Ngeblog Lagi, Setelah Dua Tahun Berhenti

Halo Blog,

Ternyata dua tahun lamanya saya tak mengunjungimu. Haha.

Bukan cuma karena malas, tapi karena kemarin saya kesulitan masuk. Entah kenapa, dua tahun kemarin, setiap mau masuk, selalu gagal menulis nama akun, email, dan password. Dan biasanya, setiap akhir tahun, teman yang mendaftarkan domain ini selalu mengingatkan untuk diperpanjang. Dua tahun lalu, setelah domain diperpanjang, saya tak bisa masuk, begitu saya kirim pesan Whatsapp, dia tak pernah membalasnya–belakangan saya baru tahu bahwa dia tak aktif memakai Whatsapp dan memilih imessage. Baru beberapa hari lalu, kami berhubungan lewat email, untuk mengingatkan domain yang harus diperpanjang. Dan akhirnya, saya ceritakan persoalan susah masuk situs ini. Dia memberi nama akun yang sudah pernah saya coba, dan berhasil. Padahal, waktu saya coba nama itu, tak cocok. Entah saya yang gaptek, entah dia yang sudah memerbaikinya. Sudahlah. Tak perlu dibahas lagi lah, ya. Yang penting sekarang saya sudah bisa menulis lagi.

Mungkin juga dua tahun kemarin saya tak berusaha mencari solusi dari susah masuk situs ini, karena memang saya juga tak ada mood untuk menulis di sini. Mari kita lihat, apakah semangat saya menulis akan terus ada setelah blog ini bisa saya masuki lagi. Haha.

Belakangan ini, memang saya terlalu asik berkarya lewat seri video wawancara di kanal Youtube saya yang saya beri judul THE SOLEH SOLIHUN INTERVIEW. Lumayan lah, sudah 280 ribu lebih subscribers nya ketika tulisan ini dibuat. Vlog itu memang tak menghasilkan uang, tapi dari vlog itu saya dapat uang secara tak langsung karena akhirnya dapat pekerjaan untuk menjadi pewawancara di kanal Youtube 3Second dan Authenticity.

Saya juga sempat mencoba-coba membuat podcast. Tapi ternyata berkomunikasi sendirian, lebih enak lewat tulisan dibanding lewat lisan. Bicara sendirian kalau ada penontonnya sih, menyenangkan. Tapi bicara sendirian tanpa ada penonton, bukan keahlian saya.

Oya, saya belum cerita soal siapa teman saya yang mendaftarkan domain ini. Namanya Robin Malau. Pernah jadi gitaris band hardcore bernama Puppen–bersama vokalis Arian13 dan drummer Marcell di antaranya. Robin juga yang enam tahun lalu menyuruh saya membuat kanal Youtube, dan bicara soal berkarya di digital adalah sumber mata pencaharian di masa depan. Padahal, tahun segitu belum terlalu banyak orang jadi kaya dari Youtube. Robin juga yang kemudian menyuruh saya membuat situs yang memakai nama sendiri. Pakai dot com. Tak ada embel-embel wordpress atau blogspot di belakangnya.

Sekarang Robin tinggal di San Jose, California, Amerika Serikat. Saya tak tahu apa yang dia kerjakan di sana. Kalau di bio Instagramnya sih, dia menulisnya: Aspiring Product Manager. Kalau dia membaca tulisan ini, paling juga dia meninggalkan komentar. Hehe.

Ya sudahlah. Capek nih. Tak tahu lagi mau menulis apa. Semoga di tulisan berikutnya, ada yang lebih menarik dari ini. Hehe.

Luv luv.

Menulis Itu Menyenangkan

Dan saya baru teringat kembali betapa menyenangkannya menulis, seminggu terakhir ini.

Tepatnya sejak mulai aktif menulis blog lagi. Mudah-mudahan ini bukan euforia karena punya blog yang memakai nama sendiri. Meskipun blog ini dari WordPress, tetap saja, memakai nama sendiri. Yah begitulah, Anda tahu maksud saya.

Periode Blogspot, tulisan saya lebih banyak berisi curhat dan kalau dipikir-pikir, cukup mellow juga. Haha. Maklum, jomblo, baru pindah ke Jakarta, masa transisi dari mahasiswa abadi ke dunia kerja, gaji pas-pasan. Mungkin berpengaruh juga ya, ke tulisan.
Periode Multiply, sebelum situs itu menjadi entah apa sekarang saya belum pernah membukanya lagi, lebih banyak berisi jurnalisme musik. Maklum, karena pindah dari Trax Magazine ke Playboy, membuat gairah menulis musik tak tersalurkan dengan baik.

Periode ini, ya belum bisa dinilai. Kan baru. Yang jelas, ketika di Blogspot, tujuan saya menulis karena ingin mencatat apa yang saya alami, lihat, dan rasakan, lalu ketika di Multiply karena ingin menulis musik. Kalau di sini, supaya saya bisa terus menulis. Sebelum punya blog ini, saya cukup lama vakum menulis. Yah hampir dua tahun lah. Kalaupun ada beberapa tulisan yang dihasilkan, itu karena diminta oleh majalah.

Saya merasa, menulis cukup membantu supaya otak saya bekerja. Saya baru ingat, masa ketika saya baru muncul sebagai stand up comedian, inspirasi mengalir deras, otak saya sepertinya bekerja cukup bagus. Belakangan, saya merasa susah sekali mencari inspirasi. Entah karena secara finansial saya tak seperti dulu, sekarang sedikit lebih mapan jadi tak punya banyak masalah. Entah karena saya malas saja.

Tapi, mungkin salah satu penyebabnya adalah karena saya sudah lama tak menulis.

Menulis membantu melatih cara bertutur dan memandang sesuatu. Twitter adalah penyebab saya malas menulis blog lagi. Sebelumnya, Facebook membuat orang-orang di Multiply bubar sehingga tongkrongan di Multiply yang tadinya seru, jadi sepi. Tapi ketika itu terjadi, saya masih mencoba bertahan menulis di Multiply. Lantas ketika Twitter datang, dan saya terjerumus ke dalam microblogging, saya meninggalkan Multiply.

Terlalu sering menulis di Twitter, membuat kemampuan menulis panjang saya jadi agak berkarat. Sebenarnya di satu sisi, Twitter melatih kemampuan kita menulis pendapat hanya dalam 140 karakter [Makanya, say no to twitlonger!], tapi di sisi lain, Twitter membuat saya malas menulis panjang.

Yang menyenangkan dari menulis blog adalah kesempatan mengeluarkan apa yang ada di pikiran. Kalau ternyata, kemudian itu dibaca oleh orang lain, ya itu urusan berikutnya.

Beberapa kali dalam acara bincang-bincang di kampus, banyak mahasiswa yang bertanya, “Bagaimana caranya supaya blog kita dibaca banyak orang?”

Saya sebenarnya tak tahu jawabannya, mungkin blogger terkenal tahu jawabannya. Tapi buat saya sih, menulis di blog itu jangan memikirkan orang lain dulu. Yang penting, hasrat menulis tersalurkan dan tak menulis berita bohong atau fitnah terhadap orang lain. Soal tulisannya bagus, atau jelek atau bakal dibaca orang lain, itu belakangan.

Waktu saya aktif menulis di Blogspot juga tak berpikir bakal dibaca orang lain. Tapi ternyata, beberapa tahun kemudian, ada penerbit yang menganggap tulisan-tulisan itu layak dibukukan. Haha. Yah meskipun tak selaris bukunya Andrea Hirata dan tak membuat saya kaya, tapi lumayan lah, tiga kali naik cetak.

Iwan Fals membuat saya ingin jadi penulis. Entah itu penulis lagu, atau penulis buku, atau apapun lah. Yang penting menulis. Lirik buatan Iwan terdiri dari kata-kata sederhana, mudah dimengerti, tapi bisa menjadi sebuah cerita yang luar biasa ketika didengarkan atau dibaca. Lantas, Sahat Sahala Tua Saragih, dosen di Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran yang membuat saya menyukai kegiatan menulis. Dia lah yang berjasa atas kemampuan saya menulis dan mewawancarai. Intinya, sebagai jurnalis, saya berhutang budi pada Pak Sahala. Seminggu sekali ketika mengambil mata kuliahnya, dia membuat saya rajin membaca. Sebelumnya mah, boro-boro. Seminggu sekali, dia membuat saya menulis, hingga akhirnya lama-lama saya berpikir, “Oh ternyata saya bisa juga menulis, dan sepertinya saya jadi wartawan saja.”

Maklum, sebelumnya saya tak tahu mau jadi apa. Meskipun pernah bercita-cita jadi ustadz dan anggota ABRI, saya tahu cita-cita itu hanya keinginan bocah yang terpesona pada seragam tentara dan kocaknya Zainuddin MZ.

Jadi apa inti dari tulisan ini? Apakah sesuai dengan judulnya? Haha. Yah intinya sih, ini saya sedang mengasah otak saya. Ibarat pisau, kemampuan menulis saya sudah nyaris berkarat nih.

Bagaimana menutup tulisan ini ya? Ya sudahlah. Sekian dulu, terima kasih sudah membaca. Tadinya mau ditutup dengan kalimat yang keren, tapi saya bingung. Yah kalau Anda yang membaca tulisan ini, belum memulai menulis, dan baru mau menulis. Pesan saya: jangan ragu. Menulis saja, karena menulis itu menyenangkan.

Meskipun ayat Qur’an yang pertama kali diturunkan adalah perintah membaca, tapi sebelumnya harus ada yang menuliskan ayat itu kan. Hehe.