Yuk, Datang ke Majelis Tidak Alim Cabang Bandung!

Buat yang sudah pernah membaca soal pertunjukkan tunggal saya yang berjudul Majelis Tidak Alim, dan mungkin juga pernah membaca bahwa saya berencana membawa pertunjukkan ini ke beberapa kota setelah 31 Januari lalu digelar di Jakarta, ini perkembangan dari rencana itu.

Saya tak jadi membuat tur Majelis Tidak Alim, karena saya tak punya waktu. Haha. Kata orang, waktu adalah uang. Tak ada yang mau jadi sponsor, artinya saya tak punya waktu. Yah, manusia merencanakan, Tuhan menentukan. Hehe.

Biar tidak terlalu penasaran, maka saya memutuskan untuk menggelar Majelis Tidak Alim edisi Bandung. Kota kelahiran saya, sekalian penutup. Gaya ya. Pembuka, langsung penutup. Tak ada tengahnya. Haha.

Sabtu, 12 Desember 2015, mulai jam 7 malam, di Gedung New Majestic, Braga, Majelis Tidak Alim cabang Bandung akan digelar. Selain saya, ada tiga komika yang akan tampil duluan: Wanda Urban [orang Sunda, penyiar radio, MC, komika dari Bandung], Bene Dion [orang Batak, pernah tinggal di Jogja tapi sekarang merantau ke Jakarta, dan baru bergabung di HAHAHA Corp alias manajemen saya], dan Ricky Wattimena [blasteran Ambon dan Sunda, warga Depok, mahasiswa, dan peserta Stand Up Comedy Academy di Indosiar].

Oke, mengenai harga tiket yang Rp 150 ribu. Kata teman saya yang orang Bandung, itu termasuk mahal. Tapi kalau menurut saya, itu seharga kaos distro, dan bahkan pulsa sebulan. Kalau itu perbandingannya, maka harganya relatif murah. Lagipula, dengan kapasitas 300 an kursi, maka kalau tiket saya dijual di bawah angka itu, maka saya akan rugi bandar. Jadi sodara-sodara, mohonlah pengertian, bahwa harga segitu memang karena ongkos produksi yang tak murah.

Tiket bisa dibeli di hahaha-store.com sejak 12 November sore hingga seminggu kemudian. Setelah itu, Anda juga bisa menghubungi @omuniuum atau datang langsung ke sana membeli tiket.

Buat Anda yang ingin tahu seperti apa Majelis Tidak Alim Jakarta, baca tulisan penuh riya ini ya. Hehe.

Semoga informasi ini cukup membantu Anda yang tertarik datang ke Majelis Tidak Alim cabang Bandung. Doakan semoga tiket habis terjual ya. Hahaha. Amiin!

Kalau mau langsung membeli tiket, langsung ke sini ya –> http://bit.ly/mtabandung

Sampai jumpa di New Majestic!

 

Soleh_revisi2

Tulisan Riya tentang Majelis Tidak Alim di Jakarta

Dari kemarin, mau cerita soal Majelis Tidak Alim, belum sempat.

Maklum, capeknya masih kerasa.

Jadi begini, sodara-sodara. Sabtu, 31 Januari 2015, pertunjukkan tunggal stand-up comedy saya, dengan judul Majelis Tidak Alim, akhirnya bisa digelar juga. Anda mungkin sudah pernah membaca soal rencana ini di tulisan saya sebelumnya.

Ada beberapa kekuatiran saya mengenai acara ini.

Pertama, soal tiket. Saya kuatir orang tak akan antusias membeli tiket dan datang ke pertunjukkan saya. Bukan apa-apa, saya termasuk agak terlambat dalam membuat pertunjukkan tunggal. Comic lain macam Pandji, Ernest, atau Sammy, membuat pertunjukkan tunggalnya sejak awal karir mereka. Saya, baru berani membuatnya setelah tiga tahun berkarir. Itu pun belakangan saya mulai jarang muncul di program Stand Up Comedy Show Metro TV. Sudah banyak yang bertanya soal ini, dan banyak yang mengira saya sudah tak stand-up lagi. Padahal sebenarnya, off air sih masih jalan. Cuma karena jam siaran yang selalu bentrok dengan jadwal taping, membuat saya di tahun 2014 saja, cuma dua kali muncul di program Stand Up Comedy Show Metro TV. Makanya, saya kuatir orang tak akan antusias.

Kedua, soal materi. Saya tak yakin bisa membuat materi stand-up untuk minimal satu jam pertunjukkan. Memang, saya beberapa kali pernah stand-up selama hampir satu jam, tapi saya merasa itu materinya sembarangan, asal jeplak saja, tak ada konsep. Kalau pertunjukkan tunggal, kan harus ada konsep alias tema yang sesuai dengan judul. Dan saya selalu bingung, bagaimana teman-teman saya bisa membuat materi untuk pertunjukkan tunggalnya. Saya memikirkan materi untuk taping sepuluh menit saja kerepotan.

Tapi ternyata, dua kekuatiran itu tak terbukti.

Tiket, terjual habis hanya lima hari sejak mulai dijual. Ini juga sempat membuat saya kuatir, karena banyak yang gagal membeli di elevenia.co.id [satu-satunya tempat membeli tiket]. Saya kuatir mereka yang gagal membeli, tetap dihitung oleh elevenia sehingga aslinya tiket belum terjual habis. Ternyata, beneran habis terjual. Tahu begitu, saya jual tiketnya lebih mahal. Haha.

Materi, ternyata terkumpul banyak juga. Ernest Prakasa sebelum acara mulai, dan melihat setlist saya, kaget dan sudah mengira bahwa pertunjukkan saya akan lebih dari satu jam. Buat yang bertanya-tanya soal setlist. Ya setlist ini seperti band ketika bermain. Mereka kan selalu menuliskan judul lagu dan urutan membawakannya. Nah, supaya saya tahu mau ngomong apa, saya tulis poin-poinnya, semacam judulnya lah. Saya tahu ini dari Ernest, yang juga melakukan itu ketika melakukan tur. Biasanya setelah beberapa kota, setlist tak diperlukan lagi karena dia sudah hapal urutannya.

Saya, berhubung baru sekali membawakan materi-materi itu di panggung, perlu setlist supaya omongan saya tak kemana-mana, dan tetap terjaga sesuai alur.

Setelah dicetak, ada empat lembar setlist dari kertas A4. Hahaha.

Saya membagi pertunjukkan saya menjadi dua sesi. Pertama, sesi memakai baju koko. Kedua dengan sesi kostum andalan: jaket kulit, kaos, dan jins. Tadinya, saya berpikir, sesi pertama sepertinya lumayan lah, akan menghabiskan waktu 10 hingga 15 menit. Sisanya, di sesi kedua, 45 menit lagi. Minimal stand-up di sesi berikutnya, setengah jam saja membawakan materi, sisanya mengomentari penonton.

Ternyata, yang terjadi justru jauh di luar rencana dan perkiraan.

Sesi pertama, menghabiskan waktu 40 menit. Dan sesi kedua, selama 2 jam 8 menit. Total dengan jeda antar sesi, saya stand-up selama hampir tiga jam! Sungguh di luar rencana. Haha. Saya meminta di sesi kedua, kalau sudah total satu jam pertunjukkan saya, panitia membunyikan tanda. Ternyata, setelah tanda berbunyi, setlist baru mau separuhnya. Sebelumnya, ketika tim panggung bertanya, akan berapa lama pertunjukkannya, saya tak bisa menjawabnya, karena memang belum tahu bakal selama apa jadinya. Mungkin comic lain sih, biasanya sudah tahu bakal sepanjang apa pertunjukkannya, karena mereka melatih terlebih dulu urutan materi yang dibawakannya. Tapi saya terlalu malas untuk melakukan itu. Dan kalau tahu bahwa itu belum pertunjukkan sesungguhnya, saya tak bersemangat untuk stand-up.

Alhamdulillah semuanya lancar. Semua materi bisa membuat penonton tertawa. Padahal, baru beberapa materi saja yang pernah diuji pada empat kali sesi open mic. Sebelumnya, saya tak pernah membawakan semua materi di setlist secara berurutan alias gladi resik penuh. Kombinasi antara suasana dan dukungan penonton, membuat saya bisa dengan santai membawakan semua materi di setlist.

Ada beberapa kursi yang kosong, memang. Di twitter juga ada beberapa yang mengatakan batal datang karena harus dinas lah, atau karena tiba-tiba tak punya teman lah. Tapi, meski cuaca Sabtu itu yang hujan badai dan kemacetan menggila, kursi di Pusat Perfilman H Usmar Ismail, masih terisi sembilan puluh persen. Yah lumayan lah.

Abdel Achrian, Adjis Doaibu, David Nurbianto, dan Ricky Wattimena, berhasil memanaskan acara dengan lelucon-leluconnya. Terima kasih kawan-kawan sudah membantu mewujudkan impian saya membuat pertunjukkan tunggal. Terima kasih juga Ernest Prakasa, Arie Kriting, Ge Pamungkas dan Ardit Erwanda atas bantuannnya meminta sumbangan dari penonton. Haha. Dan tentunya, Dipa Andika, manajer saya, dan istrinya Sessa Xuanthi serta tim  yang menyelenggarakan pertunjukkan. Terakhir, Tetta Riyani Valentia, istri saya, yang mengijinkan saya keluar malam untuk sesi open mic. Hehe.

Saya kaget juga dengan stamina saya. Tiga jam berdiri dan ngoceh di panggung, hanya ditemani dengan satu botol air mineral. Tanpa sakit pinggang. Ada gunanya juga beberapa bulan terakhir, saya agak rutin berolahraga. Dulu, satu jam berdiri, sudah bikin pinggang panas.

Setelah Jakarta, semoga Majelis Tidak Alim bisa dibawa ke kota lainnya di Indonesia. Ayo, yang tinggal di luar Jakarta dan mau mengundang saya untuk membuat Majelis Tidak Alim di kotanya, segera hubungi Dipa di 087878898985. Buat Anda yang bertanya soal DVD, tunggu saja, rencananya pertunjukkan ini akan dirilis dalam bentuk DVD. Kan lumayan tuh, saya punya dokumentasi karya. Belum tentu bikin kaya, tapi lumayan bikin gaya. Hehe.

Berikut ini sebagian komentar positif dari mereka yang datang. Hanya ada satu komentar yang kurang positif mengenai pertunjukkan saya. Dia menuduh semua komentar di twitter tentang Majelis Tidak Alim adalah dari buzzer saya, karena dia menganggap lelucon-lelucon saya cuma lucu karena itu melekat pada diri saya. Sambil mendoakan saya untuk terus mengembangkan diri, dia berharap nanti lelucon saya, mengutip tulisan dia: mengEndonesa. Entah apa maksudnya. Haha. Yang jelas, dia tak menuruti perintah saya di panggung. Kalau mau komentar negatif, mending urungkan niat, karena akan saya block dan report spam. Komentar negatif hanya akan membuat sakit hati, dan belum tentu membuat saya berkembang. Komentar positif memang belum tentu membuat berkembang, tapi pasti akan membuat saya bahagia.

Oya, terima kasih buat Anda yang sudah datang ke pertunjukkan saya.

Jadi, inilah dia beberapa komentar yang membuat saya girang dan harus saya muat di sini demi meningkatkan kredibilitas saya dan membuat orang penasaran pada Majelis Tidak Alim. Biarlah dianggap riya. Saya kan bukan Felix Siauw yang tak pernah riya.

Si Soleh Solihun bisa jadiin tema agama yang luas sebagai materi stand-up nya. Otentik. Pas sama nama. [Anji, penyanyi]

Sangat menikmati Majelis Tidak Alim Soleh Solihun. Lucu dan dekat ledekannya. Geblek! [Riri Riza, sutradara]

Majelis Tidak Alim-nya Soleh Solihun: The craziest stand-up comedy show ever in Indonesia. [Gilang Bhaskara, comic]

Majelis Tidak Alim Soleh Solihun adalah show PALING LUCU sejak stand-up comedy muncul di Indonesia. Titik. [Ernest Prakasa, comic]

Makasih kang Soleh Solihun yang udah bikin show paling gokil seumur-umur gua nonton stand-up! Aku hambamu mas! [Uus, comic]

Not that I’ve seen everyone out there, but I think Soleh Solihun’s Majelis Tidak Alim just raised the standard for Indonesian stand-up comedy. [Hasief Ardiasyah, jurnalis Rolling Stone Indonesia]

Majelis Tidak Alim… the best local stand-up comedy show so far. Anyeeng seseurian 3 jam! [Arian13, vokalis Seringai]

Sudah jelas kalau Majelis Tidak Alimnya Soleh Solihun adalah stand-up Indonesia teredan yang pernah gua saksikan. Terbaik, adalah ketika ada orang religius dan sederhana bisa membawa political-incorrectness ke titik terekstrem. [Ricky Siahaan, gitaris Seringai dan jurnalis Rolling Stone Indonesia]

Kang Soleh Solihun semalam telah menentukan batas teratas dari segi materi dan durasi melalui show Majelis Tidak Alim. [Arie Kriting, comic]

Majelis Tidak Alim-nya Soleh Solihun. 3 kata: lucu, berani, dan jenius. Brilian! Stand-up terlucu yang pernah gua liat! [Ge Pamungkas, comic]

Di Majelis Tidak Alim, Soleh Solihun kembali menunjukkan bahwa kejujuran itu sangatlah lucu. [Isman HS, comic]

Ketawa sampai sakit perut. [Fajar Nugros, sutradara]

Si Soleh Solihun ngomongin semua yang gue pengen omongin tapi gue gak berani omongin. Show paling berani yang pernah gue tonton seumur hidup. Majelis Tidak Alim adalah show TERlucu yang pernah gue tonton. Dan dalam 2 jam 45 menit. SICK! [Pandji Pragiwaksono, comic]

Nah, kalo ini, beberapa foto hasil jepretan Pio Kharisma.

image(9)

image(10)

image(12)

image(11)

image(13)

 

image(14)

image(15)

image(16)

image(2)

image(5)

 

image(3)

 

 

image(4)

 

image(6)

 

image(1)

 

image(7)

image(8)

 

Hadirilah Majelis Tidak Alim Soleh Solihun!

soleh_revisi_lengkap3

Mungkin di antara Anda sudah tahu, bahwa saya akan membuat pertunjukkan tunggal stand-up comedy yang saya beri judul Majelis Tidak Alim, Sabtu, 31 Januari 2015 di Pusat Perfilman H Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, pukul 7 malam. Lokasinya ada di sebelah Pasar Festival.

Buat yang belum tahu apa itu pertunjukkan tunggal stand-up comedy, atau biasanya sih lebih populer di kalangan stand-up comedian dengan istilah stand-up special [Saya sengaja tak mau menyebut special show, karena seperti kata teman saya, Sammy Not A Slimboy dalam salah satu lawakannya soal martabak, kalau semua mengaku spesial, lantas di mana letak spesialnya? Haha] ini adalah konser tunggal kalau kita bicara konteks musik, atau kalau nanti jadinya dibuat dalam bentuk DVD, maka ini adalah album.

“Gua kira lo nggak tertarik bikin yang seperti itu, Leh,” kata Pandji Pragiwaksono ketika saya bercerita soal rencana show saya.

Memang sih, waktu banyak teman saya seperti Ernest, Sammy, Luqmann, dan Pandji bikin special, ada yang bertanya kapan saya membuat special juga, yang saya jawab dengan pernyataan bahwa saya tak akan mau membuat special, karena saya tak yakin bisa membuat materi lawakan baru untuk pertunjukkan selama minimal satu jam. Kalau membawakan materi-materi lama doang sih, bisa saja, tapi kan kasihan yang datang membeli tiket, masa’ dikasih materi lama. Yah ibaratnya album musik, kalau saya membuat album perdana hanya berisi kumpulan lagu-lagu saya yang pernah tersebar di berbagai album kompilasi, kan kurang oke.

Tapi kemudian, keinginan untuk membuat pertunjukkan tunggal semakin besar. Selain karena motivasi ingin membuat karya, juga karena selama ini setiap kali saya stand-up selalu tak mendapat panggung yang sesuai dengan keinginan saya. Di televisi, dibatasi oleh durasi dan terutama topik. Di acara perusahaan, ya tentu saja lebih terbatas lagi materi lawakannya. Intinya, saya ingin merasakan manggung di tempat yang nyaman buat saya, di mana saya bisa tampil sesuka hati saya.

Ada empat comic yang bakal turut memeriahkan pertunjukkan saya: Abdel Achrian orang Padang, Adjis Doaibu orang Batak dari Bekasi, David Nurbianto orang Betawi, dan Ricky Wattimena orang Ambon beragama Kristen. Hehe. Cukup beragam kan? Sunda diwakili oleh saya.

Abdel, sejak pertama kali berniat membuat pertunjukkan, saya terpikir mengajak dia, karena kan dia identik dengan sosok religius, pas lah dengan tema pertunjukkan saya. Dan kebetulan, ketika saya mengundang dia untuk datang ke pertunjukkan saya, dia malah berkata ingin berpartisipasi. Yah berjodohlah kita. Adjis, karena saya melihat kesamaan antara saya dan Adjis, sama-sama MC dan sama-sama mengandalkan penonton untuk dijadikan bahan lawakan. Plus, dia pernah berkata bahwa dia penggemar saya. Dia adalah orang pertama yang mengatakan bahwa dia penggemar saya. Haha. Ya makanya harus saya ajak. Sebagai bentuk terimakasih saya bahwa dia telah menyebut saya idola. Hahahaha. David, sebelum dia jadi juara Stand Up Comedy Indonesia dari Kompas TV, dia adalah opener saya kalau saya dapat job stand-up [saya sengaja pakai konsep opener dalam pertunjukkan 30 menit saya di job korporat alias acara perusahaan, supaya ada yang menghangatkan suasana sebelum saya tampil dan supaya saya ada teman grogi. Dan kalau saya garing, semoga opener saya tak garing jadi penonton terobati. Atau, kalau opener saya garing, ya saya jadi terlihat lucu sekali. Atau kalau kami berdua sama-sama garing, jadi pas pulang ada teman yang juga merasakan sengsaranya hati setelah gagal. Haha]. Makanya, dia harus saya ajak. Ricky, adalah opener saya setelah David jadi juara dan harganya tak bisa harga pemula lagi. Ricky masih berstatus mahasiswa, dan punya potensi untuk berkembang. Dia punya kemampuan yang tak dimilik stand-up comedian lain: beat box. Katanya sih berencana ikut SUCI Kompas TV season terbaru nanti.

Ada dua kelas dalam pertunjukan saya. Kelas Unta seharga Rp 150 ribu, dan Kelas Kambing seharga Rp 100 ribu. Saya ingat pelajaran agama Islam yang mengatakan bahwa kalau kita datang di barisan paling depan ketika Jumatan, maka pahalanya dapat Unta atau sekelas Unta lah saya lupa. Yang jelas, makin belakang barisan ketika Jumatan, maka hewannya makin murah. Ya Kelas Unta paling dekat dengan panggung. Maaf, saya belum bisa memberi denah panggung, karena memang belum ada. Haha. Soal pembelian tiket, baru akan dimulai nanti, tanggal 5 Januari 2015. Infonya rajin pantau twitter saya aja ya.

Lantas kenapa judulnya Majelis Tidak Alim?

Majelis, berarti tempat berkumpul. Alim itu berarti pintar. Bisa juga kalau bahasa percapakan sehari-hari, alim diartikan baik. Makanya ada kalimat, ‘Dia mah alim banget anaknya.’ Nah, sadar bahwa selama ini materi lawakan saya bukan lawakan pintar macam teman-teman yang saya sebutkan di atas tadi, saya mengambil judul itu. Dan satu lagi, ya ini memang parodi dari Majelis Ta’lim.

Selalu ada dua sisi dalam diri saya: sisi yang religius dan sisi yang kurang suka sama orang-orang yang reiligius karena banyak dari mereka yang sepertinya tak toleran terhadap orang-orang yang berbeda keyakinan. Nama saya sih cukup religius, tapi kelakuan saya tidak. Makanya, nama Majelis Tidak Alim sekalian menyampaikan pesan bahwa jangan kaget kalau di pertunjukkan saya nanti, apa yang saya sampaikan tak sesuai dengan nama saya. Hehe. Maklum, banyak materi saya yang membahas seputar selangkangan.

Bukan bermaksud melecehkan agama Islam kok. Kalaupun ada materi saya yang mempertanyakan atau menganggap kocak kisah dari pelajaran agama yang pernah saya dapat, ya itu bukan bermaksud melecehkan, tapi ingin jadi gambaran bahwa selama ini memang banyak sekali pertentangan batin dalam diri saya kalau sudah bicara agama.

Kemarin ada yang mention saya di Twitter, berkata bahwa kalau bisa, materi lawakan saya jangan melecehkan agama Islam, seperti yang sudah-sudah. Ketika saya tanya, bagian mana atau tepatnya kalimat mana dari saya yang dianggap melecehkan, dia tak menjawabnya. Dulu juga pernah ada yang bilang kalau saya melecehkan ayat-ayat al Qur’an, tapi mereka tak pernah spesifik mengatakan lawakan yang mana. Apakah karena saya sering mengucap Istighfar di panggung? Masa sih, bilang astaghfirullohaladziim termasuk melecehkan? Kan kata guru agama, kita harus sering-sering istighfar. Lagipula, itu keluar secara refleks dari mulut saya, tanpa bermaksud melecehkan. Kan konteksnya tepat, setelah saya ngomong ngaco, saya mengucap istighfar demi meminta ampun. Hehe.

Yah pokoknya, jangan protes dulu lah, soal judul pertunjukkan saya. Lagipula, kata Majelis kan bukan khusus milik Islam. Majelis Permusyawaratan Rakyat yang isinya ada koruptor harus diprotes dong, kalau memang menganggap kata Majelis milik agama Islam.

Makanya, datang aja dulu ke pertunjukkan saya, baru protes. Hehe.

Yah sodara-sodara, ayo datang ke pertunjukkan saya. Ajak sanak sodara, handai taulan, rekan-rekan, tetangga, dan semuanya. Tak peduli apa agama dan kepercayaannya, semua boleh datang ke Majelis Tidak Alim Soleh Solihun.

Asal beli tiket.