Iggy Kapan Kau Akan Datang?

Suka iri melihat posting soal orang yang bahagia akan pergi ke konser Motley Crue.

Ada beberapa musisi luar negeri yang sangat ingin saya tonton langsung. Tapi, beberapa di antaranya sudah tak mungkin. The Ramones jelas. The Clash juga. MC5 apalagi. Makanya saya suka iri melihat orang-orang beramai-ramai membobol tabungan dan pergi ke Singapura buat menonton band pujaannya.

Waktu The Rolling Stones datang ke Singapura, saya belum bekerja. Boro-boro beli tiketnya. Beli albumnya aja harus mengumpulkan dulu uang. Sekarang, mereka keburu pensiun. Harapan itu sepertinya makin kecil saja. Padahal, begitu saya dapat kerja, saya berjanji, salah satu alasan menabung adalah demi konser The Stones, jika mereka mampir lagi ke Singapura. Eh sekarang mereka malah pensiun. Sialan. Waktu Mick Jagger ke Jakarta, saya masih bocah. Boro-boro sudah suka Kang Mick, ijin dari orangtua pun belum tentu dapat.

Sepertinya, yang paling sedikit agak mungkin, adalah berharap melihat The Stooges mampir ke Singapura nih [ke Indonesia mah sepertinya akan susah sekali, biarpun Setiawan Jody berteman dengan Iggy Pop, sepertinya The Stooges tak akan pernah bisa tampil di Indonesia]. Tahun kemarin mereka kan rilis album The Weirdness. Bermimpi melihat The Stooges sepertinya bukan sesuatu yang muluk.

Jadi, oh Iggy Pop, kapan kau akan datang?  

Soleh Solihun Vs Deddy Corbuzier

Saya mewawancarai Deddy lebih dari setahun lalu, waktu masih bekerja di majalah sebelum ini, dalam rangka penulisan feature soal sulap dan membuat naskah cadangan untuk rubrik 20Q. Feature itu akhirnya malah dimuat di majalah tempat saya bekerja sekarang, dan naskah cadangan untuk rubrik 20Q itu jadi terbengkalai. Jadi, daripada tak dimuat sama sekali, lebih baik saya publikasikan di sini.

20Q DEDDY CORBUZIER
Teks Soleh Solihun
Foto Bayu Adhitya

Best Asian mentalist bicara soal rasanya mencabuti rambut, pentingnya memertahankan karakter dan kenapa keluarganya mirip dengan The Adams Family.

Q1
Sejak memutuskan untuk berdandan begini, Anda telah berkomitmen ya?
Yang namanya karakter, berarti mulai pagi hari, elo harus punya karakter. Banyak orang nanya, elo jalan-jalan ke mall aja, make up. Gue balik lagi, Kris Dayanti ke mall kan seperti biasa. Pemikiran gue begini, kenapa di teve dia seperti itu, karena dia ingin terlihat seperti itu. Harusnya dia punya tanggungjawab yang sama. Itu yang gue lakukan. Elo ketemu gue di manapun, elo akan melihat gue yang ada di teve. Jadi, masyarakat tidak menganggap itu hanya make up, hanya topeng.

Q2
Butuh kerja keras kan?
Ya rambut kan dicabutin dua hari sekali. Makanya sambil dicabutin sambil ngomong, cari duit susah, cari duit susah. [tertawa]. Tidak semudah itu kita bisa sukses. Apalagi gue mulainya dari nol.

Q3
Momen terberat dalam karir Anda?
Ya saat Kalina hampir mati. Latihan memang, tapi dengan lingkungan yang terkontrol. Pada saat itu, kami tidak mengharap akan selama itu. Tapi, in other hand, kami mengalahkan Houdini, karena lebih lama. [tertawa]. Jeleknya, dia pingsan, sampai gagal nafas. Itu momen yang paling berat. Dan itulah, sulap walaupun ada teknisnya, ada rahasianya, bukan sesuatu yang mudah. Salah sedikit, aja itu fatal. Apalagi permainan yang menyangkut diri.

Q4
Kalau dalam hal perjuangan meniti karir?
Kalau bicara perjuangannya, berat. Gue sempet show sama Indra Safera dan Titi DJ. Mereka diminta tanda tangan, gue ngangkut koper, nyari taksi. Belum lagi, tekanan dari teman-teman, orangtua, elo mau makan apa dari sulap? Cuma, orangtua saya waktu itu mengatakan, elo mau ngapain aja, asal kuliah elo selesaikan. Sulap itu the art of magic itu sebenernya seperti the art of dreaming. Apapun yang elo mimpikan, bisa elo wujudkan. Elo mimpi terbang, harus bisa terbang. Gue mimpi bisa prediksi masa depan, gue harus bisa memprediksi. Bikin orang seperti X Men gue harus bisa. Banyak magician yang merasa dia bisa mewujudkan mimpi-mimpinya, akhirnya mengabaikan formal education. Gue tidak menomorduakan formal education. Makanya gue punya master di Parapsikologi. Gue dosen tamu di UI, ngajar psikologi. Banyak seminar yang bukan sulap, bisnis, branding. Banyak magician yang uneducated. Very uneducated. Bagaimana mereka menjadikan sulap sebagai bisnis, kalau mereka uneducated. Itu juga salah satu penyebab sulap di Indonesia kurang  berkembang. Mereka tidak mengerti, bahwa magic can be a very good business.

Q5
Berapa kali dalam setahun Anda memikirkan trik baru?
Ada sekali. Jadi, gue membuat sebuah program bahwa setiap tahun, gue harus ada sesuatu yang dibicarakan masyarakat. Contohnya, waktu itu nyetir nutup mata. Bantu polisi nyari bahan hilang. Pernah nebak headline KOMPAS. Itu semuanya under schedule. Terakhir kali gue muncul di serial TV, “Mentalist in Action” di TV7 tiga tahun lalu. PR kita harus kuat. Kebetulan PR-nya gue sendiri. Contohnya, gue bikin buku “Mantra,” ini buku psikologi, nggak ada sulapnya sama sekali. Nanti gue bakal nerbitin buku lagi, “The Book of Magic.” Buku sulap paling tebal di Indonesia. Paling komplit, mahal. Ada Romy Rafael, Demian, semua anak-anak Pentagram. Ada yang nanya, kenapa tahun lalu gue nggak buat apa-apa. oh, tahun lalu gue married. Gue nggak perlu buat apa-apa. Itu kan udah seperti sebuah jualan.

Q6
Ketika menikahi Kalina, Anda memikirkan soal dia bisa dibentuk sesuai imej Anda?
Oh iya, sudah dipikirkan. Sampai Kalina itu adalah nama ciptaan saya. Nama aslinya Rani. Ketika saya pacaran sama dia, saya ditanya wartawan, saya beri nama Kalina. Karena nama Rani tidak menjual. Dia model, tidak bisa sulap. Saya membuat karakter wanita yang bisa maen sulap. Model bok, apa gothic-nya? Akhirnya gue bikin semua hitam. Rambut dipanjangin.

Q7
Itu salah satu bukti keahlian Anda berkomunikasi?
Kalau mau dibilang, Kalina itu ciptaan, sosok Kalina itu nggak ada. Romy Rafael itu nggak ada, gue nyiptain Romy Rafael. Demian itu nggak ada, gue nyiptain sosok. Karakter itu gue yang nyiptain semua.

Q8
Waktu anak Anda ulang tahun, dia melakukan trik membengkokan sulap. Ini bagian dari promosi Anda?
Jadinya seperti The Adams Family ya. [tertawa]. Buat gue, sulap itu komoditi. Sesuatu yang memang bisa kita kembangkan. Balik lagi, seperti jual barang deh, yang mahal merk barangnya kan?

Q9
Punya pakaian selain warna hitam?
Kebetulan, gue nggak punya. Semua wardrobe pun. Sampai celana dalam gue. Mau lihat? [tertawa]. Nah, ini salah satu penciptaan karakter. Apa yang ingin masyarakat lihat. Makanya ada orang nanya, ‘kenapa sih elo pake item-item?’ supaya elo nanya. [tertawa]. Anak gue aja, gue pakein baju item-item. Makanya, banyak wartawan nanya, ini kan pemaksaan kehendak. Anak gue kan belum punya kehendak. Baru lahir dong.

Q10
Berapa banyak yang melihat sosok Anda di luar kostum ini?
Paling keluarga dan kru. Janjian sama orang  biasa aja gue dandan. Temen lama aja, kadang-kadang gue make up-an.

Q11
Melelahkan?
Melelahkan melelahkan, boring ya boring. Tapi, then again it’s a matter of character. Gue nggak akan bisa membuang karakter itu. Kalau berubah sih bisa. Beberapa bulan lalu, sempet numbuhin jenggot dan kumis. Satu-satunya masyarakat melihat gue tanpa make up di teve ketika ayah gue meninggal. Mau ngomong apa? Ya itu kan, satu hal yang tiba-tiba. Kalau gue make up, namanya kurang ajar. Ini fleksibel, tapi dalam artian branding can be modified, but can not be changed.

Q12
Di situs, Anda mengaku best Asian mentalist? Tidak takut dikira sombong?
Oh nggak. Karena pada tahun 2003, ada perkumpulan magician di Asia yang mengadakan lomba sulap dan gue menang. perlombaan trik dan kreativitas. Ada beberapa permainan yang dianggap bagus. Terus performance gue dilihat juga.

Q13
Yang paling aneh yang pernah dikira orang tentang Anda?
Ada orang-orang yang datang ke gue mau pasang taruhan, judi bola. Karena ngelihat gue bisa nebak headline Koran. Bisa nggak minta tolong. Sampe ngemis-ngemis, bilang punya hutang seratus juta. Gue jawab jujur aja, kalau gue bisa gue pasang sendiri [tertawa]. Itu akhirnya gue terangin lagi, eh ini entertainment. Ini bukan hal-hal seperti itu.

Q14
Dan ada yang percaya Anda punya jin ya.
Oh kalau itu gue selalu bilang, gue punya banyak. Ada LEA, Levi’s. [tertawa]. Intinya kalau saya belum lihat, saya belum percaya. Sampai saat ini sih belum pernah. Wah susah banget ngelihatnya. Bagaimana caranya?  

Q15
Pandangan Anda soal paranormal?
Saya tidak mengatakan efek-efek paranormal itu nggak ada. Tapi kalau di dunia sulap, kami bisa menduplikat efek-efek paranormal. Banyak paranormal yang palsu. Kalau gue mengatakan banyak, berarti bukan semuanya palsu. Ada yang asli? Oh gue belum ketemu. Karena gue nggak pernah nemuin paranormal. Ngapain gue nemuin paranormal? Jadi banyak yang palsu. But then again, it’s a good business buat mereka.

Q16
Waktu itu Anda pernah menantang paranormal untuk menebak tulisan di kertas yang Anda buat.
Gue nggak nantang paranormal. Tapi, nantang masyarakat. Paranormalnya aja yang merasa tertantang. Padahal, loh ngapain gue nantang paranormal? Ngapain juga paranormal ngurusin yang begituan? Mending ngurusin negara.

Q17
Kalau pandangan Anda soal santet?
Selama ini sih, saya pribadi nggak percaya tentang santet, pelet, penyembuhan gaib. Ngapain ada dokter? Semuanya aja sembuhin dengan cara itu.

Q18
Musik seperti apa yang Anda dengarkan?
Gue macem-macem. Kebetulan gue nggak terlalu suka musik, paling mendengarkan musik kayak Enja, Sarah Brightman, Gregorian. tapi bini gue suka banget musik. Jadi dia atau asisten gue yang nge-burn-in gue CD. Dengerin di mobil, jadi akhirnya gue tahu lagu-lagu baru. Tapi gue nggak tahu lagunya siapa. Jadi, mereka yang nge-burn-in dan secara kurang ajar masukin ke tempat CD gue [tertawa.]
 
Q19
Tidak menyukai musik keras malah ya? Menyeramkan di luar, di dalemnya lembut?
Saya baik hati. Kalau metal segala macem saya nggak suka. Menurut saya nggak ada seninya. Nggak ngerti lah, teriak-teriak doang. [tertawa]

Q20
Padahal, Anda identik dengan kegelapan.
Then again, it’s a matter of character. Marylin Manson aja kan guru TK.
 

Soleh Solihun dan The Titans

Setahun lalu, ketika saya masih bekerja di majalah sebelum ini, saya mewawancarai vokalis Rizky, kibordis Andika, bassis Indra, drummer Tomtom, gitaris Oni dan programmer Imot dari The Titans dalam rangka promosi album perdana mereka. Tapi, wawancara ini tak pernah dimuat karena majalahnya belum kunjung terbit. Hari ini, saya mewawancarai mereka untuk kedua kalinya–kali ini dalam rangka promo album kedua mereka, Melayang Lagi. Hitung-hitung mengenang pertemuan kami dan membayar hutang karena tak pernah mempublikasikan wawancara kami tahun lalu, saya muat petikannya.


Bagaimana sejauh ini, perkembangan The Titans?
Andika: Alhamdulillah, belum ada hambatan yang berarti. Kebanyakan sih, nerima kami dengan baik. Seru-seru aja. Yang paling kerasa sih, bikin tambah semangat. Ternyata, orang nganggap kami bagus.
Tomtom: alhamdulillah, selain dari respon dari masyarakat remaja maupun dewasa, anak-anak kecil juga, Udah banyak yang suka. Seneng aja. mudah-mudahan kakaknya ada yang suka, ibunya juga bisa suka.

Waktu membuat ini, harapan kalian apa?
Andika: Kami hanya mikirnya, ini tempat buat mencurahkan karya kami. Nggak ada target apa-apa. Apalagi soal penjualan.

Ibaratnya, kalian standarnya sudah tinggi. Tidak terbebani?
Andika: Makanya, kami di sini mencoba membuat lagu yang bagus. Kalau sudah begitu, kami puas. Mudah-mudahan prestasi itu bisa terulang kembali.

Kabar band kalian sebelumnya bagaimana nih?
Tomtom: Awalnya saya pindah ke The Titans, karena masing-masing personel di T-Five, sudah ribet dengan urusannya, ngumpulinnya susah. Ceritanya Andika sama Indra mau bentuk band lagi. Denger curhatnya Andika waktu dikeluarin. Awalnya waktu itu sih, gue sama Andika mikirnya buat ngobrol aja dulu. Tahu-tahu, kami mencari yang lain. Temen-temen T-Five sih mendukung, dan saya sudah resmi mengundurkan diri.
Ricky: Izzy, tahun kemarin masih jalan, sampai pemain gitar keluar, pemain drumnya juga. Bulan Oktober, pemain bass kami masuk Peterpan. Sampai akhirnya gue ditawarin buat ikut audisi.

Waktu di Izzy, Anda kan berpakaian ketat ala rock n’ roll, sekarang berpakaian biasa saja. Apakah kemarin itu karena tuntutan produser?
Rizky: Kompetisi begitu kan, Cuma menyatukan kemampuan bermusik saja. Percuma, kalau di band bersatu, tapi tidak di kehidupan sehari-hari. Kemarin, itu dilihat dari kemampuan orang-orang bermusik, maunya ke mana. Cuma, anak-anaknya sendiri ngerasa nggak nyaman.

Apa rasanya, selalu dibanding-bandingkan dengan Peterpan?
Andika: Karena infotainment, memberitakannya selalu seperti itu sejak awal. Jadi, orang-orang ter-brainwashed. Padahal kan, kami beda. Di Peterpan itu, ada warnanya aku sama Indra. Kalau di The Titans, ada warna yang sama, itu karena ada aku dan Indra. Mungkin karena kami masih jarang manggung, imej kami masih menyangkut ke sana. Mudah-mudahan seiring banyaknya manggung, imej itu akan hilang dengan sendirinya, dan menganggap The Titans band baru. Dan masyarakat bisa tahu, ternyata ada band baru.

Untuk yang berempat, bagaimana rasanya ketika The Titans selalu dikaitkan dengan Peterpan?
Tomtom: Kalau saya sih, tidak masalah. Karena ada dua orang dari Peterpan. Dan kami juga mengakui kalau Peterpan dulu pernah jadi band besar, band yang termasuk fenomenal. Kami berempat menganggap wajar lah, kalau ada orang yang menganggap begitu. Kalau misalnya di sini, ada anak T-Five nya tiga orang, mungkin yang disebut dua band. Karena di sini dua orang, terus kondisinya nggak jauh waktunya, karena mereka berdua nggak lama dengan waktu dikeluarin.

Lagu “Hingga Nanti Sampai Mati” bercerita tentang sakit hati dipecat dari band?
Andika: Lagu itu global. Bisa bercerita tentang apa saja. Tapi, itu lebih ke soal cewek. Lagi saying-sayangan sama cewek, tiba-tiba menghilang tidak ada kabar. Karena di album ini, tema cintanya banyak. Jadi, kami nyari tema cinta yang arahnya agak berbeda sedikit. Itu nggak soal aku saja. Tergantung interpretasi orang mau dibawa ke mana, yang penting albumnya dibeli. [tertawa].

Sepertinya tema kesepian cukup dominan di album ini. Apa yang melatarbelakanginya?
Indra: Karena kami melihat band lain, tema cintanya begini, kami mencoba bikin yang berbeda. Mungkin buat album kedua, lirik cintanya nggak akan yang sedih.
Rizky: Orang Indonesia itu senang dengan tema yang sedih.

Memang lebih mudah menulis tema cinta ya?
Indra: Kalau didengerin semua, album ini nggak melulu cinta sih. Lagu “Batas Waktu” kan bukan cinta. Mungkin kami belum kepikiran ke tema yang lain.
Andika: Yang pasti sih, kami mencoba untuk jujur. Apa yang kami rasain, ya itu yang keluar. Aku dari kemaren nggak kepikiran soal politik. Jadi, kalau aku bikin lirik politik, bullshit banget. Kalau kami jujur, mungkin ke orang juga bakal lebih kena.

Kalau kita lihat sejarah band-band pop, setelah lima album popularitas mereka menurun. Apa yang bisa kalian lihat dari itu?
Indra: Yang aku tahu sih, itu biasanya karena pengin idealis. Dan biasanya musiman. Di Indonesia itu bukan penikmat, tapi pengidola.  
Andika: Mungkin bisa dibilang, orang Indonesia itu nggak ada yang setia. Ada band baru yang lebih fresh, kalau nggak denger itu, kampungan. Akhirnya yang sebelumnya ditinggalin. Cara the Titans buat bertahan, antara lain bikin lagu yang bagus. Ditahan idealismenya jangan sampai keluar semua. Karena kalau dibilang semua band seperti itu, nggak setuju juga, lihat aja Slank.

Menahan idealisme itu, bagaimana?
Oni: Mungkin harus lebih dikendalikan. Kayak yang di The Titans, aku masukin unsur-unsur elektronik, aku tahan supaya nggak jadi band elektronik. Kalau kita bikin karya cuma bisa dinikmati sendiri, itu namanya onani.  
Tomtom: Idealis perlu, tapi kalau mau jualan, harus ada batasannya.

Definisi idealis itu seperti apa sih?
Indra: Maen sendiri kalau menurut aku sih. Ada yang ngasih masukan, nggak mau didenger.
Oni: Idealis itu, satu hal yang ideal menurut si orang. Dan masing-masing harus tersalurkan idealismenya. Itu yang ideal.

Bagaimana ceritanya bisa dikontrak EMI?
Andika: Memang, dari awal kami terbentuk, ada beberapa major label yang tertarik, bahkan Musica sendiri. Cuma, dari EMI kami diberikan kebebasan penuh untuk berkarya. Nggak disetir. Dari awal mereka percaya. Kami cuma ngasih dua atau tiga lagu demo. Treatment yang kami dapatkan dari EMI juga bagus. Dan untuk saat ini, kami tidak gabung dengan Musica, karena kami tidak mau dibayang-bayangi Peterpan terus.

Kalian mendengarkan album Peterpan yang terbaru?
Andika: Masih bagus sih, cuma suasananya udah berbeda aja yang sekarang. Nuansanya ganti deh.

Untuk Rizky, bagaimana rasanya membaca komentar orang di situs The Titans, yang menganggap Anda meniru-niru Ariel?
Rizky: Karena memang jalannya musti seperti itu, kalau gue yang keluar duluan dan Ariel yang menggantikan gue, mungkin Ariel yang akan dimirip-miripkan dengan gue. Jadi, gue sih nyantai aja. Dan ada temen gue, yang juga kenal Ariel, dia bilang gue nggak mirip. Tinggi, lebih tinggi gue. Lebih putih gue. Kalau ganteng, gantengan Ariel. Sedikit! Gue yang banyaknya [tertawa].
Andika: Aku pribadi sama Indra, tujuh tahun sama Peterpan, bisa menjamin, kalau Rizky nggak ada mirip-miripnya sama Ariel.

Kenapa Rizky yang dipilih?
Andika: Kami udah ngerekam tiga lagu, range vocal Rizky yang paling cocok. Terus, dia bisa menghayati lagu-lagu yang kami bikin, dengan waktu yang mepet. Ada sekitar lima puluh orang yang ikut audisi.
Tomtom: Dan sebelum kami memilih Rizky, kami mencari info soal Rizky ke orang-orang, buat tahu gimana sih Rizky? Paling nggak, attitude-nya Rizky yang paling utama. Alhamdulillah sejauh ini sih, attitude-nya masih bagus. Masih nurut [tertawa].

Pendapat kalian soal Kangen Band?
Oni: Secara materi lumayan, karena mereka Melayu sekali lagunya, jadi mudah laku. Mungkin kualitas kurang.
Andika: Aku baru tahu kemarin soal mereka. Pengetahuan mereka kurang soal aransemen lagu yang bagus. Mungkin mereka sendiri juga, nggak tahu bakal seperti ini. Dan di beberapa track, ada yang fals kok direkam? Masih ngasal. Mudah-mudahan mereka bisa lebih bagus lagi dari sekarang.
Oni: Aku sih bebas-bebas aja, mungkin karena ini yang pertama.
Indra: Aku sih simple aja. Mereka cuma butuh waktu dan jam terbang.

Kalau ada yang ngaku fans the Titans minta foto bareng, tapi tidak pernah mendengar musik kalian. Apa perasaan kalian?
Indra: Tadi pas kami berangkat ke sini, ada yang minta foto bareng, terus nanya, Arielnya ke mana?
Tomtom: Di Jogja, lagi wawancara radio, penyiarnya ngomong begini, “Gimana Indra?” “Gimana Tomtom?” Pas nanya Indra, “Lukman gimana? Eh, Lukman atau Uki?” Untung nggak bilang, “Selamat ya Peterpan buat album barunya.”

Atau, mungkin salah media? Lebih sering mengultuskan sosok, ketimbang karya.
Andika: Mungkin sedikit banyak ada pengaruh media juga. Ngomongin selingkuh lah, kawin. Orang lebih seneng ngeliat sosok orangnya jadinya. Makanya kami sepakat, kalau ada pertanyaan yang tidak berhubungan dengan musik, tidak akan dijawab. Di band kami dulu, lebih banyak diekspos soal pribadinya. Sekarang, kalau mengekspos karya, hayuk kami ladeni.

 
 

10 Fakta Tentang Saya

Beberapa hari lalu, Alin men-tag saya untuk ikut permainan ini. Maka, inilah respon saya atas tag Alin:


1. Obsessive Compulsive Disorder. Saya baru tahu istilah ini setahun terakhir. Setelah tahu, ini menjelaskan beberapa perilaku saya. Sejak masih di bangku TK, setiap memakai sepatu, saya selalu ingin panjang kedua talinya sama. Saya belum bisa berangkat jika dua talinya belum sama panjang. Dan ini masih berlangsung hingga sekarang, walaupun tak separah dulu. Di kampus, saya sering kali meninggalkan kampus dalam jam-jam  yang pas. Misalnya, jam empat pas. Jam lima pas. Jam setengah empat pas. Saya kira, dulu saya mengatakan itu karena ingin mengulur-ulur waktu supaya bisa lebih lama di kampus dan supaya teman-teman mau menunggu, ternyata setelah saya tahu ada yang namanya OCD, hal itu bisa dijelaskan.

2. Dancing Queen. Kata ibu saya, ketika saya berumur sekira dua tahun, saya sangat menyukai lagu ini. Sering kali saya memaksa untuk diputarkan lagu ini. Dan bisa menangis jika tak diputarkan permintaannya. Saya tak ingat tentu saja.

3. Pernah mimpi basah di lapangan sepak bola di saat ospek. Tepatnya di dalam tenda peleton. Kejadiannya tahun 1997. Sekira dua hari sebelum Lady Diana meninggal dunia [saya ingat benar, ketika pulang dari ospek melihat berita teve kalau Lady Di meninggal]. Entah kenapa, setiap kali saya lelah, dengkul dan kaki pegal, sering kali malam harinya bermimpi basah. Nah, ospek sudah pasti melelahkan. Mungkin itu sebabnya. Mungkin juga karena anggota Tatib perempuan, angkatan ’95 Fikom Unpad sebagian besar berwajah cantik, menarik, dan bertubuh wangi. Bukannya takut dan kesal, saya malah senang dimarahi mereka dalam jarak yang sangat dekat. Hehe. Dulu saya malu setiap teman-teman saya meledeki soal ini. Tapi sekarang, ah kenapa mesti malu. Tak semua orang bisa merasakan mimpi basah di tempat dan saat seperti itu, bukan? Mungkin ini menandakan saya bisa melihat sisi positif dari kegiatan yang sangat penuh tekanan sekalipun.

4. Waktu TK, selalu tak ingin dipotong rambut karena teman-teman TK rata-rata gondrong dan berambut seperti Adi Bing Slamet. Hingga suatu saat, saya menggunting sendiri poni depan rambut saya supaya terlihat seperti belah tengah, tapi tanpa harus dibelah. Saya bikin belah tengah itu permanen dengan menggunting poninya. Akhirnya ibu saya malah menggunduli kepala saya. Akibatnya, saya malah malu karena teman-teman meledeki saya Pak Ogah.

5. Medio ’88, rumah keluarga kami pindah dari sebuah daerah bernama Desa Narogong, ke Kompleks BTN di Gunung Putri. Narogong adalah daerah yang sebagian besar penghuninya berbahasa Sunda. Sedangkan Gunung Putri, terdiri dari banyak suku. Ada yang Jawa, Sunda, bahkan Betawi. Di hari-hari pertama kami pindah, saya malu untuk berbicara. Pasalnya, bahasa Indonesia saya tak fasih. Bahkan ketika disuruh ke warung beli telur dan pulpen pun, saya malah menggunakan ‘endog’ dan menggunakan kata ‘ballpoint’ yang diucapkan dengan volume yang sangat kecil karena takut salah. Belakangan saya tahu bahwa kata ‘pulpen’ juga adalah bahasa Indonesia.

6. Pernah mencoba belajar memainkan gitar ketika SMA tapi menyerah. Pertama, karena jari saya jadi kapalan dan saya kesal. Kedua, karena gitar di rumah selalu fals, tak ada yang bisa menyetem, jadi bagaimanapun saya memainkannya, selalu terdengar fals. Ketiga, karena di saat saya ingin belajar memainkan gitar, eskul bela diri dan baris berbaris lebih menyita waktu saya.

7. Bicara soal fals, ketika SMA, saya selalu menuliskan nama Fals di belakang nama saya. Soleh Fals. Bahkan, di buku tahunan pun, saya menuliskan nama itu di bawah tanda tangan saya. Baru setelah kuliah saya meninggalkan kebiasaan itu. Beberapa teman SMA, kadang masih suka meledek saya dengan nama Fals ini jika bertemu.

8. Pernah menjadi santri terbaik di pesantren kilat ketika kelas dua SMP. Padahal, kerjaan saya sebulan penuh selama pesantren kilat itu, hanya tidur. Tak pernah mendengarkan khotbah. Predikat ini rupanya saya dapatkan setelah saya menjuarai lomba pidato di sana. Naskah pidatonya, adalah naskah lama yang saya hapal ketika harus lomba pidato alias khotbah waktu masih kelas 6 SD. Dan di masa ini, saya sempat ingin bercita-cita antara menjadi ABRI [karena seragamnya terlihat gagah], atau ulama [karena waktu itu saya mengidolakan Zainuddin MZ, yang pandai bicara dan kocak].

9. Pernah ikut-ikutan mencoba merokok, ketika SMP. Segala macam rokok saya coba—kecuali ganja, dari mulai Gudang Garam, Dji Sam Soe, hingga Marlboro. Tapi, tak satupun meninggalkan kesan yang menyenangkan. Itu sebabnya saya tak suka merokok.

10. Pernah tergila-gila sama dunia kebatinan dan kanuragan. Niatnya ingin menjadi jagoan atau ahli bela diri. Entah karena pengaruh film-film Kung Fu yang sering saya tonton. Entah karena pengaruh pergaulan. Akibatnya, pernah ada masanya saya sering bermeditasi di kamar tidur. Membaca banyak wirid setelah sholat. Hingga tak makan daging selama tiga bulan lebih, demi [katanya sih] melatih mata batin dan mengenal diri sendiri. Hahaha. Masa vegetarian itu hancur pada saat kami kuliah lapangan dan di saat-saat lapar kampus hanya memberikan makanan KFC. Wangi daging crispy dan ratusan orang memakan KFC dengan nyaman akhirnya membuat saya melupakan program. Aah, lupakanlah kebatinan. Yang penting perut kenyang. Nikmat Tuhan jangan disia-siakan. Begitu pikir saya. Sekarang, saya tak lagi menekuni dunia itu. Karena saya tahu, bahwa masih ada yang lebih hebat dari jago silat bela diri. Yaitu silat lidah.

Oke, karena saya harus men-tag teman-teman, maka orang-orang di bawah ini akan saya tag [teman kosan dan teman kantor, yang ada di depan mata saya dan sepertinya agak aktif di Multiply];


   1. Arian13.
   2. Ernest Prakasa.
   3. Anastsia Meira.
   4. Ricky Siahaan.
   5. Wendi Putranto.
   6. Hasief Ardiasyah.
   7. Wening Gitomartoyo.
   8. Yarra Aristi.
   9. Adib Hidayat.
  10. Edy ‘Khemod’ Susanto, ini karena kantornya paling dekat sama kosan.

Impian Banyak Jurnalis

Ah, seandainya saja ada Audio – Word Converter.

Program atau alat yang memungkinkan rekaman audio langsung ditransfer ke dalam bentuk file word. Tinggal colok digital voice recorder ke komputer, copy file-nya, lalu si file audio itu tinggal diubah ke dalam bentuk file word.

Betapa bahagianya saya, jika ternyata program itu sudah ditemukan.

Wawancara berjam-jam tak akan ada masalah, karena tinggal diubah filenya. Tak akan ada pekerjaan mendengarkan kembali hasil wawancara lalu menuliskannya ke dalam bentuk file. Ini salah satu proses paling melelahkan dalam pekerjaan jurnalis. Bayangkan, wawancara setengah jam, artinya membutuhkan waktu sekira satu jam untuk menuliskannya kembali ke dalam bentuk file.

Tapi, jika ada AUDIO – WORD CONVERTER, akan banyak sekali waktu yang dihemat. Dan tentunya, akan sangat berguna sekali buat para jurnalis yang sering malas membuat transkrip–termasuk saya. Hehe.

Oh, teknologi, ayo tunjukkan perkembanganmu. 

*setengah sepuluh malam, dan masih banyak rekaman wawancara yang harus didengar lalu dituliskan.

Indiefest Final Regional Jakarta

Jumat, 29 Agustus 2008, Hall Basket, Senayan, Jakarta.

Katanya, lebih sepi dibanding Bandung, Surabaya [dua-duanya sold out] dan Jogjakarta.

Ini kali pertama Teenage Death Star manggung betulan setelah album keluar. Maksudnya, manggung tanpa harus terganggu penonton dan sound yang tak terdengar.

Pacar pemain biola Minerva yang paling kece, konon cukup posesif. Ketika dia menjemput si perempuan di bandara, lewat di depan juri laki-laki dengan sedikit songong. Hahaha. Sewaktu kumpul-kumpul dengan media, si pacar dengan setia menaruh tangannya di atas pundak. Bukti kepemilikan mungkin. :p

Ya sudah. Silakan nikmati saja foto-fotonya. Saya sedang malas menulis. Perut mules-mules melulu.

Fuck Skill! Let’s Rock! Teenage Death Star Live and Loud.

“Lagu Upstairs yang baru, niru Chinese Rock!” kata MC Riann Pelor, ketika saya baru masuk Colours Cafe, Jakarta Pusat, sekira jam setengah sepuluh malam, Rabu (27/8) kemarin.

Jimi Multhazam, yang duduk di belakang drum set, langsung ke depan, mengambil mik.

“Elo menuduh gue meniru lagu Johnny Thunders?” katanya. “Vid, mainkan Chinese Rock!” Dia meminta David Tarigan memainkan intronya.

Yang dimaksud Pelor adalah lagu terbaru The Upstairs, “Ku Nobatkan Jadi Fantasi,” yang intro gitarnya mengambil nada lagu tradisional Jepang. Yang memang sudah dipakai di banyak lagu. Kamu mungkin tahu lagu “Turn Into Japanese” dalam film Charlie’s Angels. Ketika adegan tiga perempuan cantik itu menyamar jadi pemijat, lagu itu diputar. Nah, intro itu yang dimaksud Pelor meniru lagu “Chinese Rock.”

Artinya, “Ku Nobatkan Jadi Fantasi” bukan mirip lagu “Chinese Rock.”

“Lagu Upstairs yang baru, nggak bisa bikin orang berdansa!” kata Pelor lagi. “Ternyata, Upstairs kayak Ahmad Dhani. Cuma karena Upstairs band kecil, dia nggak ketahuan.”

“Ini adalah sebuah band yang sudah cukup lama tidak kita dengarkan bersama-sama. Kita sambut Henry Foundation!” kata Ale White Shoes yang juga jadi MC malam itu.

Band dengan formasi yang termasuk ajaib. Tak mengherankan band itu lebih cocok sebagai proyek iseng-iseng saja. Jika semua nama itu disatukan dalam waktu yang lama, sepertinya akan agak sulit dalam proses kreatifnya. Henry Foundation alias Batman sebagai vokalis, Bondi Goodboy sebagai gitaris, Bin Harlan Boer memegang instrumen bass, David Tarigan menjadi gitaris dan Jimi Multhazam kembali menjadi drummer. Sebelum malam itu, penampilan mereka satu-satunya adalah ketika era BB’s Cafe, Menteng masih berjaya.

Para penggemar Goodnight Electric dan The Upstairs yang belum tahu latar belakang idola mereka sepertinya akan sedikit kaget melihat band ini. Rock n’ roll dengan sound kasar dan mentah, bising, yang kita bisa merasakan pengaruh band macam Velvet Underground dan The Stooges di antaranya.

Belakangan, setelah manggung, Batman bertanya soal harga efek gitar murah kepada Ale. Dia sepertinya menikmati penampilan malam itu. Merasakan nikmatnya bermain gitar.

Band ini, baru latihan satu kali untuk penampilan malam itu. Seperti juga Teenage Death Star. Hanya bedanya, musik Henry Foundation masih bisa terdengar cukup jelas. Berbeda dengan penampilan sang bintang malam itu.

Ketika lagu pertama dimainkan, crowd sepertinya cukup syok mendengar suara yang keluar. Mungkin mereka sudah biasa dimanjakan oleh musik Teenage yang didengar dari CD. Begitu mendengar musik yang dihasilkan para noise makers itu ternyata benar-benar dominan noise ketimbang nada. Entah faktor sound system yang tak memadai. Entah karena memang ketika rekaman, mereka memakai segala macam efek yang ada di studio Iyub Santamonica.

Tapi, itulah Teenage Death Star. Gitaris Alvin selalu berkata untuk jangan mengharapkan mereka bermain rapi. Baru memasuki lagu kedua, sepertinya crowd sadar akan hal itu. Dan mereka mulai bisa menikmati penampilan Teenage tanpa harus mengharapkan akan keluar musik seperti yang mereka dengar dari CD. Tapi, yang paling menonjol penampilan malam itu adalah drummer Firman. Salah satu anggota Short Drummer Association itu benar-benar mampu menjaga tempo. Meskipun sedikit tipsy, Firman masih mampu memberikan pukulan-pukulan yang keras (yang paling terdengar adalah suara drum sebenarnya, gitar dan bass kadang agak samar-samar terdengar) dan cukup stabil.

Kerusuhan dimulai ketika lagu kedua dimainkan. Panggung yang tadinya sedikit lengang, mulai menyempit. Bassis Iyo bahkan harus beberapa kali berdiri di atas amplifier karena di panggung semakin banyak orang. Orang-orang yang tadinya masih menghargai perbedaan antara player yang memang tempatnya di panggung dan penonton yang tempatnya di luar panggung, sudah mulai melanggar batas. Invasi penonton dimulai. Hak istimewa pemain untuk memegang mik pun mulai diabaikan.

Colours yang tak terlalu luas itu semakin panas. Semua orang berkeringat. Panggung penuh dengan penonton. Sedikit mengingatkan pada suasana konser The Stooges. Hanya saja, Sir Dandy, sang vokalis bukan rock n’ roller bertubuh kekar six pack. Melainkan seorang lelaki tambun bermata sipit yang lebih mirip tukang hand phone.

Ini adalah konser rock n’ roll terliar di bulan ini! Superbad (oya, nama acara ini Superbad, reguler digelar di Colours) sebelumnya, di mana 70’s Orgasm Club dan Wonderbra tampil, tak sepadat ini. Nama Teenage Death Star sepertinya cukup dinanti banyak orang.

Setlist yang ditulis sebelumnya sepertinya tak dipatuhi. Urutannya acak. Lagu “I Got Johnny In My Head” dibawakan dua kali. Jika diperhatikan, sepertinya sebagian besar orang yang datang, merasakan kesenangan malam itu.

Saya tak tahu perasaan pemainnya. Gitaris Helvi sih, waktu saya bilang pemain juga pasti senang bermain di suasana seperti itu, mengatakan tidak. Karena mungkin tak banyak ruang buat dia bergerak. Neck gitar-nya pun, ada di antara dua tubuh penonton yang menginvasi panggung.

Apapun, kita tak bisa tahu, kapan akan ada lagi konser rock n’ roll seliar, ugal-ugalan dan semenyenangkan seperti malam itu.

I Wanna Kick Your Face

14.00. WIB. Sebuah bank swasta. Antrian cukup panjang. Satu suara memecah kesunyian.

“Gimana boos?”

“Beres, beres, boos.”

“Siap, siap, siap, siaaap, boos.”

“Beres booos.”

“Siap, siap, siap, siap, siaaap, booos.”

“Beres booos.”

“Gimana boos?”

“Siap, siap, siap, siaaap.”

“Beres bos. Siap, siap, siap, siap booos.”


Lima Album Guilty Pleasure Soleh Solihun

Boleh saja saya mengaku pecinta rock n’ roll music.

Tapi, ada beberapa album di luar rock n’ roll yang sempat dan masih saya sukai. Album-album yang kadang saya sendiri malu mengakuinya. Tapi, berhubung saya sudah dewasa (hahaha. berlebihan) maka saya sudah cukup berani untuk mengakuinya kali ini. Ada lima album yang paling guilty pleasure:

Judul-Judulan, Pengantar Minum Racun.
Tahun ’80-an, bapak saya masih rajin membeli kaset. Seingat saya, kaset yang dibelinya, kalau lokal sih di antaranya Koes Plus dan Gito Rollies. Saya lupa apalagi tepatnya. Karena ketika umur saya balita, atau umur TK, saya dan adik saya suka menarik pita dari kaset-kaset itu, lalu menariknya. Biasanya, pita satu album itu jika ditarik, jarak panjangnya bisa dari ruang tengah hingga dapur. Saya selalu menarik-narik pita itu. Hingga tak ada lagi kaset tersisa, dan mungkin itu yang membuat bapak saya malas lagi membeli kaset. Tapi, di antara kaset-kaset yang bapak saya beli, ada satu yang paling membekas; album perdana dari Pengantar Minum Racun. Vokalisnya, Johnny Iskandar. Orang dengan vokal melengking, rambut panjang keriting, dan kacamata tanpa kaca.

Buat kamu yang tak tahu lagu Judul-Judulan, itu adalah lagu dengan lirik “Neng ayo neng, ayo maen pacar-pacaran.” Ini adalah album parodi pertama yang saya dengarkan. Lagu Judul-Judulan sepertinya lagu orisinal mereka. Bukan plesetan lagu orang. Tapi, selebihnya, album ini berisi plesetan lagu orang lain. “Benci tapi Rindu” diplesetkan menjadi “Banjir Datang Lagi.” Ceritanya tentang suami istri yang kerepotan karena hujan turun lalu berhenti lalu hujan lagi, hingga akhirnya mereka kebanjiran. Sang suami lantas mengajak si istri menginap di hotel. Akhirnya mereka bisa tidur nyaman di hotel. Ketika sang istri bertanya soal bagaimana mereka harus membayar kamarnya, sang suami bilang mereka pulang ketika satpam sedang tidur. Eh, ternyata pas mereka pulang, rumahnya masih banjir. Cara penulis lirik bercerita benar-benar bagus. Biarpun itu hanya sebuah parodi, mereka mampu mencari cerita yang faktual, sekaligus disajikan dalam gaya kocak.

Atau, lagu “Pergi Tanpa Pesan” diplesetkan menjadi “Pergi Pulang Pingsan.” Liriknya, soal pemuda yang mabuk melulu. Membuat malu orang tua. Tak jelas masa depan. Akhirnya, disuruh belajar mengaji. Hidupnya jadi bersih.
    
    Kau pergi pulang pingsan
    Kau mabok tiada bosan
    Di mana kau beli
    Minuman brendy
    Nanti kau ditangkap ke polis
    
    Malu…lu..lu..lu…lu lu lu lu lu…
    
    Begadang tidak pulang
    Tidur di pelataran
    Kalaulah begini
    Hidup terasa mati
    Lebih baik kau mengaji
    
    Alif, ba, ta, tsa, jim…

Saya sering menyanyikan lagu itu. Yang paling saya ingat, dalam sebuah camping Pramuka—ya, saya pernah ikut Pramuka tingkat Siaga—saya menyanyikannya dalam sebuah lomba. Diiringi anggota regu saya yang membuat musik dari ember, dan alat-alat dapur lainnya. Saya senang sekali lagu itu. Saya dibuat kagum dengan punch line alif ba tsa jim itu. Dan lagi-lagi, story telling si penulis lirik bisa menghadirkan cerita di kepala.  

Satu lagi yang paling membekas adalah lagu soal zodiak, sepertinya lagu aslinya juga soal zodiak, saya tak tahu pasti. Yang jelas, lirik syalalalala diplesetkan menjadi syalawelawe. Gara-gara lagu itu, kadang saya suka masih percaya kalau orang yang bintang Virgo biar sekolah tapi masih bodo. Dan bintang Sagitarius, suka makan laler ijo.

    Syalawelawe
    Mana bintangmu
    Syalawelawe
    Ini bintangku
    Marilah kita tebak-tebakan
    Pribadimu pribadiku
    
    Boleh percaya
    Boleh pun tidak
    Kalau percaya
    Kita berdosa
    Kalaulah ada
    Kata yang salah
    Jangan simpan di hati

    Bintang Virgo
    Sekolah tapi masih bodo
    Bintang Gemini    
    Maunya menang sendiri
    Bintang Sagitarius
    Suka makan laler ijo
    Bintang Capricornus
    Kalau menggigit suka tetanus

Sepertinya gara-gara album ini, saya suka lirik-lirik yang humoris. Atau, sebenarnya saya sudah suka lirik humoris sejak kecil dan album ini hanyalah pemicunya? Entahlah. Yang jelas, kasetnya sudah tak ada. Tapi, saya masih bisa hapal beberapa lagu jika mendengar lagu ini diputar. Oya, album keduanya, saya tak suka, karena single yang dijadikan video klipnya, tak enak buat kuping saya. Kalau tak salah, lagu tentang nyengir kuda. Video klipnya, personel PMR dengan kuda bohongan yang dimainkan orang berjoget-joget di pinggir kolam renang kalau tak salah.

Jilid 2, Padhyangan Project.
Ini album setelah hits “Nasib Anak Kos.” Para personelnya, Denny Chandra, Daan Aria, Juhana alias Joe P Project, dan entah siapa lagi saya lupa. Ketertarikan saya pada lagu-lagu parodi dan lirik humor rupanya kembali dimunculkan. Dan seperti di kata pengantar di album, tujuan mereka membuat album parodi supaya orang Indonesia mudah menyanyikan lagu-lagu Barat yang enak buat telinga mereka.

Di album ini, mereka memarodikan “All For Love” yang dinyanyikan Rod Stewart, Bryan Adams dan aah siapa lagi itu satu lagi? Liriknya diganti menjadi “Cover Boy” atau “Menjadi Cover Boy”.

    Biar badan kurus tak terurus
    Maju terus
    Biar sakit cacingan
    Itu bukan halangan
    Menjadi cover boy!
    Cover boy!

Dan yang paling membekas adalah lirik “What’s Going On” dari 4 Non Blondes yang diplesetkan menjadi “Lampu Neon”. Jaman album ini keluar, di teve sering diputar iklan layanan masyarakat soal hemat energi, soal lebih baik memakai lampu neon ketimbang lampu bohlam. Juhana alias Joe menjadi vokalis di lagu ini. Masih ingat dengan adegan di mana seorang majikan menyuruh pembantunya mengganti lampu bohlam dengan lampu neon? Nah, lagu ini pada dasarnya menceritakan kembali adegan itu.

    Kirain lagi pada ngomongin apa
    Tahunya beda bohlam dengan neon
    Inah, padamkam lampu bohlamnya
    
    Kan asik hey hey hey
    Asiknya, lampu neon

Sepertinya, ada lagi lagu Lea Salonga yang duet dengan siapa itu penyanyi satu lagi. Mereka plesetkan menjadi “Bibiku Pergi.” Cerita ditinggal pembantu. Lagi-lagi sebuah lagu yang kontekstual dengan kehidupan sehari-hari. Story tellingnya benar-benar berhasil. Memlesetkan lagu bukanlah hal yang mudah. Apalagi memilih tema yang kocak dan keseharian.

Cintailah Cinta, Dewa.
Suatu kali, saya pernah ditolak seorang perempuan yang saya sukai. Kawan-kawan saya tahu soal ini. Salah seorang kawan, Cupi, menyarankan saya untuk membeli album ini. Padahal, dia sama seperti saya, seorang Stones Lover, pemuja Mick Jagger. Agak mengejutkan juga, saran itu datang dari saya. “Dengekeun geura, si Dhani bisaan nyieun lirik teh.” [Dengerin deh, si Dhani bisa aja bikin lirik teh].

Akhirnya, membelilah saya album itu. Dan sialan. Liriknya seperti menyuarakan isi hati saya yang sedang galau berat. Untuk sesaat, saya bisa mengerti kenapa orang bisa bilang suka lagu pop menye-menye dengan lirik patah hati. Seperti lagu “Pupus” di bawah ini:

    Baru kusadari
    Cintaku bertepuk sebelah tangan
    Kau buat remuk seluruh hatiku

    Semoga waktu akan mengilhami sisi hatimu yang beku,
    Semoga akan datang keajaiban, hingga akhirnya kaupun mau

    Aku mencintaimu
    Lebih dari yang kau tahu
    Meski kau tak kan pernah tahu

    Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku
    Meski kau tak cinta kepadaku
    Beri sedikit waktu, biar cinta datang
    Karena telah terbiasa

Atau, lagu “Kosong”

    Kamu seperti hantu
    Terus menghantuiku
    Kemanapun tubuhku pergi
    Kau terus membayangi aku

    Salahku
    Bermain dengan hatiku
    Aku tak bisa memusnahkan
    Kau dari pikiranku ini

Atau, lirik lagu “Angin”

    Angin tolonglah aku sedang
    Jatuh cinta
    Tapi aku tak punya nyali untuk nyatakan
    Bahwasanya setiap hari kumerindukan dia        

Ah, sialan. Ini sih the ultimate guilty pleasure. Suka malu sendiri jika mengingat betapa galau bisa membuat seseorang tak bisa berpikir jernih. Sekarang sih, dengan kondisi psikologis yang jauh berbeda, saya tak punya kenikmatan psikologis lagi ketika mendengarkan lagu-lagu ini. Paling, mendengarkannya akan membuat saya tersenyum sendiri di dalam hati.

Let Go, Avril Lavigne.
Saya suka album ini karena saya suka Avril Lavigne. Apalagi waktu pertama kali dia muncul. Remaja putri dengan gaya tomboy, sepertinya anaknya asik begitu yang terlintas di kepala. Rambut lurus dan panjang selalu saya sukai dari perempuan. Avril punya itu. Punya sedikit sifat yang sepertinya bisa merefleksikan karakter cuek. Waktu lagu “Complicated” keluar, saya belum terlalu suka. Kurang cathcy di kepala. Tapi, begitu “Sk8r Boy” keluar—penulisan Sk8r seperti An3dis, ini sih racun sekali buat saya. Sangat catchy buat kuping saya. Entah karena semakin suka melihat Avril, lagunya jadi semakin catchy.

Greatest Hits, Robbie Williams.
Semua lagu di sini, saya suka. Sebelum mendapat album ini, saya memang diam-diam suka menikmati setiap klipnya diputar atau lagunya diputar di radio. Tapi, begitu mendapat album ini, saya semakin menyukai Robbie Williams. “She’s The One” salah satu favorit saya. Klipnya bercerita dengan baik. Cara Robbie menyanyikannya juga begitu baik sehingga dia bisa seperti merasakan kesedihan yang digambarkan klip itu. Lagu “Old Before I Die” juga seperti menyuarakan isi hati saya yang selalu takut mati, dan ingin bisa merasakan hidup sampai usia tua. Tolong diingat, saya tak suka Take That. Tapi, lagu-lagu Robbie Williams ternyata saya suka. Mungkin itu sebabnya saya kadang masih malu mengakui jika saya menikmati musik Robbie Williams.  

Soleh Solihun Mewawancarai Penyanyi Dangdut

Saya hampir menolaknya, karena saya awam dangdut.

Tapi, sang kawan menyuruh saya membuka Youtube dan Facebook. Ternyata, dia ada di sana. Mieke Asmara namanya. Kelahiran Sukabumi, 24 April 1977. Video klipnya “Merem Melek” ternyata bisa dilihat di Youtube. Mungkin supaya lebih mempopulerkan namanya. Mieke tipikal penyanyi dangdut. Make up menor. Sedikit menggoda. Yah, kamu bisa lihat sendiri lah di foto ini.

Mieke adalah kisah klise para pencari popularitas. Seperti lagu Tince Sukarti Binti Mahmud, yang ditulis Iwan Fals. Konon, Mieke adalah seorang mantan penyanyi dangdut tingkat kelurahan di Sukabumi. Konon lagi, ia hijrah ke Jakarta dengan impian untuk menjadi seorang bintang besar. Namun impiannya hancur ketika mengikuti sebuah audisi reality show dangdut di salah satu televisi swasta. Oleh dewan juri ia disebut tak bebakat dan lebih baik memikirkan karir alternatif. Sekali lagi konon, Mieke akhirnya menemukan karir alternatif tersebut: gonta-ganti menjadi pacar gelap para lelaki berduit Jakarta.

Oktober 2008 nanti, Mieke Asmara akan tampil dalam Gara-Gara Bola!, film komedi yang diproduseri oleh Nia DiNata (Janji  Joni, Quickie Express). Ini adalah debut aktingnya yang pertama. Sebelum melihat aktingnya di film itu, baca dulu wawancaranya.

Ada hubungan apa dengan Mira Asmara yang penyanyi dangdut?
Tidak ada. Mieke Asmara itu nama panggung. Nama asli saya Muhairoh Tresnasih.

Ini pertama kalinya saya wawancara dengan penyanyi dangdut. Rasanya deg-degan karena penyanyi dangdut biasanya selalu menggoda. Kalau Anda, bagaimana rasanya diwawancara saya?
Biasa saja. Apalagi muka Anda mirip teman dekat saya. Namanya Kang Jufri. Siang dia jualan bunga di Barito, malamnya dia suka nonton saya manggung di Pasar Rumput. Orangnya baik sekali, suka membelikan VCD dangdut, suka mengirimkan saya bunga. Yah, biar bunganya bekas karangan bunga duka cita, yang penting kan niatnya baik. Potongannya ya seperti Kang… Aduh, siapa nama Anda?

Soleh.
Iya, seperti Kang Soleh ini. Hitam, dekil, jaket kulit, pakai kacamata. Jadi saya seperti bicara dengan kawan lama saja. (Mieke terdiam agak lama. Mendadak matanya berkaca-kaca) Sayang Kang Jufri sudah tidak ada. Tahun lalu, bajaj yang dia tumpangi tercebur ke Kali Ciliwung karena adu balap dengan Metro Mini. Kejadian itu makin memecut semangat saya untuk rekaman. Makanya di album saya ada lagu yang saya dedikasikan untuk Kang Jufri.

Judulnya?
“Cintaku di Dasar Ciliwung”.

Tak banyak penyanyi dangdut yang punya account Facebook. Kenapa Anda punya?
Sebetulnya saya ini orangnya gaptek. Tapi beruntung, suami adik saya yang tinggal di Sukabumi punya usaha warnet. Jadilah dia membuatkan saya account di Facebook, sekaligus menambahkan isinya kalau ada berita baru. Duh, adik ipar saya ini memang suportif sekali terhadap karir saya. Saking suportifnya, dia suka mengirimi saya SMS-SMS penambah semangat. Seperti ini nih. (Mieke lalu menunjukkan sebuah SMS yang berbunyi: MIEKE SAYANG, KPN KT BS KTEMUAN? AK KANGEN. LELI LG GAK DI RUMAH LHO. KABARIN YA.) Manis ya?

Siapa yang memasukkan video klip “Merem Melek” ke Youtube?
Kalau itu kerjaan Bang Feri, produser saya.

Kalau Multiply? Punya account Multiply nggak? Ini kan wawancara buat Multiply.
Kebetulan belum. Padahal saya suka menulis buku harian lho. Tadinya saya mau minta tolong ke suami adik saya untuk membuatkan, tapi entah kenapa, sejak mengirim SMS terakhir tadi, dia jadi susah dihubungi. Pas saya hubungi adik saya, tanggapannya judes. Jadi bingung.

Kenapa Anda meng-claim musik Anda sebagai dangdut hiphop pertama di Indonesia?
Ya karena memang yang pertama kan? Dulu saya sempat dengar Bang Oma hendak duet dengan Iwa K, atau Martabak Manis, atau siapa gitu bintang hiphop lokal, tapi entah kenapa tak terdengar lagi perkembangannya. Syukur juga, karena dengan begitu saya bisa mengklaim sebagai penyanyi dut-hop pertama.

Ide siapa untuk menggabungkan dangdut dan hiphop?
Itu ide saya dan Bang Feri. Yah, namanya juga persaingan industri, harus punya ciri khas kalau mau laku. Dangdut koplo, dangdut rock, dangdut house, dangdut keroncong, semua sudah ada. Pilihannya tinggal dangdut seriosa atau dangdut hip-hop. Akhirnya kami memilih dangdut hip-hop. Lebih gampang nge-rap daripada nyanyi seriosa, sumpah.

Momen apa yang membuat Anda memutuskan untuk jadi penyanyi dangdut?
Menonton Aneka Ria Safari, suatu malam di tahun 1989. Di luar hujan rintik-rintik, di layar tampil Itje Trisnawati membawakan “Duh Engkang”. Saat itu juga, saya tahu kalau sudah besar mau jadi apa.

Bagaimana Anda memandang industri dangdut di Indonesia?
Semuanya serba ketat. Ya persaingannya, ya kostum panggungnya. Untung postur tubuh saya oke, jadi memakai kostum ketat pun tidak masalah.

Anda gagal di reality show dangdut. Bagaimana rasanya?
Seperti dicambuk, lalu lukanya dikecruti jeruk nipis pakai madu. Sakit karena ditolak, tapi manis karena bisa bertemu idola saya, seorang diva dangdut yang saat itu menjadi juri.

Kenapa Anda ingin sekali jadi superstar?
Kalau hanya jadi bintang, di langit juga banyak, Kang.

Anda punya goyangan khusus?
Ada dong. Namanya goyang dongkrak. Jadi suatu hari ban mobil saya kempes, terpaksa deh saya mengganti ban sendiri. Saat mendongkrak itulah saya dapat ide untuk membuat sebuah goyangan baru. Seperti ini nih… (Mieke pun memperagakan sebuah gerakan yang super sensual, mirip orang mendongkrak, tapi dengan pantat ketimbang tangan.) Anehnya Kang, sewaktu mogok itu ada banyak lelaki yang mengerubungi, tapi tak satu pun yang mau menolong.

Rasanya semua jenis goyangan sudah diambil penyanyi dangdut. Bagaimana Anda melihat fenomena ini?
Buat saya, ini bagian dari tuntutan zaman. Dulu, menyanyi saja sudah cukup. Sekarang perlu ditambah goyangan. Siapa tahu, beberapa tahun lagi, penyanyi dangdut sukses adalah mereka yang bisa nyanyi, goyang dan main sulap sekaligus. Dan beberapa tahun kemudian, nyanyi, goyang, main sulap dan pidato. Makanya saya sedang berpikir untuk mendaftar di sekolah sulapnya Kang Dedy Corbuzier, atau sekolah… Errr… Apa namanya? Robert Baden Powell?

John Robert Powers.
Iya. Itu.

Kenapa sih banyak penyanyi dangdut kalau bernyanyi selalu mendesah?
Yah, lebih baik mendesah daripada mengigau, Mas.

Katanya Anda gila seks. Benarkah itu? Segila apa sih?
(Tersenyum nakal) Benar nih Mas Soleh mau tahu?

(tertawa gugup). Kalau begitu, saya percaya saja deh. Bagaimana rasanya punya album rekaman?
Yang pasti, jauh lebih menyenangkan daripada punya album foto.

Apa yang menyenangkan dari bernyanyi di kafe Pasar Rumput?
Yah, selain bisa dapat uang, saya senang di sana bisa ketemu berbagai macam orang. Seperti investor yang membiayai album saya, itu ketemunya di Pasar Rumput. Dia bos karaoke dan panti pijat di Blok M, tapi suka dangdut. Orang yang menawarkan kerja sebagai manajer Bakmi Yona juga ketemunya di Pasar Rumput. Pokoknya bagus banget buat netwokring.

Apa?
Netwokring. Itu loh, yang kenal banyak orang buat bisnis.

Oooo… Networking!
Iya, netwroking.

Bagaimana suasana kafe di Pasar Rumput?
Wah, meriah, Kang. Apalagi saat tanggal muda. Acara di Dragonfly jadi seperti pesta ulang tahun anak SD.

Penyanyi dangdut di kafe, biasanya identik dengan perempuan nakal. Bagaimana dengan Anda?
Saya lebih suka menyebut diri saya ‘berjiwa petualang’. Ke mana jalan mengalir, ke situlah saya akan berhembus. Dan masalah nakal atau tidak kan sebetulnya juga kembali ke individualnya masing-masing pribadi. Dan tergantung kacamata yang digunakan. Kalau kacamatanya belum dilap, mungkin kelihatannya begini. Kalo kacamatanya bersih, ya kelihatannya begitu. Jangan mentang-mentang musiknya kafe dan mainnya di dangdut, lalu dicap nakal. Walaupun… Saya akui, oknum itu pasti ada. Di semua profesi juga begitu, bukan?

Digodek-godek itu sebenarnya sedang diapain?
Ini kembali tergantung pada kacamata yang kita gunakan. Dari kacamata dugem, orang godek-godek jelas orang yang menikmati dugemnya. Dari kacamata polisi, orang godek-godek berarti orang yang menolak tuduhan kalau dia maling. Dari kacamata pejalan kaki, orang godek-godek berarti orang yang mau menyeberang. Dari kacamata Mieke… (tertawa nakal) Pastinya menggodek karena kenikmatan.

Apa nikmatnya digodek-godek sehingga Anda sampai harus merem melek begitu?
Beda orang tentu beda ekspresi kenikmatan. Ada yang ngiler. Ada yang memelet. Ada yang mematuk. Nah, kalau saya merem melek.

Apakah kita harus selalu sedia lap setiap saat ingin menggodek Anda?
Tergantung. Kalau godekan Anda kurang mantap, lap itu mungkin tidak diperlukan, karena saya tak mungkin becek.

Kalau kita digodek Anda, apakah akan sampai becek juga?
Mungkin saja. Tapi beceknya setelah digodek, bukan saat digodek. Kalau saat digodek sudah becek, wah, stamina Anda perlu dipertanyakan.

Kalau “Gelinjang Cinta,” itu bercerita tentang apa?
Gelinjang Cinta kisah tentang seorang gadis yang dari awal terus menuruti apa perkataan sang kekasih. Sang kekasih mau ke kiri, ia ikut ke kiri. Sang kekasih mau ke kanan, ia ikut ke kanan. Seperti tidak punya pendirian dan identitas. Akhirnya si gadis tak tahan dan memutuskan cintanya tatkala sang kekasih hendak menduakannya.

Dengan gadis lain?
Bukan, dengan lelaki lain.

Dari mana Anda mendapatkan kostum?
Yang mendesain asisten dan make-up artist saya. Namanya Memed. Dia memang punya usaha sendiri, namanya MmmmMemed Modiste & Vermak Levis. Lumayan, jadi lebih hemat.

Anda merasa seksi jika memakai pakaian apa?
Selama pakaiannya ada corak berwarna hijau spotlight atau shocking pink, selama berpayet, selama berumbai dan selama ketat menempel, saya pasti selalu merasa seksi saat mengenakannya.

Siapa idola Anda untuk urusan fashion?
Gabungan antara Marilyn Monroe, Itje Trisnawati dan Rama Aiphama. Ketiga sosok itu yang selalu saya jadikan panutan.

Bagaimana ceritanya Anda bisa bermain film?
Kebetulan casting director film itu, namanya Dimas, pacaran sama Iyut, adik Bang Feri, produser saya. Tahu-tahu Iyut hamil. Bang Feri murka, soalnya Iyut itu adik kesayangannya. Dia langsung mendatangi Dimas, lalu Dimas digebukin. Mungkin supaya Bang Feri menghentikan gebukannya, Dimas menjanjikan peran ini. Akhirnya Dimas tak jadi dibuat bonyok oleh Bang Feri. Saya lalu ikutan casting, dan ternyata perannya pas: seorang penyanyi dangdut ibukota. Sutradara suka, produser suka, jadilah saya ikutan.

Sepertinya semua terjadi begitu cepat. Punya album langsung main film. Bagaimana Anda memandang fenomena ini?
Seperti yang saya bilang tadi… Ke mana jalan mengalir, ke situlah saya akan berhembus. Dijalani saja, Kang. Yang penting kita total.