Quo Vadis Soleh Solihun?

Ini tentang saya dan banyak omong.

Ada periode dalam hidup saya ketika saya jadi orang yang sangat banyak omong. Rasanya saya tidak bisa tidak berhenti ngomong. Ada baik dan buruknya. Ada orang yang terhibur. Ada yang jadi tersinggung. Marah karena omongan saya.

Itu masa-masa kuliah saya. Dan setelah saya lulus, saya punya niat untuk jadi orang yang tidak terlalu banyak omong. Bukan apa-apa. Kadang-kadang saya tidak suka dengan diri saya yang banyak omong itu. Terlalu cerewet. Kadang menjengkelkan. Walaupun kadang menghibur. Tapi, intinya saya tidak ingin jadi orang yang banyak omong. Itu saja!

Nah, sekarang saya harus banyak omong lagi. Suka tidak suka. Saya harus banyak omong. Tuntutan pekerjaan. Dan gawatnya. Saya harus banyak omong, di pagi hari. Bahkan ketika saya masih banyak omong pun, saya masih males ngomong!

Maka, niatan saya soal berhenti banyak omong pun harus diubah. Dan ini berat. Berat sekali. Saya harus berkompromi dengan diri saya yang pernah punya niat berhenti banyak omong. Saya harus kembali jadi diri saya yang dulu pernah ingin saya tinggalkan.

Doakan saya.

Semua Hanya Masalah Waktu

Kapan terakhir kali keinginan kamu terpenuhi?

Maksud saya, keinginan yang selama ini ada, tapi rasanya untuk terwujud saja seperti tidak mungkin. Saya yakin kamu punya. Begitu pula saya. Dan baru-baru ini beberapa keinginan saya terpenuhi. Saya tidak akan menceritakan apa saja keinginan itu.

Yang ingin saya bagi di sini, adalah perasaan ketika sampai di titik itu. Titik di mana semua yang tadinya saya pikir mustahil, malah jadi kenyataan. Senang. Tentu saja. Siapa juga yang tidak bakal senang kalau keinginannya terpenuhi?

Kalau sudah begitu, saya hanya bisa tertawa. Kalau ingat apa yang pernah saya pikirkan. Ya, mendapatkan sesuatu yang tidak terduga, pasti akan jadi kejutan yang menyenangkan. Saya hanya bisa menertawakan diri saya yang lama. Haha. Ternyata keinginan itu terwujud juga. Dan saya yang sekaranglah yang menikmatinya.

Pelajaran berharganya. Adalah semua memang ada waktunya. Dan kalau memang, itu harus terjadi atau terwujud, maka itu bakal terjadi. Kita hanya perlu sedikit bersabar. Dan sedikit menaruh kepercayaan. Itu saja.

Bingung ya? Maaf.

Motorcycle Diaries

Sekali lagi, saya tempuh Bandung – Jakarta dengan motor.

Padahal, dulu pernah berkata tidak akan lagi naek motor Bandung – Jakarta. “Moal-moal deui, naek motor Bandung – Jakarta!” kata saya kepada sobat saya. Ternyata, kemarin saya mengulangnya. Masih dengan sobat yang sama.

Dan motorcycle diaries pun kembali ditulis.

Salah seorang sobat saya menikah kemarin. Agak tidak terkira juga. Karena yang ternyata dinikahi, adalah mantan pacar adik saya. Ah… Bukti kalau masa depan benar-benar tidak terkira.

Seperti biasa. Pernikahan adalah salah satu magnet ampuh penarik banyak orang. Teman-teman saya pun berkumpul. Sehari sebelum pernikahan. Bukan pesta bujang dengan penari eksotis. Tapi, sepak bola indoor. Menyaksikan mereka bermain, seperti kembali ke masa lalu. Sekitar tahun 1999 – 2000.

Wajah boleh sama. Permainan boleh sama. Tapi, isi kepala sudah berbeda. Status juga sudah berbeda. Well, walaupun ada beberapa yang masih jadi mahasiswa. [ternyata, ada yang lebih lama dari pada saya]. Intinya, seperti melihat sebuah film asik yang dire-run. Menyenangkan. Nostaljik.

Yang pasti, ada yang belum berubah. Topik pembicaraan saya dengan sobat saya di atas jok motor, selama Bandung – Jakarta. Masih perempuan. Rupanya, untuk yang satu ini, kami belum juga menemukan ketenangan. Haha.

Tapi, ada satu yang membedakan motorcycle diaries kali ini. Karena saya dan sobat saya datang ke Ibu Kota bukan untuk melakukan perjalanan tanpa tujuan. Tapi, untuk menaklukan kota ini. Yah, walaupun sebelum menaklukan Ibu Kota, agaknya saya harus belajar menaklukan perempuan dulu. Hehe.

Salam,

They Gave Me The Airwaves!

Gosh…. It’s my first day on air!

Hahaha. So not me! Kalimat pembuka itu ditulis teman saya, il-matto. Alias Avianto Nugroho. Tapi, kurang lebih itu menggambarkan kondisi psikologis saya hari ini. Menyenangkan. Menegangkan. Sekaligus penuh tantangan.

Memang, berbicara, bukan sesuatu yang baru buat saya. Sudah sering saya melakukannya. Di depan kelas. Di lapangan. Di panggung. Atau, di perbincangan biasa. Tapi, ini sesuatu yang berbeda. Jauh berbeda.

Karena banyak sekali aturannya. Harus baca ad-libs, lah. Ada beberapa kata yang tidak boleh diucapkan, lah. Ada batas waktunya, lah. Belum lagi teknik bicaranya. Ya, pokoknya yang begitulah. Segala aturan itu.

Ini tantangannya. Selama ini, saya selalu tidak mau tunduk pada aturan. Selama ini, saya selalu bicara seenaknya. Apa adanya. Apa yang saya rasakan itulah yang keluar.

Ah. Saya harus acungkan jempol buat mereka yang sudah bertahun-tahun jadi penyiar. Teman-teman saya; Yarra Aristi, Andira Pramanta. Mereka sudah berlari. Sementara saya, baru saja belajar berdiri. Masih jauh dari berjalan, apalagi berlari.

Perjalanan masih panjang. Ya, apapun yang terjadi. Setidaknya, apa yang pernah saya impikan, bisa terwujud. Mudah-mudahan saja, ini bukan cuma mimpi indah. Di mana, di pagi harinya saya terbangun. Dan hanya merasakan kesenangan sesaat. Kita lihat saja nanti.

Salam,

Lagu Lama Itu Terdengar Lagi

Bagai petir di siang bolong.

Dia datang. Tepat di saat yang tidak terduga. Kemarin. Di Ibu Kota. Di kamar kos. Tempat yang saya pikir tidak mungkin didatangi dia. Saya yang mengajaknya memang. Salah saya. Tapi, saya tidak tau harus bagaimana lagi. Dia butuh pertolongan. Ya sudah. Saya kasih.

Tapi, namanya petir, pasti dampaknya luar biasa. Apalagi petir ini pernah menyambar saya hampir satu tahun lalu. Hasilnya, perasaan itu datang lagi. Hanya saja, saya tidak tau mana yang harus saya nikmati. Sakitnya, senangnya, bingungnya, atau dendamnya?

Saya tau, dia datang tanpa pretensi. Hanya butuh seseorang di tengah kebingungannya di kota ini. Tapi, mungkin dia tidak tau, bagaimana dampaknya kepada saya.

Ketika saya pikir api ini hampir padam. Ketika saya pikir bara itu sudah habis. Dengan santainya, dia datang. Meniup bara tadi. Fyuh.

Ketika saya pikir telah bisa melupakannya. Menghapus semua catatan tentang dia dari buku saya. Dia datang. Menggoreskan tintanya di sana. Padahal, saya susah payah menghapusnya.

Lagu lama yang tidak ingin saya dengar itu, tiba-tiba diputar lagi. Saya suka lagu itu. Tapi, lagu itu ternyata bukan buat saya. Lagu itu milik orang lain sekarang. Dan mendengar lagu itu kembali setelah sekian lama, membuat hati saya kacau balau.

Saya tidak ingin harapan semu itu muncul. Saya cuma ingin melupakan dia. Dan saya kira saya sudah. Sampai hari itu. Saya tidak tau bagaimana sesungguhnya perasaan saya.

Sialan. Sekarang saya bingung. Masih satu bulan lagi dia ada di kota ini. Kasihan juga sebetulnya. Dia butuh teman di kota ini. Tapi, kalau saya menemaninya. Seperti kemarin. Saya akan seperti dulu lagi. Sakit. Senang. Dendam. Akan datang lagi. Bergantian. Bercampur.

Kalau saya menghindar, tidak memenuhi permintaannya, dia akan mengira saya tidak mau menolongnya. Padahal, saya hanya tidak ingin lagu itu diputar lagi. Itu saja. Sesederhana itu.

Saya ingin baik-baik saja. Tanpa harus mendengar lagu itu berputar terus di kepala. Capek. Tubuh saya jadi ikut lelah.

Selamat. Dia melakukannya lagi. Dan sekali lagi, saya korbannya.

Bertanya, Bertanya, Selalu Bertanya

“Belajar dong, kan mau UMPTN!”

Kata orang tua saya kepada saya ketika kelas 3 SMA. Dan luluslah saya. Masuk ke perguruan tinggi negeri. Memasuki tahun ke-5, muncul pertanyaan lagi. “Kapan lulus?”. Itu baru terjawab dua tahun kemudian.

Bagusnya, saya langsung kerja. Jadi, pertanyaan kapan cari kerja, bisa terlewati. Itu pun sebenarnya belum selesai. Karena pertanyaan, “Nggak mau ngelamar ke kantor yang lain?” kadang-kadang masih muncul.

Ini yang gawat. Pertanyaan ini belakangan muncul. “Si ini udah kawin. Si itu udah kawin juga. Kapan kamu?” D*zig! Awalnya, hanya implisit saja. Bertanya itu kepada teman saya yang main ke rumah. Tapi, sekarang sudah mulai langsung ke sasaran.

Gawat. Gawat. Pertanyaan itu sepertinya tidak pernah berakhir.

Kemapanan sepertinya jadi harapan banyak orang tua. Teman saya, beberapa hari lalu, curhat. “Leh, urang mabok wae yeuh!” katanya sambil mabuk. Alasannya, orang tua pacarnya sudah mulai bertanya, kapan dia akan dapat kerja. Dan pekerjaan yang diharapkan orang tua pacar teman saya itu, yang kantoran. Yang ada tunjangannya. Yang seperti itulah. Kamu tau maksud saya.

Saya tau rasanya ditanya seperti itu. Di pertengahan dan akhir 20-an sepertinya, harapan orang tua lebih besar lagi kepada kita dibanding masih remaja. Dan kadang-kadang, mereka tidak lantas mengerti apa yang kita rasakan.

Bukannya saya atau teman saya tidak memikirkan itu. Cuma, kadang-kadang itu malah membuat kita tertekan. Teman saya, yang mengaku skinhead sejati pun, harus tunduk dengan kenyataan bahwa orang tua pacarnya menginginkan dia mencari pekerjaan sesungguhnya. Bukan bisnis clothing atau karir di musik, yang sedang dijalaninya.

“Skinhead sampai mati, ya? Tetep lah, kalah sama omongan orang tua pacar mah,” kata saya kepada teman saya itu. Dan dia pun hanya tertawa. Pahit. Dan ujung-ujungnya, minta dikasih info soal lowongan pekerjaan.

Saya yakin, pertanyaan itu pun tidak akan berakhir kalaupun saya akhirnya menikah. Ataupun, kalau akhirnya teman saya dapat pekerjaan dan menikah dengan pacarnya. Saya tau itu sekarang. Kita tidak akan pernah berhenti ditanya. Bahkan, sampai di liang kubur pun, saya yakin kita masih akan ditanya. “Man robbuka!”

Salam,

Membuat Janji dengan Takdir

Menunggu orang yang tepat itu seperti menunggu jemputan.
Kamu tau, jemputanmu akan datang.
Kamu tunggu di satu tempat.
Kamu tau dia bakal datang.

Hanya saja, ada yang tidak kamu tau.
Kapan pastinya jemputanmu itu bakal datang.

Yang bisa kamu lakukan, hanyalah menunggu.
Tapi, kamu tau dia bakal datang.
Karena kamu telah membuat janji.
Dengan takdir.

Di sini, kesabaranmu diuji.
Kalau ternyata jemputanmu tidak kunjung datang.

Kamu tau perjalanan dia bisa saja terhambat.
Persoalannya, apakah kamu akan tetap tunggu jemputan itu.
Atau, memutuskan untuk naik kendaraan lain yang kebetulan lewat.
Dan, apakah kamu terburu-buru atau tidak ke tempat tujuan.

Itu kalau kamu menunggu.
Kalau kamu jadi penjemput, tinggal balik saja keadaan yang tadi saya ceritakan.

Setelah jemputanmu datang.
Kamu pergi ke tempat tujuan yang sama.
Melakukan perjalanan dengan kendaraan yang sama.
Maka, petualangan yang sebenarnya pun baru dimulai.

Apakah akan berakhir di tempat tujuan yang sama?
Hanya takdir yang tau.
Kalaupun tidak, kamu bisa menunggu lagi jemputan yang lain datang.
Atau, kamu jemput orang yang lain.

Dan sekali lagi.
Kamu membuat janji yang baru dengan takdir.

*terlintas begitu saja, ketika menunggu jemputan dari seorang teman.

Empati Untuk Para Pengubah Wajah

Pernah lihat, orang yang tampangnya dipermak?

Saya baru saja lihat tadi sore. Bukan yang dioperasi plastik di dokter. Tapi, hasil pijatan seorang yang mengaku pakar kecantikan internasional. Seorang yang bernama Haji Jeje. Kalo kamu pernah lihat tampangnya, pasti langsung terbayang. Hidungnya yang mancung, gede, tapi aneh, dagunya yang ke bawah, dan pipinya yang jadi agak tembem.

Tampang keluarganya pun seperti itu. Mirip. Tapi, bukan cuma karena darah. Tapi karena dipermak. Nah, mari kembali ke perempuan yang saya lihat di Busway tadi sore. Tampangnya seperti itu juga. Mirip Haji Jeje. Saya langsung berpikir kalau dia adalah pasiennya.

Tapi, entah kenapa saya malah kasihan sama dia. Tidak. Pakaian dia bagus, tidak mencerminkan orang yang patut dikasihani. Tapi, kasihan karena tampangnya jadi mirip Haji Jeje. Dan gawatnya lagi, mirip Wadam alias waria.

Ternyata bukan cuma korban bencana alam yang patut dikasihani. Tapi, ‘korban’ Haji Jeje juga ya. Hahaha. Padahal, tampang aslinya saya yakin tidak semenggelikan itu. Heran ya. Kenapa sih dengan mereka yang tidak percaya diri, tidak puas dengan penampilannya.

Kalau mau memperbaiki penampilan sih, pilih pakaian atau make up yang bagus kek. Hanya jangan pergi ke orang seperti Haji Jeje. Heran juga ya, kenapa masih banyak orang mau dipijat mukanya. Mereka sadar tidak ya, kalau tampangnya malah jadi mirip Haji Jeje.

Kasihan sekali. Tapi sudahlah. Selera memang susah diperbincangkan. Pesan saya, kalau kamu ingin mengubah tampang, jangan pergi ke Haji Jeje. Hahaha.

Salam,

Rock n’ Roll Tidak Ada di Sini

Aku ingin rock n’ roll.
Ada yang tau di mana bisa kutemukan?
Aku ingin rock n’ roll.
Sudah lama rock n’ roll kurindukan.

Semua orang merasakan rock n’ roll.
Semua orang bicara rock n’ roll.
Katanya rock n’ roll mudah ditemukan.
Tapi, aku tidak lihat rock n’ roll.

Rock n’ roll. Di mana kamu?
Rock n’ roll. Apa kabarmu?
Rock n’ roll. Aku di sini!
Rock n’ roll. Ayo ke sini!

Tapi, rock n’ roll tidak ada di sini.
Karena rock n’ roll telah pergi.
Meninggalkanku sendiri.
Membiarkanku dalam sepi.

Oh, rock n’ rollku pergi.
Bersama sang pencuri.
Sialan kau rock n’ roll!
Kukira kau akan di sini.

Aku ingin rock n’ roll.
Agar aku bisa berdansa kembali.
Aku ingin rock n’ roll.
Agar aku jadi laki-laki lagi.

Hujan, Cuek dan Cinta

Semua kalah sama cuek.
Cuek kalah sama hujan.
Tapi, hujan kalah sama cinta.
Berarti, semua kalah sama cinta.

Hidup cinta!
Hebat lah cinta.
Tapi, di mana itu cinta?
Ada yang jual?

Kasih tau saya ya.
Tapi, jangan yang terlalu mahal.
Sebab kebutuhan saya masih banyak.
Sebab yang mahal, biaya perawatannya juga pasti lebih tinggi.