Jawaban Atas Denise yang Bawel di Komtung TV soal Majelis Tidak Alim

Jadi begini, KomtungTV.com punya rubrik review. Ada Denise yang bawel dan ngasih opininya di situ. Berikut ini, beberapa kutipan dari review neng Denise.

Bagi kalian yang nonton langsung di Usmar Ismail tanggal 31 Januari 2015, apa kesan kalian untuk special shownya Soleh Solihun? Lucu? Keren? Pecah? Kalau gue ada dua kata yang paling dominan: CAPE dan LAMA.

Maaf ya neng, kalau kamu pulang dari Majelis Tidak Alim, ngerasa cape dan lama. Tapi, kalau dipikir-pikir, capek dan lama karena habis bersenang-senang, harusnya disyukuri loh. Contohnya habis bercinta. Kalau kamu capek karena habis bercinta dalam durasi yang lama, pasti kamu bersyukur kan? Kalau kamu capek, saya pasti lebih capek. Saya kan berdiri. Kamu mah duduk. Saya ngomong, kamu mah cuma tertawa.

Soal lama, saya juga nggak berencana selama itu. Saya nggak pake jam tangan, jadi nggak tahu sebenernya udah berapa lama saya tampil. Cuma ada alarm satu jam doang dari panitia. Selebihnya, saya nggak mikirin waktu. Yang penting, satu jam udah terpenuhi. Daripada nanti diprotes, karena kurang dari satu jam. Nanti kamu pasti lebih bawel lagi.

Ketika gue menengok ke belakang, betapa kagetnya gue ketika melihat banyak kursi kosong, setidaknya ada belasan. Mendadak gue kasian sama orang yang udah susah-susah berburu tiket tapi gak bisa nonton. Panitia, you owe them an explanation.

Soal kursi kosong, sebenernya sih panitia nggak perlu ngejelasin kenapa kursi kosong. Saya juga sebenarnya bertanya-tanya, pada ke mana para pembeli tiket itu? Panitia sudah menyerahkan 80 persenan kursi ke elevenia.co.id. Kalau mereka bilang sudah terjual habis, ya mereka harus membayar uang sebanyak yang mereka bilang. Laporan dari elevenia sih, cocok sama penjualan. Ya setidaknya, mereka membayar kami sesuai dengan angka yang seharusnya.

Nah, pada ke mana perginya? Sebagian sih di twitter ada yang bilang, tiba-tiba harus dinas keluar kota. Ada yang bilang, nggak jadi pergi karena temennya nggak jadi pergi. Beberapa orang undangan alias gratisan sih memang ada yang mengabarkan batal datang, menjelang pertunjukkan dimulai. Jadi, panitia nggak bisa menjual lagi itu kursi, karena orang sudah terlanjur tahu bahwa tiket habis.

Eh jangan-jangan, kamu melihat kursi kosong itu pada saat jeda antara penampilan saya ya? Kalau pas jeda, dan ada adegan minta sumbangan, memang banyak yang pergi ke WC. Beberapa bahkan ada yang merokok. -___-

Gue kira ketika Soleh naik lagi dengan kostum ala-ala rockstar (yang sebenarnya adalah gaya berpakaian sehari-hari dia sih), dia akan mengumumkan kalau uang ini akan disumbangkan ke salah satu yayasan atau korban bencana alam. Tapi ternyata uang ini dipakai untuk nambah-nambahin biaya produksi. Sialan! Kalo gitu, Kang Soleh biar fair umumin dong berapa dapetnya, jangan cuma nge-RT mention pujian aja! Gue tunggu ya!

Saya baru ngecek berapa uang yang didapat dari hasil meminta sumbangan, barusan. Sebelumnya saya nggak peduli berapa hasilnya. Toh, uang bukan tujuan utamanya, tapi gimmick nya. Tapi okelah, neng. Kalau kamu pengen tahu banget, uang hasil sumbangan itu sebanyak 1,1 juta rupiah. Lumayan lah. Buat ganti bayar sewa kamar hotel di sebelah. Haha.

Soal nge-RT mention alias pujian mah, saya juga dulu geli tiap lihat orang yang melakukan itu. Tapi, belakangan saya sadar bahwa perbuatan itu, bagus untuk awareness. Bagus untuk jualan. Menggelikan, tapi efektif. Riya, sudah pasti. Dosa, mungkin. Tapi efektif untuk awareness. Buktinya, kamu juga jadi tahu bahwa saya me-RT pujian-pujian itu. Orang yang nggak nonton juga jadi penasaran sama Majelis Tidak Alim. Kredibilitas meningkat, semoga permintaan manggung makin meningkat.

Kalau kamu punya followers ratusan ribu, dan perlu menjual karya kamu, coba deh trik menggelikan ini. RT pujian sebanyak-banyaknya. Sesungguhnya, meskipun orang sebal membacanya, tapi lama kelamaan, mereka akan terpengaruh dan menganggap bahwa si peritwit itu karyanya disukai banyak orang. Hahahaha.

Beliau berpesan untuk ngetwit yang bagus-bagus, dan semuanya nurut aja. Kalau gue sih fair aja, yang bagus gue bilang bagus, yang jelek seperti soal durasi dan banyak tempat duduk kosong juga gue sebutin. Harusnya para comic dari yang paling senior sampai yang paling cemen jangan cuma mau terima pujian aja, tapi juga harus ikhlas dikritik. Kalau dikritik pun jangan down. Nanti Soleh yang udah jadi panutan kalau gak mau dikritik, jangan-jangan entar yang masih belajar juga gak mau dikritik lagi! Apakah Soleh Solihun yang riya akan me-RT link untuk artikel ini, dan apakah beliau akan menjawab tantangan saya di tiga paragraf sebelum ini?

Suka-suka saya dong, kalau saya tak mau dikritik. Hahaha. Lagian, kalau kamu menganggap omongan soal anti kritik itu serius, ya kamu lupa satu hal: kamu mendengar saya ngomong itu di acara komedi. Ketika saya ngomong ‘neraka lebih dinamis,’ bukan berarti saya pengen masuk neraka. Haha. Di antara sekian banyak yang memuji, ada satu kok, yang bilang pertunjukkan saya biasa saja, dan menganggap semua yang memuji itu buzzer saya. Dan twit dia, saya ritwit pula kok. Tapi mungkin tenggelam oleh pujian. Nila setitik ternyata tak merusak susu sebelanga.

Eh, apa jangan-jangan kamu bercanda ya, waktu kamu menulis saya harus mau nerima kritik? Apa sebenarnya, kamu mengerti bahwa saya bermaksud bercanda secara sarkas ketika saya bilang jangan ngeritik?

Tuh, tapi saya sudah buktikan bahwa tulisan kamu pun, saya ritwit. Lumayan kan, buat menambah hit kamu, soalnya followers KomtungTV, belum sebanyak followers saya. Astaghfirulloh. Maaf ya saya riya lagi.

Udah ah. Makasih ya Neng Denise udah dateng ke Majelis Tidak Alim dan mau menulis review sepanjang itu. Dari sekian banyak pujian di mention, cuma tulisan kamu yang panjang dan terasa ditulis dengan penuh hati.

Saya tahu kok, sebenarnya kamu cinta sama Majelis Tidak Alim. Kebaca kok, dari kalimat-kalimat kamu. Kalau sekilas sih, seperti yang tidak suka, apalagi dari judul artikel. Tapi, biar sesuai dengan judul rubrik yang “Dibawelin Denise” dan biar bagus ditwit, ada kesan konflik, maka kamu harus belagak mayah-mayah dan kezel sama saya.

Thank you Denise. Muah muah.

 

 

Tulisan Riya tentang Majelis Tidak Alim di Jakarta

Dari kemarin, mau cerita soal Majelis Tidak Alim, belum sempat.

Maklum, capeknya masih kerasa.

Jadi begini, sodara-sodara. Sabtu, 31 Januari 2015, pertunjukkan tunggal stand-up comedy saya, dengan judul Majelis Tidak Alim, akhirnya bisa digelar juga. Anda mungkin sudah pernah membaca soal rencana ini di tulisan saya sebelumnya.

Ada beberapa kekuatiran saya mengenai acara ini.

Pertama, soal tiket. Saya kuatir orang tak akan antusias membeli tiket dan datang ke pertunjukkan saya. Bukan apa-apa, saya termasuk agak terlambat dalam membuat pertunjukkan tunggal. Comic lain macam Pandji, Ernest, atau Sammy, membuat pertunjukkan tunggalnya sejak awal karir mereka. Saya, baru berani membuatnya setelah tiga tahun berkarir. Itu pun belakangan saya mulai jarang muncul di program Stand Up Comedy Show Metro TV. Sudah banyak yang bertanya soal ini, dan banyak yang mengira saya sudah tak stand-up lagi. Padahal sebenarnya, off air sih masih jalan. Cuma karena jam siaran yang selalu bentrok dengan jadwal taping, membuat saya di tahun 2014 saja, cuma dua kali muncul di program Stand Up Comedy Show Metro TV. Makanya, saya kuatir orang tak akan antusias.

Kedua, soal materi. Saya tak yakin bisa membuat materi stand-up untuk minimal satu jam pertunjukkan. Memang, saya beberapa kali pernah stand-up selama hampir satu jam, tapi saya merasa itu materinya sembarangan, asal jeplak saja, tak ada konsep. Kalau pertunjukkan tunggal, kan harus ada konsep alias tema yang sesuai dengan judul. Dan saya selalu bingung, bagaimana teman-teman saya bisa membuat materi untuk pertunjukkan tunggalnya. Saya memikirkan materi untuk taping sepuluh menit saja kerepotan.

Tapi ternyata, dua kekuatiran itu tak terbukti.

Tiket, terjual habis hanya lima hari sejak mulai dijual. Ini juga sempat membuat saya kuatir, karena banyak yang gagal membeli di elevenia.co.id [satu-satunya tempat membeli tiket]. Saya kuatir mereka yang gagal membeli, tetap dihitung oleh elevenia sehingga aslinya tiket belum terjual habis. Ternyata, beneran habis terjual. Tahu begitu, saya jual tiketnya lebih mahal. Haha.

Materi, ternyata terkumpul banyak juga. Ernest Prakasa sebelum acara mulai, dan melihat setlist saya, kaget dan sudah mengira bahwa pertunjukkan saya akan lebih dari satu jam. Buat yang bertanya-tanya soal setlist. Ya setlist ini seperti band ketika bermain. Mereka kan selalu menuliskan judul lagu dan urutan membawakannya. Nah, supaya saya tahu mau ngomong apa, saya tulis poin-poinnya, semacam judulnya lah. Saya tahu ini dari Ernest, yang juga melakukan itu ketika melakukan tur. Biasanya setelah beberapa kota, setlist tak diperlukan lagi karena dia sudah hapal urutannya.

Saya, berhubung baru sekali membawakan materi-materi itu di panggung, perlu setlist supaya omongan saya tak kemana-mana, dan tetap terjaga sesuai alur.

Setelah dicetak, ada empat lembar setlist dari kertas A4. Hahaha.

Saya membagi pertunjukkan saya menjadi dua sesi. Pertama, sesi memakai baju koko. Kedua dengan sesi kostum andalan: jaket kulit, kaos, dan jins. Tadinya, saya berpikir, sesi pertama sepertinya lumayan lah, akan menghabiskan waktu 10 hingga 15 menit. Sisanya, di sesi kedua, 45 menit lagi. Minimal stand-up di sesi berikutnya, setengah jam saja membawakan materi, sisanya mengomentari penonton.

Ternyata, yang terjadi justru jauh di luar rencana dan perkiraan.

Sesi pertama, menghabiskan waktu 40 menit. Dan sesi kedua, selama 2 jam 8 menit. Total dengan jeda antar sesi, saya stand-up selama hampir tiga jam! Sungguh di luar rencana. Haha. Saya meminta di sesi kedua, kalau sudah total satu jam pertunjukkan saya, panitia membunyikan tanda. Ternyata, setelah tanda berbunyi, setlist baru mau separuhnya. Sebelumnya, ketika tim panggung bertanya, akan berapa lama pertunjukkannya, saya tak bisa menjawabnya, karena memang belum tahu bakal selama apa jadinya. Mungkin comic lain sih, biasanya sudah tahu bakal sepanjang apa pertunjukkannya, karena mereka melatih terlebih dulu urutan materi yang dibawakannya. Tapi saya terlalu malas untuk melakukan itu. Dan kalau tahu bahwa itu belum pertunjukkan sesungguhnya, saya tak bersemangat untuk stand-up.

Alhamdulillah semuanya lancar. Semua materi bisa membuat penonton tertawa. Padahal, baru beberapa materi saja yang pernah diuji pada empat kali sesi open mic. Sebelumnya, saya tak pernah membawakan semua materi di setlist secara berurutan alias gladi resik penuh. Kombinasi antara suasana dan dukungan penonton, membuat saya bisa dengan santai membawakan semua materi di setlist.

Ada beberapa kursi yang kosong, memang. Di twitter juga ada beberapa yang mengatakan batal datang karena harus dinas lah, atau karena tiba-tiba tak punya teman lah. Tapi, meski cuaca Sabtu itu yang hujan badai dan kemacetan menggila, kursi di Pusat Perfilman H Usmar Ismail, masih terisi sembilan puluh persen. Yah lumayan lah.

Abdel Achrian, Adjis Doaibu, David Nurbianto, dan Ricky Wattimena, berhasil memanaskan acara dengan lelucon-leluconnya. Terima kasih kawan-kawan sudah membantu mewujudkan impian saya membuat pertunjukkan tunggal. Terima kasih juga Ernest Prakasa, Arie Kriting, Ge Pamungkas dan Ardit Erwanda atas bantuannnya meminta sumbangan dari penonton. Haha. Dan tentunya, Dipa Andika, manajer saya, dan istrinya Sessa Xuanthi serta tim  yang menyelenggarakan pertunjukkan. Terakhir, Tetta Riyani Valentia, istri saya, yang mengijinkan saya keluar malam untuk sesi open mic. Hehe.

Saya kaget juga dengan stamina saya. Tiga jam berdiri dan ngoceh di panggung, hanya ditemani dengan satu botol air mineral. Tanpa sakit pinggang. Ada gunanya juga beberapa bulan terakhir, saya agak rutin berolahraga. Dulu, satu jam berdiri, sudah bikin pinggang panas.

Setelah Jakarta, semoga Majelis Tidak Alim bisa dibawa ke kota lainnya di Indonesia. Ayo, yang tinggal di luar Jakarta dan mau mengundang saya untuk membuat Majelis Tidak Alim di kotanya, segera hubungi Dipa di 087878898985. Buat Anda yang bertanya soal DVD, tunggu saja, rencananya pertunjukkan ini akan dirilis dalam bentuk DVD. Kan lumayan tuh, saya punya dokumentasi karya. Belum tentu bikin kaya, tapi lumayan bikin gaya. Hehe.

Berikut ini sebagian komentar positif dari mereka yang datang. Hanya ada satu komentar yang kurang positif mengenai pertunjukkan saya. Dia menuduh semua komentar di twitter tentang Majelis Tidak Alim adalah dari buzzer saya, karena dia menganggap lelucon-lelucon saya cuma lucu karena itu melekat pada diri saya. Sambil mendoakan saya untuk terus mengembangkan diri, dia berharap nanti lelucon saya, mengutip tulisan dia: mengEndonesa. Entah apa maksudnya. Haha. Yang jelas, dia tak menuruti perintah saya di panggung. Kalau mau komentar negatif, mending urungkan niat, karena akan saya block dan report spam. Komentar negatif hanya akan membuat sakit hati, dan belum tentu membuat saya berkembang. Komentar positif memang belum tentu membuat berkembang, tapi pasti akan membuat saya bahagia.

Oya, terima kasih buat Anda yang sudah datang ke pertunjukkan saya.

Jadi, inilah dia beberapa komentar yang membuat saya girang dan harus saya muat di sini demi meningkatkan kredibilitas saya dan membuat orang penasaran pada Majelis Tidak Alim. Biarlah dianggap riya. Saya kan bukan Felix Siauw yang tak pernah riya.

Si Soleh Solihun bisa jadiin tema agama yang luas sebagai materi stand-up nya. Otentik. Pas sama nama. [Anji, penyanyi]

Sangat menikmati Majelis Tidak Alim Soleh Solihun. Lucu dan dekat ledekannya. Geblek! [Riri Riza, sutradara]

Majelis Tidak Alim-nya Soleh Solihun: The craziest stand-up comedy show ever in Indonesia. [Gilang Bhaskara, comic]

Majelis Tidak Alim Soleh Solihun adalah show PALING LUCU sejak stand-up comedy muncul di Indonesia. Titik. [Ernest Prakasa, comic]

Makasih kang Soleh Solihun yang udah bikin show paling gokil seumur-umur gua nonton stand-up! Aku hambamu mas! [Uus, comic]

Not that I’ve seen everyone out there, but I think Soleh Solihun’s Majelis Tidak Alim just raised the standard for Indonesian stand-up comedy. [Hasief Ardiasyah, jurnalis Rolling Stone Indonesia]

Majelis Tidak Alim… the best local stand-up comedy show so far. Anyeeng seseurian 3 jam! [Arian13, vokalis Seringai]

Sudah jelas kalau Majelis Tidak Alimnya Soleh Solihun adalah stand-up Indonesia teredan yang pernah gua saksikan. Terbaik, adalah ketika ada orang religius dan sederhana bisa membawa political-incorrectness ke titik terekstrem. [Ricky Siahaan, gitaris Seringai dan jurnalis Rolling Stone Indonesia]

Kang Soleh Solihun semalam telah menentukan batas teratas dari segi materi dan durasi melalui show Majelis Tidak Alim. [Arie Kriting, comic]

Majelis Tidak Alim-nya Soleh Solihun. 3 kata: lucu, berani, dan jenius. Brilian! Stand-up terlucu yang pernah gua liat! [Ge Pamungkas, comic]

Di Majelis Tidak Alim, Soleh Solihun kembali menunjukkan bahwa kejujuran itu sangatlah lucu. [Isman HS, comic]

Ketawa sampai sakit perut. [Fajar Nugros, sutradara]

Si Soleh Solihun ngomongin semua yang gue pengen omongin tapi gue gak berani omongin. Show paling berani yang pernah gue tonton seumur hidup. Majelis Tidak Alim adalah show TERlucu yang pernah gue tonton. Dan dalam 2 jam 45 menit. SICK! [Pandji Pragiwaksono, comic]

Nah, kalo ini, beberapa foto hasil jepretan Pio Kharisma.

image(9)

image(10)

image(12)

image(11)

image(13)

 

image(14)

image(15)

image(16)

image(2)

image(5)

 

image(3)

 

 

image(4)

 

image(6)

 

image(1)

 

image(7)

image(8)

 

Tentang Hari Terbaik Saya di 2014

Sebenarnya, ada banyak hal menyenangkan di 2014, tapi saya mau cerita satu hal paling menyenangkan.

Di akhir 2013, saya pernah menulis twit begini: Resolusi 2014: nonton konser The Rolling Stones. Alasan saya memasukkan itu sebagai resolusi yang masuk akal, karena di akhir tahun, saya dengar gosip soal The Rolling Stones bakal konser di Indonesia. Gosip dari teman yang bekerja di dunia promotor pertunjukkan. Lalu, ada berita soal The Rolling Stones yang akan menggelar tur dunia di 2014. Padahal, sebelumnya, berita soal tur itu selalu mereka bantah.

Saya bertekad. Kalaupun tak datang ke Jakarta, harus dikejar ke kota terdekat. Alhamdulillah sudah ada tabungan, jadi mimpi untuk menonton band pujaan sepertinya bisa diwujudkan. Mumpung semua personelnya masih sehat walafiat.

Yang muncul pertama di jadwal tur mereka, adalah Adelaide, Australia. Tapi hanya beberapa hari, tiket ludes. Dan ketika di Twitter muncul daftar paket nonton koser Stones di Melbourne dari akun @kartupos, harapan semakin cerah. Tapi sayang, tiket yang saya dambakan sudah ludes juga. Mereka hanya punya tiket yang lokasinya kurang oke.

Target berikutnya adalah Macau. Saya pikir, ini bisa jadi lokasi yang cocok nih. Lalu seorang teman bernama Andi Bachtiar Yusuf mengajak pergi ke konser itu juga. Dan Ucup, yang ternyata sering bolak balik Jakarta – Tokyo dalam rangka menonton sepakbola [dan membantu mengenalkan tim sepakbola di sana ke Indonesia], mendapat bantuan dari temannya dan menawarkan untuk menonton di Tokyo.

Tiket untuk konser tiga hari itu, cepat ludes. Kalau tak ada bantuan dari teman di Tokyo, mungkin kami tak bisa membeli tiketnya. Saya dan Ucup sebenarnya meminta untuk membeli tiket paling mahal, tapi entah si orang Jepang itu tak punya uang atau takut tak diganti uangnya atau memang kehabisan, kami mendapat tiket di kursi yang cukup jauh.

Tak apalah, saya pikir. Yang penting, bisa menonton The Rolling Stones.

Sebelumnya, sempat muncul jadwal Singapura, tapi beberapa menit setelat ditwit, jadwal itu hilang dari timeline akun The Rolling Stones. Saya tadinya mau membeli yang di Singapura dan tak berharap ke kota lain, karena tentu saja Singapura akan lebih murah biayanya. Tapi karena tak kunjung jelas, akhirnya Tokyo jadi tujuan.

Eh ternyata, menjelang kepergian ke Tokyo, jadwal Singapura muncul. Hati berdebar kencang. Bahagia. Bisa menonton dua kali, dan kebetulan tempatnya lebih kecil. Berarti bisa menonton lebih dekat.

Di hari tiket dijual, saya bergegas ke Senayan City, karena katanya tiket bisa dibeli di Sistic yang ada di sana. Tapi dalam perjalanan, ketika saya konfirmasi ulang, mereka bilang, tiket hanya dijual lewat online. Kampret. Saya terlewat. Dan benar saja, ketika membuka situs Sistic, tiket paling depan sudah habis. Bahkan saya juga tak bisa membeli tiket di kelas kedua untuk dua tiket. Dan sialnya lagi, saya lupa, bahwa ada perbedaan waktu satu jam antara Singapura dan Jakarta. Jadi, saya ketinggalan waktu satu jam. Dan gagal lah, saya pikir, nonton Stones dari jarak dekat.

Oke, langsung cerita soal konser di Tokyo ya. 6 Maret 2014 di Tokyo Dome, saya nonton Stones bersama Ucup dan Titi, teman Ucup yang baru saya kenal. Saya mengajak Tetta sekalian jalan-jalan ke Jepang. Bisa nonton Stones dan mengajak istri jalan-jalan ke Jepang di waktu bersamaan. Dua kebahagiaan duniawi.

Tokyo Dome adalah stadion baseball. Tempatnya besar. Saya duduk di barisan atas. Hanya bisa melihat panggung dari kejauhan. Kecil sekali terlihatnya. Tapi tetap saja hati berdebar. Mimpi jadi kenyataan. Penantian belasan tahun akhirnya terbalas juga.

IMG_6975

Tokyo sedang dingin. Cuaca 4 derajat celcius malam itu. Tapi di dalam, saya merasa hangat. Karena banyak orang, dan karena hangat bahagia. Hahaha. Konser dimulai jam tujuh malam waktu Tokyo, tapi sejak jam 1 siang, antrian di booth merchandise sudah panjang sekali. Saya yang tadinya berjanji membelikan kaos untuk Tria Changcut dan berjanji ditukar dengan kaos konser Adelaide di mana dia akan pergi, begitu sampai di booth merchandise, uang ludes. Satu kaos kira-kira seharga 500 ribu rupiah. Beli dua kaos dan satu tas, uang habis. Mau mengambil lagi di ATM, tapi malas balik lagi ke antrian. Maafkan aku Tria Changcut.

IMG_6976

Begitu konser dimulai, sebenarnya saya agak kecewa mendengar tata suara. Saya bingung, apakah memang karena The Stones sudah tua sehingga mereka bermain tak bagus lagi ataukah karena posisi duduk saya yang ada di atas dan penyebaran suara tak begitu bagus? Tapi, kekecewaan itu saya kubur dalam-dalam dan diganti dengan pikiran bahwa terlepas dari bagus jeleknya setidaknya saya akhirnya bisa menonton Rolling Stones.

15 Maret 2014, sembilan hari sejak konser di Tokyo Dome, saya pergi ke Singapura. Kali ini, Tetta juga saya belikan tiket. Nonton band pujaan bersama istri kesayangan, adalah kenikmatan duniawi. Menjelang hari H, ada kabar menggembirakan. Guvera, situs streaming musik menawarkan saya tiket Rolling Stones di Singapura dan mengganti biaya tiket pesawat serta menawarkan hotel asal saya mau melaporkan konser itu lewat twitter alias livetweet. Wah ini mah rejeki nomplok namanya.

Yang lebih menggembirakan lagi, tiket saya bisa diupgrade. Saya yang tadinya tak berjarak terlalu dekat, diberi tiket VIP alias paling depan! Jadinya, tiket saya yang tadinya di kelas nomer dua, bisa saya berikan untuk Tetta, dan tiket Tetta bisa saya jual sehingga saya bisa  menghemat biaya.

Konser Stones di Singapura digelar di ballroom di Marina Bay Sands. Ini adalah gedung yang berada di dalam mall, dekat dengan kasino. Karena tiket terbatas, promotor memasang layar di luar arena untuk mereka yang tak bisa membeli tiket yang menurut ukuran orang Singapura pun cukup mahal. Tiket paling murah seharga Rp 2 juta dan paling mahal seharga Rp 7 juta. Promotor cukup baik dengan memasang tata suara yang juga bagus untuk para penonton di luar.

Saya bertemu salah seorang penggemar The Stones dari Jakarta yang belum punya tiket, dan berharap kalaupun dia tak kebagian, dia akan cukup puas menonton dari luar. Untung saja ada Guvera, sehingga tiket Tetta bisa saya jual ke orang itu yang memang terlihat sekali penggemar The Stones, dari semua atribut yang dikenakan.

Selain orang itu, saya juga bertemu orang Jakarta yang tinggal di Singapura dan mau membeli tiket. Tapi sepertinya dia rejekinya bagus, karena ketika sedang berbincang, tiba-tiba seorang bule memberi dia dua tiket. Katanya dia dapat itu dari kasino yang dia kunjungi. Bule itu tak meminta uang sepeserpun. Setelah dia serahkan tiket itu, si bule langsung pergi meninggalkan wajah orang Jakarta yang heran sekaligus bahagia.

Sebelum konser dimulai, ternyata Mick Jagger, Keith Richards, Ron Wood, dan Charlie Watts, menyapa para penonton di luar venue. Sebuah aksi yang mengejutkan.

Di dalam Ballroom, ternyata semua diminta duduk di kursi masing-masing. Tapi sejak awal, saya dan beberapa orang kulit putih, berdiri di depan barikade. Ada cekcok antara kami dan para penjaga soal larangan berdiri menempel ke barikade. Penjaga keamanan berbadan kecil, warga lokal, tak diindahkan himbauannya oleh bule-bule tua berbadan besar.

“This is a rock n’ roll show!” kata mereka soal alasan kami berdiri di depan panggung.

Saya sih bahagia, karena ada teman di depan dan yang penting, saya bisa berdiri menempel barikade! Hanya berjarak beberapa centimeter dari panggung yang tak terlalu tinggi. Ini sih lebih baik dari konser yang sering saya lihat di DVD. Dulu tak pernah terbayang bisa menonton langsung The Rolling Stones. Dan ketika mendapat tiket pun, tak terbayang bakal ada di baris paling depan!

Hati saya berdebar sangat kencang. Girang bukan kepalang.

photo 1

Begitu Mick dan kawan – kawan muncul, beberapa petugas keamanan sempat meminta kami mundur dan duduk di kursi, tapi begitu musik menghentak, emosi semakin diacak-acak, omongan petugas makin tak dihiraukan.

Ya Alloh, saya dekat sekali dengan panggung. Rasanya pingin menangis. Keriputnya Mick Jagger dan kawan-kawan terlihat jelas. Di sebelah saya, Coki, gitaris Free on Saturday yang memang penggemar The Stones, khususnya Keith Richards terlihat menangis terharu. Air mata mengalir deras. Dia memegang mulutnya sambil menatap Keith. Saya bisa merasakan kebahagiaan yang dirasakan Coki.

IMG_7103

Dan yang lebih membahagiakan, adalah ternyata The Rolling Stones masih bermain dengan bagus. Tata suara terdengar menyenangkan. Berarti yang kemarin di Tokyo Dome itu faktor venue, sehingga tenanglah hidup saya. Band pujaan saya masih bagus, meskipun di usia senja dan sudah bermain selama 50 tahun!

photo 2

Hampir dua jam The Rolling Stones bermain. Tetta tak keberatan saya tinggal ke depan panggung. Untunglah, ada Wenz Rawk yang akhirnya bisa upgrade tiketnya [karena saya mendapat dua tiket dari Guvera] sehingga dia bisa satu kelas dengan Tetta. Ah, terima kasih Guvera!

Kebahagiaan tak berhenti sampai di situ. Di akhir konser, Keith Richards melempar pick gitarnya dan jatuh ke bawah panggung. Fotografer yang ada di depan, berbaik hati mau memberikannya pada saya. Untunglah dia bukan penggemar The Stones. Hahaha. Sebelumnya, dia juga memberikan saya pick bass Darryl Jones yang jatuh di depan panggung, dan hanya saya yang menyadari.

photo 3

 

Setelah konser The Rolling Stones, secara musik, rasanya saya tak terlalu penasaran lagi. Tahun sebelumnya, sudah menonton The Stooges di Korea Selatan. Dua idola utama saya sudah berhasil saya tonton. Oh iya, Bob Dylan dan The Specials juga saya sudah nonton. Jadi, band-band yang berpengaruh untuk jiwa, sebagian besar sudah saya tonton. Maklum, yang lain, sebagian besar sudah meninggal: The Ramones [Marky Ramone sih pernah nonton waktu dia datang ke Jakarta tapi ya cuma dia personel Ramones nya], The Clash, The Doors, Bob Marley, dan Lou Reed. Yah memang sih masih ada Blondie, Sex Pistols [semoga mereka reuni lagi], dan Patti Smith.Tapi saya sih merasa sudah naik haji setelah menonton Stones dan The Stooges.

photo 4

Yang lainnya sih, saya anggap umroh.

Nah, itulah dua hari di 2014 yang begitu menyenangkan buat saya. Uang banyak terkuras, tapi hati sangat puas.

Semoga 2015 membawa lebih banyak kebahagiaan.

Selamat Tinggal Indika FM

Kemarin, hari terakhir saya siaran di Indika 91,6 FM.

Kalau dihitung sejak masih siaran seminggu sekali di sana, maka sudah empat tahun saya bekerja di Indika FM. Semua berawal ketika saya masih bekerja di majalah Rolling Stone Indonesia. Tahun 2010, Divisi Promosi mengadakan kerjasama dengan Indika FM, dalam bentuk program radio bernama Soundcheck. Kerjasamanya adalah: Rolling Stone mengirimkan satu wartawannya untuk siaran di Indika FM, menjadi partner penyiar Indika FM, dan bercerita soal isi majalah di edisi terbaru, serta memberikan ulasannya soal album atau berita terbaru di industri musik. Lalu, Rolling Stone memuat berita soal kegiatan off air program Soundcheck.

Karena tahun 2010, saya satu-satunya editor Rolling Stone yang tak punya pekerjaan sampingan [yang lain antara menjadi pemain band atau manajer band], maka saya yang ditunjuk untuk menjadi wakil Rolling Stone dan menjadi penyiar tandem bersama Hans Lango. Saya lupa, berapa lama saya siaran dengan Hans, tapi setelah dia, saya lalu siaran bareng Depritha Zoraya selama kira-kira tiga bulan, lalu terakhir, dengan Kallula, selama tiga bulan juga.

Dua petinggi Indika FM, Verno Nitiprodjo sang Program Director dan Praditya Sutrisno sang Station Manager, ternyata suka pada gaya siaran saya. Mereka kemudian meminta saya siaran di program pagi. Saya membayangkan bakal berat untuk bangun subuh dan berangkat pagi demi siaran jam 6. Tiga bulan saya melakukan itu ketika siaran di Pagi-Pagi I Radio Jakarta.

Saya tolak tawaran siaran pagi.

Tapi mereka bersikeras, karena program pagi Indika waktu itu berupa single DJ. Program sore lah yang jadi andalan mereka, dengan 2I nya: Iwan Sastro dan Irwan Ardian. Akhirnya setelah bernegosiasi, maka saya menyanggupi dua kali dalam seminggu, dengan jam siaran: 7 – 9 pagi [karena saya tak ingin bangun pagi, dan karena jam 10 pagi saya sudah harus di Rolling Stone] di program Bajak yang merupakan akronim dari Bandung – Jakarta. Intinya, saya sekalian membajak siaran pagi mereka, juga membahas hal yang berkaitan dengan Jakarta dengan saya sebagai pendatang dari Bandung.

Siaran pagi Indika FM waktu itu, masih dibagi untuk dua penyiar. Saya lupa pembagiannya, yang jelas Senin – Jumat, Nissa Muluk dan Lely Djojodihardjo yang bertugas. Senin Selasa Nissa, Rabu hingga Jumat, Lely. Atau sebaliknya. Nah, saya siaran di Selasa dan Jumat, dengan dua penyiar yang berbeda. Format ini kemudian berubah, menjadi saya dan Lely, setelah Nissa mengundurkan diri.

Setelah hampir dua tahun saya siaran di Indika, tiba-tiba Rolling Stone memecat saya. Haha. Dengan alasan, mereka mengetahui saya siaran. Padahal, itu sudah berjalan dua tahun lebih. Kata manajemen, karena saya siarannya rutin, dan nama saya tercatat di situs Indika, maka saya dianggap bekerja di dua perusahaan yang berbeda dalam waktu yang sama. Tak peduli apakah perusahaannya itu bukan media cetak, tak peduli apakah jam kerja saya di luar jam kerja Rolling Stone [padahal, secara absensi, saya termasuk paling rajin datang pagi dan tak pernah terlewat deadline]. Mungkin pemicunya karena saya mulai sering terlihat aktif stand up di televisi. Mungkin juga karena saya sering mengkritik Pak PresDir yang juga bekerja di dua perusahaan.

Paska pemecatan di Rolling Stone, saya siaran dari jam 7 hingga jam 10.

Dan ada masanya, kami siaran bertiga: saya, Lely, dan Vicky Ardian [yang sekarang memakai nama Vicky Harahap di Hard Rock FM Jakarta].

Lalu, datanglah para konsultan dari Malaysia. Mereka yang katanya sukses membuat Jak FM dan Gen FM menjadi radio nomor satu di Jakarta. Semuanya berubah ketika para konsultan datang. Indika FM ingin meluaskan pasarnya. Selama bertahun-tahun Indika FM dikenal sebagai radio dugem, radio ajep ajep, radio yang memuja musik dance, karena pemiliknya memang seorang DJ.

Indika FM kemudian menjadi Indika FM Sounds of Jakarta. Memutarkan Lagu-lagu Hits Terbaik dari Tahun 2000 Hingga Kini. Formasi dirombak. Para penyiar dikurangi. Manajemen menawarkan para penyiar jadi karyawan tetap, dengan jam kerja minimal 6 jam dan gaji flat alias tak dihitung per jam, tapi mendapat fasilitas asuransi kesehatan. Semua penyiar punya program sendiri. Maka, dari kira-kira 13 penyiar yang ada, tinggal 6 penyiar. Saya, Lely, Hans, Vicky, Satria Sutrisno alias Ukke, dan Martha Tandiyono.

Manajemen menjanjikan bahwa para penyiarnya masih boleh punya kegiatan di luar, pekerjaan sampingan. Manajemen katanya senang kalau para penyiarnya dikenal orang. Dan kalau ada pekerjaan sampingan atau hari libur nasional, siarannya boleh direkam, tak usah live.

Yang membuat para penyiar lama kaget adalah, ketika konsultan menyarankan membuat kompetisi mencari penyiar baru Indika yang kemudian diberi nama Indika FM Superstar. Yang lama banyak yang tak diminta bergabung, ada yang bersedia bergabung tapi hanya untuk siaran di akhir pekan, tapi malah mencari penyiar baru. Lalu, konsultan dan manajemen membajak Arie Dagienkz sebagai penyiar program prime time pagi. Yang kemudian mengagetkan para penyiar lama adalah, Dagienkz dipasangkan dengan Sinyorita yang belum pernah siaran dan diajak bergabung karena dia pemain sketsa Trans TV dan ternyata diajak siaran pagi karena Wisnutama mantan bos Trans TV yang sekarang di Net yang juga pemilik Indika FM, merekomendasikan namanya.

Saya kemudian dipindah ke program sore. Bersama Widma Meissner, juara satu Indika FM Superstar. Sepertinya para penyiar lama cukup cemburu dengan keputusan ini. Tak ada satu pun dari mereka yang dapat program prime time. Semua untuk orang baru. Hanya saya yang relatif sudah lama di sana.

photo 1

Yang kemudian membuat satu per satu penyiar lama mengundurkan diri adalah soal kebijakan taping alias siaran direkam. Kesepakatan soal pekerjaan sampingan, ternyata dibatalkan. Manajemen ingin para penyiarnya mengutamakan siaran.

Saya adalah yang tersisa dari rombongan itu.

Formasi Dagienkz – Sinyo kemudian dirombak, karena hasilnya kurang memuaskan. Akhirnya saya diminta pindah ke pagi. Kami menamakan diri dengan Duo Legienkz. Belum setahun kami siaran bareng, Dagienkz diminta pergi. Di luar, dia disebut punya masalah attitude. Tapi yang sebenarnya terjadi, sejak awal Dagienkz punya saran untuk program pagi supaya menarik menurut dia, tapi manajemen menganggap itu sebagai bentuk tak mau kerjasama dengan para konsultan. Saya bisa mengerti dua posisi itu. Dari sisi manajemen, tentu saja mereka kesal karena sudah membayar mahal konsultan, buat apa kalau tak mengikuti saran mereka? Tapi dari sisi Dagienkz juga saya mengerti. Dia sudah siaran belasan tahun, lebih lama dibandingkan para konsultan itu bekerja di radio. Dagienkz pernah punya program yang sangat hits, dan dia tahu apa yang cocok buat gaya siaran dia. Yah harusnya sih manajemen juga memberi Dagienkz kebebasan berkreasi. Toh, dia sudah dibajak dan dibayar mahal. Harusnya kreativitas Dagienkz diperas juga. Jangan mengatur dia. Toh, dia menjadi penyiar terkenal juga karena dia menjadi dirinya sendiri.

photo.PNG

Duo Legienkz mulai kehilangan semangat ketika produser kami mengundurkan diri. Manajemen menggantinya dengan copy writer yang memang tak punya pengalaman menjadi produser, dan awalnya juga tak mau jadi produser. Merepotkan memang, punya produser yang tak mengerti jadi produser. Dagienkz yang cukup keras kepadanya, dianggap membully dia dan dianggap attitude nya tak menyenangkan. Bahkan, manajemen mengira, si produser diminta membuatkan kopi. Padahal, setahu saya, Dagienkz meminta si produser untuk memanggil OB dan minta tolong dibuatkan kopi.

Keluhan produser yang merasa ditindas oleh sikap Dagienkz yang semena-mena, membuat manajemen semakin tak suka.

Puncaknya, ketika konsultan mengetahui bahwa selama sebulan hampir setiap hari, saya dan Dagienkz merekam siaran kami, alias tak siaran live. Dagienkz diminta pergi, dengan alasan, dia tak akan mau siaran pagi. Saya dihukum pindah ke Indika Sore lagi, dan tak akan pernah kembali siaran pagi. Untuk contoh kepada karyawan yang lain, bahwa hukuman harus diberikan kepada siapapun yang melanggar. No one bigger than the station, begitu kata manajemen.  Saya tak diminta pergi, karena dianggap masih mau bekerjasama dengan konsultan, dan masih mau siaran sore. Ya tentu saja masih mau, karena toh saya mau punya penghasilan tetap dari mana kalau tak siaran? Haha.

Tapi, keinginan untuk pergi lama-lama semakin kuat. Setiap kali ada tawaran pekerjaan di luar, belum apa-apa saya sudah membayangkan malas untuk meminta ijin. Repot. Tak semudah itu untuk mengajukan cuti, meskipun jatah cuti saya masih ada. Dulu, pernah dijanjikan dua kali maksimal dalam sebulan boleh ijin. Tapi pada prakteknya tak terwujud.

Sebagai stand up comedian, saya makin menghilang. Di tahun 2014 saja, saya hanya muncul dua kali, karena jadwal taping di Metro TV selalu bentrok dengan jadwal siaran. Ironis. Indika FM ingin punya penyiar yang dikenal orang, tapi saya yang punya akses ke situ, dibatasi ruang geraknya. Intinya, saya merasa tak berkembang.

Itu sebabnya saya mengundurkan diri.

Mumpung hubungan dengan manajemen sedang baik. Hehe. Mengundurkan diri dari perusahaan tanpa memakai emosi, itu lebih baik. Setidaknya, saya pergi bukan karena marah atau kesal pada manajemen, tapi ya karena demi kebaikan bersama. Saya bebas menerima tawaran pekerjaan sampingan, dan Indika tak akan direpotkan dengan permintaan cuti saya.

Di tiga perusahaan sebelumnya, saya selalu mengakhiri masa kerja dengan dipecat. Haha. Di Trax Magazine, Playboy Indonesia, dan Rolling Stone Indonesia. Makanya, untuk kali ini, saya ingin pergi bukan karena dipecat, tapi karena mengundurkan diri. Dengan begitu, saya tak akan bicara jelek dan memaki-maki Indika FM di luar, dan Indika FM juga tak akan mengatakan hal jelek tentang saya, ya karena saya mundur baik-baik.

photo 2

Terima kasih Indika FM, dan khususnya untuk kawan-kawan Divisi  Program:

Jujuk Margono, Station Manager yang kalau sedang banyak urusan, rambutnya jadi seperti Justin Timberlake era N’ Sync. Tempat yang dituju kalau mau konsultasi otomotif. Maklum, anak gaul otomotif.

Yuma Maharani, Program Manager yang selalu rajin mendengarkan siaran para penyiarnya dan melakukan aircheck. No more aircheck. No more paycheck juga. Haha.

Rully Austin, Music Director. Teman sesama Fikom Unpad.

Widma Meissner si penggila K-Pop yang belum pernah ke Korea Selatan. Yah setelah saya sudah terbiasa dengan suara kencangnya di kuping saya, dan chemistry siaran sudah makin oke, saya harus pergi. Sayang sekali, tapi mau bagaimana lagi.

Angga Nggok [sesama Fikom Unpad juga] dan Sahil Mulachela. Duo Gokil dari Indika Pagi. Semoga kalian selalu sabar menjalankan permintaan manajemen akan feature-feature lucu, eh salah, sangat lucu. Hahaha.

Elisabeth Pauli dari Indika Jahits, yang pernah diajak bercinta oleh Snoop Dogg.

Dixon Jaya Saragi dari Indika Oskar, sesama alumni SMA 3 Bogor, yang selalu saya pinjam charger iPhone nya.

Daud Tobing dari Indika Malam, dengan dadanya yang bidang dan bahasa tubuhnya yang belagu tapi sebenarnya menggemaskan.

Lalu dari Indika Wiken ada Astry Ovie si Putri BKT yang kocak [saya rasa kalau dia masuk TV, pasti bakal banyak yang suka dengan celotehnya], Chaca Raisa dan Bayu Adisapoetra yang saya baru kenal. Haha. Dan oya, Ishak Tongtong, produser pagi yang pekerja keras dan celetukannya menjadi pelengkap kegilaan Nggok Sahil.

Kawan-kawan Hello Traffic: Gege Bahari si badan besar tapi lentur [tak mau bilang ngondek sih, karena katanya dia mah ya gitu aja, bukan ngondek], Sultan Farah dengan suaranya yang bikin cowok-cowok gemes.

Nama-nama lain ada: Andry Joe sesama Fikom Unpad, Helmy Surachman mantannya Wina, kawan-kawan teknisi, Pak Martono, Eddy Jun, Ndozt, Puding, Mas Pandu sang desainer bijak, Abung, Ikhsan, Ditter, Tim Girang, Dre, Madu, Mike, Ayas, Gathy, Debbie, dan kawan-kawan sales yang punya target ratusan juta rupiah.

photo 4

photo 3

Nah, sekarang pertanyaannya, mau apa saya setelah mundur dari Indika FM? Haha. Ini pertama kalinya saya tak punya pekerjaan tetap dengan penghasilan tetap. Yah, memang sih masih ada dari TV One dengan program Karikatur Negeri, tapi penghasilannya tergantung pada berapa banyak tayang. Bukan apa-apa, di Kamis jam 9 pagi, kadang ada tayangan khusus kalau ada kejadian khusus sehingga program saya tak tayang.

Tapi kemudian saya teringat ucapan bijak Arie Dagienkz soal rejeki.

“Gusti Alloh mah nggak tidur.”

Tentang Saya dan Album Matraman dari The Upstairs

Ada antrian panjang di depan pintu masuk Ecobar Kemang, Selasa [16/12] jam sembilan malam ketika saya baru tiba di sana.

Bukan antrian sembako atau antrian dalam rangka masuk ke klub trendi seperti di adegan film, tapi antrian orang yang mau membeli piringan hitam album Matraman dari The Upstairs. Sebagian besar laki-laki [saya sih tak melihat perempuan di antrian] berusia dua puluhan hingga tiga puluhan.

Setelah berusia sepuluh tahun, album Matraman kini dikeluarkan dalam bentuk piringan hitam.

photo 2

Saya pertama kali tahu nama The Upstairs, tahun 2001, ketika magang di tabloid Bintang Millenia. Ada seorang fotografer bernama Vitri Yuliani, yang sering memakai kaos The Upstairs. Desainnya cerah warna-warni di atas kaos putih. Dan Vitri juga menulis The Upstairs sebagai band indie terbaik di Bintang Millenia edisi ulang tahun di mana mereka memuat profil para jurnalisnya. Kalimat Vitri waktu itu: mosque of indie band in Jakarta. Entah apa maksudnya. Apakah maksudnya kiblat band indie atau tempat solat band indie. Hehe.

Vitri bilang, The Upstairs adalah band pacarnya. Dan beberapa kali, ketika dia membuka email di komputer kantor, saya sering melihat dia membuka email yang sebagian besar isinya dari seseorang bernama Jimi Danger.

Tak lama setelah saya magang, saya membaca profil Jimi Danger dalam sebuah wawancara dengan majalah Trolley yang waktu itu masih berukuran kecil. Si pewawancara menggambarkan sosok Jimi sebagai paduan antara Mick Jagger dan Iggy Pop yang ketika Jimi bernyanyi, menggeliat seperti cacing. Dan dengan memakai nama Jimi Danger, saya mendapat kesan bahwa Jimi adalah sosok urakan nan rock n’ roll yang merupakan gabungan dua idola saya: Mick dan Iggy.

Lalu, pada 2002, suatu siang ketika MTV Indonesia masih berjaya dan masih memutar lagu-lagu bagus, saya melihat video klip “Antahberantah” dari The Upstairs. Saya langsung jatuh cinta dibuatnya.Video klipnya meskipun low budget tapi bisa menangkap energi lagu dengan baik.

Baru pada 2005, ketika menjadi reporter di MTV Trax Magazine, saya bisa menyaksikan langsung untuk pertama kalinya The Upstairs di sebuah bar atau cafe bernama De Basic dalam konser mereka yang diberi judul Konser Matraman. Saya membeli CD album Matraman dengan harga Rp 25 ribu. Kini, sepuluh tahun kemudian, piringan hitam mereka dijual dengan harga sepuluh kali lipatnya. Angka yang cantik ya. Hehe.

Jimi adalah abang-abang mirip preman pasar tapi dengan rambut jambul, kaos lengan buntung, dan skinny jean berwarna cerah [sebelum celana model begitu jadi trendi seperti sekarang!]. Venue nya kecil, tapi penuh sesak oleh orang-orang yang berjoged dengan menggila. Jimi masih berbicara kotor di panggung, dan lirik “Aku di Matraman kau di kota Kembang” dia plesetkan menjadi “Aku di Matraman kau dientot orang.”

Ini adalah periode liar Jimi Multhazam yang waktu itu masih tak keberatan dipanggil Jimi Danger. Tentu saja itu diambil dari lagu Gimme Danger punya The Stooges. Kalau tak salah, salah satu teman Jimi yang memanggil itu untuk pertama kalinya. Nama panggung yang keren, kalau menurut saya. Ada aura urakan, berwibawa, liar, dan rock n’ roll.

Proses merekam album Matraman, kalau saya tak salah dengar, hanya memakan biaya produksi Rp 5 juta. Menurut mantan manajer Wenz Rawk, album itu banyak berhutang jasa kepada Ario Hendarwan, gitaris/vokalis The Adams, karena sesi rekaman dan mixing dilakukan di rumahnya. Album yang merupakan paduan baik antara manisnya musik pop, semangat cerianya new wave/disco, dengan agresifnya punk rock. Energi The Upstairs masih meledak-ledak, mendengar vokal Jimi di album ini, saya mendapat kesan bahwa Jimi hanya ingin bernyanyi, bisa merekam saja sudah syukur, jadi tak perlu memikirkan apakah suaranya bakal bagus atau tidak.

Dan “Matraman” adalah salah satu lagu cinta terbaik sepanjang masa. Intro kibordnya yang pop sekali, lalu disambut lirik pembuka: “Demi trotoar dan debu yang beterbangan ku bersumpah. Demi celurit mistar dan batu terbang pelajar ku ungkapkan.” Gila. Lirik yang keren untuk menggambarkan orang yang jatuh cinta dan mengungkapkan perasaan. Jatuh cinta tak selamanya harus diungkapkan dengan menye-menye atau lemah mendayu-dayu. Dan kalimat sumpah tadi, dengan baik menggambarkan suasana jalanan di ibukota yang kotor dan pada masanya sempat ramai oleh tawuran pelajar sekolah.

Lagu ini manis sekali. Manis tapi dengan lirik yang jantan.

Album ini membuat saya memasukkan Jimi Multhazam ke dalam daftar penulis lirik terbaik dari Indonesia.

Satu lagu lagi yang begitu mendengar membuat saya langsung terpana adalah “Apakah Aku Berada di Mars atau Mereka Mengundang Orang Mars”. Lagu tentang Jimi datang ke sebuah klub, dan orang-orang yang di sana berdansa dengan seragam. Menurut Jimi, saat itu, dia sendiri yang gerakan dansanya berbeda dengan orang lain.

Beberapa tahun kemudian, ketika The Upstairs menjadi raja pensi dan bermunculan banyak sekali Modern Darlings [sebutan untuk penggemar mereka], The Upstairs telah menciptakan planet mars di setiap konser mereka. Modern Darlings berdansa dengan seragam, pakaiannya senada, dan semuanya adalah interpretasi mereka terhadap visual The Upstairs. Mereka yang bukan Modern Darlings pasti akan bertanya seperti itu juga akhirnya: apakah aku berada di Mars atau mereka mengundang orang Mars.

Maunya sih saya membahas satu per satu lagu di album Matraman, tapi apa daya, mata sudah mengantuk. Jadi, daripada uring-uringan atau lemas tak berdaya karena kurang tidur, mendingan saya segera akhiri tulisan ini.

Singkat cerita, setelah album Matraman, The Upstairs sempat jadi raja pensi, lalu mereka mengalami proses ditinggalkan manajer terbaiknya: Wenz Rawk, dan satu per satu personel aslinya. Dua personel asli mereka, drummer Beni Adhiantoro dan bassist Alfi Chaniago mundur dari musik karena sudah menemukan Tuhan dan merasa harus menjauh dari sik sik musik.

Selasa malam tadi, di Eobar Kemang, ada Jimi dan Kubil Idris sang gitaris dalam sesi tanda tangan. Dua yang tersisa dari personel di album Matraman. Bagai Mick and Keith di The Rolling Stones atau Iggy dan James Williamson di The Stooges, selama ada gitaris dan vokalis, maka band biasanya masih bisa bertahan.

photo 1

 

Saya masih menanti munculnya album terbaru dari The Upstairs dan tentu saja lirik-lirik ciamik dari Jimi Multhazam. Selama ini belum ada lirik dia yang bercerita soal hubungan dia dengan anaknya, Pijar Cakrawala. Saya penasaran, seperti apa dia menuangkan kisah atau harapan dia tentang anaknya ke dalam lagu. Yah, seperti kata Jimi dalam hesteg nya di Instagram: Punk is Dad.

Anyway, terima kasih The Upstairs atas musik kalian. Semoga esok kita berdansa.

 

Hadirilah Majelis Tidak Alim Soleh Solihun!

soleh_revisi_lengkap3

Mungkin di antara Anda sudah tahu, bahwa saya akan membuat pertunjukkan tunggal stand-up comedy yang saya beri judul Majelis Tidak Alim, Sabtu, 31 Januari 2015 di Pusat Perfilman H Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta, pukul 7 malam. Lokasinya ada di sebelah Pasar Festival.

Buat yang belum tahu apa itu pertunjukkan tunggal stand-up comedy, atau biasanya sih lebih populer di kalangan stand-up comedian dengan istilah stand-up special [Saya sengaja tak mau menyebut special show, karena seperti kata teman saya, Sammy Not A Slimboy dalam salah satu lawakannya soal martabak, kalau semua mengaku spesial, lantas di mana letak spesialnya? Haha] ini adalah konser tunggal kalau kita bicara konteks musik, atau kalau nanti jadinya dibuat dalam bentuk DVD, maka ini adalah album.

“Gua kira lo nggak tertarik bikin yang seperti itu, Leh,” kata Pandji Pragiwaksono ketika saya bercerita soal rencana show saya.

Memang sih, waktu banyak teman saya seperti Ernest, Sammy, Luqmann, dan Pandji bikin special, ada yang bertanya kapan saya membuat special juga, yang saya jawab dengan pernyataan bahwa saya tak akan mau membuat special, karena saya tak yakin bisa membuat materi lawakan baru untuk pertunjukkan selama minimal satu jam. Kalau membawakan materi-materi lama doang sih, bisa saja, tapi kan kasihan yang datang membeli tiket, masa’ dikasih materi lama. Yah ibaratnya album musik, kalau saya membuat album perdana hanya berisi kumpulan lagu-lagu saya yang pernah tersebar di berbagai album kompilasi, kan kurang oke.

Tapi kemudian, keinginan untuk membuat pertunjukkan tunggal semakin besar. Selain karena motivasi ingin membuat karya, juga karena selama ini setiap kali saya stand-up selalu tak mendapat panggung yang sesuai dengan keinginan saya. Di televisi, dibatasi oleh durasi dan terutama topik. Di acara perusahaan, ya tentu saja lebih terbatas lagi materi lawakannya. Intinya, saya ingin merasakan manggung di tempat yang nyaman buat saya, di mana saya bisa tampil sesuka hati saya.

Ada empat comic yang bakal turut memeriahkan pertunjukkan saya: Abdel Achrian orang Padang, Adjis Doaibu orang Batak dari Bekasi, David Nurbianto orang Betawi, dan Ricky Wattimena orang Ambon beragama Kristen. Hehe. Cukup beragam kan? Sunda diwakili oleh saya.

Abdel, sejak pertama kali berniat membuat pertunjukkan, saya terpikir mengajak dia, karena kan dia identik dengan sosok religius, pas lah dengan tema pertunjukkan saya. Dan kebetulan, ketika saya mengundang dia untuk datang ke pertunjukkan saya, dia malah berkata ingin berpartisipasi. Yah berjodohlah kita. Adjis, karena saya melihat kesamaan antara saya dan Adjis, sama-sama MC dan sama-sama mengandalkan penonton untuk dijadikan bahan lawakan. Plus, dia pernah berkata bahwa dia penggemar saya. Dia adalah orang pertama yang mengatakan bahwa dia penggemar saya. Haha. Ya makanya harus saya ajak. Sebagai bentuk terimakasih saya bahwa dia telah menyebut saya idola. Hahahaha. David, sebelum dia jadi juara Stand Up Comedy Indonesia dari Kompas TV, dia adalah opener saya kalau saya dapat job stand-up [saya sengaja pakai konsep opener dalam pertunjukkan 30 menit saya di job korporat alias acara perusahaan, supaya ada yang menghangatkan suasana sebelum saya tampil dan supaya saya ada teman grogi. Dan kalau saya garing, semoga opener saya tak garing jadi penonton terobati. Atau, kalau opener saya garing, ya saya jadi terlihat lucu sekali. Atau kalau kami berdua sama-sama garing, jadi pas pulang ada teman yang juga merasakan sengsaranya hati setelah gagal. Haha]. Makanya, dia harus saya ajak. Ricky, adalah opener saya setelah David jadi juara dan harganya tak bisa harga pemula lagi. Ricky masih berstatus mahasiswa, dan punya potensi untuk berkembang. Dia punya kemampuan yang tak dimilik stand-up comedian lain: beat box. Katanya sih berencana ikut SUCI Kompas TV season terbaru nanti.

Ada dua kelas dalam pertunjukan saya. Kelas Unta seharga Rp 150 ribu, dan Kelas Kambing seharga Rp 100 ribu. Saya ingat pelajaran agama Islam yang mengatakan bahwa kalau kita datang di barisan paling depan ketika Jumatan, maka pahalanya dapat Unta atau sekelas Unta lah saya lupa. Yang jelas, makin belakang barisan ketika Jumatan, maka hewannya makin murah. Ya Kelas Unta paling dekat dengan panggung. Maaf, saya belum bisa memberi denah panggung, karena memang belum ada. Haha. Soal pembelian tiket, baru akan dimulai nanti, tanggal 5 Januari 2015. Infonya rajin pantau twitter saya aja ya.

Lantas kenapa judulnya Majelis Tidak Alim?

Majelis, berarti tempat berkumpul. Alim itu berarti pintar. Bisa juga kalau bahasa percapakan sehari-hari, alim diartikan baik. Makanya ada kalimat, ‘Dia mah alim banget anaknya.’ Nah, sadar bahwa selama ini materi lawakan saya bukan lawakan pintar macam teman-teman yang saya sebutkan di atas tadi, saya mengambil judul itu. Dan satu lagi, ya ini memang parodi dari Majelis Ta’lim.

Selalu ada dua sisi dalam diri saya: sisi yang religius dan sisi yang kurang suka sama orang-orang yang reiligius karena banyak dari mereka yang sepertinya tak toleran terhadap orang-orang yang berbeda keyakinan. Nama saya sih cukup religius, tapi kelakuan saya tidak. Makanya, nama Majelis Tidak Alim sekalian menyampaikan pesan bahwa jangan kaget kalau di pertunjukkan saya nanti, apa yang saya sampaikan tak sesuai dengan nama saya. Hehe. Maklum, banyak materi saya yang membahas seputar selangkangan.

Bukan bermaksud melecehkan agama Islam kok. Kalaupun ada materi saya yang mempertanyakan atau menganggap kocak kisah dari pelajaran agama yang pernah saya dapat, ya itu bukan bermaksud melecehkan, tapi ingin jadi gambaran bahwa selama ini memang banyak sekali pertentangan batin dalam diri saya kalau sudah bicara agama.

Kemarin ada yang mention saya di Twitter, berkata bahwa kalau bisa, materi lawakan saya jangan melecehkan agama Islam, seperti yang sudah-sudah. Ketika saya tanya, bagian mana atau tepatnya kalimat mana dari saya yang dianggap melecehkan, dia tak menjawabnya. Dulu juga pernah ada yang bilang kalau saya melecehkan ayat-ayat al Qur’an, tapi mereka tak pernah spesifik mengatakan lawakan yang mana. Apakah karena saya sering mengucap Istighfar di panggung? Masa sih, bilang astaghfirullohaladziim termasuk melecehkan? Kan kata guru agama, kita harus sering-sering istighfar. Lagipula, itu keluar secara refleks dari mulut saya, tanpa bermaksud melecehkan. Kan konteksnya tepat, setelah saya ngomong ngaco, saya mengucap istighfar demi meminta ampun. Hehe.

Yah pokoknya, jangan protes dulu lah, soal judul pertunjukkan saya. Lagipula, kata Majelis kan bukan khusus milik Islam. Majelis Permusyawaratan Rakyat yang isinya ada koruptor harus diprotes dong, kalau memang menganggap kata Majelis milik agama Islam.

Makanya, datang aja dulu ke pertunjukkan saya, baru protes. Hehe.

Yah sodara-sodara, ayo datang ke pertunjukkan saya. Ajak sanak sodara, handai taulan, rekan-rekan, tetangga, dan semuanya. Tak peduli apa agama dan kepercayaannya, semua boleh datang ke Majelis Tidak Alim Soleh Solihun.

Asal beli tiket.

Selamat Ulang Tahun Pernikahan, Istriku!

Hari ini, tiga tahun lalu, saya dan Tetta Riyani Valentia menikah.

FOTO PELAMINAN

Kami berpacaran selama enam tahun sebelum akhirnya jadi suami istri. Ada banyak hal yang membuat kami baru menikah setelah enam tahun pacaran. Pertama, sejak pertama kali pacaran, saya bertekad, kalau menikah, minimal gaji saya sudah lima juta per bulan. Keinginan ini muncul ketika gaji saya masih di bawah dua juta per bulan. Jadi, membayangkan gaji lima juta per bulan, rasanya besar sekali. Hehe. Kedua, bapaknya Tetta menginginkan salah satu dari kami jadi pegawai negeri, karena dia swasta dan tahu benar bahwa karyawan swasta tak punya kepastian pensiun seperti halnya pegawai negeri. Yah karena saya tak mau jadi pegawai negeri, akhirnya Tetta yang beberapa kali mencoba daftar sebagai pegawai negeri, hingga akhirnya tembus. Ketiga, saya ingin ketika saya menikah, tak meminta uang kepada orangtua saya. Keempat, saya ingin sebelum saya menikah, sudah punya rumah. Tak masalah ukurannya berapa, atau berapa tahun mencicilnya, yang penting punya rumah.

Dan itu semua alhamdulillah sudah tercapai pada 3 Desember 2011.

Gusti Alloh Maha Adil. Hehe.

Kalau bicara pernikahan, tentu bicara lamaran. Tak ada proses lamaran yang romantis bagai adegan film, macam bersimpuh dengan kalimat “Maukah Kau menikah denganku?” atau adegan ketika sedang makan malam romantis tiba-tiba di kue atau di gelas, ada cincin. Yah itulah salah satu kekurangan saya, tak romantis. Seperti lirik lagu Iwan Fals: Aku tak mampu beri sayang yang cantik, seperti kisah cinta di dalam komik. Hehe. Pembenaran.

Tapi saya masih ingat, betapa menegangkannya bicara soal rencana menikahi Tetta kepada bapaknya. Level menegangkannya jauh lebih seram dibandingkan ketika waktu mau menyatakan cinta alias meminta jadi pacar.

Satu malam yang dingin dan sepi… Eh itu mah lirik lagu Sandhy Sondoro ya. Satu malam, dalam salah satu malam kunjungan saya ke rumah Tetta, sebelum pulang, saya memberanikan diri bicara kepada bapaknya Tetta.

“Pah, mau ngomong sebentar,” kata saya.

Bapaknya Tetta sepertinya tahu tipe pembicaraan apa yang akan kami lakukan. Kami sedang dekat meja makan saat itu. Dia mengajak duduk di meja makan. Dia duduk dengan seksama, menatap mata saya hingga membuat jantung berdebar kencang.

Saya tak memakai basa-basi atau intro bertele-tele. Sebelumnya pernah dengar cerita teman saya yang mau meminta ijin menikah kepada bapak pacarnya, dia bercerita panjang lebar ngalor ngidul memakai bahasa Indonesia yang kaku baik dan benar, pokoknya akan membuat JS Badudu bangga lah.

Sedangkan saya, antara saking groginya atau tak pintar berbasa-basi, begitu duduk, saya langsung berkata, “Pah, saya mau nikah sama Tetta. Kalau diijinin, nanti saya ajak keluarga saya ke sini buat ngelamar.”

Begitu kalimat itu keluar, leganya bukan main. Kalau ada yang bilang bicara di depan orang banyak itu menegangkan, saya rasa tak ada apa-apanya dibandingkan bicara kepada calon mertua dalam rangka meminta ijin menikah.

Langsung ke cerita soal resepsi pernikahannya saja ya.

Saya memilih memakai jas, karena meskipun saya cinta Indonesia, saya tak ingin terlihat memakai pakaian adat, karena menurut saya kalau saya memakai pakaian adat, terlihat kocak. Saya tak ingin terlihat kocak di pelaminan, biarlah kocak kalau sedang ada job saja. Satu lagi, karena bapak saya ketika menikah juga memakai jas, jadi ketika saya kecil saya pernah berniat kalau menikah, ingin memakai jas juga. Kasihan teman saya, yang datang memakai jas berwarna serupa, jadi harus melepas jasnya ketika ke pelaminan karena demi menghargai pengantin atau karena tengsin warnanya sama. Haha.

Kami menikah di Gedung Departemen Pertanian, Ragunan, Jakarta Selatan. Lokasinya strategis, tempat parkir luas, dan yang penting: harga ekonomis tapi tampilan tak terlalu bikin hati meringis.

Tanpa dinyana, saya mendapat sumbangan yang berharga dari teman-teman: Ada Speaker First yang mau tampil membawakan lagu Let It Bleed dari The Rolling Stones selain lagu mereka sendiri, dan ada Pure Saturday yang bahkan khusus menyanyikan “Here Comes Your Man” dari Pixies untuk pernikahan kami. Home band kami hari itu: LCD Trip yang sekarang mulai dikenal di skena musik independen Jakarta, bahkan berbaik hati, hanya dalam beberapa kali latihan, mau menyanyikan lagu-lagu pilihan saya dalam format akustik. Dengan begitu, semua lagu yang diputar di hari pernikahan saya, tak ada selera mertua atau orangtua, tapi selera kami berdua. Setidaknya, kalau saya mengingat hari pernikahan saya, adegan ditutup dengan pertunjukkan musik di mana di depan panggungnya berisi teman-teman dekat. Tak ada organ tunggal, dan tak ada bapak-bapak atau ibu-ibu yang merasa suara bagus padahal tidak, mendominasi organ tunggal.

SUASANA RESEPSI PERNIKAHAN

Sebelumnya, ada keluarga bapak mertua yang punya usaha organ tunggal dan menawarkan jasa menghibur. Tapi dengan dalih sudah ada sumbangan dari teman-teman, akhirnya kami bisa menolak dengan halus dan mulus.

Buat yang belum menikah, dan ingin tahu seperti apa rasanya berdiri di pelaminan dan menyalami banyak orang: melelahkan. Terutama di otot mulut, karena harus tersenyum selalu.

Lalu, seperti apa rasanya menikah selama tiga tahun?

Konfilk mah pasti ada, namanya juga hidup. Tak mungkin tak ada masalah. Tapi selama suami dan istri punya niat untuk menjalankan hubungan dengan baik, saya rasa konflik bisa diatasi. Ah, saya jadi sok bijak begini. Tak usah bicara masalah lah, bicara yang enak-enak saja.  Kami dikaruniai anak lelaki yang alhamdulillah sehat berkat rejeki dari Alloh dan berkat ASI. Hehe.

Kalau melihat Tetta sekarang, saya hampir tak percaya, pertama kali bertemu dengannya ketika dia masih umur 20 tahun. Dulu dia masih mahasiswi, sekarang sudah jadi istri. Pintar memasak, padahal hanya bermodal menu hasil Googling. Dan yang paling penting: dia adalah ibu yang baik, dan mau sabar menerima saya dengan segala macam perilaku saya yang menyebalkan. Hehe.

Ada dua karunia terbesar sepanjang tiga tahun terakhir ini: Tetta dan Iggy.  *kemudian bernyanyi soundtrack sinetron “Keluarga Cemara”: Harta yang paling berhargaaa…. adalah keluarga.

Yah demikianlah, sodara-sodara, curhat saya. Semoga ada manfaatnya.

Untuk mengarungi bahtera rumah tangga [gawat ya, kalimatnya], saya selalu teringat lagu Iwan Fals yang berjudul CIK.

Riak gelombang satu rintangan

Ingat itu pasti kan datang

Karang tajam sepintas seram

Usah gentar bersatu terjang

 

Ulurkan tanganmu pasti kugenggam jarimu

Kecup mesra hatiku

Rintangan kuyakin pasti berlalu

 

 

Selamat ulang tahun pernikahan, istriku. Aku sayang kamu.

Bersenang-senang Bersama Sheila On 7

Barusan saya nonton konser musik lagi.

Setelah entah berapa lama saya tak datang ke konser musik.

Minggu [30/11] tadi, di Rolling Stone Cafe, shoppingmagz.com mengadakan pesta ulang tahun mereka yang ke-2. Saya diminta jadi MC, bersama Carol ah saya lupa nama belakangnya yang jelas nama suaminya dan si Carol itu ternyata salah seorang finalis VJ Hunt angkatan berapanya saya lupa.

Acara hari itu diberi nama Soundpark, entah permintaan sponsor entah konsep dari redaksi shoppingmagz, yang jelas, sejak jam 12 siang, acara sudah dimulai. Ada beberapa booth memeriahkan suasana, dengan berbagai macam dagangannya. Sebelum break adzan magrib, DJ Dipha Barus dan The Overtunes tampil duluan.

Beberapa perempuan berteriak kegirangan entah histeris entah tulus entah berlebihan supaya terdengar seru saja, ketika The Overtunes tampil. Mereka punya lagu andalan “Sayap Pelindungmu” yang tak ada hubungannya dengan pembalut yang memakai sayap supaya anti bocor.

Selepas break magrib, saya diminta stand-up sepuluh menit. Carol memberi perkenalan dengan kalimat ‘He is very funny’ yang sebenarnya salah satu pantangan dalam mengenalkan stand-up comedian. Haha. Bukan apa-apa, kalau dikenalkan dengan cara begitu, ekspektasi orang sudah dibangun dulu, dan beban psikologis jadi bertambah. Haha.

Yah so so lah, hasil saya. Dari sepuluh menit, selang seling terdengar tawa orang. Hahahaha. Saya tak suka stand-up dengan kondisi jauh dari penonton dan tak bisa melihat wajah dan mata mereka dengan jelas. Maklum, saya bukan tipe stand-up comedian yang jago dan membawa bekal materi. Saya selalu sebagian besar mengandalkan reaksi orang yang saya lihat.

Langsung skip saja ya ke inti dari kenapa saya ingin membuat tulisan ini. SORE dan Shandy Sondoro tampil setelah break magrib.

Yang tampil terakhir adalah yang dinanti sebagian besar mereka yang datang. Yah tak perlu terkejut lagi lah ya, kan dari judulnya Anda sudah tahu siapa yang saya maksud.

sheilaon7

Sheila On 7.

Belakangan ini, nama mereka naik kembali. Maaf untuk Sheila Gank yang mungkin merasa kalimat tadi tak tepat. Maklum, saya merasa beberapa tahun belakangan, nama Sheila On 7 tak terlalu berkibar. Entah salah perusahaan rekaman yang tak bagus mempromosikan albumnya, entah industri musik Indonesia sedang dihajar oleh terpaan promosi band-band baru.

Saya merasa terhibur dengan penampilan Sheila On 7 beberapa jam tadi. Makanya, jam segini saya masih punya semangat untuk menulis.

Terakhir saya melihat Sheila On 7 manggung adalah hampir dua tahun lalu, di Yogyakarta, dalam rangka konser ulang tahun mereka yang ke-17. Waktu itu Tetta masih hamil 4 bulan. Konser yang menyenangkan.

Saya mau buat pengakuan. Waktu Sheila On 7 pertama kali muncul, dengan lagu “Dan”, saya tak tertarik. Ada beberapa faktor: lagu “Dan” tak terdengar bersemangat buat saya, malah terdengar lemas, waktu itu mereka sedang naik daun dan saya gengsi untuk menyatakan suka karena takut merasa ikut-ikutan selera pasar, dan mereka tak terlihat keren secara visual. Haha.

Sebenarnya, waktu masih periode tak mau mengakui kalau Sheila On 7 itu lagunya bagus dan enak, saya diam-diam selalu merasa terhibur. Momen yang membuat saya mulai luluh ego dan mulai tak malu mengakui bahwa mereka bagus, adalah ketika lagu “Sahabat Sejati” muncul. Lirik dan musiknya memikat hati saya. Salah satu lagu bertema persahabatan yang bagus, adalah “Sahabat Sejati”, selain tentu saja “Belum Ada Judul” punya Iwan Fals.

Selain lagu itu, lagu yang menempati urutan paling atas di daftar kesukaan saya pada Sheila On 7 adalah lagu “Sebuah Kisah Klasik.” Dalam menjalani hari, lirik lagu itu selalu mengena hingga sekarang, terutama bagian “Bersenang-senanglah, karena hari ini akan kita rindukan.”

Sebuah pesan penting tentang menikmati hari. Tak usah terlalu mengkhawatirkan apa yang akan terjadi di hari depan, syukuri dan nikmati hari yang sedang kita nikmati. Saya satu visi dalam hal ini. Memang, lagu itu bercerita tentang perpisahan dengan teman, tapi bagian lirik yang tadi saya tulis, itu adalah kalimat yang buat saya menjadikan lagu itu penting.

Eross Chandra adalah salah satu penulis lagu yang bagus. Waktu saya masih dalam tahap denial menyukai Sheila On 7, saya menganggap mereka hanyalah band pop dari Yogya yang tak akan bertahan lama. Apalagi ada yang bilang, namanya On 7 berakibat mereka hanya akan on selama 7 tahun atau 7 album saja. Kalau nama Sheila sih nama perempuan. Saya pernah bertemu dengannya, dia salah seorang jurnalis Cosmo Girl! Waktu masih kerja di Trax Magazine, ruangan redaksi kami berdampingan, makanya saya bisa kenal. Wajahnya manis, pantas lah dijadikan nama band. Saya tak akan mengeluh soal itu.

Kembali ke Eross. Sebagai penggemar The Rolling Stones, saya menemukan pengaruh Keith Richards dalam gaya bermain gitar Eross. Dan itu membahagiakan. Eross bisa membawa pengaruh Keith ke dalam lagu pop yang komersil.

Saya sudah makin mengantuk, sodara-sodara.

Sebelum mengakhiri tulisan ini, saya cuma mau cerita, tadi mereka bermain lebih dari satu jam. Beberapa kali Duta–entah karena merendah entah karena minder entah bercanda–menyebut mereka sebagai band baru. Tapi malam itu mereka membuktikan bahwa, mereka tak hanya on selama tujuh tahun atau tujuh album. Mereka masih menarik dan menunjukkan bahwa kualitas mereka bukan band baru, atau band yang sudah habis daya tariknya.

Cuma satu kekurangannya: official merchandise mereka tak menarik buat saya. Tadinya mau beli kaos mereka, eh dari sisi desain dan bahan, hasilnya kurang oke. Sayang sekali ya.

Tapi tadi, mereka membuat saya dan banyak orang yang hadir, bahagia dan bersenang-senang.

Terima kasih ya Sheila On 7.

Selamat Ulang Tahun, Iggy Kastara!

Dua tahun lalu, tepatnya pukul setengah empat sore, di RS Puri Cinere, kamu lahir.

Sejak masih dalam kandungan, Bapak dan Ibu selalu bilang, kalau kamu lahir, tolong pas hari libur atau di akhir pekan, supaya lalu lintas menuju rumah sakit lancar, dan Bapak sedang ada di rumah. Ternyata, kamu memenuhi permintaan Bapak dan Ibu. Jam setengah enam pagi, Ibu merasa air ketuban bocor. Hari itu, Idul Adha, tadinya Ibu sedang bersiap-siap pergi ke mesjid untuk solat Ied. Bapak dan Ibu langsung pergi ke rumah sakit, ditemani Oma.

Sesampainya di rumah sakit, Ibu diperiksa suster yang kemudian bilang, kamu masih lama keluarnya. Itu mah bukan air ketuban. Tapi, ketika Dokter Aswin datang dan memeriksa Ibu, ternyata itu memang air ketuban. Yah namanya juga suster, kan mereka bukan ahlinya, tak apa lah kalau salah, tapi ya kasihan Ibu, susternya agak judes dan terlalu kasar memeriksanya.

Pukul sembilan pagi, Ibu diberi kapsul supaya segera melancarkan persalinan. Induksi, istilah kedokterannya. Setelah diinduksi, Bapak diminta mencatat berapa kali Ibu kontraksi. Dokter Aswin pergi dulu, mau membantu persalinan di rumah sakit yang lain.

Pukul tiga sore, Ibu dibawa ke ruang bersalin. Dokter Aswin dibantu beberapa orang suster di dalam ruangan. Bapak memegang tangan Ibu di sebelah kanan ibu, sambil memegang kamera. Demi dokumentasi. Maklum, Bapak kan bekas wartawan. Oma di sebelah kiri ibu.

Ada gunanya juga senam hamil yang beberapa kali Ibu ikuti, karena ketika disuruh mengeden dan ambil posisi melahirkan, Ibu sudah terlatih. Banyak yang bilang, ketika melahirkan, bapak-bapak “disiksa” oleh istrinya, baik itu diremas, dipegang dengan erat tangannya, yah disakiti lah. Tapi itu tak terjadi pada Bapak, karena tangan Bapak memegang kamera, sepertinya Ibu tak ingin menganggu lancarnya pengambilan gambar.

Pertama kali kamu keluar dari perut, yang terlihat adalah rambut kamu yang lebat. Bapak malah teringat alien yang ada di film, karena kamu berlumuran darah dan rambut hitam lebat. Hehe. Maaf ya. Dokter kandungan ternyata hanya menyemangati, terus membersihkan rambut kamu pas kamu perlahan-lahan keluar dari perut Ibu, terus menyambut kamu pas keluar seutuhnya. Enak ya jadi dokter kandungan. Sepertinya biaya paling mahal adalah untuk keterampilan menjahit alat kelamin perempuan yang koyak setelah melahirkan. Keterampilan itu tak mungkin dipelajari di kursus jahit Juliana Jaya.

Setelah dibersihkan, Bapak memotong pusar lalu membacakan adzan dan iqomah. Kamu terima saja ya menjadi Islam, kan bapak dan ibu kamu Islam. Hehe. Semoga setelah besar dan mengerti baik buruk, kamu bisa menerima ajaran Islam dan menjalankannya sambil tetap menghargai mereka yang berbeda pandangan dengan kamu soal agama.

Ibu menjalankan proses Insiasi Menyusui Dini alias IMD, dibantu Tante Nia Umar yang juga teman kuliah Bapak. Secara naluri, bayi yang baru lahir, akan mencari puting ibunya, lalu menyusui. Nah, IMD ini adalah menaruh bayi yang baru lahir di perut Ibu, terus membiarkan dia merangkak hingga mendapatkan puting ibu, dan menyusui untuk pertama kalinya. Kamu sudah dua tahun mendapatkan Air Susu Ibu. Kalau kamu punya anak, pastikan anak kamu mendapat ASI ya. Selain banyak manfaatnya karena menyehatkan, ASI juga hemat biaya, dan tak merepotkan orangtua. Kalau jalan-jalan, tak perlu bawa tas bayi yang berisi susu formula dan termos berisi air panas. Formula mah di balapan, bukan buat bayi. Hehe. Bapak sih tak tergabung di komunitas Ayah ASI, tapi bapak pro ASI.

Ini foto karya Ibu. Kalau kamu bertanya-tanya kenapa warnanya begitu, itu karena filter Path yang akan membuat foto biasa saja, jadi terlihat luar biasa [tapi ini mah bukan foto biasa saja, karena bagus, ada tulisan nama kamu di belakangnya, dan pose kamu sedang menjulurkan lidah]. Kalau pada saat kamu baca, sudah tak ada yang namanya Path, silakan Google saja. Kayaknya sih kalau Google bakal masih ada. Bapak sih tak main Path, sudah dua tahun bapak uninstall dari hp, karena menurut bapak, Path adalah kombinasi antara Instagram dan Twitter. Buat apa mengulang yang sudah Bapak punya?

iggy

Kini, dua tahun kemudian, Bapak menulis ini buat kamu. Siapa tahu, internet masih canggih dan belasan tahun kemudian, kamu masih bisa membaca tulisan ini. Kalaupun tidak, yah setidaknya pembaca blog ini jadi tahu sedikit tentang kamu.

Bapak mengambil nama Iggy, dari salah satu musisi idola bapak: Iggy Pop. Dari sekian banyak nama rockstar bule, yang namanya mudah diucapkan oleh lidah lokal, tak peduli lidahnya apa, Iggy adalah nama yang paling pas. Diucapkan anak kecil, mudah. Oleh orang Sunda mudah, karena tak ada unsur F. Dan tak terlalu kebarat-baratan. Hanya mereka yang tahu Iggy Pop, akan menebak bahwa itu nama Barat. Kalau anak sekarang, paling menghubungkannya dengan Iggy Azalea.

Kastara adalah nama pemberian Ibu. Diambil dari bahasa Sansekerta [sudah punah bahasanya, sekarang akhirnya dipakai kata-kata yang masih bisa dicatat sejarah dan dipakai jadi nama manusia masa kini], artinya: yang termasyhur. Pas lah, nama itu. Ada nuansa Sundanya, dan artinya kurang lebih jadi Pop juga. Satu lagi, nama itu mirip dengan nama yang Bapak pakai di buku: Kastana.

Bapak tak mau memberi nama yang lebih dari dua. Toh, banyak juga yang punya nama panjang, pada akhirnya namanya disingkat hanya jadi dua. Lagipula, kalau namanya pendek, ketika bertransaksi di ATM, nama kamu bakal tertulis lengkap. Satu lagi yang tak kalah penting: nama dengan huruf I, kalau dipanggil di sekolah, tak akan ada di urutan satu. Bapak tak tahu bagaimana nanti di sekolah kamu, yang jelas, di sekolah Bapak, kalau pelajaran olahraga atau pelajaran lain yang berhubungan dengan memanggil murid untuk melakukan sesuatu, biasanya diambil dari daftar absen. Antara anak dengan huruf A atau huruf Z yang biasanya ada di urutan pertama melakukan yang diperintahkan guru di pelajaran itu.

Tak ada makna filosofis di balik nama kamu. Kasihan kamu kalau namanya terlalu terbebani oleh doa orangtua. Pertimbangan Bapak mah cuma satu: namanya keren menurut Bapak dan Ibu. Hehe. Kalau soal doa dan harapan mah, yah Bapak selalu berharap kamu jadi orang yang baik, sehat, bahagia, berguna buat orang lain, bisa punya keluarga yang bahagia juga, dan tak menyakiti orang lain.

Ulang tahun kedua, Bapak dan Ibu tak membuat pesta seperti ulang tahun pertama kamu. Tapi Ibu semangat sekali, membuat pernak pernik hiasan demi kepentingan dokumentasi alias demi bagus buat media sosial. Terima kasih juga untuk Tante Lia yang membantu membuatkan desain lucu-lucu bertema safari. Dia ingin merintis usaha penyelenggara pesta ulang tahun anak kecil, dan meminta Ibu memfoto hasil desainnya, dengan harapan banyak yang mau memakai jasanya.

Tapi kemarin, Bapak, Ibu, Oma, Amih, Apa, Aa, Teteh, dan Bibi, mengajak Iggy ke Taman Safari, Cisarua. Meskipun harus macet di jalan, dan menempuh empat jam perjalanan ke sana, semua senang. Bapak terakhir ke sana tahun ’96, waktu ikut acara pelantikan Merpati Putih. Dini hari Bapak direndam di kolam yang airnya dingin sekali. Maklum lah, Bapak dulu pernah bercita-cita jadi pendekar karena kebanyakan nonton film Kung Fu.

Ini buktinya kita ke Taman Safari. Siapa tahu, nanti kamu bilang no pic = hoax. Yah tak kelihatan sih binatangnya, tapi ini di jalan menuju parkiran setelah menonton Cowboy Show di mana kamu menangis karena mengantuk.

jalan

 

Nih, foto kamu sedang mengaum. Sebelumnya, ketika semua bernyanyi di depan kue ulang tahun, kamu malah menangis. Mungkin kamu lapar, Bapak juga kalau lagi lapar suka uring-uringan.

aum

Sudah dulu ya tulisannya. Gerah nih, Bapak mau mandi. Tapi mau makan jeruk Sunkist dulu. Itu loh, kamu juga suka ikut bapak kalau bapak sedang makan jeruk. Oya, mau cerita sedikit soal jeruk Sunkist, lebih tepatnya sih jeruk Navele [maaf kalau salah mengeja]. Dulu, sebelum tahu ada jeruk Sunkist [jeruk yang makannya tak dikupas kullitnya lalu dimakan satu-satu, tapi jeruk dipotong oleh pisau dan dibagi menjadi delapan potong kecil], Bapak pernah berdoa, semoga saja suatu hari ada jeruk yang tanpa biji. Soalnya Bapak kalau makan jeruk lokal, selalu malas membuang bijinya. Merepotkan dan meninggalkan banyak sampah. Pernah Bapak bercita-cita ingin masuk surga, karena bapak pikir, kalau di surga, pasti jeruknya tak ada bijinya, jadi bisa langsung dilahap tanpa harus repot membuang bijinya. Bapak agak jijik dengan biji. Tapi tak jijik dengan biji punya Bapak. Hehe.

Tuh kan, katanya tadi mau menyudahi tulisan. Tapi tak kelar-kelar juga. Kebiasaan nih. Kalau sedang stand up pun, Bapak sering tak tahu bagaimana mengakhiri penampilan supaya klimaks dan membuat penonton bersorak di akhir lawakan, sebelum Bapak pamit.

Ah sekarang mah, beneran nih. Soalnya kamu sudah naik kursi tempat bapak mengetik, dan kamu mulai menangis karena ingin ikut main komputer juga.

Selamat ulang tahun, Iggy Kastara!

 

 

 

Tentang Saya dan Pak Kosasih

Seberapa dekat Anda dengan bapak atau ayah atau papah Anda? Saya sih memanggilnya dengan ‘Apa’, tipikal orang Sunda lah. Tapi, demi kepentingan tulisan, saya sebut saja bapak.

Kalau definisi dekat adalah bisa bercerita tentang apa saja, maka saya sih termasuk yang biasa saja. Saya bertanya-tanya soal kedekatan dengan bapak, setelah saya punya anak. Saya berusaha dekat dengan Iggy. Saya ingin anak saya, ketika besar, bisa punya hubungan yang dekat dengan saya, tak seperti hubungan saya dengan bapak saya. Perasaan kalau melihat film Hollywood, sering ada adegan sang anak curhat soal pacar kepada bapaknya. Nah, adegan begitu, belum pernah saya alami dalam hidup. Entah kenapa, saya merasa malu, atau geli, bercerita soal itu.

Ada masanya saya sebal sama bapak saya. Tepatnya, ketika masih kuliah. Dia sering bertanya kapan saya lulus. Dalam berbagai mode, mulai dari mode baik-baik dengan nada bicara mengayomi, mode menyindir, hingga mode amarah dengan nada bicara yang tinggi. Akhirnya saya lulus, setelah tujuh tahun kuliah. Itu bukan karena malas, tapi karena sudah niat sejak pertama masuk kuliah. Ingin merasakan dunia kampus sampai bosan sehingga tak perlu kangen lagi dan tak perlu balik lagi ke kampus dan ada nuansa post power syndrome. Hahaha. Alasannya hebat ya?

Saya sering sebal juga, sama bapak saya yang banyak omong. Waktu masih bujangan dan saya bolak balik Jakarta – Bandung dua kali seminggu, setiap datang dari Jakarta dan berangkat ke Jakarta dari Terminal Leuwi Panjang, bapak saya selalu menjemput saya. Selama di perjalanan, sambil menyetir, dia tak berhenti berbicara. Tanpa jeda. Saya sering capek mendengarnya.

Tapi setelah punya anak, saya jadi sadar, bahwa sebenarnya bapak saya, menyayangi saya, meskipun tak pernah ada kalimat begitu. Jangan juga sih, saya jadi geli nanti. Saya menyayangi anak saya. Ketika memeluk Iggy, menemaninya hingga dia tertidur, memeluk, memangku, membacakan buku, bermain bersama, saya jadi teringat bapak saya. Mungkin ini yang dia rasakan juga ya.

Ada empat momen masa kecil bersama bapak, yang masih membekas di benak saya. Pertama: momen solat jumat bareng, di Mesji Al Banna, Desa Narogong, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor. Saya tak tahu umur berapa, yang jelas, sebelum masuk SD. Kedua, momen dijemput dari TK PT Semen Cibinong. Karena dekat dengan kantor bapak saya di PT Telkom [waktu itu masih Perumtel, tepatnya di SKSD Palapa], bapak saya selalu menjemput saya dari TK. Masih terbayang, saya berdiri di atas Vespa, angin menerpa saya, dan tangan saya berpegangan pada itu loh saya tak tahu apa namanya, yang ada di speedometer Vespa. Ketiga, momen ketika bapak saya bercerita alias berdongeng di kamar tidur, sebelum saya tidur. Dongengnya tentang asal usul air laut menjadi asin. Keempat, momen ketika bapak saya menyuruh saya ikut lomba pidato ketika kelas 6 SD, dia menuliskan naskah ceramahnya [tentang Isra’ Mi’raj], sehingga saya jadi juara lomba pidato dalam rangka peringatan Isra’ Mi’ raj.

Dulu, saya tak pernah menganggap pengalaman-pengalaman itu berharga. Istilah bahasa Inggrisnya, taken for granted. Baru belakangan ini, saya sadar, bahwa ternyata hubungan saya dan bapak saya cukup dekat. Yah setidaknya ketika kecil.

Ketika saya bersama Iggy, saya merasa jadi bapak saya, dan Iggy menjadi saya. Jadi teringat dialog di film “Man Of Steel”: The father becomes the son, the son becomes the father. Kurang lebih begitu kan dialognya, kalau salah, maafkan ya. Saya sedang malas Googling untuk konfirmasi dialognya. Hehe.

Saya baru sadar, betapa bapak saya, punya pengaruh yang besar terhadap hidup saya. Kalau saja dia tak menyuruh saya ikut lomba pidato, mungkin saya tak sadar punya kemampuan public speaking. Entah apa motivasi bapak saya waktu itu. Apakah karena dia melihat saya punya potensi itu, atau memang dia ingin saya jadi ustadz? Haha.

Yah buat Anda yang mungkin juga sekarang sebal sama bapaknya, sabar aja. Orang tua memang kadang menyebalkan, tapi kalau sudah punya anak, barulah kita sadar, bahwa mereka memang ada tujuan baik juga. Tapi syukurlah, bapak dan ibu saya, tak pernah memaksakan saya jadi yang mereka inginkan, meskipun sempat menyuruh saya jadi PNS, tapi mereka ikhlas saja ketika saya menolak ide itu. Hehe.

Buat yang belum pernah lihat bapak saya, ini fotonya. Namanya Kosasih. Waktu pertama kali main film, di “Cinta Brontosaurus” dan sutradara Fajar Nugros menanyakan nama Sunda buat karakter saya, langsung teringat bapak. Haha. Yah saya pikir, kalau saya main film pertama kali, orang biasanya bakal mengingat namanya. Sebagai penghargaan buat bapak, saya memakai nama Kosasih di film. Waktu ibu saya mengajak bapak nonton film itu di bioskop, ternyata dia tak mau, karena canggung melihat anak saya bermain film, dan memakai nama dia. Hahaha.

Ini dia sedang di atas Vespa. Standar foto jaman dulu, duduk di Vespa dengan wajah tak melihat kamera.

photo.PNG