Saya Ingin Menulis, Tapi Apa yang Harus Saya Tulis?

“Leh, mana tulisannya?”

Kata Aris, teman kerja yang duduk di sebelah saya. Dia bertanya soal blog saya yang belakangan ini jadi lebih sepi. Maklum, blog dia tidak pernah sepi dari tulisan. Tidak juga pernah sepi dari kunjungan orang. Malah, Koran Seputar Indonesia pernah menganugerahi “Blog of The Week” buat blog dia. Salman Aristo, story teller, yang sudah pernah menulis buat layar lebar. Yang sepertinya, semua cerita dalam hidupnya, bisa dia tulis dengan mudah.

Kalau begini, yang jadi pertanyaan saya. Apakah hidup saya yang tidak menarik? Atau saya yang tidak bisa menuliskannya jadi sesuatu yang menarik buat orang lain?

Bukan cuma Aris, teman saya yang lain, mempertanyakan juga soal saya yang sekarang jarang menulis di sini. “Terlalu asik pacaran,” tuduh mereka. Memang, akhirnya timbul juga pertanyaan lain. Apa benar saya jarang menulis karena terlalu asik pacaran? Atau, ini semata-mata karena saya sedang malas untuk menulis saja.

Bagaimana menurutmu?

1 Oktober

1965.
Kesaktian Pancasila, katanya. Padahal, dini harinya, ada G 30 S/PKI.

40 tahun kemudian…

2005.
BBM naik tinggi. Benar-benar tinggi. Bom meledak lagi di Bali.

Ikut bersedih. Mungkin benar kata salah satu majalah yang saya lihat sekilas kemarin, bukan Indonesia Raya, tapi Indonesia Lara.

Hey Bung!

Sialan!

Lagi asik-asiknya duduk di Metro Mini 604 jurusan Pasar Minggu – Tanah Abang, tiba-tiba saja beberapa petugas dari Departemen Perhubungan–dengan perut besar, peluit, helm dan tampang garang–menghadang bis tadi. Tepat sebelum Halte Tosari. Halte terdekat dari Bundaran HI, kalau kamu dari arah Sudirman. Dan dibelokkanlah bis tadi. Tidak boleh lewat ke Bunderan HI, melalui Jalan Thamrin. Harus memutar balik, untuk kemudian kembali ke Pasar Minggu. Padahal, Tanah Abang tidak jauh dari tempat bis tadi dibelokkan. Dan sedikit lagi, bis itu harusnya sampai di tujuan akhirnya. Sedikit lagi juga, saya sampai di tujuan. Kurang dari lima menit lagi.

“Ini rute baru. Berlaku mulai hari ini,” jawab salah seorang petugas, dengan bahasa Indonesia yang baik dan benar, ketika saya tanya kenapa bis tadi tidak boleh lewat Thamrin.

Dan rasanya detik itu, saya ingin memaki-maki petugas tadi. Tapi, toh dia pun hanya bawahan. Apa boleh buat. “Pak, nggak mikir apa? Kan udah mau nyampe Tanah Abang, kasian yang mau turun di depan dong. Tanggung banget,” kata saya bersungut-sungut, sambil meninggalkan si petugas tadi.

Dan sekarang, saya tau benar perasaan Bayu, teman saya. Yang juga rute Bis BSD City-nya harus berubah rute. Ada hubungannya dengan rute busway, katanya. Tapi, apakah semua orang disuruh naik busway? Ah, sialan!

Tapi apa daya. Saya hanya rakyat kecil. Tau apa saya soal langkah para pembuat kebijakan itu? Cuma, para pembuat kebijakan itu juga, saya yakin, tidak tau rasanya harus direpotkan oleh kendaraan umum yang diubah rutenya. Mereka kan, tidak setiap hari, naik Metro Mini. Berdesak-desakkan. Panas. Ke mana-mana, tidak harus macet. Karena tinggal duduk di kursi empuk, ber-AC, yang dikawal para petugas. Kalau mau lewat, orang lain disuruh menunggu. Tanpa peduli, kalau orang lain juga sama-sama punya kesibukkan.

Sialan. Belum beres rasa kesal saya karena harga BBM akan dinaikkan lagi. Kejadian tadi, menambah lagi daftar kekesalan saya terhadap pemerintah. Mau jadi apa Republik ini? Kalo begini, jadi ingat penggalan lirik lagu Slank “Hey Bung” dari album Generasi Biru [1994].

Hey Bung yang di atas sana
Coba turun ke jalan
Lihat-lihat situasi apa yang terjadi

Hey Bung yang di balik meja
Coba turun ke jalan
Tunjukkan rasa perhatian

Jangan tunggu kami
Turun di jalan
Jangan sampai kami
Yang tunjukkan rasa

Hey Bung di dalam gedung megah
Coba turun ke jalan
Lihat-lihat kondisi biar pasti

Hey Bung yang berkuasa
Coba turun ke jalan
Berikan rasa kelembutan

Last Minute Guy

Deadline lagi. Deadline lagi.

Tidak terasa, sudah deadline lagi. Padahal rasanya baru kemarin saya bernafas lega, karena semua tulisan sudah diselesaikan. Dan seperti biasa, saya menunda pekerjaan. Semua disimpan untuk menit-menit terakhir.

Bukan sesuatu yang baru juga sebetulnya. Ini, sudah sering saya lakukan sejak masih SMA. Mengerjakan PR di kelas. Pagi hari, sebelum sekolah dimulai. Belajar di malam sebelum ulangan. Begitu juga ketika kuliah. Mengerjakan tugas satu hari sebelum tugas itu harusnya dikumpulkan. Mengerjakan skripsi dengan kalang kabut. Di semester 14. Semester terakhir dari yang dijatahkan.

Padahal, waktu saya selama itu cukup banyak. Untuk mengerjakan PR atau tugas. Untuk belajar. Untuk membuat skripsi. Tapi tidak. Saya lebih senang menikmati masa-masa santai. Dan memilih tergesa-gesa di menit-menit terakhir. Entah kenapa. Di bawah tekanan, semua seperti bekerja lebih cepat. Otot-otot bekerja lebih maksimal.

Ada yang bilang, kita lebih kreatif ketika bekerja di bawah tekanan. Tapi saya bilang, itu hanya alasan orang malas saja. Seperti saya. Dan ini susah sekali. Saya sudah melawan ini bertahun-tahun. Tapi, belum juga berhasil. Mungkin kamu punya masalah yang serupa.

Ah sudahlah. Saya harus mengerjakan lagi tulisan yang dari tadi masih juga terbengkalai.

Salam,

Sekarang Ruangan Itu Tidak Sepi

Lagu ini baru saja saya putar di komputer.

Love is real. Real is love. Love is feeling. Feeling love. Love is wanting to be loved. Love is touch. Touch is love. Love is reaching. Reaching Love. Love is asking to be loved. Love is you. You and me. Love is knowing. We can be. Love is free. Free is love. Love is living. Living love. Love is needing to be loved. [Love; John Lennon, 1970]

Kamu boleh menertawakan saya. Tapi, sebulan terakhir ini saya baru tau rasanya cinta. Hehe. Tidak. Saya yakin, tidak sedang seperti anak remaja yang mengatakan cinta, ketika melihat perempuan yang disukainya. Yang ini berbeda. Saya tau itu berbeda. Karena ternyata, ini sesuatu yang belum pernah saya rasakan sebelumnya. Jujur. Saya tidak sedang bergombal.

Apalagi malam tadi. Ketika dia menunjukkan salah satu tulisan di buku hariannya. Sesuatu yang pernah ditulisnya tentang saya. Sesuatu yang pernah saya tanyakan kepadanya. Tentang kenapa dia memilih saya. Tidak. Saya tidak akan membaginya di sini.

Yang jelas, itu membuat saya tersipu malu. Membuat saya seperti kepiting rebus. Hehe. Dan saat membaca tulisannya itulah, saya semakin yakin bagaimana perasaan dia kepada saya. Ah, saya semakin dibuat terbang tinggi. Tulisan dia juga membuat saya terharu bahagia. Haha. Ternyata, ada juga perempuan–selain ibu kandung tentunya–yang bisa memberikan rasa sayangnya kepada saya.

Dan ini yang lebih membuat saya senang. Karena ternyata, apa yang dia tulis tentang saya. Apa yang dia lihat di diri saya. Adalah kurang lebih sama dengan apa yang saya lihat di diri dia. Alasan dia menerima saya. Adalah kurang lebih sama dengan alasan saya memilih dia. Tidak. Saya tidak sedang ke-GR-an. Ini jujur. Mungkin ini yang namanya reaksi kimia yang baik.

Dan puzzle hati yang dulu sempat tercerai-berai itu pun, kini benar-benar sudah terbentuk. Ruangan di hati saya pun, kini tidak sepi lagi. Karena seseorang telah mengisinya. Seseorang bernama Tetta Riyani Valentia.

Wah gawat. Semakin menye-menye. Harus dihentikan. Sebelum kamu berpikir untuk meledek saya. Haha. Saya sebetulnya cuma mau bilang, kalau perjalanan ini ternyata benar-benar menyenangkan. Sangat menyenangkan. Semoga saja tetap begitu.

Something Happened to Me Yesterday

Perjalanan saya akhirnya dilanjutkan.

Lebih dari satu tahun, kendaraan itu tidak dikemudikan. Maklum, tidak ada orang yang mau saya ajak jadi teman seperjalanan. Yang terdahulu, memilih untuk turun dari kendaraan. Tidak melanjutkan perjalanan. Dan memilih naik kendaraan lain. Dan saya terpukul. Sempat tidak mau lagi melakukan perjalanan dengan kendaraan itu.

Kemarin, saya resmi punya teman seperjalanan yang baru. Mesin kendaraan sudah dipanaskan. Oli sudah diganti. Servis dan tune up sudah dilakukan. Tekanan ban sudah diperiksa. Surat-surat kendaraan sudah dibawa. Masukkan gigi, injak gas, angkat kopling dan berangkatlah kami.

Teman seperjalanan yang baru ini sangat menyenangkan. Dia bisa diajak bicara tentang apa saja. Dia tidak keberatan dengan album apa yang akan saya putar di kendaraan selama perjalanan. Malah, dia merasa pilihan album saya bagus. Dan katanya, itu salah satu alasan dia mau diajak menempuh perjalanan.

Ah senangnya. Menempuh perjalanan dengan kendaraan yang sudah lama tidak saya hidupkan. Bersama teman seperjalanan saya yang baru. Bahagianya saya. Haha. Sekarang sih, saya masih ingin berputar-putar keliling kota saja dulu. Menikmati perjalanan ini. Menikmati hal yang baru ini.

Di depan, pasti banyak kerikil tajam. Banyak perhentian. Banyak polisi lalu lintas. Banyak kemacetan. Tapi, di depan juga pasti ada jalan bebas hambatan. Ada pemandangan indah dan sejuk. Dan itu pasti bakal menghiasi perjalanan kami. Saya tau itu. Dan jalan panjang yang berliku dan berangin menanti kami. Kalau begitu, mudah-mudahan saja, dia bisa terus diajak bernyanyi selama perjalanan.

“The long and winding road. That leads to your door. Will never disappear. I’ve seen that road before. It always leads me here. Lead me to your door.”

Nama Saya, Soleh Solihun!

What is in a name?

Apalah arti sebuah nama. Tapi, buat saya, itu pernah jadi sesuatu yang sangat penting. Pernah, ada satu masa, ketika saya sempat mempertanyakan nama pemberian orang tua saya; Soleh Solihun.

Kenapa mereka harus memberi nama itu? Begitu pikir saya di usia muda. Karena buat saya, nama itu tidak terdengar ‘cool’. Haha. Nama itu sepertinya tidak akan membawa saya jadi seorang rock star. Coba bayangkan, di panggung, seorang rock n’ roller bernama Soleh! Dan crowd berteriak. Soleh! Soleh! Soleh! Beda kan hasilnya, kalo yang diteriakkan adalah nama, Jim! Joey! Kaka! Mick! atau Keith!

Belum lagi, kalo jadi seorang penyiar, atau penulis. Masa’ penyiar bernama Soleh Solihun. “Masih bersama Soleh Solihun di sini.” Aneh kan kedengarannya. Terus, di bawah judul ditulis, by Soleh Solihun. Sangat tidak komersil sekali, begitu saya pikir. Makanya, waktu pertama kali diterima kerja di majalah, Sang GM sempat bertanya, mau memakai nama apa, buat tulisan? Dan saya tidak tau harus menjawab apa. Karena saya belum pernah punya nama panggung, atau nama komersil.

Akhirnya, saya memakai nama pemberian orang tua itu sampai sekarang. Belum pernah juga punya nama julukan. Masih bangga dengan nama itu. Sampai detik ini.

Dan kamu tau? Ternyata, nama itu bisa juga diteriakkan di konser. Di depan panggung. Saya pernah mengalaminya. Walaupun masih sekelas panggung musik di kampus. Dan ketika saya siaran pun, Soleh Solihun adalah nama yang saya pakai di gelombang udara. Tanpa ada perubahan apapun. Begitu juga di majalah. Saran Sang GM tidak pernah saya realisasikan. Nama itu masih saya pakai untuk majalah.

Dan lucunya, malah ada yang mengira, itu nama komersil saya. Di udara. Di majalah. Ada yang mengira itu bukan nama asli saya. Mereka tidak percaya kalau itu nama asli saya. Well what do you know, ternyata bisa juga nama seperti Soleh Solihun dianggap komersil. Haha.

Bagaimana menurutmu?

Sekali Lagi Bicara Ibu Kota

Jakarta.

Ternyata, pandangan saya tentang kota ini, sedikit berubah setelah saya tinggal di kota ini. Belum lama memang, September besok baru genap satu tahun. Dulu, waktu masih jarang ke kota ini, badan saya menolaknya. Gila! Panas sekali udaranya. Belum lagi matahari yang sepertinya lebih membakar. Sekarang, sepertinya badan saya baik-baik saja tuh menerima udara panas Ibu Kota.

Gedung bertingkatnya begitu juga. Dulu, di mata saya, gedung di kota ini, besar sekali ukurannya. Megah. Pencakar langit. Seakan-akan dari atapnya, kita bisa menyentuh awan. Tapi sekarang, gedung-gedung itu kok tidak terlihat sebesar dulu ya? Jalan Sudirman pun begitu. Dulu, kawasan ini terlihat luas sekali. Saya merasa kecil ketika berada di jalan ini. Tapi sekarang, ternyata Sudirman tidak seluas dulu.

Kamu pernah punya pikiran seperti itu? Bahwa sesuatu yang dulunya terasa besar di pikiranmu, sekarang terlihat biasa saja. Pikiran tentang Jakarta khususnya. Bahwa kota ini setelah ditinggali cukup lama, tidak sebesar dan sekejam yang kita kira sebelumnya.

Mungkin itu sebabnya, banyak orang berdatangan ke kota ini. Dengan segala kesan buruk tentang Ibu Kota, nyatanya orang-orang masih saja berdatangan ke sini. Saya tidak akan bicara lebih lanjut soal pembangunan yang tidak merata. Nanti malah semakin membosankan tulisan ini.

Yang jelas, saya rasa, kenapa juga akhirnya orang-orang bertahan di sini, karena secara psikologis mereka mulai menerima baik buruknya kota ini. Seperti juga saya. Padahal dulu saya pernah membenci kota ini. Panas. Kejam. Tidak nyaman. Sekarang, saya sepertinya mulai menikmati hidup di sini.

Ah Jakarta.

If It’s Too Loud Then You’re Too Old

Saya ingin bicara rock.

Satu buku [saya lupa judulnya apa], pernah bilang begini. Orang yang menyukai musik rock, adalah mereka yang masih mencari jati diri. Biasanya mereka yang masih di usia belasan tahun. Lantas, saya teringat ucapan salah seorang sahabat saya. Katanya, kuping dia sudah tidak lagi bisa menerima musik rock. Karena dia sekarang lebih menyukai musik minim distorsi. Padahal, dari dia, saya dapat referensi banyak soal rock .

Lantas, sahabat saya yang lain, juga menunjukkan kecenderungan seperti itu. Kuping mereka sudah tidak seperti dulu. Musik-musik urban, dengan nuansa jazzy, atau musik yang kaya akan artificial sounds, tapi tidak bising, jadi lebih disukai telinga mereka.

Hal-hal ini mengaitkan saya pada buku tadi. Berarti sahabat-sahabat saya sudah beranjak tua. Sedangkan saya, masih setia pada rock. Walaupun saya tidak lantas membenci musik lain, tapi telinga saya masih menerima distorsi. Kalau begitu, saya masih muda dong. Seperti juga para rockers di luar sana, tidak pernah tua.

Ini kemudian menghubungkan tulisan saya pada judul di atas. Sebuah ungkapan populer tentang rock. “If it’s too loud then you’re too old”. Pernyataan untuk mereka yang menganggap para pecinta rock, tidak dewasa, dan mengganggu.

Kalau begitu, kita sebenarnya menemukan solusi untuk mereka yang ingin awet muda. Mereka yang menolak tua. Dengarkan saja musik rock! Dan tanyakan pada dirimu sendiri, apakah itu terlalu bising? Karena kalau jawabnya iya, berarti kamu terlalu tua.

Bidadari Penyelamat

Seorang bidadari mengajak saya pergi.

Terbang tinggi. Begitu tinggi, sampai saya pikir, badan saya sangat ringan. Rasanya menyenangkan. Melayang. Dan semua terlihat jauh lebih menarik. Tidak ada masalah. Hidup jadi terasa lebih indah.

Kamu pernah mengalami itu? Saya yakin kamu pernah. Seperti juga saya dulu pernah mengalaminya. Tapi saya juga pernah jatuh dari ketinggian. Dan rasanya sakit sekali. Butuh waktu lama buat sembuh.

Makanya, ketika sekarang saya diajak terbang lagi, ada sedikit rasa takut. Bagaimana kalau saya jatuh lagi? Bagaimana kalau ini hanya kebahagiaan semu saja? Hanya kesenangan sesaat? Saya tidak ingin melewati proses menyebalkan itu lagi. Karena saya sudah sembuh sekarang. Dan hal terakhir yang saya inginkan adalah terjatuh lagi.

Tapi, sekali lagi, ini begitu menyenangkan. Terbang lagi. Melayang lagi.


saat air engkau suguhkan.
dan kita bicara tentang apa saja.
di Jakarta.

*Jimi Multhazam, untuk The Adams.