Dear Tetta

Istriku,

Teman hidupku,

Kesayanganku,

Ibunya Iggy,

 

Selamat ulang tahun ya.

Semoga kamu bahagia selalu.

Semoga kamu sehat selalu.

Semoga di kantor lancar selalu.

Semoga warga DKI Jakarta yang mengadu ke kantor kamu, tak terlalu merepotkanmu.

Semoga kamu selalu sabar menghadapi aku. Hehe.

Semoga selalu jadi ibu yang baik buat Iggy, dan adiknya [tapi nanti aja ya, dua tahunan lagi lah. Hehe]

Semoga solatnya lancar terus.

Semoga masakan kamu yang enak itu, makin enak.

 

Kamu tahu kan, aku sayang kamu.

Aku yang mendapat berkah punya kamu sebagai istri.

Bukan cuma karena aku yang bertampang mamang-mamang begini bisa punya istri cantik.

Tapi karena kamu memang istri yang baik.

Juga ibu yang baik.

Anak yang baik buat orang tua kamu.

Menantu yang baik buat orang tua aku.

Kalau kadang galak atau kadang judes mah, tak apa lah.

Namanya juga pengaruh hormon menstruasi.

Kalau tak begitu, bukan perempuan namanya. Hehe.

 

Aku memang tak romantis.

Tapi setidaknya aku tak merokok dan tak makan gratis.

Maaf kalau jarang sekali membelikan kamu bunga.

Aku masih berlatih supaya rajin membelikan kamu bunga di saat yang tepat. Hehe.

Semoga tulisan ini bisa membuat hatimu berbunga.

Seperti yang telah kamu lakukan buat hati aku dan Iggy, dengan kehadiranmu.

*Soal Iggy, aku masih mengira-ngira sih, tapi aku yakin, hati dia juga berbunga melihat kehadiran ibunya.

 

Sekali lagi,

Selamat ulang tahun sayangku Tetta Riyani Valentia.

My shiny little star.

 

photo

Selamat Ulang Tahun Pernikahan, Istriku!

Hari ini, tiga tahun lalu, saya dan Tetta Riyani Valentia menikah.

FOTO PELAMINAN

Kami berpacaran selama enam tahun sebelum akhirnya jadi suami istri. Ada banyak hal yang membuat kami baru menikah setelah enam tahun pacaran. Pertama, sejak pertama kali pacaran, saya bertekad, kalau menikah, minimal gaji saya sudah lima juta per bulan. Keinginan ini muncul ketika gaji saya masih di bawah dua juta per bulan. Jadi, membayangkan gaji lima juta per bulan, rasanya besar sekali. Hehe. Kedua, bapaknya Tetta menginginkan salah satu dari kami jadi pegawai negeri, karena dia swasta dan tahu benar bahwa karyawan swasta tak punya kepastian pensiun seperti halnya pegawai negeri. Yah karena saya tak mau jadi pegawai negeri, akhirnya Tetta yang beberapa kali mencoba daftar sebagai pegawai negeri, hingga akhirnya tembus. Ketiga, saya ingin ketika saya menikah, tak meminta uang kepada orangtua saya. Keempat, saya ingin sebelum saya menikah, sudah punya rumah. Tak masalah ukurannya berapa, atau berapa tahun mencicilnya, yang penting punya rumah.

Dan itu semua alhamdulillah sudah tercapai pada 3 Desember 2011.

Gusti Alloh Maha Adil. Hehe.

Kalau bicara pernikahan, tentu bicara lamaran. Tak ada proses lamaran yang romantis bagai adegan film, macam bersimpuh dengan kalimat “Maukah Kau menikah denganku?” atau adegan ketika sedang makan malam romantis tiba-tiba di kue atau di gelas, ada cincin. Yah itulah salah satu kekurangan saya, tak romantis. Seperti lirik lagu Iwan Fals: Aku tak mampu beri sayang yang cantik, seperti kisah cinta di dalam komik. Hehe. Pembenaran.

Tapi saya masih ingat, betapa menegangkannya bicara soal rencana menikahi Tetta kepada bapaknya. Level menegangkannya jauh lebih seram dibandingkan ketika waktu mau menyatakan cinta alias meminta jadi pacar.

Satu malam yang dingin dan sepi… Eh itu mah lirik lagu Sandhy Sondoro ya. Satu malam, dalam salah satu malam kunjungan saya ke rumah Tetta, sebelum pulang, saya memberanikan diri bicara kepada bapaknya Tetta.

“Pah, mau ngomong sebentar,” kata saya.

Bapaknya Tetta sepertinya tahu tipe pembicaraan apa yang akan kami lakukan. Kami sedang dekat meja makan saat itu. Dia mengajak duduk di meja makan. Dia duduk dengan seksama, menatap mata saya hingga membuat jantung berdebar kencang.

Saya tak memakai basa-basi atau intro bertele-tele. Sebelumnya pernah dengar cerita teman saya yang mau meminta ijin menikah kepada bapak pacarnya, dia bercerita panjang lebar ngalor ngidul memakai bahasa Indonesia yang kaku baik dan benar, pokoknya akan membuat JS Badudu bangga lah.

Sedangkan saya, antara saking groginya atau tak pintar berbasa-basi, begitu duduk, saya langsung berkata, “Pah, saya mau nikah sama Tetta. Kalau diijinin, nanti saya ajak keluarga saya ke sini buat ngelamar.”

Begitu kalimat itu keluar, leganya bukan main. Kalau ada yang bilang bicara di depan orang banyak itu menegangkan, saya rasa tak ada apa-apanya dibandingkan bicara kepada calon mertua dalam rangka meminta ijin menikah.

Langsung ke cerita soal resepsi pernikahannya saja ya.

Saya memilih memakai jas, karena meskipun saya cinta Indonesia, saya tak ingin terlihat memakai pakaian adat, karena menurut saya kalau saya memakai pakaian adat, terlihat kocak. Saya tak ingin terlihat kocak di pelaminan, biarlah kocak kalau sedang ada job saja. Satu lagi, karena bapak saya ketika menikah juga memakai jas, jadi ketika saya kecil saya pernah berniat kalau menikah, ingin memakai jas juga. Kasihan teman saya, yang datang memakai jas berwarna serupa, jadi harus melepas jasnya ketika ke pelaminan karena demi menghargai pengantin atau karena tengsin warnanya sama. Haha.

Kami menikah di Gedung Departemen Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan. Lokasinya strategis, tempat parkir luas, dan yang penting: harga ekonomis tapi tampilan tak terlalu bikin hati meringis.

Tanpa dinyana, saya mendapat sumbangan yang berharga dari teman-teman: Ada Speaker First yang mau tampil membawakan lagu Let It Bleed dari The Rolling Stones selain lagu mereka sendiri, dan ada Pure Saturday yang bahkan khusus menyanyikan “Here Comes Your Man” dari Pixies untuk pernikahan kami. Home band kami hari itu: LCD Trip yang sekarang mulai dikenal di skena musik independen Jakarta, bahkan berbaik hati, hanya dalam beberapa kali latihan, mau menyanyikan lagu-lagu pilihan saya dalam format akustik. Dengan begitu, semua lagu yang diputar di hari pernikahan saya, tak ada selera mertua atau orangtua, tapi selera kami berdua. Setidaknya, kalau saya mengingat hari pernikahan saya, adegan ditutup dengan pertunjukkan musik di mana di depan panggungnya berisi teman-teman dekat. Tak ada organ tunggal, dan tak ada bapak-bapak atau ibu-ibu yang merasa suara bagus padahal tidak, mendominasi organ tunggal.

SUASANA RESEPSI PERNIKAHAN

Sebelumnya, ada keluarga bapak mertua yang punya usaha organ tunggal dan menawarkan jasa menghibur. Tapi dengan dalih sudah ada sumbangan dari teman-teman, akhirnya kami bisa menolak dengan halus dan mulus.

Buat yang belum menikah, dan ingin tahu seperti apa rasanya berdiri di pelaminan dan menyalami banyak orang: melelahkan. Terutama di otot mulut, karena harus tersenyum selalu.

Lalu, seperti apa rasanya menikah selama tiga tahun?

Konfilk mah pasti ada, namanya juga hidup. Tak mungkin tak ada masalah. Tapi selama suami dan istri punya niat untuk menjalankan hubungan dengan baik, saya rasa konflik bisa diatasi. Ah, saya jadi sok bijak begini. Tak usah bicara masalah lah, bicara yang enak-enak saja.  Kami dikaruniai anak lelaki yang alhamdulillah sehat berkat rejeki dari Alloh dan berkat ASI. Hehe.

Kalau melihat Tetta sekarang, saya hampir tak percaya, pertama kali bertemu dengannya ketika dia masih umur 20 tahun. Dulu dia masih mahasiswi, sekarang sudah jadi istri. Pintar memasak, padahal hanya bermodal menu hasil Googling. Dan yang paling penting: dia adalah ibu yang baik, dan mau sabar menerima saya dengan segala macam perilaku saya yang menyebalkan. Hehe.

Ada dua karunia terbesar sepanjang tiga tahun terakhir ini: Tetta dan Iggy.  *kemudian bernyanyi soundtrack sinetron “Keluarga Cemara”: Harta yang paling berhargaaa…. adalah keluarga.

Yah demikianlah, sodara-sodara, curhat saya. Semoga ada manfaatnya.

Untuk mengarungi bahtera rumah tangga [gawat ya, kalimatnya], saya selalu teringat lagu Iwan Fals yang berjudul CIK.

Riak gelombang satu rintangan

Ingat itu pasti kan datang

Karang tajam sepintas seram

Usah gentar bersatu terjang

 

Ulurkan tanganmu pasti kugenggam jarimu

Kecup mesra hatiku

Rintangan kuyakin pasti berlalu

 

 

Selamat ulang tahun pernikahan, istriku. Aku sayang kamu.

Mimpi Aneh di Siang Hari: Dari KPK, Jins Aneh, Hingga Shop and Drive

Saya sering sekali mengalami mimpi aneh yang tak jelas ceritanya.

Ini baru saja terjadi. Mumpung masih ingat, harus langsung saya tuliskan di sini. Siapa tau, kalau mulai menuliskan mimpi-mimpi aneh saya, lama-lama bisa dijadikan cerita fiksi yang luar biasa. Haha.

Seperti biasa, mimpi itu seringkali tak jelas latarnya. Saya tak tahu sedang ada di mana. Yang jelas, sedang ada di kamar tidur. Saya sedang rebahan. Sebelum tertidur, saya diomeli Tetta, istri saya, karena tidur melulu hari ini. Padahal, saya memang mengantuk. Dan saya pernah baca [dari twit sebuah akun, tapi saya lupa detilnya], orang kreatif itu sering dianggap pemalas karena jam tidurnya yang lebih banyak dari orang lain. Bukan berarti saya mengaku kreatif ya, tapi karena pernah baca soal itu, jadi ya sudah saya pilih itu saja, daripada memilih untuk mengakui bahwa saya pemalas.

Oya, kembali ke mimpi. Saya ada di kamar tidur, bersama Iggy, anak saya–kebetulan saya memang sedang tidur bersama dia. Jadi, mimpinya masih ada hubungannya dengan dunia nyata. Di luar kamar, banyak sekali orang. Ada banyak saudara saya dari Bandung–wajahnya sih tak jelas, tapi di mimpi, saya merasa mereka itu saudara saya. Ada bapak dan ibu saya.

Di luar hujan rintik-rintik. Bapak saya tiba-tiba bilang bahwa aki [bahasa Inggrisnya sih accumulator, tapi biar lebih mudah, ditulis aki saja ya, semoga tak keliru dengan aki nini] mobilnya soak. Saya bilang, daripada disetrum, mending beli yang baru saja. Kebetulan ada Shop and Drive [salah satu toko aki yang cukup populer di Jakarta] di seberang jalan. Ternyata aki mobilnya, seharga 900 ribu. Perasaan, terakhir saya beli aki di sana, cuma 600 ribuan. Sebagai cheap bastard alias pelit, saya bimbang antara memberi 900 ribu untuk bapak saya, atau cuma 600 ribu dan sisanya bapak saya yang bayar.

Adegan lagu berpindah ke dalam rumah–tak jelas rumah siapa, pokoknya di rumah. Saya melihat sepupu saya yang baru saja membeli celana jins warna merah, saya lupa mereknya, yang jelas, celananya panjaaaaang sekali. Dan yang anehnya, dari bagian lutut hingga ke bawah, celana itu menempel. Jadi, orang tak bisa berjalan kalau memakai celana itu, alias harus melompat seperti sedang lomba balap karung. Tren masa kini, pikir saya.

Adegan berpindah lagi ke kamar tidur. Anak saya tiba-tiba berbicara, “Ini…” kata berikutnya saya lupa. Yang jelas, dia menertawakan sesuatu sehingga saudara-saudara saya di luar kamar ikut tertawa. Lalu, tiba-tiba ada anak perempuan di dalam kamar, pamit. Ini mungkin karena sebelum tertidur, ada tamu yang membawa anak perempuan, dan dia mau meminjam sepeda Iggy. Anak itu tertinggal hapenya di dalam kamar. Saya memanggilnya, dan menunjukkan dua hape.

Lantas adegan berpindah ke ruangan lagi. Saya bertanya, kapan bapak dan ibu saya berencana pulang ke Bandung, perasaan tadi sudah pamit. Tapi, begitu saya ke ruangan itu, mereka bilang, sedang menunggu seseorang menyelesaikan pekerjaannya.

Ternyata, yang di tunggu, ada di dalam ruangan. Di sana ada orang-orang KPK sedang mewawancarai seseorang, buat Metro TV, katanya. Ini mungkin karena beberapa hari lalu, saya membaca twit soal Navicula dan Ketua KPK Abraham Samad diundang ke Kick Andy. Tapi anehnya, ternyata yang memegang kamera adalah teman saya dari SMA 3 Bogor. Badannya aslinya gemuk, tapi di mimpi, dia jadi ramping. Entah faktor mimpi entah sekarang dia sudah begitu badannya. Kayaknya sih, saya sudah sepuluh tahun tak bertemu dia.

Di tengah kebingungan saya dengan adegan ini, tiba-tiba, salah seorang staf dari KPK menghampiri saya, menceritakan soal kerjasama KPK dengan beberapa pihak demi kampanye antikorupsi. Orang itu menyebut nama Youtube, dan beberapa nama lain yang tak saya ingat…

Baru sebentar orang itu berbicara, saya mendengar suara di balik pintu.

“Udah jam satu, makan dulu,” Tetta mengingatkan saya.

Tapi itu bukan di dalam mimpi. Dia muncul di pintu kamar.