Dua Puluh Tujuh

Hari ini, saya genap berusia 27 tahun.



Alhamdulillah. Bisa juga
sampai di titik ini. Padahal, waktu masih kelas 6 SD lah, saya selalu
mengira tidak akan melebihi usia 18 tahun. Benar. Waktu itu, saya yakin
tidak akan diberi umur panjang. Tidak tau kenapa saya punya pikiran
seperti itu. Mungkin kematian seorang teman main di kompleks,
meninggalkan trauma mendalam buat saya.




Dulu, waktu masih kecil,
saya kira, 25 tahun saya sudah akan jadi bapak-bapak. Ternyata…Hehe.
Saya masih belum merasa tua. Dan tidak ingin merasa tua!




Saya
harus menulis momen ini. Supaya sepuluh tahun kemudian–kalau saya
masih ada, tentu saja–saya bisa ingat. Bahwa ketika usia saya genap 27
tahun, saya sedang bekerja di ibukota. Di taman bermain yang sempat
menghebohkan Indonesia. Hehe.




Dan saya ada di sekeliling
teman-teman yang menyenangkan. Serta tentu saja, pacar yang menyayangi
saya. Hehe. Ini sebenarnya yang paling membedakan ulang tahun sekarang
dengan terdahulu. Bah. Curhat lagi nih. Gawat.




Yah,
Alhamdulillah. Pacar saya datang ke kantor membawa kue dari Dapur
Cokelat. Jadi, teman-teman di kantor yang sejak siang menagih traktiran
bisa sedikit terobati. Hehe. Terima kasih, sayang!




Walaupun,
kurang ajar juga tuh Dapur Cokelat. Pacar saya memesan cokelat
bergambar lidah Rolling Stones di atas kuenya. Tapi, mereka malah
memberi gambar sekelompok lelaki gondrong ’70-an di padang rumput.
Entah siapa mereka. Yang jelas, mbak Dapur Cokelat mengira itu The
Stones. “Kami browsing di internet juga loh mbak,” ucap mbak Dapur
Cokelat bangga kepada pacar saya.




Tidak mengurangi kelezatan kuenya memang. Tapi, merusak gambaran kue yang diharapkan Tetta, pacar saya.



Oya,
kembali soal menulis momen. Bukan apa-apa. Saya nyaris tidak ingat,
sepuluh tahun lalu, ketika saya genap berusia 17 tahun, saya sedang di
mana. Yang jelas, saya tidak merayakannya dengan siapa pun. Itu yang
saya ingat. Bahkan, siapa saja teman SMA yang tau ulang tahun saya
waktu itu, saya tidak ingat.




Ah sudahlah. Ijinkan saya tutup tulisan ini dengan kutipan lagu “I Don’t Want to Grow Up” dari The Ramones.




I don’t wanna have to shout it out I don’t want my hair to fall out
I don’t wanna be filled with doubt I don’t wanna be a good boy scout
I don’t wanna have to learn to count I don’t wanna have the biggest amount
I don’t wanna grow up







I’d rather stay here in my room Nothin’ out there but sad and gloom

I don’t wanna live in a big old tomb on grand street

When I see the 5 o’clock news I don’t wanna grow up

Comb their hair and shine their shoes I don’t wanna grow up



Stay around in my old hometown I don’t wanna put no money down

I don’t wanna get a big old loan Work them fingers to the bone

I don’t wanna float on a broom Fall in love, get married then boom

How the hell did it get here so soon I don’t wanna grow up

Saya, The Upstairs dan Slank

Satu lagi konser The Upstairs saya datangi.

Entah konser ke berapa, konser mereka di Barbados Cafe, Kemang, Rabu [31/5] sore tadi. Yang jelas, suasananya selalu sama. Baik itu di Jakarta, maupun di Bandung. Anak muda dengan pakaian yang berwarna cerah. Celana ketat, kaos band atau kaos motif garis-garis. Keriting jambul. Rambut poni kuda buat perempuannya.

Remaja-remaja putrinya memang sedap dipandang mata. Hehe.

Karakter kelompok musik itu sudah kuat terbentuk. Dan pengaruh mereka bisa terlihat dari pakaian anak-anak muda yang datang ke setiap konser The Upstairs. Anak-anak itu berdandan seperti idola mereka. Jangan heran kalau datang ke konser The Upstairs kamu menemukan anak dengan penampilan mirip vokalis Jimi Multhazam.

Ini mengingatkan saya waktu remaja dulu. Datang ke banyak konser Slank dan Iwan Fals. Dengan celana jins robek-robek, kaos lusuh, rambut gondrong. Semakin lusuh, rasanya semakin pas kostumnya. Tentu saja itu dulu. Sekarang, Slank sudah tidak lusuh lagi. Dan penonton konser Slank sudah tidak didominasi anak-anak lusuh.

Makanya, melihat Modern Darlings–sebutan untuk penggemar The Upstairs–di konser-konser The Upstairs, sedikit mengingatkan Slankers pada jaman Slank baru muncul. Modern Darlings itu sepertinya punya potensi untuk jadi sekuat Slankers. Atau, sekuat Oi–sebutan untuk penggemar Iwan Fals.

Oke, di konser The Brandals pun memang banyak crowd fanatik mereka–Brigade Rock n’ Roll kalau saya tidak salah. Atau, adanya Speaker People–sebutan untuk penggemar Speaker 1st–di Bandung. Tapi, ada kesamaan antara Slankers dan Modern Darlings.

Di konser launching album kedua The Upstairs tadi, manajemen dibantu anak-anak muda yang disebut sebagai The Upstairs Street Team. Mereka jadi penerima tamu. Penjaga pintu masuk. Penjual merchandise.

Setelah Slankers dan Oi, rasanya giliran Modern Darlings unjuk gigi.

Oke, sekarang konsernya. The Upstairs main selama kurang lebih 1 jam 45 menit. Membawakan lagu-lagu dari album “Matraman” dan “Energy”. Warner Music Indonesia rupanya berbahagia melihat antusiasme crowd yang begitu besar. Setidaknya, salah satu dari mereka wajahnya sangat senang.

Bagaimana tidak? Selama konser, crowd ikut menyanyikan semua lagu yang dibawakan The Upstairs. Catat itu. Semua! Bukan hanya lagu dari album terdahulu mereka. Ini berarti mereka yang datang benar-benar menyukai lagu-lagunya.

Sekali lagi, mengingatkan saya jaman dulu ketika masih penuh semangat datang ke konser Iwan Fals dan Slank. Sepanjang konser pasti saya ikut bernyanyi.

Dan seperti biasa, Jimi paling enerjik di antara mereka. Gitaris Kubil Idris, dingin. Sembunyi di balik gitar dan rambut poninya. Dengan rambut seperti itu, Kubil mengingatkan saya akan Johnny Ramone, tapi lebih kalem. Bassit Alfi Chaniago, juga tidak lebih enerjik dibandingkan Kubil. Saya selalu melihat kemiripan antara Jimi dan Alfi. Rambut dan bentuk muka. Hanya saja, Alfi terlihat lebih rupawan dibandingkan Jimi.

Kibordis Elta Emanuella juga begitu. Tenang. Sesekali tersenyum. Drummer Beni Adhiantoro masih bisa enerjik. Tidak jarang, dia ikut bernyanyi. Kalau ada yang bisa sedikit mengimbangi penampilan Jimi yang enerjik, itu adalah Backing Vocalist Dian Maryana. Dia berdansa sambil bernyanyi. Bisa memaksimalkan perannya di panggung.

Saya jadi penasaran bagaimana proses kreatif yang mereka lalui. Maksudnya, dengan para personel yang pendiam seperti itu, mereka bisa menghasilkan karya yang apik. Untung saja, dari segi penampilan, mereka bisa terlihat senada.

Mungkin juga di situ kekuatannya. Jimi, paling banyak bicara. Paling lincah. Dan paling tua–kelahiran ’74. Yang lainnya, tenang. Beraksi lewat instrumen yang mereka mainkan. Dan usia mereka jauh di bawah Jimi–kelahiran ’79 hingga ’83.

Di tengah-tengah konser, saya membayangkan bagaimana jadinya kalau The Upstairs sudah sukses secara komersil. Dan jadi sebesar Slank. Tur keliling Indonesia. Tiketnya sold out. Secara finansial mereka meningkat. Dan Jimi tidak lagi bisa nongkrong di pinggir jalan. Naik bis kota. Atau naik scooter-nya.

Nah, saat itu tiba, saya jadi berpikir. Mungkin tidak akan ada lagi lirik seperti “Demi trotoar dan debu yang beterbangan…” atau “Berangkat ke jantung selatan dalam bis kota bersama orang-orang lelah bermata lima watt…”

Akankah lirik bertema urban khas Jimi masih ada ketika The Upstairs jadi kelompok musik papan atas? Ataukah mereka akan jadi kelompok musik yang ternyata malah jadi lebih bagus menulis lagu cinta. Seperti Slank sekarang. Lirik-liriknya tidak sekuat seperti di 5 album mereka.

Ah. Maaf kalau jadinya mengkhawatirkan sesuatu yang belum pasti. Nyatanya, The Upstairs masih menghasilkan karya yang apik di dua album dan satu mini albumnya. Album “Energy” pun masih dipromosikan. Jadi, mari kita nikmati momen menyenangkan ini.

Dan esok kita pasti berdansa.

Saya, The Upstairs dan Slank

Satu lagi konser The Upstairs saya datangi.



Entah konser ke
berapa, konser mereka di Barbados Cafe, Kemang, Rabu [31/5] sore tadi.
Yang jelas, suasananya selalu sama. Baik itu di Jakarta, maupun di
Bandung. Anak muda dengan pakaian yang berwarna cerah. Celana ketat,
kaos band atau kaos motif garis-garis. Keriting jambul. Rambut poni
kuda buat perempuannya.




Remaja-remaja putrinya memang sedap dipandang mata. Hehe.



Karakter
kelompok musik itu sudah kuat terbentuk. Dan pengaruh mereka bisa
terlihat dari pakaian anak-anak muda yang datang ke setiap konser The
Upstairs. Anak-anak itu berdandan seperti idola mereka. Jangan heran
kalau datang ke konser The Upstairs kamu menemukan anak dengan
penampilan mirip vokalis Jimi Multhazam.




Ini mengingatkan saya
waktu remaja dulu. Datang ke banyak konser Slank dan Iwan Fals. Dengan
celana jins robek-robek, kaos lusuh, rambut gondrong. Semakin lusuh,
rasanya semakin pas kostumnya. Tentu saja itu dulu. Sekarang, Slank
sudah tidak lusuh lagi. Dan penonton konser Slank sudah tidak
didominasi anak-anak lusuh.




Makanya, melihat Modern
Darlings–sebutan untuk penggemar The Upstairs–di konser-konser The
Upstairs, sedikit mengingatkan Slankers pada jaman Slank baru muncul.
Modern Darlings itu sepertinya punya potensi untuk jadi sekuat
Slankers. Atau, sekuat Oi–sebutan untuk penggemar Iwan Fals.




Oke,
di konser The Brandals pun memang banyak crowd fanatik mereka–Brigade
Rock n’ Roll kalau saya tidak salah. Atau, adanya Speaker
People–sebutan untuk penggemar Speaker 1st–di Bandung. Tapi, ada
kesamaan antara Slankers dan Modern Darlings.




Di konser
launching album kedua The Upstairs tadi, manajemen dibantu anak-anak
muda yang disebut sebagai The Upstairs Street Team. Mereka jadi
penerima tamu. Penjaga pintu masuk. Penjual merchandise.




Setelah Slankers dan Oi, rasanya giliran Modern Darlings unjuk gigi.



Oke,
sekarang konsernya. The Upstairs main selama kurang lebih 1 jam 45
menit. Membawakan lagu-lagu dari album “Matraman” dan “Energy”. Warner
Music Indonesia rupanya berbahagia melihat antusiasme crowd yang begitu
besar. Setidaknya, salah satu dari mereka wajahnya sangat senang.




Bagaimana
tidak? Selama konser, crowd ikut menyanyikan semua lagu yang dibawakan
The Upstairs. Catat itu. Semua! Bukan hanya lagu dari album terdahulu
mereka. Ini berarti mereka yang datang benar-benar menyukai
lagu-lagunya.




Sekali lagi, mengingatkan saya jaman dulu ketika
masih penuh semangat datang ke konser Iwan Fals dan Slank. Sepanjang
konser pasti saya ikut bernyanyi.




Dan seperti biasa, Jimi paling
enerjik di antara mereka. Gitaris Kubil Idris, dingin. Sembunyi di
balik gitar dan rambut poninya. Dengan rambut seperti itu, Kubil
mengingatkan saya akan Johnny Ramone, tapi lebih kalem. Bassit Alfi
Chaniago, juga tidak lebih enerjik dibandingkan Kubil. Saya selalu
melihat kemiripan antara Jimi dan Alfi. Rambut dan bentuk muka. Hanya
saja, Alfi terlihat lebih rupawan dibandingkan Jimi.




Kibordis
Elta Emanuella juga begitu. Tenang. Sesekali tersenyum. Drummer Beni
Adhiantoro masih bisa enerjik. Tidak jarang, dia ikut bernyanyi. Kalau
ada yang bisa sedikit mengimbangi penampilan Jimi yang enerjik, itu
adalah Backing Vocalist Dian Maryana. Dia berdansa sambil bernyanyi.
Bisa memaksimalkan perannya di panggung.




Saya jadi penasaran
bagaimana proses kreatif yang mereka lalui. Maksudnya, dengan para
personel yang pendiam seperti itu, mereka bisa menghasilkan karya yang
apik. Untung saja, dari segi penampilan, mereka bisa terlihat senada.




Mungkin
juga di situ kekuatannya. Jimi, paling banyak bicara. Paling lincah.
Dan paling tua–kelahiran ’74. Yang lainnya, tenang. Beraksi lewat
instrumen yang mereka mainkan. Dan usia mereka jauh di bawah
Jimi–kelahiran ’79 hingga ’83.




Di tengah-tengah konser, saya
membayangkan bagaimana jadinya kalau The Upstairs sudah sukses secara
komersil. Dan jadi sebesar Slank. Tur keliling Indonesia. Tiketnya sold
out. Secara finansial mereka meningkat. Dan Jimi tidak lagi bisa
nongkrong di pinggir jalan. Naik bis kota. Atau naik scooter-nya.




Nah,
saat itu tiba, saya jadi berpikir. Mungkin tidak akan ada lagi lirik
seperti “Demi trotoar dan debu yang beterbangan…” atau “Berangkat ke
jantung selatan dalam bis kota bersama orang-orang lelah bermata lima
watt…”




Akankah lirik bertema urban khas Jimi masih ada ketika
The Upstairs jadi kelompok musik papan atas? Ataukah mereka akan jadi
kelompok musik yang ternyata malah jadi lebih bagus menulis lagu cinta.
Seperti Slank sekarang. Lirik-liriknya tidak sekuat seperti di 5 album
mereka.




Ah. Maaf kalau jadinya mengkhawatirkan sesuatu yang
belum pasti. Nyatanya, The Upstairs masih menghasilkan karya yang apik
di dua album dan satu mini albumnya. Album “Energy” pun masih
dipromosikan. Jadi, mari kita nikmati momen menyenangkan ini.




Dan esok kita pasti berdansa.

Mempertanyakan Ketulusan

Indonesia berduka [lagi].

Rasanya Aceh saja belum benar-benar pulih setelah bencana Tsunami. Lantas, ada Merapi. Beberapa hari lalu, ada gempa di Jogja. Dan beberapa menit lalu, saya dengar, ada gempa juga di Papua dan Sumatera Barat.

Dan seperti biasa. Pengumpulan dana ada di mana-mana. Di jalan raya–bersaing dengan para pengemis dan peminta sumbangan pembangunan masjid, di kampus-kampus, di televisi, di koran, hingga di event-event yang digelar kemudian.

Pejabat melakukan kunjungan. Selebritis pun ikut-ikutan.

Mereka yang berduit lebih, mengucapkan belasungkawanya di televisi. Departemen ini lah. Departemen itu lah. Pokoknya, orang-orang harus tau, kalau Departemen atau Lembaga itu ikut berduka.

Ini yang kadang suka mengganggu saya. Kenapa juga kalau memberi bantuan, si pemberi sepertinya ingin selalu memastikan orang lain tau perbuatannya? Tadi pagi saya nonton infotainment. Ada tayangan soal pembacaan doa bersama artis dan ustadz. Di depan mesjid tempat doa itu digelar, ada spanduk bertuliskan acara itu. Plus, siapa saja publik figur yang ikut kegiatan itu.

Kampanye Public Relations kah? Entahlah.

Ini sebenarnya mirip dengan kalau kita datang ke resepsi pernikahan. Kenapa juga amplop berisi uang yang kita berikan untuk si empunya hajat, harus dituliskan nama kita? Saya sih tidak pernah menuliskan nama saya di amplop. Ini salah satu cara menjaga ketulusan. Dan juga salah satu cara aman kalau memang jumlah uang yang saya masukan di amplop tidak terlalu besar. Hehe.

Sudah ah. Terlepas dari tulus/tidaknya bantuan yang dikumpulkan, saya doakan semoga semua bantuan bisa tersalurkan dengan baik dan benar. Dan semoga saja cobaan ini tidak berkepanjangan.

Amin.

Mempertanyakan Ketulusan

Indonesia berduka [lagi].



Rasanya Aceh saja belum benar-benar
pulih setelah bencana Tsunami. Lantas, ada Merapi. Beberapa hari lalu,
ada gempa di Jogja. Dan beberapa menit lalu, saya dengar, ada gempa
juga di Papua dan Sumatera Barat.




Dan seperti biasa. Pengumpulan
dana ada di mana-mana. Di jalan raya–bersaing dengan para pengemis dan
peminta sumbangan pembangunan masjid, di kampus-kampus, di televisi, di
koran, hingga di event-event yang digelar kemudian.




Pejabat melakukan kunjungan. Selebritis pun ikut-ikutan.



Mereka
yang berduit lebih, mengucapkan belasungkawanya di televisi. Departemen
ini lah. Departemen itu lah. Pokoknya, orang-orang harus tau, kalau
Departemen atau Lembaga itu ikut berduka.




Ini yang kadang suka
mengganggu saya. Kenapa juga kalau memberi bantuan, si pemberi
sepertinya ingin selalu memastikan orang lain tau perbuatannya? Tadi
pagi saya nonton infotainment. Ada tayangan soal pembacaan doa bersama
artis dan ustadz. Di depan mesjid tempat doa itu digelar, ada spanduk
bertuliskan acara itu. Plus, siapa saja publik figur yang ikut kegiatan
itu.




Kampanye Public Relations kah? Entahlah.



Ini
sebenarnya mirip dengan kalau kita datang ke resepsi pernikahan. Kenapa
juga amplop berisi uang yang kita berikan untuk si empunya hajat, harus
dituliskan nama kita? Saya sih tidak pernah menuliskan nama saya di
amplop. Ini salah satu cara menjaga ketulusan. Dan juga salah satu cara
aman kalau memang jumlah uang yang saya masukan di amplop tidak terlalu
besar. Hehe.




Sudah ah. Terlepas dari tulus/tidaknya bantuan yang
dikumpulkan, saya doakan semoga semua bantuan bisa tersalurkan dengan
baik dan benar. Dan semoga saja cobaan ini tidak berkepanjangan.




Amin.

Blogger Iri Dengki

Sudah berapa lamu kamu nge-blog?

Saya baru mau masuk satu tahun setengah. Dan rasanya, masih begitu-begitu saja. Maksudnya, perkembangan pembacanya. Yang membaca, biasanya teman-teman, atau temannya teman. Kalaupun ada yang tidak mengenal saya, hanya satu dua yang kebetulan nyasar. Hehe.

Oya, mungkin kamu ingin tau alasan saya menulis ini. Saya baru membuka blog-nya Enda Nasution [enda.goblogmedia.com]. Tidak. Saya tidak termasuk pembaca setia blog dia. Bukan apa-apa. Baca blog dia, melelahkan. Isinya mungkin bagus, banyak informasi. Tapi, entah kenapa, saya tidak tertarik mengikuti tulisan dia di sana. Entah faktor gaya bahasanya. Entah faktor tata letaknya. Entahlah.

Tapi, saya salut. Di dunia maya, di mata para blogger, Enda punya reputasi yang sangat baik. Kadang-kadang, ada perasaan iri juga. Ingin tulisan saya dibaca ribuan orang. Dinanti kedatangannya setiap hari. Terlepas dari ketidaktertarikan saya terhadap blog dia, harus diakui kalau kredibilitas dia telah terbangun. Orang sudah mengenal nama Enda Nasution.

Oya, bicara soal Enda. Saya punya kenangan yang tidak bisa terlupakan. Jauh sebelum saya kenal blog, saya pernah bertemu dia. Di Jalan Purnawarman, Bandung. Medio ’97 atau ’98. Di rumah teman kampus saya.

Sobat saya naksir si pemilik rumah. Sebagai sobat yang baik, saya menurut ketika diminta menemani dia mengunjungi si pemudi. Saya ingat, waktu itu hujan. Sobat saya lebih banyak diam. Maklum, grogi. Ada di dekat kecengan. Hehe.

Di tengah-tengah obrolan, si pemudi menunjukkan foto pacarnya. Mahasiswa Itenas yang menurut saya, tampang di pas foto-nya mirip Dhani Ahmad. Sobat saya tentu saja makin terdiam. Bayangkan. Datang ke rumah kecengan. Malah ditunjukkan foto pacar si kecengan. Saya mengerti perasaan dia.

Eh, tanpa diduga. Si laki-laki di foto, tiba-tiba datang. Dan ketika kami berkenalan, dia mengenalkan dirinya sebagai Enda. Itu kali pertama dan terakhir saya bertemu dia. Kira-kira tujuh tahun kemudian, saya mendengar lagi kabar soal Enda. Rupanya dia sudah sukses di dunia maya. Salah seorang blogger menyebut dia “Brahmana of the Blog”.

Dan setiap mendengar nama Enda, saya selalu teringat kenangan di Jalan Purnawarman itu. Laki-laki yang sama yang pernah membuat sobat saya bete, ternyata sudah jadi “seseorang”. Hebat!

Sedangkan saya?

Blogger Iri Dengki

Sudah berapa lamu kamu nge-blog?

Saya baru mau masuk satu tahun setengah. Dan rasanya, masih begitu-begitu saja. Maksudnya, perkembangan pembacanya. Yang membaca, biasanya teman-teman, atau temannya teman. Kalaupun ada yang tidak mengenal saya, hanya satu dua yang kebetulan nyasar. Hehe.

Oya, mungkin kamu ingin tau alasan saya menulis ini. Saya baru membuka blog-nya Enda Nasution [enda.goblogmedia.com]. Tidak. Saya tidak termasuk pembaca setia blog dia. Bukan apa-apa. Baca blog dia, melelahkan. Isinya mungkin bagus, banyak informasi. Tapi, entah kenapa, saya tidak tertarik mengikuti tulisan dia di sana. Entah faktor gaya bahasanya. Entah faktor tata letaknya. Entahlah.

Tapi, saya salut. Di dunia maya, di mata para blogger, Enda punya reputasi yang sangat baik. Kadang-kadang, ada perasaan iri juga. Ingin tulisan saya dibaca ribuan orang. Dinanti kedatangannya setiap hari. Terlepas dari ketidaktertarikan saya terhadap blog dia, harus diakui kalau kredibilitas dia telah terbangun. Orang sudah mengenal nama Enda Nasution.

Oya, bicara soal Enda. Saya punya kenangan yang tidak bisa terlupakan. Jauh sebelum saya kenal blog, saya pernah bertemu dia. Di Jalan Purnawarman, Bandung. Medio ’97 atau ’98. Di rumah teman kampus saya.

Sobat saya naksir si pemilik rumah. Sebagai sobat yang baik, saya menurut ketika diminta menemani dia mengunjungi si pemudi. Saya ingat, waktu itu hujan. Sobat saya lebih banyak diam. Maklum, grogi. Ada di dekat kecengan. Hehe.

Di tengah-tengah obrolan, si pemudi menunjukkan foto pacarnya. Mahasiswa Itenas yang menurut saya, tampang di pas foto-nya mirip Dhani Ahmad. Sobat saya tentu saja makin terdiam. Bayangkan. Datang ke rumah kecengan. Malah ditunjukkan foto pacar si kecengan. Saya mengerti perasaan dia.

Eh, tanpa diduga. Si laki-laki di foto, tiba-tiba datang. Dan ketika kami berkenalan, dia mengenalkan dirinya sebagai Enda. Itu kali pertama dan terakhir saya bertemu dia. Kira-kira tujuh tahun kemudian, saya mendengar lagi kabar soal Enda. Rupanya dia sudah sukses di dunia maya. Salah seorang blogger menyebut dia “Brahmana of the Blog”.

Dan setiap mendengar nama Enda, saya selalu teringat kenangan di Jalan Purnawarman itu. Laki-laki yang sama yang pernah membuat sobat saya bete, ternyata sudah jadi “seseorang”. Hebat!

Sedangkan saya?

Soleh Palsu

Namamu pernah dipakai orang?

Maksudnya, ada orang mengaku sebagai kamu. Bukan apa-apa. Saya baru saja mengalaminya. Seseorang mengirim SMS kepada Aris. Meminta nomor telepon Hagi. Dan orang sialan itu mengaku sebagai saya. Begini isinya:

Ris,iyeu soleh.menta nomorna si hagi deuh.HP urang ruksak,ilang semua nomor teh.Nuhun ah ris.Slm kanggo istri.Tos isi? Maen nu geulis nya ris.Hehe.Punten ngaganggu yeuh mlm2.Keur asik duaan nya?
From: +628176614739

Date: 13/05/2006 Time: 12:08:23 am

Kurang ajar sekali! Saya sebut ini sebagai fitnah kecil. Untung saja, si Aris kenal saya cukup baik. Dia tau, gaya bahasa saya tidak seperti itu. Coba perhatikan. Bahasa Sunda si pengirim itu sangat jelek. Siapapun yang sudah lama kenal saya, pasti tau saya tidak akan bicara atau menulis seperti itu.

Mungkin si pengirim kenal saya. Atau, setidaknya merasa kenal saya cukup baik. Makanya, dia berusaha terlihat seperti saya, lewat tulisan. Sialan! Baru seperti ini saja sudah kesal ya. Apalagi kalau tarafnya lebih merugikan.

Oya, akhirnya saya telepon nomor itu. Saya mengaku sebagai Aris. “Halo, Soleh?”

“Halo,” kata suara di telepon itu. Perempuan ternyata.

” Ini Aris nih. Kemaren minta nomor Hagi ya? Halo?”

Perempuan itu terdiam. Setelah beberapa detik, telepon itu mati. Lantas, saya telepon lagi. Jawaban perempuan itu macam-macam. Pertama, dia bilang sedang di jalan. Suruh menghubungi setengah jam lagi. Dan telepon itu ditutup.

Saya telepon dia lagi. Kali ini, dia menjawab, “Solehnya sedang keluar.” Ketika saya tanya, dengan siapa saya bicara, dia tidak menjawab. Dan menutup lagi teleponnya. Akhirnya, saya terus hubungi nomor itu. Dia tetap tidak menjawab. Hingga akhirnya, suara laki-laki yang menjawab. Saya tidak bisa mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu. Yang lebih jelas, justru suara pedagang menawarkan Aqua. Sampai detik tulisan ini dibuat, telepon itu masih mati.

Dan saya masih kesal juga penasaran.

Soleh Palsu

Namamu pernah dipakai orang?

Maksudnya, ada orang mengaku sebagai kamu. Bukan apa-apa. Saya baru saja mengalaminya. Seseorang mengirim SMS kepada Aris. Meminta nomor telepon Hagi. Dan orang sialan itu mengaku sebagai saya. Begini isinya:

Ris,iyeu soleh.menta nomorna si hagi deuh.HP urang ruksak,ilang semua nomor teh.Nuhun ah ris.Slm kanggo istri.Tos isi? Maen nu geulis nya ris.Hehe.Punten ngaganggu yeuh mlm2.Keur asik duaan nya?
From: +628176614739

Date: 13/05/2006 Time: 12:08:23 am

Kurang ajar sekali! Saya sebut ini sebagai fitnah kecil. Untung saja, si Aris kenal saya cukup baik. Dia tau, gaya bahasa saya tidak seperti itu. Coba perhatikan. Bahasa Sunda si pengirim itu sangat jelek. Siapapun yang sudah lama kenal saya, pasti tau saya tidak akan bicara atau menulis seperti itu.

Mungkin si pengirim kenal saya. Atau, setidaknya merasa kenal saya cukup baik. Makanya, dia berusaha terlihat seperti saya, lewat tulisan. Sialan! Baru seperti ini saja sudah kesal ya. Apalagi kalau tarafnya lebih merugikan.

Oya, akhirnya saya telepon nomor itu. Saya mengaku sebagai Aris. “Halo, Soleh?”

“Halo,” kata suara di telepon itu. Perempuan ternyata.

” Ini Aris nih. Kemaren minta nomor Hagi ya? Halo?”

Perempuan itu terdiam. Setelah beberapa detik, telepon itu mati. Lantas, saya telepon lagi. Jawaban perempuan itu macam-macam. Pertama, dia bilang sedang di jalan. Suruh menghubungi setengah jam lagi. Dan telepon itu ditutup.

Saya telepon dia lagi. Kali ini, dia menjawab, “Solehnya sedang keluar.” Ketika saya tanya, dengan siapa saya bicara, dia tidak menjawab. Dan menutup lagi teleponnya. Akhirnya, saya terus hubungi nomor itu. Dia tetap tidak menjawab. Hingga akhirnya, suara laki-laki yang menjawab. Saya tidak bisa mendengar apa yang dikatakan laki-laki itu. Yang lebih jelas, justru suara pedagang menawarkan Aqua. Sampai detik tulisan ini dibuat, telepon itu masih mati.

Dan saya masih kesal juga penasaran.

Anjis! Jadi Curhat!

Pernah kesal sama mantan?

Baik itu mantan kamu, atau mantannya pacar kamu. Kalau sama mantan sendiri sih, biasanya kesalnya, ada dalam rentang waktu habis diputusin sampai punya pacar baru. Maklum, masih sakit hati, belum ada pengganti, jadi bawaannya kesal melulu.

Pikiran seperti “kenapa kok diputusin?”, “oh, ini tidak adil”, “apa salahku?” [hehehe] biasanya mondar-mandir di kepala. Karena kita belum tau jawabannya, biasanya itu mengarah pada perasaan kesal, bahkan mungkin dendam.

Begitu pula sama mantannya pacar. Kalau saya dengar cerita dari pacar saya, betapa laki-laki yang dulu pernah jadi pacarnya, sering menyakiti perasaan dia, saya suka ikut kesal. “Kok, jadi laki-laki tidak menghargai perasaan perempuan sekali sih?” atau, “Kurang ajar sekali tuh orang. Memainkan perasaan. Bikin sakit hati perempuan.” Itu terlintas di kepala.

Tapi, setelah dipikir-pikir lagi, saya harusnya malah berterimakasih kepada mantan saya atau mantan pacar saya. Tidak. Bukan maksud saya lantas tidak berempati pada kisah kurang menyenangkan pacar saya.

Begini maksudnya. Kalau saja dulu saya tidak diputusin, atau kalau saja pacar saya yang sekarang, menjalani hubungan bahagia dengan pacarnya terdahulu, kami mungkin tidak akan bertemu. Hehehe. Nah, kalau begini jadinya, saya malah bersyukur dulu diputusin. Punya kesempatan bertemu dengan yang jauh lebih baik. Yang bisa memberi kebahagiaan. 😀

Ah. Dasar manusia ya. Dulu marah-marah. Kesal sama keadaan. Eh, sekarang malah bersyukur pernah mengalami itu. Jadi, intinya begini nih. Bukan maksud menggurui, atau sok bijak ya. Buat kamu yang sekarang disakiti orang. Urusan percintaan maksudnya. Tenang saja. Nanti juga dapat yang lebih baik. Nanti juga kamu menemukan kebahagiaan yang kamu cari.

Tuhan itu Maha Adil.