Penghina Jokowi di Facebook, Tak Perlu Lah Ditahan Polisi

Saya baru baca beritanya.

Soal MA, 24 tahun, seorang tukang tusuk sate dari Jakarta Timur, yang ditahan di Mabes Polri karena dituduh menghina Jokowi. Buat yang mau tahu berita lengkapnya, silakan baca di sini dan di sini.

Katanya sih,Henry Yosodiningrat, Koordinator Tim Hukum Jokowi-JK pada saat kampanye, yang melaporkan MA. Ini alasan dia melaporkannya: “Dia merekayasa foto seronok Jokowi dengan Megawati dan ditambahkan kalimat-kalimat yang merendahkan. Ini persoalannya bukan dia tukang sate atau bukan. Tapi ini telah merendahkan martabat Jokowi.”

MA dituduh melanggar UU ITE dan UU Pornografi. Kalau sudah bicara UU ITE, pasti selalu dibahas pencemaran nama baik.

Oke, saya bukan ahli hukum, tapi saya rasa, tak perlu lah si MA itu dilaporkan polisi dengan tuduhan itu. Pertama, kalau bicara nama baik yang tercemar, saya rasa nama Jokowi atau Megawati, tak akan tercemar dengan gambar yang jelas-jelas hasil editan itu. Saya tak tahu dengan yang lain, tapi nama Jokowi tetap tak cemar di mata saya, meskipun saya melihat gambar cabul editan. Tak perlu jadi pakar telematika buat tahu kalau gambar itu palsu, ya kan? Kalau soal kalimat merendahkan mah, selama kampanye pilpres kemarin, banyak sekali orang yang sudah menulis kalimat merendahkan buat Jokowi. Masa’ mereka semua harus dilaporkan? Kedua, kalaupun kuatir citra Jokowi tercemar karena gambar itu, ya elah, berapa banyak sih, teman MA di Facebook?

Kalau kasusnya Obor Rakyat, nah itu baru harus diusut dan dituntut, karena mereka bicara atas nama jurnalisme, tapi tak bisa dipertanggungjawabkan. Orang tak akan tahu, mana yang berita benar mana yang berita bohong demi menyudutkan atau memfitnah. Kalau perbuatan orang mengedit gambar porno lalu ditempel muka yang jelas-jelas bukan muka si badannya sih, saya rasa tak perlu dilaporkan ke polisi juga. Orang juga akan tahu, itu bohong. Tak akan serta merta berpikir, wah, jangan-jangan benar juga apa yang dikatakan gambar itu. Ya saya sih tak tahu bagaimana perasaan Jokowi dan keluarga melihat gambar itu [kalaupun mereka sudah melihatnya ya, semoga bukan hanya dengar dari staff saja], tapi semoga Pak Jokowi diberi kesabaran dalam menghadapi yang seperti itu. Kemarin juga, Jokowi sudah difitnah macam-macam kan. Mulai dari komunis, hingga bukan beragama Islam.

Santai saja Pak. Agnez Mo, Syahrini, atau Mulan Jameela saja dihina oleh banyak orang di internet, dan mereka tak pernah menanggapi itu dengan melaporkan ke polisi atas pencemaran nama baik. Hehe.

Kata Henry Yosodiningrat [dia ini pentolannya BNN kan ya, bukannya harusnya lebih banyak mengurusi pengedar narkotika ya? hehe], Jokowi menyetujui tertulis bahwa dia menyerahkan kasus ini pada Henry buat menuntut si MA. Tapi ya tolonglah Pak, saya rasa Bapak tak perlu mengambil langkah hukum, apalagi memakai UU ITE yang jelas-jelas telah mengambil banyak korban. Bapak juga harus ingat, salah satu yang membuat Bapak lolos jadi presiden adalah bantuan netizen alias warga internet [eh bener gak ya, artinya netizen itu? Haha]. Kalau Pak Jokowi menghukum orang dengan memakai UU ITE, saya rasa itu adalah sebuah langkah yang tak bijak. Jangan lah jadi pejabat yang standar: ada yang menghina langsung dilaporkan polisi.

Katanya mau revolusi mental. Harusnya, ya mungkin bisa dimulai dari hal ini.

Selamat Ulang Tahun, Iggy Kastara!

Dua tahun lalu, tepatnya pukul setengah empat sore, di RS Puri Cinere, kamu lahir.

Sejak masih dalam kandungan, Bapak dan Ibu selalu bilang, kalau kamu lahir, tolong pas hari libur atau di akhir pekan, supaya lalu lintas menuju rumah sakit lancar, dan Bapak sedang ada di rumah. Ternyata, kamu memenuhi permintaan Bapak dan Ibu. Jam setengah enam pagi, Ibu merasa air ketuban bocor. Hari itu, Idul Adha, tadinya Ibu sedang bersiap-siap pergi ke mesjid untuk solat Ied. Bapak dan Ibu langsung pergi ke rumah sakit, ditemani Oma.

Sesampainya di rumah sakit, Ibu diperiksa suster yang kemudian bilang, kamu masih lama keluarnya. Itu mah bukan air ketuban. Tapi, ketika Dokter Aswin datang dan memeriksa Ibu, ternyata itu memang air ketuban. Yah namanya juga suster, kan mereka bukan ahlinya, tak apa lah kalau salah, tapi ya kasihan Ibu, susternya agak judes dan terlalu kasar memeriksanya.

Pukul sembilan pagi, Ibu diberi kapsul supaya segera melancarkan persalinan. Induksi, istilah kedokterannya. Setelah diinduksi, Bapak diminta mencatat berapa kali Ibu kontraksi. Dokter Aswin pergi dulu, mau membantu persalinan di rumah sakit yang lain.

Pukul tiga sore, Ibu dibawa ke ruang bersalin. Dokter Aswin dibantu beberapa orang suster di dalam ruangan. Bapak memegang tangan Ibu di sebelah kanan ibu, sambil memegang kamera. Demi dokumentasi. Maklum, Bapak kan bekas wartawan. Oma di sebelah kiri ibu.

Ada gunanya juga senam hamil yang beberapa kali Ibu ikuti, karena ketika disuruh mengeden dan ambil posisi melahirkan, Ibu sudah terlatih. Banyak yang bilang, ketika melahirkan, bapak-bapak “disiksa” oleh istrinya, baik itu diremas, dipegang dengan erat tangannya, yah disakiti lah. Tapi itu tak terjadi pada Bapak, karena tangan Bapak memegang kamera, sepertinya Ibu tak ingin menganggu lancarnya pengambilan gambar.

Pertama kali kamu keluar dari perut, yang terlihat adalah rambut kamu yang lebat. Bapak malah teringat alien yang ada di film, karena kamu berlumuran darah dan rambut hitam lebat. Hehe. Maaf ya. Dokter kandungan ternyata hanya menyemangati, terus membersihkan rambut kamu pas kamu perlahan-lahan keluar dari perut Ibu, terus menyambut kamu pas keluar seutuhnya. Enak ya jadi dokter kandungan. Sepertinya biaya paling mahal adalah untuk keterampilan menjahit alat kelamin perempuan yang koyak setelah melahirkan. Keterampilan itu tak mungkin dipelajari di kursus jahit Juliana Jaya.

Setelah dibersihkan, Bapak memotong pusar lalu membacakan adzan dan iqomah. Kamu terima saja ya menjadi Islam, kan bapak dan ibu kamu Islam. Hehe. Semoga setelah besar dan mengerti baik buruk, kamu bisa menerima ajaran Islam dan menjalankannya sambil tetap menghargai mereka yang berbeda pandangan dengan kamu soal agama.

Ibu menjalankan proses Insiasi Menyusui Dini alias IMD, dibantu Tante Nia Umar yang juga teman kuliah Bapak. Secara naluri, bayi yang baru lahir, akan mencari puting ibunya, lalu menyusui. Nah, IMD ini adalah menaruh bayi yang baru lahir di perut Ibu, terus membiarkan dia merangkak hingga mendapatkan puting ibu, dan menyusui untuk pertama kalinya. Kamu sudah dua tahun mendapatkan Air Susu Ibu. Kalau kamu punya anak, pastikan anak kamu mendapat ASI ya. Selain banyak manfaatnya karena menyehatkan, ASI juga hemat biaya, dan tak merepotkan orangtua. Kalau jalan-jalan, tak perlu bawa tas bayi yang berisi susu formula dan termos berisi air panas. Formula mah di balapan, bukan buat bayi. Hehe. Bapak sih tak tergabung di komunitas Ayah ASI, tapi bapak pro ASI.

Ini foto karya Ibu. Kalau kamu bertanya-tanya kenapa warnanya begitu, itu karena filter Path yang akan membuat foto biasa saja, jadi terlihat luar biasa [tapi ini mah bukan foto biasa saja, karena bagus, ada tulisan nama kamu di belakangnya, dan pose kamu sedang menjulurkan lidah]. Kalau pada saat kamu baca, sudah tak ada yang namanya Path, silakan Google saja. Kayaknya sih kalau Google bakal masih ada. Bapak sih tak main Path, sudah dua tahun bapak uninstall dari hp, karena menurut bapak, Path adalah kombinasi antara Instagram dan Twitter. Buat apa mengulang yang sudah Bapak punya?

iggy

Kini, dua tahun kemudian, Bapak menulis ini buat kamu. Siapa tahu, internet masih canggih dan belasan tahun kemudian, kamu masih bisa membaca tulisan ini. Kalaupun tidak, yah setidaknya pembaca blog ini jadi tahu sedikit tentang kamu.

Bapak mengambil nama Iggy, dari salah satu musisi idola bapak: Iggy Pop. Dari sekian banyak nama rockstar bule, yang namanya mudah diucapkan oleh lidah lokal, tak peduli lidahnya apa, Iggy adalah nama yang paling pas. Diucapkan anak kecil, mudah. Oleh orang Sunda mudah, karena tak ada unsur F. Dan tak terlalu kebarat-baratan. Hanya mereka yang tahu Iggy Pop, akan menebak bahwa itu nama Barat. Kalau anak sekarang, paling menghubungkannya dengan Iggy Azalea.

Kastara adalah nama pemberian Ibu. Diambil dari bahasa Sansekerta [sudah punah bahasanya, sekarang akhirnya dipakai kata-kata yang masih bisa dicatat sejarah dan dipakai jadi nama manusia masa kini], artinya: yang termasyhur. Pas lah, nama itu. Ada nuansa Sundanya, dan artinya kurang lebih jadi Pop juga. Satu lagi, nama itu mirip dengan nama yang Bapak pakai di buku: Kastana.

Bapak tak mau memberi nama yang lebih dari dua. Toh, banyak juga yang punya nama panjang, pada akhirnya namanya disingkat hanya jadi dua. Lagipula, kalau namanya pendek, ketika bertransaksi di ATM, nama kamu bakal tertulis lengkap. Satu lagi yang tak kalah penting: nama dengan huruf I, kalau dipanggil di sekolah, tak akan ada di urutan satu. Bapak tak tahu bagaimana nanti di sekolah kamu, yang jelas, di sekolah Bapak, kalau pelajaran olahraga atau pelajaran lain yang berhubungan dengan memanggil murid untuk melakukan sesuatu, biasanya diambil dari daftar absen. Antara anak dengan huruf A atau huruf Z yang biasanya ada di urutan pertama melakukan yang diperintahkan guru di pelajaran itu.

Tak ada makna filosofis di balik nama kamu. Kasihan kamu kalau namanya terlalu terbebani oleh doa orangtua. Pertimbangan Bapak mah cuma satu: namanya keren menurut Bapak dan Ibu. Hehe. Kalau soal doa dan harapan mah, yah Bapak selalu berharap kamu jadi orang yang baik, sehat, bahagia, berguna buat orang lain, bisa punya keluarga yang bahagia juga, dan tak menyakiti orang lain.

Ulang tahun kedua, Bapak dan Ibu tak membuat pesta seperti ulang tahun pertama kamu. Tapi Ibu semangat sekali, membuat pernak pernik hiasan demi kepentingan dokumentasi alias demi bagus buat media sosial. Terima kasih juga untuk Tante Lia yang membantu membuatkan desain lucu-lucu bertema safari. Dia ingin merintis usaha penyelenggara pesta ulang tahun anak kecil, dan meminta Ibu memfoto hasil desainnya, dengan harapan banyak yang mau memakai jasanya.

Tapi kemarin, Bapak, Ibu, Oma, Amih, Apa, Aa, Teteh, dan Bibi, mengajak Iggy ke Taman Safari, Cisarua. Meskipun harus macet di jalan, dan menempuh empat jam perjalanan ke sana, semua senang. Bapak terakhir ke sana tahun ’96, waktu ikut acara pelantikan Merpati Putih. Dini hari Bapak direndam di kolam yang airnya dingin sekali. Maklum lah, Bapak dulu pernah bercita-cita jadi pendekar karena kebanyakan nonton film Kung Fu.

Ini buktinya kita ke Taman Safari. Siapa tahu, nanti kamu bilang no pic = hoax. Yah tak kelihatan sih binatangnya, tapi ini di jalan menuju parkiran setelah menonton Cowboy Show di mana kamu menangis karena mengantuk.

jalan

 

Nih, foto kamu sedang mengaum. Sebelumnya, ketika semua bernyanyi di depan kue ulang tahun, kamu malah menangis. Mungkin kamu lapar, Bapak juga kalau lagi lapar suka uring-uringan.

aum

Sudah dulu ya tulisannya. Gerah nih, Bapak mau mandi. Tapi mau makan jeruk Sunkist dulu. Itu loh, kamu juga suka ikut bapak kalau bapak sedang makan jeruk. Oya, mau cerita sedikit soal jeruk Sunkist, lebih tepatnya sih jeruk Navele [maaf kalau salah mengeja]. Dulu, sebelum tahu ada jeruk Sunkist [jeruk yang makannya tak dikupas kullitnya lalu dimakan satu-satu, tapi jeruk dipotong oleh pisau dan dibagi menjadi delapan potong kecil], Bapak pernah berdoa, semoga saja suatu hari ada jeruk yang tanpa biji. Soalnya Bapak kalau makan jeruk lokal, selalu malas membuang bijinya. Merepotkan dan meninggalkan banyak sampah. Pernah Bapak bercita-cita ingin masuk surga, karena bapak pikir, kalau di surga, pasti jeruknya tak ada bijinya, jadi bisa langsung dilahap tanpa harus repot membuang bijinya. Bapak agak jijik dengan biji. Tapi tak jijik dengan biji punya Bapak. Hehe.

Tuh kan, katanya tadi mau menyudahi tulisan. Tapi tak kelar-kelar juga. Kebiasaan nih. Kalau sedang stand up pun, Bapak sering tak tahu bagaimana mengakhiri penampilan supaya klimaks dan membuat penonton bersorak di akhir lawakan, sebelum Bapak pamit.

Ah sekarang mah, beneran nih. Soalnya kamu sudah naik kursi tempat bapak mengetik, dan kamu mulai menangis karena ingin ikut main komputer juga.

Selamat ulang tahun, Iggy Kastara!

 

 

 

Tentang Saya dan Pak Kosasih

Seberapa dekat Anda dengan bapak atau ayah atau papah Anda? Saya sih memanggilnya dengan ‘Apa’, tipikal orang Sunda lah. Tapi, demi kepentingan tulisan, saya sebut saja bapak.

Kalau definisi dekat adalah bisa bercerita tentang apa saja, maka saya sih termasuk yang biasa saja. Saya bertanya-tanya soal kedekatan dengan bapak, setelah saya punya anak. Saya berusaha dekat dengan Iggy. Saya ingin anak saya, ketika besar, bisa punya hubungan yang dekat dengan saya, tak seperti hubungan saya dengan bapak saya. Perasaan kalau melihat film Hollywood, sering ada adegan sang anak curhat soal pacar kepada bapaknya. Nah, adegan begitu, belum pernah saya alami dalam hidup. Entah kenapa, saya merasa malu, atau geli, bercerita soal itu.

Ada masanya saya sebal sama bapak saya. Tepatnya, ketika masih kuliah. Dia sering bertanya kapan saya lulus. Dalam berbagai mode, mulai dari mode baik-baik dengan nada bicara mengayomi, mode menyindir, hingga mode amarah dengan nada bicara yang tinggi. Akhirnya saya lulus, setelah tujuh tahun kuliah. Itu bukan karena malas, tapi karena sudah niat sejak pertama masuk kuliah. Ingin merasakan dunia kampus sampai bosan sehingga tak perlu kangen lagi dan tak perlu balik lagi ke kampus dan ada nuansa post power syndrome. Hahaha. Alasannya hebat ya?

Saya sering sebal juga, sama bapak saya yang banyak omong. Waktu masih bujangan dan saya bolak balik Jakarta – Bandung dua kali seminggu, setiap datang dari Jakarta dan berangkat ke Jakarta dari Terminal Leuwi Panjang, bapak saya selalu menjemput saya. Selama di perjalanan, sambil menyetir, dia tak berhenti berbicara. Tanpa jeda. Saya sering capek mendengarnya.

Tapi setelah punya anak, saya jadi sadar, bahwa sebenarnya bapak saya, menyayangi saya, meskipun tak pernah ada kalimat begitu. Jangan juga sih, saya jadi geli nanti. Saya menyayangi anak saya. Ketika memeluk Iggy, menemaninya hingga dia tertidur, memeluk, memangku, membacakan buku, bermain bersama, saya jadi teringat bapak saya. Mungkin ini yang dia rasakan juga ya.

Ada empat momen masa kecil bersama bapak, yang masih membekas di benak saya. Pertama: momen solat jumat bareng, di Mesji Al Banna, Desa Narogong, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor. Saya tak tahu umur berapa, yang jelas, sebelum masuk SD. Kedua, momen dijemput dari TK PT Semen Cibinong. Karena dekat dengan kantor bapak saya di PT Telkom [waktu itu masih Perumtel, tepatnya di SKSD Palapa], bapak saya selalu menjemput saya dari TK. Masih terbayang, saya berdiri di atas Vespa, angin menerpa saya, dan tangan saya berpegangan pada itu loh saya tak tahu apa namanya, yang ada di speedometer Vespa. Ketiga, momen ketika bapak saya bercerita alias berdongeng di kamar tidur, sebelum saya tidur. Dongengnya tentang asal usul air laut menjadi asin. Keempat, momen ketika bapak saya menyuruh saya ikut lomba pidato ketika kelas 6 SD, dia menuliskan naskah ceramahnya [tentang Isra’ Mi’raj], sehingga saya jadi juara lomba pidato dalam rangka peringatan Isra’ Mi’ raj.

Dulu, saya tak pernah menganggap pengalaman-pengalaman itu berharga. Istilah bahasa Inggrisnya, taken for granted. Baru belakangan ini, saya sadar, bahwa ternyata hubungan saya dan bapak saya cukup dekat. Yah setidaknya ketika kecil.

Ketika saya bersama Iggy, saya merasa jadi bapak saya, dan Iggy menjadi saya. Jadi teringat dialog di film “Man Of Steel”: The father becomes the son, the son becomes the father. Kurang lebih begitu kan dialognya, kalau salah, maafkan ya. Saya sedang malas Googling untuk konfirmasi dialognya. Hehe.

Saya baru sadar, betapa bapak saya, punya pengaruh yang besar terhadap hidup saya. Kalau saja dia tak menyuruh saya ikut lomba pidato, mungkin saya tak sadar punya kemampuan public speaking. Entah apa motivasi bapak saya waktu itu. Apakah karena dia melihat saya punya potensi itu, atau memang dia ingin saya jadi ustadz? Haha.

Yah buat Anda yang mungkin juga sekarang sebal sama bapaknya, sabar aja. Orang tua memang kadang menyebalkan, tapi kalau sudah punya anak, barulah kita sadar, bahwa mereka memang ada tujuan baik juga. Tapi syukurlah, bapak dan ibu saya, tak pernah memaksakan saya jadi yang mereka inginkan, meskipun sempat menyuruh saya jadi PNS, tapi mereka ikhlas saja ketika saya menolak ide itu. Hehe.

Buat yang belum pernah lihat bapak saya, ini fotonya. Namanya Kosasih. Waktu pertama kali main film, di “Cinta Brontosaurus” dan sutradara Fajar Nugros menanyakan nama Sunda buat karakter saya, langsung teringat bapak. Haha. Yah saya pikir, kalau saya main film pertama kali, orang biasanya bakal mengingat namanya. Sebagai penghargaan buat bapak, saya memakai nama Kosasih di film. Waktu ibu saya mengajak bapak nonton film itu di bioskop, ternyata dia tak mau, karena canggung melihat anak saya bermain film, dan memakai nama dia. Hahaha.

Ini dia sedang di atas Vespa. Standar foto jaman dulu, duduk di Vespa dengan wajah tak melihat kamera.

photo.PNG

 

Waspadai Punahnya Bahasa Daerah

Saya ini orang Sunda tulen.

Meskipun rahang persegi, intonasi bicara kadang meledak-ledak, dan seringkali straight forward ketika mengeluarkan opini, hingga sering dikira sebagai orang Batak [bahkan oleh orang Batak], tapi saya ini Sunda tulen. Orang tua saya, dua-duanya berdarah Sunda. Leluhur saya berasal dari Bandung dan Garut.

Tidak, tulisan ini bukan mau membanggakan suku Sunda.

Saya mau bicara soal bahasa daerah. Berapa banyak di antara Anda yang membaca tulisan saya ini bisa berbahasa daerah? Coba pikirkan. Kalau dilihat berdasarkan garis keturunan, ada darah apa yang mengalir di sana? Atau, secara psikologis, Anda merasa sebagai orang apa? Soalnya, banyak teman saya yang bapak ibunya berdarah Jawa atau Batak atau Padang, tapi karena tumbuh besar di Bandung, mereka merasa sebagai orang Sunda dan fasih berbahasa Sunda. Istilahnya sih, sudah dinaturalisasi oleh tanah Pasundan. Hehe.

Saya rasa, makin lama, makin jarang anak kecil yang berbahasa daerah.

Ini memang masih analisa dangkal saya saja, yang hanya membandingkan dari anak-anak kecil di Bandung di lingkungan rumah saya. Sepupu-sepupu saya, bersama pasangannya, semua berbahasa Sunda, tapi kepada anak-anaknya, mereka tak berbicara bahasa Sunda. Padahal, katanya, yang penting itu kan bahasa ibu. Kalau pasangannya terdiri dari dua suku yang berbeda dan mereka tak mengajak bicara daerah ke anaknya sih, ya masih bisa dimaklumi. Ini mah, di rumah, orangtuanya berbahasa Sunda, tapi anak-anaknya diajak bicara bahasa Indonesia.

Pernah saya tanya ke mereka, alasannya: bahasa Sunda mah bisa belajar di pergaulan. Kalau semua orangtua berpikir sama, maka anak-anak kecil di Bandung, yang nota bene tanah Sunda, malah akhirnya tak berbicara bahasa Sunda. Saya tak bicara bahasa Sunda kepada anak, karena Tetta, istri saya memang bukan orang Sunda, dan dia tak bisa bicara bahasa daerah, meskipun ibunya fasih berbahasa Padang, dan bapaknya fasih berbahasa Jawa. Yah maklum, lahir dan besar di Jakarta.

Tak usah bicara Jakarta lah. Di Jakarta, meskipun tanah Betawi, tapi itu tak bisa dibilang bahasa daerah kan. Soalnya, tak ada pelajaran bahasa Betawi di sekolah-sekolah. Iya kan? Maaf loh, kalau saya salah. Tapi harusnya, kalau bahasa Betawi diakui sebagai bahasa daerah, masuk kurikulum seperti di daerah lain. Atau mungkin karena bahasa Betawi mirip dengan bahasa Indonesia ya, cuma dialeknya yang berbeda, jadi tak dianggap perlu dimasukkan ke dalam pelajaran bahasa daerah.

Eh iya, masih ada nggak ya? Pelajaran bahasa daerah di sekolah? Yah meskipun itu tak membuat mereka yang tak bisa berbahasa daerah jadi fasih berbahasa daerah, setidaknya ada usaha melestarikan lah.

Saya jadi ingat teman saya, Zaidan dan istrinya Viky. Mereka berbicara bahasa Sunda kepada anaknya. Dan yang hebatnya, Sunda halus. Saya saja sudah agak lupa bahasa Sunda halus. Padahal, waktu kecil, bicara Sunda halus di rumah, tapi gara-gara tinggal di Narogong, Kecamatan Cileungsi dan teman-teman main saya bicara Sunda kasar, saya malah ditertawakan teman-teman ketika bicara Sunda halus. Saya rasa, di Bandung pun, sudah jarang, orangtua seperti Zaidan dan Viky. Rasanya lebih banyak orangtua yang lebih peduli anaknya fasih berbahasa Inggris ketimbang bahasa daerah.

Di Jakarta, saya malah belum pernah mendengar anak kecil bicara bahasa daerah. Lebih banyak anak kecil was wes wos speaking English fluently.

Bagus sih, buat menyambut perdagangan bebas. Haha. Tapi ya, jadinya kalau semua anak kecil yang nantinya jadi orang besar dan menggantikan generasi tua sekarang sudah tak ada yang bisa berbahasa daerah, sayang sekali ya, kita harus kehilangan keragaman yang selalu diagung-agungkan itu. Padahal, menurut saya, itu jadi salah satu karakter yang membedakan kita dengan bangsa lain.

Saya jadi ingat waktu berkunjung ke Taipei. Di sana, pemandangan alamnya minim sekali, jauh lah sama yang kita punya di Indonesia. Akhirnya, salah satu daya tarik wisata mereka, adalah sejarah nenek moyangnya, alias sisi tradisional mereka. Di museum nya, ditampilkan, darimana nenek moyang mereka, seperti apa pakaian adatnya, dan bagaimana karakter tiap suku. Yah, kalau di kita mah, macam anjungan daerah di Taman Mini Indonesia Indah.

Artinya, sisi tradisional itu menarik dan potensial buat pariwisata. Kita ambil contoh Bali. Yang membuat saya, sebagai orang luar Bali, senang berkunjung ke sana, bukan cuma pantainya, tapi karena masih ada nuansa tradisional yang kuat.

Yah sebenarnya, saya bicara begini pun, masih agak munafik sih. Soalnya, waktu resepsi pernikahan, saya memilih memakai jas dan bertema nasional untuk pelaminan, karena malas memakai pakaian daerah. Hehe.

Saya jadi ingat para penyiar di radio daerah. Mendengar mereka, tak terasa sedang ada di daerah itu, karena dari gaya bahasa, hingga logat, terdengar seperti di Jakarta. Padahal, saya diajak siaran oleh radio di Jakarta, karena saya terasa nuansa Sunda nya, alias relatif berbeda dengan tipikal penyiar radio. Dan kemarin, saya diajak casting oleh stasiun TV yang mau membuat program pun, karena mereka mengharapkan nuansa Sunda saya yang muncul.

Lama-lama, kalau anak-anak kecil sekarang makin sedikit yang diajarkan atau menggunakan bahasa daerah, bisa punah ya. Saya pernah baca, banyak bahasa yang akhirnya punah. Mungkin nanti yang tersisa tinggal penggalan kata yang kemudian dijadikan referensi nama anak di generasi mendatang, macam bahasa Sansekerta.

Eh iya, ada kursus bahasa daerah nggak ya? Kalau kursus bahasa asing, kan banyak. Siapa tahu ini jadi peluang bisnis loh. Sekalian tujuan mulia, melestarikan bahasa daerah. Siapa tahu, nanti setelah adanya perdagangan bebas dan makin banyak orang asing yang menguasai lahan pekerjaan di sini, kemampuan berbahasa asing jadi tak istimewa lagi. Nanti yang dicari malah sumber daya manusia yang fasih berbahasa daerah.

Ayo, Juliana Jaya. Siapa tahu mau membuka variasi kursusnya. Bertahun-tahun kan sudah menghasilkan para penjahit andal sistem Jepang berijazah negara. Sekarang giliran membuka kursus bahasa daerah.

Juliana Jaya. Kursus Bahasa Sunda, dengan para pengajar akang teteh asli Pasundan.

Juliana Jaya. Kursus Bahasa Jawa, dengan para pengajar mas mbak yang logatnya masih medok.

Juliana Jaya. Kursus Bahasa Batak, lengkap dengan suasana lapo tuak.

Juliana Jaya. Kursus Bahasa Padang, yang dilengkapi masakan Padang.

Dan seterusnya. Silakan diisi sendiri, sesuai dengan harapan Anda.

 

Jadi Penyiar Itu Harus Kompromi Selera Musik

Salah satu jualan radio, adalah lagu. Selain tentu saja obrolan penyiarnya.

Saya baru empat tahun siaran di radio, dan baru siaran di dua radio. Tapi, sejauh ini, semua sama saja: soal lagu yang diputar, saya tak bisa berbuat apa-apa, alias pasrah, alias harus kompromi.

Buat yang belum tahu mekanisme lagu diputar di radio, baiknya saya ceritakan dulu secara singkat. Di radio, [entah kenapa pas menulis kata ini, langsung bernyanyi dalam hati lagu “Kugadaikan Cintaku” dari Gombloh: di radio, aku dengar lagu kesayanganmu…” Haha] ada yang namanya Music Director alias MD. Nah, MD lah yang menyusun lagu-lagu yang diputar setiap hari. Saya tak tahu detilnya bagaimana, yang jelas, setiap radio punya kebijakan sendiri: soal urutan lagu lokal dan lagu luar yang diputar hingga soal ada berapa lagu sebelum penyiar bicara. Tapi, MD juga tak bisa semena-mena memutar lagu, semua disesuaikan dengan segmen pendengar radionya.

Nah, bicara segmen. Saya jadi ingat waktu pertama kali siaran di I Radio Jakarta. Secara umur dan Status Ekonomi Sosial, sebenarnya saya masuk kategori. Tapi secara selera musik, boro-boro sesuai. Salah satu lagu yang paling saya ingat sering diputar tiap pagi di I Radio dan saya tak suka adalah “Jujur” dari Radja. Itu loh, yang intronya tet terereret tereret tereret tet tereret tereret, terus ada liriknya yang berbunyi: “Jujurlah padaakuuu… bila kau tak lagi suka” dengan vokal Ian Kasela yang seperti sedang menahan eek.

Selama empat jam siaran, sebagian besar lagu yang diputar, bukan lagu-lagu kesayangan saya.

Lantas sekarang di Indika FM, kurang lebih tak jauh berbeda. Kalau di Indika memang tak diputar lagu-lagu dari Radja, Kangen, Armada, dan kawan-kawan, tapi ada satu lagu yang entah di mana enaknya sih tapi sering sekali diputar: Kerispatih. Maaf ya Badai. Hehe. Buat yang belum tahu, dia kibordis Kerispatih, orangnya baik, dan saya cuma kenal dia di band itu. Tapi, lagu-lagunya Kerispatih, tak membuat saya bersemangat.

Kalau sekarang sih, saya punya sedikit info soal kenapa lagu-lagu itu diputar. Entah waktu masih siaran di I Radio, apakah mereka melakukannya juga atau tidak. Tapi sekarang, lagu-lagu yang diputar di Indika FM sudah dites kepada peserta survey. Intinya sih begitu lah. Ada sekelompok orang, dikumpulkan, lalu diperdengarkan kepada mereka, ratusan lagu, dan nanti diurutkan lah, lagu mana yang disukai dan mana yang tak disukai, sehingga akhirnya terkumpul, daftar lagu yang boleh diputar di radio.

Buat yang akrab dengan istilah Focus Group Discussion alias FGD mungkin sudah tahu lah, soal metode survey macam ini.

Saya rasa, banyak sekali radio yang memakai metode FGD untuk mencoba memahami selera pasar supaya radio mereka banyak pendengar. Bukan cuma lagu ya, tapi juga soal program yang disukai pendengar.

Nah, saya suka bertanya. Baik itu dalam hati, maupun bertanya langsung ke MD dan Program Manager. Siapa sih yang menjadi peserta FGD itu? Mereka itu jadi penentu selera radio. Mungkin Anda bertanya-tanya, kenapa sebagian besar lagu yang diputar di radio di Jakarta [saya tak bisa komentar soal radio di kota lain], itu lagi itu lagi. Hanya beberapa lagu yang berbeda. Kalau Anda bertanya-tanya, sama dong dengan saya. Haha.

Saya saja yang jadi penyiar, bingung. Mungkin karena ada organisasi yang bernama Asosiasi Music Director, jadi ada semacam kesepakatan soal lagu-lagu hits yang diputar. Maaf loh, bukan bermaksud menuduh, tapi kan ini bertanya. Hehe. Atau, mungkin karena sekarang tagline sebagian besar radio di Jakarta, berhubungan dengan lagu hits atau lagu yang disukai. Akibatnya, lagu yang diputar relatif sama. Bukan berarti saya bilang lagu-lagu yang diputar di radio, lagu jelek ya. Kurang beragam. Itu kata yang tepat. Tak banyak pilihan.

Sepertinya radio sekarang, lebih banyak yang ingin memutar hits. Jarang sekali yang ingin menciptakan hits. Nah, persoalannya, sebuah lagu bisa jadi hits kalau diputar terus. Tapi, kesempatannya tak diberikan kepada semua lagu, khususnya kepada mereka yang dari perusahaan rekaman kecil. Tak usah bicara dulu soal band rock lah, lagu-lagu dari band pop macam Mocca atau White Shoes and The Couples Company yang relatif mudah dicerna, ringan, menyenangkan saja, tak dapat perhatian yang banyak. Hasil survey di radio saya menunjukkan bahwa peserta survey tak menyukai lagu-lagu mereka.

Anywaaay, kembali ke dari sudut pandang penyiar. Akhirnya, saya harus ikhlas saja mendengarkan lagu-lagu yang tak saya sukai diputar. Kompromi lah. Toh, pendengar menyukainya. Simpan saja keinginan mengenalkan lagu lain yang bagus dan enak didengar, di luar lagu yang hits, karena itu hanya di pikiran saya saja, kan pendengar mah tak akan suka.

Ada sih, radio kita yang punya program memutar lagu-lagu yang di luar hits, dan memutarkan lagu-lagu yang menurut rekomendasi penyiarnya, tapi tak banyak. Kalau di luar negeri, ada penyiar terkenal yang bernama John Peel dari BBC Radio. Dia tak hanya memutarkan lagu, tapi juga mempromosikan lagu yang menurut dia bagus, bukan semata-mata karena menurut pendengar sudah dianggap enak. Yah, ada semacam edukasinya lah.

Nah, kembali ke kompromi. Yang gawatnya, lagu-lagu yang tak saya sukai tadi, karena didengar tiap hari, lama-lama hati mulai menyerah. Waktu di I Radio, saya yang awalnya sebal sama lagu “Jujur” dan “Cinderella” dari Radja, eh belakangan, begitu mendengar lagu itu diputar, ikut bersenandung dalam hati.

Sekarang, saya harus berdoa, dan memasang pertahanan yang kuat, supaya tak ikut bersenandung dalam hati mengikuti lagu-lagu Kerispatih dan Sammy Simorangkir. Ah, bagus lah. Sejauh ini sih, ketika mengetik, tak terbayang intro ataupun nadanya.

Cuma ya, nanti pas siaran. Pasti akan bertemu lagi dengan lagu-lagu itu. Hahaha.

Karena Belahan Dada Itu Berbahaya

Belahan dada. Bahasa Inggrisnya, cleavage.

Pemandangan indah, bagi laki-laki normal. Mungkin Anda perhatikan, belakangan ini, di media massa–baik cetak maupun elektronik, kecuali radio ya, karena tak terlihat juga–ada kebijakan menyamarkan atau mengaburkan foto perempuan yang berpakaian seksi, misalnya pake tank top atau gaun atau apapun jenis pakaiannya, yang mengindikasikan ada garis di antara dua dada perempuan.

Saya tak tahu, kebijakan ini muncul atas dasar apa. Mungkin ada yang pernah ditegur Komisi Penyiaran Indonesia, atau karena mereka yang memimpin media massa sekarang, adalah orang-orang religius yang sangat memerhatikan aurat perempuan. Atau, meniru kebijakan film porno dari Jepang yang biasanya mengaburkan gambar alat kelamin. Atau, mungkin ada masukan dari para perempuan yang iri dan dengki melihat para perempuan yang punya belahan dada. Bukan apa-apa, menurut saya, kebijakan ini agak diskriminatif. Perempuan yang dadanya kecil, meskipun memakai tank top, tak dikaburkan, karena tak ada belahannya.

Kebijakan ini cenderung berlebihan. Soalnya, kadang ada yang fotonya biasa saja, tahu-tahu sudah dikaburkan di sekitar dada. Yang lebih menggelikan, seringkali, ada yang memberitakan soal artis ini berpose seksi, terus fotonya dikaburkan. Lah, kalau memang tak mau orang penasaran mah, jangan ditulis beritanya. Ditampilkan tak boleh, tapi dibahas. Apa maunya sih? Kan orang yang membaca beritanya, malah bisa meneruskan pencarian di Google. Kecuali tentu saja, mereka yang di telepon genggamnya memakai paket gaul yang cuma bisa chatting dan membuka media sosial.

Keluhan ini bukan semata-mata karena saya pervert ya, tapi menurut saya, ya kalau memang tak mau menampilkan foto perempuan dengan belahan dada, ya sekalian saja, jangan ditampilkan. Jangan setengah setengah.

Lagian, kasihan loh, mereka yang sudah berniat tampil seksi dan ingin dilihat banyak orang, apalagi sudah keluar biaya mahal untuk memperbesar ukuran. Hehe.

Eh iya, berarti sekarang ada metode baru buat para artis perempuan yang ingin terlihat besar ukuran dadanya. Tak perlu lah operasi plastik yang mahal. Cukup bilang saja ke media massa yang memuat foto atau tayangan mereka, tolong dikaburkan di bagian dada. Dengan begitu, orang akan berasumsi bahwa dada mereka besar, dan belahannya cukup berbahaya buat ditampilkan.

Dan buat para tersangka kejahatan, kalau takut mukanya masuk berita, sekarang tak perlu menutupi pake jaket atau baju, dan jalan merunduk di depan kamera. Sekarang tinggal tutupi saja kepala mereka dengan foto belahan dada paling besar sehingga media otomatis mengaburkannya.

Sebagai penutup tulisan singkat minim manfaat ini, buat Anda yang ingin tahu lebih banyak soal belahan dada, ternyata ada 10 macam loh. Yah setidaknya kata situs ini.

Mendadak Ereksi, Bikin Keki

Dia dikenal dengan berbagai nama.

Majalah Cosmopolitan, menyebutnya dengan Mr. Happy. Entah dari mana asalnya. Mungkin jurnalis penggagas nama itu, selalu happy setiap bertemu dengannya. Mungkin juga, karena setiap melihat penampakannya, dia terlihat selalu bahagia. Atau, mungkin si penggagas, pertama kali melihatnya, dari seseorang bernama Mr. Happy. Ada juga yang menyebutnya dengan Mr. P, yang kemungkinan besar berasal dari nama standar: Penis, selain tentu saja nama standar lainnya: Titik, Kontrol. Sengaja saya plesetkan. Biar tak terlalu vulgar. Nanti disensor KPI. Haha.

Seorang kawan saya di SMP, sering menyebutnya dengan si Otong. Entah apa makna filosofisnya. Atau, kalau versi standar mainstream dari nama lain dia: “Adik” [Padahal, hubungan dengan si pemilik, bukan adik kakak], “Junior” [padahal, hubungannya bukan ayah anak], dan yang paling mainstream: “Burung.” Padahal, tak bersayap, dan tak punya paruh. Kesamaannya, hanya punya telur.

Dan setiap pria pasti pernah mengalaminya.

Ya, kecuali mungkin yang punya kelainan alias disfungsi.

Saya pernah baca di internet. Entah lelucon entah bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Katanya, pikiran laki-laki tak bisa lepas dari seks. Sepanjang hari, selalu topik seks muncul di benak. Tapi, yang akan saya bahas berikut ini, seringkali tak berhubungan dengan seks. Atau, mungkin alam bawah sadarnya ya? Tapi seingat saya sih, seringkali tak selalu berhubungan dengan seks.

Ereksi. Berdiri. Ngacung. Kontak. Sekali lagi, sengaja saya plesetkan. Supaya agak lucu saja, dan supaya tak disensor KPI. Lagi-lagi KPI. Maklum, penyiar radio yang baru beberapa bulan ini diberi edaran soal kata-kata yang jangan diucapkan saat siaran.

Ereksi karena rangsangan sih, biasa. Normal adanya. Melihat yang menggiurkan, otomatis berdiri tegak, menjadi keras. Penjelasan ilmiahnya, kayaknya sih berhubungan dengan aliran darah yang terpusat di satu titik itu. Hebat sekali ya, otak laki-laki, bisa memusatkan perhatian ke satu titik di satu saat. Fokus sekali.

Tapi, ada masanya, terjadi ereksi mendadak. Bahkan tak sedang melamun jorok, atau tak melihat pemandangan apapun, dia bisa tiba-tiba berdiri. Tanpa dikomando. Seakan-akan punya pikiran sendiri. Bagaikan otonomi daerah. Tak ada perintah dari pusat, dia punya kebijakan sendiri.

Dan ketika itu datang, biasanya terjadi awkward moment yang cukup membuat kesal.

Apalagi kalau itu terjadi di angkutan umum. Bayangkan, sedang di bis kota, posisi sedang berdiri alias tak kebagian tempat duduk. Ketika mendadak ereksi [si pemilik dan si adik jadinya sama-sama berdiri], tentu saja harus segera ditutupi. Persoalan terjadi kalau si laki-laki tak membawa tas. Kalau membawa tas pinggang, lebih aman. Tinggal memindahkan posisi tas ke depan, maka penampakan bisa diamankan. Kalau memakai tas ransel agak repot juga sih, soalnya harus buru-buru memindahkan tas ke depan, dan itu mencurigakan. Bisa-bisa dikira copet. Kan copet biasanya menaruh tas ransel di depan badannya, supaya tangannya tertutupi. Bahayanya, kalau ada yang melihat laki-laki ereksi, dan mengira akibat penumpang lain di bis kota, bisa-bisa dikira pelaku pelecehan seksual. Nanti fotonya dipampang di bis kota.

Di angkot sebenarnya masih agak aman, karena posisi duduk. Jadi tak terlalu menonjol. Yah, yang bawah sih tetap menonjol ya. Cuma yang berbahaya, kalau sudah saatnya turun dari angkot, dan ereksi masih terjadi. Bakal canggung sekali, karena ada yang menunjuk. Apalagi kalau pas turun ke jalan, orbit belum diarahkan dengan baik, akan terlihatlah bagian bawah menunjuk.

Makanya, saya tak suka memakai bicycle pants, atau celana renang ala speedo. Ketat sekali. Lebih ketat dari skinny jeans. Bedanya dengan skinny jeans, keketatan celana renang, membuat bagian selangkangan jadi cukup terekspos. Serba salah. Terlihat gundukan tak enak. Tak terlihat gundukan juga tak enak, karena bakal ada asumsi soal ukuran. Nah, apalagi kalau mendadak ereksi ketika memakai celana renang dan posisi sedang tak ada di dalam kolam. Wah itu mah, susah sekali disembunyikan.

Tapi ya, sebenarnya sih, semua itu harus disyukuri. Yang penting, masih bisa ereksi. Kalau tidak, nanti harus mendatangi Ikang Fawzy, dan bertanya, di mana obat yang dia jual, bisa kita dapatkan.

*Lalu terbayang wajah Ikang Fawzy dengan make up tebal, dan alis nyaris hilang, sambil bernyanyi dengan suara serak dia yang khas. “On Cliiniiic….”

Menulis Itu Menyenangkan

Dan saya baru teringat kembali betapa menyenangkannya menulis, seminggu terakhir ini.

Tepatnya sejak mulai aktif menulis blog lagi. Mudah-mudahan ini bukan euforia karena punya blog yang memakai nama sendiri. Meskipun blog ini dari WordPress, tetap saja, memakai nama sendiri. Yah begitulah, Anda tahu maksud saya.

Periode Blogspot, tulisan saya lebih banyak berisi curhat dan kalau dipikir-pikir, cukup mellow juga. Haha. Maklum, jomblo, baru pindah ke Jakarta, masa transisi dari mahasiswa abadi ke dunia kerja, gaji pas-pasan. Mungkin berpengaruh juga ya, ke tulisan.
Periode Multiply, sebelum situs itu menjadi entah apa sekarang saya belum pernah membukanya lagi, lebih banyak berisi jurnalisme musik. Maklum, karena pindah dari Trax Magazine ke Playboy, membuat gairah menulis musik tak tersalurkan dengan baik.

Periode ini, ya belum bisa dinilai. Kan baru. Yang jelas, ketika di Blogspot, tujuan saya menulis karena ingin mencatat apa yang saya alami, lihat, dan rasakan, lalu ketika di Multiply karena ingin menulis musik. Kalau di sini, supaya saya bisa terus menulis. Sebelum punya blog ini, saya cukup lama vakum menulis. Yah hampir dua tahun lah. Kalaupun ada beberapa tulisan yang dihasilkan, itu karena diminta oleh majalah.

Saya merasa, menulis cukup membantu supaya otak saya bekerja. Saya baru ingat, masa ketika saya baru muncul sebagai stand up comedian, inspirasi mengalir deras, otak saya sepertinya bekerja cukup bagus. Belakangan, saya merasa susah sekali mencari inspirasi. Entah karena secara finansial saya tak seperti dulu, sekarang sedikit lebih mapan jadi tak punya banyak masalah. Entah karena saya malas saja.

Tapi, mungkin salah satu penyebabnya adalah karena saya sudah lama tak menulis.

Menulis membantu melatih cara bertutur dan memandang sesuatu. Twitter adalah penyebab saya malas menulis blog lagi. Sebelumnya, Facebook membuat orang-orang di Multiply bubar sehingga tongkrongan di Multiply yang tadinya seru, jadi sepi. Tapi ketika itu terjadi, saya masih mencoba bertahan menulis di Multiply. Lantas ketika Twitter datang, dan saya terjerumus ke dalam microblogging, saya meninggalkan Multiply.

Terlalu sering menulis di Twitter, membuat kemampuan menulis panjang saya jadi agak berkarat. Sebenarnya di satu sisi, Twitter melatih kemampuan kita menulis pendapat hanya dalam 140 karakter [Makanya, say no to twitlonger!], tapi di sisi lain, Twitter membuat saya malas menulis panjang.

Yang menyenangkan dari menulis blog adalah kesempatan mengeluarkan apa yang ada di pikiran. Kalau ternyata, kemudian itu dibaca oleh orang lain, ya itu urusan berikutnya.

Beberapa kali dalam acara bincang-bincang di kampus, banyak mahasiswa yang bertanya, “Bagaimana caranya supaya blog kita dibaca banyak orang?”

Saya sebenarnya tak tahu jawabannya, mungkin blogger terkenal tahu jawabannya. Tapi buat saya sih, menulis di blog itu jangan memikirkan orang lain dulu. Yang penting, hasrat menulis tersalurkan dan tak menulis berita bohong atau fitnah terhadap orang lain. Soal tulisannya bagus, atau jelek atau bakal dibaca orang lain, itu belakangan.

Waktu saya aktif menulis di Blogspot juga tak berpikir bakal dibaca orang lain. Tapi ternyata, beberapa tahun kemudian, ada penerbit yang menganggap tulisan-tulisan itu layak dibukukan. Haha. Yah meskipun tak selaris bukunya Andrea Hirata dan tak membuat saya kaya, tapi lumayan lah, tiga kali naik cetak.

Iwan Fals membuat saya ingin jadi penulis. Entah itu penulis lagu, atau penulis buku, atau apapun lah. Yang penting menulis. Lirik buatan Iwan terdiri dari kata-kata sederhana, mudah dimengerti, tapi bisa menjadi sebuah cerita yang luar biasa ketika didengarkan atau dibaca. Lantas, Sahat Sahala Tua Saragih, dosen di Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran yang membuat saya menyukai kegiatan menulis. Dia lah yang berjasa atas kemampuan saya menulis dan mewawancarai. Intinya, sebagai jurnalis, saya berhutang budi pada Pak Sahala. Seminggu sekali ketika mengambil mata kuliahnya, dia membuat saya rajin membaca. Sebelumnya mah, boro-boro. Seminggu sekali, dia membuat saya menulis, hingga akhirnya lama-lama saya berpikir, “Oh ternyata saya bisa juga menulis, dan sepertinya saya jadi wartawan saja.”

Maklum, sebelumnya saya tak tahu mau jadi apa. Meskipun pernah bercita-cita jadi ustadz dan anggota ABRI, saya tahu cita-cita itu hanya keinginan bocah yang terpesona pada seragam tentara dan kocaknya Zainuddin MZ.

Jadi apa inti dari tulisan ini? Apakah sesuai dengan judulnya? Haha. Yah intinya sih, ini saya sedang mengasah otak saya. Ibarat pisau, kemampuan menulis saya sudah nyaris berkarat nih.

Bagaimana menutup tulisan ini ya? Ya sudahlah. Sekian dulu, terima kasih sudah membaca. Tadinya mau ditutup dengan kalimat yang keren, tapi saya bingung. Yah kalau Anda yang membaca tulisan ini, belum memulai menulis, dan baru mau menulis. Pesan saya: jangan ragu. Menulis saja, karena menulis itu menyenangkan.

Meskipun ayat Qur’an yang pertama kali diturunkan adalah perintah membaca, tapi sebelumnya harus ada yang menuliskan ayat itu kan. Hehe.

 

Mimpi Aneh di Siang Hari: Dari KPK, Jins Aneh, Hingga Shop and Drive

Saya sering sekali mengalami mimpi aneh yang tak jelas ceritanya.

Ini baru saja terjadi. Mumpung masih ingat, harus langsung saya tuliskan di sini. Siapa tau, kalau mulai menuliskan mimpi-mimpi aneh saya, lama-lama bisa dijadikan cerita fiksi yang luar biasa. Haha.

Seperti biasa, mimpi itu seringkali tak jelas latarnya. Saya tak tahu sedang ada di mana. Yang jelas, sedang ada di kamar tidur. Saya sedang rebahan. Sebelum tertidur, saya diomeli Tetta, istri saya, karena tidur melulu hari ini. Padahal, saya memang mengantuk. Dan saya pernah baca [dari twit sebuah akun, tapi saya lupa detilnya], orang kreatif itu sering dianggap pemalas karena jam tidurnya yang lebih banyak dari orang lain. Bukan berarti saya mengaku kreatif ya, tapi karena pernah baca soal itu, jadi ya sudah saya pilih itu saja, daripada memilih untuk mengakui bahwa saya pemalas.

Oya, kembali ke mimpi. Saya ada di kamar tidur, bersama Iggy, anak saya–kebetulan saya memang sedang tidur bersama dia. Jadi, mimpinya masih ada hubungannya dengan dunia nyata. Di luar kamar, banyak sekali orang. Ada banyak saudara saya dari Bandung–wajahnya sih tak jelas, tapi di mimpi, saya merasa mereka itu saudara saya. Ada bapak dan ibu saya.

Di luar hujan rintik-rintik. Bapak saya tiba-tiba bilang bahwa aki [bahasa Inggrisnya sih accumulator, tapi biar lebih mudah, ditulis aki saja ya, semoga tak keliru dengan aki nini] mobilnya soak. Saya bilang, daripada disetrum, mending beli yang baru saja. Kebetulan ada Shop and Drive [salah satu toko aki yang cukup populer di Jakarta] di seberang jalan. Ternyata aki mobilnya, seharga 900 ribu. Perasaan, terakhir saya beli aki di sana, cuma 600 ribuan. Sebagai cheap bastard alias pelit, saya bimbang antara memberi 900 ribu untuk bapak saya, atau cuma 600 ribu dan sisanya bapak saya yang bayar.

Adegan lagu berpindah ke dalam rumah–tak jelas rumah siapa, pokoknya di rumah. Saya melihat sepupu saya yang baru saja membeli celana jins warna merah, saya lupa mereknya, yang jelas, celananya panjaaaaang sekali. Dan yang anehnya, dari bagian lutut hingga ke bawah, celana itu menempel. Jadi, orang tak bisa berjalan kalau memakai celana itu, alias harus melompat seperti sedang lomba balap karung. Tren masa kini, pikir saya.

Adegan berpindah lagi ke kamar tidur. Anak saya tiba-tiba berbicara, “Ini…” kata berikutnya saya lupa. Yang jelas, dia menertawakan sesuatu sehingga saudara-saudara saya di luar kamar ikut tertawa. Lalu, tiba-tiba ada anak perempuan di dalam kamar, pamit. Ini mungkin karena sebelum tertidur, ada tamu yang membawa anak perempuan, dan dia mau meminjam sepeda Iggy. Anak itu tertinggal hapenya di dalam kamar. Saya memanggilnya, dan menunjukkan dua hape.

Lantas adegan berpindah ke ruangan lagi. Saya bertanya, kapan bapak dan ibu saya berencana pulang ke Bandung, perasaan tadi sudah pamit. Tapi, begitu saya ke ruangan itu, mereka bilang, sedang menunggu seseorang menyelesaikan pekerjaannya.

Ternyata, yang di tunggu, ada di dalam ruangan. Di sana ada orang-orang KPK sedang mewawancarai seseorang, buat Metro TV, katanya. Ini mungkin karena beberapa hari lalu, saya membaca twit soal Navicula dan Ketua KPK Abraham Samad diundang ke Kick Andy. Tapi anehnya, ternyata yang memegang kamera adalah teman saya dari SMA 3 Bogor. Badannya aslinya gemuk, tapi di mimpi, dia jadi ramping. Entah faktor mimpi entah sekarang dia sudah begitu badannya. Kayaknya sih, saya sudah sepuluh tahun tak bertemu dia.

Di tengah kebingungan saya dengan adegan ini, tiba-tiba, salah seorang staf dari KPK menghampiri saya, menceritakan soal kerjasama KPK dengan beberapa pihak demi kampanye antikorupsi. Orang itu menyebut nama Youtube, dan beberapa nama lain yang tak saya ingat…

Baru sebentar orang itu berbicara, saya mendengar suara di balik pintu.

“Udah jam satu, makan dulu,” Tetta mengingatkan saya.

Tapi itu bukan di dalam mimpi. Dia muncul di pintu kamar.

CD REVIEW: Island Skank, Never Forget Your Roots.

Nilai: 3 dari 5 bintang.

Uhuk. Sudah lama saya tak menulis review album.

Mendengarkan reggae atau ska, biasanya akan mendapat sensasi yang menyenangkan. Sejelek apapun lagu ska atau reggae, biasanya saya bakal merasakan sisi bagusnya. Ini adalah album kompilasi persembahan PUKULRATA Records dari Bali. Nama ini menimbulkan kesan di benak saya: antara mereka semangatnya kebersamaan (semua kedudukannya sama) atau perlawanan (ingin memukul rata musuhnya). Hehe.

Yang jelas, semangat kebersamaan itu cukup terasa di album ini. Sebuah album kompilasi yang baik biasanya akan terasa benang merah dari lagu pertama hingga terakhir. Apalagi album kompilasi dari komunitas yang relatif belum dikenal banyak orang, biasanya ada semangat yang sama: ingin berekspresi, mendokumentasikan, dan mengenalkan musiknya ke publik yang lebih luas.

Seperti judulnya, Never Forget Your Roots, mereka yang terlibat di album ini, ingin berbagi dengan kita, kecintaan pada ska dan reggae, dan menunjukkan hasil interpretasi mereka dari pengaruh dua aliran musik itu pada karya mereka. Ini adalah bukti penghargaan mereka pada musik yang mereka cintai: sebuah dokumentasi yang apik. Yah minimal, kalaupun band-band yang terlibat di kompilasi ini tak berumur panjang atau tak menjadi lebih besar lagi namanya di skena musik, karya mereka sudah terdokumentasikan.

Ada delapan lagu di sini, dan satu hidden track yang tak terlalu tersembunyi karena di halaman dalam bungkus CD ini, tertulis detilnya. Hehe. Biasanya hidden track sih tak ditulis infonya.

Lagu pembuka di album ini adalah “Percuma” dari The Croto Chip. Kalau Anda de ja vu dengan vokal serak di sini, itu mungkin karena Anda sudah akrab dengan Superman Is Dead. Bobby Kool hanya memakai nama Bob di sini. Mereka memainkan ska dengan suasana ceria yang menyenangkan dan menyanyikan lagu tentang meminjam korek. Saya tak tahu lirik lengkapnya. Tak ada info soal lirik di CD ini.

Lalu ada “That’s Wrong” dari Pride of Lion yang membawakan reggae enerjik tentang dua tips bahagia: let it go dan take it easy.

Lagu ketiga, adalah “Struggle Sun” dari Roots Radicals. Dua kata: Rancid banget. Yah dari nama band nya saja, mereka yang tau Rancid pasti bakal tau dari mana mereka mengambil namanya. Tak hanya struktur lagu, tapi juga karakter vokal. Berhubung saya suka Rancid, jadi saya anggap saja ini sebuah penghargaan buat Rancid.

Lagu keempat adalah “Blazin” dari Garden Grove. Lagu favorit saya di album ini. Mereka memainkan reggae yang tenang. Seperti mengajak kita ke pinggir pantai, di mana angin bertiup sepoi-sepoi, dan matahari terbenam ada di depan kita, dan mengajak sing along di bagian paling enak di lagu ini: “Let this music set you free. Higher than the mountain. Deeper than the sea.”

“Bintang Terang” dari The Kool Katz ada di urutan kelima. Irama lagu yang menghentak mengajak kita berdansa dengan lirik optimistis soal persahabatan yang dibalut brass section manis. Sedikit bocoran: Vendetta sang penabuh drum, lebih dikenal dengan nama JRX.

Lalu ada “Brotherhood ” dari Ska Teenagers Punk. Sebuah lagu yang enerjik, dan seperti nama bandnya, musik mereka adalah semangat punk rock dicampur dengan bumbu ska.

Lagu ketujuh adalah “Jackknife Blues” dari Jackknife Blues. Ini adalah pertemuan antara ska dengan rockabilly dan sedikit aroma blues.

Lagu kedelapan adalah “Senja” dari The Street Wolf. Dua kata: reggae tongkrongan. Hanya dengan iringan gitar akustik dan vokal serak yang auranya gahar, membuat saya terbayang dua pria sedang nongkrong dan bernyanyi sambil melihat orang berlalu lalang.

Lalu ada hidden track yang entah apa judulnya, tapi mereka menamakan dirinya Speaker Separatis. Tapi di sebelahnya, ada nama Soundbwoy Dodix Champion Sound. Soundbwoy Dodix adalah co-producer di album ini. Dia meramu dub music yang dipadu puisi (atau, ‘middle finger’ kalau meminjam istilah yang dipakai mereka) Vendetta alias JRX.

“Tunggu aku di jalan!” katanya.
“Jari tengah adalah diplomasi terbaik,” katanya lagi.

IMG_8885-0.JPG

IMG_8886-0.JPG