Mimpi Aneh di Siang Hari: Dari KPK, Jins Aneh, Hingga Shop and Drive

Saya sering sekali mengalami mimpi aneh yang tak jelas ceritanya.

Ini baru saja terjadi. Mumpung masih ingat, harus langsung saya tuliskan di sini. Siapa tau, kalau mulai menuliskan mimpi-mimpi aneh saya, lama-lama bisa dijadikan cerita fiksi yang luar biasa. Haha.

Seperti biasa, mimpi itu seringkali tak jelas latarnya. Saya tak tahu sedang ada di mana. Yang jelas, sedang ada di kamar tidur. Saya sedang rebahan. Sebelum tertidur, saya diomeli Tetta, istri saya, karena tidur melulu hari ini. Padahal, saya memang mengantuk. Dan saya pernah baca [dari twit sebuah akun, tapi saya lupa detilnya], orang kreatif itu sering dianggap pemalas karena jam tidurnya yang lebih banyak dari orang lain. Bukan berarti saya mengaku kreatif ya, tapi karena pernah baca soal itu, jadi ya sudah saya pilih itu saja, daripada memilih untuk mengakui bahwa saya pemalas.

Oya, kembali ke mimpi. Saya ada di kamar tidur, bersama Iggy, anak saya–kebetulan saya memang sedang tidur bersama dia. Jadi, mimpinya masih ada hubungannya dengan dunia nyata. Di luar kamar, banyak sekali orang. Ada banyak saudara saya dari Bandung–wajahnya sih tak jelas, tapi di mimpi, saya merasa mereka itu saudara saya. Ada bapak dan ibu saya.

Di luar hujan rintik-rintik. Bapak saya tiba-tiba bilang bahwa aki [bahasa Inggrisnya sih accumulator, tapi biar lebih mudah, ditulis aki saja ya, semoga tak keliru dengan aki nini] mobilnya soak. Saya bilang, daripada disetrum, mending beli yang baru saja. Kebetulan ada Shop and Drive [salah satu toko aki yang cukup populer di Jakarta] di seberang jalan. Ternyata aki mobilnya, seharga 900 ribu. Perasaan, terakhir saya beli aki di sana, cuma 600 ribuan. Sebagai cheap bastard alias pelit, saya bimbang antara memberi 900 ribu untuk bapak saya, atau cuma 600 ribu dan sisanya bapak saya yang bayar.

Adegan lagu berpindah ke dalam rumah–tak jelas rumah siapa, pokoknya di rumah. Saya melihat sepupu saya yang baru saja membeli celana jins warna merah, saya lupa mereknya, yang jelas, celananya panjaaaaang sekali. Dan yang anehnya, dari bagian lutut hingga ke bawah, celana itu menempel. Jadi, orang tak bisa berjalan kalau memakai celana itu, alias harus melompat seperti sedang lomba balap karung. Tren masa kini, pikir saya.

Adegan berpindah lagi ke kamar tidur. Anak saya tiba-tiba berbicara, “Ini…” kata berikutnya saya lupa. Yang jelas, dia menertawakan sesuatu sehingga saudara-saudara saya di luar kamar ikut tertawa. Lalu, tiba-tiba ada anak perempuan di dalam kamar, pamit. Ini mungkin karena sebelum tertidur, ada tamu yang membawa anak perempuan, dan dia mau meminjam sepeda Iggy. Anak itu tertinggal hapenya di dalam kamar. Saya memanggilnya, dan menunjukkan dua hape.

Lantas adegan berpindah ke ruangan lagi. Saya bertanya, kapan bapak dan ibu saya berencana pulang ke Bandung, perasaan tadi sudah pamit. Tapi, begitu saya ke ruangan itu, mereka bilang, sedang menunggu seseorang menyelesaikan pekerjaannya.

Ternyata, yang di tunggu, ada di dalam ruangan. Di sana ada orang-orang KPK sedang mewawancarai seseorang, buat Metro TV, katanya. Ini mungkin karena beberapa hari lalu, saya membaca twit soal Navicula dan Ketua KPK Abraham Samad diundang ke Kick Andy. Tapi anehnya, ternyata yang memegang kamera adalah teman saya dari SMA 3 Bogor. Badannya aslinya gemuk, tapi di mimpi, dia jadi ramping. Entah faktor mimpi entah sekarang dia sudah begitu badannya. Kayaknya sih, saya sudah sepuluh tahun tak bertemu dia.

Di tengah kebingungan saya dengan adegan ini, tiba-tiba, salah seorang staf dari KPK menghampiri saya, menceritakan soal kerjasama KPK dengan beberapa pihak demi kampanye antikorupsi. Orang itu menyebut nama Youtube, dan beberapa nama lain yang tak saya ingat…

Baru sebentar orang itu berbicara, saya mendengar suara di balik pintu.

“Udah jam satu, makan dulu,” Tetta mengingatkan saya.

Tapi itu bukan di dalam mimpi. Dia muncul di pintu kamar.

Catatan dari Konser Svara Bumi #BaliTolakReklamasi

Sudah lama saya tak ngemsi di panggung musik.

Makanya, acara Selasa [30/9] kemarin jadi istimewa buat saya. Pertama, ya itu tadi. Saya ngemsi di panggung musik. Kedua, saya ngemsi di panggung Rolling Stone, tempat saya bekerja dulu, dan mulai dikenal publik Jakarta sebagai MC. Ketiga, ada band-band yang saya sukai dan sudah lama tak saya tonton secara langsung.

Nama konsernya Svara Bumi. Kawan-kawan dari ForBALI [Forum Rakyat Bali Tolak Reklamasi Teluk Benoa] yang menyelenggarakannya. Dari nama penyelenggaranya, Anda pasti sudah tahu, konser ini untuk apa. Tapi, ketika dihubungi pertama kali, panitia meminta kami tak menuliskan #BaliTolakReklamasi ketika promo, demi menghindari tekanan dari aparat. Maklum, mereka sudah sering mendapatkan ancaman serupa.

svarabumi

 

Sebelum saya cerita soal konsernya, lebih baik saya ceritakan dulu, kenapa kawan-kawan ForBALI dan masyarakat Bali bersikeras menolak rencana reklamasi Teluk Benoa. Intinya begini: reklamasi itu akan lebih banyak mendatangkan kerugian buat masyarakat Bali ketimbang keuntungan. Yang diuntungkan sudah tentu ada: ya para pengusaha yang mau menanam modal di sana.

Sedikit informasi: Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata bersama Universitas Udayana pernah mengadakan penelitian yang menyimpulkan bahwa Bali telah mengalami kelebihan hingga 9800 kamar. Menurut siaran pers dari ForBALI, di studi tersebut diungkap bahwa jumlah 55 ribu kamar yang tersedia di Bali, cukup untuk memenuhi kebutuhan jumlah kamar bahkan hingga 2015 mendatang. Atas dasar riset tadi, ditindaklanjuti pemimpin daerah dengan menerbitkan Surat Gubernur Bali no. 570/1665/BPM yang merujuk pada moratorium, penghentian sementara pembangunan jasa akomodasi pariwisata. Utamanya kawasan Bali Selatan–Sanur, Kuta, dan Nusa Dua–yang merupakan sentra turisme yang sudah terlalu sesak dengan bangunan dan manusia. Tapi, surat itu dilanggar oleh gubernurnya dengan adanya proyek berskala besar seperti Mulia Resort, di Nusa Dua.

Oke, sudah terlalu panjang nih, kalimat seriusnya. Langsung saja ke intinya: SBY sudah menerbitkan Peraturan Presiden NO. 51/2014 yang salah satu poin terpentingnya adalah mengubah peruntukan perairan Teluk Benoa dari kawasan konservasi perairan menjadi zona budi daya yang dapat direklamasi seluas 700 hektar.

Yah intinya, begitulah. Info lebih jelas, bisa dicek langsung di situs ForBALI.

Kembali ke malam kemarin di Rolling Stone.

Saya dan Arie Dagienkz dipercaya menjadi MC. Hehe. Duo LEGIENKZ yang tak berkembang menjadi lebih besar, karena dia harus dihentikan menjadi partner saya. Yah, kita sebut saja, perbedaan visi misi dengan manajemen tempat saya siaran. Hehe.

Ketika saya datang kira-kira pukul delapan malam, Kill The DJ alias Marjuki dari Jogja HipHop Foundation tampil membawakan satu lagu berjudul “Negara dalam Keadaan Bahaya.” Juki hanya cengengesan ketika turun panggung setelah membawakan satu lagu. “Saya ngasih kerjaan ke kamu, Biar banyak ngomong di panggung,” katanya ketika saya tanya kenapa hanya satu lagu.

Navicula tampil berikutnya. Green Grunge Gentlemen itu selalu membuat saya takjub. Saya bukan pecinta berat grunge, tapi melihat Navicula di panggung, susah untuk tak jatuh cinta pada mereka. Lagu-lagunya juga senada dengan semangatnya. Entah itu ketika mereka sedang bernyanyi soal manusia di “Aku Bukan Mesin”, soal menyebalkannya Jakarta di “Metropolutan” atau soal kepedulian mereka pada binatang liar di “Orang Utan”, mereka mengekspresikan amarahnya dengan indah.

photo 1

Setelah mereka, ada Cinta Ramlan. Nama  yang auranya positif, karena berarti ramai lancar. Hehe. Saya kurang tahu siapa dia, dan belum tertarik untuk mencari tahu. Jadi, segitu saja kalimat saya untuk dia. Hehe. Yang jelas, di salah satu lagunya, Cinta Ramlan mengajak si penulis Djenar Maessa Ayu untuk berorasi memakai toa. Djenar membaca puisi soal perempuan. Salah satu kalimat yang saya ingat, dia mempertanyakan kenapa kalau laki-laki bergonta-ganti pasangan dibilang jantan, sedangkan kalau perempuan bergonta-ganti pasangan dibilang murahan. Hehe. Yah, kalau kata saya mah, itu akibat dari perempuan sendiri sih. Mereka yang menganggapnya begitu. Itu bukti bahwa laki-laki itu sifatnya mendukung. Melihat teman punya banyak pasangan, malah dipuji. Sedangkan perempuan mungkin cenderung iri dengki. Melihat teman punya banyak pasangan, jadinya malah diejek. Hehe. Maaf loh, ini kan analisa dangkal saya.

Melanie Subono, tampil setelah Cinta Ramlan. Trik pintar dari Melanie adalah dengan membawakan “Rumah Kita”, sebuah lagu yang pasti dikenal sehingga membuatnya berhasil menarik perhatian sejak lagu pertama.

Oya, lupa cerita. Penonton semalam membludak sekali, hingga beberapa orang di depan kantor Rolling Stone tak bisa masuk, karena di dalam sudah sesak. Jerinx sempat keluar sebentar. menenangkan OutSIDers dan Lady Rose. Dia juga naik ke panggung, sesaat setelah saya dan Dagienkz mengingatkan bahaya tangan jahil copet–karena tiga orang sudah jadi korban. Jerinx mengomando massa untuk bergeser mengisi tempat yang kosong supaya mereka yang di depan bisa masuk. Mendengar Imam Besar OutSIDers dan Lady Rose berbicara, para jemaat langsung mengikuti komandonya dengan tertib.

Berikutnya, ada Seringai. Seperti yang pernah saya tulis di sini, saya pernah jadi official photographer mereka selama kurang lebih setahun. Bahkan pernah membuat pameran berisi foto-foto Seringai di panggung. Meskipun jumlah Serigala Militia–nama fans Seringai–tak sebanyak OutSIDer–nama fans Superman Is Dead–tapi tak membuat mereka yang bukan penggemar Seringai tak ikut bernyanyi. Sepertinya sih, penonton malam itu cukup apresiatif. Ketika Navicula tampil mereka bergejolak, Melanie Subono di panggung juga mereka tetap di pangung, Seringai di panggung, sing along pun tetap membahana. Cuma ketika Cinta Ramlan saja yang tak terlalu terasa cinta begitu besar. Mungkin karena relatif belum dikenal.

photo 2

Seringai menutup set nya dengan lagu “Dilarang di Bandung.” Dulu sih mereka menutupnya dengan “Mengadili Persepsi [Bermain Tuhan]” tapi ternyata, belakangan set itu diubah.

Yang tampil setelah Seringai, adalah bintang tamu istimewa. Sebuah nama besar. Saking besarnya, pihak Rolling Stone dan manajemen beliau meminta namanya tak dicantumkan di promo.

Cuma dengan gitar akustik, Iwan Fals menghipnotis penonton.

photo 3

“Penolakan reklamasi Teluk Benoa adalah hal yang wajar,” kata Iwan.

Dia menutup penampilannya dengan lagu “Kesaksian.” Selalu merinding saya mendengar lagu ini. Bahkan ketika hanya diiringi gitar akustik pun, aura lagu itu masih berwibawa.

Banyak orang hilang nafkahnya
Aku bernyanyi menjadi saksi
Banyak orang dirampas haknya
Aku bernyanyi menjadi saksi

Orang-orang harus dibangunkan
Aku bernyanyi menjadi saksi
Kenyataan harus dikabarkan
Aku bernyanyi menjadi saksi

Cocok sekali dengan tema konser malam itu. Perlawanan atas penindasan.

Kawan saya, Wenz Rawk, berkomentar, “Jokowi mau ngajak dia ke panggung, nggak bisa. Tapi, anak-anak underground ini bisa. Hahaha.” Dan tanpa dibayar sepeserpun. Seperti juga para penampil malam itu. Ini yang membuat konser ini tambah istimewa. Bukan cuma musisi Bali yang menyerukan #BaliTolakReklamasi lewat konser, tapi musisi Jakarta, bahkan sekelas legenda hidup Iwan Fals. Yah, semoga saja dengan adanya konser semalam, lebih banyak orang yang sadar akan issue ini, dan ikut mendukung gerakan kawan-kawan di Bali, baik itu lewat aksi sederhana macam post di media sosial. Bali bukan cuma milik orang Bali, tapi milik Indonesia.

Kembali ke konser. Hehe. Saya berhasil mengambil pick gitar yang dipakai Iwan malam itu. Sudah girang bukan kepalang. Tapi ternyata, pick gitarnya bukan yang khusus bertuliskan Iwan Fals. Melainkan pick gitar The Beatles Abbey Road. Haha.

photo 4

Yang terakhir tampil, menjelang tengah malam, adalah nama yang paling ditunggu malam itu. OutSIDer dan segelintir Lady Rose membuktikan bahwa mereka bisa tetap teratur hingga akhir konser. Meskipun pihak Rolling Stone agak kuatir dengan banyaknya massa di sana. Maklum, ada beberapa motor Suzuki yang mahal harganya dipajang di sana, karena mereka punya program kerjasama dengan Suzuki. Kalau motornya sampai terguling, kan berabe. Soalnya itu bukan motor matic yang biasa dipakai cabe-cabean pada saat sore hari. Hehe.

photo 5

Jerinx sempat mengalami masalah dengan drum nya di awal penampilan. Melihat Jerinx kesal itu cukup menakutkan, meskipun saya bukan kru. Maklum, kan dia anak punk berbadan besar penuh tato, Tidak marah saja, sosoknya sudah menakutkan. Makanya, saya yakin, mereka yang suka menghujat Jerinx di twitter, kalau bertemu langsung, tak akan seberani itu. Haha.

Konser malam  tadi, berhasil mengumpulkan dana Rp 115 juta. Saya tak tahu detilnya dari mana saja. Yang jelas, penonton diminta menyumbang dana minimal Rp 100 ribu sebagai tanda masuk. Uang itu akan digunakan ForBALI untuk mendanai konser besar pada 19 Oktober 2014 di lapangan Padanggalak, Bali. Kata Rudolf Dethu dari ForBALI, itu pertamakalinya ForBALI berani muncul kembali ke publik secara terang-terangan menggunakan Tolak Reklamasi setelah sebelumnya selalu diintimidasi preman dan aparat setiap kali ForBALI mengadakan acara.

Selamat berjuang!

Tentang The Soleh Solihun Interview

Saya mau cerita tentang channel Youtube saya. Sudah ada beberapa video di sana. Dulu sih, saya sering unggah video dari beberapa band yang saya tonton. Tapi, karena sudah jarang nonton konser musik, sejak tak jadi wartawan musik dan sejak punya anak [Maklum, kalau pulang malam tak menghasilkan uang mah, mending pulang ke rumah bertemu anak. Hehe].

Nah, Robin Malau yang meyakinkan saya buat mengisi channel Youtube saya dan mengedit video di sana melalui bantuan kawan-kawan di Cerahati. Akhirnya, karena saya senang mewawancara orang, video orisinal alias yang tak kena persoalan hak cipta, adalah video saya mewawancarai orang. Untuk awal, saya sudah menyiapkan empat video saya mewawancarai stand up comedian alias teman-teman saya. Secara proses, relatif mudah: kebetulan pas bertemu dengan teman dan lumayan punya nama. Hehe. Baru tiga yang saya publish: wawancara dengan Mongol, Acho, dan Boris Bokir. Satu lagi, dengan MoSidik.

Alasan video-video wawancara itu saya beri judul THE SOLEH SOLIHUN INTERVIEW sebenarnya menjiplak THE PLAYBOY INTERVIEW. Yah biar gaya lah, judulnya pake nama saya. Mumpung belum ada orang lain yang memakai namanya buat hasil wawancara mereka.

Semoga saya punya waktu untuk membuat wawancara lainnya demi menyalurkan gairah jurnalisme saya yang sudah tak tersalurkan, dan memuatnya di sini. Hehe.

 

Horeee. Saya Punya Ini!

Hehe.

Maafkan kalau reaksi saya berlebihan dalam menanggapi punya solehsolihun.com. Maklum, sebagai orang yang kurang piawai dalam hal teknologi, saya selalu beranggapan, punya situs atas nama sendiri itu, adalah sesuatu yang keren.

Adalah Robin Malau yang menyemangati, hingga membuatkan saya situs ini. Sebelumnya, Robin yang juga bagian dari Cerahati dan pendiri Musikator mengedit beberapa video untuk channel Youtube saya.

Yah, singkat cerita, maka jadilah situs ini.

Seperti yang saya tulis di bio singkat, situs ini untuk menyalurkan gairah saya dalam menulis. Sebenarnya, di masa Multiply berjaya [kira-kira 2006 hingga 2008], sebelum jadi situs jual beli, saya produktif sekali menulis blog dan memuat foto-foto karya saya [saking produktinya memotret panggung musik, Seringai sempat menjadikan saya fotografer resmi mereka]. Maklum, waktu itu saya bekerja di Playboy Indonesia dan kurang bisa menyalurkan minat saya dalam menulis berita musik.

Nah, mudah-mudahan, dengan sekarang yang saya sudah tak bekerja kantoran sebagai wartawan, dan dengan adanya situs ini, gairah menulis saya kembali bergelora. Haha.

Tulisan-tulisan di blogspot sejak 2004, sudah dipindah ke sini. Jadi, situs ini tak sepi-sepi amat. Hehe.

Sudah dulu ya tulisan pertama di situs ini.

Semoga bermanfaat.

Mendadak Jadi Pelawak

Halo Blogspot, sudah kira-kira setahun saya jadi stand up comedian. 

Rasanya sekarang saat yang pas untuk menulis soal pengalaman ini. Plus, saya sudah lama tak menulis di blog. Rindu nih, menulis karena keinginan bukan karena kewajiban. Hehe.

Oke, saya akan mulai dari pertanyaan yang paling sering ditanya orang. Bagaimana awal mulanya jadi stand up comedian?

Pertanyaan ini selalu ditanya ketika wawancara. Kalau saya berkarir sudah lebih dari lima tahun, pasti saya akan kesal. Tapi saya sadar diri, bahwa belum banyak yang tahu soal ini, jadi meskipun dengan sedikit perasaan bosan saya selalu menjawabnya.

Adalah seorang kenalan bernama Zaki yang mengajak saya untuk tampil stand up pertama kali. Zaki adalah salah seorang penyiar di Radio Global, yang punya program musik cutting edge saya lupa nama programnya.

“Wah gua nggak bisa euy. Mau ngomong apa gua selama setengah jam?” kata saya.
“Aah, gua yakin elu pasti bisa. Kalo ngemsi kan elu sebenernya udah sering stand up,” jawab Zaki.

Selain menjadi jurnalis, sejak kerja di Rolling Stone Indonesia, saya sering menjadi MC di event musik, dan lebih sering sendirian alias tak ada partner. Berhubung jeda di setiap pergantian band membutuhkan waktu paling cepat sepuluh menit, saya selalu berceloteh ngalor ngidul di panggung, mengisi waktu supaya penonton tak bosan. Rupanya celoteh saya disukai banyak orang, yah buktinya mereka tertawa mendengarnya.

Sebelum diajak Zaki untuk stand up, sebenarnya orang pertama yang mengatakan saya seperti melakukan stand up comedy ketika ngemsi adalah Cholil Machmud, vokalis Efek Rumah Kaca.

“Elu tuh kalo ngemsi, jadinya kayak stand up comedy ya Leh,” kata dia.

Oya, kembali lagi ke Radio Global. Jadi, mereka punya kegiatan off air dari program yang dipandu Zaki dan dua kawannya: Wisnu vokalis/gitaris Monkey to Millionaire dan Tony, gitaris The Brandals.

Akhirnya saya setuju untuk mencoba tawaran Zaki.

Di event itu, ada tiga band yang tampil: band pertama saya lupa namanya, band kedua adalah Denial, dan band terakhir adalah White Shoes and The Couples Company. Saya tampil sebelum White Shoes.

Malam itu, ada seorang kawan, Faesal Rizal, videographer, membawa handy cam. Saya meminta dia merekam penampilan saya dari awal hingga akhir untuk dimuat di Youtube. Niatnya cuma satu: biar gaya, seperti banyak orang, punya video di Youtube. Hehe. 

Dari jatah waktu tiga puluh menit yang disediakan panitia, ternyata saya tampil selama empat puluh menit. Materinya sebagian besar ya tentang diri saya, tentang culture shock saya ketika datang di Jakarta, tentang beberapa hal yang pernah saya twit, dan juga meledeki teman-teman yang kebetulan nonton di sana. 

Tak lebih dari seratus orang menonton penampilan perdana saya, tapi malam itu ternyata memberi pengaruh yang besar di kemudian hari. 

Dan oya, saya dibayar lima ratus ribu rupiah malam itu. 

Kalau kamu mau melihat penampilan saya malam itu, silakan ketik: Soleh on Standing [judul yang aneh, tapi biarlah terserah Faesal yang mengunggah] di Youtube. Ada tiga video, agak gelap memang, tapi suaranya cukup jernih kok. 

Stand up perdana saya itu kira-kira Agustus 2010.

Kemudian pada 13 Juli 2011, komunitas Stand Up Indo lahir yang ditandai event stand up nite pertama mereka di Comedy Cafe, Kemang. Ini juga ada videonya di Youtube. Silakan cari aja di akun standupindo. Mereka tadinya berkumpul dalam rangka berlatih sebelum tampil di program Stand Up Comedy Indonesia Kompas TV. Ernest Prakasa dan Ryan Adriandhy beberapa di antara finalis yang lolos ke kompetisi itu. 

Ernest dan seorang kru Kompas TV mengajak saya ikut audisi. Tapi saya menolak. Pertama, karena kalau lolos, saya pasti harus ijin dari kantor [maklum, mereka ada karantina setiap minggu]. Kedua, saya malas ikut kompetisi. Kalau di TV terlihat gagal, pasti akan menyebalkan. Ketiga, kalau saya ikut program itu artinya setiap minggu harus memikirkan materi untuk tampil. Wah, pekerjaan di kantor saja sudah cukup menyita waktu. 

Saya tadinya diminta tampil di event Stand Up Nite pertama itu, tapi karena bentrok dengan jadwal siaran, saya tak bisa berpartisipasi. Pada saat ini, istilah stand up comedy mulai dikenal banyak orang, khususnya anak muda. Terima kasih pada Pandji Pragiwaksono dan Raditya Dika idola anak muda yang punya banyak followers di Twitter.

Tapi, selain Kompas TV, ternyata di saat yang bersamaan dengan Metro TV juga berencana membuat program stand up comedy. Suatu malam, seorang yang entah jabatannya apa, menghubungi saya untuk tampil di program itu. Katanya sih, mereka menonton video saya di Youtube, makanya mengajak saya. 

“Kalau angkanya cocok sih, saya mau aja Mbak ikutan,” jawab saya.

Tak dinyana, angka yang saya tawarkan disetujui Mbak itu. Saya sengaja menyebut angka yang cukup besar karena sebenarnya saya tidak percaya diri, takut garing. Padahal, saya belum punya pengalaman profesional di televisi, tapi angka yang menurut saya cukup besar itu, bisa lolos. Sebagai gambaran, angka itu adalah hampir setengahnya dari gaji saya selama sebulan sebagai Editor di Rolling Stone Indonesia. 

Agustus [atau September ya saya lupa] 2011 saya syuting program Stand Up Comedy Show di Metro TV. Saya diminta untuk tampil dua episode. Dan stand up comedian atau comic yang pertama kali taping di program itu adalah saya. Haha. Bangga lah, saya. 

Silakan cari di Youtube, ada orang yang mengunggahnya ke sana. Episode perdana saya membawakan materi yang sedikit menggoda pemilik Metro TV: Surya Paloh. Yang ternyata lolos edit. 

Ini adalah peristiwa kedua yang mempengaruhi karir dan finansial saya.

Angka followers menanjak drastis: dalam setengah jam, saya mendapat dua ribu followers baru [makanya, followers twitter saya terbagi ke dua: mereka yang tau saya sebagai jurnalis dan mereka yang taunya saya stand up comedian]. Cuma sedikit yang mengatakan saya garing, sebagian besar berpendapat saya lucu. Alhamdulillah. Tapi, meski begitu sebenarnya saya tak terlalu peduli. Yang saya peduli adalah bahwa produser puas, dan pembayaran lancar. 

Dan episode perdana itu seakan-akan jadi momen di mana saya dinobatkan sebagai stand up comedian. Orang-orang mengenal saya sebagai pelawak. Padahal, di blog ini, beberapa tahun lalu saya pernah menulis bahwa saya kurang jelek untuk jadi pelawak. Haha. 
Pertanyaan berikutnya, siapa yang jadi inspirasi saya?

Saya tak punya idola stand up comedian. Jadi pelawak tak pernah masuk dalam angan-angan saya. Berbeda dengan sebagian besar stand up comedian di Indonesia yang sekarang muncul, stand up comedy bukanlah salah satu kecintaan saya. Makanya, saya tak paham teorinya, dan jaraaang sekali menonton stand up comedy dari luar. Dan makanya saya tak pernah menulis materi. Paling mendekati dengan menulis, adalah saya mencatat poin-poin. Ada kawan saya yang menulis detil kalimat yang dibawakannya di panggung. Saya beberapa kali mencatat poin-poin, tapi pas tampil malah melebar ke mana-mana, tak sesuai dengan yang direncanakan karena terpancing dengan situasi yang saya lihat dari panggung. Saya sih prinsipnya: kalau lucu ya syukur, kalau tak lucu juga tak akan ditanya di alam kubur oleh malaikat. 

Satu-satunya orang yang mempengaruhi saya untuk melawak ketika kecil adalah KH Zainuddin MZ. Bapak saya membeli kaset almarhum da’i sejuta umat itu dan saya terbahak mendengarnya. Makanya, saya sempat bercita-cita jadi ustadz karena menyukai Zainuddin MZ. Belakangan saya baru tahu, bahwa sebenarnya bukan jadi ustadz yang menarik buat saya, tapi membuat orang tertawa. 

Tapi cita-cita menjadi ustadz langsung sirna begitu kelas 5 SD saya melihat John Travolta di film Grease [1978] yang memakai jaket kulit, kaos oblong putih, jins dan boots. Rock n’ roll lebih menarik dibandingkan kopiah dan sarung. 

Meski tak pernah bercita-cita jadi pelawak, sejak kecil saya selalu membayangkan bisa tampil di depan banyak orang, dan mereka mendengarkan saya berceloteh. Mungkin itu sebabnya saya pernah berkeinginan jadi ustadz, karena ingin ada sensasi itu. 

Disingkat saja ya ceritanya, kepanjangan nih. Selain karena saya sudah capek, kamu juga pasti sudah mulai bosan bacanya. 

Intinya, akhirnya setelah tampil di Metro TV, saya mendapat banyak tawaran manggung off air. Hingga kini, macam-macam event yang sudah saya datangi: gathering yang diadakan oleh perusahaan, acara komunitas, hingga event yang dihadiri politikus [saya pernah tampil di depan Megawati dan Jokowi – Ahok sebelum mereka lolos jadi Gubernur DKI]. 

Tapi, kenikmatan psikologis berbanding terbalik dengan kenikmatan finansial. Di acara-acara di mana saya dibayar mahal [lebih dari gaji saya selama sebulan di Rolling Stone Indonesia], kenikmatan manggung tak saya dapatkan. Maklum, tak bebas bicara [padahal, kekuatan saya adalah ketika saya dibebaskan bicara dan penonton iklas mendengarkan] dan penontonnya sebagian besar belum pernah menonton stand up comedy. Kadang saya merasa tak enak kepada pengundang. Sudah bayar mahal, tapi saya tampil tak maksimal. Banyak juga sih saya sukses di acara yang kaku dan formal, tapi di acara yang dibayar minim, justru kenikmatan itu jauh lebih besar.

Oya, sampai saat ini, saya belum pernah open mic [latihan di cafe alias tampil di event yang memang buat berlatih]. Sejak pertama tampil, hingga sekarang, saya selalu dibayar [kecuali satu kali, ketika tampil di event amal]. Ini adalah paragraf untuk belagu. Haha. 

Tapi ada menyenangkan dan tak menyenangkannya dikenal sebagai stand up comedian.

Yang tak menyenangkannya, kadang-kadang ada momen di mana orang-orang berkata, ‘Ngelawak dong. Bikin kita ketawa,’ padahal itu sedang kumpul-kumpul biasa. Saya yakin, penyanyi tak pernah disuruh begitu ketika kumpul-kumpul yang memang tak ada kegiatan bernyanyinya. 

Yang menyenangkannya: punya banyak teman baru, yang profesinya macam-macam: dari pengusaha hingga pesulap amatir. Yang menyenangkan lainnya juga sering kali bertemu orang di jalan, dan mereka berkata “Mas, saya sering lihat mas di stand up comedy, lucu. Saya suka,” 

Mendengar orang berbahagia karena yang saya lakukan adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Dan dikenal banyak orang karena karya, bukan karena skandal juga menyenangkan.

Tapi tak sedikit juga sih yang mengenalnya agak ragu-ragu. 

“Mas tuh yang suka tampil di stand up comedy kan? Namanya siapa ya mas?”
“Solihin kan? Mas Solihin ya?”
“Kayak pernah lihat mas. Yang suka di Metro TV kan? Acara apa ya itu mas?”
“Mas yang ada di sit up comedy kan?”

Dan masih banyak respon lainnya.  

Sudah ah, segitu saja dulu. Sampai jumpa di tulisan berikutnya. 

Terima Kasih Multiply

Ini adalah blog pertama saya setelah lebih dari sembilan bulan tak menulis di sini.


Hari ini, hari terakhir situs multiply.com memuat fitur blog. Dan mereka memberi kesempatan para penggunanya untuk memindahkan tulisan dan foto maupun video ke situs lain [blogspot atau tumblr]. Saya hampir lupa, kalau saja tak melihat twit seorang kawan tentang hal ini. Tapi karena foto-foto harus dimuat manual, saya tak sempat memindahkan foto-foto ke sini. Jadi, mohon maaf kalau kamu membaca blog ini dan tak menemukan foto-foto di beberapa tulisan saya yang seharusnya berisi foto-foto.

Mari bicara Multiply.com

Blog pertama saya memang di blogspot, tapi Multiply lah yang membuat aktivitas nge-blog saya semakin intens. Tak hanya tulisan, tapi juga foto. Maklum, menurut saya, memuat foto di Multiply lebih mudah dibandingkan memuat foto di sini.

Dan yang membuat Multiply lebih menarik dibandingkan blogspot [sehingga saya meninggalkan situs ini demi Multiply] adalah fitur yang membuat para pemilik akun bisa melihat siapa saja yang membaca tulisan mereka. Itu membuat saya lebih bersemangat. Akhirnya saya tahu bahwa ada yang membaca, meskipun tak menulis reply. 

Multiply juga lebih mirip tempat nongkrong. Orang-orang berkumpul di sini, membuat tulisan panjang yang berisi opini atau kesukaan mereka, lalu dikomentari untuk jadi ajang diskusi atau saling debat. Menyenangkan lah. 

Saya selalu menganggap bahwa yang memakai Multiply, adalah blogger yang lebih santai, hedonis. Yang memilih wordpress adalah mereka yang serius, sedangkan yang memilih tumblr adalah yang lebih berjiwa seni. Haha. Analisa yang aneh, tapi biarlah.

Bicara soal foto, Multiply membuat saya jadi fotografer amatir. Sebelum tren membawa kamera digital ke konser [padahal tak dimuat di media massa], saya sudah melakukan itu. Karena itu pula, saya sempat jadi fotografer resmi Seringai dan diajak ke banyak kota. 

Karena Multiply, saya dibiayai ke London oleh Coca Cola demi melihat Maroon 5 merekam lagu untuk mereka. Karena Multiply, saya bertemu banyak teman baru. Karena Multiply, saya yang waktu itu pindah dari Trax Magazine dan rindu menulis berita musik tapi tak bisa terlampiaskan di Playboy Magazine, bisa menemukan media baru untuk menulis. 

Karena Multiply, Adib Hidayat Editor in Chief Rolling Stone Indonesia tertarik melihat wawancara saya dengan The Changcuters dan sempat meminta untuk dimuat di majalah itu, tapi akhirnya malah berujung pada diajaknya saya bergabung ke sana setelah empat bulan luntang lantung karena Playboy bubar. 

Karena Multiply menutup blognya, saya akhirnya menulis blog lagi. Hehe.

Terima kasih Multiply.  

Meninggalkan Rolling Stone Indonesia

Halo Blogspot, saya punya kabar terbaru.

Entah ini kabar baik atau kabar buruk. Tergantung dari sisi mana kita memandang. Hari ini adalah hari terakhir saya bekerja di Rolling Stone Indonesia, setelah lebih dari tiga tahun bekerja di sana [sejak Mei 2008 tepatnya]. 

Hmm, dari mana mulainya ya. 

Sudah beberapa bulan atau hampir setahun terakhir ini, saya sibuk dengan pekerjaan sampingan sebagai penyiar dan MC. Sejak Agustus tahun terakhir malah sibuk menjadi stand up comedian. Nah, akhirnya tiba juga saya pada momen harus memilih antara tetap di kantor atau sibuk di luar kantor. Sebenarnya tak memilih juga sih, karena memang saya tak diberi pilihan, melainkan langsung dihadapkan pada situasi untuk meninggalkan kantor. 

Menjadi jurnalis di Rolling Stone [ingat ya, Rolling Stone, tanpa S, bukan Rolling Stones karena itu adalah nama band Mick Jagger dkk. Maaf mengoreksi, orang sering salah menulis soalnya.] adalah salah satu pekerjaan impian saya. Bahkan sebelum majalah ini terbit di Indonesia, saya sudah memimpikannya. Saat itu sih, saya tak pernah berpikir bahwa mimpi ini akan jadi kenyataan suatu hari nanti. Salah satu faktornya ya, waktu itu saya tak mengira bakal ada orang yang mau mengeluarkan uang begitu banyak untuk membayar lisensi majalah ini. Apalagi majalah musik punya catatan buruk, karena sebagian besar majalah musik tak mencapai umur sepuluh tahun, rata-rata malah berumur hanya lima tahun. 

Tapi ternyata mimpi itu terwujud. Mungkin benar pepatah atau apalah itu yang bilang, jika kamu bisa memimpikannya, maka kamu bisa mewujudkannya. Meskipun sampai sekarang saya bermimpi ingin bisa terbang seperti Superman tapi belum terwujud juga. Haha. 

Terlalu banyak kenangan manis yang bisa ditulis di sini. Singkatnya begini deh: bekerja di Rolling Stone itu adalah saya rasa mimpi sebagian besar pecinta musik yang juga ingin jadi jurnalis. Saya dibayar untuk melakukan pekerjaan yang saya suka di institusi bergengsi. Dibayar untuk mendengarkan musik, menonton konser, ngobrol dengan musisi, dan menuliskan itu semua. Selain jadi musisi yang laris manis, tentu saja itu menempati urutan kedua dalam konteks pecinta musik. Hehe. 

Oke, sekarang mari kita bicara mimpi saya berikutnya.

Saya selalu ingin menerbitkan buku. Memang, saya sudah punya dua buku. Yang satu adalah biografi tentang Michael Jackson berjudul The King Is Dead. Ini sebenarnya hanya terjemahan dari kumpulan tulisan tentang Jacko dari berbagai sumber dan dua buku. Saya menerima job ini murni karena uang. Apalagi waktu itu sedang dalam proses butuh uang muka buat menyicil rumah. Akhirnya, buku ini dikerjakan dalam waktu dua minggu! Heran juga dengan hasilnya. Mungkin juga karena waktu itu belum punya akun twitter, jadi lebih bisa fokus ya. Haha. 

Buku kedua adalah novel adaptasi dari film Generasi Biru karya Garin Nugroho. Ini film dengan bintang utama Slank. Filmnya tak disukai banyak orang, karena aneh. Tapi saya suka, karena di film ini, Garin membuat Slank menari sesuai koreografi. Dan ekspektasi saya terhadap film Garin memang sudah pasti pusing, jadi ya sudahlah, saya siap dengan kenyataan bahwa film itu membuat kening berkerut. 

Saya tak puas dengan dua buku itu, karena bukan murni karya saya. Makanya, sekarang saya sedang menyusun dua buku. Satu novel yang berdasarkan kehidupan saya sebagai jurnalis selama tujuh tahun. Satu lagi biografi band hardcore legendaris dari Bandung.

Selain jadi penulis buku, saya juga ingin punya acara bincang bincang di televisi. Saya rasa dengan kemampuan saya mewawancara dan sedikit cita rasa humor, saya bisa jadi pembawa acara yang baik. Yah mudah-mudahan ada petinggi televisi yang membaca ini.

Ya sudahlah, segitu saja dulu. 

10.50 WIB
Jakarta, Jumat, 13 Januari 2011. 
Dari meja kerja saya di lantai 3, kantor Rolling Stone Indonesia.

Menulis Lagi di Sini, Setelah Sekian Lama

Halo Blogspot, lama tak jumpa.

Maaf saya mengacuhkanmu selama beberapa tahun terakhir. Multiply sempat membuat saya berpaling darimu. Hehe. Sekarang saya rindu menulis di sini. Menulis blog yang tak berharap pamrih. Maklum, menulis di Multiply yang punya fasilitas untuk melihat siapa saja yang membaca tulisan kita, lama-lama membuat motivasi menulis jadi malah karena ingin dibaca.

Segini saja dulu ya. Mudah-mudahan keinginan untuk menulis di sini tumbuh lagi. Bagi saya, menulis di blogspot terasa lebih tulus. Karena tak tahu siapa yang telah membaca tulisan ini, jadi motivasi menulisnya karena memang hanya ingin menulis, bukan karena berharap respon orang.

Ah senang rasanya menulis kembali. 

Tapi maaf ya Blogspot, saya menodai pernyataan ingin menulis tanpa berharap orang membaca tulisan saya dengan memromosikan blog ini di twitter.

Empat Hari di London

London memanggil, dan saya menjawab. Ini kisahnya.

Oke, yang belum membaca latar belakang saya ke London ada baiknya membaca dulu di blog saya yang ini:
http://solehsolihun.multiply.com/journal/item/131/London_Saya_Datang?replies_read=25

Minggu malam, 20 Maret 2011, saya berangkat naik Emirates. Atau lebih tepatnya, lewat tengah malam, Senin 21 Maret 2011. Jakarta – Dubai memakan waktu delapan jam di udara. Meskipun terbang dengan kelas ekonomi, suasana di pesawat jauh lebih nyaman dibandingkan dengan pesawat domestik—kalaupun ada guncangan, tak terlalu membuat jantung berdebar. Lalu soal makanan dan minumannya, jangan tanya. Semuanya lezat. Apalagi pilotnya berbicara dalam bahasa Arab. Ah meskipun dia hanya menerangkan info penerbangan, rasanya seperti sedang dibacakan doa. Haha.

Menjelang pukul lima pagi waktu setempat, saya tiba di Dubai.

Bandaranya besar dan keren. Berbeda sekali dengan bandara Soekarno – Hatta. Dubai sepertinya kaya karena minyak, padahal kalau dipikir-pikir, Indonesia pun penghasil minyak yang besar, tapi tak bisa sekaya Dubai. Yang membuat saya takjub, adalah lift yang mengangkat penumpang ke ruang tunggu. Ukurannya besar, dan dengan latar belakang suara seperti di film-film futuristik: banyak bunyi mesin yang seperti suara mesin robot. Selain suasana bandara yang keren, bersih dan nyaman, keunggulan Dubai adalah toiletnya menyediakan semprotan air! Bahkan, setiap bilik toilet selalu dipastikan bersih terlebih dahulu sebelum dimasuki orang. Petugas toiletnya cukup galak untuk urusan ini: semua bilik harus dia periksa dulu sebelum bisa dimasuki orang. Kalau belum bersih, dia tak segan berteriak kepada orang yang akan masuk. Saya melihat dua orang mas-mas dari Indonesia, yang berpeci putih bercelana ngatung tipikal pemuda mesjid tiba-tiba menerobos masuk toilet, padahal si petugas toilet sudah mewanti-wanti untuk menunggu. Entah si pemuda mesjid itu tak sabar, entah tak paham maksudnya, entah memang tak ingin mematuhi. Tapi melihat kejadian itu, saya jadi ikut sebal: kenapa orang Indonesia tak sabar? Padahal, orang-orang sebelumnya juga mau menunggu.

Dubai – London, harus ditempuh kira-kira lebih dari tujuh jam.

Menjelang mendarat di Heathrow Airport di London, saya sengaja memutar lagu “London Calling” dari The Clash supaya menambah dramatis suasana psikologis. Ternyata, Emirates memasukkan album London Calling sebagai salah satu dari Essential Albums di daftar hiburan mereka. Wah, begitu melihat atap bangunan di London, jantung saya berdebar! No hoax! Akhirnya tiba juga! London, saya menjawab panggilanmu!

London sedang cerah ketika saya tiba di sana.

Matahari bersinar dengan cukup terik, berbeda sekali dengan yang saya baca di internet sebelum pergi ke sini: katanya matahari jarang muncul di London, dan cuaca bisa sangat tak terduga, harus selalu bawa payung dan jas hujan untuk jaga-jaga. Semua tulisan tentang betapa cuaca London bisa tak bersahabat, tak saya temui di saat pertama datang.

Seorang supir menunggu kami di pintu kedatangan. Dia memakai jas, seperti sopir bus Transjakarta lah kalau di Jakarta mah. Hehe.

Kamen namanya. Entah bagaimana ngeja namanya, tapi diucapkannya seperti itu, seperti orang mengucapkan kata ‘common’ dalam bahasa Inggris. Dia orang Bulgaria, dan kaget ketika saya bilang pernah mendengar nama Bulgaria. “Di film-film,” kata saya ketika dia tanya, “biasanya di film-film mata-mata, atau jadi gengster.” Sekenanya saja saya bilang. Sejujurnya, saya juga tak yakin apakah di film mata-mata pernah dibahas negara Bulgaria. Tapi Kamen mengangguk-angguk tanda sepakat bahwa di film Hollywood, seringkali orang Bulgaria digambarkan sebagai gengster atau mafia.

Saya dijemput dengan sedan mewah bermerk Mercedes Benz.

Ini kali pertama saya naik Mercy berbentuk sedan, biasanya kalau naik Mercy pasti rodanya banyak dan badannya besar sekali alias bus kota. Kamen lantas bicara soal betapa kerasnya hidup di London: biaya hidup tinggi, persaingan begitu ketat. Meski begitu, banyak orang yang datang ke London demi kesempatan yang lebih baik. Kamen datang ke London, demi pendidikan yang baik untuk anaknya. Saya lupa bertanya berapa anaknya.

Setelah kira-kira satu jam perjalanan dari bandara, saya tiba di hotel.

Copthorne Tara Hotel ada di High Street Kensington. Lokasi yang cukup strategis, karena hanya berjalan kaki kurang dari lima menit, saya sudah tiba di kawasan pertokoan dan stasiun High Street. Segala macam toko ada di sana, kecuali toko CD. Sayang sekali, padahal saya ingin menengok koleksi toko CD di sana.

Kamar hotel saya, 481. Ada di lantai 4, di ujung lorong. Kamarnya nyaman, hanya sayang, pilihan saluran TV-nya tak terlalu oke. Kalau mau menonton film yang bagus, hotel menyediakan biaya tambahan. Mereka bahkan menyediakan saluran film dewasa alias XXX alias bokep! Tapi saya tak mengeluh, toh ke London jauh-jauh bukan untuk santai di kamar dan nonton TV. Dibayari Coca Cola ke London saja sudah syukur alhamdulillah. Oya, pemandangan di luar kamar, adalah rel kereta api serta sebuah gedung entah gedung apa. Dan yang saya kuatirkan ternyata terjadi saudara-saudara: toiletnya tak menyediakan semprotan air. Akibatnya, setelah diusap pakai tissue dan memastikan tak ada lagi warna kuning di tissue, saya bergerak ke bath tub dan membilasnya dengan pancuran air. Hehe.

London mengingatkan saya pada Melbourne. Bangunannya, khususnya orang-orangnya: cara mereka berpakaian mirip, dan banyak perempuan cantik berdandan keren.

Hari 1, Senin 24 Maret 2011: Makan malam dan bertemu beberapa bloggers luar negeri.
Sebelum sesi makan malam, kami diajak ke sebuah bar bernama Hoxton Square Bar & Kitchen di mana One Night Only tampil. Mereka adalah band yang juga dikontrak kerjasama dengan Coca Cola. Memainkan musik alternatif yang ternyata membuat puluhan perempuan menjerit. Para perempuan yang datang menonton konser malam itu, sebagian besar terlihat cantik dan berdandan dengan menarik. Konser dibuka oleh MC seorang bapak-bapak memakai jas, tanpa basa-basi tanpa ada sesi bagi-bagi merchandise atau kuis dari sponsor. Lantas, setelah setengah jam, One Night Only selesai manggung. Kami pun menuju ke restoran. Menu makan malamnya, tak terlalu menarik buat lidah saya yang Indonesia banget. Hehe. Untung masih ada nasi dan ayam kari yang mau tak mau harus dilahap daripada masuk angin dan kepala keleyeng-keleyeng karena pusing.

Hari 2, Selasa 23 Maret 2011: Melihat Maroon 5 di London Studio.
Oke sekali lagi saya terangkan soal event ini. Coca Cola meminta Maroon 5 membuatkan lagu untuk mereka dalam waktu 24 jam. Bloggers serta jurnalis diundang dari seluruh dunia untuk menyaksikan event ini. Ada juga live streaming via www.coca-cola.com. Plus, interaksi antara penggemar lewat twitter. Nah, saya diundang ke sana atas nama pribadi, bukan sebagai jurnalis, melainkan sebagai blogger [cieee ka marana atuh blogger?]. Di sesi pembuka, perwakilan Coca Cola menerangkan visi misi mereka. Menurut mbak-mbak yang menerangkan, faktor utama Coca Cola bisa bertahan lebih dari 125 tahun dan dekat dengan anak muda adalah karena mereka mengerti anak muda. Nah, salah satu passion anak muda adalah musik, karena itulah Coca Cola menggelar 24 Hour Session Maroon 5 ini.

Untuk info soal hari 1, silakan baca di blog saya sebelum ini:

http://solehsolihun.multiply.com/journal/item/132

Seharusnya, saya dan Endah serta blogger dari Mesir, mendapat jatah wawancara alias meet and greet dengan Maroon 5, jam satu pagi. Tapi karena lelah, jadwal wawancara dibatalkan. Oya, di hari kedua ini, saya dan Endah menyempatkan pergi ke Hyde Park yang legendaris, tempat The Rolling Stones menggelar konser gratis setelah kematian mantan pemain gitar mereka Brian Jones. Hyde Park berjarak kurang lebih setengah jam dari hotel, dan bisa ditempuh dengan mudah lewat kereta api atau bis kota. Oyster, alias kartu untuk naik bis dan kereta, bisa dibeli di stasiun dan petugasnya pasti akan menerangkan kepada kita berapa banyak yang harus kita beli untuk perjalanan yang kita inginkan.

Jalur kereta apinya tak rumit. Saya yang baru pertama kali datang ke London, bisa dengan mudah mempelajarinya. Jadi, bertanya pada orang ditambah peta jalur kereta, maka mudahlah perjalanan Anda. Soal jadwal, dengan jelas Anda bisa melihat kapan kereta datang sehingga lagu Iwan Fals yang “Kereta Tiba Pukul Berapa” akan sangat tak cocok untuk kondisi di sana.

Di kereta, penampakannya adalah orang-orang berangkat kerja, lengkap dengan jas dan baju kerjanya, membaca koran atau buku. Ternyata di pintu stasiun, dibagikan koran gratis sehingga orang-orang mendapat berita baru setiap pagi tanpa harus mampir ke newsstand yang ada.

Hari 3, Rabu 24 Maret 2011.
Setengah tujuh pagi saya dan Endah sudah berangkat dari hotel untuk menuju Abbey Road yang legendaris itu. Rasanya belum lengkap, ke London tanpa mengunjungi Abbey Road yang ternyata kurang dari setengah jam sudah bisa ditempuh dari hotel kami dengan kereta. Zebra cross di Abbey Road yang dipakai oleh The Beatles untuk sampul album dan ditiru banyak orang, ternyata zebra cross biasa, yang dilewati orang-orang setiap hari. Konon, sudah banyak orang yang tertabrak gara-gara berfoto di sana. Maklum, zebra cross itu ada di ujung persimpangan jalan di mana kendaraan melintas dengan kencang. Bagusnya, ketika saya tiba di sana, belum jam delapan pagi sehingga lalu lintas belum terlalu ramai. Tapi ironisnya, ketika kami bercerita soal betapa girangnya kami ke Abbey Road, ada salah seorang dari para undangan itu yang tak tahu apa itu Abbey Road, padahal dia penyanyi di negeri asalnya.

Di London Studio, siang harinya beberapa bloggers diajak untuk terlibat dalam sesi rekaman. Bukan untuk bernyanyi atau bermain musik, tapi untuk bertepuk tangan. Kelompok pertama: orang Indonesia, Jepang, Singapura, dan Thailand. Entah disengaja atau tidak, tapi kelompok itu terdiri dari orang-orang Asia. Kami merekam tepuk tangan dipandu semua personel Maroon 5 kecuali Adam Levine yang entah ada di mana siang itu. Beres sesi rekaman, kami diberi kesempatan wawancara dengan pemain bass Mickey Madden dan pemain gitar James Valentine. Silakan lihat videonya di sini:

http://rollingstone.co.id/readvideo/TVRFd016STRPVE15SXpJd01URXZNRE12/wawancara-dengan-maroon-5–bagian-1

Sesi ditutup dengan quick meet and greet alias foto bareng dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Saking singkatnya bahkan kami tak diijinkan memakai kamera sendiri, melainkan memakai kamera fotografer resmi mereka yang katanya akan dikirim tapi belum dikirim juga. Oya, sebelumnya Maroon 5 memainkan lagu “Sunday Morning” di dalam studio dan disiarkan langsung lewat situs Coca Cola dan disaksikan kami lewat layar kaca yang tersedia di Coca Cola Cafe alias tempat bloggers berkumpul.

Hari 4, Kamis 25 Maret 2011.
Hari terakhir saya gunakan untuk datang ke Camden Street, tempat yang katanya populer untuk belanja. Sayang sekali, waktu saya hanya lima belas menit di sana. Karena saya tiba di sana hampir jam dua belas, sedangkan jam satu siang saya harus sudah check out dari hotel. Dengan bis, jarak dari hotel ke Camden Street, kira-kira 45 menit. Jalanan London tak terlalu besar, tapi tak banyak kendaraan di jalan sehingga kalaupun macet, itu karena antrian yang biasa bukan karena antrian gila-gilaan kendaraan. Orang-orang banyak yang menggunakan kendaraan umum atau sepeda [banyak sepeda di sana tapi sepertinya semua memakai rem alias tak ada yang fixie. ;p]. Camden berisi banyak pertokoan, dan yang lebih menariknya adalah pasar yang jika diibaratkan di Bandung seperti Pasar Gede Bage alias barang bekas tapi berkualitas, hanya saja yang menjualnya di Camden adalah bule, atau bule yang tak cebok pakai air lebih tepatnya. Kalau berkunjung lagi ke London, saya pasti akan menghabiskan waktu lebih lama di sana.

Perjalanan pulang ke bandara, saya juga diantar oleh Mercy dengan supir yang memakai jas. Endah pulang lebih dulu karena harus manggung hari Jumat, daripada was-was tak terkejar waktunya jika pesawat telat berangkat. George nama supirnya. Orang London asli, tapi keturunan Yunani. Dia cerita soal supir taksi di London yang penghasilannya bisa 1000 poundsterling seminggu—maklum, taksi di London sangat mahal, perjalanan setengah jam saja bisa menghabiskan uang 65 poundsterling alias hampir 900 ribu rupiah. Dia punya teman yang supir taksi. Kerjanya hanya dua minggu di London, lalu berlibur ke Spanyol dan menghabiskan uang lalu balik lagi. Tapi sebelum menjadi supir taksi, orang harus menghapalkan 333 jalur dari kira-kira 1000 jalur di London. “That’s why our drivers are the best in the world!” kata George soal supir taksi di London. George bukan supir taksi, dia hanya melayani pesanan dari perusahaan.

George cerita soal 2,5 juta penganggur di London yang diberi uang oleh pemerintah. “Sistem kami buruk,” katanya dengan nada kecewa, “di satu sisi beberapa dari kami kerja keras, tapi ada juga yang bermalas-malasan dan mendapat uang dari pemerintah. Tapi kami sedang mencoba memerbaiki sistem itu.” Kata George, banyak juga perempuan di Inggris yang memilih jadi single parent alias hamil dan punya anak tapi tanpa ayah, demi mendapat tunjangan dari pemerintah. Baik George maupun Kamen, semuanya punya pendapat sama: hidup di London itu keras.

Tapi meskipun keras, saya ingin balik lagi ke London suatu hari nanti. Belum sempat mengikuti tur yang ada di sana. Ada tur seharga 8 poundsterling yang menyediakan paket tur The Beatles, hingga paket tur Rock n’ Roll alias berkunjung ke tempat-tempat penting dalam sejarah musik di Inggris! Pastikan Anda ikut tur itu, silakan google saja.

Oya, tips, buat yang ingin berlibur ke London dan masih bisa update di Twitter atau mengirim SMS ke Indonesia. Datang saja ke toko SIM Card dan beli di sana. Mudah dan lebih murah jika dibandingkan Anda harus membayar biaya roaming provider Anda.

Maka kembalilah saya ke Jakarta dengan Emirates. Di Dubai, isi penumpangnya sebagian besar orang Indonesia: campuran antara TKI dan mereka yang sepertinya pulang umrah. Di pesawat, bapak-bapak tiba-tiba menduduki kursi saya yang letaknya sudah enak bagi saya: di lorong. Si bapak, tanpa permisi tiba-tiba duduk.

“Saya punya penyakit suka sering kencing,” kata si bapak, tanpa bilang maaf atau minta ijin terlebih dahulu mengambil tempat duduk orang. Istrinya mendukung ucapan si bapak. Selama perjalanan, saya hitung cuma dua kali dia pergi ke toilet. Akhirnya, sebagai balasan karena kesal kursi saya diambil begitu saja, ketika mereka terlelap, saya bangunkan dan minta ijin untuk ke toilet. Haha.

NB: London adalah salah satu kota yang ingin saya kunjungi, selain Mekkah untuk naik haji, New York karena banyak band punk besar di sana, dan Yunani karena pacara saya ingin sekali ke sana. Ini berarti, satu impian telah terwujud. Terima kasih Tuhan. Terima kasih Coca Cola.

Sampai jumpa lagi London.

Menulis Blog di London: Catatan Perjalanan 24Maroon5

London, Selasa 23 Maret 2011 jam setengah delapan malam waktu setempat.

Haha. Gaya sekali ya nulisnya. Tak pernah saya mengira suatu hari akan datang ke London dan menulis blog di sini. Detik ini, ketika saya menulis blog ini melalui Galaxy Tab (ini juga sesuatu yang tak pernah saya kira akan saya lakukan karena biasanya saya malas menulis agak panjang kalo tak lewat komputer), Maroon 5 sedang menulis lagu untuk Coca Cola.

Di Coca Cola Cafe (ini nama cafe yang ada di London Studio) saat ini, sedang berkumpul puluhan bloggers dari seluruh dunia. Dan sejak hari Senin kemarin, saya berbahasa Inggris terus sampai bibir saya panas. Hehe. Mungkin juga karena cuaca yang dingin kira-kira tujuh derajat celcius.

Ada bloggers dari Mexico, dua orang yang satu perempuan bernama Lucie yang lincah dan ekspresif, yang satu lelaki bernama Andres seorang freelancer berkumis. Kata mereka, Coca Cola sangat populer di Mexico. Dua hal yang harus ada di setiap rumah di sana adalah pesawat televisi dan Coca Cola. Oya lalu ada blogger dari Singapura bernama Sylvia Ratonel yang ternyata penyanyi ternama di sana dan datang dengan seorang manajer (mungkin da satu-satunya yang datang dengan manajer pribadi). Ada blogger dari Los Angeles, Amerika Serikat, seorang pria heboh bernama David Lehre yang berambut jikrak ala remaja masa kini dan kata salah seorang folower saya si David ini memproduseri Agnez Monica. Ada juga blogger dari Rusia bernama Evgeniy Kozlov yang parlente dan dari cerita dia sih sepertinya dia punya perusahaan. Saya pergi bersama Endah Widiastuti, vokalis/gitaris duo Endah N Rhesa.

Oya, soal Coca Cola dan Maroon 5. Dari keterangan mbak-mbak Coca Cola yang menyambut kami tadi sore, ternyata alasan utama Coca Cola memakai musik untuk alat kampanye adalah karena mereka sadar bahwa musik adalah gairah nomor satu bagi anak muda. Karena peka terhadap keinginan anak muda itulah, Coca Cola mengatakan bahwa mereka bisa disukai anak muda selama lebih dari 125 tahun!

Dan karena mengaku tahu apa yang anak muda mau itulah, Coca Cola mengadakan sesi workshop 24 jam Maroon 5 yang memungkinkan anak muda di seluruh dunia berpartisipasi via twitter dengab hashtag #WithMaroon5 atau untuk Indonesia #24Maroon5.