Ngeblog Lagi, Setelah Dua Tahun Berhenti

Halo Blog,

Ternyata dua tahun lamanya saya tak mengunjungimu. Haha.

Bukan cuma karena malas, tapi karena kemarin saya kesulitan masuk. Entah kenapa, dua tahun kemarin, setiap mau masuk, selalu gagal menulis nama akun, email, dan password. Dan biasanya, setiap akhir tahun, teman yang mendaftarkan domain ini selalu mengingatkan untuk diperpanjang. Dua tahun lalu, setelah domain diperpanjang, saya tak bisa masuk, begitu saya kirim pesan Whatsapp, dia tak pernah membalasnya–belakangan saya baru tahu bahwa dia tak aktif memakai Whatsapp dan memilih imessage. Baru beberapa hari lalu, kami berhubungan lewat email, untuk mengingatkan domain yang harus diperpanjang. Dan akhirnya, saya ceritakan persoalan susah masuk situs ini. Dia memberi nama akun yang sudah pernah saya coba, dan berhasil. Padahal, waktu saya coba nama itu, tak cocok. Entah saya yang gaptek, entah dia yang sudah memerbaikinya. Sudahlah. Tak perlu dibahas lagi lah, ya. Yang penting sekarang saya sudah bisa menulis lagi.

Mungkin juga dua tahun kemarin saya tak berusaha mencari solusi dari susah masuk situs ini, karena memang saya juga tak ada mood untuk menulis di sini. Mari kita lihat, apakah semangat saya menulis akan terus ada setelah blog ini bisa saya masuki lagi. Haha.

Belakangan ini, memang saya terlalu asik berkarya lewat seri video wawancara di kanal Youtube saya yang saya beri judul THE SOLEH SOLIHUN INTERVIEW. Lumayan lah, sudah 280 ribu lebih subscribers nya ketika tulisan ini dibuat. Vlog itu memang tak menghasilkan uang, tapi dari vlog itu saya dapat uang secara tak langsung karena akhirnya dapat pekerjaan untuk menjadi pewawancara di kanal Youtube 3Second dan Authenticity.

Saya juga sempat mencoba-coba membuat podcast. Tapi ternyata berkomunikasi sendirian, lebih enak lewat tulisan dibanding lewat lisan. Bicara sendirian kalau ada penontonnya sih, menyenangkan. Tapi bicara sendirian tanpa ada penonton, bukan keahlian saya.

Oya, saya belum cerita soal siapa teman saya yang mendaftarkan domain ini. Namanya Robin Malau. Pernah jadi gitaris band hardcore bernama Puppen–bersama vokalis Arian13 dan drummer Marcell di antaranya. Robin juga yang enam tahun lalu menyuruh saya membuat kanal Youtube, dan bicara soal berkarya di digital adalah sumber mata pencaharian di masa depan. Padahal, tahun segitu belum terlalu banyak orang jadi kaya dari Youtube. Robin juga yang kemudian menyuruh saya membuat situs yang memakai nama sendiri. Pakai dot com. Tak ada embel-embel wordpress atau blogspot di belakangnya.

Sekarang Robin tinggal di San Jose, California, Amerika Serikat. Saya tak tahu apa yang dia kerjakan di sana. Kalau di bio Instagramnya sih, dia menulisnya: Aspiring Product Manager. Kalau dia membaca tulisan ini, paling juga dia meninggalkan komentar. Hehe.

Ya sudahlah. Capek nih. Tak tahu lagi mau menulis apa. Semoga di tulisan berikutnya, ada yang lebih menarik dari ini. Hehe.

Luv luv.

Film Pertamaku Kurang Laku, tapi Siap Tayang Film Kedua!

Halo Blog.

Tak terasa, sudah tahun 2018 ya.

Tahun 2017, cukup banyak yang terjadi, tapi yang paling besar sih, saya jadi sutradara. Yah, belum seratus persen sih, masih tandem sama Monty Tiwa, tapi lumayan lah. Tak semua orang bisa dapat kesempatan jadi sutradara. Beberapa hari lalu saja, ada orang yang bikin status di Facebook dan bilang dia tak akan mau nonton film yang disutradarai oleh stand-up comedian karena tak melalui proses seperti yang biasa dilalui orang film, tahu-tahu diminta jadi sutradara sama produser PH. Tulisan orang itu, menyadarkan saya bahwa meskipun saya belum sepenuhnya jadi sutradara, tapi itu tetap kesempatan emas.

Film pertama saya, “Mau Jadi Apa?” tak terlalu sukses secara penjualan. Setelah 2 minggu bertahan di bioskop, hanya mencapai angka 126 ribuan penonton. Jika dibandingkan film yang mencapai belasan atau puluhan ribu sih, ya angka ini lumayan. Tapi kalau dibandingkan film yang jutaan penonton, tentu saja angka ini kecil. Kecewa tentu saja ada. Bohong kalau tak kecewa. Saya pikir, minimal 300 ribuan mah bisa lah. Eh ternyata, boro-boro. Haha. Tapi kemudian ada yang membuat saya tak kecewa berlama-lama. Saya ingat salah satu dialog yang diucapkan Joe Project P di film “Mau Jadi Apa?” di mana dia bilang, “Men Sana In Prosesano” kepada saya di salah satu adegan. “Kalau prosesnya ke sana, tapi hasilnya ke sono, nggak apa-apa. Yang penting Soleh sudah berusaha,” begitu kata Joe kepada saya di film.

Rupanya kalimat itu tak cuma sesuai konteks dengan adegan di film saja, tapi di kehidupan nyata. Setidaknya saya dan tim sudah berusaha semaksimal mungkin membuat film yang bagus [setidaknya buat kami], dan sudah berusaha semaksimal mungkin untuk mempromosikannya. Tapi ya, hasilnya begitu.  Kata mereka yang sudah nonton sih, film “Mau Jadi Apa?” bagus. Kalaupun ada komentar negatif soal cerita, tak terlalu membuat saya sakit hati, karena toh memang saya sudah sadar kekurangan itu. Haha. Lagipula, komentar negatif mah tak terlalu berpengaruh pada saya.

Entah apa yang membuat film “Mau Jadi Apa?” kurang sukses. Bisa jadi karena posternya tak menarik. Foto paling besar di poster itu, mamang-mamang gondrong yang kurang terkenal. Bisa jadi karena temanya kurang menarik buat orang awam. Kisah nyata soal hidup Soleh Solihun yang menerbitkan majalah kampus sepertinya tema yang sangat sempit. Haha. Bisa jadi karena promonya kurang sasaran. Ada salah seorang penonton yang bilang, harusnya dari awal promonya menyasar ke orang-orang tua alias generasi 90-an, karena film “Mau Jadi Apa?” kental sekali dengan nuansa 90-an. Bisa jadi juga karena di saat yang bersamaan, ada 2 film horror lokal sedang tayang. Atau ya memang film saya bukan termasuk dalam daftar prioritas orang. Soalnya, banyak sekali teman yang bilang, “Gua belum sempet nonton filmlu euy. Udah turun ya?”

Yah begitulah. Semoga produser tak kapok meminta saya jadi sutradara. Haha. Tapi, ada satu kejadian yang paling berkesan dari film “Mau Jadi Apa?”.  Satu hari, ketika sedang promo di Paskal 23, Bandung, di sesi tanya jawab, ada seorang penonton yang bertanya.

“Saya temen kampusnya Soleh. Masih ingat nggak? Dulu saya pernah sakit dan ingatan masa kampus hilang, tapi setelah nonton film ‘Mau Jadi Apa?’ tau-tau ingatan saya waktu kuliah bermunculan. Saya mau bilang makasih,” katanya.

Begitu saya menengok, saya baru sadar. Dia Yandi Adrian. Saya pernah dengar kabar soal Yandi yang ada tumor di kepalanya dan sejak tahun 2000 tak pernah ke kampus. Dia tak kenal siapa teman-temannya, bahkan pacarnya sekalipun. Maka, 17 tahun sejak Yandi menghilang dari kampus, saya bertemu dengannya siang itu.

Dia tersenyum ketika saya sebutkan nama lengkapnya.

“Wah. Masih inget ternyata,” katanya.

Dia lantas bercerita. Memang, sejak tahun 2000 dia tak ingat siapa-siapa. Bahkan yang paling membuatnya sedih, dia tak ingat surat al-Fatihah. Sejak tahun 2000 hingga 2004 [kondisinya mulai membaik] dia hanya diam di rumah. Beberapa kali ada teman berkunjung ke rumahnya, tapi tak dia kenali. Tahun 2006 dia kuliah lagi di Universitas Indonesia, mengambil jurusan Manajemen dan sejak lulus dari sana, dia kerja di Depok. Saya lupa dia lulus tahun berapa. Ketika saya muncul di Metro TV, keluarganya selalu bilang bahwa saya teman sekampusnya, tapi dia tak ingat. Yandi juga ingat, satu hari pernah bertemu dengan teman sekampus, dan dia tak bisa mengingat seperti apa mereka semasa di kampus.

“Pas gua denger ada film tentang Fikom Unpad angkatan ’97, gua penasaran,” kata Yandi.

 

YANDI

 

Ternyata, sejak adegan pembuka, adegan ospek, ingatan mengalir deras di kepalanya. Melihat nametag di salah satu figuran bernama Arbow, dia ingat Arbow yang rumahnya di Lembang. Melihat nametag di salah satu figuran yang bernama B’kur, Yandi tiba-tiba ingat sosok B’kur, yang anak Cimahi, bapaknya penjahit dan punya usaha bernama Darto Tailor. Melihat Arif Zaidan muncul di adegan akhir, dia ingat bahwa itu juga teman SMP nya, teman-teman memanggilnya Zaidan tapi Yandi memanggilnya Arif. Melihat sosok Ricky Wattimena, Yandi ingat sosok Hani Syarief alias Arab. Yandi ingat bahwa Arab sering memamerkan penisnya. Dia bingung, ingatan ini hanya imajinasinya atau benar-benar terjadi? Makanya dia penasaran ingin konfirmasi kepada saya. Sejak masih di bioskop, hingga pulang ke rumah, ingatan terus mengalir deras. Yandi tak bisa tidur, karena dia terus mendapat kilasan ingatan. Dia sering tertawa sambil mengingatnya. Tapi tetap tak yakin apakah semua kejadian lucu itu imajinasinya saja atau benar terjadi.

Ini adalah berkah film “Mau Jadi Apa?”.

Terima kasih buat kamu yang sudah nonton film itu. Dan buat yang kemarin merasa benar-benar menyesal karena ketinggalan film saya di bioskop, kalau begitu jangan ditunda lagi ketika film kedua saya tayang di bioskop.

31 Desember 2017, saya menyelesaikan proses syuting film kedua saya yang berjudul “Reuni Z.” Timnya sebagian besar masih tim yang sama dengan film “Mau Jadi Apa?” Skenario masih digarap bareng Aga dan Ogi, sutradara juga bareng Monty Tiwa. Kali ini kami di bawah rumah produksi RAPI Films, yang dua tahun berturut-turut tiga filmnya laris manis tanjung kimpul: “Hangout” [2016] 2,6 jutaan, “Dear Nathan” [2017] 800 ribuan, dan “Pengabdi Setan” [2017] lebih dari 4 juta penonton. Film “Reuni Z” dalam satu kalimat bisa ditulis begini: di sebuah reuni SMA terjadi zombie outbreak.

Ide awalnya dari Aga dan Ogi, yang kemudian dibantu saya untuk mengembangkan cerita. Kesamaannya dengan film “Mau Jadi Apa?” adalah sisi musiknya. Meskipun ini film komedi zombie, tapi salah satu yang membedakan film ini dengan banyak film zombie lainnya adalah bahwa ini berhubungan erat dengan musik. Saya tak bisa menjelaskan lebih lanjut. Soalnya, trailer belum dibuat, kalau saya tulis lebih detil, kuatir nanti tak jadi masuk trailer, malah spoiler di sini. Dan Lalieur Laleuleus Paregel, band kampus saya yang membuat soundtrack film “Mau Jadi Apa?” dengan judul “Balada Soleh Solihun”, kali ini juga membuat lagu khusus untuk film “Reuni Z,” dengan judul “Aku Mau Kamu Tahu Aku Mau Kamu.”

Saya bernyanyi di lagu ini. Seumur hidup belum pernah rekaman, bahkan menyanyi sendirian di panggung pun belum pernah, tahu-tahu rekaman. Haha. Saya melakukan ini karena di film “Reuni Z”, saya punya band bernama Kagok Edan bersama Tora Sudiro, Dinda Kanyadewi, dan Ayushita. Saya vokalis/gitaris di sana, makanya saya benar-benar merekam lagu itu, demi jujur pada penonton. Haha. Oya, saya juga belajar memainkan gitar demi film ini. Jadi ya, harapannya sih, ketika di layar, tak terlihat terlalu kaku. Agak luwes dikit lah. Hehe.

Film “Reuni Z” bakal tayang di bioskop mulai 12 April 2018. Ini beberapa foto dari lokasi syuting. Kalau mau lihat lebih banyak, cek Instagram: @filmreuniz  di sana akan diupdate foto baru setiap hari. Selain nama yang sudah saya sebutkan tadi, ada Surya Saputra, Fanny Fabriana, Cassandra Lee, Cut Beby Tshabina, Kenny Auztin, Ence Bagus, Joe P Project, Verdi dan Henky Solaiman, Anjasmara dan Dian Nitami, Bianca Liza, Adit Insomnia, Ricky Wattimena, Ibob Tarigan, serta beberapa nama lainnya.

Yah, semoga saja film “Reuni Z” lebih laku dibandingkan film saya sebelumnya. Soalnya, belum apa-apa, produser sudah membanding-bandingkan film ini dengan film laris mereka yang lain. “Kita bikin lebih gila dari Hangout, Leh. Kita harus lebihin Hangout.”

Sungguh sebuah kalimat yang membebani. Hahahahaha.

 

DSC_0172 DSC_0052 DSC_0231 DSC_0452 DSC_0459 DSC_0586 DSC_0622 DSC_0833 DSC_0900 DSC_1033

 

 

 

Celoteh Akhir Tahun

Hai blog, lama tak jumpa. Haha.

Tak terasa ya, 2015 tinggal hitungan jam. Kayaknya baru kemarin mengucapkan selamat tahun baru 2015. Nah, karena ini hari terakhir di 2015, saya mau bercerita sedikit alias merangkum alias bersyukur alias sok merenung bijak atas apa yang telah terjadi selama 2015.

Tahun ini, begitu banyak kisah suka, tapi ada satu kisah duka: bapak saya meninggal. Ini adalah momen paling sedih dalam hidup saya. Bapak pergi tanpa merepotkan keluarganya, seperti juga semasa hidupnya. Dia pergi begitu mendadak, tanpa sakit apa-apa. Bahkan, sehari sebelum meninggal, hasil general check up bilang, bapak sehat wal afiat. Semoga bapak tenang di alam kuburnya, diterangkan da diluaskan kuburannya, diterima amal ibadahnya.

Kalau kisah suka, saya jalan-jalan 10 hari di London bersama Tetta. Biarpun puasa 18 jam tapi tak terasa. Lumayan lah, minimal kalau harus jalan-jalan ke Eropa lagi pada saat puasa, saya sudah punya pengalaman. Semoga Garuda Indonesia memberi kami lagi kesempatan jalan-jalan di tahun 2016. Hehe.

Tahun ini juga saya membuat pertunjukkan stand up saya yang pertama: Majelis Tidak Alim. Tadinya mau tur ke beberapa kota, tapi ternyata tak terwujud. Tak apa lah. Setidaknya, saya sudah punya dvd dan akhirnya materinya juga jadi buku. Minimal, karya saya sudah terdokumentasikan. Jadi, kalau di kemudian hari, anak cucu bertanya soal pekerjaan saya yang stand up comedian, saya punya bukti berupa karya. Tahun 2015, dibuka dengan Majelis Tidak Alim Jakarta pada 31 Januari, dan ditutup dengan Majelis Tidak Alim Bandung pada 12 Desember. Yang di Jakarta sold out, tapi sponsor minim. Yang di Bandung tak sold out, tapi ada dua sponsor yang membiayai produksi. Dan setidaknya, saya tak penasaran lagi. Saya tahu, bahwa saya bisa juga bikin special show, bahkan saya bisa stand up selama 2 jam 45 menit. Tahun 2016, saya mau bikin lagi, tapi dengan judul yang berbeda. Kalau 2015 temanya agama, tahun 2016 saya mau bikin dengan tema musik ah, karena sik sik musik aku suka musik.

Tahun ini, akun Twitter saya mendapat verifikasi, alias dicentang biru. Yah meskipun dicentang pada saat Twitter sudah tak seramai dulu [alay lari ke Instagram, teman-teman lari ke Path], tapi setidaknya gaya lah. Baru 3 comic yang dicentang biru sejauh ini: Raditya Dika, Ernest Prakasa, dan saya. Belum bisa bikin kaya, tapi lumayan bikin gaya. Hehe.

Tahun ini juga, saya terlibat di program televisi yang tayang setiap hari: Celebrity Lip Sync Battle Indonesia [awalnya bernama Celebrity Lip Sync Combat]. Meskipun secara rating belum tinggi, ya alhamdulillah pekerjaan ini sangat menyenangkan dan membuat dapur mengebul. Hehe. Semoga tahun 2016 program ini masih tayang di NET.

Apa lagi ya? Oh iya, program Karikatur Negeri di TV One akhirnya dibungkus. Setelah 3 tahun mengudara, selesai juga. Mereka merombak sebagian besar tayangannya, dan Karikatur Negeri termasuk yang terkena perombakan. Semoga 2016 ada lagi yang mau menawarkan saya sebagai pembawa acara kesayangan. Hehe.

Niat aktif mengisi blog ternyata masih sebatas niat. Sempat semangat di awal, tapi sepertinya saya hanya manis di bibir. Semoga 2016, saya bisa lebih aktif menulis di sini ya. Dan oya, sebenarnya masih ada hutang saya sejak 2006: merampungkan biografi Puppen. Haha. Saya jadi tak enak setiap ketemu Arian dan Robin, buku itu tak kunjung selesai juga. Saya malah sudah menulis dua buku sejak rencana menulis buku biografi Puppen dibuat.

Oya, bicara soal buku. Majelis Tidak Alim hingga saat ini belum jelas, apakah bakal tersedia di Gramedia atau tidak. Kata penerbit, pihak Gramedia tak mau menjual buku saya karena ada materi yang dianggap mereka berbau pornografi. Saya tak tahu bagian mana, padahal tak ada tentang orang bercinta di dalamnya. Tak ada juga cerita soal posisi bercinta seperti yang biasa ada di majalah perempuan yang dijual bebas di Gramedia. Hehe.

Buku-buku saya sebelumnya, dijual di Gramedia saja tak terlalu laku, apalagi tak dijual di Gramedia ya. Haha. Eh tapi di toko buku lainnya macam Gunung Agung dan Toga Mas sih ada. Apa saya harusnya jual di KFC saja ya? Sudah pasti laris. Yah kita lihat saja nanti bagaimana nasibnya buku Majelis Tidak Alim.

Eh iya, program stand up comedy makin banyak di televisi lain selain Metro TV dan Kompas TV. Yang paling terkenal sih, sekarang Stand Up Comedy Academy di Indosiar. Saking terkenalnya program itu, saya sering sekali dapat pertanyaan, “Nggak ikutan di Indosiar?”

Saya mah, setia sama Metro TV. Haha.

Karena tv lain tak mengajak saya. Hahaha.

Kalau ada acara pencarian bakat penyanyi, para penyanyi yang tak tampil jadi bintang tamu di acara itu tak pernah ditanya soal mereka tak ikutan jadi bintang  tamu di sana, kan. Tapi kalau stand up comedy, seakan-akan kalau saya tak tampil di sana, kurang diakui sebagai stand up comedian. Haha.

Padahal kan, bisa saja karena budget tak cocok, atau karena jadwal tak cocok. Atau, ya karena produser acara itu tak merasa saya lucu. Haha.

Sudah ah, curhatnya. Mari kita tutup celoteh akhir tahun ini dengan doa.

Semoga 2016 saya bisa bikin special show lagi.

Semoga 2016 saya bisa jalan-jalan dibayarin lagi.

Semoga 2016 saya kebeli motor Triumph.

Semoga 2016 duit saya makin banyak.

Semoga 2016 FPI tak sweeping lagi.

Semoga 2016 mbak-mbak ITC tak ngomong kastamer lagi.

Semoga 2016 masih banyak perempuan yang memakai legging dan skinny jeans.

Semoga 2016 tak ada lagi mas-mas yang jalan-jalan make polo shirt kerah naik plus celana pendek plus sendal hotel.

Semoga 2016 hidup kita makin bahagia dan sejahtera.

Yuk, Datang ke Majelis Tidak Alim Cabang Bandung!

Buat yang sudah pernah membaca soal pertunjukkan tunggal saya yang berjudul Majelis Tidak Alim, dan mungkin juga pernah membaca bahwa saya berencana membawa pertunjukkan ini ke beberapa kota setelah 31 Januari lalu digelar di Jakarta, ini perkembangan dari rencana itu.

Saya tak jadi membuat tur Majelis Tidak Alim, karena saya tak punya waktu. Haha. Kata orang, waktu adalah uang. Tak ada yang mau jadi sponsor, artinya saya tak punya waktu. Yah, manusia merencanakan, Tuhan menentukan. Hehe.

Biar tidak terlalu penasaran, maka saya memutuskan untuk menggelar Majelis Tidak Alim edisi Bandung. Kota kelahiran saya, sekalian penutup. Gaya ya. Pembuka, langsung penutup. Tak ada tengahnya. Haha.

Sabtu, 12 Desember 2015, mulai jam 7 malam, di Gedung New Majestic, Braga, Majelis Tidak Alim cabang Bandung akan digelar. Selain saya, ada tiga komika yang akan tampil duluan: Wanda Urban [orang Sunda, penyiar radio, MC, komika dari Bandung], Bene Dion [orang Batak, pernah tinggal di Jogja tapi sekarang merantau ke Jakarta, dan baru bergabung di HAHAHA Corp alias manajemen saya], dan Ricky Wattimena [blasteran Ambon dan Sunda, warga Depok, mahasiswa, dan peserta Stand Up Comedy Academy di Indosiar].

Oke, mengenai harga tiket yang Rp 150 ribu. Kata teman saya yang orang Bandung, itu termasuk mahal. Tapi kalau menurut saya, itu seharga kaos distro, dan bahkan pulsa sebulan. Kalau itu perbandingannya, maka harganya relatif murah. Lagipula, dengan kapasitas 300 an kursi, maka kalau tiket saya dijual di bawah angka itu, maka saya akan rugi bandar. Jadi sodara-sodara, mohonlah pengertian, bahwa harga segitu memang karena ongkos produksi yang tak murah.

Tiket bisa dibeli di hahaha-store.com sejak 12 November sore hingga seminggu kemudian. Setelah itu, Anda juga bisa menghubungi @omuniuum atau datang langsung ke sana membeli tiket.

Buat Anda yang ingin tahu seperti apa Majelis Tidak Alim Jakarta, baca tulisan penuh riya ini ya. Hehe.

Semoga informasi ini cukup membantu Anda yang tertarik datang ke Majelis Tidak Alim cabang Bandung. Doakan semoga tiket habis terjual ya. Hahaha. Amiin!

Kalau mau langsung membeli tiket, langsung ke sini ya –> http://bit.ly/mtabandung

Sampai jumpa di New Majestic!

 

Soleh_revisi2

Kangen Lagu Parodi

Bukan kangen nama band, ya, tapi kangen rindu. Saya sih tak kangen sama Kangen Band. Mungkin ada di antara Anda yang kangen sama Kangen Band tapi malu untuk mengakuinya. Kalau pake kata rindu, rasanya terlalu cinta-cintaan. Ah, ini kenapa jadi malah membahas kata kangen? Maafkan, ya.

Ide tulisan ini sebenarnya karena saya tadi baru mendengarkan kembali rekaman Warkop DKI. Meski ada beberapa lagu orisinil ciptaan mereka, lagu parodinya justru yang paling mengena. Salah satunya lagu “Rock and Roll Music” karya Chuck Berry yang dinyanyikan dengan irama orkes melayu. Menabrakkan rock and roll dengan orkes saja, sudah sesuatu yang menarik, belum lagi liriknya yang mengundang senyum.

Saya sebenarnya tak dibesarkan oleh karya Dono Kasino Indro, karena bapak saya tak pernah membeli kasetnya ketika saya kecil dulu. Nama Warkop saya kenal hanya lewat film-film lebarannya. Kaset lawaknya, waktu kecil saya belum pernah mendengarkannya. Makanya, saya waktu kecil tak tahu bahwa Warkop DKI juga menyanyikan lagu parodi.

Yang paling mewarnai kehidupan masa kecil saya adalah album dari Orkes Moral Pengantar Minum Racun, dengan lagu “Judul-Judulan” yang sampai sekarang masih disukai oleh mereka yang bahkan baru mendengarnya pertama kali. Itu adalah album parodi pertama yang saya sukai. Ketika saya ikut jambore pramuka sekecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor pada akhir ’80-an, saya menyanyikan lagu dari PMR pada saat lomba antar grup. Saya menyanyikan “Kau Pergi Pulang Pingsan” dengan iringan teman-teman yang memukul-mukul alat masak. Dalam benak sih, terasa penuh harmoni, tapi saya rasa berantakan, karena kami tak jadi juara.

Di pertengahan ’90-an kemudian hadir P Project, yang dulu bernama Padhayangan Project. Mereka adalah duta humor ala mahasiswa di era itu. Menggoyang industri musik Indonesia dengan lagu “Nasib Anak Kost”. Saya tak pernah menyukai versi aslinya alias lagu “That’s The Way Love Goes” dari Janet Jackson, sebelum saya mendengar versi P Project. Di antara semua personel P Project, saya paling suka pada Joe alias Juhana. Wajahnya sangar, urakan, tapi super kocak. Sosok salah satu laki-laki jantan buat saya, ya Joe. Haha. Maka, sekarang setiap saya mendengar “Come As You Are” dari Nirvana, pasti terbayang “Kambing Liar” yang dinyanyikan Joe. Begitu juga dengan “What’s Going On” dari 4 Non Blondes, selalu teringat “Lampu Neon” dengan lengkingan khas Joe, “Inah. Gunakanlah selalu lampu neon!” Salah satu lagu parodi paling cerdas. Secara pengucapan, mirip dengan lirik aslinya. Secara tema, aktual pada masanya. Mereka yang besar di era ’90-an pasti ingat dengan iklan layanan masyarakat soal penggunaan lampu neon daripada lampu bohlam.

Ada kesamaan antara P Project dengan Warkop DKI. Selain menyanyikan lagu parodi, mereka juga grup lawak. Acara Project P di SCTV adalah salah satu hiburan paling menarik buat saya di era ’90-an. Mereka yang pernah menyaksikan acara ini, pasti tak akan lupa episode parody Star Trek di mana Joe menjadi Klingon dan di dahinya ada kue pancong yang meniru bentuk wajah Klingon.

Setelah era P Project, sepertinya tak ada lagi yang berhasil secara komersil membuat lagu parodi. Grup macam Timlo memang menyanyikan lagu parodi, tapi tak jadi hits dan menurut saya, tak secerdas P Project atau Warkop DKI atau PMR.

Sebenarnya, yang berpotensi sukses menyanyikan lagu parody adalah Ronal Surapradja. Di Jak FM tempat dia siaran, ada segmen di mana dia dan Tike menyanyikan lagu parodi. Lirik-lirik parody Ronal – Tike menurut saya mendekati daya tarik lirik parody P Project. Yah ada di kelas yang sama, lah.

Sayang, Ronal tak menjadikan itu sebagai pilihan karir bermusiknya. Dia malah membuat album disko sebagai Ronaldisko dan album rock sebagai Rocknal. Tak jelek sih musiknya, cuma ya publik lebih dulu mengenal dia sebagai pelawak, sosok humoris, sayang sekali ketika dia bermusik, malah menyanyikan lirik-lirik yang tak humoris. Padahal, kalau melihat sejarah dari Warkop DKI dan P Project, Ronal sepertinya lebih besar kemungkinan suksesnya kalau menyanyikan lagu parodi, seperti yang dilakukannya di radionya. Yah tak perlu semuanya sih, mungkin sebagian.

Yah memang, lagu parodi kalau dilihat dari sisi musikal, mungkin tak bisa dibanggakan seperti karya orisinal. Tapi lagu parodi bisa memberikan hiburan yang tak bisa didapat dari lagu lain. Membuat tertawa dan berpotensi membuat lagu aslinya yang tadinya tak menarik didengar, jadi menarik didengar. Kalau buat saya, P Project yang paling berhasil dalam hal ini. “Want You Back” jadi “Mencontek”, “I Can Love You Like That” jadi “Antrilah di Loket”, hingga “Sweat A La La Long” jadi “Anjingku Melolong.”

Kalau bicara era, maka setiap era sudah ada perwakilannya. Sekarang tinggal era 2000-an yang belum muncul nama untuk lagu parodi. Sebentar ya, saya tadi mau cari kalimat penutup yang bagus untuk tulisan ini. Tapi saya kehabisan ide. Maunya sih ditutup oleh kalimat yang lucu, biar menghibur. Tapi apa daya, saya sedang tak punya ide segar.

Ah, seandainya ada lagu parodi dari masa kini yang bisa menghibur saya.

Sepuluh Hari di London Oh London

Tagihan kartu kredit baru datang, jadi ingat juga saya punya hutang menulis soal cerita jalan-jalan kemarin di London. Hehe.

Buat yang sudah baca tulisan sebelumnya, pasti tahu dong, saya jalan-jalan ke London selama bulan puasa kemarin. Sepuluh hari. Saya dan Tetta berangkat naik Garuda Indonesia, yang mendapat predikat lima bintang dari Sky Trax—organisasi independen pemberi peringkat pada maskapai penerbangan di seluruh dunia.

Selasa, 23 Juni 2015, jam sebelas malam pesawat kami lepas landas. Sepertinya kalau perjalanan ke luar negeri yang lebih dari lima jam, selalu berangkat malam. Kalau data ini salah, maafkan saya, jam terbang saya keluar negeri masih sedikit. Hehe. Tapi enaknya berangkat malam, ya begitu duduk di pesawat, tak sulit untuk bisa tertidur. Tentu saja setelah makan malam disantap. Hehe. Sayang kalau tidak dinikmati, rejeki jangan ditolak. Apalagi perut lapar.

suasana di dalam garuda indonesia.

Dan salah satu kenikmatan naik Garuda Indonesia keluar negeri adalah, kalau mau minta apa-apa ke pramugari, lebih nyaman. Beda kalau harus minta sesuatu ke pramugari di maskapai asing yang tak ada yang bisa berbahasa Indonesia. Berhubung English saya Sundanglish alias speak English with Sundanese accent dengan grammar yang sering berantakan, kalau harus berkomunikasi dengan bule, pasti butuh energi lebih. Apalagi ke bule cewek. Rasanya dua kali lebih intimidatif. Makanya, ketika bilang ke pramugari bahwa saya puasa dan nanti tolong dibangunkan kalau tiba waktunya buat sahur, jadi jatah sarapan saya diganti ke makan sahur saja, itu lebih mudah. Bahasa Inggrisnya sahur dan imsak saja, saya belum tahu. Hahaha.

Saya tak tahu bagaimana kru pesawat menghitung waktu sahur di pesawat, yang jelas pas. Sebelum kami mendarat di Amsterdam untuk transit, kami sempat sahur. Entah mengikuti waktu sahur di dunia belahan mana. Kalau memikirkan itu, masih pusing saya. Haha. Pokoknya, pas lah. Sebelum imsak, kami sudah makan sahur.

Garuda Indonesia dari Jakarta ke Gatwick, London, transit dulu di bandara Schipol, Belanda. Saya lupa, kira-kira tiga belas jam lah kami di pesawat sebelum transit. Tak lama, hanya sejam. Itu pun kami disuruh turun dari pesawat karena pesawatnya mau dibersihkan. Lumayan lah, bisa jalan-jalan sebentar melihat bandara Schipol dan beli gantungan kunci serta magnet kulkas yang ada tulisan Netherlands nya.

Rabu, 24 Juni 2015, jam sepuluh pagi waktu London, kami tiba di bandara Gatwick. Bandara ini tak sebesar bandara lainnya di London: Heathrow, tapi tetap saja lebih bagus dari bandara Soekarno – Hatta. Hehe. Menurut petunjuk Robin Malau dari Konserama yang membantu mengatur perjalanan kami selama di London, kami membeli tiket Gatwick Express di bandara. Ini adalah kereta dari bandara Gatwick ke stasiun Victoria di London. Buat yang berencana pergi ke London dan mendarat di Gatwick, kalau mau beli tiket Gatwick Express, mending langsung beli tiket yang pulang pergi. Jadi kalau Anda pulang dari London ke Gatwick, tak perlu repot mengantri lagi untuk membeli tiket. Yah siapa tahu pas Anda pulang, antrian sedang panjang dan Anda buru-buru.

Perjalanan dari Gatwick ke stasiun London Victoria, melewati pemandangan yang mengingatkan saya pada perjalanan naik kereta Bandung – Jakarta. Banyak pemandangan pohon dan bukit.

London Victoria.
London Victoria.

Menjelang jam dua siang, kami tiba di Clink 78 Hostel di kawasan King’s Cross. Ini hotel buat backpacker, tapi ada kamar yang isinya seranjang buat berdua. Harganya lebih mahal dibandingkan kalau kita tidur di kamar yang isinya buat banyak orang. Meskipun terhitung murah untuk ukuran London, untuk ukuran Jakarta mah, itu mahal. Menginap lima malam di sana, biayanya kalau hitungan uang kita, lebih dari 9 juta rupiah. Bisa menginap di hotel berbintang banyak tuh kalau di Jakarta. Haha.

Clink 78 Hostel ini gedungnya cukup bersejarah. Pernah jadi court room, saya kurang tahu kalau bahasa Indonesianya apa, pengadilan mungkin ya. Di gedung itu, The Clash pernah disidang karena menembak merpati! Haha. Charles Dickens juga pernah tinggal di sana katanya selama beberapa waktu. Dan sebagian besar yang menginap di sana, anak muda usia 20 hingga 30 tahunan. Saya hanya melihat sedikit sekali orang tua yang kulitnya sudah keriput.

Clink 78 Hostel punya ruang makan di lantai paling bawah. Di sana ada meja bilyar, dapur, dan bar. Orang-orang bisa memasak masakannya sendiri, demi menghemat biaya. Di malam-malam tertentu, ada DJ yang tampil di ruang makan itu. Bukan DJ ajep-ajep yang memainkan lagu untuk dugem, yang mereka mainkan musik-musik alternatif. Lokasinya cukup strategis. Tak jauh dari stasiun King’s Cross dan St Pancras International Station. Ini adalah dua stasiun yang besar. Sepuluh menit jalan kaki dari sana, sudah sampai di hostel.

 

Hari 1

Setelah rebahan sebentar di kamar hostel kami yang berukuran kecil, kira-kira 2 x 3 meter dengan kamar mandi yang sempit alias hanya ada kloset duduk dan pancuran yang tak cukup buat berdua jadi tak bisa mandi bareng romantis, kami pergi ke The British Museum. Ini adalah museum di London yang katanya sih jadi lokasi syuting film Night at The Museum 3. Museum nya BESAR SEKALI, seperti juga museum lain yang kemudian kami kunjungi nanti. Maklum, beberapa museum di Indonesia yang pernah saya datangi tak sebesar ini. Melelahkan sekali mengelilingi museum yang koleksinya buanyak sekali dan tak sempat saya lihat semuanya. Artefak dari seluruh dunia, ada di sana. Tapi yang saya lihat hanya koleksi dari Yunani dan Mesir, karena itu yang paling sering saya lihat di televisi. Hehe. Yang keren sekaligus menyeramkan adalah koleksi mummy asli! Bukan replika bukan KW tapi asli. Katanya loh. Saya juga bakal tak tahu bedanya kalau itu palsu, selama mereka bilang itu asli. Dan ada mummy Cleopatra. Saya tak tahu ada berapa Cleopatra. Kalau Firaun kan, katanya ada banyak. Cleopatra yang saya lihat di museum itu, katanya umurnya baru 17 tahun saat dia meninggal. Badannya pendek. Tak lebih dari 160 cm. Kalau ini adalah Cleopatra yang sering diceritakan di film itu, berarti di usia yang masih muda itu, dia sudah menggonjang-ganjingkan dunia ya. Hebat.

The British Museum.
The British Museum.
Must love dogs.
Must love dogs.
Tetta, lagi puasa melihat begituan.
Tetta, lagi puasa melihat begituan.
Tengah malam berdua sama dia doang, saya gak berani deh. :))
Tengah malam berdua sama dia doang, saya gak berani deh. :))
Cleopatra.
Cleopatra.
Museum sudah mau tutup. Mesti pulang sebelum penghuninya bangun.
Museum sudah mau tutup. Mesti pulang sebelum penghuninya bangun.

Akhirnya, kaki pegal dan tutupnya museum jam 17.30 lah yang membuat saya harus ikhlas tak melihat seluruh koleksi museum.

Musim panas di London, artinya siangnya lebih lama. Waktu magrib saja, jam setengah sepuluh malam. Di satu sisi, enaknya karena buat orang yang solat dan repot mencari tempat solat, maka solat Dzuhur dan Ashar bisa dijamak dengan santai, tanpa harus kuatir waktu sudah habis. Pulang jam delapan malam saja, masih bisa solat Ashar. Di sisi lain, puasanya lebih lama. Imsyak jam setengah tiga pagi, artinya lama puasanya hampir sembilan belas jam. Saya bukan mau riya alias ingin dipuji ya, tapi ternyata puasa sembilan belas jam rasanya tak lebih berat dari puasa tiga belas jam di Jakarta. Entah karena hati senang sedang jalan-jalan keluar negeri. Entah karena cuacanya tak sepanas di Jakarta, meskipun sedang musim panas di London. Panasnya tak membuat saya berkeringat, meskipun saya berjalan kaki berjam-jam. Padahal di Jakarta, saya termasuk yang gampang berkeringat. Kalau keringat bisa dijual dan menghasilkan duit, saya sudah kaya raya. Haus sih haus, lapar sih lapar, ya namanya juga puasa. Tapi tak seperti yang saya kira, puasa sembilan belas jam akan sangat menyiksa. Tapi ya sama saja seperti puasa di Jakarta. Mungkin juga karena secara psikologis, meskipun magribnya jam setengah sepuluh malam, langitnya kan sama saja dengan magrib jam enam sore.

Soal menahan lapar dan dahaga sih, biasa saja lah, tak terlalu tergoda. Tapi menahan pandangan adalah godaan yang tak bisa saya kalahkan. Musim panas di luar negeri, artinya banyak perempuan memakai pakaian minim. Hot pants dan tank top adalah pemandangan biasa. Legging di mana-mana. Di Jakarta, yang biasanya berani memakai celana gemes ke jalan raya adalah cabe-cabean yang secara visual tak menarik, tapi di London, banyak cewek kece yang memakai celana gemes sehingga bener membuat gemes melihatnya, bukan gemes ingin bilang, “Woy udah dosa, gak enak dilihat pula!”

 

Ngabuburit.
Ngabuburit.

Hari 2

Kamis, 25 Juni 2015. Salah seorang kawan saya, Eric Sasono sedang menyelesaikan kuliah S3 di London, saya lupa jurusannya apa, kritik film atau apa lah. Yang jelas, berhubungan dengan film. Eric adalah kritikus film. Maka itu menjadikan dia dua orang kritikus film yang bakal bergelar s3. Satu lagi kritikus film dari Jakarta, Ekky Sumanjaya, juga sedang menyelesaikan kuliah S3 di UK. Eric mengambil part time job di radio BBC yang terkenal itu. Dia bekerja di divisi Indonesia nya. Saya mengunjungi Eric di kantornya di daerah Great Portland Street. Ada 8 lantai, dan tiap lantainya terasa menyenangkan secara visual. Kalau di Jakarta, tampilan kantornya seperti tampilan kantor biro iklan. Tak ada kubikal, warna-warna cat ruangan yang cerah, dan desain yang modern. Tipikal yang ditujukan untuk bikin betah pekerjanya.

Eric cerita sedikit soal kehidupan di London. Kata dia, issue yang sedang hangat saat ini adalah soal orang-orang kaya yang bukan asli London yang membangun ruang bawah tanah. Di London, untuk membangun rumah atau merenovasi rumah saja, ijinnya repot. Katanya, mengganti pintu saja, harus ada ijinnya. Apalagi mengubah desain bangunan. Makanya, gedung-gedung di London relatif sama bentuknya meskipun sudah puluhan tahun. Nah, untuk menyiasati itu, banyak orang kaya yang akhirnya membangun rumahnya ke bawah. Tak terlihat oleh pemerintah. Akhirnya, ada beberapa pohon yang tiba-tiba roboh karena tanahnya digali. Orang-orang kaya itu menyogok pejabat setempat supaya bisa melakukan itu. Korupsi juga ada di London, kata Eric, tapi tak terlalu terlihat dan tak terlalu mengganggu kehidupan masyarakat banyak.

Eric juga cerita soal sepak bola. Menonton pertandingan bola di London, bukanlah sesuatu yang mudah. Menonton langsung ke stadion, itu juga butuh perjuangan. Tiket selalu habis. Menonton di tv, pertandingan bola hanya disiarkan di tv kabel, yang katanya termasuk mahal biaya berlangganannya. Makanya, banyak orang pergi ke pub untuk menonton pertandingan bola. Eric pun hanya mampu menonton bola melalui streaming via internet. Jangan bahas soal apakah itu illegal atau tidak ya. Hehe.

Kata Eric juga, bioskop di Jakarta jauh lebih bagus dibandingkan bioskop di London. Bahkan, menurut dia, bioskop di Indonesia adalah yang paling bagus di seluruh dunia. Di Amerika saja, tak sebagus di Jakarta. Tentu saja kita bicara soal bioskop jaringan 21 dan Blitz Megaplex ya. Kata Eric, bukan cuma kursi bioskop yang tak bernomor, tapi tak sedikit juga, bioskop yang masih menyalakan lampunya ketika film diputar. Kalau di Indonesia kan, lampu menyala ketika masih iklan atau trailer saja.

Lantai paling bawah BBC.
Lantai paling bawah BBC.
Salah satu studio di BBC Radio.
Salah satu studio di BBC Radio.
Bersama Eric Sasono.
Bersama Eric Sasono.
Di depan BBC Radio.
Di depan BBC Radio.

Sejam di BBC, kami pergi ke Kings Cross Station. Di sana ada Platform 9 ¾. Buat yang pernah nonton film Harry Potter pasti tahu, itu adalah platform tempat murid-murid Hogwarts untuk naik kereta ke sekolahnya. Platform yang tak ada pintunya, tapi dindingnya bisa ditembus. Kalau di film, platform itu terletak di antara platform 9 dan 10, tapi di dunia nyata, itu terletak di antara toko dan kantor. Haha. Dinding dari bata lalu ada tulisan Platform 9 ¾ yang jadi salah satu atraksi turis. Orang-orang mengantri untuk berfoto di sana. Ada properti berupa trolley yang sudah setengah menembus dinding, dan burung hantu di atasnya.

Ada mas-mas dan mbak-mbak dari toko merchandise Harry Potter yang menjaga platform itu. Menjaga maksudnya, mengatur supaya orang mengantri dan memberi bantuan turis yang mau berfoto di sana. Foto di sana gratis. Beberapa kali mas nya berkata lewat pengeras suara bahwa itu bukan atraksi perangkap turis. Mereka membantu turis yang mau berfoto dengan kamera sendiri atau telepon genggamnya, tapi juga mengambil gambar dengan kamera digital mereka yang hasilnya bisa diambil di toko. Itu pun sukarela. Tak memaksa untuk mencetak foto.

Hogwarts!
Hogwarts!

Setelah Platform 9 ¾, tujuan berikutnya adalah Camden Market. Tempat dijualnya barang-barang seni, makanan, barang bekas, hingga barang bajakan. Tujuan utama saya ke sana sebenarnya bukan mau berbelanja. Melihat-lihat suasana sih hanya bonus. Yang utama adalah mengunjungi tangga tempat The Clash difoto untuk album pertama mereka. Agak susah menemukan tempatnya. Google pun tak menjelaskan lokasi tepatnya, atau saya yang payah dalam mencarinya di Google. Sempat bertanya ke seorang penjaga toko yang berdandan seperti anak punk: rambut Mohawk, celana ketat bermotif kotak-kotak, jaket kulit, yah pokoknya seperti Tim Armstrong dari Rancid. Eeh dia tak tahu soal foto itu. Dasar poser! Hahaha.

Di salah satu bagian dalam Camden Market.
Di salah satu bagian dalam Camden Market.
Camden.
Camden.

Toko-toko yang menjual aksesoris punk di Camden ternyata hanya jualan. Mereka tak tahu musiknya. Saya pikir, karena mereka menjual aksesoris punk, minimal tahu lah, bahwa di Camden, ada lokasi pemotretan untuk album pertama The Clash. Untung lah, ada toko piringan hitam yang ternyata bukan poser. Begitu saya tunjukkan foto tangganya, bahkan tanpa foto album pertama The Clash, mas penjaga langsung bilang, “Oh The Clash ya? Lewat sana, deket pub, tangganya ada di samping.”

Ziarah The Clash.
Ziarah The Clash.

Agak sedikit berbeda dari foto di album, kondisi tangganya. Mungkin ada sebagian tembok bagian atasnya yang sudah dihancurkan. Saya belum meneliti lagi, tapi yang jelas, kalau di album, personel The Clash terlihat lebih pendek dari dindingnya.

Perjalanan hari itu ditutup dengan kami menaiki perahu di sungai yang ada di Camden, yang saya lupa nama sungainya. Yah bukan Italia memang, tapi lumayan lah. Pas kaki pegal, pas ada yang menawarkan naik perahu, diiringi alunan gitar mas-mas yang sepertinya wajahnya bukan dari London.

Lumayan lah, buat ngilangin pegel. Hehe.
Lumayan lah, buat ngilangin pegel. Hehe.

 

Hari 3

Jumat, 26 Juni 2015. Ini tujuan utama saya ke London: nonton The Who di British Summer Time Festival 2015. Sehari sebelumnya ada Taylor Swift, tapi saya kehabisan tiket. Selama musim panas, banyak sekali band dan musisi kelas dunia yang menggelar konser di London. Ada The Strokes, Blur, Foo Fighters dengan Iggy Pop! Pokoknya mah, kalau tinggal di sana dan ingin menonton itu semua, bisa pusing kepala Barbie memikirkan anggarannya. Pemesanan tiket saya dibantu oleh Robin Malau dari Konserama, seperti yang saya bahas di tulisan sebelum ini. Robin juga yang mengatur jadwal perjalanan saya selama di London. Silakan hubungi Konserama kalau mau jalan-jalan ke London ya.

Di London, saya dibantu Arya Rinaldo. Ketika Konserama memesan tiket The Who untuk saya, alamat Arya yang dijadikan tujuan untuk pengiriman. Arya sedang kuliah S1 di London, saya lupa nama universitasnya, jurusannya Bisnis Musik kalau tak salah. Ternyata, Arya juga pernah membantu Arian13 waktu dia memesan tiket. Arya adalah seorang Serigala Militia, alias penggemar Seringai. Waktu Arian pertama kali pergi ke London untuk nonton konser, dia menginap di kosan Arya.

“I’m officially a groupie, karena sudah tidur sama vokalis. Ha ha ha,” kata Arya.

Arya Rinaldo.
Arya Rinaldo.

British Summer Time Festival diadakan di Hyde Park, yang kayaknya sih taman paling besar di London.  Taman legendaris yang sudah jadi saksi bisu digelarnya banyak konser band keren. Tahun 1969, beberapa saat setelah Brian Jones gitaris The Rolling Stones meninggal di kolam renang, mereka menggelar konser gratis di Hyde Park. Salah satu momen paling konyol Mick Jagger dari sisi fashion, karena dia memakai semacam baju yang mirip baju perempuan. Konsernya kemudian jadi film konser berjudul The Stones at The Park.

Di depan gerbang menuju British Summer Time Festival.
Di depan gerbang menuju British Summer Time Festival.
Tuh, jauh kan. Tapi lumayan lah. Hehe.
Tuh, jauh kan. Tapi lumayan lah. Hehe.
Senja di Hyde Park.
Senja di Hyde Park.

Selain The Who, ada Johnny Marr, Paul Weller dan Kaiser Chiefs, tapi saya hanya kebagian Kaiser Chiefs, Paul Weller dan The Who, karena datang menjelang jam lima sore.  Ricky Wilson, vokalis Kaiser Chiefs cukup humoris. Ketika membawakan lagu baru, dia bilang, “Manajemen menyuruh kami menyanyikan lagu baru nih.” Sepertinya dia sadar, yang datang ke sana, sebagian besar buat The Who dan kalaupun menonton Kaiser Chiefs tentu saja berharap lagu-lagu hits yang dibawakan. Paul Weller sang Modfather masih karismatik meskipun wajahnya sudah keriput.

Saya belum pernah datang ke festival musik dan melihat banyak wajah paruh baya dan usia senja begitu banyak seperti hari itu di Hyde Park. Mungkin karena headliner nya juga sudah tua. Tapi, saya tak tahu, kalau Koes Plus menggelar konser di lapangan, apakah bakal banyak kakek nenek datang ke lokasi konser?

The Who hanya menyisakan gitaris Pete Townshend dan vokalis Roger Daltrey sebagai personel asli. Drummer Keith Moon dan pemain bass John Entwistle yang sudah meninggal, digantikan oleh drummer Zack Starkey [anak dari Ringo Starr], dan pemain bass Pino Palladino. Backdrop panggung, dihiasi oleh LED monitor yang bergantian menampilkan visual yang sesuai dengan lagu. Logo mods berupa lingkaran berwarna biru putih merah tentu saja cukup dominan. “You are the mods. We were the mods,” kata Daltrey sambil terkekeh.

Di sebelah saya, sekelompok pemuda meneriakan, “We are the mods! We are the mods! We are we are we are the mods!”

Saya jadi ingat film Quadrophenia [1979], yang menceritakan tentang anak-anak Mods. Film yang dipuja anak mods di seluruh dunia, tapi menurut saya sih, sebenarnya film itu ingin bilang bahwa buat apa lah jadi mods segala, itu hanya pencarian jati diri yang tak usai. Haha. Soalnya di akhir film, sang pemeran utama, memutuskan untuk melaju ke jurang dan Vespa nya tercebur ke laut, setelah dia frustasi dan kecewa melihat Ace Face, mod idolanya yang keren dan parlente ternyata hanya seorang bell boy di hotel.

Mungkin itu juga yang dirasakan Roger Daltrey ketika dia bilang “We were the mods” dan tertawa. Yah dia anggap itu hanya fase masa remaja yang sekarang membuat dia menggelengkan kepala.

The Who tampil hampir dua jam, membawakan semua hits yang dibuka oleh “Can’t Explain” dan ditutup oleh “Won’t Get Fooled Again.” Townshend masih menunjukkan aksi mengayunkan tangan sambil memetik gitarnya yang terkenal itu. Tentu saja dia tak meloncat tinggi seperti ketika muda. Daltrey juga masih menunjukkan kualitas vokal yang meskipun tak seprima masa mudanya, tapi masih memukau ketika menyanyikan nada-nada tinggi. Intinya, saya puas sekali menyaksikan The Who hari itu, meskipun dari jarak ratusan meter dari panggung.

Kami pulang sebelum jam 11 malam. Masih ada bis menuju hotel. Tak kuatir ada abang-abang di pinggir jalan, tengah malam yang sedang nongkrong dan menimbulkan rasa takut.

 

Hari 4

Sabtu, 27 Juni 2015.

Jalan-jalan ke Portobello. Ini adalah pasar loak, dan banyak pedagang kaki lima. Sebenarnya tak menarik sih buat belanja di sana. Hanya menarik dari sisi pemandangan saja. Mau belanja barang-barang juga, tak ada yang menarik di sana. CD, atau piringan hitam yang dijual di sana, kata Arya, harganya dipatok lebih mahal, karena mereka tahu di akhir pekan lebih banyak turis yang datang ke sana. Yah, seperti Pasar Gede Bage, Bandung yang memasang harga lebih mahal di akhir pekan lah. Tapi buat penggemar film Notting Hill, daerah ini menarik, karena ada rumah dan toko buku tempat syuting film itu dilakukan. Selain Arya, dua teman kami ikut jalan-jalan hari itu: Ruth yang sedang kuliah di Birmingham, dan Jefta suaminya.

Portobello, tempat melihat bule jadi pedagang kaki lima.
Portobello, tempat melihat bule jadi pedagang kaki lima.
Mural di salah satu dinding di Portobello.
Mural di salah satu dinding di Portobello.
Toko buku dari film Notting Hill.
Toko buku dari film Notting Hill.
Biar kayak turis yang ke Inggris.
Biar kayak turis yang ke Inggris.

Beres dari Portobello, kami jalan-jalan ke daerah Shoreditch, yang katanya sih daerah gaul tapi artsy, dan banyak hipster kumpul. Di dekat sini ada Rough Trade East, penggemar musik alternatif pasti akrab dengan nama ini, karena Rough Trade Records adalah perusahaan rekaman yang salah satu karyanya adalah mengeluarkan album The Smiths. Rough Trade East di Brick Lane, adalah salah satu toko Rough Trade East yang ada di London dan terbesar. Di Brick Lane juga ada masjid. Bukan mau riya, tapi saya mau cerita bahwa ketika bertanya di mana pintu masuk ke mesjidnya, orangnya malah bertanya balik, saya mau apa. Mungkin karena bukan bertampang Arab, dia tak mengira saya orang Islam. Ternyata ketika di dalam, memang semua yang ada di sana, bertampang timur tengah.

Tetta, saya, Arya, Ruth, dan Jefta, serta bule figuran,
Tetta, saya, Arya, Ruth, dan Jefta, serta bule figuran,
Rough Trade East.
Rough Trade East.
Mesjid di Brick Lane.
Mesjid di Brick Lane.

Beres dari Shoreditch, kami mampir ke daerah Westminster, buat melihat London Eye dan Big Ben buat berfoto standar ala turis.  Kami tak naik London Eye, bukan karena pertimbangan mahal, tapi karena saya takut ketinggian. Terakhir kami naik ke ketinggian adalah ke Menara 101 di Taipei, di mana lutut saya langsung lemas dan seakan gedung mau jatuh ketika kami sampai di lantai paling atas. Haha.

 

Tuh, London Eye di belakang.
Tuh, London Eye di belakang.
Inggris banget. Belakangnya ada Big Ben dan Double Decker Bus.
Inggris banget. Belakangnya ada Big Ben dan Double Decker Bus.

Hari 5

Minggu, 28 Juni 2015

Saatnya ke Buckingham Palace. Siapa tahu ada Ratu Elizabeth sedang nongkrong di balkon. Kami mau melihat pergantian penjaga. Jam setengah dua belas jadwalnya. Kami datang jam setengah sepuluh dan harus menunggu, bersama ratusan turis lainnya. Pergantian penjaga yang memakai seragam khas merah dengan topi panjang yang biasa terlihat di kotak biskuit itu lah. Ada marching band dan penjaga yang baris berbaris dalam formasi ketika proses pergantian itu. Sebagian naik kuda tinggi besar gagah.

Menunggu Ratu Elizabeth dadah dadah.
Menunggu Ratu Elizabeth dadah dadah.
Kuda Inggris.
Kuda Inggris.

Dari Buckhingam Palace, kami mampir ke Natural History Museum, melihat kerangka dinosaurus lalu mampir ke Victoria Albert Museum, museum seni modern gitu lah, saya juga tak melihat ke dalamnya pas di museum ini, hanya Tetta yang berkeliling karena kaki saya sudah pegal dan pinggang sudah sakit. Haha.

Study tour.
Study tour.
Berkat tongsis, bisa foto begini.
Berkat tongsis, bisa foto begini.

Sebelum pulang, jalan-jalan sebentar ke pusat perbelanjaan, melihat Harrods yang terkenal mahal itu, lalu ke Oxford Street, belanja di Primark, yang katanya sih kalau melihat harganya yang murah, ibarat Ramayana kalau di Indonesia mah. Hanya saja, tak ada mbak-mbak atau mas-mas yang teriak bahwa hari itu diskon, dan tak ada Pojok Busana.

 

Hari 6

Senin, 29 Juni 2015.

Kami pindah tempat menginap, dari Clink 78 Hostels yang di tengah ke Wisma Siswa Merdeka yang agak ke pinggir, karena ada di ujung Distrik 2. Ini adalah penginapan milik KBRI di London yang pengelolaannya diserahkan pada mahasiswa S3 yang sedang kuliah di sana. Rumah dua lantai, dengan lima kamar tidur dan tiga kamar mandi. Biasanya disewakan buat para mahasiswa yang belum mendapat kosan, atau buat tamu KBRI, atau buat mereka yang kebetulan tahu soal Wisma itu dan mengontak pengelola dan ada kamar kosong. Kami dapat kamar yang berisi dua ranjang, alias buat berdua, dengan harga sewa selama lima malam kira-kira tiga juta rupiah, alias sepertiga lebih murah dibandingkan Clink 78 Hostels.

Lantainya berderit setiap saya melangkah di lantai atas. Pengelolanya, sepasang suam istri yang sedang kuliah. Sang suami berlogat Jawa kental, penampakannya mengingatkan saya pada Noe vokalis Letto. Anak mereka baru lima tahun, tinggal di sana sejak umur dua tahun. Hasilnya, tak lancar bahasa Indonesia, pasif, alias jika orangtuanya bertanya dalam bahasa Indonesia, dijawab dengan bahasa Inggris.

Belakangan saya baru tahu, bahwa di rumah itu, salah seorang teman saya, Hasief Ardiasyah, editor Rolling Stone Indonesia pernah tinggal di sana dari lahir hingga umur tujuh tahun. Bapaknya yang kuliah, dan ibunya yang mengelola wisma. Sejak tahun 80-an, rumah itu tak berubah penampakannya.

Wisma Siswa Merdeka.
Wisma Siswa Merdeka.
Kamar kami.
Kamar kami.
Wisma dilihat dari sisi lain.
Wisma dilihat dari sisi lain.

Beres dari Wisma, kami menuju Madam Tussauds, museum patung lilin yang terkenal itu. Lumayan seru lah, meskipun mahal tiketnya, kira-kira 600 ribu rupiah. Buat yang ingin berfoto bareng artis Hollywood, di sini bisa memfasilitasi. Bukan cuma Agan Harahap yang bisa berfoto bareng artis internasional. Haha.

Ngintip punya Britney.
Ngintip punya Britney.
Madonna yang baik hati,
Madonna yang baik hati,
Puasa ya paling pas maen  Hunger Games.
Puasa ya paling pas maen Hunger Games.
Ngecek bahan jaket.
Ngecek bahan jaket.

Dari Madam Tussauds, kami ke museum Sherlock Holmes di 221b Baker Street. Ada tiket masuk seharga 300 ribu rupiah, yang menurut saya sih kalau bukan penggemar Sherlock Holmes pasti tak akan menganggap museum itu istimewa. Rumah lima lantai yang kecil tiap lantainya. Di setiap lantai ada pernak-pernik Sherlock Holmes, ada juga yang menampilkan patung lilin yang mengambarkan adegan dari beberapa cerita Sherlock Holmes.

IMG_0607

IMG_0610

Biar gak stress mikirin kasus.
Biar gak stress mikirin kasus.
221b Baker Street.
221b Baker Street.
Toko merchandise dan tempat beli tiketnya.
Toko merchandise dan tempat beli tiketnya.

Setelah dari Sherlock Holmes Museum, kami bertemu, Joe Wihl, seorang sineas dari London yang menikahi Etie, teman SMA saya. Joe adalah kawan dari Angga Nggok penyiar Indika FM, dan Omesh. Bahkan, Omesh pernah mendapat undangan untuk menonton Liverpool FC dari ruang VIP karena email dari Joe untuk humasnya Liverpool FC.

Kami bertemu di sebuah pub di kawasan Shoreditch. Salah seorang kawan Arya, Thalita ikut bergabung. Maka, jadinya pertemuan yang unik. Saya kenal Arya di London karena dibantu beli tiket, Arya kenal Thalita juga belum lama, karena teman yang sama. Joe, saya belum pernah kenal dan bertemu dengannya. Etie mengomentari Instagram saya dan menyuruh kami kopi darat. Etie nya tak ada di sana, dia tinggal di Dubai. Joe bolak balik London – Dubai.

Tetta, Joe, saya, Thalita, dan Arya.
Tetta, Joe, saya, Thalita, dan Arya.

Hari 7

Selasa, 30 Juni 2015.

Tak lengkap kalau ke London tak menyebrang di zebra cross di Abbey Road, yang jadi terkenal gara-gara The Beatles berfoto di sana untuk sampul albumnya. jam 8 pagi kami sudah ke sana. Waktu kami datang, baru ada kami. Agak malu-malu juga mau motret di sana. Maklum, pengemudi kendaraan suka kesal kalau ada turis yang berfoto di sana. Artinya mereka harus menghentikan kendaraannya. Untung, tak lama kemudian ada beberapa turis yang juga berfoto, sehingga kami tak sendirian. Haha.

Deg-degan mau nyebrang.
Deg-degan mau nyebrang.
Sok tenang, padahal mah buru-buru jalannya.
Sok tenang, padahal mah buru-buru jalannya.

Setelah dari Abbey Road, saatnya ke kota tempat lahirnya The Beatles: Liverpool. Kami naik Virgin Trains dari stasiun London Euston jam 10 pagi.  Tiket pulang  pergi berdua, kira-kira tiga juta rupiah. Dua jam perjalanan dari London.

Stasiun Liverpool.
Stasiun Liverpool.

Salah seorang kawan dari Jakarta, Feli bergabung dengan kami di sini. Dia sedang kuliah di New Castle. Karena waktu mepet, kami hanya bisa mengunjungi The Beatles Story Museum, dan berkeliling di Albert Dock. Mau ikut tur tak keburu, karena kereta kami jam 7 malam sudah berangkat. Museum The Beatles cukup menarik, mereka menampilkan perjalanan The Beatles, lengkap dengan replika tempat-tempat yang bersejarah bagi karir The Beatles.

Pintu masuk museum.
Pintu masuk museum.

IMG_0636

IMG_0640

Replika kantor New Musical Express, majalah yang pertama kali menulis The Beatles.
Replika kantor New Musical Express, majalah yang pertama kali menulis The Beatles.

IMG_0647

Feli, saya tak tahu dia kuliah jurusan apa.
Feli, saya tak tahu dia kuliah jurusan apa.

Ada toko merchandise The Beatles di museum itu [ya tentu saja lah ya]. Toko yang paling lengkap yang menjual segala sesuatu yang berhubungan dengan The Beatles. Tapi entah kenapa, saya sih tak mau memakai kaos The Beatles, meskipun saya mengumpulkan album-albumnya dan menyukai semua lagu mereka. Mungkin sisi diri saya sebagai penggemar The Rolling Stones, yang punya prinsip tak mau memakai kaos The Beatles. Haha.

 

Penguras kantong.
Penguras kantong.

Hari 8

Rabu, 31 Juni 2015.

Saatnya melihat Stonehenge yang terkenal itu, lalu pergi ke Bath, melihat tempat pemandian peninggalan Romawi. Kami naik bis Premium Tours dari Victoria Couch Station jam 8 pagi. Suasana terminalnya sangat ramai, ada banyak gerbang dan banyak penumpang. Kalau tak sigap bertanya, bisa-bisa tertinggal bis. Lebih mudah ikut tur buat ke Stonehenge, karena hanya satu kali naik bis. Mahal memang, berdua kira-kira tiga juta rupiah, tapi sudah sampai ke kota Bath, lengkap dengan tiket buat Stonehenge dan pemandian Romawi di Bath.

Untuk sampai ke Stonehenge, orang harus naik shuttle bus. Nah, mereka yang tak ikut tur, harus membeli dulu tiketnya di lokasi keberangkatan shuttle bus yang terletak kira-kira dua kilometer dari Stonehenge. Jaman dulu, mobil parkir dekat Stonehenge, tapi mengingat makin banyak yang berdatangan, maka kendaraan parkir di tempat parkir yang disediakan lalu orang naik shuttle bus.

Sekarang sih [saya tak tahu sejak kapan], ada pembatas di sekitar Stonehenge, jadi orang tak bisa masuk ke area bebatuan itu, karena katanya kuatir tanah lapangannya amblas.  Eh iya, di area Stonehenge, yang khas adalah aroma tai domba, mungkin karena di situ lapangan rumput luas dan banyak domba. Haha.

Cukup keren sih, melihat tumpukan batu paling terkenal di dunia. Tak perlu pusing memikirkan soal sejarah dan segala macam teori di balik itu, menikmati pemandangan di sana saja sudah memberikan kepuasan tersendiri.

Di depan salah satu batu paling terkenal di dunia.
Di depan salah satu batu paling terkenal di dunia.

Setelah dari Stonehenge, kami pergi ke Bath, kota yang berjarak satu setengah jam dari Stonehenge. Di sana ada kolam pemandian yang merupakan peninggalan jaman Romawi. Kalau menyaksikan film-film Hollywood yang bertema Romawi, biasanya ada adegan mandi di kolam pemandian, lalu ada tokoh perempuan keluar dari kolam hanya terlihat punggung dan nyaris pantatnya. Haha.

Silakan Googling The Roman Bath untuk tahu lebih banyak soal ini. Saya sudah capek menulis. Hehehe.

Jaman dulu, orang pada mandi di bawah sana. Airnya gak hijau lah ya.
Jaman dulu, orang pada mandi di bawah sana. Airnya gak hijau lah ya.
Kebayang kan, ada perempuan keluar dari kolam dan keliatan dari belakang aja.
Kebayang kan, ada perempuan keluar dari kolam dan keliatan dari belakang aja.
Salah satu gedung di Bath, kayaknya sih gereja.
Salah satu gedung di Bath, kayaknya sih gereja.
Salah satu sudut kota Bath.
Salah satu sudut kota Bath.

Hari 9

Kamis, 1 Juli 2015

Belanja ke Bicester Village Market. Ini adalah semacam komplek factory outlet barang-barang bermerk. Bedanya, semua yang dijual adalah barang asli. Komplek belanjanya menyenangkan. Seperti komplek perumahan, hanya bedanya bukan rumah tinggal, tapi toko yang ada di sana. Kami naik kereta dari stasiun Marylebone yang berjarak 1 jam perjalanan ke Bicester. Tiket berdua pulang pergi kira-kira 1,3 juta rupiah.

Dari jam 11 siang, hingga menjelang jam lima sore kami di sana. Tak terlalu banyak yang kami beli jika dibandingkan mereka yang datang ke sana membawa koper. Sebagian besar wajah Asia, baik itu oriental maupun timur tengah yang terlihat kalap berbelanja di sana.

Di salah satu toko, ada pelayan tokonya yang ternyata dari Medan. Baru lima tahun di London, tapi dia sudah tak bisa bicara bahasa Indonesia dengan aktif, karena katanya sehari-hari bicara bahasa Inggris, bahkan ketika berkomunikasi dengan keluarganya di Indonesia pun mereka memilih bicara bahasa Inggris. Gaya bicaranya memang seperti orang bule yang terbata-bata bahasa Indonesianya.

Tapi ketika ke kamar kecil kami bertemu dengan dua petugas kebersihan yang ternyata bisa bahasa Indonesia. Mereka rupanya dari Timor Leste, sudah sepuluh tahun bekerja di sana, dan malah lebih fasih bicara bahasa Indonesia dibandingkan mbak pelayan toko dari Medan.

 

Kalo kata Efek Rumah Kaca sih, "Belanja terus sampai mati."
Kalo kata Efek Rumah Kaca sih, “Belanja terus sampai mati.”

Pulang dari Bicester Village, karena langit masih terang, kami jalan-jalan ke Trafalgar Square, buat ngabuburit. Sore itu banyak orang berkumpul juga di sana. Ada yang latihan joged macam ABG beberapa tahun kemarin shuffle di Seven Eleven. Ada tunawisma yang nyari recehan dengan menggambar di lantai. Macam-macam lah, tapi suasananya menyenangkan.

IMG_2591

IMG_2588

IMG_0694

Hari 10

Jumat, 2 Juli 2015

Pulang. Pesawat kami jam sebelas siang. Jam delapan pagi kami sudah jalan dari Wisma. Satu koper yang besar, terasa sangat berat ketika diseret. Rupanya pas ditimbang, beratnya 34 kilogram. Itu melebihi batas maksimal satu koper yang katanya 32 kilogram.

“You’re in deep trouble,” kata mas-mas penjaga loket.

Saya menawarkan untuk mengeluarkan barang-barang dari koper, memindahkannya sebagian ke tas ransel saya, supaya beratnya masih bisa memenuhi syarat. Saya pikir, dengan jatah seorang 30 kilo, maka total berat maksimal adalah 60 kilogram.

Si mas mengetik sesuatu di komputer, lalu meminta temannya memanggilkan seorang petugas. Sepertinya dia mau bertanya soal koper ini. Tapi petugas yang dipanggil tak kunjung datang, hingga akhirnya si mas menggerutu sebentar lalu membiarkan koper saya masuk.

“Lain kali, jangan begini lagi ya,” kata dia. Begitu kurang lebih kalau diterjemahkan.

Cerita selanjutnya, ya menikmati perjalanan pulang ke Jakarta naik Garuda Indonesia.

Melelahkan, namun menyenangkan.

Terima kasih, Garuda Indonesia.
Terima kasih, Garuda Indonesia.

Dear Tetta

Istriku,

Teman hidupku,

Kesayanganku,

Ibunya Iggy,

 

Selamat ulang tahun ya.

Semoga kamu bahagia selalu.

Semoga kamu sehat selalu.

Semoga di kantor lancar selalu.

Semoga warga DKI Jakarta yang mengadu ke kantor kamu, tak terlalu merepotkanmu.

Semoga kamu selalu sabar menghadapi aku. Hehe.

Semoga selalu jadi ibu yang baik buat Iggy, dan adiknya [tapi nanti aja ya, dua tahunan lagi lah. Hehe]

Semoga solatnya lancar terus.

Semoga masakan kamu yang enak itu, makin enak.

 

Kamu tahu kan, aku sayang kamu.

Aku yang mendapat berkah punya kamu sebagai istri.

Bukan cuma karena aku yang bertampang mamang-mamang begini bisa punya istri cantik.

Tapi karena kamu memang istri yang baik.

Juga ibu yang baik.

Anak yang baik buat orang tua kamu.

Menantu yang baik buat orang tua aku.

Kalau kadang galak atau kadang judes mah, tak apa lah.

Namanya juga pengaruh hormon menstruasi.

Kalau tak begitu, bukan perempuan namanya. Hehe.

 

Aku memang tak romantis.

Tapi setidaknya aku tak merokok dan tak makan gratis.

Maaf kalau jarang sekali membelikan kamu bunga.

Aku masih berlatih supaya rajin membelikan kamu bunga di saat yang tepat. Hehe.

Semoga tulisan ini bisa membuat hatimu berbunga.

Seperti yang telah kamu lakukan buat hati aku dan Iggy, dengan kehadiranmu.

*Soal Iggy, aku masih mengira-ngira sih, tapi aku yakin, hati dia juga berbunga melihat kehadiran ibunya.

 

Sekali lagi,

Selamat ulang tahun sayangku Tetta Riyani Valentia.

My shiny little star.

 

photo

London, Kami Datang!

Empat tahun yang lalu, saya diundang oleh Coca Cola untuk datang ke London, melihat Maroon 5 membuat lagu untuk Coca Cola. Mereka mengundang bloggers dari seluruh dunia untuk datang dan melaporkan kegiatan Maroon 5 di studio. Tugas saya cuma ngetwit semua kegiatan saya selama di London, memakai hesteg yang mereka minta. Selain itu, saya diminta menuliskan dua blog post tentang itu. Satu tulisan sebelum berangkat, dan satu tulisan setelah berangkat.

Saya dan Endah, gitaris/vokalis Endah N Rhesa yang terpilih mewakili Indonesia. Padahal, waktu itu, followers kami masih belasan ribu. Saya lupa Raditya Dika berapa followers-nya, yang jelas, belasan ribu sudah termasuk besar jika dibandingkan para bloggers dan buzzers yang diundang ke London.

Empat hari saya di sana, dan masih penasaran. Saya bertekad, satu hari nanti, harus mengajak Tetta, yang waktu itu masih jadi pacar saya, untuk ke London dan jalan-jalan. Makanya, saya tinggalkan sepatu boots saya di London, dengan harapan saya bisa balik lagi ke sana. Selain itu sih, saya beli sepatu di sana dan malas membawa ke dalam tas. Jadi, saya tinggalkan sepatu saya di sana, sebuah sepatu tentara yang saya beli di Pasar Kosambi, Bandung, seharga 100 ribu.

Dan kini, harapan itu segera terwujud. Selasa, 23 Juni besok, saya dan Tetta akan pergi ke London untuk jalan-jalan sekalian bulan madu yang kesekian. Kali ini dengan dukungan Garuda Indonesia, maskapai penerbangan yang mendapat bintang 5 dari Skytrax—sebuah lembaga independen berbasis di London, pemberi peringkat pada maskapai. Waktu ke London pertama kali, saya tak naik Garuda, tapi maskapai asing. Tapi, waktu ke Jepang, dan Korea Selatan, saya naik Garuda dan langsung terasa perbedaannya. Maafkan kalau ini terasa seperti kalimat di iklan-iklan produk DRTV. Haha.

Kelebihan utama naik Garuda Indonesia adalah saya merasa di rumah sendiri. Ini penting buat saya yang meskipun sedang jalan-jalan ke luar negeri, tetap ingin merasa tak asing selama di perjalanan. Ada wajah Melayu yang siap membantu selama di penerbangan. Merasa ada orang yang bisa mengerti secara psikologis maupun kultur. Pergi ke luar negeri naik Garuda Indonesia, ibaratnya saya tak akan merasa canggung. Waktu naik maskapai asing, saya yang pemalu begini, merasa kurang nyaman secara psikologis. Haha.

Jalan panjang yang berliku menuju London ternyata tak selesai setelah saya mendapat kepastian tiket pesawat dari Garuda Indonesia. Urusan berikutnya adalah visa. Setelah tak jadi wartawan, saya pergi ke luar negeri dengan biaya sendiri, artinya tak ada yang mengurusi untuk saya. Dan sebagai orang yang irit alias pelit alias cheap bastard, saya memilih mengurus sendiri visa. Waktu masih skala negara Asia sih, relatif mudah. Tak banyak pertanyaan yang membingungkan.

Mengurus visa UK di Jakarta, adalah yang paling detil pertanyaannya dibandingkan beberapa visa ke negara Asia yang pernah saya urus sendiri. Visa US katanya lebih sulit, tapi saya belum pernah mengurus jadi tak bisa komentar. Ada beberapa pertanyaan yang membingungkan seperti pertanyaan ulangan PMP atau PPKn atau apalah itu sekarang namanya. Pertanyaan menjebak, yang meskipun saya sudah tahu mendingan pilih TIDAK atau NO saja untuk semua jenis pertanyaan begitu, tapi tetap saja ada satu pertanyaan yang membuat saya ragu. Pertanyaannya: Apakah Anda pernah dengan sukarela keluar dari Inggris? Kurang lebih bahasa Inggrisnya sih “voluntarily elected” lah. Membingungkan kan. Saya pulang dari London ya sukarela, tapi ya bukan sukarela dalam konteks seperti relawan yang terpilih. Kalau Anda mengisi formulir visa dan bingung menjawabnya, tulis saja TIDAK. Jangan tiru mas Anang yang selalu bilang, “Kalau aku sih yes.”

Sempat panik juga ketika saya sadar setelah formulir pendaftaran dicetak, ternyata nama belakang dan nama depan Tetta tertukar. Saya kira itu bakal berpengaruh pada dapat/tidaknya visa dari Kedutaan. Eh ternyata pas pergi ke VFS Global di Kuningan City, tempat mengurus visa UK, solusinya sesederhana dicoret namanya, lalu ditulis versi yang benar dan diberi paraf di tempat yang tadi dicoret. Tak serumit yang saya takutkan. Malah saya melupakan yang lebih penting: terjemahan dokumen. Harusnya, semua dokumen yang aslinya berbahasa Indonesia dilampirkan terjemahannya, supaya petugas di Manila, tempat mereka memutuskan visa-nya mengerti itu dokumen apa. Saya juga tak melampirkan surat referensi dari Bank, yang menyatakan bahwa saya nasabah mereka dan punya rekening berapa di sana. Akhirnya saya lampirkan buku tabungan yang asli, setelah dapat saran dari petugas VFS Global.

Kurang dari dua minggu ternyata visa UK saya disetujui. Yah prosesnya mah, Googling saja lah. Semua sudah jelas kok. Saya juga mengikuti hasil Googling. Intinya mah, mau ngurus sendiri mau diurusi orang lain, kalau kita berangkat pakai uang sendiri sih, tetap saja, dokumennya harus kita siapkan sendiri. Agen yang mengurus tinggal mencari penerjemahnya. Katanya sih, ada perbedaan satu juta rupiah kalau mengurus lewat agen. Ongkos capeknya.

Sebetulnya, saya bisa saja jalan-jalan ke London di bulan lain yang bukan bulan puasa, tapi karena ada The Who yang bakal tampil di British Summertime Festival pada 26 Juni nya, saya tak peduli bulan puasa atau bukan. Biarlah, puasa agak lama [sahur jam 2 pagi, magrib hampir jam 10 malam], kapan lagi nonton The Who. Lagian, biar bisa menghemat uang makan siang. Haha.

thewho1040

Sepanjang Juni hingga Juli, banyak sekali konser di London dan sekitarnya. Dari The Strokes, Blur, Foo Fighters, Iggy Pop, hingga Taylor Swift adalah beberapa di antara namanya. Sungguh menggiurkan. Teman saya, Arian13 beberapa minggu lalu juga sempat dua kali bolak balik ke London demi konser. Kata dia, “Hidup adalah konser.” Sayangnya, band-band yang saya suka, terlalu jauh jaraknya. Ada waktu seminggu dari satu konser ke konser berikutnya. Jadi saya harus memilih. Iggy Pop sudah pernah. Foo Fighters mah kayaknya bakal ada kemungkinan ke Singapura, Blur sudah pernah, The Strokes masih muda, jadi masih panjang lah umurnya. Haha. Taylor Swift semoga ke Jakarta lagi. The Who sudah uzur, dan katanya ini tur terakhir mereka. Jadi, ya pilihan tepat adalah menonton The Who.

Pembelian tiket saya, dibantu oleh Robin Malau yang punya Konserama, yah semacam travel agent yang mau mengkhususkan diri pada wisata bertema musik ke UK. Silakan hubungi mereka kalau Anda tertarik.

Nanti saya cerita lagi ya, setelah pulang dari London. Rencananya saya pulang tanggal 3 Juli. Semoga saya kuat sepuluh hari puasa di London. Haha.

 

 

Selamat Jalan, Pa :'(

Sabtu, 28 Maret 2015, adalah Sabtu paling kelabu sepanjang hidup saya, sejauh ini.

Kira-kira pukul empat sore, ada telepon dari ibu saya. Dari sekian banyak percakapan telepon yang kami lakukan, itu adalah percakapan paling singkat tapi paling menyakitkan.

“Leh, Apa maot,” kata ibu saya setengah berteriak.

Jantung saya berdebar kencang. Tak percaya apa yang saya dengar. Ibu mengabarkan bahwa bapak saya, meninggal. Dia biasa kami panggil Apa, panggilan standar khas orang Sunda untuk bapak.

Memang, yang namanya umur itu rahasia Tuhan. Tapi, kepergian bapak, benar-benar mendadak. Tak disertai sakit keras. Tak dalam perjalanan. Atau, tak sedang melakukan pekerjaan yang berbahaya. Dua minggu belakangan, kata ibu, Apa mengeluh tak enak badan. Batuknya tak kunjung sembuh. Dia kuatir ada masalah dengan kesehatannya.

Tiga hari sebelumnya, bapak memeriksakan kesehatannya. Jumat, dokter mengabarkan bahwa dia baik-baik saja. Tak ada masalah dengan kolesterol, jantung, tekanan darah, maupun kadar gula. Hanya memang, dia didiagnosa menderita bronkhitis. Kata ibu, dulu bapak pernah membersihkan rumah dan menghisap banyak debu sehingga mengotori paru-parunya. Dia diberi obat oleh dokter untuk bronkhitisnya itu.

Sabtu, bapak kembali membersihkan rumah. Dia memang begitu, selalu tak bisa berdiam diri. Sejak pensiun, tak pernah sekalipun bersantai. Tak enak badan, kalau tak bekerja, alasannya. Maka dia aktif menjadi Ketua DKM, pernah jadi Ketua RW, sambil punya usaha satu angkot Antapani – Ciroyom, juga mengurusi dua cucu dari adik saya, serta rutin mengantar jemput ibu saya untuk mengajar di sekolah. Di sela-sela aktivitas itu, dia pernah merenovasi sebagian ruangan di rumah. Membangun kamar sedikit demi sedikit sambil mengasuh cucu. Merenovasi kamar mandi, memasang keramik. Yah pokoknya segala macam pekerjaan yang tak bisa saya kerjakan. Bapak adalah pekerja kantoran, yang juga piawai mengerjakan tugas pekerja bangunan.

Sabtu itu, bapak membersihkan berangkal [ah, saya tak tahu ejaannya yang benar untuk menggambarkan bekas reruntuhan bangunan] di rumah. Dia baru saja membongkar bekas kolam yang tadinya digunakan untuk mandi bola anak-anak. Ibu saya membuka PAUD di rumah kami. Kamar bekas saya, dan garasi mobil dijadikan tempat anak-anak PAUD belajar. Kata ibu, karena tak ingin setiap hari mengeluar masukkan mobil, maka dia mau membongkar kolam itu, supaya mobil bisa parkir di sana, jadi ruangan kelas tak perlu setiap hari dibereskan.

Menjelang Ashar, bapak mengeluh kleyengan, dia merasa agak sempoyongan. Mungkin kleyengan seperti orang mau pingsan. Sebelum meninggal, dia bertemu sepupu saya di depan rumah, dan bilang kepalanya kleyengan. Dia sempat makan siang, lalu bekerja lagi. Ibu saya menemaninya sepanjang bapak membersihkan berangkal. Ibu memasukkannya ke ember, bapak lalu membuangnya ke jalan yang bolong tak jauh dari rumah.

“Duh, kleyengan begini ya,” kata bapak sambil cengengesan.

“Udah, istirahat atuh,” kata ibu.

Tentu saja percakapan aslinya dalam bahasa Sunda.

Ibu pamit mau solat Ashar, karena adzan sudah terdengar berkumandang. Baru berjalan dua langkah, dia mendengar suara orang terjatuh. Bapak sudah terlentang. Ibu panik. Dia berteriak memanggil sepupu saya yang tinggal di depan rumah. Ibu meneriakkan kalimat takbir, istighfar, dan syahadat. Dia membawa bapak ke kamar, dan berusaha membangunkan bapak. Dia sempat mendengar tarikan nafas terakhirnya. Tapi karena penasaran, ibu meminta sepupu saya membawa bapak ke dokter. Tapi tak ada yang bisa dilakukan dokter, karena bapak sudah tak bernafas. Pak Kosasih, Mang Engkos, Pak Haji, Pak Engkos, atau Apa buat saya dan keluarga, meninggal di usianya yang mau masuk 61 tahun, September ini.

Pulang dari klinik, ibu menelepon saya.

Pukul sembilan malam, saya tiba di Bandung. Ibu menunggu saya untuk ikut memandikan bapak. Wajahnya seperti sedang tertidur pulas dengan tenang. Itu pertama kalinya saya memandikan jenazah. Dan pertama kalinya saya memangku bapak. Masih tak percaya bapak sudah tidak ada.

Seminggu sebelumnya, dia baru saja berkunjung ke rumah saya di Krukut. Adek saya tadinya meminta bapak untuk jangan pergi hari itu, tapi bapak bersikeras ingin pergi. Mungkin sudah ada firasat. Setidaknya, bapak sudah bertemu dengan Iggy anak saya dan melihat bahwa cucunya yang dulu belum aktif berbicara kini sudah cerewet.

“Iggy udah pinter ngomongnya ya sekarang,” kata bapak.

Salah satu percakapan terakhir kami adalah seputar rumah di Bandung yang katanya sudah terbagi dua sertifikatnya. Jadi, kalau dia sudah tak ada, itu rumah tinggal dibagi dua saja tanahnya. Adek saya yang lelaki sudah diberi rumah di Gedebage. Saya waktu itu tak mengira bahwa dia bicara soal rumah, karena waktunya di dunia tak lama lagi.

Bersama ibu, lebih banyak lagi firasatnya. Ketika melihat berita meninggalnya Olga, bapak berkata,

“Gimana ya rasanya meninggal,” katanya.

“Kan kamu rajin mengaji, Insya Alloh diterangkan kuburnya,” kata ibu.

Lalu, di rumah sering terdengar burung clepuk [saya tak tahu nama betulnya, yang jelas, burung yang katanya suka terdengar kalau ada orang yang mau meninggal].

“Itu burung kok nggak pergi-pergi ya. Mau jemput siapa lagi sih?” kata bapak kepada ibu.

Saya masih suka sedih kalau terngiang lagi cerita ibu soal itu semua. Apalagi kalau teringat lagi suara ibu di telepon ketika mengabarkan kepergian bapak. Baru sekarang saya tahu rasanya berduka karena ditinggal orang tua. Meskipun kemarin-kemarin beberapa kali mengucapkan turut berduka cita ketika ada orang tuanya teman yang meninggal, baru kali ini saya tahu benar sakitnya berduka cita. Dan meskipun ada beberapa orang yang menganggap tahlilan itu bid’ah [perbuatan yang tak pernah dicontohkan oleh nabi], tapi saya baru merasakan manfaat positifnya. Rumah terasa sepi sekali, setelah ada yang meninggal. Nah, orang-orang berdatangan ke rumah, yang paling terasa sih, bahwa kehadiran mereka membuat psikologis yang ditinggalkan sedikit terobati. Setidaknya, kami tak terlalu merasa sedih.

Minggu pagi, bapak dimakamkan di pemakaman keluarga besar Antapani Lama. Makamnya tak jauh dari makam ibu bapaknya. Semoga dia bisa bertemu dengan orang tuanya di alam berikutnya. Saya dulu sempat sesumbar, kalau orang tua meninggal, jangan sampai menangis di depan umum. Tapi tak bisa. Dan saya baru tahu, sesungguhnya bicara di depan umum yang paling sulit adalah berpidato singkat di pemakaman bapak. Saya tak pernah merasakan sesulit itu mengeluarkan kata-kata. Bukan karena tak tahu apa yang harus diucapkan, tapi karena tak kuasa menahan rasa sedih.

Terima kasih Pa, atas segala yang telah Apa ajarkan dan berikan buat saya, mamah, Ade, dan Desi. Semoga saya juga bisa menjadi bapak yang baik buat keluarga saya, seperti yang sudah Apa lakukan buat kami. Menjaga dan mengurus mamah hingga akhir hayat Apa.

Saya jadi kangen masa kecil saya. Ingin jadi anak lagi, dan merasakan kembali kenangan indah bersama Apa.

Saya kangen perasaan betapa menyenangkannya pulang pergi ke TK dijemput Apa naik Vespa.

Saya kangen pergi solat Jumat bersama.

Saya masih ingat beberapa naskah khotbah yang Apa tulis buat saya di lomba khotbah waktu SD, sehingga membuat saya percaya diri bicara di depan umum.

Maafkan saya ketika remaja sering tak mendengarkan Apa.

Maafkan saya karena tak lulus kuliah cepat seperti keinginan Apa.

Maafkan saya karena menjelang kepergian Apa, lama tak berkunjung ke Bandung.

Semoga Alloh menerima amal baik Apa, menerangkan dan meluaskan kuburan Apa, mengampuni dosa Apa, dan semoga Apa bisa beristirahat dengan tenang di alam sana.

Selamat jalan, Pa. :'(

Kosasih muda, di Antapani.
Kosasih muda, di Antapani.

 

 

 

 

Jawaban Atas Denise yang Bawel di Komtung TV soal Majelis Tidak Alim

Jadi begini, KomtungTV.com punya rubrik review. Ada Denise yang bawel dan ngasih opininya di situ. Berikut ini, beberapa kutipan dari review neng Denise.

Bagi kalian yang nonton langsung di Usmar Ismail tanggal 31 Januari 2015, apa kesan kalian untuk special shownya Soleh Solihun? Lucu? Keren? Pecah? Kalau gue ada dua kata yang paling dominan: CAPE dan LAMA.

Maaf ya neng, kalau kamu pulang dari Majelis Tidak Alim, ngerasa cape dan lama. Tapi, kalau dipikir-pikir, capek dan lama karena habis bersenang-senang, harusnya disyukuri loh. Contohnya habis bercinta. Kalau kamu capek karena habis bercinta dalam durasi yang lama, pasti kamu bersyukur kan? Kalau kamu capek, saya pasti lebih capek. Saya kan berdiri. Kamu mah duduk. Saya ngomong, kamu mah cuma tertawa.

Soal lama, saya juga nggak berencana selama itu. Saya nggak pake jam tangan, jadi nggak tahu sebenernya udah berapa lama saya tampil. Cuma ada alarm satu jam doang dari panitia. Selebihnya, saya nggak mikirin waktu. Yang penting, satu jam udah terpenuhi. Daripada nanti diprotes, karena kurang dari satu jam. Nanti kamu pasti lebih bawel lagi.

Ketika gue menengok ke belakang, betapa kagetnya gue ketika melihat banyak kursi kosong, setidaknya ada belasan. Mendadak gue kasian sama orang yang udah susah-susah berburu tiket tapi gak bisa nonton. Panitia, you owe them an explanation.

Soal kursi kosong, sebenernya sih panitia nggak perlu ngejelasin kenapa kursi kosong. Saya juga sebenarnya bertanya-tanya, pada ke mana para pembeli tiket itu? Panitia sudah menyerahkan 80 persenan kursi ke elevenia.co.id. Kalau mereka bilang sudah terjual habis, ya mereka harus membayar uang sebanyak yang mereka bilang. Laporan dari elevenia sih, cocok sama penjualan. Ya setidaknya, mereka membayar kami sesuai dengan angka yang seharusnya.

Nah, pada ke mana perginya? Sebagian sih di twitter ada yang bilang, tiba-tiba harus dinas keluar kota. Ada yang bilang, nggak jadi pergi karena temennya nggak jadi pergi. Beberapa orang undangan alias gratisan sih memang ada yang mengabarkan batal datang, menjelang pertunjukkan dimulai. Jadi, panitia nggak bisa menjual lagi itu kursi, karena orang sudah terlanjur tahu bahwa tiket habis.

Eh jangan-jangan, kamu melihat kursi kosong itu pada saat jeda antara penampilan saya ya? Kalau pas jeda, dan ada adegan minta sumbangan, memang banyak yang pergi ke WC. Beberapa bahkan ada yang merokok. -___-

Gue kira ketika Soleh naik lagi dengan kostum ala-ala rockstar (yang sebenarnya adalah gaya berpakaian sehari-hari dia sih), dia akan mengumumkan kalau uang ini akan disumbangkan ke salah satu yayasan atau korban bencana alam. Tapi ternyata uang ini dipakai untuk nambah-nambahin biaya produksi. Sialan! Kalo gitu, Kang Soleh biar fair umumin dong berapa dapetnya, jangan cuma nge-RT mention pujian aja! Gue tunggu ya!

Saya baru ngecek berapa uang yang didapat dari hasil meminta sumbangan, barusan. Sebelumnya saya nggak peduli berapa hasilnya. Toh, uang bukan tujuan utamanya, tapi gimmick nya. Tapi okelah, neng. Kalau kamu pengen tahu banget, uang hasil sumbangan itu sebanyak 1,1 juta rupiah. Lumayan lah. Buat ganti bayar sewa kamar hotel di sebelah. Haha.

Soal nge-RT mention alias pujian mah, saya juga dulu geli tiap lihat orang yang melakukan itu. Tapi, belakangan saya sadar bahwa perbuatan itu, bagus untuk awareness. Bagus untuk jualan. Menggelikan, tapi efektif. Riya, sudah pasti. Dosa, mungkin. Tapi efektif untuk awareness. Buktinya, kamu juga jadi tahu bahwa saya me-RT pujian-pujian itu. Orang yang nggak nonton juga jadi penasaran sama Majelis Tidak Alim. Kredibilitas meningkat, semoga permintaan manggung makin meningkat.

Kalau kamu punya followers ratusan ribu, dan perlu menjual karya kamu, coba deh trik menggelikan ini. RT pujian sebanyak-banyaknya. Sesungguhnya, meskipun orang sebal membacanya, tapi lama kelamaan, mereka akan terpengaruh dan menganggap bahwa si peritwit itu karyanya disukai banyak orang. Hahahaha.

Beliau berpesan untuk ngetwit yang bagus-bagus, dan semuanya nurut aja. Kalau gue sih fair aja, yang bagus gue bilang bagus, yang jelek seperti soal durasi dan banyak tempat duduk kosong juga gue sebutin. Harusnya para comic dari yang paling senior sampai yang paling cemen jangan cuma mau terima pujian aja, tapi juga harus ikhlas dikritik. Kalau dikritik pun jangan down. Nanti Soleh yang udah jadi panutan kalau gak mau dikritik, jangan-jangan entar yang masih belajar juga gak mau dikritik lagi! Apakah Soleh Solihun yang riya akan me-RT link untuk artikel ini, dan apakah beliau akan menjawab tantangan saya di tiga paragraf sebelum ini?

Suka-suka saya dong, kalau saya tak mau dikritik. Hahaha. Lagian, kalau kamu menganggap omongan soal anti kritik itu serius, ya kamu lupa satu hal: kamu mendengar saya ngomong itu di acara komedi. Ketika saya ngomong ‘neraka lebih dinamis,’ bukan berarti saya pengen masuk neraka. Haha. Di antara sekian banyak yang memuji, ada satu kok, yang bilang pertunjukkan saya biasa saja, dan menganggap semua yang memuji itu buzzer saya. Dan twit dia, saya ritwit pula kok. Tapi mungkin tenggelam oleh pujian. Nila setitik ternyata tak merusak susu sebelanga.

Eh, apa jangan-jangan kamu bercanda ya, waktu kamu menulis saya harus mau nerima kritik? Apa sebenarnya, kamu mengerti bahwa saya bermaksud bercanda secara sarkas ketika saya bilang jangan ngeritik?

Tuh, tapi saya sudah buktikan bahwa tulisan kamu pun, saya ritwit. Lumayan kan, buat menambah hit kamu, soalnya followers KomtungTV, belum sebanyak followers saya. Astaghfirulloh. Maaf ya saya riya lagi.

Udah ah. Makasih ya Neng Denise udah dateng ke Majelis Tidak Alim dan mau menulis review sepanjang itu. Dari sekian banyak pujian di mention, cuma tulisan kamu yang panjang dan terasa ditulis dengan penuh hati.

Saya tahu kok, sebenarnya kamu cinta sama Majelis Tidak Alim. Kebaca kok, dari kalimat-kalimat kamu. Kalau sekilas sih, seperti yang tidak suka, apalagi dari judul artikel. Tapi, biar sesuai dengan judul rubrik yang “Dibawelin Denise” dan biar bagus ditwit, ada kesan konflik, maka kamu harus belagak mayah-mayah dan kezel sama saya.

Thank you Denise. Muah muah.