Jalur Pantura

Jeffri, sahabat saya, menikah Sabtu [31/3] kemarin di Semarang.

Saya kenal dia sejak SMA. Lulus SMA, dia tinggal selama lima tahun di rumah saya, selama kuliah. Itu sebabnya keluarga kami dekat juga. Makanya, ketika kemarin dia menikah, saya dan keluarga pergi ke Semarang. Dan melewatkan undangan resepsi pernikahan Alvin dan Uwie.

Seperti biasa, setiap ada undangan pernikahan, orangtua selalu menyindir. Alhamdulillah, setahun setengah ini saya punya pacar. Jadi, sindiran mereka tidak terlalu berpengaruh buat saya. Apalagi karena Tetta masih kuliah. Saya masih bisa dengan tenang tidak memedulikan sindiran mereka.

Kami naik mobil melewati jalur pantura. Seingat saya, ini kali pertama saya melewati jalur itu. Dan benar apa kata orang, jalur itu dipenuhi truk. Di mana-mana ada truk. Mulai Jatinangor hingga Semarang, truk menghiasi pemandangan jalur pantura.

“Mereka yang menggerakkan roda perekonomian nih,” kata bapak saya.

Truk dan ocehan bapak saya mewarnai perjalanan selama kurang lebih sembilan jam itu. Maklum, bapak saya suka sekali bicara. Saya kadang suka malu kalau dia tidak henti-hentinya berbicara. Hehe. Alin yang pernah mendengarkan langsung kelincahan bapak saya bicara hanya bisa geleng-geleng kepala. 😀

Kembali ke truk. Mereka jalannya pelan. Dan kurang ajarnya, sering kali mereka ada di jalur kanan. Padahal, sepanjang jalan saya lihat papan bertuliskan truk dan bus di jalur kiri, jalur kanan hanya untuk mendahului. Ini membuat kendaraan lain terhambat. Apalagi kalau sudah ada dua truk berjalan pelan di dua jalur.

Walau begitu, agaknya saya harus memuji kesabaran sopir-sopir itu. Berjalan pelan, beratus-ratus kilometer, untuk entah berapa jam. Cuma, jarang sekali truk yang keren, dengan bak terbuat dari besi. Lebih banyak truk-truk bak terbuka. Di luar negeri, kehidupan sopir truk bisa jadi film, dan gaya mereka bisa jadi inspirasi untuk fashion. Nah, saya penasaran bagaimana jadinya kalau sopir-sopir truk lokal jadi inspirasi.

Di Semarang, kami berjalan-jalan sebentar ke kota tua. Irman, teman SMA saya yang sengaja datang ke Semarang, ikut bergabung di sini. Juga OO, teman SMA saya yang beristrikan orang Semarang.

Foto-foto kota tua di sini, hasil jepretan adek saya. Sedangkan foto-foto lainnya, saya ambil dari dalam mobil di sepanjang jalur pantura. Ketika saya tidak tertidur tentunya. Maklum, yang bergantian menjadi sopir adalah bapak dan adek saya.

Saya hanya duduk menikmati perjalanan. Hehe.

FPI Mengamuk Lagi

Baru tau tadi.

FPI menyerang massa Papernas [saya
kurang tau kependekan dari apa, males browsing :p], di Jalan Sudirman
siang tadi. Massa Papernas itu mau mendeklarasikan Partai mereka.
Katanya, FPI menyerang mereka dengan alasan partai baru itu mengandung
unsur PKI.

Ah bertambah kesal saja saya.
Prasangka buruk saya sih, mereka dibayar oleh pihak-pihak yang tidak
suka dengan aksi massa Papernas itu.

Tapi, benar atau tidak mereka
dibayar, tetap saja saya tidak suka dengan ulah mereka. Memakai peci,
baju koko, tapi menyerang orang. Ini kan membuat citra Islam jadi
buruk. Padahal, buat saya, pakaian yang biasa mereka gunakan itu,
identik dengan masjid, pengajian, solat, pokoknya segala sesuatu yang
baik lah.

Karena FPI, bayangan baik di kepala saya jadi rusak. Mau tidak mau,
saya kadang-kadang malah jadi kesal setiap melihat gerombolan orang
berpakaian putih-putih, dengan peci putih. Teringat FPI.

Dan lagi-lagi, polisi diam saja melihat mereka menyerang. Menurut
berita di detik sih,  faktor jumlah polisi yang kalah banyak jadi
alasan.

Foto-fotonya ada di detik.com. Coba aja cari. Dari tadi saya mau copy link-nya tidak juga berhasil.

Sedikit dari The S.I.G.I.T.

Lagi
pengen nulis di multiply. Tapi, bingung mau nulis apa. Akhirnya, cara
standar dan paling mudah, adalah memasukan salah satu pekerjaan saya di
majalah. Ini petikan obrolan saya dengan The S.I.G.I.T. beberapa bulan
lalu. Versi setelah dieditnya, dimuat untuk edisi Februari 2007, di
majalah tempat saya bekerja. Fotonya hasil jepretan Bayu Adhitya.

Pelafalan bahasa Inggris di album perdana terdengar lebih baik dibanding di ep. Kenapa?
Rekti: Mungkin pas di ep mah, nggak ada koreksi. Acil kan paling bener dibandingin yang lain bahasa Inggrisnya, waktu di ep mah, dia nggak ngoreksi.
Adit: Mungkin karena udah banyak manggung juga, jadinya lebih bagus.

Kadar keliaran kalian di sini terdengar sedikit berkurang ya. Jadi kurang slebor.
Rekti: Lebih mikir sih. Dan kalau ep mah, dibilang slebor ya slebor juga sih.
Farri:
Kami ngerasa lebih bener aja. Cuma, keliaran itu hilang. Dari segi
sound, cara memainkan alat. Waktu itu masih mencari jati diri. Sekarang
jadi hilang. [tertawa].
Acil: Dan masih belum bisa main alat [musik].
Rekti:
Sekarang juga, udah males, bosen ngandelin genjrang-genjreng, power
doang. Pengin lebih ada dinamika dalam lagu. Pake perasaan lah. Amarah
lah.

Memang marah sama siapa?
Rekti: Ya namanya juga remaja. Nggak ada sebabnya. [tertawa].

Di panggung juga jadi lebih tenang ya.
Rekti: Oh kalau di panggung waktu launching kemarin mah, tegang Leh! Direkam buat live recording, delapan belas lagu. Panjang kan.

Secara garis besar juga, kayaknya kalian jadi lebih tenang di panggung.
Adit: Soalnya, waktu itu tenggak terus!
Farri: Sekarang kan, alat-alatnya udah mahal, jadi harus lebih hati-hati.
Acil: Dulu juga hobi ngeloncatin bass drum. Sekarang lebih hati-hati.
Rekti:
Mungkin kalau dulu, lebih hajar bleh. Sekarang lebih menikmati lah.
Kalau dulu, mungkin karena masih awal-awal, tegang, mengatasinya dengan
minum-minum. Tapi setiap melihat rekaman yang dulu, pengin kelihatan
mainnya fun, nggak usah dipaksain sok garang.
Adit: Mungkin dulu ada
faktor ini juga, seneng akhirnya bisa manggung. Jadinya meledak-ledak.
Pas udah sering manggung, jadinya capek juga. [tertawa]. Nggak mungkin
kami meledak-ledak terus.
Farri: Kami ingin orang
menikmati musik kami. Kalau kami tonton rekaman dulu, gila kami maen
acak-acakan banget. Gitar fals juga, hajar bleh! Sekarang juga masih
fals, Cuma lebih jago nutupinnya. [tertawa].

Itu sebabnya, banyak yang bilang kalian tidak seliar dulu.
Rekti: Secara pribadi masing-masing, orangnya juga kalem.

Atau mungkin karena sekarang sudah tidak ada yang perlu dibuktikan?
Farri: Masih banyak yang perlu dibuktikan. Banyak banget. Cuma, kami sekarang lebih dewasa mensikapi hal tersebut! [tertawa].
Rekti:
Kalau dulu terlihat liar, ya memang lagi liar aja. Tiga tahun yang lalu
mungkin memang berbeda. Kami nggak pernah pura-pura jadi sok.
Fahri: Terus, materi lagu juga jadi lebih berat. Kalau kami ngaco, jelek aja out put-nya.
Adit: Emosi lagunya juga udah berbeda sih.

Kalau begitu, apa yang bikin lama album perdana ini rilis?
Farri: Pematangan materi, sama kami nyari uang buat rekaman.

Dan kalian seperti jarang keluar dari Bandung selama album perdana belum keluar. Seperti yang jago kandang
Rekti; Kami memang jago kandang, karena nggak diundang juga. [tertawa].
Adit: Mungkin juga sempat terbentur masalah manajemen yang berganti-ganti orang. Ada yang kerja, jadi untuk mengatur jadwal juga jadinya agak sulit.

Atau karena prioritasnya belum besar?
Rekti: Sama besar juga sih. Kami menjemput bola, tapi bolanya tidak ada.
Adit: Mungkin kami harus ada pembuktian dulu lah. Jadi jago kandang dulu.
Acil: Daripada kami misalnya kayak Tahta, tiba-tiba terkenal, dari Bandung katanya, tapi orang Bandung aja nggak tahu. Ini band dari Bandung gitu? [tertawa].
Farri: Kami nguatin di akar dulu.

Bukan berarti sempat kehilangan arah kan?
Adit: Mungkin biasa buat band-band kecil berusaha untuk melawan arus dari pergantian genre atau apapun.
Rekti: Dan emang nggak nyari-nyari label juga.

Pertimbangan memasukan kembali lagu-lagu dari ep?
Rekti: Kami menyadari bahwa banyak orang nggak dapet ep dan nggak pernah denger lagu dari ep.
Adit: Lagu yang diambil itu yang paling mewakili dan waktu itu kami masih nggak puas secara materi.

Lagu Live In New York, sepertinya bercerita soal bales dendam pada yang sudah menganggap remeh kalian.
Rekti: Maksudnya, bisa sampai ke New York dianggap sukses juga, masih ada satu masalah lagi.
Adit: Memang itu mah seperti mimpi untuk sukses lah. Misalnya kami sukses di New York, ternyata di sana banyak orang yang sukses.

Memang pernah dianggap remeh ya
Farri: Bukan secara band sih, tapi secara personal.
Rekti: Masih dianggap cacing cau di panggung-panggung. Maksudnya, diangap band gonjrang gonjreng doang.
Adit: Kami waktu itu bener-bener orang baru di permusikan, dan dianggap anak kemaren sore lah. Mungkin karena kultur di Indonesia ya, senioritas.
Rekti:
Kayak panitia acara suka memandang kami gimanaaa gitu. Saya juga udah
lupa, soalnya saya bukan pedendam. Pokoknya suka kelihatan kan pandangan orang yang menganggap remeh. Dari gaya ngomong lah. Seperti itu sih.

Ada teman saya yang bilang, ah The S.I.G.I.T. dulu indies sekarang rock n’ roll.
Rekti:
Kami nggak pernah bilang kami rock n’ roll. Walaupun kami suka rock
tahun ’70, kami nggak pernah secara terang-terangan mengatakan aliran
kami rock n’ roll. Mungkin yang ditulis media begitu, garage rock. Dan
dari dulu, kami mengaku suka Stone Roses dan yang lain. Bikin lagu
pelan pun, nggak malu-malu. Kami nggak ingin terpatok dengan satu
genre. Kami ingin eklektik.
Fahri: Musik kan tidak satu genre, sayang banget kalau di waktu produktif begini, terpatok di satu. Padahal banyak banget yang bisa dieksplor.
Adit: Jaman modern gini mah, nggak mungkin kami kaku.

Tapi nggak salah juga, kalau orang menyebut kalian rock n’ roll band
Rekti:
Nggak salah juga sih. Dan memang garis besarnya rock, tapi ada hasrat
untuk mengeksplor aliran apapun. Sama sekali nggak mau terpatok maenin
lagu yang begitu aja. Yang saya lihat mah, kadang-kadang di Bandung
aja. Jaman dulu mah punk borok lah. Kalau misalnya terpatok dengan
punk, yang wah dulunya kayak Sex Pistols terus sekarang nggak, silakan
aja. Namanya juga eksplor. Saya bisa bilang begini, karena yang kami
kagumi, banyak yang nggak peduli. Kayak The Clash aja. Album pertama
punk pisan, di album ke-tiga udah ada pop-nya. Itu salah satu fakta
bahwa pematokan genre itu bukan sesuatu yang bagus. Justru eksplor Paul
Simonon ke reggae dan Mick Jones ke lirik romantis, lebih kaya jadinya.
Sok kebayang kalau tiga album The Clash sama.
Fahri: Terus kayak Led
Zeppelin di album Physical Graffiti. Dia banyak banget campurannya.
Tetep benang merahnya rock, Cuma dia banyak memasukan unsur. Roots-nya
satu, tapi influence-nya banyak banget.

Dan pengaruh Led
Zeppelin buat kalian cukup besar ya. Bahkan NME menyebut musik kalian
gonzo zep rock. Bagaimana pendapat kalian soal ini?

Farri: Senang dan tai kucing! [tertawa]. Nggak ada follow up sama sekali.
Rekti: Senang tapi gelisah.

Memang apa yang kalian harapkan ketika waktu itu mengirimkan ep ke NME?
Farri: Maksimalnya sih, kami bisa main ke sana. Cuma, tidak ada satupun. Walaupun kata orang, itu udah gede banget. Nama bisa muncul tercetak di sana. Dan kami memang mengharapkan lebih. [tertawa].
Rekti: Atau, kalau nggak tampil fotonya, walaupun keciiil.

Kalian memanfaatkan MySpace dengan baik?
Rekti: Kalau kami mah paling membangun relasi, kan
udah dapet relasi si wartawan NME, dan dia ngebantu dengan mendengarkan
ke teman-temannya. Dan dari MySpace lumayan lah. Kepakenya buat di situ.
Farri: Kepake buat hubungan internasional.
Rekti:
Walaupun belum ada hubungan yang jelas. Kami sih nggak mau terlalu
maksa, emang MySpace jadi media komunikasi yang baik. Cuma, mengirim
message ke orang-orang yang nggak dikenal dan beriklan terlalu sering
juga, mengganggu si orang itu. Dan kami nggak mau seperti itu. Kami
lebih senang ada yang dateng, terus bilang, ‘Eh lagu kamu bagus. Minta
CD boleh nggak?’

Menurut visible idea of perfection kalian, seberapa sempurna album ini?
Rekti:
Sempurna tidak sempurna. Namanya juga visible idea of perfection.
Dengan menulis judul itu juga, udah mengambigukan si idea of perfection
itu. Album ini sih, tidak akan sempurna seratus persen. Tapi ini udah
maksimal.
Fahri: Nggak bilang sempurna sih, tapi lebih optimal.

Beri pendapat soal band di bawah ini
Teenage Death Star

Adit: Tukang menggagahi wanita. [tertawa].
Rekti: Dia maksimal dengan seadanya dia.
Acil: Endless aja.

Speaker 1st
Adit: Tujuh belas Agustusan [tertawa].
Acil: Speaker first, vocal last! [tertawa]
Farri: Kalau kata mereka bagus, itu bagus!
Rekti: Saya lebih suka kalau Bonni dan Benny yang nyanyi.

The Brandals
Adit: Jiwa yang liar.
Acil: Friends in the hood.
Farri: Teman.
Rekti: Punya signature sound. Kata saya, band Jakarta yang rock, mereka ngekor ke The Brandals.

Slank
Adit: Slebor.
Acil: Karuhun.
Rekti: Rejekinya bagus. Dia juga punya signature sound, tapi saya nggak mau ngikutin.
Farri: Sangat Slank.

The Changcuters
Adit: Beungeut! [muka].
Acil: Seragam.
Farri: Bebaskeun!
Rekti: Stereotype band heureuy, nggak serius.

the smiths, goodnight electric, dan dewa 19.

ini dari pre party karaoke the smiths, senin [5/3] malem kemaren di west pasific, jakarta. saya mengambil gambarnya pake kamera pocket olympus. maaf kalo hasilnya tidak terlalu bagus.

yang datang cukup banyak. tapi, tidak terlalu banyak hingga membuat ruangan sesak. walaupun terasa panas, mungkin karena ac yang tidak bekerja. tapi, kalau dipikir2 acara seperti ini pasti selalu panas. hehe.

ale jadi mc, menggantikan rian pelor.

ada beberapa orang mods yang hadir di sana. tapi, ada satu mod yang tampang dan potongan rambutnya mirip tamtama. haha. saya sempat mengira dia security yang memang penggemar the smiths. tapi, ternyata sepatunya doc mart. dan walaupun ruangan panas, dia setia memakai jaketnya. haha. mod tamtama yang konsisten dengan identitasnya.

setelah beberapa orang bernyanyi, batman memutar lagu-lagu the smiths dan morrisey. acara ditutup dengan oomleo berkaraoke. ketika lagu “pupus” dari dewa 19 versi karaoke oomleo diputar, batman dan bondi dari goodnight electric bernyanyi dengan penuh penghayatan.

goodnight electric meng-cover lagu dewa 19. ah, seandainya para penggemar goodnight itu ada di sana. haha. kalo saya bawa recorder mungkin akan saya rekam dan jadikan bootleg! 😀

jaque mate, dan sedikit foto lain dari java jazz

setelah repot mengurusi id, akhirnya saya bisa juga datang ke java jazz. bukan karena fanatik jazz sebenarnya. dan bukan semata-mata demi kepentingan liputan. saya tipe orang yang penasaran. kalau banyak orang bisa datang ke sana, saya selalu tidak ingin kalah. hehe. mumpung ada yang bisa gratisan, kenapa tidak?

saya tidak terlalu tahu musisi jazz mana saja yang bagus. dan dengan 15 panggung sebagai pilihan, tentu saja membuat saya pusing harus mendatangi mana saja.

hari pertama, bersama bayu yang memang fanatik jazz saya memang terbantu. minimal, dia bisa memberi info, siapa saja yang bagus, karyanya masih up to date, dan penting.

hari kedua, praktis hanya keliling-keliling. bertemu banyak teman yang jarang ditemui. dan tentu saja, ada pacar. :p

hari ketiga, baru bisa menikmati. karena baru benar-benar menonton. pertama; david benoit yang berkolaborasi dengan michael paulo [yang tampangnya mirip mas-mas dan dia sadar akan itu], dan magenta orchestra. lumayan ramah di telinga saya yang bukan fanatik jazz.

kedua, jaque mate. ini baru saya benar-benar suka. tiga bersaudara ini memainkan blues dengan penuh hati. saya selalu menikmati pertunjukkan mereka. [atau, mungkin karena baru tiga kali ya?]. sayang, musik karya mereka sendiri tidak terlalu istimewa, walau nyatanya mereka memainkan karya orang dengan penuh penjiwaan dan dengan atraksi panggung yang sangat menarik.

ketiga, jamie cullum. modal dia cuma dua; wajah seperti leonardo di caprio dan bakat musik. dia pintar membaca pasar. hasilnya, ribuan gadis di jhcc menjerit. yah, setidaknya begitu kesan yang kuping saya tangkap ketika ada di sana.

keempat, tortured soul. beat-beat danceable yang mampu membuat saya yang pemalu dan tak bisa berdansa ini menggoyangkan kaki, sedikit pinggul dan kepala. haha.

Sedikit Soal Global TV

Kemarin malam baru dari syuting Made In Indonesia.

Itu loh, salahsatu acara Global TV. Ada satu band dikritisi oleh panelis yang terdiri antara musisi dan pelawak. Saya, Arian dan Pecuy datang ke Studio Guet di Perdatam jam setengah sembilan malam. Katanya, syuting bakal dimulai jam sembilan.

The Changcuters jadi target, Seurieus bintang tamunya.

Ternyata, pas kami datang, anak-anak The Changcuters masih loading alat ke panggung. Padahal, katanya mereka disuruh datang jam dua siang. Dan Seurieus disuruh datang jam lima sore.

“Sekitar jam sepuluh lah,” kata salah seorang kru Global TV ketika saya tanya kapan syuting akan dimulai.

Tapi, lewat jam sepuluh, syuting belum juga dimulai. Saya tidak tahu mana saja tim produksi Global TV. Dan melihat itu, saya jadi membandingkannya dengan tim produksi Empat Mata. Bukan apa-apa, tiga kali saya datang ke syuting Empat Mata, mereka tidak pernah lewat dari jadwal. Memang tidak adil juga membandingkan syuting talk show dengan syuting di mana ada band yang tampil live. Dan memang tidak adil juga menilai kinerja dari satu kali syuting saja.

Tapi, pemandangan malam tadi, membuat saya berpikir betapa kru Global TV tidak menunjukkan citra baik dan profesionalisme atau apapun itu. Dan betapa seragam berpengaruh besar terhadap citra baik sebuah televisi.

Kalau Trans TV dan Trans7 perbandingannya, jelas terasa. Saya sebagai orang luar, bisa melihat dengan jelas siapa saja kru dari TV. Kemarin malam, tidak jelas perbedaan antara karyawan TV dengan mamang-mamang atau teteh-teteh yang kebetulan di sana. Kecuali kalau saya mau lebih jeli melihat ID yang tergantung di dada atau di celana mereka.

Belum lagi, saya mendapat kesan kalau pekerjaan mereka sangat lambat. Padahal, acara itu bukan acara baru. Harusnya mereka sudah tahu dong, bagaimana proses syuting berjalan. Saya tidak melihat kesigapan mereka. Mungkin saya salah, tapi saya melihat mereka bekerja dengan lamban. Dan ini buat saya mengurangi citra positif Global TV.

Lewat tengah malam, syuting baru dimulai. Oke, saya sering mendengar cerita kalau syuting sinetron juga sering molor [dan kamu tau bagaimana kualitas sinetron kita]. Saya kurang paham soal teknisnya, tapi menurut saya, acara yang molor sangat jauh dari jadwal adalah sesuatu yang kurang baik. Dan ini membuat saya berpikir, pantas saja acara itu tidak berkembang dari segi kreatif.

Kurang jelas apa mau mereka. Membuat acara yang mengkritisi band atau membuat tayangan humor dengan basis musik? Belum lagi, hal mendasar yang sering mengganggu saya. Show director, floor director atau apapun itu istilahnya, beberapa kali menyebut nama Seurieus dengan “Seurieus Band”. Ah, saya paling sebal kalau orang menambahkan kata Band di belakang nama band. Jelas-jelas, si band itu tidak memakai kata band di belakangnya. Kalau Ada Band boleh lah dipanggil begitu.

Host-nya sih menggiurkan, Happy Salma. :p Sayang, Happy kurang maksimal di acara itu. Belum lagi, host laki-laki yang terlalu metro seksual. Harusnya, acara begitu dipandu orang seperti Ryan Pellor. Hehe.

Sialan. Saya jadi bersikap seolah-olah paling tau soal produksi sebuah tayangan di televisi. Ya mungkin kebetulan kalau ada yang baca, dan kenal dengan petinggi Global TV, tolong bilang sama mereka untuk memerbaiki lagi lah kinerja kru mereka.

Pantas saja Global TV tidak punya produksi lokal unggulan.

Sedikit Soal Global TV

Kemarin malam baru dari syuting Made In Indonesia.

Itu loh, salahsatu acara Global TV. Ada satu band dikritisi oleh panelis yang
terdiri antara musisi dan pelawak. Saya, Arian dan Pecuy datang ke Studio Guet
di Perdatam jam setengah sembilan malam. Katanya, syuting bakal dimulai jam
sembilan.

The Changcuters jadi target, Seurieus bintang tamunya.

Ternyata, pas kami datang, anak-anak The Changcuters masih
loading alat ke panggung. Padahal, katanya mereka disuruh datang jam dua siang.
Dan Seurieus disuruh datang jam lima
sore.

“Sekitar jam sepuluh lah,” kata salah seorang kru Global TV
ketika saya tanya kapan syuting akan dimulai.

Tapi, lewat jam sepuluh, syuting belum juga dimulai. Saya tidak
tahu mana saja tim produksi Global TV. Dan melihat itu, saya jadi
membandingkannya dengan tim produksi Empat Mata. Bukan apa-apa, tiga kali saya
datang ke syuting Empat Mata, mereka tidak pernah lewat dari jadwal. Memang
tidak adil juga membandingkan syuting talk show dengan syuting di mana ada band
yang tampil live. Dan memang tidak adil juga menilai kinerja dari satu kali
syuting saja.

Tapi, pemandangan malam tadi, membuat saya berpikir betapa
kru Global TV tidak menunjukkan citra baik dan profesionalisme atau apapun itu.
Dan betapa seragam berpengaruh besar terhadap citra baik sebuah televisi.

Kalau Trans TV dan Trans7 perbandingannya, jelas terasa. Saya
sebagai orang luar, bisa melihat dengan jelas siapa saja kru dari TV. Kemarin malam,
tidak jelas perbedaan antara karyawan TV dengan mamang-mamang atau teteh-teteh
yang kebetulan di sana.
Kecuali kalau saya mau lebih jeli melihat ID yang tergantung di dada atau di
celana mereka.

Belum lagi, saya mendapat kesan kalau pekerjaan mereka
sangat lambat. Padahal, acara itu bukan acara baru. Harusnya mereka sudah tahu
dong, bagaimana proses syuting berjalan. Saya tidak melihat kesigapan mereka. Mungkin
saya salah, tapi saya melihat mereka bekerja dengan lamban. Dan ini buat saya
mengurangi citra positif Global TV.

Lewat tengah malam, syuting baru dimulai. Oke, saya sering
mendengar cerita kalau syuting sinetron juga sering molor [dan kamu tau
bagaimana kualitas sinetron kita]. Saya kurang paham soal teknisnya, tapi
menurut saya, acara yang molor sangat jauh dari jadwal adalah sesuatu yang
kurang baik. Dan ini membuat saya berpikir, pantas saja acara itu tidak
berkembang dari segi kreatif.

Kurang jelas apa mau mereka. Membuat acara yang mengkritisi
band atau membuat tayangan humor dengan basis musik? Belum lagi, hal mendasar
yang sering mengganggu saya. Show director, floor director atau apapun itu
istilahnya, beberapa kali menyebut nama Seurieus dengan “Seurieus Band”. Ah,
saya paling sebal kalau orang menambahkan kata Band di belakang nama band. Jelas-jelas,
si band itu tidak memakai kata band di belakangnya. Kalau Ada Band boleh lah
dipanggil begitu.

Host-nya sih menggiurkan, Happy Salma. :p Sayang, Happy
kurang maksimal di acara itu. Belum lagi, host laki-laki yang terlalu metro
seksual. Harusnya, acara begitu dipandu orang seperti Ryan Pellor. Hehe.

Sialan. Saya jadi bersikap seolah-olah paling tau soal
produksi sebuah tayangan di televisi. Ya mungkin kebetulan kalau ada yang baca,
dan kenal dengan petinggi Global TV, tolong bilang sama mereka untuk memerbaiki
lagi lah kinerja kru mereka.

Pantas saja Global TV tidak punya produksi lokal unggulan.

dari launching album lalights indiefest

sabtu [10/2] kemarin, album kompilasi lalights indiefest resmi dirilis. launchingnya digelar di dua tempat. cihampelas walk dan gedung aacc. saya ikut rombongan wartawan dari jakarta. atas undangan pr consultan, hotline. di dalam bis di perjalanan ke bandung, salah seorang pr menerangkan apa kegiatan kami hari itu.

“kita nanti akan belanja di distro ya. dan melihat bagaimana sebenarnya gaya indie itu,” begitu kira-kira kata si pr.

saya hanya tersenyum geli. apalagi mengingat di rundown, tertulis indieshoping.

“dan inilah salah satu dari finalis di kompilasi indiefest,” kata si pr lagi, berusaha menerangkan lagu yang diputar di bis, “ini dari hollywood nobody.”

padahal, yang sedang diputar sebenarnya lagu pepermint, insect dari 70’s orgasm club. bukan apa-apa, mendengar intro gitarnya, saya langsung teringat postingan si anto di multiply-nya waktu mereka tampil di sctv.

“mas, ini sih lagunya 70’s orgasm club,” kata saya.

si pr terdiam. membolak-balik dulu contekannya. tidak langsung mengoreksi. mungkin dia tidak yakin dengan apa yang saya katakan. setelah beberapa detik, baru dia koreksi.

rombongan wartawan tiba di hotel preanger setengah satu siang. langsung makan, setelah itu dibagi ke dalam kelompok yang terdiri antara wartawan dan finalis.

“nanti para finalis ini akan mendandani para wartawan ya. dan nanti kita pilih, siapa yang gaya indienya paling oke,” begitu kira-kira kata salah satu pr.

beres makan, mereka ke 18th park. semua dibekali voucher 300 ribu. saya tidak ikut rombongan. pulang ke rumah. mengambil kamera adik saya. dan langsung bertemu di ciwalk, untuk konferensi pers.

dan setelah beberapa kali datang ke launching album, ini yang paling membahagiakan buat saya. beres sesi tanya jawab, panitia membagikan hadiah buat para wartawan yang bisa menjawab pertanyaan.

pertanyaan pertama: sebutkan 12 finalis indiefest, tanpa lihat contekan. teman saya, carry nadeak dari gatra yang berhasil menjawab, setelah wartawan sebelumnya gagal.

pertanyaan kedua: sebutkan nama personel dari finalis yang ada di depan anda. minimal empat…eh, minimal dua saja deh. saya langsung menyambarnya! untung saja, di depan ada dj ant dan joseph, bassis vox.

“anto arief dan joseph sudiro!” teriak saya sambil menunjuk mereka!

aha. hore. gusti alloh maha adil. akhirnya, saya dapat juga! untung saja ada pertanyaan itu. saya yakin tidak ada dari mereka yang bisa menebaknya. hehe. soalnya, saya juga tidak tahu siapa saja nama finalis yang lain. cuma tahu dua orang itu.

pertanyaan ketiga: sebutkan tiga band yang sudah tampil. ini dijawab oleh adi marsiela, dari suara pembaruan. sebelumnya, dia meminta saya membantu menjawab pertanyaannya.

pertanyaan keempat: saya lupa. saya sudah tidak peduli lagi. terlalu bahagia. terlalu senang. mendapat hadiah ipod nano. walaupun saya sudah punya ipod video, tetap saja saya senang. karena bisa menghadiahi sebuah ipod nano buat pacar. hehe.

ah sudahlah. ini beberapa gambar hasil jepretan saya. tidak terlalu bagus kualitasnya. maklum, saya bukan fotografer.

Bertemu Tukul

Sebenarnya, sebelum Empat Mata ‘meledak’ seperti sekarang, rekan saya Alfred sudah mengusulkan Tukul untuk diwawancara. Tapi waktu itu, kami menolaknya. Ide itu terlalu menggelikan buat yang lain. Dan rasanya, sekarang waktu yang tepat kami mengangkat dia untuk rubrik wawancara. Seperti juga banyak media lain yang telah menulis Tukul.

Beberapa hari belakangan, saya dan Alfred sibuk mengejar dia. Ke studio Hanggar tempat syuting Empat Mata, ke lokasi banjir tempat Tukul mengadakan kunjungan, sampai ke rumahnya.

Ini sedikit foto dari kegiatan itu. Arian ikut bergabung di sesi wawancara terakhir di rumahnya di Cipete. Ini pertamakali saya mewawancarai pelawak. Arian sih sudah pernah mewawancari Tarzan yang katanya tak kalah absurd.

“wartawan sekarang malah pada minta foto bareng kalau wawancara. makanya, kamu minta foto bareng sekarang, nanti nyesel loh,” kata Tukul.

Yang jelas, mewawancarai Tukul membuat perut dan rahang sakit karena tertawa. Walaupun di tengah-tengah sesi, dia sempat agak marah karena pertanyaan saya dianggap terlalu mencecar, dan pertanyaan Arian dianggap terlalu negative thinking.

Tapi sangat menyenangkan. Mendengar Tukul meledek yang lain. Biasanya saya menyaksikan bintang tamu yang di-kick, ini malah teman sendiri.

“Kamu pasti anak orang kaya ya,” kata Tukul pada Arian.

“Amiin,” jawab Arian.

“Iya, soalnya tatonya rantang,” kata Tukul sambil menunjuk tato [huruf kanji ya?] di lengan Arian.