Saya dan Sepeda Motor

Jadi begini,

Tahun 90-an, ada serial televisi berjudul “Renegades” dengan pemeran utama Lorenzo Lamas yang memerankan karakter pemburu bayaran bernama Reno Raines. Itu adalah satu dari sekian banyak serial yang tayang di RCTI dan selalu saya tonton. Saya bahkan masih agak ingat narasi di pembuka serial itu. 

He was a cop, and good at his job. But he committed the ultimate sin. Testified against other cops gone bad. Cops that try to kill him. But got his woman killed instead. Now, he’s crawling (atau apalah itu kata sebenarnya, yang jelas di terjemahannya berkeliaran) the bad land. An outlaw hunting outlaws. A bounty hunter. A renegade! 


Reno Raines mengendarai Harley Davidson. Dan gara-gara film itu, dia membuat saya kepingin punya Harley. Maskulin sekali kelihatannya kalau naik Harley. Dan kuat. Soalnya Reno Raines sering naik Harley hanya memakai rompi kulit, tanpa kaos lagi. Mungkin juga dia sudah membasuhkan minyak kayu putih di pusarnya. Soalnya jaman itu kan belum ada Antangin atau Tolak Angin.

Maka saya pun selalu mendamba motor Harley. Lalu ketika tahu ada jenis Sportster yang tak terlalu besar dan tak sepanjang chopper, saya bertekad untuk membeli Sportster. 

Tahun 1997, ketika saya masuk Fikom Unpad, bapak saya membelikan Suzuki Crystal 110 cc tahun 1994 yang dibeli seharga 2,4 juta rupiah. Motornya kecil dan ringan sekali. Dua tak. Dan setelah beberapa bulan saya pakai, knalpotnya ngebul sekali. Baunya menyengat dan bikin mata perih. Kalau di lampu merah, saya jadi seperti tukang sate. Asap di mana-mana. Ternyata sehernya sudah rusak. Saya setiap hari mengendarai motor itu berdua teman saya Jeffri yang tinggal di rumah. Kami terlihat terlalu besar untuk motor sekecil itu.

Lalu pada 1998, setelah naik tingkat 2, bapak saya mengganti Suzuki Crystal dengan Honda GL Pro tahun 1995 yang dibeli seharga 5,5 juta rupiah. 160 cc. Dan GL Pro itu menemani saya hingga sekarang. Kami sudah menempuh ribuan kilometer dan sudah dua kali turun mesin, tiga kali ganti tangki, sekali ganti shockbreaker belakang, sekali ganti velg, sekali ganti kabel kelistrikan dan entah berapa kali ganti onderdil lainnya. Yang jelas, GL Pro saya sekarang jauh lebih terawat ketika saya kuliah. Maklum, sudah punya uang sendiri.


Tapi mimpi punya motor bermesin besar tak pernah pudar. Meskipun agak kurang yakin bisa terwujud, tapi mimpi itu selalu ada. Lalu saya dikenalkan pada Triumph Bonneville yang ternyata lebih kecil dibandingkan Sportster. Maka, Bonneville masuk ke dalam impian. Belakangan, mimpi itu makin terasa mustahil setelah mendengar harga motor di atas 600 cc pajaknya bukan main besarnya, karena dianggap barang mewah. Sempat berpikir untuk membeli Harley Davidson Street 500 yang katanya seharga 250 juta. Ah, kalo nyicil pasti mampu nih. Begitu pikir saya. Tapi pas melihat langsung, ternyata motornya kurang gagah. Haha. 

Dan ketika ada Royal Enfield yang harganya tak di atas 100 juta rupiah untuk motor 500 cc, hati sempat terpikir untuk membeli itu. Sempat test ride dan merasa nyaman. Sudah meninggalkan nomor telepon juga, minta dihubungi kalo penjualan sudah dimulai. Tapi, ada kabar bahwa manajemennya berganti dan dealer Royal Enfield bermasalah sehingga showroom di Jalan Pejaten itu tak kunjung dibuat. Saya juga tak tahu cerita pastinya, yang jelas showroom Royal Enfield sempat lama tak jelas keberadaannya. Dan ketika showroom jadi, saya tak juga dihubungi. Mungkin datanya tak tahu di mana. 

Royal Enfield memang agak bersahabat harganya, tapi hati selalu memikirkan Triumph Bonneville. Ibarat sedang naksir dua cewek, ada satu yang kemungkinan besar sudah mau menerima, tapi satu cewek lagi yang paling sesuai selera belum jelas kemungkinannya. Harus sabar menunggu. 

Yah, daripada jadian sama yang tak terlalu disukai, mending sabar terus sambil pedekate pada cewek idaman.

Dan impian selama 20 tahun itu pun terwujud di tahun 2017. Saya dengar kabar soal dealer Triumph di Kemang Raya yang tahun 2016 menjual Triumph baru lengkap dengan surat-surat, dengan harga seperti Triumph lama yang belum tentu ada surat-suratnya. 

Yah, singkat cerita, setelah ngobrol dengan Triwil, salah satu bos Triumph Jakarta, saya berjodoh dengan Triumph Bonneville Street Twin yang secara visual sudah bisa memenuhi selera saya, tanpa harus melakukan modifikasi. Kebetulan, Tetta merestui keinginan saya. Hehe.

Jadi sodara-sodara, pesan moral dari tulisan ini adalah: benar kata orang bijak yang bilang bahwa kalau kita bisa memimpikan, pasti kita bisa mewujudkan. Buat kamu yang masih mendamba motor impian atau apapun itu, tetaplah bermimpi! Tapi sambil kerja ya. Jangan sambil ngepet. Dan ingat, kalau kamu sudah punya pasangan, restu pasangan sangatlah penting dalam mewujudkan mimpi itu. 


Makanya, saya kalau melihat orang punya banyak motor mahal, ada dua hal yang selalu terlintas di benak: Itu orang kerjanya apa ya? Lalu, gimana cara dia bilang ke istrinya ya?

Alhamdulillah, Enak!

Halo sodara-sodara,

Saya mau cerita soal pertunjukan stand-up comedy saya yang digelar, Sabtu, 25 Maret 2017 kemarin di Gedung Kesenian Jakarta. Haha. Iya, saya tau, ini udah sebulan sejak pertunjukan “Dibilang Enak Ya Memang Enak” itu. Maaf ya. Baru sempat nulis. Soalnya, sehari setelah pertunjukan saya ada pekerjaan. Hari berikutnya, langsung je Bandung. Jadi ya, gak sempet istirahat. Terus, saya juga sedang menulis buku. Deadline nya setiap Senin dan Kamis. Unduh aplikasi Whattpad aja kalo mau baca naskah buku yang sementara dikasih judul “Macan Kampus” itu ya. Saya cerita soal pengalaman selama 7 tahun di Fikom Unpad.

Oke, kembali ke topik. “Dibilang Enak Ya Memang Enak” dimulai jam 7.30 malam. Memang, di flyer ditulis jam 7, tapi kan saya kasih info lagi di media sosial bahwa pintu dibuka jam 7, dan acara dimulai jam 7.30 malam. Waktu Indonesia Barat tentunya. Teman-teman semanajemen tampil menari; Arie Kriting, Ge Pamungkas, Ardit Erwandha, Aci Resti, dan Bene Dion. Hasilnya? Tak sesuai yang saya harapkan. Tadinya saya berpikir kalo mereka tampil menari, penonton akan tertawa melihat aksinya. Eh ternyata biasa saja. Entah karena mereka tak setenar itu di mata penonton yang datang, entah karena memang tak tahu harus merespon apa. Tadinya Ernest Prakasa akan ikut formasi menari, tapi ketika persiapan berlangsung, Ernest sedang ada masalah di Twitter sehingga suasana hatinya tak sedang bagus untuk latihan menari. Akhirnya Ernest jadi MC. Saya juga mengajak Uus sebagai pasangannya. Kan sama-sama banyak yang memaki tuh di Twitter. Haha.

Kamga jadi pembuka. Banyak mengucapkan kata “titit” dalam lawakannya. Haha. Untungnya lucu dan konteksnya bukan memaki. Joshua yang tampil selanjutnya, sukses mengobok-obok perut dengan lawakannya yang mengolok-olok dirinya sendiri. Banyak teman saya yang tak menyangka kalau Kamga dan Joshua selucu itu. Mereka sangat terhibur dengan penampilan dua musisi itu.

Keinginan saya akhirnya terwujud. Muncul ke panggung dari bawah, kebetulan GKJ baru selesai renovasi dan mereka menyediakan panggung yang bisa naik turun. Lalu penari. Saya selalu ingin muncul di panggung dibuka dengan penari. Biar seperti rockstar. Atau produk yang di-launching. 

Saya awalnya mengira akan tampil paling lama 2 jam. Soalnya, ketika semua materi itu dicoba di open mic, durasinya hanya 1,5 jam. Ternyata ketika di panggung, ada banyak improvisasi materi sehingga membuat saya tampil selama 3 jam 20 menit. Pantesan pinggang saya sakit di panggung. Saya pikir baru 1,5 jam kok sudah panas dan pegal pinggangnya? Saya baru sadar sudah 3 jam ketika di sesi turun ke penonton, Ernest bilang bahwa saya sudah 3 jam tampil. Yah, itu sebabnya saya tak mau bikin 2 pertunjukan dalam sehari. Haha. 

“Dibilang Enak Ya Memang Enak” bakal dikeluarkan dalam format DVD. Tunggu saja ya, infonya di akun Twitter dan Instagram saya. Sementara itu, ini ada beberapa foto hasil jepretan Mohammad Asranur (yang hitam putih) dan Pio Kharisma.

Dan saya mau menutup tulisan ini dengan pujian. Sebenarnya banyak yang memuji sehingga bagus untuk dijadikan alat pamer alias riya, tapi Pandji Pragiwaksono paling bagus kalimat pujiannya. Maklum, dia jago sekali mengeluarkan kalimat yang bisa meningkatkan kredibilitas. Buktinya, Anies bisa jadi Gubernur DKI Jakarta tuh karena Pandji jadi juru bicaranya. 

“Semalem gue nonton salah satu pertunjukan komedi yang mengagumkan. Soleh Solihun bisa jadi merupakan salah satu komika terlucu dan terberani (atau tercuek?) yang gue pernah lihat. It’s almost hero-like, karena Soleh membahas dengan biasa biasa saja hal yang kami bahas diam-diam. Setiap kali Soleh ngomong sesuatu, penonton mikir, ‘NAH IYA!’ dan ketawa menggelegar. Gesturnya, intonasinya, cara pandangnya, dan terutama jokes-nya, menjadikan Soleh sangat orisinil. Dan gak ada yang lolos dari roasting-an Soleh. Penonton biasa. Monty Tiwa. Khemod. Uus. Ernest. Gue. Beuh. Apalagi gue! :)) Kalau di US ada Don Rickles sebagai Master of Insult Comedy (beneran ada istilah Insult Comedy kok di dunia stand-up), jelas Indonesia punya Soleh. Kritik gue bisa jadi hanya 1. Itu harga tiket kemurahan untuk kelasnya Soleh Solihun. Soleh reminded me why I wanna be a comedian. To be able to be amongst people like him. Absolute legend in the making.”

Dibilang Enak Ya Memang Enak

Halo, lama tak menulis di sini. Haha. Maaf ya.

Oke, langsung saja. Saya mau bikin pertunjukan stand-up comedy yang kedua, dan diberi judul “Dibilang Enak Ya Memang Enak.” Buat anak 90-an mungkin tak asing dengan kalimat itu, karena saya memang mencurinya dari lirik lagu “Musyiknya Asik” yang dibawakan oleh Barakatak House Music. Mereka adalah 3 abang-abang yang memainkan (atau mungkin mereka hanya vokalisnya, saya juga kurang tau) Electronic Dance Music! Haha. Lagu itu sering diputar di televisi ketika saya masih remaja, dan begitu membekas dari segi lirik dan visual. Tiga abang-abang joged diiringi house music ditemani perempuan-perempuan yang juga terlihat asyik menikmati musik. Saya tak tau, siapa pencipta lagunya. Apakah mereka penciptanya atau itu memang lagu daur ulang. Saya memakai judul itu, karena tema pertunjukan saya kali ini adalah musik. Kenapa musik? Karena sik sik musik saya suka musik. Hehe. Artinya, sebagian besar lawakan yang akan saya bawakan, berhubungan dengan musik. Mudah-mudahan lucu lah. Haha. Buat yang belum tau, sebelum jadi stand up comedian, saya adalah wartawan di majalah Rolling Stone Indonesia. Semoga pengalaman selama jadi wartawan musik,  bisa berguna untuk melawak yang berhubungan dengan musik. 

Gedung Kesenian Jakarta, 25 Maret 2017, adalah waktu dan tempatnya. Saya sudah lama ingin membuat pertunjukan di sana. Secara anggaran, akustik, visual dan sejarah, gedung itu juaranya. Selain saya, bakal ada Joshua Suherman dan Kamga yang bakal stand up. Saya mengajak mereka, selain karena mereka lucu, juga karena mereka musisi betulan. Cocok untuk tema saya kali ini. Cuma mereka yang profesinya musisi sebelum mencoba stand up comedy. Joshua dari kecil sudah bernyanyi. Kamga, buat yang belum tau, dia adalah personel kelompok vokal Dekat (dulu, Tangga).

Harga tiket dibagi ke tiga kelas:

ENAK BANGET Rp 250 ribu

ENAK                   Rp 200 ribu

CUKUP ENAK    Rp 150 ribu

Dari namanya, sudah bisa dikira-kira lah. Paling mahal, ya makanya kerasanya enak banget. Setelah itu, beda 50 ribu tapi masih enak. Nah, yang paling murah, ada di balkon. Tapi masih cukup enak lah.

Tiket hanya tersedia 400. Meskipun kapasitas 450, yang 50 akan saya beri buat undangan alias orang-orang yang saya anggap dekat banget, atau ada kontribusi dana alias sponsor, dan mereka yang bisa meningkatkan kredibilitas pertunjukan alias mengindikasikan saya punya teman-teman yang keren. Haha.

Tiket hanya dijual di sini

Dan mulai 4 Februari jam 4 sore WIB, tiket sudah bisa dibeli. Tak ada sistem presale. Kalau ludes sebelum hari H, maka tak ada jualan di tempat. Tapi kalau sampai hari H masih ada tiket, ya pasti dijual di lokasi. 

Gedung Kesenian Jakarta punya aturan soal pakaian. Jadi, kalau ke sana, sebaiknya tak memakai sendal (apalagi sendal hotel, jelek!) dan celana pendek. Pakai baju yang keren, lah. Gedungnya keren soalnya. 

Oya, selain Joshua dan Kamga, saya juga menyiapkan kejutan buat Anda. Dijamin Anda belum pernah melihat sesuatu yang akan saya tunjukan itu. Kalau tak percaya, buktikan nanti pada 25 Maret 2017!

Makan Siang Bersama Presiden

Selasa (30/8) siang tadi, saya makan-makan di Istana Negara.
Undangannya mendadak. Sehari sebelumnya, Olga Lidya menghungi saya. Dia bilang, Pak Presiden mengundang makan siang. Ada 30-an orang yang diundang. Saya salah satunya. Sebagai orang yang punya prinsip jangan menolak undangan makan gratis, tentu saja tawaran ini begitu menggiurkan. Tidak setiap hari rakyat jelata seperti saya bisa makan siang di Istana Negara, Jakarta. Waktu komunitas stand up comedy yang diundang ke sana, saya sedang tak bisa datang. Makanya, mumpung ada tawaran lagi, saya pikir ini kesempatan kedua yang tak boleh dilewatkan.
Memang, waktu Olga bilang bahwa ini komunitas film, ada dua kebanggaan. Selain kebanggaan karena undangan makan, juga karena dianggap sebagai bagian dari komunitas film. Haha. Padahal saya belum banyak main film, dan akting saya masih jelek. 
Selasa jam 11.30 WIB saya tiba di Istana Negara. Memakai batik lengan panjang (atas instruksi dari protokoler presiden). Terakhir memakai batik, waktu melamar istri saya. Berarti, sejauh ini cuma Presiden dan Tetta, yang bisa membuat saya memakai batik.  Hehe. 

Mobil yang mau ke Istana, ternyata masuknya dari gerbang Sekretariat Negara, di Jalan Majapahit. Di sana, saya bertemu Gading Marten yang datang bersama bapaknya: Roy Marten. Tak berapa lama, Sheila Timothy, produser film yang juga kakaknya Marsha Timothy (Duh, kakak beradik itu sama cantiknya) turun dari mobilnya. Selang berapa menit, Dewi Lestari datang. Lalu, Ernest Prakasa dan Ananda Omesh. Ernest film pertamanya sebagai sutradara dan penulis naskah jadi film box office. Omesh siapa yang tak kenal dia?

Menuju area Istana, kami menukar kartu identitas dengan kartu tamu. Kami diminta menunggu di ruangan yang ternyata di sana sudah ada Triawan Munaf, mantan personel Giant Step band rock jaman ’70-an, yang juga bapaknya Sherina. Tapi tentu saja Triawan hadir di sana sebagai Kepala Badan Ekonomi Kreatif. Bukan sebagai rocker atau bapaknya artis. 

Jam 12 siang lebih sedikit, kami diajak masuk ke ruang Istana. Telepon genggam tak boleh dibawa, jadi tak bisa selfie di dalam atau curi-curi selfie dengan latar Jokowi. Saya lupa namanya ruang apa itu, yang jelas bukan ruang ouval karena itu mah ruang Presiden Amerika Serikat. Pokoknya itu ruang resepsi lah. Ruang makan tamu negara. 

Para tamu, selain yang saya sebutkan sebelumnya, ada juga Slamet Rahardjo, Mira Lesmana, Riri Riza, sutradara Nia Dinata, scoring maker Aghi Narrotama, Hanung Bramantyo, produser Manoj Punjabi, Desta, sutradara Monty Tiwa, Angga Dwimas Sasongko, animator pembuat film Adit Sopo Jarwo, sutradara Lance, Hengky Solaiman, Wregas sutradara “Prenjak”, film pendek yang menang di festival film Cannes, Nazyra C Noor, dan ah saya lupa mas-mas yang ada di depan saya. Setiap meja sudah berisi kartu bertuliskan nama masing-masing. Yang tak hadir: Salman Aristo (yang ditulis menjadi Salaman Aristo), Indra Bekti, Darto Prambors (padahal sudah tak siaran di sana. Haha), Cathy Sharon, dan satu nama lain yang tak saya kenal.

Kira-kira 12.15, Jokowi masuk ruangan. Dia menyalami kami satu per satu. Fotografer Istana mengabadikan setiap momen itu. Sayangnya, fotografer tak membuka lapak di pintu keluar dan mencetak foto dengan tulisan kejadian hari itu. Kami tinggal menunggu foto dikirim via email. Yah semoga lah. Kan lumayan, foto sedang salaman bersama presiden bisa dipajang di ruang tamu demi meningkatkan kredibilitas pemilik rumah. Bersanding dengan foto-foto liburan ke luar negeri dan ijazah sarjana. Haha. Orde Baru banget.

Basa-basi sebentar (saya duduk paling pojok, karena harusnya ada Cathy Sharon di sebelah saya tapi dia tak datang maka saya jadi paling ujung maka saya kurang mendengar apa kalimat pembukanya), lalu kami diajak ke meja prasmanan. Menu siang itu: nasi putih, ayam woka-woka, ikan cakalang yang saya lupa pake bumbu apa ya, iga sapi pake bumbu kecap, cumi bakar, sop kuah asem manis (yang visualnya tak menarik buat saya karena di kuahnya banyak sekali dedaunan), kerupuk putih. Dan sodara-sodara, menu kepresidenan ternyata rasanya biasa saja. Tak ada yang istimewa. Tak ada citarasa mahal. Tak meninggalkan sesuatu yang berkesan di lidah. Biasa saja. Tak bisa dibilang tak enak, tapi juga tak bisa dibilang enak. Yah, mungkin ini prinsip sederhana yang diterapkan Jokowi, sehingga penyedia makanan pun bukan dari katering mewah.

“Bapak, tiap hari makannya begini Pak?” kata saya berbasa-basi kepada Jokowi. 

“Tapi saya gak gemuk-gemuk ya,” jawabnya. 

Maka, kami pun menyantap menu kepresidenan. Saya sempat bingung mau menambah air putih di mana, karena tak ada dispenser atau teko. Eh rupanya ada mas-mas yang sigap mengisi gelas begitu kosong. Ketika piring kosong, ada mas-mas mengantar hidangan penutup: es kacang merah.

Makanan habis, saatnya curhat. Jokowi beberapa kali mengundang orang-orang dari berbagai komunitas untuk mendengarkan langsung aspirasinya. Soal apakah ada perubahan nyata seperti yang diharapkan para undangan, itu mah lain hal. Yang penting, aspirasi sudah didengarkan.

Yang banyak bicara adalah Slamet Rahardjo. Saya jadi berasa nonton Sentilan Sentilun. Haha. Lalu Nia Dinata, Sheila Timothy, Mira Lesmana. Sesekali Manoj, Angga, Hanung dan Riri menimpali. Hal-hal yang disampaikan: soal pentingnya ruang penyimpanan film lokal, karena ternyata Indonesia pernah dijadikan rujukan bagi mereka yang ingin tahu bagaimana membuat ruang penyimpanan film yang baik. Di Pusat Perfilman H Usmar Ismail, ternyata tak ada ruang penyimpanan yang baik. “Itu sih gudang,” kata Nia Dinata.

“Film-film saya disimpen di Jepang, Pak. Dan saya malah dibayar sama mereka,” kata Mira Lesmana terkekeh.
Slamet Rahardjo menyampaikan usulan soal perlunya dana pendidikan. Bukan sumbangan dari pemerintah. “Kami bukan yatim piatu yang selalu butuh sumbangan,” katanya. Dana pendidikan itu, kata Slamet, bukan diberikan begitu saja. Ada timbal baliknya nanti kepada pemerintah. Yah semacam itulah, saya lupa tepatnya apa usulan dia. Haha. Yang saya ingat, Slamet Rahardjo dengan santainya menyapa Jokowi dengan “Sampeyan.” Kalau saya yang ngomong begitu, pasti terasa tak sopan. Haha.

“Hanung, Angga, sudah bikin jembatan budaya yang menghubungkan antar negara,” kata Slamet soal betapa film begitu berpengaruh. 

“Amerika kalah perang dari Vietnam, tapi lewat filmnya, kita malah dibuat percaya bahwa mereka menang,” kata Manoj. “Film itu senjata.”

Angga bicara soal perlunya gerak cepat dalam menindas situs yang memberikan film gratis untuk diunduh.

“Katanya butuh seminggu untuk menutup situs bajakan. Film saya, Surat dari Praha, ada yang upload dalam ukuran HD dan bisa didownload dalam setengah jam. Jadi, pada saat situs ditutup, sudah banyak orang yang download itu Pak,” kata Angga.

“Film Tiga Dara direstorasi selama dua tahun Pak,” kata Nia Dinata, berbagi cerita soal film legendaris yang kini bisa dinikmati lagi di bioskop. “Dan masih ada kira-kira seribu film lainnya Pak.”

“Berarti ada waktu 2000 tahun ya, buat merestorasi semua film itu,” kata saya kepada Gading.
“Keburu Yesus bangkit lagi,” jawabnya.

Beberapa kursi dari kami, duduk Desta. Dia memajang wajah serius. 
“Gua gak ngerti pada ngomongin apa,” katanya di sela memasang wajah serius itu, sambil menengok ke arah saya dan Gading.

Yah segala macam lah diungkapkan. Mulai dari soal pendidikan film, membuat bioskop yang memutarkan film-film lokal yang tak kebagian jatah tayang cukup panjang, soal sensor, soal kebijakan. Serius lah pokoknya mah.
Saya sedikit menyampaikan soal pajak. Para pekerja seni, khususnya mereka yang sering tampil di layar kaca, adalah termasuk golongan yang diincar orang pajak. Bayar pajak cukup tinggi, tapi pembajakan masih terasa, dan segala macam yang diungkapkan para sineas tadi belum terwujud. “Tolong diperhatikan itu ya Pak. Jangan cuma dikejar pajaknya, padahal kami mah gak ada pensiun, tunjangan kesehatan dan lain-lain,” kata saya.

Ernest menyempatkan promosi colongan film keduanya, Cek Toko Sebelah yang sedang diproduksi. “Film pertama saya, kan Bapak gak sempet nonton. Di film kedua, saya ngajak anak Bapak, Kaesang buat maen Pak. Nanti nonton ya Pak,” katanya sambil cengengesan.

Jam 2 kurang, sesi makan siang berakhir. Sebelumnya, ada sesi tanda tangan dari Jokowi. Tadinya hanya Gading dan saya yang meminta kartu nama kami ditandatangani, itung-itung suvenir, tapi ternyata yang lain jadi ikutan. 

Begitu keluar ruangan, Omesh, masih terkekeh. “Kayaknya kita salah forum deh. Bukan orang yang tepat diundang. Harusnya yang duduk di kursi gua itu, Reza Rahadian, di kursi Gading, Nicholas Saputra, di kursi lu Chico Jeriko,” kata Omesh.

Saya hanya tertawa. Ah tak apa lah. Minimal, saya punya suvenir buat dikenang anak cucu. Ada buktinya pula. Bahwa pada suatu hari, saya pernah makan siang bersama presiden.

Celoteh Akhir Tahun

Hai blog, lama tak jumpa. Haha.

Tak terasa ya, 2015 tinggal hitungan jam. Kayaknya baru kemarin mengucapkan selamat tahun baru 2015. Nah, karena ini hari terakhir di 2015, saya mau bercerita sedikit alias merangkum alias bersyukur alias sok merenung bijak atas apa yang telah terjadi selama 2015.

Tahun ini, begitu banyak kisah suka, tapi ada satu kisah duka: bapak saya meninggal. Ini adalah momen paling sedih dalam hidup saya. Bapak pergi tanpa merepotkan keluarganya, seperti juga semasa hidupnya. Dia pergi begitu mendadak, tanpa sakit apa-apa. Bahkan, sehari sebelum meninggal, hasil general check up bilang, bapak sehat wal afiat. Semoga bapak tenang di alam kuburnya, diterangkan da diluaskan kuburannya, diterima amal ibadahnya.

Kalau kisah suka, saya jalan-jalan 10 hari di London bersama Tetta. Biarpun puasa 18 jam tapi tak terasa. Lumayan lah, minimal kalau harus jalan-jalan ke Eropa lagi pada saat puasa, saya sudah punya pengalaman. Semoga Garuda Indonesia memberi kami lagi kesempatan jalan-jalan di tahun 2016. Hehe.

Tahun ini juga saya membuat pertunjukkan stand up saya yang pertama: Majelis Tidak Alim. Tadinya mau tur ke beberapa kota, tapi ternyata tak terwujud. Tak apa lah. Setidaknya, saya sudah punya dvd dan akhirnya materinya juga jadi buku. Minimal, karya saya sudah terdokumentasikan. Jadi, kalau di kemudian hari, anak cucu bertanya soal pekerjaan saya yang stand up comedian, saya punya bukti berupa karya. Tahun 2015, dibuka dengan Majelis Tidak Alim Jakarta pada 31 Januari, dan ditutup dengan Majelis Tidak Alim Bandung pada 12 Desember. Yang di Jakarta sold out, tapi sponsor minim. Yang di Bandung tak sold out, tapi ada dua sponsor yang membiayai produksi. Dan setidaknya, saya tak penasaran lagi. Saya tahu, bahwa saya bisa juga bikin special show, bahkan saya bisa stand up selama 2 jam 45 menit. Tahun 2016, saya mau bikin lagi, tapi dengan judul yang berbeda. Kalau 2015 temanya agama, tahun 2016 saya mau bikin dengan tema musik ah, karena sik sik musik aku suka musik.

Tahun ini, akun Twitter saya mendapat verifikasi, alias dicentang biru. Yah meskipun dicentang pada saat Twitter sudah tak seramai dulu [alay lari ke Instagram, teman-teman lari ke Path], tapi setidaknya gaya lah. Baru 3 comic yang dicentang biru sejauh ini: Raditya Dika, Ernest Prakasa, dan saya. Belum bisa bikin kaya, tapi lumayan bikin gaya. Hehe.

Tahun ini juga, saya terlibat di program televisi yang tayang setiap hari: Celebrity Lip Sync Battle Indonesia [awalnya bernama Celebrity Lip Sync Combat]. Meskipun secara rating belum tinggi, ya alhamdulillah pekerjaan ini sangat menyenangkan dan membuat dapur mengebul. Hehe. Semoga tahun 2016 program ini masih tayang di NET.

Apa lagi ya? Oh iya, program Karikatur Negeri di TV One akhirnya dibungkus. Setelah 3 tahun mengudara, selesai juga. Mereka merombak sebagian besar tayangannya, dan Karikatur Negeri termasuk yang terkena perombakan. Semoga 2016 ada lagi yang mau menawarkan saya sebagai pembawa acara kesayangan. Hehe.

Niat aktif mengisi blog ternyata masih sebatas niat. Sempat semangat di awal, tapi sepertinya saya hanya manis di bibir. Semoga 2016, saya bisa lebih aktif menulis di sini ya. Dan oya, sebenarnya masih ada hutang saya sejak 2006: merampungkan biografi Puppen. Haha. Saya jadi tak enak setiap ketemu Arian dan Robin, buku itu tak kunjung selesai juga. Saya malah sudah menulis dua buku sejak rencana menulis buku biografi Puppen dibuat.

Oya, bicara soal buku. Majelis Tidak Alim hingga saat ini belum jelas, apakah bakal tersedia di Gramedia atau tidak. Kata penerbit, pihak Gramedia tak mau menjual buku saya karena ada materi yang dianggap mereka berbau pornografi. Saya tak tahu bagian mana, padahal tak ada tentang orang bercinta di dalamnya. Tak ada juga cerita soal posisi bercinta seperti yang biasa ada di majalah perempuan yang dijual bebas di Gramedia. Hehe.

Buku-buku saya sebelumnya, dijual di Gramedia saja tak terlalu laku, apalagi tak dijual di Gramedia ya. Haha. Eh tapi di toko buku lainnya macam Gunung Agung dan Toga Mas sih ada. Apa saya harusnya jual di KFC saja ya? Sudah pasti laris. Yah kita lihat saja nanti bagaimana nasibnya buku Majelis Tidak Alim.

Eh iya, program stand up comedy makin banyak di televisi lain selain Metro TV dan Kompas TV. Yang paling terkenal sih, sekarang Stand Up Comedy Academy di Indosiar. Saking terkenalnya program itu, saya sering sekali dapat pertanyaan, “Nggak ikutan di Indosiar?”

Saya mah, setia sama Metro TV. Haha.

Karena tv lain tak mengajak saya. Hahaha.

Kalau ada acara pencarian bakat penyanyi, para penyanyi yang tak tampil jadi bintang tamu di acara itu tak pernah ditanya soal mereka tak ikutan jadi bintang  tamu di sana, kan. Tapi kalau stand up comedy, seakan-akan kalau saya tak tampil di sana, kurang diakui sebagai stand up comedian. Haha.

Padahal kan, bisa saja karena budget tak cocok, atau karena jadwal tak cocok. Atau, ya karena produser acara itu tak merasa saya lucu. Haha.

Sudah ah, curhatnya. Mari kita tutup celoteh akhir tahun ini dengan doa.

Semoga 2016 saya bisa bikin special show lagi.

Semoga 2016 saya bisa jalan-jalan dibayarin lagi.

Semoga 2016 saya kebeli motor Triumph.

Semoga 2016 duit saya makin banyak.

Semoga 2016 FPI tak sweeping lagi.

Semoga 2016 mbak-mbak ITC tak ngomong kastamer lagi.

Semoga 2016 masih banyak perempuan yang memakai legging dan skinny jeans.

Semoga 2016 tak ada lagi mas-mas yang jalan-jalan make polo shirt kerah naik plus celana pendek plus sendal hotel.

Semoga 2016 hidup kita makin bahagia dan sejahtera.

Yuk, Datang ke Majelis Tidak Alim Cabang Bandung!

Buat yang sudah pernah membaca soal pertunjukkan tunggal saya yang berjudul Majelis Tidak Alim, dan mungkin juga pernah membaca bahwa saya berencana membawa pertunjukkan ini ke beberapa kota setelah 31 Januari lalu digelar di Jakarta, ini perkembangan dari rencana itu.

Saya tak jadi membuat tur Majelis Tidak Alim, karena saya tak punya waktu. Haha. Kata orang, waktu adalah uang. Tak ada yang mau jadi sponsor, artinya saya tak punya waktu. Yah, manusia merencanakan, Tuhan menentukan. Hehe.

Biar tidak terlalu penasaran, maka saya memutuskan untuk menggelar Majelis Tidak Alim edisi Bandung. Kota kelahiran saya, sekalian penutup. Gaya ya. Pembuka, langsung penutup. Tak ada tengahnya. Haha.

Sabtu, 12 Desember 2015, mulai jam 7 malam, di Gedung New Majestic, Braga, Majelis Tidak Alim cabang Bandung akan digelar. Selain saya, ada tiga komika yang akan tampil duluan: Wanda Urban [orang Sunda, penyiar radio, MC, komika dari Bandung], Bene Dion [orang Batak, pernah tinggal di Jogja tapi sekarang merantau ke Jakarta, dan baru bergabung di HAHAHA Corp alias manajemen saya], dan Ricky Wattimena [blasteran Ambon dan Sunda, warga Depok, mahasiswa, dan peserta Stand Up Comedy Academy di Indosiar].

Oke, mengenai harga tiket yang Rp 150 ribu. Kata teman saya yang orang Bandung, itu termasuk mahal. Tapi kalau menurut saya, itu seharga kaos distro, dan bahkan pulsa sebulan. Kalau itu perbandingannya, maka harganya relatif murah. Lagipula, dengan kapasitas 300 an kursi, maka kalau tiket saya dijual di bawah angka itu, maka saya akan rugi bandar. Jadi sodara-sodara, mohonlah pengertian, bahwa harga segitu memang karena ongkos produksi yang tak murah.

Tiket bisa dibeli di hahaha-store.com sejak 12 November sore hingga seminggu kemudian. Setelah itu, Anda juga bisa menghubungi @omuniuum atau datang langsung ke sana membeli tiket.

Buat Anda yang ingin tahu seperti apa Majelis Tidak Alim Jakarta, baca tulisan penuh riya ini ya. Hehe.

Semoga informasi ini cukup membantu Anda yang tertarik datang ke Majelis Tidak Alim cabang Bandung. Doakan semoga tiket habis terjual ya. Hahaha. Amiin!

Kalau mau langsung membeli tiket, langsung ke sini ya –> http://bit.ly/mtabandung

Sampai jumpa di New Majestic!

 

Soleh_revisi2

Sepuluh Hari di London Oh London

Tagihan kartu kredit baru datang, jadi ingat juga saya punya hutang menulis soal cerita jalan-jalan kemarin di London. Hehe.

Buat yang sudah baca tulisan sebelumnya, pasti tahu dong, saya jalan-jalan ke London selama bulan puasa kemarin. Sepuluh hari. Saya dan Tetta berangkat naik Garuda Indonesia, yang mendapat predikat lima bintang dari Sky Trax—organisasi independen pemberi peringkat pada maskapai penerbangan di seluruh dunia.

Selasa, 23 Juni 2015, jam sebelas malam pesawat kami lepas landas. Sepertinya kalau perjalanan ke luar negeri yang lebih dari lima jam, selalu berangkat malam. Kalau data ini salah, maafkan saya, jam terbang saya keluar negeri masih sedikit. Hehe. Tapi enaknya berangkat malam, ya begitu duduk di pesawat, tak sulit untuk bisa tertidur. Tentu saja setelah makan malam disantap. Hehe. Sayang kalau tidak dinikmati, rejeki jangan ditolak. Apalagi perut lapar.

suasana di dalam garuda indonesia.

Dan salah satu kenikmatan naik Garuda Indonesia keluar negeri adalah, kalau mau minta apa-apa ke pramugari, lebih nyaman. Beda kalau harus minta sesuatu ke pramugari di maskapai asing yang tak ada yang bisa berbahasa Indonesia. Berhubung English saya Sundanglish alias speak English with Sundanese accent dengan grammar yang sering berantakan, kalau harus berkomunikasi dengan bule, pasti butuh energi lebih. Apalagi ke bule cewek. Rasanya dua kali lebih intimidatif. Makanya, ketika bilang ke pramugari bahwa saya puasa dan nanti tolong dibangunkan kalau tiba waktunya buat sahur, jadi jatah sarapan saya diganti ke makan sahur saja, itu lebih mudah. Bahasa Inggrisnya sahur dan imsak saja, saya belum tahu. Hahaha.

Saya tak tahu bagaimana kru pesawat menghitung waktu sahur di pesawat, yang jelas pas. Sebelum kami mendarat di Amsterdam untuk transit, kami sempat sahur. Entah mengikuti waktu sahur di dunia belahan mana. Kalau memikirkan itu, masih pusing saya. Haha. Pokoknya, pas lah. Sebelum imsak, kami sudah makan sahur.

Garuda Indonesia dari Jakarta ke Gatwick, London, transit dulu di bandara Schipol, Belanda. Saya lupa, kira-kira tiga belas jam lah kami di pesawat sebelum transit. Tak lama, hanya sejam. Itu pun kami disuruh turun dari pesawat karena pesawatnya mau dibersihkan. Lumayan lah, bisa jalan-jalan sebentar melihat bandara Schipol dan beli gantungan kunci serta magnet kulkas yang ada tulisan Netherlands nya.

Rabu, 24 Juni 2015, jam sepuluh pagi waktu London, kami tiba di bandara Gatwick. Bandara ini tak sebesar bandara lainnya di London: Heathrow, tapi tetap saja lebih bagus dari bandara Soekarno – Hatta. Hehe. Menurut petunjuk Robin Malau dari Konserama yang membantu mengatur perjalanan kami selama di London, kami membeli tiket Gatwick Express di bandara. Ini adalah kereta dari bandara Gatwick ke stasiun Victoria di London. Buat yang berencana pergi ke London dan mendarat di Gatwick, kalau mau beli tiket Gatwick Express, mending langsung beli tiket yang pulang pergi. Jadi kalau Anda pulang dari London ke Gatwick, tak perlu repot mengantri lagi untuk membeli tiket. Yah siapa tahu pas Anda pulang, antrian sedang panjang dan Anda buru-buru.

Perjalanan dari Gatwick ke stasiun London Victoria, melewati pemandangan yang mengingatkan saya pada perjalanan naik kereta Bandung – Jakarta. Banyak pemandangan pohon dan bukit.

London Victoria.
London Victoria.

Menjelang jam dua siang, kami tiba di Clink 78 Hostel di kawasan King’s Cross. Ini hotel buat backpacker, tapi ada kamar yang isinya seranjang buat berdua. Harganya lebih mahal dibandingkan kalau kita tidur di kamar yang isinya buat banyak orang. Meskipun terhitung murah untuk ukuran London, untuk ukuran Jakarta mah, itu mahal. Menginap lima malam di sana, biayanya kalau hitungan uang kita, lebih dari 9 juta rupiah. Bisa menginap di hotel berbintang banyak tuh kalau di Jakarta. Haha.

Clink 78 Hostel ini gedungnya cukup bersejarah. Pernah jadi court room, saya kurang tahu kalau bahasa Indonesianya apa, pengadilan mungkin ya. Di gedung itu, The Clash pernah disidang karena menembak merpati! Haha. Charles Dickens juga pernah tinggal di sana katanya selama beberapa waktu. Dan sebagian besar yang menginap di sana, anak muda usia 20 hingga 30 tahunan. Saya hanya melihat sedikit sekali orang tua yang kulitnya sudah keriput.

Clink 78 Hostel punya ruang makan di lantai paling bawah. Di sana ada meja bilyar, dapur, dan bar. Orang-orang bisa memasak masakannya sendiri, demi menghemat biaya. Di malam-malam tertentu, ada DJ yang tampil di ruang makan itu. Bukan DJ ajep-ajep yang memainkan lagu untuk dugem, yang mereka mainkan musik-musik alternatif. Lokasinya cukup strategis. Tak jauh dari stasiun King’s Cross dan St Pancras International Station. Ini adalah dua stasiun yang besar. Sepuluh menit jalan kaki dari sana, sudah sampai di hostel.

 

Hari 1

Setelah rebahan sebentar di kamar hostel kami yang berukuran kecil, kira-kira 2 x 3 meter dengan kamar mandi yang sempit alias hanya ada kloset duduk dan pancuran yang tak cukup buat berdua jadi tak bisa mandi bareng romantis, kami pergi ke The British Museum. Ini adalah museum di London yang katanya sih jadi lokasi syuting film Night at The Museum 3. Museum nya BESAR SEKALI, seperti juga museum lain yang kemudian kami kunjungi nanti. Maklum, beberapa museum di Indonesia yang pernah saya datangi tak sebesar ini. Melelahkan sekali mengelilingi museum yang koleksinya buanyak sekali dan tak sempat saya lihat semuanya. Artefak dari seluruh dunia, ada di sana. Tapi yang saya lihat hanya koleksi dari Yunani dan Mesir, karena itu yang paling sering saya lihat di televisi. Hehe. Yang keren sekaligus menyeramkan adalah koleksi mummy asli! Bukan replika bukan KW tapi asli. Katanya loh. Saya juga bakal tak tahu bedanya kalau itu palsu, selama mereka bilang itu asli. Dan ada mummy Cleopatra. Saya tak tahu ada berapa Cleopatra. Kalau Firaun kan, katanya ada banyak. Cleopatra yang saya lihat di museum itu, katanya umurnya baru 17 tahun saat dia meninggal. Badannya pendek. Tak lebih dari 160 cm. Kalau ini adalah Cleopatra yang sering diceritakan di film itu, berarti di usia yang masih muda itu, dia sudah menggonjang-ganjingkan dunia ya. Hebat.

The British Museum.
The British Museum.
Must love dogs.
Must love dogs.
Tetta, lagi puasa melihat begituan.
Tetta, lagi puasa melihat begituan.
Tengah malam berdua sama dia doang, saya gak berani deh. :))
Tengah malam berdua sama dia doang, saya gak berani deh. :))
Cleopatra.
Cleopatra.
Museum sudah mau tutup. Mesti pulang sebelum penghuninya bangun.
Museum sudah mau tutup. Mesti pulang sebelum penghuninya bangun.

Akhirnya, kaki pegal dan tutupnya museum jam 17.30 lah yang membuat saya harus ikhlas tak melihat seluruh koleksi museum.

Musim panas di London, artinya siangnya lebih lama. Waktu magrib saja, jam setengah sepuluh malam. Di satu sisi, enaknya karena buat orang yang solat dan repot mencari tempat solat, maka solat Dzuhur dan Ashar bisa dijamak dengan santai, tanpa harus kuatir waktu sudah habis. Pulang jam delapan malam saja, masih bisa solat Ashar. Di sisi lain, puasanya lebih lama. Imsyak jam setengah tiga pagi, artinya lama puasanya hampir sembilan belas jam. Saya bukan mau riya alias ingin dipuji ya, tapi ternyata puasa sembilan belas jam rasanya tak lebih berat dari puasa tiga belas jam di Jakarta. Entah karena hati senang sedang jalan-jalan keluar negeri. Entah karena cuacanya tak sepanas di Jakarta, meskipun sedang musim panas di London. Panasnya tak membuat saya berkeringat, meskipun saya berjalan kaki berjam-jam. Padahal di Jakarta, saya termasuk yang gampang berkeringat. Kalau keringat bisa dijual dan menghasilkan duit, saya sudah kaya raya. Haus sih haus, lapar sih lapar, ya namanya juga puasa. Tapi tak seperti yang saya kira, puasa sembilan belas jam akan sangat menyiksa. Tapi ya sama saja seperti puasa di Jakarta. Mungkin juga karena secara psikologis, meskipun magribnya jam setengah sepuluh malam, langitnya kan sama saja dengan magrib jam enam sore.

Soal menahan lapar dan dahaga sih, biasa saja lah, tak terlalu tergoda. Tapi menahan pandangan adalah godaan yang tak bisa saya kalahkan. Musim panas di luar negeri, artinya banyak perempuan memakai pakaian minim. Hot pants dan tank top adalah pemandangan biasa. Legging di mana-mana. Di Jakarta, yang biasanya berani memakai celana gemes ke jalan raya adalah cabe-cabean yang secara visual tak menarik, tapi di London, banyak cewek kece yang memakai celana gemes sehingga bener membuat gemes melihatnya, bukan gemes ingin bilang, “Woy udah dosa, gak enak dilihat pula!”

 

Ngabuburit.
Ngabuburit.

Hari 2

Kamis, 25 Juni 2015. Salah seorang kawan saya, Eric Sasono sedang menyelesaikan kuliah S3 di London, saya lupa jurusannya apa, kritik film atau apa lah. Yang jelas, berhubungan dengan film. Eric adalah kritikus film. Maka itu menjadikan dia dua orang kritikus film yang bakal bergelar s3. Satu lagi kritikus film dari Jakarta, Ekky Sumanjaya, juga sedang menyelesaikan kuliah S3 di UK. Eric mengambil part time job di radio BBC yang terkenal itu. Dia bekerja di divisi Indonesia nya. Saya mengunjungi Eric di kantornya di daerah Great Portland Street. Ada 8 lantai, dan tiap lantainya terasa menyenangkan secara visual. Kalau di Jakarta, tampilan kantornya seperti tampilan kantor biro iklan. Tak ada kubikal, warna-warna cat ruangan yang cerah, dan desain yang modern. Tipikal yang ditujukan untuk bikin betah pekerjanya.

Eric cerita sedikit soal kehidupan di London. Kata dia, issue yang sedang hangat saat ini adalah soal orang-orang kaya yang bukan asli London yang membangun ruang bawah tanah. Di London, untuk membangun rumah atau merenovasi rumah saja, ijinnya repot. Katanya, mengganti pintu saja, harus ada ijinnya. Apalagi mengubah desain bangunan. Makanya, gedung-gedung di London relatif sama bentuknya meskipun sudah puluhan tahun. Nah, untuk menyiasati itu, banyak orang kaya yang akhirnya membangun rumahnya ke bawah. Tak terlihat oleh pemerintah. Akhirnya, ada beberapa pohon yang tiba-tiba roboh karena tanahnya digali. Orang-orang kaya itu menyogok pejabat setempat supaya bisa melakukan itu. Korupsi juga ada di London, kata Eric, tapi tak terlalu terlihat dan tak terlalu mengganggu kehidupan masyarakat banyak.

Eric juga cerita soal sepak bola. Menonton pertandingan bola di London, bukanlah sesuatu yang mudah. Menonton langsung ke stadion, itu juga butuh perjuangan. Tiket selalu habis. Menonton di tv, pertandingan bola hanya disiarkan di tv kabel, yang katanya termasuk mahal biaya berlangganannya. Makanya, banyak orang pergi ke pub untuk menonton pertandingan bola. Eric pun hanya mampu menonton bola melalui streaming via internet. Jangan bahas soal apakah itu illegal atau tidak ya. Hehe.

Kata Eric juga, bioskop di Jakarta jauh lebih bagus dibandingkan bioskop di London. Bahkan, menurut dia, bioskop di Indonesia adalah yang paling bagus di seluruh dunia. Di Amerika saja, tak sebagus di Jakarta. Tentu saja kita bicara soal bioskop jaringan 21 dan Blitz Megaplex ya. Kata Eric, bukan cuma kursi bioskop yang tak bernomor, tapi tak sedikit juga, bioskop yang masih menyalakan lampunya ketika film diputar. Kalau di Indonesia kan, lampu menyala ketika masih iklan atau trailer saja.

Lantai paling bawah BBC.
Lantai paling bawah BBC.
Salah satu studio di BBC Radio.
Salah satu studio di BBC Radio.
Bersama Eric Sasono.
Bersama Eric Sasono.
Di depan BBC Radio.
Di depan BBC Radio.

Sejam di BBC, kami pergi ke Kings Cross Station. Di sana ada Platform 9 ¾. Buat yang pernah nonton film Harry Potter pasti tahu, itu adalah platform tempat murid-murid Hogwarts untuk naik kereta ke sekolahnya. Platform yang tak ada pintunya, tapi dindingnya bisa ditembus. Kalau di film, platform itu terletak di antara platform 9 dan 10, tapi di dunia nyata, itu terletak di antara toko dan kantor. Haha. Dinding dari bata lalu ada tulisan Platform 9 ¾ yang jadi salah satu atraksi turis. Orang-orang mengantri untuk berfoto di sana. Ada properti berupa trolley yang sudah setengah menembus dinding, dan burung hantu di atasnya.

Ada mas-mas dan mbak-mbak dari toko merchandise Harry Potter yang menjaga platform itu. Menjaga maksudnya, mengatur supaya orang mengantri dan memberi bantuan turis yang mau berfoto di sana. Foto di sana gratis. Beberapa kali mas nya berkata lewat pengeras suara bahwa itu bukan atraksi perangkap turis. Mereka membantu turis yang mau berfoto dengan kamera sendiri atau telepon genggamnya, tapi juga mengambil gambar dengan kamera digital mereka yang hasilnya bisa diambil di toko. Itu pun sukarela. Tak memaksa untuk mencetak foto.

Hogwarts!
Hogwarts!

Setelah Platform 9 ¾, tujuan berikutnya adalah Camden Market. Tempat dijualnya barang-barang seni, makanan, barang bekas, hingga barang bajakan. Tujuan utama saya ke sana sebenarnya bukan mau berbelanja. Melihat-lihat suasana sih hanya bonus. Yang utama adalah mengunjungi tangga tempat The Clash difoto untuk album pertama mereka. Agak susah menemukan tempatnya. Google pun tak menjelaskan lokasi tepatnya, atau saya yang payah dalam mencarinya di Google. Sempat bertanya ke seorang penjaga toko yang berdandan seperti anak punk: rambut Mohawk, celana ketat bermotif kotak-kotak, jaket kulit, yah pokoknya seperti Tim Armstrong dari Rancid. Eeh dia tak tahu soal foto itu. Dasar poser! Hahaha.

Di salah satu bagian dalam Camden Market.
Di salah satu bagian dalam Camden Market.
Camden.
Camden.

Toko-toko yang menjual aksesoris punk di Camden ternyata hanya jualan. Mereka tak tahu musiknya. Saya pikir, karena mereka menjual aksesoris punk, minimal tahu lah, bahwa di Camden, ada lokasi pemotretan untuk album pertama The Clash. Untung lah, ada toko piringan hitam yang ternyata bukan poser. Begitu saya tunjukkan foto tangganya, bahkan tanpa foto album pertama The Clash, mas penjaga langsung bilang, “Oh The Clash ya? Lewat sana, deket pub, tangganya ada di samping.”

Ziarah The Clash.
Ziarah The Clash.

Agak sedikit berbeda dari foto di album, kondisi tangganya. Mungkin ada sebagian tembok bagian atasnya yang sudah dihancurkan. Saya belum meneliti lagi, tapi yang jelas, kalau di album, personel The Clash terlihat lebih pendek dari dindingnya.

Perjalanan hari itu ditutup dengan kami menaiki perahu di sungai yang ada di Camden, yang saya lupa nama sungainya. Yah bukan Italia memang, tapi lumayan lah. Pas kaki pegal, pas ada yang menawarkan naik perahu, diiringi alunan gitar mas-mas yang sepertinya wajahnya bukan dari London.

Lumayan lah, buat ngilangin pegel. Hehe.
Lumayan lah, buat ngilangin pegel. Hehe.

 

Hari 3

Jumat, 26 Juni 2015. Ini tujuan utama saya ke London: nonton The Who di British Summer Time Festival 2015. Sehari sebelumnya ada Taylor Swift, tapi saya kehabisan tiket. Selama musim panas, banyak sekali band dan musisi kelas dunia yang menggelar konser di London. Ada The Strokes, Blur, Foo Fighters dengan Iggy Pop! Pokoknya mah, kalau tinggal di sana dan ingin menonton itu semua, bisa pusing kepala Barbie memikirkan anggarannya. Pemesanan tiket saya dibantu oleh Robin Malau dari Konserama, seperti yang saya bahas di tulisan sebelum ini. Robin juga yang mengatur jadwal perjalanan saya selama di London. Silakan hubungi Konserama kalau mau jalan-jalan ke London ya.

Di London, saya dibantu Arya Rinaldo. Ketika Konserama memesan tiket The Who untuk saya, alamat Arya yang dijadikan tujuan untuk pengiriman. Arya sedang kuliah S1 di London, saya lupa nama universitasnya, jurusannya Bisnis Musik kalau tak salah. Ternyata, Arya juga pernah membantu Arian13 waktu dia memesan tiket. Arya adalah seorang Serigala Militia, alias penggemar Seringai. Waktu Arian pertama kali pergi ke London untuk nonton konser, dia menginap di kosan Arya.

“I’m officially a groupie, karena sudah tidur sama vokalis. Ha ha ha,” kata Arya.

Arya Rinaldo.
Arya Rinaldo.

British Summer Time Festival diadakan di Hyde Park, yang kayaknya sih taman paling besar di London.  Taman legendaris yang sudah jadi saksi bisu digelarnya banyak konser band keren. Tahun 1969, beberapa saat setelah Brian Jones gitaris The Rolling Stones meninggal di kolam renang, mereka menggelar konser gratis di Hyde Park. Salah satu momen paling konyol Mick Jagger dari sisi fashion, karena dia memakai semacam baju yang mirip baju perempuan. Konsernya kemudian jadi film konser berjudul The Stones at The Park.

Di depan gerbang menuju British Summer Time Festival.
Di depan gerbang menuju British Summer Time Festival.
Tuh, jauh kan. Tapi lumayan lah. Hehe.
Tuh, jauh kan. Tapi lumayan lah. Hehe.
Senja di Hyde Park.
Senja di Hyde Park.

Selain The Who, ada Johnny Marr, Paul Weller dan Kaiser Chiefs, tapi saya hanya kebagian Kaiser Chiefs, Paul Weller dan The Who, karena datang menjelang jam lima sore.  Ricky Wilson, vokalis Kaiser Chiefs cukup humoris. Ketika membawakan lagu baru, dia bilang, “Manajemen menyuruh kami menyanyikan lagu baru nih.” Sepertinya dia sadar, yang datang ke sana, sebagian besar buat The Who dan kalaupun menonton Kaiser Chiefs tentu saja berharap lagu-lagu hits yang dibawakan. Paul Weller sang Modfather masih karismatik meskipun wajahnya sudah keriput.

Saya belum pernah datang ke festival musik dan melihat banyak wajah paruh baya dan usia senja begitu banyak seperti hari itu di Hyde Park. Mungkin karena headliner nya juga sudah tua. Tapi, saya tak tahu, kalau Koes Plus menggelar konser di lapangan, apakah bakal banyak kakek nenek datang ke lokasi konser?

The Who hanya menyisakan gitaris Pete Townshend dan vokalis Roger Daltrey sebagai personel asli. Drummer Keith Moon dan pemain bass John Entwistle yang sudah meninggal, digantikan oleh drummer Zack Starkey [anak dari Ringo Starr], dan pemain bass Pino Palladino. Backdrop panggung, dihiasi oleh LED monitor yang bergantian menampilkan visual yang sesuai dengan lagu. Logo mods berupa lingkaran berwarna biru putih merah tentu saja cukup dominan. “You are the mods. We were the mods,” kata Daltrey sambil terkekeh.

Di sebelah saya, sekelompok pemuda meneriakan, “We are the mods! We are the mods! We are we are we are the mods!”

Saya jadi ingat film Quadrophenia [1979], yang menceritakan tentang anak-anak Mods. Film yang dipuja anak mods di seluruh dunia, tapi menurut saya sih, sebenarnya film itu ingin bilang bahwa buat apa lah jadi mods segala, itu hanya pencarian jati diri yang tak usai. Haha. Soalnya di akhir film, sang pemeran utama, memutuskan untuk melaju ke jurang dan Vespa nya tercebur ke laut, setelah dia frustasi dan kecewa melihat Ace Face, mod idolanya yang keren dan parlente ternyata hanya seorang bell boy di hotel.

Mungkin itu juga yang dirasakan Roger Daltrey ketika dia bilang “We were the mods” dan tertawa. Yah dia anggap itu hanya fase masa remaja yang sekarang membuat dia menggelengkan kepala.

The Who tampil hampir dua jam, membawakan semua hits yang dibuka oleh “Can’t Explain” dan ditutup oleh “Won’t Get Fooled Again.” Townshend masih menunjukkan aksi mengayunkan tangan sambil memetik gitarnya yang terkenal itu. Tentu saja dia tak meloncat tinggi seperti ketika muda. Daltrey juga masih menunjukkan kualitas vokal yang meskipun tak seprima masa mudanya, tapi masih memukau ketika menyanyikan nada-nada tinggi. Intinya, saya puas sekali menyaksikan The Who hari itu, meskipun dari jarak ratusan meter dari panggung.

Kami pulang sebelum jam 11 malam. Masih ada bis menuju hotel. Tak kuatir ada abang-abang di pinggir jalan, tengah malam yang sedang nongkrong dan menimbulkan rasa takut.

 

Hari 4

Sabtu, 27 Juni 2015.

Jalan-jalan ke Portobello. Ini adalah pasar loak, dan banyak pedagang kaki lima. Sebenarnya tak menarik sih buat belanja di sana. Hanya menarik dari sisi pemandangan saja. Mau belanja barang-barang juga, tak ada yang menarik di sana. CD, atau piringan hitam yang dijual di sana, kata Arya, harganya dipatok lebih mahal, karena mereka tahu di akhir pekan lebih banyak turis yang datang ke sana. Yah, seperti Pasar Gede Bage, Bandung yang memasang harga lebih mahal di akhir pekan lah. Tapi buat penggemar film Notting Hill, daerah ini menarik, karena ada rumah dan toko buku tempat syuting film itu dilakukan. Selain Arya, dua teman kami ikut jalan-jalan hari itu: Ruth yang sedang kuliah di Birmingham, dan Jefta suaminya.

Portobello, tempat melihat bule jadi pedagang kaki lima.
Portobello, tempat melihat bule jadi pedagang kaki lima.
Mural di salah satu dinding di Portobello.
Mural di salah satu dinding di Portobello.
Toko buku dari film Notting Hill.
Toko buku dari film Notting Hill.
Biar kayak turis yang ke Inggris.
Biar kayak turis yang ke Inggris.

Beres dari Portobello, kami jalan-jalan ke daerah Shoreditch, yang katanya sih daerah gaul tapi artsy, dan banyak hipster kumpul. Di dekat sini ada Rough Trade East, penggemar musik alternatif pasti akrab dengan nama ini, karena Rough Trade Records adalah perusahaan rekaman yang salah satu karyanya adalah mengeluarkan album The Smiths. Rough Trade East di Brick Lane, adalah salah satu toko Rough Trade East yang ada di London dan terbesar. Di Brick Lane juga ada masjid. Bukan mau riya, tapi saya mau cerita bahwa ketika bertanya di mana pintu masuk ke mesjidnya, orangnya malah bertanya balik, saya mau apa. Mungkin karena bukan bertampang Arab, dia tak mengira saya orang Islam. Ternyata ketika di dalam, memang semua yang ada di sana, bertampang timur tengah.

Tetta, saya, Arya, Ruth, dan Jefta, serta bule figuran,
Tetta, saya, Arya, Ruth, dan Jefta, serta bule figuran,
Rough Trade East.
Rough Trade East.
Mesjid di Brick Lane.
Mesjid di Brick Lane.

Beres dari Shoreditch, kami mampir ke daerah Westminster, buat melihat London Eye dan Big Ben buat berfoto standar ala turis.  Kami tak naik London Eye, bukan karena pertimbangan mahal, tapi karena saya takut ketinggian. Terakhir kami naik ke ketinggian adalah ke Menara 101 di Taipei, di mana lutut saya langsung lemas dan seakan gedung mau jatuh ketika kami sampai di lantai paling atas. Haha.

 

Tuh, London Eye di belakang.
Tuh, London Eye di belakang.
Inggris banget. Belakangnya ada Big Ben dan Double Decker Bus.
Inggris banget. Belakangnya ada Big Ben dan Double Decker Bus.

Hari 5

Minggu, 28 Juni 2015

Saatnya ke Buckingham Palace. Siapa tahu ada Ratu Elizabeth sedang nongkrong di balkon. Kami mau melihat pergantian penjaga. Jam setengah dua belas jadwalnya. Kami datang jam setengah sepuluh dan harus menunggu, bersama ratusan turis lainnya. Pergantian penjaga yang memakai seragam khas merah dengan topi panjang yang biasa terlihat di kotak biskuit itu lah. Ada marching band dan penjaga yang baris berbaris dalam formasi ketika proses pergantian itu. Sebagian naik kuda tinggi besar gagah.

Menunggu Ratu Elizabeth dadah dadah.
Menunggu Ratu Elizabeth dadah dadah.
Kuda Inggris.
Kuda Inggris.

Dari Buckhingam Palace, kami mampir ke Natural History Museum, melihat kerangka dinosaurus lalu mampir ke Victoria Albert Museum, museum seni modern gitu lah, saya juga tak melihat ke dalamnya pas di museum ini, hanya Tetta yang berkeliling karena kaki saya sudah pegal dan pinggang sudah sakit. Haha.

Study tour.
Study tour.
Berkat tongsis, bisa foto begini.
Berkat tongsis, bisa foto begini.

Sebelum pulang, jalan-jalan sebentar ke pusat perbelanjaan, melihat Harrods yang terkenal mahal itu, lalu ke Oxford Street, belanja di Primark, yang katanya sih kalau melihat harganya yang murah, ibarat Ramayana kalau di Indonesia mah. Hanya saja, tak ada mbak-mbak atau mas-mas yang teriak bahwa hari itu diskon, dan tak ada Pojok Busana.

 

Hari 6

Senin, 29 Juni 2015.

Kami pindah tempat menginap, dari Clink 78 Hostels yang di tengah ke Wisma Siswa Merdeka yang agak ke pinggir, karena ada di ujung Distrik 2. Ini adalah penginapan milik KBRI di London yang pengelolaannya diserahkan pada mahasiswa S3 yang sedang kuliah di sana. Rumah dua lantai, dengan lima kamar tidur dan tiga kamar mandi. Biasanya disewakan buat para mahasiswa yang belum mendapat kosan, atau buat tamu KBRI, atau buat mereka yang kebetulan tahu soal Wisma itu dan mengontak pengelola dan ada kamar kosong. Kami dapat kamar yang berisi dua ranjang, alias buat berdua, dengan harga sewa selama lima malam kira-kira tiga juta rupiah, alias sepertiga lebih murah dibandingkan Clink 78 Hostels.

Lantainya berderit setiap saya melangkah di lantai atas. Pengelolanya, sepasang suam istri yang sedang kuliah. Sang suami berlogat Jawa kental, penampakannya mengingatkan saya pada Noe vokalis Letto. Anak mereka baru lima tahun, tinggal di sana sejak umur dua tahun. Hasilnya, tak lancar bahasa Indonesia, pasif, alias jika orangtuanya bertanya dalam bahasa Indonesia, dijawab dengan bahasa Inggris.

Belakangan saya baru tahu, bahwa di rumah itu, salah seorang teman saya, Hasief Ardiasyah, editor Rolling Stone Indonesia pernah tinggal di sana dari lahir hingga umur tujuh tahun. Bapaknya yang kuliah, dan ibunya yang mengelola wisma. Sejak tahun 80-an, rumah itu tak berubah penampakannya.

Wisma Siswa Merdeka.
Wisma Siswa Merdeka.
Kamar kami.
Kamar kami.
Wisma dilihat dari sisi lain.
Wisma dilihat dari sisi lain.

Beres dari Wisma, kami menuju Madam Tussauds, museum patung lilin yang terkenal itu. Lumayan seru lah, meskipun mahal tiketnya, kira-kira 600 ribu rupiah. Buat yang ingin berfoto bareng artis Hollywood, di sini bisa memfasilitasi. Bukan cuma Agan Harahap yang bisa berfoto bareng artis internasional. Haha.

Ngintip punya Britney.
Ngintip punya Britney.
Madonna yang baik hati,
Madonna yang baik hati,
Puasa ya paling pas maen  Hunger Games.
Puasa ya paling pas maen Hunger Games.
Ngecek bahan jaket.
Ngecek bahan jaket.

Dari Madam Tussauds, kami ke museum Sherlock Holmes di 221b Baker Street. Ada tiket masuk seharga 300 ribu rupiah, yang menurut saya sih kalau bukan penggemar Sherlock Holmes pasti tak akan menganggap museum itu istimewa. Rumah lima lantai yang kecil tiap lantainya. Di setiap lantai ada pernak-pernik Sherlock Holmes, ada juga yang menampilkan patung lilin yang mengambarkan adegan dari beberapa cerita Sherlock Holmes.

IMG_0607

IMG_0610

Biar gak stress mikirin kasus.
Biar gak stress mikirin kasus.
221b Baker Street.
221b Baker Street.
Toko merchandise dan tempat beli tiketnya.
Toko merchandise dan tempat beli tiketnya.

Setelah dari Sherlock Holmes Museum, kami bertemu, Joe Wihl, seorang sineas dari London yang menikahi Etie, teman SMA saya. Joe adalah kawan dari Angga Nggok penyiar Indika FM, dan Omesh. Bahkan, Omesh pernah mendapat undangan untuk menonton Liverpool FC dari ruang VIP karena email dari Joe untuk humasnya Liverpool FC.

Kami bertemu di sebuah pub di kawasan Shoreditch. Salah seorang kawan Arya, Thalita ikut bergabung. Maka, jadinya pertemuan yang unik. Saya kenal Arya di London karena dibantu beli tiket, Arya kenal Thalita juga belum lama, karena teman yang sama. Joe, saya belum pernah kenal dan bertemu dengannya. Etie mengomentari Instagram saya dan menyuruh kami kopi darat. Etie nya tak ada di sana, dia tinggal di Dubai. Joe bolak balik London – Dubai.

Tetta, Joe, saya, Thalita, dan Arya.
Tetta, Joe, saya, Thalita, dan Arya.

Hari 7

Selasa, 30 Juni 2015.

Tak lengkap kalau ke London tak menyebrang di zebra cross di Abbey Road, yang jadi terkenal gara-gara The Beatles berfoto di sana untuk sampul albumnya. jam 8 pagi kami sudah ke sana. Waktu kami datang, baru ada kami. Agak malu-malu juga mau motret di sana. Maklum, pengemudi kendaraan suka kesal kalau ada turis yang berfoto di sana. Artinya mereka harus menghentikan kendaraannya. Untung, tak lama kemudian ada beberapa turis yang juga berfoto, sehingga kami tak sendirian. Haha.

Deg-degan mau nyebrang.
Deg-degan mau nyebrang.
Sok tenang, padahal mah buru-buru jalannya.
Sok tenang, padahal mah buru-buru jalannya.

Setelah dari Abbey Road, saatnya ke kota tempat lahirnya The Beatles: Liverpool. Kami naik Virgin Trains dari stasiun London Euston jam 10 pagi.  Tiket pulang  pergi berdua, kira-kira tiga juta rupiah. Dua jam perjalanan dari London.

Stasiun Liverpool.
Stasiun Liverpool.

Salah seorang kawan dari Jakarta, Feli bergabung dengan kami di sini. Dia sedang kuliah di New Castle. Karena waktu mepet, kami hanya bisa mengunjungi The Beatles Story Museum, dan berkeliling di Albert Dock. Mau ikut tur tak keburu, karena kereta kami jam 7 malam sudah berangkat. Museum The Beatles cukup menarik, mereka menampilkan perjalanan The Beatles, lengkap dengan replika tempat-tempat yang bersejarah bagi karir The Beatles.

Pintu masuk museum.
Pintu masuk museum.

IMG_0636

IMG_0640

Replika kantor New Musical Express, majalah yang pertama kali menulis The Beatles.
Replika kantor New Musical Express, majalah yang pertama kali menulis The Beatles.

IMG_0647

Feli, saya tak tahu dia kuliah jurusan apa.
Feli, saya tak tahu dia kuliah jurusan apa.

Ada toko merchandise The Beatles di museum itu [ya tentu saja lah ya]. Toko yang paling lengkap yang menjual segala sesuatu yang berhubungan dengan The Beatles. Tapi entah kenapa, saya sih tak mau memakai kaos The Beatles, meskipun saya mengumpulkan album-albumnya dan menyukai semua lagu mereka. Mungkin sisi diri saya sebagai penggemar The Rolling Stones, yang punya prinsip tak mau memakai kaos The Beatles. Haha.

 

Penguras kantong.
Penguras kantong.

Hari 8

Rabu, 31 Juni 2015.

Saatnya melihat Stonehenge yang terkenal itu, lalu pergi ke Bath, melihat tempat pemandian peninggalan Romawi. Kami naik bis Premium Tours dari Victoria Couch Station jam 8 pagi. Suasana terminalnya sangat ramai, ada banyak gerbang dan banyak penumpang. Kalau tak sigap bertanya, bisa-bisa tertinggal bis. Lebih mudah ikut tur buat ke Stonehenge, karena hanya satu kali naik bis. Mahal memang, berdua kira-kira tiga juta rupiah, tapi sudah sampai ke kota Bath, lengkap dengan tiket buat Stonehenge dan pemandian Romawi di Bath.

Untuk sampai ke Stonehenge, orang harus naik shuttle bus. Nah, mereka yang tak ikut tur, harus membeli dulu tiketnya di lokasi keberangkatan shuttle bus yang terletak kira-kira dua kilometer dari Stonehenge. Jaman dulu, mobil parkir dekat Stonehenge, tapi mengingat makin banyak yang berdatangan, maka kendaraan parkir di tempat parkir yang disediakan lalu orang naik shuttle bus.

Sekarang sih [saya tak tahu sejak kapan], ada pembatas di sekitar Stonehenge, jadi orang tak bisa masuk ke area bebatuan itu, karena katanya kuatir tanah lapangannya amblas.  Eh iya, di area Stonehenge, yang khas adalah aroma tai domba, mungkin karena di situ lapangan rumput luas dan banyak domba. Haha.

Cukup keren sih, melihat tumpukan batu paling terkenal di dunia. Tak perlu pusing memikirkan soal sejarah dan segala macam teori di balik itu, menikmati pemandangan di sana saja sudah memberikan kepuasan tersendiri.

Di depan salah satu batu paling terkenal di dunia.
Di depan salah satu batu paling terkenal di dunia.

Setelah dari Stonehenge, kami pergi ke Bath, kota yang berjarak satu setengah jam dari Stonehenge. Di sana ada kolam pemandian yang merupakan peninggalan jaman Romawi. Kalau menyaksikan film-film Hollywood yang bertema Romawi, biasanya ada adegan mandi di kolam pemandian, lalu ada tokoh perempuan keluar dari kolam hanya terlihat punggung dan nyaris pantatnya. Haha.

Silakan Googling The Roman Bath untuk tahu lebih banyak soal ini. Saya sudah capek menulis. Hehehe.

Jaman dulu, orang pada mandi di bawah sana. Airnya gak hijau lah ya.
Jaman dulu, orang pada mandi di bawah sana. Airnya gak hijau lah ya.
Kebayang kan, ada perempuan keluar dari kolam dan keliatan dari belakang aja.
Kebayang kan, ada perempuan keluar dari kolam dan keliatan dari belakang aja.
Salah satu gedung di Bath, kayaknya sih gereja.
Salah satu gedung di Bath, kayaknya sih gereja.
Salah satu sudut kota Bath.
Salah satu sudut kota Bath.

Hari 9

Kamis, 1 Juli 2015

Belanja ke Bicester Village Market. Ini adalah semacam komplek factory outlet barang-barang bermerk. Bedanya, semua yang dijual adalah barang asli. Komplek belanjanya menyenangkan. Seperti komplek perumahan, hanya bedanya bukan rumah tinggal, tapi toko yang ada di sana. Kami naik kereta dari stasiun Marylebone yang berjarak 1 jam perjalanan ke Bicester. Tiket berdua pulang pergi kira-kira 1,3 juta rupiah.

Dari jam 11 siang, hingga menjelang jam lima sore kami di sana. Tak terlalu banyak yang kami beli jika dibandingkan mereka yang datang ke sana membawa koper. Sebagian besar wajah Asia, baik itu oriental maupun timur tengah yang terlihat kalap berbelanja di sana.

Di salah satu toko, ada pelayan tokonya yang ternyata dari Medan. Baru lima tahun di London, tapi dia sudah tak bisa bicara bahasa Indonesia dengan aktif, karena katanya sehari-hari bicara bahasa Inggris, bahkan ketika berkomunikasi dengan keluarganya di Indonesia pun mereka memilih bicara bahasa Inggris. Gaya bicaranya memang seperti orang bule yang terbata-bata bahasa Indonesianya.

Tapi ketika ke kamar kecil kami bertemu dengan dua petugas kebersihan yang ternyata bisa bahasa Indonesia. Mereka rupanya dari Timor Leste, sudah sepuluh tahun bekerja di sana, dan malah lebih fasih bicara bahasa Indonesia dibandingkan mbak pelayan toko dari Medan.

 

Kalo kata Efek Rumah Kaca sih, "Belanja terus sampai mati."
Kalo kata Efek Rumah Kaca sih, “Belanja terus sampai mati.”

Pulang dari Bicester Village, karena langit masih terang, kami jalan-jalan ke Trafalgar Square, buat ngabuburit. Sore itu banyak orang berkumpul juga di sana. Ada yang latihan joged macam ABG beberapa tahun kemarin shuffle di Seven Eleven. Ada tunawisma yang nyari recehan dengan menggambar di lantai. Macam-macam lah, tapi suasananya menyenangkan.

IMG_2591

IMG_2588

IMG_0694

Hari 10

Jumat, 2 Juli 2015

Pulang. Pesawat kami jam sebelas siang. Jam delapan pagi kami sudah jalan dari Wisma. Satu koper yang besar, terasa sangat berat ketika diseret. Rupanya pas ditimbang, beratnya 34 kilogram. Itu melebihi batas maksimal satu koper yang katanya 32 kilogram.

“You’re in deep trouble,” kata mas-mas penjaga loket.

Saya menawarkan untuk mengeluarkan barang-barang dari koper, memindahkannya sebagian ke tas ransel saya, supaya beratnya masih bisa memenuhi syarat. Saya pikir, dengan jatah seorang 30 kilo, maka total berat maksimal adalah 60 kilogram.

Si mas mengetik sesuatu di komputer, lalu meminta temannya memanggilkan seorang petugas. Sepertinya dia mau bertanya soal koper ini. Tapi petugas yang dipanggil tak kunjung datang, hingga akhirnya si mas menggerutu sebentar lalu membiarkan koper saya masuk.

“Lain kali, jangan begini lagi ya,” kata dia. Begitu kurang lebih kalau diterjemahkan.

Cerita selanjutnya, ya menikmati perjalanan pulang ke Jakarta naik Garuda Indonesia.

Melelahkan, namun menyenangkan.

Terima kasih, Garuda Indonesia.
Terima kasih, Garuda Indonesia.

Dear Tetta

Istriku,

Teman hidupku,

Kesayanganku,

Ibunya Iggy,

 

Selamat ulang tahun ya.

Semoga kamu bahagia selalu.

Semoga kamu sehat selalu.

Semoga di kantor lancar selalu.

Semoga warga DKI Jakarta yang mengadu ke kantor kamu, tak terlalu merepotkanmu.

Semoga kamu selalu sabar menghadapi aku. Hehe.

Semoga selalu jadi ibu yang baik buat Iggy, dan adiknya [tapi nanti aja ya, dua tahunan lagi lah. Hehe]

Semoga solatnya lancar terus.

Semoga masakan kamu yang enak itu, makin enak.

 

Kamu tahu kan, aku sayang kamu.

Aku yang mendapat berkah punya kamu sebagai istri.

Bukan cuma karena aku yang bertampang mamang-mamang begini bisa punya istri cantik.

Tapi karena kamu memang istri yang baik.

Juga ibu yang baik.

Anak yang baik buat orang tua kamu.

Menantu yang baik buat orang tua aku.

Kalau kadang galak atau kadang judes mah, tak apa lah.

Namanya juga pengaruh hormon menstruasi.

Kalau tak begitu, bukan perempuan namanya. Hehe.

 

Aku memang tak romantis.

Tapi setidaknya aku tak merokok dan tak makan gratis.

Maaf kalau jarang sekali membelikan kamu bunga.

Aku masih berlatih supaya rajin membelikan kamu bunga di saat yang tepat. Hehe.

Semoga tulisan ini bisa membuat hatimu berbunga.

Seperti yang telah kamu lakukan buat hati aku dan Iggy, dengan kehadiranmu.

*Soal Iggy, aku masih mengira-ngira sih, tapi aku yakin, hati dia juga berbunga melihat kehadiran ibunya.

 

Sekali lagi,

Selamat ulang tahun sayangku Tetta Riyani Valentia.

My shiny little star.

 

photo

London, Kami Datang!

Empat tahun yang lalu, saya diundang oleh Coca Cola untuk datang ke London, melihat Maroon 5 membuat lagu untuk Coca Cola. Mereka mengundang bloggers dari seluruh dunia untuk datang dan melaporkan kegiatan Maroon 5 di studio. Tugas saya cuma ngetwit semua kegiatan saya selama di London, memakai hesteg yang mereka minta. Selain itu, saya diminta menuliskan dua blog post tentang itu. Satu tulisan sebelum berangkat, dan satu tulisan setelah berangkat.

Saya dan Endah, gitaris/vokalis Endah N Rhesa yang terpilih mewakili Indonesia. Padahal, waktu itu, followers kami masih belasan ribu. Saya lupa Raditya Dika berapa followers-nya, yang jelas, belasan ribu sudah termasuk besar jika dibandingkan para bloggers dan buzzers yang diundang ke London.

Empat hari saya di sana, dan masih penasaran. Saya bertekad, satu hari nanti, harus mengajak Tetta, yang waktu itu masih jadi pacar saya, untuk ke London dan jalan-jalan. Makanya, saya tinggalkan sepatu boots saya di London, dengan harapan saya bisa balik lagi ke sana. Selain itu sih, saya beli sepatu di sana dan malas membawa ke dalam tas. Jadi, saya tinggalkan sepatu saya di sana, sebuah sepatu tentara yang saya beli di Pasar Kosambi, Bandung, seharga 100 ribu.

Dan kini, harapan itu segera terwujud. Selasa, 23 Juni besok, saya dan Tetta akan pergi ke London untuk jalan-jalan sekalian bulan madu yang kesekian. Kali ini dengan dukungan Garuda Indonesia, maskapai penerbangan yang mendapat bintang 5 dari Skytrax—sebuah lembaga independen berbasis di London, pemberi peringkat pada maskapai. Waktu ke London pertama kali, saya tak naik Garuda, tapi maskapai asing. Tapi, waktu ke Jepang, dan Korea Selatan, saya naik Garuda dan langsung terasa perbedaannya. Maafkan kalau ini terasa seperti kalimat di iklan-iklan produk DRTV. Haha.

Kelebihan utama naik Garuda Indonesia adalah saya merasa di rumah sendiri. Ini penting buat saya yang meskipun sedang jalan-jalan ke luar negeri, tetap ingin merasa tak asing selama di perjalanan. Ada wajah Melayu yang siap membantu selama di penerbangan. Merasa ada orang yang bisa mengerti secara psikologis maupun kultur. Pergi ke luar negeri naik Garuda Indonesia, ibaratnya saya tak akan merasa canggung. Waktu naik maskapai asing, saya yang pemalu begini, merasa kurang nyaman secara psikologis. Haha.

Jalan panjang yang berliku menuju London ternyata tak selesai setelah saya mendapat kepastian tiket pesawat dari Garuda Indonesia. Urusan berikutnya adalah visa. Setelah tak jadi wartawan, saya pergi ke luar negeri dengan biaya sendiri, artinya tak ada yang mengurusi untuk saya. Dan sebagai orang yang irit alias pelit alias cheap bastard, saya memilih mengurus sendiri visa. Waktu masih skala negara Asia sih, relatif mudah. Tak banyak pertanyaan yang membingungkan.

Mengurus visa UK di Jakarta, adalah yang paling detil pertanyaannya dibandingkan beberapa visa ke negara Asia yang pernah saya urus sendiri. Visa US katanya lebih sulit, tapi saya belum pernah mengurus jadi tak bisa komentar. Ada beberapa pertanyaan yang membingungkan seperti pertanyaan ulangan PMP atau PPKn atau apalah itu sekarang namanya. Pertanyaan menjebak, yang meskipun saya sudah tahu mendingan pilih TIDAK atau NO saja untuk semua jenis pertanyaan begitu, tapi tetap saja ada satu pertanyaan yang membuat saya ragu. Pertanyaannya: Apakah Anda pernah dengan sukarela keluar dari Inggris? Kurang lebih bahasa Inggrisnya sih “voluntarily elected” lah. Membingungkan kan. Saya pulang dari London ya sukarela, tapi ya bukan sukarela dalam konteks seperti relawan yang terpilih. Kalau Anda mengisi formulir visa dan bingung menjawabnya, tulis saja TIDAK. Jangan tiru mas Anang yang selalu bilang, “Kalau aku sih yes.”

Sempat panik juga ketika saya sadar setelah formulir pendaftaran dicetak, ternyata nama belakang dan nama depan Tetta tertukar. Saya kira itu bakal berpengaruh pada dapat/tidaknya visa dari Kedutaan. Eh ternyata pas pergi ke VFS Global di Kuningan City, tempat mengurus visa UK, solusinya sesederhana dicoret namanya, lalu ditulis versi yang benar dan diberi paraf di tempat yang tadi dicoret. Tak serumit yang saya takutkan. Malah saya melupakan yang lebih penting: terjemahan dokumen. Harusnya, semua dokumen yang aslinya berbahasa Indonesia dilampirkan terjemahannya, supaya petugas di Manila, tempat mereka memutuskan visa-nya mengerti itu dokumen apa. Saya juga tak melampirkan surat referensi dari Bank, yang menyatakan bahwa saya nasabah mereka dan punya rekening berapa di sana. Akhirnya saya lampirkan buku tabungan yang asli, setelah dapat saran dari petugas VFS Global.

Kurang dari dua minggu ternyata visa UK saya disetujui. Yah prosesnya mah, Googling saja lah. Semua sudah jelas kok. Saya juga mengikuti hasil Googling. Intinya mah, mau ngurus sendiri mau diurusi orang lain, kalau kita berangkat pakai uang sendiri sih, tetap saja, dokumennya harus kita siapkan sendiri. Agen yang mengurus tinggal mencari penerjemahnya. Katanya sih, ada perbedaan satu juta rupiah kalau mengurus lewat agen. Ongkos capeknya.

Sebetulnya, saya bisa saja jalan-jalan ke London di bulan lain yang bukan bulan puasa, tapi karena ada The Who yang bakal tampil di British Summertime Festival pada 26 Juni nya, saya tak peduli bulan puasa atau bukan. Biarlah, puasa agak lama [sahur jam 2 pagi, magrib hampir jam 10 malam], kapan lagi nonton The Who. Lagian, biar bisa menghemat uang makan siang. Haha.

thewho1040

Sepanjang Juni hingga Juli, banyak sekali konser di London dan sekitarnya. Dari The Strokes, Blur, Foo Fighters, Iggy Pop, hingga Taylor Swift adalah beberapa di antara namanya. Sungguh menggiurkan. Teman saya, Arian13 beberapa minggu lalu juga sempat dua kali bolak balik ke London demi konser. Kata dia, “Hidup adalah konser.” Sayangnya, band-band yang saya suka, terlalu jauh jaraknya. Ada waktu seminggu dari satu konser ke konser berikutnya. Jadi saya harus memilih. Iggy Pop sudah pernah. Foo Fighters mah kayaknya bakal ada kemungkinan ke Singapura, Blur sudah pernah, The Strokes masih muda, jadi masih panjang lah umurnya. Haha. Taylor Swift semoga ke Jakarta lagi. The Who sudah uzur, dan katanya ini tur terakhir mereka. Jadi, ya pilihan tepat adalah menonton The Who.

Pembelian tiket saya, dibantu oleh Robin Malau yang punya Konserama, yah semacam travel agent yang mau mengkhususkan diri pada wisata bertema musik ke UK. Silakan hubungi mereka kalau Anda tertarik.

Nanti saya cerita lagi ya, setelah pulang dari London. Rencananya saya pulang tanggal 3 Juli. Semoga saya kuat sepuluh hari puasa di London. Haha.

 

 

Selamat Jalan, Pa :'(

Sabtu, 28 Maret 2015, adalah Sabtu paling kelabu sepanjang hidup saya, sejauh ini.

Kira-kira pukul empat sore, ada telepon dari ibu saya. Dari sekian banyak percakapan telepon yang kami lakukan, itu adalah percakapan paling singkat tapi paling menyakitkan.

“Leh, Apa maot,” kata ibu saya setengah berteriak.

Jantung saya berdebar kencang. Tak percaya apa yang saya dengar. Ibu mengabarkan bahwa bapak saya, meninggal. Dia biasa kami panggil Apa, panggilan standar khas orang Sunda untuk bapak.

Memang, yang namanya umur itu rahasia Tuhan. Tapi, kepergian bapak, benar-benar mendadak. Tak disertai sakit keras. Tak dalam perjalanan. Atau, tak sedang melakukan pekerjaan yang berbahaya. Dua minggu belakangan, kata ibu, Apa mengeluh tak enak badan. Batuknya tak kunjung sembuh. Dia kuatir ada masalah dengan kesehatannya.

Tiga hari sebelumnya, bapak memeriksakan kesehatannya. Jumat, dokter mengabarkan bahwa dia baik-baik saja. Tak ada masalah dengan kolesterol, jantung, tekanan darah, maupun kadar gula. Hanya memang, dia didiagnosa menderita bronkhitis. Kata ibu, dulu bapak pernah membersihkan rumah dan menghisap banyak debu sehingga mengotori paru-parunya. Dia diberi obat oleh dokter untuk bronkhitisnya itu.

Sabtu, bapak kembali membersihkan rumah. Dia memang begitu, selalu tak bisa berdiam diri. Sejak pensiun, tak pernah sekalipun bersantai. Tak enak badan, kalau tak bekerja, alasannya. Maka dia aktif menjadi Ketua DKM, pernah jadi Ketua RW, sambil punya usaha satu angkot Antapani – Ciroyom, juga mengurusi dua cucu dari adik saya, serta rutin mengantar jemput ibu saya untuk mengajar di sekolah. Di sela-sela aktivitas itu, dia pernah merenovasi sebagian ruangan di rumah. Membangun kamar sedikit demi sedikit sambil mengasuh cucu. Merenovasi kamar mandi, memasang keramik. Yah pokoknya segala macam pekerjaan yang tak bisa saya kerjakan. Bapak adalah pekerja kantoran, yang juga piawai mengerjakan tugas pekerja bangunan.

Sabtu itu, bapak membersihkan berangkal [ah, saya tak tahu ejaannya yang benar untuk menggambarkan bekas reruntuhan bangunan] di rumah. Dia baru saja membongkar bekas kolam yang tadinya digunakan untuk mandi bola anak-anak. Ibu saya membuka PAUD di rumah kami. Kamar bekas saya, dan garasi mobil dijadikan tempat anak-anak PAUD belajar. Kata ibu, karena tak ingin setiap hari mengeluar masukkan mobil, maka dia mau membongkar kolam itu, supaya mobil bisa parkir di sana, jadi ruangan kelas tak perlu setiap hari dibereskan.

Menjelang Ashar, bapak mengeluh kleyengan, dia merasa agak sempoyongan. Mungkin kleyengan seperti orang mau pingsan. Sebelum meninggal, dia bertemu sepupu saya di depan rumah, dan bilang kepalanya kleyengan. Dia sempat makan siang, lalu bekerja lagi. Ibu saya menemaninya sepanjang bapak membersihkan berangkal. Ibu memasukkannya ke ember, bapak lalu membuangnya ke jalan yang bolong tak jauh dari rumah.

“Duh, kleyengan begini ya,” kata bapak sambil cengengesan.

“Udah, istirahat atuh,” kata ibu.

Tentu saja percakapan aslinya dalam bahasa Sunda.

Ibu pamit mau solat Ashar, karena adzan sudah terdengar berkumandang. Baru berjalan dua langkah, dia mendengar suara orang terjatuh. Bapak sudah terlentang. Ibu panik. Dia berteriak memanggil sepupu saya yang tinggal di depan rumah. Ibu meneriakkan kalimat takbir, istighfar, dan syahadat. Dia membawa bapak ke kamar, dan berusaha membangunkan bapak. Dia sempat mendengar tarikan nafas terakhirnya. Tapi karena penasaran, ibu meminta sepupu saya membawa bapak ke dokter. Tapi tak ada yang bisa dilakukan dokter, karena bapak sudah tak bernafas. Pak Kosasih, Mang Engkos, Pak Haji, Pak Engkos, atau Apa buat saya dan keluarga, meninggal di usianya yang mau masuk 61 tahun, September ini.

Pulang dari klinik, ibu menelepon saya.

Pukul sembilan malam, saya tiba di Bandung. Ibu menunggu saya untuk ikut memandikan bapak. Wajahnya seperti sedang tertidur pulas dengan tenang. Itu pertama kalinya saya memandikan jenazah. Dan pertama kalinya saya memangku bapak. Masih tak percaya bapak sudah tidak ada.

Seminggu sebelumnya, dia baru saja berkunjung ke rumah saya di Krukut. Adek saya tadinya meminta bapak untuk jangan pergi hari itu, tapi bapak bersikeras ingin pergi. Mungkin sudah ada firasat. Setidaknya, bapak sudah bertemu dengan Iggy anak saya dan melihat bahwa cucunya yang dulu belum aktif berbicara kini sudah cerewet.

“Iggy udah pinter ngomongnya ya sekarang,” kata bapak.

Salah satu percakapan terakhir kami adalah seputar rumah di Bandung yang katanya sudah terbagi dua sertifikatnya. Jadi, kalau dia sudah tak ada, itu rumah tinggal dibagi dua saja tanahnya. Adek saya yang lelaki sudah diberi rumah di Gedebage. Saya waktu itu tak mengira bahwa dia bicara soal rumah, karena waktunya di dunia tak lama lagi.

Bersama ibu, lebih banyak lagi firasatnya. Ketika melihat berita meninggalnya Olga, bapak berkata,

“Gimana ya rasanya meninggal,” katanya.

“Kan kamu rajin mengaji, Insya Alloh diterangkan kuburnya,” kata ibu.

Lalu, di rumah sering terdengar burung clepuk [saya tak tahu nama betulnya, yang jelas, burung yang katanya suka terdengar kalau ada orang yang mau meninggal].

“Itu burung kok nggak pergi-pergi ya. Mau jemput siapa lagi sih?” kata bapak kepada ibu.

Saya masih suka sedih kalau terngiang lagi cerita ibu soal itu semua. Apalagi kalau teringat lagi suara ibu di telepon ketika mengabarkan kepergian bapak. Baru sekarang saya tahu rasanya berduka karena ditinggal orang tua. Meskipun kemarin-kemarin beberapa kali mengucapkan turut berduka cita ketika ada orang tuanya teman yang meninggal, baru kali ini saya tahu benar sakitnya berduka cita. Dan meskipun ada beberapa orang yang menganggap tahlilan itu bid’ah [perbuatan yang tak pernah dicontohkan oleh nabi], tapi saya baru merasakan manfaat positifnya. Rumah terasa sepi sekali, setelah ada yang meninggal. Nah, orang-orang berdatangan ke rumah, yang paling terasa sih, bahwa kehadiran mereka membuat psikologis yang ditinggalkan sedikit terobati. Setidaknya, kami tak terlalu merasa sedih.

Minggu pagi, bapak dimakamkan di pemakaman keluarga besar Antapani Lama. Makamnya tak jauh dari makam ibu bapaknya. Semoga dia bisa bertemu dengan orang tuanya di alam berikutnya. Saya dulu sempat sesumbar, kalau orang tua meninggal, jangan sampai menangis di depan umum. Tapi tak bisa. Dan saya baru tahu, sesungguhnya bicara di depan umum yang paling sulit adalah berpidato singkat di pemakaman bapak. Saya tak pernah merasakan sesulit itu mengeluarkan kata-kata. Bukan karena tak tahu apa yang harus diucapkan, tapi karena tak kuasa menahan rasa sedih.

Terima kasih Pa, atas segala yang telah Apa ajarkan dan berikan buat saya, mamah, Ade, dan Desi. Semoga saya juga bisa menjadi bapak yang baik buat keluarga saya, seperti yang sudah Apa lakukan buat kami. Menjaga dan mengurus mamah hingga akhir hayat Apa.

Saya jadi kangen masa kecil saya. Ingin jadi anak lagi, dan merasakan kembali kenangan indah bersama Apa.

Saya kangen perasaan betapa menyenangkannya pulang pergi ke TK dijemput Apa naik Vespa.

Saya kangen pergi solat Jumat bersama.

Saya masih ingat beberapa naskah khotbah yang Apa tulis buat saya di lomba khotbah waktu SD, sehingga membuat saya percaya diri bicara di depan umum.

Maafkan saya ketika remaja sering tak mendengarkan Apa.

Maafkan saya karena tak lulus kuliah cepat seperti keinginan Apa.

Maafkan saya karena menjelang kepergian Apa, lama tak berkunjung ke Bandung.

Semoga Alloh menerima amal baik Apa, menerangkan dan meluaskan kuburan Apa, mengampuni dosa Apa, dan semoga Apa bisa beristirahat dengan tenang di alam sana.

Selamat jalan, Pa. :'(

Kosasih muda, di Antapani.
Kosasih muda, di Antapani.