Lima Album Guilty Pleasure Soleh Solihun

Boleh saja saya mengaku pecinta rock n’ roll music.

Tapi, ada beberapa album di luar rock n’ roll yang sempat dan masih saya sukai. Album-album yang kadang saya sendiri malu mengakuinya. Tapi, berhubung saya sudah dewasa (hahaha. berlebihan) maka saya sudah cukup berani untuk mengakuinya kali ini. Ada lima album yang paling guilty pleasure:

Judul-Judulan, Pengantar Minum Racun.
Tahun ’80-an, bapak saya masih rajin membeli kaset. Seingat saya, kaset yang dibelinya, kalau lokal sih di antaranya Koes Plus dan Gito Rollies. Saya lupa apalagi tepatnya. Karena ketika umur saya balita, atau umur TK, saya dan adik saya suka menarik pita dari kaset-kaset itu, lalu menariknya. Biasanya, pita satu album itu jika ditarik, jarak panjangnya bisa dari ruang tengah hingga dapur. Saya selalu menarik-narik pita itu. Hingga tak ada lagi kaset tersisa, dan mungkin itu yang membuat bapak saya malas lagi membeli kaset. Tapi, di antara kaset-kaset yang bapak saya beli, ada satu yang paling membekas; album perdana dari Pengantar Minum Racun. Vokalisnya, Johnny Iskandar. Orang dengan vokal melengking, rambut panjang keriting, dan kacamata tanpa kaca.

Buat kamu yang tak tahu lagu Judul-Judulan, itu adalah lagu dengan lirik “Neng ayo neng, ayo maen pacar-pacaran.” Ini adalah album parodi pertama yang saya dengarkan. Lagu Judul-Judulan sepertinya lagu orisinal mereka. Bukan plesetan lagu orang. Tapi, selebihnya, album ini berisi plesetan lagu orang lain. “Benci tapi Rindu” diplesetkan menjadi “Banjir Datang Lagi.” Ceritanya tentang suami istri yang kerepotan karena hujan turun lalu berhenti lalu hujan lagi, hingga akhirnya mereka kebanjiran. Sang suami lantas mengajak si istri menginap di hotel. Akhirnya mereka bisa tidur nyaman di hotel. Ketika sang istri bertanya soal bagaimana mereka harus membayar kamarnya, sang suami bilang mereka pulang ketika satpam sedang tidur. Eh, ternyata pas mereka pulang, rumahnya masih banjir. Cara penulis lirik bercerita benar-benar bagus. Biarpun itu hanya sebuah parodi, mereka mampu mencari cerita yang faktual, sekaligus disajikan dalam gaya kocak.

Atau, lagu “Pergi Tanpa Pesan” diplesetkan menjadi “Pergi Pulang Pingsan.” Liriknya, soal pemuda yang mabuk melulu. Membuat malu orang tua. Tak jelas masa depan. Akhirnya, disuruh belajar mengaji. Hidupnya jadi bersih.
    
    Kau pergi pulang pingsan
    Kau mabok tiada bosan
    Di mana kau beli
    Minuman brendy
    Nanti kau ditangkap ke polis
    
    Malu…lu..lu..lu…lu lu lu lu lu…
    
    Begadang tidak pulang
    Tidur di pelataran
    Kalaulah begini
    Hidup terasa mati
    Lebih baik kau mengaji
    
    Alif, ba, ta, tsa, jim…

Saya sering menyanyikan lagu itu. Yang paling saya ingat, dalam sebuah camping Pramuka—ya, saya pernah ikut Pramuka tingkat Siaga—saya menyanyikannya dalam sebuah lomba. Diiringi anggota regu saya yang membuat musik dari ember, dan alat-alat dapur lainnya. Saya senang sekali lagu itu. Saya dibuat kagum dengan punch line alif ba tsa jim itu. Dan lagi-lagi, story telling si penulis lirik bisa menghadirkan cerita di kepala.  

Satu lagi yang paling membekas adalah lagu soal zodiak, sepertinya lagu aslinya juga soal zodiak, saya tak tahu pasti. Yang jelas, lirik syalalalala diplesetkan menjadi syalawelawe. Gara-gara lagu itu, kadang saya suka masih percaya kalau orang yang bintang Virgo biar sekolah tapi masih bodo. Dan bintang Sagitarius, suka makan laler ijo.

    Syalawelawe
    Mana bintangmu
    Syalawelawe
    Ini bintangku
    Marilah kita tebak-tebakan
    Pribadimu pribadiku
    
    Boleh percaya
    Boleh pun tidak
    Kalau percaya
    Kita berdosa
    Kalaulah ada
    Kata yang salah
    Jangan simpan di hati

    Bintang Virgo
    Sekolah tapi masih bodo
    Bintang Gemini    
    Maunya menang sendiri
    Bintang Sagitarius
    Suka makan laler ijo
    Bintang Capricornus
    Kalau menggigit suka tetanus

Sepertinya gara-gara album ini, saya suka lirik-lirik yang humoris. Atau, sebenarnya saya sudah suka lirik humoris sejak kecil dan album ini hanyalah pemicunya? Entahlah. Yang jelas, kasetnya sudah tak ada. Tapi, saya masih bisa hapal beberapa lagu jika mendengar lagu ini diputar. Oya, album keduanya, saya tak suka, karena single yang dijadikan video klipnya, tak enak buat kuping saya. Kalau tak salah, lagu tentang nyengir kuda. Video klipnya, personel PMR dengan kuda bohongan yang dimainkan orang berjoget-joget di pinggir kolam renang kalau tak salah.

Jilid 2, Padhyangan Project.
Ini album setelah hits “Nasib Anak Kos.” Para personelnya, Denny Chandra, Daan Aria, Juhana alias Joe P Project, dan entah siapa lagi saya lupa. Ketertarikan saya pada lagu-lagu parodi dan lirik humor rupanya kembali dimunculkan. Dan seperti di kata pengantar di album, tujuan mereka membuat album parodi supaya orang Indonesia mudah menyanyikan lagu-lagu Barat yang enak buat telinga mereka.

Di album ini, mereka memarodikan “All For Love” yang dinyanyikan Rod Stewart, Bryan Adams dan aah siapa lagi itu satu lagi? Liriknya diganti menjadi “Cover Boy” atau “Menjadi Cover Boy”.

    Biar badan kurus tak terurus
    Maju terus
    Biar sakit cacingan
    Itu bukan halangan
    Menjadi cover boy!
    Cover boy!

Dan yang paling membekas adalah lirik “What’s Going On” dari 4 Non Blondes yang diplesetkan menjadi “Lampu Neon”. Jaman album ini keluar, di teve sering diputar iklan layanan masyarakat soal hemat energi, soal lebih baik memakai lampu neon ketimbang lampu bohlam. Juhana alias Joe menjadi vokalis di lagu ini. Masih ingat dengan adegan di mana seorang majikan menyuruh pembantunya mengganti lampu bohlam dengan lampu neon? Nah, lagu ini pada dasarnya menceritakan kembali adegan itu.

    Kirain lagi pada ngomongin apa
    Tahunya beda bohlam dengan neon
    Inah, padamkam lampu bohlamnya
    
    Kan asik hey hey hey
    Asiknya, lampu neon

Sepertinya, ada lagi lagu Lea Salonga yang duet dengan siapa itu penyanyi satu lagi. Mereka plesetkan menjadi “Bibiku Pergi.” Cerita ditinggal pembantu. Lagi-lagi sebuah lagu yang kontekstual dengan kehidupan sehari-hari. Story tellingnya benar-benar berhasil. Memlesetkan lagu bukanlah hal yang mudah. Apalagi memilih tema yang kocak dan keseharian.

Cintailah Cinta, Dewa.
Suatu kali, saya pernah ditolak seorang perempuan yang saya sukai. Kawan-kawan saya tahu soal ini. Salah seorang kawan, Cupi, menyarankan saya untuk membeli album ini. Padahal, dia sama seperti saya, seorang Stones Lover, pemuja Mick Jagger. Agak mengejutkan juga, saran itu datang dari saya. “Dengekeun geura, si Dhani bisaan nyieun lirik teh.” [Dengerin deh, si Dhani bisa aja bikin lirik teh].

Akhirnya, membelilah saya album itu. Dan sialan. Liriknya seperti menyuarakan isi hati saya yang sedang galau berat. Untuk sesaat, saya bisa mengerti kenapa orang bisa bilang suka lagu pop menye-menye dengan lirik patah hati. Seperti lagu “Pupus” di bawah ini:

    Baru kusadari
    Cintaku bertepuk sebelah tangan
    Kau buat remuk seluruh hatiku

    Semoga waktu akan mengilhami sisi hatimu yang beku,
    Semoga akan datang keajaiban, hingga akhirnya kaupun mau

    Aku mencintaimu
    Lebih dari yang kau tahu
    Meski kau tak kan pernah tahu

    Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
    Meski kau tak cinta kepadaku
    Beri sedikit waktu, biar cinta datang
    Karena telah terbiasa

Atau, lagu “Kosong”

    Kamu seperti hantu
    Terus menghantuiku
    Kemanapun tubuhku pergi
    Kau terus membayangi aku

    Salahku
    Bermain dengan hatiku
    Aku tak bisa memusnahkan
    Kau dari pikiranku ini

Atau, lirik lagu “Angin”

    Angin tolonglah aku sedang
    Jatuh cinta
    Tapi aku tak punya nyali untuk nyatakan
    Bahwasanya setiap hari kumerindukan dia        

Ah, sialan. Ini sih the ultimate guilty pleasure. Suka malu sendiri jika mengingat betapa galau bisa membuat seseorang tak bisa berpikir jernih. Sekarang sih, dengan kondisi psikologis yang jauh berbeda, saya tak punya kenikmatan psikologis lagi ketika mendengarkan lagu-lagu ini. Paling, mendengarkannya akan membuat saya tersenyum sendiri di dalam hati.

Let Go, Avril Lavigne.
Saya suka album ini karena saya suka Avril Lavigne. Apalagi waktu pertama kali dia muncul. Remaja putri dengan gaya tomboy, sepertinya anaknya asik begitu yang terlintas di kepala. Rambut lurus dan panjang selalu saya sukai dari perempuan. Avril punya itu. Punya sedikit sifat yang sepertinya bisa merefleksikan karakter cuek. Waktu lagu “Complicated” keluar, saya belum terlalu suka. Kurang cathcy di kepala. Tapi, begitu “Sk8r Boy” keluar—penulisan Sk8r seperti An3dis, ini sih racun sekali buat saya. Sangat catchy buat kuping saya. Entah karena semakin suka melihat Avril, lagunya jadi semakin catchy.

Greatest Hits, Robbie Williams.
Semua lagu di sini, saya suka. Sebelum mendapat album ini, saya memang diam-diam suka menikmati setiap klipnya diputar atau lagunya diputar di radio. Tapi, begitu mendapat album ini, saya semakin menyukai Robbie Williams. “She’s The One” salah satu favorit saya. Klipnya bercerita dengan baik. Cara Robbie menyanyikannya juga begitu baik sehingga dia bisa seperti merasakan kesedihan yang digambarkan klip itu. Lagu “Old Before I Die” juga seperti menyuarakan isi hati saya yang selalu takut mati, dan ingin bisa merasakan hidup sampai usia tua. Tolong diingat, saya tak suka Take That. Tapi, lagu-lagu Robbie Williams ternyata saya suka. Mungkin itu sebabnya saya kadang masih malu mengakui jika saya menikmati musik Robbie Williams.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *