Nona Sari di Bawah Cahaya Gemerlap

Judul begitu, saya pakai karena sebagian besar foto ini adalah foto Nona Sari.

Selasa [11/12] malam kemarin, White Shoes & The Couples Company mengadakan konser “Senandung Masa Muda” di Pusat Perfilman Haji Usmar Ismail [PPHUI], Kuningan.

Saya tahu soal konser itu, sehari sebelumnya. Makanya, agak heran juga ketika ternyata undangannya, walaupun gratis tapi terbatas. Entah dari mana saja orang-orang yang datang bisa dapat undangan. Untung, Indra Ameng, manajer WSATCC berbaik hati mau memberi saya dan Arian undangan sehari sebelumnya.

Dan rupanya, orang-orang seperti saya dan Arian, yang masuk tanpa tiket undangan resmi, yang membuat venue penuh. Hehe. Akhirnya, banyak orang yang tak kebagian kursi, dan harus duduk di anak tangga di antara deretan kursi.

Ini kali pertama saya menyaksikan konser di dalam ruangan yang biasanya lebih banyak dipakai untuk acara pemutaran film. Menyenangkan. Dan memang cocok untuk musik WSATCC.

Sayang, acaranya tidak berjalan sesuai jadwal. Seharusnya, acara dimulai jam setengah delapan malam. Malah, sebelumnya saya dengar acara dimulai jam setengah tujuh malam. Tapi, baru jam delapan malam acara dimulai.

Saya tak tahu, ide siapa untuk membuka konser itu dengan pemutaran film dokumenter. Entah karena si pengelola tempat yang memintanya. Entah karena dari pihak WSATCC yang ingin memutar film dokumenter itu lantas memilih PPHUI sebagai tempat supaya sesuai dengan film yang diputar.

Gawat. Kalau ini dibuat untuk media massa, maka tulisan ini akan sangat kurang sekali dengan data.

Film dokumenter yang diputar adalah film “Misbach: Di Balik Cahaya Gemerlap.” Durasi malam itu, 35 menit. Belakangan saya baru tahu kalau durasi asli film itu lebih panjang. Itu sebabnya, ketika film itu diputar malam itu, seperti yang kurang fokus.

Jadinya tak jelas, antara ingin menampilkan profil Misbach Yusa Biran, atau ingin bercerita soal tak bagusnya dokumentasi film di Indonesia.

Tapi, untuk orang awam film seperti saya, film yang jadinya tak fokus itu cukup memberi informasi. Ternyata, ayah Sukma Ayu dan suami Nani Wijaya itu punya peranan penting dalam perjalanan film Indonesia. Dan cuplikan-cuplikan film lamanya, cukup bisa memberikan penyegaran. Juga sedikit membangkitkan keingintahuan akan film-film lama. Seharusnya, teve lokal kita bisa memutar film-film lama itu. Jangan cuma diputar di event-event yang relatif lebih susah dijangkau orang awam.

Usai pemutaran film, acara diistirahatkan setengah jam. Untuk menyiapkan alat-alat di panggung. Padahal, ini bisa dilakukan sebelum pemutaran film. Dan saya rasa, penonton pun tak akan keberatan langsung melihat penampilan WSATCC. Ketimbang harus menunggu lagi setengah jam.

***

Cuplikan-cuplikan film lama juga masih diputar di antara perpindahan lagu dalam penampilan White Shoes. Artis perempuan yang bernyanyi di film-film lama itu, gayanya memang mengingatkan pada gaya bernyanyi Nona Sari. Sayang, mereka kurang menggarap acara itu sehingga cuplikan-cuplikan film itu jadinya tak lebih dari sekadar tempelan. Beberapa bagian sih, ada yang memang terlihat ingin dihubungkan dengan adegan film lama itu.

Seperti ketika Nona Sari memakai pakaian ala pramugari zaman dulu, misalnya. Sebelumnya, cuplikan “Asrama Dara” diputar. Adegan antara [sepertinya] seorang pilot dan pramugari. Pilot cunihin itu selalu merayu si pramugari sepanjang jalan dari kediaman si pramugari hingga bandara Kemayoran.

Tapi, kekurangan-kekurangan kecil itu masih bisa dimaafkan. Tak mengurangi daya tarik konser. Apalagi mereka tampil dengan string dan horn section. Dan selain musiknya, kostum Nona Sari membuat konser itu jadi lebih menarik.

Sari jadi sorotan malam itu. Dia berusaha melucu, walaupun-kadang-garing-tapi-dimaafkan-karena-itu-Nona-Sari-yang-berbicara.

Malam itu, Sari menari-nari. Sari melenggak-lenggok. Sari meniru gaya bicara Cinta Laura. Dan Sari mengungkapkan rasa harunya.

Dan tentu saja, akhirnya saya lebih banyak mengambil gambar Sari. Bisa jadi karena kursi saya yang ada tepat di depan Sari. Atau karena Sari mencuri perhatian saya sekali lagi.

Ini Dia Feature Juara Itu…

Saya mendapat juara pertama dalam Anugerah Adiwarta Sampoerna 2007, untuk kategori feature seni dan budaya. Alhamdulillah. Ada total 2117 karya berupa tulisan tahun ini. Saya mengirimkan tiga tulisan; “(ak.’sa.ra): skrg,” “[Bukan] Kerja Rodi,” dan “Menunggu Matinya Majalah Musik.”

Dua feature saya masuk final; yang aksara dan yang majalah musik. Nah, yang aksara itulah yang kemudian dipilih Dewan Juri untuk jadi juara. Effendy Ghazali salah satu yang memilihnya. Konon, dia tak suka dengan majalah Playboy. Mungkin ini akhirnya jadi semacam tamparan buat dia. Karena ternyata, tulisan yang dipilihnya, berasal dari majalah yang dia tak sukai. Hehe.

Semua karya yang dikirim ke panitia, diberikan pada Dewan Juri tanpa nama penulis dan medianya. Dengan begitu, juri bisa memilih tanpa terpengaruh nama penulis atau media. Untuk lebih jelasnya, silakan cek www.maverickid.com.

Nah, di bawah ini, tulisan yang dimenangkan itu. Dimuat di Playboy Indonesia, edisi Nopember 2006. Kalau ada waktu, saya upload juga foto di halaman depannya. Tapi, untuk sementara, silakan baca dulu ini.

Oya, awalnya, saya memakai lead; “Tiga anak muda ibukota mencoba menawarkan pilihan lain lewat bisnis yang mereka kelola.” Tapi, pemred saya meminta saya mengubahnya.

(ak.’sa.ra): skrg

Potret kaum hipsters Jakarta.

Skinny jeans, kemeja serta celana bermotif kotak-kotak, vest, kacamata bingkai tebal, legging dipadu dengan rok mini, warna pakaian yang saling bertabrakan, sepatu Converse, sepatu Vans, rambut awut-awutan ala Afro, rambut modern bob hingga pony tail! Begitulah penampilan sebagian besar anak muda yang datang ke Hard Rock Café, Jakarta, di akhir Agustus malam itu.

Ini kali kedua aksara records menggelar showcase. Mei lalu, mereka menggelar showcase yang pertama di Barbados Café, Kemang. Sekaligus launching album pertama The Brandals yang di-repackage. Kini, mereka menggandeng trax fm dan mendapat sponsor dari Citibank Clear Card. Selain untuk promosi band rilisan aksara records, ajang itu dijadikan ajang pencarian bakat baru. Maklum, di acara yang bakal digelar sebulan sekali itu, satu band yang belum punya label diberi kesempatan tampil. Tentu saja yang dianggap memenuhi selera musik aksara records.

Tidak seperti banyak pertunjukkan di Hard Rock, yang tampil kali ini bukan kelompok musik papan atas yang penjualannya ratusan ribu hingga jutaan kopi. Itu menjelaskan kenapa banyak anak muda dengan gaya berpakaian yang biasanya sering terlihat pada pertunjukkan musik di Pensi SMA, bar atau klub kecil dengan headliner yang lebih sering dikenal sebagai band indie.

Dan malam itu, mereka datang untuk The Adams yang baru saja merilis album keduanya berjudul V2.05. Untuk standar kelompok musik mana pun, menggelar pesta launching album di Hard Rock, termasuk mewah. Dengan begitu, ini bisa jadi salah satu cara untuk mengukur perkembangan aksara records.

Hard Rock Café penuh sesak. Bisa jadi, ada dua penyebabnya. Acaranya gratis. Lantas penampilnya sudah punya massa yang cukup solid. Maklum, biarpun The Adams belum mencapai popularitas seperti Peterpan atau Slank misalnya, mereka sudah menjajaki banyak panggung dengan modal tiga album kompilasi dan dua album studio.

Album kedua sekaligus menandai resminya formasi terbaru mereka; gitaris/vokalis Ario, gitaris Ale, bassist Arfan, kibordis Kaka, dan drummer Gigih. Sebagian besar yang datang sepertinya memang datang untuk The Adams. Bukan apa-apa, ketika Tika tampil sebelumnya, dan Stereomantic tampil sesudahnya, penonton hanya menyaksikan sambil terdiam. Malah, ada beberapa orang yang bertanya-tanya siapa yang mereka lihat di panggung ketika Tika tampil. Sedangkan ketika giliran The Adams tampil, penonton ikut menyanyikan beberapa lagu yang diambil dari album pertama mereka.

“Kami ingin gerliya nembus pasar mainstream, supaya market-nya bisa dilebarin,” kata Hanin Sidharta, Artist & Repertoire Director aksara records. Singkatnya, A&R adalah pencari bakat dalam sebuah perusahaan rekaman.

Embrio aksara records dimulai ketika Hanin tidak betah kerja kantoran. Sewaktu masih kuliah di jurusan Liberal Arts di Adeplhi University, New York, yang ia masuki di tahun ‘91, Hanin sempat pulang ke Jakarta dan bekerja di perusahaan ayahnya. Karena tidak betah, ia lantas menyelesaikan kuliahnya yang tertunda. Pulang dari luar negeri, Hanin kembali kerja kantoran selama dua tahun, tapi tidak betah juga. Passion-nya pada musik terlalu besar. Ia selalu ingin berbisnis di bidang musik. Setelah bertemu kembali seorang teman yang pernah satu band dengannya, Hanin akhirnya memproduksi album Shelomita. Merasa tidak ada studio rekaman yang bagus di Jakarta, ia dirikan studio Pendulum pada tahun 2002. Modalnya; kira-kira setengah milyar rupiah yang ia pinjam dari ayahnya.

“Ayah Anda percaya?” tanya saya.

“Karena emang dia liat, nggak ngasih apa-apa lagi kali ya,” katanya sambil terbahak.

Tahun 2002, Hanin bergabung dengan aksara bookstore yang waktu itu mulai membuka section musik. Ia lantas menjadi Director of Music Divison dan menjadi salah seorang penanam modal di sana.

“Saya paling kecil share-nya, gitu aja deh,” katanya soal posisinya di sana.  

Waktu awal dibuka, aksara music masih belum tertata rapi. Campur aduk dengan toko buku. Album yang dijualnya masih sama dengan banyak toko kaset lain. Aksara kemudian merekrut David Tarigan dan Kartika Saraswita untuk mengelola aksara music.

David adalah salah seorang ikon aksara. Ia musisi sekaligus kolektor musik yang juga pernah mengelola Ripple, salah satu majalah indie di Bandung. Sedangkan Ika, sebelumnya ia pernah melamar untuk jadi part timer sebagai costumer service aksara bookstore. Ia tidak diterima. Suatu hari, Ika bertemu dengan seorang kru aksara bookstore waktu berbelanja piringan hitam di Jalan Surabaya, Ika disuruh melamar kembali ke aksara yang waktu itu akan membuka section musik.

20 Nopember 2002, untuk meresmikan aksara music, diundanglah Mocca, indie pop band keluaran FFWDRecords Bandung yang waktu itu akan rilis album pertamanya, My Diary.

“Gue liat, animonya gokil banget. Gede banget! Terus, kata David, ada scene yang lagi gede-gedenya nih di BB’s Café,” kenang Hanin.   

BB’s adalah bar dan café tiga lantai di daerah Menteng, Jakarta Pusat. Tempatnya sempit. Jalan masuknya hanya satu. Kalau ada kebakaran, kemungkinan semua yang ada di sana tidak bisa menyelamatkan diri. Di sana, sering digelar acara yang menampilkan DJ-DJ yang memainkan musik new wave dan metal. Dan scene yang sedang besar yang dimaksud David, adalah munculnya band-band kecil yang belum punya album.

“David bilang, nggak ada yang mendokumentasiin nih. Padahal, band-nya bagus. Sayang nih kalau nggak direkam! Makanya, kalau nggak ada si David, nggak ada aksara records,” kata Hanin.

Studio Pendulum pun dimanfaatkan. Band-band dikumpulkan untuk dimasukan dalam album kompilasi. Bukan pekerjaan mudah mengumpulkan sebelas band. Apalagi pengerjaan sebagian besar proses rekamannya, menunggu studio kosong. Akhirnya, tahun 2003, rilisan pertama aksara records keluar. Album kompilasi berjudul JKT:SKRG. Pengisinya; The Adams, The Brandals, C’mon Lennon, Ruang Hampa, Sajama Cut, The Sastro, Seringai, Sore, Teenage Death Star, The Upstairs dan Zeke & The Popo. Rilisan ini dianggap salah satu album indie terbaik di tahun 2003.

“Gue tanya Hanin, gimana? Rilis aja lah. Kan toko buku, masih ada benang merahnya sama CD lah. Dulu, nggak ada orangnya. Cuma gue sama Hanin. Nggak ada pikiran mau bikin label proper gitu. Akhirnya mau nggak mau, respon orang bagus, sayang juga,” kata David.

Setelah JKT:SKRG, produk kedua aksara records adalah The Adams. Itu pun di luar rencana sebenarnya. Suatu hari, anak-anak The Adams bilang pada Hanin soal rencana mereka mencetak album pertamanya sebanyak seribu kopi. Karena materinya dianggap bagus, lantas aksara records membiayai produksi album itu.

Tapi, sebagai label, aksara records baru benar-benar terbuka jalannya ketika merilis soundtrack film Janji Joni. Kesuksesan album Janji Joni benar-benar memperluas pasar aksara records.

“Waktu itu, Vivian Idris, marketing kami ngasih denger JKT: SKRG ke Nia Dinata. Ada lagunya Teenage Death Star, yang judulnya [I Got] Johnny In My Head. ‘Wah, ini pas banget sama energinya’ kata Nia. Akhirnya Nia mau buat soundtrack. Filmnya laris. Band-band keangkat. Apalagi lagu Senandung Maaf punya White Shoes. Sama lagunya The Adams,” kata Hanin.  

Aksara records baru mulai benar-benar belajar jadi label yang benar ketika merilis album perdana White Shoes & the Couples Company. Mereka bekerjasama dengan Universal Music Indonesia di album itu. Kini, selain The Adams dan White Shoes, aksara records punya nama-nama antara lain; Tika, Sore, Goodnight Electric, The Brandals, Ape on the Roof dan Stereomantic.

Kalau kebetulan semuanya berasal dari Jakarta, itu karena paling mudah secara teknis. Kantor aksara records juga berada di gedung yang sama dengan studio Pendulum. Akhirnya, banyak orang nongkrong  di sana. David jadi sering ikut dalam proses kreatif band-band itu. Intinya, prosesnya tidak berlangsung dingin.

“Gue nggak mau bilang komunitas. Karena emang, lingkungan yang kami punya kali ya. Secara nggak langsung emang begitu. Tongkrongan banget sih tempatnya. Ada semua di situ. Bertukar pikiran. Akhirnya kami berproses bareng-bareng,” kata David.

Ini bukan sesuatu yang baru sebetulnya. Pertengahan tahun ’90-an, di gang Potlot, markas Slank, pernah ada komunitas begitu. Musisi berkumpul. Saling bertukar pikiran. Maka muncullah nama seperti Kidnap Katrina, Oppie Andaresta hingga Imanez. Walaupun sekarang, tempat itu lebih dikenal sebagai tempat berkumpulnya Slankers alias penggemar fanatik Slank.
   
Seperti halnya Slank di awal kemunculannya, aksara records juga mencoba menawarkan sesuatu yang  berbeda. Yang di luar mainstream. Hanin pernah mencoba berbisnis dengan mengikuti selera pasar ketika merilis album Shelomita. Ketidaksuksesan album itu membuatnya berpikir kembali. Makanya, ia mencoba membuat pasar sendiri.

Kini, band indie mulai dapat perhatian dari publik yang lebih luas. Beberapa bulan lalu, LA Lights menggelar kompetisi band yang mereka beri nama LA Lights Indie Fest. The Upstairs, dikontrak Warner Music Indonesia. Video klipnya mulai masuk chart MTV Ampuh. Walaupun jarang diputar di televisi, video musik The Adams mendapat penghargaan video musik indie terbaik versi Anugerah Musik Indonesia 2006 yang diadakan Indosiar.

Aksara records punya peranan di sana. Ikut dalam usaha membuat banyak band indie diterima publik lebih luas. Juga ikut diuntungkan oleh kondisi ini. “Tantangan terbesar kami sekarang, adalah distribusi dan marketing. Kalau begitu, kami harus professional. Se-mainstream mungkin. Makanya, kalau nggak dibantu sponsor nggak mungkin sebesar sekarang,” kata Hanin.

Tidak hanya soal musisi yang dikontrak, album yang ditawarkan di aksara music pun di luar mainstream. Setidaknya, album-album yang dijumpai di sana, kemungkinan besar jarang dijumpai di toko kaset lain. Tidak ada batasan umur dari target pasar mereka. Yang jelas, orang-orang yang ingin sesuatu yang baru. Ibaratnya, mereka yang pernah melihat video klip Interpol, tapi tidak tahu di mana harus membelinya.

“Serious music lovers lah. Aksara records cuma ngasih alternatif ke Indonesian music lovers. Ini musik kayak gini ada loh. Please check us out! If you like it, buy our albums. If you don’t,  buy them anyway,” kata Hanin sambil tertawa.   

David punya gambaran lebih detil soal target pasar mereka. Pertama, yang baca majalah musik. Mereka yang membaca soal album baru, dan ingin mencari di sana. Kedua. anak muda. Karena musiknya sangat anak muda. Ketiga, ini traffic, di Kemang. Banyak ekspatriat dengan latar belakang macam-macam. Datang ke sana, ngobrol, memberi apresiasi.

Bagi serious record buyers, kehadiran section musik di aksara benar-benar membantu. Banyak album yang tadinya hanya bisa dibeli lewat internet, bisa dicari di sana. Tidak terlalu luas memang. Hanya menempati duapuluh persen dari seluruh aksara bookstore. Tapi benar-benar segmented.

“Ini bentuk kekecewaan kalian terhadap record store yang ada?” tanya saya pada David.   
 
“Gue lebih mikirin ke passion sih. Keasyikan kami. Kesukaan kami terhadap good music mungkin. Hahaha. Good pop music,” jawabnya.

David dan Ika, adalah yang bertugas mengurusi album apa saja yang dijual aksara music. Ika menyebut musik aksara dengan satu kata; hip! Harus yang bisa diterima, tapi tidak boleh mainstream.

“Ada yang bilang, aksara tempat berkumpul hipster ibukota,” kata saya.

“Ya bisa-bisa aja sih,” jawab Ika sambil tersenyum.


***
 
Hipster, menurut wikipedia, adalah orang yang biasanya selalu dihubungkan dengan subkultur yang dianggap hip; keren, trendy, fashionable. Istilah hip awalnya digunakan tahun ’40-an di Amerika Serikat untuk mendeskripsikan penggemar jazz. Swing Street, New York City asal dari istilah itu. Waktu itu, musisi Jazz menggunakan kata hep dan hepcat untuk menyebut diri sendiri dan mereka yang “mengerti jazz”. Hep, bentuk awal dari kata hip. Cat/kat, digunakan untuk menyebut “orang”. Jadi, hip kat atau hepcat adalah orang yang kekinian atau up to date.

Seiring dengan meningkatnya popularitas musik jazz di kalangan squares [mereka yang tidak mengerti], serta banyak para squares ini memakai istilah itu, para musisi mulai menggunakan kata “hip”. Untuk membedakan mereka dari fans dan squares. Adalah Harry Gibson, pianis terkenal di Swing Street, yang menemukan istilah hipster. Dia memanggil penontonnya dengan “all you hipsters”. Ini membuat musisi lain memberinya julukan “The Hipster” sekitar tahun 1940. Pada tahun 1944, Gibson merekam “Handsome Harry, The Hipster”. Sejak saat itu, istilah hipster pun menyebar. 

Dalam arti yang sesungguhnya, original hipsters adalah para musisi jazz dan swing di tahun 1940-an, atau pecinta musik tersebut, ketika musik “hip” masih diasosiasikan dengan musik orang African-American. Walaupun hipsters bisa kulit hitam atau kulit putih, istilah itu belakangan lebih sering digunakan untuk orang kulit putih pecinta musik, groupies, dan anggota dari apa yang disebut Bohemian Set, atau Beat Generation.

Penggunaan istilah hipster untuk orang kulit putih yang menyukai segala hal yang avant-garde dan kebudayaan African-American dipopulerkan oleh Norman Mailer pada tahun 1956. Ia menulis essay berjudul The White Negro: Superficial Reflections on the Hipster. Kadang, hipster juga disebut sebagai beatniks—diambil dari the Sputnik, satelit Rusia. Istilah ini ditemukan Herb Caen, kolumnis dari San Francisco.

Masuk di tahun ’60-an, istilah hipster tidak lagi digunakan karena munculnya istilah hippies. Lantas, sejak akhir ’90-an, kata hipster muncul kembali sebagai istilah untuk para musisi dan pecinta indie rock dan downtempo electronica, serta jenis musik dan fashion yang berhubungan dengannya. Aksesoris stereotype modern hipster biasanya mencakup scooter Vespa, kacamata model Buddy Holly, sabuk putih, keanggotaan di band lokal, sepatu Converse, serta pakaian vintage.

Modern day hipsters memuja retro fashions, independent music and film, komik alternatif, serta bentuk ekspresi lain di luar mainstream. Mereka sering dihubungkan dengan indie culture. Secara umum, trendsetters dalam fashion biasa disebut hipsters juga. Walaupun penggunaan istilah ini berbeda dengan hipster subkultur, yang selera fashion-nya spesifik dan biasanya tidak ditujukan untuk mainstream. Tidak seperti generasi hipsters sebelumnya, mereka sekarang jarang diasosiasikan dengan scene musik jazz. Walaupun istilah itu kembali digunakan karena adanya swing revival dan lounge revival pada pertengahan tahun ’90-an.

Ada beberapa modern day hipsters yang bahkan tidak benar-benar butuh pekerjaan [dan seringkali disokong orangtuanya]. Hipster jenis ini sering disebut sebagai TFB atau Trust Fund Baby. Karena kondisi keuangan yang stabil, ketika bekerja, mereka biasanya memilih tempat yang memungkinkan untuk berinteraksi dengan hipsters lain, seperti toko musik alternatif, coffee shop atau bar. Nah, mereka inilah yang agaknya jadi target pasar aksara music.

Belakangan, istilah hipster sering jadi bahan olok-olokkan. Kritikan paling umum yang biasa dilontarkan adalah mereka hanya “penggali kebudayaan” yang tidak sekreatif dan seunik yang terlihat. Istilah “Cut and Paste Generation” pun muncul. Karena mereka memuja pakaian dan gaya musik lama, seringkali ironis. Akhirnya, hipster jarang digunakan untuk menyebut jati diri. Kecuali dalam konteks ironis atau mengolok-olok diri sendiri.

***

Ketika saya hubungi untuk meminta janji wawancara, Winfred Hutabarat sempat mengatakan keberatannya. Alasannya, “It’s not you. It’s just my thing,” katanya. Tapi, ia luluh juga. Walaupun dengan catatan; tanpa difoto.

Bicara aksara, bicara Winfred. Tahun 1997, Winfred terpikir untuk membuka toko buku impor. Waktu itu ia masih kuliah di Amerika Serikat dan sedang berlibur di Jakarta. Ia merasa kalau kota metropolis seperti Jakarta belum punya toko buku impor yang bagus. Tapi, krisis moneter tiba-tiba datang. Dan ide itu pun tertunda. Ketika tahun ’99 ia pulang ke Indonesia, ia “mengunjungi” kembali ide itu bersama Arini S. Subianto.

Persahabatan Winfred dan Arini dimulai ketika mereka sama-sama kuliah di Amerika Serikat. Winfred mengambil jurusan International Relations. Arini mengambil jurusan Fashion Design.

Untuk mewujudkan idenya, mereka mencari lokasi sama-sama. Kemang pun disepakati jadi lokasi yang tepat. Harganya cocok. Lokasinya di tengah. Dan cukup accessible untuk orang-orang Selatan. Arini juga ingin membuka tokonya di daerah di mana orang bisa berjalan kaki.  Waktu itu belum banyak toko di Kemang. Kalaupun sekarang jadi daerah yang ramai oleh toko, itu di luar dugaan Arini.

Seperti halnya Hanin, Winfred dan Arini mendapat pinjaman uang dari keluarga untuk menjalankan bisnisnya. Berapa modalnya, mereka enggan menyebutkan. Yang jelas, kata Arini, dibandingkan toko buku lainnya, modal mereka tidak besar.

“Makanya kami berdua harus tetep teka-teki saja. Gimana caranya dengan segitu, we can get the best selection, we can get the best deal, we can provide the best atmosphere,” kata Arini.

Soal model, Winfred dan Arini mengambilnya dari toko-toko buku yang sering mereka lihat sewaktu kuliah. Setiap summer, mereka berlibur di daerah Selatan. Karakter dari toko-toko di sana cukup casual, tidak perlu rapi, yang penting warm.

“Kami terinspirasi oleh konsep toko yang independent. Yang memungkinkan kami selling product that unique, yang tidak terlalu komersil. Juga punya karakter sendiri. Dari berbagai macam toko lah, inspirasinya,” kata Winfred.

Bedanya, Winfred dan Arini tidak ingin buku yang dijual menumpuk seperti di kebanyakan toko buku independent itu. Plus, mereka berdua sama-sama tertarik pada arsitektur. Karenanya, design jadi salah satu unsur yang diperhatikan. Tidak tanggung-tanggung, Andra Matin, salah satu arsitek muda terbaik Indonesia dengan gaya modern minimalis, dipercaya untuk mendesaiin toko mereka.

Oktober ’99, Winfred membuka aksara bookstore. Di lokasi yang sama, Arini membuka prodak, toko furniture dan gifts. Dua toko itu masih dipisahkan oleh sekat. Belum terpikir untuk membuka sekat dan menggabungkan dua toko yang berbeda itu. Akhir 2002, Hanin bergabung. Seperti juga Arini, Hanin kenal Winfred ketika sekolah di luar negeri. Kalau kebetulan ke Jakarta, mereka sering pergi ke pesta yang sama.

Atas saran Hanin, tahun 2002, aksara dan prodak digabung menjadi aksaraprodak. Sekat itu dibuka. Tahun 2003, aksara cabang Cilandak Town Square dibuka. Tahun 2004, aksara membuka cabangnya di Plaza Indonesia. Tahun 2004, dua perusahaan aksara dan prodak resmi bergabung. Belakangan, nama aksaraprodak tidak lagi dipakai. Untuk memperkuat brand, mereka memutuskan memakai nama aksara saja. Dengan variannya; books, music, gifts, homewares. Mei 2006, aksara menggandeng yang disebut Arini dengan “silent partner”. Mereka membantu menyusun konsep café yang terletak di di lantai dua; Casa.

“Aksara bukan bookstore lagi. Tapi lifestyle store. Ada hip-nya, edukasinya. Hip life style. Kebanyakan orang-orang educated. Filmmakers, orang media yang pengin tahu life style sekarang kayak gimana, udah sampai mana, kami provide,” kata Hanin.

Untuk sampai di tahap itu, tidak semudah membalik telapak tangan. Ketika baru dibuka, masih banyak orang yang belum tahu soal keberadaan aksara bookstore. Salah satu cara yang mereka lakukan untuk menarik orang supaya datang ke sana, adalah dengan mengadakan berbagai kegiatan. Karena mereka berdua suka kebudayaan, maka kegiatan yang digelar berkaitan dengan itu.

Diskusi buku, konferensi pers, pemutaran film, eksibisi karya seni, kumpul-kumpul arsitek, belajar desain, semuanya pernah digelar di sana. Untuk mendukung komik Indonesia, aksara juga punya klab komik, yang tiap bulan membuat komik Indonesia. aksara juga dianggap sebagai salah satu pihak yang mempopulerkan lomografi di Indonesia. aksara juga mendukung desainer lokal dengan memberi ruang untuk meluncurkan produk mereka dan menjual produknya. Walaupun, tentu saja, tidak menjual mass-produced product. Salah satu produk lokalnya, adalah Jenggala, keramik dari Bali yang dibawa ke Jakarta untuk dijual. Sementara soal produk yang dijual, ada proses pengeditan yang cukup panjang. Ada kurasinya. Tidak sembarangan semua barang itu bisa dijual di sana.

“Aksara ingin jadi simpul kultur?” tanya saya.

“Pengin sih pengin. Tapi biarlah terjadi sendiri. Kalau dibilang tujuannya begitu, terlalu pretensius. Kami cuma mengakomodir konsumen kami. Juga mengembalikan fungsi venue ini untuk publik. Untuk aktifitas yang berhubungan dengan youth and urban culture. Kalau bisa dimanfaatkan untuk melakukan aktifitas yang berkaitan dengan art and culture,” jawab Vivian Idris, Director of Marketing.

Secara tidak langsung, akhirnya aksara telah menjalankan fungsi edukasi lewat kegiatan dan produk mereka. Begini, ada tiga anak muda; Winfred dengan passion-nya pada desain, Arini dengan passion-nya pada fashion, dan Hanin dengan passion-nya pada musik. Aksara adalah perpanjangan tangan dari mereka.

“Secara nggak langsung, terjadi mau gimana pun juga. Ibaratnya, kantung budaya. [tertawa]. Gue juga kaget aksara bisa begini. Awalnya kan dulu bookstore. Mau buka section musik nih. Wah, yoi banget nih! Gue seneng banget. Tiba-tiba ada section musik dengan pendekatan yang nggak pernah ada di sini. Record store yang sudah established di Jakarta dengan mungkin jalan Surabaya atau Jalan Cihapit di Bandung mungkin. Ngobrool melulu kerjaannya. Gara-gara itu juga. Ya akhirnya tokonya kebuka. Akibatnya segala kemungkinan masuk. Akhirnya, dengan aksara sebagai tempat aja, ini buat tempat nongkrong anak-anak muda jaman sekarang yang sadar budaya banget. Seneng musik, segala macem. Dari hal musik-musik yang nggak lajim di negara ini, tapi banyak orang yang membutuhkan. Sesuatu yang minor akan menjadi proses pembelajaran. Orang pasti akan menghubung-hubungkan dengan itu,” kata David.

“Kalau boleh dibilang, kami ingin ada semacam edukasi kepada market. Musik tuh nggak begitu aja. Di Jakarta juga bisa ada toko begini, bukan di Paris aja. Barang-barang dijual di sini, sejenis dengan barang-barang yang ada di Paris. Arini dan tim bener-bener riset mencari barang, dengan keliling dunia. Melihat barang-barang yang unik yang belum ada di Indonesia. Tentu saja dengan melihat range harga,” kata Vivian dengan semangat.

Di luar sana, banyak juga orang dengan passion yang sama. Hanya, tidak semuanya punya fasilitas, akses, maupun modal seperti Winfred, Arini atau Hanin. Kehadiran mereka di industri, tentu saja membantu membuka akses buat banyak orang. Akhirnya, ada semacam transfer budaya. Walaupun Winfred mengatakan yang mereka lakukan sebenarnya cuma berusaha menghibur, tapi fulfilling.

“We’re trying to make reading fun. Making product yang tadinya tidak terlalu accessible, lebih accessible,” kata Winfred.

“Kami ingin ngasih liat, what’s out there! Outside Jakarta, yang bisa diadaptasikan di everyday life di Jakarta,” tambah Hanin.

 Enam tahun memang masih relatif muda. Tapi, brand aksara sudah punya imej yang kuat. Bagi sebagian orang, aksara jadi salah satu tempat yang harus dikunjungi kalau ada di Jakarta. Pernah, suatu hari, ada orang Surabaya yang sedang ada di Jakarta, terus menelepon kantor aksara. Menanyakan rute ke sana.

“Itu sebenarnya by product, tidak kami rencanakan. tapi akhirnya jadi daya tarik sendiri. Hal-hal begitu cukup menyenangkan. Berarti pesannya sampai. Ada section CD kami yang diapresiasi,”  kata Vivian.
 
Selain musik dan buku, aksara juga pernah menerbitkan aksara majalah. Hanya bertahan beberapa edisi. Karena penggagas sekaligus pemimpin redaksinya harus pindah ke Amerika Serikat.

Untuk sampai saat ini, produk penerbitan mereka baru itu saja. Kalaupun Winfred dan beberapa teman arsitek menerbitkan buku bertema arsitektur dan urban issue, itu diterbitkan oleh publishing company bernama Borneo. Bukan atas nama aksara.

Sampai saat ini, mereka belum terpikir untuk menerbitkan kembali majalah. Biarpun itu sebagai katalog mereka seperti yang dilakukan anak-anak 347 di Bandung. Mereka menerbitkan Ripple, yang awalnya untuk catalog produk mereka, tapi belakangan jadi majalah yang menaruh perhatian besar terhadap scene indie. Mereka pun membentuk Spills Records untuk merilis album dari band yang mereka anggap bagus. Bedanya dengan aksara, 347 berangkat dari toko pakaian serta tidak punya tempat untuk publik berkumpul.

Makanya, ketika bicara aksara, sudah tergambar karakter orang seperti apa yang datang ke sana. Apa yang dikenakannya. Musik apa yang didengarkan.

Yang dilakukan aksara records juga sebenarnya telah dilakukan FFWDRecords Bandung lebih dulu di tahun 1999. Dengan modal kecil, beberapa orang pendiri menyumbangkan uangnya, mendirikan label. Mereka jadi label resmi yang merilis album dari band seperti The Cherry Orchard, Club 8, 800 Cherries hingga akhirnya Mocca yang membuat nama FFWDRecords dikenal dan diakui sebagai label indie yang disegani. Tapi ada yang tidak dimiliki FFWDRecords; venue untuk publik.

Tersedianya fasilitas itulah, yang kemudian mendukung aksara dengan segala kegiatan dan bisnisnya. Di bagian belakang, ada café di mana orang bisa mengakses internet sepuasnya. Tidak sedikit yang sekadar kumpul dengan teman atau mengadakan meeting di sana. Dalam kadar tertentu, komunitas aksara—kalau memang boleh disebut komunitas—sedikit mengingatkan pada komunitas Utan Kayu dengan segala kegiatan kultural-nya. Kegiatan maupun produk di luar mainstream. Hanya mungkin, bedanya aksara mengambil pasar anak muda yang lebih hip.

Arini hanya tertawa ketika mendengar saya bicara soal itu. “Could be. Kalau ada yang bilang begitu, it’s a nice compliment,” katanya.

“Walaupun kami bukan institusi yang punya misi non profit cultural. Misinya, we’re trying to make cultural industry. Lewat retail, aksara records, lewat producing music, sama design product,” tambah Winfred.

“Sebenarnya we don’t take ourselves that seriously untuk events. We want to have fun. Actually, we do what we like.  Dan kebetulan yang kami senangi merefleksikan hal-hal yang penting buat aksara. Design, art, culture, musik, film, buku,” kata Vivian.

***

Sudah lewat tengah malam ketika aksara showcase berakhir. Di lantai atas, anak-anak The Adams bercengkerama dengan teman-teman dekat yang datang ke sana. Di luar Hard Rock, puluhan anak muda yang lelah duduk-duduk memadati lorong Plaza Indonesia. Sebagian dari mereka, memakai kaos The Adams yang dijual malam itu. Keberhasilan target Hanin soal memperluas market memang belum bisa diukur. Tapi setidaknya, menembus Hard Rock Café sudah jadi langkah yang tepat untuk label indie macam aksara records memulai langkah melebarkan pasar. 

“Kenapa memilih Hard Rock?” tanya saya pada David.

“Ada tempat yang lebih mainstream lagi dari Hard Rock?” dia balik bertanya.


 

Serigala Militia: Chapter Bandung

“Ricky tak bisa datang, pacarnya hamil di luar nikah.”

Itu alasan pertama yang Arian, Khemod dan Sammy katakan pada penyiar radio di Bandung, ketika Kamis [29/11] lalu mengadakan tur wawancara dalam rangka promo Serigala Militia Release Party.

Alasan kedua, Ricky dibilang sedang menghadiri wisuda anaknya, yang mahasiswa abadi. Alasan ketiga, Ricky menjadi salah satu tim pengacara Ahmad Albar. Alasan keempat, Ricky terkait kasus narkoba bersama Ahmad Albar.

Selain pertanyaan kenapa Ricky tak hadir, para penyiar radio juga menanyakan hal yang kurang lebih sama.

“Kenapa sih albumnya dikasih judul Serigala Militia?”

“Apa yang Seringai harapkan dari album ini?”

“Kenapa kami harus membeli album Serigala Militia?”

“Apa sebenarnya konsep dari launching besok malam?”

Maka, jawaban-jawaban berikut ini yang terlontar di radio-radio itu.

“Ini sebuah penghargaan untuk fans kami, yang kami sebut dengan Serigala.”

“Kami ingin mengembalikan rock ke kaidah yang sesungguhnya. Rock pernah mengalami masa jaya beberapa tahun lalu. Tapi sekarang, banyak band yang mengatakan musiknya rock, tapi di albumnya, hanya ada tiga lagu yang kenceng, selebihnya temponya slow. Rock, kok slow?”

“Ini alternative dari album-album yang sekarang beredar di masyarakat. Kami ingin memberi pilihan lain pada masyarakat. Dan sekarang, kami membuat lagu yang lebih crowd oriented.”

“Sebenernya konsepnya sih, hura hura huru hara. Kami ingin bersenang-senang.”

***

Kami berangkat dari Cipete, jam lima pagi. Jemput Sammy di Menteng, lantas meluncur ke Bandung jam setengah enam pagi. Tiba di rumah Tanya—yang diberi tugas oleh EO, untuk mengawal Seringai wawancara radio, jam delapan pagi. Sarapan. Lalu, dimulailah tur radio.

Jam setengah sembilan kurang sedikit.
Ninety Niners Radio. Dulu 99,9 FM. Tapi, sejak ada penyesuaian gelombang radio di Bandung, jadi 100 FM. Ada di BRI Tower, depan alun-alun Bandung. Ini radio yang terkenal dengan banyak penyiar bancinya. Radio yang menyebut dirinya dengan Funky Funky Station. Dan menyebut DJ nya dengan Funky DJ. Tentu saja, nama programnya diawali dengan kata Funky. Bahkan, di luar pintu masuk, saya melihat banner kecil bertuliskan FBI: Funky apa lah itu B dan I nya saya lupa.

Seringai diwawancarai oleh dua penyiar; satu berlagak banci, satu sedikit normal. Walaupun sepertinya, dua penyiar itu, punya sedikit sekali info soal Seringai, mereka bisa membawakan acara dengan menarik. Tipikal penyiar banci memang selalu seperti itu. Mereka selalu menyenangkan membawakan acara. Plus, anak-anak Seringai memang senang sekali diwawancara.

Jam setengah sepuluh.

I Radio. 105,1 FM. Penyiarnya, tiga orang ‘pelawak’ yang menamakan dirinya Urban alias Urang Bandung. Mereka finalis Akademi Pelawak Indonesia angkatan kedua, yang digelar TPI. Dulu, siaran di Hard Rock FM Bandung. Suka berbicara bahasa Sunda. Makanya, ketika mereka dulu siaran di Hard Rock, imej HRFM yang kota, luntur oleh mereka. Mereka sepertinya lebih cocok di I Radio. Sammy banyak diam pada sesi ini. Mereka sering sekali berbicara dalam bahasa Sunda.

“Orang Jakarta, masih kalah sama orang Bandung kalau soal ukuran mah,” Elmi mencoba menceritakan lelucon.

“Sok, kalau kita lihat dari nama daerah aja. Jakarta mah, kan udah Pondok, Gede. Masih kalah sama orang Bandung, yang Leuwih Panjang!”

Beres dari I Radio, kami ke kantor Cerahati di Sukasenang. Di rumah yang sama dengan studio Reverse yang legendaris itu. Sebelum scene independen berkembang luas seperti sekarang, Reverse salah satu tempat yang memulai gerakan itu.

Khemod kangen dengan dua anjingnya. Boy dan saya lupa lagi namanya. Dua-duanya jantan. Konon, si jantan yang satu lagi, suka horny, dan menggesek-gesekkan kemaluannya pada si Boy. Tak cuma manusia ternyata yang orientasi seksnya bisa berubah ketika menghabiskan sebagian besar hidupnya di balik terali.

Jam satu.
Ardan 105,9 FM. Salah satu tempat di Bandung yang saya pikir memulai gerakan memasang papan penunjuk jalan dengan kata, “SLOW DOWN, ARDAN.” Yang sekarang banyak sekali ditemui di banyak tempat. Sedikit agak norak jadinya. Hehe.

Saskia pewawancaranya. Biasanya saya hanya membaca tulisannya soal aktivitas di Ardan, kini saya bisa melihatnya bekerja. Bahagia sekali Saskia menyambut Seringai. Sebahagia ketika dia berkata, telah membeli tiket dan bisa mendapat bandana Seringai.

Jam setengah tiga.
OZ 103,1 FM. Saya tak tahu nama dua penyiarnya. Yang jelas, di studio siaran, dipajang beberapa foto berukuran besar dari orang-orang yang pernah menjadi penyiar di sana; Coki Situmorang, Ringgo Agus Rahman, Sogi Extravaganza, dan tentu saja, menantu SBY, Annisa ah-kenapa-saya-sekarang-lupa-nama-belakangnya.

Jam lima.
Prambors yang saya lupa frekuensinya. Radio ini sedang berbenah. Mereka rencananya akan pindah dari gedung yang sekarang di Preanger Hotel ke gedung di Parisj Van Java. Penyiarnya, seorang rapper bernama Sindu dan seorang anak emo bernama Yas dari Alone at Last.

Jam enam usai sudah rangkaian wawancara radio itu. Begini enaknya kota kecil. Satu hari, bisa jalan ke lima radio. Dengan waktu yang sangat berdekatan antara satu radio dan radio lainnya.

***

Jumat [30/11], Asia Africa Convention Center [AACC]. Jam setengah delapan malam saya datang. Banyak orang berkerumun. Sebagian besar memakai kaos hitam. Saya kira, pertunjukkan belum dimulai. Ternyata, saya yang memilih untuk ngobrol di luar hingga jam delapan kurang, harus tertinggal penampilan The Bohays. Efek Rumah Kaca pun, hanya menikmati tiga lagu terakhir.

Tata cahayanya buruk sekali. Saya tak bisa mendapat gambar Efek Rumah Kaca dengan baik. Mungkin faktor operator. Padahal, lampu-lampunya sih sudah cukup untuk bisa memberikan penerangan yang baik. Kalau dibandingkan dengan launching di Jakarta beberapa bulan lalu, para pembuka acara diberi tata cahaya yang sama bagusnya dengan Seringai.

Crowd belum merapat. Sebagian besar duduk. Ruangan masih luas. Ketika Rajasinga naik, crowd mulai panas. Tapi, venue belum rapat. Rupanya masih banyak orang di luar. Mungkin mereka menunggu Seringai saja. Saya tak tahu banyak soal grind core, tapi Rajasinga bermain cukup intens. Enerjinya besar. Dan gimmick melumuri tangan dan wajah mereka dengan obat merah menurut saya cukup bagus. Menambah kesan sangar.

Jam setengah sembilan lebih sedikit, Seringai akhirnya tampil juga. Dalam sekejap, venue menjadi penuh, hingga ke area paling belakang sekalipun. Sayang, bahkan ketika Seringai tampil pun, operator tata cahaya tidak bekerja maksimal. Didin Bahe, eks fotografer Ripple mengeluhkan hal serupa. Lebih banyak memainkan warna merah. Dan senang sekali mengeluarkan asap dari smoke gun.

Tapi, crowdnya jauh lebih atraktif dibandingkan crowd di Viky Sianipar Music Centre. Lebih dinamis. Sebagai gambaran, ketika launching di Jakarta, saya masih bisa memotret dengan tenang dari depan panggung. Di AACC, sudah tak mungkin. Karena mulut panggung sudah menjadi mosh pit yang padat oleh crowd yang menggila. Dari awal hingga akhir, mereka bernyanyi. Mungkin karena albumnya sudah beredar lebih dulu.

“Terima kasih buat kalian yang sudah membeli album kami. Membeli bajakannya, ataupun men-down load lagu kami dari internet. Kami tidak menolak file sharing,” kata Arian.

Seperti di launching sebelumnya, di tengah-tengah lagu “Alkohol,” ada adegan beer bong. Arian memanggil kawan lama yang ada di depan panggung, Toro, salah seorang tokoh punk Bandung. Toro tak kuat menahan aliran bir yang melaju kencang ke tenggorokannya melalui selang yang memang berukuran cukup besar itu. Tapi, malah seorang perempuan yang bisa menghabiskan bir itu.

Panggung di AACC lebih luas dibandingkan panggung di Viky Sianipar Music Center. Dan fotografer yang hadir lebih tertib. Mereka hanya berkumpul di sudut kanan dan kiri panggung. Sebagian memang ada yang tetap mengambil dari bawah panggung. Tapi, panggung tak dipadati oleh fotografer, ataupun orang-orang.

Pertunjukkan berakhir jam sepuluh malam. Lagu “Neraka Jahanam” yang dijadikan encore disambut meriah oleh crowd. Lagi-lagi, mereka ikut bernyanyi di lagu ini. Sepertinya sebagian besar yang datang tahu lagu itu.

“Bebaskan Ahmad Albar!” kata Arian sebelum lagu itu dimulai.

Beberapa orang dari crowd naik ke atas panggung ketika pertunjukkan benar-benar berakhir. Sebagian meminta drum stick Khemod. Meminta pick gitar Ricky. Sebagian di antara mereka, malah ada yang memeluk Arian dan Ricky.

Laporan Seorang Cheap Bastard dari Terusik Traxkustik

Minggu [25/11] kemarin, di Hard Rock Café, Trax FM menggelar kembali Terusik Traxkustik, yang kali ini mereka beri judul Electrorock.

Saya datang, agak telat, jam setengah delapan malam. Efek Rumah Kaca sudah bermain sekira tiga lagu. Dan seperti biasa, cheap bastard tak tahu diri ini, meminta gratisan pada Sandra. Karina, yang bertanggungjawab pada guest list ketika menyambut saya di pintu, lantas meminta saya untuk meliput.

“Iya, tapi buat Multipy ya,” kata saya.

Karina tersenyum tanda setuju. Dan saya masuk dengan lega. Hahaha.

Di dalam, ternyata sudah banyak orang. Tak tahu berapa jumlahnya. Tapi, lantai bawah cukup penuh. Walau tak sesak. Ketika saya tiba di sana, saya baru pulang dari Sawangan. Mengantar Attan, yang sore harinya, mendadak meminta saya untuk menemani melihat rumah yang ingin dibelinya. Tapi, dia malah meminta saya untuk menyetiri motornya. Tanpa jaket, dari Fatmawati ke Sawangan, akhirnya saya menyetir motor. Setang motornya, diganti dengan setang jepit. Ini membuat pengendara lebih lelah. Apalagi saya tak memakai jaket.

Ah, melantur. Intinya begini, karena kejadian itu, enerji cukup terkuras. Datang ke Hard Rock terburu-buru. Akibatnya, mood terganggu. Tak sempat berpikir banyak ketika datang ke sana. Biasanya, kalau saya datang ke satu acara, dan berpikir untuk menuliskan acara itu, begitu datang ke lokasi, saya sudah tahu harus menulis apa. Saya memutar otak untuk menceritakan apa yang saya lihat.

Kemarin, tidak begitu.

Jadi, hasilnya begini. Kalau diteliti lebih lanjut lagi tulisan ini, kamu akan tahu kalau saya sebenarnya memaksakan diri untuk memasukan tulisan. Hehe. Oya, kali ini, saya iseng mencoba lensa 28 – 105 mm yang ada di kamar. Lensa ini, punya adek saya. Jarang dipake. Tak enak, katanya. Serba tanggung. Wide tidak. Zoom juga kurang.

Ternyata benar.

Belum lagi, tata cahaya di Hard Rock Café yang tak pernah bagus. Hasilnya, ya seperti ini. Banyak gambar yang kurang terang. Maafkan.

Kembali ke acara, saya tak tahu berapa banyak Efek Rumah Kaca bermain malam itu. Yang jelas, setelah mereka, RNRM tampil. Lama mengatur peralatan di panggung, MC memanggil personel untuk ngobrol mengisi kekosongan. Ekky dan Nyanya yang maju.

“Jangkrik bos,” kata Ryo.

Crowd tak mengerti. Tak ada yang tertawa. Tak ada juga, yang ikut berteriak, “Kriiik. Kriiik. Jangkrik.” Padahal, Nyanya memang cukup jangkrik. Saya ingin teriak juga, tapi yang lain diam saja.

Beres RNRM, Netral tampil. Rupanya sebagian besar crowd, datang untuk Netral. Buktinya, begitu Netral naik ke panggung, crowd memadati mulut panggung. Meneriakkan judul-judul lagu Netral. Dan ketika musik dimainkan, mereka berjoget.

“Yah, dikacangin lagi deh. Dikacangin lagi deh,” kata seorang anak.

Bagus tersenyum mendengar anak itu. Tak berapa lama, Bagus melempar pop corn ke arah crowd. Si anak yang tadi berteriak soal dikacangin, kegirangan. “Tuh kan, dikacangin,” katanya. Bagus tersenyum lagi.

Saya tak mengerti maksud mereka. Mungkin joke internal antara Netral dan penggemarnya. Atau mungkin ada joke baru ibukota, yang belum saya tahu.

Jam sepuluh, saya pulang. Menebeng Ronal dari Extravaganza. Saya lebih mengenalnya sebagai Mbe, karena begitu dia dipanggil waktu di kampus. Tapi kini, Ronal punya alter ego baru, Ronal Disko. Dia sedang memersiapkan album perdananya. Musiknya, sangat terpengaruh new wave, katanya. Mixing albumnya, dikerjakan oleh Indra Lesmana. Ronal Disko mengatakan masih mencari label.

Di perjalanan, Ronal mengajak karaoke. Akhirnya, saya ikut. Manajer dia, Luthfi adalah vokalis Purpose. Ternyata suaranya memang bagus. Biasanya, saya karaokean dengan para penyanyi yang pas-pasan. Tapi, malam itu, para penyanyinya malah bernyanyi dengan benar. Haha. Hanya saya yang suaranya pas-pasan.

Ah sudahlah. Semakin tak menarik dan tak jelas arah tulisannya.

The Brandals di Penjara

Setelah Johnny Cash, Metallica, dan Slank, kini giliran The Brandals manggung di penjara, Kamis [22/11] lalu.

Fanno, sang manajer bolak-balik ke Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia serta ke Lapas di Tangerang untuk melobi aparat supaya The Brandals bisa bermain di sana. Tak ada suap menyuap atau pungutan biaya yang dikenakan pengelola Lapas. “Yang penting gimana kita ngomong sama mereka,” katanya.

Akhirnya, mereka memilih Lapas dengan penghuni di bawah 18 tahun, Lapas Kelas II A. Kata Fanno, dengan alasan relatif lebih mudah terkendali. Selain karena umur, juga karena penghuni Lapas di sana, sekitar 300 orang. “Penggemar kami, umurnya rata-rata segitu kan, 12 sampai 18 tahun,” kata vokalis Eka Annash.

Secara fisik, para penghuni Lapas itu memang, relatif terlihat lebih mudah dikendalikan. Tak ada tipikal fisik tahanan seperti dalam film; badan kekar, bertato, wajah seram. Yang ada, malah remaja-remaja tanggung dengan wajah yang jauh dari kesan kriminal. Yang harusnya masih berada di bangku sekolah. Katanya, tak sedikit dari mereka yang asalnya dari jalanan. Sudah tak punya keluarga.

Tapi, fisik boleh menipu. Karena jumlah penghuni yang masuk karena kasus pembunuhan, mengutip keterangan salah seorang pengelola Lapas, “lumayan banyak.”

David Tarigan, A&R Aksara Records, bercerita soal salah seorang tahanan yang menghampiri gitaris Toni. Tahanan itu, salah satu dari sekian banyak penggemar The Brandals. Ketika Toni bertanya alasan si anak masuk penjara, anak itu menjawab, “Gue merkosa cewek gue. Terus, gue bakar,” katanya tenang.

Seorang anak, menceritakan alasannya masuk ke sana karena tabrakan setelah balapan liar. Sialnya, yang ditabraknya, meninggal. Akhirnya, yang masih hidup harus menanggung akibatnya.

Lapas itu juga, tak seseram yang dibayangkan. Lapas di sana, terdiri dari kelompok bangunan yang mengelilingi kompleks berbentuk segi empat. Di dalam area yang dikelilingi bangunan itu, terdapat lapangan basket, musholla, serta ruang tahanan. Ruang tahanannya, bukan berupa kamar berkasur dua seperti yang kita lihat di film Hollywood. Tapi, lebih seperti bangsal, yang entah berapa orang menghuni satu bangsal itu. Cat bangunan mungkin sengaja dipilih warna-warna cerah, supaya memberi kesan nyaman.

Memang, sedikit mirip dengan suasana sekolah. Ada ruangan yang mirip ruangan kelas. Ada bapak-bapak dan ibu-ibu berseragam, seperti halnya guru. Ada kumpulan foto di dinding, seperti halnya foto dokumentasi sekolah. Bahkan, saya melihat salah seorang anak berlari ke salah satu ruangan yang mirip ruangan guru, sambil membawa sejenis makalah. “Gue belum ngumpulin tugas nih,” katanya kepada temannya.

Walaupun tentu saja, bagi sebagian orang, penjara dan sekolah sama-sama tak menyenangkan. Juga, sama-sama masuk karena terpaksa. Hanya bedanya, mereka yang bersekolah, masih bisa bolos atau pulang ketika jam pelajaran berakhir. Sedangkan, para penghuni Lapas, terjebak dua puluh empat jam.

***
Jam dua siang, konferensi pers digelar. Seperti biasa, ada sesi tanya jawab. Hanya kali ini, ditambah sesi tanya jawab dari penghuni Lapas. Seorang anak kecil, malu-malu, bertanya, “Kak, kenapa nama bandnya The Brandals?” katanya.

Padahal, sebelumnya, seorang wartawan sudah menanyakan hal yang kurang lebih serupa. Nah, sekarang kita bisa membandingkan, kurang lebih seperti apa kelas intelektual wartawan yang masih bertanya soal alasan pemilihan nama band. Hehe.

Selain bicara soal nama band, Eka berbagi cerita pada para pemuda itu, soal apa yang membuat mereka bermain band. Ketika remaja, dia sering menyaksikan band-band seperti Slank dan Iwan Fals di panggung. Itu membuat dia ingin suatu saat ada di panggung juga. Entah kenapa nama Slank dan Iwan Fals dijadikan contoh, dari sekian banyak musisi yang ditonton Eka. Entah karena memang itu jadi pemicu, entah karena dua nama itu dirasa punya kedekatan buat para remaja penghuni Lapas.

“Jadi, kalian juga bisa mewujudkan mimpi kalian kalau kalian mau,” begitu kurang lebih kata Eka, mencoba memberi pesan moral.

Hampir jam tiga sore, setelah konferensi pers, dua band yang personelnya para penghuni Lapas membuka acara. Bapak pengelolas Lapas yang saya lupa namanya mengatakan kalau band dari Lapas itu ada yang sudah ikut kompilasi album. “Yah dengan datangnya Aksara Records ke sini, mudah-mudahan kreativitas mereka bisa tersalurkan,” katanya.

Hanin Sidharta dan David Tarigan hanya tersenyum ketika mendengar itu.

Band Lapas yang pertama, Speak 86, memainkan lagu berjudul “Sakit Hati.” Lagunya dibuka dengan nada tipikal pop yang merengek-rengek. Tapi, ternyata itu hanya intro, karena mereka memainkan punk rock. Lagu kedua, saya lupa judulnya. Yang jelas, lagu ciptaan mereka sendiri. Dengan lirik yang samara-samar terdengar di kuping saya, seperti ini;

Oh Tuhan
Blablabla
Aku kesepian

Blablabla
Blablabla
Blablabla

Mereka ada di mana?

Band kedua, sepertinya bernama Alive. Karena dua personel mereka sudah pulang, mereka meminjam gitaris dan bassist band sebelumnya. Band yang ini, memainkan pop dengan nada-nada Melayu dan lirik yang juga bercerita soal sakit hati.

Tema sakit hati dan kesepian sepertinya jadi tema andalan para penghuni Lapas. Di salah satu ruangan, saya melihat komik karya mereka. Sepertinya dibuat ketika Hari Valentine. Hanya sedikit yang bernada optimis. Selebihnya, sakit hati karena tak punya pacar. Atau, melihat orang lain berpacaran.

Agaknya wajar kalau tema-tema seperti itu disukai mereka. Di antara jutaan orang di Indonesia, mereka termasuk yang paling berhak bercerita soal kesepian dan kekecewaan.

***

Tema yang serupa, saya rasakan di album ketiga The Brandals, “Brandalisme.” Lagu-lagu berbahasa Indonesianya, penuh dengan lirik bertema kekecewaan. Tipikal ungkapan rasa-kecewa-terhadap-keadaan-tapi-harus-bagaimana-lagi-ya-sudahlah-terima-saja.

Lama teringat janji yang terlupa
Sendiri tak ada tawa
Berteman sepi
Terbuai tertinggal

Kata Eka dalam “Surat Seorang Proletar Buat Para Elit Borjuis.” Lagu yang sarat pengaruh psikadelik, sedikit mengingatkan saya pada nuansa lagu “We Love You” milik The Rolling Stones.

Suap seribu janji seribu cerita
Kotori mata hati keriput derita
Sudah jangan ditambah
Kami sudah muak
Seribu hari janji
Terbalik tertolak
Manis di bibir pahit terasa

Kata Eka dalam “Janji 1000 Hari,” yang judulnya saya sukai.

Tak salah kalau mereka mengatakan album ini kristalisasi dari album pertama dan kedua. Album pertama, mereka seperti lebih berteriak. Lebih ingin didengar. Lebih ingin keras. Album kedua, terdengar lebih tenang. Lebih banyak bereksperimen dengan instrumen. Hasilnya, musiknya lebih variatif. Mengingatkan pada nuansa album “Exile On Main St” dari The Stones.

Album paling baru ini, adalah gabungan atmosfer dari kedua album sebelumnya. Tak terlalu bising, tapi masih ada enerjinya. Teriakan Eka tak terlalu terdengar frustasi penuh amarah. Buat telinga saya, suara Eka di album ini terdengar seperti orang yang masih marah, tapi akhirnya nyaris menuju ke tahap menerima keadaan karena tak tahu lagi harus berbuat apa.

Tak banyak instrumen tambahan seperti di album kedua. Hanya, mereka lebih berani bermain-main dengan komposisi. Walaupun di beberapa lagu, masih terasa beberapa part yang merupakan ‘rampasan’ dari lagu orang lain.

“Musik The Brandals itu kan gabungan antara blues dan punk, ya ibaratnya The Rolling Stones ketemu sama Sex Pistols deh,” kata Eka ketika ditanya salah seorang wartawan.

***

“Eka cakep deh,” kata bocah penghuni Lapas ketika The Brandals bersiap-siap. Eka tak mendengar. Bocah itu pun berkata dengan malu-malu. Teman si bocah rupanya juga sedikit malu-malu untuk berjoget ketika The Brandals mulai bermain. Walau akhirnya mereka mau juga berjoget. Salah seorang dari mereka, malah berjoget ala Modern Darlings.

Tak butuh banyak penjagaan untuk mengendalikan penonton. Di tempat yang isinya banyak ‘penjahat’ saja, tak butuh banyak aparat untuk mengawasi. Hanya tiga orang petugas berjaga-jaga. Itu pun lebih ke supaya mereka tak mengganggu permainan The Brandals. Dan anak-anak itu, memang mudah dikendalikan. Mereka hanya ingin bersenang-senang. Tak ada yang berkelahi karena tersenggol temannya. Saya lantas teringat pada beberapa pertunjukkan dengan mayoritas penonton remaja seusia mereka, yang selalu dihiasi dengan perkelahian.

Mereka memainkan enam lagu. Cukup banyak yang tahu lagu-lagu lama mereka. Ini jadi bukti kalau ucapan Fanno soal ada penggemar The Brandals di sana. Lewat setengah empat, pertunjukkan kecil itu rampung. Tak sebesar Live at Folsom Prison-nya Johnny Cash memang, tapi sepertinya itu cukup menghibur para penghuni Lapas. Setidaknya, kalau ukurannya banyak wajah tersenyum ketika berjoget dan belasan remaja menyerbu untuk meminta tanda tangan.

Eka menutup pertunjukkan sore itu dengan sedikit berkhotbah. “Kalau kalian sudah bisa pulang dari sini, minta maaf sama orangtua kalau yang orangtuanya masih ada. Ingat, kembali ke orangtua dan kembali ke agama,” katanya.

Dari Syuting Hits Cadas RCTI

Saya sebenarnya sedang malas menulis. Tapi, saya tak ingin halaman foto ini dibiarkan begitu saja tanpa ada intro. Jadi, langsung saja. Foto-foto ini saya ambil Rabu [14/11] lalu, Seringai dan beberapa rock band lain seperti Superglad, Superman Is Dead, KOIL, Netral dan Kunci diundang RCTI untuk masuk dalam program Hits, tayangan yang menampilkan band-band yang dianggap sedang hits untuk bermain live di studio. Tak usah ditanya lagi kenapa mereka memilih judul Hits Cadas untuk deretan nama-nama itu.

Siang itu, Jakarta diguyur hujan lebat. Di beberapa jalan, pohon tumbang, billboard berjatuhan. Seringai dijadwalkan sound check jam empat sore. Tapi, lalu lintas yang menggila membuat Khemod dan Sammy tak bisa datang tepat waktu. Karena Khemod membawa alat, maka sound check harus diundur. Untung, kru Netral sudah siap. Tapi, jam setengah enam sore, Sammy masih tak bisa datang tepat waktu ketika giliran sound check tiba. Akhirnya, Ronnie sang teknisi menggantikan posisi Sammy.

Saya tak bisa bercerita banyak selepas sound check. Saya harus pergi ke Metro TV. Dan ketika saya kembali, puluhan remaja tanggung yang kebanyakan laki-laki sudah ada di pelataran parkir RCTI. Beberapa dari mereka, malah mencoba masuk pintu samping. Menempelkan badannya di pintu. Membawa bendera Superman Is Dead. Berteriak-teriak histeris.

Ada beberapa hal yang bisa diceritakan dari ruang tunggu artis. Selain membawa beberapa koper, Superman Is Dead membawa makanan kecil seperti keripik singkong dalam kemasan, aneka macam gorengan, satu ember kecil berisi bir dan es batu, serta PS2. Pilihan game-nya? Guitar Heroes. Ruang tunggu Seringai dan KOIL, tak banyak barang, kecuali alat-alat mereka. KOIL yang di-endorse Jack Daniels, tentu saja membawa serta beberapa botol minuman yang nyatanya lebih banyak dihabiskan oleh anak-anak Seringai. Satu botol Jack D menghilang, dicuri orang, ketika ruangan itu ditinggalkan. Semua band bertampil live dalam taping itu, kecuali KOIL. Menurut Khemod, alasannya karena mereka beberapa kali tampil live di teve, tapi tidak puas dengan hasilnya.

Seringai memakai jaket dari Tomtion Leather malam itu. Dengan begitu, ada kesamaan antara Seringai, The Changcuters dan Luna Maya. Mereka sama-sama pengguna jaket kulit Tomtion dari Garut. Saya mengenal produk itu dari Che Cupumanik. Yang sialannya, si Tomtion itu, waktu saya menghubungi dia pertama kali, memasang harga Rp 500 ribu per jaket. Begitu Arian menghubungi dia, harganya jadi Rp 750 ribu, dengan alasan bahan yang diminta Arian berbeda. Tapi, ketika teman kantor saya memesan jaket harganya sudah sejuta perak. Entah berapa sekarang kalau mau memesan jaket kulit ke dia. Apalagi setelah Luna Maya juga memesan jaket dari dia, karena dia melihat salah seorang kru Rexinema memesan jaket ke Tomtion juga.

Ah segitu saja tulisannya. Ini saya mau upload gambar saja, susahnya minta ampun. Koneksi sialan. Membuat mood menulis hilang. Haha. Padahal mah, emang dasarnya lagi males.

Tak Hanya Diam di Kapal Perang

“Saya mengambil ide ini dari KISS. Waktu mereka mengumumkan reuni, mereka mengadakan konferensi pers di kapal perang,” kata Piyu ketika ditanya salah seorang wartawan.

Ah, dari manapun dia mengambil idenya, yang jelas, baru Padi yang bisa menggelar konferensi pers di atas kapal perang. Beberapa tahun lalu, memang Cokelat pernah mengadakan launching album [kalau saya tak salah], di dalam pesawat terbang dalam sebuah acara yang diadakan MTV Trax.

Saya tak ingat, kapan terakhir kali menonton Padi secara langsung. Mungkin setahun atau dua tahun lalu. Yang saya ingat, beberapa pertunjukkan mereka waktu itu, tidak menarik. Mereka seperti bermain sendiri-sendiri. Masing-masing personel sepertinya tidak ada di tempat yang sama. Fadly, bahkan jarang sekali mengucapkan basa-basi di panggung.

Seorang musisi, pernah mengatakan hal yang sama kepada saya. Dia menyayangkan Padi yang waktu itu, tak menarik di panggung. Musisi itu, bahkan berkata kalau para personel Padi, waktu itu tak saling bicara ketika turun panggung.

Saya tak tahu apa masalahnya. Mungkin, mengutip ucapan Piyu di pers rilis album itu, saluran komunikasi mereka terhambat. Ketika saya tanya soal ini, Yoyok menjawab, “Ya, mood kami kan tak selamanya bagus,”

“Tapi yang jelas, Padi ingin menunjukkan apapun permasalahannya, kami tak hanya diam. Semua bisa dibicarakan. Itu yang juga ingin kami sampaikan di album ini, “Tak Hanya Diam.” Kalau Anda lihat cover album kami, itu ada lingkaran-lingkaran kecil yang menuju satu pusat. Ada energi yang lebih besar dari semua ini,” begitu kurang lebih kata Piyu.

Saya jadi teringat lagu Slank, “Pulau Biru,” salah satu liriknya berkata, “…semua soal selesai dengan bicara…”

Tapi, Slank tak bisa menyelesaikannya dengan bicara. Persoalan di antara mereka, berakhir dengan hengkangnya tiga personel. Padi berbeda. Walaupun mereka tak secara tegas mengatakan pernah ada masalah di antara mereka, sepertinya apapun itu, sudah terselesaikan.

Dan Senin [12/11] sore lalu, saya melihat buktinya.

Padi sekarang berbeda dengan Padi yang terakhir saya lihat. Mereka sudah menemukan kembali kehangatannya. Piyu terlihat lebih ceria di panggung. Rindra seperti yang menikmati permainannya. Yoyok, well saya tak bisa melihat Yoyok dengan jelas. Tapi, mereka sudah saling berbicara lagi di panggung. Fadly, walaupun masih agak tambun, tapi dia jauh berbeda.

Fadly banyak bicara. Lebih komunikatif. Dan yang jelas, lebih humoris. Saya tak tahu bagaimana dia dulu. Yang jelas, sejauh ingatan saya, di setiap panggung yang saya lihat, Fadly tak banyak bicara, apalagi humoris.

Sore itu, Fadly menceritakan beberapa lelucon di antara jeda panggung. Lelucon tentang obrolan seorang opa dan cucunya.

“Waktu opa muda, opa sering naik turun gunung.”
“Apa hasilnya opa?”
“Ya ini, opa cacat,”

Fadly tersenyum. Penonton tertawa. Lelucon yang ini, walaupun masih agak garing, tapi lebih lucu dari yang sebelumnya. Lelucon soal opa menyelamatkan seorang anak yang jatuh dari kapal laut dan berhasil ditolong opa. Ketika opa diberi penghargaan, opa berkata, ‘Saya mau saja diberi penghargaan, tapi sebelumnya, siapa tadi yang mendorong opa?’

Sebuah perubahan besar bagi Padi. Ironis sebetulnya. Mereka berada di atas kapal perang. Tapi, justru di atas kapal yang identik dengan permusuhan, Padi menunjukkan pada saya, kalau mereka telah berdamai.

Saya baru mendengar satu lagu saja, “Sang Penghibur,” yang kebetulan malam itu, diputar perdana video klipnya. Lagu yang bagus. Vokal Fadly terdengar lebih jernih dan lebih baik dibandingkan sebelumnya. Dia tak lagi terdengar seperti orang menggerutu. Sepertinya album ini bisa sukses secara komersil, tanpa harus kehilangan kualitasnya.

Video klipnya, cukup bagus. Walaupun seperti juga banyak video klip lain dengan tema luar negeri; banyak gambar personel band sedang berjalan-jalan di luar negeri. Digabungkan dengan gambar mereka manggung di sebuah klub. Dan seorang perempuan berpakaian seperti tokoh wayang, yang mengingatkan saya pada video klip “Kirana” milik Dewa 19; band yang saking tak disukai Piyu hingga ia bertekad untuk tak sepanggung dengan mereka.

Piyu sedikit tersinggung sepertinya sore itu, pada salah satu pertanyaan dari seorang jurnalis. Soal kenapa lama sekali Padi rilis album dan apakah mereka tak pede karena banyak band baru.

“Ini pertanyaan yang sangat subyektif sekali. Sekarang gini mas, kalau saya suruh mas bikin lagu, memang bisa lima menit jadi?” kata Piyu. Dia lantas mengatakan soal agak risih ditanya banyak orang, kapan album Padi rilis. Dan saya lupa, apalagi yang dia katakan ketika menjawab itu. Hehe.

***

KRI Teluk Mandar bertolak dari dermaga sekitar jam tiga sore, atau kurang ya, saya lupa. Kapal itu berangkat sepuluh mil dari dermaga. Entah ke arah mana. Yang jelas, kata salah seorang Anak Buah Kapal, kapal itu melaju sepuluh mil ke laut. Kanan kirinya, dikawal kapal yang lebih kecil. Mungkin itu standar prosedurnya.

Setiap kapal itu berpapasan dengan kapal lain, mereka memberi penghormatan. Kapal itu mengeluarkan semacam suara klakson, dan ABK memberi hormat ke arah kapal yang lewat. Ternyata, bukan cuma pemilik mobil-mobil tua, yang saling memberi salam ketika saling berpapasan di jalan.

Saya sedikit agak ragu sebenarnya, dengan kekuatan kapal perang itu. Senapan yang ada di alat semacam kubah peneropongan bintang di Boscha, hanya ada dua. Dan saya tak melihat lagi senjata lainnya. Atau memang, disembunyikan ya. Tapi, kondisinya sangat tak nyaman. Kalau saya disuruh tinggal di sana seminggu, mungkin bisa stress.

Tempat tidurnya, seperti barak. Hanya beberapa yang ada kasur pegasnya. Itu pun kondisinya sudah buruk. Ada di lorong-lorong sempit, yang terasa panas di waktu siang. Seperti suasana kapal di film-film Hollywood memang. Tapi, saya tak tahu apakah kapal perang di film, hawanya panas atau tidak. Kamar mandinya, jangan ditanya. Mungkin kalau darurat, lebih baik memilih buang air besar di belakang kapal dan dibuang ke laut, daripada harus jongkok di WC di barak. Saya, sebagai orang yang cukup toleran dan kompromis terhadap WC pun, tak akan mau buang air di sana. Memang, ada WC yang lebih baik, tapi sepertinya itu untuk perwira. Karena waktu kami di sana, WC itu sepertinya lebih diutamakan untuk personel Padi.

Saya tak tahu, kapal itu digunakan untuk apa sehari-harinya. Mungkin sesekali dijadikan tempat tur untuk anak-anak SMA. Karena waktu kami ke sana, ada rombongan SMA juga. Entah kebetulan. Entah selalu ada tur seperti itu.

***

Pertunjukkan Padi sore itu, dibagi ke dalam dua sesi. Yang pertama, sekira lima lagu sebelum konferensi pers. Demi mendapatkan pemandangan ketika sunset, katanya. Sesi kedua, setelah konferensi pers. Dengan tata cahaya yang bagus. Tak terlihat kalau mereka sedang tampil di atas kapal perang. Walaupun tentu saja, di wilayah tertentu, kapal bergoyang. Mungkin karena sedang diam.

Langit cerah sore hingga malam itu. Katanya, mereka sampai membawa dua pawang hujan. Jakarta, yang biasanya diguyur hujan, cukup bersahabat. Tak terbayang kalau waktu itu turun hujan deras. Akan penuh sesak tenda oleh orang-orang. Dan mau bagaimana pertunjukkannya?

Sinyal Indosat masih kuat sepanjang perjalanan. Awalnya, saya kira, memang sekuat itu, sinyal kuat Indosat. Sampai ke tengah laut pun masih bisa menerima sinyal. Ternyata, karena mereka sponsor acaranya, mereka memasang penguat sinyal. Yah bagus lah.

Walaupun ada bagian sedikit memaksakan dari Indosat. Ketika pertunjukkan siap dimulai, mereka meminta crowd untuk memakai kaos Indosat yang sudah dibagi-bagikan. Padahal, kalau kapal tenggelam, kaos Indosat tak akan bisa menyelamatkan kami. Harusnya sih, mereka memberi pelampung saja. Setidaknya, itu bakal kami pakai. Bagaimana tidak? Para ABK yang terlatih di kapal saja, memakai pelampung.

Ah sudahlah. Mulai melantur nih.

That One Night: Megadeth Live in Jakarta!

Sempat digosipkan batal manggung, Megadeth akhirnya datang juga.

Hujan turun dengan deras ketika saya datang ke Tennis Outdoor, Kamis [25/10] jam setengah tiga sore. Yah beginilah, nasib mereka yang ingin mendapat gratisan dan mendapat ijin memotret. Jauh sebelum penonton lain datang, saya harus ke sana. Belakangan ini saya sering mengalami hal ini.

Datang ke Senayan. Susah payah mencari ID. Lalu pergi ke Plaza Senayan untuk mengisi waktu. Kembali lagi ke venue. Jalan kaki! Acara belum dimulai, betis sudah pegal-pegal. Pinggang sudah panas. Gawat.

Di Plaza Senayan, tanda-tanda penonton Megadeth sudah berdatangan, juga terlihat. Pria-pria 30 something dengan kaos band kebanggaannya, lalu lalang. Ada juga yang berkumpul di meja food court. Entah perasaan saya saja, atau memang demikian adanya. Ketika di antara mereka saling memandang, mereka tahu kalau yang dilihatnya itu akan pergi ke konser Megadeth. Dan biasanya, ketika bertemu sesama pemakai kaos band, yang tak akan luput dari pandangan adalah kaos yang dipakainya. Memang sih, kadang agak curi-curi pandang.

Begitu saya sampai venue, lebih banyak lagi pria 20 dan 30 something dengan kaos band kebanggaannya. Jam enam sore mereka sudah berdatangan. Tentu saja dengan kaos yang dianggap bisa mewakili selera musiknya.

Tak ada keterangan jam berapa konser akan dimulai. Baik di tiket, maupun di poster. Entah lupa. Entah panitia menganggap penonton sudah bisa mengira kalau konser biasanya dimulai jam delapan malam.

Perbedaan antara konser malam kemarin dengan dua konser yang saya datangi sebelumnya, cukup signifikan. Tak banyak datang girl yang got her body from her mama. Tak ada goyang perempuan dengan liuk-liukan tubuh mengundang selera. Tak ada jeritan perempuan memanggil-manggil idola.

Bahkan ketika yang dinanti tak kunjung tiba, jeritan memanggil nama Megadeth ataupun Dave Mustaine hanya terdengar beberapa kali saja. Semakin memertegas kecurigaan saya, kalau yang berteriak memanggil idola di konser sebagian besar adalah ABG. Di sana, yang ada malah teriakan-teriakan khas ujung gang,

“Woy jablay! Lama banget sih!”

“Beruuuk!”

Yang diteriaki begitu, hanya tersenyum. Beberapa kali si teknisi bolak-balik. Nyaris setengah jam dia mondar-mandir di panggung. Baru sekira jam setengah sembilan pertunjukkan dimulai.

Tiga lagu pertama, saya berjibaku bersama puluhan fotografer lain. Kepala mendongak. Mencoba mencari sudut yang bagus. Saya baru memahami kenapa banyak fotografer tak bisa bekerja sekaligus. Memotret sekaligus menuliskan laporannya.

Jika saya datang sebagai wartawan tulis, saya biasanya menonton sambil memikirkan kata-kata atau sudut pandang cerita. Tapi, dengan kamera di tangan, rasanya sulit untuk maksimal di situ. Yang ada di kepala, hanyalah bagaimana caranya tiga lagu bisa dimanfaatkan dengan maksimal. Belum lagi, bahu dan leher pegal-pegal. Betis panas. Pinggang juga. Ah, berat juga ya tugas para fotografer itu.

Ini penampilan perdana kamera 30D saya. Tapi, lensa 17 – 40 nya masih meminjam punya kantor. Setelah berpindah-pindah dari Olympus e 500, Canon 20D, atau 5 D, akhirnya saya punya kamera sendiri, 30 D hasil THR. Hehe.

Mudah-mudahan bisa menghasilkan uang! Amiiin. 😀

Sialan. Melantur.

Beres tiga lagu, saya ke area festival. Mengambil gambar diam-diam. Ternyata, di sana beberapa fotografer dengan lensa panjang sudah siap. Dengan santainya memotret. Sebagian besar penonton hanya berdiri. Terpana. Beberapa di antara mereka, saya lihat wajahnya seperti terharu. Tersenyum. Memandang terus ke depan.

Kru [atau manajer ya?] Jeruji, yang bernama asli Bambang tapi ingin dipanggil dengan Megadeth saya lihat di antara mereka. Setengah mabuk. Tersenyum sendiri. Memandang idolanya dari kejauhan. Kacamatanya melorot. Matanya tidak terbuka dengan lebar. Kepalanya diangguk-anggukan. Badannya sedikit bergoyang. Di sebelahnya, seorang pria melakukan air guitar, mengikuti solo gitarnya Dave Mustaine.

Peace sells!
Peace
Peace sells,
Peace sells…but who’s buying?
Peace sells…but who’s buying?
Peace sells…but who’s buying?

Megadeth Bambang bernyanyi diiringi air guitar pria di sebelahnya.

Sialan. Kenapa pemandangannya tidak indah begini ya? Hahaha. Di depan saya, beberapa penonton mengacungkan jari telunjuk dan tengahnya membentuk tanda damai. Seperti di konser Slank saja. Sedangkan di benak saya, malah terbayang chatting Arian dengan pacarnya sehari sebelumnya. Arian sedang bersenda gurau lewat YM dengan pacarnya. Dan topiknya konser Megadeth. Dia mengetik ini untuk syarin:

Peace sells, but apa?
But who’s buying?

Peace sells, but apa?
But who’s buying?

Melantur lagi. Kembali ke konser. Rasanya hanya bernyanyi dan menggerakkan sedikit badan yang bisa dilakukan mereka yang tak mau memaksakan fisiknya, tapi berusaha menikmati konser. Sebagian tentu saja ada yang slamdance, bernyanyi sekuat tenaga hingga konser berakhir.

Dan baru sadar kalau fisiknya sudah tak compatible lagi dengan rock show, ketika konser berakhir.

Ungkapan ‘If it’s too loud then you’re too old’ nampaknya tidak berlaku malam itu. Musiknya memang tidak too loud buat kuping mereka yang datang malam kemarin. No sir, it’s not their ears who have issues. But their other organs. Haha.

Ah sudahlah. Biarlah laporan lebih mendetil soal konser ini ditulis oleh mereka yang lebih mencintai Megadeth dibandingkan saya.

Longhair Alumni

Lihat dulu yang ini;

http://aparatmati.multiply.com/journal/item/65/longhair.

Arian men-tagged saya untuk mem-post foto saya ketika berambut panjang. Ini salah satu foto yang ada di account friendster saya. Foto-foto gondrong lainnya, sebenarnya masih banyak. Tersimpan di laci di kamar saya di Bandung.

Di foto yang ini tidak terlalu kucel tampang saya. Mungkin karena efek foto, wajah saya jadi bersih. Hahaha. Atau, mungkin karena kumis saya baru di-trim.

Hampir sepanjang masa perkuliahan, saya berambut gondrong. Tahun pertama, masih cepak gara-gara ospek. Nah, sejak tahun kedua hingga tahun ke-lima saya nyaris tak pernah memotong rambut. Saya selalu deg-degan setiap ingin pergi ke tukang cukur. Takut gagal. Jadi, lebih baik tak dipotong saja. Sudah jelas, kan, begitu potongannya.

Kalau dipikir lagi, mungkin itu sebabnya saya baru punya pacar ketika saya dicukur. Kapan-kapan saya posting foto saya dengan rambut gondrong, kumis dan brewok tak terawat. Mamang-mamang sekali lah. Hahaha.

Penghuni kampus lain, banyak yang mengira saya tak pernah mandi. Dandanan saya selalu sama. Jins, jaket kulit atau jaket jins, kaos hitam. Nah, yang saya ganti hanya kaos dan celana dalam. Itu sebabnya mereka mengira saya tak pernah mandi. Atau, mungkin karena dasarnya saya kucel, jadi tak terlihat bekas mandi.

Tapi, rambut gondrong memang selau terasa manfaatnya ketika mendengar musik rock atau metal. Haha. Sepertinya tak akan pernah salah kostum mendengar musik itu dengan rambut panjang terurai. Biarpun ujungnya pecah-pecah dan rambutnya bau terbakar matahari, perasaan kalau sudah mendengar musik keras, rambut itu terasa gagah-gagah saja.

‘Tell Me, Where’d You Get Your Body From?’

The Black Eyed Peas selalu punya kenangan tersendiri di benak saya.

Pertama, karena mereka, saya bisa pergi ke luar negeri, dan paspor saya dicap untuk pertama kalinya ketika saya ditugaskan meliput konser mereka di Singapura tahun 2005. Kedua, seingat saya, itu kali pertama saya memotret pertunjukkan musik. Waktu itu, saya masih sangat awam dengan suasana memotret panggung.

Dan ketika Sabtu [20/10] malam kemarin mereka menggelar konser di Istora Senayan, saya seperti sedang napak tilas perjalanan sebagai fotografer panggung [wanna be]. Hehe.

Jam tiga sore, saya datang ke venue. Tidak seperti konser Java Musikindo yang lain, tak ada konferensi pers digelar. Biasanya, wartawan datang ke konpres, mengisi daftar hadir di meja, lalu setelah konpres digelar, ID peliputan dibagikan. Tapi, kemarin, sedikit berbeda. Panitia telah memasukkan media mana saja yang bisa mendapat ID.

Bersama sejumlah wartawan lain, saya tidak termasuk di dalam daftar. Yah bisa dimengerti. Tidak hanya acara itu, nama saya tak ada dalam daftar. Mungkin orang-orang tak tahu harus menghubungi ke mana. Mungkin juga bingung dengan eksistensi majalah saya.

Mereka yang dibagikan ID, harus menandatangani surat pernyataan yang berisi akan menulis liputan sesuai dengan ketentuan panitia. Ada beberapa nama yang harus ditulis atau disebutkan dengan tepat. Seperti sponsor dan nama konser itu.

Gawat. Soalnya, sebagian besar event yang saya datangi, berakhir di solehsolihun.multiply.com. Kalaupun ada yang dimuat di majalah, itu hanya dapat porsi sedikit, karena dengan jatah dua halaman untuk musik, persaingan ketat sekali.

Jeng jeng.

Akhirnya, mereka yang tak kebagian ID, diminta menulis di kertas kosong. Katanya, ID bisa diambil nanti malam, tanpa keterangan lebih jelas dari panitia. Untung pertolongan datang. Sandra dari Trax FM menawarkan ID lebih. Haha. Selamat lah saya, dari kewajiban meliput dan mengirimkan bukti liputan ke panitia.

Dan tak hanya irit pada media, sepertinya panitia juga cukup irit pada koleganya. Salah seorang kawan, bercerita, kalau biasanya dia menelepon Adri Subono dan meminta berapapun ID atau tiket, selalu dikasih, konser kemarin tidak begitu. Adri tak mengangkat telepon. Akhirnya, si kawan dapat tiket dari anaknya. Itupun dipirit.

Jam delapan malam, saya sudah di venue. Saya sempat mengira konser bakal sepi, karena tiket resmi saja dibandrol setengah juta untuk yang paling murah [tribun]. Tapi, rupanya setengah juta masih terjangkau untuk banyak orang Jakarta. Atau, mungkin juga, banyak yang membeli tiket atau ID dengan paket dua ID seharga Rp 700 ribu, seperti yang dialami salah seorang teman saya.

Konon, kabarnya rombongan mereka sebanyak 60 orang. Mereka datang dengan jet pribadi. Dan jika musisi yang tampil di konser Java, selalu dipesankan hotel oleh panitia, mereka memesan sendiri hotel pilihannya. Tagihannya langsung di-fax ke panitia.

Sempat mengira konser bakal dimulai jam sembilan malam, karena di jadwal ditulis jam delapan. Dan seperti di konser Fall Out Boy, konser baru digelar sejam dari jadwal di tiket. Ternyata, kali ini tepat waktu. Dan hilanglah kesempatan saya memotret Click Five.

Jam sembilan kurang, saya sudah siap di tempat fotografer. Ketika pintu belum dibuka, mereka sudah mengambil aba-aba. Seperti sedang mengikuti lomba lari saja. Saya malah santai-santai. Padahal, ternyata, bukan tanpa alasan mereka berbuat begitu.

Area untuk fotografer ternyata sempit. Ini area memotret paling sempit yang pernah saya lihat di venue lokal. Hampir tak bisa bergerak. Kalau sudah mendapat lokasi untuk berdiri, kemungkinan besar tak bisa pindah ke tempat lain. Sialan. Pantas saja mereka bersiap-siap. Akhirnya, angle foto-foto di sini, tak terlalu bagus. Untung saya sangat menikmati konser itu. Walaupun saya bukan penggemar the Black Eyed Peas, tapi harus saya akui, penampilan panggung mereka sangat menarik.

Tak ada crowd berteriak-teriak memanggil idolanya malam itu. Mungkin, di Indonesia, hanya ABG yang melakukan itu di konser-konser. Atau, saya yang tak mendengar teriakan-teriakan itu? Tapi, yang jelas, penonton malam itu lebih bervariasi ketimbang penonton di konser Fall Out Boy.

Dan suasana konser the Black Eyed Peas, mengingatkan saya pada suasana acara-acara musik di kampus saya. Maklum, Fikom Unpad periode ’99 hingga 2004, didominasi band-band top 40 atau R n B. Yah, band-band begitulah yang mendapat perhatian banyak dari crowd kampus saya waktu itu. Hanya sedikit rock n’ roll band yang muncul di panggung.

Yang paling menyenangkan dari konser R n B adalah tentu saja crowd-nya. Banyak sekali perempuan cantik, yang tak malu-malu berjoged. Ah, siapa yang tak suka berada di kerumunan dengan di kanan dan kirimu perempuan cantik berjoged?

Terbawa suasana, saya jadi ikut berjoged. Joged saya masih saja seperti dulu. Kaku. Tapi, bukan in a robotic way. Saya biasanya hanya menghentak-hentakkan kaki, kepala sedikit diangguk-anggukan. Pundak sedikit digerakkan. Sesekali ikut-ikutan mengangkat tangan ke atas. Hehe. Sialan. Saya selalu ragu untuk berjoged. Sepertinya, hanya lagu-lagu The Stones yang bisa membuat saya berjoged sepenuh hati. Sejak jaman mahasiswa, joged R n B saya selalu begitu. Setengah hati.

Kalau di kampus, lagu-lagu standar yang sering terdengar pasti yang ini;

“Have fun go mad!”
“Have fun go mad!”
“That’s what I say, yeah yeah yeah!”

Atau,

“Ja go make me loose my head”
“Up in here, up in here.”

Malam itu, tentu saja lagunya lebih kekinian.

“Na na na, don’t phunk with my heart.”

Atau,

“Tell me where’d you get your body from?” kata will. i. am.

“I got it from my mama.”
“I got it from my mama,” kata para penyanyi latar sambil meliuk-liukkan tubuhnya.

Yah, sepertinya untuk ukuran konser setengah juta, harga yang dibayar cukup setimpal. Mereka benar-benar menghargai penonton. Panggung tak hanya dihiasi dengan visual yang menarik, tapi juga para penari latar. Dan seperti juga mereka yang datang ke sini, the Black Eyed Peas sering sekali mengeluarkan pujian-pujian untuk crowd.

“Chantik, Chantik, Chantik,” kata salah seorang dari mereka, saya lupa siapa, mengomentari soal perempuan-perempuan Indonesia.

“Yeaaaaaaaaaah,” crowd bergemuruh. Entah apa yang membuat crowd berteriak kegirangan. Apakah karena dibilang cantik, atau idola mereka berkata dalam bahasa Indonesia.

“Far more delicious,” kata Fergie mengomentari makanan lokal sesaat sebelum membawakan lagu yang entah judulnya apa, yang jelas ada kata ‘delicious’-nya.

“Yeaaaaaaaah,” lagi-lagi crowd berteriak girang.

Tapi, ketiak Fergie tentu saja tidak delicious. Ketika sudah lebih dari sejam konser berjalan, ketiak The Dutchess basah. Dan dia mengangkat-angkat tangannya ke atas terus. Jadi penasaran, bagaimana aromanya. Haha. Dan tentu saja, jadi ingat iklan Rexona.

Tapi, meskipun basah ketek, Fergie cukup atletis. Di salah satu lagu, dia bernyanyi sambil koprol. Mungkin di sekolah, pelajaran Penjaskes-nya dapat nilai bagus.

Fergie sempat tertangkap kamera dengan ketiak dan selangkangan basah ketika konser. Dia rupanya tak belajar. Harusnya pakai kaos hitam saja, bukan kemeja biru terang yang akan membuat ketiak basahnya terlihat jelas.

Tapi, itu sepertinya tak mengurangi daya tarik konser itu. Dan segala pujian-pujian yang dilontarkan the Black Eyed Peas selalu disambut meriah.

“Kami pernah main di India, masa’ jam setengah dua belas malam, pesta sudah berakhir?”

“Eleven thirty!”

“Kami ingin pesta di sini berlangsung sampai pagi! Kalau bisa, sampai jam lima atau jam enam pagi,” kata Taboo kalau tak salah.

“Yeaaaaaaaaaah,” lagi-lagi crowd kegirangan.

Setelah dua jam berjalan, konser berakhir.

Waktu menunjukkan jam sebelas malam.