Siksa Tengku

Selasa [25/4] malam kemarin, Tengku Firmansyah menyiksa saya.

Tahu dia kan? Suami Cindy Fatikasari. Bintang sinetron. Pernah jadi penyanyi juga–berduet dengan istrinya. Dan sekarang, dia mencoba peruntungan baru. Jadi sutradara. Karya pertamanya, sebuah film berjudul “d’Girlz Begins”. Nah, lewat film itulah dia menyiksa saya. Secara psikologis.

Dua jam sebelum film itu diputar di EX 21, konferensi pers digelar di Hard Rock Cafe. Banyak wartawan datang. Hard Rock Cafe penuh sesak. Saya tidak tahu motivasi mereka berdatangan ke sana. Mencari berita? Makan gratis? Jalan-jalan? Kalau saya sih, datang ke sana karena doorprize yang menarik. Satu laptop, dua ipod, tiga digital camera dan tiga flashdisk. “Siapa tahu, kali ini beruntung,” begitu pikir saya.

Seperti biasa, konferensi pers ngaret. Di undangan, tertulis pk. 18.00. Tapi, acara baru dibuka sekitar pk. 20.00. Entah MC-nya bodoh, entah untuk menghemat waktu. Yang jelas, sebelum para pembicara dikenalkan ke audiens, sebelum mereka diberi kesempatan presentasi, MC langsung memberi kesempatan rekan-rekan wartawan bertanya.

Oya, saya gunakan kata “rekan-rekan wartawan”, karena itu sering digunakan oleh panitia di konferensi pers.

Para pembicaranya; Tengku Firmansyah, tiga aktris baru pemeran d’Girlz, produser dan perwakilan dari Softex sebagai sponsor. Blablabla. Konferensi pers digelar selama sekitar satu jam. Plus, penampilan kelompok musik pendatang baru; Tahta.

Tapi sialan. Di akhir acara, panitia mengumumkan kalau doorprize akan diundi setelah pemutaran film. Ini artinya, saya harus ikut menonton film itu. Mau tidak mau. Demi doorprize, saya jalani semua itu.

Memang, dari awal, saya sudah mengira film ini akan buruk. Judulnya saja tidak menarik. Pemilihan font-nya juga. Dan tag line mereka; Truth, Fun-living & Commitment. Rasanya seperti membaca slogan majalah gaya hidup.

Ternyata, film itu jauh lebih buruk dari perkiraan saya. Lima menit pertama saja, sudah terlihat selera humor yang buruk dari sang sutradara. Adegan di markas penculik bayi. Penculik yang menyusui bayi dengan susu dalam botol, akhirnya dikotori bajunya oleh muntahan si bayi. Ini membuat si penculik muntah. Dan muntahan si penculik, diaduk-aduk oleh beberapa orang bayi yang sedang main di lantai.

Setelah itu, Irfan Hakim yang berperan sebagai bos penculik, datang. Dengan kumis palsu yang terlihat menggelikan. Singkat cerita, para penculik itu berhasil dilumpuhkan. Adegan ini ditutup dengan aksi tim yang berpakaian menyerupai SWAT datang membantu. Padahal, para penculik sudah dilumpuhkan.

Aksi Tengku Firmansyah di film itu juga tidak kalah menggelikan. Dia berperan sebagai Sam Sunyi, pembunuh berdarah dingin. Entah berapa orang ditembak Tengku di film itu. Beberapa kali, Tengku juga terlihat memainkan pistol dengan tangannya. Ingin pamer keahlian, mungkin.

Ada satu adegan ketika Sam Sunyi hendak ditangkap polisi yang ternyata sahabatnya sejak kecil. Ketika mereka masih sama-sama jadi tukang semir sepatu . “Demi mengenang persahabatan kita, bagaimana kalau kita berduel,” kata Sam Sunyi kepada si polisi yang akan menangkapnya.

Maka, mereka pun berduel. Sam kalah cepat oleh si polisi. Karena sesaat sebelum menembak, Sam batuk berdarah. Mungkin maksud Tengku ingin membuat adegan itu berakhir dramatis. Tapi, tetap saja hasilnya menggelikan. Seperti juga dengan seluruh adegan di film itu.

Yang paling menggelikan dan sangat memaksakan sih, ada di adegan ketika d’Girlz dan dua orang teman mereka pulang ke rumah dari tempat dugem, sehabis minumannya diberi obat oleh Sam Sunyi. Hanya satu orang yang masih sadar. Yang lain, menggigil, meracau, parno. Di tengah-tengah kekacauan itu, tiba-tiba salah seorang dari mereka langsung sadar.

“Eh, lu bocor tuh,” katanya sambil menunjuk pantat temannya yang merah oleh darah. “Mau yang mana? Yang merah atau yang biru?” lanjutnya sambil mengangkat dua bungkus Softex.

Gila. Benar-benar siksaan. Mau kabur di tengah-tengah acara, masih terbayang hadiah-hadiah itu. Akhirnya, satu setengah jam saya disiksa. Teriakan mengolok-olok terdengar hampir sepanjang film. Tengku tidak ada di studio yang sama. Entah apa yang akan dia rasakan kalau tahu, filmnya diolok-olok banyak orang.

Saya pikir, diserang FPI sudah buruk. Ternyata, ada yang lebih menyiksa. Hehehe. Dan sialannya lagi, walaupun film itu buruk, ternyata memancing saya untuk menulis. Tapi, kalau kamu berniat melatih kesabaran, tidak ingin mudah terpancing emosi, kamu bisa mulai dengan menonton film ini. Sungguh. Emosi dan kesabaran kamu benar-benar teruji di sini. Kalau penasaran juga, silakan klik di sini.

Oya, tidak satupun dari doorprize itu jatuh ke tangan saya.

Dalam Kasus Ini, Mungkin Saya yang Bodoh

Dia: Menurut kamu, apa dampaknya kalau majalah ini dibaca anak-anak?
Saya: Wah, paling mereka akan pusing Pak. Soalnya tulisan di sini memang bukan untuk anak-anak. Dari gaya bahasa sampai topik yang diangkat. Mereka pasti bakal pusing baca laporan yang berhubungan dengan politik, atau budaya.
Dia: Ya kalau dibaca. Tapi, kan otak mereka mungkin belum sampai ke sana. Mungkin baru bisa melihat gambarnya saja. Nah, kalau gambarnya dilihat mereka, apa dampaknya?
Saya: Saya tidak tahu Pak. Saya tidak berkompeten untuk menjawab pertanyaan itu. Saya bukan psikolog anak.
Dia: Masa’ sih, tidak bisa tahu apa dampaknya buat anak-anak?
Saya: Iya Pak. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Saya benar-benar tidak tahu.
Dia: Begini, mungkin kamu juga tidak ingin kalau gambar-gambar ini dilihat anak-anak. Misalnya, kalau dilihat adek kamu?
Saya: Adek saya sudah besar Pak.

terdiam beberapa detik.
Dia: Anak kamu?
Saya: Saya belum berkeluarga Pak.

terdiam lagi, beberapa detik.
Dia: Masa sih kamu tidak bisa tahu apa dampaknya buat anak-anak? [nada bicaranya meninggi]. Begini, mungkin kalau anak-anak lihat gambar di sini, jadi pengin tahu aslinya seperti apa. Jadi mereka mengintip orang mandi misalnya.
Saya: Itu Bapak yang bilang loh Pak. Bukan saya.
Dia: [lebih tinggi nada bicaranya]. Iya. Orang boleh punya pendapat. Saya punya pendapat. Mereka punya pendapat. Nah, sekarang bagaimana pendapat kamu, kalau gambar-gambar di majalah ini dilihat anak-anak?
Saya: Pak. Sudah saya bilang, saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Lagipula, saya tidak tahu bagaimana kondisi psikologis anak-anak sekarang. [dan keluarlah pernyataan bodoh dari mulut ini]. Saya sudah lama tidak bersentuhan dengan anak-anak.

Dalam Kasus Ini, Mungkin Saya yang Bodoh

Dia: Menurut kamu, apa dampaknya kalau majalah ini dibaca anak-anak?
Saya: Wah, paling mereka akan pusing Pak. Soalnya tulisan di sini memang bukan untuk anak-anak. Dari gaya bahasa sampai topik yang diangkat. Mereka pasti bakal pusing baca laporan yang berhubungan dengan politik, atau budaya.

Dia: Ya kalau dibaca. Tapi, kan otak mereka mungkin belum sampai ke sana. Mungkin baru bisa melihat gambarnya saja. Nah, kalau gambarnya dilihat mereka, apa dampaknya?

Saya: Saya tidak tahu Pak. Saya tidak berkompeten untuk menjawab pertanyaan itu. Saya bukan psikolog anak.

Dia: Masa’ sih, tidak bisa tahu apa dampaknya buat anak-anak?

Saya: Iya Pak. Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Saya benar-benar tidak tahu.

Dia: Begini, mungkin kamu juga tidak ingin kalau gambar-gambar ini dilihat anak-anak. Misalnya, kalau dilihat adek kamu?

Saya: Adek saya sudah besar Pak.


terdiam beberapa detik.

Dia: Anak kamu?

Saya: Saya belum berkeluarga Pak.


terdiam lagi, beberapa detik.

Dia: Masa sih kamu tidak bisa tahu apa dampaknya buat anak-anak? [nada bicaranya meninggi]. Begini, mungkin kalau anak-anak lihat gambar di sini, jadi pengin tahu aslinya seperti apa. Jadi mereka mengintip orang mandi misalnya.

Saya: Itu Bapak yang bilang loh Pak. Bukan saya.

Dia: [lebih tinggi nada bicaranya]. Iya. Orang boleh punya pendapat. Saya punya pendapat. Mereka punya pendapat. Nah, sekarang bagaimana pendapat kamu, kalau gambar-gambar di majalah ini dilihat anak-anak?

Saya: Pak. Sudah saya bilang, saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Lagipula, saya tidak tahu bagaimana kondisi psikologis anak-anak sekarang. [dan keluarlah pernyataan bodoh dari mulut ini]. Saya sudah lama tidak bersentuhan dengan anak-anak.

Siapa yang Bodoh?

Dia: Bagaimana pendapat kamu, sehubungan banyak demo mengenai terbitnya majalah ini?

Saya: Yah, namanya juga hidup Pak. Pasti ada yang suka dan ada yang tidak suka. Pro dan kontra, saya anggap wajar saja. Toh, kita tidak bisa memaksakan semua orang untuk suka.

Dia: Ya, menurut pendapat kamu, bagaimana?

Saya: Ya itu tadi. Menurut pendapat saya, pro dan kontra itu wajar saja.

Dia: Ya, tapi menurut pendapat kamu, bagaimana? Masa’ tidak bisa ngasih pendapat sih?

Saya: [dalam hati]. Bukannya itu tadi udah ngasih pendapat ya?

Dia: Begini, mungkin mereka demo karena tidak suka gambarnya. Menurut kamu, bagaimana gambarnya?

Saya: [dalam hati]. Kenapa nggak nanyanya begitu dari awal?

Siapa yang Bodoh?

Dia: Bagaimana pendapat kamu, sehubungan banyak demo mengenai terbitnya majalah ini?
Saya: Yah, namanya juga hidup Pak. Pasti ada yang suka dan ada yang tidak suka. Pro dan kontra, saya anggap wajar saja. Toh, kita tidak bisa memaksakan semua orang untuk suka.

Dia: Ya, menurut pendapat kamu, bagaimana?

Saya: Ya itu tadi. Menurut pendapat saya, pro dan kontra itu wajar saja.

Dia: Ya, tapi menurut pendapat kamu, bagaimana? Masa’ tidak bisa ngasih pendapat sih?

Saya: [dalam hati]. Bukannya itu tadi udah ngasih pendapat ya?

Dia: Begini, mungkin mereka demo karena tidak suka gambarnya. Menurut kamu, bagaimana gambarnya?

Saya: [dalam hati]. Kenapa nggak nanyanya begitu dari awal?

Desain Baru yang Keren dan Republika Kurang Etika

Haha.

Keren ya design blog saya yang baru? 😀 Ini hadiah dari seorang teman. Nozs namanya. Desainer muda berbakat yang mengaku “memimpikan adanya seorang cewek yang memasang poster bergambar wajahnya di kamar tidurnya”. Hehe.
Maaf. Komentar-komentar terdahulu jadi hilang. Ada beberapa tulisan yang jarak antar paragrafnya jadi kacau. Ini konsekuensi desain baru.
Oya. Saya tulis silakan dikutip, asal minta ijin dulu, apalagi untuk media massa, ada alasannya. Beberapa waktu lalu–Sabtu [8/4] tepatnya, Republika mengutip sebagian tulisan saya tanpa ijin. Padahal, yang mereka kutip bersifat pribadi. Harusnya mereka minta ijin dulu.
Saya kesal. Mereka tidak menghargai saya. Saya yakin mereka cukup pintar untuk tahu kalau tulisan yang mereka kutip itu sebaiknya dikonsultasikan dulu pada saya. Etika jurnalistiknya di mana? Setahu saya sih, mau mengutip omongan orang saja, harus minta ijin dulu.
Mereka–Republika–menyebut blog sebagai diary maya. Dari penggunaan katanya saja, mereka sadar ini diary–catatan harian. Sifatnya pribadi. Tidak pernahkah terpikir itu oleh mereka?
Lagipula, saya tidak pernah berniat untuk menyebarluaskan isi blog ini lewat media massa. Sekalian sekarang saya tulis di sini. Kalau lain kali ada yang ingin mengutip untuk media massa, tolong minta ijin dulu.
Salam,

Jurnalis Belel

Menurut kamu, penampilan fisik saya bagaimana?

 

Anehkah? Jelekkah? Menyeramkan? Unik? Eksentrik? Ganteng? Hehehe. Yang terakhir, sepertinya tidak mungkin deh. Bukan apa-apa. Tadi siang saya pergi ke Pemda Kabupaten Tangerang. Mau menemui narasumber.

 

Kantor pertama, divisi Humas dan Protokoler. Saya perkenalkan diri dan maksud saya ke sana. Si bapak, sambil mendengarkan saya bicara, memandang saya dari ujung kaki ke ujung rambut. Menurunkan kacamatanya setengah.

 

Kantor kedua, Ketentraman dan Ketertiban. Bapak-bapak berseragam Satpol PP memandang saya. Tidak jelas berapa jumlah mereka. Yang jelas, sebagian besar dari mereka memandang saya dari bawah sampai atas. Seperti bapak sebelumnya.

 

Padahal, saya bersama seorang teman. Perempuan. Dan dia tidak dapat pandangan seperti itu. Lantas, timbul pikiran di benak. Memangnya penampilan saya aneh ya. Padahal, saya cuma pake jaket dan celana jins belel, kaos hitam, kumis jenggot belum dicukur, dan rambut tidak terurus. Hehehe.

 

Apa mereka belum pernah lihat jurnalis seperti saya ya? Tapi, rasanya masih banyak jurnalis berpenampilan lebih lusuh dari saya. Hmmm. Ataukah, karena nama saya dan nama majalah saya cukup bertentangan ya. Tapi tidak juga. Kalau begitu sih, mereka langsung komentar. Seperti bapak pemda lainnya yang saya temui di kantor lainnya.

 

Lantas, kenapa mereka memandang saya seperti itu ya?

Jurnalis Belel

Menurut kamu, penampilan fisik saya bagaimana?
Anehkah? Jelekkah? Menyeramkan? Unik? Eksentrik? Ganteng? Hehehe. Yang terakhir, sepertinya tidak mungkin deh. Bukan apa-apa. Tadi siang saya pergi ke Pemda Kabupaten Tangerang. Mau menemui narasumber.
Kantor pertama, divisi Humas dan Protokoler. Saya perkenalkan diri dan maksud saya ke sana. Si bapak, sambil mendengarkan saya bicara, memandang saya dari ujung kaki ke ujung rambut. Menurunkan kacamatanya setengah.
Kantor kedua, Ketentraman dan Ketertiban. Bapak-bapak berseragam Satpol PP memandang saya. Tidak jelas berapa jumlah mereka. Yang jelas, sebagian besar dari mereka memandang saya dari bawah sampai atas. Seperti bapak sebelumnya.
Padahal, saya bersama seorang teman. Perempuan. Dan dia tidak dapat pandangan seperti itu. Lantas, timbul pikiran di benak. Memangnya penampilan saya aneh ya. Padahal, saya cuma pake jaket dan celana jins belel, kaos hitam, kumis jenggot belum dicukur, dan rambut tidak terurus. Hehehe.
Apa mereka belum pernah lihat jurnalis seperti saya ya? Tapi, rasanya masih banyak jurnalis berpenampilan lebih lusuh dari saya. Hmmm. Ataukah, karena nama saya dan nama majalah saya cukup bertentangan ya. Tapi tidak juga. Kalau begitu sih, mereka langsung komentar. Seperti bapak pemda lainnya yang saya temui di kantor lainnya.
Lantas, kenapa mereka memandang saya seperti itu ya?

Satu Lekong Dua Bencong

Ini cerita Jumat [17/3] malam lalu.

Kata orang, daerah UKI rawan. Banyak penjahat. Sering terjadi tindak kejahatan. Apalagi di malam hari. Kata saya, itu overrated. Hehe. Bukan apa-apa. Saya sudah sering ada di daerah itu, malam hari. Alhamdulillah, belum pernah melihat kejadian yang sering diceritakan banyak orang.
Sekali lagi, saya ada di sana. Pukul 23.40. Saya harus naik bus kota tujuan Cibinong. “Kalau ada apa-apa, lawan aja kalau premannya sedikit mah,” kata Hagi, teman saya, ketika menurunkan saya di UKI malam itu. Tapi jujur, yang saya takuti malam itu, bukan suasana UKI di malam hari. Hanya takut tidak kebagian bus. Alhamdulillah, bus masih ada.
Saya turun di Citeureup kira-kira setengah jam kemudian. Tujuan saya; Gunung Putri. Bingung ya dengan nama-nama tempatnya? Hehehe. Maaf. Ikuti saja terus cerita saya. Intinya bukan di tempat kok. Maka, dari pintu tol Citeureup, saya naik angkot.
Di sinilah kejadian menegangkan itu terjadi.
Angkot itu relatif kosong. Satu penumpang di samping sopir. Empat di belakang, termasuk saya. Dua penumpang yang duduk di pojok lah, yang membuat jantung saya terus berdebar. Waktu baru masuk ke angkot itu pun, mereka sudah menarik perhatian. Aroma parfum murahan yang menyengat hidung. Kalau diibaratkan gula, maka parfum itu adalah gula yang biasa ada di sirop murahan yang bisa membuat perut sakit. Ini mungkin yang sering disebut banyak orang sebagai minyak nyongnyong itu!
Awalnya, saya kira mereka pelacur kelas teri yang baru pulang kerja. Itu sampai saya dengar suara mereka. Cempreng, nge-bass, dan sedikit genit. Sialan! Jantung saya langsung berdebar keras. Mereka bencong!
Ketika masih ada penumpang lain, saya tidak terlalu takut. Baru ketika di angkot itu, tersisa saya dan dua bencong di kursi belakang, perasaan saya semakin tidak karuan. Deg deg. Deg deg. Deg deg. Saya penasaran sekaligus takut. Hehe. Sesekali saya curi pandang. Melihat tampang mereka.
Yang banyak bicara, berambut pirang. Kontras dengan kulitnya yang gelap. Yang satu lagi, berambut hitam. Wajahnya tidak semulus si pirang. Banyak jerawat. Keduanya memakai gaun hitam. Si pirang, malah memakai kemben.
Ya. Saya takut bencong. Apa ya istilahnya Bencong Phobia mungkin? Buat saya, mereka lebih mengerikan dari penata rambut, penata rias, bahkan preman. Oke, saya beberapa kali memang pernah melihat bencong bersama teman-teman. Di Jalan Sumatra, Veteran [kalau tidak salah], Bandung. Tapi itu, dari dalam mobil. Mereka di luar. Saya merasa aman.
Dan saya belum pernah sedekat itu dengan bencong!
Yang membuat saya takut, adalah dandanan mereka. Banci salon sih, masih berwujud laki-laki. Walaupun gaya bicara mereka seperti perempuan. Tapi bencong, itu mengerikan. Pakaiannya perempuan, wajahnya laki-laki yang dimake up. Dan suaranya, antara laki-laki dan perempuan. Semakin melengkapi ketakutan saya. Hahaha.
Sambil ketakutan, saya dengarkan obrolan mereka. Sepertinya sedang curhat soal percintaan. Ah. Bencong juga manusia. Bisa jatuh cinta. Ada yang mencintai juga. Itu yang saya pikir. Dan di sana, saya mendengar beberapa kosa kata yang membuat saya bertanya-tanya.
Baru kali ini, saya dengar bahasa Bencong digunakan dalam kalimat. Keduanya bicara dalam tiga bahasa. Indonesia, Sunda kasar dan bahasa Bencong. Jadinya, perasaan saya campur aduk. Takut, ingin cepat turun, tapi penasaran, sekaligus ingin tertawa mendengar bahasa mereka.
Damn! Saya lupa kosa kata apa saja yang saya dengar malam itu. Tadinya mau saya tulis. Tapi, saya terlalu takut. Hehe. Yang jelas, ada kalimat yang masih membekas di benak saya.
“Dia nggak mau diesong.” Yang jelas, mereka senang sekali memasukkan imbuhan ong dalam kata. Lekong. Bencong. Dan ong ong yang lain yang saya dengar malam itu.
Dan mendengar obrolan mereka, akhirnya saya jadi tahu dari mana asal kata [maaf] disepong. Hehehe. Lantas, siapa pula yang memulai bahasa Bencong itu? Pasti ada seorang bencong yang bertanggungjawab atas adanya bahasa mereka. Apakah para bencong itu tahu sejarah mereka? Siapa Founding Father [or should I say, mother?] mereka?
Jangan-jangan, sudah ada Ensiklopedia Bencong Indonesia yang hanya beredar di kalangan tersendiri. Di sana, ada semua yang kamu perlu ketahui tentang bencong. Kapan dimulainya gerakan bencong turun ke jalan. Jenis-jenis pekerjaan yang cocok untuk bencong. Hingga bagaimana mengubah nama laki-laki jadi nama bencong.
Salam,

Satu Lekong Dua Bencong

Ini cerita Jumat [17/3] malam lalu.

Kata orang, daerah UKI rawan. Banyak penjahat. Sering terjadi tindak kejahatan. Apalagi di malam hari. Kata saya, itu overrated. Hehe. Bukan apa-apa. Saya sudah sering ada di daerah itu, malam hari. Alhamdulillah, belum pernah melihat kejadian yang sering diceritakan banyak orang.

 

Sekali lagi, saya ada di sana. Pukul 23.40. Saya harus naik bus kota tujuan Cibinong. “Kalau ada apa-apa, lawan aja kalau premannya sedikit mah,” kata Hagi, teman saya, ketika menurunkan saya di UKI malam itu. Tapi jujur, yang saya takuti malam itu, bukan suasana UKI di malam hari. Hanya takut tidak kebagian bus. Alhamdulillah, bus masih ada.

 

Saya turun di Citeureup kira-kira setengah jam kemudian. Tujuan saya; Gunung Putri. Bingung ya dengan nama-nama tempatnya? Hehehe. Maaf. Ikuti saja terus cerita saya. Intinya bukan di tempat kok. Maka, dari pintu tol Citeureup, saya naik angkot.

 

Di sinilah kejadian menegangkan itu terjadi.

 

Angkot itu relatif kosong. Satu penumpang di samping sopir. Empat di belakang, termasuk saya. Dua penumpang yang duduk di pojok lah, yang membuat jantung saya terus berdebar. Waktu baru masuk ke angkot itu pun, mereka sudah menarik perhatian. Aroma parfum murahan yang menyengat hidung. Kalau diibaratkan gula, maka parfum itu adalah gula yang biasa ada di sirop murahan yang bisa membuat perut sakit. Ini mungkin yang sering disebut banyak orang sebagai minyak nyongnyong itu!

 

Awalnya, saya kira mereka pelacur kelas teri yang baru pulang kerja. Itu sampai saya dengar suara mereka. Cempreng, nge-bass, dan sedikit genit. Sialan! Jantung saya langsung berdebar keras. Mereka bencong!

 

Ketika masih ada penumpang lain, saya tidak terlalu takut. Baru ketika di angkot itu, tersisa saya dan dua bencong di kursi belakang, perasaan saya semakin tidak karuan. Deg deg. Deg deg. Deg deg. Saya penasaran sekaligus takut. Hehe. Sesekali saya curi pandang. Melihat tampang mereka.

 

Yang banyak bicara, berambut pirang. Kontras dengan kulitnya yang gelap. Yang satu lagi, berambut hitam. Wajahnya tidak semulus si pirang. Banyak jerawat. Keduanya memakai gaun hitam. Si pirang, malah memakai kemben.

 

Ya. Saya takut bencong. Apa ya istilahnya Bencong Phobia mungkin? Buat saya, mereka lebih mengerikan dari penata rambut, penata rias, bahkan preman. Oke, saya beberapa kali memang pernah melihat bencong bersama teman-teman. Di Jalan Sumatra, Veteran [kalau tidak salah], Bandung. Tapi itu, dari dalam mobil. Mereka di luar. Saya merasa aman.

 

Dan saya belum pernah sedekat itu dengan bencong!

 

Yang membuat saya takut, adalah dandanan mereka. Banci salon sih, masih berwujud laki-laki. Walaupun gaya bicara mereka seperti perempuan. Tapi bencong, itu mengerikan. Pakaiannya perempuan, wajahnya laki-laki yang dimake up. Dan suaranya, antara laki-laki dan perempuan. Semakin melengkapi ketakutan saya. Hahaha.

 

Sambil ketakutan, saya dengarkan obrolan mereka. Sepertinya sedang curhat soal percintaan. Ah. Bencong juga manusia. Bisa jatuh cinta. Ada yang mencintai juga. Itu yang saya pikir. Dan di sana, saya mendengar beberapa kosa kata yang membuat saya bertanya-tanya.

 

Baru kali ini, saya dengar bahasa Bencong digunakan dalam kalimat. Keduanya bicara dalam tiga bahasa. Indonesia, Sunda kasar dan bahasa Bencong. Jadinya, perasaan saya campur aduk. Takut, ingin cepat turun, tapi penasaran, sekaligus ingin tertawa mendengar bahasa mereka.

 

Damn! Saya lupa kosa kata apa saja yang saya dengar malam itu. Tadinya mau saya tulis. Tapi, saya terlalu takut. Hehe. Yang jelas, ada kalimat yang masih membekas di benak saya.

 

“Dia nggak mau diesong.” Yang jelas, mereka senang sekali memasukkan imbuhan ong dalam kata. Lekong. Bencong. Dan ong ong yang lain yang saya dengar malam itu.

 

Dan mendengar obrolan mereka, akhirnya saya jadi tahu dari mana asal kata [maaf] disepong. Hehehe. Lantas, siapa pula yang memulai bahasa Bencong itu? Pasti ada seorang bencong yang bertanggungjawab atas adanya bahasa mereka. Apakah para bencong itu tahu sejarah mereka? Siapa Founding Father [or should I say, mother?] mereka?

 

Jangan-jangan, sudah ada Ensiklopedia Bencong Indonesia yang hanya beredar di kalangan tersendiri. Di sana, ada semua yang kamu perlu ketahui tentang bencong. Kapan dimulainya gerakan bencong turun ke jalan. Jenis-jenis pekerjaan yang cocok untuk bencong. Hingga bagaimana mengubah nama laki-laki jadi nama bencong.

 

Salam,