Dear Tetta

Istriku,

Teman hidupku,

Kesayanganku,

Ibunya Iggy,

 

Selamat ulang tahun ya.

Semoga kamu bahagia selalu.

Semoga kamu sehat selalu.

Semoga di kantor lancar selalu.

Semoga warga DKI Jakarta yang mengadu ke kantor kamu, tak terlalu merepotkanmu.

Semoga kamu selalu sabar menghadapi aku. Hehe.

Semoga selalu jadi ibu yang baik buat Iggy, dan adiknya [tapi nanti aja ya, dua tahunan lagi lah. Hehe]

Semoga solatnya lancar terus.

Semoga masakan kamu yang enak itu, makin enak.

 

Kamu tahu kan, aku sayang kamu.

Aku yang mendapat berkah punya kamu sebagai istri.

Bukan cuma karena aku yang bertampang mamang-mamang begini bisa punya istri cantik.

Tapi karena kamu memang istri yang baik.

Juga ibu yang baik.

Anak yang baik buat orang tua kamu.

Menantu yang baik buat orang tua aku.

Kalau kadang galak atau kadang judes mah, tak apa lah.

Namanya juga pengaruh hormon menstruasi.

Kalau tak begitu, bukan perempuan namanya. Hehe.

 

Aku memang tak romantis.

Tapi setidaknya aku tak merokok dan tak makan gratis.

Maaf kalau jarang sekali membelikan kamu bunga.

Aku masih berlatih supaya rajin membelikan kamu bunga di saat yang tepat. Hehe.

Semoga tulisan ini bisa membuat hatimu berbunga.

Seperti yang telah kamu lakukan buat hati aku dan Iggy, dengan kehadiranmu.

*Soal Iggy, aku masih mengira-ngira sih, tapi aku yakin, hati dia juga berbunga melihat kehadiran ibunya.

 

Sekali lagi,

Selamat ulang tahun sayangku Tetta Riyani Valentia.

My shiny little star.

 

photo

Selamat Jalan, Pa :'(

Sabtu, 28 Maret 2015, adalah Sabtu paling kelabu sepanjang hidup saya, sejauh ini.

Kira-kira pukul empat sore, ada telepon dari ibu saya. Dari sekian banyak percakapan telepon yang kami lakukan, itu adalah percakapan paling singkat tapi paling menyakitkan.

“Leh, Apa maot,” kata ibu saya setengah berteriak.

Jantung saya berdebar kencang. Tak percaya apa yang saya dengar. Ibu mengabarkan bahwa bapak saya, meninggal. Dia biasa kami panggil Apa, panggilan standar khas orang Sunda untuk bapak.

Memang, yang namanya umur itu rahasia Tuhan. Tapi, kepergian bapak, benar-benar mendadak. Tak disertai sakit keras. Tak dalam perjalanan. Atau, tak sedang melakukan pekerjaan yang berbahaya. Dua minggu belakangan, kata ibu, Apa mengeluh tak enak badan. Batuknya tak kunjung sembuh. Dia kuatir ada masalah dengan kesehatannya.

Tiga hari sebelumnya, bapak memeriksakan kesehatannya. Jumat, dokter mengabarkan bahwa dia baik-baik saja. Tak ada masalah dengan kolesterol, jantung, tekanan darah, maupun kadar gula. Hanya memang, dia didiagnosa menderita bronkhitis. Kata ibu, dulu bapak pernah membersihkan rumah dan menghisap banyak debu sehingga mengotori paru-parunya. Dia diberi obat oleh dokter untuk bronkhitisnya itu.

Sabtu, bapak kembali membersihkan rumah. Dia memang begitu, selalu tak bisa berdiam diri. Sejak pensiun, tak pernah sekalipun bersantai. Tak enak badan, kalau tak bekerja, alasannya. Maka dia aktif menjadi Ketua DKM, pernah jadi Ketua RW, sambil punya usaha satu angkot Antapani – Ciroyom, juga mengurusi dua cucu dari adik saya, serta rutin mengantar jemput ibu saya untuk mengajar di sekolah. Di sela-sela aktivitas itu, dia pernah merenovasi sebagian ruangan di rumah. Membangun kamar sedikit demi sedikit sambil mengasuh cucu. Merenovasi kamar mandi, memasang keramik. Yah pokoknya segala macam pekerjaan yang tak bisa saya kerjakan. Bapak adalah pekerja kantoran, yang juga piawai mengerjakan tugas pekerja bangunan.

Sabtu itu, bapak membersihkan berangkal [ah, saya tak tahu ejaannya yang benar untuk menggambarkan bekas reruntuhan bangunan] di rumah. Dia baru saja membongkar bekas kolam yang tadinya digunakan untuk mandi bola anak-anak. Ibu saya membuka PAUD di rumah kami. Kamar bekas saya, dan garasi mobil dijadikan tempat anak-anak PAUD belajar. Kata ibu, karena tak ingin setiap hari mengeluar masukkan mobil, maka dia mau membongkar kolam itu, supaya mobil bisa parkir di sana, jadi ruangan kelas tak perlu setiap hari dibereskan.

Menjelang Ashar, bapak mengeluh kleyengan, dia merasa agak sempoyongan. Mungkin kleyengan seperti orang mau pingsan. Sebelum meninggal, dia bertemu sepupu saya di depan rumah, dan bilang kepalanya kleyengan. Dia sempat makan siang, lalu bekerja lagi. Ibu saya menemaninya sepanjang bapak membersihkan berangkal. Ibu memasukkannya ke ember, bapak lalu membuangnya ke jalan yang bolong tak jauh dari rumah.

“Duh, kleyengan begini ya,” kata bapak sambil cengengesan.

“Udah, istirahat atuh,” kata ibu.

Tentu saja percakapan aslinya dalam bahasa Sunda.

Ibu pamit mau solat Ashar, karena adzan sudah terdengar berkumandang. Baru berjalan dua langkah, dia mendengar suara orang terjatuh. Bapak sudah terlentang. Ibu panik. Dia berteriak memanggil sepupu saya yang tinggal di depan rumah. Ibu meneriakkan kalimat takbir, istighfar, dan syahadat. Dia membawa bapak ke kamar, dan berusaha membangunkan bapak. Dia sempat mendengar tarikan nafas terakhirnya. Tapi karena penasaran, ibu meminta sepupu saya membawa bapak ke dokter. Tapi tak ada yang bisa dilakukan dokter, karena bapak sudah tak bernafas. Pak Kosasih, Mang Engkos, Pak Haji, Pak Engkos, atau Apa buat saya dan keluarga, meninggal di usianya yang mau masuk 61 tahun, September ini.

Pulang dari klinik, ibu menelepon saya.

Pukul sembilan malam, saya tiba di Bandung. Ibu menunggu saya untuk ikut memandikan bapak. Wajahnya seperti sedang tertidur pulas dengan tenang. Itu pertama kalinya saya memandikan jenazah. Dan pertama kalinya saya memangku bapak. Masih tak percaya bapak sudah tidak ada.

Seminggu sebelumnya, dia baru saja berkunjung ke rumah saya di Krukut. Adek saya tadinya meminta bapak untuk jangan pergi hari itu, tapi bapak bersikeras ingin pergi. Mungkin sudah ada firasat. Setidaknya, bapak sudah bertemu dengan Iggy anak saya dan melihat bahwa cucunya yang dulu belum aktif berbicara kini sudah cerewet.

“Iggy udah pinter ngomongnya ya sekarang,” kata bapak.

Salah satu percakapan terakhir kami adalah seputar rumah di Bandung yang katanya sudah terbagi dua sertifikatnya. Jadi, kalau dia sudah tak ada, itu rumah tinggal dibagi dua saja tanahnya. Adek saya yang lelaki sudah diberi rumah di Gedebage. Saya waktu itu tak mengira bahwa dia bicara soal rumah, karena waktunya di dunia tak lama lagi.

Bersama ibu, lebih banyak lagi firasatnya. Ketika melihat berita meninggalnya Olga, bapak berkata,

“Gimana ya rasanya meninggal,” katanya.

“Kan kamu rajin mengaji, Insya Alloh diterangkan kuburnya,” kata ibu.

Lalu, di rumah sering terdengar burung clepuk [saya tak tahu nama betulnya, yang jelas, burung yang katanya suka terdengar kalau ada orang yang mau meninggal].

“Itu burung kok nggak pergi-pergi ya. Mau jemput siapa lagi sih?” kata bapak kepada ibu.

Saya masih suka sedih kalau terngiang lagi cerita ibu soal itu semua. Apalagi kalau teringat lagi suara ibu di telepon ketika mengabarkan kepergian bapak. Baru sekarang saya tahu rasanya berduka karena ditinggal orang tua. Meskipun kemarin-kemarin beberapa kali mengucapkan turut berduka cita ketika ada orang tuanya teman yang meninggal, baru kali ini saya tahu benar sakitnya berduka cita. Dan meskipun ada beberapa orang yang menganggap tahlilan itu bid’ah [perbuatan yang tak pernah dicontohkan oleh nabi], tapi saya baru merasakan manfaat positifnya. Rumah terasa sepi sekali, setelah ada yang meninggal. Nah, orang-orang berdatangan ke rumah, yang paling terasa sih, bahwa kehadiran mereka membuat psikologis yang ditinggalkan sedikit terobati. Setidaknya, kami tak terlalu merasa sedih.

Minggu pagi, bapak dimakamkan di pemakaman keluarga besar Antapani Lama. Makamnya tak jauh dari makam ibu bapaknya. Semoga dia bisa bertemu dengan orang tuanya di alam berikutnya. Saya dulu sempat sesumbar, kalau orang tua meninggal, jangan sampai menangis di depan umum. Tapi tak bisa. Dan saya baru tahu, sesungguhnya bicara di depan umum yang paling sulit adalah berpidato singkat di pemakaman bapak. Saya tak pernah merasakan sesulit itu mengeluarkan kata-kata. Bukan karena tak tahu apa yang harus diucapkan, tapi karena tak kuasa menahan rasa sedih.

Terima kasih Pa, atas segala yang telah Apa ajarkan dan berikan buat saya, mamah, Ade, dan Desi. Semoga saya juga bisa menjadi bapak yang baik buat keluarga saya, seperti yang sudah Apa lakukan buat kami. Menjaga dan mengurus mamah hingga akhir hayat Apa.

Saya jadi kangen masa kecil saya. Ingin jadi anak lagi, dan merasakan kembali kenangan indah bersama Apa.

Saya kangen perasaan betapa menyenangkannya pulang pergi ke TK dijemput Apa naik Vespa.

Saya kangen pergi solat Jumat bersama.

Saya masih ingat beberapa naskah khotbah yang Apa tulis buat saya di lomba khotbah waktu SD, sehingga membuat saya percaya diri bicara di depan umum.

Maafkan saya ketika remaja sering tak mendengarkan Apa.

Maafkan saya karena tak lulus kuliah cepat seperti keinginan Apa.

Maafkan saya karena menjelang kepergian Apa, lama tak berkunjung ke Bandung.

Semoga Alloh menerima amal baik Apa, menerangkan dan meluaskan kuburan Apa, mengampuni dosa Apa, dan semoga Apa bisa beristirahat dengan tenang di alam sana.

Selamat jalan, Pa. :'(

Kosasih muda, di Antapani.
Kosasih muda, di Antapani.

 

 

 

 

Mimpi Aneh di Siang Hari: Dari KPK, Jins Aneh, Hingga Shop and Drive

Saya sering sekali mengalami mimpi aneh yang tak jelas ceritanya.

Ini baru saja terjadi. Mumpung masih ingat, harus langsung saya tuliskan di sini. Siapa tau, kalau mulai menuliskan mimpi-mimpi aneh saya, lama-lama bisa dijadikan cerita fiksi yang luar biasa. Haha.

Seperti biasa, mimpi itu seringkali tak jelas latarnya. Saya tak tahu sedang ada di mana. Yang jelas, sedang ada di kamar tidur. Saya sedang rebahan. Sebelum tertidur, saya diomeli Tetta, istri saya, karena tidur melulu hari ini. Padahal, saya memang mengantuk. Dan saya pernah baca [dari twit sebuah akun, tapi saya lupa detilnya], orang kreatif itu sering dianggap pemalas karena jam tidurnya yang lebih banyak dari orang lain. Bukan berarti saya mengaku kreatif ya, tapi karena pernah baca soal itu, jadi ya sudah saya pilih itu saja, daripada memilih untuk mengakui bahwa saya pemalas.

Oya, kembali ke mimpi. Saya ada di kamar tidur, bersama Iggy, anak saya–kebetulan saya memang sedang tidur bersama dia. Jadi, mimpinya masih ada hubungannya dengan dunia nyata. Di luar kamar, banyak sekali orang. Ada banyak saudara saya dari Bandung–wajahnya sih tak jelas, tapi di mimpi, saya merasa mereka itu saudara saya. Ada bapak dan ibu saya.

Di luar hujan rintik-rintik. Bapak saya tiba-tiba bilang bahwa aki [bahasa Inggrisnya sih accumulator, tapi biar lebih mudah, ditulis aki saja ya, semoga tak keliru dengan aki nini] mobilnya soak. Saya bilang, daripada disetrum, mending beli yang baru saja. Kebetulan ada Shop and Drive [salah satu toko aki yang cukup populer di Jakarta] di seberang jalan. Ternyata aki mobilnya, seharga 900 ribu. Perasaan, terakhir saya beli aki di sana, cuma 600 ribuan. Sebagai cheap bastard alias pelit, saya bimbang antara memberi 900 ribu untuk bapak saya, atau cuma 600 ribu dan sisanya bapak saya yang bayar.

Adegan lagu berpindah ke dalam rumah–tak jelas rumah siapa, pokoknya di rumah. Saya melihat sepupu saya yang baru saja membeli celana jins warna merah, saya lupa mereknya, yang jelas, celananya panjaaaaang sekali. Dan yang anehnya, dari bagian lutut hingga ke bawah, celana itu menempel. Jadi, orang tak bisa berjalan kalau memakai celana itu, alias harus melompat seperti sedang lomba balap karung. Tren masa kini, pikir saya.

Adegan berpindah lagi ke kamar tidur. Anak saya tiba-tiba berbicara, “Ini…” kata berikutnya saya lupa. Yang jelas, dia menertawakan sesuatu sehingga saudara-saudara saya di luar kamar ikut tertawa. Lalu, tiba-tiba ada anak perempuan di dalam kamar, pamit. Ini mungkin karena sebelum tertidur, ada tamu yang membawa anak perempuan, dan dia mau meminjam sepeda Iggy. Anak itu tertinggal hapenya di dalam kamar. Saya memanggilnya, dan menunjukkan dua hape.

Lantas adegan berpindah ke ruangan lagi. Saya bertanya, kapan bapak dan ibu saya berencana pulang ke Bandung, perasaan tadi sudah pamit. Tapi, begitu saya ke ruangan itu, mereka bilang, sedang menunggu seseorang menyelesaikan pekerjaannya.

Ternyata, yang di tunggu, ada di dalam ruangan. Di sana ada orang-orang KPK sedang mewawancarai seseorang, buat Metro TV, katanya. Ini mungkin karena beberapa hari lalu, saya membaca twit soal Navicula dan Ketua KPK Abraham Samad diundang ke Kick Andy. Tapi anehnya, ternyata yang memegang kamera adalah teman saya dari SMA 3 Bogor. Badannya aslinya gemuk, tapi di mimpi, dia jadi ramping. Entah faktor mimpi entah sekarang dia sudah begitu badannya. Kayaknya sih, saya sudah sepuluh tahun tak bertemu dia.

Di tengah kebingungan saya dengan adegan ini, tiba-tiba, salah seorang staf dari KPK menghampiri saya, menceritakan soal kerjasama KPK dengan beberapa pihak demi kampanye antikorupsi. Orang itu menyebut nama Youtube, dan beberapa nama lain yang tak saya ingat…

Baru sebentar orang itu berbicara, saya mendengar suara di balik pintu.

“Udah jam satu, makan dulu,” Tetta mengingatkan saya.

Tapi itu bukan di dalam mimpi. Dia muncul di pintu kamar.