Rock Telah Memilih Kami!

atau
Pesta Para Serigala yang Penuh Keringat dan Kopi Darat Penghuni Multiply.

Judul itu, merupakan penggalan kalimat yang selalu diucapkan Arian ketika diwawancarai jurnalis. Saya kurang yakin, apakah kalimatnya tepat seperti itu. Yah, kalau salah, Arian kan bisa mengoreksi di bawah tulisan ini, melalui reply. Hehe.

Yang jelas, waktu konferensi pers Sabtu [8/9] sore kemarin di Viky Sianipar Music Center dalam rangka launching album “Serigala Militia” pun, dia mengucapkan kalimat itu lagi.

Tak banyak jurnalis yang datang. Entah karena hari Sabtu. Entah karena yang diundang memang tak banyak. Entah karena nama Seringai belum menarik buat sebagian besar jurnalis. Dengan begitu, yang bertanya pun tak banyak. Seingat saya, hanya tiga orang; Joko Rileks.Com, Andre Stroo Audio Pro, dan seorang jurnalis perempuan yang bertanya soal bagaimana rupa para pacar Seringai.

Sebagai sebuah tempat pertunjukkan musik, Viky Sianipar Music Center cukup representatif. Punya ruang tunggu yang luas. Kamar mandi yang cukup bersih. Mushola yang mudah dijangkau. Dekat dengan warung makan. Walaupun kekurangannya mungkin, parkir mobil yang tak begitu luas.

Kalau soal lokasi geografis, jauh dekat itu relatif. Tapi, dia mudah dicari. Ada di pinggir jalan. Bahkan, ada papan penunjuknya pula, kalau kamu datang dari arah Pancoran. Dia dekat dengan Terminal Bis Manggarai. Dan kalau dulu sih, dekat dengan klinik permak wajah Haji Jeje.

Sejak jam enam sore, orang-orang sudah berdatangan. Walaupun baru lewat jam delapan malam acara benar-benar dimulai. Seperti biasa, lelaki mendominasi jumlah pengunjung. Tapi, kemarin, cukup banyak juga perempuan wangi dan menarik yang datang.

“Sex, drugs and rock n’ roll itu cuma mitos buat Seringai. Karena biasanya, di backstage kami, malah ada cowok mabuk telanjang dada, berkeringat, meminta stiker,” kata Arian.

Saya bertemu dengan beberapa penghuni multiply juga. Riki Gede yang pertama menyapa saya. “Soleh Solihun ya? Gue Riki Gede,” katanya membuka pembicaraan.

Dan Riki memang gede. Walaupun di headshot, dia terlihat seperti pemuda kaku, tipe pegawai kantoran yang sehari-hari memakai kemeja dan celana bahan buat kerja, tapi ketika bertemu langsung, kesan itu hilang. Riki jauh lebih muda dari yang saya bayangkan. Dan tidak seserius yang saya kira. Maklum, imej hukum yang melekat di dirinya, membuat kesan saya akan rikigede.multiply.com cukup serius. Hehe.

Itu kali pertama saya bertemu langsung dengannya.

Selain Riki, saya juga bertemu dengan Dhendy, gitaris handal pemilik dhendy.multiply.com secara langsung. Saya kira, Dhendy tipe laki-laki berkulit putih yang gerak-geriknya berwibawa atau kalem lah minimal. Ini gara-gara lagu “This Be Over” dia sebenarnya. Ternyata, Dhendy tipikal lelaki rock fans juga. Haha.

Kalau yang lain sih, saya sudah pernah bertemu dan kenal cukup lama; Ryan Koesuma, Dedidude [sang fotografer senior di multiply :p], Reza si pelacurkorporat, Dita Santa Monica, dan teman-teman Tetta seperti Alin dan Tya.

Nah, sekarang ke pertunjukkannya.

The Authentics menjadi band pembuka. Vokalis mereka, Dawny adalah Road Manager Seringai. Dulu, dia lebih dikenal publik sebagai vokalis Jun Fan Gung Foo. Kalau mau tau lebih jelas, deskripsi musik mereka, silakan lihat posting-an saya soal event ini. Lalu ada Ghaust, Dead Vertical, dan Adrian Adioetomo.

Riann Pelor, jadi MC dadakan. Saya kurang tau, seharusnya siapa MC malam itu. Seperti biasa, Pelor banyak bicara. Entah berapa kata “ngentot” diucapkannya malam itu. Tapi, karena Pelor, pergantian antar kelompok musik jadi meriah.

Pelor tak menyaksikan seluruh pertunjukkan Seringai malam. Baru sekira dua lagu, Pelor terduduk di sebelah amplifier. Dia tertidur. Tak sadarkan diri. Sampai tulisan ini dibuat, saya tak tau bagaimana akhir dari kisah Pelor malam itu.

Lantai dua Viky Sianipar Music Center yang dijadikan tempat pertunjukkan, terisi cukup penuh. Setidaknya, sampai belakang, masih banyak orang. Saya tak tau berapa jumlah penonton malam itu. Tidak terlalu padat memang. Saya masih bisa berjalan dengan mudah di antara kerumunan orang. Dan ini enak. Karena ruangan jadi tak terlalu panas, membuat mudah bernafas, tapi tidak terlalu sepi juga.

Di tengah-tengah lagu “Alkohol,” Arian membawa selang dan corong yang biasa digunakan untuk minyak tanah. Membagikan bir kepada penonton. Seorang lelaki naik panggung. Dan fifi pemilik fififurfairy.multiply.com jadi relawan perempuan.

Saya tak tau mereka berteriak apa.

“Choke! Choke! Choke! Choke!”

Telinga saya sih mendengarnya begitu. Silakan koreksi untuk kata yang lebih tepat. Tapi, sepertinya sebagian besar dari mereka tau benar apa yang diteriakkannya. Di momen itu, saya jadi bertanya-tanya. Mungkin karena saya tidak minum bir, saya tak tau istilah itu. Atau, mungkin itu pernah populer oleh film dengan tema minum bir.

Jam sebelas lewat [entah lewat berapa, pokoknya lewat lah], pertunjukkan berakhir. Dan serigala-serigala itu, pulang ke kandangnya masing-masing. Haha. Anjis. Jelek banget kalimat penutupnya.

Yah sudahlah.

SERINGAI ‘Serigala Militia’ album launching party!

Start:      Sep 8, ’07 7:00p
End:      Sep 8, ’07 10:00p

Halo semuanya.

Just a quick reminder, tanggal 8 September ini SERINGAI akan launch album terbaru, ‘Serigala Militia’. Detail acara ada dibawah message ini. Ada 4 supporting act yang menarik dan keren, jadi sebisa mungkin datang dari awal acara, jam 7 malam. Dan, 100 orang pembeli tiket pertama akan mendapatkan skull bandana, jadi sebaiknya jangan sampai terlambat. Kalau tertarik, bawa uang ekstra karena kami akan menjual beberapa merchandise terbatas untuk event ini di venue. Sekarang, mari kita simak beberapa deskripsi tentang para pengisi acara:

THE AUTHENTICS
Band ska/soul/rocksteady yang sudah akrab di Jakarta. Mereka sedang menyiapkan album untuk rilis tahun depan. Dikomando oleh Dawny, road manager Seringai, dan Danny dari band metalcore StraightOut, band ini ter-influence musik dari Skatalites, The Slackers sampai ke Robert Johnson, John Lee Hooker. Blues-rooted, yet ska-rooted too. In the end, you have to know your roots, right?

www.myspace.com/wearetheauthentics

GHAUST
Instrumental metal, dan sedikit sludgy. 2-piece band yang menarik dan berat. Demo lagu-lagunya dapat diunduh di profile myspace mereka. Berawal untuk memiliki vokalis, namun sampai mereka merekam beberapa demo mereka, akhirnya diputuskan untuk menjadi sebuah band instrumental saja. Ghaust sendiri sedang mempersiapkan album perdana mereka, ‘Defeating Earth’s Gravity’. Heavy shit.

www.myspace.com/soundofghaust

DEAD VERTICAL
Grindcore’s most promising act. Bermain tight dan straight in your face, Dead Vertical menghajar tanpa kompromi. Mereka baru saja membuka konser Napalm Death minggu lalu, dan sebuah kehormatan bagi kami mereka mau bermain dalam album launch party Seringai. Mereka sedang menyiapkan sebuah album perdana dengan label rekaman metal, Rottrevore Records.

www.myspace.com/verticaldead

ADRIAN ADIOETOMO
Bisa jadi Adrian adalah satu-satunya musisi delta blues di Indonesia. Mengingatkan kepada era musik blues baru berkembang, gitaris solo ini belum lama merilis sebuah album, ‘Delta Indonesia’ dibawah label My Seeds Records. Chris Whitley, Howlin’ Wolf, 50’s Muddy Waters, menjadi influence musisi ini. And guess what? There are things more to come from Adrian Adioetomo!

dan tentunya,

SERINGAI
Setelah merilis mini album ‘High Octane Rock’ 3 tahun silam, Seringai kembali dengan album baru, ‘Serigala Militia’. Berisi 11 lagu, sepertinya Seringai membuktikan bahwa Indonesia memiliki musik rock yang intens dan live up to their name, bukan sekedar sebuah album ‘rock’ yang ternyata kebanyakan berisi lagu-lagu yang kompromis dengan the so-called selera pasar. Singlenya, “Citra Natural” sudah diputar oleh radio-radio dan videonya belum lama diputar di MTV. Energi tinggi dan intensitas maksimum, adalah ciri khas band rock ini, dan tentunya selalu dapat kalian buktikan saat menyaksikan mereka secara live. Mengembalikan kembali the heydays of rock music terutama secara lokal. Mari mengembalikan musik rock kepada kaidahnya. Hahaha.

www.myspace.com/highoctanerock

So, we hope to see you here and have good fun together!

HighOctane Production & Universal Music Indonesia Present

SERINGAI
‘Serigala Militia’
Album Release Party

Saturday, 8 September 2007
Viky Sianipar Music Center
Jln Minangkabau Timur No 43,

Manggarai, Jakarta Selatan
Phone 021-8297777

From 7.00 PM – 10.00 PM

Cool other acts rocking the stage: ADRIAN ADIOETOMO, DEAD VERTICAL, GHAUST, THE AUTHENTICS

The first 100 ticket buyers at venue will get one cool Seringai ‘skull bandana’ for free! Seringai’s Serigala Militia CDs and shitload of merchandise will also be made available, so prepare extra cash folks.

We will see you wolves at the pit!

This rock event is supported by: Trax FM, Rolling Stone Magazine, Massive Music, Sonora FM, Otomotion FM, EAT, Migraph, Ripple Magazine, Mosh! Magazine.

Please spread, thank you.

DAN PAKAILAH BANDANA KALIAN DI SANA! KARENA SAYA AKAN MENGUMPULKAN FOTO KALIAN PARA PEMAKAI BANDANA!

Hidup Hanyalah Satu Pengulangan ke Pengulangan Berikutnya

Hidup itu seperti cerita dalam jagoan-jagoan buatan Jepang.

Kamu tau kan, cerita-cerita macam Ultra Man, Ksatria Baja Hitam, Power Rangers dan sejenisnya. Coba perhatikan. Ceritanya sebenarnya sudah ada template-nya. Makanya, kalau kita saksikan dari satu episode ke episode lainnya, semuanya kurang lebih serupa.

Ada monster datang. Mengancam kota. Dalam beberapa cerita, monster yang tadinya kecil itu, terus nyaris bisa dikalahkan, tau-tau dibuat menjadi besar. Di akhir cerita, jagoan kita berhasil menghabisi monster. Dan sekali lagi, kota terselematkan dari bahaya. Dan tokoh-tokoh jahat kesal dibuatnya.

Hanya dialog, jenis monster, dan tempat perkelahian saja yang berbeda. Tapi, semuanya merupakan pengulangan dari episode sebelumnya.

Hidup juga begitu. Saya rasa, kita hanya menjalani template kehidupan yang telah dibuat Tuhan. Ini bisa jadi, mendukung teori reinkarnasi. Ada yang percaya kita pernah menjalani kehidupan sebelumnya. Saya agak percaya juga teori itu. Mungkin saja, di kehidupan lain, kita menjalani template yang berbeda dengan yang sekarang.

Hidup ini hanya pengulangan. Persoalan manusia dari dulu kan selalu sama. Contoh paling sederhana, kita perhatikan saja lirik lagu cinta. Dari jamannya The Beatles, hingga sekarang. Persoalannya selalu sama. Dan kalau dipikir-pikir, semua lagu tentang cinta, sudah pernah ditulis The Beatles dengan banyak sudut pandang.

Contoh paling sempit lagi, kampus. Persoalan mahasiswa menjelang tahun ajaran baru, selalu sama; ospek. Dekanat tidak setuju dengan konsep ospek. Ada kelompok tertentu yang menganggap ospek dekat dengan kekerasan. Dan blablabla persoalan lainnya yang selalu sama dari tahun ke tahun. Lagi, sebuah template.

Ah, jadi melantur. Kembali ke soal kehidupan.

Saya jadi teringat, omongan seseorang [saya lupa siapa, antara guru di sekolah, atau guru ngaji]. Entah itu teori dia. Entah memang benar ada ayat yang mendukung. Katanya, kehidupan di dunia yang sekarang kita jalani, adalah fase yang ke-10.000. Artinya, ada 9999 kehidupan sebelum kehidupan sekarang. Dan saya pernah baca, soal global warming yang katanya fase-nya belasan ribu tahun. Ini lagi-lagi mendukung teori template.

Mungkin sebentar lagi dunia kiamat. Bumi hancur. Alam semesta juga hancur. Lalu, dibuat kembali. Dan roh orang-orang yang tadinya sudah di alam baka, diambil lagi oleh Tuhan. Ditiupkan kembali ke dalam tubuh manusia-manusia di fase kehidupan berikutnya. Untuk menjalani peran yang berbeda.

Dan cerita berulang kembali. Hanya dengan para pemain yang berbeda. Tapi, skenario dan sutradaranya sama. Tidak terlalu sama memang, karena Tuhan memberi peran yang lain, dengan cerita yang lain. Tapi pada dasarnya, semua hanya pengulangan. Tapi sayangnya, manusia kadang melakukan kebodohan yang sama.

Atau mungkin, sebenarnya Tuhan sedang mencari format kehidupan yang sempurna. Dan kita hanya bahan percobaan Nya. Makanya, Dia mencoba memasangkan roh ini di karakter itu, lantas di kehidupan berikutnya dicoba dengan karakter yang lain dan cerita yang lain. Bayangkan. Ada berapa kombinasi pemain dan karakter yang harus dicoba untuk sampai pada tahap sempurna.

Ah, tambah bingung jadinya. Hidup oh hidup. Hahaha.

Kompromi Demi Nasi

“Album kami yang berikutnya, bakal kayak Ungu, Leh,” katanya pelan.

Yang mengeluarkan kalimat tadi, salah seorang personel dari kelompok musik. Majalah Trax sempat menulis beberapa kali soal mereka. Arian, yang merasa musik mereka bagus, seperti juga saya, waktu itu memberi porsi yang cukup banyak buat mereka. Kami ingin mendukung mereka. Yah, minimal membantu memromosikan album mereka.

Saya tak akan menyebut nama mereka. Sebenarnya, mengutip perkataannya tanpa ijin sudah tidak etis. Makanya, saya samarkan, biar sedikit mengurangi rasa bersalah. Tak akan pula menyebut genre musiknya. Karena sudah jarang kelompok musik yang memainkan musik seperti mereka, sekarang. Yang jelas, mereka bagus. Memang, komposisi musiknya, bukan tipikal yang bakal langsung hinggap di telinga. Butuh waktu. Dan memang, cenderung terlalu rumit, berat, serius. In a good way, sebenarnya.

Lirik mereka penuh perenungan. Kontemplatif. Si penulis lirik bercerita pada saya, kalau mereka tidak ingin lirik mereka tidak bermakna. Si penulis lirik mengagumi lirik-lirik Arian. Dia bilang, Arian bisa membuat lirik berbahasa Indonesia, dengan bagus. Saya juga melihat dia punya potensi menawarkan tema lagu yang berbeda untuk industri musik Indonesia.

Walaupun, agak terlalu berat sebenarnya. Biasanya, kelompok musik yang sudah mengeluarkan beberapa album, mengeluarkan lirik-lirik kontemplatif seperti itu. Dengan kata lain, seiring bertambahnya usia si penulis lirik. Tapi, mereka sudah melakukannya di album pertama.

Saya waktu itu, agak terkejut juga, ketika si label mau merilis album perdana mereka. Dan bersyukur, setidaknya, mereka dari label besar masih mau percaya pada kelompok musik seperti mereka. Yang tidak bernyanyi soal cinta-cintaan antara laki-laki dan perempuan. Yang tidak mendayu-dayu, khas Melayu. Yang saya tangkap, mereka tak ingin seperti banyak kelompok musik lain di Indonesia.

Setidaknya, sampai saya bertemu lagi dengan salah seorang dari mereka, kemarin.

Memang, sebelumnya, saya pernah dengar dari si penulis lirik, kalau si bos label ingin agar si penulis lirik menulis lirik cinta-cintaan. Jangan terlalu serius. Waktu itu, si penulis lirik hanya cengengesan ketika bercerita soal itu. Saya menangkap kesan, kalau dia masih tak setuju dengan ide itu. Atau, setidaknya, masih berpikir dua kali untuk melakukan itu.

“Anak-anak kan sekarang udah ada yang berkeluarga juga Leh. Yah, minimal, kami melakukan ini buat memertahankan band supaya jangan bubar aja,” kata si personel yang bertemu dengan saya kemarin.

Perasaan saya, campur aduk. Ada sedikit rasa iba. Ada juga perasaan, yah wajar lah namanya juga industri. Selama mereka senang, kenapa tidak? Tapi, ketika si personel itu mengeluarkan kata-kata itu, sambil tersenyum miris, saya menangkap kesan, kalau mereka sebenarnya agak terpaksa juga mengambil langkah itu.

“Sekarang, liriknya yah aku padamu aku padamu. Si penulis lirik juga banyak baca chicklit sekarang. Dan nada vokalnya sekarang melengking melulu,” laki-laki itu tertawa.

Saya tak tau, dia tertawa karena menganggap hal itu benar-benar bodoh. Atau karena tertawa dalam kesedihan. [Haha. Saya seperti yang berlebihan ya. Maafkan].

Mungkin ini tak akan terjadi kalau si label tidak menaruh beban yang begitu besar pada mereka. Mungkin ini tak akan terjadi kalau si label masih mau memercayakan mereka untuk membuat musik yang mereka keluarkan dari hati. Bukan musik yang dibuat karena terpaksa. Ke mana rasa percaya itu?

Atau, mungkin setelah mereka merilis album dengan “musik seperti Ungu” dan meledak, punya banyak uang, mereka tak jadi bubar, lantas menikmati membuat musik begitu, yah saya tak bisa berkata apa-apa lagi selain ikut berbahagia buat mereka.

Tapi, kalau saja, ternyata “musik seperti Ungu” yang mereka buat tak lebih baik dari musik di album terdahulu mereka, juga tak lebih baik dari musik Ungu, akibatnya tak laku dijual, hingga membuat mereka benar-benar bubar, wah disayangkan sekali ya.

Ini membuat saya bertanya-tanya. Berapa banyak kelompok musik yang dalam karirnya mengambil langkah seperti mereka? Saya sering dengar memang soal ini. Tapi, terus terang, ini kali pertama, seorang musisi berkata jujur soal itu kepada saya. Dan mendengar langsung, terasa lebih sedih dan terenyuh.

Kalau memang dari awal mereka ingin membuat musik yang seperti itu, cinta-cintaan dan laku dijual, saya mungkin tak akan sedih mendengar keputusan mereka untuk “membuat musik seperti Ungu.” Tapi ini, ya itu tadi. Saya masih ingat waktu pertama kali mewawancarai mereka. Penuh semangat. Sangat yakin pada musik yang mereka buat. Ingin menawarkan pilihan lain. Ingin jadi pusaka di industri musik Indonesia.

Ah, sialan. Saya lagi-lagi berlebihan. Apapun yang terjadi, saya doakan mereka mendapatkan yang mereka cari.

Karena Berharap Terlalu Tinggi pada Urban Fest, Saya Sedikit Kecewa.

Di benak saya, acara Jumat hingga Minggu lalu [24 – 26/8] yang digelar di Pantai Carnaval, pasti punya panggung yang besar, dengan tata cahaya dan tata suara yang megah. Tapi, yang ada sebaliknya. Semua serba seadanya. Saya tak melihat stand-stand yang ada di sana, memang. Tapi, dari segi pertunjukkan musik, fasilitas yang diberikan seperti seadanya.

Saya datang jam tujuh malam, hari pertama. Jumlah penonton tidak sebanyak yang saya harapkan juga. Untuk sebuah festival, saya rasa itu terasa sepi. Saya tak tau pasti jumlah penontonnya berapa. Tapi, dari depan panggung, saya tak melihat penonton begitu membludak.

Mungkin karena jauh. Mungkin karena hari kerja. Mungkin karena sebagian besar penampil, masih bisa ditonton lain waktu. Di pensi, di klub kecil lainnya, atau di banyak gigs lainnya. Mungkin karena hari Sabtu, RCTI mengadakan acara di Senayan dengan para penampil yang kurang lebih hampir serupa.

Tapi, saya senang. Kelompok media sebesar Kompas sudah percaya pada kelompok-kelompok musik yang masih bisa dibilang underrated. Yah, mudah-mudahan ini pertanda baik. Walaupun perhatian mereka belum sebesar yang saya harapkan. Ya itu tadi, bisa dilihat dari panggung yang seadanya.

Atau mungkin, karena budget-nya harus dialokasikan untuk tiga hari. Jadinya, harus benar-benar mengirit biaya.

Sebagian besar para penampil, adalah jebolan IKJ. Bisa dimaklumi, karena penggagas acara itu, adalah Rektor IKJ. Jumat malam, ada Club 80’s, The Hydrant, The Changcuters, Shaggy Dog, Netral, dan The Upstairs.

Ternyata, jokes Tria, vokalis Changcuters bisa juga diterima publik Jakarta. Ini sepertinya bisa sedikit menepis keraguan sebagian orang mengenai bisa tidaknya jokes Tria yang kedaerahan diterima di luar Bandung.

Beres manggung, anak-anak The Changcuters dan The Hydrant saling bertegur sapa. Katanya, mereka saling mengagumi. Dan malam itu, kali pertama mereka bisa akhirnya bertemu. Manajernya masing-masing sih, sudah pernah saling bertemu sebelumnya.

Waktu Shaggy Dog manggung, beberapa orang skinheads, ikut bernyanyi di depan panggung.

“Oi! Oi! Oi! Skinheads, get your heads up!” [kurang lebih begitu yang terdengar di telinga saya]

Dian, backing vokal The Upstairs terlihat makin menarik saja. Hehe. Menurut saya, penampilan Dian malam itu, seksi sekali. :p

Dan karena sudah agak basi kejadiannya, saya jadi tak tau harus menulis apa lagi. Ini juga pengantarnya masih kurang baik menurut saya sebenarnya, tapi saya sudah terlalu malas memikirkan harus menulis apa lagi.

Ah, sudahlah. Silakan nikmati foto-fotonya. Kamera yang saya pakai kali ini, Olympus E-500. Padahal, sempat gembira sebelumnya, karena saya pikir akan memakai Canon 20 D, dengan lensa yang lebih bagus. Eh, kameranya dipake fotografer kantor. Mau meminjam yang Canon 5 D, tapi kasian fotografer satu lagi, kalau harus menunggu saya pulang malam.

Saya pulang jam setengah dua belas malam dari sana, karena Sabtu paginya harus berangkat bersama rombongan Seringai.

Ah, terlalu banyak menulis jadinya. Maafkan.

Rock Show, Punk Srimulat, dan Wisata Misteri

Jalan-jalan atas biaya orang lain memang selalu menyenangkan. Sabtu hingga Selasa kemarin, saya jalan-jalan lagi bersama rombongan Seringai.

Hari 1 [25/8] : Solo

Bandara Adi Sumarno, adalah bandara terkecil yang pernah saya datangi. Bahkan Stasiun Gambir lebih luas dari itu. Ini pertama kali saya naik pesawat ke Solo. Entah karena factor jalur bandara yang pendek, faktor pilot atau faktor usia pesawat yang membuat pendaratan pesawat tidak mulus. Ah, saya benci terbang.

Ini kota pertama dari rangkaian mini tur Seringai dalam rangka promo album “Serigala Militia.” Begitu kami datang ke Solo, CD belum bisa dibawa, karena belum selesai dicetak. Sore hari, Alex, salah seorang kru dari manajemen datang membawa CD tersebut. Seringai main di acara Rock in Solo bersama Burger Kill dan band-band lokal lainnya. Ini kali kedua mereka main di acara Rock in Solo.

Saya baru kali ini, melihat rock show di velodrom [alias tempat balap sepeda]. Rasanya begitu juga dengan orang-orang Solo. Walaupun panggungnya biasa saja, apalagi pagar pembatasnya, tapi acara itu sepertinya cukup sukses kalau ukurannya jumlah penonton. Saya tak tau pasti, tapi dari atas panggung, velodrom itu terlihat penuh. Begitu juga dengan parkiran motor.

Seringai melakukan sesi wawancara di Solo Radio. “Kami sebenernya bukan siaran di jam ini, tapi karena Seringai yang mau dateng, kami diminta siaran. Soalnya, Seringai kan banyak orang media,” kata salah seorang dari penyiar itu.

Reputasi Seringai di radio daerah rupanya cukup mengerikan juga, sebagai narasumber. Ada salah satu radio [saya lupa nama radionya, dan di kota mana], yang tak mau didatangi Seringai, karena khawatir mereka mendominasi siaran, atau mungkin mengintimidasi.

Hari pertama sudah melelahkan. Baru tidur tiga jam, kami harus berangkat lagi. Jam enam pagi, kami meluncur ke Semarang.

Hari 2 [26/8]: Semarang

MOSH! Magazine yang mengundang Seringai. Ini majalah musik buatan anak-anak Semarang. Owner-nya, Suryo masih kuliah di Universitas Diponegoro. Pemiliknya dia bersama seorang teman. Tata letak majalah itu, terlihat sangat terpengaruh Ripple.

Venue-nya ada di kawasan kota lama Semarang. Kalau kamu tau sungai di area kota tua itu, nah venue-nya ada di salah satu bangunan di dekat sungai itu. Sepertinya itu juga merangkap sebagai studio untuk syuting. Kecil, tapi asik. Mengingatkan pada suasana Parc. Acara digelar dari tengah hari, hingga sebelum jam lima sore. Kata Suryo, setiap ada acara di sana, memang selalu berakhir sore hari. Ada hubungannya dengan preman-preman lokal. Saya lupa tepatnya karena apa.

Kalau di Solo, crowd-nya tidak banyak bergerak, hanya sebagian kecil saja [entah karena sudah terlalu lelah digeber Burger Kill, atau karena lapangan yang berdebu membuat orang-orang berpikir dua kali untuk loncat-loncat], di Semarang semua enerjik. Semua melompat. Semua bernyanyi. Saling tubruk. Tapi, tak ada yang emosi. Menyenangkan sekali. Rupanya mereka sudah tau benar seperti apa rock show.

Alex mencoba curi perhatian di sana. Dia yang ditugaskan menjual merchandise, begitu kami datang, malah terlihat di panggung. Nimbrung bersama dua MC perempuan yang garing, tapi jadi dimaafkan karena postur tubuhnya. Hehe. Di tengah-tengah lagu “Alkohol,” Alex menyemprotkan bir dari lantai atas. Dan dia pun lompat ke tengah crowd, dan melakukan crowd surfing. Untuk sesaat, perhatian crowd tertuju pada Alex. Satu lagi pemandangan crowd surfing yang menarik adalah ketika seorang remaja putri, tiba-tiba crowd surfing. Kami terpikat.

“Kriiik…Kriiik.”

Ingat film Warkop? Ada salah satu episode di mana mereka berkata ‘Jangkrik bos,” pada sang bos yang doyan perempuan. Nah, kode itu, juga kami pakai untuk saling memberi tahu kalau ada perempuan menarik terlihat. Semakin cantik perempuan itu, “Jangkrik” atau “Krik” akan semakin tegas. Atau, kalau sudah sangat cantik, maka [gunakan logat Perancis] Le Jean Crique akan dipakai.

Rombongan The Upstairs juga bermain di Semarang, sehari sebelumnya. Wenz mengabarkan kalau mereka mengunjungi Lawang Sewu dini hari itu. Kami jadi ikut penasaran. Apalagi kalau mengingat mereka berani datang ke sana, masa’ rombongan Seringai tak berani?

Masa’ Disko Doom kalah sama Disko Darurat?

Apalagi sebelum berangkat ke Lawang Sewu, kami baru tau kalau semua kru Seringai pernah merasakan sel. Ada yang pernah menusuk orang, serta ada yang pernah ditusuk. Alex [yang mengaku sebagai punk fashion karena harus dandan dulu setelah mandi], pernah masuk sel selama 12 hari karena pengeroyokan. Dia pernah menusuk orang, gara-gara dipalak. Jam tangan pemberian bapaknya dipalak orang, karena sakit hati, dia menusuk paha orang itu, lalu lari.

“Gue nggak berani nusuk dada, takut orangnya mati,” kata Alex.

Roni [teknisi gitar yang berwajah mirip Eross], Joni [teknisi bass], dan Pacung [teknisi drum], semuanya anak STM. Sebagai siswa STM tahun ’90-an mereka pernah terlibat tawuran dan pernah merasakan sel.

Joni, anak STM Karya Nugraha, pernah masuk ke dalam Metro Mini, membawa clurit, dan membabat anak-anak Boedoet yang ada di dalamnya. Joni juga pernah ditusuk dari belakang. Pacung anak STM Penerbangan. Roni, saya lupa. Yang jelas, Roni juga pernah diciduk aparat karena terlibat tawuran.

“I love my crew!” kata Khemod sambil tertawa ketika mendengar cerita mereka.

Makanya, masa’ berkelahi sering, tapi takut sama hantu? Dan berangkatlah kami ke Lawang Sewu. Rasanya cuma Arian dan Dawo yang tidak takut di sana. Kami sih, cukup terintimidasi. Begitu menyusuri bangunan yang sebenarnya indah secara arsitektur itu, kami berjalan dengan saling merapat. Mungkin kalau mau membentuk kekompakan kelompok, masuk tempat seperti Lawang Sewu bisa dicoba.

Percaya tidak percaya sebetulnya. Saya dan beberapa orang termasuk yang percaya kami melihat sesuatu. Sosok putih, seperti kain melayang-layang naik turun di ujung lorong. Arian yakin kalau itu hanya pantulan dari cahaya di luar.

Selain itu, saya tak melihat apa-apa. Padahal, kata anak MOSH! yang sebelumnya mengantar The Upstairs [minus Jimi, yang katanya takut dan memilih tinggal di hotel], mereka melihat banyak hal; kuntilanak, sosok yang ngesot, hingga genderuwo.

“Yang dateng setan juga, jadinya setannya nggak berani,” kata Dawo tertawa.

Pulang dari Lawang Sewu, kami menemukan dua punk rock terkapar di Wisma. Sebelumnya mereka mengocok perut kami karena kelakuannya. Begini jadinya kalau menggabungkan dua punk kocak dengan dua botol anggur.

“Gue nggak tau artinya punk apa. Ini juga gara-gara disuruh temen. Udah, elu jadi punk aja. Eh taunya nggak enak jadi punk. Ke mana-mana harus naek truk,” kata Munir sambil mabuk.

Mereka terkapar hingga pagi hari.

Hari 3 [27/8]: Jogja.

Di perjalanan menuju Jogja, salah satu mobil yang membawa alat-alat ditilang polisi, dengan alasan kelebihan beban. Dia meminta uang, tapi si panitia memilih tilang. Sampai di Jogja, rutinitasnya lagi-lagi serupa. Sound check, dan wawancara radio sebelum manggung. Baru tiga hari saja, sudah melelahkan. Saya tak bisa membayangkan bagaimana rasanya band yang tur 30 kota, dengan rutinitas yang begitu-begitu saja.

Liquid nama club tempat Seringai manggung malam itu. Belum pernah ada rock show digelar di sana. Kata Gufi, salah seorang panitia, acara malam itu merupakan presentasi panitia. Kalau mereka bisa mendatangkan 500 orang, mereka boleh mengadakan rock show lagi di sana.

Ternyata, 520 orang yang datang malam itu. Mas General Manager tersenyum puas.

Pulang dari Liquid, kami dibawa ke tempat makan. Kami menumpang mobil yang disupiri gitaris Southern Beach Terror, Bowo. Dia cukup absurd juga penampilan panggungnya. Banyak terkekeh seperti Beavis and Butthead. Di mobil, dia memutar lagu AC/DC.

Saya tak pernah mengira akan mengalami itu, tapi akhirnya terjadi juga.

Diiringi lagu-lagu dari AC/DC, kami mengangguk-anggukan kepala dan bernyanyi. Seperti adegan di film Wayne’s World atau film-film lain tentang dogol-dogol pecinta musik rock.

Tapi tetap saja, biarpun musiknya keras, adegan itu berlanjut dengan adegan makan gudeg.

Selasa siang, kami pulang. Jadwal pesawat Wings Air yang kami naiki rencananya 12.55. Begitu sampai di bandara, jadwal ditunda jadi 14.30. Kami mengunjungi Ambarukmo Plaza. Saya jadi teringat wawancara dengan Butet. Dia bilang, meskipun anak-anak Jogja maennya ke Ambarukmo Plaza, tetap saja, mereka makannya di angkringan.

Itu kunjungan pertama Gufi dan kawan-kawan.

“Ini jadi salah mesen minuman,” kata Gufi sambil tertawa ketika saya makan di food court.

14.10 sudah di bandara lagi. Ternyata, jadwal ditunda lagi menjadi 15.30.

16.00 pesawat belum juga tiba.

17.10 pesawat baru mendarat.

18.00 pesawat baru siap-siap take off.

19.00 ketika roda pesawat belum menyentuh landasan, HP salah seorang penumpang berbunyi.

Ah, rasanya pengen menampar bapak itu. Tapi karena terlalu lelah, bahkan tenaga untuk memarahinya pun malas saya keluarkan.

Tentang Pelawak, Narkoba dan Bagaimana Perkenalan Itu Terjadi

Satu lagi pelawak tertangkap karena kasus narkoba.

Seperti biasa, setiap selebritis terkena kasus kriminal, mereka selalu menutupi kepalanya. Adegannya selalu sama. Beberapa orang polisi mengerubungi si artis tersangka. Si artis tersangka memakai topi, sambil menutup kepalanya—seakan-akan trik ini bisa menutupi identitasnya, padahal namanya disebut dengan jelas dalam tayangan itu. Lalu, setelah itu, adegan beralih ke konferensi pers. Wajah si artis tersangka sedih. Air matanya bercucuran. Lantas, keluarlah kalimat-kalimat penyesalan.

Kalau ini adegan dalam film, mungkin si penulis naskah hanya meng-copy paste dari naskah lama, tinggal mengganti nama dan tempatnya saja.

Yang saya heran, mereka yang tertangkap itu, sepertinya tak pernah terlihat seperti pemakai sebelumnya. Setidaknya tidak di mata orang awam ya. Lihat saja, Doyok, Polo, Deri. Sekarang Gogon. Memang mereka bermata sayu, tapi saya kira itu karena kurang tidur. Hehe. Mungkin juga, tekanan ke diri mereka begitu berat—harus membuat orang tertawa—hingga akhirnya mereka membutuhkan bantuan kimiawi untuk tetap bisa lucu.

Coba kita bandingkan dengan Slank beberapa tahun lalu. Bertahun-tahun mereka tampil di televisi. Bahkan rasanya orang awam pun, akan curiga kalau mereka on drugs. Mata sayu. Bicara terbata-bata. Tapi, mereka tidak pernah tertangkap. Apakah polisi jaman dulu, belum tahu banyak soal narkoba? Saya rasa tidak. Kalau orang awam, mungkin ya. Saya pernah bertanya soal ini pada Kaka Slank, dia menjawab begini;

“Gue nggak dengar juga jaman ’93 dan ’94, memang sudah ada gerakan anti narkoba? Gue pernah bawa mushroom di tas. Masuk X Ray kan? Nggak apa-apa. Berarti nggak tahu kan. Pernah bawa sabu, nggak apa-apa. Baru-baru aja, Ivan lupa naruh cimeng sedikit, terus masuk X Ray. Petugasnya bilang, ‘ah nggak apa-apa kalau sedikit mah’. Memang baik hati juga petugas dari dulu. Kalau mau ditangkap sih, [ada] berapa gram di kantong.”

“Berarti dari dulu petugas memang simpatik ya pada Slank?” tanya saya lagi.
“Sepertinya begitu. Padahal kalau mau dicekal, langsung dapet sepuluh gram seorang mah.”

Dan rasanya, selama ini, yang terlihat di televisi, lebih banyak berita soal pelawak tertangkap karena kasus narkoba, ketimbang musisi. Mungkin benar apa yang dikatakan David Naif, soal pelawak. “Di Indonesia tuh justru yang superstar, pelawak. Dibandingin penyanyi, masih lebih kaya pelawak. Lihat aja pelawak, ada yang mobilnya Hummer.”

Dan lihatlah pelawak. Satu lagi tertangkap karena kasus narkoba. Bisa jadi, kisah hidup mereka lebih rock n’ roll ketimbang rock star manapun di Indonesia. Hehe. Atau, ini salah satu indikasi, kalau pelawak tidak bisa main rapi. Sudah jelas-jelas, banyak teman mereka yang sudah tertangkap. Eh, mereka tidak belajar juga. Yah, minimal, kalau belum bisa berhenti. Berhati-hati lah. 

Polo, di salah satu tayangan infotainment, kurang lebih bilang, kalau mereka hanya korban kemodern-an jaman. Kalau begini, jadi seperti kisah klise. Orang kampung, datang ke kota, mengenal narkoba, akhirnya tertangkap polisi. Saya tak bisa membayangkan. Dari mana para pelawak itu mengenal drugs? Siapa yang mengenalkannya ya? Kalau Bob Dylan yang mengenalkan mariyuana pada the Beatles, lantas siapa yang mengenalkan Polo, Doyok, dan Gogon pada narkoba ya?

Kalau difilmkan, bagaimana adegannya ya? Apakah akan jadi adegan yang kocak penuh tawa, atau adegan yang psikedelik, seperti adegan tercebur dalam toilet lalu berenang-renang seperti di Trainspotting? Karena momen itu, yang akan mengubah hidup para pelawak itu selamanya.

Walau agak samara-samar, saya jadi teringat sebuah adegan ketika seorang teman berkenalan dengan mariyuana untuk pertamakalinya. Dia melihat temannya melinting ganja. Lantas membakarnya di kamarnya. Dia belum pernah mencobanya.

“Emang itu bisa bikin tidur ya?” kata dia.
“Bisa. Mau coba?” kata temannya.

Lantas dihisapnya ganja itu.

“Ah, mana? Nggak ngaruh kok,” katanya sambil menghisap lagi.

Si pemberi ganja hanya cengengesan.

“Nggak ada pengaruhnya ah,” kata si teman sambil menghisap lagi. Kali ini, dia menghisap sambil tiduran.

Tak berapa lama, dia tertidur pulas.

I’m in Love With Her, and I Feel Fine

Besok 17 Agustus.

Berarti, saya sudah berpacaran selama dua tahun dengan Tetta Riyani Valentia. Tidak. Dia tidak lahir pada 14 Februari karena bernama belakang Valentia—seandainya ada yang berpikir begitu. Bahkan, kakaknya yang bernama belakang Valentina pun, tak lahir pada tanggal itu. Tapi, mereka berdua punya kebiasaan yang sama; menggosok-gosok hidungnya dengan telapak tangan, setiap kali gatal.

Seingat Tetta, kami bertemu pertama kali di suatu hari, ketika dia bersama temannya mewawancari Pemred Cosmo Girl! Waktu itu, saya masih kerja di majalah Trax. Saya ingat, bertemu junior di kampus, ketika keluar dari lift. Tapi, tak ingat wajah Tetta. Hehe. Lantas, saya bertemu lagi dengannya pada Java Jazz pertama. Tapi, waktu itu, belum meninggalkan kesan terlalu mendalam di benak. 

Hingga akhirnya, kami bertemu lagi di kampus. Waktu itu, saya diminta jadi pembicara di salah satu kelas. Tetta, yang waktu itu jadi panitia malam keakraban Himpunan Mahasiswa Jurnalistik Fikom Unpad, mendatangi saya untuk mengundang datang ke acara itu, sekaligus merekam pendapat saya soal acara itu, di kamera panitia.

“Manis juga,” pikir saya.

Selepas solat zuhur, tiba-tiba di luar mushola, ada Tetta dan Tia, seorang temannya yang meminta nomor kontak alumni Jurnalistik lainnya. Di situlah, momen itu terjadi. Saya melihat dia bersepatu Vans, tanpa memakai kaos kaki. Haha. Saya langsung jatuh cinta. Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi itu yang membuat saya jatuh cinta.

Dia memakai sepatu tanpa kaos kaki!

Entah kenapa, saya melihatnya sebagai sesuatu yang indah. Tidak. Saya bukan seorang shoe fetish. Saya hanya berpikir, berarti dia punya pribadi yang asik, cuek. Saya selalu menyukai sedikit sikap cuek dalam diri perempuan.

Saya tak ingin berpanjang lebar lagi, menceritakan bagaimana proses pendekatan itu. Yang jelas, Tuhan mendengar doa saya. Maklum, saya pernah sakit hati. Dan salah satu doa saya, adalah supaya bisa cepat sembuh dari sakit hati, dan menemukan perempuan yang bisa mengerti saya. Seakan-akan Tuhan menjawab doa saya, dengan mendatangkan dia ke musola, sehabis solat. Hehe.

Yang pasti, waktu saya meminta dia jadi pacar saya, tak seindah yang direncanakan. Karena kata-kata manis yang sebelumnya ada di kepala, langsung buyar, saking deg-degan dan gugupnya. Akhirnya, setelah ngalor ngidul beberapa menit, yang keluar hanyalah, “Mau jadi pacar gue nggak?”

Saya sempat mengira dia beragama Kristen. Karena waktu saya lihat profil Friendster-nya, saya baca kalau dia pernah bersekolah di SD Charitas. Untungnya salah satu posting dia di bulletin board menunjukkan kalau dia Islam. Ah, syukurlah. Bukan apa-apa. Saya tak mau mengejar perempuan yang berbeda agama. Takut repot. Kalau sudah jatuh cinta terlalu dalam, dan sama-sama tak bisa melanjutkan karena perbedaan agama, bagaimana?

Tetta anak bungsu dari empat bersaudara. Ayahnya Jawa. Ibunya Padang. Mungkin itu sebabnya, kulit Tetta hitam manis tipikal gadis Jawa, tapi raut wajahnya tipikal orang Padang. Dia memang lebih mirip ibunya. Tapi, dia tak suka sambal. Untuk yang satu itu, gen Padangnya tak terlalu kuat.

Tetta tak suka ospek. Berbeda dengan saya, yang sangat mendukung sekali ospek. Saya memilih untuk tak berdebat soal ini. Karena biasanya, saya tetap memegang teguh pendapat saya, bahkan sedikit memaksakan kehendak. Dan dia pun tetap tak suka dengan ospek. Agak sedikit keras kepala, mungkin. Sama seperti saya sebenarnya. Makanya, kadang-kadang kalau sudah urusan keras kepala, saya seperti sedang bercermin. Untung saja, ini tidak terjadi secara harfiah. Soalnya, saya tak mau punya pacar yang wajahnya mirip saya. Hihi.

Tetta suka sekali Ash. Kalau kamu lihat account Multiply dia, di sana ada foto Charlotte Hatherley. Saya juga suka Charlotte Hatherley soalnya. Dan banyak gitaris perempuan lainnya. Kalo untuk musisi lokal, Syaharani masuk di urutan pertama yang Tetta sukai. Yah, selera musik salah satu yang jadi pertimbangan saya waktu memutuskan untuk mendekati dia. Walaupun sampai saat ini dia tak bisa menyukai The Ramones atau The Rolling Stones—padahal sudah saya kasih album Forty Licks sebagai gambaran. Hehe—setidaknya, dia bisa menyukai The Beatles. Dan karena di salah satu bulletin board dia menuliskan The Smiths [atau Morrissey ya?], saya waktu itu semakin senang. Haha.

Tetta suka sekali bunga, khususnya Lily putih, dan mawar biru [yang sampai sekarang belum pernah saya lihat.] Saya tidak terlalu suka bunga. :p Ini yang sampai sekarang, masih canggung saya lakukan. Memberi dia bunga. Waktu saya memberikan dia bunga pun, caranya tak tepat. Malah bertanya dulu, “Sayang, mau bunga nggak? Aku beliin ya.”

Saya baru tau belakangan, kalau sebaiknya saya tak bertanya dulu.

Tetta suka sekali jamur. Saya tak suka. Pada dasarnya, saya memang kadang suka pilih-pilih soal makanan. Kami pernah bertengkar karena ini. Waktu makan malam di rumahnya, ada menu gulai nangka [atau apapun itu namanya]. Saya tak suka nangka. Konsep buah-buahan dimakan dengan nasi, tak masuk di benak saya. Jangankan dengan nasi, makan nangka manis saja, saya sudah tak suka lagi. Dulu memang pernah suka. Dia marah, karena saya tak mau mencobanya sedikit pun. Saya tetap tak mau. Sekali tak suka, tetap tak suka. Saya memang begitu. Untuk mencoba pun, saya tak mau. Sampai saat ini, makanan yang saya tak suka dan memutuskan untuk mencoba, baru kerang kecil.

Kami jarang bertengkar. Kalaupun itu terjadi, pertengkaran kami selalu karena hal-hal kecil. Atau, karena perkataan saya yang salah. Seperti beberapa hari lalu, dia bercerita soal satu hal. Saya, malah menimpalinya dengan nasihat-nasihat. Padahal dia hanya mau didengarkan. Kalau bertengkar, biasanya kami hanya saling manyun. Saling jutek saja. Itu pun tak berlangsung lama.

Tetta memang tak suka digurui, atau diatur-atur. Dalam beberapa hal, lagi-lagi ini mengingatkan pada saya. Mungkin karena saya begitu, dan cenderung suka mengatur-atur, Tuhan memberi saya ‘lawan’ yang seimbang.

Tetta pernah jadi perokok. Waktu pedekate, saya sempat kaget. Dulu, saya tak ingin punya pacar perokok. Karena saya tak merokok. Tapi, karena waktu itu hati saya keburu bicara, maka prinsip pun bisa dikalahkan. Sekarang, dia tak lagi merokok—sesekali sih katanya pernah, tapi di belakang saya. Ini semua berawal ketika suatu hari Tetta sakit. Sambil menggigil, dia berkata, “Sayang, aku mau berhenti ngerokok ah. Tolong jagain janji aku ya.”

Dia selalu malu kalau saya ejek soal kejadian itu. Dan menyangkal itu pernah terjadi. Dia juga selalu malu, kalau saya ejek soal masa lalu dia, yang pernah mengagumi atlet bulu tangkis, Taufik Hidayat. Dia juga tak suka, kalau saya olok-olok soal dulu pernah mengagumi Hanson. Mmmbop! Syupidap. Syupidap. Mmmbop! :p

Hubungan Tetta dan keluarganya hangat sekali—walaupun dia kadang menganggap ayahnya menyebalkan, karena banyak omong. Setiap ada anggota keluarganya yang berulang tahun, pasti saling memberi selamat. Merayakan bersama. Saya tak seperti itu. Bahkan, saya sering lupa ulang tahun orangtua saya. Adik saya berulang tahun pun, tak saya beri ucapan selamat. Bukannya saya tak sayang keluarga saya. Saya suka geli, dengan proses-proses seperti itu. Kalaupun ada peringatan ulang tahun, paling di rumah mengadakan pengajian, makan-makan. Tapi, tak ada satu pun yang memberi ucapan selamat. Yah, mungkin pola komunikasinya seperti itu. Makanya, beberapa hal yang tak dilakukan dengan keluarga, saya lakukan di keluarganya Tetta.

Tetta senang sekali berbicara. Walaupun dia sering menuduh saya bawel, sebenarnya dia senang sekali berbicara. Dia bisa berbicara tanpa henti selama beberapa menit lewat telepon menceritakan kegiatannya selama sehari. Ini obat yang ampuh kalau saya sedang rindu dia. 😀 Dia juga senang menceritakan semua kegiatannya pada keluarganya. Itu sebabnya, keluarganya tau siapa teman-teman dia, meskipun mereka belum pernah bertemu si teman-teman itu.

Tapi, yang paling penting, Tetta mau mengerti saya. Dia mengerti kadang pacarnya minim uang kalau sudah memasuki minggu ke-3. Dia mengerti betapa pacarnya seorang cheap bastard. Dia mengerti bahwa pacarnya lebih suka naik angkot atau metro mini, karena jauh lebih menghemat ketimbang naik taksi—kecuali malam hari tentunya. 

Dia mengerti, bahwa saya sayang padanya, dan saya butuh disayangi juga. :p Mengutip lirik lagu I Feel Fine dari The Beatles, “I’m so glad that she’s my little girl…”

Masih Banyak Wartawan Pemalu

Saya rasa, masih banyak wartawan yang malu bertanya di depan forum.

Coba kamu sekali-kali datang ke konferensi pers launching album, atau semua yang berhubungan dengan musik deh. Karena tulisan ini dibuat berdasarkan pengalaman saya di beberapa konferensi pers yang berhubungan dengan musik.

Setelah ada presentasi soal album, atau konser, atau apapun itu acara hari itu, biasanya ada forum tanya jawab. Tidak jarang, moderator kesulitan mencari wartawan yang ingin bertanya di forum. Walaupun di beberapa konferensi pers, ada juga yang ramai bertanya.

Tapi, biasanya, setelah sesi tanya jawab ditutup, mereka—dugaan saya kebanyakan kru infotainment, dengan kamera-kameranya—berkerumun kembali di tempat lain, yang tak jauh dari meja tempat konferensi pers digelar. Lah, perasaan waktu tadi dibuka sesi tanya jawab, tak banyak yang menunjukkan ketertarikan untuk bertanya, waktu diberi kesempatan?

Kenapa mereka lebih suka menunggu setelah beres sesi tanya jawab formal yang sengaja disediakan penyelenggara? Kalau alasannya eksklusivitas, saya bisa mengerti. Kalau memang, wawancara tersendiri setelah konferensi pers itu, dilakukan hanya oleh si media dan narasumbernya, saya bisa mengerti.

Yang selama ini terjadi, mereka mengadakan wawancara itu bersama-sama juga. Dengan banyak kamera menyorot. Dengan banyak recorder di meja. Dan kutipan dari si narasumber, untuk banyak orang juga [buat yang belum tau, kenapa tayangan infotainment sama saja, dari pagi hingga sore, ini alasannya. Karena mereka selalu senang bergerombol.] Hanya bedanya, jarak antara si pewawancara dengan narasumber sangat dekat. Tanpa moderator. Tanpa suara si wartawan terdengar jelas di forum. 

Makanya, saya mengambil kesimpulan sembarangan. Masih banyak wartawan yang malu bertanya, atau berbicara di depan forum.

Superglad dan Seringai, oleh Soleh Solihun

Lagi-lagi, foto Seringai.

Maaf, kalau jadinya membosankan buat kamu [bukan berarti saya menganggap foto-foto ini membosankan ya, jangan salah sangka. takutnya, ada yang menganggap foto-foto ini membosankan.:p].

Sebagai fotografer multiply yang berdedikasi, sudah seperti menjadi kewajiban buat saya untuk mempublikasikan setiap hasil ‘liputan’. :p Bukan karena kebetulan, tentu saja foto Seringai lagi-lagi masuk multiply ini. Soalnya, mereka satu-satunya kelompok musik yang sering mengajak saya ke konsernya.

Tapi tenang. Kali ini, saya masukan juga foto Superglad. Cuma, karena kamera yang saya pakai malam itu, belum di-charge baterenya sehabis dipinjam teman, saya harus mengirit jepretan. Maaf saja kalau akhirnya Superglad cuma mendapat porsi sedikit.

Ini dari acara Terusik Traxustik di Mezza9, Pondok Indah Mall 2, Minggu [12/8] malam kemarin. Temanya; Indie-pendence edition. Saya tak tahu ide siapa untuk memakai judul indie-pendence itu. Tapi, prasangka buruk saya, karena LA Lights, si sponsor senang sekali dengan kata “indie”. :p

Tak terlalu banyak orang yang datang malam itu. Setidaknya, kalau mau dibandingkan dengan Traxustik yang saya datangi sebelumnya; edisi Pure Saturday di Citos, beberapa bulan lalu. Mungkin karena berbarengan dengan konser Suffocation di Ancol. Mungkin juga karena lokasinya di Pondok Indah. Atau, mungkin karena para penampil malam itu, tak berhasil menarik minat banyak orang. Selain Seringai dan Superglad, ada The Miskins dan Dagger Stab.

Saya menyaksikan langsung ‘Arian Mini’ yang pernah dimuat di multiply Ricky Siahaan. Anak yang memakai topi dengan lidahnya dibuka ke atas, bandana merah di leher, berkacamata dan berkaos hitam. Juga beberapa Arian mini lainnya—ada yang selain memakai bandana merah di leher, bahkan juga bercelana pendek kargo dan bersepatu vans. Gejala-gejala itu rupanya sudah makin terlihat. Fans Seringai sepertinya sudah mulai menemukan gaya berpakaian khas mereka. Waktu yang akan menjawab; apakah mereka akan menjadi ‘the next modern darlings?’

Yah, kabar baiknya, mungkin kalau itu terjadi, Seringai akan mendapat pemasukan signifikan dari penjualan merchandise mereka.