Banyak Cara Untuk Bersenang-senang

Salah satunya, dengan pergi ke konser KOIL di Hard Rock Café, Jakarta, Rabu [14/5] kemarin.

Sebelum jam delapan malam, beberapa orang sudah datang ke EX. Di promo acara, ditulis kalau pintu dibuka jam delapan malam. Tapi, nyatanya pintu dibuka hampir menuju jam sembilan malam.

“Mau nonton KOIL ya? Jam sepuluh!” kata Kimpoy menirukan ucapan petugas keamanan Hard Rock yang tak membolehkannya masuk ke sana ketika pintu belum dibuka. Kimpoy senang sekali bisa melihat KOIL manggung di Jakarta. Sejak beberapa bulan lalu, dia meminta saya memberi tahu kalau ada jadwal KOIL manggung di Jakarta.

Beberapa jam sebelumnya, saya datang ke launching album Superglad di Mario’s Place, Cikini. Mereka merilis album “Flamboyan,” dan menumpang—begitu Buluk menyebutnya—di acara launching gitar Radix. Buluk adalah salah satu gitaris yang di-endorse Radix. “Padahal, gue nge-lead aja nggak bisa,” kata dia sambil tertawa.

Gitar ini dulu bernama Marlique—saya tak yakin pengejaannya benar. Makanya, di bagian awal foto ini, kamu akan melihat foto-foto dari event tersebut.

Kembali ke Hard Rock. Penjualan tiket baru dimulai ketika pintu Hard Rock baru dibuka untuk umum.

“Yang mau beli tiket, ke sini!” kata petugas keamanan, dengan nada tinggi. Entah karena pada dasarnya dia memang tegas. Entah itu merupakan salah satu upaya menunjukkan wibawa atau kekuasaan dia sebagai petugas keamanan yang berbadan tegap.

Seingat saya, tiket dijual lima puluh ribu rupiah. Tapi, beberapa orang mengatakan kalau mereka membeli tiket tujuh puluh ribu per lembar, malam itu. Padahal, itu tiket resmi.

Wajah-wajah dua puluh dan tiga puluh something cukup dominan malam itu. Jumlah ABG tanggung para pencari jati diri tak terlihat cukup signifikan. Entah karena lokasinya. Entah karena harga tiketnya. Entah karena waktu penyelenggaraannya.

Beberapa menit lebih dari jam sembilan, acara belum juga dimulai. Di area depan panggung, masih ada orang-orang yang makan malam di meja-meja yang ada di sana. Mungkin itu alasan keterlambatan acara.

Saya lupa tepatnya, jam berapa acara dimulai. Sekira jam setengah sepuluh malam, mungkin. Jhody menjadi MC. Saya selalu bingung setiap kali mendeskripsikan Jhody. Jhody mana? Disebut Jhody Edwin-Jhody, rasanya mereka sudah jarang terlihat berduet lagi di teve. Disebut Jhody Super Bejo, entah ke mana pula band itu.

Setting panggung Hard Rock jadi jauh lebih menarik malam itu. Sepanjang sejarah saya melihat pertunjukkan musik di sana, baru pertunjukkan KOIL, panggungnya dihias dengan maksimal. Art work Black Light Shines On berukuran raksasa menjadi latar belakang. Menutupi seluruh dinding di belakang panggung. Menutupi wajah-wajah rockstars yang sudah mati yang digambar di dinding itu. Di sebelah kanan dan kiri drum kit, dihiasi dengan tumpukan televisi. Beberapa televisi juga dideretkan di depan drum kit.

Pertunjukkan belum dimulai, tapi penonton sudah disuguhkan oleh pemandangan yang indah.

Zeke and The Popo jadi pembuka. Disingkat ZATPP. Kenapa tak disingikat ZATP ya? Padahal, kata Popo ditulis disambung, bukan Po Po. Mereka hanya bermain setengah jam. Membawakan lagu-lagu dari album perdana mereka, dan satu lagu dari The Beatles, “Come Together.” Di lagu terakhir ini, Zeke mengeluarkan seluruh penghayatan yang bisa dia lakukan dalam bernyanyi. Saya baru melihat mereka dua kali. Tapi, baru kali ini, saya melihat Zeke bernyanyi seperti itu. Entah karena pengaruh lagu. Entah karena baru kali itu saya melihat mereka membawakan lagu The Beatles. Zeke memeluk mik di dada, seperti halnya gaya penyanyi yang penuh penghayatan. Memejamkan mata. Membungkuk. Dan dia terjatuh. Leher botol air mineral yang dipegangnya sambil bernyanyi, pecah. Gelas pecahannya berhamburan ke meja yang ada di depan panggung.

Penonton masih belum panas. Aksi itu belum mendapat reaksi yang signifikan dari penonton. Atau, reaksi itu luput dari pengamatan saya ya? Yang jelas, area depan panggung masih agak lengang. Masih leluasa memotret.

Ketika Ronaldisko muncul, area mulai padat. Mungkin karena dia membawakan lagu-lagu yang danceable dari Depeche Mode dan lagu miliknya sendiri, penonton lebih mudah mengaplikasikan kesenangannya itu lewat gerakan.

“Gue bukan pelawak, gue musisi. Malam ini gue mau nyanyi. Kalau ngelawak mah, bayarannya lebih mahal,” kata Ronaldisko, mencoba sedikit bercanda.

Biarpun orang lebih dulu mengenal sosok Ronal sebagai humoris, tak ada jejak humor di musiknya. Liriknya lebih banyak bercerita soal pria penuh percaya diri, yang dicintai banyak perempuan. Musik bernuansa 80s yang digarapnya, bahkan terdengar lebih serius dibanding musiknya Club Eighties. Belum istimewa, tapi musik Ronaldisko akan cukup menghibur di lantai dansa buat orang-orang yang sudah bukan remaja.

Tapi, yang paling menarik perhatian malam itu, agaknya kehadiran dua penari dengan tubuh kurus dan perut rata serta berpakaian minim sekali. Strategi yang cukup jitu. Setidaknya, orang [eh maksud saya, lelaki] yang tak suka penampilan Ronaldisko bakal terhibur dengan dua penari itu. Di satu sisi, memang sedikit menunjukkan ketakpercayadirian. Untung saja, Ronaldisko bisa mengakuinya dengan jujur di panggung.

“Kalau udah rilis albumnya sih, gue bakal nentuin pemain band tetapnya siapa, penarinya siapa,” kata Ronal beberapa saat sebelum manggung. Malam itu, dia ditemani DJ Aghi dari Ape On The Roof.

***

Sekali lagi, saya lupa tepatnya kapan acara dimulai. Saya tak punya jam tangan. Lagipula, saya malas untuk menanyakan waktu pada orang. HP saya, ada di dalam tas. Terlalu repot untuk mengambilnya. Jadi, biarlah. Kamu tak perlu tahu kapan tepatnya KOIL naik panggung. Nanti saya kasih tahu saja, kapan pertunjukkan berakhir.

Leon yang pertama kali muncul di panggung. Memakai terusan semacam baju pilot atau mekanik, dengan logo God Inc di beberapa tempat—mereka memang musisi/pengusaha yang tahu benar memanfaatkan media promosi. Penonton bersorak. Leon membawa beberapa tangkai bunga mawar. Membagi-bagikannya pada penonton, yang semakin bersorak setelah melihat aksi bagi-bagi bunga itu.

KOIL senang sekali menabrakkan dua hal yang berlawanan. Membagi-bagikan bunga adalah perbuatan manis dan romantis. Padahal, di satu sisi, imej gelap menyelimuti mereka. Penampilan fisik mereka di panggung, terlihat sangar. Semuanya memakai sepatu new rock. Di ruangan artis, mereka membalurkan bedak merah di lengan dan wajah mereka. Mungkin untuk mendapatkan nuansa darah. Tapi, semua perkataan mereka malam itu, jauh dari kesan menakutkan.

“Selamat menikmati band lawak ini ya,” kata Leon setelah selesai membagikan bunga.

David Naif saja, tak ingin Naif disebut band lawak. Atau, Leon berkata begitu untuk mendapatkan efek psikologis terbalik? Ah gawat, saya sudah terlalu serius menanggapinya.

“Beri gue waktu buat masuk ke belakang sana ya,” kata Leon lagi. Panggung memang terlihat sempit, dengan tumpukan televisi di kanan kiri drum kit. Apalagi dengan badan sebesar Leon, pastinya akan jadi lebih sempit.

Tak berapa lama, satu persatu personel KOIL muncul. Dan mereka pun membawakan intro. Otong menyusul kemudian, ketika bagian di mana dia harus bernyanyi tiba. Penonton semakin riuh. Area depan panggung makin padat. Butuh tenaga ekstra untuk memotret. Dari lagu pertama—yang maaf saya lupa—mereka sudah bernyanyi bersama.

Masih banyak cara untuk mencari uang!
Masih banyak cara untuk bersenang-senang!
Hey hey hey hey!

atau

Pasti ada cara untuk mencari uang
Pasti ada cara untuk bersenang-senang?

Hehe. Saya lupa. Yang jelas, bait pertama itu, saya kutip dari promo konser mereka di multiply.

Dan “Nyanyikan Lagu Perang,” salah satu lagu favorit saya di album “Black Light Shines On” pun dinyanyikan di urutan kedua.

Liriknya positif. Setiap kali saya khawatir tak bisa mencari uang, lirik itu selalu bisa jadi motivator. Banyak pesan positif di album ini. Kalau indie pop, menawarkan nuansa positif dengan cara lembut dan nuansa taman bunga, KOIL menawarkan nuansa positif dengan lebih jantan. Dengan distorsi. Dengan berteriak.

Ini satu hal lagi di mana KOIL senang menabrakkan dua hal yang berlawanan. Imej gelap, biasanya identik dengan negatif. Lihat saja judulnya, Black Light. Secara logika bahasa, ‘hitam’ dan ‘cahaya’ adalah dua hal yang berlawanan. Hitam biasanya kondisi tak ada cahaya. Mungkin, KOIL ingin memberikan pencerahan untuk orang-orang, biarpun dengan memakai imej kegelapan. Hahaha. Dan saya pun semakin serius memikirkannya. Padahal, di salah satu tulisan Ryan Koesuma, dia bilang kalau Otong tak ingin orang terlalu serius menanggapi liriknya.

Malam itu, Otong bernyanyi sambil menari dengan kadang sedikit gaya robotik kadang sedikit bergaya gorila . Dia mengumbar banyak senyum. Beberapa kali mengatakan dirinya ganteng. Bahkan, bintang sinetron pun sepertinya tak seberani itu dalam menyebut dirinya ganteng di depan umum. Walaupun agak susah juga untuk mendebat kalau Otong tidak ganteng.

“Tadi gue ngelihat ada vokalis yang nggak terkenal, pokoknya hidupnya susah lah. Ada di atas tadi. Turun dong!” kira-kira begitu kata Otong ketika ingin memanggil Ari Lasso, di tengah-tengah set mereka.

Tapi, Ari Lasso tak juga datang.

Sementara itu, di depan panggung, penonton semakin menggila. Tapi tetap rapi. Hanya satu bule rese sedikit mengganggu suasana. Saya tak perlu menyebut namanya. Yang jelas, sejak jaman di Parc, dia memang selalu rese setiap mabuk. Malam itu, dia melempar gelas besar ke arah panggung, hingga pecah. Entah bagaimana perasaan Otong melihat kelakuan bule rese itu. Yang jelas, saya sedikit terganggu. Rusuh dia membahayakan orang lain. Beberapa menit setelah pelemparan gelas itu, kening saya terlempar pecahan gelas. Untung yang terkena kening, bagian yang tak tajam.

Saya marah. Kesal. Mengganggu konsentrasi saja. Padahal, saya harus membagi konsentrasi saya jadi dua. Untuk memotret sekaligus menjaga kamera, dan untuk menikmati pertunjukkan. Untung saja, hujan kertas meneduhkan hati yang penuh amarah. Benar-benar indah. Penuh aura positif. Jauh lebih positif dari konser indie pop manapun yang pernah saya saksikan di sini.

“Jangan nyanyi terus dong. Gue kan mau nyanyi. Kalau kalian mau nyanyi mah, karaokean aja,” kata Otong. Wajahnya penuh senyum. Saya yakin, dia tak bersungguh-sungguh ketika menyuruh penonton untuk tak bernyanyi bersama.

Sebagai vokalis, Otong sangat komunikatif. Membuat set panjang mereka terasa pendek. “Kami mau udahan dulu ya. Ceritanya biar ada encore gitu, padahal mau istirahat bentar. Ya kalian ngerti lah,” katanya, ketika mereka akan berganti kostum.

Penonton tersenyum. Otong tersenyum. Ini adalah salah satu konser rock paling penuh senyum. Biarpun para musisi di atas panggung memakai sepatu berduri, dengan lengan dan wajah berwarna merah, dan logo Jack Daniels terpampang, konser itu penuh kehangatan. Tapi, masih tetap terasa wibawa rock-nya. Aura maskulinitas-nya masih ada. Ini tetap penting dalam konser rock. Tapi, KOIL membuat penonton merasa nyaman.

Dua atau tiga lagu terakhir, Ari Lasso tiba-tiba ada di depan panggung. Berteriak-teriak memanggil Otong yang sedang duduk, membiarkan kawan-kawannya memainkan musik. Ari memberi Otong minuman. Ari ikut memegang mik Otong. Seperti halnya para penonton yang ingin ikut ambil bagian dalam konser. Mereka terlihat hangat sekali ketika berduet. Bahkan sepertinya lebih mesra dibandingkan duet Ari Lasso – Bunga Citra Lestari. Tak puas dengan duet ala penonton dan idola, Ari Lasso naik ke panggung. Menyanyikan beberapa bait, kemudian turun lagi. Wajah Ari Lasso berbinar. Dia menyanyi penuh semangat.

Sekira jam satu lebih lima belas menit, pertunjukkan berakhir. Nyaris dua jam mereka bermain. Set panjang yang terasa pendek. Tidak berlebih. Tidak juga kurang.

“Nggak salah ya, gue milih idola,” kata Gucap tersenyum puas. Dia memakai kaos Megaloblast dan sepatu New Rock. Dan dia juga [pernah jadi] arsitek.

Berhenti di Margo City

Saya tak paham banyak soal scene skateboard lokal, tapi yang saya tahu, skate park termasuk barang langka.

Kalau Iwan Fals di lagu “Mereka Ada di Jalan” bilang, anak kota tak punya tanah lapang, maka sekarang, sepertinya anak kota juga tak punya skate park. Sebagai orang awam, yang saya tahu, skate park di Jakarta yang lokasinya relatif mudah dijangkau adalah skate park Kemang, yang sekarang berubah jadi Kemang Food Fest. Mungkin dijadikan tempat jajanan lebih menguntungkan secara finansial. Di Bandung pun, skate park Taman Lalu Lintas sudah hilang. Yang saya tahu, di Buqiet memang ada skate park. Tapi, lokasinya relatif jauh dari pusat kota.

Begitu pula, skate park yang saya datangi, Minggu [11/5] siang kemarin, di Margo City, Depok. Memang, dari Jakarta Selatan lokasinya tak terlalu jauh. Hanya sekira empat puluh menit perjalanan dari kawasan TB Simatupang. Tapi, tetap saja, karena lokasinya termasuk kawasan Depok, secara psikologis itu jadi terasa jauh. Sejak masih jadi siswa SMP di Cibinong, mendengar nama Depok yang terbayang adalah perjalanan yang cukup jauh dengan bis kota. Ternyata, kesan jauh itu masih saja melekat di benak saya. Selain tentu saja, kesan Kota Satelit, Kota Administratif dan entah sebutan apa lagi yang ada buat Depok.

Mungkin, satu lagi sebutan buat Depok, adalah Kota Spanduk. Pendatang dari arah Jakarta, akan disambut dengan banyak spanduk di kanan kiri jalan. Promo acara. Iklan produk, hingga Iklan Layanan Masyarakat semua menghiasi kanan kiri jalan. Dinas Pendapatan Daerahnya, pasti punya pemasukan yang cukup besar dari spanduk dan billboard.

Ada satu spanduk yang tak penting dan seperti menyia-nyiakan uang saja. Spanduk atas nama Suzuki dan entah Polda entah Ditlantas.

“Siapapun Bisa Celaka, Kalau Tidak Hati-hati!”

Oke. Apa maksudnya ya? Itu sama saja mengatakan, “Siapapun Bisa Basah, Jika Terkena Air Hujan.”

Saya melihat spanduk itu di beberapa titik ketika menuju Margo City–yang terletak hanya sekira sepuluh menit dari gerbang Depok. Kota itu sepertinya membutuhkan copy writer yang baik.

***

Saya tak tahu, bagaimana pendapat mereka yang memang bermain skate board soal skate park Margo City. Tapi, kesan pertama saya datang ke sana, tempat itu panas! Skate park-nya ada tepat di depan Margo City. Tak ada pepohonan di sana. Mungkin karena saya datang tengah hari, matahari terasa lebih terik. Walau begitu, saya cukup takjub, mengetahui pengelola pusat perbelanjaan mau memberikan sebagian halamannya untuk skate park.

Volcom menggelar Volcom Stone’s Wild In The Park, hari itu. Kompetisi skate board ini selalu diramaikan band. Dan ada dua nama, yang biasanya selalu jadi bintang tamu; Shaggy Dog dan Rocket Rockers. Dan hari itu, ditambah Seringai. Volcom meng-endorse mereka.

Saya kurang tahu, sekarang ini, Volcom aktif meng-endorse band mana lagi. Yang jelas, tiga nama itu yang paling identik dengan Volcom. Dirasa cocok dengan slogan “Youth Against Establishment” versi Volcom.

Bisa jadi, endorsement adalah salah satu hal positif dari punya band. Yah, minimal urusan remeh temeh macam membeli kaos kaki, celana, atau kaos sudah teratasi. Apalagi jika di-endorse produk macam Volcom, yang kisaran harganya di atas rata-rata produk lokal. Mendapat persediaan barang-barang seperti itu tiap bulan, tentunya merupakan hal yang menyenangkan.

Walaupun, ada beberapa endorsement yang malah membuat band terlihat menggelikan. Kalau diperhatikan, tipikal pop band mainstream, pasti memakai clothing line lokal. Dari satu band, kadang ada satu clothing line untuk satu personel. Kalau desainnya bagus sih, tak apa-apa. Tapi, sering kali, desain kaos mereka tak bagus, akhirnya membuat penampilan band itu semakin tak menarik.

Pas Band dengan merk Skater, bisa jadi contoh. Mereka adalah billboard berjalan dari Skater. Saya tak tahu sejak kapan mereka di-endorse Skater. Yang jelas, imej Pas Band sekarang identik dengan Skater. Hanya Trisno yang masih bisa lumayan memertahankan karakter pribadinya. Agaknya, kabar yang mengatakan Skater membayar mereka per bulan agar mau memakai pakaian merk Skater terus adalah benar adanya. Yah, sepertinya jumlah uangnya cukup menggiurkan hingga mereka mau terus melakukannya.

Entah mana yang lebih diuntungkan, produk atau band yang di-endorse. Saya juga penasaran dengan seberapa signifikan pengaruhnya terhdapa penjualan. Saya pernah mendengar kabar kalau yang memakainya Ariel Peterpan, pengaruhnya cukup signifikan. Kaos yang dipakai Ariel di teve, konon besoknya langsung diburu pembeli. Awalnya, saya tak percaya dengan kabar kalau musisi macam Ariel, bisa datang ke toko kapanpun dia mau, dan mengambil kaos manapun yang dia suka. Tapi, satu waktu, saya pernah menemani Bams SamsonS ke distro-distro di Bandung. Ternyata kabar itu benar adanya. Semua distro merelakan Bams mengambil pakaian manapun yang dia inginkan. For free! Padahal, dari semua orang yang datang ke distro hari itu, harusnya Bams termasuk yang tak punya persoalan finansial dalam membeli produk mereka.

Sepertinya, semua toko itu menganggap, kalau produk mereka dipakai Bams akan punya pengaruh signifikan terhadap penjualan.

Nah, untuk produk mahal macam Volcom, saya tak tahu bagaimana pengaruhnya terhadap penjualan. Kalau kita ambil contoh event hari Minggu itu saja, dari sekian ratus remaja yang datang, berapa persen yang akhirnya membeli produk Volcom asli, yang nota bene harganya beberapa kali lipat dibanding produk lokal? Jangankan memberi produk Volcom yang mahal, membeli kaos Seringai asli saja, sebagian dari mereka enggan melakukannya. Atau mungkin, itu target jangka panjang Volcom.

Yang membuat saya penasaran lagi, adalah apakah ada fans berat Arian, yang kemudian akhirnya memakai produk Volcom? Pasalnya, Arian sudah di-endorse oleh Volcom sejak masih di Puppen. Lamanya hubungan asmara antara Arian dengan Volcom, sampai saat ini, rasanya masih belum bisa dikalahkan oleh hubungan asmara Arian dengan perempuan manapun. Hehe.

Ah, seandainya ada endorsement untuk jurnalis, pasti akan menyenangkan sekali. Apalagi, untuk seorang cheap bastard seperti saya. :p

Private Party di Sin City

“Bebaskan Ahmad Albaaar!” teriak Andy /rif sekira jam sebelas malam sesaat sebelum lagu “Kehidupan” dinyanyikan.

Tak hanya Andy, tapi Kikan, Trison, Armand dan entah siapa dua orang lagi saya tak kenal, ikut menyanyikan lagu itu. Mereka bermain atas nama Erwin Gutawa Rockestra.

Lagu itu, jadi penutup Rolling Stone Private Party yang ke-tiga, Senin [5/5] malam kemarin. Di ulang tahun yang pertama, lagu itu dibawakan oleh sang legenda sendiri, God Bless. Tapi, malam itu, hanya Ian Antono yang datang. Ahmad Albar, rasanya hampir semua orang tahu dia ada di mana saat ini.

Ada perubahan signifikan dari private party kali ini. Suasana terasa lebih megah. Lebih terasa pesta-nya. Mereka memilih Sin City sebagai tema pesta malam itu. Makanya, di beberapa sudut, terdapat meja judi. Ada black jack, baccarat, hingga permainan sederhana macam lempar dart. Hadiahnya; CD. Karpet merah sudah menyambut undangan sejak dari luar halaman pagar kantor mereka. Seperti juga tahun lalu, pesta ini menimbulkan kemacetan di jalan Ampera.

Dinding halaman belakang tempat pesta itu digelar, dihiasi beberapa neon sign sponsor. Bahkan, judul pesta malam itu, diberi embel-embel persembahan A Mild Live Production segala.

Hanya, jumlah orang yang datang sepertinya lebih sedikit dibanding tahun lalu. Buktinya, di pesta kali ini, saya bisa bergerak dengan bebas. Mengambil makanan di belakang, bergerak lagi ke depan, memotret di depan panggung, lalu keliling-keliling halaman itu. Tahun lalu, bolak-balik seperti itu, harus sedikit membuat orang kesal. Entah memang jumlah orang yang datang benar-benar berkurang. Entah penyebarannya jadi lebih baik, sehingga tak ada penumpukan orang di sana. Dan malam itu, tak ada penduduk lokal berderet, duduk di atas tembok belakang, ikut menyaksikan pesta. Entah karena temboknya sudah dibuat lebih tinggi. Entah mereka tak berminat. Hanya beberapa orang terlihat di atas genteng.

Pesta itu masih dihiasi dengan acara pemberian Editor’s Choice Award. Kalau mau tahu lebih detil soal ini, silakan baca saja majalahnya. Salah satu orang yang merasa sangat dihargai dengan mendapat penghargaan ini, adalah Krisna J Sadrach. “Baru kali ini, gue dapet penghargaan dan nerima sendiri. Biasanya, gue nggak dateng. Tapi, majalah Rolling Stone adalah majalah yang punya sikap! Sama seperti gue,” kata Krisna, yang mendapat penghargaan sebagai The Sell Out Producer.

Adib Hidayat memakai kaos Sucker Head ketika memberikan tropinya. Mungkin sebagai simbol berharap Krisna kembali ke jalan yang benar. Membawakan musik metal.

Sarah Sechan masih jadi MC. Tiga tahun berturut-turut. Malam itu, dia berpasangan dengan Ronaldisko alias Ronal Extravaganza, alias Mbe [begitu saya mengenalnya waktu di kampus]. Sarah masih saja menarik, biarpun sudah tua. Ah, saya jadi ingat waktu pertama kali saya menaruh perhatian pada sosok Sarah Sechan. Adalah video klip Rita Effendi, yang berlatar belakang cerita tentang kelasi dan gadis di sebuah kapal laut. Dulu, setiap ada video klip itu, saya pasti langsung bahagia. Hahaha.

Ah, jadi melantur.

Kembali ke pesta. Erwin Gutawa Rockestra cukup menarik malam itu. Saya pada dasarnya, tak terlalu suka Erwin Gutawa. Dia adalah orang yang mengacak-acak album Badai Pasti Berlalu. Hehe. Itu sebabnya, saya tak suka.

Malam itu, Erwin mengajak musisi-musisi muda. Para pemain string-nya, perempuan muda yang dari jauh terlihat cukup menarik. Gitaris dan drummernya, terlihat jauh sekali umurnya dengan Erwin. Hanya bassist dan para vokalisnya saja yang terlihat dihiasi wajah-wajah yang tak asing lagi bagi scene musik mainstream.

Crowd menyambut dingin hampir semua penampil malam itu. Hanya pada lagu “Sempurna” milik Andra & The Backbone saja, mereka terdengar antusias. Pada The S.I.G.I.T. dan Efek Rumah Kaca, sebagian besar crowd hanya mematung. Entah terpukau karena baru pertama kali melihat dua band itu. Entah tak mengerti. Walaupun, beberapa dari crowd terdengar berteriak ketika dua nama itu disebutkan.

“Salah satu yang bikin gue seneng malam ini, adalah karena gue bisa melihat langsung penampilan dua band yang udah setahun ini gue dengerin di i Pod gue; The S.I.G.I.T. dan Efek Rumah Kaca. Makanya, buat malam ini, gue nggak akan nyanyiin lagu cinta!” kata Armand Maulana ketika dia baru muncul di panggung bersama Rockestra.

“Makanya Mand, besok-besok, nggak usah bikin lagu cinta lagi dong!” kata saya kepada Armand, setelah pesta itu usai. Armand dan Efek Rumah Kaca saling bertemu malam itu.

“Kalau GIGI, bikin lagu non cintanya, kan lewat lagu religi,” jawab Armand sambil tersenyum.

Anak-anak Efek Rumah Kaca membalas senyuman Armand. Dan Armand pun bicara cukup banyak soal musik dengan mereka.

Sekira jam sebelas malam, halaman belakang itu sudah lengang. Bagi sebagian besar orang, pesta sudah usai. Tapi, bagi beberapa orang, pesta baru mau menuju klimaks. Di area artis, Trison dan Kikan jadi bintang tamunya. Dua orang itu, sibuk diajak berfoto bareng. Mereka dipuja, sekaligus sedikit dipermainkan sebenarnya.

“Flower Widow! Flower widow!” kata James ketika sejumlah orang akhirnya mengerumuni Kikan dan berfoto bareng.

Trison hanya bisa cengengesan ketika berkali-kali, orang-orang—mulai dari Konde Samsons, Arian 13, Ricky Siahaan, hingga Saleh bin Husein—menyalaminya. Meminta foto bareng. Memuji-muji. Arian bahkan melakukan gerakan solat di depan Trison.

“Trison Roxx ya! Jangan sebut-sebut EdanE,” kata orang yang saya tak kenal namanya, tapi selalu ingin ikut difoto, malam itu. Dia merangkul Trison, yang masih cengengesan.

Trison selalu tak bagus dalam memilih pakaian. Malam itu, dia memakai kaos Misfits, yang dipadukan dengan rompi berbahan katun. Beberapa tahun lalu, saya selalu melihat Trison manggung dengan kaos hitam bergambar wajah gorilla. Walaupun jadinya, Trison masih tak apa-apa jika dibandingkan kemeja transparan jarring-jaring yang dipake Andy /rif dan celana panjang kulit dengan tulisan skull holic.

Dan jika dihubungkan dengan tema malam itu, Sin City, maka Andy /rif adalah salah satu orang paling berdosa malam itu, karena mengenakan kemeja panjang transparan berjaring yang so gay dan akan mengekspos putingnya.

Attitude band café rupanya masih mengalir deras di darahnya.

Apa yang Ingin Kamu Tanyakan kepada Seringai?

Jika kamu punya kesempatan mewawancarai mereka.

Rabu [30/4] kemarin, saya ikut Seringai tur wawancara di tiga radio di Bandung; 99ers, OZ Radio, dan Auto Radio. Mereka sedang promo single ke-dua, “Mengadili Persepsi [Bermain Tuhan].” Di 99ers, seperti biasa, selalu meriah. Waktu mereka wawancara untuk kali pertamanya di sana, acara berlangsung meriah juga. Para penyiarnya bisa membuat suasana menyenangkan. Meskipun mereka sepertinya tak banyak tahu soal Seringai, tapi para penyiar itu bisa membuat obrolan berjalan seru. Pada dasarnya, Seringai memang tipe orang-orang yang senang berbicara. Dipancing sedikit saja, mereka akan menjawab. Kadang panjang lebar. Kadang dibumbui dengan sedikit tipu-tipu. Jawaban-jawaban yang akan membuat senang produser siaran lah. Apalagi untuk program AGOGO di 99ers, jam lima sore itu. Saya lupa akronim dari apa. Yang jelas, ada kata GOKIL di sana.

“Nah, produser. Buat acara AGOGO, ajak artis yang kayak gini dong! Seru. Jangan kayak kemaren, gue disuruh wawancara Bank!” kata penyiar perempuan, yang wajahnya mirip Manik Laluna.

Pertanyaan-pertanyaannya sih standar. Soal judul album Serigala Militia, soal jarak dari ep ke album perdana, soal pekerjaan harian para personel, soal susahnya acara di Bandung dan soal Arian dan Puppen. Tapi, penyiar-penyiar yang banci ngomong dan seringkali mendominasi pembicaraan itu, bisa memancing jawaban-jawaban yang membuat acara jadi meriah.

Auto Radio juga begitu. Penyiarnya cukup bisa membawakan acara dengan meriah. Walaupun masih ada pertanyaan-pertanyaan yang serupa dengan 99ers. Hanya, penyiar Auto Radio sedikit lebih serius dengan penyiar 99ers.

Ketika Khemod bercerita soal pengalaman paling kocak dalam sejarah manggung Seringai, dua penyiar itu menanggapinya dengan berbeda.

“Waktu kami manggung di pensi yang diadain di Kuningan, pager jebol. Ketika Seringai manggung, 50 penonton naik ke panggung. Eh, 50 polisi juga ada di panggung. Jadi, total ada 104 orang di panggung! Bahkan, ada yang mijetin gue segala!” Khemod tertawa.

Penyiar 99ers terbahak-bahak.
Penyiar Auto Radio, hanya diam. “Panggungnya kuat ya?” dia lanjut bertanya.

Sebelum Auto Radio, jam delapan malam, OZ Radio yang dapat giliran wawancara. Tapi, tidak di studio mereka. Melainkan di studio musik Warehouse di kawasan ruko Setrasari. Studio milik OZ juga. Awalnya dibuka untuk umum. Belakangan hanya dipakai untuk kepentingan OZ. Seringai bermain live.

Waktu Joni dan Dawo meminta bantuan operator studio, awalnya si operator ogah-ogahan. Bahkan, setelan mixer yang sudah diatur Joni, diubah lagi oleh operator. Tapi, ketika akhirnya si operator tahu bahwa band yang akan bermain malam itu adalah Seringai, sikapnya langsung berubah. Joni dibiarkan di mixer, tanpa diganggu. Dan ketika Dawo meminta bantuan pun, si operator langsung sigap.

Malam itu, dua program digabung jadi satu. Monday Mess dan Sub Stereo. Konsep Monday Mess, hanya memutar lagu-lagu luar. Sedangkan Sub Stereo, juga mewawancarai band lokal.

Tiga ikon lokal membawakan acara malam itu; Anto Arif, gitaris/vokalis 70’s Orgasm Club, Rekti, gitaris/vokalis The S.I.G.I.T. dan Ariel, vokalis Vincent Vega. Semuanya punya reputasi yang baik di scene independent. Handal di bidangnya. Anto dan Rekti cukup akrab dengan dunia jurnalistik, karena aktif di Ripple. El, saya pernah membaca bahwa dia bisa bete jika diwawancara oleh orang yang tak bisa memberikan pertanyaan-pertanyaan yang bagus. Intinya, ketiga host malam itu, harusnya tahu benar bagaimana sebuah wawancara yang bagus. Yah, setidaknya, mereka sering menjadi obyek wawancara. Menghadapi pertanyaan dari jurnalis. Harusnya, bisa tahu wawancara seperti apa yang menurut mereka bagus dan menyenangkan buat sebuah kelompok musik.

Jadi, harapan saya kepada tiga host itu cukup tinggi. Apalagi, ini momen langka. Tiga frontman band yang disegani, mewawancara Seringai. Seringkali, musisi mengeluhkan jurnalis yang tak tahu soal musik atau tak mau riset mewawancarai mereka, membuat wawancara berjalan nyaris membosankan. Nah, ketika musisi mewawancarai musisi, agaknya wajar kalau saya berharap tinggi.

Arian, melakukan kesalahan dalam sesi wawancara itu. Saya lupa pertanyaannya apa, seingat saya dia menjawabnya dengan, “Karena kami the now generation!” Padahal, the now generation adalah slogannya Trax FM.

Tapi, secara keseluruhan, malam itu harapan saya tak bisa terpenuhi dengan baik.

Untuk masuk kategori wawancara ancur-ancuran dengan pertanyaan-pertanyaan sembarangan tapi tetap membuat obrolan menarik, tidak juga. Masuk kategori wawancara serius antara orang yang paham musik, tidak juga. Seingat saya, obrolannya hanya soal akhirnya manggung lagi di Bandung, setelah launching waktu itu, soal mengenalkan mereka sebagai bintang tamu, memberi kuis pada pendengar, dan ditutup dengan pertanyaan singkat soal beberapa nama atau kata untuk tiap personel.

Padahal, Ant, Rekti dan El bukan orang yang awam Seringai. Hubungan Anto dan Khemod, adalah anak kos dan bapak kos. Ibu Rekti dan ibu Arian, ternyata berteman. Dan tiga host itu, adalah orang-orang pintar dan musisi yang tak bisa diremehkan. Seharusnya, bisa memberikan pertanyaan-pertanyaan dari sudut pandang yang bisa berbeda dengan sudut pandang penyiar radio lainnya. Padahal, wawancara Anto di Ripple biasanya menarik.

Tapi, malam itu, mereka lebih banyak cengengesan. Dan beberapa kali terjadi keheningan. Untung saja, ada sesi bermain live. Jadi lebih menarik. Walaupun di salah satu lagu, Khemod salah memainkan intro.

Oke, saya tahu, wawancara radio itu sulit. Tak bisa seperti wawancara cetak, yang bisa diedit kemudian. Tapi, setidaknya di benak saya, mereka bisa memberikan pertanyaan-pertanyaan yang tak terduga.

Ada banyak spekulasi ketika saya bahas hal ini dalam perjalanan menuju Auto Radio. Mungkin karena mereka basic-nya bukan penyiar, jadi belum bisa membawakan acara dengan baik. Baru bagus dalam menyiarkan playlist saja. Mungkin karena suasananya di studio. Mungkin karena produsernya tak bisa mengarahkan. Mungkin konsep acaranya memang seperti itu. Dibiarkan begitu saja, tanpa harus ada yang diambil dari wawancaranya. Mungkin mereka grogi menghadapi Seringai yang nota bene lebih tua dan kadang reputasinya mendahului mereka. Syafril dari Universal, mengatakan kalau bukti mereka grogi adalah ketika hendak memberi pertanyaan terakhir, mereka sibuk membolak-balik buku catatan. Mungkin juga, karena mereka sudah tahu banyak soal Seringai, jadi tak penasaran lagi.

Waktu mereka datang ke Sub Stereo versi OZ Jakarta beberapa bulan lalu juga kurang lebih mengecewakan saya. Padahal, host-nya ada dalam tingkat umur yang sama; David Tarigan, Alvin Teenage dan Sogi Extravaganza. Apalagi, waktu itu Seringai diminta memainkan lagu-lagu orang. Saya kira, mereka akan menggali soal kenapa Seringai memilih lagu itu, dan bicara lebih lanjut soal influence musik mereka. Tapi, tiga host itu juga tak mampu membuat acara jadi meriah.

Atau, memang Sub Stereo seperti itu ya? Saya tak kompeten untuk menilainya memang. Saya tak pernah mendengarkan siaran Sub Stereo, baik di Bandung maupun yang di Jakarta. Bahkan, Sub Stereo versi Alvin Helvi dan Dido pun saya belum pernah mendengarnya. Konon, acara itu mendapat reaksi positif. Tapi, intinya, dua Sub Stereo, sedikit mengecewakan saya.

“Padahal, kalau gue jadi pewawancara Seringai, banyak banget yang bisa digali ya. Kayak misalnya gini, Sam, elu sebagai personel termuda di Seringai dan sudah menikah, gimana perasaanlu ngelihat temen-temenlu yang lebih tua malah belum nikah? Terus, buat Arian, ‘Dari satu sampe sepuluh, sudah berapa amarahlu mendapat pertanyaan soal Puppen?” kata Ricky.

Nah sekarang, kalau kamu mewawancarai Seringai, apa yang ingin kamu tanyakan kepada mereka?

Lutut Bergetar di Gedung Miring

Saya sempat agak ketakutan juga, ketika datang ke Sarinah, Sabtu [19/4] malam lalu ke acara A Different Saturday di Stardust.

Kabarnya, Gedung yang diresmikan Soekarno itu, miring lima derajat jika dilihat dari ATM. Wakwaw. Biarpun mungkin belum berbahaya, tetap saja, mendengar fakta bahwa gedung bertingkat yang sudah puluhan tahun itu sekarang miring, cukup membuat waswas. Apalagi, saya takut ketinggian.

Dan sisi paranoid saya yang berlebihan, semakin waswas ketika membayangkan bahwa ada puluhan orang malam itu, yang berjingkrakan di lantai 14. Siapa tahu, itu berpengaruh terhadap kemiringan gedung.

“Elu nggak mau kan, mati pas nonton Seringai?” kata vokalis Fall yang saya tak tahu namanya itu, ketika mereka merampungan penampilannya.

Sebelum Fall, Killed By Butterfly, Whisper Desire, The Authentics dan ah satu lagi saya lupa band apa, tampil. Lantai dansa tak terlalu penuh ketika mereka tampil. Berbeda ketika Seringai akhirnya naik ke panggung.

Saya, yang tak pernah berolahraga merasakan dampak negatifnya, malam itu. Sekira jam sepuluh malam, Seringai memulai penampilannya. Crowd menggila. Merangsek ke mulut panggung. Membuat siapapun atau apapun yang ada di depannya terdorong. Bahkan monitor pun harus ditahan supaya tak terdorong.

Karena menahan dorongan penonton, otot paha saya tegang. Kaget. Syok. Terkejut. Tertarik. Begitu saya pindah dari mulut panggung, ke atas panggung kemudian berjalan ke arah dekat drummer, lutut bergetar.

Terrr. Terrr. Terrrr.

Paha saya sakit. Lutut terus bergetar. Di dalam hati saya, terus bertanya. Apakah ini karena otot kaget, atau karena asam urat? Kalau saja malam itu, saya harus langsung berlari karena ada keadaan darurat, mungkin saya akan tertinggal karena lutut bergetar dan otot kaget.

Tapi, otot dan lutut para Serigala Militia tak bergetar. Sepanjang penampilan, mereka berjingkrak. Bernyanyi. Sepertinya sekarang lebih banyak suara yang bernyanyi mengikuti lagu-lagu Seringai. Mungkin mereka sudah hapal lagu-lagunya. Suasana konser yang akrab dan dekat dengan penonton memang selalu menyenangkan.

Apalagi, malam itu, saya melihat cukup banyak penonton perempuan. Rupanya, kini sudah cukup banyak perempuan yang merasa aman datang ke rock show.

Padahal, Seringai ingin membuat rock kembali mengancam.

Intimidasi Profesi

Ada dua profesi yang cukup mengintimidasi saya. Setidaknya, setiap datang ke tempat mereka bekerja, selalu membuat jantung berdebar. 

Dokter dan polisi. Buat saya, dua profesi ini paling menakutkan. Ironis, karena dua profesi pelayan public ini tugasnya memberi pertolongan. Tapi, buat saya, dua profesi ini yang—oke, bisa jadi ini hanya stereotype yang ada di kepala saya saja—yang paling arogan, dan paling ingin dihormati.

Mereka, biasanya, tak suka dipanggil dengan sebutan Mas, atau Mbak ketika bekerja. Apalagi kalau sedang memakai seragam mereka. Jubah putih, atau seragam coklat itu. Padahal, sering kali saya berhadapan dengan mereka yang umurnya terlihat sepantar atau di bawah saya. Pernah, saya harus berurusan dengan dokter, karena terlihat masih muda, setidaknya masih pertengahan 30-an, saya panggil dia dengan mbak, dia terlihat tak senang.

Coba saja, kamu datang ke bank, rasanya tak akan masalah memanggil petugasnya dengan sapaan mas atau mbak. Atau ke restoran. Atau ke pom bensin. Atau ke kantor pos. Atau ke bioskop. Pada dasarnya kan, mereka sama-sama memberikan pelayanan buat masyarakat.

Seragam. Itu punya efek intimidasi yang cukup kuat. Seakan-akan ingin membedakan mereka dengan masyarakat lainnya. Seakan-akan ingin menegaskan kalau status mereka lebih tinggi. Walaupun harus diakui, untuk mendapatkan seragam itu, perjuangan mereka sangat berat.

Tempat mereka bekerja. Datang ke rumah sakit atau ke kantor polisi untuk meminta bantuan mereka, sama-sama menegangkan buat saya. Rumah sakit, biasanya cukup intimidatif dengan baunya, peralatannya dan segala macam diagnosanya. Namanya saja sudah intimidatif. Rumah Sakit. Padahal, dalam bahasa Inggris, Hospital. Identik dengan hospitality. Terdengar lebih ramah. Kantor polisi apalagi. Desainnya kaku. Dan di situlah, salah satu tempat kamu bisa menemukan polisi dalam jumlah banyak. Wah, satu saja sudah bikin grogi, apalagi banyak. Belum lagi birokrasinya. Buat orang yang tak terbiasa berurusan dengan polisi, datang ke kantor mereka, cukup menegangkan.

Mau berobat deg-degan. Mau mengurus SIM atau STNK, juga deg-degan.

Apalagi kalau sudah berurusan dengan uang. Biasanya, semakin besar persoalan kita, uang yang dikeluarkan semakin besar pula. Semakin besar pertolongan yang harus mereka berikan, semakin besar pula biayanya.

***

Sabtu [12/4] kemarin, saya ke dokter gigi. Terakhir kali saya ke dokter gigi, sepertinya waktu masih SD. Entah kelas 1 atau kelas berapa, yang jelas belasan tahun lalu, waktu Michael Jackson masih hitam, waktu satu dollar Amerika masih seribu rupiah. Waktu itu, saya di-bor. Meninggalkan kesan yang begitu mendalam. Membuat saya tak mau datang lagi ke sana. Apalagi kemudian saya sering mendengar cerita orang-orang tentang suntikan di mulut yang harus mereka dapatkan kalau ke dokter gigi. Damn. Di suntik di lengan saja cukup mendebarkan, apalagi di mulut.

Tapi, sakit gigi saya beberapa hari lalu ternyata sudah cukup menyiksa. Biasanya, saya membiarkan saja. Dikumur-kumur pake sikat gigi, atau listerin, beberapa hari langsung sembuh. Tapi, ini tak kunjung sembuh juga. Akhirnya, saya beranikan diri untuk datang ke sana.

Karena kebetulan sedang ada di daerah Dago, saya datangi Apotek Kimia Farma, yang dekat dengan Bandung Indah Plaza. Kebetulan, ada praktek dokter gigi di sana, jam tujuh sampai sembilan malam.

“Tenang aja, kamu nggak bakalan disuntik kok,” Tetta berusaha menenangkan saya. “Malu atuh sama setelan. Masa’ pake jaket kulit, takut disuntik.”

Gigi makin nyut-nyutan. Dan sakitnya, sudah berpengaruh ke kepala dan leher. Membuat uring-uringan. Ya sudahlah. Mungkin ini saatnya saya mengunjungi dokter gigi, begitu pikir saya.

Maka, akhirnya, masuklah saya ke ruangan prakteknya. Dokter gigi, adalah salah satu dokter paling intimidatif. Dokter umum masih sedikit menenangkan. Ruangan dokter gigi, dihiasi banyak peralatan berwarna perak. Macam-macam bentuknya. Seperti di bengkel saja. Kecil-kecil, tapi bisa mengobrak-abrik mulut.

Dokter gigi itu menyuruh saya duduk di kursi pasien. Jadi teringat salah satu episode Mr. Bean, yang membuat dokter pingsan. Untuk satu detik, saya bisa tenang.

“Sakitnya di sebelah mana?” tanya dokter itu, nada suaranya nyaris berteriak.

“Di bawah sini dok,” kata saya, sambil menunjuk ke arah kiri gusi.

“Sebelumnya, udah pernah sakit?”

“Lupa dok. Kayaknya, biasanya sih, suka sakit, tapi saya biarin aja sembuh, nah kemaren nggak ilang-ilang,” saya menjawab dengan grogi.

“Udah berapa lama?”

“Tiga hari lah.”

“Sebelumnya, pernah sakit gigi kayak begitu?”

….

Saya berpikir sebentar.

“Waduh, lupa dok.”

“Iya, sebelum yang ini, pernah sakit nggak giginya?” dia terdengar memaksa.

“Nah itu, saya beneran lupa dok,” saya semakin grogi.

Dan dia menyuruh saya membuka mulut. Lalu memasukkan dua alat kecil berwarna perak itu, ke mulut saya. Lampu sorot diarahkan ke mulut saya. Menyilaukan. Saya terlentang tak berdaya. Dengan mulut menganga dan alat-alat kecil itu mengorek-ngorek mulut saya.

“Waduh Pak, ini giginya kok goyang begini ya?” kata dokter itu, sambil mengorek-ngorek gigi saya. “Kayaknya ada yang retak nih, harus difoto nanti ya.”

Waks. Retak. Dada saya makin berdebar. Situasi makin menegangkan. Lampu sorot masih menyinari wajah saya. Lantas, saya pegang erat-erat dudukan tangan di kursi pasien itu. Sekonyong-konyong, Bu Dokter memasukkan dua alat lagi. Resepsionis yang tadi menerima saya dan selalu ikut di dalam ruangan, ikut memasukkan alat.

Total ada tiga alat di mulut saya. Yang satu, terdengar seperti menghancurkan sesuatu di rongga mulut saya. Suaranya seperti suara alat pemasang mur. Ngiiiiiing. Ngiiiiing. Ngiiiing. Ah, saya tak tahu bagaimana menuliskan bunyi itu di tulisan. Alat yang kedua, mengorek-ngorek, memberi jalan buat si penghancur. Alat ketiga, yang dipegang si asisten, bertugas menyedot.

“Pak Soleh, rileks Pak. Saya mau menolong Bapak. Kalau Bapak nggak rileks, saya nggak bisa nolong Bapak,” kata Dokter itu.

Dari tadi, tangan saya mencengkeram erat pegangan kursi itu. Bagaimana bisa rileks, kamu terlentang tak berdaya, disorot lampu, mulut menganga dan dua orang asing mengorek-ngorek mulutmu dengan tiga alat yang kadang menyakitkan?

“Silakan keluarin Pak, terus kumur-kumur,” kata Bu Dokter.

Saya meludah ke alat di sebelah saya. Di alat penampung ludah itu, saya melihat serupa kerikil-kerikil sangat kecil berwarna hitam dan putih keluar dari mulut. Ditemani darah yang mengalir.

“Tuh Pak, ini karangnya banyak banget,” kata Bu Dokter lagi.

Saya disuruh terlentang lagi. Menganga lagi. dikorek-korek lagi. Dan kali ini, setelah sedikit agak terbiasa dengan adegan itu, saya memberanikan diri melihat alat penyedot yang dipegang si asisten. Saya melihat darah saya mengalir ke sana. Serta kerikil-kerikil kecil.

“Lihat Pak. Ini karangnya nih. Banyak kan?” kata si asisten.

Seakan-akan menunjukkan kalau saya tak sia-sia datang ke sana. Banyak sekali karang yang berhasil mereka dapatkan. Saya meludah lagi. Berkumur lagi. Dan entah dua atau tiga kali adegan itu terjadi. Saking menegangkannya, saya tak bisa mengingat dengan baik adegan itu.

“Gimana? Perasaannya, udah nggak pusing lagi? Kalau sebelumnya, skalanya sepuluh, sakitnya udah berapa sekarang?” tanya Bu Dokter ketika akhirnya kami bisa duduk dengan sejajar.

Saya masih syok. Sensasi menusuk-nusuk gusi masih terasa. Eh, diberi pertanyaan begitu. Harus menghitung pula. Membuat skala. Mungkin di kalangan dokter yang pintar-pintar itu, pertanyaan matematis setelah seseorang mengalami syok, adalah pertanyaan biasa.

“Yah, kayaknya sih udah lima dok. Agak ringan lah sekarang,” kata saya, asal menyebut angka.

“Wah, sudah lima ya? Bagus kalau begitu.”

Beberapa detik setelah Bu Dokter berkata itu, tiba-tiba mulut saya sedikit sakit. Nyut-nyutannya masih ada.

“Tapi, ini sih masih ada sedikit nyut-nyutan. Nggak tahu karena pusing tadi abis keujanan atau karena gigi,” kata saya.

“Ah, itu mah karena keujanan. Bukan dari giginya.”

“Gigi saya nggak bolong kan Dok?” saya sedikit lega.

“Nggak. Tapi, kalau kamu pengen ngecek lagi, nanti dateng lagi aja. Difoto dulu ya giginya, ini surat pengantar buat lab-nya. Gigi kamu juga, baru bagian kiri bawah yang dibersihin karangnya. Belum bagian yang lainnya.”

Lalu dia memberikan surat pengantar lab. Menyuruh saya datang lagi, lain hari. Menjelaskan cara menggosok gigi yang benar. Memberikan resep. Dan menuliskan kuitansi.

“Biayanya seratus ribu ya Pak.”

Setelah moral, giliran intimidasi material.

THE SOLEH SOLIHUN INTERVIEW: THE CHANGCUTERS

Duta terbaru rock n’ roll dari Kota Kembang bicara soal Multiply, maskulinitas dan kenapa di sampul album, wajah mereka berminyak.

The Changcuters adalah seragam. The Changcuters adalah kuda. The Changcuters adalah rock n’ roll? The Changcuters digilai, sekaligus dibenci. The Changcuters adalah vokalis Tria, gitaris Qibil dan Alda [bergaya rambut sama], bassist Dipa [berwajah Batak, karena memang orang Batak], dan drummer Erick–mereka semua memakai nama belakang Changcut. The Changcuters juga pernah membuat kehebohan di pelukislangit.multiply.com.

Medio 2005, waktu saya diberi demo mereka, yang pertama terlintas adalah nama mereka jelek. Padahal, wajah mereka tak jelek-jelek amat. Bisa dijual lah. Apalagi sejak jaman masih demo, mereka sudah berseragam. Karakternya sudah mulai terbentuk. Sayang namanya jelek, begitu yang saya pikir. Ternyata, sekarang jadinya tak terlalu jelek juga terdengarnya.

Waktu mereka merilis album perdana “Mencoba Sukses” dengan produser Uki Peterpan, hasilnya buruk. Secara produksi, masih jauh dari bagus. Padahal, lagu-lagunya cukup catchy. Tema lagunya pun bervariasi. Liriknya memang masih belum terlalu bagus. Tapi, penampilan panggung mereka menghibur. Salah satu band yang sadar bahwa di panggung, mereka harus menyuguhkan pertunjukkan yang bisa memuaskan visual, tak hanya audio.

The Changcuters membuka launching album KOIL. Dalam sebuah obrolan, Otong mengatakan kalau beberapa orang memang memertanyakan keputusan mereka mengajak Changcuters. Tapi, kepada saya, Otong berkata kalau dia meminta Changcuters karena anaknya suka mereka. “Anak kecil mah, jujur kan?” kata Otong.

Tahun ini, The Changcuters merilis repackaged album, “Mencoba Sukses Kembali,” di bawah bendera Sony BMG. Ada lagu baru, macam “Racun” dan “I Love You, Bibe.” Gara-gara lagu yang kedua, Luna Maya menelepon Tria, dan mengucapkan terima kasih karena namanya disebut dalam lagu.

Di album itu, produksi mereka terdengar lebih baik dibanding yang sebelumnya. Dua lagu terbarunya, menunjukkan kalau Tria sebenarnya bisa jadi penulis lirik yang lebih baik setelah berjalannya waktu. Walaupun sebenarnya, lagu-lagu The Changcuters akan terdengar biasa saja di telinga mereka yang sudah mendengar banyak rock n’ roll albums, tetap saja, lagu-lagu mereka pada dasarnya catchy dan tipe lagu-lagu yang enak dibawakan di panggung.

Tahun ini, mereka membintangi layar lebar berjudul “The Tarix Jabrix,” film arahan murid sutradara Hanung Bramantyo, yang dirilis Star Vision. Film tentang sekelompok anak SMA, yang ditolak jadi anggota geng motor dan memutuskan memutuskan membuat geng motor juga.

Mereka juga menjadi bintang iklan Flexi. The Changcuters sepertinya bakal ada di mana-mana. Dan The Changcuters jadi band pertama yang menghiasi halaman Multiply ini. Rencananya, saya akan mulai mewawancarai beberapa orang atau band untuk halaman ini.

Minggu [23/3] malam lalu, The Changcuters bermain di Terusik Traxustik, di Score! Cilandak Town Square, Jakarta. Saya menyambangi mereka di apartemen Cilandak, tempat mereka beristirahat. Sebelumnya, saya bertemu Tria dan Erick di Senayan City. Erick mencari bretel. Punya dia rusak. Tapi, yang dicari tak ada. Maka, malam itu, hanya Erick yang tak memakai bretel.

The Changcuters adalah tipe pria-pria senang dandan. Beres mandi, semuanya memakai hair dryer. Sepertinya, mereka cukup metrosexual. Tria, ketika berjalan-jalan di Senayan City, membawa tas jinjing, yang sepertinya hanya akan dipakai pria metrosexual. Tipe tas jinjing dengan motif-motif dan warna gelap yang entah bagaimana saya mendeskripsikannya karena saya bukan pria metrosexual.

Tapi di panggung, mereka tak terlihat seperti pria metrosexual. Tria, adalah generasi paling baru dari para pemuja Mick Jagger—setelah Deddy Stanzah, Rico Corompies dan Eka Annash. Penggemar Mick Jagger manapun akan langsung tahu, dari mana asalnya lenggak-lenggok Tria di panggung.

Beruntungnya Tria, diberi tubuh langsing. Membuat liukan tubuhnya masih terlihat lincah dan menarik di panggung. Kalau kamu pernah melihat Rico Corompies sekarang, dia sudah tak bisa meliuk-liuk. Tubuhnya sudah tambun. Yang tersisa dari kemiripan dia dengan Mick, hanya bibirnya. Beruntung juga Changcut yang lain. Semuanya diberi tubuh langsing. Membuat pakaian ketat yang menempel di tubuh mereka, terlihat pantas. “We are the next best things!” kata mereka di account MySpace. Untuk soal itu, kita harus sama-sama tunggu.

45 menit sebelum berangkat menuju Score! saya mewawancarai mereka.

Karena ini buat Multiply, apa kesan pertama yang terlintas ketika mendengar kata Multiply?
Dipa [D]:
Wah seksi, smart. Karena itu bisa jadi satu informasi yang beda.
Alda [A]: Rame. Banyak tukar informasi lah.
Qibil Q]: Multiply menurut saya agak kurang penting yah. Penting nggak penting. Jadi kalau misalnya, kayak sesuatu kalau orang di jaman sekarang kan harus online. Dan nggak mesti setiap yang online harus punya Multiply.
Tria [T]: Sebuah media baru.
Erick [E]: Positifnya, informasi bisa didapet dengan bebas. Negatifnya, jadi nggak kebendung, bisa disalahgunakan.

Merasa jadi korban Multiply?
D:
Yah itu yang gue bilang bisa disalahgunakan itu ya. Pernah kan, ada kasus sama White Shoes yang albumnya bisa didownload secara gratis tanpa ijin.
T: Maksudnya, harusnya itu bisa jadi wadah untuk mengekspresikan, tapi itu disalahgunain banget kalau sampe merugikan orang lain. Padahal kan, itu wadah untuk eksistensi diri. Ya udah, tulis aja pendapat dia, jangan sampe merugikan orang lain. Apalagi kayak kasus White Shoes itu.

Kalau Changcuters gimana?
D:
Wah, gue buka internet aja setahun sekali [tertawa].

Oke, langsung aja nih. Waktu itu kan sempet ada kehebohan di pelukislangit.multiply.com, gara-gara review dia
Q:
Pada awalnya sih, waktu kami baca di Ripple, sempat bertanya-tanya, siapa ini Pelukis Langit? Akhirnya, kata si Manik, Pelukis Langit mah temen Multiply gue. Waktu awal sih, sempet down juga. Band baru pula.
T: Kayak misalnya gini lah, orang udah jelek, dibilang udah jelek gendut pula. Padahal dia tahu, nggak usah dibilang gitu juga.
Q: Tapi, setelah kami pikirkan secara dewasa, bijaksana, rasional dan mendengar input dari orang lain, akhirnya ya bad news itu good news. Akhirnya, sampai sekarang ini belum pernah ngebahas posting-an itu.
T: Akhirnya, sekarang kami menyadari, masalah itu bukan datang dari yang meledek, tapi lebih datang dari intern. Gue udah nggak terlalu peduli lagi, kalau ada yang bilang wah elu keren euy masuk Sony, ya terima kasih. Kalau ada yang bilang jelek juga, nggak dipikirin. Da yang lebih bikin pusing mah, persoalan intern.
A: Ya itu jadi kritik membangun lah. Itu baru komentar segelintir orang. Apalagi kalau lebih luas lagi.
Q: Pemanasan lah.

Selain itu, pernah ada yang bikin kalian down?
D:
Satu orang punya 100 persen di kepalanya, tapi digabung harus jadi 100 persen juga.
Q: Justru terpaan dari luar yang bikin kami lebih solid. Kalau yang bikin down, justru karena adat si ini begini, adat si ini begini.
T: Kalau gue pribadi, yang bikin gue nge-drop sih, adalah ketika gue lagi nggak fit, gue harus tampil secara nasional. Pertanggungjawabannya itu yang lebih besar. Padahal cuma satu lagu, tapi menentukan.
A: Sekarang sih, kalau ada kritikan ya kami tampung.
D: Suka tidak suka kan, sama halnya kayak kita nggak mau makan ini atau itu, selera lah. Itu kan upaya pembentukan opini publik aja.

Kalau yang bikin kalian semangat?
Q:
Banyak ya. Setelah kejadian Multiply itu, kami manggung nih di sebuah acara underground Bagus Netral. Bapak Arian menghampiri saya, kurang lebih bilang gini, “Persetan gosip lah! Maju terus!”
T: Dan itu, sangat memotivasi pisan.
Q: Secara itu Arian. Kami lebih tahu Arian, ketimbang Felix. Siapa Felix?
T: Kalau gue satu lagi kejadiannya. Waktu di konser Bjork, tiba-tiba ditowel orang. “Eh sori ya, gue cuman bisa lihat elu di TV.” Bens Leo nyalamin. Tahu Changcuters! Gimana teu lieur? Kenapa Bens Leo bisa tahu kami? Terus, Kang Micko Protonema, yang sudah terkenal di scene rock n’ roll dan blues, ternyata tahu kami. Itu yang membuat kami harus belajar banyak. Buat memertanggungjawabkan pada mereka yang mendukung kami.

Sama Felix pernah ketemu langsung?
A:
Waktu di acara Indie Fest. Nggak ketemu langsung sih.
T: Gue tahu dari MC, ada Felix. Gue pengen ngebecandain dia. Kalau di Hollywood kan suka ada yang ngeritik, your rules, gue bikin rules lagi. Ternyata dia seneng, dan nulis di Multiply. Gue pengen ketawa aja. Padahal itu kan, kayak misalnya Eminem bikin lagu tentang Britney Spears, eh Britney-nya ada.
Q: Mungkin kalau di Hollywood itu udah di-setting ya. Ada ketemuan dulu.
D: Kalau ketemu sama gue mah, bahaya lah! [tertawa].
T: Tapi da nggak ada dendam juga.
D: Bagus lah, kalau nggak ada omongan dia, nggak akan dilirik media lain. Itu kan promosi juga. Yang penting kata Tria tadi, ke depannya harus bagus.
T: Tapi bukan karena si Felix, kami jadi pengen lebih bagus ya. Kami ingin memertanggungjawabkan kepercayaan yang udah dikasih sama orang-orang yang udah ngedukung kami. Kayak tiba-tiba waktu itu Kang Micko, ngajak kami kumpul sama anak-anak blues di Bumi Sangkuriang. Anjir, gimana nggak pusing? Di sana kami mau ngapain? Jadi, wah nggak boleh selamanya kami nutupin, kami harus belajar. Tapi, waktu diajak itu, kami lagi nggak bisa.

Scene Bandung gimana penerimaannya?
D:
Ya sama aja. ada yang nerima, ada yang nganggap angin lalu.
T: Kami cuma nganggap Changcut Rangers aja. Kalau suatu saat kami udah nggak musim, selama Changcut Rangers masih berdiri, kami masih eksis.
E: Kalau band-band nya mah, aman-aman aja.

Kalian kan akrab sekali dengan Peterpan, pelajaran apa yang kalian dapat?
D:
Ya itu tadi, mental.
Q: Waktu kami ada kasus review yang di Ripple itu, si Uki bilang, “Udah lah Bil, waktu itu kami dijelek-jelekin sama Ahmad Dhani. Dijelek-jelekin sama banyak orang.”
E: Kalau gue mah, soal kasus di Multiply itu, ya gue anggap hiburan aja. Kayak ngelihat kucing kesandung lah. [tertawa]. Jarang kan lihat kucing kesandung? Makanya lucu kan? Hanya hayalan aja. Nggak nyata lah.

Waktu Peterpan mecat dua personelnya, apa yang ada di kepala kalian?
Q:
Pelajaran buat kami juga. Yang kami pernah down gara-gara kendala intern itu. Woy! Kita tuh masih baru! Lu mau kayak Peterpan?
T: Dulu mereka juga pernah ngasih nasihat. Mereka tuh kan sebenernya jenuh. Kurang komunikasinya juga. Mereka bilang, “Sok nanti kalau elu udah tur mah, pasti jenuh juga.” Terus gue bilang, ah nggak mungkin kami mah maennya bareng da. Makanya akhirnya, banyak petuah Peterpan itu, kami jadiin bahan buat kami, mengingat kami band masih baru. Itu kami jadikan buat hati-hati.

Memang, problem internalnya apa sih?
D:
Ya ego lah. Kalau ego udah muncul, itu yang paling berat.

Yang paling terlihat sering memaksakan egonya siapa?
D:
Gue. [tertawa]. Karena gue kan dari luar kota. Sering home sick euy Leh!
T: Kalau gue lihat, setiap orang di sini punya sisi negatifnya. Ketika sisi negatifnya keluar, itu egonya berjalan. Gue pundungan. Emo lah! Kibil tempramen. Alda don’t care.
A: Ya say amah dari dulu suka males lah. Pengen santai.
D: Kalau gue sangat perhatian. Walaupun omongan gue keras, itu karena cuaca di Medan panas. Jadi gue perhatian.
Q: Nah ketika dia perhatian, nggak ada yang peduli, keluar deh egonya.
E: Kalau gue pemalu. Ke band juga, jadi susah juga mau ngapa-ngapain.

Proses kreatifnya gimana?

Q: Nge-jam
T: Kadang genjrengannya dari Qibil misalnya, tetep aransemennya dikembangin rame-rame.

Pake nama siapa di kredit buat pencipta lagunya?
T:
The Changcuters.

Padahal kan, katanya itu jelek. Kalau suatu saat ada yang keluar, bagi-bagi royaltinya susah.
T:
Kami komitmennya kalau salah satu keluar, bubar! Jeleknya itu kan kalau ada yang keluar masuk dari band-nya. Kami mah, kalau ada yang satu keluar, bukan Changcuters lagi. Susah nemuin yang kayak gini lagi [menunjuk Erick dan Alda].

Emang, nemuin mereka di mana?
Q:
Si Erick waktu SMP ke SMA, nge-band sama gue. Si Alda nge-band waktu kuliah.
D:
Jadi, ini the band si Qibil. Gue ketemu Tria, gara-gara dia. Ketemu Erick dan Alda, gara-gara dia juga.
E: Waktu itu, si Qibil lagi nyari drummer handal, makanya dia nelepon gue.
Q: Sebenernya karena elu yang gue kenal [tertawa].
T: Mungkin kalau ketemunya sama Eno Netral, dia yang jadi drummer kami [tertawa].

Kenapa memakai kata “Mencoba Sukses” buat judul album?
Q:
Itu dari jaman masih demo. Tadinya mau “Menuju Sukses,” kenapa akhirnya jadi “Mencoba Sukses?” itu karena artinya ikhtiar ya.
T: Ada juga yang mengartikan coba-coba sukses. Sukses kok coba-coba bikin album sih? Sebenernya nggak ada salahnya juga, ya iya lah masa orang nggak mencoba. Nanti nggak tahu hasilnya. Tapi, hasil juga bukan yang kami tuju. Ini prosesnya, ini ikhtiar-nya. Pengen tahu gimana hasilnya. Tadinya juga, nggak mau bikin album, kami mau nyebar-nyebarin aja. Eh ada yang suka juga. Ya udah, lumayan juga kalau kami orderin [tertawa]. Eh si Uki ternyata mau jadi produser. Ya udah lah, serba kebetulan aja.
A: Mencobanya tuh usaha, bukan mencoba-coba.
Q: Kami punya barang, ini kualitasnya, coba deh.
T: Kayak bikin ramuan. Asalnya buat kami doing. Eh ternyata banyak yang suka. Ya udah bikin banyak aja.
D: Kalau dari silsilah katanya, ‘Mencoba’ tuh enak aja. Kalau misalnya, ‘Mencoba’ pasangannya ‘Sukses,’ enak kan? Kalau ‘Menuju Sukses,’ nggak enak.
T: Tadinya sempet kepikiran, “Berusaha Sukses,” cuma nggak enak. Kesannya kami ambisius banget.

Memang, nggak mau dicap sebagai band ambisius?
T:
Ambisi boleh, ambisius jangan. Karena kalau ambisius, lebih mentingin hasil.
E: Kami lebih ke optimis, ketimbang ambisius.

Kualitas album perdana kalian, jelek menurut gue mah
D:
Kami juga nggak puas. Yang puas yang sekarang. Dengan skill kami yang segitu, ternyata frekuensinya bagus juga.

Kalau sudah sadar jelek, kenapa dikeluarin juga?
Q:
Pada saat masternya jadi, sangat kepepet. Mental fisik segala macem, udah lelah. Wah ini udah enak kok.
T: Jadi intinya gini, waktu rekaman album perdana itu, kami udah semaksimal mungkin. Yang penting, kami udah dapet banyak ilmu. Gue jadi tahu, recording tuh nggak gampang. Itu yang berharganya mah. Hasilnya jelek atau nggak mah, itu niat ke sananya aja yang kami butuhkan.
A: Mungkin manusiawi ya, nggak pernah puas. Cuma, waktu itu kami ngerasa wah udah deh udah cukup. Udah bagus lah. Ternyata pas udah dapet pelajaran lebih, pas kami dengerin lagi, kok gini banget ya?

Berapa lama rekamannya waktu sama si Uki?
D:
Rekamannya sebentar, dua sampe tiga bulan. Cuma si operatornya waktu itu sibuk banget.
T: Kebayang, selain vokal, drum sama bass, itu nge-track sendiri di rumah si Uki, pake computer, belum di studio.
K: Stressfull lah.
Q: Ilmu buat nge-track aja belum seberapa.
D: Dan inti daripada intinya sih, duit. Buktinya nge-track gitar di rumah. Begitu sama Sony, mau berapa jam, sook.

Boleh tahu, budget waktu rekaman sama Uki?
Semua:
Waaah, jangan lah. Nggak enak sama si Uki.

Dan repackaged album ini, diberi judul “Mencoba Sukses Kembali.” Seakan-akan kalian sebelumnya mencoba sukses, tapi gagal, sekarang nyoba lagi.
T:
Bukan begitu. Maksudnya, ini usaha yang kedua.
Q: Second coming lah. Kalau film mah, Empire Strikes Back lah!
D: Yang pertama mah, Jawa Barat kan. Nah, sekarang nasional.

Tapi, kenapa foto kalian nggak di-retouch? Itu berminyak sekali
Semua:
[tertawa]
T: Iya bener. Tapi, itu jadinya bagian dari konsep.
Q: Wah, ini sampai berpeluh keringat begini, biar kelihatan, wah usahanya pasti keras nih.
T: Itu melambangkan sebuah usaha untuk sukses [tertawa]. Ah, tapi nggak apa-apa kok. Dengan keadaan buruk kayak gitu aja, banyak yang beli. Apalagi kalau keadaan kami ganteng abis.
Q: Itu sebenernya efek berminyak. Pernah lihat album The Racounters atau siapa ya…yang dipukulin. Itu kan kayak yang dipukulin. Kalau kami, kayak yang berminyak.

Gue tahu, kalian terinspirasi dari cover The Rolling Stones, tapi perasaan, Mick Jagger mah da nggak berminyak kayak begitu [tertawa]
T:
Yah udahlah [tertawa]. Nanti juga, pasti ada yang lebih lucu lagi pas di film. Awalnya masih putih, tapi lama-lama kulitnya jadi item. Kami mah emang nggak ditakdirkan untuk jadi artis yang putih beraura.

Dari awal, memang ingin berseragam?
T:
Oh iya. Lebih dulu ada konsep seragamnya, daripada mikirin konsep musiknya seperti apa [tertawa]. Awalnya sih, karena emang band udah pada meninggalkan konsep seragam.
D: Pengen gaya. Terus satu lagi, biar nggak ada kesenjangan sosial di panggung. Kalau beda-beda, si Qibil pasti yang lebih keren, karena dia yang lebih gaya. Nanti lebih banyak yang suka dia [tertawa].
T: Si Alda masih mending, mukanya masih banyak yang suka. Kalau gue? [tertawa].
D: Kalau begini kan, jelas. Kalau ada yang suka, pasti karena lihat muka dan attitude-nya. Dan lebih enak dipandang.

Jadi, si pria idaman wanita teh sebenarnya cuma dua di Changcuters? Alda dan Kibil?
A:
Sebenernya, tiap lelaki adalah idaman wanita.
T: Justru karakter-karakter kayak kami gini, jadinya ada pasarnya masing-masing. Kibil yang rada-rada bule.
D: Alda, ABG labil. Kalau Erick, dangdut [tertawa].
T: Kalau gue, biasanya ibunya [tertawa]. Soalnya, sering ada yang bilang, ‘Tria, ada salam dari ibu gue.’
D: Mereka udah bingung kan, kalau lihat dari pakaian, udah seragam.
Q: Jadi, kalau misalnya ada yang nanya, ‘Who’s your favorite Changcute?’ Udah ada jawabannya sendiri-sendiri, ‘Ini! Ini! Ini!’ [menunjuk ke arah teman-temannya]

Jadi, lagu “Pria Idaman Wanita” bukan karena pengalaman pribadi kalian yang ternyata digilai perempuan?
Q:
Memang pada saat kami bikin lagu itu, pas banyak yang suka. Milihnya susah.
D: Akhirnya, nggak ada yang dapet [tertawa].
T: Inti lagu itu mah sebenernya pengen ngasih tahu ke cowok. Kan waktu itu, lagu banyak yang soal ditinggal cewek, nangis. Udah mulai nggak cowok banget. Mau kenalan, ceweknya dulu yang kenalan. ‘Tolong ajari aku. Tolong dekati aku.’ Nggak cowok banget itu mah.

Jadi, lagu “Pria Idaman Wanita” itu sebenernya kental dengan nuansa maskulinitas?
Semua:
Naaaah! Bener! Cowok banget lah!

Kenapa video klipnya jelek banget?
Semua:
[tertawa].
T: Ini mah gara-gara gue! Itu sebenernya tugas kampus. Gue tuh dulu bikin band, sebenernya untuk latihan desain gue. Bikin video klip, logo, company profile, semua tuh tentang band gue. Kalau misalnya hasil visualnya butut, handycam yang dipakenya pun, kelas teri.
Q: Kalau konsepnya sih sebenernya bagus, bisa jadi film. Coba digarap sama Hollywood. Ya itu karena keterbatasan sumber daya.
T: Kalau diperhatikan seksama, itu ada bloopers-nya. Saya harus jadi sutradara, jadi pemaen pula, sampai tas pinggang saya lupa dilepas.
D: Video klip itu kami buat sebelum kami bikin album.

Kalau logo kuda?
D:
Lihat aja muka si Tria dari samping.
T: Sebenernya kan, tadinya pengen kayak Rolling Stones. Logonya inspirasinya dari bibir Mick Jagger. Nah Changcuters dari muka gue. Awalnya, kan konsep itu ada karena gue anggap Changcuters tuh cowok banget lah! Gagah. Jantan. Tadinya sih mau titit, tapi nggak enak kalau nanti ditanya-tanya [tertawa]. Soalnya Changcuters tuh kebanyakan cewek. Kalau digambar kan, ada pelernya. Akhirnya, karena nggak enak, ya udahlah kuda aja. Kenapa rambutnya berjambul? Biar lebih stylish lah. Kacamatanya nggak pake kacamata kuda, supaya dia melihat lebih luas, jadi pake kacamata BL.

Road Manager memberi tahu kalau waktu kami hampir habis.

Oke, lagu “Pria Idaman Wanita” mirip dengan “Not Fade Away”-nya Rolling Stones. Ada penjelasannya?
T:
Itu sebenernya nggak sengaja. Gue baru denger lagu “Not Fade Away” setelah lagu “Pria Idaman Wanita” jadi. Sebenernya kalau dipikir-pikir itu grip dasar sih. “Desire” kayak gitu, terus di KISS juga ada kayak gitu.

Tapi, kocokan gitarnya sama banget
T:
Sebenernya kalau mau jujur-jujuran, gue waktu itu sih terlintasnya, lagu Time Bomb Blues yang “Maung Bandung.” Ada part ‘Kajeun!’
D: Waktu itu, kami coba dengerin lagi, dan nggak mirip ah sama lagunya Time Bomb Blues.
T: Walaupun sebenernya kan, grip blues tuh cuma tiga. [Tria menirukan suara kocokan gitar]. Bulak balik. Kalau kami, ada empat. Beda sebetulnya, Cuma kocokannya aja sama. Wajar lah. Ahmad Dhani aja ada yang sama.
D: Nggak niru plek plek sebenernya. Elemen-elemennya aja ada yang dimasukin.

Tapi, kalau “I Love You, Bibe” memang terinspirasi dari “Honky Tonk Woman?”
D:
Tah, kalau itu awalnya gini, kami pengen bikin lagu yang memasyarakat. Apa ya? Cinta we cinta. Tapi, gue maunya yang universal. Kalau elo udah sayang sama sesuatu, meskipun dibilang jelek sama orang, kalau udah suka mah, ya suka. Udah titik! Terus, aransemennya gimana ya? A stone A! Ya udah, Honky Tonk we! [tertawa]. Makanya, genjrengannya juga. Terus, ada cowbell.
D: Tapi, pas didengerin bareng, jauuh ah.
T: Jauh, da Honky Tonk mah rhtym and blues pisan!
Q: Kalau misalnya nyekill, Stones banget lah, pasti jadinya mirip. Karena nggak semuanya Stones Lover, jadinya ya gitu banget.

Intinya mah, di lagu ini, dengan penuh kesadaran kalian memang patokannya lagu Honky Tonk Woman?
Semua:
Iya!
Q: Udah, di-Honky Tonk-in we lah!

Lagu “Racun,” kalian bilang wanita racun dunia. Kenapa?
T:
Itu sebenernya misunderstood. Padahal, artinya ketika lelaki ketemu wanita tuh pasti ngalah. Ini gue ambil filosofisnya, dari Cupi [kakak ipar Tria], sepreman-premannya cowok, sama cewek mah, nangis! [tertawa]. Intinya mah, ketika lelaki ketemu cewek, otak sama hati nggak bisa sinkron.

Oke, waktu kita hampir habis, sekarang saatnya trivia. Gue akan menyebutkan dua nama, kalian pilih serta alasannya. Tria, Mick Jagger atau Keith Richards?
T:
Keith Richards. Soalnya gue lebih suka karakternya Keith Richards. Tapi, karena nggak bisa maen gitar, jadi gue niru Mick Jagger!

Sekarang, buat dua gitaris, Brian Jones atau Johnny Ramone?
Q:
Kalau gue, Brian Jones. Attitude-nya lebih asik, lebih keren. Secara tampilan segala macem, keren pisan euy si Brian Jones teh!
A: Johnny Ramone. Karena dulu, saya cuma tahu punk.

Erick, Charlie Watts atau Ringgo Starr?
E:
Dave Grohl! Eh, salah. Ringgo Starr aja deh. Bapaknya indies dia! Dan gue ke arah sana juga, simple tapi digandrungi popularitasnya.

Dipa, Sid Vicious atau Dee Dee Ramone?
D:
Cliff Burton nggak boleh ya? Sid Vicious lah. Soalnya dia nggak bisa maen bass, tapi gayanya keren. Gue juga gitu, biasa-biasa aja maen bass-nya.

Semuanya, The S.I.G.I.T. atau The Brandals?
E:
The S.I.G.I.T. deh, karena musiknya keren. Berbobot.
Q: Waduh, susah nih. Pertanyaannya buah simalakama…The Brandals deh, dia termasuk pelopor garage di Indonesia lah.
D: The Brandals. Video klipnya keren.
A: The S.I.G.I.T. Keren musiknya, saya lebih suka sound mereka.
T: Speaker 1st nggak boleh ya? [tertawa]…The Brandals! Soalnya gara-gara ngelihat The Brandals, gue jadi pengen bikin band, yang attitude-nya berbeda sama mereka. Waktu itu kan mereka, masih suka ngomong, ‘Ngentot! Ngentot!” di panggung. Nah, gue pengen bikin rock n’ roll band, yang attitude-nya, ‘Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Apa kabar semuanya? Baik-baik saja?’

Musiklo Sampe Mana?

Tak terasa, kompetisi band, LA Lights Indiefest sudah memasuki tahun ke-2.

Padahal, para finalis LA Lights Indiefest pertama saja, belum terdengar gaungnya. Setidaknya, buat saya, belum terasa perubahan yang signifikan dalam karir musik mereka. Biarpun propaganda yang mereka lancarkan mengatakan “Musiklo Sampe Mana?” harus diakui kalau musik para finalis LA Lights Indiefest sebenarnya belum terlalu jauh berjalan.

Biarpun iklan mereka menunjukkan kalau Vox sudah manggung di Singapura, dan mengatakan kalau Dojihatori sudah punya album sendiri, nyatanya karir mereka bisa dibilang belum terlalu jauh berbeda dengan ketika sebelum mereka jadi finalis. Ini memang masih asumsi saya. Akan lebih jelas kalau para finalis itu yang menjawab pertanyaan saya ini.

Bahkan siapa saja para finalis tahun lalu, saya lupa. Kalaupun nama-nama macam 70’s Orgasm Club dan Vox masih terngiang, rasanya bukan karena mereka jadi finalis, melainkan beberapa kali saya melihat mereka manggung. Yang lainnya? Ke mana mereka?

Dan kalau kita bicara kompetisi band yang kemudian dibuatkan album, hanya beberapa nama saja yang akhirnya bisa bertahan. Coba pikirkan, siapa yang kemudian menjadi besar dari kompetisi band yang digelar Log Zhelebour selama bertahun-tahun itu?

Memang, masih terlalu dini untuk menilai apakah kompetisi LA Lights Indiefest ini punya pengaruh signifikan terhadap karir bermusik sebuah band, yang jelas kompetisi di tahun ke-dua ini masih menarik minat banyak band. Ada 1870 band yang mendaftar! Mereka tersebar dari Surabaya, Yogyakarta, Jakarta dan Bandung. Angka ini, 400 lebih banyak dibandingkan kompetisi tahun sebelumnya.

Saya yakin, juri pasti dibuat pusing ketika menyeleksi lagu sebanyak itu. Dari 1870 harus dipilih 10! Rasanya tak mengherankan ketika akhirnya, nama-nama yang terpilih sudah familiar. Pertama, mereka memang sudah terbukti kualitasnya, sudah tinggi jam terbangnya, sudah cukup matang dibandingkan ribuan band lain yang mendaftar. Kedua, nama yang sudah familiar itu mungkin memudahkan juri untuk memutuskan apakah mereka masuk final atau tidak.

Buat saya, ada dua yang familiar; Monkey to Millionaire dan Lipgloss. Yang pertama, karena demonya sudah saya dengarkan jauh sebelum mereka jadi finalis. Yang kedua, meskipun saya belum pernah melihat mereka manggung atau mendengar musik mereka, tapi Lipgloss sudah sering ‘menyerang’ dunia maya. Membombardir milis, atau friendster dan sejenisnya. Saya nyaris terganggu sebenarnya. Pertama, mungkin karena belum kenal. Kedua, karena saya tak suka nama Lipgloss. :p

Cascade…saya tahu nama ini ketika manajer mereka menghampiri saya dalam sebuah acara yang digelar di Monic Setiabudi beberapa minggu lalu. Yang pertama terlintas ketika mendengar nama mereka, adalah Factory Outlet. Saya tak yakin, apakah benar ada FO yang bernama Cascade di Bandung, atau ini hanya perasaan saya.

Covernya tak menunjukkan perubahan yang signifikan. Masih tidak bagus, jika dibandingkan rilisan FFWD Records lainnya. Mudah-mudahan desain cover album ke-dua ini tidak bermasalah seperti halnya gambar gramophone tahun lalu, yang ternyata diambil dari deviant art tanpa ijin. Sekarang, mereka memakai gambar gitar dengan motif-motif di sekelilingnya. Saya sih sebenarnya berharap FFWD punya posisi tawar yang lebih dalam hal ini. Walau bagaimanapun, album ini adalah rilisan mereka juga. Yah, mudah-mudahan kalau LA Lights Indiefest 2009 FFWD masih merilis album kompilasinya, FFWD bisa membujuk LA Lights untuk membuat desain cover album yang lebih menarik dibandingkan dua album yang sudah ada.

***

Minggu [16/3] malam, Bandung diguyur hujan. Di pelataran parkir Sasana Budaya Ganesha, terlihat puluhan remaja, yang didominasi laki-laki berpakaian hitam-hitam. Sebagian dari mereka sepertinya sekumpulan anak-anak yang penuh cinta. Biarpun hujan turun, mereka tetap bertahan. Tidak mencari tempat berteduh. Karena ada seorang kawan yang mengatakan begini:

Semua kalah sama cuek.
Tapi cuek, kalah sama hujan.
Tapi hujan kalah sama cinta.

[contohnya; kalau udah urusan ke rumah pacar mah, hujan-hujanan di atas motor pun, jadi. :p]

Malam itu, ada acara peluncuran album kompilasi LA Lights Indiefest yang ke-dua. Berbeda dengan tahun lalu, kali ini acara digelar di satu tempat saja. Sebelumnya, peluncuran dan penampilan beberapa finalis diadakan di Cihampelas Walk, dan malam harinya bintang tamu dan beberapa finalis lagi, tampil di gedung AACC.

“Habis tiketnya a! habis!” kata seseorang dari kerumunan, ketika saya menuju gerbang masuk.

“Yaaaah, wartawan!” katanya lagi, begitu saya menunjukkan ID pada penjaga gerbang.

Begitu masuk area dalam Sabuga, pengunjung disambut oleh beberapa SPG di stand LA Lights. JAMREVOLUTION. Di sebelah kanan pintu masuk, dipamerkan enam foto vokalis asal Bandung, karya Cagi. Bicara istilah indie, foto-foto yang terpampang di sana, bisa dibilang sudah termasuk papan atas di level indie. :p

“My Friends Can’t Sing,” Cagi memberi judul.

Mungkin karena diberi judul My Friends itulah, semua vokalis dari Bandung. Atau, mungkin karena acaranya digelar di Bandung. Atau mungkin karena mereka saja yang kebetulan bisa meluangkan waktu. Atau mungkin saya sok tahu saja dengan semua analisa tadi.

Selain soal tempat pelaksanaan, yang berbeda dari acara peluncuran album kali ini adalah konsep kolaborasi. Itu sebabnya diberi judul JAMREVOLUTION. Beberapa finalis berkolaborasi dengan satu bintang tamu, yang dirasa warna musiknya senada. Goodnight Electric dengan Monkey To Millionaire. Mocca dengan Cigarettes Nation. Pure Saturday dengan Cascade. Alone At Last dengan Scared of Bums. KOIL dengan Air Hostess For Vacation.

Saya tak bisa mengatakan apa yang terjadi dengan finalis lainnya. Ketika saya datang, sesi kolaborasi baru saja dimulai. Perkawinan antara Monkey dengan Goodnight menghasilkan sesuatu yang menarik. Mocca dengan Cigarettes biasa saja buat saya. Pure dengan Cascade juga tak meninggalkan kesan mendalam. Alone ternyata kalah menarik dibandingkan Scared of Bums. Anak-anak Bali yang mengawinkan melodic punk dengan sedikit heavy metal menghasilkan enerji yang terasa lebih besar dibandingkan musik yang dihasilkan duta emo Kota Kembang.

Kalau KOIL, rasanya sebagian besar penonton malam itu, menunggu KOIL. Sayang, agak kurang maksimal sound yang keluar di lagu pertama. Mungkin itu menjelaskan kenapa kru mereka memakan waktu cukup lama untuk mengatur alat sebelum KOIL tampil. Tapi, tidak salah menempatkan KOIL di akhir acara. Mereka yang karakternya paling kuat dibandingkan bintang tamu lainnya. Seperti biasa, mereka memakai pakaian hitam-hitam yang rasanya bisa dibeli di God Inc. Siapapun bisa berdandan seperti Otong, itu pesannya mungkin. Tapi, hati-hati tak sembarang orang akan terlihat cocok.

The man make the clothes. Not the other way around, kata sebuah ungkapan, kalau saya tak salah kutip.

Bayangkan, seandainya ada orang dengan pakaian hitam-hitam, rumbai-rumbai tak jelas, sepatu new rock, stoking di tangan, rambut panjang tapi berwajah seperti Mandra, rasanya orang akan menertawakannya. Atau, jangan jauh-jauh lah. Waktu Ungu mencoba berdandan hitam-hitam saja, mereka terlihat menggelikan.

Dan yang lebih hebat lagi, adalah ketika seluruh bintang tamu, berkolaborasi membawakan lagu Kosong dari Pure Saturday. Ini rasanya baru terjadi sekali. Crowd bisa mendengarkan Otong KOIL menyanyikan lagu Pure. Ide untuk membawakan lagu itu juga datang dari Otong. Dan mereka berlatih dua hari demi penampilan itu.

LA Lights merekam acara malam itu untuk kepentingan penayangan di teve. Lengkap dengan tepuk tangan rekaman—yang terdengar bergemuruh dan rapi—demi mendukung meriahnya suasana.

Yang direpotkan malam itu, rasanya fotografer. Soal berpindah tempat demi memotret sih tak masalah. Tapi, beberapa kali harus diusir petugas keamanan karena dianggap terlalu dekat dengan obyek, padahal tak masuk dalam gambar kamera—sungguh bisa menyebalkan juga. Apalagi kameramen dengan badannya yang besar-besar dan kameranya yang juga besar itu dengan enak bisa mondar-mandir di depan fotografer.

Ah, banyak ngeluh. Sudah tak usah jadi fotografer saja! Anjis. Kenapa saya jadi ngomong sendiri begini ya? Sudah ah.

Daripada Musik Metal Lebih Baik Musik Jazz

Sejak Java Jazz pertama kali digelar pada 2005, semua selalu sama buat saya.

TENTANG PENGURUSAN ID LIPUTAN

Selalu saja ada hambatan yang cukup mengganggu. Mungkin saya memang harus selalu tak beruntung setiap Java Jazz. Waktu Java Jazz 2004, saya masih kerja di Trax Magazine. Kami salah satu media partner. Harusnya, ID otomatis didapat kan? Dan saya pun sudah mendaftar jauh-jauh hari. Mengirim foto fsn biodata.

Tapi, ketika hari konferensi pers digelar dan ID dibagikan, ID kami tak ada. Belum tercetak. Padahal, di daftar mereka, ada nama saya dan fotografer. Berjam-jam saya harus menunggu panitia mencari ID buat saya. Menunggu. Menunggu. Dan menunggu. Hingga ID liputan beres dibagikan. Bertanya pada panitia yang katanya bertanggungjawab, tapi dioper lagi. Bertanya lagi, dioper lagi.

Hari itu, saya pulang dengan tangan kosong dan penuh amarah. Setelah beberapa kali marah-marah lewat telepon, akhirnya panitia bisa juga memberi ID liputan saya sehari atau dua hari setelahnya, saya lupa.

Java Jazz kedua, saya tak datang. Jadwalnya berbarengan dengan ospek di kampus.

Java Jazz ketiga, saya mendaftar lewat situs resmi mereka. Pendaftaran masih dibuka, ketika saya mendaftar. Dan setelah selesai mendaftar, situs itu memberi keterangan kalau saya telah berhasil mendaftar dan mengucapkan terima kasih telah mendaftar.

Di hari konferensi pers digelar, nama saya tak ada dalam daftar mereka. Lagi-lagi, orang-orang di sana, yang seharusnya bisa memberi keterangan soal ID, mengoper saya ke sana ke mari. Tanya si ini, disuruh ke si itu. Tanya si itu, suruh balik lagi ke si anu. Setelah tahu panitia mana yang benar-benar bertugas, ternyata orang itu begitu sibuk sehingga pertanyaan-pertanyaan saya dijawab dengan ketus. Padahal, kalau mereka sudah menetapkan satu orang yang bertanggungjawab untuk pengurusan ID, seharusnya orang itu diberi pekerjaan satu itu saja di hari konferensi pers.

Lagi-lagi, saya harus marah-marah. Solusinya, panitia memberi saya ID harian. Saya diminta datang ke venue, cari dia di meja media, menunjukkan ID pers, lalu diberi ID liputan.

Hari pertama Java Jazz 2007, saya datang sore hari. Mencari meja media, tak terlihat di pintu luar. Meja resepsionis penerima media, adanya di balik pintu masuk. Untuk masuk ke sana, perlu ID resmi mereka. Sedangkan untuk mendapatkan ID liputan, saya harus masuk dulu ke sana. Serba salah. Penjaga di depan tak tahu menahu soal proses itu.

Beberapa jurnalis di luar pun dijanjikan hal yang sama. Si panitia dihubungi lewat telepon tapi tak juga menjawab. Akhirnya, dia bisa datang setelah salah satu jurnalis yang kami kenal mendatangi dia di Media Room yang ternyata letaknya ada di dalam gedung. Wakwaw.

Java Jazz 2007, panitia tak hanya memberi ID, tapi juga memberi gelang kertas sebagai usaha pencegahan ID disalahgunakan. Siapapun yang kedapatan gelangnya robek atau digunting, nama dia akan dicoret. Ini pertamakalinya, saya merasakan kalau panitia Java Jazz seperti yang terlalu mencurigai mereka yang diberi ID.

Java Jazz 2008, saya yang salah. Lupa mendaftar. Pendaftaran ditutup tanggal 8 Februari, saya baru mendaftar tanggal 20 Februari. Akhir dari pembahasan.

Kali ini, mereka memakai sistem barcode. Wajah mereka yang memakai ID, akan terpampang dengan besar di layar komputer. Panitia lantas mencocokkan wajah di komputer dengan wajah si pemegang ID.

Mereka yang kebagian ID harian, sistemnya masih sama dengan tahun lalu. Akhirnya, cara yang sama harus ditempuh. Si jurnalis harus menitipkan ID pers dan KTP nya pada temannya, si teman mendatangi Media Room yang ada di dalam gedung, dan mengambilkan ID itu untuk temannya.

Sedangkan saya, kali ini saya mendapat tiket harian saja untuk hari Jumat, atas kebaikan Rileks.com. Hehe. Dan memang memakai tiket ternyata lebih nyaman ketimbang memakai ID. Para penjaga tak memberikan perhatian berlebihan untuk yang membeli tiket. Toh, kesempatan memotret pun sama antara pemegang ID dan pembeli tiket. Kecuali special show tentunya.

Dan inilah salah satu kelebihan Java Jazz Festival ketimbang pagelaran musik lainnya. Kamu tak perlu punya ID untuk bisa memotret dengan puas para penampil di sana. Satu-satunya yang membedakan adalah soal spesifikasi kamera dan lensa yang kamu gunakan. Selebihnya, kesempatannya sama. Banyak sekali penonton yang membawa kamera. Dan tak sedikit yang membawa lensa mahal. Haha. Kalau jurnalis, lensa mahal punya kantor. Mereka, lensa mahal punya sendiri. :p

Seorang kawan mengatakan, ada 7000 ID dicetak untuk Java Jazz kali ini.

Maka, rasanya bukan sesuatu yang berlebihan ketika saya merasa di sana seperti lebih banyak yang memakai ID ketimbang yang beli tiket. Yang beli tiket pun, mungkin tak sedikit juga yang gratisan atau membeli tiket di akhir tahun lalu, yang harganya jauh lebih murah. Tiket harian untuk tiga hari saja, dijual Rp 500 ribu.

Ini agaknya mendukung keterangan seorang kawan lain yang mengatakan kalau Java Jazz Festival sebenarnya bukan proyek menguntungkan. Coba saja hitung. Biaya menyewa JHCC salama tiga hari. Biaya menyewa kamar di Hotel Sultan selama minimal tiga hari, entah untuk berapa ratus kamar. Biaya menyewa tata cahaya dan panggung. Biaya untuk membayar kru produksi. Saya tak tahu berapa banyak tiga sponsor besar seperti BNI, Medco Energy dan Telkomsel memberi kontribusi finansialnya, tapi rasanya bukan tak mungkin juga biaya produksi belum tertutup oleh ke-tiga sponsor itu.

TENTANG PERTUNJUKKAN

Saya bukan penggemar berat jazz. Walaupun saya masih bisa menikmati musiknya. Tapi, ketika datang ke sebuah festival jazz, saya pasti dibuat bingung. Tak kenal para penampilnya. Di brosur jadwal pun, panitia tak memberi review singkat soal para penampil itu. Harusnya, ketika penonton masuk, brosur berisi jadwal dan biodata atau review singkat soal para penampil itu. Dengan begitu, mereka yang tak tahu banyak soal jazz bisa mendapat gambaran singkat. Ini akan membantu dalam memutuskan ruang mana dan penampil mana yang harus ditonton.

Bayangkan. Begitu banyak panggung, begitu banyak musisi, tampil di saat yang hampir bersamaan. Jarak dari satu ruang ke ruang lainnya menjadi terasa jauh karena begitu banyak orang di sana. Belum lagi, usaha untuk masuk ke salah satu ruangan perlu tenaga ekstra kalau ternyata penontonnya begitu membludak.

Akhirnya, selalu begitu. Saya masuk ke salah satu ruangan. Menonton 15 sampai 20 menit, lalu pergi. Mencari lagi pertunjukkan yang lain. Lihat sebentar, pergi lagi. Dan begitu seterusnya. Bagusnya, sekarang saya membawa kamera. Jadi, ada tujuan yang lebih jelas biarpun saya tak menikmati pertunjukkannya. Yah minimal untuk mengambil gambar lah.

Yang paling popular buat saya, mungkin hanya Incognito. Itu pun karena dulu, jaman kuliah, teman saya, Syauqy, selalu menyanyikan lagunya dan memuji-muji band itu. Dan sejak 2005, pemandangan si hitam gitaris Incognito, berjalan-jalan di JHCC atau Hotel Sultan selalu tampak.

Ternyata, mbahnya band Top 40 dan band café itu, jadi salah satu duta Java Jazz. Mereka yang akan mengajak lagi musisi-musisi Jazz untuk mau tampil di Indonesia. Atau, dengan kata lain, Incognito adalah home band Java Jazz. Mungkin, lama-lama, si hitam gitaris Incognito akan tinggal di Indonesia, masuk infotainment, mengawini artis lokal, nongkrong di Tanah Abang bersama komunitas kulit hitam dan nge-kos di Haji Nawi.

“Tadinya, Santana mau datang ke Indonesia. Tapi, karena di sini masih banyak pohon ditebang di hutan-hutan, dia menolak untuk datang,” kata Peter Gontha, pendiri Java Jazz Festival waktu konferensi pers digelar, Rabu [5/3] lalu.

Makanya, kali ini Java Jazz diselipkan dengan pesan-pesan lingkungan hidup—seperti halnya trend yang berkembang sekarang. Go Green! Begitu kata pesannya. Di pintu masuk, ada tenda kampanye Go Green itu. Beberapa kali saya lihat sih, di hari pertama, Jumat [7/3] lalu, tenda itu sepi pengunjung. Yah, mungkin mereka datang ke JHCC untuk melihat pertunjukkan musik, bukan mau mencari tahu bagaimana caranya mendaur ulang sebuah produk.

Peter berharap, dengan adanya pesan Go Green ini, tahun depan Santana mau datang setelah melihat ada juga orang Indonesia yang peduli terhadap lingkungan.

Dan soal pertunjukkan, Java Jazz 2004 yang paling meninggalkan kesan buat saya. the God Father of Soul datang! Yeah! James Brown! James Brown! Pertunjukkan yang megah dengan belasan musisi di satu panggung dan dikemas dengan baik. Sebelum James Brown masuk, MC menyemangati penonton membuat panas suasana. Sedikit mirip dengan konsep Orkes Melayu sih kalau versi lokalnya. Tapi, rasanya kemegahan pertunjukkan James Brown baru bisa disaingi oleh pertunjukkan Beyonce beberapa bulan lalu di Mangga Dua.

Tahun lalu, masih ada Jaque Mates yang secara musik lebih dekat ke hati saya. Trio blues bersaudara, yang katanya Java Jazz tahun lalu pertunjukkan terakhir mereka. Tapi, tahun ini saya melihat Tika membawakan lagu “Birokrasi Kompleks”-nya Slank dengan baik. Ah, coba saja dia tidak malu waktu dua tahun lalu diminta tampil oleh Bimbim di konser ulang tahun Slank. “Birokrasi Kompleks” versi Tika benar-benar memberikan nuansa baru, tanpa menghilangkan daya tarik yang sudah ada dari lagu aslinya. Kalau ada tribute album buat Slank, saya merekomendasikan Tika untuk ikut berpartisipasi.

Di jadwal, saya melihat tertulis Sol Project featuring Kaka dan Abdee Slank di lobby stage 3. Ditunggu beberapa menit, tak kunjung datang juga. Padahal, saya dan Jaymz sudah saling berdiskusi soal yang mana stage 3. Ternyata, Sol Project sudah bermain di depan mata kami. Belakangan saya tahu kalau Kaka dan Abdee tak jadi tampil bersama mereka.

Oya, Renee Olstead juga cukup memukau. Panggung dia yang paling menarik secara artistik. Artwork Java Jazz Festival di panggungnya, berbeda dengan artwork Java Jazz di panggung lainnya. Dengan Ron King Big Band, Renee Olstead memang sangat menghibur. Saya kira, Olstead sudah cukup berumur, yah seumuran ibu-ibu atau minimal mbak-mbak lah. Ternyata dia baru mau 19 tahun. Mungkin membawakan musik tua membuat Olstead terlihat lebih tua dari umurnya.

Tapi, dari tahun ke tahun, yang paling menarik buat saya soal Java Jazz, mungkin hanya keramaiannya saja. Ramai tapi tidak panas. Sebagai sebuah festival memang nyaman. Ruangan dingin. Bersih. Tata cahaya dan tata suara yang bagus. Keamanan terjamin. Bebas memotret. Kalau saja ada Java Rock Festival, di tempat yang sama, sepertinya saya akan lebih menikmati.

Hampir tengah malam saya pulang. Betis panas. Pinggang sakit. Selalu begitu setiap Java Jazz.

We Don’t Need Fairy Tales!

Sinjitos Records sedang giat-giatnya memromosikan album Curiouser and Curiouser dari Santamonica.

Rabu [5/3] siang lalu di Blitz Megaplex, mereka mengundang jurnalis dalam rangka pemutaran video klip single kedua mereka, “Ribbons and Tie.”

Bicara soal musik Santamonica, saya sempat dibuat mengernyitkan kening ketika sekira setahun lalu melihat mereka di panggung, membawakan musik yang berbeda dari EP mereka. Entah karena kuping saya masih menyukai musik mereka yang sebelumnya, entah karena saya belum siap mendengar perubahan itu, entah karena waktu itu Santamonica memang sedang tak bermain dengan bagus, entah karena aransemen musik yang mereka mainkan di dua pensi itu belum sematang seperti di album terbaru mereka.

Musik mereka sekarang, terdengar sophisticated, tapi masih catchy dan tak membuat kening berkerut. Yah sedikit banyak mirip nuansa penampilan Iyub dan Dita lah. Fashionable, pintar memadupadankan warna dan model, tapi tidak terlihat aneh dan tidak terlihat intimidatif buat orang yang non fashionable macam saya. Tanpa pretensi.

Dan sebagai sebuah single, “Ribbons and Tie,” ini sepertinya punya potensi untuk jadi single yang bisa menarik kuping baru. Sekarang, persoalannya tinggal bagaimana kemampuan promosi Sinjitos Records dan tentu saja kemauan media massa elektronik untuk mau memberi porsi buat musik Santamonica.

Dan siang itu, video klip yang tak kalah menarik dari lagunya, diputar perdana di depan publik. Ini kali pertama buat saya menyaksikan pemutaran video klip di bioskop mewah macam Blitz Megaplex. Seperti pemutaran perdana film layar lebar saja. Ada penjelasan dari sutradara, perkenalan kru, tanya jawab, dan tentu saja makan gratis. Hehe.

Si sutradara, mengambil konsep video klip itu dari lirik “We don’t need fairytales, we do it our way.” Intinya, sebuah kisah tak harus seindah dongeng dan punya akhiran yang klise bahagia hidup selamanya.

Saya jadi teringat tiga film bertema cinta yang beberapa hari lalu saya tonton; “Ayat-ayat Cinta,” “Love,” dan “From Bandung With Love.”

“Love” yang paling bagus menurut saya, di antara ketiganya. Dan saya sarankan untuk tidak tergiur dengan “From Bandung With Love.” “Ayat-ayat Cinta,” sinematografinya bagus, Carissa Putri-nya memang sungguh pemandangan yang indah, tapi ceritanya saya heran. Cerita begitu kok bisa digilai banyak perempuan ya? Itu kan seperti menggabungkan kisah Nabi Yusuf dan Sleeping Beauty, serta oya jangan lupa, Catatan Si Boy. Hanya bedanya, di “Ayat-ayat Cinta,” diselipi dakwah. Ada kesamaannya dengan film-film Rhoma Irama jaman dulu lah. Hehe.

Ah, maaf jadi melantur.

Begitu mendengar penjelasan soal inspirasi konsep klip, saya jadi bertanya-tanya, apakah lirik itu berasal dari pengalaman Iyub dan Dita. Mungkinkah ada orang yang pernah memandang sebelah mata pada kisah cinta mereka? Hehe. Maklum, asumsi-asumsi itu pengaruh tiga film cinta yang saya tonton beberapa hari sebelumnya. Ketika saya tanya Dita soal apakah lirik ‘We don’t need fairy tales, we do it our way,” merupakan salah satu bentuk kritik terhadap kisah cinta yang cantik seperti kisah cinta di dalam komik, dia menjawab…

Hmmm, saya lupa tepatnya dia menjawab apa. Hahaha. Kurang lebih sih, dia menjawab ya memang ada unsur kritik itu lah, sedikit. Maaf saya lupa. Mungkin kalau Dita membaca ini, bisa menjawab pertanyaannya. :p

Anyway, ini sedikit foto dari acara Rabu siang itu. Waktu Iyub mengundang saya ke sana, dan saya bertanya untuk majalah apa Yub?

“Majalah Multiply aja Leh,” dia tertawa.

Jadi, ini dia Yub, liputannya.