Guilty Pleasure Dangdut

Tidak biasanya,
saya suka lagu danggut! Tapi, lagu dangdut yang satu ini, mau tidak mau
benar-benar mencuri perhatian. Hahaha. Ini, guilty pleasure dangdut
saya yang pertama. Pertama kali saya dengar, dalam perjalanan
Bandung-Jakarta di bis Primajasa. Salah satu radio dangdut memutar lagu
ini.

Lantas, kali kedua saya dengar, waktu makan sea food di Anyer sekitar
dua bulan lalu. Dan yang ketiga, Minggu [2/7] kemarin. Di bis
Primajasa. Tapi, kali ini versi video klip. Musiknya memang cheesy.
Dangdut yang dimix dengan house musik kacangan. Ada sentuhan musik
Melayunya juga. Seperti kebanyakan lagu-lagu house dangdut yang diputar
di lapak-lapak bajakan, atau di metro mini. Dan saya suka lagunya. Hahaha. Gawat.

Tapi, coba perhatikan liriknya. Temanya masih selingkuh memang. Tema
biasa. Banyak lagu dangdut mengambil tema ini. Pertama kali saya
dengar, saya ingin tertawa. Terbayang jelas dua karakter. Yang lelaki,
tipe cunihin kalo kata orang Sunda mah. Genit. Yang perempuan, manja.
Berkuasa.

Sudah tau pacarnya galak, posesif, cemburuan, si lelaki masih saja main
gila. Dan adegan ini digambarkan dengan baik lewat cerita soal SMS.
Satu hal kecil yang bisa menggambarkan dengan baik persoalan dan
karakter dari sepasang kekasih.

SMS

penyanyi Ria Amelia



bang sms siapa ini bang

bang pesannya pakai sayang sayang

bang nampaknya dari pacar abang

bang hati ini mulai tak tenang



bang tolong jawab tanya ku abang

bang nanti hape ini ku buang

bang ayo donk jujur saja abang

bang kalau masih sayang



kalau bersilat lidah memang abang rajanya

sudah nyata abang salah masih saja berkilah



orang salah kirimlah

orang iseng isenglah

orang salah kirimlah

orang iseng isenglah



mulai dari sekarang

hp aku yang pegang

Kalo mau dengar musiknya, silakan klik ini: http://womanthink.blogspot.com. Saya juga dapat lirik itu dari situs tadi.

Slank Reuni!

Hampir tidak dapat dipercaya, tapi itu terjadi. Bimbim, Kaka, Bongky, Indra Q dan Pay di satu panggung!

Sejak awal, acara Tribute to Imanez yang digelar di Hard Rock Café, Jakarta, Rabu [21/6] malam itu memang sudah istimewa. Orang-orang yang pernah jadi bagian komunitas Potlot berkumpul. Potlot adalah markas Slank. Banyak musisi pernah “sekolah” di sana. Imanez salah satunya. Penyanyi reggae itu meninggal setahun lalu.

Imanez menyatukan para alumni Potlot. Termasuk limamusisi berbakat yang sepuluh tahun lalu pecah. Formasi Slank paling dahsyat itu akhirnya bermain bersama kembali di depan publik. Membawakan lagu Bangsat dan Mawar Merah. Sambil tersenyum lebar! Beberapa kali, Kaka menghampiri Indra, memeluk Pay dan tertawa bersama Bongky. Mengharukan. Membahagiakan. Membuat bulu kuduk merinding.

Saya tidak bermaksud melebih-lebihkan. Saya belum pernah melihat mereka bermain sebahagia itu. Oke, mereka tersenyum ketika manggung. Tapi, bukan senyum seperti malam itu.

Rasanya, semua yang hadir di Hard Rock merasakan betapa formasi itu punya kharisma yang kuat. Penonton berteriak kegirangan. Bertepuk tangan dengan meriah. Beberapa orang berjingkrakan. Girang. Bernyanyi bersama mereka. Hanya dua lagu memang. Tapi, momen itu benar-benar berharga.

Kalau kamu di sana, kamu bisa rasakan betapa lima orang itu [pernah] bersahabat. Chemistry-nya benar-benar terasa!

Gila! Dada saya berdebar kencang! Ini mimpi jadi kenyataan! Dan saya yakin, bukan cuma saya yang bermimpi seperti itu. Slank dan Bip memang sering ada di satu event. Tapi, belum pernah sekalipun formasi itu ada di satu panggung. Bahkan untuk kolaborasi antara Slank dan Bip pun belum pernah.

Kalau kamu ada di sana, kamu juga pasti bisa merasakan betapa seisi Hard Rock berbahagia! Mungkin semua yang hadir di sana, sama-sama mengharapkan itu terjadi. Hingga ini ditulis pun, dada saya masih berdebar kencang setiap mengingat kejadian kemarin.

Benar-benar kejutan yang menyenangkan. Saya terkejut. Panitia terkejut. Lima musisi itu pun terkejut. Bukan apa-apa, ini di luar rencana. Semuanya terjadi dalam waktu singkat. Mereka “dijebak”, meminjam istilah seorang panitia. Ah, benar-benar malam yang indah. Hehe.

Selain penampilan yang dahsyat itu, acara malam itu memang mengagumkan. Puluhan musisi, yang pernah nongkrong bareng. Lantas mengambil jalan masing-masing. Kemudian berkumpul kembali!

Roots, Rock, Reggae. Mereka tahu itu. Mereka memainkan musik dengan soul. Apakah itu bermain blues, rock n’ roll, atau reggae. Kamu bisa rasakan itu keluar dari dalam hati!

Sekarang, Potlot memang lebih terkenal sebagai markas Slank dan tempat berkumpulnya Slankers. Tapi, komunitas itu, suka tidak suka, telah mengukir sejarah. Dan malam itu, saya seakan diingatkan kembali.

Pertanyaan saya; giliran komunitas mana yang sepuluh tahun lagi akan punya kekuatan seperti itu ya?

Perjalanan Majalah Musik di Indonesia

Kata Frank Zappa, “Most rock journalism is about people who can’t write interviewing people who can’t talk for people who can’t read.” Mungkin dia benar. Makanya, majalah musik di Indonesia tidak pernah bertahan lama. Walaupun istilah rock journalism belum ada di Indonesia.

Ini masih dalam rangka kursus jurnalisme sastrawi. Tugas terakhir adalah membuat outline. Untuk buku, atau pelaporan mendalam. Saya memilih buku. Dan ini, kira-kira yang ingin saya buat.


Outline Buku “Perjalanan Majalah Musik di Indonesia” karya Soleh Solihun. [Amiiin].

Majalah musik di Indonesia tidak pernah bernasib baik. Umurnya tidak pernah bertahan lama. Kalau dibandingkan di luar negeri, mereka punya majalah musik yang bertahan puluhan tahun. Rolling Stone, NME, Blender, Spin, beberapa di antaranya.

Di Indonesia, satu-satunya majalah musik yang pernah bertahan lama, hanyalah Aktuil. Dari tahun 1967, hingga 1981. Itu pun, hanya mengalami masa jaya pada kurun waktu 1970 – 1975. Setelah Aktuil, belum ada majalah musik yang bisa menyamai kesuksesan itu. Nah, buku ini ingin memaparkan bagaimana kisah majalah musik di Indonesia. Kenapa tidak pernah ada yang sukses? Bagaimana peranannya dalam perkembangan industri musik di Indonesia? Dan banyak pertanyaan lain.

Untuk menceritakan perjalanan majalah musik di Indonesia, saya bagi ke dalam empat periode.

Periode ’70-an.
Majalah yang diceritakan di sini, adalah Aktuil. Disinggung sedikit soal majalah musik sebelum Aktuil, yaitu Musika, yang terbit tahun ’50-an. Tapi karena Aktuil yang paling fenomenal, maka kisah ini dimulai di sini. Plus, industri musik Indonesia di tahun ’70-an mulai menunjukkan geliatnya.

Cerita dimulai dari pernyataan Remy Sylado, soal tidak akan mau lagi mengurus majalah musik. Dibayar berapapun. Lantas, flashback ke masa ketika Sylado ditawari jadi redaktur di Aktuil. Majalah ini kemudian berkembang. Sylado salah satu tokoh kunci. Sylado pula yang hingga sekarang masih dikenal publik. Itu sebabnya, karakter Sylado untuk menceritakan majalah Aktuil tepat digunakan. Dia juga bisa bicara banyak soal industri musik serta jurnalis musik di Indonesia.

Di periode ini, diceritakan juga, bagaimana Bens Leo yang masih muda bergabung di Aktuil. Dia juga salah satu alumni Aktuil yang masih aktif hingga sekarang. Bens Leo juga jadi Pemimpin Redaksi NewsMusik, majalah musik yang kemudian terbit di akhir ’90-an.

Periode ’80-an.
Banyak yang mencoba mengulang kesuksesan majalah Aktuil. Vista Musik di antaranya. Beberapa awak Aktuil bahkan ikut bergabung di sini. Tapi, Vista Musik tidak berhasil juga. Berubah format jadi Vista Film, Musik, Televisi. Di akhir ’80-an, majalah Hai mulai berubah format jadi majalah remaja pria. Arswendo masuk.

Periode ’90-an.
Di awal tahun ’90-an, Tabloid Citra Musik terbit. Setelah Monitor dibredel, pelan-pelan tabloid ini berubah format jadi tabloid hiburan. Untuk mengganti posisi Monitor. Beberapa karakter di era ini, Remy Soetansyah, dan Hans Miller Banureah. Dua nama ini, akan masuk lagi dalam cerita, di awal 2000-an.

Di era ini, Hai jadi majalah yang paling banyak memberi informasi musik. Remaja Indonesia, rasanya percaya saja apa yang Hai katakan. Mirip dengan yang dialami Aktuil. Sejarah berulang. Hanya, Hai masih bisa diselamatkan. Porsi musik dikurangi sedikit demi sedikit. Perusahaan yang besar di belakangnya, jadi salah satu faktor penentu juga. Di era ini, nama Denny MR muncul. Di era ini pula, Arswendo pernah mengelola Tabloid Dangdut selepas dari penjara. Tabloid Dangdut juga tidak bernasib baik.

Periode 2000-an.
Akhir ’90-an dan awal 2000-an, muncul media massa musik. Tabloid MUMU, yang hanya bertahan sekitar empat tahun. Majalah NewsMusik, yang hanya tiga tahun. Dan tabloid Rock, yang hanya sekitar 52 edisi. Remy Soetansyah dan Hans Miller Banureah dua petingginya. Majalah Popcity juga hanya bertahan sekitar tiga tahun. Majalah Poster juga tidak lebih baik nasibnya. Di era ini, beberapa majalah independen, yang membahas musik cutting edge terbit. Trolley, hanya 11 edisi. Kini, hanya beberapa nama bertahan. Trax dan Ripple di antaranya. Ripple majalah independent yang banyak menulis musik yang tidak mainstream. Sekarang berubah jadi majalah gratisan. Sebagian halamannya diisi katalog produk distro.

Alurnya kronologis. Tapi, di setiap periode, tentu saja digambarkan konflik-konflik yang melanda majalah-majalah itu. Beberapa kisah yang berulang juga, akan menarik untuk diceritakan. Misal, kesamaan Aktuil dan Ripple, yang terbit dari Bandung. Soal porsi musik rock yang cukup besar di Aktuil dan Trax. Cerita berhenti di tahun 2006. Menyisakan pertanyaan, soal berapa lama majalah musik yang sekarang masih terbit bisa bertahan? Apakah sejarah akan berulang?

Jrx: Fisik Tua, Hati Membara!

Superman Is Dead; gitaris/vokalis Bobby Kool, bassist/vokalis Eka Rock dan drummer Jrx baru saja rilis album terbaru Black Market Love. Lewat telepon, saya mewawancari Jrx, Rabu [21/6] lalu. Untuk dimuat di rubrik musik di majalah kami. Ini versi yang belum diedit. Di majalah, pasti tulisannya jauh lebih pendek. Selamat menikmati.

Sebelas tahun, enam album. Sesuatu yang sudah diduga, atau kalian sendiri kaget?
Kaget juga. Dulu, pas masuk major label, sempat nggak percaya. Wow! Tapi, itu membuat kami makin percaya diri ke depannya. Ingin nambah diskografi. Waktu bikin band, niatnya having fun. Sekarang masih fun, cuma nggak nyangka bisa professional.

Bagaimana caranya supaya tetap fun?
Punk rock, nggak boleh kehilangan fun. Kalau kehilangan fun, bubar aja! Harus berjiwa muda terus! Melankolis, tetap fun. Marah pun, tetap fun. Supaya tetap fun, jadi seorang alkoholik! [tertawa] Alkohol bikin rileks. Harusnya, saya udah masuk Alcoholic Anonymous nih. Waktu album Kuta Rock City mabuknya kelewatan. Itu pertama kali dapat duit dari band. Orang kaya baru. Jadi akhirnya, duitnya buat senang-senang. Liver saya hancur. Sekarang, saya jauhin whisky. Cuma bir aja. Makanya, ada lagu Goodbye Whiskey di album terbaru.

Kalian termasuk generasi menolak tua?
Ya. Kami termasuk Pestol. Pemuda Stok Lama. Dethu [propagandis SID] yang mengenalkan istilah itu. Tapi, biarpun tua, masih laku. Yang penting di dada. Fisik tua, hati membara. [tertawa].

Apa yang membuat kalian bertahan sejauh ini?
Kecintaan kami akan musik. Kalau bosen, pasti sudah bubar. Juga rasa bangga jadi seorang counter culture. Terus, ada orang-orang yang dukung sejak day one. Mereka yang masih setia, jadi alasan kami bertahan.

Apakah kalian memandang SID band yang berkualitas?
Banget sih nggak. Cukup iya. Apalagi sekarang kalau manggung, kami concern sama sound. Semirip mungkin dengan sound yang di album. Additional player kami ajak manggung.

Di deathrockstar.info, Dethu menulis soal menjaga kerukunan, Bhinneka Tunggal Ika. Kalian masih percaya dengan itu?
Dulu sih, nggak terlalu peduli. Tapi, sekarang Bhinneka Tunggal Ika terancam. Sekarang jadi peduli. Harus dijaga.

Bagaimana pandangannya terhadap daerah yang ingin membubarkan diri? Aceh, atau Papua misalnya.
Lebih baik nggak usah memisahkan diri. Itu bisa memancing yang lain. Ini kan pelajaran buat pemerintah. Supaya lebih baik lagi menangani negara ini.

Di lagu Tomorrow, kalian menulis soal dunia tanpa perang. Kalian percaya itu bisa terwujud?
Nggak yakin sih. Lagu itu kan sekadar harapan. Tapi, walaupun impossible, you have to have it! Kalau nggak, lo nggak punya motivasi dalam hidup! Punk rock adalah musik revolusi. Yang mengharapkan perubahan. Walaupun kecil, tapi daripada nggak berbuat apa-apa.

Apakah kalian percaya, musik benar-benar bisa mengubah dunia jadi lebih baik?
Skala kecil sih iya. Misalnya, fan base SID yang lebih mendengarkan lirik kami. Remaja-remaja yang mungkin nggak mau dengar apa kata guru dan orangtuanya. Kami berusaha mendidik mereka dengan cara fun. Supaya mereka lebih aware. Jangan sampai ada lagi diskriminasi, atau terorisme. Kami nggak mau jadi pahlawan sejarah. At least, we try something!

Itu membuat kalian jadi lebih bertanggungjawab?
Sangat! Makanya, sekarang banyak lirik bahasa Indonesia. Saya kira, sudah saatnya SID nge-push orang-orang supaya jangan salah nge-judge. Cuma bisa mabok, tanpa punya visi misi. Padahal agenda kami banyak.

Apa?
Kami ingin membuka pemikiran masyarakat. Jangan sampai jadi polisi moral. Jangan sampai jadi manusia sok Tuhan. Kembali ke filosofi Superman Is Dead. Tidak ada manusia yang sempurna.

Bisa cerita soal lirik bukan pahlawan berparas tampan.
Itu ungkapan untuk manusia-manusia sempurna. Sedikit berpuisi. [tertawa] Kami bukan band yang jual tampang. Kami jual attitude. Di Indonesia itu, orang sok pahlawan banyak. Kamu juga tahu orang-orangnya. Di bali juga banyak. Sedikit-sedikit mengatasnamakan agama.

Kalau lagu Psycho Fake. Rockstar palsu yang sok gothic. Apa di Bali ada yang seperti itu?
Di Bali ada. Di Jakarta lebih banyak lagi. [tertawa] Kami nyerang band yang sok rebel. Dandanannya rebel, tapi yang dilakukan nggak ada. Dan yang mereka nyanyikan cuma lagu pop komersil. Kalau orang rebel, do something! Jangan didik jadi negara yang cengeng.

Bisa sebut nama, siapa yang dimaksud?
Kalau saya nyebutin, takut dibesar-besarkan infotainment. Kami nggak mau terkenal dengan cara-cara seperti itu.

Di lagu Menginjak Neraka sepertinya cukup relijius juga ya.
Relijius juga. Itu dibikin selama tiga minggu selama saya di Kuta. Saya kan suka Social Distortion. Nah, vokalisnya ternyata suka Johnny Cash. Lirik Johnny Cash banyak yang relijius juga. Saya bukan yang seratus persen percaya Tuhan dan agama. Lirik relijius, bukan berarti orangnya relijius kan. Ini semacam introspeksi diri aja. Penyebabnya, karena rasa kesepian. Orang di Kuta, kan rame. Tapi, saya suka merasa sepi, nggak ada teman. Kenapa kita kesepian ya? Saya ngerasa ada yang salah.

Kalau lagu Lady Rose, kenapa harus dinyanyikan oleh Anda?
Lagu itu sangat personal. Ada kan, beberapa lagu yang saat dibuat, oh ini memang harus kau yang nyanyi!

Di album berikutnya, akan lebih banyak mendengar Jrx bernyanyi?
Saya cukup tahu diri kok. Porsi Eka memang akan lebih ditingkatkan, karena vokalnya cocok. Saya memang ingin tampil, makanya bikin band. Tapi, saya nggak ingin jadi kayak Ahmad Dhani. [tertawa].

Slank Reuni!

Hampir tidak dapat dipercaya, tapi
itu terjadi. Bimbim, Kaka, Bongky, Indra Q dan Pay di satu panggung!

Sejak
awal, acara Tribute to Imanez yang digelar di Hard Rock Café, Jakarta, Rabu [21/6] malam itu memang sudah
istimewa. Orang-orang yang pernah jadi bagian komunitas Potlot berkumpul.
Potlot adalah markas Slank. Banyak musisi pernah “sekolah” di sana. Imanez salah satunya. Penyanyi reggae
itu meninggal setahun lalu.

Imanez
menyatukan para alumni Potlot. Termasuk limamusisi
berbakat yang sepuluh tahun lalu pecah. Formasi Slank paling dahsyat
itu
akhirnya bermain bersama kembali di depan publik. Membawakan lagu
Bangsat dan Mawar Merah. Sambil tersenyum lebar! Beberapa kali, Kaka
menghampiri Indra,
memeluk Pay dan tertawa bersama Bongky. Mengharukan. Membahagiakan.
Membuat
bulu kuduk merinding.

Saya
tidak bermaksud melebih-lebihkan. Saya belum pernah melihat mereka
bermain sebahagia itu. Oke, mereka tersenyum ketika manggung. Tapi,
bukan senyum seperti malam itu.

Rasanya,
semua yang hadir di Hard Rock merasakan betapa formasi itu punya kharisma yang
kuat. Penonton berteriak kegirangan. Bertepuk tangan dengan meriah. Beberapa
orang berjingkrakan. Girang. Bernyanyi bersama mereka. Hanya dua lagu memang.
Tapi, momen itu benar-benar berharga.

Kalau kamu di sana, kamu bisa rasakan betapa lima orang itu [pernah] bersahabat. Chemistry-nya benar-benar terasa!

Gila!
Dada saya berdebar kencang! Ini mimpi jadi kenyataan! Dan saya yakin,
bukan cuma saya yang bermimpi seperti itu. Slank dan Bip memang sering
ada di satu event. Tapi, belum pernah sekalipun formasi itu ada di satu
panggung. Bahkan untuk kolaborasi antara Slank dan Bip pun belum pernah.

Kalau
kamu ada di sana, kamu juga pasti bisa merasakan betapa seisi Hard Rock
berbahagia! Mungkin semua yang hadir di sana, sama-sama mengharapkan
itu terjadi. Hingga ini ditulis pun, dada saya masih berdebar kencang
setiap mengingat kejadian kemarin.

Benar-benar kejutan yang menyenangkan. Saya terkejut. Panitia terkejut.
Lima musisi itu pun terkejut. Bukan apa-apa, ini di luar rencana.
Semuanya terjadi dalam waktu singkat. Mereka “dijebak”, meminjam
istilah seorang panitia. Ah, benar-benar malam yang indah. Hehe.

Selain penampilan yang dahsyat itu, acara malam itu memang mengagumkan.
Puluhan musisi, yang pernah nongkrong bareng. Lantas mengambil jalan
masing-masing. Kemudian berkumpul kembali!

Roots,
Rock, Reggae. Mereka tahu itu. Mereka memainkan musik dengan soul.
Apakah itu bermain blues, rock n’ roll, atau reggae. Kamu bisa rasakan
itu keluar dari dalam hati!

Sekarang, Potlot memang lebih terkenal sebagai markas Slank dan tempat
berkumpulnya Slankers. Tapi, komunitas itu, suka tidak suka, telah
mengukir sejarah. Dan malam itu, saya seakan diingatkan kembali.

Pertanyaan saya; giliran komunitas mana yang sepuluh tahun lagi akan punya kekuatan seperti itu ya?

Perjalanan Majalah Musik di Indonesia

Kata
Frank Zappa, “Most rock journalism is about people who can’t write
interviewing people who can’t talk for people who can’t read.” Mungkin
dia benar. Makanya, majalah musik di Indonesia tidak pernah bertahan
lama. Walaupun istilah rock journalism belum ada di Indonesia.




Ini masih dalam rangka kursus
jurnalisme sastrawi. Tugas terakhir adalah membuat outline. Untuk buku,
atau pelaporan mendalam. Saya memilih buku. Dan ini, kira-kira yang
ingin saya buat.

Outline Buku “Perjalanan Majalah
Musik di Indonesia” karya Soleh Solihun. [Amiiin].

Majalah
musik di Indonesia tidak pernah bernasib baik. Umurnya tidak pernah bertahan
lama. Kalau dibandingkan di luar negeri, mereka punya majalah musik yang
bertahan puluhan tahun. Rolling Stone, NME, Blender, Spin, beberapa di
antaranya.

 

Di
Indonesia, satu-satunya majalah musik yang pernah bertahan lama, hanyalah
Aktuil. Dari tahun 1967, hingga 1981. Itu pun, hanya mengalami masa jaya pada
kurun waktu 1970 – 1975. Setelah Aktuil, belum ada majalah musik yang bisa
menyamai kesuksesan itu. Nah, buku ini ingin memaparkan bagaimana kisah majalah
musik di Indonesia. Kenapa tidak pernah ada yang sukses? Bagaimana peranannya
dalam perkembangan industri musik di Indonesia? Dan banyak pertanyaan lain.

Untuk
menceritakan perjalanan majalah musik di Indonesia, saya bagi ke dalam empat
periode.

 

Periode ’70-an.

Majalah
yang diceritakan di sini, adalah Aktuil. Disinggung sedikit soal majalah musik
sebelum Aktuil, yaitu Musika, yang terbit tahun ’50-an. Tapi karena Aktuil yang
paling fenomenal, maka kisah ini dimulai di sini. Plus, industri musik
Indonesia di tahun ’70-an mulai menunjukkan geliatnya.

Cerita
dimulai dari pernyataan Remy Sylado, soal tidak akan mau lagi mengurus majalah
musik. Dibayar berapapun. Lantas, flashback ke masa ketika Sylado ditawari jadi
redaktur di Aktuil. Majalah ini kemudian berkembang. Sylado salah satu tokoh
kunci. Sylado pula yang hingga sekarang masih dikenal publik. Itu sebabnya,
karakter Sylado untuk menceritakan majalah Aktuil tepat digunakan. Dia juga
bisa bicara banyak soal industri musik serta jurnalis musik di Indonesia.

Di
periode ini, diceritakan juga, bagaimana Bens Leo yang masih muda bergabung di
Aktuil. Dia juga salah satu alumni Aktuil yang masih aktif hingga sekarang. Bens
Leo juga jadi Pemimpin Redaksi NewsMusik, majalah musik yang kemudian terbit di
akhir ’90-an.

Periode ’80-an.

Banyak
yang mencoba mengulang kesuksesan majalah Aktuil. Vista Musik di antaranya.
Beberapa awak Aktuil bahkan ikut bergabung di sini. Tapi, Vista Musik tidak
berhasil juga. Berubah format jadi Vista Film, Musik, Televisi. Di akhir
’80-an, majalah Hai mulai berubah format jadi majalah remaja pria. Arswendo
masuk.

Periode ’90-an.

Di
awal tahun ’90-an, Tabloid Citra Musik terbit. Setelah Monitor dibredel,
pelan-pelan tabloid ini berubah format jadi tabloid hiburan. Untuk mengganti
posisi Monitor. Beberapa karakter di era ini, Remy Soetansyah, dan Hans Miller
Banureah. Dua nama ini, akan masuk lagi dalam cerita, di awal 2000-an.

Di
era ini, Hai jadi majalah yang paling banyak memberi informasi musik. Remaja
Indonesia, rasanya percaya saja apa yang Hai katakan. Mirip dengan yang dialami
Aktuil. Sejarah berulang. Hanya, Hai masih bisa diselamatkan. Porsi musik dikurangi
sedikit demi sedikit. Perusahaan yang besar di belakangnya, jadi salah satu
faktor penentu juga. Di era ini, nama Denny MR muncul. Di era ini pula,
Arswendo pernah mengelola Tabloid Dangdut selepas dari penjara. Tabloid Dangdut
juga tidak bernasib baik.

Periode 2000-an.

Akhir
’90-an dan awal 2000-an, muncul media massa musik. Tabloid MUMU, yang hanya
bertahan sekitar empat tahun. Majalah NewsMusik, yang hanya tiga tahun. Dan
tabloid Rock, yang hanya sekitar 52 edisi. Remy Soetansyah dan Hans Miller Banureah
dua petingginya. Majalah Popcity juga hanya bertahan sekitar tiga tahun.
Majalah Poster juga tidak lebih baik nasibnya. Di era ini, beberapa majalah
independen, yang membahas musik cutting edge terbit. Trolley, hanya 11 edisi.
Kini, hanya beberapa nama bertahan. Trax dan Ripple di antaranya. Ripple
majalah independent yang banyak menulis musik yang tidak mainstream. Sekarang
berubah jadi majalah gratisan. Sebagian halamannya diisi katalog produk distro.

Alurnya
kronologis. Tapi, di setiap periode, tentu saja digambarkan konflik-konflik
yang melanda majalah-majalah itu. Beberapa kisah yang berulang juga, akan
menarik untuk diceritakan. Misal, kesamaan Aktuil dan Ripple, yang terbit dari
Bandung. Soal porsi musik rock yang cukup besar di Aktuil dan Trax. Cerita
berhenti di tahun 2006. Menyisakan pertanyaan, soal berapa lama majalah musik
yang sekarang masih terbit bisa bertahan? Apakah sejarah akan berulang?

Jrx: Fisik Tua, Hati Membara!

Superman Is Dead; gitaris/vokalis Bobby Kool, bassist/vokalis Eka Rock dan drummer Jrx baru saja rilis album terbaru Black Market Love. Lewat telepon, saya
mewawancari Jrx, Rabu [21/6] lalu. Untuk dimuat di rubrik musik di majalah kami. Ini versi yang belum diedit. Di
majalah, pasti tulisannya jauh lebih pendek. Selamat menikmati.

Sebelas tahun, enam album. Sesuatu
yang sudah diduga, atau kalian sendiri kaget?

Kaget
juga. Dulu, pas masuk major label, sempat nggak percaya. Wow! Tapi, itu membuat
kami makin percaya diri ke depannya. Ingin nambah diskografi. Waktu bikin band,
niatnya having fun. Sekarang masih fun, cuma nggak nyangka bisa professional.

Bagaimana caranya supaya tetap fun?

Punk
rock, nggak boleh kehilangan fun. Kalau kehilangan fun, bubar aja! Harus
berjiwa muda terus! Melankolis, tetap fun. Marah pun, tetap fun. Supaya tetap
fun, jadi seorang alkoholik! [tertawa] Alkohol bikin rileks. Harusnya, saya udah
masuk Alcoholic Anonymous nih. Waktu album Kuta Rock City mabuknya kelewatan.
Itu pertama kali dapat duit dari band. Orang kaya baru. Jadi akhirnya, duitnya
buat senang-senang. Liver saya hancur. Sekarang, saya jauhin whisky. Cuma bir
aja. Makanya, ada lagu Goodbye Whiskey di album terbaru.

Kalian termasuk generasi menolak tua?

Ya.
Kami termasuk Pestol. Pemuda Stok Lama. Dethu [propagandis SID] yang
mengenalkan istilah itu. Tapi, biarpun tua, masih laku. Yang penting di dada.
Fisik tua, hati membara. [tertawa].

Apa yang membuat kalian bertahan
sejauh ini?

Kecintaan
kami akan musik. Kalau bosen, pasti sudah bubar. Juga rasa bangga jadi seorang
counter culture. Terus, ada orang-orang yang dukung sejak day one. Mereka yang
masih setia, jadi alasan kami bertahan.

Apakah kalian memandang SID band yang
berkualitas?

Banget
sih nggak. Cukup iya. Apalagi sekarang kalau manggung, kami concern sama sound.
Semirip mungkin dengan sound yang di album. Additional player kami ajak
manggung.

Di deathrockstar.info, Dethu menulis
soal menjaga kerukunan, Bhinneka Tunggal Ika. Kalian masih percaya dengan itu?

Dulu
sih, nggak terlalu peduli. Tapi, sekarang Bhinneka Tunggal Ika terancam. Sekarang
jadi peduli. Harus dijaga.

Bagaimana pandangannya terhadap
daerah yang ingin membubarkan diri? Aceh, atau Papua misalnya.

Lebih
baik nggak usah memisahkan diri. Itu bisa memancing yang lain. Ini kan
pelajaran buat pemerintah. Supaya lebih baik lagi menangani negara ini.

Di lagu Tomorrow, kalian menulis soal
dunia tanpa perang. Kalian percaya itu bisa terwujud?

Nggak
yakin sih. Lagu itu kan sekadar harapan. Tapi, walaupun impossible, you have to
have it! Kalau nggak, lo nggak punya motivasi dalam hidup! Punk rock adalah
musik revolusi. Yang mengharapkan perubahan. Walaupun kecil, tapi daripada
nggak berbuat apa-apa.

Apakah kalian percaya, musik
benar-benar bisa mengubah dunia jadi lebih baik?

Skala
kecil sih iya. Misalnya, fan base SID yang lebih mendengarkan lirik kami. Remaja-remaja
yang mungkin nggak mau dengar apa kata guru dan orangtuanya. Kami berusaha
mendidik mereka dengan cara fun. Supaya mereka lebih aware. Jangan sampai ada
lagi diskriminasi, atau terorisme. Kami nggak mau jadi pahlawan sejarah. At
least, we try something!

Itu membuat kalian jadi lebih
bertanggungjawab?

Sangat!
Makanya, sekarang banyak lirik bahasa Indonesia. Saya kira, sudah saatnya SID
nge-push orang-orang supaya jangan salah nge-judge. Cuma bisa mabok, tanpa
punya visi misi. Padahal agenda kami banyak.

Apa?

Kami
ingin membuka pemikiran masyarakat. Jangan sampai jadi polisi moral. Jangan
sampai jadi manusia sok Tuhan. Kembali ke filosofi Superman Is Dead. Tidak ada
manusia yang sempurna.

Bisa cerita soal lirik bukan pahlawan
berparas tampan.

Itu
ungkapan untuk manusia-manusia sempurna. Sedikit berpuisi. [tertawa] Kami bukan
band yang jual tampang. Kami jual attitude. Di Indonesia itu, orang sok
pahlawan banyak. Kamu juga tahu orang-orangnya. Di bali juga banyak. Sedikit-sedikit
mengatasnamakan agama.

Kalau lagu Psycho Fake. Rockstar
palsu yang sok gothic. Apa di Bali ada yang seperti itu?

Di
Bali ada. Di Jakarta lebih banyak lagi. [tertawa] Kami nyerang band yang sok
rebel. Dandanannya rebel, tapi yang dilakukan nggak ada. Dan yang mereka
nyanyikan cuma lagu pop komersil. Kalau orang rebel, do something! Jangan didik
jadi negara yang cengeng.

Bisa sebut nama, siapa yang dimaksud?

Kalau
saya nyebutin, takut dibesar-besarkan infotainment. Kami nggak mau terkenal
dengan cara-cara seperti itu.

Di lagu Menginjak Neraka sepertinya
cukup relijius juga ya.

Relijius
juga. Itu dibikin selama tiga minggu selama saya di Kuta. Saya kan suka Social
Distortion. Nah, vokalisnya ternyata suka Johnny Cash. Lirik Johnny Cash banyak
yang relijius juga. Saya bukan yang seratus persen percaya Tuhan dan agama.
Lirik relijius, bukan berarti orangnya relijius kan. Ini semacam introspeksi
diri aja. Penyebabnya, karena rasa kesepian. Orang di Kuta, kan rame. Tapi,
saya suka merasa sepi, nggak ada teman. Kenapa kita kesepian ya? Saya ngerasa
ada yang salah.

Kalau lagu Lady Rose, kenapa harus
dinyanyikan oleh Anda?

Lagu
itu sangat personal. Ada kan, beberapa lagu yang saat dibuat, oh ini memang
harus kau yang nyanyi!

Di album berikutnya, akan lebih
banyak mendengar Jrx bernyanyi?

Saya
cukup tahu diri kok. Porsi Eka memang akan lebih ditingkatkan, karena vokalnya
cocok. Saya memang ingin tampil, makanya bikin band. Tapi, saya nggak ingin
jadi kayak Ahmad Dhani. [tertawa].

Tiga Kord dari Bandung

Yeah. Ini masih dalam rangka tugas pelatihan jurnalisme sastrawi. Tulisan ini saya buat setelah datang ke TRL, Sabtu [17/6] lalu. Selamat menikmati.

Tiga Kord dari Bandung
Oleh Soleh Solihun

The Super Insurgent Group of Intemperance Talent. Kumpulan orang yang punya bakat, tapi tidak bisa mengendalikan dirinya. Begitu kira-kira arti nama itu. Kalau itu terlalu panjang, panggil mereka The S.I.G.I.T. Salah satu rock n’ roll band dari Bandung. Mereka adalah vokalis/gitaris Rekti, Bassist Adit, gitaris Farri, dan drummer Acil.

Fenomena garage rock revival di akhir ’90-an hingga awal 2000-an, yang melanda industri musik dunia, ikut berpengaruh terhadap mereka. Ketika kelompok musik macam The Hives, The Strokes, The Vines, dan banyak lagi nama mencuri perhatian publik, Rekti dan kawan-kawan dapat inspirasi. “Bukan berarti kami ikut-ikutan trend. Fenomena itu seperti membuat kami panas. Ah, kalau musik tiga kord doang sih, kami juga bisa. Bahkan mungkin bisa lebih bagus!” kata Rekti.

Persahabatan yang dimulai sejak tahun ’94 akhirnya menghasilkan The S.I.G.I.T. pada tahun 2002. Dua tahun kemudian, self titled mini album mereka dirilis di bawah Spills Records. 2000 kaset diproduksi, sekitar 1000 kaset terjual ke pasaran. “Sisanya lagi, nggak tau ke mana,” kata Rekti sambil tersenyum.

Tiga tahun sejak album dirilis, belum ada perkembangan yang berarti. Nama The S.I.G.I.T. belum juga dikenal banyak orang. Tidak aneh sebenarnya. Kelompok musik serupa, macam katakanlah The Brandals atau Speaker 1st pun belum mendapat popularitas dan kesuksesan finansial yang luar biasa. Walau begitu, tawaran manggung untuk The S.I.G.I.T. masih berdatangan.

Sabtu [17/6] malam lalu, mereka tampil di TRL Bar, di Jalan Braga 115, Bandung. Nama TRL diambil dari kata Traffic Light. Lokasinya memang ada di persimpangan antara Jalan Braga dan Jalan Suniaraja. Otomatis, ada lampu lalu lintas di sana. Bar itu ada di lantai dua. Dari dalam ruangan, terlihat suasana jalan raya. Sedikit mengingatkan pada salah satu program di MTV dengan nama yang sama; TRL, kependekan dari Total Request Live. Studio TRL ada di lantai atas. Pemandangannya; suasana jalan raya. Berbeda dengan TRL dari MTV, TRL Bar dibuka khusus untuk mereka yang ingin menikmati musik yang tidak mainstream.

Ini kali ke-tiga The S.I.G.I.T manggung di TRL. Kata manggung mungkin kurang cocok. Karena tidak ada panggung di sana. Para pemain dan penonton berdiri sejajar di lantai yang sama. Ukuran ruangan bar yang tidak terlalu besar, menambah kesan akrab. Pukul 22.00, kelompok musik bernama Vincent Vega jadi pembuka selama setengah jam. Tanpa basa-basi, The S.I.G.I.T. tampil sesudahnya.

Mereka membawakan lagu-lagu dari upcoming album yang akan dirilis FFWD Records—label dari Bandung yang sukses memasarkan Mocca—Agustus nanti. Semua lagunya berbahasa Inggris. Rekti penulis liriknya. Tapi, rock n’ roll bukan jadi alasan liriknya dibuat dalam bahasa Inggris. “Bahasa Indonesia kesannya buat komunikasi sehari-hari aja. Bukan untuk menggambarkan apa yang ada di hati,” kata Rekti.

Bagi Rekti, tampil di TRL, “seperti latihan yang ditonton.” Banyak orang yang dia kenal malam itu. Makanya, dia terlihat rileks. Tidak banyak berkomunikasi dengan penonton. Hanya sesekali menyapa dan mengenalkan lagu baru. Adit dan Farri, mengimbangi dengan bergoyang mengikuti irama. Acil yang paling enerjik. Maklum, drummer. Penampilan keempat anak itu, layaknya banyak personel rock n’ roll bands; berambut gondrong. Rambut Rekti, sedikit mengingatkan pada rambut Robert Plant, vokalis Led Zeppelin—salah satu kelompok musik yang memberi banyak pengaruh pada musik The S.I.G.I.T. Tentu saja, soal kemiripan rambut hanya karena Rekti dan Plant sama-sama berambut ikal.

Untuk sebuah rock n’ roll show, penonton malam itu, bisa dibilang malu-malu. Tidak banyak bergerak. Hanya menggerakkan kepala. Menghentakkan kaki. Sesekali ikut bernyanyi. Ada banyak kemungkinan. Kata Rekti, penonton di Bandung lebih jaga gengsi dibandingkan penonton, katakanlah Jakarta. Tidak akan memulai berjoged, kecuali ada yang memulai. Bisa jadi juga, mereka yang datang menonton malam itu, banyak yang masih remaja. Anak sekolah, yang mungkin masih canggung untuk berjoged di sana. Kemungkinan lain, banyak dari penonton musik di Bandung, yang juga bermain musik. Punya kelompok musik. Ketika datang ke pertunjukkan musik, mereka lebih banyak memerhatikan penampilan si kelompok musik. Bagaimana sound-nya. Bagaimana skill si personel. Hingga, instrumen apa yang digunakan. Bukannya menikmati musik. “Mentalnya mental kritik. Bahaya euy!” kata Rekti sambil tertawa.

Tiga Kord dari Bandung

Yeah.
Ini masih dalam rangka tugas pelatihan jurnalisme sastrawi. Tulisan ini
saya buat setelah datang ke TRL, Sabtu [17/6] lalu. Selamat menikmati.

Tiga Kord dari Bandung

Oleh
Soleh Solihun

The
Super Insurgent Group of Intemperance Talent. Kumpulan orang yang punya bakat,
tapi tidak bisa mengendalikan dirinya. Begitu kira-kira arti nama itu. Kalau
itu terlalu panjang, panggil mereka The S.I.G.I.T. Salah satu rock n’ roll band dari Bandung. Mereka
adalah vokalis/gitaris Rekti, Bassist Adit, gitaris Farri, dan drummer Acil.

Fenomena
garage rock revival di akhir ’90-an
hingga awal 2000-an, yang melanda industri musik dunia, ikut berpengaruh
terhadap mereka. Ketika kelompok musik macam The Hives, The Strokes, The Vines,
dan banyak lagi nama mencuri perhatian publik, Rekti dan kawan-kawan dapat inspirasi.
“Bukan berarti kami ikut-ikutan trend. Fenomena itu seperti membuat kami panas.
Ah, kalau musik tiga kord doang sih, kami juga bisa. Bahkan mungkin bisa lebih
bagus!” kata Rekti.

Persahabatan
yang dimulai sejak tahun ’94 akhirnya menghasilkan The S.I.G.I.T. pada tahun
2002. Dua tahun kemudian, self titled
mini album
mereka dirilis di bawah Spills Records. 2000 kaset diproduksi,
sekitar 1000 kaset terjual ke pasaran. “Sisanya lagi, nggak tau ke mana,” kata
Rekti sambil tersenyum.

Tiga
tahun sejak album dirilis, belum ada perkembangan yang berarti. Nama The
S.I.G.I.T. belum juga dikenal banyak orang. Tidak aneh sebenarnya. Kelompok
musik serupa, macam katakanlah The Brandals atau Speaker 1st pun
belum mendapat popularitas dan kesuksesan finansial yang luar biasa. Walau
begitu, tawaran manggung untuk The S.I.G.I.T. masih berdatangan.

Sabtu
[17/6] malam lalu, mereka tampil di TRL Bar, di Jalan Braga 115, Bandung. Nama TRL
diambil dari kata Traffic Light. Lokasinya memang ada di persimpangan antara
Jalan Braga dan Jalan Suniaraja. Otomatis, ada lampu lalu lintas di sana. Bar
itu ada di lantai dua. Dari dalam ruangan, terlihat suasana jalan raya. Sedikit
mengingatkan pada salah satu program di MTV dengan nama yang sama; TRL,
kependekan dari Total Request Live. Studio TRL ada di lantai atas.
Pemandangannya; suasana jalan raya. Berbeda dengan TRL dari MTV, TRL Bar dibuka
khusus untuk mereka yang ingin menikmati musik yang tidak mainstream.

Ini
kali ke-tiga The S.I.G.I.T manggung di TRL. Kata manggung mungkin kurang cocok.
Karena tidak ada panggung di sana. Para pemain dan penonton berdiri sejajar di
lantai yang sama. Ukuran ruangan bar yang tidak terlalu besar, menambah kesan
akrab. Pukul 22.00, kelompok musik bernama Vincent Vega jadi pembuka selama
setengah jam. Tanpa basa-basi, The S.I.G.I.T. tampil sesudahnya.

Mereka
membawakan lagu-lagu dari upcoming album yang akan dirilis FFWD
Records—label dari Bandung yang sukses memasarkan Mocca—Agustus nanti. Semua
lagunya berbahasa Inggris. Rekti penulis liriknya. Tapi, rock n’ roll bukan jadi alasan liriknya dibuat dalam bahasa
Inggris. “Bahasa Indonesia kesannya buat komunikasi sehari-hari aja. Bukan
untuk menggambarkan apa yang ada di hati,” kata Rekti.

Bagi
Rekti, tampil di TRL, “seperti latihan yang ditonton.” Banyak orang yang dia kenal malam itu. Makanya,
dia terlihat rileks. Tidak banyak berkomunikasi dengan penonton. Hanya sesekali
menyapa dan mengenalkan lagu baru. Adit dan Farri, mengimbangi dengan bergoyang
mengikuti irama. Acil yang paling enerjik. Maklum, drummer. Penampilan keempat
anak itu, layaknya banyak personel rock
n’ roll bands
; berambut gondrong. Rambut Rekti, sedikit mengingatkan pada
rambut Robert Plant, vokalis Led Zeppelin—salah satu kelompok musik yang
memberi banyak pengaruh pada musik The S.I.G.I.T. Tentu saja, soal kemiripan
rambut hanya karena Rekti dan Plant sama-sama berambut ikal.

Untuk
sebuah rock n’ roll show, penonton
malam itu, bisa dibilang malu-malu. Tidak banyak bergerak. Hanya menggerakkan
kepala. Menghentakkan kaki. Sesekali ikut bernyanyi. Ada banyak kemungkinan.
Kata Rekti, penonton di Bandung lebih jaga gengsi dibandingkan penonton,
katakanlah Jakarta. Tidak akan memulai berjoged, kecuali ada yang memulai. Bisa
jadi juga, mereka yang datang menonton malam itu, banyak yang masih remaja.
Anak sekolah, yang mungkin masih canggung untuk berjoged di sana. Kemungkinan
lain, banyak dari penonton musik di Bandung, yang juga bermain musik. Punya kelompok
musik. Ketika datang ke pertunjukkan musik, mereka lebih banyak memerhatikan
penampilan si kelompok musik. Bagaimana sound-nya.
Bagaimana skill si personel. Hingga, instrumen
apa yang digunakan. Bukannya menikmati musik. “Mentalnya mental kritik. Bahaya euy!” kata Rekti sambil tertawa.

Anak Muda, Musik, dan Parc

Ini tugas kedua saya untuk pelatihan jurnalisme sastrawi dari Yayasan Pantau. Membuat tulisan dengan memasukan kata “saya” dalam tulisan. Ini sebenarnya sudah sering saya lakukan di blog dan multiply. Tapi, tulisan ini harus menggambarkan adegan.

Sebenarnya saya kurang puas dengan hasilnya. Berhubung sudah malam, dan saya sudah mengantuk, akhirnya saya kumpulkan seperti di bawah ini, buat besok. Tugas pertama sih, dapat respon positif dari pengajar. Sesuai ekspektasi dia. Walaupun beberapa peserta mengatakan tulisan saya terlalu segmented. “Terlalu Jakarta,” kata peserta dari Papua.

Tulisan di bawah ini, adalah salah satu adegan di Parc–mungkin akan dikritik lagi, karena terlalu Jakarta. Bisa jadi, gabungan dari beberapa adegan yang saya muat di satu tulisan. Ah biarlah. Toh, mereka tidak akan tau. Hihihi. Yang dinilai kan, struktur dan gaya penulisannya.

Anak Muda, Musik, dan Parc
Oleh Soleh Solihun

Parc, nama tempat itu. Saya tidak tahu harus menyebut apa. Klub atau bar. Kalau disebut klub, yang terbayang adalah klub malam tempat orang berdansa, berjoged, bergoyang, bersenang-senang, minum-minum. Kalau disebut bar, berarti hanya tempat minum. Tapi Parc adalah keduanya. Definisi klub, masuk di situ. Orang-orang datang ke sana untuk bersenang-senang menikmati musik. Ada barnya pula. Lokasinya cukup strategis. Ada di salah satu ruko di Jalan Iskandarsyah, dekat Blok M. Itu agaknya jadi salah satu kelebihan Parc.

Tidak seperti klub atau bar lain di Jakarta, pilihan musik yang dimainkan di sana tidak mainstream. Anda bisa mendengar para DJ memainkan musik mulai rock n’ roll, new wave, indie pop, hingga metal. Begitu pula kelompok musik yang bermain di sana. Bukan tipikal home band klub, atau café yang memainkan musik Top 40 dengan vokalis perempuan yang biasanya dandanannya terlalu menor atau sangat seksi.

Itu sebabnya, Parc didatangi banyak anak muda. Saya salah satunya. Entah kali ke berapa, saya datang ke Parc, Kamis malam itu. Seperti biasa, selalu ramai. Maklum, ada event mingguan bernama Thusrday Riot. Tidak, saya tidak salah ketik. Itu memang cara pengelola Parc menulisnya.

Di pelataran parkir, di luar pintu masuk Parc, tampak puluhan anak muda. Dandanan mereka senada. Celana jins ketat, kaos beraneka warna, sepatu Converse All Star, atau Vans Old School bagi sebagian lelakinya. Sebagian dari yang perempuan, memakai rok, kaos ketat dipadu rompi, kalung dan rambut dengan pony tail.

“Meliput Leh?” tanya seorang laki-laki ketika saya baru datang. Saya lupa namanya.
“Oh, nggak. Mau nonton aja,” jawab saya singkat sambil bersalaman.

Jadi jurnalis membuat saya kenal banyak orang di sana. Sebagian besar dari mereka, pernah saya wawancarai. Sebagian, ada yang kenal karena membaca tulisan saya di majalah. Ini sebabnya, saya menikmati jadi jurnalis musik. Punya akses ke berbagai event musik. Salah satu impian saya.

Parc punya dua lantai. Lantai bawah, tempat mendengarkan musik yang dimainkan DJ. Lantai atas, tempat live music digelar. Ruangannya tidak terlalu luas. Kira-kira sebanding dengan tiga per empat ruang kelas di sekolah. Lantai atas, selalu penuh sesak. Asap rokok, aroma minuman keras dan keringat campur jadi satu.

Ini salah satu yang sering menggangu saya. Asap rokok dan minuman keras. Ada di ruangan penuh asap rokok selama berjam-jam membuat mata saya perih. Saya bukan perokok, walaupun banyak orang mengira saya perokok. Kata mereka, penampilan saya seperti perokok. Dan saya juga tidak mengonsumsi alkohol. Saya sering diolok-olok karena ini. Tidak jarang, teman-teman saya menawari bir dingin. Seperti juga malam itu.

“Ayo Leh, minum sedikit aja,” kata seorang teman.
“Nggak ah. Makasih. Nggak minum euy.”

“Yang bener Leh? Nggak minum?” kata seorang lagi.
“Iya bener. Makasih ya.”

Saya sering ada di situasi seperti itu. Banyak yang tidak percaya, kalau saya tidak mengonsumsi alkohol. Tidak sedikit juga yang selalu menawarkan bahkan memaksa saya minum. Padahal, saya murni datang ke sana untuk bersenang-senang. Dan saya cukup senang, hanya dengan menikmati musik yang asik.

“Iya nih, masa’ nggak mau minum. Katanya rock n’ roll. Suka Rolling Stones. Masa’ nggak minum. Mick Jagger juga minum Leh,” kata teman saya lagi, sambil tertawa dan menyodorkan gelas.
Eits. Mick Jagger mah Mick Jagger. Kan gua cuma suka musiknya. Emang kalo suka musiknya, harus ikut-ikutan minum juga ya? Nggak kan.”

Saya menolaknya sekali lagi. Seperti juga di malam-malam lain. Saya tidak ikut menenggak alkohol. Tapi, saya tetap bisa bersenang-senang bersama mereka. Menikmati musik. Sesekali menggerakkan kaki mengikuti irama. Badan bergoyang, walau hanya sedikit. Maklum, saya tidak bisa berdansa.