Peaches di IndoChine

Rudolf Dethu bilang, Peaches itu “Electroclashed Wendy O Williams.” Dia ada benarnya. Penyanyi bernama asli Merrill Nisker itu di panggung memang ugal-ugalan dengan pakaian yang minim. Pakaiannya, ala gymnastic [yang membiarkan pahanya terekspos dan hanya ditutupi oleh fishnet], tipikal yang akan membuat seorang perempuan terlihat seksi–biasanya kan begitu, Beyonce memakai pakaian model begitu terlihat seksi. Lady Gaga juga. Rihanna juga. Tapi, tidak dengan Peaches.

Saya kira, saya akan mendapat sensasi yang mirip seperti sensasi melihat Beyonce, atau Lady Gaga atau Rihanna. Tapi Peaches malah sedikit agak menyeramkan. Seperti mbak2 bule yang galak dan kental dengan nuansa maskulin. Rambutnya mullet, ketika dia bernyanyi selalu menyeringai. Sepertinya Peaches tipikal perempuan yang kalau dicolek mamang-mamang di pinggir jalan, akan menghardik balik mamang-mamang itu.

Jumat, 16 April 2010, atau lebih tepatnya, Sabtu 17 April 2010 pukul satu pagi, saya melihat langsung Peaches dari dekat. Kira-kira lagu kedua saya baru datang ke IndoChine [mendengar IndoChine jadi ingat bahasa gaul Cyiiin, mungkin club itu cocok buat mereka yang update pergaulan dan dibacanya Indo Cyyiiiiiin], FX Entertainment Xenter, Jakarta. Para penonton yang rata-rata perempuan sedang berteriak-teriak mengikuti nyanyian Peaches yang memakai baju bergambar tangan besar dan jari tengahnya menunjuk ke arah vagina.”Gawat sekali ini perempuan,” pikir saya.

Dan begitu melihat ekspresi wajahnya yang galak serta bulu ketiaknya yang sedikit dibiarkan tak tercukur rapi walau belum selevel Eva Arnaz di ’80-an, harapan akan melihat perempuan seksi seperti Beyonce atau Lady Gaga atau Rihanna buyar sudah. Ini mah punk rock galak.

Tapi, penonton konser itu justru terlihat sangat menarik. Banyak perempuan asing berwajah cantik dengan postur tubuh ideal. Wajah-wajah yang belum pernah saya lihat di konser musik seperti biasanya, walaupun memang ada beberapa wajah yang familiar, tapi selebihnya, ini crowd yang berbeda. Mungkin crowd segmen club mainstream, club yang katanya birnya lebih mahal dari bir The Rock Cafe yang 45 ribu itu, karena bir IndoChine seingat saya 70 ribu. Meskipun saya bukan peminum bir, saya berempati terhadap mereka yang ingin beli bir tapi mendapati bahwa harganya mahal.

Peaches bermain selama kira-kira satu jam lebih. Sepanjang itu pula, para perempuan yang ada di depan, bernyanyi gila-gilaan. Malam itu adalah perayaan Girl Power dan Peaches sebagai Ratunya.

Ini ada video ketika dia membawakan lagu yang tempo lambat, karena kalau saya merekam video di tempo cepat, para penonton akan gila-gilaan dan mengkhawatirkan kamera Nokia X6 Comes With Music saya yang baru dan saya gunakan untuk merekam video ini, takut terjatuh tersenggol mereka yang histeris malam itu. 😀

Silakan lihat versi lain tulisan saya untuk Rolling Stone Online:

http://www.rollingstone.co.id/read/2010/04/17/682/5/1/Peaches-Tampil-di-Jakarta-dan-Menunjukkan-Bebas-Aktif-Versi-Dirinya

The Misfits di Jakarta direkam oleh X6

Sabtu, 10 April 2010, Dome Pantai Carnaval Ancol, Jakarta. Suasananya seperti pemandangan di konser–kalau boleh mengambil satu tempat–GOR Saparua. Ribuan orang, yang dominan laki-laki, sebagian besar memakai kaos hitam, tak sedikit yang memakai jaket kulit dan rambut mohawk [seorang kawan wajahnya beberapa kali seperti dikuas oleh si pemilik rambut mowahk yang menengok ke kiri dan ke kanan di dekatnya].

Sejak pukul tujuh malam, di panggung kecil dekat pintu masuk Dome, dua band punk rock memainkan musik punk rock [beberapa lagu di antaranya bahkan lagu Misfits, padahal yang asli akan tampil].

Baru pukul delapan lebih beberapa menit, penonton dipersilakan masuk ke Dome dan dibiarkan antrian panjang terlihat selama beberapa menit. Dari wajahnya, rata-rata berusia tiga puluhan. Hanya sedikit yang berusia di bawah dua puluhan. Tapi, lumayan terlihat banyak penampakan wajah-wajah perempuan manis di antara wajah-wajah para lelaki itu.

The Misfits mulai tampil kira-kira pukul sembilan malam. Sehari sebelumnya, bassis/vokalis Jerry Only dan drummer Eric Goat berkunjung ke Release Party Rolling Stone atas ajakan Wenz Rawk yang bangga sekali karena menjadi LO resmi The Misfits selama konser di Jakarta. Tadinya, di Release Party itu, pada Jerry Only, akan ditunjukkan Seringai yang membawakan lagu mereka “Hollywood Babylon.” Tapi karena telat datang dan tetangga keburu mengeluh, niatan itu tak terwujud. Walaupun akhirnya Arian 13 sempat melakukan wawancara dadakan dengan Jerry Only [tunggu rekamannya di www.rollingstone.co.id]

Jerry Only sering kali memulai lagu dengan 1 – 2 -3 ! mengingatkan saya pada gaya Dee Dee Ramone setiap kali memainkan lagu The Ramones–yang jadi salah satu influence mereka dan bahkan Marky Ramone sempat menjadi drummer The Misfits [ah, coba Marky Ramone masih menjadi drummernya, tentu saya akan sangat senang. :D].

Dome tak terisi penuh, hanya kira-kira tiga perempat di area festival dan sedikit di area tribun. Tak ada teriakan memanggil nama band sebelum tampil seperti layaknya perilaku penonton ABG. Tak ada pula teriakan ‘we want more’ ketika sesi [dua kali] pura-pura pamit diperagakan The Misftis.

Tak ada gerakan yang terlalu atraktif di panggung. Gitaris Dez Cadena hanya beberapa kali bergerak ke arah Eric, selebihnya dia hanya diam mematung dan bernyanyi. Jerry juga tak banyak bicara. Tak sedikit, lagu-lagu mereka mainkan tanpa jeda yang cukup lama.

Tata suara malam itu tak terlalu enak didengar. Entah karena akustik ruangan yang tak oke. Entah karena sound engineer. Entah karena memang tata suara yang disediakan Solucites kurang maksimal.

Tapi, buat mereka yang asik moshing dan berdansa di depan panggung, sepertinya itu tak masalah. Setidaknya, mereka bisa pulang dengan keringat di badan karena dihajar oleh musik The Misfits yang harus diakui daya tariknya memang ada pada Glenn Danzig.

Yah, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Sisa-sisa mungkin masih lebih baik daripada tak bisa menikmati sama sekali.

nb: video ini saya rekam menggunakan kamera Nokia X6 Comes With Music dari jarak lebih dari dua ratus meter, jadi maafkan kalau tak terlalu jelas. Mudah-mudahan ini bisa memberi gambaran tentang suasana konser.

Sentuh. Mainkan. Dapatkan Hiburan.

Ini cerita tentang saya yang dapat rejeki karena menulis blog.   
Seumur-umur, saya belum pernah mendapatkan materi karena menulis blog. Semuanya masih berupa kepuasan psikologis. Hingga akhirnya suatu sore pada 8 Maret 2010, saya mendapat email dari agensi iklan yang menawarkan untuk berpartisipasi dalam mengenalkan produk terbaru Nokia X6 edisi ‘Comes with Music’. Saya tak langsung mengiyakan tawarannya, maklum, kalau ternyata produknya biasa saja nanti malah mengotori Multiply saya. 😀  
Singkat kata, saya mengiyakan penawaran kerjasama itu. Dan sebagai kompensasinya, saya diminta menulis pengalaman saya memakai Nokia X6 canggih yang belum ada di pasaran itu ketika saya dan beberapa Bloggers diberi kesempatan merasakan Nokia X6 sebelum orang lain memakainya [pedagang aksesoris HP di ITC Fatmawati keheranan ketika saya mencari screen protector dan bingung dengan Nokia yang saya bawa. Haha.] 
Makanya, saya peringatkan kepada Anda bahwa tulisan di bawah ini sedikit berbau advertorial. Tapi semua pujian yang saya berikan bersifat jujur karena saya adalah orang yang kalau menghina tak pernah bersungguh-sungguh dari dalam hati, tapi ketika memuji saya tak pernah asal lip service.   
Bagusnya Nokia X6 yang diberi oleh pihak agensi yang mengurus promosi ini ternyata berwarna hitam. Alhamdulillah Gusti Alloh Maha Adil, karena hitam adalah warna kesukaan saya, jadi saya merasa dua kali merasakan kesenangannya. Sisi saya yang cheap bastard dan saya yang penyuka warna hitam terpuaskan semuanya! Ukurannya pun tak terlalu besar. Pas di genggam. Masih enak ditaruh di kantong celana jins yang agak ketat. Atau, masuk saku jaket. Ukurannya tak terlalu merepotkan.   
Yang paling membuat saya agak harus beradaptasi mungkin layar sentuhnya. Meskipun semua telepon genggam harus disentuh supaya bisa beroperasi, layar sentuh adalah benar-benar baru buat saya karena serasa jaman sudah canggih seperti di film-film fiksi ilmiah di mana layar bisa disentuh! Ah, layar sentuh pertamaku awalnya cukup mendebarkan. Takut sentuhan saya terlalu keras sehingga membuat layar jebol. Atau, takut jari berminyak sehingga mengotori layar sentuh yang baru itu. Tapi sekarang saya sudah terbiasa, sudah bisa mengeluarkan tenaga yang pas untuk menyentuh layar itu dengan jari saya, dan karena sudah diberi screen protector jari-jari saya yang berminyak pun no problemo.   
Lalu ada Wii Fii. Baru kali ini saya punya telepon genggam dengan fasilitas Wii Fii. Sekarang, kalau datang ke satu tempat ada tulisan fasilitas Wii Fii gratis, saya bisa merasa bahwa pesan itu untuk saya juga! Tak perlu lah itu bawa-bawa laptop untuk mencari internet gratisan di cafe, karena sekarang sudah ada telepon genggam yang pintar. Haha. Maafkan kalau saya seperti yang sombong, ini semata-mata euforia karena punya telepon yang pintar [entah lebih pintar mana dengan BJ Habibie, tapi buat saya sudah sangat pintar telepon ini].  
Kameranya: 5 Megapixel! Plus, ada flash light nya. Nokia saya yang terdahulu, Express With Music yang masih kecil itu, tak ada flash nya, sehingga kalau memotret di tempat gelap maka obyeknya pun ikut gelap. Tapi dengan ini tak ada masalah, karena ada flash light yang siap menerangi kegelapan hingga menghasilkan gambar seukuran sampai 5 M. Saya bahkan memakai gambar hasil jepretan Nokia X6 untuk liputan saya di website Rolling Stone.   
Tapi, tentu saja yang paling ultimate adalah layanan Comes With Music. Layanan ini menawarkan TIGA JUTA LAGU untuk diunduh lewat Music Ovi ke PC atau ke HP. Awalnya, jujur saja, saya tak terlalu berharap banyak pada layanan ini, karena saya pikir, ah pasti lagunya juga tak seberapa oke. Tapi, setelah beberapa kali mengunduh lagu dan mendapat album-album yang oke, saya merasa bahwa Nokia tak main-main ketika mengatakan mereka menyediakan TIGA JUTA LAGU gratis dan legal! [alamat situs bursa Music Ovi di mana kita bisa mendengar preview lagu: http://www.music.ovi.com/id]  
Dan awalnya, saya pikir hanya bisa mengunduh lewat HP—seperti sebuah layanan dari operator telepon—ternyata dengan Comes With Music, si pembeli Nokia X6 bisa mengunduh lagu lewat PC. Ini berarti, menghemat biaya internet dan lebih memudahkan dalam mengunduh. Maklum, tak semua operator telepon punya koneksi yang cepat. Dan mengunduh lewat HP pasti akan memakan enerji sehingga membuat batere HP lebih cepat habis. 
TIGA JUTA LAGU ini tersedia buat si pembeli Nokia X6 selama satu tahun! Gila, secara ekonomis, menguntungkan sekali. Katakanlah, membeli HP tak lebih dari lima juta perak, tapi punya kebebasan mengunduh lagu selama setahun dari koleksi TIGA JUTA LAGU yang tersedia, sudah jelas menguntungkan.   Memang, tak semua artis yang ditawarkan di sini, tersedia diskografi lengkapnya. Tapi, koleksinya tak main-main. Pugar Restu Julian alias Ugaring alias Ugalau alias Uga, mengatakan telah mengunduh semua musik alternatif 90-an. 
Saya, baru seminggu ini, sudah mengunduh lagu-lagu dari Johnny Thunders, Agnostic Front, Iggy Pop, Mink Deville, The B 52’s, Blondie, The Cramps, Destroy All Monsters, Bob Marley, Henry Rollins, hingga wawancara Keith Richards! [kalau bingung mau mengunduh apa, ada review tentang album atau artis yang sedang tren atau video musik dan konser live streaming eksklusif http://nowplaying.nokia.com/id/]  
Memang, orang boleh bilang bahwa soal fitur banyak juga yang menawarkan fitur serupa di telepon genggam pintar mereka, tapi saya yakin tak ada yang menawarkan TIGA JUTA LAGU untuk dimiliki si pembeli Nokia X6 [lagu-lagunya hanya bisa dicopy ke PC yang terdaftar, atau ke Nokia X6 yang bersangkutan di mana di setiap box-nya, sudah tersedia nomor PIN untuk daftar ke layanan Comes with Music]. Kalau penasaran mah, silakan klik saja www.nokia.co.id/play.
Dan ternyata, bukan saya dan beberapa orang Bloggers yang lucky bastard dan mendapat kehormatan merasakan Nokia X6 Comes with Music yang baru, karena Nokia akan membagi-bagikan Nokia X6 untuk 6 orang beruntung di konser yang bakal digelar Sabtu besok, 27 Maret 2010 di Plaza Barat Senayan, dari pukul lima sore sampai pukul sebelas malam. 
Di konser Nokia Hypersix Party Lucky Draw nanti bakal diundi 6 orang yang beruntung dan sudah mendaftar di http://origin.nowplaying.nokia.com/id/  Ah sudahlah, nanti saya bagi lagi pengalaman, atau bukti langsung seperti apa fasilitas Nokia X6. Mungkin, akan saya posting wawancara video hasil rekaman dengan menggunakan fitur Video dari Nokia X6.      
Ini sedikit contoh dari hasil memotret di dalam ruangan yang gelap. Silakan tebak, yang mana pacar saya. :p

sudah lama tak menulis di sini. entah karena twitter, entah karena pekerjaan yang menumpuk, entah karena merasa multiply sudah tak seramai dulu. maklum, ibarat tempat nongkrong, orang-orang sudah tak berkomunikasi seasik dulu. sialan ah twitter. tapi jangan lupa, follow saya @solehsolihun. :D

Sebuah Prank Call dari Saya untuk Leonardo Ringo

“Selamat pagi Mas Garin, aku Leo dari Hard Rock FM. Aku berniat mau interview Mas Garin by phone aja pagi ini mengenai kontroversi FFI. Apakah bersedia ya mas? Terima kasih.”

Sebuah pesan pendek masuk ke telepon saya, pukul 09.30 Rabu [16/12] tadi. Jelas, ini salah sambung. Si pengirim pesan, Leo aka Leonardo Ringo aka Leo Zeke and The Popo, mengira itu nomer Garin Nugroho, sutradara kondang. 
Saya jawab pesan pendek itu, dengan pesan:
“Anda dapat nomor saya dari mana? Saya sedang sibuk.”
Beberapa menit kemudian, Leo menjawab:
“Aku pernah dapat dari Mbak Imel. Baiklah, terima kasih.”
Imel, adalah publisis yang sering bekerja dengan production house Garin Nugroho. Lalu, pesan itu saya jawab lagi dengan tulisan:
“Saya bersedia diwawancarai, asal masuk program Good Morning Hard Rockers, yang penyiarnya Panji dan Steni itu loh.”
Panji dan Steni sudah tak membawakan acara Good Morning Hard Rockers. Leo tak merespon pesan saya. Lantas, tak berapa lama, saya dapat kabar kalau Leo menulis di twitternya seperti ini:
“He’s an arrogant film director who answer my message by saying, ‘Anda dapat nomor saya dari mana? Saya sedang sibuk.’ Go to hell prick!”
Twitter Leo diblok. Tak sembarang orang bisa baca, makanya saya kirimkan pesan untuk Leo: 
“Siapa sutradara film yang arogan yang Anda tulis di twitter?”
Jeng jeng. Tak berapa lama, Leo membalas pesan pendek saya:
“Maaf Mas, saya akan telepon ke Mas sebentar lagi untuk klarifikasi. Sepertinya tadi salah paham saja dari saya. Terima kasih dan mohon maaf kalau menyinggung.”
Saya jawab, “Oke, saya tunggu.”
Setengah jam kemudian Leo menelepon saya. Saya pasang di speaker phone. Wendi Putranto dan Ludmila Gaffar, rekan kerja saya menutup mulutnya karena ingin menahan tawa. Percakapannya tak bisa saya ingat dengan pasti. Kurang lebihnya seperti ini:
“Selamat siang Mas Garin, saya Leo Mas,”
“Leo mana ya?”
“Leo Hard Rock FM yang tadi menghubungi Mas,”
Nada bicaranya gugup.
“Ya, ada apa Nak Leo?” tanya saya.
“Begini Mas, saya mau minta maaf soal yang tadi Mas. Soalnya, SMS dari Mas kan tidak masuk di satu pesan yang sama. Itu kan di dua pesan yang berbeda, jadi saya nulis itu sebelum saya dapet jawaban dari Mas Garin soal bisa diwawancara,”
“Saya kan bilang bisa diwawancarai, tapi kamu malah bilang saya arogan dan prick.”
“Iya maaf Mas, tadi karena saya lagi stress karena pekerjaannya memang ada tekanan,”
“Itu urusan kamu, bukan urusan saya!”
Leo masih gugup, tapi di tengah kegugupannya dia masih mampu berpikir jernih sepertinya.
“Ini bener Mas Garin? Kok suaranya berbeda ya?”
“Namanya juga ditelepon!” kata saya dengan nada meninggi.
“Soalnya, saya pernah ngobrol dengan Mas Garin sebelum saya kerja di Hard Rock,”
“Yang ngobrol dengan saya itu, banyak. Bukan cuma kamu. Saya nggak bisa nginget satu-satu siapa saja yang ngobrol dengan saya!”
Dan Leo pun tak berani melanjutkan kecurigaannya.
“Iya Mas, saya mau minta maaf. Yang tadi itu, saya tidak melakukan atas nama Hard Rock FM Mas, tapi atas nama pribadi.”
“Kamu itu mencoreng nama baik Hard Rock FM dan Zeke and The Popo!”
Begitu disebut nama Zeke and The Popo, barulah Leo tersadar bahwa dia sedang dikerjai.
“Eh, siapa sih ini? Siapa yaa?”
Saya, Wendi dan Mila terbahak. 
“Tanya pacarlu, ini nomer siapa!”
Telepon pun saya tutup.Tak berapa lama, Leo mengirim saya pesan pendek:
“Babiii!!! Hahahaha.” 

Soundrenaline 2009

Ini hasil perjalanan saya bersama Seringai di Soundrenaline 2009, Minggu 15 November 2009 kemarin di Garuda Wisnu Kencana, Bali.

Ada kabar yang mengatakan bahwa Soundrenaline akan berakhir. Memang, event itu sudah stagnan, seperti tak bisa berkembang lagi. Rasanya sudah terbayang. Jika diibaratkan makanan, sejak 2002 ketika Soundrenaline digelar pertama kali, rasanya tak jauh berbeda. Para pengisi acarnya itu-itu saja. Ini berarti dua hal: memang di Indonesia band yang menjual itu-itu saja. Atau, band-band lain tak diberi kesempatan untuk menjadi headliner. Tapi, meskipun kegiatannya sudah terbayang, saya termasuk yang menyayangkan jika event ini berakhir.

Harus diakui, sampai saat ini, belum ada event besar yang skalanya bisa menyamai Soundrenaline. Java Rockin’land memang seperti bisa menggeser popularitas Soundrenaline, dan jadi jawaban atas pertanyaan banyak orang yang menginginkan event dengan nama Soundrenaline menghadirkan band-band yang benar-benar memacu adrenaline, bukannya band pop mendayu-dayu dan headliner yang itu-itu saja. Tapi, Java Rockin’land belum teruji. Dia baru berhasil di satu kota. Sedangkan Soundrenaline, sudah teruji di banyak kota. Salah satu yang harus diperhatikan jika memang ada lagi event Soundrenaline tahun depan, adalah memberi kesempatan kepada band-band lain di luar band yang sudah sering tampil di tv untuk menjadi headliner.

Soundrenaline 2009 di Bali kemarin, sedikit sudah memfasilitasi itu. Seringai, Burgerkill, The S.I.G.I.T., The Upstairs, Superman Is Dead, di antara nama-nama yang merasakan panggung besar. Setidaknya, ada sedikit peningkatan penghargaan dari event organizer kepada band-band yang tak mendapat sorotan. Walaupun di panggung utama, namanya masih berputar di itu-itu saja: Slank, GIGI, Nidji, d’Massiv di antaranya.

Ah, saya mendadak malas menulis. Sudah saja lah. Lihat saja foto-foto ini. Atau, klik saja berita ini. Saya menulis sedikit beritanya di rollingstone.co.id.

http://www.rollingstone.co.id/read/2009/11/17/342/5/1/Dua-Puluh-Ribu-Orang-Datang-ke-Soundrenaline-2009

Atau, lihat juga foto lainnya di sini:

http://www.rollingstone.co.id/foto/167/Soundrenaline-2009

Pameran Foto Pertama Saya! :D

Pameran kecil yang menampilkan artwork & fotografi Seringai oleh Arian13 & Soleh Solihun. 
Pembukaan 11 September 2009, jam 7 malam [tempat cukup kecil ;)], sementara pamerannya sendiri berlangsung dari tanggal 11 September 2009 sampai 11 Oktober 2009.
Artwork Arian13 menampilkan karya-karya yang digunakan untuk merchandise dan cover album dari awal hingga kini yang menjadi trademark band Seringai, juga unpublished atrworks.
Soleh Solihun menampilkan beberapa karya fotografi live selama menjadi fotografer official Seringai.
Bring cash, karena ada limited merchandise dari Seringai!
HOWLING WOLF
Jl.Cipete Raya 65
Cipete Selatan
Jakarta 

Oh Rileks.com, Kenapa Kau Menjiplak Tulisanku?

Agak telat memang saya mengetahuinya. Ini berita tentang launching duta Converse beberapa waktu lalu. Si penulis memang memotong beberapa paragraf dan mengubah judul serta lead, tapi selebihnya, sama. Saya sih tak keberatan tulisan saya dikutip, toh itu juga memberi efek positif terhadap pemberitaan si Converse dan tiga band yang jadi duta mereka, tapi ketika si penulis menulis persis beritanya dan mengatakan bahwa itu tulisan dia, rasanya seperti dicuri.

Padahal, kutip saja, tapi sebut sumbernya. Kalau si penulis menganggap bahwa yang saya tulis sudah ada di konferensi pers atau press release, itu salah, karena kutipan narasumber dari berita saya, hasil perbincangan saya dengan si orang Converse dan Elang Eby dari Polyester Embassy, tak ada di siaran persnya. Jadi, harusnya si jurnalis Rileks.com menulis sumbernya.

Yah kalau jurnalis Rileks.com membaca tulisan ini, saya cuma ingin memberi saran, lain kali, tolonglah tulis sumbernya. Saya pun pernah membuat tulisan berdasarkan tulisan orang lain, tapi saya masih menuliskan dari mana sumbernya. Atau, kalaupun mau menulis berita tapi malas mencari data, ubahlah sedikit kalimatnya, supaya tak terlihat sama.

Silakan Anda bandingkan dua tulisan di bawah ini.


Ini tulisan saya:

http://rollingstone.co.id/?m=rs&s=news&a=view&id=249 [dipublish tanggal 15 Agustus 2009]

Tiga Band dari Indonesia Terpilih Jadi Duta Converse

Teenage Death Star, Rock N Roll Mafia [RNRM], dan Polyester Embassy akan diikutsertakan dalam kompilasi band se-Asia Pasifik versi Converse.

Di musim gugur 2009 ini, Converse Asia Pasifik meluncurkan kampanye bertema musik dan lirik. Mereka mencari band-band indie di 11 negara yang cocok untuk mewakili karakter Converse. Seorang Music Director di Cina ditunjuk untuk menyeleksi ribuan CD album yang masuk dari seluruh Asia Pasifik. Dari Indonesia, ada kira-kira 200 album yang masuk ke pihak Converse Indonesia, yang kemudian dikirimkan ke Cina untuk dipelajari. Mereka mengirimkan album, profil, serta lirik lagu-lagu mereka.

“Tadinya, Indonesia cuma dapet jatah satu band. Sayang sekali kan, soalnya banyak band yang bagus di Indonesia. Akhirnya, Indonesia bisa mengirimkan tiga band,” kata Mia Farahziska, Manager Advertising & Promotion, PT Mitra Adiperkasa TBK [perusahaan yang memegang lisensi Converse di Indonesia], dalam konferensi pers yang digelar Jumat, 14 Agustus 2009 di Rolling Stone Live Venue, Jalan Ampera Raya No 16, Jakarta Selatan.

Di sesi konferensi pers itu, Converse mengumumkan secara resmi tiga nama yang jadi duta mereka untuk mewakili Indonesia. Kebetulan, tiga-tiganya ada di satu label [FFWD Records dari Bandung]. Mia sempat kaget begitu mengetahui bahwa hasil pilihan Music Director dari Cina jatuh kepada tiga band dari satu label dan satu lingkaran pertemanan. Salah seorang dari musisi yang jadi duta, Ekky Darmawan, malah ada di dua band sekaligus [dia menjadi vokalis di RNRM, dan gitaris di Polyester Embassy].

“Sejauh ini, kerjasamanya menyenangkan. Mereka juga nggak mengharuskan kami pake produk Converse dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Awalnya sih begitu, tapi setelah diyakinkan sama Mia bahwa budaya clothing lokal kuat banget di Indonesia, akhirnya kami diijinin buat cuma wajib make sepatu aja kalo manggung. Sekarang, di Bandung, anak-anak pada pake Converse. Soalnya, kami ajak kru juga buat ngambil jatah sepatu kami,” kata Elang Eka Permana, vokalis/gitaris Polyester Embassy, sambil tertawa. “Enaknya si Converse, dia ngebebasin kami, apakah sepatu itu mau dipake sama kami atau sama temen-temen kami.”

Rencananya, pihak Converse akan merilis album kompilasi yang terdiri dari 27 band indie dari 11 negara. Converse memilih kampanya musik dan lirik ini bukan tanpa alasan kuat. Sejak tahun `70-an, imej sepatu itu sudah dekat dengan musik. Musisi seperti The Ramones hingga Kurt Cobain selalu terlihat memakai sepatu Converse.

“Kampanye musik dan lirik, merayakan salah satu penemuan inovatif masa kini dari pergerakan musik independen dari Korea hingga Australia. Converse member penghargaaan kepada mereka yang orisinal, seniman, musisi dan para penggemar masa kini, menghidupkan gairah akan merek ini dan kecintaan mereka pada musik. Kami terinspirasi oleh suara yang atang dari skena musik underground. Kampanye ini bentuk penghargaan kami kepada para penggemar juga senimannya,” kata Geoff Cotrill, Chief Marketing Officer of Converse, seperti dikutip siaran persnya.

Selain sesi tanya jawab, di konferensi pers itu, tiga duta Converse tampil membawakan dua lagu, kecuali Teenage Death Star yang memainkan tiga lagu ketika tampil sebagai penutup. “Kalau Anda mau melihat evil, tontonlah Teenage Death Star,” kata Mia sambil tertawa. 


Bandingkan dengan tulisan dari Rileks.com [bahkan tanda kurung buka kurung tutupnya pun tak diganti]:

http://www.rileks.com/community/artikelmu/ceremonia/26745-3-band-indie-indonesia-masuk-kompilasi-converse.html [dipublish tanggal 18 Agustus 2009]

3 Band Indie Indonesia Masuk Kompilasi Converse

Dalam rangkaian Converse Celebrates Asia’s Underground Indie Music Scene As Brand Launches Music + Lyrics Campaign For All 2009, Teenage Death Star, Rock N Roll Mafia [RNRM], dan Polyester Embassy akan diikutsertakan dalam kompilasi band se-Asia Pasifik versi Converse.

Di musim gugur 2009 ini, Converse Asia Pasifik meluncurkan kampanye bertema musik dan lirik.

Mereka mencari band-band indie di 11 negara yang cocok untuk mewakili karakter Converse. Dari Indonesia, ada kira-kira 200 album yang masuk ke pihak Converse Indonesia, yang kemudian dikirimkan ke Cina untuk dipelajari. Mereka mengirimkan album, profil, serta lirik lagu-lagu mereka.
 
Rencananya, pihak Converse akan merilis album kompilasi yang terdiri dari 27 band indie dari 11 negara. Converse memilih kampanya musik dan lirik ini bukan tanpa alasan kuat. Sejak tahun `70-an, imej sepatu itu sudah dekat dengan musik. Musisi seperti The Ramones hingga Kurt Cobain selalu terlihat memakai sepatu Converse.

“Tadinya, Indonesia cuma dapet jatah satu band. Sayang sekali kan, soalnya banyak band yang bagus di Indonesia. Akhirnya, Indonesia bisa mengirimkan tiga band,” kata Mia Farahziska, Manager Advertising & Promotion, PT Mitra Adiperkasa TBK [perusahaan yang memegang lisensi Converse di Indonesia], dalam konferensi pers yang digelar Jumat, 14 Agustus 2009 di Rolling Stone Live Venue, Jalan Ampera Raya No 16, Jakarta Selatan.

Di sesi konferensi pers itu, Converse mengumumkan secara resmi tiga nama yang jadi duta mereka untuk mewakili Indonesia. Kebetulan, tiga-tiganya ada di satu label [FFWD Records dari Bandung]. Mia sempat kaget begitu mengetahui bahwa hasil pilihan Music Director dari Cina jatuh kepada tiga band dari satu label dan satu lingkaran pertemanan. Salah seorang dari musisi yang jadi duta, Ekky Darmawan, malah ada di dua band sekaligus [dia menjadi vokalis di RNRM, dan gitaris di Polyester Embassy].
 
“Sejauh ini, kerjasamanya menyenangkan. Mereka juga nggak mengharuskan kami pake produk Converse dari ujung kepala sampai ke ujung kaki. Awalnya sih begitu, tapi setelah diyakinkan sama Mia bahwa budaya clothing lokal kuat banget di Indonesia, akhirnya kami diijinin buat cuma wajib make sepatu aja kalo manggung. Sekarang, di Bandung, anak-anak pada pake Converse. Soalnya, kami ajak kru juga buat ngambil jatah sepatu kami,” kata Elang Eka Permana, vokalis/gitaris Polyester Embassy, sambil tertawa. “Enaknya si Converse, dia ngebebasin kami, apakah sepatu itu mau dipake sama kami atau sama temen-temen kami.”

Selain sesi tanya jawab, di konferensi pers itu, tiga duta Converse tampil membawakan dua lagu, kecuali Teenage Death Star yang memainkan tiga lagu ketika tampil sebagai penutup. (*/Ezz/foto:Ezz)