tag line, The Magazine of Love. Sejak tahun 1973, Cinta menjadi MAS.  Seperti juga yang lainnya, MAS tidak bertahan lama. Dia tidak bisa hidup sampai tahun ’80-an.

 

Pertengahan tahun ’80-an pernah terbit majalah musik bernama Diskotek Musik, Forum Musika dan Bacaannya Orang Musik [BOM]. Majalah Vista, sempat menjadi Vista Musik, sebelum menjadi Vista FMTV, majalah untuk pemirsa televisi. Yayasan Bina Remaja juga sempat mencoba peruntungannya dengan menerbitkan Mitra Musik pada Juni 1989. Majalah ini sebelumnya bernama Mitra, yang gagal di pasaran setelah memposisikan sebagai majalah putri kedua setelah Gadis. Sebagai Mitra Musik pun, majalah ini tidak bernasib lebih baik.

 

Tahun 1990, praktis tidak ada media massa cetak yang memberi porsi besar pada berita musik. Seorang wartawan bernama Hans Miller Banureah waktu itu masih menjadi redaktur musik di tabloid Monitor pimpinan Arswendo Atmowiloto. Suatu hari, Wendo menawarkan SIUPP pada Miller. Karena Miller selalu punya mimpi menerbitkan tabloid musik, akhirnya SIUPP itu digunakannya. Ia mengajukan nama Citra Musik untuk tabloid barunya itu. Nama itu dipilih semata-mata karena nama yang tertera di SIUPP adalah Citra. Miller mengajak Atik Kamil dan Remy Soetansyah, wartawan Monitor Minggu yang sudah intens mengikuti perkembangan musik sejak tahun ’80-an.

 

Hanya dalam waktu seminggu, mereka menyusun rubrikasi dan konsep yang siap jual untuk Citra Musik. Mereka memutuskan untuk menulis segala jenis musik, mulai dangdut hingga rock. Miller ingin Citra Musik dalam format majalah. Tapi, Gramedia waktu itu sedang menikmati kesuksesan tabloid Monitor. Dia terima keputusan itu. Toh, dia juga akhirnya berpikir kalau format tabloid bisa menggapai masyarakat menengah ke bawah yang jadi sasarannya.

 

4 April 1990, sebanyak 125 ribu eksemplar edisi perdana Citra Musik diterbitkan. Sampulnya, dihiasi foto Rhoma Irama, yang waktu itu memang sedang digilai banyak orang dan punya massa yang banyak. Tabloid Monitor edisi Maret 1990, memuat promosi edisi perdana Citra Musik. Begini bunyi promonya:

 

“Jangan biarkan ribuan penggemar dangdut luput dari sasaran. Jangan lewatkan fans rock terpojok dari sasaran. Jangan sia – siakan penerus keroncong terbengong sendirian, atau yang setia pada jazz, pemuja pop, pencoba rappin dan sejenisnya.”

 

Belakangan, Miller menilai Citra Musik sebagai tabloid ‘banci’, karena sebagai tabloid musik, tidak punya arah yang jelas. Walau begitu, Miller mengatakan kalau Citra Musik mendapatkan sambutan hangat dari publik. Kantor redaksi sering dijadikan tempat berkumpul para musisi. Salah satu yang paling sering bertandang ke sana, adalah kelompok musik Grass Rock yang saat itu sedang naik daun.

 

“Pada saat itu memang luar biasa. Industri rekaman lagi gila – gilaan, dan tidak punya media. Nggak punya wadah untuk minimal menginformasikan musik itu sendiri. Minimal kami ingin menjadi mediator antar musisi dengan masyarakat, atau masyarakat ke musisi,” kata Miller.

 

* * *

 

Senin, 15 Oktober 1990, Monitor menerbitkan hasil polling pembacanya, dengan judul “Ini Dia: 500 Tokoh yang Dikagumi Pembaca Kita”. Mereka menempatkan Nabi Muhammad di urutan sebelas. Bagi umat Islam waktu itu, ini dianggap penghinaan. Senin, 22 Oktober 1990, kantor redaksi Monitor di Jalan Palmerah Barat diserbu massa yang mengamuk. Puncaknya, SIUPP nomor 184/1984 untuk Monitor dicabut pada 23 Oktober 1990. Wendo diajukan ke pengadilan. Pertengahan April 1990, Wendo resmi menjadi tahanan.

 

Ditutupnya Monitor berimbas langsung pada Citra Musik. Pihak Gramedia berpikir untuk mengambil pasar Monitor yang memang sudah bagus. Dan untuk membuat media dengan format yang sama, mereka belum berani mengambil resiko. Salah satu cara yang paling mudah, dengan mengubah format dan konsep media yang sudah mereka punya; Citra Musik.

 

Miller dipanggil petinggi Gramedia. Hanya butuh satu pertemuan untuk memutuskan Citra Musik harus berubah format. Waktu satu tahun belum bisa dijadikan alat untuk mengukur kesuksesan media. Paling sedikit, tiga tahun, begitu piker Miller. Kesepakatan yang dibuatnya dengan Wendo minimal dua tahun Citra Musik diuji. Perasaan Miller dan rekan-rekannya, hancur.

 

“Semua menangis. Ada sesuatu yang lagi dikejar harus berhenti. Padahal, bukan karena yang dikejar itu makin hilang. Tapi karena ada kondisi yang membuat itu harus berhenti. Waduuh, sakit banget. Makanya ketika itu dibombardir, sama kayak kepala dipecahin semua,” katanya.     

 

Citra Musik berubah jadi Citra Musik Film Olahraga. Di Nomor 48/I/26 Februari – 4 Maret 1991, Citra Musik Film Olahraga berubah lagi menjadi Citra Film TV Musik Olahraga, dengan embel – embel Pedoman Pasti Penonton Televisi di sampul depannya. Logo empat stasiun TV pun dipampang di sana: TVRI, RCTI, SCTV dan TPI. Citra Film TV Musik Olahraga lebih mirip tampilan Monitor . Bahkan tulisan Citra-nya pun menyerupai jenis huruf yang dipakai Monitor. Apalagi kalau melihat huruf T di logo Citra yang sama dengan huruf T yang ada di logo Monitor.

 

Ini secara resmi menandai kematian Citra Musik. Pusat Data Kompas, yang menyimpan dokumentasi media terbitan Gramedia, tidak menyimpan dokumentasi Citra Musik. Yang ada, hanyalah mulai dari Citra Musik Film Olahraga hingga nama tabloid itu menjadi Citra. Padahal, mereka menyimpan dokumentasi Citra Pendidikan, yang terbit jauh sebelum Citra Musik.

 

* * *

 

Era ’90-an praktis tidak ada media massa cetak yang khusus membahas musik. Tapi, remaja di masa itu punya majalah yang jadi rujukan mereka; Hai. Majalah ini, tidak pernah menyebut dirinya sebagai majalah musik. Tapi, sejak era ’80-an, Hai menaruh perhatian besar terhadap berita musik. Ulasannya yang berbobot, dinanti banyak anak muda masa itu.

 

Cikal bakal Hai, adalah majalah MIDI, kependekan dari muda mudi yang terbit perdana pada 11 Agustus 1973. Majalah ini dikelola wartawan Kompas yang bergelut di bidang penulisan remaja. Majalah ini kemudian mati pada 1977. Arswendo Atmowiloto yang belakangan bergabung di MIDI, merasa kalau matinya MIDI karena mereka tidak bisa menangkap pasar dengan baik.

 

“Karena waktu itu kan, Aktuil dengan posternya yang banyak. Dengan MIDI, kami sangat konservatif. Nulis tentang pacaran aja dengan malu – malu, takut atau hati – hati,” kata Wendo.

 

Surat Ijin Terbit untuk MIDI, kemudian digunakan Kelompok Penerbit Gramedia untuk menerbitkan majalah Hai, singkatan dari Hiburan, Amal dan Ilmu. Para pengelola awalnya, adalah mantan pengelola MIDI. Tahun 1983, Wendo menjadi pemimpin redaksi Hai, menggantikan Anton Sumanggono. Di tangan Wendo, Hai tidak hanya memuat komik, tapi juga sinopsis cerita video silat serta resensi film seri yang ditayangkan di televisi. Maka, wajah bintan film pun makin banyak menghiasi Hai. Wendo resmi mengundurkan diri dari Hai, pada 1987. Selepas Wendo, mulai tahun 1988, Hai mulai mengincar remaja pria, dengan semboyan “Bacaan Cowok Paten.”

 

Hai menandai era ’90-an dengan rajin menulis berita musik. Malah, pada tahun 1991, Hai mengundang kelompok musik Europe untuk manggung di Jakarta dan Surabaya. Dan tulisan wawancara dengan musisi atau kelompok musik pun sering hadir. Serta bonus-bonus yang berhubungan dengan musik—poster atau sisipan khusus. Ini membuat Hai dikenal sebagai majalah musik. Denny MR, salah seorang yang berjasa terhadap penulisan yang memikat di Hai, merasa unggulnya Hai karena saat itu tidak ada media lain yang banyak menulis musik.

 

Tahun 2000, porsi musik di Hai sempat menembus angka 80 persen. Mereka bisa saja kemudian menyebut dirinya majalah musik. Belakangan, mereka merasa kalau kebutuhan pembaca Hai bukan melulu musik.   

 

“Media lain nggak ada tuh yang bela–belain belepotan lumpur, atau panas–panasan demi liputan musik. Kami juga pernah ngejar Sepultura ke Brasil. Udah setengah dunia tuh kami kejar. Akhirnya, opini membentuk dengan sendirinya bahwa kalau anak sekarang mau baca informasi musik ya harus beli majalah Hai,” kata Denny yang kemudian mundur dari Hai setelah merasa lelah karena harus menjadi anak muda terus untuk bisa menulis di sana. Denny sempat menjadi Artist & Repertoir Hai Music Records, menulis musik untuk TEMPO, serta belakangan ia lebih aktif mengurus manajemen kelompok musik.

 

* * *

 

Jika ada musik yang belum mendapat perhatian besar oleh majalah musik, itu adalah dangdut. Sejak jaman Aktuil, porsi pemberitaan musik ini masih kecil. Hingga akhirnya, Tabloid Dangdut terbit. Ide ini datang dari Wendo dan teman-temannya. Wendo sudah memikirkan hal ini sejak dipenjara karena kasus Monitor. Tahun 1995, Tabloid Dangdut terbit dengan nomor SIUPP no 301/SK/MENPEN/SIUPP/B,1/1995 –31 Maret 1995. Wendo melihat dangdut sangat menarik, bukan hanya dari segi musik, tapi juga dari budaya.

 

“Nggak ada orang merasa risau joged dangdut. Istilah saya, kasih lantai satu kotak aja dia bisa joged. Itu kan bentuk, yang menurut saya jenius lokal yang luar biasa. Nah, budaya ini mau saya terjemahkan dalam bentuk tabloid, makanya saya bikin Tabloid Dangdut,” kata Wendo  

 

Ketika usianya baru tujuh bulan, tabloid ini mati dan berganti menjadi tabloid Aura. Pemilik modal, enggan mengeluarkan uangnya lagi untuk tabloid ini. Bagi Wendo, pemilik modal tidak punya cukup kesabaran untuk menunggu tabloid ini laku. Padahal, Wendo optimis tabloid ini bisa laku di daerah pinggiran Jakarta, seperti Bekasi misalnya. Walau Wendo sadar target pasar yang dikejarnya tidak punya cukup minat baca, ia merasa salah satu faktor kegagalannya adalah waktu yang tidak tepat. Tabloid Dangdut muncul di saat stasiun televisi belum gencar dengan program dangdutnya.   

 

“Kalau terbitnya sekarang–sekarang ini, wah udah panen raya abis–abisan,” tambah Wendo.

 

Setelah Tabloid Dangdut mati, sebuah tabloid musik lain mencoba peruntungannya di tahun 1998. Tabloid ini diberi nama MUMU, kependekan dari Muda Musika. Sejak awal, MUMU ingin mengutamakan musik-musik Indonesia. Embrio MUMU sebenarnya berawal dari rencana beberapa wartawan Harian Republika untuk menerbitkan suplemen seni bernama Siesta. EH Kartanegara, wartawan Republika yang menaruh perhatian besar terhadap musik bisa mewujudkan impiannya akan tabloid musik setelah bertemu Doddy Yudhista, musisi yang juga punya mimpi menerbitkan media massa khusus musik.

 

Bens Leo dan Denny MR mengatakan kalau mereka juga ditawari untuk mengelola tabloid MUMU. Leo menolak, setelah tahu formatnya tabloid. Denny MR, yang baru saja keluar dari Hai menolak karena merasa jenuh menulis untuk anak muda.

 

MUMU sangat membela musik Indonesia. Sampulnya lebih banyak dihiasi wajah musisi lokal. Begitu juga isi tulisannya, yang sebagian besar berisi berita tentang perkembangan musik Indonesia. Bahkan, ketika majalah Hai menuduh Sheila On 7 menjiplak lagu “Father and Son” karya Cat Stevens, MUMU membelanya dengan menurunkan laporan utama berjudul “Sheila On 7 Menjiplak? Uuh…Sirik”

 

Soal tulisan pun, mereka tidak pernah membahas sisi lain selain musik. Tidak pernah ada gossip, maupun menyentuh gaya hidup musisi. Dan tidak sedikit mereka bicara soal teknis musik. Ini membuat tabloid itu seakan-akan untuk mereka yang bisa memainkan alat musik.  Mereka ingin menjadi barometer dalam berita musik.

 

“Sempet sih ada yang ngritik dulu, MUMU terlalu teknikal, kesannya itu media hanya dimengerti sama anak – anak yang nge-band, anak – anak yang sekolah musik gitu gitu. Nah MUMU tuh sangat menjurus ke teknis,” kata SA Pralim Mudya.

 

Mungkin itu sebabnya MUMU kesulitan meraih pembaca. Selama dua tahun pertama, menurut laporan PT Nusa Distribusindo, yang mengurus sirkulasi MUMU, tiras tabloid ini hanya bisa mencapai angka 1024 hingga 2767 per minggu.

 

Perlahan-lahan, idealisme redaksi mulai luntur. Mereka tidak lagi menulis musik dari musisi atau kelompok musik yang dianggap berkualitas saja, tapi lebih sering menaruh kelompok musik atau musisi lokal yang sudah jadi jaminan menarik pembeli. Akhirnya, sampul mereka selalu berputar-putar di Slank, Iwan Fals, Sheila On 7, Dewa atau Padi.

 

“Begitu Slank misalnya punya sesuatu, kami angkat langsung. Oke lah dia nggak ada album, tapi dia mau tur. Itu langsung jadi laporan utama. Ada aja alesan yang bisa dicari buat naruh mereka di sampul,” kata Mudya.

 

Demi penjualan, tabloid ini bahkan pernah menurunkan Westlife di sampul tiga edisi berturut-turut di bulan Mei hingga Juni 2001. Maklum, para agen senang dagangannya laku. Mereka meminta terus formula ini. Masalah klasik antara pemilik modal atau perusahaan dengan redaksi pun mulai timbul. Karena mereka menulis kelompok musik yang itu-itu saja, redaksi mulai mengalami rasa jenuh. Redaksi mentok. Memasuki tahun ke-empat, MUMU mati. Edisi 06, Minggu ke-44, Tahun IV, 07 Nopember 2001, dengan judul cerita utama “Tur Asyik Slank,” jadi edisi terakhirnya.

 

“Saya cuma bisa bilang mismanajemen, karena itu sebetulnya dapur mereka. Tapi yang pasti, MUMU tuh dari sebelum terbit, udah bermasalah. Jadi, tebakan saya nggak terlalu meleset juga, ini pasti nggak akan bertahan lama. Karena ribet di dalemnya antar pengurus. Itu kan punya Timi Habibie kan,” kata Denny MR.

 

Se-era dengan MUMU, majalah NewsMusik terbit pada Desember 1999, kependekan dari Nuansa Entertainmen & Warta Seputar Musik. Bens Leo pemimpin redaksinya. NewsMusik terlihat sekali sangat terpengaruh majalah Rolling Stone, terutama dari segi tampilan. Leo memang ingin membuat majalah musik yang merupakan gabungan antara Aktuil dan Rolling Stone.

 

Leo mengatakan idealisme redaksi begitu tinggi. Mereka tidak akan menulis musik yang dianggap tidak bagus. Bahkan, ketika Maxi Gunawan, pemilik majalah itu merilis album, NewsMusik tidak mengulasnya. Dan Leo berbangga sekali dengan itu. Walau begitu, sejak enam bulan usia NewsMusik, dia sadar majalah yang akan dikelolanya tidak akan berumur panjang.  Selain karena banyak majalah musik tumbang, Leo sadar kalau visi pemilik modal ternyata berbeda dengan redaksi.

 

“Pak Maxi Gunawan ini bener – bener pengusaha, dia hanya punya satu pengalaman media, dan itu bukan media kayak NewsMusik. Pada akhirnya feeling saya bener. Bulan ke enam itu saya udah ngomong sama rekan–rekan, lo cari nama di sini, habis itu, saya nggak tahu, nggak jelas sampe kapan,” kata Leo.

 

Ketika NewsMusik baru berusia tiga tahun, Maxi Gunawan sudah gerah. Ia belum juga merasakan keuntungan dari uang yang dia keluarkan untuk majalah. Bens Leo menanggapi kebingungan Maxi dengan balik bertanya. Pasalnya, ketika hendak menerbitkan majalah ini, Maxi berjanji tidak akan mengharap keuntungan dulu. Kalaupun akan bicara soal keuntungan, Bens menjanjikan waktu lima tahun. Karena merasa tidak nyaman lagi dengan ketidak konsistenan Maxi, Bens memutuskan keluar dari NewsMusik pada Januari 2003. Begitu Bens mengajukan surat pengunduran diri, satu edisi yang seharusnya naik cetak langsung dibatalkan.

 

“Mampus itu! Itu lebih–lebih nggak tahu. Segmentasinya ndak jelas mau ke mana. Itu  buang–buang uang. Siapa yang beli kayak gitu?” kata Sylado soal matinya NewsMusik.

 

Matinya NewsMusik tidak membuat orang lantas berpikir ulang untuk menerbitkan majalah musik. Log Zhelebour salah satunya. Promoter rock ini menghubungi Hans Miller dan Remy Soetansyah untuk menerbitkan tabloid khusus rock, yang diberi nama ROCK. Edisi perdana ROCK terbit pada minggu ketiga Maret 2002. Di tahun yang sama, Jamrud, musisi yang bernaung di bawah label milik Log rilis album “Sydney  09. 01. 02.”  

 

Ketika Log tidak melihat artisnya di ROCK, tampangnya kusut. Redaksi jadi serba salah. Di manajemen juga terjadi perpecahan. Log Zhelebour tidak lagi akur dengan Direktur Jeddy Suherman dan Komisaris Liem Siau Bok. Pihak Jeddy merasa tidak pernah dilibatkan dalam penerbitan ROCK. Miller sempat memperkirakan umur ROCK hanya akan sampai edisi 52, karena Jamrud tur 52 kota waktu itu.

 

Miller salah. Belum sampai edisi 52, ROCK mati. Selain beberapa persoalan tadi, ROCK tidak pernah mendapatkan pemasukan yang berarti dari penjualan. Miller dan Soetansyah, kini aktif di Shandika Widya Cinema, production house pembuat tayangan infotainment, di antaranya Kabar Kabari.

 

* * *

 

Medio 1999, beberapa anak muda Bandung yang juga mulai muncul dengan produk pakaian bermerk 347, menerbitkan Ripple. Majalah ini tadinya lebih merupakan flyer produk 347. Lantas, majalah ini menaruh perhatian besar terhadap dunia surfing dan skateboarding. Sejak awal, mereka memang ingin membahas segala sesuatu yang di luar mainstream. Itu sebabnya, tidak sedikit kelompok musik yang dibahas di Ripple mereka yang belum mendapat kontrak rekaman. Bonus kaset berisi lagu dari kelompok-kelompok musik mereka berikan sebagai bentuk dukungan. Kini, Ripple menjadi majalah gratis. Bonus kaset sudah tidak lagi diberikan. Tapi, setidaknya mereka masih eksis. Berbeda dengan ‘saudara’-nya, Trolley.

 

Trolley, majalah yang menaruh perhatian besar terhadap fashion, seni dan musik. Helvi Sjarifudin, salah seorang penggagas, yakin tiga unsur itu tidak bisa dipisahkan. Dia lantas mengajak Gustaff H Iskandar, seniman kontemporer Bandung untuk membantu. Nopember 2000, Trolley edisi perdana terbit. Arti filosofis dari nama Trolley, adalah bahwa isi majalah itu semua yang disukai redaksi. Tidak hanya soal musik, majalah ini kemudian disambut baik oleh para desainer, dan mereka yang tertarik dengan seni rupa. Seperti Ripple, Trolley juga menulis berita musik yang di luar mainstream. Dua majalah ini akhirnya ikut memelopori banyak anak muda di kota lain untuk menerbitkan majalah indie. Membuat banyak orang yakin, bahwa menerbitkan majalah tidak lagi milik pemegang uang dengan modal besar. Kekurangan modal pula, yang akhirnya membuat Trolley terbit tidak tentu. Ini membuat mereka harus gali lubang tutup lubang. Pemasukan dari distributor bulan ini, dipakai untuk membayar hutang bulan lalu.

 

“Karena uangnya nggak ada. Kami jadi males-malesan ngelolanya. Akhirnya, pas edisi sebelas udah siap, gue bilang ke anak-anak, udahan aja ah, pusing,” kata Helvi.

 

Sebenarnya, ada beberapa investor yang tertarik mendanai Trolley, tapi karena terlalu banyak menuntut, Helvi tidak menerimanya. Setelah era Trolley, majalah-majalah musik dari penerbit dengan modal besar pernah terbit. Di antara mereka yang terbit nyaris berdekatan waktunya, adalah majalah POSTER, MTV Trax dan POPCITY. MTV Trax belakangan melepas nama MTV, dan menjadi Trax. POSTER dan POPCITY mati, menyusul majalah-majalah musik pendahulunya. Belakangan, beberapa redaktur Hai juga mengelola majalah ROCK STAR. Mudya dari MUMU, kini jadi redaktur majalah Gitar Plus [G+]. Trax masih bersaing. Bersama dengan Rolling Stone yang terbit di Indonesia sejak 2005. Selain dua nama itu, masih ada beberapa majalah musik lain. Ada yang terbit gratis, ada yang terbit di jalur indie, ada juga yang terbit dari kelompok penerbit besar.  Dan semuanya masih harus diuji oleh waktu.

 

* * *

 

Februari 2007, beberapa awak Aktuil berkumpul kembali. Ketika saya hubungi Sylado lewat telepon, dia mengatakan teman-temannya itu sedang berkumpul di rumahnya. Maman HS pensiun dari pekerjaannya sebagai petinggi Bank Indonesia. Mereka berencana menerbitkan buku tentang Aktuil. 

 

“Memang ada rencana menerbitkan kembali Aktuil?” tanya saya.

 

Ndak tahu. Kalau soal nerbitin majalah, saya ndak ikutan,” Sylado tertawa.

 

 

Punk Rawk Show

Kalau bicara MXPX, saya selalu teringat jaman kuliah.

Pertengahan tahun ’90-an, di Bandung, jaman cokro alias carding masih berjaya. Teman-teman kuliah saya banyak yang memakai kaos MXPX hasil cokro. Kasarnya, mereka telah ‘merampok’ banyak dari toko online MXPX

Dan di pertengahan tahun ’90-an, melodic punk sedang digandrungi banyak anak muda. Tak hanya melodic punk bands, celana pendek kedodoran dipadu dengan sepatu vans juga sedang digandrungi. Kalau mau dibandingkan, mungkin keberadaan celana pendek kedodoran itu, sama posisinya dengan pilihan skinny jeans di banyak kids today.

Minggu [13/1] malam kemarin, MXPX datang ke Jakarta dalam rangka Secret Weapon Asian Tour 2008. lian MIPRO, sang penyelenggara berbangga sekali, mengatakan kalau Jakarta satu-satunya kota di Asia Tenggara yang dikunjungi. “Seratus orang dari Malaysia dan Singapura memesan tiket buat nonton mxpx di Jakarta,” kata Harry Fadil, media relations pada saat jumpa pers sehari sebelumnya.

MIPRO tak bertele-tele dalam jumpa pers. Jam setengah tiga, acara dimulai seperti yang tertera pada undangan. Tak banyak basa-basi. Wartawan langsung diberikan kesempatan bertanya. Rata-rata dari mereka sepertinya sudah cukup tahu soal MXPX. Tak ada pertanyaan klise dan basi semacam “persiapan apa yang kalian lakukan buat show besok?”

Hanya sekira setengah jam, jumpa pers digelar. Diakhiri dengan pemberian tanda tangan kepada sekira belasan fans yang datang [entah dari mana mereka tahu info soal acara itu]. Pembagian ID pun tak sulit serta tak serepot di konser yang digelas Java Musikindo misalnya.

Tak banyak media yang datang. Bahkan, sepertinya tak ada infotainment!

ID Card untuk liputan pun dibuat sederhana. Bahkan, saya sempat mengira itu bias dipalsukan dengan mudah, tanpa ada pengamanan. Soalnya, ketika konser Napalm Death yang pertama, rekan kantor saya memindai kartu itu dan mencetaknya. Maka jadilah kartu liputan. Tapi, kemarin rupanya mereka sudah belajar. Karena ternyata ada cap ultra violet di sana.

***

Kawasan Senayan dipenuhi banyak supporter bola, Minggu malam itu. Lebih tepatnya, dipenuhi banyak The Jakmania. Ada final Copa Dji Sam Soe. Padahal, Persija tak lolos ke final. Ketika saya tiba di pintu masuk dari depan Hotel Mulia, pemandangan belasan puluhan The Jak menyambut saya.

“Tiketnya seratus lima puluh ribu, mahal! Mending juga nonton bola ya, lima ribu,” saya mendengar salah seorang dari mereka berbicara.

Konser MXPX digelar di Basket Hall. Masih di kawasan Gelora Bung Karno. Hanya agak jauh dari Stadion Utama Senayan. Basket Hall sebenarnya kurang bagus untuk pertunjukkan musik. Ruangannya bergema. Tapi, apa boleh buat. Sepertinya MIPRO senang sekali mengadakan pertunjukkan di sana.

Saya bertemu dengan rombongan dari Bandung. Mereka yang saya ceritakan di awal tulisan. Maka lengkaplah bayangan MXPX di benak. Konser mxpx tanpa teman-teman dari Bandung rasanya tak lengkap. Karena mereka yang lebih mencintai MXPX ketimbang saya. Dan nama MXPX, mengingatkan saya pada mereka.

Tiba di Senayan, mereka disambut The Jak. Mobil yang mereka tumpangi berplat nomor D.

“Mau pada ke mana ini?” kata The Jak, seperti ditirukan teman saya.

“Mau pada nonton bola bang,” jawab mereka.

Dan The Jak pun membiarkan mereka lewat.

Kabarnya, hal serupa menimpa rombongan Sendal Jepit juga.

“Ada yang bawa atribut Viking [salah satu kelompok supporter Persib] nggak?” anak The Jak bertanya, sambil memeriksa mobil, “kalau ada, mau gue matiin!”

Tapi, tak ada yang meninggal karena sepakbola malam itu. Setidaknya begitu yang saya tahu. Tak ada rombongan Bandung yang dihajar The Jak. Padahal, teman-teman saya sebagian besar pecinta Persib. Hahaha.

***

Fornufan, Superman Is Dead, dan Rocket Rockers jadi pembuka. Jam tujuh malam acara dimulai, tepat waktu. Jam sembilan lebih sepuluh menit, MXPX sudah naik panggung. Membuka dengan intro lagu the Who, kalau tak salah “A Quick One, While He’s Away.” Tolong koreksi saya. Saat tulisan ini dibuat, saya tak yakin apakah benar itu lagunya. Yang jelas, refrain-nya ada bagian “You are forgiven…”

Crowd menyambutnya dengan meriah. Saya tak tahu, apakah mereka tahu lagu itu, atau senang menyambut kedatangan MXPX. Kalau saya, karena senang intro lagu itu dimainkan. Eka, bassist SID diajak ke panggung ketika lagu “Chick Magnet” dibawakan. Eka terlihat senang.

“MXPX!” teriaknya ketika pamit.

Selain lagu-lagu mereka, MXPX juga membawakan cover version yang lain. “Summer of 69” yang pernah dibawakan Brian Adams dan “Should I Stay or Should I Go?” dari the Clash setelah aksi pura-pura pamit.

Dido dan Cupi, kawan saya dari Bandung kembali ke area belakang sedikit kesal karena orang-orang di sekelilingnya tak tahu lagu the Clash. Salah seorang teman mereka juga kesal karena ternyata orang-orang di sekelilingnya tak tahu lagu the Clash!

Sementara itu, ketika Dido dan Cupi kesal di area depan sambil menyanikan Should I, sepasang kekasih di depan saya asik bermesraan sambil berjoget-joget mengikuti lagu MXPX. Beberapa kali mereka berciuman dan berpelukan. Saya dan teman-teman hanya bisa menahan tertawa.

Setelah puas berpelukan dan berciuman, akhirnya si perempuan mencoba berdansa. Gayanya, seperti gaya dansa banyak perempuan masa kini. Tangan sebelah kiri di pinggang. Tangan kanan diangkat ke atas, ditekukkan sedikit. Dan dia pun berjoget sambil menggoyangkan kepalanya.

MXPX sedang memainkan lagu “Punk Rawk Show” ketika pemandangan itu terlihat di depan mata saya.

[Bukan] Kerja Rodi

Feature ini, satu dari tiga naskah yang saya kirimkan buat ajang Adiwarta Sampoerna 2007. Ini, yang tak lolos final. Dimuat di Playboy Indonesia, edisi Januari 2007.

Bands make it rock, but roadies make it roll. Ini kisah orang-orang di belakang panggung.

 

Siang itu Stadion Lebak Bulus dipenuhi remaja putri. Mereka mondar-mandir membawa peralatan, papan dan segala macam benda untuk menghiasi stand. SMA Tarakanita 1 sedang menyiapkan pentas seni. Tidak kalah sibuk dengan para remaja putri itu, pria-pria yang mayoritas berkaos hitam sedang bekerja di sekitar panggung yang terletak di sisi timur stadion. Mengangkat hard case berisi amplifier, monitor, peralatan musik. Sebagian orang, ada di atas panggung. Menyiapkan tata cahaya. Sebagian lagi, sibuk mengatur kabel-kabel yang bersliweran rumit di sekitar panggung.

 

The Upstairs sedang melakukan sound check. Kelompok musik itu sedang naik daun. Digandrungi banyak remaja masa kini. Seorang laki-laki bertubuh gempal, memakai kaos Iron Maiden terlihat paling sibuk. Memeriksa peralatan, menghubungi panitia, memastikan para personel The Upstairs mendapat konsumsi, dan mendengarkan suara yang keluar dari depan panggung.

 

Nama dia Anggoro S Widagdo, biasa dipanggil Goro. Dia road manager The Upstairs. Setiap kali The Upstairs manggung, dia harus mengurusi para personel, berhubungan dengan panitia penyelenggara event, memeriksa peralatan, hingga memimpin para kru. Tanggungjawab dia memastikan semua orang melaksanakan pekerjaannya. Dia termasuk salah satu dari sekian banyak orang di belakang panggung pertunjukkan. Mereka biasa disebut roadies.

 

Secara teknis, siapapun yang jadi kru pada tim produksi sebuah pertunjukkan bisa disebut roadie. Tapi, biasanya kata itu digunakan untuk menyebut stagehands [orang yang tugasnya mengganti pemandangan, tata cahaya, dan tugas lainnya dalam pertunjukkan teatrikal], dan teknisi di pertunjukkan musik. Roadie bukanlah pekerjaan, ini sebutan untuk orang yang mengerjakan banyak tugas, dari teknisi panggung hingga teknisi alat musik, tata cahaya, sound engineers hingga riggers [para perakit perlengkapan].

 

Roadie bukanlah road/transport engineer yang memerbaiki jalan raya. Bukan orang yang nongkrong dan menempuh perjalanan dengan kelompok musik. Itu biasanya disebut groupie. Bukan juga orang yang kerja di karnaval. Itu biasa disebut carnie. Dan yang pasti, roadie bukan salah satu minuman beralkohol.

 

ww.smh.com.au menulis; Roadies. Jika ada yang yang tidak berjalan dengan baik, mereka disalahkan. Jika semuanya lancar, tidak ada yang memerhatikannya. Mereka adalah otot dari industri musik. Membawa alat-alat yang berat, mengatur panggung. Mereka adalah otak di balik tata cahaya dan sound system yang rumit. Semuanya harus dilakukan dalam kecepatan singkat, tanpa ada margin untuk kesalahan.

 

Di Indonesia, beberapa kelompok musik punya sebutan khusus untuk roadies-nya. Slank dengan Jaddah. Dewa dengan Manusia Biasa. Dan The Upstairs dengan Modern Road Crew.

 

Goro menjadi road manager sejak akhir 2003 setelah diajak sobatnya Wenz Rawk, yang lebih dulu jadi personal manager The Upstairs. Goro dan Wenz lebih dulu aktif di Event Organizer bernama Brainwashed. Menjadi road manager, kata Goro, tidak jauh berbeda dengan pekerjaannya sebagai tim produksi di Brainwashed. Plus, Goro juga bermain musik, itu membuat dia tahu apa yang biasanya ada di benak musisi. Paduan dua hal itu, adalah modal yang cukup untuk menjadi road manager sebuah kelompok musik. Dan yang paling penting, dia menganggap The Upstairs kelompok musik yang bagus.

 

Dia pernah kerja kantoran di distributor kopi. Tapi perusahaannya bangkrut. Pekerjaan seperti itu, dia rasakan tidak ada tantangannya. Hanya mengerjakan apa yang harus dikerjakan. Dia ingin punya pekerjaan yang berhubungan dengan musik.

 

Manggung atau tur, adalah hari ketika pekerjaannya semakin berat. Apalagi kalau di luar kota. Misalkan saja mereka beres sound check jam satu siang. Lantas kembali ke hotel. Goro tidak bisa beristirahat sebanyak yang lain. Dan menghadapi mood personel pun jadi tanggungjawabnya. Seorang road manager harus bisa jadi apa saja. Menurut Goro, dia juga harus jadi “bapaknya anak-anak.”

 

“Tiap keluar kota, kami selalu ketemu orang yang berbeda. Belum lagi, masalah komitmen waktu. Ada yang sekarang minta istirahat, nggak semua mau istirahat. Itu yang masih jadi ketakutan utama gue. Pada saat di luar kota, kami mesti lebih aware lagi. Di mana nginepnya, kapan jadwal makannya, dan lain-lain. Tapi, karena kecintaan gue pada musik. Walaupun berat, dan kurang tidur, gue iklas aja,” katanya sambil tertawa.

 

Pernah ada masanya ketika Goro punya keinginan sukses dengan kelompok musiknya. Tapi itu sudah hilang begitu dia gabung dengan The Upstairs. Dia cukup puas menjadi orang di belakang panggung. Pendukung pertunjukkan. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat pertunjukkan lancar, The Upstairs bisa bermain dengan bagus. Berbeda dengan kepuasan bermain di atas panggung memang. Tapi, pria berumur 29 tahun itu tetap merasa senang.

 

Elo akan merasa menang. Kerja kami terbayar!” katanya.

 

Rasa senang yang serupa juga hinggap di hati Iwan Sukma jika pekerjaannya menghasilkan pertunjukkan yang bagus. Iwan adalah teknisi gitar untuk Uki dari Peterpan. Saya bertemu dengan Iwan ketika dia sedang tidak bekerja untuk Peterpan. Tapi untuk solis yang baru rilis album perdananya beberapa bulan lalu; Erry. Iwan sudah sering jadi session player untuk banyak musisi, di antaranya Tofu. Seperti halnya Goro, Iwan menerima tawaran menjadi roadies juga karena ajakan teman.

 

Sebenarnya kalau bicara karir musik, Iwan sudah lebih dulu menjelajahi panggung di Bandung dibandingkan anak-anak Peterpan. Iwan pernah tergabung di After Sunset, yang biasa membawakan musik brit pop. Ariel Peterpan pernah diminta untuk jadi vokalis After Sunset. Tapi dia menolaknya, karena tahun 2002, Peterpan mendapat tawaran untuk ikut album kompilasi “Kisah 2002 Malam” produksi Musica Record. Jatah Peterpan awalnya ditawarkan untuk After Sunset. Mereka menolak tawaran itu karena ingin dikontrak Sony Music. Dan kalaupun membuat album, mereka tidak ingin ikut kompilasi. Inginnya album penuh. Maklum, After Sunset sedang cukup berjaya di panggung musik di Bandung.

 

Ternyata Peterpan sukses. Iwan hanya cengengesan mengenang kisah ini. Setahun setelah Peterpan sukses dengan album kompilasi itu, After Sunset “mengkhianati” niat mereka. Ikut dalam album kompilasi “Indie Ten 3” produksi Sony Music. Tahun 2004, After Sunset bubar. Iwan jadi additional musician. Agustus 2005 dia ditawari jadi kru Peterpan yang katanya ingin meningkatkan kualitas krunya. Posisi terbalik. Dulu anak-anak Peterpan menonton pertunjukkan After Sunset. Sekarang, gitarisnya malah jadi teknisi gitar Peterpan.

 

“Karena melihat Peterpan bagus atau karena harganya cocok?” tanya saya.

 

“Wah, gawat nih pertanyaannya. Ya sebetulnya sih karena nggak ada kerjaan. Pengin nyobain juga. Kayak gimana sih hidup begini. Time is money. Berhubung no time, ya udahlah,” kata Iwan sambil tertawa.  

 

Awal menjalani pekerjaan sebagai kru, Iwan sempat merasa terbebani. Agak gengsi mungkin. Ketika Peterpan mengadakan konser untuk launching album soundtrack film Alexandria di Bandung, Iwan menutupi mukanya supaya tidak terlihat teman-temannya. Usahanya sia-sia. Kini, Iwan sudah bisa menerima keadaan itu. Untuk sementara, dia harus menunda impiannya maju bersama kelompok musik sendiri. Dia anggap ini salah satu batu loncatan.

 

“Nge-band nggak cuma skill, tapi hoki juga. Musikalitasnya tinggi belum tentu bisa sukses,” kata Iwan.

 

Itu juga yang dikatakan Panji Gustiano alias Nobon kepada saya. Menjadi roadies untuk batu loncatan. Dia menjadikan profesi itu untuk bisa mengenal banyak orang di industri musik. Nobon, kini berusia 30 tahun, sudah sepuluh tahun menjalani profesi ini. Seperti juga Goro, dia tidak betah kerja kantoran. Bekerja di penerbit dan perusahaan farmasi tetap tidak bisa mengalahkan keasikan bekerja di bidang musik. Dia tetap bertahan dengan profesinya, karena ingin sibuk di musik. Tapi, tidak seperti Goro, Nobon jadi kru untuk banyak kelompok musik. dia mengawali pekerjaannya di Waiting Room. Setelah mereka bubar, Nobon bekerja untuk Superglad, The Fly, Sore, Seringai, Step Forward, Ecoutez, The Brandals hingga Samsons.

 

“Temen gue pernah bilang, kalau gaji elo udah sama kayak kerjaan kantor yang dulu, ngapain kerja lagi? Di sini aja. Tapi, udah lima band, [duitnya] masih kurang juga,” kata Nobon sambil tertawa.  

  

Besar kecil finansial memang relatif bagi setiap orang. Goro tidak mau menyebut angka pasti soal berapa penghasilan yang didapatnya dari pekerjaan sebagai road manager. Dia hanya meyakinkan saya, kalau semua orang di manajemen The Upstairs harus senang. Iwan menyebut kisaran Rp 300 ribu hingga Rp 600 ribu per manggung. Dia tidak menyebut berapa yang diterimanya. Tapi, dia mengatakan kalau angka minimum itu untuk roadies tanpa keahlian memainkan alat musik. Sedangkan Nobon menyebut “angka normal”-nya antara Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu. Jumlah ini lebih kecil dibandingkan jumlah yang disebut Iwan, karena memang kelompok musiknya juga tidak ada di kelas yang sama dengan Peterpan. Dan penghasilan mereka, tentu saja sangat tergantung pada jumlah pertunjukkan.

 

“Sepuluh tahun belum bisa nyamain penghasilan kantoran. Habis, [band-nya] bilangnya promo melulu. Apalagi kalau ada bencana, waaah,” kata Nobon sambil tertawa. “Eh, nggak deh. Becanda ya yang bagian bencananya sih.”

 

Di antara sekian roadies yang saya temui, hanya Muhammad Amirudin alias Amir yang sepertinya “lebih makmur” dibandingkan yang lain.

 

“Alhamdulillah cukup lah. Hahaha. Gila. Ribet juga jawabnya. Karena gue tuh masih menganggap bahwa banyak kru yang mungkin nggak pantas dibayarnya, Makanya, kalau elo tanya gaji gue berapa, bisa malu sendiri gue, nggak enak sama kru lain. Keringat gue dengan kru lain sama, capeknya sama. Makanya kalau ada yang nanya, alhamdulillah,” kata Amir.

 

Amir adalah Jaddah Slank. Kata ‘jaddah’ berasal dari kata makian ‘haram jaddah’ yang sering digunakan anak-anak komunitas Potlot di tahun ’90-an. Dari sana pula kisah Amir dimulai. Tahun ’94, ketika dia masih kelas dua SMA, setiap bolos selalu datang ke Potlot. Awalnya, dia hanya berani melihat dari luar. Ketika Slank formasi baru terbentuk di tahun ’96, Amir mulai membantu Slank. Tapi belum jadi kru tetap. Bimbim biasanya memberdayakan anak-anak yang sering datang ke Potlot. Atas permintaan Bimbim, Amir pernah membuat lukisan di dinding, serta jadi koordinator Slankers untuk syuting klip “Tong Kosong”.  

 

Akhir tahun 2000, Amir menyatakan keinginannya untuk ikut rombongan Slank manggung di luar kota. Dia merasa sudah terpuaskan dengan pertunjukkan Slank di Jakarta. Dia ingin merasakan atmosfer yang berbeda di luar kota. Dia penasaran dengan suasananya. Setelah mendapat ijin dari Bunda Iffet, Amir mulai bekerja untuk Slank. Tapi belum diangkat jadi Jaddah. Waktu itu, dia hanya membantu mengangkat alat dan menyemir kabinet amplifier supaya mengkilap.

 

Jaddah yang lain meminta Amir untuk memerhatikan Kaka di panggung. Seandainya Kaka butuh minum, stand mik-nya jatuh, atau butuh bantuan apa-apa, itu tanggungjawab Amir. Dan itulah awal perjalanan Amir di Slank. Rupanya Kaka merasa terbantu sekali dengan kehadiran Amir. Dia belum punya kru tetap. Road manager Slank, Massto menanyakan kesediaan Amir untuk menjadi Jaddah. Gresik adalah kota pertama dia resmi bergabung. Slank waktu itu sedang Tur Virus 2000.

 

Ketika Bunda Iffet memanggilnya ke kantor untuk menanyakan kembali keseriusannya membantu Slank, tanpa pikir panjang Amir menjawab iya. Padahal dia sudah punya kelompok musik bernama Keraton yang sudah merilis satu album. Banyak temannya yang menyesalkan keputusan Amir menjadi kru. Mereka menganggap Amir punya kemampuan untuk sukses dengan kelompok musiknya. Punya modal suara yang bagus. Tapi Amir merasa sudah tidak kuat lagi. Dia pesimis bisa bermain musik sampai berhasil. Akhirnya, dia berbesar hati untuk menjadi kru. Toh gairah bermusik dia masih bisa tersalurkan.

 

“Gini ya, jadi kru-nya slank, gue anggap hijrah dulu. Islam kan mengajarkan begitu. Kalau mentok di sini, hijrah aja. Gue sadar, umur segitu nggak bisa ngapa-ngapain. Walaupun kasarnya waktu itu seribu perak pun gue nggak pernah ngasih nyokap. Gue harus hijrah, cari kerjaan. Se-nggak nggaknya, nyari duit buat rokok gue sendiri. Nggak nyusahin keluarga,” kata Amir yang kini berusia 31 tahun.  

 

Di antara semua orang yang saya temui, Amir yang bicaranya paling berapi-api. Kecintaan dia pada Slank dan pekerjaannya bisa saya rasakan. Dia mengatakan akan menjaga Slank. Hubungan Amir dengan personel Slank dan Jaddah yang lain sudah bagaikan keluarga. Mereka tidak hanya membicarakan urusan teknis saja. Di luar panggung, mereka menjalin hubungan. Walau sekadar berkunjung ke rumah, atau meminta ditemani ke pusat perbelanjaan. Untuk urusan panggung, dia sudah paham benar bagaimana Kaka akan bergerak.

 

“Kalau dia ke kiri, ke tengah, pokoknya gerakan Kaka di panggung, gue udah paham. Gue bisa ngerasain,” katanya.

 

Tidak mudah menjadi roadies. Apalagi ketika pertunjukkan berlangsung. Banyak yang harus mereka perhatikan. Kalau ada yang tidak berjalan dengan baik, semua harus segera diperbaiki dalam waktu cepat. Amir punya salah satu pengalaman buruk. Menghilangkan mik Kaka yang tertinggal di lidah panggung. Karena licin, Amir terjerembab hingga menendang mik ke arah penonton.

 

“Selain bisa maenin alat musik, kru itu harus punya tiga modal. Tanggap, lincah dan kuat,” kata Nobon.

 

Film komedi Wayne’s World 2 [1993] menggambarkan tiga hal tadi. Di film itu, diceritakan Wayne yang dibintangi Mike Myers sedang menyiapkan konser Waynestock. Lewat mimpi, Jim Morrisson, vokalis The Doors menyuruh Wayne menemui roadie legendaris bernama Del Preston. Wayne meminta bantuan Del untuk menyiapkan sebuah konser musik. Kepada Wayne, Del membagi pengalamannya bertahun-tahun bersama musisi legendaris macam Ozzie Osborne, Jeff Beck, Keith Moon dan David Crosby. Lantas, Wayne yang telah merekrut orang-orang untuk menyukseskan Waynestock meminta Del Preston melatih mereka jadi roadie yang baik. Bagaimana menyelamatkan stan mik yang jatuh dan bagaimana menghadapi situasi di panggung.

 

Karakter seorang roadie legendaris mungkin akan susah ketika diterapkan di film lokal. Bukan apa-apa, jangankan roadie legendaris, manajemen kelompok musik di kita, belum semuanya berjalan dengan baik. Ini jadi perhatian Goro ketika saya tanya apakah dia yakin pekerjaannya bisa menghidupi dia.

 

“Kalau bicara yakin nggak yakin sih, gue belum punya acuan yang pasti. Tapi kalau mungkin di sini sudah ada infrastruktur yang oke, atau agen yang besar yang membawahi road manager dan bisa menyalurkan masing-masing road manager, gue rasa bukan nggak mungkin,” katanya.

 

Untuk sementara, selain finansial mereka bisa menikmati fasilitas yang juga didapat kelompok musiknya. Hotel berbintang, jalan-jalan keliling Indonesia, keluar negeri. Dan menjadi bagian dari sejarah di industri musik Indonesia.

 

“Suka dapat limpahan kenakalan?” tanya saya pada Iwan Sukma.

 

“Hahaha. Sebetulnya sih…aduh gawat nih pertanyaannya. Kalau kenakalan mah masing-masing sih. Mau nakal ya nakal,” jawabnya.

 

“Saya dengar rumor, kalau Peterpan dapet jatah cewek, bisa diambil sama krunya.”


“Kalau mau ya mungkin bisa. Tergantung krunya. Hahaha. Ya nggak lah. Cuma speak Bombay aya lah. Paling dapet kenalan aja.”

 

“Kalau groupies?”

 

“Sekenyot dua kenyot lah. [sehisap dua hisap–red]. Nggak deh, becanda!” kata Iwan ngakak.

  

 

***

Sejak masih bermain musik secara amatir, tekad Opet Alatas sudah bulat. Dia harus jadi musisi. Selepas SMA dia meninggalkan kampung halamannya di Tanjung Pinang. Mei ’93 Opet tiba di Jakarta dengan modal nekad dan sedikit sekali pengetahuan soal ibukota. Salah satu hal yang terlintas di benaknya waktu itu, dia harus ikut kursus musik. Tapi biayanya begitu mahal.

 

Opet lantas teringat tetangganya di Tanjung Pinang yang sudah meniti karir musik; [alm] Andy Liani. Selain café Manari yang belakangan namanya jadi Poster—salah satu tempat kumpul banyak musisi di Jakarta, pertengahan ’90-an—Opet rajin mengunjungi tempat kos Andy Liani. Kebetulan, musisi idolanya, Thomas Ramdhan juga tinggal di sana. Opet mendengar permainan bass Thomas dari album-album di antaranya Anggun C Sasmi dan Andy Liani.

 

Setelah sekira satu tahun Opet tinggal di Jakarta, Thomas Ramdhan rilis album perdana dengan kelompok musik yang baru didirikannya bersama empat temannya; GIGI. Sekira dua bulan setelah GIGI rilis album “Angan”, Opet punya solusi untuk mewujudkannya belajar bermain bass. Dia datangi Thomas Ramdhan.

 

Gue pengin jadi kru elo. Berapapun bayaran dari elo, gue terima deh. Uangnya bukan yang utama. Gue pengin belajar,” balas Opet.

 

Tapi Thomas tidak menerimanya. Dan setiap Opet bertemu Thomas, jawabannya selalu “nanti deh.” Hingga akhirnya tiga bulan setelah proses lamaran itu, Thomas malah balik bertanya.

 

Elo masih mau jadi kru?”

 

Ketika saya tanya Thomas soal proses lamaran ini. Dia membenarkan bahwa ketika itu, dia tidak langsung menerima Opet. Bukan apa-apa, Thomas merasa tidak enak. Motivasi Opet ingin jadi kru-nya, karena dia ingin belajar. “Dia kan waktu itu lagi kuliah. Datang dari luar daerah. Terus, niatnya bukan mau kerja sih, mau belajar. Nggak enak aja, takut nggak bisa ngebayarnya,” kata Thomas.

 

Maka, hari ketika Thomas meminta Opet jadi kru-nya, adalah hari ketika pintu Opet masuk ke industri musik semakin terbuka. Keinginan dia untuk belajar tanpa harus mengeluarkan biaya besar tercapai. Dia belajar langsung dari idolanya. Pada saat yang sama, dia masih aktif di kelompok musik bernama Bumi yang sering main di kampus-kampus dan Pasar Seni Ancol.

 

“Akhirnya gue dapet banyak pelajaran, walaupun yang nggak secara langsung kayak orang les privat. Banyak sisi lain yang gue dapet. Pada akhirnya nggak cuma bicara skill. Tapi gimana sih main di panggung sampe gimana aransemen lagu. Lebih luas lah, Niat gue jadi kru memang cuma sebagai batu loncatan. Tapi, gue tetep memerhatikan gimana gue kerja dengan benar. Kalau nggak teliti, udah banyak alat yang hilang. Gimana kerja dengan cepat tapi rapi. Kalau dulu kan jarang konser tunggal, setting alat di panggung banyak. Satu mixer yang 24 channel tapi dipake banyak band. Sementara jeda dari band satu ke band yang lain, nggak terlalu lama,” kata Opet. 

 

Menjadi kru Thomas berdampak besar pada pada musikalitas Opet. Saking besar rasa kagumnya, Opet merasa kalau gaya permainan bass dia sangat terpengaruh Thomas. Opet menikmati proses itu. Dengan bayaran Rp 150 ribu setiap manggung, berbeda dengan kondisi sekarang, waktu itu kru GIGI hanya dua orang; Opet dan seorang kru lain. Dua orang itu, harus mengurusi alat-alat sebanyak itu. Apalagi, Opet sempat jadi kru GIGI ketika era dua gitaris. Kadang-kadang, kalau pertunjukkannya digelar di Jakarta, Opet dan temannya mengajak seorang teman lagi untuk membantu mereka. Bayarannya ditanggung mereka berdua.

 

“Dulu mah bener-bener berat. Pinggang sampai sakit. Sekarang gue suka cerita sama kru gue soal kerjaan gue yang lebih berat dibandingin kru sekarang. Sementara konsekuensi kalau hilang barang, harus diganti,” kenangnya.

 

Karena niat awal Opet jadi kru sebagai batu loncatan, dia masih bermain musik bersama teman-temannya. Ketika sampai di masa Opet dan kelompok musiknya menyusun lagu di tahun ’96, GIGI menawarkan tugas yang lebih berat untuk Opet; menggantikan Thomas yang waktu itu harus vakum karena narkoba. Opet baru satu setengah tahun jadi kru mereka.

 

“Lagi makan malem, tiba-tiba mereka ngajak ngomong. ‘Elo siap nggak kalau gantiin Thomas buat tur?’ Gue spontan jawab iya. Pada saat itu gue nggak mikir, pas pulangnya baru deh kepikiran,” katanya sambil tertawa.

 

Maka dia pun “naik pangkat” jadi personel. Di Indonesia, menurut Opet, dia orang yang pertama kali mengalami itu. Personel GIGI yang lain bisa saja mencari pemain bass dengan jam terbang yang lebih banyak dibandingkan Opet. Tapi waktu begitu mendesak. GIGI tidak punya waktu untuk berlatih dengan orang baru yang belum hapal repertoire lagu-lagu mereka. Opet orang yang paling cocok pada saat itu. Dia sudah sering bermain bersama personel GIGI yang lain pada saat soundcheck; menggantikan Thomas yang beberapa kali berhalangan hadir.

 

Siapapun mungkin akan mengalami masa-masa canggung ketika berpindah ke suasana baru. Opet yang dulunya mengurusi alat-alat, sekarang malah jadi orang yang alat-alatnya diurusi. Dia akhirnya ada di panggung yang sama dengan orang-orang yang pernah jadi atasannya. Menghadapi kru dia canggung. Menghadapi teman-teman di GIGI dia canggung.

 

“Temen-temen yang lain meyakinkan gue, kalau di sini kita kerja. Nggak usah kagok. Armand [Maulana] dan [Dewa] Budjana mereka membuka diri. Walaupun tetep ada enak nggak enaknya, gue nggak terlalu sulit untuk adaptasi,” kata Opet.

 

Naik pangkat mendatangkan banyak manfaat bagi Opet. Kalau biasanya setiap keluar kota bersama GIGI, dia merasakan pegal-pegal setelah mengangkat barang-barang, kini dia bisa nyaman. Soundcheck, main dan pulang. Secara finansial pun meningkat. Opet kini mendapat bayaran Rp 650 ribu setiap manggung. Walaupun jumlah ini lebih kecil dibandingkan bayaran yang diterima personel lain dan Opet dituntut melaksanakan kewajiban yang sama, dia tidak keberatan. Toh baginya, masih banyak hal positif yang tidak bisa dinilai dengan uang.

 

Pertama, dia bisa kenal dengan banyak musisi. Setelah statusnya menjadi musisi, bukan kru, dia merasa posisi tawarnya untuk berkenalan dengan musisi lain lebih enak. Walau menyandang status mantan kru, tetap saja, status barunya membuat dia lebih percaya diri. Kedua, dia bisa membeli alat musik. Semua terjadi begitu cepat. Umur Opet masih delapan belas tahun waktu itu. Baru di Jakarta beberapa tahun dan masih meraba-raba, tiba-tiba sudah jadi personel GIGI. Bisa keluar negeri. Sepanggung bersama GIGI. Tapi, kondisi itu bukan tanpa kendala. Perbedaan jam terbang dan umur akhirnya berpengaruh juga.

 

Ada hal-hal yang secara mendasar belum siap. Gue akui, pada saat itu, gue baru lulus SMA, dari daerah pula. Tiba-tiba harus naek dengan segala kondisi yang harus gue imbangi. Pasti ada hal-hal yang belum gue sampe. Akhirnya pada saat proses kreatif, seperti ada yang menahan gue untuk mengeluarkan ide,” katanya.

 

Itu membuat Opet marah. Pada diri sendiri dan pada keadaan. Beberapa kali terlintas di benaknya, untuk keluar saja dari GIGI. Sikap seperti itu, kata Opet karena dia masih muda. Emosinya masih belum stabil. Dan itu ditanggapinya dengan emosi. Belakangan, Opet merasa kondisi di GIGI semakin tidak nyaman.

 

“Mungkin juga, memang personel yang lain sengaja membuat situasinya nggak nyaman. Mungkin kalau mau mecat langsung nggak enak,” katanya sambil tertawa.

 

Suatu hari, GIGI bermain di acara Satu Jam Bersama di Indosiar. Thomas ikut bermain di dua lagu. Ini, kata Opet, dilakukan tanpa bicara dulu dengannya. Ketika GIGI manggung di Bandung pun, Thomas ikut bermain lagi.

 

Gue pikir, mereka mungkin nggak enak kalau ngeluarin, dibikin lah kondisi yang nggak nyaman. Gue nggak bilang itu salah. Cuma, tentu ada sebabnya. Mungkin mereka kurang puas sama gue,” kata Opet.

 

Saya hubungi Armand untuk menanyakan soal ini. Armand menyangkalnya. Dia, Budjana dan Budhy Haryono [drummer] merasa tidak pernah sengaja membuat suasana jadi tidak nyaman. Malah, mereka ingin Opet mengembangkan kreativitasnya. Pernah satu kali, Armand, Budjana dan Budhy sengaja “memaksa” Opet untuk mengaransir lagu. Soal mengajak Thomas bermain kembali di GIGI, itu semata-mata karena mereka ingin membangkitkan semangat Thomas yang sudah sembuh.  

 

Gue sering bilang sama dia, Pet, ayo dong kalo bikin lagu, kord-nya jangan nunggu dari Budjana melulu! Eh akhirnya pas lagu ‘Palsu”, kami bener-bener kasih ke dia. Gue, Budjana sama Budhy cuma ngikutin dia aja,” kata Armand.

 

Menjelang Tur album Kilas Balik, Opet menyatakan mundur dari GIGI. Manajemen meminta Opet menyelesaikan dulu tur. Salah satu alasannya, karena Opet punya andil di album itu.

 

“Waktu gue resign, pas ngomong sama anak-anak, nggak ada yang nahan. Mereka cuma bilang, ‘Oh elo mau resign, ya udah.’ Mungkin ini yang ditunggu-tunggu,” kata Opet sambil tertawa.

 

Valentine 1999 adalah hari terakhir Opet manggung bersama GIGI. Pada Armand dkk, dia meminta Thomas Ramdhan jadi penggantinya. Album Kilas Balik berjalan baik secara penjualan. Ini membuat hati Opet tenang. Setidaknya, dia pikir meninggalkan GIGI yang sedang dalam keadaan baik. Selepas dari GIGI, dia menjadi additional player di banyak kelompok musik, salah satunya Padi.

 

Usai bermain di sana-sini, tahun 2001 Opet muncul kembali di industri musik dengan kelompok musik yang baru didirikannya; Tiket. Saya pertama kali bertemu Opet tahun yang sama, ketika Tiket melakukan promo album. Musik di album perdananya terdengar seperti Padi di telinga saya. Opet membela ketika saya tanya soal itu. Ketika saya wawancara untuk tulisan ini, dia baru menjawab jujur.

 

“Waktu itu mungkin ya kepengaruh Padi, karena beres tur. Di saat yang bersamaan, gue lagi nyari vokalis. Jadinya terpengaruh suara Fadly. Dulu sih, gue nggak mau cerita. Kalau dibilang mirip Padi, gue ngeles aja,” katanya sambil terbahak.

 

Ketika saya wawancara, Opet sedang menggarap proyek bersama Budhy Haryono. Kelompok musik yang mereka beri nama Laki. Kalau ini berjalan baik, dia berencana untuk membubarkan Tiket. Dua mantan personel GIGI bergabung, Opet tidak menganggapnya proyek balas dendam. Toh, Opet sadar GIGI sudah jauh lebih berkembang. Seiring bertambahnya usia, Opet sadar sesuatu yang instan tidak tidak akan baik hasilnya. Tapi, dia senang bisa jadi bagian dari sejarah GIGI. Bisa diberi kesempatan belajar. Putra daerah itu telah mewujudkan mimpinya.

 

Gue nggak pernah ngebayangin bakal begitu. Makanya, sekarang kru band apa aja, harus punya keinginan untuk jadi lebih dari pada kru. Harus ada peningkatan!” katanya.

Teenage Death Star: 2002 – 2008

“Supaya orang tahu, wah gila, lama ya bikin albumnya, enam tahun,” kata Acong sambil menempeli dinding dengan lakban hingga bertuliskan 2002 – 2008.

Dia terkekeh.

“Tapi, malah tulisan itu bikin kesan hidup Teenage Death Star cuma sampe tahun 2008,” kata saya sambil tertawa.

“Ah, biarin aja. Tulisan ini emang sengaja biar orang punya pikiran macem-macem,” kata Acong.

Acong alias Sir Dandy Harrington adalah vokalis Teenage Death Star. Untuk selanjutnya, kita sebut saja Teenage. Seharusnya, disingkat TDS, tapi sejak Uga juga menyingkat The Dying Sirens dengan TDS, saya memilih untuk menggunakan kata Teenage ketimbang TDS.

Teenage selama ini bagaikan hidup segan mati tak mau. Dibilang tak pernah manggung, tidak juga. Dibilang tak membuat karya, tidak juga. Lagu-lagu mereka muncul beberapa kali di album kompilasi seperti JKT:SKRG dan OST. Janji Joni. Tapi, untuk ukuran band dengan para personel yang tak bisa dibilang minim pengalaman, cukup lama hingga akhirnya mereka merilis album perdana.

Dan Sabtu [22/12] siang itu, di Jalan Dago 498, mereka mengadakan syuting untuk video klip Absolute Beginner Terror dari album perdana Longway to Nowhere yang akan dirilis FFCUTS tahun 2008. Lagu klasik dari Teenage. Lagu yang di beberapa kali saya lihat penampilan mereka selalu membuat crowd menggila. Lagu yang entah bercerita tentang apa. Lagu yang konon, lirik penuhnya dibuat Acong sepuluh menit sebelum masuk studio. Lagu yang bagian terdengar jelas di kuping saya hanya bagian “I wanna see your daddy, I wanna see your mommy.” Lagu yang teriakan gitaris Alvin terdengar keras sekali.

“I’m a teenage!” Acong bernyanyi.

“Liar!” jerit Alvin.

Seperti dua orang tua yang kekanak-kanakan sedang berargumen. Yang satu memaksakan pendapatnya. Yang satu, walaupun sudah jelas tahu kawannya berbohong, masih saja menghabiskan enerjinya untuk berteriak menyanggah pendapat kawannya. Hehe.

Absolute versi baru ini terdengar lebih sophisticated setelah di-mix oleh Iyub Santamonica. Kalau versi lama, rock n’roll yang sangat kasar, mentah, liar, bernuansa jalanan, versi baru terdengar modern, megah, walaupun masih menyisakan liarnya, tapi tak terdengar terlalu kasar. Sepertinya nuansa album perdana mereka akan seperti itu. Saya baru mendengar beberapa lagu saja, jadi belum bisa menyimpulkan. Tapi, sejauh ini, saya bisa bilang kalau saya menyukai hasilnya.

Konon, ketika rekaman di studio milik Iyub, mereka memakai segala macam efek yang ada di sana, hingga membuat sound mereka berbeda dengan lagu-lagu sebelum era studio Iyub.

Soal lirik, Acong pernah berkata pada saya kalau dia—sebagai pembuat lirik—tak ingin memberi lirik yang membuat pendengarnya berpikir. “Kasihan nanti mereka. Udah pusing denger musiknya, eh juga harus mikirin liriknya,” dia terkekeh.

Dan jangankan orang luar, para personelnya sendiri—entah bercanda entah serius—mengatakan kalau bahkan mereka pun tak mengerti apa yang dibicarakan Acong dalam liriknya. Jadi, hanya si vokalis yang tahu apa yang dinyanyikannya.

* * *

Jam dua belas siang, ketika set sudah disiapkan, bassist Iyo belum juga datang. Padahal, dia sudah ditelepon dari jam sepuluh pagi. Dia bilang, ingin mengambil dulu amplifier, dan cymbal. Entah apa yang membuatnya begitu lama. Entah karena hari itu Bandung macet berat karena long weekend sialan membuat para pendatang berdatangan memenuhi Bandung [termasuk saya tentunya].

“Si Teenage mah kayak Spice Girls,” kata Alvin menirukan pendapat temannya, “susah banget dikumpulin.”

Wajar sebenarnya. Dengan komposisi para personel seperti mereka, agak susah untuk berkumpul. Tak hanya jarak, tapi juga kesibukan. Si vokalis, seniman dan desainer yang banyak beredar di Jakarta. Si bassist, vokalis band indie pop ternama. Si gitaris, vokalis rock n’ roll band yang entah sekarang statusnya masih hidup atau tidak, dan kini menjadi penulis karena katanya terpaksa untuk menyambung hidup karena Teenage tak bisa menghasilkan uang. Helvi, gitaris satu lagi, bos label. Dan drummer Firman, selain jadi bagian dari keluarga besar Seurieus, dia belakangan jadi anggota keluarga besar Black Morse Records.

Tapi, terlepas dari semua itu, pada dasarnya mereka sendiri sepertinya kurang memerhatikan dengan serius bandnya. Bahkan, menurut saya, mereka seperti yang kurang sadar kalau Teenage punya potensi untuk berkembang. Itu saya simpulkan setelah beberapa kali mendengar mereka mengatakan suka heran melihat banyak orang yang suka pada Teenage.

Selepas jam satu siang, akhirnya personel lengkap juga. Tapi, persoalan tak berhenti sampai di situ. Beberapa kali ketika mencoba menyalakan lampu, listrik di rumah itu mati. Padahal, biasanya tak begitu. Rumah kosong itu, juga dijadikan kantor majalah Fabric. Dan beberapa kali mereka mengadakan pemotretan menggunakan lampu, tak pernah terjadi begitu.

Hingga akhirnya, mas penjaga rumah mengajak berdoa bersama sebelum syuting dimulai. Setelah berdoa, dua buah lampu sorot akhirnya bisa dinyalakan tanpa membuat aliran listrik di rumah itu mati.

Anggun Priambodo, sang sutradara, hanya mengambil gambar dari satu sudut dan di satu tempat. Para personel Teenage diminta bermain musik mengikuti beat lagu yang sudah diturunkan. Badan boleh bergerak seperti biasa, tapi kocokan gitar, atau gebukan drum mengikuti beat yang lebih lambat dari versi aslinya itu. Ketika part mereka tak muncul di lagu, mereka disuruh diam mematung hingga datang lagi part mereka di lagu.

“Nu gelo! Nu gelo!” teriak Iyo sambil bergerak liar dan absurd.

Kecuali ketika datang gilirannya untuk mematung, yang lain juga bergerak tak jelas. Menaiki meja. Melompat lagi. Memainkan instrumennya. Memukul boneka Mickey Mouse yang tergantung. Merebahkan diri di lantai. Melakukan semua itu hingga lagu berakhir. Entah berapa kali pengambilan gambar dilakukan, saya lupa. Yang jelas, walaupun hanya berjalan sekira dua jam, itu sudah menguras tenaga mereka.

“Wah, gimana kalau manggung ya?” kata Acong ngos-ngosan.

Seperti PL Fair, tapi Bukan.

Sabtu [15/12] malam kemarin, anak-anak SMU Pangudi Luhur mengadakan acara serupa pensi. Mereka memakai judul PL Art Collaboration. Bukan PL Fair seperti yang biasa mereka gunakan bertahun-tahun. Konon, alasannya karena itu acara dengan konsep baru. Mungkin juga karena ada kabar yang mengatakan anak SMU sekarang sulit mengadakan pensi karena beberapa pensi di tahun 2007, dihiasi dengan tawuran.

Saya tak tahu alasan pastinya mereka memakai nama PL Art Collaboration. Belum pernah bertanya soal ini pada panitia. Jadi, yang akan saya tulis di sini berdasarkan asumsi. Yeah, saya tahu, asumsi adalah sesuatu yang terlarang dalam dunia jurnalistik. Tapi hey, ini kan blog saya sendiri.

PL Fair atau bukan, berdasarkan pengamatan singkat dan dangkal saya, acara Sabtu lalu sama saja seperti PL Fair. Ada stand-stand sponsor. Ada panggung besar di tengah lapangan. Hanya bedanya, tak ada tema tahun ini. Otomatis, tak ada dekorasi macam-macam. Hanya backdrop berupa kain putih.

Dan entah karena faktor nama, faktor para pengisi acara, atau faktor kurang gencarnya promosi, acara itu jadi sepi pengunjung. Ketika saya datang sekira jam delapan malam—di panggung, Whisper Desire sedang tampil—penonton di lapangan terlihat lengang. Bahkan, ketika Whisper Desire berkolaborasi dengan Pure Saturday pun, tak ada perubahan yang berarti dari jumlah penonton di lapangan. Lorong-lorong kelas yang biasanya penuh dengan orang berlalu lalang, malam itu juga terlihat lengang.

Beres Whisper bermain, panitia dengan lincahnya menempatkan acara pemutaran film sebelum headliner tampil. Saya tak tahu film tentang apa. Yang jelas, itu film karya anak-anak PL. Dan durasinya tak tanggung-tanggung; 45 menit saja! Film itu bahkan memakan waktu lebih lama dibandingkan penampilan Pure Saturday atau Seringai.

45 menit saudara-saudara!

Itu, ditambah hujan yang tiba-tiba turun, membuat penonton di lapangan bubar!

Mungkin itu implementasi dari konsep art collaboration. Tapi, seharusnya tidak membuat film sepanjang itu. Atau, kalaupun mau, film pendek dengan durasi 10 sampai 15 menit saja. Yang bisa diputar di sela-sela pergantian band.

Atau, biarkan panggung menjadi tempat kelompok musik bermain!

Tapi, kalau kita mau berbicara bahwa segala sesuatu ada hikmahnya, maka pemutaran film itu punya dampak positif. Karena begitu film beres, hujan pun berhenti. Penonton bisa ke lapangan lagi. Dan mereka tak harus basah kuyup menyaksikan penampilan Seringai.

***

“Bakar mesjid!” kata Arian.

Penonton bersorak.

“…kalau arah kiblatnya salah,” lanjut Arian.

Dan penonton pun bersorak kembali. Di belakang, Khemod hanya tertawa. Entah berapa orang yang malam itu ada di sana sudah pernah mendengar joke standar bertema Islam itu.

Lapangan tak lagi terlihat lengang. Walaupun tak penuh sesak, pemandangan ini jauh lebih baik ketimbang penampilan sekira sejam lalu. Di antara kerumunan, teriakan perempuan beberapa kali terdengar. Memanggil-manggil nama Arian.

Seringai menghapus beberapa lagu dari daftar. Untuk lebih jelas, silakan lihat foto di bawah. Kata salah seorang panitia, mereka tak boleh mengadakan acara hingga larut malam. Kalau tidak, tetangga bakal mengeluh.

Jam setengah sebelas—kalau tak salah sih, acara berakhir. Permintaan encore dari penonton tak diberikan. Beberapa orang remaja menyerbu panggung. Meminta tanda tangan. Salah seorang remaja perempuan menghampiri Arian.

“Arian, gue penggemar elu. Gue juga vokalis,” kata dia.

“Oya? Bawain apa?” Arian menjawab.

“Progressive metal. Eh, umurlu berapa sih Yan?”

“Menurutlu?”

“28?” si perempuan menjawab dengan ragu.

“Berapa doong?”

“33,” kata Arian.

“Waaah? Serius?” si perempuan tertawa.

“Emang elu berapa?” Arian bertanya.

“16,” jawab si perempuan.

“Gue juga kayak elu waktu umur segitu,” kata Arian.

“Masa?” si perempuan bingung.

“Iya, gue juga dulunya perempuan.”

Nona Sari di Bawah Cahaya Gemerlap

Judul begitu, saya pakai karena sebagian besar foto ini adalah foto Nona Sari.

Selasa [11/12] malam kemarin, White Shoes & The Couples Company mengadakan konser “Senandung Masa Muda” di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail [PPHUI], Kuningan.

Saya tahu soal konser itu, sehari sebelumnya. Makanya, agak heran juga ketika ternyata undangannya, walaupun gratis tapi terbatas. Entah dari mana saja orang-orang yang datang bisa dapat undangan. Untung, Indra Ameng, manajer WSATCC berbaik hati mau memberi saya dan Arian undangan sehari sebelumnya.

Dan rupanya, orang-orang seperti saya dan Arian, yang masuk tanpa tiket undangan resmi, yang membuat venue penuh. Hehe. Akhirnya, banyak orang yang tak kebagian kursi, dan harus duduk di anak tangga di antara deretan kursi.

Ini kali pertama saya menyaksikan konser di dalam ruangan yang biasanya lebih banyak dipakai untuk acara pemutaran film. Menyenangkan. Dan memang cocok untuk musik WSATCC.

Sayang, acaranya tidak berjalan sesuai jadwal. Seharusnya, acara dimulai jam setengah delapan malam. Malah, sebelumnya saya dengar acara dimulai jam setengah tujuh malam. Tapi, baru jam delapan malam acara dimulai.

Saya tak tahu, ide siapa untuk membuka konser itu dengan pemutaran film dokumenter. Entah karena si pengelola tempat yang memintanya. Entah karena dari pihak WSATCC yang ingin memutar film dokumenter itu lantas memilih PPHUI sebagai tempat supaya sesuai dengan film yang diputar.

Gawat. Kalau ini dibuat untuk media massa, maka tulisan ini akan sangat kurang sekali dengan data.

Film dokumenter yang diputar adalah film “Misbach: Di Balik Cahaya Gemerlap.” Durasi malam itu, 35 menit. Belakangan saya baru tahu kalau durasi asli film itu lebih panjang. Itu sebabnya, ketika film itu diputar malam itu, seperti yang kurang fokus.

Jadinya tak jelas, antara ingin menampilkan profil Misbach Yusa Biran, atau ingin bercerita soal tak bagusnya dokumentasi film di Indonesia.

Tapi, untuk orang awam film seperti saya, film yang jadinya tak fokus itu cukup memberi informasi. Ternyata, ayah Sukma Ayu dan suami Nani Wijaya itu punya peranan penting dalam perjalanan film Indonesia. Dan cuplikan-cuplikan film lamanya, cukup bisa memberikan penyegaran. Juga sedikit membangkitkan keingintahuan akan film-film lama. Seharusnya, teve lokal kita bisa memutar film-film lama itu. Jangan cuma diputar di event-event yang relatif lebih susah dijangkau orang awam.

Usai pemutaran film, acara diistirahatkan setengah jam. Untuk menyiapkan alat-alat di panggung. Padahal, ini bisa dilakukan sebelum pemutaran film. Dan saya rasa, penonton pun tak akan keberatan langsung melihat penampilan WSATCC. Ketimbang harus menunggu lagi setengah jam.

***

Cuplikan-cuplikan film lama juga masih diputar di antara perpindahan lagu dalam penampilan White Shoes. Artis perempuan yang bernyanyi di film-film lama itu, gayanya memang mengingatkan pada gaya bernyanyi Nona Sari. Sayang, mereka kurang menggarap acara itu sehingga cuplikan-cuplikan film itu jadinya tak lebih dari sekadar tempelan. Beberapa bagian sih, ada yang memang terlihat ingin dihubungkan dengan adegan film lama itu.

Seperti ketika Nona Sari memakai pakaian ala pramugari zaman dulu, misalnya. Sebelumnya, cuplikan “Asrama Dara” diputar. Adegan antara [sepertinya] seorang pilot dan pramugari. Pilot cunihin itu selalu merayu si pramugari sepanjang jalan dari kediaman si pramugari hingga bandara Kemayoran.

Tapi, kekurangan-kekurangan kecil itu masih bisa dimaafkan. Tak mengurangi daya tarik konser. Apalagi mereka tampil dengan string dan horn section. Dan selain musiknya, kostum Nona Sari membuat konser itu jadi lebih menarik.

Sari jadi sorotan malam itu. Dia berusaha melucu, walaupun-kadang-garing-tapi-dimaafkan-karena-itu-Nona-Sari-yang-berbicara.

Malam itu, Sari menari-nari. Sari melenggak-lenggok. Sari meniru gaya bicara Cinta Laura. Dan Sari mengungkapkan rasa harunya.

Dan tentu saja, akhirnya saya lebih banyak mengambil gambar Sari. Bisa jadi karena kursi saya yang ada tepat di depan Sari. Atau karena Sari mencuri perhatian saya sekali lagi.

Ini Dia Feature Juara Itu…

Saya mendapat juara pertama dalam Anugerah Adiwarta Sampoerna 2007, untuk kategori feature seni dan budaya. Alhamdulillah. Ada total 2117 karya berupa tulisan tahun ini. Saya mengirimkan tiga tulisan; “(ak.’sa.ra): skrg,” “[Bukan] Kerja Rodi,” dan “Menunggu Matinya Majalah Musik.”

Dua feature saya masuk final; yang aksara dan yang majalah musik. Nah, yang aksara itulah yang kemudian dipilih Dewan Juri untuk jadi juara. Effendy Ghazali salah satu yang memilihnya. Konon, dia tak suka dengan majalah Playboy. Mungkin ini akhirnya jadi semacam tamparan buat dia. Karena ternyata, tulisan yang dipilihnya, berasal dari majalah yang dia tak sukai. Hehe.

Semua karya yang dikirim ke panitia, diberikan pada Dewan Juri tanpa nama penulis dan medianya. Dengan begitu, juri bisa memilih tanpa terpengaruh nama penulis atau media. Untuk lebih jelasnya, silakan cek www.maverickid.com.

Nah, di bawah ini, tulisan yang dimenangkan itu. Dimuat di Playboy Indonesia, edisi Nopember 2006. Kalau ada waktu, saya upload juga foto di halaman depannya. Tapi, untuk sementara, silakan baca dulu ini.

Oya, awalnya, saya memakai lead; “Tiga anak muda ibukota mencoba menawarkan pilihan lain lewat bisnis yang mereka kelola.” Tapi, pemred saya meminta saya mengubahnya.

(ak.’sa.ra): skrg

Potret kaum hipsters Jakarta.

Skinny jeans, kemeja serta celana bermotif kotak-kotak, vest, kacamata bingkai tebal, legging dipadu dengan rok mini, warna pakaian yang saling bertabrakan, sepatu Converse, sepatu Vans, rambut awut-awutan ala Afro, rambut modern bob hingga pony tail! Begitulah penampilan sebagian besar anak muda yang datang ke Hard Rock Café, Jakarta, di akhir Agustus malam itu.

Ini kali kedua aksara records menggelar showcase. Mei lalu, mereka menggelar showcase yang pertama di Barbados Café, Kemang. Sekaligus launching album pertama The Brandals yang di-repackage. Kini, mereka menggandeng trax fm dan mendapat sponsor dari Citibank Clear Card. Selain untuk promosi band rilisan aksara records, ajang itu dijadikan ajang pencarian bakat baru. Maklum, di acara yang bakal digelar sebulan sekali itu, satu band yang belum punya label diberi kesempatan tampil. Tentu saja yang dianggap memenuhi selera musik aksara records.

Tidak seperti banyak pertunjukkan di Hard Rock, yang tampil kali ini bukan kelompok musik papan atas yang penjualannya ratusan ribu hingga jutaan kopi. Itu menjelaskan kenapa banyak anak muda dengan gaya berpakaian yang biasanya sering terlihat pada pertunjukkan musik di Pensi SMA, bar atau klub kecil dengan headliner yang lebih sering dikenal sebagai band indie.

Dan malam itu, mereka datang untuk The Adams yang baru saja merilis album keduanya berjudul V2.05. Untuk standar kelompok musik mana pun, menggelar pesta launching album di Hard Rock, termasuk mewah. Dengan begitu, ini bisa jadi salah satu cara untuk mengukur perkembangan aksara records.

Hard Rock Café penuh sesak. Bisa jadi, ada dua penyebabnya. Acaranya gratis. Lantas penampilnya sudah punya massa yang cukup solid. Maklum, biarpun The Adams belum mencapai popularitas seperti Peterpan atau Slank misalnya, mereka sudah menjajaki banyak panggung dengan modal tiga album kompilasi dan dua album studio.

Album kedua sekaligus menandai resminya formasi terbaru mereka; gitaris/vokalis Ario, gitaris Ale, bassist Arfan, kibordis Kaka, dan drummer Gigih. Sebagian besar yang datang sepertinya memang datang untuk The Adams. Bukan apa-apa, ketika Tika tampil sebelumnya, dan Stereomantic tampil sesudahnya, penonton hanya menyaksikan sambil terdiam. Malah, ada beberapa orang yang bertanya-tanya siapa yang mereka lihat di panggung ketika Tika tampil. Sedangkan ketika giliran The Adams tampil, penonton ikut menyanyikan beberapa lagu yang diambil dari album pertama mereka.

“Kami ingin gerliya nembus pasar mainstream, supaya market-nya bisa dilebarin,” kata Hanin Sidharta, Artist & Repertoire Director aksara records. Singkatnya, A&R adalah pencari bakat dalam sebuah perusahaan rekaman.

Embrio aksara records dimulai ketika Hanin tidak betah kerja kantoran. Sewaktu masih kuliah di jurusan Liberal Arts di Adeplhi University, New York, yang ia masuki di tahun ‘91, Hanin sempat pulang ke Jakarta dan bekerja di perusahaan ayahnya. Karena tidak betah, ia lantas menyelesaikan kuliahnya yang tertunda. Pulang dari luar negeri, Hanin kembali kerja kantoran selama dua tahun, tapi tidak betah juga. Passion-nya pada musik terlalu besar. Ia selalu ingin berbisnis di bidang musik. Setelah bertemu kembali seorang teman yang pernah satu band dengannya, Hanin akhirnya memproduksi album Shelomita. Merasa tidak ada studio rekaman yang bagus di Jakarta, ia dirikan studio Pendulum pada tahun 2002. Modalnya; kira-kira setengah milyar rupiah yang ia pinjam dari ayahnya.

“Ayah Anda percaya?” tanya saya.

“Karena emang dia liat, nggak ngasih apa-apa lagi kali ya,” katanya sambil terbahak.

Tahun 2002, Hanin bergabung dengan aksara bookstore yang waktu itu mulai membuka section musik. Ia lantas menjadi Director of Music Divison dan menjadi salah seorang penanam modal di sana.

“Saya paling kecil share-nya, gitu aja deh,” katanya soal posisinya di sana.  

Waktu awal dibuka, aksara music masih belum tertata rapi. Campur aduk dengan toko buku. Album yang dijualnya masih sama dengan banyak toko kaset lain. Aksara kemudian merekrut David Tarigan dan Kartika Saraswita untuk mengelola aksara music.

David adalah salah seorang ikon aksara. Ia musisi sekaligus kolektor musik yang juga pernah mengelola Ripple, salah satu majalah indie di Bandung. Sedangkan Ika, sebelumnya ia pernah melamar untuk jadi part timer sebagai costumer service aksara bookstore. Ia tidak diterima. Suatu hari, Ika bertemu dengan seorang kru aksara bookstore waktu berbelanja piringan hitam di Jalan Surabaya, Ika disuruh melamar kembali ke aksara yang waktu itu akan membuka section musik.

20 Nopember 2002, untuk meresmikan aksara music, diundanglah Mocca, indie pop band keluaran FFWDRecords Bandung yang waktu itu akan rilis album pertamanya, My Diary.

“Gue liat, animonya gokil banget. Gede banget! Terus, kata David, ada scene yang lagi gede-gedenya nih di BB’s Café,” kenang Hanin.   

BB’s adalah bar dan café tiga lantai di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Tempatnya sempit. Jalan masuknya hanya satu. Kalau ada kebakaran, kemungkinan semua yang ada di sana tidak bisa menyelamatkan diri. Di sana, sering digelar acara yang menampilkan DJ-DJ yang memainkan musik new wave dan metal. Dan scene yang sedang besar yang dimaksud David, adalah munculnya band-band kecil yang belum punya album.

“David bilang, nggak ada yang mendokumentasiin nih. Padahal, band-nya bagus. Sayang nih kalau nggak direkam! Makanya, kalau nggak ada si David, nggak ada aksara records,” kata Hanin.

Studio Pendulum pun dimanfaatkan. Band-band dikumpulkan untuk dimasukan dalam album kompilasi. Bukan pekerjaan mudah mengumpulkan sebelas band. Apalagi pengerjaan sebagian besar proses rekamannya, menunggu studio kosong. Akhirnya, tahun 2003, rilisan pertama aksara records keluar. Album kompilasi berjudul JKT:SKRG. Pengisinya; The Adams, The Brandals, C’mon Lennon, Ruang Hampa, Sajama Cut, The Sastro, Seringai, Sore, Teenage Death Star, The Upstairs dan Zeke & The Popo. Rilisan ini dianggap salah satu album indie terbaik di tahun 2003.

“Gue tanya Hanin, gimana? Rilis aja lah. Kan toko buku, masih ada benang merahnya sama CD lah. Dulu, nggak ada orangnya. Cuma gue sama Hanin. Nggak ada pikiran mau bikin label proper gitu. Akhirnya mau nggak mau, respon orang bagus, sayang juga,” kata David.

Setelah JKT:SKRG, produk kedua aksara records adalah The Adams. Itu pun di luar rencana sebenarnya. Suatu hari, anak-anak The Adams bilang pada Hanin soal rencana mereka mencetak album pertamanya sebanyak seribu kopi. Karena materinya dianggap bagus, lantas aksara records membiayai produksi album itu.

Tapi, sebagai label, aksara records baru benar-benar terbuka jalannya ketika merilis soundtrack film Janji Joni. Kesuksesan album Janji Joni benar-benar memperluas pasar aksara records.

“Waktu itu, Vivian Idris, marketing kami ngasih denger JKT: SKRG ke Nia Dinata. Ada lagunya Teenage Death Star, yang judulnya [I Got] Johnny In My Head. ‘Wah, ini pas banget sama energinya’ kata Nia. Akhirnya Nia mau buat soundtrack. Filmnya laris. Band-band keangkat. Apalagi lagu Senandung Maaf punya White Shoes. Sama lagunya The Adams,” kata Hanin.  

Aksara records baru mulai benar-benar belajar jadi label yang benar ketika merilis album perdana White Shoes & the Couples Company. Mereka bekerjasama dengan Universal Music Indonesia di album itu. Kini, selain The Adams dan White Shoes, aksara records punya nama-nama antara lain; Tika, Sore, Goodnight Electric, The Brandals, Ape on the Roof dan Stereomantic.

Kalau kebetulan semuanya berasal dari Jakarta, itu karena paling mudah secara teknis. Kantor aksara records juga berada di gedung yang sama dengan studio Pendulum. Akhirnya, banyak orang nongkrong  di sana. David jadi sering ikut dalam proses kreatif band-band itu. Intinya, prosesnya tidak berlangsung dingin.

“Gue nggak mau bilang komunitas. Karena emang, lingkungan yang kami punya kali ya. Secara nggak langsung emang begitu. Tongkrongan banget sih tempatnya. Ada semua di situ. Bertukar pikiran. Akhirnya kami berproses bareng-bareng,” kata David.

Ini bukan sesuatu yang baru sebetulnya. Pertengahan tahun ’90-an, di gang Potlot, markas Slank, pernah ada komunitas begitu. Musisi berkumpul. Saling bertukar pikiran. Maka muncullah nama seperti Kidnap Katrina, Oppie Andaresta hingga Imanez. Walaupun sekarang, tempat itu lebih dikenal sebagai tempat berkumpulnya Slankers alias penggemar fanatik Slank.
   
Seperti halnya Slank di awal kemunculannya, aksara records juga mencoba menawarkan sesuatu yang  berbeda. Yang di luar mainstream. Hanin pernah mencoba berbisnis dengan mengikuti selera pasar ketika merilis album Shelomita. Ketidaksuksesan album itu membuatnya berpikir kembali. Makanya, ia mencoba membuat pasar sendiri.

Kini, band indie mulai dapat perhatian dari publik yang lebih luas. Beberapa bulan lalu, LA Lights menggelar kompetisi band yang mereka beri nama LA Lights Indie Fest. The Upstairs, dikontrak Warner Music Indonesia. Video klipnya mulai masuk chart MTV Ampuh. Walaupun jarang diputar di televisi, video musik The Adams mendapat penghargaan video musik indie terbaik versi Anugerah Musik Indonesia 2006 yang diadakan Indosiar.

Aksara records punya peranan di sana. Ikut dalam usaha membuat banyak band indie diterima publik lebih luas. Juga ikut diuntungkan oleh kondisi ini. “Tantangan terbesar kami sekarang, adalah distribusi dan marketing. Kalau begitu, kami harus professional. Se-mainstream mungkin. Makanya, kalau nggak dibantu sponsor nggak mungkin sebesar sekarang,” kata Hanin.

Tidak hanya soal musisi yang dikontrak, album yang ditawarkan di aksara music pun di luar mainstream. Setidaknya, album-album yang dijumpai di sana, kemungkinan besar jarang dijumpai di toko kaset lain. Tidak ada batasan umur dari target pasar mereka. Yang jelas, orang-orang yang ingin sesuatu yang baru. Ibaratnya, mereka yang pernah melihat video klip Interpol, tapi tidak tahu di mana harus membelinya.

“Serious music lovers lah. Aksara records cuma ngasih alternatif ke Indonesian music lovers. Ini musik kayak gini ada loh. Please check us out! If you like it, buy our albums. If you don’t,  buy them anyway,” kata Hanin sambil tertawa.   

David punya gambaran lebih detil soal target pasar mereka. Pertama, yang baca majalah musik. Mereka yang membaca soal album baru, dan ingin mencari di sana. Kedua. anak muda. Karena musiknya sangat anak muda. Ketiga, ini traffic, di Kemang. Banyak ekspatriat dengan latar belakang macam-macam. Datang ke sana, ngobrol, memberi apresiasi.

Bagi serious record buyers, kehadiran section musik di aksara benar-benar membantu. Banyak album yang tadinya hanya bisa dibeli lewat internet, bisa dicari di sana. Tidak terlalu luas memang. Hanya menempati duapuluh persen dari seluruh aksara bookstore. Tapi benar-benar segmented.

“Ini bentuk kekecewaan kalian terhadap record store yang ada?” tanya saya pada David.   
 
“Gue lebih mikirin ke passion sih. Keasyikan kami. Kesukaan kami terhadap good music mungkin. Hahaha. Good pop music,” jawabnya.

David dan Ika, adalah yang bertugas mengurusi album apa saja yang dijual aksara music. Ika menyebut musik aksara dengan satu kata; hip! Harus yang bisa diterima, tapi tidak boleh mainstream.

“Ada yang bilang, aksara tempat berkumpul hipster ibukota,” kata saya.

“Ya bisa-bisa aja sih,” jawab Ika sambil tersenyum.


***
 
Hipster, menurut wikipedia, adalah orang yang biasanya selalu dihubungkan dengan subkultur yang dianggap hip; keren, trendy, fashionable. Istilah hip awalnya digunakan tahun ’40-an di Amerika Serikat untuk mendeskripsikan penggemar jazz. Swing Street, New York City asal dari istilah itu. Waktu itu, musisi Jazz menggunakan kata hep dan hepcat untuk menyebut diri sendiri dan mereka yang “mengerti jazz”. Hep, bentuk awal dari kata hip. Cat/kat, digunakan untuk menyebut “orang”. Jadi, hip kat atau hepcat adalah orang yang kekinian atau up to date.

Seiring dengan meningkatnya popularitas musik jazz di kalangan squares [mereka yang tidak mengerti], serta banyak para squares ini memakai istilah itu, para musisi mulai menggunakan kata “hip”. Untuk membedakan mereka dari fans dan squares. Adalah Harry Gibson, pianis terkenal di Swing Street, yang menemukan istilah hipster. Dia memanggil penontonnya dengan “all you hipsters”. Ini membuat musisi lain memberinya julukan “The Hipster” sekitar tahun 1940. Pada tahun 1944, Gibson merekam “Handsome Harry, The Hipster”. Sejak saat itu, istilah hipster pun menyebar. 

Dalam arti yang sesungguhnya, original hipsters adalah para musisi jazz dan swing di tahun 1940-an, atau pecinta musik tersebut, ketika musik “hip” masih diasosiasikan dengan musik orang African-American. Walaupun hipsters bisa kulit hitam atau kulit putih, istilah itu belakangan lebih sering digunakan untuk orang kulit putih pecinta musik, groupies, dan anggota dari apa yang disebut Bohemian Set, atau Beat Generation.

Penggunaan istilah hipster untuk orang kulit putih yang menyukai segala hal yang avant-garde dan kebudayaan African-American dipopulerkan oleh Norman Mailer pada tahun 1956. Ia menulis essay berjudul The White Negro: Superficial Reflections on the Hipster. Kadang, hipster juga disebut sebagai beatniks—diambil dari the Sputnik, satelit Rusia. Istilah ini ditemukan Herb Caen, kolumnis dari San Francisco.

Masuk di tahun ’60-an, istilah hipster tidak lagi digunakan karena munculnya istilah hippies. Lantas, sejak akhir ’90-an, kata hipster muncul kembali sebagai istilah untuk para musisi dan pecinta indie rock dan downtempo electronica, serta jenis musik dan fashion yang berhubungan dengannya. Aksesoris stereotype modern hipster biasanya mencakup scooter Vespa, kacamata model Buddy Holly, sabuk putih, keanggotaan di band lokal, sepatu Converse, serta pakaian vintage.

Modern day hipsters memuja retro fashions, independent music and film, komik alternatif, serta bentuk ekspresi lain di luar mainstream. Mereka sering dihubungkan dengan indie culture. Secara umum, trendsetters dalam fashion biasa disebut hipsters juga. Walaupun penggunaan istilah ini berbeda dengan hipster subkultur, yang selera fashion-nya spesifik dan biasanya tidak ditujukan untuk mainstream. Tidak seperti generasi hipsters sebelumnya, mereka sekarang jarang diasosiasikan dengan scene musik jazz. Walaupun istilah itu kembali digunakan karena adanya swing revival dan lounge revival pada pertengahan tahun ’90-an.

Ada beberapa modern day hipsters yang bahkan tidak benar-benar butuh pekerjaan [dan seringkali disokong orangtuanya]. Hipster jenis ini sering disebut sebagai TFB atau Trust Fund Baby. Karena kondisi keuangan yang stabil, ketika bekerja, mereka biasanya memilih tempat yang memungkinkan untuk berinteraksi dengan hipsters lain, seperti toko musik alternatif, coffee shop atau bar. Nah, mereka inilah yang agaknya jadi target pasar aksara music.

Belakangan, istilah hipster sering jadi bahan olok-olokkan. Kritikan paling umum yang biasa dilontarkan adalah mereka hanya “penggali kebudayaan” yang tidak sekreatif dan seunik yang terlihat. Istilah “Cut and Paste Generation” pun muncul. Karena mereka memuja pakaian dan gaya musik lama, seringkali ironis. Akhirnya, hipster jarang digunakan untuk menyebut jati diri. Kecuali dalam konteks ironis atau mengolok-olok diri sendiri.

***

Ketika saya hubungi untuk meminta janji wawancara, Winfred Hutabarat sempat mengatakan keberatannya. Alasannya, “It’s not you. It’s just my thing,” katanya. Tapi, ia luluh juga. Walaupun dengan catatan; tanpa difoto.

Bicara aksara, bicara Winfred. Tahun 1997, Winfred terpikir untuk membuka toko buku impor. Waktu itu ia masih kuliah di Amerika Serikat dan sedang berlibur di Jakarta. Ia merasa kalau kota metropolis seperti Jakarta belum punya toko buku impor yang bagus. Tapi, krisis moneter tiba-tiba datang. Dan ide itu pun tertunda. Ketika tahun ’99 ia pulang ke Indonesia, ia “mengunjungi” kembali ide itu bersama Arini S. Subianto.

Persahabatan Winfred dan Arini dimulai ketika mereka sama-sama kuliah di Amerika Serikat. Winfred mengambil jurusan International Relations. Arini mengambil jurusan Fashion Design.

Untuk mewujudkan idenya, mereka mencari lokasi sama-sama. Kemang pun disepakati jadi lokasi yang tepat. Harganya cocok. Lokasinya di tengah. Dan cukup accessible untuk orang-orang Selatan. Arini juga ingin membuka tokonya di daerah di mana orang bisa berjalan kaki.  Waktu itu belum banyak toko di Kemang. Kalaupun sekarang jadi daerah yang ramai oleh toko, itu di luar dugaan Arini.

Seperti halnya Hanin, Winfred dan Arini mendapat pinjaman uang dari keluarga untuk menjalankan bisnisnya. Berapa modalnya, mereka enggan menyebutkan. Yang jelas, kata Arini, dibandingkan toko buku lainnya, modal mereka tidak besar.

“Makanya kami berdua harus tetep teka-teki saja. Gimana caranya dengan segitu, we can get the best selection, we can get the best deal, we can provide the best atmosphere,” kata Arini.

Soal model, Winfred dan Arini mengambilnya dari toko-toko buku yang sering mereka lihat sewaktu kuliah. Setiap summer, mereka berlibur di daerah Selatan. Karakter dari toko-toko di sana cukup casual, tidak perlu rapi, yang penting warm.

“Kami terinspirasi oleh konsep toko yang independent. Yang memungkinkan kami selling product that unique, yang tidak terlalu komersil. Juga punya karakter sendiri. Dari berbagai macam toko lah, inspirasinya,” kata Winfred.

Bedanya, Winfred dan Arini tidak ingin buku yang dijual menumpuk seperti di kebanyakan toko buku independent itu. Plus, mereka berdua sama-sama tertarik pada arsitektur. Karenanya, design jadi salah satu unsur yang diperhatikan. Tidak tanggung-tanggung, Andra Matin, salah satu arsitek muda terbaik Indonesia dengan gaya modern minimalis, dipercaya untuk mendesaiin toko mereka.

Oktober ’99, Winfred membuka aksara bookstore. Di lokasi yang sama, Arini membuka prodak, toko furniture dan gifts. Dua toko itu masih dipisahkan oleh sekat. Belum terpikir untuk membuka sekat dan menggabungkan dua toko yang berbeda itu. Akhir 2002, Hanin bergabung. Seperti juga Arini, Hanin kenal Winfred ketika sekolah di luar negeri. Kalau kebetulan ke Jakarta, mereka sering pergi ke pesta yang sama.

Atas saran Hanin, tahun 2002, aksara dan prodak digabung menjadi aksaraprodak. Sekat itu dibuka. Tahun 2003, aksara cabang Cilandak Town Square dibuka. Tahun 2004, aksara membuka cabangnya di Plaza Indonesia. Tahun 2004, dua perusahaan aksara dan prodak resmi bergabung. Belakangan, nama aksaraprodak tidak lagi dipakai. Untuk memperkuat brand, mereka memutuskan memakai nama aksara saja. Dengan variannya; books, music, gifts, homewares. Mei 2006, aksara menggandeng yang disebut Arini dengan “silent partner”. Mereka membantu menyusun konsep café yang terletak di di lantai dua; Casa.

“Aksara bukan bookstore lagi. Tapi lifestyle store. Ada hip-nya, edukasinya. Hip life style. Kebanyakan orang-orang educated. Filmmakers, orang media yang pengin tahu life style sekarang kayak gimana, udah sampai mana, kami provide,” kata Hanin.

Untuk sampai di tahap itu, tidak semudah membalik telapak tangan. Ketika baru dibuka, masih banyak orang yang belum tahu soal keberadaan aksara bookstore. Salah satu cara yang mereka lakukan untuk menarik orang supaya datang ke sana, adalah dengan mengadakan berbagai kegiatan. Karena mereka berdua suka kebudayaan, maka kegiatan yang digelar berkaitan dengan itu.

Diskusi buku, konferensi pers, pemutaran film, eksibisi karya seni, kumpul-kumpul arsitek, belajar desain, semuanya pernah digelar di sana. Untuk mendukung komik Indonesia, aksara juga punya klab komik, yang tiap bulan membuat komik Indonesia. aksara juga dianggap sebagai salah satu pihak yang mempopulerkan lomografi di Indonesia. aksara juga mendukung desainer lokal dengan memberi ruang untuk meluncurkan produk mereka dan menjual produknya. Walaupun, tentu saja, tidak menjual mass-produced product. Salah satu produk lokalnya, adalah Jenggala, keramik dari Bali yang dibawa ke Jakarta untuk dijual. Sementara soal produk yang dijual, ada proses pengeditan yang cukup panjang. Ada kurasinya. Tidak sembarangan semua barang itu bisa dijual di sana.

“Aksara ingin jadi simpul kultur?” tanya saya.

“Pengin sih pengin. Tapi biarlah terjadi sendiri. Kalau dibilang tujuannya begitu, terlalu pretensius. Kami cuma mengakomodir konsumen kami. Juga mengembalikan fungsi venue ini untuk publik. Untuk aktifitas yang berhubungan dengan youth and urban culture. Kalau bisa dimanfaatkan untuk melakukan aktifitas yang berkaitan dengan art and culture,” jawab Vivian Idris, Director of Marketing.

Secara tidak langsung, akhirnya aksara telah menjalankan fungsi edukasi lewat kegiatan dan produk mereka. Begini, ada tiga anak muda; Winfred dengan passion-nya pada desain, Arini dengan passion-nya pada fashion, dan Hanin dengan passion-nya pada musik. Aksara adalah perpanjangan tangan dari mereka.

“Secara nggak langsung, terjadi mau gimana pun juga. Ibaratnya, kantung budaya. [tertawa]. Gue juga kaget aksara bisa begini. Awalnya kan dulu bookstore. Mau buka section musik nih. Wah, yoi banget nih! Gue seneng banget. Tiba-tiba ada section musik dengan pendekatan yang nggak pernah ada di sini. Record store yang sudah established di Jakarta dengan mungkin jalan Surabaya atau Jalan Cihapit di Bandung mungkin. Ngobrool melulu kerjaannya. Gara-gara itu juga. Ya akhirnya tokonya kebuka. Akibatnya segala kemungkinan masuk. Akhirnya, dengan aksara sebagai tempat aja, ini buat tempat nongkrong anak-anak muda jaman sekarang yang sadar budaya banget. Seneng musik, segala macem. Dari hal musik-musik yang nggak lajim di negara ini, tapi banyak orang yang membutuhkan. Sesuatu yang minor akan menjadi proses pembelajaran. Orang pasti akan menghubung-hubungkan dengan itu,” kata David.

“Kalau boleh dibilang, kami ingin ada semacam edukasi kepada market. Musik tuh nggak begitu aja. Di Jakarta juga bisa ada toko begini, bukan di Paris aja. Barang-barang dijual di sini, sejenis dengan barang-barang yang ada di Paris. Arini dan tim bener-bener riset mencari barang, dengan keliling dunia. Melihat barang-barang yang unik yang belum ada di Indonesia. Tentu saja dengan melihat range harga,” kata Vivian dengan semangat.

Di luar sana, banyak juga orang dengan passion yang sama. Hanya, tidak semuanya punya fasilitas, akses, maupun modal seperti Winfred, Arini atau Hanin. Kehadiran mereka di industri, tentu saja membantu membuka akses buat banyak orang. Akhirnya, ada semacam transfer budaya. Walaupun Winfred mengatakan yang mereka lakukan sebenarnya cuma berusaha menghibur, tapi fulfilling.

“We’re trying to make reading fun. Making product yang tadinya tidak terlalu accessible, lebih accessible,” kata Winfred.

“Kami ingin ngasih liat, what’s out there! Outside Jakarta, yang bisa diadaptasikan di everyday life di Jakarta,” tambah Hanin.

 Enam tahun memang masih relatif muda. Tapi, brand aksara sudah punya imej yang kuat. Bagi sebagian orang, aksara jadi salah satu tempat yang harus dikunjungi kalau ada di Jakarta. Pernah, suatu hari, ada orang Surabaya yang sedang ada di Jakarta, terus menelepon kantor aksara. Menanyakan rute ke sana.

“Itu sebenarnya by product, tidak kami rencanakan. tapi akhirnya jadi daya tarik sendiri. Hal-hal begitu cukup menyenangkan. Berarti pesannya sampai. Ada section CD kami yang diapresiasi,”  kata Vivian.
 
Selain musik dan buku, aksara juga pernah menerbitkan aksara majalah. Hanya bertahan beberapa edisi. Karena penggagas sekaligus pemimpin redaksinya harus pindah ke Amerika Serikat.

Untuk sampai saat ini, produk penerbitan mereka baru itu saja. Kalaupun Winfred dan beberapa teman arsitek menerbitkan buku bertema arsitektur dan urban issue, itu diterbitkan oleh publishing company bernama Borneo. Bukan atas nama aksara.

Sampai saat ini, mereka belum terpikir untuk menerbitkan kembali majalah. Biarpun itu sebagai katalog mereka seperti yang dilakukan anak-anak 347 di Bandung. Mereka menerbitkan Ripple, yang awalnya untuk catalog produk mereka, tapi belakangan jadi majalah yang menaruh perhatian besar terhadap scene indie. Mereka pun membentuk Spills Records untuk merilis album dari band yang mereka anggap bagus. Bedanya dengan aksara, 347 berangkat dari toko pakaian serta tidak punya tempat untuk publik berkumpul.

Makanya, ketika bicara aksara, sudah tergambar karakter orang seperti apa yang datang ke sana. Apa yang dikenakannya. Musik apa yang didengarkan.

Yang dilakukan aksara records juga sebenarnya telah dilakukan FFWDRecords Bandung lebih dulu di tahun 1999. Dengan modal kecil, beberapa orang pendiri menyumbangkan uangnya, mendirikan label. Mereka jadi label resmi yang merilis album dari band seperti The Cherry Orchard, Club 8, 800 Cherries hingga akhirnya Mocca yang membuat nama FFWDRecords dikenal dan diakui sebagai label indie yang disegani. Tapi ada yang tidak dimiliki FFWDRecords; venue untuk publik.

Tersedianya fasilitas itulah, yang kemudian mendukung aksara dengan segala kegiatan dan bisnisnya. Di bagian belakang, ada café di mana orang bisa mengakses internet sepuasnya. Tidak sedikit yang sekadar kumpul dengan teman atau mengadakan meeting di sana. Dalam kadar tertentu, komunitas aksara—kalau memang boleh disebut komunitas—sedikit mengingatkan pada komunitas Utan Kayu dengan segala kegiatan kultural-nya. Kegiatan maupun produk di luar mainstream. Hanya mungkin, bedanya aksara mengambil pasar anak muda yang lebih hip.

Arini hanya tertawa ketika mendengar saya bicara soal itu. “Could be. Kalau ada yang bilang begitu, it’s a nice compliment,” katanya.

“Walaupun kami bukan institusi yang punya misi non profit cultural. Misinya, we’re trying to make cultural industry. Lewat retail, aksara records, lewat producing music, sama design product,” tambah Winfred.

“Sebenarnya we don’t take ourselves that seriously untuk events. We want to have fun. Actually, we do what we like.  Dan kebetulan yang kami senangi merefleksikan hal-hal yang penting buat aksara. Design, art, culture, musik, film, buku,” kata Vivian.

***

Sudah lewat tengah malam ketika aksara showcase berakhir. Di lantai atas, anak-anak The Adams bercengkerama dengan teman-teman dekat yang datang ke sana. Di luar Hard Rock, puluhan anak muda yang lelah duduk-duduk memadati lorong Plaza Indonesia. Sebagian dari mereka, memakai kaos The Adams yang dijual malam itu. Keberhasilan target Hanin soal memperluas market memang belum bisa diukur. Tapi setidaknya, menembus Hard Rock Café sudah jadi langkah yang tepat untuk label indie macam aksara records memulai langkah melebarkan pasar. 

“Kenapa memilih Hard Rock?” tanya saya pada David.

“Ada tempat yang lebih mainstream lagi dari Hard Rock?” dia balik bertanya.


 

Serigala Militia: Chapter Bandung

“Ricky tak bisa datang, pacarnya hamil di luar nikah.”

Itu alasan pertama yang Arian, Khemod dan Sammy katakan pada penyiar radio di Bandung, ketika Kamis [29/11] lalu mengadakan tur wawancara dalam rangka promo Serigala Militia Release Party.

Alasan kedua, Ricky dibilang sedang menghadiri wisuda anaknya, yang mahasiswa abadi. Alasan ketiga, Ricky menjadi salah satu tim pengacara Ahmad Albar. Alasan keempat, Ricky terkait kasus narkoba bersama Ahmad Albar.

Selain pertanyaan kenapa Ricky tak hadir, para penyiar radio juga menanyakan hal yang kurang lebih sama.

“Kenapa sih albumnya dikasih judul Serigala Militia?”

“Apa yang Seringai harapkan dari album ini?”

“Kenapa kami harus membeli album Serigala Militia?”

“Apa sebenarnya konsep dari launching besok malam?”

Maka, jawaban-jawaban berikut ini yang terlontar di radio-radio itu.

“Ini sebuah penghargaan untuk fans kami, yang kami sebut dengan Serigala.”

“Kami ingin mengembalikan rock ke kaidah yang sesungguhnya. Rock pernah mengalami masa jaya beberapa tahun lalu. Tapi sekarang, banyak band yang mengatakan musiknya rock, tapi di albumnya, hanya ada tiga lagu yang kenceng, selebihnya temponya slow. Rock, kok slow?”

“Ini alternative dari album-album yang sekarang beredar di masyarakat. Kami ingin memberi pilihan lain pada masyarakat. Dan sekarang, kami membuat lagu yang lebih crowd oriented.”

“Sebenernya konsepnya sih, hura hura huru hara. Kami ingin bersenang-senang.”

***

Kami berangkat dari Cipete, jam lima pagi. Jemput Sammy di Menteng, lantas meluncur ke Bandung jam setengah enam pagi. Tiba di rumah Tanya—yang diberi tugas oleh EO, untuk mengawal Seringai wawancara radio, jam delapan pagi. Sarapan. Lalu, dimulailah tur radio.

Jam setengah sembilan kurang sedikit.
Ninety Niners Radio. Dulu 99,9 FM. Tapi, sejak ada penyesuaian gelombang radio di Bandung, jadi 100 FM. Ada di BRI Tower, depan alun-alun Bandung. Ini radio yang terkenal dengan banyak penyiar bancinya. Radio yang menyebut dirinya dengan Funky Funky Station. Dan menyebut DJ nya dengan Funky DJ. Tentu saja, nama programnya diawali dengan kata Funky. Bahkan, di luar pintu masuk, saya melihat banner kecil bertuliskan FBI: Funky apa lah itu B dan I nya saya lupa.

Seringai diwawancarai oleh dua penyiar; satu berlagak banci, satu sedikit normal. Walaupun sepertinya, dua penyiar itu, punya sedikit sekali info soal Seringai, mereka bisa membawakan acara dengan menarik. Tipikal penyiar banci memang selalu seperti itu. Mereka selalu menyenangkan membawakan acara. Plus, anak-anak Seringai memang senang sekali diwawancara.

Jam setengah sepuluh.

I Radio. 105,1 FM. Penyiarnya, tiga orang ‘pelawak’ yang menamakan dirinya Urban alias Urang Bandung. Mereka finalis Akademi Pelawak Indonesia angkatan kedua, yang digelar TPI. Dulu, siaran di Hard Rock FM Bandung. Suka berbicara bahasa Sunda. Makanya, ketika mereka dulu siaran di Hard Rock, imej HRFM yang kota, luntur oleh mereka. Mereka sepertinya lebih cocok di I Radio. Sammy banyak diam pada sesi ini. Mereka sering sekali berbicara dalam bahasa Sunda.

“Orang Jakarta, masih kalah sama orang Bandung kalau soal ukuran mah,” Elmi mencoba menceritakan lelucon.

“Sok, kalau kita lihat dari nama daerah aja. Jakarta mah, kan udah Pondok, Gede. Masih kalah sama orang Bandung, yang Leuwih Panjang!”

Beres dari I Radio, kami ke kantor Cerahati di Sukasenang. Di rumah yang sama dengan studio Reverse yang legendaris itu. Sebelum scene independen berkembang luas seperti sekarang, Reverse salah satu tempat yang memulai gerakan itu.

Khemod kangen dengan dua anjingnya. Boy dan saya lupa lagi namanya. Dua-duanya jantan. Konon, si jantan yang satu lagi, suka horny, dan menggesek-gesekkan kemaluannya pada si Boy. Tak cuma manusia ternyata yang orientasi seksnya bisa berubah ketika menghabiskan sebagian besar hidupnya di balik terali.

Jam satu.
Ardan 105,9 FM. Salah satu tempat di Bandung yang saya pikir memulai gerakan memasang papan penunjuk jalan dengan kata, “SLOW DOWN, ARDAN.” Yang sekarang banyak sekali ditemui di banyak tempat. Sedikit agak norak jadinya. Hehe.

Saskia pewawancaranya. Biasanya saya hanya membaca tulisannya soal aktivitas di Ardan, kini saya bisa melihatnya bekerja. Bahagia sekali Saskia menyambut Seringai. Sebahagia ketika dia berkata, telah membeli tiket dan bisa mendapat bandana Seringai.

Jam setengah tiga.
OZ 103,1 FM. Saya tak tahu nama dua penyiarnya. Yang jelas, di studio siaran, dipajang beberapa foto berukuran besar dari orang-orang yang pernah menjadi penyiar di sana; Coki Situmorang, Ringgo Agus Rahman, Sogi Extravaganza, dan tentu saja, menantu SBY, Annisa ah-kenapa-saya-sekarang-lupa-nama-belakangnya.

Jam lima.
Prambors yang saya lupa frekuensinya. Radio ini sedang berbenah. Mereka rencananya akan pindah dari gedung yang sekarang di Preanger Hotel ke gedung di Parisj Van Java. Penyiarnya, seorang rapper bernama Sindu dan seorang anak emo bernama Yas dari Alone at Last.

Jam enam usai sudah rangkaian wawancara radio itu. Begini enaknya kota kecil. Satu hari, bisa jalan ke lima radio. Dengan waktu yang sangat berdekatan antara satu radio dan radio lainnya.

***

Jumat [30/11], Asia Africa Convention Center [AACC]. Jam setengah delapan malam saya datang. Banyak orang berkerumun. Sebagian besar memakai kaos hitam. Saya kira, pertunjukkan belum dimulai. Ternyata, saya yang memilih untuk ngobrol di luar hingga jam delapan kurang, harus tertinggal penampilan The Bohays. Efek Rumah Kaca pun, hanya menikmati tiga lagu terakhir.

Tata cahayanya buruk sekali. Saya tak bisa mendapat gambar Efek Rumah Kaca dengan baik. Mungkin faktor operator. Padahal, lampu-lampunya sih sudah cukup untuk bisa memberikan penerangan yang baik. Kalau dibandingkan dengan launching di Jakarta beberapa bulan lalu, para pembuka acara diberi tata cahaya yang sama bagusnya dengan Seringai.

Crowd belum merapat. Sebagian besar duduk. Ruangan masih luas. Ketika Rajasinga naik, crowd mulai panas. Tapi, venue belum rapat. Rupanya masih banyak orang di luar. Mungkin mereka menunggu Seringai saja. Saya tak tahu banyak soal grind core, tapi Rajasinga bermain cukup intens. Enerjinya besar. Dan gimmick melumuri tangan dan wajah mereka dengan obat merah menurut saya cukup bagus. Menambah kesan sangar.

Jam setengah sembilan lebih sedikit, Seringai akhirnya tampil juga. Dalam sekejap, venue menjadi penuh, hingga ke area paling belakang sekalipun. Sayang, bahkan ketika Seringai tampil pun, operator tata cahaya tidak bekerja maksimal. Didin Bahe, eks fotografer Ripple mengeluhkan hal serupa. Lebih banyak memainkan warna merah. Dan senang sekali mengeluarkan asap dari smoke gun.

Tapi, crowdnya jauh lebih atraktif dibandingkan crowd di Viky Sianipar Music Centre. Lebih dinamis. Sebagai gambaran, ketika launching di Jakarta, saya masih bisa memotret dengan tenang dari depan panggung. Di AACC, sudah tak mungkin. Karena mulut panggung sudah menjadi mosh pit yang padat oleh crowd yang menggila. Dari awal hingga akhir, mereka bernyanyi. Mungkin karena albumnya sudah beredar lebih dulu.

“Terima kasih buat kalian yang sudah membeli album kami. Membeli bajakannya, ataupun men-down load lagu kami dari internet. Kami tidak menolak file sharing,” kata Arian.

Seperti di launching sebelumnya, di tengah-tengah lagu “Alkohol,” ada adegan beer bong. Arian memanggil kawan lama yang ada di depan panggung, Toro, salah seorang tokoh punk Bandung. Toro tak kuat menahan aliran bir yang melaju kencang ke tenggorokannya melalui selang yang memang berukuran cukup besar itu. Tapi, malah seorang perempuan yang bisa menghabiskan bir itu.

Panggung di AACC lebih luas dibandingkan panggung di Viky Sianipar Music Center. Dan fotografer yang hadir lebih tertib. Mereka hanya berkumpul di sudut kanan dan kiri panggung. Sebagian memang ada yang tetap mengambil dari bawah panggung. Tapi, panggung tak dipadati oleh fotografer, ataupun orang-orang.

Pertunjukkan berakhir jam sepuluh malam. Lagu “Neraka Jahanam” yang dijadikan encore disambut meriah oleh crowd. Lagi-lagi, mereka ikut bernyanyi di lagu ini. Sepertinya sebagian besar yang datang tahu lagu itu.

“Bebaskan Ahmad Albar!” kata Arian sebelum lagu itu dimulai.

Beberapa orang dari crowd naik ke atas panggung ketika pertunjukkan benar-benar berakhir. Sebagian meminta drum stick Khemod. Meminta pick gitar Ricky. Sebagian di antara mereka, malah ada yang memeluk Arian dan Ricky.

Laporan Seorang Cheap Bastard dari Terusik Traxkustik

Minggu [25/11] kemarin, di Hard Rock Café, Trax FM menggelar kembali Terusik Traxkustik, yang kali ini mereka beri judul Electrorock.

Saya datang, agak telat, jam setengah delapan malam. Efek Rumah Kaca sudah bermain sekira tiga lagu. Dan seperti biasa, cheap bastard tak tahu diri ini, meminta gratisan pada Sandra. Karina, yang bertanggungjawab pada guest list ketika menyambut saya di pintu, lantas meminta saya untuk meliput.

“Iya, tapi buat Multipy ya,” kata saya.

Karina tersenyum tanda setuju. Dan saya masuk dengan lega. Hahaha.

Di dalam, ternyata sudah banyak orang. Tak tahu berapa jumlahnya. Tapi, lantai bawah cukup penuh. Walau tak sesak. Ketika saya tiba di sana, saya baru pulang dari Sawangan. Mengantar Attan, yang sore harinya, mendadak meminta saya untuk menemani melihat rumah yang ingin dibelinya. Tapi, dia malah meminta saya untuk menyetiri motornya. Tanpa jaket, dari Fatmawati ke Sawangan, akhirnya saya menyetir motor. Setang motornya, diganti dengan setang jepit. Ini membuat pengendara lebih lelah. Apalagi saya tak memakai jaket.

Ah, melantur. Intinya begini, karena kejadian itu, enerji cukup terkuras. Datang ke Hard Rock terburu-buru. Akibatnya, mood terganggu. Tak sempat berpikir banyak ketika datang ke sana. Biasanya, kalau saya datang ke satu acara, dan berpikir untuk menuliskan acara itu, begitu datang ke lokasi, saya sudah tahu harus menulis apa. Saya memutar otak untuk menceritakan apa yang saya lihat.

Kemarin, tidak begitu.

Jadi, hasilnya begini. Kalau diteliti lebih lanjut lagi tulisan ini, kamu akan tahu kalau saya sebenarnya memaksakan diri untuk memasukan tulisan. Hehe. Oya, kali ini, saya iseng mencoba lensa 28 – 105 mm yang ada di kamar. Lensa ini, punya adek saya. Jarang dipake. Tak enak, katanya. Serba tanggung. Wide tidak. Zoom juga kurang.

Ternyata benar.

Belum lagi, tata cahaya di Hard Rock Café yang tak pernah bagus. Hasilnya, ya seperti ini. Banyak gambar yang kurang terang. Maafkan.

Kembali ke acara, saya tak tahu berapa banyak Efek Rumah Kaca bermain malam itu. Yang jelas, setelah mereka, RNRM tampil. Lama mengatur peralatan di panggung, MC memanggil personel untuk ngobrol mengisi kekosongan. Ekky dan Nyanya yang maju.

“Jangkrik bos,” kata Ryo.

Crowd tak mengerti. Tak ada yang tertawa. Tak ada juga, yang ikut berteriak, “Kriiik. Kriiik. Jangkrik.” Padahal, Nyanya memang cukup jangkrik. Saya ingin teriak juga, tapi yang lain diam saja.

Beres RNRM, Netral tampil. Rupanya sebagian besar crowd, datang untuk Netral. Buktinya, begitu Netral naik ke panggung, crowd memadati mulut panggung. Meneriakkan judul-judul lagu Netral. Dan ketika musik dimainkan, mereka berjoget.

“Yah, dikacangin lagi deh. Dikacangin lagi deh,” kata seorang anak.

Bagus tersenyum mendengar anak itu. Tak berapa lama, Bagus melempar pop corn ke arah crowd. Si anak yang tadi berteriak soal dikacangin, kegirangan. “Tuh kan, dikacangin,” katanya. Bagus tersenyum lagi.

Saya tak mengerti maksud mereka. Mungkin joke internal antara Netral dan penggemarnya. Atau mungkin ada joke baru ibukota, yang belum saya tahu.

Jam sepuluh, saya pulang. Menebeng Ronal dari Extravaganza. Saya lebih mengenalnya sebagai Mbe, karena begitu dia dipanggil waktu di kampus. Tapi kini, Ronal punya alter ego baru, Ronal Disko. Dia sedang memersiapkan album perdananya. Musiknya, sangat terpengaruh new wave, katanya. Mixing albumnya, dikerjakan oleh Indra Lesmana. Ronal Disko mengatakan masih mencari label.

Di perjalanan, Ronal mengajak karaoke. Akhirnya, saya ikut. Manajer dia, Luthfi adalah vokalis Purpose. Ternyata suaranya memang bagus. Biasanya, saya karaokean dengan para penyanyi yang pas-pasan. Tapi, malam itu, para penyanyinya malah bernyanyi dengan benar. Haha. Hanya saya yang suaranya pas-pasan.

Ah sudahlah. Semakin tak menarik dan tak jelas arah tulisannya.